Anda di halaman 1dari 36

SHODAQOH - INFAQ RASULULLAH SAW.

AYAT 1

Alloh Swt Berfirman:

‫رمضن رذا ال لرثذي ي هضقثرهض الل لرره رقضرةضا رحرسةنا رفي هرضاثعرفهه ل رهه أ رضضرعاةفا ك رثثيررةة‬
‫روالل لرهه ي رضقثبهض روي ربضهسهط روثإل ري ضثه تهضررجهعورن‬
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Alloh, pinjaman yang
baik (menafkahkan hartanya di jalan Alloh), Maka Alloh akan
memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda
yang banyak. dan Alloh menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan
kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqoroh : 245)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 245 Diriwayatkan


oleh Ibnu Hibban di dalam Kitab Shahih-nya, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu
Marduwaih, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Bahwa ketika turun ayat,
matsalul ladziina yungfiquuna amwaalahum fi sabiilillaahi ka matsali
habbah…(perumpamaan [nafkah yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih..)

sampai akhir ayat (al-Baqarah: 261), berdoalah Rasulullah ‫ﷺ‬: “Ya Rabb.
Semoga Engkau melipatgandakan untuk umatku.” Maka turunlah ayat ini
(al-Baqarah: 245) yang menjanjikan akan melipatgandakan tanpa batas.
Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Tafsir Jalalain :

(Siapakah yang bersedia memberi pinjaman kepada Allah) yaitu dengan


menafkahkan hartanya di jalan Allah (yakni pinjaman yang baik) dengan
ikhlas kepada-Nya semata, (maka Allah akan menggandakan)
pembayarannya; menurut satu qiraat dengan tasydid hingga berbunyi
'fayudha'ifahu' (hingga berlipat-lipat) mulai dari sepuluh sampai pada tujuh
ratus lebih sebagaimana yang akan kita temui nanti (Dan Allah
menyempitkan) atau menahan rezeki orang yang kehendaki-Nya sebagai
ujian (dan melapangkannya) terhadap orang yang dikehendaki-Nya, juga
sebagai cobaan (dan kepada-Nya kamu dikembalikan) di akhirat dengan
jalan akan dibangkitkan dari matimu dan akan dibalas segala amal
perbuatanmu.

Tafsir Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abu Hatim mengatakan: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan


ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari
Humaid Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang
menceritakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya:
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(membelanjakan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan
pembayaran kepadanya. Maka Abud Dahdah Al-Ansari berkata, “Wahai
Rasulullah, apakah memang Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Nabi
menjawab, “Benar, Abud Dahdah.” Abud Dahdah berkata, “Wahai

Rasulullah, ulurkanlah tanganmu.” Maka Rasulullah ‫ ﷺ‬mengulurkan


tangannya kepada Abud Dahdah. Lalu Abud Dahdah berkata,
“Sesungguhnya aku meminjamkan kepada Tuhanku kebun milikku.” Perawi
melanjutkan kisahnya, bahwa di dalam kebun milik Abud Dahdah terdapat
enam ratus pohon kurma, sedangkan istri dan anak-anaknya tinggal di
dalam kebun itu. Maka Abud Dahdah datang ke kebunnya dan memanggil
istrinya, “Hai Ummu Dahdah.” Ummu Dahdah menjawab, “Labbaik.” Abud
Dahdah berkata, “Keluarlah kamu, sesungguhnya aku telah meminjamkan
kebun ini kepada Tuhanku.”

Yang dimaksud dengan firman-Nya: …pinjaman yang baik. Menurut apa


yang diriwayatkan dari Umar dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf
ialah berinfak untuk jalan Allah. Menurut pendapat lain, yang dimaksud
ialah memberi nafkah kepada anak-anak. Menurut pendapat yang lainnya
lagi ialah membaca tasbih dan taqdis. dari Ibnu Umar yang mengatakan
bahwa ketika diturunkannya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir. (Al Baqarah:261), hingga akhir ayat. Maka
Rasulullah berdoa, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah buat umatku.” Lalu
turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Siapakah yang mau memberi
pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan
Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan
lipat ganda yang banyak. (Al Baqarah:245) Nabi berdoa lagi, “Wahai
Tuhanku, tambahkanlah buat umatku.” Lalu turunlah firman-Nya:
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas. (Az Zumar:10)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan pula dari Ka’b Al-Ahbar, bahwa Ka’b Al-Ahbar
pernah kedatangan seorang lelaki, lalu lelaki itu berkata bahwa
sesungguhnya ia pernah mendengar seseorang mengatakan, “Barang siapa
yang membaca qul huwallahu ahad sekali, maka Allah akan membangun
untuknya sepuluh juta gedung dari mutiara dan yaqut di surga.” Apakah aku
harus mempercayai ucapannya itu? Ka’b Al-Ahbar menjawab, “Ya, apakah
engkau heran terhadap hal tersebut?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Ka’b
berkata, “Bahkan dilipatgandakan menjadi dua puluh atau tiga puluh juta,
dan bahkan lebih dari itu, tiada yang dapat menghitungnya selain dari Allah
sendiri.”

Selanjutnya Ka’b membacakan firman-Nya: Siapakah yang mau memberi


pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan
Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan
lipat ganda yang banyak. Istilah katsir atau banyak dari Allah berarti tidak
terhitung jumlahnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Allah
menyempitkan dan melapangkan rezeki. Dengan kata lain, belanjakanlah
harta kalian dan janganlah kalian pedulikan lagi dalam melakukannya,
karena Allah Maha Pemberi rezeki, Dia menyempitkan rezeki terhadap siapa
yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia
melapangkannya terhadap yang lainnya di antara mereka, hal tersebut
mengandung hikmah yang sangat bijak dari Allah. …dan kepada-Nyalah
kalian dikembalikan. Yakni di hari kiamat nanti.
Ayat ke -2

Alloh Swt Berfirman:

‫ل‬ ‫ث‬ ‫قون أ ث‬


‫ل‬ ‫ث‬
‫ث ل‬ ‫ث‬‫م‬ ‫ث‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ال‬ ‫ل‬ ‫بي‬
‫ث ل ل‬ ‫س‬ ‫في‬ ‫ل‬ ‫م‬‫ف ه ث م ث ه م‬
‫ه‬ ‫ل‬ ‫وا‬ ‫م‬ ‫ن ي هن م ل‬‫ذي ث‬ ‫ل ال ل ل‬ ‫مث ث ه‬ ‫ث‬
‫ث‬
‫حب لةة‬ ‫ة ث‬ ‫مائ ث ه‬ ‫سن مب هل ثةة ل‬‫ل ه‬ ‫ل لفي ك ه ل‬ ‫سثناب ل ث‬ ‫سب معث ث‬ ‫ت ث‬ ‫حب لةة أن مب ثت ث م‬ ‫ث‬
‫م‬
‫سعم ع ثللي م‬ ‫ه ثوا ل‬ ‫شاهء ثوالل ل ه‬ ‫ن يث ث‬ ‫م م‬ ‫ف لل ث‬ ‫ع ه‬ ‫ضا ل‬ ‫ه يه ث‬ ‫ ثوالل ل ه‬،
‫قون أ ث‬
‫ن‬
‫م ل ي هت مب لهعو ث‬ ‫ل الل لهل ث ه ل‬ ‫ل‬ ‫بي‬‫ل‬ ‫س‬‫ث‬ ‫في‬ ‫ل‬ ‫م‬
‫م‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ث‬ ‫ل‬ ‫وا‬‫ث‬ ‫م‬
‫م‬ ‫ف ه ث‬ ‫ن ي هن م ل‬ ‫ذي ث‬ ‫ال ل ل‬
‫م ثول‬ ‫ذى ل ثه ث‬ ‫مننا ثول أ ث ذ‬ ‫ما أ ثن م ث‬
‫عن مد ث ثرب لهل م‬ ‫م ل‬ ‫جهرهه م‬ ‫مأ م‬ ‫ه م‬ ‫قوا ث‬ ‫ف ه‬ ‫ث‬
‫ن‬
‫حثزهنو ث‬ ‫م يث م‬ ‫م ثول هه م‬ ‫ف ع ثل ثي مهل م‬ ‫خو م م‬ ‫ث‬
، ‫ذى‬ ‫صد ثقثةة ي ثت مب ثعهثها أ ث ذ‬ ‫ن ث‬ ‫م م‬ ‫خي ممر ل‬ ‫فثرة م ث‬ ‫مغم ل‬ ‫ف وث ث‬ ‫معمهرو م‬ ‫ل ث‬ ‫قثوم م‬
‫م‬
‫حللي م‬ ‫ي ث‬ ‫ه غ ثن ل ي‬ ‫ثوالل ل ه‬
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Alloh Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh, kemudian mereka


tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut
pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka
memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Alloh
Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqoroh : 261-263)

Tafsir Ibn Katsir


Hal ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah Swt. untuk
menggambarkan perlipatgandaan pahala bagi orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya. Setiap amal kebaikan itu
dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat, sampai kepada tujuh
ratus kali lipat. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{‫الل لهل‬
‫قو ث‬
‫ل‬
‫سلبي ل‬ ‫وال ثهه م‬
‫م لفي ث‬ ‫م ث‬
‫نأ م‬‫ف ه ث‬
‫ن ي هن م ل‬ ‫ل ال ل ل‬
‫ذي ث‬ ‫مث ث ه‬
‫} ث‬
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah. (Al-Baqarah: 261)

Yang dimaksud dengan 'jalan Allah' menurut Sa'id ibnu Jubair ialah dalam
rangka taat kepada Allah Swt.

Menurut Makhul, yang dimaksud dengan 'jalan Allah' ialah menafkahkan


hartanya untuk keperluan berjihad, seperti mempersiapkan kuda dan
senjata serta lain-lainnya untuk tujuan berjihad.

