Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Unit kamar jenazah di Rumah Sakit Deli berada di sudut kanan lantai 1 dekat
pintu samping RSU MITRA MEDIKA dengan alur untuk pelayanan penanganan kamar
jenazah yang sudah diatur. Kamar jenazah ini tidak bisa dilalui oleh orang tidak
berkepentingan . Lalu lintas menuju kamar jenazah hanya dapat dilalui oleh petugas dari
Unit Satpam dan unit PSP2RS yang ditugaskan untuk mengangkat jenazah menuju kamar
jenazah serta perawat pelaksana yang bertugas untuk melakukan pemulasaran jenazah.
Kamar jenazah suatu rumah sakit bukanlah satu – satunya pintu keluar pasien.
Masih terdapat pintu keluar lain, yakni pintu kesembuhan dan pintu transisi. Walaupun
kamar jenazah merupakan bagian final keluarnya pasien yang telah benar – benar tanpa
nyawa. Penanganan untuk jenazah yang dilakukan oleh RSU MITRA MEDIKA meliputi
penempatan sementara jenazah pasien sampai jenazah dibawa pulang ke rumah ataupun
disemayamkan di rumah duka, pemulasaran jenazah, dan pengawetan jenazah.
Pasien yang meninggl oleh karena penyakit menular maupun penyakit yang tidak
menular akan mengalami proses pembusukan dan menjadi sumber kuman. Oleh karena
itu, perawatan jenazah menjadi salah satu bagian penting dari langkah – langkah
pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit yang membutuhkan pedoman kerja
yang baik.

2. DEFINISI
Perawatan jenazah adalah suatu tindakan medis yang berguna untuk menjaga
penampilan luar jenazah supaya tetap bersih dan mirip dengan kondisi sewaktu hidup.
Perawatan jenazah dapat dilakukan langsung pada kematian yang wajar, akan tetapi pada
kematian yang tidak wajar, pengawetan jenazah baru dapat dilakukan setelah
pemeriksaan jenazah atau autopsi dilakukan.
Perawatan jenazah di Rumah Sakit Deli meliputi penempatan sementara jenazah
sebelum dibawa pulang, pemulasaran jenazah dan pengawetan jenazah. Pelayanan
perawatan jenazah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas unit kamar jenazah.

-1-
Perawatan jenazah melibatkan banyak unit kerja, yakni unit rawat inap, unit rawat
intensif, unit gawat darurat, unit sanitasi, unit linen dan laundry, unit logistik dan URT,
unit PSP2RS, unit administrasi dan keuangan, serta unit farmasi.
Perawatan jenazah di luar kamar jenazah merupakan bagian dari asuhan
keperawatan pelayanan fase terminal dari kehidupan pasien. Asuhan keperawatan ini
harus dilakukan dengan senantiasa memperhatikan keselamatan pasien dan keselamatan
kerja dalam upaya mencegah dan mengendalikan infeksi di rumah sakit.
Perawatan jenazah di kamar jenazah dilakukan untuk mempersiapkan jenazah
dibawa pulang oleh keluarga baik untuk proses pemakaman / kremasi yang langsung
dilakukan ataupun ditunda untuk suatu proses ibadah atau alasan lainnya.

3. TUJUAN
Tujuan Umum :
Sebagai pedoman bagi Manajemen RSU MITRA MEDIKA untuk dapat melaksanakan
pelayanan jenazah dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
Tujuan Khusus
1. Sebagai pedoman pelaksanaan di kamar jenazah yang merupakan salah satu upaya
rumah sakit dalam mencegah infeksi nosokomial.
2. Mencegah terjadinya infeksi pada petugas kesehatan, pasien, keluarga, dan
masyarakat.
3. Sebagai pedoman kerja untuk melaksanakan pelayanan jenazah sebelum dilihat
dan dibawa pulang oleh keluarga.
4. Sebagai pedoman dalam meminimalkan kemungkinan untuk terjadinya infeksi
silang.

-2-
BAB II
RUANG LINGKUP

1. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup pelayanan kamar jenazah meliputi :
1. Penempatan sementara jenazah sebelum dibawa pulang.
2. Pemulasaran jenazah

2. BATASAN OPERASIONAL
1. Jenazah adalah jasad orang yang telah meninggal secara medis.
2. Pemulasaran jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal yang meliputi
persiapan jenazah untuk diperlihatkan kepada keluarga, transportasi ke kamar
jenazah, dan melakukan disposisi (penyerahan) barang – barang milik pasien. Jika
pasien meninggal karena kekerasan atau dicurigai akibat kriminalitas, perawatan
jenazah dilakukan setelah pemeriksaan medis lengkap melalui otopsi. (Dalam hal
ini, perawatan jenazah dilakukan di rumah sakit rujukan untuk otopsi.)
.

-3-
BAB III
KEBIJAKAN

3. LANDASAN HUKUM
1. Undang – Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
2. Undang – Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
3. Permenkes No. 986 / Menkes / Per / XI / 1992 tentang Penyehatan Lingkungan
Rumah Sakit.
4. SK MENKES RI No. 129 / MENKES / SK / II / 2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit.
5. Keputusan Menteri Kesehatan No. 983 / Menkes / SK / X / 1992 tentang
Pedoman Pengorganisasian Rumah Sakit
6. Buku Pedoman Infeksi Nosokomial tahun 2001.

-4-
BAB IV
STANDAR KETENAGAAN

Seluruh tenaga yang bekerja ataupun membantu di Unit Kamar Jenazah RSU MITRA
MEDIKA dianjurkan untuk :
1. Mempunyai data kesehatan yang mencakup hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan
darah rutin dan HbsAg, serta foto thorax minimal 1 tahun sekali.
2. Status imunisasi untuk Hepatitis B dan Tetanus.
3. Laporan mengenai sakit yang dialami selama bekerja di Unit Kamar Jenazah seperti
infeksi saluran pernafasan atas, infeksi kulit, infeksi saluran pencernaan, dan lain –
lain.

