Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN ANTEPARTUM BLEEDING

1.1. DEFINISI ANTEPARTUM BLEEDING (APB)


Ante Partum Bleding (APB) adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan
28 minggu. Biasanya lebih banyak berbahaya dari pada kehamilan sebelum 28
minggu.
Perdarahan Antepartum adalah perdarahan yang terjadi pada trimester terakhir
dari kehamilan. Pada hamil muda sebab-sebab perdarahan adalah abortus, kemahilan
ektopik, dan mola hidatidosa. Sedangkan perdarahan pada trimester terakhir sebab-
sebab perdarahan yaitu plasenta previa dan solusio plasenta .Pengertian antepartum
bleeding menurut literature :
 Perdarahan antepartum adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu
(Kapita Selekta, 276)
 Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang bersumber pada kelamin plasenta
yang biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir setelah 22 minggu (Sarwono,
362)
 Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28
minggu, biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan
kehamilan sebelum 28 minggu. (Mochtar, 269).
 Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada kehamilan setelah 22 minggu
sampai bayi belum dilahirkan (Maternal dan Neonatal, M 18)
Perdarahan ante partum yang berbahaya pada umumnya bersumber pada kelainan
plasentase cara klinis di klasifikasikan menjadi plasenta previa dan solusio plasenta
yaitu perdarahan ante partum yang belum jelas sumbernya.
1.2. Klasifikasi Perdarahan Antepartum
Perdarahan Antepartum dikelompokkan sebagai berikut:
1. Plasenta previa
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus.
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruhnya pembukaan jalan
lahir, sedangkan pada keadaan normal plasenta terletak pada bagian atas uterus.
Plasenta Previa adalah suatu kesulitan kehamilan yang terjadi pada trimesters
kedua dan ketiga kehamilan. Dapat mengakibatkan kematian bagi ibu dan janin. Ini
adalah salah satu penyebab pendarahan vaginal yang paling banyak pada trimester
kedua dan ketiga. Plasenta Previa biasanya digambarkan sebagai implantation dari
plasenta di dekat ostium interna uteri (didekat cervix uteri). Plasenta previa meningkat
kejadiannya pada keadaan-keadaan yang endometriumnya yang kurang baik misalnya
karena atrofi endometrium / kurang baiknya vaskularisasi desidua.
Ada 3 jenis plasenta previa :
1 Placenta previa totalis, seluruh ostium internum tertutup oleh placenta, bila
plasenta menutupi seluruh jalan lahir. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin bayi
dilahirkan per-vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat
hebat.
2 Placenta previa lateralis, hanya sebagian dari ostium tertutup oleh placenta,
bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada posisi inipun
risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui per-
vaginam.
3 Placenta previa marginalis, hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan
placenta, bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Bisa dilahirkan
per-vaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.
2. SolusioPlasenta
Solusio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus
uteri sebelum janin lahir. Biasanya terjadi dalam triwulan ketiga, walaupun dapat pula
terjadi setiap saat dalam kehamilan. Apabila terjadi sebelum kehamilan 20 minggu,
mungkin akan dibuat diagnosis abortus imminens. Plasenta dapat terlepas seluruhnya,
solusio plasenta totalis, atau sebagian, solusio plasenta parsialis, atau hanya sebagian
kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptura sinus marginalis. Perdarahan yang
terjadi karena terlepasnya plasenta dapat menyelundup keluar dibawah delaput
ketuban yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan keluar atau tersembunyi di
belakang plasenta yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi atau
kedua-duanya atau pada perdarahannya menembus selaput ketuban masuk ke dalam
kantong ketuban.
Solusio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal dikorpus uteri
yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu dan sebelumnya janin dilahirkan. Definisi
yang lain dari Solusio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada
fundus atau korpus uteri sebelum janin lahir.
Solusio Plasenta dibagi menjadi 3 menurut Trijatmo Rachimhadhi dan
Pritchard JA, yaitu:
 Trijatmo Rachimhadhi membagi solusio plasenta menurut derajat pelepasan
plasenta:
1. Solusio plasenta totalis, plasenta terlepas seluruhnya.
2. Solusio plasenta partialis, plasenta terlepas sebagian.
3. Ruptura sinus marginalis, sebagian kecil pinggir plasenta yang terlepas.
 Pritchard JA membagi solusio plasenta menurut bentuk perdarahan:
1. Solusio plasenta dengan perdarahan keluar.
2. Solusio plasenta yang perdarahannya masuk ke dalam kantong amnion.
3. Perdarahan tersembunyi / perdarahan ke dalam adalah darah tidak keluar, tetapi
berkumpul di belakang plasenta membentuk hematom retroplasenta dan
kadang-kadang darah masuk ke dalam ruang amnion.

