Anda di halaman 1dari 4

BAB II

SEJARAH PEMBANGUNAN EKONOMI

Immanuel Wallerstein, seorang sosiolog sempat mengemukakan teorinya tentang


globalisasi, dan membagi kurun waktu globalisasi dalam dua periode. Salah satunya dimulai
pada tahun 1450, dimana pada saat itu kolonialisme sedang marak terjadi. Kolonialisme
sendiri berarti pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar
batas negaranya, yang seringkali dilakukan untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber
daya, tenaga kerja, dan pasar di wilayah tersebut.Pada waktu itu, orang-orang berpikir bahwa
jika suatu negara ingin menyejahterakan keadaan perekonomiannya, maka negara tersebut
harus bisa menguasai sumber daya ekonomi yang tersebar di berbagai negara, sebanyak
apapun itu, dan penguasaan itu bisa diraih jika dan hanya jika negara (asing) yang kaya akan
sumber daya alam tersebut dijajah.Oleh karena itu, rasanya terdengar tidak asing jika saat ini
kita melihat banyak negara yang kaya akan sumber daya alam justru menjadi negara
berkembang — dan sebagian malah terbelakang — sedangkan negara-negara yang sebenarnya
tidak begitu kaya akan sumber daya saat ini malah menjadi negara maju. Membahas istilah
negara maju dan terbelakang, sebenarnya istilah ini juga timbul karena adanya kolonialisasi.
Kedua istilah ini malah telah menjadi sistem tata ekonomi dunia, yang menjadikan negara
yang tak dapat bersaing dan mengambil posisinya sebagai negara maju, maka akan mundur
dan menjadi yang terbelakang. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi. Jika awalnya suatu
negara berada dalam kategori terbelakang atau berkembang, namun seluruh penduduk negara
tersebut berusaha memajukan sistem tatanan ekonomi negara tersebut, bisa saja kelak negara
mereka menjadi negara maju, seperti Korea Selatan misalnya. Well, seperti yang sering
orang-orang katakan, tidak ada yang tidak mungkin.Hubungan timbal-balik negara maju dan
berkembang pada zaman kolonialisme memang memprihatinkan. Negara berkembang
(dulunya negara jajahan, yang notabene merupakan negara dengan sumber daya alam yang
melimpah) menjual hasil alam mereka dengan harga murah (sebagai bahan baku). Negara
maju (dulunya negara penjajah) memproses bahan baku tersebut, dengan segenap kreativitas
dan teknologi yang mereka punya, sehingga mereka bisa memproduksi barang baru yang
memiliki nilai jual (lebih) tinggi. Ujung-ujungnya, negara jajahan akan menjadi salah satu
konsumen setia dari barang tersebut; negara penjajah mengekspor kembali hasil produksi
mereka kepada negara jajahan. Jika dianalogikan mungkin begini: ada seorang anak yang
cerdas dengan IQ di atas rata-rata, dan ia memiliki teman. Temannya ini sering meminta
bantuan darinya — karena ia anak cerdas — untuk membantunya belajar. Si Teman ini giat dan
tekun belajar, ia juga mempunyai strategi khusus dalam belajar sehingga pada akhirnya justru
ia yang lebih berhasil dalam ujian dan menjadi juara kelas. Dan, pada akhirnya, si cerdas ini
justru berada di posisi yang nyaris paling belakang, membutuhkan temannya untuk
mengajarinya hal-hal yang belum ia pahami.

Tak hanya kolonialisme, pada saat yang hampir sama, semangat merkantilisme sedang
menyelimuti nyaris seluruh penduduk Eropa. Paham merkantilis ini berprinsip ‘export more,
import less’ yang berarti ‘ekspor lebih banyak, impor lebih sedikit’. Upaya ini ditempuh
semata-mata agar tingkat kesejahteraan ekonomi dari negara penganut paham merkantilis itu
bisa meningkat, meskipun nyatanya, entahlah. Seorang ekonom asal Perancis, Antoine de
Montchretien menggambarkan merkantilisme sebagai berikut: ‘We must have money, and if
we have none from our own production, then we must have some from foreigners.’ Maksud
dari kalimat ini adalah, bagaimanapun caranya, kita harus memiliki uang agar tetap dapat
menjalankan bisnis. Kalaupun tidak, setidaknya kita harus mendapatkannya dari penduduk
luar (modal asing). Kolonialisme dan merkantilisme bagaikan teman yang berjalan
beriringan. Mereka memiliki tujuan yang sama, yakni untuk menggapai kesejahteraan
ekonomi (yang saat itu dipahami sebagai gold, gospel, glory). Jika merkantilisme adalah
ideologi kesejahteraan yang harus direngkuh, maka kolonialisme berperan sebagai cara atau
jalan untuk menggapainya (kesejahteraan).Setelah munculnya kolonialisme dan
merkantilisme, muncullah lagi konsep pemikiran yang lain, yakni kapitalisme yang merujuk
pada upaya untuk menghimpun modal secara terus-menerus agar diperoleh profit sebanyak-
banyaknya. Kapitalisme sangat mendukung (bahkan memberi) adanya hak milik
perseorangan/individu (private property copyright) sehingga setiap individu dapat melakukan
kegiatan ekonomi atau transaksi. Dalam konsep kapitalisasi, intervensi pemerintah tidak ada,
atau mungkin sangat minim. Pemerintah atau negara tidak banyak ikut campur tangan dalam
mengurus perekonomian, mungkin hanya pada saat-saat tertentu. Tugas pemerintah hanyalah
menyediakan fasilitas yang memadai bagi para kapitalis agar mereka dapat terus melakukan
proses produksi dan distribusi barang/jasa. Kapitalisme ini sempat goyah saat perang dunia
ke-II terjadi.

