Anda di halaman 1dari 11

PEMANTAUAN DENYUT JANTUNG JANIN

JENIS PEMERIKSAAN

Antepartum : (1) Contraction Stress Test

(2) Non Stress Test

Intrapartum : (1) Admission Test

(2) Pemantauan Kontinyu

INDIKASI TINDAKAN

Antepartum Fetal Heart Rate Monitoring

Intrapartum Fetal Heart Rate Monitoring

 Dilakukan pada seluruh pasien yang datang ke Rumah Sakit dengan Inpartu.
 Bila didapatkan hasil yang tidak baik atau pasien dengan risiko tinggi, dapat dilakukan
pemantauan kontinyu, maupun secara intermiten (tiap 2 jam, selama 30 menit durasi
perekaman)

PROSEDUR TINDAKAN

Contraction Stress Test

1. Pasien dalam posisi Semi Fowler atau posisi miring kiri untuk minimalisasi hipotensi supine
2. Tekanan darah diukur tiap 10 menit
3. Pasien sebaiknya telah makan dan minum 30 menit sebelum pemeriksaan
4. Transduser kardiograf dipasang pada punctum maximum, dan transduser tokograf dipasang
pada fundus uteri.
5. Perekaman awal selama 20-30 menit dilakukan untuk menilai (1) Baseline, (2) ada atau
tidaknya perubahan periodik dan (3) apakah ada aktivitas kontraksi uterus spontan
6. Jika terdapat 3 kontraksi spontan yang adekuat dalam periode 10 menit, dan jika rekaman
DJJ secara kualitas baik, maka perekaman dapat dihentikan dan diinterpretasikan
7. Bila kontraksi tidak ada atau tidak adekuat, maka dilakukan stimulasi
 Bila belum ada kontraksi, tetesan oksitosin dimulai 8 tpm dan dinaikkan 4 tetes tiap
15 menit hingga didapatkan kontraksi 3 kali dalam 10 menit
 Bila sudah ada kontraksi namun frekuensi <3 kali/10 menit, maka tetesan dimulai 4
tpm dan dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit hinngga kontraksi 3 kali/10 menit
 Bila kontraksi belum tercapai, dapat dinaikkan hingga 40 tpm
8. Tetesan oksitosin dihentikan bila:
 3 kali kontraksi dalam 10 menit, durasi 40- 60 detik
 Kontraksi hipertonus (tonus basal > 20 mmHg)
 Deselerasi lambat
 Deselerasi memanjang
 Selama satu jam hasil mencurigakan
9. Bila hasil yang diperoleh negatif, mencurigakan, tidak memuaskan, maka pasien tetap
diawasi hingga 2 jam setelah tetesan oksitosin dihentikan
10. Kontraindikasi Tindakan:
 LMR
 KPD preterm
 Plasenta Previia
 Inkompetensia serviks
 Riwayat persalinan prematur
 Kehamilan ganda

Non Stress Test

1. Pasien dalam posisi Semi Fowler atau posisi miring kiri untuk minimalisasi hipotensi supine
2. Tekanan darah diukur tiap 10 menit
3. Pasien sebaiknya telah makan dan minum 30 menit sebelum pemeriksaan
4. Transduser kardiograf dipasang pada punctum maximum, dan transduser tokograf dipasang
pada fundus uteri.
5. Pasien diinstruksikan untuk menekan tombol penanda gerakan janin, mengikuti pola
gerakan janin
6. Perekaman dilakukan dalam 20 menit
7. Apabila tidak terdapat akselerasi yang adekuat, maka dilakkan rangsangan suara atau fisik
pada uterus dan fetus.

