Anda di halaman 1dari 80

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah

menerangkan bahwa Penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk

mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan

pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan

daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,

keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah

kabupaten/kota adalah Urusan Pemerintahan yang lokasinya dalam Daerah

kabupaten/kota, Urusan Pemerintahan yang penggunanya dalam Daerah

kabupaten/kota, Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya

hanya dalam Daerah kabupaten/kota; dan/atau Urusan Pemerintahan yang

penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Daerah

kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan meliputi kelautan dan perikanan,

transmigrasi, pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya mineral,

perdagangan, perindustrian dan pariwisata.

Daerah berhak menetapkan kebijakan Daerah untuk menyelenggarakan

Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Daerah dalam

menetapkan kebijakan Daerah wajib berpedoman pada norma, standar,

prosedur, dan kriteria yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

1
2

Pemerintah daerah memiliki kewenagan untuk mengatur penyelenggaraan,

memberikan kebijakan terhadap pelaksanaan kegiatan atau usaha yang ada di

Kabupaten/kota, begitu pula halnya yang terkait pengelolaan sumberdaya

yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Kita tidak menutup mata begitu

banyak potensi-potensi di Kabupaten Sumbawa Barat yang masih harus

dibenahi dan dimanfaati sehingga nantinya akan menjadi daya tarik tersendiri

bahkan mampu menjadi kebanggan dalam dunia pariwisata di Kabupaten

Sumbawa Barat.

Pembangunan sektor pariwisata merupakan bagian integral dari

pembangunan nasional yang pelaksanaannya melibatkan tiga stakeholder

kunci yakni pemerintah, swasta dan masyarakat. Pengembangan sektor ini

dilaksanakan secara lintas sektoral yang melibatkan banyak institusi baik

tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional. Sektor pariwisata

sebagai salah satu sektor andalan (leading sector) di samping industri kecil

dan agroindustri, merupakan suatu instrumen untuk menghasilkan devisa dan

sekaligus diharapkan akan memperluas dan meratakan kesempatan berusaha,

lapangan kerja serta memupuk rasa cinta tanah air. Untuk itu perlu dilakukan

pembangunan pariwisata.

Pemanfaatan sumberdaya alam yang dimanfaatkan oleh sebagian orang

membuka peluang usaha dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada,

merupakan tolak ukur yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, karna

hal ini merupakan bagian dari pengembangan dunia usaha dan pariwisata di

Kabupaten Sumbawa Barat. Pariwisata bukan hal baru bagi Kabupaten


3

Sumbawa Barat, kegiatan ini telah ditempatkan sebagai objek kebijakan sejak

pertama kali terbentuk, menentukan kebijakan pembangunan. Dengan

semakin meningkatnya penyelenggaraan pariwisata yang mempunyai arti

strategis dalam pengembangan ekonomi, sosial dan budaya, yang dapat

mendorong peningkatan lapangan kerja, maka dalam hal ini pemerintah

daerah harus memiliki aturan yang jelas dengan tujuan untuk mengatur

pariwisata yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat.

Untuk mendukung serta tertib administrasi, pemerintah daerah

Kabupaten Sumbawa Barat telah mengeluarkan Peraturan Daerah No. 26

Tahun 2007 tentang Retribusi Perijinan Pariwisata. Badan Penanaman Modal

dan Perijinan Pelayanan Terpadu (BPMPPT) yang diberikan kewenangan

berwenang menerbitkan dan memperpanjang izin usaha hotel, berdasarkan

kewenangan delegasi dari Bupati Sumbawa Barat. Selain kewenangan atau

tugas lain yang dijalankan oleh Badan Penanaman Modal dan Perijinan

Pelayanan Terpadu (BPMPPT) adalah melakukan pengawasan terhadap

kegiatan usaha hotel yang dikelolah oleh pelaku usaha baik yang berbadan

hukum maupun perorangan. Sedangkan proses pemberian izin dilakukan

dengan langkah-langkah Mengisi formulir yang sudah disiapkan oleh Dinas

Parawisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumbawa Barat seperti Surat

permohonan pendaftaran usaha pariwisata, Surat pernyataan keabsahan dan

kebenaran dokumen dan Surat pernyataan pemilik usaha. Selanjutnya

melengkapi berkas-berkas seperti fotocopy akta pendirian badan usaha yang

dikeluarkan oleh notaris, Fotocopy surat keterangan tempat usaha yang


4

dikeluarkan oleh Lurah atau camat setempat. Fotocopy surat pemanfaatan

lahan, Fotocopy izin mendirikan bangunan, Fotocopy izin udang-undang

gangguan (HO) dan Fotocopy dokumen surat pengelolaan lingkungan yang

dikeluarkan oleh Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu.

Dan fotocopy dokumen AMDAL yang dikeluarkan oleh badan Lingkungan

Hidup Kabupaten Sumbawa Barat. Proses itulah yang harus dilampirkan oleh

pemohon untuk mendapatkan penerbitan izin usaha, dan jika salah satu dari

persyaratan tersebut tidak terpenuhi maka berkas pemohon tersebut akan

dikembalikan untuk kemudian oleh pemohon harus dilengkapi terlebih

dahulu.

Hasil observasi awal yang dilakukan penulis, dapat diketahui

permasalahan terkait dari permohonan izin usaha pariwisata yang dilakukan

pengelola terhadap pemerintah yang ditolak yaitu apabila dari syarat-syarat

yang diajukan pemerintah tidak dilampirkan sepenuhnya seperti, Izin

mendirikan bangunan, biaya, izin lingkungan dan lain sebagainya, Pemerintah

akan menerima permohonan izin usaha apabila syarat-syarat sudah terpenuhi

dengan baik sesuai dengan tata ruang kota, kenyamanan dari masyarakat yang

tidak akan teganggu dalam beraktifitas dan kondisi lingkungan yang tetap

terjaga.

Dalam pemberian izin usaha yang dilakukan, dimana pada dasarnya

memberikan izin biasanya ditentukan dalam peraturan perizinan yaitu orang

atau pejabat yang paling terkait yang dimohonkan izin, hal ini merupakan

prinsip yang mendasar dalam hukum perizinan. Pemberian izin didasarkan


5

atas permohonan dengan memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan sebelum

pelaku usaha baik perorangan maupun badan hukum yang mengadakan

kegiatan usaha langkah awal yang harus dilakukan adalah mengajukan

permohonan izin usaha kepada Pemerintah atau Kepala Instansi atau Dinas

tertentu dalam hal ini adalah Badan Penanaman Modal dan Perijinan

Pelayanan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat disertai identitas

pemohon serta persyaratan. Dalam permohonan perizinan, tidak semua

permohonan akan dikabulkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa

Barat. Permohonan yang ditolak tersebut akan dilampiri dengan alasan kenapa

permohonan tersebut ditolak.

Adapun masalah yang di hadapi oleh pelaku usaha dalam mengurus

sebuah izin usaha yaitu dari waktu prngurusan izin usaha yang relatif lama,

biaya yang relatif tinggi dan kejelasan waktu penyelsaianya. Hal-hal yang

seperti inilah yang kadangkala menurunkan kualitas dari pada pelayanan

pablik yang dapat mengakibatkan proses pemberian izin jadi terhambat,

sehingga banyak pemohon yang membatalkan minatnya walaupun sudah

setengah jalan dalam pengurusannya. Menyingkapi masalah tersebut Badan

Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten

Sumbawa Barat harus mampu mengoptimalkan SDM yang ada, sehingga

mampu memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat sebagai pelaku usaha,

dengan mengacu kepada Standar Operation System (SOP) Badan Penanaman

Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat.

Disatu sisi tidaklah semua proses penerbitan izin usaha tersebut berjalan
6

normal banyak tantangan didalam memberikan pelayanan terhadap

pengurusan berbagai jenis perizinan di Kabupaten Sumbawa Barat, faktor

yang menjadi penghambat pelaksanaan pelayanan izin usaha di Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa

Barat meliputi 2 (dua) Aspek yaitu Aspek Internal contohnya Sumber Daya

Manusia (SDM) dan Sarana dan prasarana sedangkan aspek Eksternal

contohnya pengaruh masyarakat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat diuraikan rumusan

masalah diantaranya sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Proses pemberian izin usaha pariwisata di Kabupaten

Sumbawa Barat ?

2. Apakah faktor penghambat dalam pemberian izin usaha pariwisata di

Kabupaten Sumbawa Barat?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui proses pemberian izin usaha pariwisata di Kabupaten

Sumbawa Barat.

2. Untuk mengetahui faktor penghambat dalam pemberian izin usaha

pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

berbagai pihak adalah sebagai berikut:


7

1. Secara Teoritis

a) Memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan

khususnya Ilmu Sosial dan ilmu Pemerintahan, mampu untuk

menumbuh kembangkan kemampuan berpikir secara kritis, dan ilmiah.

b) Sebagai bahan masukan, bagi penelitian selanjutnya dalam menentukan

dan mengetahui proses dalam pemberian izin usaha di Kabupaten

Sumbawa Barat.

2. Secara Praktis

Memberikan masukan sumbangan pemikiran bagi Pemerintah

Daerah dalam mengambil keputusan yang berkaitan pemberian izin usaha di

Kabupaten Sumbawa Barat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Perizinan

1. Pengertian Perizinan

Pembukaan UUD 1945 menetapkan dengan tegas tujan kehidupan

bernegara yang berdasarkan hukum, hal ini berarti bahwa hukum

merupakan supermasi atau tiada kekuasaan lain yang lebih tinggi selain

hukum. Upaya merealisasi Negara berdasarkan hukum dan mewujudkan

kehidupan bernegara maka hukum menjadi pengarah dan perancang

bagaimana bentuk masyarakat hukum untuk mencapai keadilan. Berkaitan

dengan hal tersebut perlu adanya pembentukan peraturan dimana harus

disesuaikan dengan perkembangan masyarakat serta tidak bertentangan

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pengertian izin menurut devinisi yaitu perkenan atau pernyataan

mengabulkan. Sedangkan istilah mengizinkan mempunyai arti

memperkenankan, memperbolehkan, tidak melarang. Secara garis besar

hukum perizinan adalah hukum yang mengatur hubungan masyarakat

dengan Negara dalam hal adanya masyarakat yang memohon izin. Hukum

perizinan berkaitan dengan Hukum Publik Prinsip izin terkait dalam

hukum publik oleh karena berkaitan dengan perundang-undangan

pengecualiannya apabila ada aspek perdata yang berupa persetujuan

seperti halnya dalam pemberian izin khusus. Izin merupakan perbuatan

Hukum Administrasi Negara bersegi satu yang diaplikasikan dalam

8
9

peraturan berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana ketentuan

perundang-undangan.

Perizinan dapat diartikan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan

fungsi pengaturan dan bersifat pengendalian yang dimiliki oleh pemerintah

terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Bentuk

perizinan antara lain: pendaftaran, rekomenadasi, sertifikasi, penentuan

kuota dan izin untuk melakukan sesuatu usaha yang biasanya harus

memiliki atau diperoleh suatu organisasi perusahaan atau seseorang

sebelum yang bersangkutan dapat melaksanakan suatu kegiatan atau

tindakan. Dengan memberi izin, pengusaha memperkenankan orang yang

memohonnya untuk melakukan tindakan tindakan tertentu yang

sebenarnya dilarang demi memperhatikan kepentingan umum yang

mengharuskan adanya pengawasan. (Damang A, 2014).

Dalam pengertian umum berdasarkan Kamus Besar Bahasa

Indonesia, perizinan diartikan sebagai hal pemberian izin. Sedangkan izin

itu sendiri, dalam kamus tersebut izin diartikan sebagai pernyataan

mengabulkan (tidak melarang) persetujuan membolehkan. Dengan

demikian, secara umum perizinan dapat diartikan sebagai hal pemberian

pernyataan mengabulkan (tidak melarang) atau persetujuan membolehkan.

Dalam konteks yang lebih khusus yaitu dalam kamus istilah hukum,

izin (vergunning) dijelaskan sebagai perkenaan/izin dari pemerintah yang

disyaratkan untuk perbuatan yang pada umumnya memerlukan


10

pengawasan khusus, tetapi yang pada umumnya tidaklah dianggap sebagai

hal-hal yang sama sekali tidak dikehendaki.

Menurut Berge, menyatakan bahwa secara umum izin merupakan

suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan undang-undang atau

peraturan pemerintah dalam keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan

larangan perundang-undangan (izin dalam arti sempit). Berdasarkan

pendapat tersebut, dalam izin dapat dipahami bahwa suatu pihak tidak

dapat melakukan sesuatu kecuali diizinkan atau diberi izin. Artinya,

kemungkinan seseorang atau suatu pihak tertutup kecuali diizinkan oleh

pemerintah. Dengan demikian pemerintah mengikatkan perannya dalam

kegiatan yang dilakukan oleh orang atau pihak yang bersangkutan.

(Pudyatmoko, Y. Sri. 2009). Sedangkan menurut Van der Pot, menyatakan

bahwa izin merupakan keputusan yang memperkenankan dilakukannya

perbuatan yang pada prinsipnya tidak dilarang oleh pembuat peraturan.