Dengan perdarahan tersembunyi Dengan perdarahan keluar

– Pelepasan biasanya komplit – Biasanya inkomplit


– Sering disertai toxoemia – Jarang disertai toxaemia
– Hanya merupakan 20% dari solutio – Merupakan 80% dari solutio
plasenta plasenta

1.3 Etiologi
 Plasenta previa
Menurut Holmes (2011) penyebab plasenta previa tidak diketahui, namun diketahui
terkait dengan hal-hal berikut:
1. Multiparitas
2. Usia ibu yang semakin lanjut
3. Kehamilan kembar
4. Konsepsi dibantu
5. Jaringan parut pada uterus, seksio sesaria pada persalinan sebelumnya
6. Abnormalitas plasenta
7. Anomali struktur uterus
8. Kebiasaan merokok
 Solusio plasenta
Menurut Holmes (2011) etiologi solusio plasenta hingga kini belum diketahui
dengan jalas, dan pada 40% kasus tidak pernah dikatahui apa penyebabnya. Meskipun
demikian, faktor resiko berikut ada kaitannya dengan kondisi tersebut:
1. Multiparitas
2. Dekompresi uterus tiba-tiba
3. Ketuban pecah dini sebelum persalinan
4. Trauma akibat versi sefalik eksterna, kecelakaan lalu lintas, jatuh atau benturan
pada abdomen
5. Merokok
6. Penggunasalahan obat terlarang.
1.4. Manifestasi klinis
1. Manifestasi Klinis Dari Plasenta Previa
a. Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III.
b. Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.
c. Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan
gejala.
d. Perdarahan berwarna merah.
e. Letak janin abnormal.
2. Manifestasi Klinis Dari Solusio Plasenta
1. Perdarahan disertai rasa sakit.
2. Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin.
3. Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat.
4. Abdomen menjadi tengang.
5. Perdarahan berwarna kehitaman.
6. Sakit perut terus menerus.
1.5. Tanda Dan Gejala
 Gejala plasenta previa adalah:
1. Perdarahan tanpa nyeri
Biasanya perdarahan karena plasenta previa baru timbul setelah bulan ke
tujuh.
Hal ini disebabkan karena :
 Perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dari
abortus
 Perdarahan pada plasenta previa disebabkan karena pergerakan antara plasenta
dan dinding rahim
2. Perdarah berulang
Setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim maka regangan
dinding rahim dan tarikan pada serviks berkurang, tapi dengan majunya
kehamilan regangan bertambah lagi dan menimbulkan perdarahan baru,
kejadian ini berulang-ulang
3. Kepala anak sangat tinggi
Karena plasenta terletak pada katub bawah rahim, kepala tidak dapat
mendekati pintu atas panggul. Karena hal tersebut juga karena ukuran panjang
rahim berkurang, maka pada plasenta previa lebih sering terdapat kelainan
letak.
4. Warna perdarahan merah segar
5. Adanya anemia dan rejatan yang sesuai dengan keluarnya darah
6. Timbulnya perlahan-lahan
7. Waktu terjadinya saat hamil
8. Rasa tidak tegang saat palpasi
9. Denyut jantung janin ada
10. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
 Gejala Solusio plasenta
Gambaran klinis solusio plasenta (Wiknjosastro,2005) :
Solusio plasenta ringan
1. Ruptura sinus marginalis atau terlepasnya sebagian plasenta yang tidak
berdarah banyak
2. Terjadi perdarahan per vagina warnanya kehitam-hitaman dan sedikit sekali
3. Perut mungkin terasa agak sakit, terus-menerus akan tegang
Solusio plasenta sedang
1. Plasenta terlepas lebih dari seperempatnya, tetapi belum sampai dua pertiga luas
permukaannya
2. Sakit perut terus-menerus
3. Perdarahan per vagina yang mungkin tampak sedikit
4. Ibu mungkin telah syok
5. Bila janin masih hidup dalam keadaan gawat
6. Uterus teraba tegang terus-menerus dan nyeri tekan sehingga bagian janin sukar
diraba
7. Bila janin hidup bunyi jantung sukar bisa didengar dengan stetoskop biasa
8. Mungkin terjadi kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal
Solusio berat
1. Plasenta terlepas lebih dari dua pertiga permukaan terjadi sangat tiba-tiba
2. Ibu jatuh dalam ke dalam syok dan janin meninggal
3. Uterus sangat tegang seperti papan
4. Keadaan pervagina tampaknya tidak sesuai dengan keadaan syok ibunya, malah
perdarahan pervagina mungkin belum sempat terjadi
Kemungkinan besar terjadi kelainan pembekuan darah dan kelaian ginjal

