Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia

dan dengan sumber daya alam yang berlimpah serta beraneka ragam,

mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat menjadi bangsa yang

maju dan besar apabila dapat mengolah sumber daya tersebut dengan

efektif dan efisien. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 262 juta jiwa

pada tahun 2017, (Https://www.bps.go.id/2018/05/05) Indonesia dapat

menjadi mesin raksasa yang produktif serta mampu bersaing secara

optimal dengan negara-negara ASEAN lainnya dalam Masyarakat

Ekonomi ASEAN (MEA) yang diberlakukan pada tahun 2015.

Salah satu fenomena permasalahan yang muncul di Indonesia yaitu

permasalahan di bidang ketenagakerjaan, yang paling dirasakan saat ini

adalah pengangguran. Karena tingkat pengangguran tersebut merupakan

salah satu indikator perekonomian kita yang harus segera diatasi.

Timbulnya pengangguran itu disebabkan oleh dua hal yaitu jumlah

angkatan kerja yang setiap tahun meningkat dan terbatasnya kesempatan

kerja. Peningkatan jumlah angkatan kerja diakibatkan karena adanya

1
2

lulusan dari lembaga pendidikan maupun mereka yang belum diserap oleh

pasar kerja pada tahun sebelumnya. Sedangkan terbatasnya kesempatan

kerja antara lain diakibatkan oleh kondisi pertumbuhan perekonomian

nasional dan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan dengan

ketersediaan tenaga kerja.

Peningkatan kualitas dan sumber daya manusia Indonesia. Hal ini

dapat dilakukan antara lain melalui pendidikan dan pelatihan kerja harus

mampu mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas,

memiliki keterampilan, profesionalisme, dan kompetensi yang tinggi serta

relevan dengan kondisi dan kebutuhan dunia kerja. Karenanya pendidikan

dan pelatihan kerja harus dilakukan secara sinergis dan hasilnya bermuara

kepada peningkatan kompetensi kerja yang dapat mengisi pasar kerja dan

kebutuhan dunia kerja selain bisa membantu program perluasan

kesempatan kerja dan menumbuhkan mental kewirausahaan.

Penyiapan tenaga kerja oleh lembaga pendidikan yang berorientasi

kepada kebutuhan diarahkan bukan saja membekali setiap peserta didik

dengan kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi semata, akan tetapi

juga diarahkan pada penciptaan sumber daya manusia yang mampu

mengelola sumber daya alam yang tersedia, serta dapat membawa bangsa

ini yang hebat. Maka dalam hal ini menurut laporan Badan Pusat Statistik

(BPS) jumlah angkatan kerja tahun 2017 telah mencapai angka 128,1 juta

jiwa, sementara jumlah pengangguran tercatat sebesar 7,0 juta jiwa.


3

Kondisi demikian, jumlah pengangguran didalam negeri menunjukan

penurunan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.

Dengan mengatasi pengangguran alasan pemerintah mencatumkan

PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu) dan outsourcing adalah sebagai

usaha untuk menyediakan kesempatan kerja yang luas sebanyak mungkin

angkatan kerja yang ada saat itu yang di perhitungkan akan terus

bertambah (Farida, Umi, 2014:16). Dengan penyerapan tenaga kerja

diharapkan pertumbuhan ekonomi nasional juga akan meningkat. Namun

sistem ketenagakerjaan yang fleksibel ini menimbulkan problematika

tersendiri.

Wacana mengenai outsourcing di Indonesia, bukan merupakan hal

yang baru dalam perusahaan, khususnya dalam hal Hubungan Industrial.

Hampir setiap tanggal 1 Mei (Mayday), yaitu saat hari buruh hampir

semua organisasi masyarakat maupun serikat pekerja menolak hal tersebut

karena dinilai tidak manusiawi dan hanya menyengsarakan para tenaga

kerja. Selain itu, sistem kerja tersebut dinilai merugikan pekerja karena

tidak memberikan jaminan dalam bentuk apapun selama mereka bekerja.

Jenis pekerjaan yang di outsourcing di PT PLN (Persero) Area

Sumbawa antara lain : SATPAM, cleaning service (pelayanan kebersihan),

driver (sopir), pelayanan teknik, dan perabasan (pemeliharan jaringan

dengan cara memotong pohon dan sebagainya yang menyebabkan

terjadinya gangguan jaringan). Jadi jumlah tenaga kerja tersebut,


4

berjumlah 227 orang dalam jangka waktu kontrak kerja setiap 5 (lima)

tahun pihak perusahaan penyedia tenaga kerja/vendor memiliki tenaga

kerja yang sudah berkompeten di bidangnya masing-masing kemudian

disalurkan kepada perusahaan pengguna jasa tenaga kerja outsourcing,

(sumber: Manajemen Sumber Daya Manusia).

Dengan adanya perusahaan yang melakukan sistem outsourcing

menciptakan ketidak pastiaan kerja, apalagi peningkatan karir, tenaga

kerja outsourcing juga kehilangan kesempatan berserikat, karena baik

secara terbuka maupun terselubung, perusahaan pengarah maupun

pengguna tenaga kerja melarang mereka berserikat dengan resiko

kehilangan pekerjaan. Adanya outsourcing ini membuat posisi tawar

tenaga kerja semakin lemah karena tidak ada kepastian kerja, kepastian

upah, jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan tunjangan-tunjangan

kesejahteraan lain. Hal ini akan memberi kesempatan yang lebih mudah

bagi perusahaan yang bersangkutan untuk menambah atau mengurangi

kesempatan kerja pada calon tenaga kerja melalui kerjasamanya dengan

para agen.

Maka dalam hal itu, permasalahan yang coba saya angkat

mengenai tenaga kerja outsourcing di PT PLN Area Sumbawa yaitu

tentang penerapan sistem kerja outsourcing apakah sudah baik atau malah

sebaliknya, juga termasuk mengenai pengupahan hak berserikat, hak atas

jaminan pekerjaan, hak atas jaminan sosial dan sebagainya. Maka dalam
5

hal ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“Penerapan Sistem Outsourcing dan Hak-Hak Sosial-Ekonomi Tenaga

Kerja di PT PLN (Persero) Area Sumbawa”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan

permasalahan yang hendak dikaji sebagai berikut :

1. Bagaimana proses penerapan outsourcing di PT. PLN (Persero) Area

Sumbawa ?

2. Bagaimana pemenuhan hak-hak sosial-ekonomi tenaga kerja

outsourcing di PT. PLN (Persero) Area Sumbawa ?

C. Tujuan Penelitian

Dengan tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui proses penerapan outsourcing PT. PLN ( Persero )

Area Sumbawa

2. Untuk mengetahui pemenuhan hak-hak sosial-ekonomi tenaga kerja

outsourcing PT. PLN (Persero) Area Sumbawa.


6

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Manfaat secara teoritis adalah diharapkan dapat mengembangkan

dan mudah memahami lebih mendalam terhadap fungsi manajemen

sumber daya manusia.

2. Manfaat praktis

a. Bagi masyarakat luas, pengetahuan dan pemahaman tentang

manfaat dan resiko outsourcing bisa digunakan untuk

mempersiapkan diri jika mereka akan masuk kedunia kerja atau

memilih dunia usaha.

b. Bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan, informasi dan

pemahaman konsep outsourcing tersebut bisa digunakan sebagai

landasan dalam membuat kebijakan yang berhubungan dengan

kerja sama antar perusahaan dan perlindungan terhadap masalah

ketenagakerjaan yang terkait.