(Pudyatmoko, Y. Sri. 2009). Selanjutnya menurut Prajudi Atmosudirjo,

menyatakan bahwa izin (vergunning) adalah penetapan yang merupakan

dispensasi pada suatu larangan oleh undang-undang. Pada umumnya pasal

unadng-undang yang bersangkutan berbunyi, “dilarang tanpa izin dan

seterusnya.” Selanjutnya larangan tersebut diikuti dengan perincian syarat-

syarat, kriteria, dan sebagainya yang pelu dipenuhi oleh pemohon untuk

memperoleh dispensasi dari larangan, disertai dengan penetapan prosedur

dan petunjuk pelaksanaan (juklak) kepada pejabat-pejabat administrasi

negara yang bersangkutan. (Atmosudirjo, Prayudi. 1983)


11

Menurut Syahran Basah, menyatakan bahwa izin adalah perbuatan

hukum administrasi negara bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan

dalam hal kongkrit berdasarkan persyaratan prosedur sebagaimana

ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. (Atmosudirjo,

Prayudi. 1983). Ditambahkan pula oleh Bagir Manan, menyatakan bahwa

izin dalam arti luas berarti persetujuan dari penguasa berdasarkan

peraturan perundang-undangan untuk memperoleh melakukan tindakan

atau perbuatan tertentu yang secara umum dilarang. (Atmosudirjo,

Prayudi. 1983). Sedangkan menurut pendapat Ateng Syafrudin,

menyatakan bahwa izin bertujuan dan berarti menghilangkan halangan, hal

yang dilarang menjadi boleh, atau sebagai peniadaan ketentuan larangan

umum dalam peristiwa kongkrit (Atmosudirjo, Prayudi. 1983)

2. Fungsi dan Tujuan pemberian izin

Selaku instrument pemerintah izin berfugsi selaku ujung tombak

instrument hukum sebagai pengarah, perekayasa, dan perancang

masyarakat adil dan makur itu dijelmakan. Menurut Pudyatmoko, Y. Sri,

(2009) Mengenai tujuan perizinan secara umum adalah sebagai berikut :

a) Keinginan mengarahkan (mengendalikan sturen) aktivitas-aktivitas

terentu (misalnya izin bangunan);

b) Izin mencegah bahaya bagi lingkungan (izin-izin lingkungan);

c) Keinginan melindungi objek-objek tertentu (izin terbang, izin

membongkar pada monumen-monumen);


12

d) Izin hendak membagi benda-benda yang sedikit (izin penghuni di

daerah padat penduduk);

e) Izin memberikan pengarahan,dengan menyeleksi orang-orang dan

aktivitas-aktivitas (izin berdasarkan “drank en horecawet” dimana

pengurus harus memenuhi syarat-syarat tertentu)

B. Tinjauan Tentang Pariwisata

1. Pengertian Pariwisata

Secara umum pariwisata merupakan suatu perjalanan yang

dilakukan seseorang untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari

suatu tempat ke tempat yang lain dengan meninggalkan tempat semula

dan dengan suatu perencanaan atau bukan maksud untuk mencari nafkah

di tempat yang dikunjunginya, tetapi semata-mata untuk menikmati

kegiatan pertamasyaan atau rekreasi untuk memenuhi keinginan yang

beraneka ragam.

Istilah pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari

suku kata “pari” berarti berkeliling atau bersama, dan suku kata “wisata”

berarti perjalanan. Jadi secara pengertiannya pariwisata berarti perjalanan

keliling dari suatu tempat ke tempat lain. Kepariwisataan adalah

merupakan kegiatan jasa yang memanfaatkan kekayaan alam dan

lingkungan hidup yang khas, seperti hasil budaya, peninggalan sejarah,

pemandangan alam yang indah dan iklim yang nyaman. Perjalanan wisata

adalah perjalanan keliling yang memakan waktu lebih dari tiga hari, yang

dilakukan sendiri maupun di atur oleh Biro Perjalanan Umum dengan


13

acara meninjau beberapa kota atau tempat baik di dalam maupun di luar

negeri. (Tika Erlita Saputri, 2012)

Menurut Kodhyat (1998) pariwisata adalah perjalanan dari suatu

tempat ketempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan atau

kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan

kebahagian dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya, alam dan

ilmu. Sedangkan Gamal (2002), pariwisata didefinisikan sebagai bentuk.

Suatu proses kepergian sementara dari seorang, lebih menuju ketempat

lain diluar tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya adalah karena

berbagai kepentingan baik karena kepentingan ekonomi, sosial, budaya,

politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain. Selanjutnya Irawan,

Koko, (2010) menjelaskan pariwisata sebagai suatu trasformasi orang

untuk sementara dan dalam waktu jangka pendek ketujuan- tujuan di luar

tempat di mana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-

kegiatan mereka selama tinggal di tempat-tempat tujuan itu.

Menurut Oka A Yoeti, (2008) Suatu perjalanan yang dilakukan untuk

sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain

dengan maksud bukan mencari nafkah ditempat yang dikunjunginya tetapi

semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya

memenuhi keinginan yang beragam.

Menurut WTO (1999), yang dimaksud dengan pariwista adalah

kegiatan manusia yang melakukan perjalanan ke dan tinggal di daerah

tujuan di luar lingkungan kesehariannya. Sedangkan menurut Undang-


14

Undang RI nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan dijelaskan bahwa

wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau

sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan

rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik

wisata yang dikunjungi dalam waktu sementara. Menurut Mc Intos (1980)

pariwisata adalah gabungan kegiatan, pelayanan, dan industri yang

memberikan pengalaman perjalanan, seperti transportasi, akomodasi,

makanan dan minuman, pertokoan, fasilitas kegiatan hiburan, dan

pelayanan lainnya yang tersedia bagi individu atau kelompok yang

melakukan.

Pariwisata merupakan suatu usaha yang komplek, hal ini

dikarenakan terdapat banyak kegiatan yang terkait dalam

penyelenggaraan pariwisata. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya

seperti usaha perhotelan (home stay), usaha kerajinan/cinderamata, usaha

perjalanan, dan usaha-usaha lainnya. Usaha pariwisata dapat dapat

dikaitkan dengan sarana pokok kepariwisataan yaitu perusahaan yang

hidup dan kehidupannya sangat tergantung kepada arus kedatangan orang-

orang yang melakukan perjalanan wisata (Yoeti, 1996).

2. Pengembangan Pariwisata

Pengembangan adalah kegiatan untuk memajukan suatu tempat atau

daerah yang dianggap perlu ditata sedemikian rupa baik dengan cara

memelihara yang sudah berkembang atau menciptakan yang baru.


15

Menurut Hadinoto (1996), ada beberapa hal yang menentukan dalam

pengembangan suatu obyek wisata, diantaranya adalah:

a) Atraksi Wisata

Atraksi merupakan daya tarik wisatawan untuk berlibur. Atraksi

yang diidentifikasikan (sumber daya alam, sumber daya manusia,

budaya, dan sebagainya) perlu dikembangkan untuk menjadi atraksi

wisata. Tanpa atraksi wisata, tidak ada peristiwa, bagian utama lain

tidak akan diperlukan.

b) Promosi dan Pemasaran

Promosi merupakan suatu rancangan untuk memperkenalkan

atraksi wisata yang ditawarkan dan cara bagaimana atraksi dapat

dikunjungi. Untuk perencanaan, promosi merupakan bagian penting.

c) Pasar Wisata (Masyarakat pengirim wisata)

Pasar wisata merupakan bagian yang penting. Walaupun untuk

perencanaan belum/tidak diperlukan suatu riset lengkap dan

mendalam, namun informasi mengenai trend perilaku, keinginan,

kebutuhan, asal, motivasi, dan sebagainya dari wisatawan perlu

dikumpulkan dari mereka yang berlibur.

d) Transportasi

Pendapat dan keinginan wisatawan adalah berbeda dengan

pendapat penyuplai transportasi. Transportasi mempunyai dampak

besar terhadap volume dan lokasi pengembangan pariwisata.


16

e) Masyarakat Penerima Wisatawan yang Menyediakan Akomodasi dan

Pelayanan Jasa Pendukung Wisata (fasilitas dan pelayanan).

Menurut Suwantoro (1997), unsur pokok yang harus mendapat

perhatian guna menunjang pengembangan pariwisata di daerah tujuan

wisata meliputi:

a) Obyek dan Daya Tarik Wisata

Daya tarik wisata yang juga disebut obyek wisata merupakan

potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu

daerah tujuan wisata. Pada umumnya daya tarik suatu obyek wisata

berdasar pada:

1) Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang,

indah, nyaman dan bersih.

2) Adanya aksesibilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.

3) Adanya spesifikasi/ ciri khusus yang bersifat langka.

4) Adanya sarana dan prasarana penunjang untuk melayani wisatawan;

5) Obyek wisata alam memiliki daya tarik tinggi (pegunungan,

sungai, pantai, hutan dan lain-lain).

6) Obyek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena

memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-

upacara adat, nilai luhur yang terkandung dalam suatu obyek buah

karya manusia pada masa lampau.


17

b) Prasarana wisata

Prasarana wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya

buatan manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam

perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air,

telekomunikasi, terminal, jembatan dan lain sebagainya.

c) Sarana wisata

Sarana wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang

diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati

perjalanan wisatanya. Berbagai sarana wisata yang harus disediakan di

daerah tujuan wisata ialah hotel, biro perjalanan, alat transportasi,

restoran dan rumah makan serta sarana pendukung lainnya.

3. Dampak

Dampak merupakan perubahan yang terjadi di dalam suatu lingkup

lingkungan akibat adanya perbuatan manusia. Untuk dapat menilai

terjadinya dampak, perlu adanya suatu acuan yaitu kondisi lingkungan

sebelum adanya aktivitas (Soemarwoto 1988). Oleh karena itu dampak

lingkungan adalah selisih antara keadaan lingkungan tanpa proyek dengan

keadaan lingkungan dengan proyek. Dampak dari suatu kegiatan

pembangunan berpengaruh terhadap aspekaspek sosial, ekonomi dan

budaya.

a) Dampak Pariwisata

Menurut Faizun (2009), dampak pariwisata adalah perubahan-

perubahan yang terjadi terhadap masyarakat sebagai komponen dalam


18

lingkungan hidup sebelum ada kegiatan pariwisata dan setelah ada

kegiatan pariwisata.

Identifikasi dampak diartikan sebagai suatu proses penetapan

mengenai pengaruh dari perubahan sosial ekonomi yang terjadi

terhadap masyarakat sebelum ada pengembangan pembangunan dan

setelah adanya pengembangan pembangunan.

b) Dampak Pengembangan Pariwisata

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang secara langsung

menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga memberikan berbagai

dampak terhadap masyarakat setempat. Bahkan pariwisata mampu

membuat masyarakat setempat mengalami perubahan dalam berbagai

aspek kehidupannya baik secara ideologi, politik, ekonomi, sosial,

budaya, pertahanan, dan keamanan. Hal tersebutlah yang

mengakibatkan dampak akan sebuah pariwisata menjadi studi yang

paling sering mendapatkan perhatian masyarakat karena sifat

pariwisata yang dinamis dan melibatkan banyak pemangku

kepentingan.

Pariwisata tentu saja akan memberikan dampak baik itu

dampak positif maupun dampak negatif. Pengembangan pariwisata dan

kunjungan wisatawan yang meningkat dapat menimbulkan dampak atau

pengaruh positif maupun negatif dan yang terkena dampak tersebut

adalah masyarakat, lingkungan, ekonomi, serta sosial (Lenner dalam

Mathieson & Wall, 1982).


19

Masyarakat dalam lingkungan suatu obyek wisata sangatlah

penting dalam kehidupan suatu obyek wisata karena mereka memiliki

kultur yang dapat menjadi daya tarik wisata, dukungan masyarakat

terhadap tempat wisata berupa sarana kebutuhan pokok untuk tempat

obyek wisata, tenaga kerja yang memadai dimana pihak pengelola

obyek wisata memerlukannya untuk menunjang keberlangsungan hidup

obyek wisata dan memuaskan masyarakat yang memerlukan pekerjaan

dimana membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan

kualitatif. Pengertian penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti

status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu pemikiran atau

dalam kelas pristiwa masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah

untuk membuat deskriptif dan gambaran secara sistimatis, faktual dan akurat

mengenai fakta-fakta, sifat-sifat secara hubungan antara fenomena yang

diselidiki, (Nasir, 1999). Sedangkan menurut Widodo (2000) penelitian

deskriptif merupakan penelitian yang dimaksud untuk mengumpulkan

informasi mengenai status suatu variabel atau tema, gejala atau keadaan yang

ada pada saat penelitian dilakukan.

Penelitian kualitatif bersifat penemuan dan dilakukan pada kondisi

alamiah. Dalam melakukan penelitian ini harus memiliki banyak

pengetahuan, menguasai teori dan berwawasan luas. Penelitian kualitatif

merupakan sebuah cara yang lebih menekankan pada aspek pemahaman

secara mendalam terhadap suatu permasalahan. Penelitian kualitatif ialah

penelitian riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis

serta lebih menonjolkan proses dan makna. Tujuan dari metodologi ini ialah

pemahaman secara lebih mendalam terhadap suatu permasalahan yang

20
21

dikaji. Dan data yang dikumpulkan lebih banyak kata ataupun gambar-

gambar daripada angka.

