Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS PRODUKTIVITAS THRU-TUBING SANDSCREEN

PADA SUMUR O, LAPANGAN D


Oleh : Putu Dede Udayana Laksmana Putra
Pembimbing : Prof. Dr.Ir. Sudjati Rachmat, DEA
Ir. Aries Prasetyo, M.T.

Sari

Sumur O merupakan salah satu sumur pada Lapangan D yang sesaat setelah diproduksikan mengalami masalah kepasiran. Pasir
mulai muncul saat laju alir gas pada Sumur O meningkat dari 1020 Mscf/d menjadi 1120 Mscf/d berdasarkan data tes produksi.
Berdasarkan hal tersebut, maka penanganan masalah kepasiran perlu dilakukan.

Berdasarkan hasil perhitungan dan memerhatikan beberapa indikator seperti particle size distribution, maka diputuskan untuk
memasang sandscreen pada Sumur O sebagai solusi penanggulangan masalah kepasiran. Sandscreen yang digunakan berjenis
shrouded-metal mesh screen. Karena Zona P-21 merupakan zona loss, maka pemasangan sandscreen dilakukan secara thru-
tubing dengan menggunakan slickline tool. Selain, melakukan penanggulangan terhadap masalah kepasiran, analisis terhadap
produktivitas Sumur O setelah pemasangan sandscreen juga dilakukan dengan acuan yang digunakan adalah kondisi sesaat
setelah masalah kepasiran mulai muncul. Dari hasil analisis didapatkan hasil setelah pemasangan sandscreen dilakukan, maka
laju alir pada Sumur O yang semula 1131 Mscf/d akan berubah menjadi 1119 Mscf/d atau berbeda 1,06% dan Sumur O dapat
tetap berproduksi sampai tahun 2021.

Kata Kunci : masalah kepasiran, produksi, sandscreen, slickline tool, thru-tubing

Abstract

Well O is one of well in Field D were having sand problem shortly after being produced. Sand start produced when gas rate in
Well O was increased from 1020 Mscf/d to 1120 Mscf/d based on production test data. Based on that problem, sand control
should be done.

Based on calculation and some indicators such as particle size distribution, then it was decided to install sandscreen in Well O
as solution for sand problem. Shrouded-metal mesh screen was chosen for the sandscreen. Cause Zone P-21 is loss zone, so the
sandscreen installation is done thru-tubing by using slickline tool. In addition to prevent sand problem, productivity analysis of
Well O after sandscsreen installation also carried out with condition shortly after sand produced as a reference. From analysis
result, the gas rate after sandscreen installation has changed into 1119 Mscf/d or it has difference about 1.06% and Well O can
produce until 2021.

Keywords : production, sandscreen, sand problem, slickline tool, thru-tubing

I. PENDAHULUAN dan kimiawi). Pemilihan metode ini dilakukan dengan


mempertimbangkan hal-hal seperti kerakteristik dari
Masalah kepasiran atau sand problem merupakan salah formasi, konfigurasi sumur dan komplesi, dan
satu permasalahan yang sering ditemui dalam proses pertimbangan keekonomian.
produksi suatu sumur. Fenomena ini merupakan suatu
kondisi dimana terdapat pasir yang ikut terproduksi dan Sumur O yang terdapat di Lapangan D merupakan salah
terbawa ke permukaan bersamaan dengan hidrokarbon satu sumur yang mengalami masalah kepasiran.
yang diproduksikan. Hal ini timbul karena terjadi kerusakan Permasalahan ini mulai muncul ketika dilakukan
pada kestabilan ikatan butir-butir batu pasir (sandstone) perubahan sistem tekanan di separator dari medium
yang diakibatkan oleh beberapa faktor seperti peningkatan pressure ke low pressure.
laju produksi sumur, penurunan tekanan formasi dan
peningkatan produksi air. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini
adalah :
Dalam mengatasi permasalahan tersebut, para peneliti a. Mengetahui particle size distribution dari sample pasir
dan engineer telah membuat suatu metode yang dikenal yang terproduksikan.
dengan sand control. Sand control adalah metode atau b. Menentukan ukuran mesh yang digunakan.
teknik yang diterapkan untuk mencegah terjadinya c. Menentukan jenis screen dan spesifikasi yang cocok
pergerakan pasir di formasi menuju ke wellbore atau untuk Sumur O.
daerah dekat wellbore. Metode sand control dapat d. Menganalisa produktivitas sumur sebelum dan setelah
dilakukan secara mekanikal (mechanical), kimiawi sand screen dipasang.
(chemical) dan kombinasi (menggunakan cara mekanikal

1
e. Menentukan well intervention yang digunakan saat atau well sorted. Persentil ukuran sampel grain dan nilai Uc
proses instalasi screen. dan Sc sampel grain ditabulasikan pada Tabel 4.1 dan Tabel
f. Mengestimasikan waktu potensial terbentuknya 4.2 berikut.
plugging akibat pasir yang tersaring oleh sandscreen.
Tabel 4.1 Persentil Ukuran Sampel Grain
Penentuan desain sandscreen ditentukan berdasarkan
Ukuran Ukuran
sampel pasir yang terproduksikan. Sedangkan analisis Persentil
(Micron) (φ)
produksi dibatasi pada kondisi tekanan separator tetap
(260 psig).
d5 267,94 1,9