Syabib ibnu Bisyr meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa
menafkahkan harta untuk keperluan jihad dan ibadah haji pahalanya
dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali lipat. Karena itulah disebutkan di
dalam firman-Nya:
‫ث‬
{ ‫ة‬ ‫سن مب هل ثةة ل‬
‫مائ ث ه‬ ‫ل لفي ك ه ل‬
‫ل ه‬ ‫سثناب ل ث‬
‫سب معث ث‬
‫ت ث‬
‫حب لةة أن مب ثت ث م‬
‫ل ث‬ ‫كث ث‬
‫مث ث ل‬
‫حب لةة‬‫} ث‬
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir seratus biji. (Al-Baqarah: 261)

Perumpamaan ini lebih berkesan dalam hati daripada hanya menyebutkan


sekadar bilangan tujuh ratus kali lipat, mengingat dalam ungkapan
perumpamaan tersebut tersirat pengertian bahwa amal-amal saleh itu
dikembangkan pahalanya oleh Allah Swt. buat para pelakunya, sebagaimana
seorang petani menyemaikan benih di lahan yang subur. Sunnah telah
menyebutkan adanya perlipatgandaan tujuh ratus kali lipat ini bagi amal
kebaikan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnur


Rabi' Abu Khaddasy, telah menceritakan kepada kami Wasil maula Ibnu
Uyaynah, dari Basysyar ibnu Abu Saif Al-Jurmi, dari lyad ibnu Gatif yang
menceritakan bahwa kami datang ke rumah Abu Ubaidah dalam rangka
menjenguknya karena ia sedang mengalami sakit pada bagian lambungnya.
Saat itu istrinya bernama Tuhaifah duduk di dekat kepalanya. Lalu kami
berkata, "Bagaimanakah keadaan Abu Ubaidah semalam?" Tuhaifah
menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya dia menjalani malam harinya
dengan berpahala." Abu Ubaidah menjawab, "Aku tidak menjalani malam
hariku dengan berpahala." Saat itu Abu Ubaidah menghadapkan wajahnya
ke arah tembok, lalu ia menghadapkan wajahnya ke arah kaum yang
menjenguknya dan berkata, "Janganlah kalian menanyakan kepadaku
tentang apa yang telah kukatakan." Mereka berkata, "Kami sangat heran
dengan ucapanmu itu, karenanya kami menanyakan kepadamu, apa yang
dimaksud dengannya?" Abu Ubaidah berkata bahwa ia pernah mendengar
Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang membelanjakan sejumlah
harta lebihan di jalan Allah, maka pahalanya diperlipatgandakan tujuh ratus
kali. Dan barang siapa yang membelanjakan nafkah buat dirinya dan
keluarganya atau menjenguk orang yang sakit atau menyingkirkan gangguan
(dari jalan), maka amal kebaikan (pahalanya) sepuluh kali lipat kebaikan
yang semisal. Puasa adalah benteng selagi orang yang bersangkutan tidak
membobolnya. Dan barang siapa yang mendapat suatu cobaan dari Allah
Swt. pada tubuhnya, maka hal itu baginya merupakan penghapus (dosa).

Imam Nasai meriwayatkan sebagian darinya dalam Bab "Puasa" melalui


hadis yang berpredikat mausul, sedangkan dari jalur lain berpredikat
mauquf.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah


menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Sulaiman, bahwa ia pernah
mendengar Abu Amr Asy-Syaibani menceritakan hadis berikut dari Ibnu
Mas'ud, bahwa ada seorang lelaki menyedekahkan seekor unta yang telah
diberi tali kendali, maka Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya kamu
akan datang di hari kiamat nanti dengan membawa tujuh ratus ekor unta
yang telah diberi tali kendali.

Imam Muslim dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Sulaiman


ibnu Mihran, dari Al-A'masy dengan lafaz yang sama. Lafaz menurut riwayat
Imam Muslim seperti berikut:

Seorang lelaki datang dengan membawa seekor unta yang telah diberi tali
kendali, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, unta ini untuk sabilillah." Maka
beliau Saw. bersabda, "Kamu kelak di hari kiamat akan mendapatkan tujuh
ratus ekor unta karenanya."

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan:

‫خب ثثرثنا‬ ‫ أ ث م‬،‫ي‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫د‬ ‫م‬ ‫ن‬‫ل‬ ‫ك‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ر‬
‫ه ل‬ ‫ل‬ ‫ذ‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫بو‬ ‫ه‬
‫حدث ثنا ع ثمرو بن مجمع أ ث‬
‫م ه م ه ث م ث‬ ‫ث ل ث‬
‫ن ع ثب مد ل الل ل‬ ‫ ع ثن أ ثبي امل ث‬،‫جري‬
‫ن‬
‫ل‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ث‬ ‫ع‬ ،‫ص‬ ‫ث ل‬ ‫و‬ ‫ح‬ ‫م‬ ‫م ل‬ ‫م ال مهل م ل ل‬ ‫هي ه‬ ‫إ لب مثرا ل‬
‫ه ع ثل ثي مهل‬ ‫صللى الل ل ه‬ ‫ل الل لهل ث‬ ‫سو ه‬ ‫ل ثر ه‬ ‫ ثقا ث‬:‫ل‬ ‫سهعود ة ثقا ث‬ ‫م م‬ ‫ث‬
‫ن‬ ‫ة اب ب ن‬ ‫سن ة ة‬ ‫ح ة‬ ‫ل ة‬ ‫ع ة‬ ‫ج ة‬ ‫ ة‬،‫ل‬ ‫ج ل‬ ‫و ة‬ ‫علز ة‬ ‫ه ة‬ ‫ن الل ل ة‬ ‫ "إ ن ب‬:‫م‬ ‫سل ل ث‬ ‫وث ث‬
‫ إ للل‬،‫ف‬ ‫شر أ ة‬
‫ع ف‬ ‫ض ب‬ ‫ة ن‬ ‫مائ ة ن‬ ‫ع ن‬ ‫سب ب ن‬ ‫ إ نةلى ة‬،‫ها‬ ‫مةثال ن ة‬ ‫ع ب ن ب‬ ‫م بن ة‬ ‫آد ة ة‬
‫م‬ ‫ل‬ ‫ئ‬‫صا‬ ‫لل‬ ‫ل‬ ‫و‬ ،‫ه‬ ‫ب‬ ‫زي‬ ‫ج‬ ‫ والصوم للي وأ ثنا أ ث‬،‫الصوم‬
‫ل‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ث ث‬ ‫ل م ث ث ل م ه‬
،‫ة‬
‫م ل‬ ‫قثيا ث‬ ‫م ال م ل‬ ‫ة ي ثوم ث‬ ‫ح م‬ ‫طارلهل وثفثمر ث‬ ‫عن مد ث إ لفم ث‬ ‫ة ل‬ ‫ فثمر ث‬:‫ن‬
‫ح م‬ ‫حثتا ل‬ ‫فثمر ث‬
‫ن لريلح‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ال‬ ‫د‬ ‫ن‬ ‫ع‬
‫ل‬ ‫ب‬ ‫ي‬ ‫م‬ ‫ط‬ ‫ف فثم الصائ لم أ ث‬ ‫خهلو ه‬ ‫وثل ث ه‬
‫م‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ث‬ ‫ل ل‬ ‫ل‬
‫"المسك‬
telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Majma' Abul Munzir Al-Kindi,
telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Hijri, dari Abul Ahwas, dari
Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah
bersabda: Sesungguhnya Allah menjadikan suatu amal kebaikan anak Adam
menjadi sepuluh kali lipat sampai dengan tujuh ratus kali lipat pahala
kebaikan, selain puasa. Puasa (menurut firman Allah Swt) adalah untuk-Ku,
Akulah yang membalasnya (secara langsung). Bagi orang yang puasa ada
dua kegembiraan; satu kegembiraan di saat ia berbuka, dan kegembiraan
yang lain (diperolehnya) pada hari kiamat. Dan sesungguhnya bau mulut
orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada minyak misik
(kesturi).

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:

Telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Al-
A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Semua amal (kebaikan) anak Adam
diperlipatgandakan, suatu amal baik menjadi sepuluh kali lipat pahala
kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat, dan sampai bilangan yang
dikehendaki oleh Allah. Allah berfirman, "Kecuali puasa, karena
sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku, Akulah yang akan membalasnya
(secara langsung); orang yang puasa meninggalkan makan dan minumnya
karena demi Aku." Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan; satu
kegembiraan di saat ia berbuka, dan kegembiraan yang lain di saat ia bersua
dengan Tuhannya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang puasa itu lebih
wangi di sisi Allah (menurut Allah) daripada minyak kesturi. Puasa adalah
benteng, puasa adalah benteng.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Bakar ibnu Abu
Syaibah dan Abu Sa'id Al-Asyaj, keduanya meriwayatkan hadis ini dari Waki'
dengan lafaz yang sama.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:

‫ن‬‫ ع ث م‬،‫ن‬ ‫ن اليرك ثي م ل‬ ‫ ع ث ل‬،‫ة‬ ‫ن ثزائ لد ث ث‬‫ ع ث م‬،‫ي‬ ‫ن ع ثل ل ي‬‫ن بم ه‬


