Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS KAPASITAS TERMINAL PETI KEMAS

PELABUHAN PONTIANAK

Aris Purnomo1) Slamet Widodo2)., Komala Erwan2)

Abstrak
Pelabuhan Pontianak sebagai gerbang perekonomian di Propinsi Kalimantan Barat
mempunyai dermaga dan terminal untuk kegiatan kapal peti kemas atau biasa yang disebut
dengan Terminal Peti Kemas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kapasitas
Terminal Peti Kemas Pelabuhan Pontianak berdasarkan jumlah peralatan, jumlah
pergerakan barang dan peti kemas, waktu bongkar muat peti kemas dan manajemen di
pelabuhan terkait. Dari jumlah peralatan bongkar muat yang tersedia sekarang, Pelabuhan
Pontianak masih sanggup untuk melayani arus pergerakan barang hingga 10 tahun kedepan
berdasarkan proyeksi yang dilakukan dengan metode regresi. Sedangkan dari waktu
bongkar muat dan manajemen pelabuhan, hal ini berkaitan dengan tingkat pemanfaatan
lapangan penumpukan (Yeild Occupancy Ratio/ YOR). Pada analisis tahun 2015, nilai YOR
di Pelabuhan Pontianak mencapai angka 92,37%, sedangkan pada analisis nilai YOR untuk
10 tahun mendatang, yakni pada tahun 2025 nilai YOR di Pelabuhan Pontianak mencapai
angka 146,843 % dimana kapasitasnya sudah tidak mencukupi (overload).

Kata kunci : terminal peti kemas, kapasitas, peralatan, YOR

kelancaran arus barang ekspor


1. PENDAHULUAN maupun impor di Pelabuhan
1.1 Latar Belakang Pontianak. Karena kelancaran arus
Pelabuhan Pontianak pergerakan barang tersebut
merupakan salah satu cabang berpengaruh terhadap pertumbuhan
pelabuhan di bawah manajemen PT. ekonomi masyarakat di Propinsi
(Persero) Pelabuhan Indonesia II yang Kalimantan Barat atau daerah
mempunyai dermaga atau terminal sekitarnya serta menunjang
untuk kegiatan kapal peti kemas. pembangunan daerah.
Dalam perannya sebagai gerbang Untuk itulah dengan adanya
perekonomian di Propinsi Kalimantan penelitian ini diharapkan dapat
Barat, kegiatan ekspor dan impor di memberikan gambaran mengenai
Pelabuhan Pontianak harus didukung kapasitas dari terminal peti kemas
dengan prasarana yang memadai berdasarkan pergerakan arus barang
berupa terminal peti kemas. Sehingga dan arus peti kemas, sistem
dengan tersedianya terminal peti penanganan barang, serta tingkat
kemas yang memadai baik dari segi pemanfaatan lapangan penumpukan
kapasitas yang memadai, sistem dan di Terminal Peti Kemas Pelabuhan
kinerja penanganan barang yang Pontianak. Selain itu, diharapkan juga
teratur, serta pemanfaatan lapangan dapat memberikan gambaran apakah
penumpukan yang optimal, hal kapasitas terminal peti kemas akan
tersebut diharapkan dapat menunjang mampu menampung jumlah