II. METODOLOGI PENELITIAN d10 233,26 2,1


Metodologi dalam penelitian ini terbagi kedalam lima d40 157,13 2,67
bagian dimulai dengan analisis particle size distribution d50 151,77 2,72
(PSD), dilanjutkan dengan penentuan desain sandscreen
d90 101.53 3,3
berdasarkan sampel pasir terproduksi, analisis
produktivitas sumur sebelum dan setelah pemasangan d95 88,39 3,5
sandscreen, penentuan well-intervention dan terakhir
analisis terhadap waktu potensial terbentuknya plugging. Tabel 4.2 Nilai Uc Dan Sc Sampel Grain
Parameter Koefisien Kategori
III. DATA PENELITIAN Uc 1,55 Uniform
Sumur O merupakan salah satu sumur di Lapangan D. Hasil
Sc 0,60 Well sorted
sieve analysis dari sampel pasir yang terproduksi terdapat
pada Lampiran 1. Tekanan statik reservoir adalah 650 psig
dengan temperatur 150 oF. Sumur O menghasilkan dry gas 4.2 Penentuan Metode Sand Control
dengan specific gravity 0,65. Data produksi yang digunakan Lapisan reservoir P-21 merupakan lapisan yang mengalami
sebagai acuan validasi perhitungan berasal dari data tes kepasiran saat sedang diproduksikan. Ketika akan
produksi yang terdapat pada Lampiran 2. dilakukan pemilihan metode sand control, beberapa
pertimbangan yang diperhatikan antara lain yaitu lapisan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ini merupakan loss zone, yang artinya aktivitas killing well
Analisis terhadap produktivitas Sumur O dimulai dengan tidak efektif dilakukan pada lapisan ini. Aktivitas killing well
analisis particle size distribution (PSD), dilanjutkan dengan mengharapkan terjadinya keseimbangan antara tekanan
penentuan metode sand control dan well intervention hidrostatik dari killing fluid dan tekanan reservoir saat well
serta analisis produktivitas sebelum dan sesudah intervention dilakukan. Maka dari itu, well intervention
pemasangan sandscreen dan diakhiri dengan analisis dengan menggunakan rig sangat dihindari. Pertimbangan
terhadap waktu potensial terbentuknya plugging. lainnya adalah, tidak tersedianya core sample yang berasal
dari lapisan tersebut. Itu berarti, metode penanganan
4.1 Particle Size Distribution kepasiran dengan menggunakan chemical method
Gambar 4.1 menunjukkan particle size distribution yang dihindari karena tidak bisa melakukan compatibility testing
merupakan hasil sieve analysis sampel pasir terproduksi. akibat core sample yang tidak tersedia.

Atas pertimbangan tersebut, maka metode penanganan


kepasiran yang dipilih adalah mechanical method. Diantara
ketiga mechanical method yang tersedia, stand alone
sandscreens (SAS) merupakan jenis mechanical method
yang dipilih. Pertimbangan yang dilakukan antara lain
yaitu, ukuran grain yang ada memiliki kisaran antara 88.39
micron hingga 267.94 micron (berdasarkan d5 dan d95
particle size distirubiton pada sieve analysis). Hal ini
menyatakan bahwa slotted liner tidak cocok diterapkan
karena slotted liner memiliki batasan ukuran grain terkecil
yaitu 300 micron. Selain itu, potensi plugging pada slotted
liner sangatlah tinggi apabila ukuran slot dibuat sekecil
mungkin. Gravel pack tidak dipilih karena penerapannya
Gambar 4.1 sama dengan frac pack, yaitu sama-sama memerlukan
Grafik Particle Size Distribution aktivitas killing well. Selain itu karena pertimbangan
menghindari penggunaan rig dan hanya tersedianya
Berdasarkan grafik tersebut, ukuran grain yang ada
slickline tool untuk aktivitas well intervention. Maka dari
memiliki kisaran antara 88.39 micron hingga 267.94 micron
itu, SAS dipilih sebagai metode untuk menangani masalah
(berdasarkan d5 dan d95 particle size distirubiton pada
kepasiran tersebut.
sieve analysis). Dari grafik di atas didapatkan nilai tingkat
keseragaman butir (Uc) dan tingkat persebaran ukuran
4.3 Penentuan Ukuran Mesh
butir (Sc) yang menunjukkan bahwa sampel grain pada
Ukuran mesh yang akan digunakan pada stand-alone
Sumur O memiliki tingkat keseragaman ukuran butir yang
sandscreen ditentukan menggunakan tiga metode yaitu
tinggi dan tingkat persebaran ukuran butir yang merata
2
Coberly (Rogers), Gillespie, Schwartz. Dengan f. Hasil perhitungan metode Gillespie menunjukkan
menggunakan data persentil ukuran grain dan dihitung ukuran mesh optimum untuk particle size distribution
dengan tiga metode yang telah ada, maka didapatkan nilai yang tersedia adalah 149 micron, dan Shrouded-metal
untuk ukuran mesh pada masing-masing metode. Hasil mesh screen (SMMS) memiliki rentang ukuran mesh
perhitungan ditabulasikan pada Tabel 4.3 berikut. dari 15 micron sampai 600 micron.

