Anda di halaman 1dari 15

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMK NEGERI 3 KUNINGAN


Program Keahlian : Teknik Ketenagalistrikan
Kompetensi Keahlian : Teknik Otomasi Industri
Mata Pelajaran : Piranti Sensor dan Aktuator
Kelas / Semester : XII / 5 Tahun Pelajaran
Materi Pokok : Liquid Level Sensor
Alokasi Waktu : 4 X 45 menit ( 180 menit )
Pertemuan ke :1

A. Kompetensi Inti ( KI )
KI 3 : Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif
pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora. Mampu
mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, serta
kawasan regional, dan internasional.

KI 4 : Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis,


mandiri, kolaboratif, dan komunikatif melalui pendekatan ilmiah sebagai
pengembangan dari yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumber lain
secara mandiri

Kompetensi Inti diambil dari Permen No 21 tahun 2016


( KI 1 dan KI 2, kompetensi inti tentang spiritual dan sosial disertakan pada mata
pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan Pendidikan Kewarganegaraan)
Untuk mapel yang selainnya cukup KI 3 dan KI 4

B. Kompetensi Dasar
3. 23 : Menganalisis piranti pendeteksi liquid level
4. 23 : Mengartikulasi aplikasi sensor liquid level
Kompetensi Dasar diambil dari SK Dirjen no 330 thn 2017

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Mengidentifikasi komponen-komponen sensor level air
2. Menganalsis cara kerja pitranti pendeteksi sensor liquid level.
3. Memanipulasi variable input pada aplikasi sensor liquid level
4. Mengartikulasi aplikasi sensor liquid level
a) IPK disusun menggunakan kata kerja opresional yang dapat diukur/dilakukan
b) Penilaian sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
c) IPK dari KD pengetahuan menggambarkan dimensi proses kognitif dan
d) Dimensi pengetahuan meliputi faktual, konseptual, prosedural, dan/atau
metakognitif
e) IPK dari KD keterampilan memuat keterampilan abstrak dan/atau ketrampilan konkret
f) Peserta didik boleh memiliki kemampuan di atas yang telah ditetapkan dalam IPK dan
dapat dikembangkan dari LOTS menuju HOTS
g) Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah
kemampuan berpikir dan bernalar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
rumit dan atau memecahkan suatu kasus atau masalah
h) Selama ini pembelajaran di SD lebih menekankan pada Lower Order Thingking Skills
(LOTS) atau kemampuan berpikir tingkat rendah yang hanya mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan faktual yang alternatif jawabannya hanya satu dan biasanya
jawaban tersebut berupa sesuatu yang dapat ditemukan langsung di buku atau
hapalan, seperti pertanyaan Siapa? Kapan? Dimana? Kemampuan berpikir tingkat
rendah merupakan perantara untuk kemampuan berpikir yang lebih tinggi.

D. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses diklat pada KD 3.23 , dan 4.23 dengan kegiatan diskusi dan
praktik diharapkan siswa dapat :
1. Mengenali jenis-jenis komponen sensor liquid level secara faktual dan konseptual
melalui diskusi dengan benar dan sesuai karakteristiknya.
2. Mengidentifikasi fungsi jenis-jenis komponen sensor liquid level secara faktual dan
konseptual melalaui diskusi dengan benar dan sesuai spesifikasinya.
3. Membuat variasi input input sensor liquid level secara prosedural melalui
demonstrasi dengan benar dan sistematis
4. Memanipulasi variable input sensor liquid level secara prosedural dengan benar
sesuai SOP.
5. Mengartikulasi beberapa rangkaian aplikasi sensor liquid level secara prosedural
dengan benar.

a) Dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional


yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, dan
keterampilan
b) Dituangkan dalam bentuk deskripsi, memuat kompetensi yang hendak dicapai
oleh peserta didik
c) Memberikan gambaran proses pembelajaran
d) Memberikan gambaran pencapaian hasil pembelajaran

E. Materi Pembelajaran

1. Sensor Level Menggunakan Pelampung

Cara yang paling sederhana dalam penyensor level cairan adalah dengan
menggunakan pelampung yang diberi gagang. Pembacaan dapat dilakukan dengan
memasang sensor posisi misalnya potensiometer pada bagian engsel gagang
pelampung. Cara ini cukup baik diterapkan untuk tanki-tanki air yang tidak terlalu
tinggi.