B. Fokus Penelitian

Untuk memberikan suatu pemahaman agar memudahkan penelitian ini

maka penulis memberikan beberapa batasan penelitian, dan fokus penelitian

ini yang dioperasionalkan melaui beberapa indikator sebagai berikut:

1. Proses pemberian izin usaha pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat

meliputi :

a) Mekanisme/Alur pemberian izin usah

b) SOP

2. Faktor penghambat pemberian izin usaha pariwisata di Kabupaten

Sumbawa Barat meliputi :

a) Aspek Intenal : SDM dan Sarana Prasarana

b) Aspek Eksternal : Masyarakat

C. Lokasi dan Situs Peneltian

1. Lokasi Peneitian

Menurut Sutrisno Hadi lokus adalah seluruh penelitian yang

dimaksud untuk diselidiki. Adapun lokasi penelitian dalam penelitian ini

dilakukan di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (DISPAREKRAF) dan

Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu (BPMPPT)

Kabupaten Sumbawa Barat.


22

2. Situs Penelitian

Situs adalah sebagian wilayah yang diselidiki. Situs penelitian

dilakukan di Sub Bagian Perizinan Badan Penanaman Modal dan Perijinan

Pelayanan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat.

D. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Sesuai dengan yang di ungkapkan oleh Ida Bagus Netra tersebut

maka jenis data yang dibutuhkan yaitu:

a. Data Primer

Data Primer adalah data yang di peroleh secara langsung dari

lokasi penelitian dengan cara mengadakan wawancara atau hasil

observasi secara langsung dengan informan yaitu Manager Hotel,

Kepala Bagian dan Karyawan Disparekraf dan BPMPPT Kabupaten

Sumbawa Barat.

b. Data Skunder

Data Skunder atau data pendukung dari data primer yang

diperoleh dari pihak lain dan dari buku-buku ilmiah, dokumen-

dokumen dan catatan resmi yang berkaitan dengan penelitian (Endang

Poerwati, 1998).

2. Sumber data

Sumber data dalam peneliltian ini adalah orang-orang, peristiwa-

peristiwa, dokumen-dokumen lainnya yang dianggap penting. Ida Bagus

Netra (1997) mengataka bahwa sumber data dapat dibedakan menjadi dua
23

yaitu data primer dan data skunder. Data merupakan bahan mentah yang

di olah, kemudian data tidak ada artinya apabila tidak di olah. Sedangkan

sumber data dalam penelitian ini adalah:

a. Informan adalah orang yang dapat memberikan informasi yang

berkaitan dengan fokus penelitian seperti:

1) Kepala BBMPPT Kabupaten Sumbawa Barat

2) Kabid Perizinan BPMPPT Kabupaten Sumbawa Barat

3) Kasubbid Perizinan BPMPPT Kabupaten Sumbawa Barat

4) Kepala Dinas Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten

Sumbawa Barat

5) Kasi Pemasaran Wisata Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat

6) Kasi Pengembangan Destenasi Wisata Pariwisata Dan Ekonomi

Kreatif Kabupaten Sumbawa Barat

7) Kasi Sarana Prasarana Wisata Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat

8) Nuraeni salah seorang warga Kelurahan Menala

b. Dokumen adalah dokumen-dokumen yang berkaitan

dengan penelitian, peraturan-peraturan, petunjuk pelaksanaan dan

petunjuk tekhnis dan sebagainya yang ada kaitannya dengan

Kewenangan yang dilakukan pemerintah daerah dalam pembuatan izin

usaha.
24

c. Peristiwa adalah mengamati berbagai peristiwa

yang muncul di lapangan yang berkaitan pembuatan izin usaha di

Kabupaten Sumbawa Barat.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis

dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan

data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Interview (wawancara)

Interview (wawancara) yaitu suatu proses tanyajawab secara lisan

dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik yang satu dapat

melihat muka orang yang lain dan mendengarkan dengan telinga suaranya

(Hadi, 1989) penetapan tekhnik wawancara ini dilakukan dengan cara

peneliti menemukan Informan kunci, dan Informan kunci ditentukan oleh

peneliti berdasarkan informasi dan Informan tersebut dianggap banyak

mengetahui masalah penelitian. Selanjutnya proses wawancara dilakukan

secara terus menerus untuk mendapatkan data yang sesuai dengan judul

dan kebutuhan penelitian.

2. Dokumentasi

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data skunder yaitu dengan

cara-cara mempelajari arsip-arsip atau catatan-catatan, buku-buku

termasuk pula kondisi geografis, demografi dan bentuk tulisan yang ada
25

hubungannya dengan penelitian ini. Data ini digunakan untuk melengkapi

data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara.

3. Observasi

Observasi adalah kegiatan pengamatan terhadap obyek yang akan

diteliti dengan melakukan secara langsung kepada obyek penelitian.

Bentuk dan tekhnik atau hal yang dilakukan dalam hal pemberian izin

usaha di Kabupaten Sumbawa Barat. Sebagai metode ilmiah observasi

adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistimatik fenomena-fenomena

yang diselidiki (Hadi, 1989)

F. Teknik Analisis Data

Tujuan dari analisa data pada dasarnya adalah untuk menyederhanakan

data dalam bentuk yang muda dipahami. Analisis data ini dalam penelitian

deskriptif kualitatif adalah induksi interpretatif yaitu usaha pengambilan

keputuan berdasarkan perkiraan logis atas data-data yang diperoleh.

Pendekatan interpretatif dalam ilmu sosial dimulai dengan pemahaman

terhadap fakta-fakta atau data-data yang dikumpulkan dengan pemahaman

intlektual yang digunakan berdasarkan data empiris yang logis (Moleong,

2000).

Analisis data yang menjadi acuan dalam penelitian ini mengacu pada

beberapa tahapan yang dijelaskan Miles dan Huberman:


26

Gambar 3.1
Kerangka Konseptual

Pengumpulan
Data Penyajian
Data

Reduksi
Data

Penarikan
Kesimpulan

Sumber data: Sugiyono (2013)

Langkah-langkah dalam proses penelitian deskriptif kualitatif adalah

sebagai berikut:

1. Membaca dan mempelajari data yang terkumpul sampai dikuasai

sepenuhnya sambil memikirkan untuk mencari apakah ada pola-pola yang

menarik.

2. Melihat berbagai konsep yang timbul yang digunakan informasi

3. Menerangkan sejauhmana data dan metode untuk mengungkapkan

karakteristik kategori data tertentu.

4. Mencari hubungan antar konsep dalam usaha mengembangkan suatu teori.

5. Setelah melalui langkah-langkah tersebut, maka data yang telah diperoleh

dikumpulkan, disusun, diinterprestasikan untuk selanjutnya ditarik suatu

kesimpulan secara umum.


27

G. Keabsahan Data

Menurut Burhan Bungin, (2003) mengatakan bahwa dasar yang

digunakan untuk menilai suatu penelitian kualitatif harus menelitian Standar

penelitian ilmiah dapat dilihat dari kafabilitas data dan keterangan dalam hasil

penelitian.

Menurut Lincon dan Guba (dalam Burhan Bungin 2003) ada 4 standar

utama guna menjamin keabsahan hasil penelitian kualitatif yaitu:

1. Standar Kredibilitas

Standar kredibilitas ini identik dengan validasi internal dalam

penelitian kualitatif, agar hasil penelitian kualitatif memiliki tingkat

kepercayaan yang tinggi sesuai dengan fakta terbaru di lapangan dengan

ketentuan:

a. Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam proses pengumpulan data,

dengan semakin lamanya peneliti terlibat dalam pengumpulan data,

akan semakin memungkinkan meningkatnya derajat kepercayaan data

yang dikumpulkan, persyaratan ini memberi petunjuk bahwa dalam

pengumpulan data tidak boleh di serahkan sepenuhnya kepada

enumerator yang tahu persis permasalahan yang diteliti adalah peneliti

itu sendiri, bukan orang lain termasuk enumerator.

b. Melakukan observasi secara terus menerus dan sungguh sehingga

peneliti semakin mendalami fenomena sosial yang diteliti seperti apa

adanya, teknik observasi boleh dikatakan merupakan keharusan dalam

pelaksanaan penelitian kualitatif, hal ini disebabkan karena banyaknya


28

fenomena sosial yang tersamar atau kasat mata yang sulit terungkap

bilamana hanya digali melalui wawancara.

2. Standar Transferabilitas

Standar ini merupakan modifikasi validasi eksternal dalam

penelitian kualitatif, pada prinsipnya standar transferabilitas ini

merupakan pertanyaan empirik yang tidak dapat di jawab oleh peneliti

kualitatif itu sendiri, tetapi di jawab oleh pembaca laporan penelitian, hasil

penelitian kualitatif memiliki standar transferabilitas yang tinggi bilamana

para pembaca laporan penelitian ini memperoleh gambaran dan

pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian.

3. Standar Dependabilitas

Standar ini boleh di katakan mirip dengan standar reliabilitas, adanya

pengcekan atau penilaian akan ketepatan peneliti dalam

mengkoseptualisasikan apa yang di teliti merupakan cermin dari

kemantapan dan ketepatan menurut standar reliabilitas peneliti dalam

keseluruhan proses penelitian, baik dalam kegiatan pengumpulan data,

interpretasi temuan maupun dalam melaporkan hasil penelitian.

4. Standar Konfirmabilitas

Standar ini lebih terfokus pada audit (pemeriksaan) kualitas dan hasil

penelitian, apa benar dari hasil pengumpulan data di lapangan, sedangkan

instrumen dalam penelitian yang mendukung jalannya penelitian adalah

alat atau fasilitas yang di gunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar
29

pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, cermat, lengkap serta

sistematis dan mudah di olah.


BAB IV

HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

a. Gambaran Umum Kabupaten Sumbawa Barat

Kabupaten Sumbawa Barat sebagai salah satu daerah dari

sembilan kabupaten/kota yang berada pada di wilayah Provinsi Nusa

Tenggara Barat terletak di ujung barat Pulau Sumbawa pada posisi

116o42’ sampai dengan 117o05’ Bujur Timur dan 08o08' sampai dengan

09o07’ Lintang Selatan, dengan batas – batas sebagai berikut Sebelah

Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sumbawa, Sebelah

Barat berbatasan dengan Selat Alas, Sebelah Utara berbatasan dengan

wilayah Kabupaten Sumbawa, Sebelah Selatan berbatasan dengan

Samudra Indonesia.

Wilayah daratan Kabupaten Sumbawa Barat seluas 184.902 ha,

mencakup lima kecamatan dengan urutan dari yang terluas hingga

tersempit adalah Kecamatan Jereweh 31,08%, Kecamatan Taliwang

27,93 %, Kecamata Sekongkang 16,50%, Kecamatan Seteluk 13,00%,

dan Kecamatan Brang Rea 11,50% dari luas Kabupaten. Selanjutnya

dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2008, Wilayah

Administrasi Kabupaten Sumbawa Barat telah dimekarkan menjadi 8

(delapan) Kecamatan, yakni Kecamatan Poto Tano dengan Luas 15,888

ha yang terdiri dari 6 desa/desa persiapan, Kecamatan Seteluk dengan

30
31

luas wilayah 23.621 ha yang terdiri dari 7 desa, Kecamatan Brang Rea

dengan Luas mencapai 21.207 ha yang terdiri dari 4 desa, Kemudian

Kecamatan Brang Ene dengan luas wilayah 14.090 ha yang terdiri dari

5 desa, Kecamatan Taliwang sebagai Ibu Kota Kabupaten memiliki luas

wilayah 37.593 ha yang terdiri dari 6 Kelurahan dan 7 desa, selanjutnya

Kecamatan Jereweh memiliki luas 26.019 ha yang terdiri dari 4 desa,

Kecamatan Maluk dengan luas wilayah 9.242 ha yang terdiri dari 5 desa

dan Kecamatan Sekongkang yang terletak di ujung Selatan Kab.

Sumbawa Barat memiliki luas wilayah 37.242 ha yang terdiri dari 6

desa.

Gambar 4.1
Peta Kabupaten Sumbawa Barat
32

b. Gambaran Umum Badan Penanaman Modal Dan Perizinzn

Pelayanan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat

Kantor Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan

Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat beralamatkan di Jln.

Bung Karno Kompleks KTC Kecamatan Taliwang Kabupaten

Sumbawa Barat NTB.

1) Visi dan Misi BPMPPT Kabupaten Sumbawa Barat

a) Visi

Adapun Visi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat yang termuat

dalam Renstra (Rencana Strategis) adalah sebagai berikut:

“Mewujudkan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat yang andal,

kredibel dan proaktif dibidang penanaman modal dan pelayanan

perizinan terpadu untuk mendukung pencapaian tujuan Kabupaten

Sumbawa Barat“.

b) Misi

Adapun misi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat adalah sebagai

berikut:

1) Meningkatkan mutu pelayanan perizinan yang cepat, tepat,

akurat, transparan, dan akuntabel;

2) Meningkatkan kualitas aparatur yang profesional;


33

3) Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar SKPD dalam

rangka percepatan penanaman modal dan pelayanan perizinan;

4) Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam bidang perizinan;

5) Meningkatkkan jumlah investor dan jumlah investasi di

Kabupaten Sumbawa Barat.