Intrapartum

1. Pasien dalam posisi Semi Fowler atau posisi miring kiri untuk minimalisasi hipotensi supine
2. Tekanan darah diukur tiap 10 menit
3. Pasien sebaiknya telah makan dan minum 30 menit sebelum pemeriksaan
4. Transduser kardiograf dipasang pada punctum maximum, dan transduser tokograf dipasang
pada fundus uteri.
5. Perekaman dilakukan dalam 20-30 menit
6. Bila didapatkan hasil yang tidak baik atau pasien dengan risiko tinggi, dapat dilakukan
pemantauan kontinyu, maupun secara intermiten (tiap 2 jam, selama 30 menit durasi
perekaman)
INTERPRETASI

Contraction Stress Test

1. Negatif
 Tidak ada deselerasi lambat
 Kontraksi uterus adekuat (3x/10 menit)

2. Positif
 Adanya deselerasi lambat pada sebagian besar (lebih banyak dari setengah)
kontraksi selama periode stress kontraksi maksimum tanpa adanya aktivitas uterus
berlebihan
 Jika terjadi deselerasi lambat sebelum tercapainya kontraksi adekuat, hasil positif
dapat dinyatakan
3. Equivokal
 Mencurigakan : Jika terdapat deselerasi lambat pada kurang dari setengah kontraksi.
Sebaiknya perekaman diperpanjang untuk menentukan apakah deselerasi bersifat
menetap atau sporadis
 Hiperstimulasi : Jika terdapat deselerasi pada kontraksi yang berlangsung lebih dari
90 detik. Jika tidak terdapat deselerasi lambat meskipun pada kontraksi yang
berlangsung >90 detik, maka tidak digolongkan hiperstimulasi. Hiperstimulasi dapat
terjadi pada koontraksi spontan maupun induksi
 Tidak memuaskan : Saat frekuensi kontraksi yang adekuat tidak dapat dicapai,
sehingga tidak dapat ditentukan ada atau tidaknya deselerasi lambat.

Non Stress Test (Evertson et al)

1. Reaktif
 Bila terdapat 2 atau lebih akselerasi dalam 20 menit perekaman
 Jika tidak terdapat akselerasi yang adekuat, maka dapat dilakukan stimulasi suara,
atau rangsangan fisik pada uterus dan fetus
2. Non Reaktif
 Jika terdapat kurang dan 2 akselerasi dalam 20 menit, meskipun telah dilakukan
rangsangan suara dan fisik
 Jika pola menetap, maka sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan tambahan
seperti contraction stress test atau pemantauan kontinyu dan intermiten (tiap 2 jam)

Intrapartum (ACOG, NICHHD, SMFM)

Kategori I

Mencakup seluruh kriteria berikut:

1. Baseline : 110-160 dpm


2. Variabilitas : 6-25 dpm
3. Deselerasi lambat atau variabel: Tidak ada
4. Deselerasi dini : boleh ada atau tidak
5. Akselerasi : boleh ada atau tidak

Kategori II

Mencakup seluruh pola perekaman yang tidak termasuk dalam kategori I maupun III, mencakup
salah satu dari berikut:

1. Baseline : (1) Bradikardia tanpa diikuti hilangnya variabilitas, atau (2) Takikardia
2. Variabilitas : (1) Variabilitas minimal; (2) Hilangnya variabilitas tanpa deselerasi
berulang; atau (3) Variabilitas meningkat
3. Akselerasi : Tidak adanya akselerasi setelah stimulasi fetus
4. Lainnya : (1) Deselerasi periodik atau episodik; (2) Deselerasi variabel berulang
diikuti variabilitas minimal atau sedang; (3) Prolong deselerasi; (4) Deselerasi lambat
berulang dengan variabilitas sedang; atau (5) Deselerasi variabel dengan karakteristik:
lambat kembali ke baseline, overshoot, loss of shouldering.

Kategori III

Mencakup salah satu dari:

1. Hilangnya variabilitas diikuti salah satu dari: (1) deselerasi lambat berulang, (2) Deselerasi
variabel berulang, atau (3) Bradikardia
2. Pola sinusoidal
Prematuritas

1. Antepartum
 Baseline lebih tinggi, mencapai rata-rata 160 dpm
 Sebagian besar kehamilan 24-26 minggu atau lebih menunjukkan kriteria reaktif
(akselerasi >15 dpm selama >15 detik)
 Variabilitas cenderung lebih rendah pada bayi sangat prematur
 Deselerasi variabel umum dijumpai pada fetus usia 20-30 minggu, tanpa adanya
kontraksi, namun dengan kedalaman dan durasi yang minimal

