Anda di halaman 1dari 9

MODUL II

SINTESIS SENYAWA KOMPLEKS TEMBAGA SULFAT


PENTAHIDRAT (CuSO4.5H2O) DARI LIMBAH KABEL
TEMBAGA

Oleh: Dra. Mentik Hulupi, MS

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tembaga (II) sulfat mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan banyak manfaatnya di
laboratorium maupun di lingkungan. Di lingkungan garam tembaga banyak digunakan
dalam bidang pertanian, misalnya sebagai larutan “Bordeaux”yang mengandung 1-3%
CuSO4 untuk pembasmi jamur pada sayur dan tumbuhan buah, selain itu CuSO4 banyak
digunakan di kolam renang sebagai pembunuh atau penghambat pertumbuhan ganggang
atau lumut, sehingga jika tembaga (II) sulfat ditambahkan ke dalam air kolam renang
menyebabkan air kolam berwarna jernih kebiru-biruan. Di laboratorium garam
tembaga(II) sulfat banyak digunakan untuk bahan praktikum dalam beberapa modul,
misalnya modul termokimia, stokhiometri, elektrokimia, gravimetrik. Oleh karena itu,
untuk kebutuhan teknis dapat disediakan oleh laboratorium dengan cara recovery
tembaga menjadi tembaga(II) sulfat pentahidrat, sehingga dapat memperkecil biaya.

1.2 Tujuan Percobaan


Setelah mempelajari dan melakukan percobaan mahasiswa diharapkan mampu :
1. Membuat kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat dari limbah kabel tembaga
2. Mengenal sifat-sifat kristal tembaga(II) sulfat pentahidrat
3. Menganalisis produk dengan menghitung rendemen dan jumlah air kristal (hidrat)
secara stoikhiometri.

II. LANDASAN TEORI


Dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU), tembaga (Cu) termasuk ke dalam golongan
transisi. Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai sejak lama sebagai
uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak reaktif,
sehingga tidak berubah dalam waktu yang lama. Tembaga adalah logam berdaya hantar

Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Sulfat Pentahidrat II - 1


Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 2

listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang
bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam
HNO3 [1]. Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat molekul
airnya pada 110 °C dan kelima-lima molekul air pada 150 °C. Pada 650 °C, tembaga (II)
sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksida (CuO), sulfur dioksida (SO2) dan oksigen
(O2) [2].

Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+
mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan
berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan
bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu+) cukup banyak
pada larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak (sebab konsentrasinya harus
sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu+. Disproporsionasi akan menajdi
sempurna. Di lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut
atau ion kompleks mantap), Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap [3].

Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya untuk
membuat campuran Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya.
Senyawa ini juga digunakan dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai
bahan pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah
kelumit. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru [4].

Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO4.5H2O. Pentahidratnya


kehilangan 4 molekul air pada 1100 C dan yang ke lima pada 1500C membentuk senyawa
anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan tembaga (II) oksida
atau tembaga (II) karbonat dengan H2SO4 encer, larutannya dipanaskan hingga jenuh dan
pentahidrat yang biru mengkristal jika didinginkan. Pada skala industri, senyawa ini
dibuat dengan memompa udara melalui campuran tembaga panas dengan H2SO4 encer.
Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi oleh empat molekul air
pada setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam dari oktahedral ditempati
oleh atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat oleh ikatan
[4]
hidrogen salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 3

yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut
dalam HNO3.
3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3-(aq) → 3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O
Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen.
Cu2S + 2O2 → 2CuO + SO2
2CuO + Cu2S → SO2 + 4Cu

Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion Cu(H2O)42+.
Jika larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan ion Cu(NH3)42+ yang berwarna biru
pekat. Senyawa CuCl2, Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam air dengan Ksp masing-masing
1,9.10-7, 5.10-9, dan 1.10-12. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat langsung dari
unsurnya pada suhu tinggi. Kedua senyawa ini cenderung nonstoikiometrik karena dapat
pula sebagian membentuk CuO dan CuS [1].

Senyawa-senyawa Cu (I) berwarna putih kecuali oksidasinya merah. Sedangkan senyawa


Cu (II) hidratnya biru dan anhidratnya abu-abu. Senyawa-senyawa Cu (II) lebih stabil
dalam larutan. Mereka beracun dan mengion yang berwarna gelap (biru gelap) yang
terbentuk dengan larutan amonia berlebihan. Cu digunakan buat kabel/kawat/peralatan
listrik; dalam logam-logam paduan; monel, perunggu kuningan, i.perak jerman, perak
nikel untuk ketel dan lain-lain [3].

Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna, perilakunya
mirip perilaku senyawa perak (I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga
(II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garam-garam tembaga
(II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air;
warna ini benar-benar khas hanya untuk ion tetraakuokuprat (II) [Cu(H2O)4]2+ saja. Batas
terlihatnya warna ion kompleks tetraakuokuprat(II) (yaitu, warna ion tembaga (II) dalam
larutan air), adalah 500 μg dalam batas konsentrasi 1 dalam 104. Garam-garam tembaga
(II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit
kuning) [1].
Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit terbentuk endapan
biru suatu garam basa (tembaga sulfat basa). Bila dalam keadaan basah dibiarkan terkena
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 4

udara, tembaga (II) sulfida cenderung teroksidasi menjadi tembaga (II) sulfat, dan
karenanya menjadi dapat larut dalam air. Banyak sekali panas yang dilepaskan pada
proses ini [4].

Persamaan reaksi kristalisasi secara keseluruhan adalah:


Cu + 3H2O + H2SO4 + 2HNO3 → CuSO4.5H2O + 2NO2 ↑ (berwarna kuning coklat)

Kristal CuSO4.xH2O yang terbentuk dari proses kristalisasi dapat dilihat pada Gambar
1.

Gambar 1. Kristal tembaga(II) sulfat pentahidrat [6]

Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan atau
kristalisasi merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, di mana terjadi
perpindahan massa dari suat zat terlarut dari cairan larutan ke fase kristal padat. Karakter
proses kristalisasi ditentukan oleh termodinamika dan faktor kinetik, yang bisa membuat
proses ini sangat bervariasi dan sulit dikontrol. Seperti tingkat ketidakmurnian, metoda
penyamburan, desain wadah dan profil pendinginan bisa berpengaruh besar terhadap
ukuran, jumlah dan bentuk kristal yang dihasilkan. Pemisahan dengan teknik kristalisasi
didasari atas pelepasan pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran homogeen
atau larutan, sehingga terbentuk kristal dari zat terlarutnya. Proses ini adalah salah satu
teknik pemisahan padat-cair yang sangat penting dalam industri, karena dapat
menghasilkan kemurnian produk hingga 100%. Kristal dapat terbentuk karena suatu
larutan dalam keadaan atau kondisi lewat jenuh kondisi tersebut terjadinya karena pelarut
sudah tidak mampu melarutkan zat terlarutnya, atau jumlah zat terlarut sudah melebihi
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 5

kapasitas pelarut. Sehingga kita dapat memaksa agar kristal dapat terbentuk dengan cara
mengurangi jumlah pelarutnya, sehingga kondisi lewat jenuh dapat dicapai.

III. PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan Kimia Yang Digunakan
1. Gelas kimia 250 mL (1 buah)
2. Gelas ukur 50 mL (1 buah)
3. Corong (1 buah)
4. Kaca arloji (1 buah)
5. Batang pengaduk (1 buah)
6. Pemanas (hot plate)
7. Pipet tetes (2 buah)
8. Cawan penguap (1 buah)
9. Timbangan
10. Limbah tembaga dari kabel bekas
11. Larutan H2SO4 pekat
12. Larutan HNO3 pekat
13. Aquades
14. Kertas saring

3.2 Prosedur Kerja


1. Membuat kristal CuSO4.5H2O
Sebanyak 30 mL air dimasukkan ke dalam gelas kimia, ditambahkan 11,9 mL H2SO4
pekat. 7 gram tembaga dimasukkan, ditambahkan 17,5 mL HNO3 pekat, kemudian
diaduk sehingga semua tembaga melarut.. Campuran tersebut lalu dipanaskan
(setelah gas berwarna coklat tua tidak keluar, sehingga uap tidak lagi berwarna
coklat muda). Ketika masih panas campuran disaring (jika masih terdapat tembaga
yang tidak melarut). Larutan disimpan sehingga terbentuk kristal, lalu dicuci
kristalnya dengan sedikit air, kemudian dilarutkan ke dalam air sedikit mungkin dan
kristalkan kembali. Dilakukan sampai 3 kali sehingga kristal bebas dari nitrat. Berat
kristal yang diperoleh ditimbang.
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 6

2. Analisis kadar air dalam kristal CuSO4.xH2O


a. Menggerus kristal CuSO4.xH2O sampai bubuk
b. Menimbang berat kosong cawan penguap
c. Memasukkan kristal CuSO4.xH2O yang telah menjadi bubuk bubuk ke dalam
cawan penguap dan menimbang beratnya.
d. Memanaskan cawan penguap yang telah terisi bubuk kristal sampai serbuk
kristal menjadi berwarna putih.
e. Mendinginkan cawan penguap
f. Menimbang cawan penguap yang telah dingin berisi bubuk krstal CuSO4.xH2O
berwarna putih.

