Anda di halaman 1dari 36

POLRI DAERAH JAWA BARAT

BIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATAN


RUMKIT BHAYANGKARA TK II SARTIKA ASIH BANDUNG

LAPORAN KASUS
ULKUS DEKUBITUS GRADE III AT REGION GLUTEUS DEXTRA
Diajukan guna melengkapi tugas portofolio

Disusun oleh:
Cempaka Irawati
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
PERIODE 18 SEPTEMBER 2017 – 18 SEPTEMBER 2018
RUMKIT BHAYANGKARA TK II SARTIKA ASIH BANDUNG

JUDUL : ULKUS DEKUBITUS

PENYUSUN : CEMPAKA IRAWATI

Bandung, 28 Juni 2018


Menyetujui,
Pembimbing, Pendamping,

Danny Ganiarto Sugandi, dr. ,Sp.B Triana Hermeilasih, dr.


NRP. 64010752 NIP. 196805221997032003

ii
DAFTAR ISI

COVER i
LEMBAR PENGESAHAN ii
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
BAB II LAPORAN KASUS 5
2.1 Identitas pasien 5
2.2 Anamnesis 5
2.3 Pemeriksaan fisik 6
2.4 Diagnosis klinis12
2.5 Saran Pemeriksaan Penunjang 12
2.6 Tatalaksana 12
2.7 Edukasi 13
2.7 Prognosis 13
BAB III TINJAUAN PUSTAKA 14
3.1 Definisi 27
3.2 Epidemiologi 27
3.3 Etiologi 28
3.4 Patofisiologi 29
3.5 Gejala dan Tanda 30
3.6 Diagnosis 31
3.7 Diagnosis Banding 14
3.8 Tatalaksana 36
3.9 Komplikasi 14
3.10 Prognosis 37
BAB IV KESIMPULAN........................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA 39
LAMPIRAN...........................................................................................................38

3
BAB I
PENDAHULUAN
Ulkus dekubitus biasanya disebut sebagai ulcer pressure yang terjadi
dikarenakan adanya tekanan yang lama sehingga menyebabkan terjadinya iskemik
bahkan nekrosis. Ulkus dekubitus didefinisikan sebagai daerah tekanan yang
terjadi secara terus-menerus yang biasanya didapatkan pada daerah kulit yang
menutupi tulang yang menonjol yang menyebabkan iskemia, kematian sel dan
nekrosis jaringan. Definisi ini telah disempurnakan oleh National Pressure Ulcer
Advisory Panel (NPUAP) dan European Pressure Ulcer Advisory Panel (EPUAP)
yaitu mengatakan dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung
terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan
eksternal dalam jangka waktu lama. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan
lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan. Jaringan memperoleh oksigen dan
nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang
mengganggu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara
mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi
jaringan.1
Prevalensi ulkus dekubitus pada rumah sakit sekitar 17-25% dan dua dari
tiga pasien yang berusia 70 tahun atau lebih akan mengalami ulkus dekubitus.
Diantara pasien dengan kelainan neurologi, angka kejadian ulkus dekubitus setiap
tahun sekitar 5-8% dan ulkus dekubitus dinyatakan sebagai 7-8% penyebab
kematian pada paraplegia. Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit
akut mempunyai angka insiden ulkus dekubitus sebesar 2-11%. Namun, hal yang
perlu menjadi perhatian adalah angka kekambuhan pada penderita ulkus dekubitus
yang telah mengalami penyembuhan sangat tinggi yakni 90% walaupun
mendapatkan terapi medis dan bedah yang baik. Ulkus dekubitus dapat menjadi
sangat progresif dan sulit untuk disembuhkan. Komplikasi ulkus dekubitus sangat
sering dan mengancam kehidupan. Komplikasi ulkus dekubitus serius dan
tersering adalah infeksi. Hal ini harus dibedakan dengan infeksi yang memang
sudah terjadi sebelum terjadi ulkus.2

4
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. E
Tanggal lahir/ usia : 7 Mei 1944/ 74 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pedagang
Agama : Islam
Suku : Sunda
Alamat : Kampung Loskulalet RT 4/RW 8
Status : Umum
No. Rekam Medik : SA-189977
Tanggal masuk IGD : 26 April 2018 (16.53 WIB)
Ruang Rawat : Bangsal Fajar
DPJP : Danny Ganiarto, dr, Sp.B
2.2. ANAMNESIS
Sumber informasi : Autoanamnesis dan Alloanamnesis
Keluhan utama : Luka di bokong kanan

2.2.1 Riwayat Penyakit Sekarang


Luka di bokong kanan dirasakan sejak lama kurang lebih 1 tahun yang lalu,
mulai terlihat 3 bulan yang lalu, keluhan nyeri 1 bulan yang lalu dan
dirasakan memberat 3 hari SMRS. Awalnya berupa benjolan seperti bentol
kecil dan memerah namun lama-lama meluas kurang lebih dalam beberapa
minggu. Keluarga tidak begitu memperhatikan perkembangan luka karena
pasien tidak mengeluh apapun. Kebiasaan pasien sering duduk lama sambil
menjaga warungnya sejak kurang lebih 2 tahun smrs. Riwayat jatuh
disangkal. Riwayat lemah tungkai disangkal.

2.2.2 Riwayat penyakit dahulu


 Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal
- Riwayat Stroke : disangkal
- Riwayat Alergi Obat : disangkal
 Riwayat Penyakit Keluarga

5
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
 Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama keluarganya. Keluarga pasien sangat
menyayangi pasien, komunikasi terjalin baik di antara sesama anggota
keluarga. Pasien berdagang di warung di depan rumahnya. Suami
pasien bekerja sebagai buruh. Biaya pengobatan ditanggung oleh anak
pasien. Kesan ekonomi: cukup.

2.3. PEMERIKSAAN FISIK


2.3.1 Tanda-tanda vital:
 Kesadaran : Compos Mentis GCS E4M6V5
 Tekanan darah : 100/70 mmHg
 Nadi : 90x/menit, regular, ekual, kuat
 Respirasi : 20x/menit, regular
 SpO2 : 97% on air
 Suhu : 36,80 C

2.3.2 Status gizi


 Berat badan : 80 kg
 Tinggi badan : 158 cm
 BMI : 32
 Kesimpulan : obesitas

2.3.3 Status generalis:


Kepala : bentuk ukuran simetris,rambut hitam, tidak mudah dicabut
Mata : conjungtiva tidak anemis,sklera tidak ikterik, pupil isokor
3mm/3mm air mata tidak berlebihan, nistagmus (-),
Hidung : tidak terdapat pernafasan cuping hidung dan sekret
Telinga : tidak terdapat sekret
Mulut : mukosa bibir kering, tidak terdapat perdarahan gusi, tidak
terdapat faring hiperemis
Leher : Kelenjar Getah Bening tidak teraba membesar, JVP tidak
meningkat
Thorax : Inspeksi : bentuk pergerakan simetris, tidak terdapat
retraksi