‫سي م ه‬
‫ح ث‬ ‫حد لث ثثنا ه‬
‫ث‬
‫ل‬ ‫ ثقا ث‬:‫ل‬ ‫ك ثقا ث‬ ‫ن ثفات ل ة‬‫ريم ل ب م ل‬ ‫خ ل‬‫ن ث‬ ‫ة عث م‬ ‫ميل ث ث‬
‫ن عث ل‬‫سمير ب م ل‬
‫يه ث‬
‫ة‬
‫ق ذ‬ ‫فقث ن ثفث ث‬ ‫ن أ ثن م ث‬‫م م‬ ‫ " ث‬:‫م‬‫سل ل ث‬‫ه ع ثل ثي مهل وث ث‬
‫صللى الل ل ه‬ ‫ل الل لهل ث‬‫سو ه‬ ‫ثر ه‬
‫ف‬ ‫مائ ثةل ل‬
‫ضعم ة‬ ‫سب معل ل‬
‫ف بل ث‬ ‫ل الل لهل ت ه ث‬
‫ضاع ث ه‬ ‫سلبي ل‬
‫"لفي ث‬
telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Ali, dari Zaidah, dari Ad-Dakin,
dari Bisyr ibnu Amilah, dari Harim ibnu Fatik yang menceritakan bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membelanjakan
sejumlah harta di jalan Allah, maka pahalanya dilipatgandakan menjadi
tujuh ratus kali lipat.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Abu Daud;

،‫ب‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫و‬ ‫ن‬ ‫ب‬ ‫ا‬ ‫نا‬ ‫ث‬ ‫ث‬ ‫د‬ ‫ح‬ ،‫ح‬ ‫ر‬‫س‬ ‫ال‬ ‫ن‬ ‫ب‬ ‫رو‬ ‫م‬ ‫ث‬ ‫ع‬ ‫ن‬ ‫ب‬ ‫د‬ ‫م‬ ‫ح‬ ‫حدث ثنا أ ث‬
‫ه ث ة‬ ‫م‬ ‫ث‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫م ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ث‬ ‫م‬ ‫ث ل ث‬
‫ن‬ ‫ث‬ ‫ع ثن يحيى بن أ ثيوب وسلعيد ب ث‬
‫ن ثزلبا ث‬ ‫ ع ث م‬،‫ب‬ ‫ن ألبي أييو ث‬ ‫م ث م ث م ل ي ث ث ث ل م ل‬
‫ل‬‫ ثقا ث‬:‫ل‬ ‫ن أ ثلبيهل ثقا ث‬ ‫ ع ث م‬،‫مثعاةذ‬ ‫ن ه‬ ‫ل بم ل‬ ‫سهم ل‬‫ن ث‬ ‫ ع ث م‬،‫د‬ ‫ن ثفائ ل ة‬ ‫بم ل‬
‫صثلة ث‬ ‫ن ال ل‬ ‫ "إ ل ل‬:‫م‬ ‫سل ل ث‬ ‫ه ع ثل ثي مهل وث ث‬‫صللى الل ل ه‬ ‫ل الل لهل ث‬ ‫سو ه‬ ‫ثر ه‬
‫ل الل لهل‬ ‫سلبي ل‬ ‫قةل لفي ث‬ ‫ف ع ثثلى الن لفث ث‬ ‫ضاع ث ه‬ ‫م ثوالذ لك مثر ي ه ث‬ ‫صثيا ث‬‫ثوال ل‬
‫ف‬
‫ضعم ة‬ ‫مائ ثةل ل‬ ‫سب معث ل‬ ‫" ث‬
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnus Sarh, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Yahya ibnu Ayyub dan Sa'id
ibnu Abu Ayyub, dari Zaban ibnu Faid, dari Sahl ibnu Mu'az, dari ayahnya
yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya
salat, puasa, dan zikir dilipatgandakan pahalanya menjadi tujuh ratus kali
lipat di atas membelanjakan harta di jalan Allah.

Hadis lain diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, disebutkan bahwa:

،‫ن‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫حدث ثنا أ ث‬


‫ممرثوا ث‬ ‫ل ث‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ال‬ ‫ل‬ ‫د‬ ‫م‬ ‫ب‬‫ث‬ ‫ع‬ ‫ن‬
‫ه‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ن‬
‫ه‬ ‫رو‬ ‫ه‬ ‫ها‬
‫ث‬ ‫نا‬
‫ث‬ ‫ث‬‫ل‬ ‫د‬ ‫ح‬
‫ث‬ ،‫بي‬ ‫ث ل ث ل‬
‫ن‬ ‫ث‬ ‫ع‬ ،‫ه‬ ‫ل ب من ع ثب مد ل الل ل‬ ‫لي‬‫ل‬ ‫خ‬
‫ث‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫ث‬ ‫ع‬ ،‫ك‬ ‫ي‬ ‫د‬ ‫ه‬ ‫ف‬ ‫بي‬ ‫حدث ثنا ابن أ ث‬
‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل ل‬ ‫ل‬ ‫ة‬ ‫م‬ ‫ث‬ ‫ل‬ ‫ث ل ث م ه‬
‫ل الل لهل‬ ‫سو ل‬ ‫ن ثر ه‬ ‫ ع ث م‬،‫ن‬ ‫صي م ة‬ ‫ح ث‬ ‫ن ه‬ ‫ن بم ل‬ ‫مثرا ث‬ ‫ع م‬ ‫ن ل‬ ‫ ع ث م‬،‫ن‬ ‫س ل‬‫ح ث‬ ‫ال م ث‬
‫قةة لفي‬ ‫س ث‬
‫ل ب لن ثفث ث‬ ‫ر‬‫ "من أ ث‬:‫صللى الل له ع ثل ثيه وسل لم قال‬
‫م ث‬ ‫م ل ث ث ث‬ ‫ه‬ ‫ث‬
‫م لفي ب ثي مت لهل فثل هث‬ ‫ث‬
‫مائ ثةل‬ ‫سب معه ل‬ ‫ل د لمرهثم ل ث‬ ‫ه ب لك ه ل‬ ‫ وثأثقا ث‬،‫ه‬ ‫ل الل ل ل‬ ‫سلبي ل‬
‫ث‬
‫فق ث‬ ‫ وثأ ثن م ث‬،‫ه‬‫ل الل ل ل‬ ‫سلبي ل‬ ‫ن غ ثثزا لفي ث‬ ‫م م‬ ‫مة ل و ث ث‬ ‫قثيا ث‬ ‫م ال م ل‬ ‫د لمرهثم ة ي ثوم ث‬
‫ث‬
."‫ف د لمرهثم ة‬ ‫مائ ثةل أل م ل‬ ‫سب معه ل‬
‫ل د لمرهثم ل ث‬ ‫ه ب لك ه ل‬ ‫ك فثل ث ه‬ ‫جهثةل ذ ثل ل ث‬ ‫لفي ل‬
{‫شاهء‬ ‫ن يث ث‬ ‫م م‬ ‫ف لل ث‬‫ع ه‬ ‫ضا ل‬ ‫ه يه ث‬‫ }ثوالل ل ه‬:‫ة‬ ‫م ت ثثل هثذ لهل املي ث ث‬ ‫ثه ل‬
telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami
Harun ibnu Abdullah ibnu Marwan, telah menceritakan kepada kami Ibnu
Abu Fudaik, dari Al-Khalil ibnu Abdullah ibnul Hasan, dari Imran ibnu
Husain, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Barang siapa yang
mengeluarkan nafkah (perbelanjaan) di jalan Allah, lalu ia tinggal di dalam
rumahnya, maka baginya dari setiap dirham (yang telah dibelanjakannya)
menjadi tujuh ratus dirham di hari kiamat. Dan barang siapa yang
berperang di jalan Allah, lalu ia membelanjakan hartanya untuk tujuan itu,
maka baginya dari setiap dirham (yang telah dibelanjakannya menjadi)
tujuh ratus ribu dirham. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-
Nya: Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. (Al-
Baqarah: 261)

Hadis ini garib.

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis Abu Usman An-Nahdi,
dari Abu Hurairah yang menceritakan tentang perlipatgandaan suatu amal
kebaikan sampai menjadi dua ribu kali lipat kebaikan, yaitu pada firman-
Nya:

{ ‫ه لث ه‬
‫ه‬ ‫عفث ه‬ ‫سذنا فثي ه ث‬
‫ضا ل‬ ‫ح ث‬
‫ضا ث‬ ‫ض الل ل ث‬
‫ه قثمر ذ‬ ‫قرل ه‬ ‫ذا ال ل ل‬
‫ذي ي ه م‬ ‫ن ث‬
‫م م‬
‫ث‬
‫ضثعاذفا ك ثلثيثرة ذ‬ ‫ث‬
‫}أ م‬
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan
pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Al-Baqarah: 245),
hingga akhir ayat.