1.6. Faktor Resiko Plasenta-Previa


1. Wanita lebih dari 35 tahun, 3 kali lebih berisiko.
2. Multiparitas, apalagi bila jaraknya singkat. Secara teori plasenta yang baru
berusaha mencari tempat selain bekas plasenta sebelumnya.
3. Kehamilan kembar.
4. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim sehingga mempersempit
permukaan bagi penempelan plasenta.
5. Adanya jaringan parut pada rahim oleh operasi sebelumnya.
6. Adanya endometriosis (adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan
seharusnya, misalnya di indung telur) setelah kehamilan sebelumnya.
7. Riwayat plasenta previa sebelumnya, berisiko 12 kali lebih besar.
8. Adanya trauma selama kehamilan.
9. Kebiasaan tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol.

1.7. Penatalaksanaan
1. Pada Plasenta Previa
 Terapi Ekopektif
Tujuan terapi ekopektif ialah supaya janin tidak terlahir premature, penderita
dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servikalis. Upaya
diagnosis dilakukan secara non-infansif pemantauan klinis dipantau secara ketat
dan baik.
 Syarat-syarat terapi ekopektif:
1. Kehamilan preterm dan perdarahan sedikit yang kemudian
berhenti.
1. Belum ada tanda-tanda inpartu.
2. Keadaan umum ibu cukp baik.
3. Janin masih hidup.
4. Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotic profilaksis.
5. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui inplantasi plasenta, usia
kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin.
6. Berikan tokolitik jika ada kontaraksi.
7. MgSO4 4 grm iv dosis awal dilanjutkan 4grm setiap 6 jam.
8. Betametason 24 mg iv dosis tunggal untuk pematangan paru janin.
9. Uji pematangan paru janin dengan tes kocok(bubble tes) dan hasil amniosentesis.
10. Bila setelah usia kehamilan diatas 24 minggu, plasenta masuh berada disekitar
ostium uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas, sehingga perlu
dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan
gawat janin.
 Terapi aktif
1. Wanita hamil diatas 2 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan
banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang maturnitas
janin.
2. Untuk diagnosis plasenta previa dan menetukan cara menyelesaikan persalinan,
setelah semua persyaratan terpenuhi, lakukan PDMO jika Infuse atau tranfusi
telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.
3. Kehamilan ≥ 37 minggu (BB 2500 grm) dan inpartu.
4. Janin telah meniggal atau terdapat anomaly kongenital mayor (misal: anensefali).
5. Perdarahan dengan bagian bawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul
(2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).
6. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan
menghentikan perdarahan.
7. Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri, jika janin
dilahirkan pervaginam.
8. Lakukan perawatan lanjut paska bedah termaksud pemantauan perdarahan,
infeksi dan keseimbangan cairan masuk, keluar.