6
Palpasi : pergerakan hemitorax kanan=kiri
vocal fremitus kanan=kiri,
Perkusi : sonor hemithorax kanan=kiri
Auskultasi :
Pulmo : Vesikular breath sound kanan=kiri,
rhonki -/-, wheezing -/-
Cor : bunyi jantung S1 S2 murni reguler,
murmur (-).
 Abdomen : Inspeksi : permukaan datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani, turgor kembali cepat
Palpasi : soepel, hepar & lien tidak teraba
 Ekstremitas : akral hangat, capillary refill time < 2 detik, sianosis (-)
Superior Inferior
Edema -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Status neurologis
Kaku kuduk -
Kekuatan motorik 5/5 5/5
Reflex fisiologis +N/+N +N/+N
Reflex patologis -/- -/-

2.4. STATUS LOKALIS


Regio Gluteal Dextra

- Inspeksi : ukuran 22 x 15 x 3 cm, jaringan nekrotik (+),


slough (+), pus (-) kontaminasi feses (-), oedem -,
luka +, dasar otot, darah +, warna kehitaman (+)
- Palpasi : massa (-),nyeri tekan (-), suhu sama dengan
Sekitar, pulsasi arteri femur sinstra (+), pulsasi
arteri iliaka dextra (+), respon sensori (-)

7
o

2.5. HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Tanggal 26 April 2018 Pkl 18 : 00 WIB
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hematologi
Hemoglobin 13,4 g/dl 11,7-15,5
Jumlah leukosit 18100 /mm3 3.60-11.0
Jumlah trombosit 182000 /mm3 150-440
Hematokrit 41 % 35-47

8
Kimia darah
Gula darah sewaktu 128 Mg/dl <150
Natrium 137,12 Mmol/l 135-145
Kalium 3,70 Mmol/l 3,5-5,0

2.6. DIAGNOSIS KERJA


 Ulkus dekubitus grade III at region gluteal dextra

2.7. TATALAKSANA
a. Farmakologik
- Infus Nacl 0,9% 20tpm
- Injeksi ketorolac 3x30 IV
- Injeksi ranitidin 2x50mg IV
- Injeksi ceftriaxon 2x2gram IV
b. Non Farmakologis
- Ganti verban dengan kassa lembab Nacl 0,9% tiap 12 jam

2.8. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad functionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : dubia ad malam

FOLLOW UP PASIEN R : 20x/menit


28 April 2018 T : 36,7 oC
S : nyeri pada luka bokong St. general
O: Mata CA – SI –
KU : compos mentis JVP tidak meningkat
TD : 100/70 Torax: Ronki -/- wheezing -/-
N : 90x/menit Abd: Supel, BU +

9
Ext : CRT <2 detik St. general
Turgor cukup Mata CA – SI –
Urin jernih 700cc/ 10 jam JVP tidak meningkat
Status lokalis Torax: Ronki -/- wheezing -/-
Regio Gluteal Dextra Abd: Supel, BU +
-Inspeksi : ukuran 22 x 15 x 3 cm, Ext : CRT <2 detik
jaringan nekrotik (+), slough (+), pus Turgor cukup
(-) kontaminasi feses (-), oedem -, Urin jernih 700cc/ 10 jam
luka +, dasar otot, darah +, warna Status lokalis
kehitaman (+) Regio Gluteal Dextra
-Palpasi : massa (-),nyeri tekan (-), -Inspeksi : ukuran 22 x 15 x 3 cm,
suhu sama dengan jaringan nekrotik (+), slough (+), pus
Sekitar, pulsasi arteri femur sinstra (-), kontaminasi feses (-), oedem -,
(+), pulsasi arteri iliaka dextra (+), luka +, dasar otot, darah +, warna
respon sensori (-) kehitaman (+)
A: -Palpasi : massa (-),nyeri tekan (-),
-ulkus dekubitus grade III at region suhu sama dengan
gluteus dextra Sekitar, pulsasi arteri femur sinstra
P: (+), pulsasi arteri iliaka dextra (+),
Infus Nacl 0,9% 20tpm respon sensori (-)
Injeksi ketorolac 3x30 IV A:
Injeksi ranitidin 2x50mg IV -ulkus dekubitus grade III at region
Injeksi ceftriaxon 2x2gram gluteus dextra
29 April 2018 P:
S : nyeri pada luka bokong Infus Nacl 0,9% 20tpm
O: Injeksi ketorolac 3x30 IV
KU : compos mentis Injeksi ranitidin 2x50mg IV
TD : 100/70 Injeksi ceftriaxon 2x2gram IV
N : 88x/menit Rencana debridement tetapi pasien
R : 20x/menit minta untuk ditunda karena ingin
T : 36,8 oC dibuatkan BPJS terlebih dahulu

10
BLPL Kontrol ke poli bedah

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 DEFINISI
Kata dekubitus diturunkan dari bahasa latin decumbo yang berarti
“berbaring”. Ulkus dekubitus adalah masalah kesehatan bermakna karena kasus
ini meningkatkan lama hospitalisasi, meningkatkan biaya perawatan kesehatan,
dan meningkatkan kejadian kematian. Empat factor krusial yang memainkan
peran dalam pembentukan dekubitus; 1) tekanan; 2) kekuatan gesekan; 3) friksi;
4) kelembaban. Tekanan adalah factor paling krusial, dann ulkus ini secara tepat
disebut dengan luka tekanan. Ulkus dekubitus adalah kerusakan terlokalisasi di
kulit dan jaringan disebabkan oleh tekanan, geseran, atau gesekan, atau kombinasi
dari ketiganya.
Ulkus dekubitus biasanya disebut sebagai ulcer pressure yang terjadi
dikarenakan adanya tekanan yang lama sehingga menyebabkan terjadinya iskemik
bahkan nekrosis. Ulkus dekubitus didefinisikan sebagai daerah tekanan yang
terjadi secara terus-menerus yang biasanya didapatkan pada daerah kulit yang
menutupi tulang yang menonjol yang menyebabkan iskemia, kematian sel dan
nekrosis jaringan. Definisi ini telah disempurnakan oleh National Pressure Ulcer
Advisory Panel (NPUAP) dan European Pressure Ulcer Advisory Panel (EPUAP)
yaitu mengatakan dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung
terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan
eksternal dalam jangka waktu lama. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan
lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan. Jaringan memperoleh oksigen dan
nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang
mengganggu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara
mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi
jaringan.1
Masalah ulkus dekubitus menjadi problem yang cukup serius baik di
Negara maju maupun di Negara berkembang, karena mengakibatkan

12
meningkatnya biaya perawatan, memperlambat program rehabilitasi bagi
penderita, memperberat penyakit primer dan mengancam kehidupan pasien.3