Hadis lain diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih;

،‫سك ثرليل ال مب ثلزاهز‬ ‫ن ال معث م‬ ‫ل‬


‫ن ع هب ثي مد ل اللهل ب م ل‬ ‫حد لث ثثنا ع ثب مد ه الل لهل ب م ه‬ ‫ث‬
‫مود ه‬ ‫ح ه‬ ‫م م‬‫خب ثثرثنا ث‬ ‫ أ ث م‬،‫ب‬ ‫شلبي ة‬ ‫ن ث‬ ‫ل ل‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫ع‬ ‫ن‬‫ه ه‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ن‬ ‫س‬
‫ث‬ ‫ح‬
‫ث‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫نا‬
‫ث‬ ‫ر‬
‫ث‬ ‫ث‬ ‫ب‬ ‫خ‬
‫م‬ ‫أث‬
‫ عن عيسى بن‬،‫خب ثثرثنا أ ثلبي‬ ‫ أ ث م‬،‫ي‬ ‫ق ي‬ ‫ش ل‬ ‫م م‬ ‫خال لد ة الد ل ث‬ ‫ن ث‬ ‫بم ه‬
‫ت‬ ‫ما ن ثثزل ث م‬ ‫ ل ث ل‬:‫ل‬ ‫مثر ثقا ث‬ ‫ن عه ث‬ ‫ن اب م ل‬ ‫ ع ث ل‬،‫ن ثنافلةع‬ ‫ ع ث م‬،‫المسيب‬
‫ث‬ ‫قون أ ث‬
‫ل‬
‫ل‬ ‫بي‬
‫ل‬ ‫س‬‫ث‬ ‫في‬ ‫ل‬ ‫م‬
‫م‬ ‫ه‬
‫ث ه‬ ‫ل‬ ‫وا‬ ‫م‬‫م‬ ‫ف ه ث‬ ‫ن ي هن م ل‬ ‫ذي ث‬ ‫ل ال ل ل‬ ‫مث ث ه‬ ‫ } ث‬:‫ة‬ ‫هثذ لهل املي ث ه‬
‫ب زلد م‬ ‫ "ثر ل‬:‫م‬ ‫سل ل ث‬ ‫ه ع ثل ثي مهل وث ث‬ ‫صللى الل ل ه‬ ‫ي ث‬ ‫ل الن لب ل ي‬ ‫اللله{ ثقا ث‬
‫ض الل ثل‬
‫ه‬ ‫ر‬ ‫م‬ ‫ق‬ ‫ي‬ ‫ذي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ذا‬ ‫ث‬ ‫ن‬ ‫م‬ } : ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ال‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫ز‬ ‫ن‬ ‫ فثأ ث‬:‫ل‬ ‫ث‬ ‫قا‬‫ث‬ " ‫تي‬ ‫م‬ ‫أه‬
‫ل ه‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه ث م‬ ‫ث‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ل‬
:‫ه‬ ‫ل الل هل‬ ‫ فثأ ثن مثز ث‬:‫ل‬ ‫ملتي" ثقا ث‬ ‫ "رب زد أ ه‬:‫ل‬
‫سذنا{ ثقا ث ث ل ل م ل‬ ‫ح ث‬ ‫ضا ث‬ ‫قثمر ذ‬
{‫ب‬ ‫}إنما يولفى الصابرو ث‬
‫سا ة‬ ‫ح ث‬ ‫م ب لغثي مرل ل‬ ‫جثرهه م‬ ‫نأ م‬ ‫ل له ث‬ ‫لل ث ه ث‬
telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ubaidillah ibnul Askari Al-
Bazzar, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Syabib, telah
menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Khalid Ad-Dimasyqi, telah
menceritakan kepada kami ayahku, dari Isa ibnul Musayyab, dari Nafi’ dari
Ibnu Umar. Disebutkan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-
Nya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah. (Al-Baqarah: 261), hingga akhir ayat.
Maka Nabi Saw. berdoa, "Ya Tuhanku, tambahkanlah buat umatku." Maka
Allah menurunkan firman-Nya: Siapakah yang mau memberi pinjaman
kepada Allah, pinjaman yang baik. (Al-Baqarah: 245) Nabi Saw. masih
berdoa, "Ya Tuhanku, tambahkanlah buat umatku." Maka Allah Swt.
menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar: 10)
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban di dalam
kitab sahihnya, dari Hajib ibnu Arkin, dari Abu Umar (yaitu Hafs ibnu Umar
ibnu Abdul Aziz Al-Muqri), dari Abu Ismail Al-Mu-addib, dari Isa ibnul
Musayyab, dari Nafi', dari Ibnu Umar, lalu ia mengetengahkan hadis ini.

*******************

Firman Allah Swt.:

{‫ء‬ ‫يث ث‬
‫شا ه‬ ‫ن‬
‫م م‬
‫ف لل ث‬
‫ع ه‬
‫ضا ل‬ ‫}ثوالل ل ه‬
‫ه يه ث‬
Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. (Al-Baqarah:
261)

Yakni sesuai dengan keikhlasan orang yang bersangkutan dalam amalnya.

{‫م‬
‫ع ثللي م‬ ‫سعم‬ ‫}ثوالل ل ه‬
‫ه ثوا ل‬
Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 261)

Artinya, anugerah-Nya Mahaluas lagi banyak, lebih banyak daripada


makhluk-Nya, lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat pahala
yang berlipat ganda dan siapa yang tidak berhak. Mahasuci Allah dengan
segala pujian-Nya.

Ayat ke -3

Alloh Swt Berfirman:

‫ها وثت هؤ مهتو ث‬


‫ها‬ ‫فو ث‬ ‫خ ه‬ ‫ن ته م‬ ‫ي وثإ ل م‬ ‫ما ه ل ث‬ ‫ت فثن لعل ل‬ ‫صد ثثقا ل‬ ‫دوا ال ل‬ ‫ن ت هب م ه‬ ‫إل م‬
‫سي لثئات لك ه م‬
‫م‬ ‫ن ث‬ ‫م م‬ ‫م ل‬ ‫فهر ع ثن مك ه م‬ ‫م وثي هك ث ل‬ ‫خي ممر ل ثك ه م‬
‫قثراثء فثههوث ث‬ ‫ف ث‬ ‫ال م ه‬
‫م وثل ثك ل ل‬
‫ن‬ ‫داهه م‬‫ك هه ث‬ ‫س ع ثل ثي م ث‬‫ ل ثي م ث‬، ‫خلبيمر‬ ‫ن ث‬ ‫مهلو ث‬ ‫ما ت ثعم ث‬‫ه بل ث‬ ‫ثوالل ل ه‬
‫سك ه م‬
‫م‬ ‫خي مرة ثفلن مفه ل‬ ‫ن ث‬ ‫م م‬ ‫قوا ل‬ ‫ف ه‬
‫ما ت هن م ل‬‫شاهء وث ث‬ ‫ن يث ث‬ ‫م م‬‫دي ث‬ ‫ه ي ثهم ل‬ ‫الل ل ث‬
‫خي مرة‬‫ن ث‬ ‫م م‬ ‫قوا ل‬ ‫ف ه‬ ‫ما ت هن م ل‬ ‫جهل الل لهل وث ث‬ ‫ن لإل اب مت لثغاثء وث م‬ ‫قو ث‬ ‫ف ه‬ ‫ما ت هن م ل‬ ‫وث ث‬
‫م ل ت هظ مل هث‬ ‫ث‬
‫ن‬
‫مو ث‬ ‫ف إ لل ثي مك ه م‬
‫م وثأن مت مه‬ ‫ي هوث ل‬
“Jika kamu Menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. dan
jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir,
Maka Menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Alloh akan
menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Alloh
mengetahui apa yang kamu kerjakan. Bukanlah kewajibanmu menjadikan
mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Alloh-lah yang memberi petunjuk
(memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik
yang kamu nafkahkan (di jalan Alloh), Maka pahalanya itu untuk kamu
sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena
mencari keridhaan Alloh. dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu
sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqoroh : 271-272)

Ayat ke 4

Alloh Swt Berfirman:

‫ل‬ ‫ث‬ ‫قون أ ث‬


‫ة‬
‫علن لي ث ذ‬‫سنرا وث ث‬
‫ل ثوالن لثهارل ل‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫بال‬
‫ف ه ث م ث ه م ل‬
‫م‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫وا‬ ‫م‬ ‫ن ي هن م ل‬
‫ذي ث‬ ‫ال ل ل‬
‫فثل ثه ث‬
‫م‬
‫م ثول هه م‬ ‫ف ع ثل ثي مهل م‬
‫خو م م‬ ‫م ثول ث‬ ‫عن مد ث ثرب لهل م‬‫م ل‬‫جهرهه م‬ ‫مأ م‬ ‫ه م‬
‫ن‬
‫حثزهنو ث‬ ‫يث م‬

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara


tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi
Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.” (Al-Baqoroh : 274)

Tafsir Ibn Katsir :


Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadits ini melalui
Syu’bah dengan lafal yang sama. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Abu Dzar’ah, telah menceritakan kepada kami
Sulaiman ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnu Syu’aib yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar
Sa’id ibnu Yasar menceritakan hadits berikut dari Yazid ibnu Abdullah ibnu
Uraib Al-Mulaiki, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, bahwa firman-Nya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di
malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka
mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. (Al-Baqarah: 274), diturunkan
berkenaan dengan orang-orang yang memiliki kuda (untuk berjihad di jalan
Allah).

Habsy As-San’ani meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Ibnu Abbas


sehubungan dengan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang
memelihara kuda untuk berjihad di jalan Allah. Atsar yang sama
diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim, kemudian ia mengatakan bahwa hal
yang sama diriwayatkan pula dari Abu Umamah, Sa’id ibnul Musayyab, dan
Makhul. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu
Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Yaman, dari
Abdul Wahhab ibnu Mujahid, dari Ibnu Jubair, dari ayahnya yang
mengatakan bahwa Ali mempunyai uang empat dirham, lalu ia
menafkahkan satu dirham darinya di malam hari, satu dirham lainnya pada
siang harinya, dan satu dirham lagi dengan sembunyi-sembunyi, sedangkan
dirham terakhir ia nafkahkan secara terang-terangan.Maka turunlah
Firman-Nya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam hari dan di
siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan. (Al-Baqarah: 274) Hal
yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Abdul Wahhab ibnu
Mujahid, sedangkan dia orang yang dha’if. Akari tetapi, Ibnu Mardawaih
meriwayatkannya pula melalui jalur yang lain dari Ibnu Abbas, bahwa ayat
ini diturunkan berkenaan dengan Ali ibnu Abu Thalib. Firman Allah
subhanahu wa ta’ala: maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. (Al-
Baqarah: 274) Yakni di hari kiamat nanti sebagai balasan dari nafkah yang
telah mereka keluarkan di jalan ketaatan. Tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah: 274) Tafsir ayat
ini telah diterangkan sebelumnya.

