Anda di halaman 1dari 16

I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997 : 10) dijelaskan

bahwa agama adalah “Sistem, prinsip kepercayaan kepada tuhan (Dewa

dsb)dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan

kepercayaan itu”. Sedangkan menurut Hardjana (2005 : 50) dijelaskan bahwa

“Agama adalah pegangan atau pedoman untuk mencapai hidup kekal”.

Selanjutnya menurut Zein (2001 : 150) dijelakan bahwa “Agama Hindu adalah

suatu ajaran yang menyembah kepada Tuhan Sang Hyang Widi sebagai

Tuhannya”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa agama hindu adalah

suatu kepercayaan yang dianut oleh manusia dalam pedoman dan usahanya

mencari hakekat dari hidupnya dengan kebaktian melalui segala bentuk dan tata

cara pemujaan peribadatan tertentu, yang bersumber pada ajaran yang percaya

adanya satu tuhan yang disebut Ida Hyang Widhi Wasa. Agama Hindu adalah

agama yang berasal dari india.”Agama hindu berkembang sejak 1500 S.M.

Bersamaan dengan masuknya suku bangsa arya (Indo German) ke india utara”.

(Arifin, 2002 : 56 ). Bangsa arya kemudian bercampuran dengan penduduk asli

India yang terdiri dari suku bangsa Dravida dan suku-suku bangsa lain di India.

Kepercayaan bangsa arya kemudian berpadu dengan kepercayaan penduduk asli

India.

Agama Hindu adalah suatu agama yang berevolusi dan merupakan

kumpulan adat istiadat dan kedudukan yang timbul dari hasil penyusunan bangsa

arya terhadap kehidupan mereka yang terjadi pada satu generasi ke generasi yang
lain, sesudah mereka datang berpindah ke india dan menundukan penduduk

aslinya serta membentuk suatu masyarakat sendiri di luar pengaruh penduduk asli.

Keduukan bangsa arya sebagai penakluk negeri yang lebih tinggidari keduukan

pendudukan asli serta pergaulan mereka telah melahirkan adat istiadat Hindu

sebagai suatu agama yang ianut dan dipegang tata susilanya oleh orang-orang

india.

Penyebaran agama hindu ke Indonesia sendiri tidak terlepas dari letak

indonesia yang strategis. “secara geografis memiliki letak yang sangat strategis

diantara dua benua, Asia dan Australia, serta di antara dua samudera pasifik dan

samudera di india”. (Oentoro,2010 : 33). Hal ini sangat memungkinkan Indonesia

mendapatkan pengaruh dari luar, terutama pengaruh agama hindu dari india.

Dalam penyebaran agama Hindu ke Palembang, sungai musi memegang

peranan yang sangat besar sebagai sarana transportasi dan perdagangan pada saat

itu. “Di pinggiran sungai musi digunakan sebagai pusat pertemuan para

pedagang dari berbagai daerah pedalaman”. (Supriyanto, 2013 : 33). Sungai musi

menjadi sarana transportasi yang sangat ramai.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya situs yang ditemukan di sepanjang

daerah aliran sungai musi. “Pada daerah aliran sungai musi banyak ditemukan

situs-situs arkeologi yang memiliki karakteristik budaya hindu-budha, seperti sisa-

sisa bangunan candi, arca-arca dewa hindu, arca-arca budha dan temuan prasasti

berhuruf pallawa dan bahasa sansekerta serta bahasa melayu kuno”. (Siregar,

2006 : 31).
Penyebaran agama hindu di indonesia pada mulanya diawali dengan

terjadinya syncrestisme (peleburan budaya) antara budaya indonesia dengan

agama hindu, karena dalam ajaran hindu memberikan keleluasaan untuk

menyerap budaya lokal. Sehingga dalam ajaran hindu terdapat beberapa

perbedaan dalam praktik dan tradisi keagamaannya. Perbedaan ini terjadi karena

budaya lokal indonesia tidak sama dengan budaya asli india, diantarannya

perbedaan interprestasi dan cara pandangmasyarakat itu sendiri yang pada

akhirnya menimbulkan perbedaan dalam praktiknya. Sehubungan dengan

perbedaan tradisi tersebut sesuai dengan pendapat Mufid (2012 : 22) berikut ini :

Agama merupakan sistem keyakinan yang dianut dan diwujudkan dalam

tindakan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterprestasikan dan

memberi respon terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai sesuatu yang

suci dan gaib. Dari pengertian tersebut maka terjadinya perubahan paham dan

keyakinan keagamaan sangat memungkinkan. Perubahan tersebut disebabkan

karena perbedaan-perbedaan interprestasi dan cara pandang dalam memahami

situasi-situasi yang terus berubah atau ilmu pengetahuan yang berkembang. Gea

(2004 :148).

Agam hindu memiliki tradisi berbeda-beda di dunia, termasuk di indonesia.

Tradisi-tradisitersebut antaralain yaitu perayaan hari raya Pagerwesi, Saraswati,

Siwaratri, Nyepi dan Galungan. Di palembang agama hindu merupakan agama

minoritas. Meskipun demikian, perayaan hari-hari umat hindu di palembang juga

di rayakan dengan meriah. Ini dapat dilihat dari persiapan-persiapan yang

dilakukan masyarakat hindu di palembang dengan membuat sesajen, penjor, dan

mendekorasi temapat peribadatan yang sangat meriah. Misalnya di Pura Agung


Sriwijaya di kawasan seduduk putih Palembang, saat menjelang perayaan hari

raya Galungan umat hindu telah membuat sesajen-sesajen dan mendekorasi pura

serta memajang penjor dengan megah. Tepat pada upacara Galungan ratusan umat

hindu memadati Pura Agung Sriwijaya baik umat hindu yang berasal dari kota

palembang maupun diluar kota palembang.

Pembahasan tentang Perayaan Hari Raya Galungan Sebagai Upacara

Keagamaan Umat Hindu Di Palembang 1981 ini pernah diteliti sebelumnya

yaitu penelitian yang dilakukan oleh Gunawan (2012 ) Fakultas Keguruan dan

Keilmuan Pendidikan Universitas PGRI Palembang dengan judul Hari Raya

Galungan Dan Kuningan Beserta Urutan Upacaranya. Dari penelitian dapat di

simpulkan bahwa Hari Raya Galungan merupakan hari-hari besar bagi umat

Hindu sebagai Hari Suci Agama Hindu.

Penelitian ini dilakukan oleh Gunawan membahas tentang Hari Raya

Kuningan, dan Galungan serta tata cara pelaksanaan Hari Raya Galungan.

Perbedaannya terdapat pada rumusan masalah penelitian yang dilakukan.

Oleh karena itu akhirnya penulis tertarik melakukan penelitian dengan

judul “Perayaan Hari Raya Galungan Sebagai Upacara Umat Hindu Di

Palembang Tahun 1981”. Disamping itu penulis termotivasi dari penelitian

tentang ajaran hindu yang ditulis sebelumnya oleh Jaya (2012) dengan judul

tantang Hari Raya Kuningan dan Galungan, dan jaya 2012 dengan judul Hari

Raya Galungan Dan Kuningan Beserta Upacaranya. Tulisan terdahulu ini

menjelaskan tentang hari-hari besar umum hindu, sejarah hari raya Galungan,

maka Galungan dan tata cara pelaksanaan hari raya Galungan.


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana latar belakang diadakannya perayaan hari raya

Galungan umat Hindu di palembang?

2. Bagaimana tata cara pelaksanaan hari raya Galungan Umat Hindu

Di Palembang?

3. Bagimana persepsi masyarakat Hindu Di Palembang Tentang

Perayaan Hari Raya Galungan?

C. Pembatasan Masalah

Untuk memindahkan pemahaman dan mempertajam pembahasan maka

penulis membatasai masalah secara Scoop Spasial (wilayah) dan secara temporal

(ruang dan waktu). Secara scoop spasial penelitian dilakukan dipalembang

khususnya didaerah seduduk putih sebagai lokasi penelitian yaitu pura agung

sriwijaya karena lokasinya relatif mudah untuk di jangkau oleh umat hindu

khususnya. Sedangkan secara temporal penelitian membatasi masalah pada tahun

1981,2015. Maka penulis mengambil dengan judul Perayaan Hari Raya

Galungan Sebagai Upacara Keagamaan Umat Hindu Di Palembang 1981.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sesuatu yang hendak diperoleh, dicapai

atau merupakan sasaran dari kegiatan mengkaji dan meneliti. Sesuai

dengan pengertian diatas maka tujuan penelitian ini sebagai beriku :

1. Latar belakang diadakannya perayaan hari raya Galungan umat

Hindu Di Palembang?

2. Tata cara pelaksanaan hari raya Galungan umat Hindu

Palembang?
3. Persepsi masyarakat di palembang tentang perayaan hari raya

Galungan?

E. Kegunaan Penelitian

1. Untuk memberikan gambaran Latar belakang diadakannya

perayaan hari raya Galungan umat Hindu di Palembang.

2. Untuk memperluas pengetahuan mahasiswa mengenai Tata cara

pelaksanaan hari raya Galungan umat Hindu Palembang.

3. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang penulis proleh

selam pendidikan sejarah.

F. Definisi Penelitian

Definisi istilah digunakan untuk menerangkan berbagai istilah-

istilah yang tidak mengerti. Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia

(2006)yang ditulis oleh Depdikbud, dan Kamus Bahasa Indonesia yang

ditulis oleh Ahimsyah (2012) .

Agama : Sistem, Prinsip Kepercayaan


Galungan : Hari raya umat Hindu Darma setipa 210
hari sekali, jatuh pada hari Rabu Kliwon
dua kali di satu tahun.
Hari Raya : Hari yang dirayakan untuk memperingati
suatu peristiwa penting.
Hindu : Agama yang meyakini adanya Tuhan
Sang Hyang Widhi Wasa.
Manifestasi : Simbol-simbol atau miniatur sebagai
sarana pemuja
Palembang : Ibukota Provinsi Sumatera Selatan
Penjor : Sebatang bambu utuh yang dihiasi oleh
janur dan dilengkapi dengan hasil bumi
(sandang dan pangan).
Perayaan : Pesta (keramayan dsb)untuk merayakan
suatu peristiwa.
Pura : Tempat Ida sang hyang widhi wasa yang
berfungsi sebagai tempat peribadatan umat
hindu.
Sang hyang widhi Wasa : Tuhan dalam agama hindu.
Syncretisme : Peleburan antara dua budaya atau lbuh
yang menghasilkan budaya baru.
Umat : Para penganut (pemeluk, pengikut) suatu
agama.
Upacara : Rangkaian atau tindakan yang terkait pada
aturan-aturan tertentu menurut adat atau
agama yang diadakan untuk memperingati
peristiwa penting.
Sungai : Aliran air yang besar dan memanjang
secara terus-menerusdari hulu
(sumber)menuju hilir (muara)
Weda : Kita suci agama hindu
II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengetian Perayaan, Hari Raya, Galungan, Upacara Keagamaan,

dan Umat Hindu.

1. Pengertian Perayaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1991 :823)

dijelaskan bahwa perayaan adalah “pesta (keramaian dsb) untuk

merayaankan suatu peristiwa”. Dapat disimpulkan pengertian pengertian

perayaan adalah aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat yang bertujuan

untuk merayakan atau memperingati suatu peristiwa penting sesuai

dengan adat dan kondisi setempat.

2. Pengertian Hari Raya

Hari Raya adalah “Hari yang dirayakan untuk memperingati

sesuatu yang penting”.(Depdikbud, 1991 :34). Sedangkan dalam konteks

agama, Ghamidhi (2003 :17) berpendapat bahwa “Pada dasarnya hari

raya keagamaan berhubungan erat dengan konsep kepercayaan masing-

masing”. Dengan demikian dapat disimpulkan pengertian hari raya adalah

hari yang bertepatan pada suatu peristiwa penting sesuai konteks

kepercayaan masing-masing”.

3. Pengertian Galungan

Galungan merupakan salah satu hari raya umat hindu. Umat hindu

memperingati hari Galungan setiap 210 hari sekali dengan melakukan

suatu upacara yang tata cara konsep penyembahannya telah diatur dan
ditetapkannya. Hari raya galungan adalah “Hari raya untuk merayakan

kemenangan dharma atau kebenaran dan melawan adharma atau

kejahatan” (Gea, 2004 :148).

Hari raya galungan dirayakan umat hindu sesuai dengan urutan

dan tata cara yeng telah ditetapkan. “upacara galungan dimulai pada

tumpek wariga sampai dengan budha keliwon pahang (pegat wakan/pegat

warah)” (Sujana, 2012 :41). Hari raya galungan dirayakan umat hindu

secara besar-besaran dan meriah dengan urutan dan konsep peribadatan

yang kompleks nulai dari awal sampai akhir upacara. Dalam konteks ini,

hari raya galungan yang dilaksanakan oleh umat hindu di palembang ini

adalah hari raya besar yang harus dilaksanakan sesuai dengan tatanan

kehidupan keagamaan agama hindu.

4. Upacara Keagamaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1991 : 1108)

dijelaskan bahwa upacara adalah “Peralatan (menurut adat istiadat”,

rangkaian tindakan atau perbuatan yang terkait kepada aturan-aturan

tertentu. Sedangkan keagamaan menunjukan hal yang berhubungan

dengan keagamaan. Demikian dapat disimpulkan bahwa upacara

keagamaan adalah suatu rangkaian tindakan yang terikat dengan aturan

tertentu berdasarkan adat istiadat dan agama. Maka, dengan demikian

dapat disimpulkan bahwa upacara keagamaan merupakan serangkaian

tindakan atau perbuatan yang terikat dengan aturan tertentu berdasarkan

adat istiadat, agama dan kepercayaan tertentu.


5. Umat

Kata umat menunjukan sekumpulan orang yang mempunyai

kepentingan yang sama. Menurut Basalamah (1996 :13) umat adalah

“segolongan manusia yang mempunyai kesamaan dalam hal akidah serta

tujuan hidupnya serta terikat oleh konvensi keimanan yang sama”. Dari

penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa umat adalah segolongan

manusia yang mempunyai kesamaan keinginan, tujuan, dan akidah dalam

suatu wilayah. Dalam hal ini yang menjadi sasaran dalam penulis ini

adalah umat hindu yang ada di palembang. Maka, dengan demikian

penulis menarik kesimpulan bahwa umat hindu yang ada di palembang

mempunyai tujuan dan kesamaan dalam hal akidah yang di landasi

dengan toleransi beragama.

6. Hindu

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menurut Arifi (2002 :92)

Hindu “memiliki sistem kepercayaan yang terdiri dari lima keimanan

yaitu “percaya kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan), percaya pada

adanya atma (roh leluhur), percaya pada adanya hukum karma (sebab

akibat), percaya adanya samsara (menjelma berkali-kal, dan percaya pada

adaya moksa (kelepasan dari samsara). Dari penjelasan tersebut dapat

disimpulkan bahwa Hindu adalah agama yang percaya kepada Sang

Hyang Widhi Wasa sebagai tuhannya dan kitab weda sebagai pedoman

agama. Hindu dalam pengkajian tulisan ini adalah sebuah ajaran/agama

yang dianut oleh umat yang ada di palembang.


III PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Diadakannya Perayaan Hari Raya Galungan

Umat Hindu di Palembang Tahun 1981-2013

Penyebaran agama Hindu ke Indonesia sendiri tidak terlepas dari

letak Indonesia yang strategis “karena letaknya berada di titik

persimpangan lalu lintas niaga dan budaya yang harus dilewati diantara

Samudera Hindia, Laut Cina Selatan, dan Samudera pasifik, maka

Indonesia telah diperkaya oleh pengaruh kebudayaan-kebudayaan India,

Cina, Islam Dan Eropa. Hal ini sangat memungkinkan indonesia

mendapat pengaruh luar, tidak terkecuali agama Hindu dari India.

Di Palembang agama hindu menyebar dengan tumbuhnya

peradaban di wilayah Sumatera Selatan. Diperkirakan masuknya agama

hindu ke palembang berawal dari selat bangka yang telah dikenal sebagai

jalur perdagangan internasional sejak awal masehi. Dari peisir timur

sumatera inilah agama masuk dan berkembang. Pada abad ke 6 masehi,

diperkirakan penyebaran agama hindu sudah terjadi di selat bangka.

Dalam ajaran agama hindu ke palembang, sungai musi memegang

peranan yang sangat besar sebagai sarana transportasi dan perdagangan

pada saat itu. “dipinggiran sungai musi digunakan sebagai pusat

pertemuan para pedagang dari berbagai derah pedalaman” (Supriyanto,

2013 : 33). Sungai musi menjadi sarana transportasi yang sangat ramai.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya situs ditemukan di sepanjang daerah

aliran sungai musi. “pada daerah aliran sungai musi banyak ditemukan
situs-situs arkeologi yang memiliki karaketrisik budaya hindu-budha,

seperti sisa-sisa bangunan candi, arca-arca dewa hindu, arca-arca budha

dan temuan prasasti berhuruf pallawa dan bahasa sansekerta serta bahasa

melayu kuno” (Siregar, 2006 : 31).

Penyebaran Agama Hindu di Indonesia pada mulanya di awali

dengan terjadinya syncretisme (peleburan budaya) antara budaya

indonesia dengan agama hindu. Agama hindu memiliki tradisi yang

berbeda-beda di dunia, termasuk di indonesia. Tradisi-tradisi tersebut

salah satunya yaitu hari raya Galungan. Galungan merupakan hari raya

umat hindu yang diperingati 210 hari sekali. Menurut Gea (2004 : 148)

Galungan adalah “ Hari raya untuk merayakan kemenangan dharma atau

kebenaran melawan adharma atau kejahatan.

Agama merupakan sisem keyakinan yang di anut dan diwujudkan

dalam tindakan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam

menginterprespasi dan memberikan respon terhadap apa yang dirasakan

dan diyakini sebagai sesuatu yang suci dan gaib. Dari pengertian tersebut

maka terjadinya perubahan paham dan keyakinan keagamaan. Perubahan

tersebut disebabkan karena perbedaan-perbedaan interprestasi dan cara

pandang dalam memahami situasi-situasi yang terus berubah atau ilmu

pengetahuan yang berkembang.Gea (2004 : 148)

Hari raya Galungan dibawa oleh masyarakat bali yang datang ke

palembang. Perayaan galungan di palembang diperkirakan pertama kali

dilaksanakan setelah pura agung sriwijaya di bangun. “ hari raya


galungan pertama kali dirayakan di palembang sebenarnya tidak

diketahui sengan pasti, tetapi kemungkinan baru dirayakan setelah pura

agung sriwijaya mulai di bangun sekitar tahun 1981-2013”. Pura agung

sriwijaya merupan satu-satunya pura yang ada di palembang.

B. Tata Cara Pelaksanaan Hari Raya Galungan Umat Hindu di

Palembang.

Pelaksanaan hari raya galungan terdiri dari beberapa kegitan yang

dilakukan 25 hari sebelum hari galungan yang dimulai dari Tumpek

Wariga sampai galungan hal ini di jelaskan oleh Kartika (29 jini 2014).

Dalam pelaksanan hari raya galungan yang paling peting yaitu

Penjor. Penjor merupakan salah satu perlengkapan yang paling penting

dan menjadi simbol hari raya Galungan yang menyiratkan makna sebagai

hari kemenangan darma dan adarma” ( Widana, 2002 : 2013).

Penjor merupakan sebatang bambu yag tujuannya dilengkapi dan

berbagai perlengkapan dan bahan sesajen persembahan. Selain penjor,

terdapat berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dalam prayaan

Galungan.

C. Persepsi Mayarakt Tentang Perayaan Galungan Umat Hindu di

Palembang.

Menurut Gunawan (2006 : 99) persepsi adalah “Apa yang dilihat

dengan mata pikiran persepsi dibatasi dengan pengalaman, pengetahuan,

imajinasi yang dimiliki”. Darikutipan twersebut dapat disimpulkan


persepsi adalah sezeorang yang menimbulkan perasaan, reaksi dan makna

terhadap sesuatu yang dihat atau kenyataan.

Persepsi masyarakat tentang perayaan hari raya Galungan umat

hindu di palembang, ternyata sebagian besar masyarakat tidak

mengetahui tentang perayaan hari raya Galungan. Hal ini dikarenakan

“Perayaan hari raya Galungan tidak sepopuler di daerah lain lain ataupun

Bali”. Di palembang umat hindu sangat sedikit, sehingga isu atau cerita

tentang hari raya Galungan tidak mencuat sampai didaerah lain. Selain itu

sosialisasi maupun berita tentang perayaan hari raya Galungan di

Palembang sangat minim sehingga masyarakat umum tidak banyak yang

mengetahui tentang perayaan hari raya Galungan itu sendiri”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat

kelurahan 8 Ilir Ttimur II, Seduduk Putih, Palembang sebagian besar

tidak mengetahui tentang perayaan galungan. Hal ini di sebabkan

kurangnya sosialisasi yang menyangkut perayaan hari raya Galungan,

sehingga masyarakat umum tidak banyak mengetahui tentang galungan

itu sendiri.

Kurangnya kerjasama antara pihat penyelenggara perayaan

galungan dengan pemerintahan kota Palembang juga membuat perayaan

galungan tidak banyak diketahui masyarakat umum.


IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyebaran agama Hindu ke Indonesia sendiri tidak terlepas dari

letak Indonesia yang strategis “karena letaknya berada di titik

persimpangan lalu lintas niaga dan budaya yang harus dilewati diantara

Samudera Hindia, Laut Cina Selatan, dan Samudera pasifik, maka

Indonesia telah diperkaya oleh pengaruh kebudayaan-kebudayaan India,

Cina, Islam Dan Eropa. Hal ini sangat memungkinkan indonesia

mendapat pengaruh luar, tidak terkecuali agama Hindu dari India.

Penyebaran Agama Hindu di Indonesia pada mulanya di awali dengan

terjadinya syncretisme (peleburan budaya) antara budaya indonesia

dengan agama hindu. Hari raya Galungan dibawa oleh masyarakat bali

yang datang ke palembang. Perayaan galungan di palembang

diperkirakan pertama kali dilaksanakan setelah pura agung sriwijaya di

bangun. “ hari raya galungan pertama kali dirayakan di palembang

sebenarnya tidak diketahui sengan pasti, tetapi kemungkinan baru

dirayakan setelah pura agung sriwijaya mulai di bangun.

Dalam pelaksanan hari raya galungan yang paling peting yaitu

Penjor. Penjor merupakan salah satu perlengkapan yang paling penting

dan menjadi simbol hari raya Galungan yang menyiratkan makna sebagai

hari kemenangan darma dan adarma” ( Widana, 2002 : 2013).

Penjor merupakan sebatang bambu yag tujuannya dilengkapi dan

berbagai perlengkapan dan bahan sesajen persembahan. Selain penjor,


terdapat berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dalam prayaan

Galungan.

Persepsi masyarakat tentang perayaan hari raya Galungan umat

hindu di palembang, ternyata sebagian besar masyarakat tidak

mengetahui tentang perayaan hari raya Galungan. Hal ini dikarenakan

“Perayaan hari raya Galungan tidak sepopuler di daerah lain lain ataupun

Bali”. Di palembang umat hindu sangat sedikit, sehingga isu atau cerita

tentang hari raya Galungan tidak mencuat sampai didaerah lain. Selain itu

sosialisasi maupun berita tentang perayaan hari raya Galungan di

Palembang sangat minim sehingga masyarakat umum tidak banyak yang

mengetahui tentang perayaan hari raya Galungan itu sendiri”

B. Saran

Diharapkan adanya kerjasama antara pihak penyelenggara perayaan hari

raya Galungan dengan pemerintahan kota palembang sehingga sosalisasi ataupun

promosi tentang perayaan Galungan dapat diketahui masyarakat umum.

Di harapkan masyarakat saling menghargai perbedaan dalam beragama

sehingga dapat tercipta suasana yang rukun dan bertoleransi dalam kehidupan

mayarakat.