Gambar 2. Proses penguapan air Kristal

3.3 Diagram alir pembuatan senyawa kompleks CuSO4.5H2O


Padatan tembaga (Cu) dari limbah
kabel = 7 gram

Pelarutan
Aquades 50 mL + 11,9 mL
H2SO4 pekat + 17,5 mL HNO3
pekat

Pemanasan
T = 100oC

3.4 Tabel Pengamatan penyaringan

Pendinginan (kristalisasi) Analisis Kristal


t = 24 jam (rendemen + gravimetri)

1.
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 7

No Prosedur Percobaan Data Pengamatan


1 Masukkan 30 mL air + 11,9 mL H2SO4 pekat ……………………
ke dalam beaker gelas 250 mL (a)
2 Masukkan 7 gram tembaga (limbah kawat) …………………….
Ke dalam beaker gelas (a)
3 Masukkan 17,5 mL HNO3 secara hati-hati ……………………..
4 Panaskan larutan, aduk (sampai volume ……………………..
larutan ½ dari volume awal)
5 Disaring ketika masih panas ……………………..
6 Filtrate disimpan di lemari asam, dibiarkan ……………………..
selama 2 hari
7 Kristal yang terbentuk disaring dan
didekantasi dengan aquadest, kemudian ………………………
timbang

IV. PENGOLAHAN DATA


1. Menghitung rendemen CuSO4.5H2O
Diketahui
Massa Cu = 7 g
Massa kristal = a gram
BM CuSO4.5H2O = 249,55 g/mol
BA Cu = 63,55 g/mol
Ditanya : Rendemen = ….. %
Jawab :
Reaksi : Cu2+ + SO42- + 5H2O → CuSO4.5H2O
mol CuSO4.5H2O = mol Cu = b mol
Massa CuSO4.5H2O
= mol CuSO4.5H2O x BM CuSO4.5H2O
= b mol x 249,55 gram/mol
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 8

= c gram
Persentase hasil = [c gram/ massa CuSO4.5H2O teoritis] x 100 % = ..............%

2. Menghitung kadar air dalam kristal CuSO4.xH2O


Berat cawan + CuSO4.xH2O = a gram
Berat CuSO4.xH2O = b gram
Berat setelah dikeringkan = c gram
Berat CuSO4 = d gram

CuSO4.xH2O ≈ CuSO4 X = ……….

3. Tulis semua rekasi yang terjadi.

V. KESELAMATAN KERJA
Bahan kimia yang digunakan pada percobaan ini adalah bahan kimia yang bersifat
korosif dan oksidator, maka dalam melakukan percobaan ini perlu diperhatikan :
1. Hati-hati menangani asam sulfat dan asam nitrat pekat, asam sulfat (H2SO4) adalah
zat cair tak berwarna, beracun dan sangat korosif dan reaksi dengan air bersifat
eksotermis/eksplosif,. Asam sulfat dapat menimbulkan luka bakar pada kulit dan
mata, serta dapat merusak pakaian.
2. Asam nitrat (HNO3) adalah sejenis cairan korosif yang tak berwarna, dan merupakan
asam beracun yang dapat menyebabkan luka bakar pada kulit dan mata, serta dapat
merusak pakaian.
3. Limbah dikumpulkan dalam suatu tempat (jerigen yang tersedia)
4. Senyawa kompleks tembaga(II) sulfat pentahidrat dikumpulkan dalam suatu tempat
yang bersih.

DAFTAR PUSTAKA
1. Keenan, Kleinfelter, Wood. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jilid 2. Edisi Keenam.
Erlangga. Jakarta.
2. Dickey, R. D. 1972. Identification and Correction of Copper Deficiency of
Rhododendron Simsi ‘George Lindley Taber’ Cuttings. http://www.google.com.
Diakses, 24 November 2008.
Sintesis Senyawa Kompleks Tembaga Pentahidrat II - 9

3. Petrucci, Ralph H, 1987, alih bahasa Suminar Ahmadi, Kimia Dasar Prinsip dan
Terapan Modern, Jilid 3, Penerbit Erlangga
4. Shevla, G. 1990. Analisis Organik Kualitatif Makro Dan Semimakro. PT. Kalman
Media Pustaka. Jakarta.Jakarta.
5. http://www.Pembuatan_CuSO4.5H2«Annisanfushie’s_Weblog.html
6. Ratu F, Mentik Hulupi, “Recovery logam Tembaga (Cu) dengan Metoda
Elektrodeposisi dan Pembuatan Tembaga (II) Sulfat secara Presipitasi dari Limbah
Tembaga Laboratorium Kimia Terapan MKU Polban”, Polban, 2011.