Ayat ke 5

Alloh Swt Berfirman:

‫ضثها‬ ‫جن لةة ع ثمر ه‬ ‫م وث ث‬ ‫ن ثرب لك ه م‬ ‫م م‬ ‫فثرةة ل‬ ‫مغم ل‬ ‫عوا إ لثلى ث‬‫سارل ه‬
‫وث ث‬
‫ن‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫السماوات والرض أ ه‬
‫قو ث‬‫ف ه‬
‫ن ي هن م ل‬‫ث‬ ‫ذي‬
‫ل‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ، ‫ن‬
‫ث‬ ‫قي‬
‫ل‬ ‫ل‬ ‫ت‬‫م‬‫ه‬ ‫ل‬‫ل‬ ‫ل‬ ‫ت‬‫م‬ ‫ل‬ ‫د‬‫ع‬‫ل‬ ‫ل ث ث ه ث م ه‬
‫ظ ثوال مثعالفي ث‬
‫ن‬ ‫ن ال مغثي م ث‬ ‫مي ث‬ ‫كاظ ل ل‬ ‫ضلرالء ثوال م ث‬ ‫سلرالء ثوال ل‬ ‫لفي ال ل‬
‫ن‬
‫سلني ث‬ ‫ح ل‬ ‫م م‬ ‫ب ال م ه‬ ‫ح ي‬ ‫ه يه ل‬‫س ثوالل ل ه‬
‫ن اللنا ل‬ ‫عث ل‬
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imron : 133-134)

Ayat ke -6

Alloh Swt Berfirman:


‫ث‬ ‫ث‬
‫قوا‬‫ف ه‬‫طيهعوا وثأن م ل‬ ‫مهعوا وثأ ل‬ ‫س ث‬ ‫م ثوا م‬ ‫ست ثط ثعمت ه م‬ ‫ما ا م‬ ‫ه ث‬ ‫قوا الل ل ث‬ ‫ثفات ل ه‬
‫ث‬ ‫فسه فث ه‬
‫م‬
‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ك‬‫ث‬ ‫ل‬ ‫ئ‬ ‫ل‬ ‫أو‬ ‫ح نث م ل ل‬ ‫ش ل‬ ‫ن هيوقث ه‬ ‫م م‬‫م وث ث‬‫سك ه م‬ ‫ف ل‬ ‫خي مذرا لن م ه‬ ‫ث‬
‫ه‬
‫ف ه‬‫ع م‬ ‫ضا ل‬ ‫سذنا ي ه ث‬ ‫ح ث‬ ‫ضا ث‬ ‫ه قثمر ذ‬ ‫ضوا الل ل ث‬ ‫قرل ه‬ ‫ن ته م‬‫ إل م‬، ‫ن‬ ‫حو ث‬ ‫فل ل ه‬
‫م م‬ ‫ال م ه‬
‫م‬
‫حللي م‬‫كومر ث‬ ‫ش ه‬ ‫ه ث‬ ‫م ثوالل ل ه‬‫فمر ل ثك ه م‬ ‫م وثي ثغم ل‬ ‫ل ثك ه م‬
“Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu dan
dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.
Dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah
orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Alloh
pinjaman yang baik, niscaya Alloh melipat gandakan balasannya kepadamu
dan mengampuni kamu. dan Alloh Maha pembalas Jasa lagi Maha
Penyantun.” (At-Taghobun : 16-17)

Ayat ke 6

Surat Al-An'am, ayat 160


‫شر أ ث‬
‫جاءث‬‫ن ث‬‫ه عث م ه م ث ث ث م‬
‫م‬ ‫و‬ ‫ها‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ث‬
‫ثا‬ ‫م‬ ‫سن ثةل فثل ث ه‬‫ح ث‬ ‫جاثء لبال م ث‬ ‫ن ث‬‫م م‬ ‫ث‬
‫ن‬‫مو ث‬‫م ثل ي هظ مل ث ه‬ ‫مث مل ثثها وثهه م‬
‫جثزى إ للل ل‬ ‫سي لئ ثةل فثثل ي ه م‬‫لبال ل‬
Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali
lipat amalnya; dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat. maka dia
tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya,
sedangkan mereka sedikit pun tidakdianiaya (dirugikan).

‫من مثها‬
‫خي ممر ل‬ ‫سن ثةل فثل ث ه‬
‫ه ث‬ ‫جاثء لبال م ث‬
‫ح ث‬ ‫ن ث‬
‫م م‬
‫ث‬
Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya
(pahala) yang lebih baik dari pada kebaikannya itu. (Al-Qashash: 84 dan An-
Naml 89)

Cerita sedekah Imam Ali KW, Ra

Suatu hari Ali ra. Pergi ke pasar dengan uang yang pas-pasan yang hanya
cukup untuk beli satu potong roti,namun di tengah jalan beliau di hadang
oleh seorang pengemis yang sudah tiga hari belum makan sembari berkata:

“Hai Ali berilah aku sedekah karena sudah tiga hari aku belum makan”

Maka Ali dengan yakinnya langsung memberikan rotinya kepada si


pengemis itu. Dan pulanglah Ali ke rumahnya dengan tangan hampa.

Tapi tunggu dulu Anda pasti heran, tanpa sepengetahuan Ali, Allah
menunaikan janjiNya dengan menggerakkan orang untuk mengirim roti
yang banyak kepada Nabi saw. Yang sedang berada di masjid kemudian Nabi
suruh orang untuk mengirimkan roti sejumlah 10 roti kepada Ali.

Sesampainya orang yang disuruh nabi itu kerumah Ali, dan menyampaikan
roti dari nabi, maka segera Ali menghitung berapa roti yang didapat setelah
dia sedekah satu roti,ternyata hanya 9 roti

“Kemana yang satunya? tanya Ali kepada orang yang di suruh nabi itu.

Maka dengan terheran-heran orang itu bertanya kepada Ali dari mana dia
tahu kalau roti yang harus dia terima adalah 10 roti. Maka Ali menjelaskan
bahwa dia baru saja sedekah 1 roti dan janji Allah siapa yang bersedekah 1
bakal di kembalikan 10x lipat. Subhanalloh….

Kisah Sedekah Rasulullah & Fatimah

Seperti biasanya siang itu matahari memanggang kota Makkah dengan


amat terik. Hari itu, Rasulullah baru saja berjama’ah sholat Dhuhur
bersama para sahabat. Sesaat mereka selesai membaca dzikir, tiba-tiba
seorang laki-laki menyeruak dari shaf paling belakang.

Dengan merunduk-runduk ia melangkahi beberapa sof, langsung duduk


dibelakang Rasulullah. Bau anyir peluh di tubuhnya menyebar..

Tubuh lelaki tua itu, kurus, ceking dan kumuh penuh debu.

Kumis dan jambangnya lebar, rambutnya gondrong tak terurus.

Dengan terbata-bata, lelaki tua itu memohon kepada Rasulullah,

“Asssalamu’alaikum.. Yaa Rasulullah…. Sudah beberapa hari ini saya


kelaparan, Tubuhku hampir telanjang karena hanya kain selembar dan
compang-camping ini yang kupakai. Saya datang dari pedusunan, nun jauh
di puncak bukit sana.

Saya lapar dan capek..

Karena itu maaf ya Rasulullah, saya tak bisa ikut serta sholat berjama’ah
karena tidak mampu menutup aurat.
Adakah sesuap gandum yang bisa mengganjal perut dan selembar kain
penutup aurat ?.”

Sebenarnya Rasulullah sangat iba melihat keadaan orang itu.

Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan tangannya gemetar memegang


tongkatnya.

Tetapi apa mau di kata, beliau tidak sedang tidak punya apa-apa yang bisa
diberikan kepadanya.

“Siapakah engkau, wahai saudaraku ?” Tanya Rasulullah dengan lembut


sambil menjabat tangannya, sementara telapak kirinya menepuk pundak
musafir yang kelaparan itu.

“Nama tidaklah penting, ya Rasulullah.

Tetapi saya adalah seorang Arabi, orang dusun yang sangat miskin.

Saya sangat merindukan bisa bertemu dengan Engkau, wahai kekasih


ALLAH..

Apalagi jika Engkau bersedia mengenyangkan perut saya dan membantu


menutup autrat saya hingga saya bisa kembali sholat,” jawab lelaki tua itu
terbata…

Tubuhnya gemetar..

Rasulullaah sangat terharu.

Lalu sabdanya. “ Sayang sekali, wahai saudaraku.., saya sendiri saat ini juga
tidak punya apa-apa seperti hal nya engkau. Tetapi orang yang
menunjukkan kebaikan, sesungguhnya sama saja pahalanya dengan orang
yang berbuat kebaikan..

Karena itu saya sarankan agar saudaraku datang kepada orang yang di cintai
ALLAH dan Rasul NYA, yang lebih mementingkan ALLAH ketimbang dirinya
sendiri.
Rumahnya sangat dekat dengan rumahku, (yang dimaksud ialah Fatimah az-
Zuhra, putri Rasulullah), mungkin ada sesuatu yang bisa diberikan
kepadanya sebagai sedekah.”

Dengan diantar oleh Bilal bin Robbah, bekas budak belian berkulit hitam,
berangkatlah musafir tua itu kerumah Fatimah.

Siang itu, kebetulan Fatimah ada dirumah, yang seperti hal nya rumah
Rasulullaah, sangat sederhana.

Dengan sangat santun, lelaki itu berkata, “Assalamu’alaikum, wahai putri


Rasulullah,”

Suaranya serak parau, tubuhnya gemetar, hampir saja jatuh terkulai.

“Wa’alaikumussalam, Siapakah kakek ?,

Adakah sesuatu yang dapat saya Bantu ?”

Dengan penuh harap, sementara kedua bola matanya berkaca-kaca,

Badui Arab itu menceritakan keadaan dirinya, sama seperti yang baru saja ia
ceritakan kepada Rasulullah..

Persis, tak kurang tak lebih.