Tabel 4.3 Tabulasi Ukuran Mesh Atas pertimbangan tersebut, maka jenis stand-alone
sandscreen yang digunakan adalah shrouded-metal mesh
Coberly screen.
Metode Gillespie Schwartz
(Rogers)
4.5 Spesifikasi Shrouded-metal Mesh Screen
Persentil d10 d50 d10
Spesifikasi pada shrouded-metal mesh screens (SMMS)
Ukuran 233,26 yang akan dipasang di Sumur O ditabulasikan pada Tabel
grain 151,77 233,26
466,52* 4.4 berikut.
(mikron)
70 Tabel 4.4 Spesifikasi Shrouded-metal Mesh Screen
Mesh 100 70
40* Spesifikasi Ukuran
Sieve 210
opening 149 210 Mesh 100
(mikron) 420*
Sieve opening (mikron) 149
Bridging
Terbentuk Terbentuk Terbentuk
effect Weave pattern Plain dutch
(*) : dengan faktor pengali 2
OD 2.126"
Hasil dari ketiga persamaan menunjukkan perbedaan nilai
untuk tiap ukuran mesh, tetapi ketiga persamaan ini ID 1.25"
menunjukkan bahwa bridging effect tetap bisa terjadi pada Panjang 6.9'
ketiga ukuran mesh yang berbeda tersebut. Ukuran mesh
terkecil ditunjukkan pada persamaan Gillespie. Sedangkan Connection specification 1.25" API LPT
untuk persamaan Coberly (Rogers) dan Scwhartz, ukuran Berat total tanpa bullnose 15.75 lbs
mesh yang digunakan berbeda dikarenakan faktor pengali
2 pada persamaan Coberly (Rogers).
4.6 Produktivitas Sumur O
Pemasangan thru-tubing sand screen pada Sumur O
Berdasarkan prinsip dasar sand control secara mekanikal,
maka mesh yang dipilih diantara ketiga persamaan bertujuan untuk mencegah masuknya pasir ke dalam
tersebut adalah mesh berdasarkan persamaan Gillespie, tubing dan fasilitas produksi lainnya di permukaan. Dalam
hal ini, dengan dipasangnya sandscreen tentunya akan
yaitu mesh 100 dengan ukuran bukaan sieve sebesar 149
menimbulkan perubahan terhadap produktivitas sumur.
mikron (berdasarkan US Standard Mesh (Perry, 1963)).

4.4 Penentuan Jenis Stand-alone Sandscreen 4.6.1 Sejarah Singkat Sumur O


Rangkaian pemboran dan komplesi pada Sumur O
Dalam menentukan jenis stand-alone sandscreen yang
akan dipakai, hal yang menjadi pertimbangan adalah : dikerjakan dalam rentang bulan November 2007 dan
a. Kondisi sumur yang berproduksi pada loss zone, Desember 2007. Lapisan yang pertama diperforasi pada
sehingga kegiatan yang melibatkan killing well Sumur O adalah Lapisan A-01. Put on production (POP)
pada lapisan ini dimulai pada Desember 2008 dengan laju
dihindari.
b. Shrouded-metal mesh screen (SMMS) alir 1800 Mscf/d. Saat welltest pada Agustus 2015
direkomendasikan untuk sumur ini karena terdapat dilakukan pada Lapisan A-01, didapatkan informasi berupa
permeabilitas dengan nilai 200 Md dan skin dengan nila -
selubung luar yang terbuat dari metal yang melindungi
2.65. Lapisan ini berproduksi selama kurang lebih tujuh
screens dari pengaruh langsung wellbore environment.
c. Karena menghindari penggunaan rig, maka Shrouded- tahun sebelum akhirnya dilakukan squeeze cementing
metal mesh screen (SMMS) akan langsung dipasang pada Agustus 2015.
pada tubing yang sudah terdapat di Sumur O dengan Lapisan A-01 di-squeeze dikarenakan produksi pada lapisan
prinsip thru-tubing menggunakan slickline tool. ini telah menurun menjadi 280 Mscf/d pada Maret 2015.
d. Pre-packed screens tidak direkomendasikan karena Selanjutnya, pada bulan yang sama, Lapisan P-21 mulai
terdapat selubung gravel yang tidak mungkin diperforasi dengan interval 1846 – 1850 ft KBMD.
dimasukkan ke dalam tubing yang telah terpasang. Kepasiran mulai muncul pada Desember 2015 pada
Apabila memungkinkan, maka akan menimbulkan efek Lapisan P-21 (detail pada sejarah Sumur O terdapat pada
plugging yang sangat cepat akibat bukaan yang sangat Lampiran 3).
kecil karena pengaruh gravel di dalamnya.
e. Expandable sand screens tidak direkomendasikan 4.6.2 Rezim Aliran Sumur O
karena screen akan dipasang pada kondisi cased hole. Rezim aliran pada Sumur O dapat diketahui melalui nilai
Selain itu, untuk mengembangkan screen diperlukan Reynolds number NRE (hasil dari perhitungan ditabulasikan
penggunaan expansion cone yang tidak mungkin pada Lampiran 4). Dengan data yang tersedia dan
dimasukkan ke dalam tubing yang telah tersedia. menggunakan beberapa nilai laju alir, maka di dalam tugas
3
akhir ini dibuatlah grafik antara laju alir terhadap nilai 𝑞 = 𝐶 (𝑝̅ 2 − 𝑝𝑤𝑓 2 )𝑛 (5)
Reynolds number untuk mengetahui pola alir Sumur O. Dari
grafik tersebut terlihat bahwa nilai Reynolds number pada Dengan menggunakan persamaan (5) dan memasukkan
Sumur O begitu tinggi (>2100), sehingga rezim alir pada beberapa nilai pwf, maka IPR dapat dikonstruksikan.
Sumur O bersifat turbulen. Hal ini umum terjadi pada Sedangkan untuk mendapatkan TPR, persamaan (1) dapat
sumur gas karena viskositas gas rendah dan laju alir dari langsung digunakan dengan memasukkan beberapa nilai
Sumur O sangat tinggi. pwf . Selanjutnya, dengan didapatkannya nilai q g dan pwf
untuk IPR dan TPR, performa Sumur O sebelum
pemasangan sandscreen ditunjukkan pada Gambar 4.3
berikut.