Gambar Sensor Level Menggunakan Pelampung

2. Sensor Level Menggunakan Tekanan

Untuk mengukur level cairan dapat pula dilakukan menggunakan sensor tekanan
yang dipasang di bagian dasar dari tabung. Cara ini cukup praktis, akan tetapi
ketelitiannya sangat tergantung dari berat jenis dan suhu cairan sehingga
kemungkinan kesalahan pembacaan cukup besar.

Sedikit modifikasi dari cara diatas adalah dengan cara mencelupkan pipa berisi udara
kedalam cairan. Tekanan udara didalam tabung diukur menggunakan sensor
tekanan, cara ini memanfaatkan hukum Pascal. Kesalahan akibat perubahan berat
jenis cairan dan suhu tetap tidak dapat diatasi.

Gambar Sensor Level Menggunakan Sensor Tekanan


3. Sensor level dengan kendali elektronik
Pendeteksian level ketinggian air dilakukan dengan membaca nilai tegangan yang
dihasilkan oleh masing-masing rangkaian pembagi tegangan yang tersusun oleh
resistor R dan RAir. (RAir adalah tahanan yang dibentuk oleh tangkai sensor dan
tangkai common (T1)). Nilai R dalam hal ini adalah 10K ohm.

 Vout1 – tegangan keluaran sensor LOWEST.


 Vout2 – tegangan keluaran sensor LOW.
 Vout3 – tegangan keluaran sensor MEDIUM.
 Vout1 – tegangan keluaran sensor HIGH.

Tegangan keluaran yang muncul ketika tangkai sensor tidak terkena air adalah
sekitar 4,9 volt. Akan tetapi ketika tangkai sensor menyentuh air, nilai Vout turun
antara 1-2 volt saja.

Perbedaan tegangan yang cukup jauh inilah yang digunakan sebagai acuan
pendeteksian dengan cara membandingkan nilai Vout dengan suatu tegangan
referensi yang telah diset sebelumnya.

Gambar di bawah adalah rangkaian pembanding sederhana menggunakan opamp


LM324. Rangkaian ini sederhana namun telah melewati serangkaian uji-coba
dengan hasil yang sangat memuaskan.

Keluaran rangkaian pembanding ini dapat langsung digunakan untuk menggerakkan


LED atau sebagai masukan TTL pada mikrokontroler.

Rangkaian ini telah saya implementasikan pada Pengendali Pompa Tandon Air
Pensuplai Boiler dan Pengendali Pompa Tandon Air Unit Chiller di CV STEGRA
Malang dan telah beroperasi selama lebih dari 5 tahun, dengan perawatan sensor
2-3 bulan sekali.

T1 adalah masukan dari rangkaian sensor diatas, bisa jadi Vout1, Vout2, Vout3, atau
Vout4. Pada gambar port keluaran bertuliskan HI untuk sensor ketinggian HI. Ini
berlaku sama persis untuk ketiga sensor lainnya.

Rangkaian pembagi tegangan yang disusun oleh resistor RA1 dan RA2 memberikan
tegangan pembanding sebesar (10000/14700) * 5 volt = 3,4 Volt. Sehingga masuk
dalam jangkauan keluaran sensor yang berada di kisaran 1-4,8 volt.

Ketika sensor tidak terkena air, Vin(+) > Vin(-), oleh karenanya tegangan keluaran
opamp akan berada di kisaran 3,5-4,5V. Dan ketika sensor terkena air, Vin(+) < Vin(-
), maka tegangan keluaran akan drop menjadi 0V.

F. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran


Pendekatan : Saintifik
Model Pembelajaran : Inquiry Terbimbing
Metode : Paparan, diskusi, tanya jawab, dan eksperimen terbimbing
G. Kegiatan Pembelajaran

Kegaiatan Deskripsi Alokasi Waktu

Pendahuluan 1. Guru mengkondisikan siswa untuk 20 menit


persiapan KBM, berdoa dan menyiapkan
semua kelengkapan KBM.
2. Guru melakukan absensi.
3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang harus dikuasai siswa pada materi
sensor liquid level.
4. Guru menyapaikan model dan metode
pembelajaran.
5. Guru menyampaikan teknik penilaian
6. Guru melakukan apersepsi materi sensor
dan aktuator.
Kegiatan Inti Orientasi Masalah 120 menit

1. Guru mengkondisikan siswa untuk


membaca 10 menit
2. Guru menanyangkan video pengisian air
pada bak penampung yang masih manual
star stop
3. Siswa mengamati tayangan video
4. Guru memberi pertanyaan tentang
permasalahan yang ada di tayangan video
5. Guru mengarahkan siswa untuk mencari
alternatif pemecahan masalah

Pengumpulan Data dan Verifikasi


Siswa membuat kelompok dan berdiskusi
mencari solusi terkait pemasalahan yang
dirumuskan, mencari data, dan memverifikasi
data yang diperoleh
Guru membantu memverifikasi data yang
diperoleh siswa

Pengumpulan Data Melalui Eksperimen


Siswa mulai melaksanakan eksperimen
pembuatan kontrol level air dengan
menggunakan beberapa jenis rangkaian
kontrol kemudian membandingkan jenis-jenis
rangkaian kontrol tersebut.
Guru memberikan bimbingan selama proses
eksperimen

Menarik Kesimpulan
Siswa membuat analisisdan mengambil
kesimpulan dari eksperimen yang telah
dilakukan.
Guru Mempertajam hasil kesimpulan siswa
tentang sistem kontrol l sensor liquid level

Penutup 1. Peserta didik dipersilahkan untuk 40 menit


menanyakan hal-hal yang mungkin masih
jadi masalah
2. Guru membantu perserta didik untuk
menjelaskan secara sistematis hasil
eksperimen siswa
3. Guru memberi penguatan materi sensor
liquid level
4. Guru membuat dan memberi penilaian
pengetahuan dan ketrampilan siswa.
Memuat 4C (kemampuan berkomunikasi, kemampuan berinteraksi,
kemampuan berpikir/lebih luas dari HOTS):
1. Critical thinking (berpikir kritik): proses konseptualisasi, menerapkan, menganalisis,
dan mengevaluasi melalui
2. Creativity (kreativitas): kemampuan mengembangkan solusi, ide, konsep, teori,
prosedur, produk. Inovasi, adalah bentuk kreativitas
3. Collaboration (kerjasama): kemampuan kerjasama dalam kelompok baik tatap muka
atau melalui komunikasi dunia maya untuk memecahkan masalah, menyelesaikan
konflik, membuat keputusan, dan negosiasi untuk mencapai tujuan tertentu (sintesis
antara lai, 2011 dan dede, 2010)
4. Communication (berkomunikasi): kemampuan mengemukakan pikiranatau
pandangan dan hasil lain dalam bentuk lisan, tulisan, menggunakan it, dan
Kemampuan mendengar, kemampuan memahami pesan
Literasi antara lain pengembangan budaya membaca dan menulis yang
dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman
beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan

H. Alat, Bahan. Media, dan Sumber Belajar


Alat : Laptob, Modul sensor level air, Alat Ukur (AVO meter)
Bahan : Air, plat alumunium, kabel secukupnya.
Media : Proyektor
Sumber Belajar : Buku Teknik Otomasi Industri kelas XII