Petugas Unit Kamar Jenazah antara lain :


 Penanggung Jawab Unit Kamar Jenazah
 Merupakan seorang staf non medis yang ditunjuk untuk menanggung
jawabi Unit Kamar Jenazah
 Pendidikan terakhir minimal SMA.
 Mendapatkan pendidikan dan pelatihan internal tentang prosedur
pelayanan jenazah yang berlaku di RSU MITRA MEDIKA.
 Dibantu oleh :
1) Pengawas Perawatan / Perawat Pelaksana
 Mendapatkan pendidikan dan pelatihan internal tentang prosedur
perawatan jenazah yang berlaku di RSU MITRA MEDIKA.
 Bertugas dalam pemulasaran dan pengawetan jenazah.
2) Petugas PSP2RS
 Bertugas dalam transpor jenazah ke Unit Kamar Jenazah.
 Mendapatkan pendidikan dan pelatihan tentang prosedur pelayanan
jenazah yang berlaku di RSU MITRA MEDIKA.
 Memahami penggunaan Alat Pelindung Diri.

-5-
3) Staf Administrasi dan Keuangan
 Pendidikan minimal tamatan SMA yang memahami dasar – dasar
Akuntasi dan pencatatan.
 Bertugas menghitung besarnya biaya yang dikenakan untuk
pelayanan jenazah.

4) Panitia PPI
 Mendapatkan pelatihan dasar tentang Pengendalian Infeksi Rumah
Sakit.
 Melakukan monitoring pelaksanaan pelayanan Unit Kamar Jenazah
sesuai dengan standar pencegahan dan pengendalian infeksi di RSU
MITRA MEDIKA.

-6-
BAB V
STANDAR FASILITAS

Sarana fisik dan peralatan sangat mempengaruhi efisiensi kerja dan pelayanan Unit
Kamar Jenazah. Mengingat tugas pokok Unit Kamar Jenazah adalah melayani pasien
yang sudah meninggal dengan atau tanpa penyakit menular, maka diperlukan sarana dan
prasarana yang memadai guna mencegah infeksi silang.
Bangunan
 Bangunan disesuaikan dengan kapasitas Rumah Sakit Deli dengan 73 tempat tidur
dengan angka kematian sekitar 7% dalam satu bulan (kurang dari 20 kematian
dari 300 pasien yang mendapat pelayanan inap dan pasien meninggal ataupun tiba
meninggal di Unit Gawat Darurat). Luas kamar jenazah Rumah Sakit Deli kira –
kira 1,90 meter x 4,50 meter.

Lokasi
Lokasi jauh dari lalu lintas utama rumah sakit karena berdampak pada efisiensi
kerja dan meningkatkan pengendalian infeksi, yaitu dengan cara meminimalkan
terjadinya kontaminasi. Area tertutup tidak dapat diakses oleh orang yang tidak
berkepentingan.

Syarat Unit Kamar Jenazah


Pada prinsipnya, kamaar jenazah berada di tempat yang jauh dari lalu lintas
perawatan pasien untuk menghindari terjadinya kontaminasi dan sesuai dengan alur kerja.

Kebersihan Ruangan
1. Setiap hari lantai dan permukaan harus dibersihkan.
2. Lakukan dekontaminasi permukaan setelah selesai kegiatan.
3. Secara teratur dilakukan pembersihan besar yang disesuaikan dengan jadwal
pembersihan Unit Kamar Jenazah.

-7-
Sarana fisik dan peralatan
Di dalam kamar jenazah, terdapat :
1. Brankar yang dapat dilepaskan tandunya untuk proses transpor jenazah dari ruang
perawatan ataupun dari Unit Gawat Darurat dan juga pemindahan jenazah dari
kamar jenazah ke mobil jenazah.
2. Kotak peralatan untuk proses pengawetan jenazah yang terdiri dari :
3. Kotak berisi Alat Pelindung Diri yang dipakai untuk proses pemulasaran dan
pengawetan jenazah.
a. Tutup Kepala
b. Kaca Mata
c. Masker
d. Sarung tangan panjang
e. Apron plastik

Gambar 1.Perlengkapan Pemulasaran Jenazah


4. Sebuah ember tertutup untuk menampung linen kotor dan alat pelindung diri yang
telah digunakan yang selanjutnya dibawa ke Unit Linen dan Laundry untuk
dibersihkan.
5. Wastafel dan sabun antiseptik untuk hand hygiene.

-8-
BAB VII
TATA LAKSANA PELAYANAN

Pelayanan kamar jenazah adalah kegiatan mempersiapkan jenazah sebelum


diperlihatkan dan dibawa pulang oleh keluarga. Untuk memberikan pelayanan yang lebih
baik pada pasien meninggal, maka diperlukan alur penanganan jenazah yang jelas.