2) Struktur Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan

Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat

Susunan Organisasi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Peizinan Terpadu adalah sebagai berikut:

a) Kepala Badan

b) Sekretaris yang membawahi 3 (tiga) Sub Bagian, yaitu:

1) Sub. Bagian Umum dan Kepegawaian

2) Sub. Bagian Keuangan

3) Sub. Bagian Koordinasi Penyusunan Program

c) Bidang-bidang

1) Bidang Pengembangan Penanaman Modal

Sub. Bidang Pengembangan Penanaman Modal

Sub. Bidang Fasilitas dan Kerjasama Penanaman Modal

2) Bidang Potensi dan Pemasaran Penanaman Modal

Sub. Bidang Potensi Penanaman Modal

Sub. Bidang Pemasaran Penanaman Modal

3) Bidang Pengendalian Penanaman Modal

Sub. Bidang Pengawasan dan Evaluasi Penanaman Modal


34

Sub. Bidang Pendataan Penanaman Modal

4) Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu

Sub. Bidang Perizinan

Sub. Bidang Non Perizinan

Gambar 4.2
Susunan Organisasi Badan Penanaman Modal Dan
Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat

Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Peizinan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat, bagian umum dan kepegawaian Tahun 2016

3) Data Pegawaian

Sumber daya manusia sebagai pelaksana kinerja Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat terdiri dari Pegawan Negeri Sipil (PNS) berjumlah


35

27 orang, sedangkan tenaga kontrak daerah sebanyak 5 orang dan

tenaga sukarela sebanyak 8 orang, dengan rincian sebagai berikut:

Sumber daya aparatur Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu berdasarkan golongan/ruang:

Tabel 4.1
Jumlah PNS Menurut Golongan/Ruang
No Golongan/Ruang Jumlah Ket
1. Golongan IV 3
2. Goongan III 18
3. Golongan II 6
4. Pegawai Tidak Tetap 13
Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten Sumbawa Barat, Bagian Umum Dan
Kepegawaian Tahun 2016

Berdasarkan data tabel di atas, dapat di ketahui bahwa pegawai

menurut golongan yang terdiri dari golongan IV sebanyak 3 orang,

golongan III sebanyak 18 orang, golongan II sebanyak 6 orang dan

pegawai berstatus sebagai pegawai tidak tetap sebanyak 13 orang.

Sumber daya aparatur Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu berdasarkan Jenjang Pendidikan:

Tabel 4.2
Jumlah Pegawai Menurut Tingkat Pendidikan
Uraian Tingkat Pendidikan
S1 S2 S3 Diploma SMA/SMK SLTP
16 7 - 3 14 -
Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten Sumbawa Barat, Bagian Umum dan
Kepegawaian Tahun 2016

Berdasarkan data tabel di atas, dapat diketahui bahwa pegawai

berdasarkan tingkat pendidikan terdiri dari S1 sebanyak 16 orang, S2


36

sebanyak 7 orang, diploma (D3) sebanyak 3 orang dan pegawai

dengan tingkat pendidikan masih SMA sebanyak 14 orang.

Sumber daya aparatur Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu berdasarkan Jenis Kelamin:

Tabel 4.3
Jumlah Pegawai Menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin PNS CPNS PTT Jumlah
1. Laki-laki 18 1 6 25
2. Perempuan 5 3 7 15
Jumlah 23 4 13 40
Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten Sumbawa Barat, Bagian Umum Dan
Kepegawaian Tahun 2016

Berdasarkan data tabel di atas, dapat diketahui bahwa pegawai

berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 25 orang dan pegawai

perempuan sebanyak 40 orang, sehingga dapat diketahui bahwa

pegawai pada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan

Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat didominasi oleh

pegawai perempuan.

4) Tugas dan fungsi pokok

a) Tugas

Tugas Pokok Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat adalah

Unit Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mempunyai

Tugas Pokok melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan

kebijakan daerah di bidang Penyelenggaraan Penanaman Modal

dan Pelayanan Perizinan.


37

b) Fungsi

Dalam menyelenggarakan tugas, Badan Penanaman Modal

dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten

Sumbawa Barat mempunyai Fungsi:

1) Penyusunan Program Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan.

2) Penyelenggaraan Penanaman Modal dan Perizinan.

3) Pelaksanaan koordinasi proses penanaman modal dan

pelayanan perizinan.

4) Pelaksanaan administrasi penanaman modal dan pelayanan

perizinan.

5) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penanaman modal dan

perizinan.

6) Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh bupati sesuai

dengan tugas dan fungsinya.

7) Pengelolaan urusan ketatausahaan badan.

Sedangkan Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Perizinan

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

(BPMPPT) Kabupaten Sumbawa Barat adalah:

a) Tugas Pokok

Bidang Perizinan mempunyai tugas pokok merumuskan

dan melaksanakan kebijakan Bidang Perizinan dan Non

Perizinan.
38

b) Fungsi

1) Pengkaji rumusan dan penyusunan pedoman tata cara

pelayanan terpadu satu pintu kegiatan penanaman modal

yang menjadi kewenangan kabupaten berdasarkan pedoman

tata cara dan pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu

kegiatan penanaman modal yang ditetapkan oleh

pemerintah;

2) Pemberian izin usaha kegiatan penanaman modal dan non

perizinan yang menjadi kewenangan kabupaten;

3) Pelaksanaan pelayanan satu pintu berdasarkan

pendelegasian atau pelimpahan wewenang;

4) Pemberian usulan persetujuan fasilitasi fiskal nasional bagi

penanaman modal yang menjadi kewenangan kabupaten;

5) Koordinasi pelaksanaan tugas bidang Pelayanan Perizinan;

6) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Bidang Pelayanan


Perizinan

2. Gambaran Umum Parawisata Di Kabupaten

Sumbawa Barat

a. Perkembangan Parawisata Di

Kabupaten Sumbawa Barat

Kurang lebih 13 tahun sudah Kabupaten Sumbawa barat berdiri di

Provinsi Nusa Tenggara Barat, dalam usiahnya yang terbilang masih

mudah Kabupaten Sumbawa Barat berjuang meningkatkan


39

perkembanga parawisata seperti di daerah lainnya, Kabupaten

Sumbawa Barat memiliki obyek wisata yang tak kalah eksotisnya

dengan daerah lain yang ada di indonesia, salah satunya yaitu obyek

pantai yang menjadi daya tarik masyarakat lokal dan wisatawan

mancanegara, mulai dari obyek wisata pantai maluk, pantai

sekongkang, pantai jelengah, pantai kertasari dan lain sebagainya yang

di dukung oleh fasilitas bermain dan fasilitas penunjang.

Dari tempat-tempat wisata yang ada, telah banyak investor

tertarik untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Sumbawa Barat

yang bertujuan untuk pembangunan usaha parawisatan terutama di area

pantai dan pesisir yang didukung oleh SDA yang memadai, hal ini tidak

terlepas dari usaha pemerintah dalam mempromosikan tempat-tempat

wisata tersebut.

b. Perkembangan Usaha Hotel dan Penginapan di Kabupaten

Sumbawa Barat

Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk

dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan dan atau fasilitas

lainnya dengan dipungut bayaran termasuk bangunan lainnya yang

menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk

usaha lain yang tidak termasuk persyaratan kualifikasi hotel sesuai

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Usaha Hotel dan

Penginapan Remaja dapat berbentuk Badan Usaha maupun

perseorangan, sedangkan usaha pondok wisata merupakan usaha


40

perseorangan yang maksud dan tujuannya semata-mata berusaha di

dalam bidang usaha tersebut. Badan Usaha Hotel dan Penginapan

Remaja dapat berbentuk badan usaha Perseroan Terbatas (PT),

Perseroan Komanditer (CV), Firmas (Fa), Koperasi atau Yayasan.

Setiap pengusahaan hotel, penginapan remaja dan pondok wisata harus

memiliki Izin Usaha yang diberikan oleh Walikota atau Pejabat yang

ditunjuk. Izin yang diberikan untuk hotel bintang meliputi semua jenis

kegiatan sebagai penunjang usaha hotel bintang.

Untuk lebih jelasnya berikut nama-nama hotel yang ada di

Kabupaten Sumbawa Barat sebagai berikut :

Tabel 4.4
Perkembangan Hotel di Kabupaten Sumbawa Barat
Jumlah
No Nama Hotel Alamat
Kamar
I KECAMATAN TALIWANG
1 Hotel Taliwang Indah Jl. Jend. Sudirman 19
Taliwang
2 Hotel Mawis Jl. Jend. Sudirman 10
Taliwang
3 Hotel IFA Jl. Lang Sesat No.17 Ling. 23
Kota Baru Taliwang
4 Hotel Andi Graha Jl. Sutan Syahrir No 25 44
Taliwang
5 Hotel Tubalog Jl. Jend. Sudirman 17
Taliwang
6 Hotel Grand Royal Jl. Bung Hatta No. 1 75
Gerbang KTC, Taliwang
7 Hotel N&J Jl. Poto Batu Taliwang 18
8 Hotel Wholes & Whoves Desa Lab Kertasari 10
II KECAMATAN JEREWEH
1 Sunset View RT/RW 09/05 Dsn. Jelenga, 5
Ds. Beru Kec. Jereweh
2 Jelenga Mulia Beach Ds. Jelengan Kec. Jereweh 10
41

3 Amigos Bungalow Ds. Jelengan Kec. Jereweh 4


III KECAMATAN MALUK
1 Bakudapa Ds. Maluk Kec Maluk 17
2 Super Suck Ds. Pasir Putih Kec Maluk 13
3 Kiwi Rt/Rw 07/05 Ds. Maluk, 14
Kec. Maluk – KSB
4 Cambon Ds. Maluk Kec Maluk 8
5 Larosa Ds. Maluk Kec Maluk 11
6 Cirebon Ds. Maluk,Kec. Maluk 16
7 Cottage Surya Jl.Pasar Putih Maluk, Kec. 13
Maluk
8 Tropy Rt/Rw 08/02 Ds. Pasir 27
Putih, Kec. Maluk
9 Lia Rt.01 Dsn. Mantung Timur 16
Ds. Mantung. Kec. Maluk
10 Homestay Merdeka Rt/Rw 13/03, Ds. Pasir 6
Putih, Kec Maluk
IV KECAMATAN SEKONGKANG
1 Tropycal Beach Club & Pantai Pesin Buin Batu, Ds. 29
Spa Sekongkang Bawah,
2 Pondok Wisata Santai Ds. Sekongkang Bawah, 12
Bungalo Kec. Sekongkang
3 Pondok Wisata Rantung Rt/Rw. 05/01, Ds. 12
Sekongkang Bawah
4 Yoyo's Hotel Pantai Pesin Buin Batu, Ds. 22
Sekongkang Bawah
5 Mega Arafah Ds. Sekongkang Bawah 18

6 Rantung Ds. Sekongkang Bawah, 3


Kec. Sekongkang
7. Sinkenken Ds. Sekongkang Bawah, 3
Kec. Sekongkang
8 Villa Syurga Ds. Sekongkang Bawah, 8
Kec. Sekongkang
42

9 Yoyo’s Homestay Ds. Sekongkang Bawah, 2


Kec. Sekongkang
Sumber : Dinas Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumbawa
Barat, Bagian Umum Dan Kepegawaian Tahun 2016

Berdasarkan data tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah

hotel di Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 29 hotel dari 8

kecamatan, 4 kecamatan yang memiliki usaha hotel diantaranya adalah

Kecamatan Taliwang dengan jumlah 8 hotel, Kecamatan Jereweh

dengan jumlah 3 hotel, Kecamatan Maluk dengan jumlah 10 hotel dan

Kecamatan Sekongkang dengan jumlah 9 hotel, dari jumlah data diatas

kita dapat melihat bahwa di kecamatan Maluk memiliki jumlah

tertinggi yaitu 10 hotel dan di kecamatan jereweh memiliki jumlah yang

paling rendah yaitu 3 hotel.

Pertumbuhan Hotel di Kabupaten Sumbawa Barat memiliki

peran yang signifikan dalam meningkatkan jumlah Pendapatan Asli

Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Dari tahun ke tahun, realisasi pajak

hotel semakin meningkat di Kabupaten Sumbawa Barat. Hal ini

disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah hotel dan meningkatnya

kesadaran pelaku usaha perhotelan dalam membayar pajak atau

retribusi usaha.

