Anda di halaman 1dari 3

DESA PUPUAN

Berbicara tentang sejarah singkat Desa Pupuan, terlebih dahulu kami mencoba untuk
mengutarakan PUPUAN dari segi asal kata yaitu : PUPUAN berasal dari kata PUPU yang
artinya : PAHA, kemudian diberi imbuhan AN, maka menjadi PUPUAN.

Pengertian PAHA ini sesuai letak / Denah Desa Pupuan ini adalah merupakan Paha dari Gunung
batukaru.
Kemudian ada juga yang menyebutkan nama Desa Pupuan, ini berasal dari kata PLUPUHAN
yang berarti KUBANGAN, dilihat dari topografinya tepatlah bahwa Desa Pupuan itu berasal dari
Kata Plupuhan, atau dengan kata lain Desa Pupuan dikelilingi oleh dataran tinggi.
Pupuan yang terletak didataran tinggi dengan luas wilayah 5,25 Ha yang terdiri dari 5 Banjar
Dinas dan 5 banjar Adat serta 1 Bendesa Adat yang merupakan Desa Tua yang masih
melaksanakan tata kehidupan dan upacara – upacara adat yang unik misalnya : setiap
Purnamaning Kapat di Pura Kahyangan Puseh melaksanakan Upacara Piodalan dengan
menampilkan tarian Rejang Deha Teruna.

Kemudian sebagai kami sebutkan diatas maka hal tersebut terdapat dalam isi tulisan Prasasti
bantiran yang terbuat dari Tembaga Wasa, yang saat ini disimpan / disungsung di Pura Puseh
Desa Sading Kabupaten Badung.
Dalam Prasati tersebut dituliskan pada abad II ( Tahun caka 923 / tahun 1072 M dengan bahasa
zaman Peralihan Bali Kuna, ke Jawa Kuno bahwa Desa Pupuan itu sudah ada, yang jelasnya
kami akan sebutkan beberapa lembar dari prasasti dimaksud:

Ing Caka 1072 Cetramasa, Tithi Dwadeca Cuklapaksa,Ta,Wa,Wr Waraning Julung Pujut irika
dewasanire Paduka Cri Maharaja Jaya Sakti Umajari para senapati mekadi rakyan Apatih
Umingsor I Tanda Rakyan Ri Pakiran I Jro Mekabehan Kerusan Mpengku Cewasegata
masabrahmana I Pingsor nyajna paduka Cri Maharaja Ajaren sire kabeh Ri Gatinikang keramani
Bantiran Apasapara pawongannya magil mare Tha Ni Salen kari Masesa sakuren atunggu
karaman makanimitta kabyatan hutang lumud tan Kawasedenia ngisya drwya haji mwang pinta
panumbas ri nayakanya ya tika sampun inusadan denire kabeh sumrahaken pandaksayanye
kangenangen pawa lara prih sakitnya de Ibu ni Paduke cri Maha raja apan purih kadfi sire Prabu
saksat Hari Murti Jagadhita karuna umittisakaparipurnakna nikang rat rinaksadenira
matangnyadawuh anugra paduka Cri Maharaja .

Artinya :

Pada tahun caka 1072, bulan Cetra, tanggal Dua belas Bulan Paro Terang , hari tinggleh Wager
kemis Wuku Julung Pujut, pada hari itulah Sri maharaja Jayasakti ( Bima sakti ) memerintahkan
parasenapati , terutama rakyan apatih kemudian para tanda rakyan didalam paseban terutama
para Pendeta Siwa dan Budha , mahabrahmana, berikut amanat sri paduka Maharaja
menerangkan kepada sekalian itu yang isinya tentang peristiwa penduduk Desa Pupuan
keadaanya pecah belah antara penduduk itu ada yang pergi terus tinggal di Desa lain, yang
hingga kini sisa dari penduduk itu masih satu keluarga saja yang tinggal menetap
di Desanya.Oleh karena itu maka mereka sangat berat menanggungnya ,serta mereka tidak
sanggup akan membayar pajak Drewyahaji dan iuran iuran yang dipungut oleh para
Nayakannya. Hal ini sudah dibebaskan oleh sri Baginda, karena baginda terasa belas kasihan
kepada kesusahan dan kesedihan masyarakat yang kecil itu.lebih lebih karena Baginda itu
sebagai penjelmaan Sanghyang Wisnu ( Hari ) yang selalau mengamankan Negara dan berbelas
kasihan serta selalu menyempurnakan keadaan negaranya yang dikuasainya. Dan itulah baginda
memerintahkan Penduduk Desa Pupuan itu sekalian taklukannya, deberikan sebuah piagam
keputrusannya, yang isinya antara lain : Membebaskan Hutang Piutang Prihawak , iuran – iuran
dan Hutang Naik Turun selama 5 tahun. Selama 5 tahun itu mereka tidak dipersalahkan dan tidak
boleh ditahan serta disiksa dengan duri belatung dan juga tidak boleh dilaporkan kedalam
pura.tetapi setelah 5 tahun lamanya barulah mereka kena iuran permulaan sebagai biasa,
sebanyak 4 masaka setiap hutangnya yang satu Tabil, dan tidak boleh dilipat dan tidak boleh
dikenai iuran – iuran setiaphari,Tidak Kena PancaGina , hutang – hutangnya itu tidak kena iuran
Panusurtulis dan iuran Pembeli Sayub. Apabila ada salah seorang penduduk Desa Pupuan
mempunyai hutang hutang Prihawak, hal itu tiada dibenarkan oleh isi isi Piagam keputusan ini.
Sekarang kalau kita kaji isi Prasasti tersebut bahwasanya pada 1000 tahun yang lalu Pupuan ini
sudah ada penduduk yang jelas sebagai Desa Tua , nah setelah itu baru para Pendatang dari Desa
lain. Kemudian jaman penjajahan Belanda penduduk Desa Pupuan ditambah lagi Suku Madura,
Jawa dan Cina seperti sekarang ini.
Disamping itu pula dengan diketemukannya beberapa Sarkopagus, kemudian ditempat sekitarnya
yang agak tinggi ada pelinggih Bebaturan Pemujaan Wisnu yang merupakan perlambang
mensucikan Cri banginda, Cri Sakti yang merupakan penjelmaan Wisnu, antara lain :
1. Pura Puseh taman + 1½ Km disebelah Timur Desa Adat Pupuan, disana terdapat
peninggalan : Bajra, Tombak, Sangku dan Beberapa Lontar.
2. Pura Khayangan Grya Sari Udayalaya, dipelemahan Kayupuring, terdapat Sarkopagus
yang isinya Busana Pendeta dan Tulang Manusia.
Demikian pula di masing masing rumah tangga, perumahannya berpedoman kepada Tri mandala.
Dipelemahan Hulu yaitu Tempat Sanggah, masih menunjukkan keasliannya yaitu membuat
sanggah kemulan dari pohon dapdap sakti beratapkan ijuk. Palemahan perumahan situasinya
sempit dan ngomplek dan palemahan teben tempat wewalungan . kesemuannya memang
demikianlah diwariskan oleh para leluhur Desa Pupuan.

Setelah sekian abad Keadaan Desa Pupuan, maka tibalah saaatnya sekarang setelah Baginda Raja
mengumpulkan kembali Masyarakat Desa Pupuan dengan dibuka awig awig oleh Raja, karena
hampir musnah , kehilangan penduduknya yang selalu suka berpindah pindah . maka ternyata
Pupuan ini adalah daerah subur udaranya sejuk dengan tanaman Kopi, Cengkeh, Panili ,Padi dll.
Yang merupakan Penghasilan utama Pendudk Desa Pupuan.