Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

KETUBAN PECAH DINI (KPD) atau

PREMATURE RUPTURE OF THE MEMBRANE (PROM)

A. DEFINISI
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada
sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001).
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan
dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun
kehamilan aterm. (saifudin,2002)
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua
faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi
yang dapat berasal dari vagina serviks. (Sarwono Prawiroharjo, 2002)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila
pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm.
(Sarwono Prawirohardjo, 2005)

B. ANATOMI FISIOLOGI
Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan yaitu 1000–1500 cc
Ciri-ciri kimiawi :
Air ketuban berwarna putih kekeruhan, berbau khas amis, dan berasa
manis, reaksinya agak alkalis atau netral, berat jenis 1,008. Komposisinya
terdiri atas 98 % air, sisanya albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel-sel epitel,
rambut lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik. Kadar protein kira-kira
2,6 gr % per liter terutama sebagai albumin.
Dijumpai lecitin spingomyelin dalam air ketuban amat berguna untuk
mengetahui apakah janin sudah mempunyai paru-paru yang matang. Sebab
peningkatan kadar lecitin pertanda bahwa permukaan paru-paru diliputi zat
surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan
bernapas. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak
sungsang akan kita jumpai warna ketuban keruh kehijau-hijauan, karena telah
bercampur dengan mekonium.
Fungsi Air Ketuban
1. Untuk proteksi janin.
2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.
3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin
6. Meratakan tekanan intra–uterin dan membersihkan jalan lahir bila
ketuban pecah.
7. Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar dan perputarannya
cepat, kira-kira 350-500 cc.
Asal Air Ketuban
1. Kencing janin (fetal urin)
2. Transudasi dari darah ibu
3. Sekresi dari epitel amnion
4. Asal campuran (mixed origin)

C. ETIOLOGI
Yang menjadi faktor predesposisi adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan
terjadinya KPD.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh
karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya
KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan
dalam, maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena
biasanya disertai infeksi.
4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain
a. Faktor golongan darah
b. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat
menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit
ketuban.
c. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
d. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
e. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

D. MANIFESTASI KLINIK
1. Keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau/kecoklatan
sedikit/banyak
2. Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
3. Janin mudah teraba
4. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering
5. Inspekulo, tampak air ketuban mengalir/selaput ketuban tidak ada dan air
ketuban ketuban sudah kering.

E. KOMPLIKASI
1. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan
terjadinya KPD.
2. Partus peterm
Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi
pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20–37 minggu) atau
dengan berat janin kurang dari 2500 gram
3. Prolap Tali Pusat
Tali pusat menumbung
4. Distasia (partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan
menyebabkan dry labour atau persalinan kering

F. PATOFISIOLOGI
Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap.
infeksi tetapi selain itu cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri
ostatik yang dapat memainkan peran dalam pencegahan kario amnionitis dan
infeksi janin. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap
infeksi karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup
bulan, dengan membrane yang utuh sampai 25% pasien dalam persalinan
kurang bulan. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini, resiko infeksi
dan sepsis yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi
problematik, bagi ibu resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa
terjadi kegagalan induksi, maka harus dilakukan operasi section caesaria.
Nursing Pathway persalinan
Post Partum

ekstrogen dan progesteron menurun

Involusi
uterus oksitosin meningkat
KPD

kontraksi uterus lambat Kontraksi bagus Inserasi jalan lahir


Luka episiotomi

Volume darah Atonia uteri serviks dan


turun Pelepasan vagina
Terputusnya Kuman Mudah
jaringan jaringan berkembang merusak
Perdarahan
endometrium pembuluh
Anemia akut post of entri
darah
Volume cairan Menekan
lockea keluar pembuluh darah
Resiko
HbO2 turun turun infeksi
Resiko infeksi
Kurang perawatan
Hipoksia Gangguan
Nyeri
perfusi jaringan
perifer
Resiko syok Cemas
Invasi bakteri
hipovolemik
Takut BAB
Resiko infeksi
Resiko konstipasi
Nursing pathway ASI

