Anda di halaman 1dari 3

Menguji Generalisasi Induktif

Oleh Dwi Krisdianto1

Pendahuluan
Kita mengenal pengukuran sebagai alat untuk membandingkan, baik hal-
hal yang bersifat fisik maupun non fisik, termasuk atribut psikologis. Tentu saja
konteks pengukuran yang bersifat non fisik ini berbeda, dalam hal mengukur. Kita
tidak bisa langsung mengukur bak menempel penggaris pada meja, melainkan
mengukur dengan serangkaian tes dan prosedur-prosedur. Pengukuran, yang
berhaluan positivisme, menghasilkan angka-angka yang ‘dapat dilihat secara
nyata’. Dengan kata lain, pengukuran merupakan suatu model observasi terhadap
angka-angka dengan cara yang sudah terstandardisasi: dengan statistik! Hal ini
dilakukan, mengingat positivisme sebagai paradigma yang menjunjung tinggi
objektivisme, membutuhkan suatu model bacaan yang dapat diterjemahkan di
manapun secara universal, yaitu dengan angka-angka.
Pengukuran hanya bersifat deskriptif, ia tidak berarti apa-apa bila hasilnya
tidak dievaluasi. Evaluasi terhadap seluruh sampel kemudian diintegrasikan
secara induktif dan diestimasikan dalam populasi dalam sebuah bentuk
generalisasi. Generalisasi yang bersifat induktif ini didasarkan pada observasi
terhadap realitas, entah melalui observasi dengan pengamat, pengukuran dengan
alat tes (mengobservasi angka-angka), dan metode-metode lainnya. Generalisasi
induktif ini menghasilkan hipotesis, yang dapat diujikan secara deduktif, yakni
sebuah kebalikan dari induktif.
Di sini pengukuran secara esensial tidak dibahas secara mendalam, namun
apakah generalisasi induktif yang tergariskan oleh interpretasi angka-angka yang
didapat dari pengukuran, yang menggunakan kekuatan objektivisme, tidak perlu
diragukan lagi kebenarannya.

Konten
Carl Gustav Hempel adalah seorang logician Jerman yang melihat suatu
‘masalah’ pada proses generalisasi induktif ini. Dia mempostulatkan sebuah
paradoks yang sangat terkenal, yakni Paradoks Gagak (Raven Paradox) pada
1945. Paradoks ini menyajikan tiga buah premis:
1. Generalisasi (induktif) dikonfirmasi dari atribut-atribut di dalamnya. Ini adalah
Nicod’s Condition (NC), dan dalam hal ini Hempel memberikan sebuah
hipotesis: semua gagak berwarna hitam. Dalam bahasa matematika, ini disebut
semua A = B. Premis ini akan dikonfirmasi dengan:
2. Equivalence Condition (EC), yakni sebuah premis untuk mengonfirmasi
premis pertama, misalnya: Gagak yang saya pelihara di rumah berwarna hitam.
Dalam bahasa matematika, ini disebut A = B.
3. Premis ketiga, yang disebut kontrapositif, adalah ekuivalen dengan premis
kedua, yakni sebuah hukum implikasi, dimana benda hijau ini (bukan hitam)
adalah apel (bukan gagak). Dalam bahasa matematika, ini disebut bukan B =