2. Pada Solusio Plasenta


 Penanganan solusio plasenta harus dilakukan rawat inap di rumah sakit yang
memadai.ketika masuk segera dilakukan pemeriksaan darah lengkap termasuk
kadar Hb dan golongan darah serta gambaran pembekuan darah. Jika diagnosis
belum jelas dan janin masih hidup tanpa tanda-tanda gawat janin observasi ketat
dengan kesiagaan dan fasilitas yang bisa segera diaktifkan untuk intervensi jika
sewaktu-waktu muncul kegawatan.
 Persalinan mungkin pervaginam atau juga mungkin perabdominal tergantung
pada banyaknya perdarahan, telah ada tanda-tanda persalinan spontan atau belum,
dan tanda-tanda gawat janin. Penanganan terhadap solusio plasenta bisa
bervariasi sesuai berat ringannya penyakit, usia ibu, serta keadaan ibu dan
janinnya. Jika janin masih hidup dan cukup bulan serta belum ada tanda-tanda
persalinan pervaginam maka dilakukan bedah caesar. Pada perdarahan yang
cukup banyak segera lakukan resusitasi dengan pemberian transfusi darah dan
kristaloid yang cukup diikuti persalinan yang cepat untuk mengendalikan
perdarahan dan menyelamatkan ibu dan janin. Bedah caesar dilakukan pada kasus
yang berat atau telah terjadi gawat janin.
 Jika janin telah mati dalam rahim maka lebih sering dipilih persalinan
pervaginam kecuali jika ada perdarahan berat yang tidak teratasi dengan transfusi
darah atau ada indikasi obstetrik untuk melakukan persalinan perabdominal. Pada
persalinan pervaginam diperlukan upaya stimulasi miometrium secara
farmakologikatau masase agar kontraksi miometrium baik. Hal ini untuk
mencegah terjadinya perdarahan sekalipun masih terjadi gangguan pembekuan
darah.
1.8. KOMPLIKASI
1. Komplikasi pada ibu
a. Perdarahan
Perdarahan merupakan komplikasi yang paling awal yang harus segera ditangani,
penyebab perdarahan ini adalah :
 Atonia uteri
Sumber perdarahan ini bisa berasal dari tempat implantasi placenta.
 Ruptur Uteri
Sering terjadi dengan tambah meningkatnya penggunaan seksio karena itu bekas
SC tidak boleh cepat hamil lagi untuk memberikan kesempatan luka dapat
sembuh.
 Gangguan pembekuan darah
Kematian janin dalam rahim melebihi 6 minggu, pada solutio placenta dan
emboli air ketuban.
 Retensio placenta
Gangguan pelepasan placenta menimbulkan perdarahan dari tempat implantasi
placenta.
b. Infeksi
Infeksi pada seksio cesarea bisa meningkat bila didahului oleh :
 Keadaan umum yang rendah, anemia saat hamil, sebelum pembedahan sudah ada
gejala infeksi intra partum.
 Perlukaan operasi yang menjadi jalan masuk bakteri
 Terdapat retensio placenta
 Pelaksanaan operasi persalinan yang kurang steril.
c. Trauma tindakan operasi persalinan
 Perluasan luka episiotomi
 Perlukaan pada vagina
 Perlukaan pada servik
 Perlukaan pada furnik kolpoporeksis
 Terjadi ruptur uteri lengkap atau tidak lengkap
 Terjadi fistula dan inkontinentia
Trauma tindakan operasi paling berat adalah ruptur uteri.
2. Komplikasi pada bayi
Terjadi trias komplikasi yaitu :
1. Asfiksia
 Tekanan langsung pada kepala menekan pusat-pusat vital dan medula oblongata
 Asipirasi air ketuban, mekonium dan cairan lambung.
 Perdarahan atau oedem jaringan syaraf pusat.
2. Trauma langsung pada bayi
 Fraktur ekstremitas
 Dislokasi persendian
 Peralis esb
 Ruptur alat vital, hati bayi, robekan pada usus
 Fraktur tulang kepala bayi
 Perdarahan atau oedem jaringan otak
 Trauma langsung pada mata, hidung, telinga, dll.
3. Infeksi
Infeksi ringan sampai sepsis dapat menyebabkan kematian

1.9. Tabel perbedaan plasenta previa dan solusio plasenta

No
Ciri-ciri plasenta previa Ciri-ciri solusio plasenta
.