Mendengar cerita mengharukan itu, Fatimah bingung…

Ia tak berdaya, Ia tidak memiliki barang yang cukup berharga untuk di


sedekahkan.

Padahal selaku keluarga Rasulullah ia telah terbiasa menjalani hidup amat


sederhana, jauh di bawah taraf kehidupan rakyat jelata.

Tetapi hatinya tak tega membiarkan lelaki tua dan miskin itu tetap
kelaparan sementara tubuhnya hampir-hampir tak tertutup.

Setelah mencari-cari sesuatu disekeliling rumahnya yang sempit itu,


akhirnya Fatimah memberikan satu-satunya alas tidur miliknya yang biasa di
pakai sebagai alas tidur Hasan dan Husain.

Dengan ikhlas, ia pun menyerahkan kepada sang tamu, musafir tadi.

Tentu saja si Badui Arabi itu terheran-heran.

Ia butuh makanan karena berhari-hari perutnya keroncongan.

Ia pun juga hampir telanjang karena sudah lama pakaiannya hanya


selembar kain kumal yang sudah compang-camping.

“Maaf Wahai putri Rasulullaah yang di cintai ALLAH.

Saya kemari karena lapar dan mengharapkan selembar kain penutup aurat.

Tapi yang engkau berikan hanya ini.. Apa yang bisa saya perbuat dengan
selembar kulit kambing ini ?” kata kakek itu dengan memelas.

Fatimah pun malu bukan main…

Ia bertambah bingung…

Ia kembali masuk kedalam rumahnya,

Matanya mencari-cari lagi sesuatu yang barangkali dapat ia sumbangkan


kepada fakir miskin itu,

Tetapi sungguh, tak ada satu pun barang atau makanan yang layak untuk
diberikan.

Ia bertanya-tanya.., mengapa ayahku mengirimkan orang ini kepadaku ??


Padahal ayah tahu aku tidak lebih kaya daripada beliau.

Sesudah merenung sejenak barulah ia teringat akan seuntai barang


pemberian Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib, bibinya.

Barang itu amat indah, namun ia merasa kurang pantas memakainya karena
ia dikenal sebagai pemimpin umat.

Barang itu adalah sebuah kalung emas.


Buru-buru diambilnya benda itu dari dalam kotak simpanannya, lalu dengan
rasa ikhlas kalung kesayangan itu Ia berikan kepada si Badui Arabi.

Dengan senyum ramah, Fatimah pun menyerahkannya.

“Ambillah kalung ini, kakek.. Inilah satu-satunya benda berharga yang


sempat saya miliki dan layak saya berikan pada kakek.

Ambillah, saya mengikhlaskannya.. Mudah-mudahan ALLAH Subhanahu wa


ta’ala berkenan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih
berharga.”. katanya dengan lembut tapi penuh hormat.

Nada bicara wanita terhormat itu sangat menyentuh hati.

Orang itu terbelalak melihat benda yang kini di genggamnya.

Begitu indah, pasti mahal harganya.

Dengan suka cita dan wajah berseri, orang itu pun kembali menghadap
Rasulullah.

Diperlihatkannya kepada beliau kalung emas pemberian Fatimah.

Ia pun menceritakan betapa Fatimah dengan ramah dan lembut tetapi


penuh hormat memberinya seuntai kalung emas yang tak ternilai harganya.

Mendengar cerita orang tua itu, Rasulullah tak mampu menahan


airmatanya yang meleleh satu demi satu sambil beliau berdoa,

“Semoga ALLAH membalas keikhlasannya,”

Diantara jama’ah yang ada pada saat itu terdapat salah satu sahabat
Rasulullah yang cukup mampu, Abdurrahman bin Auf.

Melihat dan mendengar cerita kakek musafir itu, Abdurrohman pun


berkata, “Ya Rasulullah.., bolehkah saya membeli kalung itu ?”

Sambil menyeka kedua belah pipinya yang basah oleh air mata, Rasulullah
pun menjawab,
“Belilah, jika engkau bersedia.”

Abdurrohman pun kemudian mendekati Badui Arab yang menimang-


nimang kalung itu.

“Pak, berapa kalung itu mau kamu jual ?” tanyanya kepada musafir itu.

Kakek itu menoleh kepada Rasulullah,

“Bolehkah saya jual ya Rasul ?”

“ Silahkan, kalung itu milikmu” sahut Rasulullah..

Orang itu lantas berkata kepada Abdurrahman bin Auf,

“Seharga beberapa potong roti dan daging yang bisa sekedar


mengenyangkan perutku. Tetapi kalau bisa tambahkanlah dengan secarik
kain penutup aurat agar saya bisa menghadap ALLAH dengan sopan dan
bersih, serta beberapa keping dinar agar saya bisa pulang kampung,” Jawab
si Badui.

“Baiklah, Kalung itu saya beli dengan 20 dinar dan 100 dirham.

Selain itu saya tambah dengan roti dan daging secukupnya, Saya juga akan
memberi pakaian serta seekor unta agar engkau bisa pulang kembali ke
keluargamu di dusun,” kata Abdurrahman lagi.

“Alangkah baik budimu. Saya terima tawaranmu,” ujar orang tua itu sembari
melangkah menjabat tangan Abdurrahman.

Abdurrohman pun mengantar musafir itu mengambil semua yang di


janjikan di rumahnya.

Kini, musafir tua yang dekil itu bersemangat dan berseri-seri .

Ia sudah kenyang, tubuhnya bersih.

Dengan pakaian yang rapi, ia mengendarai onta yang sehat.

“ Bagaimana keadaanmu sekarang, saudaraku ?” Tanya Rasulullah.


“Alhamdulillaah, Wahai kekasih ALLAH, Saya telah mendapatkan yang lebih
daripada yang saya perlukan. Bahkan saya merasa telah menjadi orang
kaya.”

Rasulullah menjawab, “Terima kasih kepada ALLAH dan Rasul NYA harus di
awali dengan berterima kasih kepada yang bersangkutan. Balaslah kebaikan
Fatimah.”

Kontan, orang tua itu pun mengangkat kedua tangannya ke atas, “Ya,
ALLAH.. Aku tak mampu membalas kebaikan Fatimah dengan sepadan.
Karena itu hamba memohon kepada-MU, berilah Fatimah balasan dari
hadirat-MU, berupa sesuatu yang tidak terlintas di mata, tidak terbayang di
telinga dan tidak terbesit di hati, yakni surga-MU, Jannatun Na’im.”

Rasulullah menyambut do’a itu dengan “aamiin” seraya tersenyum ceria.

Beberapa hari kemudian, budak Abdurrohman bin Auf bernama Sahm


datang menghadap Rasulullah dengan membawa kalung yang di beli dari
orang tua itu.

“Ya Rasulullah, “ ujar Sahm, “ Saya datang kemari di perintah Tuan


Abdurrohman bin Auf untuk menyerahkan kalung ini untukmu, dan diri saya
sebagai budak diserahkannya kepadamu”

Rasulullah tertawa, “ Kuterima pemberian itu. Nah, sekarang lanjutkanlah


perjalananmu kerumah Fatimah, anakku.

Kalung ini tolong serahkan kepadanya, Juga dirimu kuberikan untuk


Fatimah.”

Sahm lalu mendatangi Fatimah di rumahnya, dan menceritakan pesan


Rasulullah untuknya.

Fatimah dengan lega menerima dan menyimpan kalung itu di tempat


semula, lantas berkata kepada Sahm,

“Engkau sekarang telah menjadi hakku, Karena itu engkau ku bebaskan.


Sejak hari ini engkau menjadi orang yang merdeka.”

Sahm tertawa nyaring sampai Fatimah keheranan, “Mengapa engkau


tertawa ?”

Bekas budak itu menjawab, “Saya gembira menyaksikan riwayat sedekah


dari satu tangan ke tangan berikutnya.

Kalung ini tetap kembali kepadamu, wahai putri Rasulullah, namun karena
keikhlasan , kalung ini telah membuat kaya orang miskin, telah menjamin
surga untukmu, dan kini membebaskan aku menjadi orang yang
merdeka”….

Inilah bukti, bahwa sedekah takkan mengurangi harta benda kita…..justru


sebaliknya, Allah SWT akan menggantinya dengan sesuatu yg lebih baik
lagi…

Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu berkata,
“Seorang wanita telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan membawa suatu pakaian, berupa mantel yang terukir pada ujung-
ujungnya, lalu wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, saya datang kepada anda untuk memberikan ini untuk anda’, lalu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya, di mana beliau
memang sangat membutuhkannya hingga beliau memakainya, kemudian
mantel itu dilihat oleh seseorang dari para sahabat beliau, seraya berkata,
‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa indahnya mantel
tersebut, maka berikanlah mantel itu kepadaku?’ Beliau berkata, ‘Ya’, dan
ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak untuk
memberikannya, para sahabat yang lain mencela orang tersebut seraya
berkata, ‘Engkau tidak bersikap baik ketika melihat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengambil mantel itu dari wanita tadi karena
membutuhkannya, lalu engkau memintanya padahal engkau tahu bahwa
tidaklah beliau itu dimintai sesuatu lalu beliau menolaknya’, dia berkata,
‘Demi Allah, tidaklah ada faktor yang mendorong saya melakukan itu
melainkan karena saya berharap keberkahannya ketika telah dipakai oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya berharap agar saya
dikafani dengan mantel tersebut.

Kisah Sedekah Membawa Berkah

Seorang wanita di masa Nabi Daud as, membawa keluar dari rumahnya tiga
potong roti dan tiga kilo gram gandum. Di tengah jalan ia bertemu
pengemis yang membutuhkan bantuan. Wanita itu memberikan tiga potong
roti kepada pengemis.