3.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalensi ulkus dekubitus pada rumah sakit sekitar 17-25% dan dua dari
tiga pasien yang berusia 70 tahun atau lebih akan mengalami ulkus dekubitus.
Diantara pasien dengan kelainan neurologi, angka kejadian ulkus dekubitus setiap
tahun sekitar 5-8% dan ulkus dekubitus dinyatakan sebagai 7-8% penyebab
kematian pada paraplegia. Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit
akut mempunyai angka insiden ulkus dekubitus sebesar 2-11%. Namun, hal yang
perlu menjadi perhatian adalah angka kekambuhan pada penderita ulkus dekubitus
yang telah mengalami penyembuhan sangat tinggi yakni 90% walaupun
mendapatkan terapi medis dan bedah yang baik. Ulkus dekubitus dapat menjadi
sangat progresif dan sulit untuk disembuhkan. Komplikasi ulkus dekubitus sangat
sering dan mengancam kehidupan. Komplikasi ulkus dekubitus serius dan
tersering adalah infeksi. Hal ini harus dibedakan dengan infeksi yang memang
sudah terjadi sebelum terjadi ulkus.2
Dalam fasilitas perawatan jangka panjang, insiden ulkus dekubitus
dilaporkan adalah antara 2,2 % menjadi 23,9%. Dalam sebuah studi, di daerah
Turki ditemukan sebesar 59,2% angka kejadian ulkus dekubitus ini terjadi pada
pasien dirawat di unit perawatan intensif. Dua pertiga dari dekubitus terjadi pada
orang tua di atas 70 tahun. Mereka juga sering terjadi pada pasien muda dengan
gangguan neurologis. Di India, prevalensi ulkus dekubitus pada pasien rawat inap
telah dilaporkan 4,94%. Pada pasien cedera tulang belakang, ulkus dekubitus
terjadi di 30-85% pasien selama bulan pertama cedera. Pasien dengan ulkus
dekubitus memiliki tingkat kematian yang tinggi. Dalam sebuah studi melaporkan
angka kematian ulkus dekubitus mencapai 22% sampai 68,8% karena komplikasi
sistemik sekunder. Data ini menunjukkan bahwa adanya ulkus dekubitus
menghambat kualitas hidup dan pencegahan ulkus dekubitus adalah tujuan yang
penting.1

13
3.3 ETIOLOGI
Tekanan kapiler yang normal berkisar 16-33 mmHg di segmen yang
berbeda. Tekanan eksternal lebih dari 33 mmHg akan menyumbat pembuluh darah
sehingga jaringan di bawahnya dan sekitarnya menjadi anoxic dan jika tekanan
terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, maka kematian sel
akan terjadi yang akan mengakibatkan nekrosis jaringan lunak dan akhirnya
ulserasi. Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa tekanan yang berkepanjangan
adalah faktor utama terjadinya ulkus dekubitus.1
Telah terbukti bahwa ada hubungan antara tingkat tekanan dan durasi
tekanan. Dimana tekanan yang tinggi membutuhkan waktu yang lebih singkat
sementara tekanan terus menerus yang lebih rendah yang membutuhkan waktu
yang lebih lama untuk menyebabkan nekrosis jaringan dan tekanan ulserasi.
Tekanan yang tinggi untuk durasi waktu yang singkat tidak hanya dapat
menyebabkan nekrosis jaringan akibat penyumbatan pembuluh kapiler tetapi juga
menghasilkan efek tekanan pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan
trombosis, terutama pada pembuluh vena.1
Karena efek dari tekanan, perubahan degeneratif iskemik pada kulit, lemak
subkutan, otot dan fasia. Jika nekrosis subkutan terjadi, ulserasi akan tampak pada
gambaran klinis. Pada masing-masing daerah mempunyai variasi tekanan
tersendiri. Selama duduk, tekanan rata-rata di daerah ischia sekitar 100 mmHg.
Pada posisi terlentang tekanan pada daerah sacral sekitar 40-60 sedangkan saat
berbaring posisi lateral memerlukan tekanan sebesar 70-80 mm Hg di daerah
trochanters. Hal ini terjadi dikarenakan oleh karena adanya perbedaan dalam
jumlah jaringan lunak antara kulit dan penonjolan tulang.1

3.4 PATOFISIOLOGI
Banyak penelitian telah dilakukan untuk mempelajari bagaimana
terjadinya proses mekanisme nekrosis jaringan. Telah ditemukan bahwa banyak
faktor intrinsic dan ekstrinsik berdampak pada tingkat dan luasnya trauma
jaringan. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan ulkus dekubitus
dapat dilihat pada table dibawah ini.1

14
Table 3.1. Faktor intrinsic dan ekstrinsik yang mempengaruhi
perkembangan ulkus dekubitus
Serat kolagen dermal juga cenderung melindungi terhadap tekanan
eksternal. Demikian pula cairan interstitial yang dapat berperan sebagai
penyangga dan juga dapat untuk mempertahankan jaringan tekanan hidrostatik.1
3.4.1 Tekanan
Tekanan sama dengan berat badan / luas permukaan kulit. Dimana
efek tekanan berbanding lurus dengan berat badan dan durasi yang
diterapkan dan berbanding terbalik dengan luas permukaan kulit. Tekanan
tidak hanya ditentukan oleh berat badan tetapi ditentukan juga oleh
kekakuan dan komposisi jaringan. Sampai saat ini, besarnya tekanan
kapiler sehingga dapat membuat jaringan iskemia terjadi masih
dipertanyakan. Terlepas dari efek langsung tekanan yang menyebabkan
jaringan iskemi dan nekrosis, proses reperfusi ke kerusakan jaringan yang
telah terjadi inflamasi oleh makrofag juga berpartisipasi dalam penyebab
dari ulkus dekubitus.1,2
3.4.2 Shearing
Shearing ini merupakan faktor mekanik patologis penting dalam
terbentuknya ulkus dekubitus. Namun, peran dari shearing ini mungkin
tidak secara langsung menyebabkan trauma apapun untuk permukaan
kulit. Shearing menyebabkan kerusakan jaringan dengan cara yang

