Anda di halaman 1dari 5

CA BRONKO

A. Definisi

Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran
pernafasan Di dalam kepustakaan selalu dilaporkan adanya peningkatan insiden kanker
paru secara progresif, yang bukan hanya sebagai akibat peningkatan umur ratarata
manusia serta kemampuan diagnosis yang lebih baik, namun karsinomabronkogenik
memang lebih sering terjadi (Alsagaff&mukty, 2002).

Karsinoma bronkogenik atau kanker paru dapat berupa metastasis atau lesi primer.
Tumor ganas dapat ditemukan di bagian tubuh mana saja. Metastasis pada kolon dan
ginjal merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan di klinik, keduanya dapat
menyebabkan tumor paru. Metastasis tumor paru sering ditemukan terlebih dahulu
sebelum lesi primernya diketahui. Hal yang berbahaya adalah pada keadaan klinis lokasi
lesi primer sering tidak diketahui selama hidup klien (Muttaqin, 2007).

B. Etiologi

Seperti kanker pada umumnya, etiologi yang pasti dari karsinoma bronkogenik masih
belum diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi jangka panjang dari bahan
karsinogenik merupakan faktor utama, tanpa mengesampingkan kemungkinan peranan
predisposisi hubungan keluarga ataupun suku bangsa/ras serta status immunologis. Bahan
inhalasi karsinogenik yang banyak disorot adalah rokok.

1. Pengaruh rokok
2. Pengaruh industri
3. Pengaruh penyakit lain
4. Genetik atau status imunologi

C. Klasifikasi
a. Karsinoma epidermoid (skuamosa).
b. Karsinoma sel kecil.
c. Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).
d. Karsinoma sel besar.

D. Manifestasi Klinis
1. Gejala Awal Stridor lokal dan dipnea ringan yang mungkin disebabkan oleh
obstruksi bronkus.
2. Gejala umum: batuk, hipotesis, anoreksia.
E. Stadium Klinis
1. Karsinoma tersembunyi: Sputum mengandung sel-sel ganas tetapi tidak dapat
dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis.
2. Stadium 0: Karsinoma in situ
3. Stadium IA: Tumor termasuk T1 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar
getah bening regional atau tempat yang jauh.
4. Stadium IB: Tumor termasuk klasifikasi T2 dengan bukti metastasis pada kelenjar
getah bening regional atau tempat yang jauh.
5. Stadium IIA: tumor termasuk klasifikasi T1 dengan bukti hanya terdapat
metastasis ke peribrokial ipsilateral atau hilus kelenjar limfe ; tidak ada metastasis
ke tempat yang jauh.
6. Stadium II: tumor termasuk klasifikasi T2 atau T3 dengan atau tanpa bukti
metastasis ke peribronkial ipsilateral atau hilus kelenjar limfe ; tidak ada
metastasis ke tempat yang jauh.
7. Stadium IIIA: tumor termasuk klasifikasi T1, T2, atau T3 dengan atau tanpa bukti
adanya metastasis ke peribronkial.
8. Stadium IIIB: tumor dengan metastasis hilus kontralateral atau kelenjar getah
bening mediastinum atau ke skalenus atau kelenjar limfe supraklafikular ; atau
setiap tumor yang diklasifikasikan sebagai T4 dengan atau tanpa metastasis ke
kelenjar getah bening regional ; tidak ad metastasis ke tempat yang jauh.
9. Stadium IV.

F. Patofisiologi

Asap rokok mengandung 60 macam karsinogen (termasuk benzen, nitrosamin [NNK],


dan oksidan) yang dapat menyebabkan mutasi DNA. Dikemukakan bahwa kanker paru
terjadi pada perokok yang tidak memiliki kemampuan metabolisme untuk
mendetoksifikasi karsinogen secara adekuat. Tumor paru terjadi dari banyak pajanan
karsinogen dan bukan karena satu kejadian pencetus (serangan berulang); diperkirakan
bahwa perlu antara 10 sampai 20 mutasi genetika untuk menciptakan sebuah tumor.

Beberapa mutasi yang lebih sering yang telah teridentifikasi meliputi : Penghilangan
lengan pendek kromosom, Aktivasi onkogen, Inaktivasi gen supresor tumor.Dalam
bronkus yang terpajan karsinogen, sel-sel diplastik menjadi karsinoma in situ, kemudian
karsinoma bronkogenik. Sel-sel kanker memproduksi faktor pertumbuhan autokrin (mis,
faktor pertumbuhan epitel, faktor pertumbuhan jaringan, peptida pelepas gastrin, faktor
pertumbuhan menyerupai insulin) yang mendorong pertumbuhan tumor.Tipe kanker paru
bergantung pada sel asal yaitu :
Karsinoma paru non small cell (NSCLC)

1. Adenokarsinoma muncul dari sel kelenjar dalam epitel bronkus dan lokasinya
sering kali perifer;bermetastasis sejak dini
2. Tipe kanker paru tersering, terutama pada wanita
3. Meliputi karsinoma bronkiolar-alveolar yang muncul dari bronkiolus terkecil dan
septum alveolus;sering tampak sebagai infiltrat dan bukan massa pada foto
rontgen, tidak berhubungan dengan merokok. Skuamosa muncul dari epitel
skuamosa bronkus dan sering berlokasi sentral;sering menyebabkan kanker okulta
dan bermetastasis dengan lambat.Sel besar (large cell) kemungkinan berasal dari
adenokarsinoma maupun skuamosa, tetapi kanker jenis ini sangat anaplastik
(tumbuh tanpa bentuk atau struktur) sehingga asal selnya tidak bisa
teridentifikasi;tumor agresif dengan metastasis awal. Karsinoma sel kecil small cell
(SCLS) muncul dari sel neuro endokrin di dalam bronkus;tumor ini merupakan
tumor yang sangat agresif dan biasanya sudah bermetastasis saat terdiagnosa
(Brashers, 2007).

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi
2. Bronkografi
3. Sitologi
4. Endoskopi
5. Biopsi

H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan non-bedah: terapi oksigen, terapi obat, kemoterapi, imunoterapi
dan terapi radiasi.
2. Penatalaksanaan pembedahan:
- Toraktomi eksplorasi.
- Pneumonektomi pengangkatan paru
- Lobektomi (pengangkatan lobus paru)
- Resesi segmental.
- Resesi baji.
- Dekortikasi.

I. Komplikasi
a. Esofagitis,hilang 1 minggu sampai dengan 10 hari sesudah pengobatan.
b. Pneumonitis,pada rontgent terlihat bayangan eksudat didaerah penyinaran.

J. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif, b/d peningkatan jumlah/perubahan mukus
/viskositas sekret, keterbatasan gerakan dada, /nyeri, kelemahan,kelelahan.
2. Nyeri akut b/d invasi kanker ke pleura, dinding dada.
3. Pola pernafasan tidak efektif b/d obstruksi trakeobronkialoleh sekret, perdarahan
aktif, penurunan ekspansi paru, proses inflamsi

Daftar Pustaka

Elizabeth, J. Corwin.2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG Suyono, Slamet. 2001.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 3. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.
Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009- 2011.
Jakarta : EGC. Allih bahasa: Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Etsu Tiar. Wilkinson,
M.
Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta :EGC.