Jenazah dari ruang perawatan ataupun Unit Gawat Darurat

Masuk Unit Kamar Jenazah

Surat Keterangan Kematian dari Unit Rekam Medis

Pembayaran di Kasir

Jenazah dibawa pulang oleh keluarga dengan mobil jenazah Rumah


Sakit / mobil jenazah rumah duka

Skema 1. Alur Penanganan Jenazah di Unit Kamar Jenazah Rumah Sakit Deli

Keterangan :
1. Pasien dari ruang rawat inap dan Unit Gawat Darurat yang telah dinyatakan
meninggal, maka jenazah akan dikirim ke kamar jenazah.
2. Di dalam kamar jenazah, akan dilakukan perawatan jenazah sebelum jenazah
ditunjukkan kepada keluarga.
3. Surat keterangan kematian dapat diperoleh keluarga setelah menunjukkan kartu
tanda pengenal dari pasien yang telah meninggal tersebut ke Unit Rekam Medis.
4. Keluarga melakukan pembayaran biaya perawatan selama dirawat di Rumah Sakit
dan biaya pengawetan jenazah (bila dilakukan pengawetan jenazah). Setelah
pembayaran biaya selesai dilakukan, bukti pembayaran ditunjukkan kepada
petugas kamar jenazah.

-9-
5. Jenazah dapat dibawa keluarga dengan menggunakan mobil jenazah rumah sakit
ataupun mobil jenazah rumah duka. Jenazah dipindahkan dengan brankar yang
ada di kamar jenazah ke mobil jenazah.
6. Jenazah harus sudah dibawa keluarga dari kamar jenazah selambat – lambatnya
dalam 2 jam.
Klasifikasi Penatalaksanaan Jenazah di RSU MITRA MEDIKA berdasarkan Cara
Kematian Pasien
1. Pasien yang tidak mengalami kekerasan apabila meninggal langsung diberi surat
kematian, kemudian dibawa ke kamar jenazah untuk dicatat dalam buku register
dan dilakukan perawatan jenazah.
2. Pasien yang diduga meninggal akibat kekerasan, misalnya pembunuhan. Apabila
korban telah sampai di kamar jenazah, tetapi belum disertai permintaan visum et
repertum, maka petugas akan menyarankan keluarga untuk melapor ke polisi.
Apabila keluarga menolak melapor ke polisi dan tetap bersikeras untuk membawa
jenazah setelah pemulasaran, maka harus dibuat surat pernyataan dan tidak
diberikan surat kematian. Tetapi jika korban dilengkapi dengan surat permintaan
visum et repertum, maka dokter RSU MITRA MEDIKA hanya melakukan otopsi
luar setelah keluarga membuat surat pernyataan untuk melakukan otopsi. Otopsi
lengkap (meliputi otopsi luar dan bedah mayat) hanya dapat dilakukan di rumah
sakit rujukan, yakni Rumah Sakit Umum Pirngadi.

Kewaspadaan Universal
Kewaspadaan universal (universal precaution) adalah tindakan pengendalian infeksi
sederhana yang digunakan oleh seluruh petugas kesehatan dan keluarga pasien dalam
rangka mengurangi risiko penyebaran infeksi. Secara umum, kewaspadaan universal
meliputi :
1. Pengelolaan alat kesehatan habis pakai.
2. Cuci tangan dengan sabun untuk mencegah infeksi silang.
3. Pemakaian alat pelindung diri, misalnya sarung tangan untuk mencegah kontak
dengan darah serta cairan infeksius dengan lain.
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.

- 10 -
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
6. Desinfeksi dan sterilisasi untuk alat yang sudah digunakan ulang.
7. Pengelolaan linen.

Prosedur kewaspadaan universal untuk pemulasaran jenazah :


1. Periksa ada tidaknya luka terbuka pada tangan atau kaki petugas yang
memandikan jenazah. Jika didapatkan luka terbuka atau borok pada tangan atau
kaki, petugas tidak boleh memandikan jenazah.
2. Bila petugas menggunakan baju lengan panjang, maka lengan baju harus dilipat
sampai di atas siku.
3. Melepaskan cincin, jam tangan, dan gelang.
4. Kenakan gaun pelindung.
5. Kenakan sepatu boot dari karet.
6. Kenakan celemek plastik.
7. Kenakan masker pelindung mulut dan hidung.
8. Kenakan kacamata pelindung.
9. Kenakan sarung tangan karet.
10. Setelah jenazah selesai dimandikan, siram meja tempat memandikan jenazah
dengan larutan klorin 0,5%, lalu bilas dengan air mengalir.
11. Rendam tangan yang masih mengenakan sarung tangan karet dalam larutan klorin
0,5%, lalu bilas dengan sabun dan air mengalir.
12. Lepaskan kaca mata pelindung, lalu rendam dalam larutan klorin 0,5%.
13. Lepaskan masker pelindung, buang ke tempat sampah medis.
14. Lepaskan celemek plastik, buang ke tempat sampah medis.
15. Lepaskan gaun pelindung, rendah pada larutan klorin 0,5%.
16. Celupkan bagian luar sepatu pada larutan klorin 0,5%, bilas dengan air bersih lalu
lepaskan sepatu dan letakkan di tempat semula.
17. Terakhir lepaskan sarung tangan plastik dan buang ke tempat sampah medis.

- 11 -
Gambar 2. Petugas yang sudah menggunakan gaun pelindung

Perawatan Jenazah di Ruang Perawatan dan Pemindahan Jenazah ke Kamar


Jenazah.
1. Siapkan alat yang diperlukan dan bawa ke dalam ruangan.
a. Sarung tangan latex
b. Gaun pelindung
c. Kain bersih penutup jenazah
d. Klem dan gunting
e. Plester kedap air
f. Kapas, kasa absorben, dan pembalut
g. Kantong jenazah kedap air (khusus untuk pasien dengan penyakit
menular)
h. Wadah bahan infeksius.
i. Wadah barang berharga
j. Brankar jenazah.
2. Atur lingkungan sekitar tempat tidur. Bila kematian terjadi pada ruangan dengan
banyak tempat tidur, jaga privasi pasien yang lain dengan menutup gorden /