Mengetahui, Kuningan, 03 Juli 2017


Kepala SMK Negeri 3 Kuningan Guru Mata Pelajaran

Drs.H.Mochamad Riono Siswanto, S. Pd


NIP. 19580626 198403 1 008 NIP. 19740703 200501 007
I. Penilaian Hasil Belajar
Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 yang membahas tentang STANDAR PENILAIAN
( Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 dan Permendikbud Nomor 104 tahun 2014
sudah dinyatakan TIDAK BERLAKU )
1. Teknik Penilaian
2. Instrumen penilaian
3. Program Remidial

Penilaian Pengetahuan
Kompetensi IPK Indikator Soal Jenis Soal Soal
Dasar
3.23 1. Mengidentifikasi 1. Siswa dapat Tertulis
Menganalisis komponen- mengidentifikasi
piranti komponen komponen-
pendeteksi sensor level air komponen
liquid level 2. Menganalisis sensor level
cara kerja liquid
pitranti 2. Siswa dapat
pendeteksi menganalisa
sensor liquid cara kerja
level. piranti sensor
liquid level

Penilaian Ketrampilan
4.23 1. Memanipulasi 1. Siswa dapat Demonstrasi/ Dalam LKS
Mengartikulasi variable input memanipulasi unjuk
aplikasi sensor pada aplikasi input rangkaian kerja/praktik
liquid level sensor liquid sensor liquid
level 2. Siswa dapat
2. Mengartikulasi mengartikulasi
aplikasi sensor beberapa
liquid level aplikasi
rangkaian
sensor liquid
BAB VI MEKANISME
PENILAIAN

Pasal 9

(1) Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pendidik:

a. perancangan strategi penilaian oleh pendidik


dilakukan pada saat penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus;

b. penilaian aspek sikap dilakukan melalui


observasi/pengamatan dan teknik penilaian lain yang
relevan, dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali
kelas atau guru kelas;

c. penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes


tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan
kompetensi yang dinilai;

d. penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik,


produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai
dengan kompetensi yang dinilai;

e. peserta didik yang belum mencapai KKM satuan


pendidikan harus mengikuti pembelajaran remedi; dan

f. hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan


keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk
angka dan/atau deskripsi.

(2) Ketentuan lebih lanjut tentang mekanisme penilaian oleh


pendidik diatur dalam pedoman yang disusun oleh
Direktorat Jenderal terkait berkoordinasi dengan Badan
Penelitian dan Pengembangan Kementerian.

Pasal 10

(1) Mekanisme penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan:

a. penetapan KKM yang harus dicapai oleh peserta didik


melalui rapat dewan pendidik;
b. penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan pada
semua mata pelajaran mencakup aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan;

c. penilaian pada akhir jenjang pendidikan dilakukan


melalui ujian sekolah/madrasah;

d. laporan hasil penilaian pendidikan pada akhir


semester dan akhir tahun ditetapkan dalam rapat dewan
pendidik berdasar hasil penilaian oleh Satuan
Pendidikan dan hasil penilaian oleh Pendidik; dan

e. kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik dari


satuan pendidikan ditetapkan melalui rapat dewan
pendidik.

(2) Ketentuan lebih lanjut tentang mekanisme penilaian oleh


satuan pendidikan diatur dalam pedoman yang disusun
oleh Direktorat Jenderal terkait berkoordinasi dengan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian.