Gambar 4.2 Grafik Laju Alir terhadap Nilai Reynolds Number


Gambar 4.3 Kurva Nodal Sumur O Sebelum Pemasangan
4.6.3 IPR dan TPR Sumur O sebelum Pemasangan Sandscreen
Sandscreen
IPR untuk Sumur O dikonstruksikan dengan kondisi Berdasarkan kurva nodal tersebut, maka laju alir gas (qg)
produksi terakhir sesaat setelah masalah kepasiran mulai pada Sumur O sebesar 1131 Mscf/d dengan tekanan alir
muncul. Dengan menggunakan persamaan untuk kondisi (pwf) sebesar 340 psia. Hasil ini 99% sama dengan hasil uji
non-Darcy flow, maka IPR Sumur O dapat dikonstruksikan. lapangan yang menunjukkan laju alir 1120 Mscf/d dengan
Dengan memasukan beberapa nilai pwf, maka IPR dapat tekanan alir sebesar 343.6 psia.
dikonstruksikan. Untuk mendapatkan nilai pwf berdasarkan
data qg dan pwh, maka persamaan berikut dapat digunakan. 4.6.4 IPR dan TPR Sumur O setelah Pemasangan
Sandscreen
2
𝑠 𝐷5 (𝑝𝑖𝑛 − 𝑒 𝑠 𝑝𝑤ℎ 2 )
0.5 Setelah pemasangan sandscreen dilakukan, maka tentunya
𝑞𝑔 = 200,000 [ ] (1) akan terjadi perubahan performa laju alir pada Sumur O.
𝛾𝑔 𝑇 𝑍 𝐻 𝑓𝑀 (𝑒 𝑠 −1)
Perubahan performa ini terjadi akibat perubahan diameter
Dengan nilai z didapatkan melalui korelasi Beggs-Brill, f tubing yang semakin kecil. Hal ini dikarenakan sandscreen
didapatkan melalui persamaan berikut yang digunakan bersifat thru-tubing dimana diameter
sandscreen yang digunakan lebih kecil daripada diameter
−2 tubing produksi.
3.71
𝑓𝑀 = {2 𝑙𝑜𝑔 [ 𝜀 ]} (2)
( )
𝐷 Persamaan yang digunakan untuk mengkonstruksikan TPR
setelah pemasangan sandscreen tetap sama. Terdapat
𝜀
dengan asumsi adalah 0.0006, dan s didapatkan melalui perubahan pada beberapa nilai parameter yang
𝐷
persamaan berikut digunakan, yaitu nilai panjang tubing (L) yang nantinya
akan berpengaruh terhadap perubahan nilai s. Selain itu
0.0375 𝛾𝑔 𝐻 perubahan terhadap diameter juga dimasukkan ke dalam
𝑠= (3)
𝑇𝑍 perhitungan. Perubahan pada nilai L dikarenakan oleh
penambahan panjang pada tubing string akibat
Persamaan yang digunakan untuk flow coefficient (C) terpasangnya sandscreen. Dari hal tersebut, maka panjang
dalam persamaan IPR kondisi non-Darcy flow adalah tubing string setelah pemasangan sandscreen adalah
𝑞1
1788.9 ft.
𝐶= (4)
(𝑝̅ 2 − 𝑝𝑤𝑓 2 )𝑛
1 Panjang tubing yang digunakan disini adalah 1782 ft. Hal
itu dikarenakan, sandscreen terpasang ke tubing melalui
Berdasarkan Reynold Number, diketahui bahwa aliran pada hanging tool yang berada pada kedalaman 1782 ft. Itu
Sumur O bersifat turbulen, maka dari itu nilai n artinya panjang yang digunakan disini sangat bergantung
diperkirakan berada pada rentang 0.5 sampai dengan kepada diameter yang terdapat pada tubing string.
1.Dengan menggunakan trial and error, maka nilai n yang Perubahan diameter terjadi pada kedalaman 1782 ft, yaitu
digunakan adalah 0.9 dimana nilai n ini menghasilkan nilai dari diameter tubing 2.441” ke diameter sandscreen 1.25”.
laju alir yang sama dengan kondisi asli lapangan. Setelah Dalam hal ini, diameter yang digunakan dalam perhitungan
parameter C dan n didapatkan, IPR dapat dikonstruksikan merupakan Δd yang merupakan selisih nilai diameter
dengan persamaan berikut tubing dengan diameter sandscreen. Nilai ini digunakan
karena di dalam sistem ini terdapat perubahan nilai
4
diameter yang berpengaruh terhadap perubahan laju alir pada Gambar 4.5 dan nilai laju alir untuk tiap penurunan
dari Sumur O. Oleh karena itu, nilai d yang digunakan tekanan ditabulasikan pada Tabel 4.6.
adalah 1.191 in. Dengan perubahan terhadap parameter
tersebut makan, nilai s adalah 7.56 x 10-2 Dari kurva nodal pada Gambar 4.5 dapat dilihat bahwa
Sumur O dapat tetap mengalir hingga tekanan reservoir
Berikutnya hal yang dilakukan adalah memasukkan mencapai 317.92 psia. Tetapi seiring dengan menurunnya
beberapa nilai Pwf untuk menghasilkan nilai laju alir. Hasil tekanan reservoir, maka laju alir yang didapat juga akan
yang didapatkan lalu dikonstruksikan kedalam kurva nodal semakin menurun. Dengan asumsi penurunan tekanan per
dan didapatkan hasil perkiraan performa Sumur O setelah tahun sebesar 10% pada tekanan separator yang sama
sandscreen dipasang. (260 psig), maka Sumur O akan tetap berproduksi sampai
dengan tahun 2021.