- 12 -
sampiran. Selanjutnya petugas mencuci tangan, memakai sarung tangan, gaun,
dan masker.
3. Tinggikan tempat tidur untuk memudahkan kerja dan atur dalam posisi datar.
4. Lepaskan selang infus dan lain – lain, lalu buang pada wadah infeksius.
5. Bekas luka diplester kedap air.
6. Lepaskan pakaian dari jenazah dan tampung pada wadah khusus.
7. Lepaskan perhiasan dan barang berharga di hadapan keluarga. Pada umumnya
semua cincin, gelang, kalung dilepaskan dan ditempatkan pada wadah barang
berharga. Termasuk kaca mata, kartu, surat, kunci, barang religi. Beri label
identitas.
8. Letakkan jenazah pada posisi telentang (posisi supinasi).
9. Tutup kelopak mata dengan kapas lembab dan dapat dibantu dengan plester jika
kelopak mata sulit ditutup. Tutup telinga dengan kapas / kasa.
10. Luruskan badan dengan lengan menyilang tubuh pada pergelangan tangan dan
menyilang abdomen. Atau telapak tangan menghadap ke bawah.
11. Ambil gigi palsu jika diperlukan dan tutup mulut dengan kasa / kapas. Jika mulut
tetap tidak mau tertutup, tempatkan gulungan handuk di bawah dagu agar mulut
tertutup. Tempatkan bantal di bawah kepala.
12. Bersihkan jenazah dengan air bersih dan handuk. Bersihkan area tubuh yang
terkena kotoran seperti darah, feses, dan muntahan pada saat melepaskan jarum
abbocath, selang nasogastrik, kateter urin, dan peralatan medis lainnya. Jika
kotoran terdapat di daerah rektum, uretra, ataupun vagina, letakkan kassa untuk
menutup tiap lubang dan rekatkan dengan plester kedap air untuk mencegah
pengeluaran lebih lanjut. Setelah kematian, sfingter otot relaks sehingga
menyebabkan inkontinensia feses dan urin.
13. Ganti balutan bila ada balutan. Balutan yang kotor harus diganti dengan yang
bersih.
14. Bekas plester dihilangkan dengan larutan alkohol.
15. Tutuplah jenazah dengan kain bersih disaksikan keluarga.
16. Pasang label sesuai kategori di pergelangan kaki / ibu jari kaki

- 13 -
17. Jenazah yang sudah ditutupi kain dipindahkan secara hati – hati ke tandu. Ikat
jenazah ke tandu pada daerah dada dan lutut untuk mencegah jenazah jatuh.
Ikatan tidak boleh terlalu kuat agar tidak menimbulkan cedera.
18. Jenazah selanjutnya dibawa ke kamar jenazah oleh petugas satpam dan petugas
PSP2RS untuk dimandikan, dikafani / dikenakan baju sesuai agama dan
kebudayaan pasien, serta diawetkan (jika jenazah tidak langsung dikebumikan
atau dikremasi).
19. Perawat pelaksana wajib memberitahukan kepada petugas unit kamar jenazah
apakah pasien meninggal karena penyakit menular atau bukan karena penyakit
menular.
20. Cuci tangan dan lepaskan gaun untuk direndam pada tempatnya, buang bahan
yang sekali pakai pada tempat sampah infeksius.
21. Perawat pelaksana merapikan dan membersihkan kamar pasien.
22. Dokumentasikan prosedur. Pada catatan perawatan, catat waktu dan tanggal
jenazah diantar ke kamar jenazah.
23. Periksa kembali apakah barang berharga telah disimpan atau diserahkan kepada
keluarga. Jaga keamanan barang berharga pasien. Disposisi (penyerahan) barang
berharga kepada keluarga harus disertai dengan tanda tangan bukti serah terima di
buku ekspedisi. Jangan meninggalkan barang berharga. Tempatkan di kantor
perawat sampai dapat diserahkan kepada keluarga. Jika memungkinkan, keluarga
dianjurkan untuk membawa pulang semua barang milik pasien tersebut sebelum
pasien meninggal.

Asuhan Keperawatan untuk Keluarga Pasien yang Baru Dinyatakan Meninggal


1. Dengarkan ekspresi keluarga.
2. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bersama jenazah selama beberapa
saat
3. Siapkan ruangan khusus untuk memulai rasa berduka.
4. Bantu keluarga untuk membuat keputusan serta perencanaan pada jenazah.
5. Berikan dukungan bila terjadi disfungsi berduka.

- 14 -
Persiapan Pemulasaran / Perawatan Jenazah di Kamar Jenazah.
1. Petugas melaksanakan kewaspadaan universal dengan menyiapkan alat pelindung
diri yang terdiri dari : sarung tangan karet sampai siku, sepatu boot dari karet,
gaun, celemek plastik, dan masker.
2. Menyiapkan tempat untuk memandikan.
3. Petugas menyiapkan washlap, handuk, baskom berisi air, desinfektan (larutan
klorin 0,5%) dan sabun.
4. Plester kedap air, kapas pembalut, sisir, dan pewangi.
5. Kantong jenazah / plastik
6. Brankar jenazah
7. Kacamata pelindung.

Prosedur Pemulasaran / Perawatan Jenazah di Kamar Jenazah


1. Siapkan larutan klorin 0,5%
2. Menggunakan Alat Pelindung Diri untuk memenuhi persayaratan kewaspadaan
universal
3. Memindahkan jenazah ke meja tempat memandikan jenazah. Tidak diperbolehkan
memandikan jenazah dengan dipangku.
4. Melepaskan semua pakaian yang masih dikenakan jenazah
5. Menyiramkan seluruh tubuh dengan larutan klorin 0,5% secara merata ke seluruh
tubuh mulai dari sela – sela rambut, lubang telinga, lubang hidung, mulut, tubuh,
dan kaki, kemudian tunggu hingga 10 menit.
6. Mandikan dengan sabun dan air mengalir.
7. Bilas dengan air bersih yang mengalir.
8. Keringkan jenazah dengan handuk.
9. Sumbat semua lubang tubuh jenazah yang mengeluarkan cairan dengan kapas.
10. Bungkus jenazah dengan kain kafan atau pembungkus lain sesuai dengan agama /
kepercayaannya.
11. Selesai ritual keagamaan, jenazah (dengan penyakit menular) dimasukkan ke
dalam kantong plastik dengan ketebalan tertentu.