1. Perdarahan tanpa nyeri Perdarahan dengan nyeri

2. Perdarahan berulang Perdarahan tidak berulang

Warna perdarahan merah


3. Warna perdarahan merah coklat
segar

Adanya anemia dan


Adanya anemia dan renjatan yang tidak
4. renjatan yang sesuai
sesuai dengan keluarnya darah
dengan keluarnya darah

5. Timbulnya perlahan-lahan Timbulnya tiba-tiba

Waktu terjadinya saat


6. Waktu terjadinya saat hamil inpartu
hamil

7. His biasanya tidak ada His ada

Rasa tidak tegang (biasa)


8. Rasa tegang saat palpasi
saat palpasi
9. Denyut jantung janin ada Denyut jantung janin biasanya tidak ada

Teraba jaringan plasenta


Teraba ketuban yang tegang pada
10. pada periksa dalam
periksa dalam vagina
vagina

Penurunan kepala tidak Penurunan kepala dapat masuk pintu


11.
masuk pintu atas panggul atas panggul

Presentasi mungkin
12. Tidak berhubungan dengan presentasi
abnormal.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
1. Data Subjektif
 Identitas pasien
Mencakup nama, umur, tanggal lahir, alamat, pendidikan, lamanya menikah dll.
 Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Biasanya keluar darah segar dari jalan lahir sebelum dibawa kebidan atau
kerumah sakit dan tidak ada mules atau dengan mules.
2. Riwayat penyakit sekarang
Adanya pendarahan, nyeri dan bisa tidak nyeri, ibu dalam keadaan lemas.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pernahkah ibu melakukan abortus sebelumnya dan pernahkah mengalami
pendarahan pada semester 1 dan 2. Dan apakah ibu memiliki riwayat penyakit
jantung, asma DM.
4. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada keluarga yang mempunyai penyakit menahun, seperi : DM,
Hipertensi dll. Dan penyakit menular seperti : Hepatitis dan HIV.
5. Riwayat Haid terdiri dari :
Menarche, Siklus haid, lamanya haid, warna dan bau, keluhan saat menstruasi,
dan hari pertama haid terakhir (HPHT).
6. Riwayat Pendidikan :
Menikah, lamanya menikah, umur pada saat menikah istri dan suami.
7. Riwayat persalinan
Cara persalinan, nifas kehamilan sebelumnya, jumlah dan jenis kelaminan anak
hidup, berat badan lahir, cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan,
informasindan saat persalinan atau keguguran terakhir.
 Pengkajian Pola
 Pola Nutrisi Metabolik
Kaji pola makan pasien berapa kali pasien makan dalam sehari berapa porsinya,
jenis makanan dan minuman apa yang biasa di konsumsi.
 Pola Eliminasi
Kali pola eliminasi baik BAK maupun BAB meliputi warna, ketajaman bau
konsistensi, jumlah serta
 Pola Istirahat Tidur
Kaji berapa lama pasien tidur, kualitas tidur, kebiasaan tidur siang, dan ataupun
sering mengalami gangguan istirahat tidur, apakah pasien menggunakan obat
tidur atau sejenis.
 Pola Persepsi Terhadap Kesehatan
Apakah pasien dapat menjaga kebersihan walaupun sedang sakit.
 Pola Aktivitas-Latihan
Pasien yang sakit aktivitasnya menjadi berkurang karena adanya lemas dan perlu
di tanyakan pada pasien tentang kemampuan dalam menata apabila tingkat
kemampuannya :
0 = Mandiri.
1 = Menggunakan alat bantu.
2 = Di bantu dengan orang lain.
3 = Di bantu orang dan peralatan.
4 = Ketergantungan, tidak mampu.
 Pola Kognitif dan Perseptual
Apakah daya panca indra pasien mengalamin gangguan atau tidak.
P : Penyebab Yang memperberat dan memperingat, misal :
memperberrat aktivitas, memperingat ; distraksi dan
relaksasi.
Q : sejauh mana pasien merasakan sekarang.
R : Lokasi atau tempat.
S : Seberapa peran yang dirasakan.
T : kapan gejala dirasakan.
 Pola Persepsi Diri atau Konsep Diri
Adakah perubahan seputar peran ketika sebelum sakit dan saat mengalami sakit.
 Pola Seksualitas-Reproduksi
Seberapa besar pengaruh sakit pasien terhadap pola ini sedikit banyak pasti
mengalami perubahan.
 Pola Koping
Pasien yang sedang sakit mengalaim stress, seberapa stress yang dialami dan
bagaimana cara pasien mengatasinya.
 Pola Nilai kepercyaan
Bagaimana kegiatan keagamaan sebelum mengalami sakit dan pada saat sakit.
 Pola hubungan dan Peran
Interaksi dengan keluarga atau oarang lain.
2. Data Objektif
1. Kondisi Umum
Pertama kali yang harus diperhatikan yaitu, keadaan umum, seperti : TTV,
pendarahan, urin.
2. Pemeriksaan fisik umum meliputi :
 Kepala : Rambut, warna, penyebaran, kebersihan kulit kepala, adanya ketombe
atau tidak.
 Mata : Kesimetrisan, konjungtiva, pupil dan
 Mulut : Kebersihan, kesadaran membran mukosa.
 Hidung : Kesimetrisan, kebersihan.
 Leher : Pembesaran kelenjarlimfe, pembesaran kelenjar tyroid.
 Telinga : kesimetrisan, kebersihan pinna, heliks, dan Lobulla.
 Dada
Inspeksi : Bentuk dada.
Palpasi : Taktus fremitus (N : vokal fremitus ka/ki sama).
Perkusi : Mengetahui apakah dada konsolidasi cairan dalam paru (sonor).
Auskultasi : bunyi nafas untuk mengkaji udara, adanya sumbatan udara (N : suara
vesikuler).
 Jantung
Inspeksi : mengetahui adanya ketidak normalan denyutan.
Palpasi : (N : PMI teraba, ictus cordis tidak terlihat).
Perkusi : mengetahui ukuran dan bentuk jantung secara kasar (N : pekak).
Auskultasi : Mendengarkan bunyi jantung (N : S1, S2 bunyi tunggal).
 Abdomen
Inspeksi : Bentuk perut
Auskultasi : Mendengarkan bising usus, frekuensinya (N : 30x/menit).
Perkusi : Adanya cairan gas atau massa dalam perut.
Palpitasi : mengetahui bentuk.
 Genetalia
Genetalia inguinal genetalia / kotor atau tidak simetris
Genetalia perempuan : vulva, cairan vagina.
 Kulit dan kuku
Kebersihan kulit, Akral, Warna, Tekstur
Capilary Refil time : (N : < 2 detik kembali).
 Khusus
Tinggi fundus uteri. Posisi dan persentasi janin. Panggul dan janin lahir. Denyut
jantung janin
3. Pemeriksaan penunjang :
1. Analisa urin rutin.
2. Analisa tinja rutin.
3. Hb, MCV.
4. Golongan darah.
5. Hitung jenis sel darah.
6. Kadar gula darah.
7. Antigen hepatitis B virus.
8. Antibodi Rubela.
9. HIV/VDRL
10. Ultrasonografi- Rutin pada kehamilan 18-22 minggu untuk identifikasi
kelainan janin.
2 DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan
spasmeotot perut
2. Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output yang berlebihan
3. Gangguan perfusi jaringan pada janin berhubungan dengan adanya pendarahan
3. RENCANA KEPERAWATAN