1. Alumni Prodi Teknik Sipil FT UNTAN


2. Dosen Prodi Teknik Sipil FT UNTAN
1
pergerakan barang di tahun-tahun Peti Kemas adalah tempat tertentu
kedepan. didaratan dengan batas-batas yang
jelas, dilengkapi dengan prasarana
1.2 Tujuan Penelitian dan sarana angkutan barang untuk
Tujuan dari penelitian ini tujuan ekspor dan impor dengan cara
adalah: pengemasan khusus, sehingga dapat
a. Untuk menganalisis kapasitas berfungsi sebagai pelabuhan dan di
Terminal Peti Kemas dalam pasal yang sama juga
Pelabuhan Pontianak dijelaskan bahwa Peti Kemas (Cargo
berdasarkan peralatan, Container) adalah peti atau kotak
jumlah pergerakan barang yang memenuhi persyaratan teknis
dan peti kemas. sesuai dengan standar internasional
b. Untuk mengetahui (Internasional Standard
karakteristik sistem Organization) sebagai alat atau
penanganan barang yang perangkat pengangkutan barang.
digunakan untuk mengatur Terminal Peti Kemas
penumpukan peti kemas. merupakan pertemuan antara
c. Untuk menganalisis tingkat angkutan laut dan angkutan darat
pemanfaatan lapangan yang menganut sistem unitisasi
penumpukan peti kemas. (Unition of Cargo System), dan peti
d. Untuk memprediksi arus kemas (container) sebagai
barang dan arus peti kemas wadah/gudang, alat angkut yang
pada tahun-tahun berikutnya dilayani oleh Terminal/Pelabuhan
dengan menggunakan analisa Peti Kemas. Fungsi inti dari Terminal
regresi, sehingga dapat Peti Kemas antara lain:
diketahui apakah Terminal
Peti Kemas Pelabuhan a. Tempat pemuatan dan
Pontianak masih dapat pembongkaran peti kemas
melayani proses bongkar dari kapal-truk atau
muat (arus barang dan arus sebaliknya.
peti kemas) pada tahun-tahun b. Pengepakan dan
berikutnya. pembongkaran peti kemas
(CFS).
c. Pengawasan dan penjagaan
2. TINJAUAN PUSTAKA peti kemas beserta
Menurut Keputusan Presiden muatannya.
Republik Indonesia No. 52 Tahun d. Penerimaan armada kapal
1987 tentang Terminal Peti Kemas e. Pelayanan cargo handling
Pasal 1 menjelaskan bahwa Terminal peti kemas dan lapangan
penumpukannya.

2
3. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian adalah penelitian untuk fokus dan
langkah-langkah yang dilakukan mendapatkan hasil yang baik. Dalam
untuk mencapai tujuan penelitian. penelitian ini, metodologi penelitian
Sehingga dengan adanya suatu disusun dalam skema diagram alir
metodologi/perencanaan penelitian penelitian di bawah ini:
ini dapat mengarahkan suatu

Gambar 1. Diagram Alur Penelitian

4. GAMBARAN UMUM perekonomian di Provinsi Kalimantan


PELABUHAN PONTIANAK Barat merupakan Pelabuhan terbesar
Pelabuhan Pontianak sebagai di pulau Kalimantan. Hinterland
pelabuhan kelas I dan pintu gerbang Pelabuhan Pontianak adalah Provinsi