- 15 -
12. Bersihkan bekas tempat memandikan dengan larutan klorin 0,5%.
13. Lepaskan perlengkapan kewaspadaan universal (sesuai protap pemakaian
kewaspadaan universal).

Cara pembuatan larutan klorin 0,5%


1. Kenakan sarung tangan karet yang tebal
2. Ada dua bahan pembuatan larutan klorin 0,5%
a. Menggunakan kaporit
1) Menyiapkan bahan
2) Menyiapkan alat
3) Memasukkan 25 liter air ke dalam bak besar
4) Taruh 200 gram kaporit 60%
5) Letakkan kaporit di atas selembar kain berukuran 40 x 40 cm,
bungkus dengan kain tersebut dengan mengikat keempat ujung –
ujungnya.
6) Haluskan kaporit dengan pemukul.
7) Malarutkan kaporit yang terbungkus kain dengan meremas – remas
kain yang berisi kaporit.
8) Larutan klorin dibagi menjadi dua tempat. Satu tempat untuk
memandikan jenazah dan satu tempat lainnya untuk dekontaminasi
alat.

b. Menggunakan bayclin
1) Menyiapkan 22,5 liter air.
2) Menyiapkan 2,5 liter bayclin.
3) Mencampurkan bayclin ke dalam air.
4) Aduk sampai larut sempurna.
5) Membagi ke dalam dua bak yang berbeda.

- 16 -
Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Agama Islam
1. Bujurkan jenazah di tempat yang tertutup serta diutamakan membujur menghadap
kiblat dengan kepala di sebelah kanan (bagi pasien pemeluk agama Islam yang
meninggal).
2. Lepaskanlah seluruh pakaian yang melekat dan menutup, serta pengikat dagu dan
pergelangan tangan.
3. Tutuplah bagian aurat sekenanya.

Gambar 3. Jenazah dengan bagian aurat tertutup


4. Lepaskan logam seperti cincin dan gigi palsu (jika ada).
5. Bersihkan kotoran (feses) dengan didudukkan dan meremas bagian perut hingga
feses keluar.
6. Bersihkan rongga mulut dari sekret ataupun darah bila ada.
7. Bersihkan kuku – kuku jari tangan dan kakinya.
8. Disunahkan menyiram air mulai anggota yang kanan dari kepala bagian kanan
terus ke bawah, kemudian bagian kiri dan diulang 3 kali.

Gambar 4. Penyiraman jenazah dimulai dari kepala bagian kanan terus ke bawah

9. Mulai menyiram anggota wudhu secara urut, tertib, segera, dan rata hingga 3 kali
serta memulainya dari anggota wudhu sebelah kanan.

- 17 -
Gambar 5. Penyiraman dimulai dari kanan ke kiri

10. Menyiram seluruh tubuh.


11. Menggosok seluruh tubuh dengan sabun.
12. Menyiram berulang kali sejumlah ganjil, misalnya 3, 5, 7, 9, atau 11 kali hingga
rata dan bersih sesuai kebutuhan.
13. Menyiram dengan larutan kapur barus atau bau – bauan yang harum atau cendana
dan sebagainya.
14. Mengeringkan seluruh badan dengan handuk hingga kering.
15. Pengkafanan jenazah non infeksius (jika diminta keluarga pasien)
a. Letakkan jenazah membujur di atas kain kafan, dalam keadaan tertutup
selubung kain kafan (jangan sampai jenazah telanjang secara terbuka).

Gambar 6. Jenazah membujur di atas kafan dengan aurat tertutup


b. Tutuplah tujuh lubang, yaitu 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 pusar
dengan bulatan kapas yang ditaburi serbuk kapur barus.
c. Tutup lembaran kapas yang ditaburi serbuk kapur barus pada :
1) Wajah
2) Leher kanan dan kiri
3) Ketiak kanan dan kiri
4) Lengan siku kanan dan kiri

- 18 -
5) Di bawah dan di atas pergelangan tangan
6) Kedua pergelangan kaki
7) Kedua lingkar mulut.
d. Mengkafani jenazah
Bagi jenazah pria :
1) Tutuplah segitiga kain putih di bagian rambut kepala dengan ikatan
pada dahi.
2) Katupkan tutup dada melalui lubang pada lehernya.
3) Katupkan lipatan tutup celana dalamnya.
e. Bagi jenazah wanita :
1) Letakkan tiga pintalan rambut ke bawah belakang kepala.
2) Tutupkan kain mukena pada rambut kepala
3) Tutupkan belahan kain baju pada dadanya
4) Lipatkan kain basah melingkar badan, perut, dan auratnya di atas
penutup celana dalamnya.
f. Katupkan dengan melingkarkan badannya dengan kain kafan secara rapat,
tertib, dan menyeluruh.
16. Pengkafanan jenazah infeksius (jika diminta keluarga pasien)
a. Letakkan jenazah membujur di atas kain kafan, dalam keadaan tertutup
selubung kain kafan (jangan sampai jenazah telanjang secara terbuka).
b. Tutuplah tujuh lubang, yaitu 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 pusar
dengan bulatan kapas yang ditaburi serbuk kapur barus.
c. Tutup lembaran kapas yang ditaburi serbuk kapur barus pada :
1) Wajah
2) Leher kanan dan kiri
3) Ketiak kanan dan kiri
4) Lengan siku kanan dan kiri
5) Di bawah dan di atas pergelangan tangan
6) Kedua pergelangan kaki
7) Kedua lingkar mulut.