Diagnosa
Tujuan & Kriteria Hasil Rencana Keperawatan Rasional
Keperawtan

Tujuan : Setelah 1. Lakukan pendekatan pada 1. Menjalin hubungan


dilakukan tindakan pasien dan keluarga. kerjasama yang baik.
keperawatan 1×24 2. Observasi TTV (N, S, RR). 2. Deteksi dini adanya
jam diharapkan perubahan skala nyeri.
Gangguan rasa
nyeri berkurang. 3. Observasi skala nyeri 3. Mengetahui
nyaman nyeri
Kriteria Hasil : pasien. perkembangan nyeri
berhubungan
1. Nyeri pasien.
dngan trauma
berkurang skala = 4. Kaji ulang faktor yang 4. Menyebutkan
jaringan dan
1-3 meningkatkan nyeri atau pencetus atau faktor
spasme otot
2. TTV dalam menghilangkan nyeri. pemberat.
perut.
batas normal, TD = 5. Ajarkan teknik relaksasi
120/90, saat nyeri.
N=80xmenit, S=36° 5. Menurunkan
c, RR=20x/menit. 6. Kolaborasi dengan tim tegangan otot dan
3. Wajah pasien medis dalam pemberian obat mengurangi nyeri.
tampak rileks. analgesik (anti nyeri, antibiotik) 6. Nyeri pasien dapat
berkurang.