1
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
yang mengikuti kelas Psikometri (A). NIM 110911015.
bukan A. Dengan mengamati sebuah apel hijau, kita sedang mengonfirmasi
premis pertama, bahwa semua gagak berwarna hitam. Hal ini beralasan karena
premis ketiga ekuivalen dengan premis kedua yang juga mengonfirmasi premis
pertama.
Hal ini menjadi paradoks, karena apabila kita mengadakan sebuah
penelitian, kita akan mendapati bukti negatif lebih banyak, seperti halnya lebih
banyaknya benda yang tidak berwarna hitam dan bukan gagak daripada gagak
yang menjadi bukti positif atas penelitian kita, namun mengonfirmasi premis
pertama yakni semua gagak berwarna hitam. Bagaimana seharusnya kita
mengumpulkan sampel populasi gagak dan memverifikasi warnanya, tetapi
dengan mengumpulkan sampel dari semua benda yang tidak berwarna hitam dan
bukan gagak, hipotesis bahwa semua gagak berwarna hitam diperkuat. Hal yang
dipertanyakan adalah: meskipun ketiga premis di atas terlihat logis, dapatkah ini
dipakai dalam penelitian, temasuk penelitian-penelitian psikologi? Apa kita dapat
saja mengumpulkan sampel bervariabel negatif, namun seberapa banyak? Terlalu
banyak bukti negatif yang dapat dibuat sampel yang representatif, untuk diukur
secara psikometris.
Hal pertama yang dipertanyakan oleh Raven Paradox adalah mengenai
masalah generalisasi. Senyatanya, manusia tidak mungkin mengumpulkan seluruh
gagak di dunia dan mengurungnya dalam satu kandang untuk kemudian
diverifikasi, karena mungkin saja ada beberapa ekor gagak yang tidak berbulu
hitam. Peneliti mungkin saja mengumpulkan ribuan sampel gagak dan tidak
mendapati satu ekorpun berwarna putih sehingga menyimpulkan bahwa semua
gagak di dunia berwarna hitam. Ini bertentangan dengan prinsip probatio
diabolica atau yang lebih dikenal dengan prinsip Devil’s Proof, dimana kita tidak
akan pernah bisa membuktikan bahwa setan itu tidak ada, sehingga sama halnya
dengan gagak, tidak ada satu manusiapun yang dapat membuktikan bahwa tidak
ada gagak yang berwarna selain hitam. Hal ini dikarenakan keterbatasan manusia
dalam melakukan tindakan observasi; dalam hal ini adalah untuk mengobservasi
gagak berwarna selain hitam. Keterbatasan ini menjadi blunder bila digunakan
untuk membuat kesimpulan bahwa tidak ada gagak yang berwarna selain hitam.
Secara teoritispun, gagak yang merupakan makhluk hidup dengan tingkatan
evolusi yang tinggi mengandung gen albino, yakni absennya pigmen dalam
jaringan; satu dari sepuluh ribu telur akan menetaskan gagak albino, utuh maupun
albino sebagian.
Hal kedua yang dipertanyakan oleh Raven Paradox adalah apakah
falsifikasi masih dapat diterapkan di dalamnya. Secara teknis, premis ‘semua
gagak berwarna hitam’ dapat difalsifikasi, tetapi dalam realitas, sangat sulit untuk
menggugurkan premis tersebut, karena sangat kecilnya kesempatan untuk
mengobservasi gagak putih misalnya, dalam hal ini karena keterbatasan manusia
dalam melakukan observasi, seperti yang telah dijelaskan pada paragraf di atas.
Hal ini dikarenakan apabila kita mengambil sampel dari seluruh populasi gagak
(bahkan kita tidak dapat menghitung populasi makhluk hidup yang notabene
memiliki kehendak untuk bereproduksi secara mandiri), kemungkinan untuk tidak
mendapatkan gagak putih selalu ada dan kemungkinan ini tidak dapat dipungkiri.
Dalam hal ini Raven Paradox duduk dalam posisi observasi filosofis,
memastikan apakah proses-proses ilmiah yang kita lakukan sudah benar, sehingga
perlu selalu dijaga dan diuji. Dalam psikometri pun masalah ini perlu
diperhatikan, termasuk di dalamnya masalah pengambilan sampel dan presentase
error di dalam pengukuran. Menguji validitas dan reliabilitas sangatlah penting
dalam proses mengambil kesimpulan; mempertimbangkan wilayah generalisasi
adalah hal yang perlu dilakukan terus-menerus berkaitan dengan masalah sampel
dan estimasi populasi. Mungkin tidak semua gagak di dunia berwarna hitam,
tetapi setidaknya memperkecil wilayah generalisasi untuk memperkecil efek
Raven Paradox sangat penting dalam pertimbangannya untuk diterima
masyarakat. Kecermatan dalam melakukan observasi dan membuat alat ukur
sangatlah penting pula menimbang adanya variabel-variabel yang luput dari
perhatian tetapi ternyata berpengaruh terhadap konstruk yang sedang diteliti.
Segala kemungkinan dapat terjadi, bahkan dalam urusan matematis, sehingga
pengujian di setiap waktu terhadap ilmu, termasuk psikometri, sangat diperlukan,
demi sahih dan reliabelnya generalisasi yang akan diestimasikan ke dalam
populasi.

Referensi resume:
Kalish, C.W., & Lawson, C.A. (2007). Negative evidence and inductive
generalisation. Thinking & Reasoning, 13 (4), 394-425.