3
Kalimantan Barat dengan luas 5. HASIL DAN ANALISIS
wilayah ± 146.807 Km². Pelabuhan 5.1 Sistem Penanganan Bongkar
ini memiliki 2 (dua) lahan terpisah Muat Terminal Peti Kemas
yaitu Pelabuhan Dwikora/ Pontianak Untuk kinerja Terminal Peti
(kota) dan Pelabuhan Pangkalan Kemas Pelabuhan Pontianak yang
Nipah Kuning, yang keduanya optimal, maka dibutuhkan
terpisah sejarak + 5 km terletak di ketersediaan fasilitas yang memadai,
Sungai Kapuas Kecil dan termasuk salah satunya ketersedian dan
dalam wilayah Kota Pontianak, kapasitas alat-alat yang digunakan
Provinsi Kalimantan Barat. dalam proses bongkar muat peti
Pelabuhan Pontianak berperan kemas. Fasilitas yang ada sangat
penting dalam pengangkutan, baik menentukan cepat atau lamanya
penumpang maupun barang yang pelayanan barang, termasuk juga
menggunakan angkutan laut sebagai fasilitas yang dimiliki oleh kapal
sarana transportasi serta pengangkut, misalnya kapal yang
menghubungkan area seluas 146,8 mempunyai crane tersendiri dapat
ribu km2 di Provinsi Kalimantan menunjang proses bongkar muat
Barat. Wilayah yang luasnya menjadi lebih cepat.
sebanding dengan pulau Jawa Dari penjelasan tahapan
ditambah pulau Madura ini antara lain bongkar muat, maka dapat diketahui
meliputi Pontianak, Sintete, Sambas, bahwa dalam dalam proses bongkar
Sintang, Sanggau, Kapuas, Hulu, muat diperlukan peralatan-peralatan
Telok Air, Ketapang dan untuk menunjang kegiatan bongkar
Singkawang. Terdapat 2 kawasan muat tersebut. Oleh karena itu,
pelabuhan dibawah naungan PT. penting untuk mengetahui bagaimana
(Persero) Pelabuhan Indonesia II kinerja dan kapasitas dari peralatan
cabang Pontianak yakni : Pelabuhan yang digunakan. Untuk itu, dari tabel
Sintete dan Pelabuhan Ketapang. di bawah menunjukkan waktu yang
Sebagai penunjang untuk dibutuhkan masing-masing untuk
kelancaran arus pergerakan baik melayani satu peti kemas, sehingga
penumpang maupun barang, nantinya dapat diketahui berapa
Pelabuhan Pontianak dalam hal ini banyak peti kemas yang dapat
yang dikelola oleh PT. (Persero) diangkut dari kapal ke lapangan
Pelabuhan Indonesia II Cabang penumpukan atau sebaliknya.
Pontianak menyediakan sarana dan
prasarana, antara lain berupa alur dan
kolam pelabuhan, tambatan/dermaga,
gudang penyimpanan, lapangan
penumpukan, alat apung dan navigasi,
dan peralatan bongkar muat.

4
Tabel 1. Waktu Penanganan Peralatan per Satu Peti Kemas (dalam detik)

Untuk mengetahui kinerja kapasitas efektif adalah 6 hari/minggu,


dari masing-masing peralatan, maka sehingga dalam setahun Pelabuhan
dilakukan analisis sebagai berikut. Pontianak dapat melayani 313
Dari tabel 1 di atas, akan didapat hari/tahun atau 7512 jam/tahun.
kecepatan pelayanan dari masing- Sehingga kapasitas kinerja dari
masing alat (box/alat/jam). masing-masing alat adalah sebagai
Sedangkan, waktu pelayanan di berikut:
Pelabuhan Pontianak adalah 24
jam/hari, dan dianggap waktu kerja

Tabel 2. Analisis Kinerja Kapasitas Peralatan Bongkar Muat Pelabuhan Pontianak

5
5.2 Proyeksi Arus Peti Kemas Tabel 3. Proyeksi Arus Peti Kemas di
Pelabuhan Pontianak Pelabuhan Pontianak
Dalam melakukan metode
analisis regresi ini, digunakan
program aplikasi Microsoft Excel,
dengan memperhatikan data pada
tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu,
dari data arus pergerakan barang peti
kemas yang sudah ada, diproyeksikan
melalui regresi linier sederhana. Dari
data arus peti kemas yang sudah ada,
kemudian dibuat grafik yang
diproyeksikan untuk mendapatkan
persamaan eksponensial seperti pada
gambar 2 berikut:

Apabila diasumsikan tidak ada


penambahan alat bongkar muat untuk
10 tahun kedepan di Pelabuhan
Pontianak, maka kinerja kapasitas
yang telah dihitung sebelumnya dan
jumlah yang ada sekarang (3 unit
quay gantry crane, 2 unit gantry jib
crane, 4 unit reach stacker, 8 unit rail
Gambar 2. Grafik Regresi Arus Peti mounted gantry crane, 4 unit side
Kemas Pelabuhan Pontianak loader, dan 21 unit head
truck+chassis) secara keseluruhan
Dari grafik regresi di atas, masih mampu melayani arus
didapat persamaan fungsi eksponesial pergerakan peti kemas sebanyak
yang akan dugunakan untuk 257.456 TEUs hingga tahun 2025.
memprediksi arus peti kemas pada
tahun-tahun yang akan datang. Untuk
persamaan eksponensialnya didapat y
= 2E – 24e0,0331x, dimana x adalah
tahun proyeksi. Dari fungsi
persamaan ekponesial di atas didapat
hasil proyeksi yang ditunjukkan pada
tabel berikut:

6
5.3 Tingkat Pemanfaatan 𝑇 . 𝐷 . 𝐴 𝑇𝐸𝑈
𝐴=
Lapangan Penumpukan Peti 365 − (1 − 𝐵𝑆)
Kemas
Tingkat pemanfaatan/ 224746 . 6 . 10
𝐴=
pemakaian lapangan penumpukan 365 − (1 − 0,4)
peti kemas (container yard occupancy
ratio/ yard occupancy ratio) CYOR / 𝐴 = 61574,25 𝑚2
YOR merupakan perbandingan
jumlah pemakaian lapangan
penumpukan peti kemas yang
Jadi, dari luas lapangan yang
dihitung 1 TEU per tahun atau per m2
ada saat ini sebesar 66655 m2 masih
per tahun dengan kapasitas
mencukupi kebutuhan lapangan
penumpukan yang tersedia.
penumpukan peti kemas pada tahun
Untuk menghitung tingkat
2014 sebesar 61574,25 m2.
pemanfaatan lapangan peti kemas/
Sehingga, dari perhitungan di
YOR di Pelabuhan Pontianak pada
atas untuk mengetahui tingkat
tahun 2015, maka perlu diketahui
pemanfaatan lapangan penumpukan
dulu kebutuhan luas lapangan
peti kemas pada tahun 2015 adalah
penumpukan pada tahun tersebut.
sebagai berikut:
Berdasarkan data dari PT. (Persero)
Pelabuhan Indonesia II Cabang kapasitas yang terpakai
Pontianak, kondisi di Pelabuhan YOR= x 100%
Pontianak diketahui: kapasitas yang tersedia

61574,25 m2
 Data arus barang berupa peti YOR= x 100% = 92,37 %
kemas (T) tahun 2015 = 66655 m2
224746 TEUs
 Rata-rata lamanya peti kemas
di tumpuk (D : dwelling time) Nilai YOR sebesar 92,37% di
: 6 hari Pelabuhan Pontianak berdasarkan
 Jumlah tumpukan peti kemas Standar Kinerja Pelayanan
(ATEU) : 3 susun (dengan Operasional Pelabuhan Direktur
menggunakan RTG) maka Jenderal Perhubungan Laut
nilai ATEU berdasarkan tabel dinyatakan kurang baik kinerjanya,
adalah sebesar 10 m2/TEU karena pencapaiannya di atas 10%
 Nilai broken stowage (BS) dari standar kinerja pelayanan
antara 25% - 50 %, operasional yang telah ditetapkan
diasumsikan 40% sebesar 65%.

Maka, dari data di atas, luas


kebutuhan lapangan penumpukan peti
kemas di Pelabuhan Pontianak pada
tahun 2015 dapat dihitung sebagai
berikut:

7
5.4 Proyeksi Arus Pergerakan tahun yang akan datang. Untuk
Barang Berupa Peti Kemas persamaan eksponensialnya didapat y
Pelabuhan Pontianak = 2E – 52e0,0651x, dimana x adalah
Dalam perkembangannya, tahun proyeksi. Dari fungsi
kemasan dalam bentuk peti kemas persamaan ekponesial di atas didapat
semakin digemari oleh para pelaku hasil proyeksi yang ditunjukkan pada
usaha untuk pengiriman barang. Hal tabel 4 berikut:
tersebut menjadi potensi tersendiri di
Pelabuhan Pontianak bahwa bongkar‐ Tabel 4. Proyeksi Arus Barang di
muat kargo yang semula dikemas Pelabuhan Pontianak
sebagai General Cargo dan Bag
Cargo akan bergeser menjadi kargo
yang dimasukkan ke dalam peti
kemas pada masa yang akan datang.
Dengan demikian jumlah bongkar
muat peti kemas di Pelabuhan
Pontianak akan terus meningkat dari
waktu ke waktu. Oleh karena itu, dari
data arus pergerakan barang yang
berbentuk peti kemas diproyeksikan
dalam grafik di bawah untuk
mendapatkan persamaan
eksponensialnya.