1.Obsevasi tanda –tanda 1. Dengan mengukur tanda-


Tujuan : setelah vital tanda vital dapat diketahui
dilakukan tindakan secara dini kemunduran atau
selama 1 x 2jam kemajuan keadaan klien.

2. Kekurangan kebutuhan cairan 2. Istirahatakan menurunkan

cairan dan elektrolit terpenuhi di kebutuhan energi.Kerja

berhubungan buktikan dengan : 2.Istirahatkan klien di metabolisme tidak meningkat

dengan output yang Kriteria hasil : tempat yang nyaman sehingga tidak merangsang

berlebihan Turgor kulit untuk tidak terjadinya mual


membaik dan muntah
Dehidrasi berkurang 3. Dengan mengobservasi
Membrane mukosa tanda-tanda kekurangan cairan
lembab dapat diketahui keadaan
umum klien dan sejauh mana
3.Monitor vital sign kekurangan cairan pada
sertatanda – tanda dehidrasi klien.Tekanan darah menurun,
suhu meningkat dan nadi
meningkat merupakan tanda-
tanda dehidrasi dan
hipovolemia .
4. tranfusi darah dapat
4.Pemberian trasfusi dan membantu pengurangan factor
komponen darah sesuai pembekuan karena proses
dengan indikasi pembekuan yang abnormal
5. Pemberian cairan infus
5.Kolaborasi dengan dokter dapat menggantij umlah cairan
dalam pemberian infuse elektrolit yang hilang dengan
cepat
6.Monitor tetesan cairan 6. Jumlah dantetesan infuse
infuse yang tidak tepat dapat
menyebabkan terjadinya
kelebihan atau kekurangan
7.Catat intek dan output cairan pada sistim sirkulasi.
7. Dengan mengetahui intek
dan output cairan diketahui
8.Setelah 24 jam pertama keseimbangan cairan dalam
anjurkan minum tiap-tiap tubuh.
jam 8. Minum yang sering dapat
menambah pemasukan cairan
melalui oral

Tujuan :pendarahan 1. Monitor DJJ dan 1. gangguan perfusi plasenta


maternal dapat di pergerakan janin dapat menurunkan
atasi selama 2×1 jam oksigenisasi padajanin,
sehingga tidak sehingga pergerakan janin dan
3.Gangguan perfusi terjadi hipoksia DJJ tidak normal
jaringan pada janin janin. 2. posisi lateral dapat
berhubungan Kriteria hasil : 2. Anjurkan ibu memberikan sirkulasi yang
dengan pendarahan DJJ normal (120- mempertahankan posisi optimum pada uterus dan
160x/menit) tidur lateral plasenta .
Kebutuhan oksigen : pemberian oksigen akan 3.
janin terpenuhi 3. Tindakan kolaborasi Tindakan kolaborasi
Kontraksi uterus a.Pemberian Oksigen sesuai a. membantu sirkulasi oksigen
normal indikasi kejanin menjadi adekuat
Pergerakan janin b.pemeriksaan amniosintesis
baik dapat dijadikan indicator
b.Menyiapkan klien untuk kegawatan darurat janin.
memeriksakan c. tindakan section merupakan
amniosintesis jika salah satu alternative
diperlukan menghindari terjadinya fetal
c.Persiapkan klien untuk distress
dilakukan tindakan
emergensi seperti section
caesaria
DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C.2008.Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Ed.9.Jakarta:EGC

Chapman, Vicky.2006.Asuhan kebidanan: persalinandankelahiran.Jakarta:EGC

Hollingworth, Tony.2011.Diagnosis banding dalamobsetri&ginekologi.Jakarta:EGC

Holmes,Debbie.2011.Buku Ajar Ilmu Kebidanan.Jakarta:EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde.2003.Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri

Dan Ginekologi Ed.2.Jakarta:EGC

Medrofth, Janet.dkk.2011.Kebidanan Oxford.Jakarta:EGC

Prawirohardjo,Sarwono.2009.Ilmu Kebidanan.Jakarta:YBPS

Wiknjosastro,Hanifa.2005.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo

Prawirohardjo, 2005, Panduan Praktis Pelayanan Maternal Dan Neonatal, Jakarta :

TYBS-SP

Anda mungkin juga menyukai