Gambar 4.4 Kurva Nodal Sumur O Setelah Pemasangan


Sandscreen

Dari kurva nodal tersebut didapatkan hasil bahwa setelah


sandscreen terpasang, maka laju alir gas (qg) yang Gambar 4.5 Kurva Nodal untuk Performa Sumur O Masa
dihasilkan sebesar 1119 Mscf/d dengan tekanan laju alir Mendatang
(pwf) sebesar 341 psia.
Tabel 4.6 Laju Alir Gas (Qg) dan Pwf dalam Kurva Nodal
(Performa Mendatang)
Tabel 4.5 berikut menunjukkan nilai qg dan pwf sebelum
dan setelah pemasangan sandscreen dilakukan.
Ps Qg
Pwf (psia)
(psia) (Mscf/d)
Tabel 4.5 Laju Alir Gas (Qg) dan Pwf dalam Kurva Nodal
(Sebelum dan Setelah Pemasangan Sandscreen)
664.7 341 1119
Qg 598.23 338 756.41
Pwf (psia) Keterangan
(Mscf/d)
538.407 335 494.85
484.566 322 193.23
Sebelum
1131 340 436.11 315 113.11
sandscreen
392.499 307 54.20
353.249 300 14.14
Setelah
1119 341
sandscreen

Perbedaan nilai laju alir sebelum dan sesudah pemasangan


sandscreen sebesar 1.06 %. Berdasarkan hasil tersebut,
maka pemasangan thru-tubing sandscreen pada Sumur O
tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap tingkat
produktivitas sumur.