Tabel 4.5
Retribusi Hotel di Kabupaten Sumbawa Barat
Tahun
No Jenis Pendapatan
2013 2014 2015
1 Ijin Baru 3.395.000 225.000 1.870.000
2 Ijin Perpanjangan - - -
Jumlah 3.395.000 225.000 1.870.000
43

5.490.000
Sumber : Data Primer di olah Tahun 2016

Dari data tabel diatas, dapat dilihat bahwa pemungutran retribusi

paling tinggi dari pendaftaran surat izin usaha pariwisata akomodasi

hotel berada pada tahun 2013 dengan jumlah Rp. 3.395.000 dan jumlah

terendah berada pada tahun 2014 dengan jumlah Rp. 225.000,

Pemungutan retribusi ini di masukkan dalam kas daerah yang akan

digunakan untuk pembangunan daerah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang

diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai

dengan peraturan perundang-undangan, guna keperluan daerah yang

bersangkutan dalam membiayai kegiatannya. Berikut adalah besaran

tarif retribusi yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah

Nomor 26 Tahun 2007 tentang Retribusi perijinan usaha pariwisata

sebagai berikut:

Tabel 4.6
Besaran Tarif Retribusi Usaha Pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat
No Jenis dan Golongan Usaha Tarif Retribusi Ket
Pariwisata
I Hotel Bintang
A Bitang I
1. Ijin Baru Rp 1.000.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 750.000
B Bintang 2
1. Ijin Baru Rp 1.250.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 1.000.000
C Bintang 3
1. Ijin Baru Rp 1.500.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 1.250.000
D Bintang 4
1. Ijin Baru Rp 1.750.000
44

2. Ijin Perpanjangan Rp 1.500.000


E Bintang 5
1. Ijin Baru Rp 2.000.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 1.750.000
II Hotel Melati
1. Ijin Baru Rp 750.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 600.000
III Cottage (Setiap unit)
1. Ijin Baru Rp 145.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 75.000
IV Pondok Wisata
1. Ijin Baru Rp 125.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 65.000
V Hunian Wisata / Service
Apartemen (Setiap Unit)
1. Ijin Baru Rp 80.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 45.000
VI Penginapan Remaja
1. Ijin Baru Rp 225.000
2. Ijin Perpanjangan Rp 113.500
Sumber : Dinas Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumbawa,
Bagian Umum Dan Kepegawaian Barat Tahun 2016

B. Pembahasan Dan Analisis Data

Sektor pariwisata memiliki pertumbuhan yang cukup besar, hal ini

dikarenakan, pariwisata adalah suatu bisnis dalam penyediaan barang dan

jasa bagi wisatawan yang terdiri atas ratusan komponen usaha, baik usaha

besar atau kecil, termasuk didalamnya angkutan udara, kapal-kapal pesiar,

kereta api, agen-agen penyewaan mobil, pengusaha tur dan biro

perjalanan, pusat-pusat konvensi, restoran dan akomodasi.

1. Proses Pemberian Izin Usaha Pariwisata di Kabupaten Sumbawa

Barat

a. Mekanisme/Alur Penerbitan Izin Usaha Pariwisata di

Kabupaten Sumbawa Barat


45

Pemberian izin dibuat berdasarkan perundang-undangan yang

mengatur tentang perizinan. Izin merupakan ketetapan pengganti

larangan menjadi persetujuan, dibuat sepihak oleh aparatur tata

usaha negara. Setelah dikeluarkannya izin maka terciptalah hukum.

Timbulnya hubungan hukum melalui hak dan kewajiban antara

pemegang izin dengan instansi pemerintah yang memberi izin.

Ketentuan-ketentuan adalah syarat-syarat yang menjadi dasar untuk

dapat diterbitkannya izin yang mana ketentuan tersebut harus

dipenuhi oleh pemohon izin.

Gambar 4.3
Bagan Arus Proses Perizinan
46

Sumber : Data primer yang di olah Tahun 2016

Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat membantu pengusaha dalam

mengembangkan usahanya dengan cara memudahkan dalam

mengurus surat-surat izin usaha. Pemerintah melakukan

penyederhanaan dan pengendalian perizinan di bidang

usaha. Persyaratan permohonan penerbitan Tanda Daftar Usaha

Pariwisata (TDUP) adalah sebagai berikut:

1) Surat permohonan pendaftaran usaha pariwisata yang

diterbitkan oleh Dinas Parawisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat

2) Surat Pernyataan keabsahan dan kebenaran dokumen yang

diterbitkan oleh Dinas Parawisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat

3) Surat pernyataan kepemilikan usaha yang diterbitkan oleh Dinas

Parawisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumbawa Barat

4) Foto copy Akta pendirian badan usaha atau foto copy KTP bagi

usaha perseorangan yang diterbitkan oleh Notaris setempat.

5) Foto copy surat keterangan tempat usaha (SKTU) diterbitkan

oleh Kantor Desa/Lurah dan mengetahui camat setempat.


47

6) Foto copy rekomendasi pemanfaatan lahan diterbitkan oleh

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat.

7) Foto copy izin mendirikan bangunan (IMB) diterbitkan oleh

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat

8) Foto copy Undang-undang gangguan (HO) diterbitkan oleh

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat

9) Foto copy dokumen Surat pernataan pengelolaan lingkungan

(SPPL) atau UKL/UPL diterbitkan oleh Badan Penanaman

Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa

Barat

10) Foto copy dokumen AMDAL, khusus untuk kawasan pariwisata

taman rekreasi yang diterbitkan oleh Badan Lingkungan Hidup

Kabupaten Sumbawa Barat.

Prosedur pengajuan izin usaha di Kabupaten Sumbawa Barat

tidaklah terlalu rumit, karena dinas perizinan memberikan bimbingan

dan informasi yang baik dalam melengkapi segala kelengkapan

sebagai syarat administrasi pendirian usaha di Kabupaten Sumbawa

Barat.

1) Permohonan Pendaftaran Usaha Pariwisata


48

a) Permohonan pendaftaran usaha pariwisata harus diajukan

secara tertulis oleh pengusaha/pimpinan perusahaan disertai

dengan dokumen-dokumen yang diperlukan sesuai dengan

bidang usaha/jenis usaha/sub jenis usaha yang akan

didaftarkan.

b) Khusus untuk usaha daya tarik wisata dan kawasan pariwisata :

1) Apabila lokasinya bersifat lintas Kabupaten/Kota maka

pendaftaran usaha diajukan kepada Gubernur Propinsi.

2) Apabila lokasinya bersifat lintas propinsi, maka pendaftaran

usaha diajukan kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

c) Dokumen yang harus dilampirkan pada saat pengajuan

permohonan pendaftaran usaha pariwisata:

1) Fotokopi akta pendirian badan usaha.

2) Ketentuan ini hanya berlaku untuk pengusaha yang

berbentuk badan usaha, sedangkan untuk usaha pariwisata

yang berbentuk usaha perseorangan cukup dengan

melampirkan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).

3) Fotokopi izin teknis dan dokumen lingkungan hidup

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis

dengan Farhan, S.Pi, Kepala Bidang Perizinan Terpadu Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat di ruangannya mengatakan bahwa:

“Dalam proses penerbitan izin usaha pemohon mengajukan


surat permohonan sambil melampirkan syarat-syarat yang
49

telah didapatkan dari layanan informasi Badan Penanaman


Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu Kabupaten
Sumbawa Barat, setelah itu pemohon akan menunggu
sampai proses penerbitan izin usaha tersebut selesai, jika
terjadi penolakan maka, akan dilampirkan keterangan
penolakan tersebut”. (Wawancara, Tanggal 18 Mei 2016)
Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan

beberapa pimpinan hotel yang penulis temui penulis dapat

menyimpulkan pernyataan mereka yang penulis kutip dari Hetny,

SE, selaku Manager Hotel Grand Royal di ruangannya

mengatakan bahwa:

“Langkah awal yang kami ajukan dalam mengurus TDUP


adalah mengajukan permohonan secara tertulis, disertai
dengan dokumen-dokumen seperti fotokopi akta pendirian
badan usaha, KTP, Profil perusahaan, Rencana Usaha, Pas
Photo dan Map jepit 3 buah”. (Wawancara, Tanggal 18 Mei
2016)

2) Pemeriksaan Berkas Permohonan

Terhadap berkas permohonan yang diterima dilakukan

pemeriksaan meliputi kelengkapan, kebenaran dan keabsahannya

dan Pemeriksaan berkas permohonan dan pemberitahuan

kekurangan persyaratan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis

dengan Sudirman, S.Sos, selaku Kepala Sub Bidang Perizinan

Terpadu Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat di ruangannya mengatakan

bahwa:

“Berkas permohonan yang diterima dilakukan pemeriksaan


terhadap pemeriksaan kelengkapan menyangkut
keseluruhan lampiran persyaratan teknis administratif
50

seperti fotokopi akta pendirian badan usaha atau fotokopi


KTP untuk pengusaha perorangan dan fotokopi izin teknis
dan dokumen lingkungan hidup serta surat pernyataan
keabsahan dan kebenaran, pemeriksaan kebenaran
menyangkut antara lain kesesuaian antara surat permohonan
pendaftaran usaha pariwisata (bidang usaha/jenis
usaha/subjenis usaha) dengan akta pendirian perusahaan
(nama badan usaha; bidang usaha/jenis usaha/ subjenis
usaha yang menjadi maksud dan tujuannya, nama
pengusaha dalam akta pendirian, alamat usaha), kesesuaian
dengan izin teknis dan dokumen lingkungan hidup dan
pemeriksaan keabsahan data menyangkut legalisasi fotokopi
akta pendirian badan usaha, izin teknis dan dokumen
lingkungan hidup yang sudah ditandatangani oleh pejabat
yang berwenang dari instansi teknis termasuk cap
pengesahan instansi teknis bersangkutan.” (Wawancara,
Tanggal 19 Mei 2016)

Ditambahkan pula oleh dalam wawancara yang dilakukan

penulis dengan Farhan, S.Pi, Selaku Kapala Bidang Perizinan

Terpadu Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat di ruangannya mengatakan

bahwa:

“Pemeriksaan berkas permohonan dan pemberitahuan


kekurangan persyaratan diselesaikan paling lambat dalam
jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak permohonan
pendaftaran usaha diterima, dengan memberitahukan secara
jelas kekurangan persyaratan teknis administratif
(kelengkapan atau kebenaran atau keabsahan).”
(Wawancara, Tanggal 19 Mei 2016)

Berdasarkan standar operasional prosedur penerbitan tanda

daftar usaha pariwisata (TDUP) pada tahap pengajuan

permohonan pendaftaran usaha pariwisata pemohon mengajukan

permohonan dengan melampirkan berkas-berkas kemudian

menyerahkan kepada petugas untuk menerima berkas


51

permohonan, yang selanjut akan dilakukan pemeriksaan terhadap

dokumen yang diserahkan pemohon.

c) Pencantuman Kedalam Daftar Usaha Pariwisata

Pencantuman objek pendaftaran usaha pariwisata ke dalam

Daftar Usaha Pariwisata dilakukan 1 (satu) hari berikutnya setelah

jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja pemeriksaan berkas permohonan

dan telah dianggap lengkap, benar dan sah

Penjelasan atas Daftar Usaha Pariwisata tersebut adalah:

1) Nomor Pendaftaran Usaha Pariwisata

2) Tanggal Pendaftaran Usaha Pariwisata

3) Nama Pengusaha

4) Alamat Pengusaha

5) Nama pengurus badan usaha (untuk bentuk badan usaha )

6) Jenis usaha

7) Alamat kantor atau Lokasi

8) Merek Usaha

9) Nomor Akta Pendiri Badan Usaha

10) Nama Izin dan Nomor Izin Teknis Serta Nama Dan Nomor

Dokumen Lingkungan Hidup

11) Kapasitas Yang Tersedia dan Fasilitas Yang Dimiliki


52

Pada tahap Pencantuman objek pendaftaran usaha

pariwisata ke dalam Daftar Usaha Pariwisata ada hal-hal yang

harus diperhatikan oleh pemohon, seperti dijelaskan oleh

Sudirman, S.Sos, Selaku Kepala Sub. Bidang Perizinan Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan penulis beliau

menjelaskan bahwa:

“Dibuatkan kode dan nomor urut sesuai dengan


bidang/jenis/sub-jenis usaha pariwisata yang didaftarkan,
setelah itu, tanggal pada saat pencantuman kedalam Daftar
Usaha Pariwisata, nama lengkap pengusaha (pimpinan
perusahaan) yang mengajukan permohonan pendaftaran
usaha, alamat lengkap pengusaha (pimpinan perusahaan),
nama semua direksi dan atau pemegang saham yang
tercantum dalam akta pendirian perusahaan, nama jenis
usaha pariwisata dan sub-jenis usaha pariwisata (bila
merupakan sub-jenis usaha), Alamat disesuaikan dengan
jenis usaha pariwisata yang didaftarkan, untuk usaha
kawasan pariwisata dan daya tarik wisata disamping
tercantum alamat kantor pengelola, juga harus tercantum
lokasi atau tempat dimana kawasan atau daya tarik wisata
tersebut, brand/nama dari jenis usaha pariwisata tersebut,
nomor dari Akta pendirian badan usaha tersebut, termasuk
nomor akta perubahan (apabila ada). Untuk pengusaha
perorangan dicantumkan nomor Kartu Tanda Penduduk
(KTP), nama izin dan nomor izin yang diperoleh dari
instansi yang berwenang. Contoh izin teknis misalnya Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) berikut nomor dan tanggal,
demikian juga untuk dokumen lingkungan hidup, misalnya
dokumen AMDAL/UKL/UPL/SPPL berikut nomor dan
tanggal dan kapasitas yang tersedia dan fasilitas yang
dimiliki.” (Wawancara, Tanggal 20 Mei 2016)

Hal-hal atau isi yang termuat dalam tanda daftar usaha

pariwisata prinsipnya sama dengan hal atau isi yang tercantum

dalam daftar usaha pariwisata kecuali untuk usaha jasa


53

transportasi wisata dan usaha darmaga bahari, bila belum

memiliki izin teknis dan/atau izin operasional, ditambahkan

keterangan “masih harus dilengkapi dengan izin teknis dan/atau

oprasional. Dalam tanda daftar usaha pariwisata harus tercantum

nama jelas dan tanda tangan pejabat yang menerbitkan serta

tanggal penerbitan tanda daftar usaha pariwisata

Menyingkapi hal tersebut, pemerintah daerah perlu

melakukan tindakan-tindakan yang mampu memaksimalkan

sistem pelayanan dan informasi terkait penerbitan tanda daftar

izin usaha pariwisata,seperti memberikan informasi sejelas-

jelasnya kepada masyarakat akan pentingnya kelengkapan berkas

permohonan perizinan, karena berkas yang belum lengkap tidak

akan diproses lebih lanjut dan akan dikembalikan kepada

pemohon untuk dilengkapi melakukan komunikasi kepada bidang

yang mempunyai wewenang dalam mendisiplinkan petugas

pelayanan dengan memberi peringatan, punishment, dan atau

dilakukan roling dengan pegawai bidang lain yang lebih

kompeten, memberi pemahaman kepada petugas pelayanan

bahwa kegiatan aktualisasi ini bertujuan untuk mempercepat

proses pelayanan dan meningkatkan kualitas pelayanan sehingga

dapat memperbaiki citra pelayanan petugas dan instansi

Perizinan, lebih sering melakukan follow up kepada instansi

terkait mengenai sejauh mana proses rekomendasi yang di ajukan


54

dalam rangka mempercepat proses keluarnya surat rekomendasi,

sehingga SKPD terkait merasa ada suatu tanggung jawab apabila

mereka terus ditanyakan hal yang sama sehingga dapat

mempercepat proses penerbitan izin rekomendasi tersebut dan

memberi informasi secara transparan mengenai biaya retribusi

dan melakukan sosialisasi yang di lakukan oleh bidang terkait

dalam rangka penyebaran informasi mengenai tarif retribusi

perhotelan.

b. Standar Operation System (SOP) Badan Penanaman Modal dan

Perijinan Pelayanan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat

Standar Operasional Prosedur adalah pedoman atau acuan

untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat

penilaian kinerja instasi pemerintah berdasarkan indikator indikator

teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja,

prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan.