- 19 -
d. Bungkus dengan plastik.
e. Mengkafani jenazah
Bagi jenazah pria :
1) Tutuplah segitiga kain putih di bagian rambut kepala dengan
ikatan pada dahi.
2) Katupkan tutup dada melalui lubang pada lehernya.
3) Katupkan lipatan tutup celana dalamnya.
Bagi jenazah wanita :
1) Letakkan tiga pintalan rambut ke bawah belakang kepala.
2) Tutupkan kain mukena pada rambut kepala
3) Tutupkan belahan kain baju pada dadanya
4) Lipatkan kain basah melingkar badan, perut, dan auratnya di atas
penutup celana dalamnya.
f. Katupkan dengan melingkarkan badannya dengan kain kafan secara rapat,
tertib, dan menyeluruh.

Gambar 7. Jenazah yang sudah terkafani dengan sempurna

- 20 -
Tahapan Pemulasaran Jenazah Menurut Agama Kristen
1. Memandikan jenazah
Lihat prosedur memandikan jenazah
2. Pemakaian baju atau gaun untuk jenazah
Terdapat beberapa ketentuan dalam memilih pakaian untuk jenazah yang
beragama Kristen :
 Jika jenazah adalah seorang gadis, maka dipakaikan baju pengantin.
 Jika jenazah adalah seseorang yang sebelumnya telah menikah, maka
dipakaikan gaun (dress) untuk wanita dan jas untuk laki – laki.
3. Mengawetkan jenazah
Lihat bagian Embalming dan Pengawetan Jenazah.

4. Merias jenazah
Merias jenazah dapat dilakukan oleh salah satu anggota keluarga ataupun petugas
dari rumah duka dengan tetap memperhatikan kewaspadaan universal. Bagian
yang dirias adalah wajah dan rambut.

Tahapan Pemulasaran Jenazah Menurut Agama Buddha / Konghucu


1. Memandikan jenazah
Lihat prosedur memandikan jenazah.. Biasakan jenazah dibasuh dengan air bunga
yang ditempatkan di baskom baru dengan washlap baru. Bunga disediakan oleh
pihak keluarga.
2. Pemakaian baju atau gaun untuk jenazah
Terdapat beberapa kebiasan dalam memilih pakaian untuk jenazah yang beragama
Buddha / Konghucu :
 Jika jenazah adalah seorang gadis atau anak perempuan, maka dipakaikan
baju pengantin.
 Jika jenazah adalah seseorang yang sebelumnya telah menikah, maka
dipakaikan pakaian adat Tionghoa (Chiongsam) berwarna biru ataupun hitam
untuk wanita dan jas untuk laki – laki.

- 21 -
 Biasanya jenazah akan ditutup dengan kain berwarna kuning keemasan pada
lapisan atasnya.
 Untuk jenazah usia lanjut, terdapat pakaian khusus untuk jenazah yang dapat
diperoleh dari Rumah Duka.
 Variasi jenis pakaian berganti pada kepercayaan yang dianut keluarga pasien.
3. Mengawetkan jenazah
Lihat bagian Embalming dan Pengawetan Jenazah.

4. Merias jenazah
Merias jenazah dapat dilakukan oleh salah satu anggota keluarga ataupun petugas
dari rumah duka dengan tetap memperhatikan kewaspadaan universal. Bagian
yang dirias adalah wajah dan rambut.

Embalming dan Pengawetan Jenazah


Embalming atau pengawetan jenazah pada umumnya dilakukan untuk
menghambat pembusukan, membunuh kuman, serta mempertahankan bentuk jenazah.
Pada prinsipnya, pengawetan jenazah hanya boleh dilakukan oleh dokter atau perawat
pada jenazah yang meninggal secara wajar (natural death), sedangkan pada jenazah yang
meninggal tidak wajar (akibat pembunuhan, bunuh diri, serta kecelakaan), maka
pengawetan baru boleh dilakukan setelah proses forensik selesai dilakukan.
Dilakukannya pengawetan jenazah sebelum otopsi dapat menyebabkan perubahan serta
hilangnya atau berubahnya beberapa fakta forensik. Pemeriksaan forensik dilakukan di
rumah sakit rujukan, yakni Rumah Sakit Umum Pirngadi.
Pengawetan jenazah juga dilakukan untuk tujuan penundaan penguburan /
kremasi. Pada kematian yang terjadi jauh dari tempat tinggalnya, maka terkadang perlu
dilakukan pengangkutan jenazah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada kedua keadaan
ini, diperlukan pengawetan jenazah untuk mencegah pembusukan dan penyebaran kuman
dari jenazah ke lingkungan.
Penundaan penguburan / kremasi lebih dari 24 jam biasanya tidak dilakukan
untuk pemeluk agama Islam. Akan tetapi, pada beberapa keadaan, jenazah perlu dibawa
pulang ke tempat tinggal yang jauh letaknya, maka untuk menjamin jenazah aman, dalam

- 22 -
arti tidak berbau dan tidak menularkan bibit penyakit ke sekitarnya selama proses
pengangkutan, maka pengawetan mutlak dilakukan dengan izin dari keluarga pasien dan
pemuka agamanya dengan terlebih dahulu dilakukan komunikasi yang jelas untuk
memberikan informasi dan edukasi. RSU MITRA MEDIKA mengharuskan pembuatan
surat pernyataan pemberian izin pengawetan jenazah khusus untuk pasien yang memeluk
agama Islam.