2. Intrapartum
 Deselerasi variabel lebih umum ditemui pada bayi prematur, dan bila didapatkan
bersamaan dengan hilangnya variabilitas, maka berkaitan dengan luaran bayi yang
buruk
 Variabilitas yang berkurang atau tidak ada ditemukanlebih sering pada bayi
prematur, dan perburukan dapat terjadi dengan cepat
 Hilangnya variabilitas pada bayi prematur lebih berkaitan dengan asidosis dan nilai
Apgar yang buruk dibandingkan dengan bayi aterm
 Takikardia lebih umum ditemukan pada usia <33 minggu
 Akselerasi lebih singkat dan kecil pada usia <30-32 minggu (>10 dpm, >10 detik)

KETERANGAN

Baseline (RCOG/NICE) :

Nilai rata-rata DJJ pada periode stabil, tanpa mengikutsertakan akselerasi dan deselerasi, ditentukan
dalam periode 5-10 menit, dinyatakan dalam dpm (denyut per menit)

1. Normal : 110-160 dpm

2. Takikardia : >180 dpm (161-180 = takikardia sedang)

3. Bradikardia : <100 dpm (100-109 = bradikardia sedang)


Variabilitas (RCOG/NICE)

Fluktuasi minor baseline DJJ yang muncul 3-5 siklus per menit, yang dihitung melalui selisih antara
nilai tertinggi dan terendah dari fluktuasi tersebut dalam segmen sepanjang 1 menit.

1. Normal : ≥5 dpm (ACOG: 6-25 dpm)

2. Berkurang : <5 dpm dalam 40-90 menit (non-reassuring) atau >90 menit (abnormal)

3. Meningkat : >25 dpm (ACOG, 2010)

Akselerasi (ACOG, 2010)

1. Peningkatan DJJ yang mendadak (onset hingga puncak <30 detik)

2. Di atas usia kehamilan 32 minggu, akselerasi memiliki puncak 15 dpm atau lebih, dengan
durasi 15 detik atau lebih, namun kurang dari 2 menit dari onset hingga kembali ke baseline

3. Jika usia kehamilan <32 minggu, maka akselerasi dinyatakan bila terjadi peeningkatan DJJ
>10 dpm selama >10 detik

Prolong Akselerasi (ACOG, 2010)

1. Berlangsung selama2 menit atau lebih, namun kurang dari 10 menit.

2. Bila berlangsung 10 menit atau lebih, maka disebut sebagai perubahan baseline

Deselerasi Dini (ACOG, 2010)

1. Penurunan dan kembalinya DJJ yang tampak secara nyata, berkaitan dengan kontraksi
uterus

2. Penurunan gradual didefinisikan sebagai jarak dari onset hingga nadir deselerasi yakni 30
detik atau lebih

3. Penurunan DJJ dihitung dari onset hingga nadir

4. Nadir deselerasi muncul pada saat yang bersamaan dengan puncak kontraksi uterus

5. Pada sebagian besar kasus, onset, nadir, dan pemulihan deselerasi adalah bersamaan
dengan awal, puncak, dan akhir dari kontraksi, berturut-turut
Deselerasi Lambat (ACOG, 2010)

1. Penurunan dan kembalinya DJJ secara gradual yang tampak secara nyata, yang berhubungan
dengan kontraksi uterus

2. Penurunan DJJ secara gradual didefinisikan sebagai jarak dari onset penurunan hingga nadir
yakni 30 detik atau lebih

3. Penurunan DJJ dihitung dari onset hingga nadir deselerasi

4. Deselerasi terjadi lambat, yakni nadir deselerasi muncul setelah puncak dari kontraksi

5. Pada sebagian besar kasus, onset, nadir, dan pemulihan deselerasi muncul setelah awal,
puncak, dan akhir kontraksi berturuut-turut.