Tujuan SOP adalah menciptakan komitment mengenai apa yang

dikerjakan oleh satuan unit kerja instansi pemerintahan untuk

mewujudkan good governance.

Standar operasional prosedur tidak saja bersifat internal tetapi

juga eksternal, karena SOP selain digunakan untuk mengukur kinerja

BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat yang berkaitan dengan

ketepatan program dan waktu, juga digunakan untuk menilai kinerja

BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat di mata masyarakat berupa


55

responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas kinerja instansi

pemerintah. Hasil kajian menunjukkan tidak semua satuan unit kerja

instansi pemerintah memiliki SOP, karena itu seharusnyalah setiap

satuan unit kerja pelayanan publik instansi pemerintah memiliki

standar operasional prosedur sebagai acuan dalam bertindak, agar

akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dapat dievaluasi dan

terukur.

Standar operation system (SOP) dapat kemudian dikorelasikan

dengan pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemerintah

yang kemudian dijadikan sebagai salah satu acuan terhadap

pemberian layanan kepada masyarakat.

Ketentuan tentang perizinan mempunyai fungsi yaitu sebagai

fungsi penertib dan sebagai fungsi pengatur. Sebagai fungsi penertib,

dimaksudkan agar izin atau tempat-tempat usaha, bangunan dan

bentuk kegiatan masyarakat lainnya tidak bertentangan satu sama

lain. Sedangkan sebagai fungsi mengatur dimaksudkan agar

perizinan yang ada dapat langsung dilaksanakan sesuai dengan

peruntukannya.

Secara umum tujuan dan fungsi dari perizinan adalah untuk

pengendalian dari pada aktivitas pemerintah dalam hal-hal tertentu

yang ketentuan-ketentuanya berisi pedoman-pedoman yang harus

dilaksanakan baik yang berkepentingan ataupun oleh pejabat yang

berwenang.
56

Seperti dijelaskan oleh H. Taufiqurrahman, S.IP.,MM Selaku

Kepala Dinas Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumbawa

Barat, dalam wawancara yang dilakukan penulis di ruangannya

beliau menegaskan bahwa:

“Dengan adanya permintaan permohonan izin, maka secara


langsung pendapatan pemerintah akan bertambah karena setiap
izin yang dikeluarkan pemohon harus membayar retribusi
terlebih dahulu. Semakin banyak pula pendapatan di bidang
retribusi tujuan akhirnya, yaitu untuk membiayai
pembangunan”. (Wawancara, Tanggal 23 Mei 2016)

Dijelaskan pula oleh Drs. Hajamuddin., MM Selaku Kepala

Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan

penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa:

“Pada umumnya sistem izin terdiri atas larangan, persetujuan,


yang merupakan pokok dari izin itu sendiri serta ketentuan-
ketentuan yang berhubungan dengan izin. Larangan
merupakan norma tingkah laku yang pada umumnya tidak
diperbolehkan. Pelanggaran atas hal tersebut dihadapkan
dengan sanksi-sanksi hukum administrasi atau sanksi pidana,
seperti contoh yaitu membangun bangunan tanpa disertai izin
adalah dilarang. Dengan adanya larangan tersebut, maka
pemerintah sendiri dapat mengesampingkan hal tersebut
dengan memberi izin”. (Wawancara, Tanggal 23 Mei 2016)

Kewenangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dalam

bidang pariwisata sesuai Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2007

tentang retribusi perijinan usaha pariwisata termasuk usaha perizinan

usaha hotel dan penginapan, sehingga menjadi kewajiban

Pemerintah Daerah untuk membuat peraturan daerah tentang izin

usaha perizinan usaha hotel dan penginapan.


57

Mengingat fungsi utama perizinan dimaksud untuk

mengadakan pembinaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan

serta pelayanan kepada masyarakat, maka Peraturan Daerah ini

disamping mengatur tentang syarat-syarat untuk mendapatkan izin,

diatur juga kewajiban-kewajiban bagi pemegang izin dalam

menjalankan usahanya. Kewajiban-kewajiban tersebut dimaksudkan

disamping memberikan perlindungan kepada peserta usaha hotel dan

penginapan, juga dimaksudkan untuk ketertiban administrasi

penyelenggaraan kegiatan usaha.

Sejalan dengan semangat otonomi daerah yang memberikan

kewenangan kepada Daerah Kota/Kabupaten di bidang

kepariwisataan khususnya perizinan kegiatan usaha, maka untuk

memberikan landasan hukum bagi kepastian usaha diperlukan

peraturan perundang-undangan.

Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat, belum lama ini mengeluarkan informasi

bahwa untuk para investor yang akan masuk, agar mematuhi

peraturan yang sudah ada sesuai standar operasional prosedur yang

sudah ada, hal ini perlu ditekankan bahwa agar masyarakat

mengetahui prosedurnya. Karena itu, masyarakat mengetahui aturan

yang sudah ada dan segera mengurus izin ke BPMPPT Kabupaten

Sumbawa Barat kalau belum melengkapi usaha mereka dengan

perizinannya.
58

Dijelaskan oleh Drs. Hajamuddin., MM Selaku Kepala Badan

Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan penulis di

ruangannya beliau menegaskan bahwa :

“Semua perizinan sudah diatur dalam perpres nomor 97 tahun


2014 tentang penyelenggaraan terpadu satu pintu dan peraturan
bupati juga diatur disana tentang pelimpahan wewenang dari
bupati ke kepala BPMPPT Kabupaten Sumbawa Barat dan ini
harus sesuai dengan SOP. kami juga akan mempertimbangkan
rekomendasi dari dinas teknis, intiya semua pelayanan
perizinannya dimudahkan. dengan demikian semua jenis
perizinan ada aturan yang mengatur baik perpres, permen dan
perbup. Izin tersebut tidak sembarangan atau asal-asalan
dikeluarkan”. (Wawancara, Tanggal 25 Mei 2016)

Mengingat hal yang disampaikan di atas, penyediaan jasa

lainnya, diselenggarakan atas dasar izin usaha sendiri sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebelum

melaksanakan kegiatan usaha, perusahaan terlebih dahulu harus

memperoleh izin usaha sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Perizinan usaha/perusahaan adalah suatu bentuk persetujuan atau

pemberian izin dari pihak yang berwenang atas penyelenggaraan

kegiatan usaha yang dilakukan oleh perseorangan maupun badan.

Izin tersebut biasanya diberikan oleh instansi pemerintah yang

terkait dengan kegiatan usaha yang akan diselenggarakan oleh pihak

yang meminta izin.

Dijelaskan oleh Farhan, S.Pi, Selaku Kepala Bidang Perizinan

Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu


59

Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan

penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa :

“Adapun maksud dikeluarkannya izin usaha oleh pemerintah


adalah untuk memberikan pembinaan, pengarahan dan
pengawasan dalam kegiatan usaha dan menjaga ketertiban
dalam usaha serta menciptakan pemerataan kesempatan
berusaha”. (Wawancara, Tanggal 27 Mei 2016)
Dijelaskan pula oleh Laila Ramadhia, ST.,MT Selaku Kasi

Sarana dan Prasarana Wisata Dinas Parawisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan

penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa :

“Setiap pengusaha wajib mendaftarkan usahanya, berdasarkan


ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah dan
sudah diatur berdasarkan UU No 10 Tahun 2009 tentang
kepariwisataan”. (Wawancara, Tanggal 27 Mei 2016)

Ditambahkan pula oleh Titin Yuliana, S.STP.M.Ec.Dev Selaku

Kasi Pemasaran Wisata Dinas Parawisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan

penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa:

“Strategi yang dilakukan Dinas Parawisata Dan Ekonomi


Kreatif Kabupaten Sumbawa Barat dalam mengembangkan
dunia pariwisata yaitu dengan melakukan koordinasi dan
sosialisasi terkait TDUP (tanda daftar usaha pariwisata) betapa
pentingnya izin usaha dengan para pelaku usaha perhotelan
untuk mengetahui kendala-kendala atau permasalahan yang
ada dan mencari solusi dan sekaligus merencanakan kebutuhan
(penganggarannya)”. (Wawancara, Tanggal 27 Mei 2016)

2. Faktor Penghambat Pemberian Izin Usaha Pariwisata di

Kabupaten Sumbawa Barat

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat tentunya tidak terlepas dari tantangan serta


60

berbagai peluang yang akan dikembangkan serta dijadikan potensi

pendapatan daerah, sektor perizinan adalah bagian dari salah satu

sentral yang mendukung terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah

(PAD) sehingga diperlukan inovasi yang kuat terhadap berbagai aspek

dibidang Perizinan yang akan memberikan arah dan kebijakan terhadap

penyelenggaraan pelayanan di bidang Perizinan, yang kemudian akan

dijadikan sebagai rujukan didalam proses perbaikan didalam

memberikan layanan terhadap pengurusan perizinan di Kabupaten

Sumbawa Barat.

Tantangan didalam memberikan pelayanan terhadap pengurusan

berbagai jenis perizinan di Kabupaten Sumbawa Barat selalu berada

ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks,

tantangan-tantangan tersebut dipengaruhi oleh 2 (dua) Aspek yang

meliputi Aspek Internal contohnya dan aspek Eksternal.

Adapun faktor-faktor yang merupakan faktor penghambat

Pelaksanaan Pelayanan Izin Usaha di Badan Penanaman Modal dan

Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat antara lain :

a. Aspek Internal

1) Sumber Daya Manusia ( SDM )

Tentunya tidak dapat dipisahkan dari sumber daya manusia

(SDM) aparatur penyelenggaran pemerintahan, kemampuan

sumber daya manusia menjadi tolak ukur didalam pemberian

pelayanan kepada masyarakat. Pengatahuan serta spesifikasi


61

keilmuan yang dimiliki oleh aparatur didalam memberikan

pelayanan dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang

antara lain studi banding terhadap daerah-daerah di Indonesia

yang telah lebih dahulu melakukan pelayanan perizinan secara

terpadu dengan harapan out put dari hasil tersebut dapat

kemudian diimplementasikan di daerah Kabupaten Sumbawa

Barat.

Pelayanan Administarsi Perizinan di Kabupaten Sumbawa

Barat Pada dasarnya pelayanan perizinan yang diselenggarakan

oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat adalah bentuk pelayanan

administratif. Pelayanan administratif merupakan pelayanan oleh

Penyelenggara yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen

resmi yang dibutuhkan oleh Masyarakat atau pelaku usaha. Akan

tetapi Penyelenggara pelayanan perizinan pada Kantor Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat memiliki kendala, karena keberadaan pegawai

atau tim teknis masih berada diluar Kantor.

Seperti diungkapkan oleh oleh Farhan, S.Pi, Selaku Kepala

Bidang Perizinan Terpadu Badan Penanaman Modal dan

Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam

wawancara yang dilakukan penulis di ruangannya beliau

menegaskan bahwa :
62

“Menciptakan aparatur pemerintah yang professional harus


diikuti dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)
yang kualitas sehingga memiliki wawasan luas dan mampu
memberikan pelayanan terbaik, sebagai bentuk pencitraan
baik di mata masyarakat. Disamping itu, untuk
mewujudkan profesionalisme aparatur pelayanan publik”.
(wawancara, Tanggal 02 Juni 2016)
Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas dan

kompetensi sumber daya manusia, Kantor Badan Penanaman

Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa

Barat senantiasa secara rutin mengupayakan berbagai program

kegiatan melalui alokasi anggaran sebagaimana yang sudah

ditetapkan dalam APBD Kabupaten Sumbawa Barat. Setiap

formulasi program yang disusun selalu dalam bentuk kegiatan

yang beraneka ragam dengan harapan hasil yang diperoleh dapat

memberikan dampak atau berpengaruh secara signifikan terhadap

pengembangan dan peningkatan kinerja sumber daya manusia

yang pada akhirnya akan dapat mengoptimalkan kinerja

pelayanan perizinan di kantor Badan Penanaman Modal dan

Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat.

Peningkatan SDM yang kualitas guna ingin meningkatan

pelayanan perizinan tahun 2015 yang dari pelayanan terpadu satu

atap menjadi pelayanan terpadu satu pintu, seperti dijelaskan oleh

Drs. Hajamuddin., MM selaku Kepala Badan Penanaman Modal

dan Perijinan Pelayanan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat,

dalam wawancara yang dilakukan penulis beliau mengatakan

bahwa:
63

“Pegawai/aparat Kantor Badan Penanaman Modal dan


Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat
telah diberikan pendidikan dan pelatihan khusus untuk
pegawai. Baru-baru ini mereka mengikuti pelatihan
pelayanan publik yang di selenggarakan oleh pemerintah
pada bulan November 2013, Kami mengikutkan aparat
kantor kita agar lebih baik lagi dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat, karena kami ingin menuju
pelayanan prima yang memuaskan masyarakat”.
(Wawancara Tanggal 02 Juni 2016)

Bila pelaku usaha mudah mendapatkan pelayanan perizinan

maka secara bertahap diharapkan akan memberikan kepuasan

terhadap suatu perizinan usaha, sehingga lembaga ini bakal

menjadi salah satu institusi penting dalam pengembangan

ekonomi daerah. Semakin banyak pelaku usaha yang melakukan

formalisasi usaha, makin akan semakin terbuka peluang bagi

pelaku usaha untuk mengakses berbagai sumber daya yang ada.

Kegiatan ekonomi lokal secara signifikan memberikan kontribusi

kepada pembangunan daerah melalui penyerapan tenaga kerja dan

kegiatan pembangunan lainnya.

Seperti dijelaskan oleh Drs. Hajamuddin., MM selaku

Kepala Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang

dilakukan penulis beliau mengatakan bahwa:

“Masalah sumber daya manusia masih menjadi sorotan dan


tumpuhan bagi perusahaan untuk tetap dapat bertahan di era
globalisasi. Sumber daya manusia merupakan faktor
penentu keberhasilan pelaksanaan organisasi yang efektif.
Walaupun didukung dengan sarana dan prasarana serta
sumber daya yang berlebihan, tetapi tanpa dukungan
sumber daya manusia yang andal dan mempunyai kinerja
64

yang optimum kegiatan tidak akan terselesaikan dengan


baik.” (wawancara, Wawancara Tanggal 02 Juni 2016)

Seperti dijelaskan oleh Sudirman, S.Sos, Selaku Kepala

Sub. Bidang Perizinan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara

yang dilakukan penulis beliau mengatakan bahwa:

“Banyak alasan mengapa SDM merupakan bagian yang


tetap menjadi sorotan masyarakat, kami tidak menutup mata
jika banyak terjadi keluahan-keluahan yang disampaikan
masyarakat kepada kami tentang proses keterlambatan
penerbitan izin usaha, kerap memang kami temui sendiri
ada saja petugas yang masih berada di luar kantor padahal
masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi jika
melihat dengan argumen dan alasan yang di sampaikan
pegawai yang bersangkutan, kami tidak dapat berbuat
banyak, misalnya keperluan keluarga yang memang harus
meninggalkan pekerjaan, dan lain sebagainya, kami
memang tidak bisa melakukan tindakan karena ini
prinsipnya semua orang pasti mengalaminya.” (wawancara,
Tanggal 03 Juni 2016)

Semakin pentingnya sumber daya manusia berakar dari

meningkatnya kerumitan hukum, kesadaran bahwa sumber daya

manusia merupakan alat berharga bagi peningkatan produktivitas

dan kesadaran mengenai biaya yang berkaitan dengan manajemen

sumber daya manusia yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa

sumber daya manusia merupakan kunci pokok yang harus

diperhatikan dengan segala kebutuhannya. Sebagai kunci pokok,

sumber daya manusia akan menentukan keberhasilan pelaksanaan

kegiatan perizinan. Tuntutan Badan Penanaman Modal dan

Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat untuk


65

memperoleh, mengembangkan dan mempertahankan sumber daya

manusia berkualitas semakin mendesak sesuai dengan dinamika

lingkungan yang selalu berubah.

Jumlah pegawai Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat bisa dikatakan

terbatas. Hal tersebut bisa dilihat dari jumlah pegawai yang tidak

sebanding dengan jumlah permohonan ijin yang masuk. Hal ini

diakui oleh Sulkarnain, S.Pt, selaku Kepala Sub Bagian Umum

dan Kepegawaian dalam wawancara yang dilakukan penulis di

ruangannya beliau menegaskan bahwa :.

“Pegawai Badan Penanaman Modal dan Pelayanan


Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat ini hanya 40
orang, jadi rata-rata setiap orang harus bisa melayani 4
permohonan ijin, padahal setiap ijin itu syarat-syaratnya
harus di teliti kevalidannya, masih berlaku atau tidak, baru
kemudian di masukkan ke dalam data komputer, berkas dari
syarat-syarat yang masuk itu pun tidak sedikit, dan kegiatan
ini sebenarnya membutuhkan orang lebih dari satu.”
(wawancara, tanggal 09 Juni 2016)

Hal yang sama juga Seperti diungkapkan oleh Amri

Rahmansyah, SE, selaku SUBBID Perizinan Badan Penanaman

Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa

Barat, dalam wawancara yang dilakukan penulis di ruangannya

beliau menegaskan bahwa :

“Tenaga disini masih kurang Mbak, terutama untuk tenaga


dari sarjana tehnik sipil dan tehnik arsitektur, tenaga ini
dibutuhkan untuk pelayanan perijinan seperti IMB yang
membutuhkan pengukuran tanah atau bangunan.”
(wawancara, tanggal 09 Juni 2016)
66

Diungkapkan pula oleh Sulkarnain, S.Pt, selaku Kepala Sub

Bagian Umum dan Kepegawaian, dalam wawancara yang

dilakukan penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa :

“Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan


Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat juga perlu penambahan
tenaga golongan I, tapi yang masih muda, jadi biar bisa
gerak cepat dan bisa dikongkoni. Sebenarnya di Badan
Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten Sumbawa Barat sudah ada satu, tapi sudah tua,
jadi kami yang mau nyuruh yang harus sabar.” (wawancara,
tanggal 09 Juni 2016)

Pernyataan senada juga didapat dari pelanggan Seperti

diungkapkan oleh Nuraeni salah seorang warna Kelurahan

Menala, dalam wawancara yang dilakukan penulis di beliau

menegaskan bahwa :

“Sini tu cepet Mbak kerjanya, pegawainya juga sigap, tapi


secepet apapun kalau yang namanya melayani banyak orang
kan nggak cukup satu orang, dan akhirnya jadi ada antrean.
padahal peserta PKMS itu tiap harinya banyak banget, tapi
pelayanannya juga selalu tepat waktu, walaupun saya liat
sih pegawainya cuman dikit, tapi ya lebih baik pegawainya
ditambah, soalnya kalau lama-lama begini ya jadinya
keteteran nanti.” (wawancara, tanggal 09 Juni 2016)

Dari hasil wawancara di atas, penelitih menyimpulkan

bahwa masalah tersebut bisa diatasi jika ada penambahan

pegawai yang menangani Pelayanan Administarsi Perizinan, jika

pegawai yang lainya tidak bisa menangani pekerjaan tersebut.

Serta pegawai sebaiknya lebih sering diberikan pelatihan

sehingga kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang

dihadapi dalam pekerjaan mampu diselesaikan secara cepat.Serta


67

mengenai masalah yang terkait perizinan akan diatasi secara

bersama dan bertanggung jawab sepenuhnya.

2) Sarana dan Prasarana Pendukung Pelayanan

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai

alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan prasarana

adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang suatu proses

(usaha, pembangunan, proyek).

Seperti diungkapkan oleh Drs. Hajamuddin., MM Selaku

Kepala Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang

dilakukan penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa :

“Sarana dan prasarana pendukung didalam penyelenggaraan


perizinan dapat terus dikembangakan untuk memberikan
pelayanan yang efektif, efisien serta hemat waktu dan biaya,
salah satunya dengan menerapkan Pelayanan Perizinan
secara Online (E–Izin) yang dimaksudkan untuk
mempermudah masyarakat untuk pengurusan perizinan hal
ini menjadi wacana kedepan kami dalam menangani dan
mempercepat proses pembuatan izin usaha”. (wawancara,
tanggal 11 Juni 2016)

Secara umum sarana dan prasarana adalah alat penunjang

keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam

pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia

maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai

hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana.


68

Seperti diungkapkan oleh Farhan, S.Pi, Selaku Kepala

Bidang Perizinan Badan Penanaman Modal dan Perijinan

Pelayanan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara

yang dilakukan penulis di beliau menegaskan bahwa :

“Mengemukakan bahwa sarana adalah segala jenis


peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi
sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan,
dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang
berhubungan dengan organisasi kerja. Sarana dan prasarana
adalah merupakan seperangkat alat yang digunakan dalam
suatu proses kegiatan baik alat tersebut adalah merupakan
peralatan pembantu maupun peralatan utama, yang
keduanya berfungsi untuk mewujudkan tujuan yang hendak
dicapai”. (wawancara, tanggal 11 Juni 2016)

Tersedianya sarana dan prasarana yang cukup dengan

kualitas yang baik, sangat dibutuhkan setiap kantor maupun

SKPD di Kabupaten Sumbawa barat dalam menyelenggarakan

kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa

adanya sarana dan prasarana, mustahil tujuan akan dapat dicapai.

Demikian halnya kantor, tempat berlangsungnya kegiatan yang

berkaitan dengan ketatausahaan atau administrasi yang sangat

memerlukan sarana dan prasarana kantor.

Seperti diungkapkan pula oleh Sudirman, S.Sos, Selaku

Kepala Sub. Bidang Perizinan Badan Penanaman Modal dan

Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam

wawancara yang dilakukan penulis di ruangannya beliau

menegaskan bahwa :
69

“Agar semua kegiatan yang berhubungan dengan


perbekalan kantor baik yang bersifat administrasi maupun
teknis operasional dapat dijalankan dengan baik dan efisien,
maka pelaksanaan atau pengelolaan sarana dan prasarana
kantor harus dilakukan dengan baik. Dalam mengelola
sarana dan prasarana kantor dilakukan dengan beberapa
kegiatan, yaitu pengadaan, penyimpanan, pemeliharaan,
inventarisasi dan laporan sarana dan prasarana.”
(wawancara, tanggal 13 Juni 2016)
Menurut Drs. Hajamuddin., MM, selaku Kepala Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat, sarana dan fasilitas yang dimiliki oleh Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu sudah cukup

memadai dan lengkap, sementara kondisi sejumlah sarana yang

ada di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu

Kabupaten Sumbawa Barat seperti komputer, kalkulator, telepon

masih dalam kondisi baik. Fasilitas yang disediakan juga sudah

cukup memadai untuk pelayanan.

Seperti diungkapkan oleh Drs. Hajamuddin., MM Selaku

Kepala Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang

dilakukan penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa :

“Untuk sarana dan prasaran pelayanan yang ada di Badan


Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten Sumbawa Barat ini sudah mencukupi untuk
melayani perijinan, kondisinya masih baik dan memadai
karena memang dirancang untuk mendukung proses
penyelesaian perijinan, meskipun jumlah ruangannya
terbatas. Fasilitas penunjang pelayanan seperti ruang tunggu
ber AC, ada TV layar datar yang besar dan diusahakan
selalu bersih sehingga pemohon ijin merasa nyaman. Kami
juga mempunyai anjungan informasi mandiri (touch screen)
agar pemohon ijin yang malas atau malu bertanya kepada
70

kami mudah memperoleh informasi tentang pelayanan yang


ada di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan
Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat ini.” (wawancara,
tanggal 13 Juni 2016)

Seperti diungkapkan oleh Sudirman, S.Sos, Selaku Kepala

Sub. Bidang Perizinan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara

yang dilakukan penulis beliau menegaskan bahwa:

“Fasilitas atau sarana prasarana disini sebagaian besar


memang dalam keadaan baik, untuk setiap ruangan yang
ada di BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat dilengkapi
dengan AC, inventaris yang lain juga masih bisa bekerja
dengan baik. Untuk pemberian informasi kepada pelanggan,
BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat juga menyediakan
leaflet, booklet, dan poster-poster pelayanan. Hanya saja
untuk masalah ruang, BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat
masih belum mempunyai ruang yang cukup, kemudian
masalah transportasi bagi para petugas yang bekerja di
lapangan, mobil hanya tersedia satu buah saja, itupun sering
mogok, padahal untuk peninjau lapangan, kami sering
berbarengan melakukan peninjauan di tempat yang
ditetapkan, biar cepet maksudnya, tapi karena mobilnya
cuman satu, ya jadinya dipakai bergantian. Padahal
peninjauan lapangan dilakukan untuk ijin-ijin tertentu, salah
satunya untuk ijin IMB, yang juga berkaitan dengan SIUP.”
(wawancara, tanggal 13 Juni 2016)

Sarana pelayanan merupakan faktor yang mempengaruhi

kelancaran pegawai dalam memberikan pelayanan. Selain itu

fasilitas layanan yang disediakan juga akan memberikan

kontribusi pada tingkat kepuasan masyarakat dalam pelayanan.