Prolaktin meningkat

Isapan bayi adekuat Isapan bayi tidak


adekuat

Oksitosin meningkat Pembendungan ASI

Duktus dan alveoli Payudara bengkak


kontraksi

Nyeri akut

Efektif Tidak efektif

ASI keluar ASI tidak keluar

Ibu tidak tahu Ibu tidak tahu


bagaimana cara bagaimana cara
menyusui merawat payudara

Kurang
pengetahuan
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Leukosid darah > 15000/ul bila terjadi infeksi
b. Test lakmus merah berubah menjadi biru
c. Amnio sentetis
d. USG (menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang)
H. PENATALAKSANAAN
a. Keperawatan
- Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
- Umur kehamilan kurang 37 minggu.
- Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
- Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan
kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin.
- Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda
persalinan.
- Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau
gawat janin.
- Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi
uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air
berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.
b. Medis
- Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila
ditemukan tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan
terminasi kehamilan.
- Induksi atau akselerasi persalinan.
- Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan
mengalami kegagalan.
- Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat
ditemukan.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang: Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku,
Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan,
Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
2. Keluhan utama :
Keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau/kecoklatan
sedikit/banyak, pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban
sudah kering, inspeksikula tampak air ketuban mengalir/selaput ketuban
tidak ada dan air ketuban sudah kering
3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal
partus
4. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan
sah atau tidak, atau tidak direstui dengan orang tua?
5. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium: USG, darah,
urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi,
upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh
6. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara
pengobatan yang dijalaninya, dimana mendapat pertolongan, apakah
penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang–ulang
7. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara
genetik seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita
penyakit menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang
pernah di derita oleh keluarga
8. Kebiasaan sehari –hari
a. Pola nutrisi: pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan
nafsu makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan
b. Pola istirahat dan tidur: klien dengan KPD mengalami nyeri pada
daerah pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah
mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan
pada perineum)
c. Pola eliminasi: Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah
inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin),hilangnya
kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine
karena rasa takut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK.
Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut BAB karena luka
perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene: Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi,
penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tata
rias rambut dan wajah
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan
KPD di anjurkan untuk bedresh total
f. Rekreasi dan hiburan: Situasi atau tempat yang menyenangkan,
kegiatan yang membuat fresh dan relaks.
9. pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan kesadaran klie, BB/TB, tekanan darah, nadi, pernafasan
dan suhu
b. Head To Toe
1) Rambut: warna rambut, jenis rambut, baunya, apakah ada luka
lesi/lecet
2) Mata: sklera nya apakah ihterik/tidak, konjungtiva anemis/tidak,
apakah palpebra oedema/tidak, bagaimana fungsi penglihatannya
baik/tidak, apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan/tidak.
Pada umumnya ibu hamil konjungtiva anemis.
3) Telinga: apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat
serumen/tidak, apakah klien menggunakan alat bantu
pendengaran/tidak, bagaimana fungsi pendengaran klien baik/tidak
4) Hidung: apakah klien bernafas dengan cuping hidung/tidak, apakah
terdapat serumen/tidak, apakah fungsi penciuman klien baik/tidak
5) Mulut dan gigi: bagaimana keadaan mukosa bibir klien, apakah
lembab atau kering, keadaan gigi dan gusi apakah ada peradangan
dan pendarahan, apakah ada karies gigi/tidak, keadaan lidah klien
bersih/tidak, apakah keadaan mulut klien berbau/tidak. Pada ibu
hamil pada umumnya berkaries gigi, hal itu disebabkan karena ibu
hamil mengalami penurunan kalsium
6) Leher: apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
7) Paru–paru
Inspeksi : warna kulit, apakah pengembangan dada nya simetris
kiri dan kanan, apakah ada terdapat luka memar/lecet, frekuensi
pernafasan nya
Palpasi : apakah ada teraba massa/tidak , apakah ada teraba
pembengkakan/tidak, getaran dinding dada apakah simetris/tidak
antara kiri dan kanan
Perkusi : bunyi Paru
Auskultasi : suara nafas
8) Jantung
Inspeksi : warna kulit, apakah ada luka lesi/lecet, ictus cordis
apakah terlihat/tidak
Palpasi : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus cordis pada
ICS% Midclavikula
Perkusi : bunyi jantung
Auskultasi : apakah ada suara tambahan/tidak pada jantung klien
9) Abdomen
Inspeksi : keadaan perut, warna nya, apakah ada/tidak luka lesi dan
lecet
Palpasi : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase kepala apakah
sudah masuk PAP/belum
Perkusi : bunyi abdomen
Auskultasi : bising usu klien, DJJ janin apakah masih
terdengar/tidak
10) Payudara: puting susu klien apakah menonjol/tidak,warna aerola,
kondisi mamae, kondisi ASI klien, apakah sudah mengeluarkan
ASI/belum
11) Ekstremitas
Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi/memar, apakah ada
oedema/tidak
Bawah : apakah ada luka memar/tidak, apakah oedema/tidak
12) Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada
oedema/tidak pada daerah genitalia klien
13) Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit
baik/tidak
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban,
kerusakan kulit, penurunan hemoglobin, pemajanan pada patogen
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3. Defisiensi Pengetahuan b.d keterbatasan informasi mengenai tanda dan
gejala penyakit.
4. Nyeri akut b.d agen cidera fisik (luka operasi)
C. Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul
1) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban, kerusakan kulit, penurunan hemoglobin, pemajanan pada
patogen
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Risiko infeksi NOC : NIC :


 Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko :  Knowledge : Infection control  Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif  Risk control  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
- Kerusakan jaringan dan Setelah dilakukan tindakan keperawatan keperawatan
peningkatan paparan selama…… pasien tidak mengalami  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
lingkungan infeksi dengan kriteria hasil:  Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk
- Malnutrisi  Klien bebas dari tanda dan gejala umum
- Peningkatan paparan infeksi  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
lingkungan patogen  Menunjukkan kemampuan untuk kandung kencing
- Imonusupresi mencegah timbulnya infeksi  Tingkatkan intake nutrisi
- Tidak adekuat pertahanan  Jumlah leukosit dalam batas normal  Berikan terapi antibiotik:.................................
sekunder (penurunan Hb,  Menunjukkan perilaku hidup sehat  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
Leukopenia, penekanan  Status imun, gastrointestinal,  Pertahankan teknik isolasi k/p
respon inflamasi) genitourinaria dalam batas normal  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
- Penyakit kronik panas, drainase
- Imunosupresi  Monitor adanya luka
- Malnutrisi  Dorong masukan cairan
- Pertahan primer tidak  Dorong istirahat
adekuat (kerusakan kulit,  Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
trauma jaringan,  Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
gangguan peristaltik)

2) Kecemasan (Ansietas) b.d Perubahan dalam: status kesehatan


Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Kecemasan berhubungan dengan NOC : NIC :
Faktor keturunan, Krisis - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunankecemasan)
situasional, Stress, perubahan - Koping  Gunakan pendekatan yang menenangkan
status kesehatan, ancaman Setelah dilakukan asuhan selama  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
kematian, perubahan konsep diri, ……………klien kecemasan  Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
kurang pengetahuan dan teratasi dgn kriteria hasil: prosedur
hospitalisasi  Klien mampu mengidentifikasi  Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
dan mengungkapkan gejala mengurangi takut
DO/DS: cemas  Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan
- Insomnia  Mengidentifikasi, prognosis
- Kontak mata kurang mengungkapkan dan  Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
- Kurang istirahat menunjukkan tehnik untuk  Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik
- Berfokus pada diri sendiri mengontol cemas relaksasi
- Iritabilitas  Vital sign dalam batas normal  Dengarkan dengan penuh perhatian
- Takut  Postur tubuh, ekspresi wajah,  Identifikasi tingkat kecemasan
- Nyeri perut bahasa tubuh dan tingkat  Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan
- Penurunan TD dan denyut nadi aktivitas menunjukkan kecemasan
- Diare, mual, kelelahan berkurangnya kecemasan  Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,
- Gangguan tidur persepsi
- Gemetar  Kelola pemberian obat anti cemas:........
- Anoreksia, mulut kering
- Peningkatan TD, denyut nadi,
RR
- Kesulitan bernafas
- Bingung
- Bloking dalam pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi
3) Defisiensi Pengetahuan b.d keterbatasan kognitif dalam hal mengenal tanda dan gejala penyakit
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Kurang Pengetahuan NOC: NIC :
Berhubungan dengan  Kowlwdge : disease process
:  Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
 Kowledge : health Behavior
keterbatasan kognitif, interpretasi  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
terhadap informasi yang salah,Setelah dilakukan tindakan berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara
kurangnya keinginan keperawatan selama …. pasien