15
berbeda. Namun, kerusakan jaringan ini akan terjadi secara bersamaan
dengan adanya pengaruh dari tekanan. Pada dasarnya, sulit untuk
menciptakan suatu tekanan tanpa disertai dengan adanya faktor shearing
baik disertai kompresi maupun tanpa kompresi.1
3.4.3 Gesekan (Friction)
Gesekan yang terjadi antara kulit dan permukaan lain dapat
menyebabkan hilangnya lapisan startum korneum namun masih dalam
batas normal. Bila gesekan terjadi secara terus-menerus dan berulang
maka akan menyebabkan pelepasan lapisan stratum korneum lebih banyak
sehingga akan menimbulkan cedera pada kulit. Ketika terjadinya
pelepasan stratum korneum melebihi normal, maka akan lebih mudah
untuk meningkatkan infeksi. Jika pada jaringan telah terjadi iskemi dan
jaringan tersebut mulai terinfeksi maka akan mengakibatkan terjadinya
ulserasi yang lebih dalam.1
3.4.4 Kelembaban
Ini merupakan faktor ekstrinsik yang penting. Salah satu contoh
kelembaban ekstrinsik dapat berasal dari keringat, urin, feses yang dapat
menyebabkan terjadinya maserasi pada permukaan kulit. Kulit yang sudah
maserasi akan membentuk lepuh dan rentan terhadap kerusakan struktur
kulit. Kelembaban yang berlebihan pada permukaan kulit juga akan
melemahkan penghalang kulit dan membuatnya lebih rentan terhadap
tekanan, shearing dan gesekan. Hal inilah yang menjadi faktor utama
untuk terjadinya ulserasi.1
3.4.5 Posisi
Posisi pasien merupakan faktor ekstrinsik yang menentukan titik-
titik tekanan yang mungkin menyebabkan ulserasi. Perubahan postur
tubuh menghasilkan tekanan pada titik-titik anatomis yang berbeda dalam
tubuh membuat mereka rentan terhadap ulkus dekubitus.1

16
Gambar 3.1. Titik-titik tekanan pada saat posisi (a) duduk, (b) terlentang, (c)
lateral dan (d) prone posture

Gambar 3.2. Ulkus dekubitus di perbatasan lateral maleolus dan batas lateral
fibula akibat tekanan posisi lateral

17
Gambar 3.3. Ulkus dekubitus di bagian paha dan lutut selama akibat tekanan
posisi prone posture

3.4.6 Ketidakmampuan bergerak (Immobilitas)


Ini saling berhubungan dengan postur / posisi pasien. Normalnya,
setiap individu saat tidur secara berkala akan mengubah posisi tidurnya
dikarenakan adanya sistem umpan balik sensorimotor. Sistem umpan balik
ini akan terganggu pada pasien-pasien dengan gangguan neurologis dan
pada pasien dengan pengaruh anestesi yang berkepanjangan sehingga
tubuh gagal untuk melakukan penyesuaian postural dalam menanggapi
proses tekanan yang berkepanjangan. Pasien-pasien yang menjalani
operasi yang berkepanjangan lebih dari 4 jam memiliki yang lebih tinggi
terkena ulkus dekubitus.1
3.4.7 Faktor neurologis
Hilangnya persepsi sensorik atau tingkat gangguan kesadaran
menyebabkan hilangnya persepsi rasa nyeri dan proses untuk menghindar
dari rasa nyeri akibat faktor tekanan. Kondisi neurologis yang
menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan motorik merupakan salah satu
contoh keadaan yang tidak mampu untuk merubah postur ketika tekanan

18
diberikan. Namun, pada keadaan poliomyelitis kurang rentan terhadap
ulserasi akibat tekanan, hal ini menunjukkan bahwa gangguan sensorik
merupakan faktor yang lebih penting.1
3.4.8 Metabolik dan faktor gizi
Gizi yang cukup merupakan faktor penting dalam pencegahan
ulkus dekubitus. Pasien dengan ulkus dekubitus atau pada pasien-pasien
yang rentan terhadap terjadinya ulkus dekubitus harus memiliki asupan
kalori sebanyak 30-35 kkal/kg/hari dengan 1,25-1,5 gram protein/kg/hari.
Suplemen khusus dengan vitamin C, seng dan elemen lainnya perlu dinilai
secara berkala pada pasien-pasien yang memiliki kerentanan tinggi.1

Gambar 3.4. Ulkus dekubitus di regio sacral pada pasien dengan luka bakar
seluas 60% dari seluruh permukaan tubuh.

Hemoglobin merupakan indikator yang penting dikarenakan


hemoglobin diperlukan untuk oksigenasi jaringan. Pada pasien dengan
anemia, kapasitas membawa oksigen didalam darah berkurang dan oleh
karenanya terjadi adanya penurunan pasokan oksigen ke jaringan. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan di jaringan iskemik karena
tekanan mekanik. Oleh karena itu, pasien gizi baik dengan hemoglobin
yang baik akan dapat mentolerir efek buruk dari efek tekanan

19
dibandingkan dengan pasien dengan gizi yang kurang disertai dengan
anemia.1
3.4.9 Edema
Sebuah jaringan yang edematous memiliki gangguan sirkulasi dan
kebutuhan nutrisi yang kurang. Peningkatan cairan didalam suatu jaringan
juga dapat mengakibatkan menurunnya oksigenasi ke jaringan sehingga
membuat keadaan yang rentan terhadap ulserasi.1

3.5 FAKTOR RESIKO


Faktor resiko untuk ulkus dekubitus antara lain termasuk usia lanjut, ras
kulit hitam atau etnis Hispanik, berat badan rendah, gangguan kognitif, gangguan
fisik dan kondisi komorbiditas lain yang mempengaruhi integritas jaringan lunak
dan penyembuhan, seperti inkontinensia, diabetes, edema, gangguan sirkulasi
mikro, hipoalbuminemia, dan malnutrisi. Strategi pencegahan untuk ulkus
dekubitus adalah dimulai dengan identifikasi dari orang yang beresiko tinggi.
Banyak intervensi dirancang untuk mencegah ulkus dekubitus dan mengurangi
gesekan dan shearing, dan kategori-kategori yang menjadi permukaannya
meliputi kasur, bantal dan lain sebagainya. Penelitian telah menunjukkan bahwa
pencegahan ulkus dekubitus yang terjadi selama rawatan di rumah sakit lebih
efektif daripada perawatan standar biasa.4
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya kejadian
terjadinya ulkus dekubitus adalah sebagai berikut:5
1. Tidur lama
2. Usia tua (> 75 tahun)
3. Tidak dapat menggerakkan tubuh atau bagian tubuh tanpa bantuan
4. Kondisi kronis, seperti diabetes atau penyakit pembuluh darah, yang
mempengaruhi sirkulasi darah
5. Kecacatan mental dari kondisi seperti penyakit Alzheimer
6. Kulit Fragile
7. Inkotinensia
8. Malnutrisi

20
Dalam pedoman pencegahan ulkus dekubitus internasional, lembaga
National Pressure Ulcer Advisory Panel (NPUAP) dan European Pressure Ulcer
Advisory Panel (EPUAP) telah merekomendasikan untuk menggunakan
pendekatan terstruktur untuk penilaian yang berfungsi untuk mengidentifikasi
individu yang be terjadinya ulkus dekubitus. Salah satu penilaian yang paling
banyak digunakan di seluruh dunia adalah Skala Braden untuk memprediksi
Pressure Sore Risk yang dikembangkan oleh Barbara Braden dan Nancy
Bergstrom pada tahun 1988.5
3.5.1 Skala Norton
Skala Norton tidak mempertimbangkan faktor gizi, shearing dan
tidak memiliki definisi fungsional parameter yang diterapkan. Skala
Norton yang telah dimodifikasi menambahkan beberapa faktor diantara
lain adalah sebagai berikut. 4
1. Diabetes
2. Hipertensi
3. Hematokrit - pada laki-laki <41%, pada wanita <36%
4. Hemoglobin - pada laki-laki <14gm%; pada wanita <12gm%
5. Tingkat serum albumin <3,3 gm%
6. Demam - suhu> 99,6 ° F
7. Perubahan kondisi mental dalam waktu 24 jam
3.5.2 Skala Waterlow
Skala Waterlow dirancang oleh Judy Waterlow pada tahun 1987.
Skala Waterlow memiliki faktor penilaian tambahan yang membuatnya
menjadi lebih kompleks.
3.5.3 Skala Braden
Skala penilaian resiko ini telah dirancang oleh Bergstrom pada
tahun 1987. Skala Barden ini adalah alat skoring yang sistem penilaiannya
berbeda dengan skala Norton dan juga Waterlow. Pada skala Braden
menyimpulkan bahwa semakin rendah skor, semakin besar risiko
terjadinya ulkus.

21
3.6 KLASIFIKASI
Menurut NPUAP / EPUAP ulkus dekubitus dikelompokkan menjadi 6
kelompok antara lain adalah sebagai berikut.
1. Derajat I: Eritema
Pada keadaan ini kulit masih dalam keadaan utuh namun disertai dengan
daerah yang eritematous. Daerah yang eritematous ini berbatas tegas dapat
disertai dengan rasa hangat atau dingin dibandingkan dengan keadaan
disekitarnya. Pada kondisi pasien ulkus dekubitus derajat I mungkin sedikit
sulit untuk dideteksi pada pasien-pasien yang berkulit gelap.6

Gambar 3.5. Ulkus dekubitus Derajat I


2. Derajat II: Hilangnya sebagian ketebalan kulit
Hilangnya sebagian ketebalan dari lapisan dermis menggambarkan suatu
ulkus dekubitus yang mulai terbuka dengan dasar yang dangkal dan pinggiran
luka dapat berwarna merah atau merah muda. Keadaan lain dapat disertai
dengan abrasi dan lecet.6

22
Gambar 3.6. Ulkus dekubitus Derajat II
3. Derajat III: Hilangnya seluruh ketebalan kulit
Pada derajat ini hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan
subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar kebawah tapi tidak
melewati fascia yang berada di bawahnya. Luka secara klinis terlihat seperti
lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. Namun
pada lokasi-lokasi tertentu seperti hidung, telinga, tengkuk dan maleolus tidak
memiliki jaringan subkutan dan bila terbentuknya ulkus atau ulserasi dengan
derajat III dasar luka bersifat dangkal. Sebaliknya, pada lokasi-lokasi dengan
kandungan jaringan subkutan yang banyak dapat membentuk dasar luka yang
lebih dalam namun tulang atau tendon tidak terlihat atau tidak teraba secara
langsung.6

Gambar 3.7. Ulkus dekubitus derajat III

23
4. Derajat IV: Hilangnya keseluruhan kulit dan
jaringan
Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif, nekrosis
jaringan; atau kerusakan otot, tulang, atau struktur penyangga misalnya
kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot dan kapsul sendi.
Kedalaman luka ulserasi atau ulkus pada derajat IV bervariasi berdasarkan
lokasi anatomi yang dapat memperdalam luka sampai ke dalam otot dan / atau
struktur pendukung (misalnya, fascia, tendon atau kapsul sendi) sehingga
dapat mengakibatkan kemungkinan osteomyelitis. Pada derajat IV ini tulang
atau tendon dapat terlihat atau langsung teraba.6

Gambar 3.8. Ulkus dekubitus derajat IV


5. Unstageable
Pada klasifikasi ini ditemukan hilangnya seluruh jaringan yang mana dasar
ulkus ditutupi oleh slough (kuning, cokelat, abu-abu, hijau atau coklat) dan /
atau eschar atau jaringan nekrotik (cokelat, cokelat atau hitam) di sekitar luka.
Dikatakan klasifikasi yang unstageable oleh karena luka ditutupi oleh sloughd
dan eschar yang sehingga tidak dapat menilai bagaimana dasar luka dan
kedalaman lukanya.6

24
Gambar 3.9. Ulkus dekubitus unstageable
6. Suspected deep tissue injury
Pada daerah sekitar luka dapat ditemukan adanya perubahan warna berupa
ungu atau merah marun dari kulit yang utuh dikarenakan adanya kerusakan
jaringan lunak yang mendasari dari tekanan.6

Gambar 3.10. Ulkus dekubitus suspected deep tissue injury

3.7 KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada ulkus dekubitus yaitu komplikasi non
infeksius dan infeksi sistemik. Komplikasi non infeksi termasuk amiloidosis,
pembentukan tulang heterotopik, fistula perineal-uretral, pseudoaneurisma, ulkus
Marjolin dan komplikasi sistemik pengobatan topikal. Infeksi sistemik termasuk
bakteremia dan sepsis, selulitis, endokarditis, meningitis, osteomielitis, arthritis
septik, dan terbentuknya sinus atau abses. Komplikasi tersering yang terjadi pada
pasien dengan ulkus dekubitus adalah terjadinya infeksi pada daerah luka yang

25
diakibatkan karena perawatan luka yang tidak adekuat. Semua luka mengandung
bakteri yang dapat menyebabkan suatu keadaan infeksi. Tanda-tanda suatu luka
menggambarkan suatu keadaan infeksi adalah sebagai berikut:6
1. Bau
2. Peningkatan eksudat
3. Jaringan granulasi
4. Peningkatan rasa sakit

Gambar 3.11. Ulkus dekubitus dengan eksudat

3.8 PENATALAKSANAAN
Meskipun ada sejumlah dressing dan perawatan baru yang tersedia untuk
manajemen tekanan ulkus, tidak ada yang terbukti memiliki manfaat yang
signifikan dibanding yang lain. Prinsip-prinsip dasar mempertahankan luka bersih
dan perfusi baik tetap menjadi keunggulan terapi.
Staphylococcus aureus dan Klebsiella adalah spesies yang paling banyak
ditemukan sebagai penyebab infeksi pada luka. Namun, pada ulkus yang bersifat
kronis specimen yang paling mungkin menyebabkan infeksi adalah
Staphylococcus aureus, Streptokokus atau Pseudomonas aeruginosa sebagai
organisme yang menyerang jaringan sehingga berpotensi untu merusak dan
mematikan jaringan tersebut.7
3.8.1 Mengurangi tekanan
Langkah pertama dalam manajemen adalah mengurangi tekanan
dari tempat luka. Untuk pasien yang terbaring di tempat tidur, ini berarti