Hasil dari proyeksi di atas


kemudian dapat dihitung kebutuhan
luas lapangan penumpukan dan
tingkat pemanfaatan lapangan
penumpukan peti kemas (container
yard occupancy ratio/ yard
Gambar 3. Grafik Regresi Arus occupancy ratio) CYOR / YOR dari
Barang di Pelabuhan Pontianak tahun proyeksi, dengan
mengasumsikan data-data yang
diketahui sama seperti sebelumnya
ketika menghitung YOR pada tahun
Dari grafik regresi di atas, realisasi terakhir. Perhitungan dapat
didapat persamaan fungsi eksponesial dilihat pada tabel 5 sebagai berikut:
yang akan dugunakan untuk
memprediksi arus barang pada tahun-

8
Tabel 5. Perhitungan Yeild Occupancy Ratio (YOR) Tahun Proyeksi di Pelabuhan
Pontianak

Dari tabel 5 di atas, dapat beberapa tahun kedepan lapangan


dilihat bahwa dalam 10 tahun kedepan penumpukan tidak mampu lagi
selain jumlah pergerakan barang melayani arus barang yang masuk ke
berupa peti kemas semakin bertambah Pelabuhan Pontianak. Oleh karena itu,
setiap tahunnya, sehingga berakibat perlu dilakukan beberapa langkah
bertambahnya pula kebutuhan optimasi yang menitikberatkan
kapasitas lapangan penumpukan. kepada kinerja kapasitas dari
Dapat dilihat, pada tahun 2019 total lapangan penumpukan.
luas yang dibutuhkan untuk Optimalisasi terhadap kinerja
menampung peti kemas sebesar kapasitas lapangan penumpukan peti
66230,411 m2 dari total luas yang kemas di Pelabuhan Pontianak
tersedia sebesar 66655 m2 atau dilakukan dengan menerapkan
dengan tingkat pemakaian/ beberapa skenario untuk
pemanfaatan lapangan penumpukan mengoptimalkan kinerja lapangan,
(YOR) sebesar 99,36%, hampir skenario yang direncanakan antara
menyentuh angka 100%. Dan pada lain:
tahun-tahun selanjutnya tingkat a. Skenario 1 : mengubah
pemakaian/ pemanfaatan lapangan jumlah tumpukan peti kemas
penumpukan sudah lebih dari 100%. di lapangan penumpukan
dari 3 susun menjadi 4 susun
5.5 Optimasi Kapasitas Kinerja agar jumlah pemakaian
Lapangan Penumpukan lapangan lebih optimal.
Terminal Peti Kemas b. Skenario 2 : menekan
Dari perhitungan yang telah jumlah hari bongkar muat
dilakukan sebelumnya, untuk tingkat (dwelling time) pada
pemanfaatan/ pemakaian lapangan lapangan penumpukan peti
penumpukan peti kemas (yeild kemas Pelabuhan Pontianak
occupancy ratio) di Pelabuhan dari yang semula 6 (enam)
Pontianak cukup besar, dimana untuk

9
hari menjadi hanya 3 (tiga) masing-masing untuk mengetahui
hari. perubahan dari nilai CYOR / YOR
c. Skenario 3 : (container yard occupancy ratio/ yard
menggabungkan skenario 1 occupancy ratio), terutama pada
dan skenario 2. tahun-tahun proyeksi. Perhitungan
disajikan dalam bentuk tabel dan
Dari skenario-skenario grafik sebagai berikut:
tersebut, dilakukan perhitungan