Teknik pengawetan jenazah :


1. Dalam mengawetkan jenazah, harus ditanamkan untuk menghormati setiap tubuh
jenazah yang akan diawetkan.
2. Cuci jenazah atau mandikan jenazah dengan larutan desinfektan.
3. Baringkan jenazah pada posisi supine.
4. Buka pakaian dan semua perhiasan yang mungkin masih dipakai jenazah.
5. Hilangkan kaku mayat. Apabila ada kaku mayat, hal tersebut harus dilawan untuk
mengurangi ketegangan otot. Otot yang tegang akan meningkatkan tekanan
ekstravaskular sehingga akan terjadi pengalihan cairan pengawet dari dalam
pembuluh darah ke tempat yang tidak semestinya.
6. Atur posisi penampilan mayat, tutup mata dan mulut jenazah.
7. Buatlah campuran cairan pengawet. Biasanya dibutuhkan 3 liter cairan untuk
mengawetkan mayat. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan formalin
antara lain ukuran tubuh, adanya edema, dan tahap pembusukan mayat sudah
sampai di mana. Biasanya 16 ons cairan dengan 1,5 galon air merupakan cairan
pengawet terbaik. Ini akan menghasilkan larutan formalin sebesar 2 – 3%.
8. Pilih tempat suntikan. Tempat terbaik untuk menyuntikkan cairan pengawet
adalah vena femoralis. Hal ini karena pada lokasi tersebut, tekanan yang diterima
pada kepala sama pada kedua sisi. Pada orang tua, sering terjadi sklerosing
sehingga tempat penyuntikan dilakukan pada pembuluh karotis karena lebih
mendekati pusat sirkulasi. Tempat pengaliran cairan pengawet yang paling baik
adalah pada vena jugularis interna karena lebih dekat dengan atrium kanan
jantung yang merupakan pusat pertemuan vena seluruh tubuh.

- 23 -
RSU MITRA MEDIKA masih melakukan pengawetan jenazah secara sederhana
melalui abbocath atau kateter vena sentral yang masih terpasang, diikuti
penyuntikan pada beberapa rongga tubuh seperti rongga dada dan rongga perut.
Tanda – tanda bahwa jenazah telah diawetkan dengan baik adalah :
 Perut semakin keras.
 Keluarnya cairan dari saluran pencernaan.
 Mata menjadi merah karena adanya perubahan tekanan okular mata yang
menjadi tinggi.
 Perubahan warna pada tubuh jenazah.

Hal – Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Proses Keperawatan


1. Segera mencuci kulit dan permukaan lainnya dengan air mengalir bila terkena
darah atau cairan tubuh lainnya.
2. Dilarang memanipulasi alat suntik. Penyarungan jarum suntik ke tutupnya
dilakukan dengan teknik one hand. Buang semua benda tajam ke dalam kontainer
benda tajam dan jarum.
3. Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah atau cairan tubuh
lainnya segera dibersihkan dengan cairan klorin 0,5%.
4. Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan urutan :
dekontaminasi, pembersihan, desinfeksi, dan sterilisasi.
5. Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong plastik
infeksius yang berwarna kuning.
6. Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai dengan pengolahan sampah
medis.

- 24 -
Hal – Hal Khusus Pada Pemulasaran Jenazah untuk Jenazah penderita HIV dan
AIDS
A. Prinsip Dasar :
1. Selalu menerapkan kewaspadaan universal (memperlakukan setiap cairan
tubuh, darah, dan jaringan tubuh manusia sebagai bahan yang infeksius.
2. Pastikan jenazah sudah didiamkan selama kurang lebih 4 (empat) jam sebelum
dilakukan perawatan jenazah. Ini perlu dilakukan untuk memastikan kematian
seluler (matinya seluruh sel dalam tubuh).
3. Tidak mengabaikan budaya dan agama yang dianut.
4. Tindakan petugas mampu mencegah penularan.

B. Ketentuan Umum :
1. Semua petugas yang menangani jenazah sebaiknya telah mendapatkan vaksinasi
hepatitis - B sebelum melakukan pemulasaran jenazah. (Catatan : efektivitas
vaksinasi hepatitis B selama 5 tahun).
2. Hindari kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lainnya.
3. Luka dan bekas suntikan pada jenazah diberikan desinfektan.
4. Semua lubang – lubang tubuh ditutup dengan kasa adsorben dan diplester kedap
air.
5. Badan jenazah harus bersih dan kering.
6. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
7. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan atau otopsi, kecuali
oleh petugas khusus.
8. Dalam hal tertentu, autopsi hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan
dari direktur Rumah Sakit. Proses autopsi tidak dilakukan di Rumah Sakit Deli,
melainkan jenazah dikirim ke Bagian Forensik Rumah Sakit Umum Pirngadi.

C. Penanganan Alat – Alat yang Sudah Terkontaminasi dengan Cairan Tubuh Jenazah
Penderita
HIV – AIDS
1. Dekontaminasi Alat – Alat

- 25 -
Dekontaminasi adalah suatu tindakan yang dilakukan agar alat – alat kesehatan
dapat ditangani secara aman oleh petugas pembersih alat medis. Alat kesehatan
yang dimaksud adalah meja pemeriksaan, alat – alat bedah, sarung tangan, dan
peralatan lainnya yang terkontaminasi cairan tubuh dari jenazah penderita HIV –
AIDS. Alat kesehatan yang digunakan direndam dalam larutan desinfektan, yaitu
larutan chlorine 0,5% selama 10 0 20 menit. Dekontaminasi peralatan yang tidak
dapat direndam, misalnya permukaan meja dapat dilakukan dengan menggunakan
lap yang dibasahi dengan desinfektan.

2. Pencucian dan Pembilasan


Pencucian alat – alat kesehatan adalah proses secara fisik untuk menghilangkan
darah, cairan tubuh, atau benda – benda asing (debu atau kotoran). Setelah dicuci
dengan deterjen, alat kesehatan dibilas dengan air bersih.

3. Sterilisasi
Macam – macam sterilisasi yang biasa dilakukan :
a. Sterilisasi fisik
 Pemanasan basah, untuk koagulasi dan denaturasi protein.
Dilakukan pada suhu 121 derajat Celcius selama 20 – 30 menit.
 Pemanasan kering, yaitu melalui oven. Digunakan untuk
membunuh spora. Pemanasan dilakukan pada suhu 150 – 170
derajat Celcius selama 30 menit.
b. Sterilisasi kimiawi
 Formaldehide 8% digunakan untuk merendam alat kesehatan. Zat
ini tidak dianjurkan karena dapat mengiritasi kulit, mata, dan
saluran nafas.
 Gas etilen oxide, merupakan gas beracun. Digunakan untuk alat
yang tidak tahan panas, misalnya karet, plastik, kabel, dan lain –
lain.

- 26 -
4. Desinfeksi Tinggi Tinggi
Desinfeksi tingkat tinggi adalah suatu proses yang menghilangkan sebagian besar
mikroorganisme namun tidak dapat membunuh endospora dengan sempurna
seperti tetanus dan gas gangren. Cara melakukan DTT :
 Merebus dalam air mendidih selama 20 menit.
 Rendam dalam desinfektan kimiawi.

- 27 -
BAB VI
LOGISTIK

Penyediaan peralatan dan bahan pengawet untuk proses pemulasaran dan pengawetan
jenazah di Unit Kamar Jenazah diperoleh dari :
1. Peralatan medis seperti sarung tangan, jarum suntik, kasa pembalut, perekat kedap
air, dan formalin diperoleh dari Unit Farmasi melalui pengamprahan setiap kali
dijumpai pasien yang meninggal.
2. Alat pelindung diri single use lainnya diperoleh dari Unit Logistik dan URT
dengan ketentuan satu set diletakkan di Unit Kamar Jenazah sebagai stok.
3. Alat pelindung diri yang re-used diperoleh melalui pengajuan permintaan ke Unit
Logistik dan URT untuk penambahan atau penggantian alat pelindung diri yang
rusak / tidak layak pakai.

- 28 -
BAB VII
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien menjadi salah satu fokus perhatian dalam pelayanan


kesehatan di setiap sentra pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit. Prinsip primum
non nocere atau first, do no harm harus selalu diterapkan dalam palayanan pasien, baik
pasien yang masih dirawat ataupun pasien yang baru saja meninggal.
Kenyamanan dan keselamatan pasien lainnya harus diperhatikan. Jika seorang
pasien meninggal di ruangan multi bed, maka perawat pelaksana harus senantiasa
menciptakan ketenangan dan kenyamanan dengan menutup gorden atau kain pembatas
antar tempat tidur. Perawatan jenazah awal di ruang rawat inap harus segera dilakukan
dan jenazah segera dipindahkan ke kamar jenazah untuk proses pemulasaran.
Jenazah yang meninggal oleh karena penyakit menular harus diberi label atau
identifikasi. Pasien yang meninggal oleh karena HIV – AIDS harus diletakkan selama 4
jam sampai kematian seluler tercapai sehingga risiko penularan penyakit lebih kecil.
Khusus untuk jenazah yang meninggal akibat penyakit menular, kantong jenazah tidak
diizinkan untuk dibuka kembali setelah jenazah dibungkus di dalam kantong jenazah.
RSU MITRA MEDIKA tidak memberikan kebijakan untuk keadaan atau alasan
tertentu dalam pemberian izin untuk membiarkan jenazah tetap di ruang rawat inap
selama beberapa jam tanpa dipindahkan ke kamar jenazah. Hal ini disebabkan proses
pembusukan sejak pasien meninggal akan terus berlangsung dan dapat menjadi sumber
penularan infeksi.
Setiap peralatan dan linen yang terkontaminasi dengan cairan tubuh dan darah
pasien yang meninggal harus diperlakukan sebagai peralatan / linen / limbah infeksius
yang membutuhkan dekontaminasi dan desinfeksi.
Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi perlu senantiasa melakukan
monitoring prosedur kerja baik di ruang perawatan maupun di unit kamar jenazah untuk
memastikan bahwa setiap prosedur telah berjalan sesuai prinsip pencegahan dan
pengendalian infeksi.

- 29 -
BAB VIII
PENUTUP

Perawatan jenazah merupakan salah satu bagian pelayanan kesehatan yang


dilakukan di RSU MITRA MEDIKA. Pelayanan unit kamar jenazah erat kaitannya
dengan pencegahan dan pengendalian infeksi, aspek medikolegal, serta hak pasien dan
keluarga pada saaat menghadapi masa kehilangan anggota keluarga (bereavement).
Rumah sakit harus senantiasa memperhatikan ketiga aspek tersebut dalam usaha
menghargai adat istiadat, budaya, agama dan kepercayaan pasien dan keluarga. Oleh
karena itu, pelaksanaan pelayanan perawatan jenazah diharapkan sesuai dengan pedoman
yang berlaku di lingkungan di RSU MITRA MEDIKA serta kebijakan yang diberlakukan
Direktur RSU MITRA MEDIKA. Evaluasi dan revisi terhadap pedoman dan kebijakan
dilakukan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

- 30 -