Anda di halaman 1dari 7

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikkum Kimia Anorganik dengan judul “Bola Kamper yang
Pandai” disusun oleh :

Nama/NIM : Fasrina/1416440012
Kelompok : IV (empat)
Kelas : Pendidikan Ipa ICP
Kelompok : IV (Empat)
Telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada asisten/koodinator asisten, maka dinyatakan
diterima.

Makassar, Januari 2017

Koordinator Asisten Asisten

Ayu Lestari Fransiska N.S Datu

Mengetahui.
Dosen Penanggungjawab

Dr. Ramlawati, M.Si


NIP. 19651231 199103 2 007
A. Judul Percobaan
“Bola Kamper yang Pandai”

B. Tujuan
1. Menunjukkan reaksi pembentukan karbondioksida.
2. Mempelajari pengaruh perbedaan massa jenis antara benda dan cairan terhadap posisi
benda dalam cairan.

C. Tinjauan Pustaka
Menurut (Jewel, 2009) Hukum Archimedes adalah sebuah hokum tentang prinsip
pengapungan diatas zat cair, pada prinsip Archimedes, sebuah benda akan mengapung dalam
fluida jika massa jenis suatu benda lebih kecil daripada massa jenis zat
cair (Anjarsari, 2015)
Hukum Archimedes menyatakan bahwa “gaya apung pada benda yang dicelupkan
kedalam fluida adalah sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda itu”. Benda
yang dicelupkan kedalam sebuah fluida akan tampak memiliki berat yang lebih ringan
daripada beratnya saat berada diluar fluida. Sebagai contoh, sebongkah batu yang sulit anda
angkat saat berada dipermukaan tanah seringkali dapat diangkat dengan jauh lebih mudah
dari dasar sungai (yaitu saat batu berada dalam air). Ketika batu tersebut terangkat keluar dari
air benda itu akan mendadak terasa jauh lebih berat. Banyak benda, semisal kayu yang dapat
mengapung dipermukaan air. Dua kejadian ini merupakan contoh kasus bekerjanya gaya
apung. Gaya apung timbul karena tekanan didalam fluida betambah besar seiring dengan
pertambahan kedalam fluida. Sehingga, tekanan ke atas yang dikenakan pada bidang dasar
benda yang masuk kedalam air akan lebih besar dari tekanan yang bekerja pada bidang atas
benda itu (Giancoli, 2009).
Marmer atau batu pualam terjadi sebagai hasil malihan batu gamping karena suhu dan
desakan atau kedua-duanya, strukturnya kompak mempunyai gugusan yang sama dari halus
sampai kasar. Marmer dinilai dari segi warna, kuat desak, derajat keciusan , hiasan-hiasan
yang terdapat didalamnya misalnya : kerang-kerang, mineral-mineral, dan guratan-guratan.
Marmer ditimbang secara berteras (Setyaningsih, 2011).
Kalsium klorida (CaCl2) Kristal tak berwarna (Mp 77º dan bp diatas 1600º c). CaCl2
berstruktur rutil terdistorsi dan kalsium dikelilingi oleh enam khlorin dalam koordinasi
octahedral. CaCl2 menyerap air dan digunakan sebagai desikon. Dikenal hidratnya dengan
1,2,4 atau 6 molekul air berkoordinasi. Kalsium ada dalam silikat, karbonat, sulfat, fosfat,
fluoride, dsb (Saito, 2008).
Batu kapur merupakan bagian dari batu sedimen, yaitu batuan sedimen non-klastik yang
terbentuk dari proses kimia atau proses biologis. Batu kapur juga disebut batu gumping.
Kandungan utama batu kapur adalah mineral kalsium karbonat (CaCO3) yang terjadi akibat
proses kimia atau organic. Secara umum mineral yang terkandung dalam batu kapur adalah
kalsium karbonat kalsit sebesar 95% dolomite sebanyak 3% dan sisanya adalah mineral
clay ( Ampriliani, 2012).
Kalsium berwarna putih keperakan dan merupakan logam yang lunak diproduksi dengan
elektrolisis garam kalsium baik dalam larutan, air maupun dalam kimia organik logam, dalam
pelarut organik unsur ini memerankan peran kunci dalam organisme hidup. Tidak hanya
sebagai bahan structural tulang dan gigi, ion kalsium juga memiliki berbagai fungsi biologis
seperti transfer aksi hormone, kontraksi otot, komunikasi syaraf, stabilisasi protein dan
pembekuan darah (Saito, 2008).
Klorida (Clˉ) merupakan kelarutan yang dapat larut dalam air. Merkurium (I) klorida
Hg2Cl2, perak klorida, AgCl2, Timbal klorida, PbCl2 (yang ini larut sangat sedikit dalam air
dingin, tetapi mudah larut dalam air mendidih). Tembaga (I) klorida, CuCl, bismuth
oksoklorida, Stibium oksiklorida, SbOCI, dan merkurium (II) oksiklorida, HgOCl2, tak larut
dalam air (Svehla, 1985).
Bentuk kelimpahan logam yang terdapat dialam (kerak bumi) sangat bergantung
terutama pada reaktivitas logam yang bersangkutan, kelarutan pada reaktivitas logam yang
bereaksi dengan air atau terhadap proses oksidasi logam-logam yang tidak reaktif seperti
emas, perak, dan platina biasanya terdapat dalam sebagai unsurnya sedangkan logam-logam
yang agak reaktif biasanya terdapat sebagai sulfida, misalnya CuS, PbS, dan ZnS. Oleh
karena kelarutannya sangat rendah, senyawa-senyawa sulfide ini tahan terhadap oksidasi dan
tidak ada reaksi dengan air. Logam-logam yang sedikit lebih reaktif membentuk yang sedikit
lebih reaktif diubah menjadi oksidanya, misalnya MnO2, Al2O3, dan T1O2, sedangkan logam-
logam yang sangat reaktif membentuk garamnya, misalnya magnesium dan kalsium terdapat
dalam sumber air mineral, sedangkan kalsiun sulfat CaCO4 . 2H2O (gipsum), hanya sedikit
larut dalam air tetapi cukup mengakibatkan air sebagai hydrogen karbonat karena adanya
karbondioksida yang larut, sehingga air alam juga menjadi salah olehnya, dengan reaksi:
CaCO3(s) → CaO(l) + CO2(g) (Sugiyarto, 2010).
Kalsium karbonat presipitat ketika disintesis dengan media air akan membentuk tiga
macam Kristal yaitu kalsit, valerit, dan aragonite. Terbentuknya macam-macam bentuk
Kristal ini dipengaruhi oleh temperatur, pH larutan, derajat saturasi, kecepatan aliran CO2
bila menggunakan metode karbonisasi, serta adanya bahan aditif, setiap fase membutuhkan
kondisi lingkungan dan energy penyusunan yang berbeda (Apriliani, 2012)
Kalsium oksida sebagai padatan dengan titik leleh yang sangat tinggi bersifat unik jika
nyata diarahkan kepada cetakan-cetakan kalsium oksida, maka cetakan-cetakan ini menyala
dengan warna putih terang. Gejala ini dikenal sebagai termopendar cahaya
(thermoluminescence), sebagaimana juga ditemui pada Torium (IV) oksida, ThO2, sehingga
senyawa ini sering digunakan pada mantel lampu dengan bahan gas untuk keperluan
berkemah (Sugiyarto, 2010).

D. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Gelas kimia 100ml
b. Gelas ukur 10ml
c. Pipet tetes 1 buah
d. Batang pengaduk 1 buah
2. Bahan
a. Garam dapur (NaCl)
b. Asam klorida (HCl) 6 M
c. Bola kamper
d. Zat warna (merah)
e. Batu marmer
f. Aquades
E. Prosedur Keja
1. Beberapa butir marmer, garam dapur, zat warna, 20ml HCl 6M kedalam gelas ukur
100ml.
2. 90ml air dimasukkan sehingga permukaan larutan 5cm dari atas.
3. 5 butir kamper dimasukkan dan ditambahkan garam sedikit demi sedikit hingga bola
kamper melayang dan terapung

F. Hasil Pengamatan

No. Perlakuan Hasil

1. Beberapa batu marmer + 5 tetes zat Larutan berwarna ungu


warna + 20ml HCl 6M

2. 90ml aquades + 5 buah bola kamper Larutan berwarna putih keruh,


+ beberapa sendok garam kamper melayang dan mengapung
serta tenggelam berwarna ungu keruh
G. Pembahasan
Telah dilakukan percobaan Bola Kamper yang Pandai yang bertujuan untuk
menunjukkan reaksi pembentukn karbondioksida dan mempelajari pengaruh perbedaan
massa jenis antara benda dan cairan terhadap posisi benda dalam cairan. Adapun prinsip
kerjanya yaitu asam klorida (HCl) bereaksi dengan marmer akan menghasilkan gas
karbondioksida yang menutupi permukaan bola kamper, maka bola kamper naik keatas.
Untuk mempermudah bola kamper naik keatas ditambahkan garam Natrium klorida.
Pada percobaan ini dilakukan beberapa perlakuan, yaitu: batu marmer dimasukkan
terlebih dahulu, setelah itu dimasukkan zat warna. Fungsi perubahan batu marmer yaitu
sebagai sumber CO2, dan adapun fungi penambahan zat warna yaitu utnuk member warna
pada larutan HCl dan air yang akan memperjelas gelembung gas CO2 yang terdapat pada
kamper. Setelah itu kemudian dimasukkan larutan HCl 2M sebanyak 20ml. Dan setelah itu
ditambahkan aquades sebanyak 90ml. Fungsi penambahan HCl dan air yaitu sebagai katalis
antara batu marmer sebagai sumber CaCO3 yang akan membentuk gas CO2. Setelah
penambahan HCl, kemudian dimasukkan sebanyak 5 buah bola kamper dan kemuan diaduk.
Setelah diaduk, tampak adanya gelembung-gelembung gas pada bola kamper. Hal ini
menandakan telah terjadi reaksi yang menghasilkan CO2. Adapun reaksi yang terjadi yaitu :
CaCO3 + 2HCl → CaCl2 + HCO3
Pada reaksi ini tidak terbentuk CO2, namun pembentukan CO2 dapat terjadi pada
penguraian CaCO3 seperti :
CaCO3 → CaO + CO2
Setelah bola kamper dimasukkan, selanjutnya ditambahkan garam Natrium klorida
(NaCl). Adapun fungsi penambahan garam yaitu sebagai zat yang dapat mengurangi massa
jenis bola kamper sehingga bola kamper yang tadinya sebelum diaduk masih berada di
permukaan tabung, stelah ditambahkan garam posisi bola kamper terbagi menjadi 3 yaitu
melayang, mengapung dan tenggelam. Bola kamper melayang karena massa jenisnya sama
dengan air, sedangkan bola kamper yang terapung karena massa jenisnya lebih ringan dari
air, sedangkan bola kamper yang tenggelam karena massa jenis bola kamper lebih berat dari
massa jenis air. Pada percobaan yang kami lakukan sesuai dengan bunyi hokum Archimedes
yang mengatakan bahwa “Benda akan mengapung dalam fluida jika massa jenis suatu zat
benda lebih kecil daripada massa jenis zat cair”
H. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
a. Reaksi pembentukan dari karbondioksida yaitu :
CaCO3 → CaO + CO2
b. Bola kamper yang terapung diakibatkan dari perbedaan antara benda dan cairan,
yaitu massa bola kamper lebih kecil dari massa cairan (air) sehingga bola kamper
naik keatas
2. Saran
Sebaiknya laboran memperhatikan sumber air yang ada di laboratorium, sehingga tidak
mengganggu jalannya praktikkum.
Untuk asisten, sebaiknya senantiasa memperhatikan dan mendampingi praktikkan dalam
setiap prosedur kerja yang dilakukan sehingga praktikkan tidak bingung dalam melakukan
percobaan sehingga hasil yang diinginkan dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Anjasari, Luh Ari, Arif Surtono, Amir Supriyanto. 2015. Desain dan Realisasi Alat Ukur
Massa Jenis Zat Cair Berdasarkan Hukum Archimedes Menggunakan Sensor
Fotodiodida. Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika. Vol. 03 No. 2.

Apriliani, Nurul Fitria, Malik, A Baqiya, Darminto . 2012 . Pengaruh Penambahan MgCl2
pada Sintesis Kalsium Karbonat Prosipital Berbahan Dasar Batu Kapur dengan
Metode Karbonisasi . Jurnal Sains dan Seni ITS . Vol. 1 No. 1 .

Giancoli, Douglas C . 2014 . Fisika Edisi Ketujuh I Jilid I . Jakarta : Erlangga.

Saito, Taro . 2008 . Kimia Anorganik . Tokyo : Kanagawa University.

Setioningsih, Retnowati . 2011 . Pengaruh Pemanfaatan Limbah Batu Marmer sebagai


Agresik Terhadap Kuat Desak Beton. Jurnal Teknik Vol. 1 No. 2

Sugiyarto, Kristian H, Retno, D Suyanti . Kimia Anorganik Logam . Yogyakarta


Universitas Negeri Yogyakarta

Svehla , G . 1985 . Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Bagian 1 . Jakarta :
Klaman Media Pustaka.