Tabel 6. Perhitungan Nilai YOR Pelabuhan Pontianak Berdasarkan Skenario 1

Gambar 4. Grafik Perbandingan Kinerja Lapangan Penumpukan


Berdasarkan Nilai YOR Proyeksi untuk Skenario 1

10
Tabel 7. Perhitungan Nilai YOR Pelabuhan Pontianak Berdasarkan Skenario 2

Gambar 5. Grafik Perbandingan Kinerja Lapangan Penumpukan


Berdasarkan Nilai YOR Proyeksi untuk Skenario 2

11
Tabel 8. Perhitungan Nilai YOR Pelabuhan Pontianak Berdasarkan Skenario 3

Gambar 6. Grafik Perbandingan Kinerja Lapangan Penumpukan


Berdasarkan Nilai YOR Proyeksi untuk Skenario 3

12
5.6 Rencana Pengembangan kedalaman alur dan kolam yang
Pelabuhan Pontianak mampu dilewati kapal-kapal
Untuk meningkatkan bertonase besar.
produktifitas dan kinerja di Pelabuhan
Pontianak di tahun-tahun mendatang,
diperlukan perencanaan penataan 6. KESIMPULAN DAN SARAN
Pelabuhan Pontianak. Program 6.1 Kesimpulan
perencanaan penaatan Pelabuhan a. Kapasitas kinerja dari suatu
Pontianak yang ditetapkan dalam dua pelabuhan dapat diukur dari
tahapan, yakni: beberapa hal, antara lain
berdasarkan jumlah peralatan,
a. Program perencanaan jumlah pergerakan barang dan
penataan jangka pendek ( peti kemas, waktu bongkar
Tahun 2012-2017) muat peti kemas dan
b. Program perencanaan manajemen di pelabuhan
penataan jangka menengah terkait.
(Tahun 2018-2023) b. Kinerja kapasitas/ produktifitas
masing-masing peralatan
Program perencanaan penataan bongkar muat yang ada di
di Pelabuhan Pontianak lebih fokus Pelabuhan Pontianak
pada optimalisasi lapangan berdasarkan kondisi dan
penumpukan, oleh karena itu jumlah alat yang ada saat ini
dilakukan perluasan lapangan (kondisi eksisting), yakni
penumpukan yang akan dilakukan berupa 3 unit quay gantry
yaitu pengembangan lahan ex. crane, 2 unit gantry jib crane, 4
Sawmill untuk jangka pendek dan unit reach stacker, 8 unit rail
pengembangan lahan sampai ex. Depo mounted gantry crane, 4 unit
Potensi untuk jangka menengah. side loader, dan 21 unit head
Dilakukan pula rencana truck+chassis, dari jumlah
pengembangan Pelabuhan Pontianak peralatan tersebut masih
meliputi pembangunan pelabuhan di mampu melayani arus
lokasi yang baru, penataan serta pergerakan peti kemas
optimalisasi Pelabuhan Pontianak. sebanyak 188.493 TEUs pada
Pengembangan pelabuhan baru tahun 2015 dan masih mampu
dimaksud direncanakan berada di melayani arus pergerakan peti
lokasi Pantai Kijing Sungai Kunyit kemas hingga 10 tahun
Mempawah dan/atau di wilayah mendatang yakni pada tahun
Jungkat. Hal ini dikarenakan tidak 2025 sebanyak 257.456 TEUs.
memungkinnya Pelabuhan Pontianak c. Tingkat pemanfaatan/
menampung pertumbuhan arus pemakaian lapangan
barang di tahun-tahun mendatang. penumpukan peti kemas pada
Selain itu, juga untuk mendapatkan tahun 2015, nilai YOR di

13
Pelabuhan Pontianak mencapai Dan dari ketiga skenario tersebut
angka 92,37% dimana penulis menyarankan bahwa
berdasarkan Standar Kinerja langkah yang paling efektif adalah
Pelayanan Operasional pada skenario 2. Karena selain
Pelabuhan Direktur Jenderal kinerja lapangan penumpukan
Perhubungan Laut dinyatakan yang diperoleh baik kinerjanya
kurang baik kinerjanya, karena secara keseluruhan (dimana pada
pencapaiannya di atas 10% dari tahun 2025 nilai YOR yang
standar kinerja pelayanan didapat sebesar 73,42%) juga lebih
operasional yang telah tepat juga diterapkan pada kondisi
ditetapkan sebesar 65%. eksisting. Dimana selain tidak
d. Sedangkan pada analisis nilai perlu menambah luas lapangan
YOR untuk 10 tahun penumpukan yang sudah ada, juga
mendatang, yakni pada tahun dari segi kapasitas alat yang ada
2025 nilai YOR di Pelabuhan sudah cukup memenuhi. Hanya
Pontianak mencapai angka perlu mengubah pola manajemen
146,843 % dimana yang ada di Pelabuhan Pontianak
kapasitasnya sudah tidak saat ini, yang berkaitan dengan
mencukupi (overload). Untuk dwelling time, misalnya terkait
itu, penulis memberikan dengan perizinan, pengurusan
beberapa skenario perbaikan dokumen, dan lain-lain.
agar dapat menekan nilai YOR,
antara lain:
 Skenario 1 : mengubah 6.2 Saran
jumlah tumpukan peti a. Prosedur bongkar muat barang
kemas di lapangan disarankan untuk dilakukan
penumpukan dari 3 susun pada suatu area yang khusus
menjadi 4 susun agar agar tidak terhambat oleh
jumlah pemakaian aktifitas-aktifitas pelabuhan
lapangan lebih optimal. yang lain.
 Skenario 2 : menekan b. Terminal Peti Kemas di
jumlah hari bongkar muat Pelabuhan Pontianak ini masih
(dwelling time) pada memerlukan penataan lebih
lapangan penumpukan lanjut, khususnya mengenai
peti kemas Pelabuhan luas lapangan penumpukan
Pontianak dari yang maupun penataan lapangan
semula 6 (enam) hari penumpukan yang sudah ada
menjadi hanya 3 (tiga) agar lebih dimaksimalkan
hari. penggunaannya. Lapangan
 Skenario 3 : disarankan diatur dan
menggabungkan skenario dipisahkan antara peti kemas-
1 dan skenario 2 peti kemas dengan muatan
(berisi) dan dengan peti kemas-
peti kemas yang kosong.

14
c. Pengembangan dan Situmorang, A.M.M., dan Buchari, E.
pembangunan pelabuhan 2015. Analisis Kapasitas
dilokasi yang baru harus Terminal Peti Kemas
didukung oleh infrastruktur Pelabuhan Boom Baru
jalan untuk mengakomodasi Palembang. Bandar Lampung:
arus keluar masuk barang dari The 18th FSTPT International
pelabuhan ke daerah Symposium Universitas Negeri
hinterland. Lampung.

Sudjatmiko. FDC. 1985. Pokok -


DAFTAR PUSTAKA pokok Pelayaran Niaga.
Hibono, Stephanus P. 2012. Tesis Jakarta: Bhrata Karya Aksara.
Optimalisasi Kinerja
Infrastruktur Peti Kemas Triatmodjo, B. 1996. Perencanaan
Pada Pelabuahan Dwikora Pelabuhan. Yogyakarta: Beta
Kota Pontianak. Pontianak: Offset.
Universitas Tanjungpura. Triatmodjo, B. 2011. Analisis
Kementerian Perhubungan RI. 2011. Kapasitas Pelayanan
Standar Pelayanan Terminal Peti Kemas
Operasional Pelabuhan, Semarang. Medan: Seminar
Keputusan Direktur Jenderal Nasional-1 BMPTTSSI -
Perhubungan Laut Nomor KoNTekS 5.
UM.002/38/18/ DJPL-11. UNCTAD (United Nation
Jakarta: Kementerian Conference on Trade and
Perhubungan RI. Development), Operating and
Kramadibrata, S. 2002. Perencanaan Maintenance Feature of
Pelabuhan. Bandung: Institut Container Handling Systems.
Teknik Bandung.

Morlok, Edward. 1991. Pengantar


Teknik dan Perencanaan
Transportasi. Jakarta:
Erlangga.

Sekretariat Kabinet Republik


Indonesia. 1987. Keputusan
Presiden Republik Indonesia
No. 52 Tahun 1987 tentang
Terminal Petikemas. Jakarta:
Sekretariat Kabinet Republik
Indonesia.

15