Deselerasi variabel (ACOG, 2010)

1. Penurunan DJJ yang mendadak

2. Penurunan DJJ dikatakan mendadak bila dari onset hingga nadir deselerasi kurang dari 30
detik

3. Penurunan DJJ dihitung dari onset hingga nadir deselerasi

4. Penurunan DJJ adalah 15 dpm atau lebih, berlangsung selama 15 detik atau lebih, dengan
durasi kurang dari 2 menit

5. Bila deselerasi variabel berkaitan dengan kontraksi uterus, maka onset, kedalaman dan
durasinya umumnya berbeda-beda pada tiap kontraksi.

Prolong Deselerasi (ACOG, 2010)

1. Penurunan DJJ di bawah baseline yang tampak secara nyata, sedalam 15 dpm atau lebih,
dengan durasi 2 menit atau lebih, namun kurang dari 10 menit.

2. Jika deselerasi berlangsung 10 menit atau lebih, maka disebut sebagai perubahan baseline

Pola sinusoidal (ACOG, 2010)

1. Pola DJJ undulasi seperti gelombang sinus yang tampak secara nyata, dengan frekuensi siklus
3-5 kali per menit, yang berlangsung selama 20 menit atau lebih
Kontraksi Uterus (NICCHD, 2008)

Dikuantifikasi sebagai jumlah kontraksi dalam 10 menit, dalam rata-rata 30 menit.

 Normal : ≤ 5 kontraksi dalam 10 menit

 Takisistol : > 5 kontraksi dalam 10 menit

Karakteristik:

 Takisistole harus selalu dikaitkan dengan apakah ada deselerasi DJJ

 Istilah takisistol dapat digunakan pada persalinan spontan atau induksi. Respon klinis
tergantung pada apakah takisistol terjadi spontan atau diinduksi

 Istilah hiperstimulasi dan hiperkontraktilitas tidak didefinisikan, dan sebaiknya


ditinggalkan

PEMANTAUAN KONTINYU ATAU INTERMITEN

Pemantauan DJJ secara kontinyu atau intermiten dapat dilakukan pada beberapa kondisi sebagai
berikut:

1. Antepartum
Fetal
 Doppler velositometri umbilikus abnormal
 Presentasi bokong
 Pertumbuhan janin terhambat
 Kehamilan ganda
 Oligohidramion
 Isoimunisasi rhesus
Maternal
 Anemia
 Perdarahan antepartum
 Penyakit jantung
 Diabetes
 Hipertensi
 Hipertiroidisme
 Trauma atau kecelakaan
 Obesitas morbid
 Penyakit ginjal
 Penyakit vaskuler
2. Intrapartum
Fetal
 DJJ abnormal pada auskultasi atau perekaman awal (20 menit)
 Ketuban bercampur mekonium
Maternal
 Uterus hipertonik
 Induksi atau augmentasi persalinan
 Kehamilan posterm (>42 minggu)
 Persalinan prematur (<32 minggu)
 LMR
 Pecah ketuban aterm >24 jam
 Analgesia regional, khususnya setelah bolus awal dan penambahan dosis
 Perdarahan pervaginam saat inpartu
Daftar Pustaka:

1. Freeman, R.K., Garite, T.J., Nageotte, M.P., Miller, L.A. Fetal Heart Rate Monitoring 4th Ed.
Wolter Kluwer-Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2012.
2. Campos, DA., Bernardes, J. Twenty-five years after the FIGO guidelines for the use of fetal
monitoring: Time for a simplified approach?. International Journal of Gynecology and
Obstetrics. 2010; 110:1-6
3. Bailey, RE. Intrapartum Fetal Monitoring. American Family Physician. 2009; 80 (12): 1388-
1396.
4. Macones, G.A., Hankins, G.D.V., Spong, C.Y., Hauth, J., Moore,T. The 2008 National Institute
of Child Health and Human Development workshop report on electronic fetal monitoring.
Obstetrics and Gynacology. 2008; 112(3): 661-666.
5. Pruetz, J.D., Smith, J.V., Miller, D.A. Clinical relevance of fetal hemodynamic monitoring:
perinatal implications. Seminars in Fetal & Neonatal Medicine. 2015; 20: 217-224.