Dia berkata pada dirinya sendiri, "Gandum ini akan aku masak menjadi
roti."Tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan gandum wanita itu.

Wanita itu sedih atas apa yang terjadi. Dia pun datang menghadap Nabi
Daud as dan menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Nabi Daud as
mengutus wanita itu ke tempat Nabi sulaiman as untuk memperoleh jalan
keluar. Ketika wanita itu menceritakan apa yang dialaminya, Nabi Sulaiman
memberikan seribu dirham padanya.

Wanita itu kembali datang ke rumah Nabi Daud dan berkata, "Putramu
memberikan seribu dirham padaku"

Nabi Daud as berkata, "Pergilah ke tempat Nabi Sulaiman dan kembalikan


uang seribu dirham itu, katakan padanya, 'saya tidak menginginkan dirham,
saya ingin mengetahui sebab kejadian ini,"

Tatkala wanita itu datang lagi, Nabi Sulaiman berkata padanya, "Saya sudah
memberimu seribu dirham dan jangan meminta sesuatu yang lain dariku."

Wanita itu berkata, "Saya tidak menginginkan dirham."

Nabi Sulaiman memberikan seribu dirham lagi kepada wanita itu. Lalu
kembali ke rumah Nabi Daud dan menceritakan apa yang terjadi.

Nabi Daud as mengutus wanita itu untuk pergi lagi ke tempat Nabi Sulaiman
as dan berkata, "Kembalikan uang dirham itu kepada beliau dan katakan,
'Saya tidak menginginkan dirham. Akan tetapi, mohonlah kepada Allah
untuk mendatangkan angin dan menanyakan padanya;apakah ia
menerbangkan gandum itu atas perkenan Allah ataukah tidak?"

Wanita itu kembali ke tempat Nabi Sulaiman as. Kemudian Nabi Sulaiman as
memanggil malaikat yang mengatur angin dan menanyakan kepadanya
tentang gandum itu.

Angin berkata, "Saya menerbangkan gandum itu atas perkenan Allah. Sebab
selama beberapa hari seorang pedagang terkatung-katung di atas kapalnya
di tengah lautan, dan binatang-bintang peliharaannya kelaparan. Lantas
pedagang itu bernazar bahwa pabila seseorang memberinya gandum pada
saat itu, maka dia akan memberinya sepertiga dari barang dagangannya.
Kemudian aku menerbangkan gandum tersebut atas perintah Allah, agar dia
memenuhi janji dan nazarnya."

Selang beberapa masa, pedagang tersebut ditemukan. Nabi Sulaiman as


bertanya padanya perihal apa yang dialaminya di tengah lautan. Kemudian
Nabi Sulaiman memanggil wanita itu dan beliau menyuruh si pedagang
untuk menepati janji dan nazarnya dengan cara menyerahkan sepertiga
barang dagangannya kepada wanita itu. Nilai harta yang diberikan kepada
wanita itu mencapai 360.000 dinar. Wanita itu pun amat bahagia dan
pulang ke rumahnya.

Pada saat itulah Nabi Daud as berkata pada puteranya, Nabi Sulaiman as,
"Wahai Puteraku, barangsiapa menghendaki transaksi yang
menguntungkan, maka dia harus bertransaksi dengan Allah Yang Maha
Pemurah."

Kisah Dahsyatnya Keutamaan Sedekah di Masa Nabi Sulaiman

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sedekah dapat menolak balak(mara


bahaya) dan menjadikan umur panjang.”

Pada zaman Nabi Sulaiman AS, hidup seorang laki-laki yang mempunyai
pohon besar di samping rumahnya. Di atas pohon tersebut terdapat sarang
burung yang berisi beberapa anak merpati. Kemudian istri dari laki-laki itu
menyuruhnya memanjat pohon besar itu dan mengambil anak merpati
untuk dijadikan makanan bagi anak-anak mereka. Laki-laki itu pun lantas
melakukanya.

Selepas kejadian itu, induk merpati menghadap baginda Nabi Sulaiman AS.
Sang induk menceritakan kejadian tersebut. Akhirnya Nabi Sulaiman
mengundang laki-laki itu dan menyuruhnya untuk bertobat. Laki-laki itu
berjanji kepada Nabi Sulaiman untuk tidak akan mengulangi perbuatannya
tadi.

Suatu ketika, si istri menyuruhnya untuk mengambil anak merpati lagi. Laki-
laki itu pun berkata kepada istrinya, “Aku tidak akan melakukanya lagi.
Sebab Nabi Sulaiman telah melarangku untuk berbuat yang demikian.”

Istrinya menjawab, “Apakah kamu menyangka Nabi Sulaiman akan


mempedulikan dirimu atau merpati itu? Sedangkan ia selalu sibuk dengan
urusan kerajaannya.”

Si istri tak henti-henti membujuknya agar ia mau melakukanya lagi. Hingga


akhirnya ia terbujuk juga. Seperti biasanya ia memanjat pohon besar itu dan
mengambil anak merpati lagi.

Induk merpati kembali menghadap Nabi Sulaiman dan mengadukan


kejadian itu. Nabi Sulaiman pun menjadi marah karenanya. Kemudian Nabi
Sulaiman memanggil dua setan, yang satu berasal dari ujung timur dan yang
satunya berasal dari penjuru barat.

Nabi Sulaiman AS berkata kepada dua setan itu, “Jagalah pohon besar itu.
Dan ketika laki-laki itu mengulang perbuatannya mengambil anak merpati
itu. Raih kedua kakinya dan jatuhkan ia dari pohon itu.”

Kedua setan itu pun bergegas pergi dan menjaga pohon itu.

Ketika merpati sudah beranak lagi, laki-laki itu segera memanjat dan
meletakkan kedua kakinya pada pohon itu. Tiba-tiba datanglah seorang
pengemis mengetuk pintu rumahnya. Lalu ia menyuruh istrinya untuk
memberikan sesuatu pada istrinya itu.
Lantas istrinya berkata, “Aku tidak punya apa-apa.” Laki-laki itu turun dari
pohon dan mengambil segenggam makanan. Lalu ia memberikanya kepada
si pengemis itu. Setelah itu ia kembali memanjat pohon dan mengambil
anak merpati.

Setelah itu, merpati kembali menghadap Nabi Sulaiman dan mengadukan


kejadian tersebut kepadanya. Nabi Sulaiman bertambah marah. Kemudian
ia memanggil kedua setan yang diberi tugas menjaga pohon itu.

Nabi Sulaiman berkata pada kedua setan itu, “Kalian berdua telah
mengkhianatiku!”

Dua setan itupun menjawab, “Kami sama sekali tidak menghianatimu. Kami
terus menjaga pohon itu. Hanya saja, ketika laki-laki itu memanjat pohon
datanglah seorang pengemis mengetuk pintu rumahnya. Lalu ia
memberikan segenggam gandum untuk pengemis itu. Saat ia kembali
memanjat pohon, kami sudah bergegas untuk meraihnya. Namun tiba-tiba
Allah mengutus dua malaikat. Salah satu dari mereka meraih leherku dan
melemparku sampai di tempat terbitnya matahari. Sedang yang satunya lagi
meraih leher sahabatku dan melemparnya sampai di tempat terbenamnya
matahari.”

Demikianlah sebuah cerita dari Kitab Tanqihul Qaulil Hatsits karya Syekh
Nawawi Al-Bantani. Betapa sedekah dapat menjadi sebab dihindarkannya
seseorang dari mara bahaya. Sementara yang disedekahkan adalah barang
halal. Namun jika yang disedekahkan adalah barang yang haram pasti akan
berbuah celaka.

Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, “Sungguh,
di dalam neraka terdapat rumah yang disebut baitul huzni (rumah
kesusahan). Allah menyediakannya untuk orang yang bersedekah dari
barang yang haram.” (Zaenal Faizin)

Hadist ke 1
Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
‫كان النبى – صلى الله عليه وسلم – أ ث‬
،‫س‬ ‫ل‬ ‫نا‬
‫ل‬ ‫ال‬ ‫ث‬ ‫د‬‫ث‬ ‫و‬ ‫ج‬
‫م‬ ‫ث ث لل ي‬
،‫ل‬‫ري ه‬ ‫ن ي ثل م ث‬ ‫ما ي ث ه‬ ‫ث‬
‫جب م ل‬‫قاه ه ل‬ ‫حي ث‬ ‫ ل‬،‫ن‬ ‫ضا ث‬ ‫م ث‬ ‫ن لفى ثر ث‬ ‫كو ه‬ ‫جوثد ه ث‬‫وثأ م‬
‫ن‬
‫م م‬‫ل ل ثي مل ثةة ل‬ ‫قاه ه لفى ك ه ل‬ ‫م – ي ثل م ث‬‫سل ث ه‬ ‫ل – ع ثل ثي مهل ال ل‬ ‫ري ه‬ ‫جب م ل‬‫ن ل‬‫كا ث‬‫وث ث‬
‫ل الل لهل – صلى‬ ‫سو ه‬ ‫ن فثل ثثر ه‬ ‫قمرآ ث‬ ‫ه ال م ه‬ ‫س ه‬ ‫ فثي ه ث‬، ‫ن‬
‫دارل ه‬ ‫ضا ث‬ ‫م ث‬ ‫ثر ث‬
‫ث‬
‫سل ثةل‬ ‫ممر ث‬ ‫ن اللريلح ال م ه‬ ‫م ث‬ ‫خي مرل ل‬‫جوثد ه لبال م ث‬ ‫الله عليه وسلم – أ م‬
“Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan,
dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau
ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui
beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan
padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika
ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang
berhembus.”(HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan tambahan:

(( ‫)) طولط هيعسأ طهل طشعيئئاَ إإلل أطععططاَهه‬


“Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.”