Pasal 11

Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pemerintah:

a. penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dilakukan dalam


bentuk Ujian Nasional (UN) dan/atau bentuk lain dalam
rangka pengendalian mutu pendidikan;

b. penyelenggaraan UN oleh Badan Standar Nasional


Pendidikan (BSNP) bekerjasama dengan instansi terkait
untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan.

c. hasil UN disampaikan kepada peserta didik dalam bentuk


sertifikat hasil UN;

d. hasil UN disampaikan kepada satuan pendidikan untuk


dijadikan masukan dalam perbaikan proses
pembelajaran;

e. hasil UN disampaikan kepada pihak-pihak yang


berkepentingan sebagai dasar untuk: pemetaan mutu
program dan/atau satuan pendidikan; pertimbangan
seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; serta
pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan
pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu
pendidikan;

f. bentuk lain penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dapat


dilakukan dalam bentuk survei dan/atau sensus; dan

g. bentuk lain penilaian hasil belajar oleh Pemerintah diatur


dengan Peraturan Menteri.
BAB VI PROSEDUR
PENILAIAN

Pasal 12

(1) Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan:

a. mengamati perilaku peserta didik selama


pembelajaran;

b. mencatat perilaku peserta didik dengan


menggunakan lembar observasi/pengamatan;

c. menindaklanjuti hasil pengamatan; dan


d. mendeskripsikan perilaku peserta didik.

(2) Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tahapan:

a. menyusun perencanaan penilaian;

b. mengembangkan instrumen penilaian;

c. melaksanakan penilaian;

d. memanfaatkan hasil penilaian; dan

e. melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka


dengan skala 0-100 dan deskripsi.

(3) Penilaian aspek keterampilan dilakukan melalui tahapan:

a. menyusun perencanaan penilaian;

b. mengembangkan instrumen penilaian;

c. melaksanakan penilaian;

d. memanfaatkan hasil penilaian; dan

e. melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka


dengan skala 0-100 dan deskripsi.
Pasal 13

(1) Prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh


pendidik dilakukan dengan urutan:

a. menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada

RPP yang telah disusun;

b. menyusun kisi-kisi penilaian;

c. membuat instrumen penilaian berikut pedoman


penilaian;

d. melakukan analisis kualitas instrumen;

e. melakukan penilaian;

f. mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan

hasil penilaian;

g. melaporkan hasil penilaian; dan

h. memanfaatkan laporan hasil penilaian.

(2) Prosedur penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan


dilakukan dengan mengkoordinasikan kegiatan dengan
urutan:

a. menetapkan KKM;

b. menyusun kisi-kisi penilaian mata pelajaran;

c. menyusun instrumen penilaian dan pedoman


penskorannya;

d. melakukan analisis kualitas instrumen;

e. melakukan penilaian;

f. mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan


hasil penilaian;

g. melaporkan hasil penilaian; dan


h. memanfaatkan laporan hasil penilaian.

(3) Prosedur penilaian hasil belajar oleh pemerintah


dilakukan dengan urutan:

a. menyusun kisi-kisi penilaian;

b. menyusun instrumen penilaian dan pedoman


penskorannya;

c. melakukan analisis kualitas instrumen;

d. melakukan penilaian;

e. mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan


hasil penilaian;

f. melaporkan hasil penilaian; dan

g. memanfaatkan laporan hasil penilaian.

(4) Ketentuan lebih lanjut tentang prosedur Penilaian oleh


Pendidik sebagai mana dimaksud pada ayat (1) serta
Penilaian oleh Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur dalam pedoman yang disusun oleh
Direktorat Jenderal terkait berkoordinasi dengan Badan
Penelitian dan Pengembangan Kementerian.
BAB VII INSTRUMEN
PENILAIAN

Pasal 14

(1) Instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik dalam


bentuk penilaian berupa tes, pengamatan, penugasan
perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai
dengan karakteristik kompetensi dan tingkat
perkembangan peserta didik.

(2) Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan


pendidikan dalam bentuk penilaian akhir dan/atau ujian
sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi,
konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas
empirik.

(3) Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah


dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi,
konstruksi, bahasa, dan memiliki bukti validitas empirik
serta menghasilkan skor yang dapat diperbandingkan
antarsekolah, antardaerah, dan antartahun.
BAB VIII KETENTUAN
PENUTUP

Pasal 15

Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Peraturan Menteri


Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang
Standar Penilaian Pendidikan dan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 tentang
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar
dan Pendidikan Menengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.