untuk yang tepat.
mencari informasi, tidak
menunjukkan pengetahuan tentang  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada
mengetahui sumber-sumber
proses penyakit dengan kriteria hasil: penyakit, dengan cara yang tepat
informasi.  Pasien dan keluarga menyatakan  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang
pemahaman tentang penyakit, tepat
kondisi, prognosis dan program  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan
DS: Menyatakan secara verbal pengobatan cara yang tepat
adanya masalah  Pasien dan keluarga mampu  Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien
DO: ketidakakuratan mengikuti melaksanakan prosedur yang dengan cara yang tepat
instruksi, perilaku tidak dijelaskan secara benar  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
sesuai  Pasien dan keluarga mampu
 Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
menjelaskan kembali apa yang
second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
dijelaskan perawat/tim kesehatan
 Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan
lainnya
cara yang tepat
4) Nyeri akut b.d agen cidera (fisik) luka operasi
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut berhubungan dengan: NOC : NIC :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik,  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
psikologis), kerusakan jaringan  pain control, lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
 comfort level presipitasi
DS: Setelah dilakukan tinfakan  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
- Laporan secara verbal keperawatan selama …. Pasien tidak  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
DO: mengalami nyeri, dengan kriteria dukungan
- Posisi untuk menahan nyeri hasil:  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
- Tingkah laku berhati-hati  Mampu mengontrol nyeri (tahu suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Gangguan tidur (mata sayu, penyebab nyeri, mampu  Kurangi faktor presipitasi nyeri
tampak capek, sulit atau menggunakan tehnik  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
gerakan kacau, menyeringai) nonfarmakologi untuk mengurangi  Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala,
- Terfokus pada diri sendiri nyeri, mencari bantuan) relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
- Fokus menyempit (penurunan  Melaporkan bahwa nyeri berkurang  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
persepsi waktu, kerusakan dengan menggunakan manajemen  Tingkatkan istirahat
proses berpikir, penurunan nyeri  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri,
interaksi dengan orang dan  Mampu mengenali nyeri (skala, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi
lingkungan) intensitas, frekuensi dan tanda ketidaknyamanan dari prosedur
- Tingkah laku distraksi, contoh : nyeri)  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
jalan-jalan, menemui orang lain  Menyatakan rasa nyaman setelah pertama kali
dan/atau aktivitas, aktivitas nyeri berkurang
berulang-ulang)  Tanda vital dalam rentang normal
- Respon autonom (seperti  Tidak mengalami gangguan tidur
diaphoresis, perubahan tekanan
darah, perubahan nafas, nadi
dan dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic dalam
tonus otot (mungkin dalam
rentang dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif (contoh
: gelisah, merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu makan
dan minum
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.
Jakarta
Mochtar Rustam. 1993. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta: Gramedia,
RSUD Dr. Soetomo . 2001. Perawatan Kegawat daruratan Pada Ibu Hamil, FK.
UNAIR. Surabaya
Saifuddin, Bari Abdullah. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wiknjosastro, Hanifa. Dkk. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai