Anda di halaman 1dari 18

SATUAN ACARA PENYULUHAN

TRAUMA WAJAH
DI RUANG 12 HCU RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

PROGRAM PENYULUHAN KESEHATAN


RUMAH SAKIT RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Pokok Bahasan : Trauma Wajah


Sasaran : klien dan keluarga
Waktu : 15 menit
Tanggal :
Tempat : Ruang 12 HCU

A. Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Setelah dilakukan penyuluhan , klien mampu memahami dan
mengerti tentang Trauma wajah
B. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah diberikan penyuluhan selama 15 menit, diharapkan klien
dapat :
a. Menyebutkan pengertian dari trauma wajah
b. Meyebutkan manfaat melakukan 6 Langkah cuci tangan yang benar
c. Menyebutkan penting melakukan cuci tangan dirumah
d. Menyebutkan 5 pentingnya melakukan cuci tangan di lingkungan
rumah sakit
e. Mampu menjelaskan dan memperagakan 6 langkah cuci tangan
dengan benar menggunakan hand rub
C. Materi Penyuluhan
a. Pengertian Trauma wajah
b. Pembagian trauma wajah
c. Tanda gejala trauma wajah
d. Pencegahan trauma wajah
e. Penanganan pertama pada trauma wajah
D. Metode Pembelajaran
a. Metode : Ceramah dan diskusi
b. Langkah-langkah kegiatan :
1) Kegiatan pra pembelajaran
 Mempersiapkan materi, media dan tempat
 Kontrak waktu
2) Kegiatan membuka pembelajaran
 Memberi salam
 Perkenalan
 Menyampaikan pokok bahasan
 Menjelaskan tujuan
 Apersepsi
3) Kegiatan inti
 Penyuluh memberikan materi
 Sararan menyimak materi
 Sasaran mengajukan pertanyaan
 Penyuluh menjawab pertanyaan
4) Kegiatan menutup pembelajaran
 Melakukan post test (memberi pertanyaan secara lisan
 Menyimpulkan materi
 Memberi salam

E. Media dan Sumber


Media : Power point

F. Evaluasi
Prosedur : Post test
Jenis tes : Pertanyaan secara lisan
pertanyaan :
a. Sebutkan pengertian trauma wajah
b. Sebutkan pembagian trauma wajah
c. Sebutkan beberapa cara pencegahan trauma wajah
d. Sebutkan penanganan pertama pada trauma
LAMPIRAN
MATERI PENYULUHAN

TRAUMA WAJAH (MAKSILOFASIAL)

1. Definisi Trauma Maksilofasial


Fraktur maksilofasial ialah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang
pembentuk wajah. Berdasarkan anatominya wajah atau maksilofasial
dibagi menjadi tiga bagian, ialah sepertiga atas wajah, sepertiga tengah
wajah, dan sepertiga bawah wajah. Bagian yang termasuk sepertiga atas
wajah ialah tulang frontalis, regio supra orbita, rima orbita dan sinus
frontalis. Maksila, zigomatikus, lakrimal, nasal, palatinus, nasal konka
inferior, dan tulang vomer termasuk ke dalam sepertiga tengah wajah
sedangkan mandibula termasuk ke dalam bagian sepertiga bawah wajah.
Trauma pada jaringan maksilofasial dapat mencakup jaringan lunak
dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah
jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang
dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri
dari : tulang hidung, tulang arkus zigomatikus, tulang mandibula, tulang
maksila, tulang rongga mata, gigi, tulang alveolus. Yang dimaksud dengan
trauma jaringan lunak adalah:
- Abrasi kulit, tusukan, laserasi, tato
- Cedera saraf, cedera saraf fasial
- Cedera kelenjar paratiroid atau duktus Stensen
- Cedera kelopak mata
- Cedera telinga
- Cedera hidung
2. Anatomi Maksilofasial
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan
kedua setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada
anak usia 4-5 tahun, besar cranium sudah mencapai 90% cranium dewasa.
Maksilofasial tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara
baik dalam membentuk wajah manusia. Daerah maksilofasial dibagi
menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah wajah bagian atas, di mana
patah tulang melibatkan frontal dan sinus. Bagian kedua adalah midface
tersebut. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bawah. Para midface
atas adalah di mana rahang atas Le Fort II dan III Le Fort fraktur terjadi dan
/ atau di mana patah tulang hidung, kompleks nasoethmoidal atau
zygomaticomaxillary, dan lantai orbit terjadi. Bagian ketiga dari daerah
maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah, di mana patah tulang yang
terisolasi ke rahang bawah.
Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari
tengkorak otak. Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang
membentuk rongga mulut (cavum oris), dan rongga hidung (cavum nasi) dan rongga
mata(orbita).
a. Bagian hidung terdiri atas :
Os Lacrimal (tulang mata) letaknya di sebelah kiri/kanan pangkal
hidung disudut mata. Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk
batang hidung sebelah atas. Dan Os Konka nasal (tulang karang
hidung), letaknya di dalam rongga hidung dan bentuknya berlipat-lipat.
Septum nasi (sekat rongga hidung) adalah sambungan dari tulang tapis
yang tegak.
b. Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :
Os Maksilaris (tulang rahang atas), Os Zigomaticum, tulang pipi
yangterdiri dari dua tulang kiri dan kanan. Os Palatum atau tulang
langit-langit, terdiri dari dua dua buah tulang kiri dan kanan. Os
Mandibularis atau tulang rahang bawah, terdiri dari dua bagian yaitu
bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatu di pertengahan dagu.
Dibagian depan dari mandibula terdapat processus coracoids tempat
melekatnya otot.
3. Facial danger zones (Zona bahaya wajah)
Secara anatomi, wajah memiliki beberapa serabut-serabut saraf yang
tersebar di beberapa lokasi di wajah, ada 7 lokasi-lokasi penting di sekitar
wajah yang apabila terjadi trauma atau kesalahan dalam penanganan
trauma maksilofasial akan berakibat fatal, lokasi-lokasi tersebut disebut
dengan facial danger zone.
4. Epidemiologi
Dari data penelitian itu menunjukan bahwa kejadian trauma maksilofasial
sekitar 6% dari seluruh trauma yang ditangani oleh SMF Ilmu Bedah RS
Dr.Soetomo. Kejadian fraktur mandibula dan maksila terbanyak diantara 2
tulang lainnya, yaitu masing-masing sebesar 29,85 %, disusul fraktur
zigoma 27,64 % dan fraktur nasal 12, 66 %. Penderita fraktur maksilofasial ini
terbanyak pada laki-laki usia produktif,yaitu usia 21-30 tahun, sekitar 64,38
% disertai cedera di tempat lain, dan trauma penyerta terbanyak adalah
Penyebab pada orang dewasa Persentase (%)
Kecelakaan lalu lintas 40-45

Penganiayaan / berkelahi 10-15


Olahraga 5-10
Jatuh 5
Lain-lain 5-10
cedera otak ringan sampai berat, sekitar 56%. Penyebab terbanyak adalah
kecelakaan lalu lintas dan sebagian besar adalah pengendara sepeda
motor.
5. Etiologi Trauma Maksilofasial
Trauma wajah di perkotaan paling sering disebabkan oleh perkelahian,
diikuti oleh kendaraan bermotor dan kecelakaan industri. Para zygoma dan
rahang adalah tulang yang paling umum patah selama serangan. Trauma
wajah dalam pengaturan masyarakat yang paling sering adalah akibat
kecelakaan kendaraan bermotor, maka untuk serangan dan kegiatan
rekreasi. Kecelakaan kendaraan bermotor menghasilkan patah tulang
yang sering melibatkan midface, terutama pada pasien yang tidak
memakai sabuk pengaman mereka. Penyebab penting lain dari trauma
wajah termasuk trauma penetrasi, kekerasan dalam rumah tangga, dan
pelecehan anak-anak dan orang tua.

Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi


masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen
yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang
dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile)
Berikut ini tabel etiologi trauma maksilofasial :

Penyebab pada orang anak Persentase (%)


Kecelakaan lalu lintas 10-15

Penganiayaan / berkelahi 5-10


Olahraga (termasuk naik sepeda) 50-65
Jatuh 5-10

6. Klasifikasi Trauma Maksilofasial


Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu
trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma
jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan
kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian.
a. Trauma jaringan lunak wajah
Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh
karena trauma dari luar.
Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan
:
 Berdasarkan jenis luka dan penyebab:
- Ekskoriasi
- Luka sayat, luka robek , luka bacok
- Luka bakar
- Luka tembak
 Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan
- Dikaitkan dengan unit estetik
b. Trauma jaringan keras wajah
Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang
yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara
umum dilihat dari terminologinya, trauma pada jaringan keras wajah
dapat diklasifikasikan berdasarkan:
 Dibedakan berdasarkan lokasi anatomic dan estetika
- Berdiri Sendiri : fraktur frontal, orbita, nasal, zigomatikum,
maxilla, mandibulla, gigi dan alveolus
- Bersifat Multiple : Fraktur kompleks zigoma, fronto nasal
dan fraktur kompleks mandibular
 Berdasarkan Tipe fraktur :
- Fraktur simple
Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup
misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan
mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian
luar tulang atau rongga mulut. Termasukgreenstik fraktur
yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang
terjadi.
- Fraktur kompoun
Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan
jaringan lunak. Biasanya pada fraktur korpus mandibula
yang mendukung gigi, dan hampir selalu tipe fraktur
kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga
mulut, bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas
dengan sobekan pada kulit.
- Fraktur komunisi
Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang
tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi
bagian bagian yang kecil atau remuk. Bisa terbatas atau
meluas, jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan
kerusakan tulang dan jaringan lunak.
 Fraktur patologis
keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit
penyakit tulang, seperti Osteomyelitis, tumor ganas, kista yang
besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat
menyebabkan fraktur spontan.
7. Lokasi Anatomis Fraktur Maksilofasial
a. Fraktur Sepertiga Bawah Wajah (Fonseca, 2005)
Mandibula termasuk kedalam bagian sepertiga bawah wajah.
Klasifikasi fraktur berdasarkan istilah :
 Simple atau Closed : merupakan fraktur yang tidak
menimbulkan luka terbuka keluar baik melewati kulit, mukosa,
maupun membran periodontal.
 Compound atau Open : merupakan fraktur yang disertai
dengan luka luar termasuk kulit, mukosa, maupun membran
periodontal , yang berhubungan dengan patahnya tulang.
 Comminuted : merupakan fraktur dimana tulang hancur menjadi
serpihan.
 Greenstick : merupakan fraktur dimana salah satu korteks
tulang patah, satu sisi lainnya melengkung. Fraktur ini biasa
terjadi pada anak-anak.
 Pathologic : merupakan fraktur yang terjadi sebagai luka yang
cukup serius yang dikarenakan adanya penyakit tulang.
 Multiple : sebuah variasi dimana ada dua atau lebih garis fraktur
pada tulang yang sama tidak berhubungan satu sama lain.
 Impacted : merupakan fraktur dimana salah satu fragmennya
terdorong ke bagian lainnya.
 Atrophic : merupakan fraktur yang spontan yang terjadi akibat
dari atropinya tulang, biasanya pada tulang mandibula orang
tua.
 Indirect : merupakan titik fraktur yang jauh dari tempat dimana
terjadinya luka.
 Complicated atau Complex : merupakan fraktur dimana
letaknya berdekatan dengan jaringan lunak atau bagian-bagian
lainnya, bisa simple atau compound.
Klasifikasi Fraktur Mandibula berdasarkan lokasi anatominya:
 Midline : fraktur diantara incisal sentral
 Parasymphyseal : dari bagian distal symphysis hingga tepat
pada garis alveolar yang berbatasan dengan otot masseter
(termasuk sampai gigi molar 3)
 Symphysis : berikatan dengan garis vertikal sampai distal
gigi kaninus
 Angle : area segitiga yang berbatasan dengan batas
anterior otot masseter hingga perlekatan poesterosuperior
otot masseter (dari mulai distal gigi molar 3)
 Ramus : berdekatan dengan bagian superior angle hingga
membentuk dua garis apikal pada sigmoid notch
 Processus Condylus : area pada superior prosesus kondilus
hingga regio ramus
 Processus Coronoid : termasuk prosesus koronoid pada
superior mandibula hingga regio ramus
 Processus Alveolaris : regio yang secara normal terdiri dari
gigi.
b. Fraktur Sepertiga Tengah Wajah
Sebagian besar tulang tengah wajah dibentuk oleh tulang
maksila, tulang palatina, dan tulang nasal. Tulang-tulang maksila
membantu dalam pembentukan tiga rongga utama wajah : bagian atas
rongga mulut dan nasal dan juga fosa orbital. Rongga lainnya ialah
sinus maksila. Sinus maksila membesar sesuai dengan perkembangan
maksila orang dewasa. Banyaknya rongga di sepertiga tengah wajah
ini menyebabkan regio ini sangat rentan terkena fraktur.
Fraktur tulang sepertiga tengah wajah berdasarkan klasifikasi Le Fort :
 Fraktur Le Fort tipe I (Guerin’s)
Fraktur Le Fort I merupakan jenis fraktur yang paling sering
terjadi, dan menyebabkan terpisahnya prosesus alveolaris dan
palatum durum. Fraktur ini menyebabkan rahang atas
mengalami pergerakan yang disebut floating jaw. Hipoestesia
nervus infraorbital kemungkinan terjadi akibat dari adanya
edema.
 Fraktur Le Fort tipe II
Fraktur Le Fort tipe II biasa juga disebut dengan fraktur
piramidal. Manifestasi dari fraktur ini ialah edema di kedua
periorbital, disertai juga dengan ekimosis, yang terlihat
seperti racoon sign. Biasanya ditemukan juga hipoesthesia di
nervus infraorbital. Kondisi ini dapat terjadi karena trauma
langsung atau karena laju perkembangan dari edema.
Maloklusi biasanya tercatat dan tidak jarang berhubungan
dengan open bite. Pada fraktur ini kemungkinan terjadinya
deformitas pada saat palpasi di area infraorbital dan sutura
nasofrontal. Keluarnya cairan cerebrospinal dan epistaksis juga
dapat ditemukan pada kasus ini.

Fraktur Le Fort II (Fonseca, 2005)


 Fraktur Le Fort III
Fraktur ini disebut juga fraktur tarnsversal. Fraktur Le Fort III
(gambar 2.6) menggambarkan adanya disfungsi kraniofasial.
Tanda yang terjadi pada kasus fraktur ini ialah remuknya
wajah serta adanya mobilitas tulang zygomatikomaksila
kompleks, disertai pula dengan keluarnya cairan
serebrospinal, edema, dan ekimosis periorbital.

Fraktur Le Fort III (Fonseca, 2005)


c. Fraktur Sepertiga Atas Wajah
Fraktur sepertiga atas wajah mengenai tulang frontalis, regio supra
orbita, rima orbita dan sinus frontalis. Fraktur tulang frontalis umumnya
bersifat depressedke dalam atau hanya mempunyai garis fraktur linier
yang dapat meluas ke daerah wajah yang lain.

8. Patofisiologi Trauma Maksilofasial


Kehadiran energi kinetik dalam benda bergerak adalah fungsi dari
massa dikalikan dengan kuadrat kecepatannya. Penyebaran energi kinetik
saat deselerasi menghasilkan kekuatan yang mengakibatkan cedera.
Berdampak tinggi dan rendah-dampak kekuatan didefinisikan sebagai
besar atau lebih kecil dari 50 kali gaya gravitasi. Ini berdampak parameter
pada cedera yang dihasilkan karena jumlah gaya yang dibutuhkan untuk
menyebabkan kerusakan pada tulang wajah berbeda regional. Tepi
supraorbital, mandibula (simfisis dan sudut), dan tulang frontal memerlukan
kekuatan tinggi-dampak yang akan rusak. Sebuah dampak rendah-force
adalah semua yang diperlukan untuk merusak zygoma dan tulang hidung.
Patah Tulang Frontal : ini terjadi akibat dari pukulan
berat pada dahi. Bagiananterior dan / atau posterior sinus frontal mungkin
terlibat. Gangguan lakrimasi mungkin dapat terjadi jika dinding posterior
sinus frontal retak. Duktus nasofrontal sering terganggu.
Fraktur Dasar Orbital : Cedera dasar orbital dapat menyebabkan suatu
fraktur yang terisolasi atau dapat disertai dengan fraktur dinding medial.
Ketika kekuatan menyerang pinggiran orbital, tekanan intraorbital
meningkat dengan transmisi ini kekuatan dan merusak bagian-
bagian terlemah dari dasar dan dinding medial orbita. Herniasi dari isi orbit
ke dalam sinus maksilaris adalah mungkin. Insiden cedera
okular cukup tinggi, namun jarang menyebabkan kematian.
Patah Tulang Hidung: Ini adalah hasil dari kekuatan diakibatkan
oleh trauma langsung.
Fraktur Nasoethmoidal (noes): akibat perpanjangan kekuatan
trauma dari hidung ke tulang ethmoid dan dapat mengakibatkan kerusakan
pada canthus medial, aparatus lacrimalis, atau saluran nasofrontal.
Patah tulang lengkung zygomatic: Sebuah pukulan langsung ke
lengkung zygomatic dapat mengakibatkan fraktur terisolasi melibatkan
jahitan zygomaticotemporal.
Patah Tulang Zygomaticomaxillary kompleks (ZMCs): ini
menyebabkan patah tulang dari trauma langsung. Garis fraktur jahitan
memperpanjang melalui zygomaticotemporal, zygomaticofrontal, dan
zygomaticomaxillary dan artikulasi dengan tulang sphenoid. Garis fraktur
biasanya memperpanjang melalui foramen infraorbital dan lantai orbit.
Cedera mata serentak yang umum.
Fraktur mandibula: Ini dapat terjadi di beberapa lokasi sekunder dengan
bentuk U-rahang dan leher condylar lemah. Fraktur sering terjadi bilateral
di lokasi terpisah dari lokasi trauma langsung.
Patah tulang alveolar: Ini dapat terjadi dalam isolasi dari kekuatan rendah
energi langsung atau dapat hasil dari perpanjangan garis fraktur melalui
bagian alveolar rahang atas atau rahang bawah
Fraktur Panfacial: Ini biasanya sekunder mekanisme kecepatan tinggi
mengakibatkan cedera pada wajah atas, midface, dan wajah yang lebih
rendah
9. Manifestasi Klinis
Gejala klinis gejala dan tanda trauma maksilofasial dapat berupa :
 Dislokasi, berupa perubahan posisi yg menyebabkan maloklusi
terutama pada fraktur mandibular
 Pergerakan yang abnormal pada sisi fraktur
 Rasa nyeri pada sisi fraktur
 Perdarahan pada daerah fraktur yang dapat menyumbat saluran napas
 Pembengkakan dan memar pada sisi fraktur sehingga dapat
menentukan lokasi daerah fraktur
 Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran
 Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah
sekitar fraktur
 Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat
pembengkakan
 Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi
dibawah nervus alveolaris
 Pada fraktur orbita dapat dijumpai penglihatan kabur atau ganda,
penurunan pergerakan bola mata dan penurunan visus
10. Pemeriksaan Penunjang
a. Wajah Bagian Atas :
- CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D (Cone Beam CT-scan 3D)
- CT-scan aksial koronal
- Imaging Alternatif diantaranya termasuk CT Scan kepala dan X-ray
kepala
b. Wajah Bagian Tengah :
- CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D (Cone Beam CT-scan 3D)
- CT scan aksial koronal
- Imaging Alternatif diantaranya termasuk radiografi posisi waters
dan posteroanterior (Caldwells), Submentovertek (Jughandles)
c. Wajah Bagian Bawah :
- CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D
- Panoramic X-ray
- Imaging Alternatif diagnostik mencakup posisi:
Posteroanterior (Caldwells)
Posisi lateral (Schedell)
Posisi towne
11. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan saat awal trauma pada cedera kepala dan wajah
selain dari factor mempertahankan fungsi ABC (airway, breathing,
circulation) dan menilai status neurologis (disability, exposure), maka factor
yang harus diperhitungkan pula adalah mengurangi iskemia serebri yang
terjadi. Keadaan ini dapat dibantu dengan pemberian oksigen dan glukosa
sekalipun pada otak yang mengalami trauma relative memerlukan oksigen
dan glukosa yang lebih rendah.
Selain itu perlu pula dikontrol kemungkinan tekanan intracranial
yang meninggi disebabkan oleh edema serebri. Sekalipun tidak jarang
memerlukan tindakan operasi, tetapi usaha untuk menurunkan tekanan
intracranial ini dapat dilakukan dengan cara menurunkan PaCO2 dengan
hiperventilasi yang mengurangi asidosis intraserebral dan menambah
metabolisme intraserebral. Adapun usaha untuk menurunkan PaCO2 ini
yakin dengan intubasi endotrakeal, hiperventilasi. Tin membuat intermittent
iatrogenic paralisis. Intubasi dilakukan sedini mungkin kepala klien-lkien
yang koma untuk mencegah terjadinya PaCO2 yang meninggi. Prinsip ABC
dan ventilasi yang teratur dapat mencegah peningkatan tekanan
intracranial.
Penatalaksanaan konservatif meliputi :
 Bedrest total
 Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran).
 Pemberian obat-obatan: Dexmethason / kalmethason sebagai
pengobatan anti-edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya
trauma.
 Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurangi
vasodilatasi.
 Pengobatan anti-edema dengan larutan hipertonis, yaitu manitol 20%,
atau glukosa 40%, atau gliserol 10%.
 Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (pensilin) atau untuk
infeksi anaerob diberikan metronidasol.
 Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak
dapat diberikan apa-apa,hanya cairan infuse dextrose 5%, aminofusin,
aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari
kemudian diberikan makanan lunak.
 Pada trauma berat. Karena hai-hari pertama didapat klien mengalami
penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan
elektrolit maka hari-hari pertama (2-3 hari) tidak terlalu banyak cairan.
Dextosa 5% 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam kedua, dan dextrose
5% 8 jam ketiga, pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah maka
makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500-300 TKTP).
Pemberian protein tergantung dari nilai urenitrogennya.
12. Komplikasi
- Perdarahan ulang
- Kebocoran cairan otak
- Infeksi pada luka atau sepsis
- Timbulnya edema serebri
- Timbulnya edema pulmonum neurogenik, akibat peninggian TIK
- Nyeri kepala setelah penderita sadar
- Konvulsi
13. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien tergantung tipe,lokasi dan keparahan
cedera dan mungkin di persulit oleh cedera tambahan pada organ vital
- Aktifitas dan istirahat
Gejala : merasa lemah,lelah,kaku hilang keseimbangan
Tanda : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, ataksia cara
berjalan tidak tegap, masalah dlm keseimbangan, cedera/trauma
ortopedi, kehilangan tonus otot.
- Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah atau normal, Perubahan
frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi bradikardia
disritmia)
- Integritas ego
Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian
Tanda :Cemas,mudah
tersinggung,delirium,agitasi,bingung,depresi
- Eliminasi
Gejala : Inkontensia kandung kemih/usus mengalami gangguan
fungsi
- Makanan/cairan
Gejala : mual,muntah dan mengalami perubahan selera
Tanda : muntah,gangguan menelan
- Neurosensori
Gejala :Kehilangan kesadaran sementara,amnesia seputar
kejadian, vertigo, sinkope,tinitus,kehilangan pendengaran, Perubahan
dalam penglihatan seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan
sebagain lapang pandang, gangguan pengecapan dan penciuman
Tanda : Perubahan kesadran bisa sampai koma, perubahan status
mental, perubahan pupil, kehilangan penginderaan, wajah tdk
simetris, genggaman lemah tidak seimbang, kehilangan sensasi
sebagian tubuh
- Nyeri/kenyamanan
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yg berbeda
biasanya lama
Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan
nyeri, nyeri yang hebat,merintih
- Pernafasan
Tanda : Perubahan pola nafas, nafas berbunyi, stridor,
tersedak,ronkhi,mengi
- Keamanan
Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan
Tanda : Fraktur/dislokasi,gangguan penglihatan
- Kulit : laserasi,abrasi,perubahan warna,tanda batle disekitar
telinga,adanya aliran cairan dari telinga atau hidung
- Gangguan kognitif
- Gangguan rentang gerak
- Demam
Diagnosa Keperawatan
- Risiko tinggi peningkatan tekanan intracranial yang berhubungan
dengan desak ruang sekunder dari kompresi korteks serebri dari
adanya perdarahan baik bersifat intraserebral hematoma.
- Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan depresi
pada pusat pernapasan di otak, kelemahan oto-otot pernapasan,
ekspansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
- Tidak efektif kebersihan jalan napas yang berhubungan dengan
penumpukan sputum, peningkatan sekresi sekret, penurunan batuk
sekunder akibat nyeri dan keletihan, adanya jalan napas buatan pada
trakea, ketidakmampuan batuk/batuk efektif.
- Perubahan kenyamanan: nyeri akut yang berhubungan dengan trauma
jaringan dan refleks spasme otot sekunder.
- Perubahan perfusi serebral berhubungan dengan penghentian aliran
darah (nemongi, nemotuma), edema serebral ; penurunan TD sistemik
/ hipoksia.
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C. Brenda G.Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi 8. Jakarta:EGC
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
M.Taylor, Cynthia., Ralph, Sheila. 2012. Diagnosis Keperawatan dengan
Rencana Asuhan. Jakarta:EGC