Konsep globalisasi, dimana pasar terbuka lebar bagi setiap negara, rupanya menimbulkan
masalah yang serius. Efisiensi alokasi faktor produksi, dapat dikatakan sebagai ‘hit or miss’
dimana jika hit terjadi, berarti ada efisiensi dan itu dapat memberikan keuntungan yang
sangat besar bagi negara yang melakukannya, sedangkan jika miss terjadi, negara justru bisa
rugi besar. Adanya hal ini rupanya memunculkan istilah pihak yang ‘menang’ dan pihak yang
‘kalah’. Pihak yang menang adalah yang bisa melakukan hit tadi, sedangkan pihak yang
kalah (losers) adalah pihak yang miss. Di sinilah istilah ‘zero sum game’ dipakai.Adanya
globalisasi ini rupanya menimbulkan dampak yang cukup mengerikan, yakni berupa
ketimpangan yang kentara dengan sangat jelas. Sederhananya, coba bandingkan Australia
dengan Afrika. Indeks Pembangunan Manusia mereka menyaratkan ketimpangan, karena
terjadi gap yang cukup besar. Tentu Australia yang unggul, dan Afrika yang lebih rendah.
Hal ini dinilai memprihatinkan (bagi Afrika), karena sumber daya manusia adalah salah satu
variabel yang berpengaruh sangat besar dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan
suksesnya perekonomian suatu negara. Jika tertulis banyak faktor yang dapat membantu
suatu negara untuk mewujudkan kesejahteraan ekonominya, maka faktor manusia (man) lah
yang akan menempati peringkat pertama sebagai faktor yang sangat berpengaruh.Adapun
blok-blok perdagangan yang kemunculannya makin marak seiring bertambahnya waktu, yang
diantaranya adalah NAFTA di Amerika Utara DAN AFTA di Asia Tenggara. Dalam blok-
blok perdagangan ini, tergabung negara-negara dalam wilayah teritori tertentu, dan hal ini
memungkinkan negara ‘maju’ dan ‘berkembang’ untuk tergabung dalam suatu perserikatan
dagang. Contohnya, Jepang yang tergabung di AFTA. Mungkin ada beberapa pihak yang
memandang bahwa Jepang merugi jika tergabung dalam AFTA. Namun, nyatanya ini justru
merupakan suatu keuntungan bagi Jepang karena dapat membangun relasi yang baik dengan
setiap negara anggota AFTA.Seperti yang saya kemukakan di awal, negara berkembang
nyaris selalu menjadi pengekspor bahan baku, sedangkan negara maju berperan sebagai
pengolah bahan baku (yang dapat mengubahnya menjadi bahan jadi yang bernilai jual tinggi).
Negara berkembang pada akhirnya menjadi konsumen yang bergantung pada produk negara
maju, dan hal inilah yang menuntun neraca perekonomian mereka menuju defisit. Adapun
perusahaan multinasional yang banyak berdiri di negara berkembang, pada akhirnya justru
memperoleh banyak keuntungan untuk mereka sendiri. Kegagalan yang beruntun ini akhirnya
mengarahkan pemerintah untuk mengambil ULN (Utang Luar Negeri) dan PMA (Penanaman
Modal Asing). Namun, apakah kedua hal ini dapat memberi jalan kepada negara berkembang
untuk meraih kesusksesan? Jawabannya, tidak juga.Karena, pada nyatanya, ULN dan PMA
yang diberikan oleh negara-negara asing untuk negara berkembang ini tidak berupa uang,
namun berupa teknologi dan lain-lain. Padahal, teknologi yang diberikan belum tentu tepat
sasaran dengan rancangan rencana yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu,
biasanya negara pengutang atau penanam modal ini juga memberikan ketentuan-ketentuan
khusus seperti mempekerjakan tenaga ahli mereka sebanyak beberapa orang, dan bisa
ditebak, jika gaji mereka tidaklah sedikit. Ujung-ujungnya, modal atau utang yang diberikan
akan kembali lagi kepada pemodal dan pengutang, dan apa yang tersisa bagi negara
peminjam untuk mereka gunakan, mungkin, hanyalah sedikit.Melihat kondisi negara
berkembang seperti yang telah dijelaskan di atas memang sungguh membuat prihatin.
Harusnya, pemerintah menjadi lembaga yang berkuasa dalam mengatur perekonomian, dan
melakukan pekerjaannya dengan baik dengan memberi kesempatan yang sama bagi setiap
pihak untuk membangun perekonomian bersama-sama, bukannya malah memberikan
kesempatan besar bagi individu tertentu demi mencapai kekayaan pribadi. Kesejahteraan
ekonomi memang bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan, namun tidak susah juga
untuk dikabulkan, dengan adanya lembaga yang dapat berlaku adil dan menerapkan aturan-
aturan sesuai, kesejahteraan ekonomi sepertinya bukan menjadi mimpi lagi bagi negara-
negara yang saat ini berada di posisi terbelakang.