26
kepatuhan yang ketat untuk reposisi pasien secara teratur. Selain onlay dan
bantalan biasa, beberapa pasien mungkin memerlukan tempat tidur khusus
untuk membantu mengurangi tekanan. Ranjang ini biasanya menggunakan
udara untuk terus menggeser titik-titik tekanan melalui berbagai
pendekatan. Bahkan dengan tempat tidur ini, pasien masih perlu direposisi
secara teratur. Pasien yang terikat kursi roda mungkin perlu memiliki
mobilitas terbatas untuk memungkinkan penyembuhan. 13
3.8.2 Pengendalian infeksi
Bagian penting dari evaluasi awal dari tekanan ulkus adalah untuk
menentukan apakah ada bukti infeksi yang tidak diobati secara memadai.
Ulkus dekubitus harus diperiksa keadaan sekitarnya eritema atau fluktuasi.
Kehadiran krepitus dinilai dengan cepat untuk kemungkinan infeksi
jaringan lunak necrotizing. Beberapa ahli bedah memilih untuk mengobati
luka awalnya dengan antiseptik yang diaplikasikan secara lokal, termasuk
povidone iodine, silver sulfadiazine, hidrogen peroksida, atau larutan
Dakin (sodium hypochlorite). Teorinya adalah bahwa agen topikal ini
berfungsi untuk membunuh bakteri dalam ulkus dekubitus untuk
memungkinkan penyembuhan yang lebih baik. Jika solusi ini digunakan,
mereka hanya harus digunakan dalam jangka pendek karena mereka juga
dapat menghambat penyembuhan luka dalam jangka panjang melalui efek
sitotoksiknya. Antibiotik intravena hanya boleh digunakan pada pasien
dengan selulitis signifikan, atau tanda dan gejala infeksi sistemik, dan
harus dihentikan setelah tanda-tanda itu membaik. Ulkus dekubitus bersih,
bahkan dengan beberapa debris nekrotik, tidak memerlukan antibiotik
intravena. Saat ini, sebagian besar protokol pengobatan akan
merekomendasikan penggunaan antibiotik intravena ketika ada bukti
osteomielitis. Umumnya, osteomielitis memerlukan debridemen tulang
yang terinfeksi. Antibiotik topikal memiliki sedikit peran dalam
penatalaksanaan ulkus dekubitus. 13

27
Table 3.2. Dressing yang dapat diberikan dalam managemen luka ulkus dekubitus
dengan keuntungan, kerugian, dan penggunaan yang ideal

3.8.3 Debridemen
Debridemen jaringan devitalized dan biofilm dan drainase abses
diperlukan dalam pengobatan ulkus dekubitus. Dalam kasus di mana ada
sejumlah besar jaringan nekrotik, melakukan debridemen awal di ruang
operasi untuk prosedur yang lebih pasti. Debridemen selanjutnya
kemudian lebih mudah dikelola di samping tempat tidur. Ada kasus di
mana tidak perlu dilakukan debridemen yang signifikan atau tidak boleh
dilakukan. Jika ada eschar kering tanpa purulensi atau fluktuasi, dan
eritema minimal, eschar dapat ditinggalkan di tempatnya. Jika ada sedikit
jaringan subkutan di bawah eschar, seperti dalam kasus tumit, debridemen
harus dilakukan dengan hati-hati. Ketika melakukan debridemen bedah,
jaringan harus direseksi hingga jaringan perdarahan sehat ditemukan.
Setelah presentasi awal, debridemen berulang sering diperlukan karena
tingkat nekrosis sulit untuk dinilai. 13
Pendekatan lain untuk melakukan debridemen mekanis termasuk
penggunaan energi akustik dalam bentuk ultrasound. Ultrasound frekuensi
rendah telah digunakan untuk mengurangi bioburden dari luka dan terbukti
mempercepat penyembuhan ulkus dekubitus. Hidroterapi, termasuk
pusaran air, lavage pulsasi, dan terapi getaran kadang-kadang digunakan
untuk debridemen tekanan ulkus. Ada produk tambahan yang melakukan
autolytic atau debridemen enzimatik dari waktu ke waktu ketika tidak ada

28
kebutuhan mendesak untuk debridement. Dalam kasus di mana pasien
tidak dapat mentoleransi debridement bedah, ada pilihan untuk menjalani
debustrasi belatung medis, di mana belatung mengangkat jaringan mati,
memungkinkan luka untuk sembuh. 13 Tujuan dari semua pendekatan ini
adalah untuk membuat dasar dari jaringan yang tergranulasi dengan baik
di seluruh rongga ulkus. Ulkus kecil berbutir halus dapat sembuh dengan
re-epitelisasi, sementara cangkok kulit atau flap bedah mungkin
diperlukan pada ulkus yang lebih besar. 13
3.8.4 Dressing dan agen topical
Dressing harus dipilih tergantung pada luka yang dirawat. Perlu
dicatat bahwa tidak ada dressing yang dijelaskan di bawah ini telah
terbukti memiliki keunggulan, dan pilihan dressing harus bergantung pada
jenis luka yang dirawat. Hal-hal yang harus dipertimbangkan termasuk
ukuran, kedalaman, bentuk dan lokasi luka , kehadiran dan volume
eksudat, kehadiran tunneling dan jaringan melemahkan, jenis jaringan di
tempat tidur luka, dan kondisi kulit di sekitarnya. Kulit di sekitar ulkus
harus dilindungi dari kelembaban dan gesekan yang berlebihan untuk
mencegah kerusakan.

Gambar 3.12. Algoritma untuk bantuan dalam memilih kelas dressing yang tepat
untuk manajemen ulkus dekubitus. * Dressing kasa dapat digunakan jika opsi
terbatas yang tersedia membutuhkan perubahan rias yang lebih sering.
3.8.5 Kontrol kontaminasi