Pendapat dari masyarakat selaku pemohon ijin usaha di BMPPT

Kabupaten Sumbawa Barat menanggapi sarana yang ada di

BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat. Pendapat disampaikan


71

Seperti diungkapkan oleh Sulkarnain, S.Pt, selaku Kepala Sub

Bagian Umum dan Kepegawaian dalam wawancara yang

dilakukan penulis menegaskan bahwa:

“Kalau fasilitas di BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat,


termasuk sangat bagus, seperti fasilitas di bank-bank itu.
kursi tunggu yang nyaman, petugas yang smart dan ramah.
Sarana yang ada di BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat
menurut saya sudah cukup memadai sesuai yang
dibutuhkan, ada papan pemberitahuan jumlah biaya yang
harus dibayar, jadi merasa aman. Terus barang-barangnya
masih baik, keliatan baru dan bersih. Fasilitasnya sudah
cukup bagus tapi saya di sini cuma sebentar nggak ada
setengah jam jadi tidak saya manfaatin semuanya. Tempat
parkirnya sekarang sudah baru, letaknya di depan, tidak
kayak dulu, di belakang dan sedikit semrawut.” wawancara,
tanggal 13 Juni 2016)

Ungkapan sedikit berbeda disampaikan Seperti

diungkapkan oleh Sudirman, S.Sos, Selaku Kepala Sub. Bidang

Perizinan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang

dilakukan penulis beliau menegaskan bahwa :

“Sarananya dah cukup bagus, tapi mungkin meja pelayanan


perlu dikasih tulisan petunjuk ngurus ijin tertentu, loket-
loket dilengkapi dengan angka nomor antrian, jadi biar
nggak bingung dari sini kudu ke sana. Untuk fasilitas sudah
cukup bagus Mbak, penataan ruangannya juga rapi dan
bersih, enek dipandang mata, tapi sayangnya lagi kursi
tunggunya kurang banyak, kadang ada pelanggan yang
berdiri di luar kalau disini pas ramai.” wawancara, tanggal
13 Juni 2016)

Berdasarkan hal di atas, maka sarana dan prasarana pada

dasarnya memiliki fungsi utama sebagai berikut :


72

1) Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat

menghemat waktu.

2) Meningkatkan produktivitas, baik barang dan jasa.

3) Hasil kerja lebih berkualitas dan terjamin.

4) Lebih memudahkan/sederhana dalam gerak para

pengguna/pelaku.

5) Ketepatan susunan stabilitas pekerja lebih terjamin.

6) Menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang

berkepentingan.

7) Menimbulkan rasa puas pada orang-orang yang

berkepentingan yang mempergunakannya.

Untuk lebih jelasnya mengenai istilah sarana kerja/fasilitas

kerja yang ditinjau dari segi kegunaan sarana dan prasarana

sebagai berikut :

1) Peralatan kerja, yaitu semua jenis benda yang berfungsi

langsung sebagai alat produksi untuk menghasilkan barang

atau berfungsi memproses suatu barang yang berlainan fungsi

dan gunanya.

2) Perlengkapan kerja, yaitu semua jenis benda yang berfungsi

sebagai alat pembantu tidak langsung dalam produksi,

mempercepat proses, membangkit dan menambah kenyamanan

dalam pekerjaan.
73

3) Perlengkapan bantu atau fasilitas, yaitu semua jenis benda

yang berfungsi membantu kelancaran gerak dalam pekerjaan,

misalnya mesin ketik, mesin pendingin ruangan, mesin

absensi, dan mesin pembangkit tenaga.

b. Aspek Eksternal

Secara eksternal tantangan tentunya datang dari berbagai

lingkungan yang berkaitan dengan pemberian pelayanan Perizinan.

Selanjuntya dari berbagai tantangan kinerja yang dilaksanakan oleh

BMPPT Kabupaten Sumbawa Barat terhadap penyelenggaraan

pelayanan perizinan, dari berbagai sektor terdapat juga peluang

penggembangan dibidang perizinan terutama yang meliputi

perkembangan Kabupaten Sumbawa Barat dimasa saat ini dan yang

akan datang, peluang-peluang penggembangan tersebut seiring

dengan potensi alam yang dimiliki oleh daerah Kabupaten Sumbawa

Barat sangat memungkinkan terhadap berbagai kegiatan Investasi

pemanfaatan kekayaan alam. Peluang penggembangan potensi-

potensi dibidang perizinan tersebut dapat kemudian menghasilkan

retribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup maksimal.

Masyarakat umum dan kalangan dunia usaha sering

mengeluhkan proses pelayanan perizinan oleh pemerintah yang

berbelit-belit, tidak transparan, dan perlu biaya extra. Mereka sering

bolak-balik dari satu kantor ke kantor lain hanya untuk mengurus

suatu layanan perizinan. Tentu saja hal ini membuat masyarakat


74

menjadi merasa dipermainkan oleh aparat pemerintah, sehingga

kinerja pelayanan umum secara keseluruhan menjadi buruk.

Perizinan merupakan pemberian legalitas kepada seseorang/pelaku

usaha/ kegiatan tertentu, baik dalam bentuk izin maupun tanda daftar

usaha dan merupakan aturan yang harus diikuti agar tercapai suatu

tatanan kehidupan masyarakat ekonomi, politik, social dan budaya.

Bagi kalangan dunia usaha masalah yang sering dikeluhkan oleh

ketidak jelasan prosedur, biaya dan waktu pemrosesan izin yang

tidak pasti selesainya, sehingga biaya yang dikeluarkan akhirnya

tinggi. Bagi masyarakat, kondisi ini menyebabkan kepercayaan

kapada pemerintah menurun. Sementara itu perizinan sebagai pintu

masuk investor ke daerah yang harus segera dibenahi menjadi

tantangan yang tidak sederhana, karena berawal dari perizinan yang

tidak efisien harus ditata ulang pro pasar (reformasi birokrasi), yaitu

membangun sistem pelayanan perizinan yang akuntabel, transparan,

partisipatif, efisien dan efektif serta ramah terhadap investor, sesusai

dengan tuntutan dan kebutuhan daerah.

Mengingat pentingnya akan kepemilikan izin usaha tersebut

maka Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu BMPPT Kabupaten

Sumbawa Barat lebih giat dalam memberikan pemahaman terhadap

pentingnya kepemilikan izin usaha pariwisata. Namun disisi lain

seringkali terjadi berbagai permasalahan yang menyebabkan dampak


75

yang kurang baik sehingga menyebabkan tidak terpenuhinya usaha

dengan izin usaha.

Seperti dijelaskan oleh Farhan, S.Pi, Selaku Kepala Bidang

Perizinan Terpadu Badan Penanaman Modal dan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara

yang dilakukan penulis beliau menjelaskan bahwa:

“Kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya


kelengkapan berkas/data-data pemohon sebagai persyaratan
dalam penerbitan izin, sehingga kadang kala masyarakat itu
sendiri yang mau melakukan tindakan penyuapan dalam
rangka mempercepat proses perizinan.” (Wawancara, Tanggal
14 Juni 2016)

Dijelaskan pula oleh Sudirman, S.Sos, Selaku Kepala Sub.

Bidang Perizinan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan

Terpadu Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang

dilakukan penulis beliau menjelaskan bahwa:

“Pada formulir permohonan izin tidak dicantumkan nomor


telepon pemohon, sehingga petugas mengalami kesulitan
menghubungi pemohon apabila ada persyaratan yang belum
dilengkapi, Kurang rapinya penataan berkas permohonan
perizinan yang masih dalam tahap pemrosesan sehingga
petugas merasa kebingungan sendiri dalam mencari berkas
tersebut, Kurang disiplinnya aparatur perizinan itu sendiri
sehingga dapat memperlambat proses perizinan, Jangka waktu
penerimaan rekomendasi teknis dari instansi terkait yang
disebabkan oleh kondisi dan situasi di instansi.” (Wawancara,
Tanggal 14 Juni 2016)

Kabupaten Sumbawa Barat merupakan salah satu yang

memiliki keanekagaraman hayati yang sangat tinggi yang berupa

sumber daya alam yang berlimpah, baik di daratan, maupun di

perairan. Semua potensi tersebut mempunyai peranan yang sangat


76

penting bagi pengembangan kepariwisataan, khususnya wisata alam.

Sasaran tersebut dapat tercapai melalui pengelolaan dan

pengusahaan yang benar dan terkoordinasi, baik lintas sektoral

maupun swasta yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan

pariwisata berkelanjutan, misalnya kepariwisataan, lingkungan

hidup, dan lembaga swadaya masyarakat.

Seperti dijelaskan oleh Dian Novira, SKM, Selaku Kasi

Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Parawisata Dan Ekonomi

Kreatif Kabupaten Sumbawa Barat dalam wawancara yang

dilakukan penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa:

“Dalam pengembangan kegiatan pariwisata berkelanjutan


terdapat dampak positif dan dampak negatif, baik dalam
masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan alami. Oleh karena
itu dalam pembangunan sektor kepariwisataan harus
memperhatian kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan hidup
mengingat salah satu unsur wisata adalah sumber daya alam
yang merupakan bagian dari lingkungan hidup. Pengembangan
sektor pariwisata yang tidak memperhatikan aspek lingkungan
hidup dapat berdampak negatif pada perkembangan pariwisata
itu sendiri pada masa yang akan datang”. (Wawancara, Tanggal
15 Juni 2016)

Dijelaskan pula oleh Laila Ramadhia, ST.,MT Selaku Kasi

Sarana dan Prasarana Wisata Dinas Parawisata Dan Ekonomi Kreatif

Kabupaten Sumbawa Barat, dalam wawancara yang dilakukan

penulis di ruangannya beliau menegaskan bahwa:

“Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya pembangunan


seperti sarana akomodasi (hotel) dapat memberikan sisi yang
baik pada daerah dan masyarakat di Kabupaten Sumbawa
Barat misalnya membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal
di bidang pariwisata seperti tour guide, waiter, bell boy, dan
lain-lain, dibangunnya fasilitas dan infrastruktur yang lebih
77

baik demi kenyamanan para wisatawan yang juga secara


langsung dan tidak langsung bisa dipergunakan oleh penduduk
lokal pula. Seperti tempat rekreasi dan lain-lain dan
meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga pendapatan
pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat”. (Wawancara,
Tanggal 15 Mai 2016)

Peningkatan jumlah pembangunan sarana kepariwisataan di

daerah-daerah tujuan wisata termasuk pembangunan akomodasi

(hotel) untuk menampung kedatangan wisatawan, tidak dapat

dipungkiri bahwa dengan adanya pembangunan sarana akomodasi

(hotel) dapat memberikan sisi yang baik pada daerah dan masyarakat

di Kabupaten Sumbawa Barat. Dampak positif dengan munculnya

hotel adalah dapat memperluas lapangan pekerjaan di bidang

perhotelan, meningkatkan kesejahteraan, serta multiflier efek lainnya

terhadap masyarakat.
78
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Proses Pemberian Izin Usaha Bidang Parawisata Di Kabupaten Sumbawa

Barat belum begitu maksimal dilihat dari masih banyaknya pelaku usaha

yang belum mengetahui sepenuhnya syarat-syarat dalam pengurusan usaha

parawisata. Tidak diterapkannya SOP dengan baik oleh pemeritah

Kabupaten Sumbawa Barat dalam pembangunan usaha akomodasi hotel di

kabupaten sumbawa barat, sehingga pelaksanaan pelayanan pemberian

izin masih terkesan belum maksimal.

2. Faktor penghambat Pelaksanaan Pelayanan Izin Usaha di Badan

Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumbawa

Barat dipengaruhi oleh 2 (dua) Aspek yang meliputi Aspek Internal dan

aspek Eksternal

a. Apek Internal

1) Sumberdaya Manusia (SDM)

2) Sarana dan Prasarana

b. Aspek Eksternal

1) Pengaruh masyarakat

B. Saran

Berdasarkan uraian kesimpulan di atas, penulis mencoba memberikan

beberapa saran diantaranya sebagai berikut :

79
80

1. Badan Penanaman Modal dan Perijinan Pelayanan Terpadu Kabupaten

Sumbawa Barat perlu melakukan peningkatan sosialisasi tehadap

pentingnya pengurusan izin usaha hotel di kabupaten sumbawa barat .

2. Dinas Parawisata Dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumbawa Barat perlu

penerapkan SOP, menyimpan data SOP dengan baik dalam pembangunan

usaha akomodasi hotel dan meningkatkan pengawasan terhadap hotel-

hotel yang ada di kabupaten sumbawa barat.

3. Pelaku usaha mampu meningkatkan pengetahuan dan mematuhi peraturan

daerah terhadap usaha parawisata akomodasi hotel yang berlaku di

Kabupaten Sumbawa Barat