Kedermawanan adalah sifat murah hati dan mudah memberi, Allah


pun bersifat Maha Dermawan, sebagaimana diriwayatkan oleh At
Tirmidzi dari sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Nabi r bersabda:

(( ‫ب الطكطرطم‬
‫َ طكإرعيمم هيإح ب‬،‫ب الهجعوطد‬
‫)) إإلن ا طجلوامد هيإح ب‬

“Sesungguhnya Allah itu Maha Dermawan, cinta kepada


kedermawanan dan Maha Pemurah, cinta kepada kemurahan hati.”

adits riwayat Anas RA dikatakan bahwa Rasulullah SAW pernah


ditanya tentang sedekah yang paling utama? Jawaban yang
dikemukakan Beliau SAW adalah sedekah pada bulan Ramadhan.

‫صطدطقهة‬ ‫صطدطقإة أطعف ط‬


‫ضهل طقاَطل ط‬ ‫ا أط ب‬
‫ي ال ل‬ ‫طععن أططن س‬
‫س طقاَطل إقيطل طياَ طرهسوطل إ‬
‫ضاَطن‬
‫طرطم ط‬
Artinya, “Dari Anas RA ia berkata, bahwa Rasulullah SAW
pernah ditanya apakah sedekah yang paling utama? Beliau pun
menjawab, ‘Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada
bulan Ramadhan,’” (HR Al-Baihaqi).

Hadist ke 2

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan


keutamaan orang yang memberi makan buka puasa,

‫ص إمعن أطعجإر ال ل‬
َ‫صاَإئإم طشعيئئا‬ ‫صاَإئئماَ طكاَطن طلهه إمعثهل أطعجإرإه طغعيطر أطلنهه لط طيعنقه ه‬
‫طمعن طفلططر ط‬
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya
pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala
orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi
no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin
Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini
hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad
hadits ini shahih).

Hadist 3

Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang


dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits
berikut,

َ‫ » إإلن إفىِ اعلطجلنإة هغطرئفاَ هتطرى‬-‫صلىِ ا عليه وسلم‬- ِ‫طععن طعلإىىِ طقاَطل طقاَطل اللنإببى‬
َ‫ طفطقاَطم أطععطراإبىىِ طفطقاَطل لإطمعن إهطىِ طيا‬.« َ‫ظههوإرطها‬ ‫طوهنطهاَ إمعن ه‬‫طوإنطهاَ طوهب ه‬ ‫ظههوهرطهاَ إمعن هب ه‬ ‫ه‬
‫صللىِ إ ل إ‬
‫ل‬ ‫صطياَطم طو ط‬‫ب اعلطكلططم طوأطعططعطم اللططعاَطم طوأططداطم ال ص‬
‫ا طقاَطل » لإطمعن أطططاَ ط‬ ‫طرهسوطل ل إ‬
‫س إنطياَمم‬‫» إباَلللعيإل طواللناَ ه‬
Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa
dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas
orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan
berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai
Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang
berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin
berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia
terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh
Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Hadist ke 4

Bersedekah dalam kondisi sehat lebih utama daripada berwasiat


ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit
diharapkan kesembuhannya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada
seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling
utama?” Beliau menjawab:

« ‫َ طولط هتعمإههل‬، ِ‫َ طتعخطشىِ اعلطفعقطر طوطتأعهمهل اعلإغطنى‬، ‫صإحيمح طشإحيمح‬ ‫ت ط‬ ‫صلدطق طوأطعن ط‬ ‫أطعن طت ط‬
‫ت اعلهحعلهقوطم قهعل ط‬
‫َ طوطقعد طكاَطن لإفهلطسن‬، ‫َ طولإفهلطسن طكطذا‬، ‫ لإفهلطسن طكطذا‬: ‫ت‬ ‫ » طحلتىِ إإطذا طبطلطغ إ‬.
“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat
mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan
mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai
di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “Untuk fulan sekian,
untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.” Padahal telah menjadi
milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 5
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫َ طواعبطدعأ إبطمعن طتهعوهل‬، ِ‫صطدطقإة طماَ طكاَطن طععن طظعهإر إغئنى‬


‫طخعيهر ال ل‬
“Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan,
dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫صطدطقإة هجعههد اعلهمإقصل طو اعبطدعأ إبطمعن طتهع عوهل‬ ‫أطعف ط‬


‫ضهل ال ل‬
“Sedekah yang paling utama adalah sedekah maksimal orang yang
tidak punya, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Abu
Dawud dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul
Jami’ no. 1112)

Hadist ke -6

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« ‫ا طوإديطناَمر أطعنطفعقطتهه إفىِ طرطقطبسة طوإديطناَمر‬‫إديطناَمر أطعنطفعقطتهه إفىِ طسإبيإل ل إ‬


‫ك أطععطظهمطهاَ أطعجئرا‬
‫ت إبإه طعطلىِ إمعسإكيسن طوإديطناَمر أطعنطفعقطتهه طعطلىِ أطعهلإ ط‬ ‫صلدعق ط‬
‫طت ط‬
‫ك‬‫ » اللإذىَ أطعنطفعقطتهه طعطلىِ أطعهلإ ط‬.
“Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu
infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu
sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu
keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.”
(HR. Muslim)

Hadist ke -7

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

: ‫صطدطقمة طو إهطي طعطلىِ إذي اللرإحإم اعثطنطتاَإن‬


‫صطدطقهة طعطلىِ اعلإمعسإكعيإن ط‬
‫طال ل‬
‫صلطمة‬
‫صطدطقمة طو إ‬ ‫ط‬
“Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada
kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad,
Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3858)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫صطدطقهة طعطلىِ إذي اللرإحإم اعلطكاَإشإح‬


‫صطدطقإة ال ل‬ ‫أطعف ط‬
‫ضهل ال ل‬
“Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang
memendam permusuhan.” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-Kabir,
Shahihul Jami’ no. 1110)

Hadist ke 8

Dalam suratAn Nisaa’ ayat 36 disebutkan perintah berbuat baik


kepada tetangga, baik yang dekat maupun yang jauh. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Abu Dzar:

‫ت طمطرطقئة طفأ طعكإثعر طماَطءطهاَ طوطتطعاَطهعد إجيطراطن ط‬


«‫ك‬ ‫ » طياَ أططباَ طذىر إإطذا طططبعخ ط‬.
“Wahai Abu Dzar! Jika kamu memasak sop (masakan berkuah),
maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada
tetanggamu.” (HR. Muslim)

Hadist ke 9

ِ‫ف طغاَإزياَ ئ إفى‬ ‫طمعن طجلهطز طغاَإزياَ ئ إفىِ طسإبيإل ل إ‬


‫َ طوطمعن طخلط ط‬، ‫ا طفطقعد طغطزا‬
‫ا إبطخعيسر طفطقعد طغطزا‬‫طسإبيإل ل إ‬
“Barang siapa mempersiapkan (membekali) orang yang berperang,
maka sungguh ia telah berperang. Barang siapa yang menanggung
keluarga orang yang berperang, maka sungguh ia telah berperang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‫أطعف ط‬
« ‫ضهل إديطناَسر هيعنإفقههه اللرهجهل إديطناَمر هيعنإفقههه طعطلىِ إعطياَلإإه طوإديطناَمر هيعنإفقههه‬
‫ا طوإديطناَمر هيعنإفقههه طعطلىِ أط ع‬
ِ‫صطحاَإبإه إفى‬ ‫اللرهجهل طعطلىِ طدالبإتإه إفىِ طسإبيإل ل إ‬
‫» طسإبيإل ل إ‬
‫ا‬
“Dinar yang paling utama adalah dinar yang dikeluarkan seseorang
untuk menafkahi keluarganya, dinar yang dikeluarkan untuk
kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang
dikeluarkan kepada kawannya di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Hadist ke 10

Sedekah jariyah adalah sedekah yang pahalanya terus mengalir


meskipun ia sudah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

‫ت الإعنطساَهن اعنطقطططع طععنهه طعطملههه إإلل إمعن طثلططثسة إإلل إمعن ط‬


‫صطدطقسة‬ ‫إإطذا طماَ ط‬
‫طجاَإرطيسة أط عو إععلسم هيعنطتطفهع إبإه أط عو طوطلسد ط‬
‫صاَلإسح طيعدهعو طلهه‬
“Apabila cucu Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya
kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan atau anak
shalih yang mendo’akan (orang tua)nya.” (HR. Muslim)

Imam as-Suyuthiy membuatkan sya’ir menyebutkan hal-hal yang


bermanfaat bagi seorang sesudah meninggalnya:

‫ت اعبهن اطدطم طيعجإري طعطلعيإه إمعن إفطعاَسل طغعيإر طععشسر‬ ‫إاطذا طماَ ط‬
‫ت طتعجإري‬ ‫س اللنعخإل طوال ل‬
‫صطدطقاَ ه‬ ‫هعل هعوسم طبلثطهاَ طوهدطعاَإء طنعجسل طوطغعر إ‬
‫ف طوإرطباَإط طثعغسر طوطحعفإر اعلإبعئإر أط عو إإعجطراإء طنعهسر‬ ‫صطح س‬ ‫طوطراطثإة هم ع‬
‫ب طبطناَهه طيأعإوىَ إلإعيإه أط عو إبطناَإء طمطحصل إذعكسر‬‫ت علعلطغإرعي إ‬
‫طوطبعي س‬

“Apabila cucu Adam Adam meninggal, maka mengalirlah kepadanya


sepuluh perkara;,
Ilmu yang disebarkannya, doa anak saleh, pohon kurma yang
ditanamnya serta sedekahnya yang mengalir,

Mushaf yang diwariskan dan menjaga perbatasan,

Menggali sumur, mengalirkan sungai, rumah untuk musafir yang


dibangunnya atau membangun tempat ibadah.”