29
Setiap ulkus dekubitus terbuka terkontaminasi dengan flora
lingkungan. Namun, penting untuk mencegah kontaminasi tambahan jika
lukanya dekat aliran tinja seperti pada ulkus dekubitus iskia atau sakral.
Perhatian tambahan adalah bahwa tinja dan urin dapat menyebabkan iritasi
pada kulit, menyebabkan kerusakan kulit lebih lanjut dan perluasan ulkus.
Karena sejumlah besar pasien dengan ulkus dekubitus tidak mengompol
pada usus dan kandung kemih, penting untuk mempertimbangkan
bagaimana menangani hal ini. Paling tidak, pasien-pasien ini memerlukan
sering mengganti popok mereka untuk meminimalkan kontak kulit dengan
urin dan tinja. Pertimbangan harus diberikan untuk penempatan kateter
urin dengan pemahaman bahwa ketidaknyamanan dan komplikasi,
termasuk infeksi saluran kemih. Tabung rektum dapat digunakan tetapi
jarang berguna karena tinja padat. Pengalihan aliran tinja melalui
penempatan bedah kolostomi dapat dilakukan pada kasus-kasus di mana
dirasakan perlu untuk memungkinkan penyembuhan yang tepat. Setiap
diskusi tentang pengalihan feses harus mencakup pertimbangan
kemungkinan bahwa kolostomi akan menjadi permanen. Banyak pasien
yang mengalami ulkus dekubitus sakral dan iskia yang parah mengalami
inkontinensia atau membutuhkan program usus karena kondisi yang
mendasari seperti demensia atau cedera sumsum tulang belakang. Pada
pasien ini, memiliki kolostomi permanen sebenarnya dapat bermanfaat
dalam perawatan jangka panjang mereka.13
3.8.6 Pengoptimalan pasien
Selain pengobatan dari tekanan ulkus itu sendiri, penting juga
untuk merawat pasien secara keseluruhan. Langkah-langkah fisik untuk
menghilangkan tekanan sudah dijelaskan. Hiperglikemia akan
menghambat penyembuhan luka dan penderita diabetes harus diperlakukan
secara agresif untuk mempertahankan kontrol glikemik. Sistem kekebalan
tubuh telah terbukti memiliki peran penting dalam penyembuhan luka dan
imunosupresi akan memperlambat penyembuhan. Perhatian harus
diarahkan ke terapi apa pun yang dapat menyebabkan imunosupresi, dan

30
obat-obat ini harus dioptimalkan untuk menyediakan terapi yang tepat
tanpa imunosupresi berlebihan. Penyembuhan luka yang tepat
membutuhkan suplai darah yang cukup. Untuk setiap ulkus dekubitus di
ekstremitas, perfusi harus dinilai dan pembedahan vaskular
dikonsultasikan jika ditentukan tidak memadai untuk mendukung
penyembuhan yang tepat. Akhirnya, kami akan menekankan sekali lagi
kebutuhan untuk menyediakan nutrisi yang adekuat. Penilaian berkala
nutrisi yang memadai harus dilakukan dengan memeriksa penanda serum
nutrisi seperti albumin dan prealbumin. Asupan makanan harus
disesuaikan untuk memastikan pasien dalam keseimbangan nitrogen
positif.13
3.8.7 Bedah untuk rekonstruksi
Meskipun sebagian besar borok tekanan akan sembuh setelah
debridemen dan perawatan konservatif yang diuraikan di atas, kadang-
kadang pembedahan akan memungkinkan resolusi ulkus yang lebih cepat.
Perlu dicatat bahwa pasien dengan luka penyembuhan yang buruk
pertama-tama harus dinilai mengapa luka tidak menutup karena faktor-
faktor yang sama dapat berisiko kegagalan rekonstruksi bedah. Ada
berbagai teknik yang tersedia mulai dari cangkok kulit yang sederhana
hingga pedicled atau, jarang, lipatan mikrovaskuler untuk cakupan.
Kandidat yang tepat untuk rekonstruksi bedah memiliki luka yang tanpa
purulensi, bergranulasi dengan baik dan terlindung dengan baik dari tanah.
Pasien harus diberi nutrisi yang cukup karena dinilai oleh keseimbangan
nitrogen, albumin, dan prealbumin, dan tanpa masalah medis akut yang
terpisah dari luka. Masalah-masalah intrinsik yang dapat menunda
penyembuhan harus dioptimalkan, yaitu gula darah yang terkontrol baik
pada penderita diabetes. Pada pasien yang tepat, rekonstruksi akan
mempercepat penyembuhan. Flap jaringan lokal komposit paling sering
digunakan untuk memberikan perlindungan dan perfusi jaringan yang
memadai. Ada banyak sekali pendekatan untuk cakupan jaringan dan
rencana untuk setiap pasien harus individual. Transfer jaringan

31
mikrovaskuler jarang digunakan tetapi diindikasikan ketika pilihan lokal
untuk membuat flap habis. Di antara indikasi untuk menggunakan
rekonstruksi bedah adalah luka yang sangat besar, luka dengan organ dan
pembuluh terbuka, luka kronis yang tidak sembuh, dan luka dengan
osteomyelitis. Tulang yang terinfeksi secara kronis tidak akan
memungkinkan penyembuhan yang tepat dari jaringan di atasnya.
Antibiotik berkepanjangan sering tidak memadai dalam menyembuhkan
infeksi. Pendekatan bedah untuk menyembuhkan ulkus membutuhkan
debridemen tulang yang terinfeksi dan penempatan flap yang
tervaskularisasi baik untuk menutupi area tersebut dapat memungkinkan
infeksi untuk disembuhkan.
3.8.8 Maggots Debridement Therapy
Debridemen maggot telah digunakan pada berbagai jenis masalah
luka seperti ulkus dekubitus, ulkus vena kaki, penyakit arteri perifer, dan
luka bedah akut sebagai perawatan dan sebagai persiapan untuk penutupan
luka bedah. Terapi debridemen maggot telah digunakan untuk pasien rawat
jalan dan rawat inap dan dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan antara
67% dan 88% . Dalam sebuah penelitian tentang ulkus dekubitus, MDT
menunjukkan tingkat keberhasilan 80% dibandingkan dengan 48% ketika
menggunakan debridement konvensional. Pasien ulkus kaki diabetik
merupakan indikasi utama untuk MDT, dan beberapa studi banding telah
dipublikasikan.11
Maggot dapat mencegah, menghambat, dan memecah biofilm
berbagai bakteri pada bahan prostetik yang umum digunakan, dan dengan
demikian, mungkin di masa depan memberikan pengobatan baru dari
biofilm-terkait infeksi biomaterial ortopedi. Sebaliknya, efek antimikroba
tampaknya terbatas terhadap biofilm pseudomonas. Jenis belatung yang
digunakan dalam MDT adalah Lucilia sericata, yang tindakannya terbatas
pada luka nekrotik dan yang menghindarkan jaringan sehat. 11
Tidak ada efek samping yang parah yang dilaporkan pada MDT.
Kadang-kadang ada perasaan menggelitik dari gigitan maggot. MDT dapat

32
digunakan untuk luka akut dan kronis yang membutuhkan debridemen.
Dalam literatur, tingkat keberhasilan yang dilaporkan bervariasi dari 80%
hingga 90% .32 Indikasi klinis yang relevan adalah DFU, ulkus kaki
iskemik, osteomielitis, luka bakar, sebagai perawatan pasca operasi untuk
necrotizing fasciitis atau untuk pencegahan amputasi (lebih lanjut). Pada
ulkus vena kaki, bagaimanapun, belatung tampaknya memiliki efek
terbatas. Terapi debridemen maggot merupakan kontraindikasi ketika ada
luka terbuka ke dalam rongga perut, karena risiko lesi organ.
Kontraindikasi lainnya adalah pyoderma gangrenosum pada pasien dengan
terapi imunosupresif dan septic arthritis. 12