4.6.5 Prediksi Performa Sumur O


Dalam memprediksikan performa Sumur O pada kondisi
mendatang (setelah dipasang sandscreen), maka akan
terdapat perubahan pada kurva IPR karena tekanan
reservoir semakin lama akan semakin menurun. Dengan
Gambar 4.6 Grafik Laju Alir terhadap Waktu untuk Performa
asumsi penurunan tekanan reservoir 10% per tahun dan
Sumur O
dihitung menggunakan persamaan future IPR, maka
perkiraan tersebut dapat dicari.
4.7 Instalasi Thru-tubing Sandscreen
Karena di lapisan reservoir P-21 sering terjadi loss, maka
Dalam hal ini performa sumur yang akan dilihat adalah
prinsip dasar aktivitas killing well tidak efektif diterapkan.
pada kondisi saat sumur telah terpasang sandscreen. Kurva
Maka dari itu, well intervention dengan menggunakan rig
IPR dengan TPR untuk kondisi mendatang ditunjukkan
5
sangat dihindari. Shrouded-metal mesh screen (SMMS) connection pada running tool ataupun pulling tool.
akan dipasang di dalam tubing menggunakan slickline tool Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka spesifikasi dari
dengan pertimbangan untuk menghindari aktivitas slickline tool string yang digunakan ditunjukkan pada Tabel
penggunaan rig. Penempatan SMMS di dalam tubing akan 4.9 berikut.
dibantu dengan penggunaan hanging equipment. Hanging
equipment yang dimaksud merupakan sebuah downhole Tabel 4.9 Spesifikasi Slickline Tool String
equipment yang dapat di-run ataupun diambil kembali Ukuran Panjang
Tool Jumlah
dengan menggunakan slickline tool, yang terpasang pada (inch) (feet)
Rope
tubing string yang berguna sebagai tempat untuk 1¼ 0.4 1
socket
terpasangnya sandscreen.
Stem 1¼ 5 2
4.7.1 Hanging Equipment 2.5 4.4
Spang jar 1¼ 1
(close) (open)
Hanging equipment yang digunakan adalah XN-lock
Kunckle
mandrel. Equipment ini dipilih karena menyesuaikan 1¼ 0.6 1
joint
dengan XN-landing nipple yang telah terpasang pada XN-
Sumur O. SMMS akan disambungkan ke XN-lock mandrel Running 2½ 2.5 1
dengan menggunakan crossover-sub. tool
GS-
Dengan prinsip thru-tubing yang akan diterapkan, maka Pulling 2½ 1 1
perlu dipertimbangkan ukuran hanging equipment dan tool
crossover-sub yang akan digunakan berdasarkan ukuran ID
terkecil pada downhole equipment yang telah ada di dalam Panjang total dari slickline tool string yang digunakan
Sumur O. Downhole equipment beserta ukuran ID yang adalah 13.9 ft. Hasil ini didapatkan dari penjumlahan setiap
telah ada di dalam Sumur O ditunjukkan pada tabel 4.7 panjang tool yang digunakan. Panjang total juga
berikut. didapatkan dari penjumlahan dengan panjang GS-Pulling
tool. Walaupun pada saat proses running, pulling tool tidak
Tabel 4.7 Downhole Equipment di Sumur O digunakan, hal ini menjadi pertimbangan apabila pulling
Downhole Equipment ID (inch) tool dibutuhkan secara tiba-tiba (fishing). Saat proses
running SMMS dilakukan, maka panjang total rangkaian
Hydarulic packer 9- 6.02 (upper)
secara keseluruhan adalah 28.6 ft. Untuk menyesuaikan
5/8” 4.85 (lower) dengan panjang slickline tool string saat proses running
Tubing 2-7/8" J-55 2.441 dilakukan, lubricator yang digunakan pada pressure control
SSD Otis 2-7/8" 2.313 equipment (PCE) berjumlah 4 joint dengan total panjang
lubricator adalah 32 ft.
XN-Landing nipple 2- 2.313 (ID packing bore)
7/8" 2.205 (No-go ID) 4.7.3 Proses Instalasi SMMS
Slickline tool string dan shrouded-metal mesh screen
Berdasarkan ukuran ID downhole equipment tersebut, dirangkai dan dipasang di dalam PCE di permukaan
maka spesifikasi yang disarankan untuk hanging sebelum di-running. Hal pertama yang dilakukan adalah
equipment dan crossover-sub yang akan digunakan membuat sumur ke dalam kondisi shut-in dengan menutup
ditunjukkan pada tabel 4.8 berikut. wing valve. Setelah itu dilanjutkan dengan memasang BOP
pada christmas tree. Setelah prosedur awal tersebut
Tabel 4.8 Spesifikasi Hanging Equipment dan Crossover-Sub dilakukan, dilanjutkan dengan pengecekan terhadap
Hanging sumur guna memastikan tidak terdapat halangan saat
Spesifikasi
Equipment proses running dilakukan.
OD (inch) 2.313
ID (inch) 1.375 Setelah memastikan tubing siap, maka slickline tool string
XN-Lock
Mandrel Fishingneck ID dan SMMS yang telah terpasang siap untuk dijalankan di
(inch) 1.812 (internal) dalam PCE. Rangkaian selanjutnya dipasang di atas BOP
Bottom thread 1 ¾” – 12 yang sebelumnya telah terpasang di atas christmas tree.
1 ¾” box X 1.25" box
Setelah rangkaian PCE terpasang dengan aman di atas
Crossover-sub
christmas tree, pressure gauge dipasang diantara
lubricator dan BOP untuk mengetahui tekanan yang ada
4.7.2 Spesifikasi Slickline Tool
saat proses pengerjaan berlangsung. Ketika semua sudah
Pemasangan SMMS akan dilakukan dengan slickline tool.
dipastikan siap, crown valve dibuka agar slickline tool string
Pertimbangan yang digunakan dalam penentan spesifikasi
bisa dijalankan.
slickline tool disini adalah ukuran dari hanging equipment
yang digunakan, yaitu XN-lock mandrel. Setelah
Ketika tercapai kedalaman yang diinginkan dan XN-lock
mengetahui ukuran dari XN-lock mandrel, tahap
mandrel telah terkunci di XN-landing nipple, selanjutnya
selanjutnya dilakukan pemilihan running tool dan pulling
aktivitas jar up dilakukan untuk melepas slickline tool string
tool yang cocok dengan hanging equipment tersebut.
dari rangkaian SMMS. Setelah slickline tool string diangkat
Berikutnya, pada slickline tool string, ukuran dari knuckle
dan kembali ke posisi semula, maka crown valve ditutup
joint hingga rope socket menyesuaikan dengan thread
sebelum mencabut rangkaian PCE dari christmas tree.
6
Proses akhir yang dilakukan adalah membuka kembali wing
valve dan membiarkan sumur kembali berproduksi.
Lampiran 5 menunjukkan proses instalasi thru-tubing
sandscreen (kondisi sub-surface) ke dalam Sumur O dan
Lampiran 6 menunjukkan sketsa akhir Sumur O yang telah
terpasang sandscreen.

4.8 Potensi Plugging


Potensi plugging ini dianalisis dengan tujuan mengetahui
kapan waktu dari plugging akan terbentuk. Analisa
dilakukan terhadap dua titik yang berbeda yaitu di depan
lubang perforasi dan di depan sandscreen.
Gambar 4.8 Grafik laju alir pasir dengan waktu plugging
terbentuk (top perforation)
4.8.1 Potensi Plugging di Lubang Perforasi
Potensi plugging menutup lubang perforasi dapat 4.8.2 Potensi Plugging di depan Thru-tubing Sandscreen
diketahui melalui waktu terkumpulnya pasir yang Untuk menghitung waktu terjadinya plugging di depan
tersaring. Waktu didapat melalui perhitungan banyaknya sandscreen yang terpasang, maka parameter yang diubah
pasir yang terkumpul di wellhead desander dalam sehari adalah jarak, dimana yang digunakan disini adalah jarak
dikalikan dengan volume sebagai bentuk dari ruang yang antara top of cement dengan jarak ujung dari sandscreen.
tersedia di depan lubang perforasi.

Volume disini digambarkan sebagai silinder mengikuti


bentuk casing yang diperforasi. Diameter yang digunakan
merupakan diameter casing dan tinggi yang digunakan
didapatkan dari jarak antar top of cement (TOC) dengan top
of perforation (TOP).
Gambar 4.9 Jarak antara TOC dengan ujung sandscreen

Dengan menggunakan cara yang sama, maka waktu


terjadinya plugging di depan sandscreen ditunjukkan pada
Tabel 4.11 dan Gambar 4.10 berikut.

Gambar 4.7 Jarak antara TOC dengan TOP Tabel 4.11 Laju Alir Pasir (Liter/day) terhadap Waktu
Terbentuknya Plugging (Depan Sandscreen)
Untuk menutup lubang perforasi, jumlah pasir yang
diperlukan sebanyak 6805 liter. Dengan data banyaknya Q sand Waktu
pasir per hari (liter/day) yang terkumpul dari beberapa (Lt/day) (tahun)
wellhead desander disekitar Sumur O, maka waktu yang
diperlukan untuk membentuk plugging di depan lubang 4 5.10
perforasi dapat dihitung dengan 5 4.08
6 3.40
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 = (6) 7 2.91
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑎𝑙𝑖𝑟 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟

Hasil perhitungan ditabulasikan pada Tabel 4.10 dan grafik


laju alir pasir dengan waktu terbentuknya pugging
ditunjukkan pada Gambar 4.8.

Tabel 4.10 Laju Alir Pasir (Liter/day) terhadap Waktu


Terbentuknya Plugging (Depan Lubang Perforasi)

Q sand Waktu
(Lt/day) (tahun)

4 4.66
5 3.73
6 3.11 Gambar 4.10 Grafik antara Laju Alir Pasir dengan Waktu
Terbentuknya Plugging (sandscreen)
7 2.66
Berikutnya dilakukan perbandingan untuk melihat potensi
waktu terjadinya plugging di dua titik yang berbeda
tersebut.

7
c. Ariadji, T., Rikandhi, D. 2011. “Analisis Pengaruh
Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF, Laju Alir
Optimum Gas dan Waktu Plateau pada Lapangan X,”
JTM, Vol. XVIII, No.4.
d. Brown, K.E. Beggs, H.D. 1984. The Technology of
Artificial Lift Methods. Volume 4. Oklahoma : Penn
Well Books.
e. Economides, J.M., Hill, A.D., Ehling-Economides,
Christine. 1994. Petroleum Production System. New
Jersey : Prentice-Hall PTR.
f. Gatlin, Carl. 1960. Petroleum Engineering : Drilling
and Well Completions. New Jersey: Prentice-Hall PTR.
Gambar 4.11 Grafik antara laju alir pasir dengan waktu
terbentuknya plugging (sandscreen dan perforasi)
g. Guo, Boyun., Lyons, W.C., Ghalambor, Ali. 2007.
Petroleum Production Engineering, A Computer-
Dari grafik perbandingan tersebut dapat dilihat bahwa Assisted Approached. Elvesier Science & Technology
rentang waktu terjadinya plugging baik itu di depan Books.
perforasi maupun di depan sandscreen tidak terlalu h. John, E. 2014. “Well Rejuvenation Through ‘Novel
berbeda jauh, yaitu antara 3 sampai 5 tahun. Artinya Thru-tubing Sand Screen Insert’ in a Horizontal
sebelum mencapai waktu tersebut, tindakan pencegahan Complation with Sand Productiin Challenges,” SPE-
terjadinya plugging sebaiknya dilakukan seperti melakukan 172482-MS.
aktivitas sand bailing. i. Khamehchi, Ehsan., Ameri, Omid., Alizadeh., Ali.
2014. “Choosing An Optimum Sand Control Method,”
V. KESIMPULAN Egyptian Jounal of Petroleum, Egyptian Petroleum
Research Institute, 193-202.
Kesimpulan dari penulisan tugas akhir ini, meliputi : j. Kuncoro, B., Ulumuddin, B., Palar, S. 2001. Sand
Control for Unconsolidated Reservoirs. IATMI.
a. Berdasarkan particle size distribution (PSD), ukuran k. Liu, M., Bai, B., Li, X. 2013. “A Unified Formula for
grain yang dihasilkan cenderung memiliki ukuran 88 Determination of Wellhead Pressure and Bottom-
mikron hingga 268 mikron dengan tingkat hole Pressure,” Energy Procedia, Vol. 37, 3291-3298.
keseragaman ukuran yang tinggi dan memiliki tingkat l. Ott, W.K., Woods, J. D. 2003. World Oil : Modern
persebaran ukuran yang merata. Sandface Completion Practices Handbook. Second
b. Ukuran mesh yang dibutuhkan adalah mesh 100 Edition. USA : Gulf Publishing Company.
dengan metode yang dipilih dalam menentukan m. Pita, J.A., Sundaresan, Sankaran. 1991. “Gas-Solid
ukuran mesh adalah metode Gillespie. Flow in Vertical Tubes,” AIChE Journal, Vol. 37, No.7,
c. Mempertimbangkan sieve analysis, particle size Mobil Research and Development Corporation.
distribution (PSD), dan kondisi sumur, maka metode n. Rachmat, S., Farouq, O.A. 2009. “Kegagalan Screening
sand control yang digunakan adalah stand-alone pada Kasus Sand Control Sumur Z-Twin di Lapangan
sandscreen dengan jenis sandscreen yang Mangunjaya, Sumatra Selatan,” JTM, Vol. XVI, No.4.
direkomendasikan adalah shrouded-metal mesh o. Richard, U.R. 2013. Sand & Fines in Multiphase Oil and
screen (SMMS). Gas Production. Norway : Department of Petroleum
d. Melalui analisa nodal, perbedaan produktivitas Engineering and Applied Geophysics, Norwegian
Sumur O sebelum dan setelah pemasangan University of Science and Technology.
sandscreen tidak terlalu signifikan. p. Syahrani., Dharmawan, Agung., Pinartjojo, Djoko.
e. Well intervention yang digunakan untuk memasang 2001. Aplikasi Slotted Liner Completion Sebagai Sand
sandscreen dengan metode thru-tubing dan Control pada Sumur-sumur Horizontal di Lapangan
mempertimbangkan kondisi lapisan yang merupakan Attaka UNOCAL Indonesia. IATMI.
loss zone adalah menggunakan bantuan slcikline tool. q. Zeng, Z., Grigg., R. 2006. “A Criteriation for Non-Darcy
f. Potensi plugging yang timbul akibat pasir yang Flow in Porous Media,” Tranport in Porous Media,
tersaring oleh sandscreen akan terjadi dalam rentang Vol. 63, 57-69.
waktu 3 sampai 5 tahun berdasarkan jumlah pasir per
hari yang terproduksikan di wellhead desander.

VI. DAFTAR PUSTAKA


a. 2002. Sclickline Training Manual. Schlumberger.
b. Aminian, K., Ameri, S. 1988. “A Production
Forecasting Model for Gas Wells,” Mathl Comput.
Modelling, Vol. 11, 391-395.

8
LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabel Ukuran Sampel Grain Sumur O hasil Sieve Analysis

WHP at WHP at
Choke Q Gas Out
Well Effective Date Test US Test DS
Out (Mscf/d)
(psig) (psig)

O 11 Dec 2015 30 330 310 1120

O 12 Dec 2015 30 330 310 1120


Lampiran 2 Data Produksi Sumur O sesaat setelah Kepasiran Muncul

9
Lampiran 3 Sejarah Sumur O

Rate
Nre
(Mscf/d)

0 0 Laminar

2 875.4135 Laminar

3 1313.12 Laminar

4 1750.827 Laminar

4.5 1969.68 Laminar

4.8 2100.992 Turbulent

5 2188.534 Turbulent

10 4377.067 Turbulent

50 21885.34 Turbulent

100 43770.67 Turbulent

300 131312 Turbulent

600 262624 Turbulent

900 393936.1 Turbulent

1200 525248.1 Turbulent

1500 656560.1 Turbulent

Lampiran 4 Tabulasi Laju Alir Gas dan Pola Aliran

10
Lampiran 5 Proses instalasi thru-tubing sandscreen pada Sumur O (Kondisi Sub-surface)

11
20" Casing @228 ft KBMD

2-7/8" J-55 Tubing


13-3/8" Casing @897 ft KBMD
2-7/8" SSD @1711 ft KBMD
9-5/8" Hydraulic Packer @1750 ft KBMD
XN Nipple @1782 ft KBMD
EOTP @1784 ft KBMD

Shrouded-metal Mech Screen @1789 ft KBMD

P21 at Interval 1846 - 1850 ft KBMD

TOC @2450 ft KBMD


7" TOL @2534ft

9-5/8" Casing Shoe @2739 ft KBMd

A01 at Interval 2790 - 2798 ft KBMD

7" Liner Shoe @3058 ft


TD @3058ft

Lampiran 6 Sketsa Akhir Sumur O setelah Thru-Tubing Sandscreen Terpasang

12