3.9 PENCEGAHAN
3.9.1 Meminimalkan / Menghilangkan Gesekan8
1. Angkat tubuh dari tempat tidur/kursi bukan menyeret pasien untuk
memindahkan dari tempat tidur/kursi
2. Hindari mengangkat kepala tempat tidur lebih dari 30 derajat kecuali
kontraindikasi
3. Sering menggunakan minyak pelumas, krim atau lotion yang
menurunkan tegangan permukaan pada kulit dan mengurangi gesekan
4. Lindungi kulit dari kelembaban. Kelembaban yang berlebihan
melemahkan integritas kulit dan menghancurkan bagian luar lapisan
lipid.
3.9.2 Menjaga Kelembaban
Pengelolaan air dari keringat, drainase dan inkontinensia
merupakan factor penting dalam pencegahan ulkus dekubitus.
Inkontinensia alvi merupakan factor risiko yang lebih besar untuk
pengembangan ulkus dekubitus daripada inkontinensia urin karena tinja
mengandung bakteri dan enzim yang kaustik pada kulit. Diantara kedua
inkontinensia urin dan inkotinensia alvi, enzim fecal akan mengkonversi
urea menjadi ammonia yang pada akhirnya akan meningkatkan pH kulit.

33
Dengan pH kulit lebih basa, kulit menjadi lebih permeabel untuk terjadi
iritasi lainnya.8
3.9.3 Menjaga Nutrisi yang Memadai / Hydration
Nutrisi yang tidak memadai dapat menjadi faktor risiko reversibel
untuk ulserasi. Setiap individu yang beresiko akan kurangnya asupan
nutrisi harus dilakukan skrining untuk memastikan status gizi di fasilitas.
Sebuah alat yang valid dan dapat diandalkan, seperti Malnutrition
Screening Tool (MST) atau Short Nutritional Assessment Questionnaire
(SNAQ).8
3.10 PROGNOSIS
Banyak faktor yang berperan dalam prognosis ulkus dekubitus. Faktor-
faktor ini adalah usia, ukuran dan derajat ulkus dekubitus, keadaan nutrisi dan
penyakit kronis yang diderita pasien.13

34
BAB IV
KESIMPULAN

Ulkus dekubitus didefinisikan sebagai daerah tekanan yang terjadi secara


terus-menerus yang biasanya didapatkan pada daerah kulit yang menutupi tulang
yang menonjol yang menyebabkan iskemia, kematian sel dan nekrosis jaringan.
Faktor resiko untuk ulkus dekubitus antara lain termasuk usia lanjut, ras kulit
hitam atau etnis Hispanik, berat badan rendah, gangguan kognitif, gangguan fisik
dan kondisi komorbiditas lain yang mempengaruhi integritas jaringan lunak dan
penyembuhan, seperti inkontinensia, diabetes, edema, gangguan sirkulasi mikro,
hipoalbuminemia, dan malnutrisi.
Menurut NPUAP / EPUAP ulkus dekubitus dikelompokkan menjadi 6
kelompok antara lain: ulkus dekubitus derajat I; ulkus dekubitus derajat II; ulkus
dekubitus derajat IV, unstageable, dan suspected deep tissue injury.
Komplikasi tersering yang terjadi pada pasien dengan ulkus dekubitus
adalah terjadinya infeksi pada daerah luka yang diakibatkan karena perawatan
luka yang tidak adekuat. Semua luka mengandung bakteri yang dapat
menyebabkan suati keadaan infeksi.
Prinsip-prinsip dasar dalam penatalaksanaan luka dekubitus yaitu dengan
mempertahankan luka bersih dan perfusi baik. Penatalaksanaan tersebut
diantaranya mengurangi tekanan, pengendalian infeksi, debridement, dressing dan
agen topical, kontrol kontaminasi, pengoptimalan pasien, bedah untuk
rekonstruksi, serta maggots debridement therapy juga dapat menjadi pilihan.
Banyak faktor yang berperan dalam prognosis ulkus dekubitus. Faktor-
faktor ini adalah usia, ukuran dan derajat ulkus dekubitus, keadaan nutrisi dan
penyakit kronis yang diderita pasien.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Agrawal K, Chauhan N. Pressure ulcers: Back to the basics. Indian Journal


of Plastic Surgery : Official Publication of the Association of Plastic
Surgeons of India. 2012;45(2):244-254.

2. Kirman CN, Geibel J. Pressure Injuries (Pressure Ulcer) and Wound Care.
Emedicine.medscape.com. updated: 11 juni 2018.

3. Hastuti S, Nosi H, Bahar B. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan


Kejadian Dekubitus pada Pasien di Ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit
Ibnu Sina Makassar. Jurnal UNHAS. 2013;5(2):39-45.

4. Qaseem A, Mir TP, Starkey M, Denberg TD. Risk Assessment and Prevention
of Pressure Ulcers: A Clinical Practice Guideline From the American College
of Physicians. American College of Physicians: Annals of Internal Medicine.
2015;162(5):359-69.

5. European Pressure Ulcer Advisory Panel & National Pressure Ulcer Advisory
Panel. Prevention of Pressure Ulcers: Quick Reference Guide. National
Pressure Ulcer Advisory Panel, Washington DC. 2010.

6. National Pressure Ulcer Advisory Panel, European Pressure Ulcer Advisory


Panel and Pan Pacific Pressure Injury Alliance. Prevention and Treatment of
Pressure Ulcers: Quick Reference Guide. Emily Haesler (Ed.). Cambridge
Media: Perth, Australia; 2014.

7. Onigbinde AT, Olafimihan KF, Ojoawo A, Mothabeng J, Ogundiran OO.


Management of Decubitus Ulcer using Gentamycin Sulphate Iontophoresis -
A Case Study. The Internet Journal of Allied Health Sciences and
Practice.2011;9(1):1-4.

8. Perry D, Borchert K, Burke S, Chick K, Johnson K, Kraft W, et al. Health


Care Protocol: Pressure Ulcer Prevention and Treatment Protocol. Institute
for Clinical Systems Improvement. 2012.

9. Gottrup F, Jorgensen B. Maggot Debridement: An Alternative Method for


Debridement. Open acces Journal of plastic surgery. 2011: 11: 290-302.

10. Wolff H, Hansson C. Larval therapy: An Effective Method for Ulcer


Debridement. Clin Exp Dermatol.2003;28:134-7.

11. Tatiana VB, Michael TL,George PY. Review of the Current Management of
Pressure Ulcers. Advances in Wound Care. 2018: volume 7, number 2.

36