Anda di halaman 1dari 77

Proposal Penelitian

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENYAKIT ISPA


NON PNEUMONIA PASIEN PEDIATRI DENGAN MENGGUNAKAN
METODE ATC/DDD DI PUSKESMAS MATA KOTA KENDARI
TAHUN 2017

Oleh:

ASWAN SUDIMAN
O1A114007

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
HALAMAN PERSETUJUAN

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Penyakit ISPA Non Pneumonia


Pasien Pediatri Dengan Menggunakan Metode ATC/DDD Di Puskesmas
Mata Kota Kendari Tahun 2017

Diajukan Oleh :

Aswan Sudiman
O1A1 14 007

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Sunandar Ihsan, S.Farm., M.Sc., Apt Sabarudin, S.Farm., M.Si., Apt.


NIP. 19820402 200812 1 002 NIP. 19851229 201504 1 001

Mengetahui,
a.nKetua Jurusan Farmasi,
SekretarisJurusanFarmasi

Nur Illiyyin Akib, S.Si.,M.Si.,Apt.


NIP. 19810319 200801 2 006

i
DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
DAFTAR LAMPIRAN vi
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar belakang 5
B. Rumusan masalah 5
C. Tujuan penelitian 6
D. Manfaat penelitian 6
1. Bagi peneliti 6
2. Bagi institusi 6
3. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan 6
4. Bagi masyarakat 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
A. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) 7
1. Definisi ISPA 7
2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian atas 9
a. Otitis media 9
b. Faringitis 14
c. Sinusitis 19
B. Evaluasi Penggunaan Obat 24
1. Secara Kualitatif 24
2. Secara kuantitatif 25
C. Kerangka Konsep Penelitian 33
BAB III METODE PENELITIAN 35
A. Waktu dan Tempat Penelitian 35
B. Jenis Penelitian 35
C. Populasi penelitian 35
D. Sampel penelitian 35
E. Subyek Penelitian 36
F. Bahan Penelitian 37
G. Alat Penelitian 37
H. Definisi Operasional 37
I. Prosedur penelitian 38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan makro di Indonesia,

demikian pula di Sulawesi Tenggara, meskipun penyakit tidak menular juga telah

meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Penyakit menular masih menjadi

sumber keresahan utama bagi masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah,

juga masih yang paling besar menelan biaya dan waktu (Economy Cost), termasuk

dalam upaya pengendaliannya. Dari data kesehatan di Sulawesi Tenggara bahawa

penyakit menular yang paling banyak dijumpai yaitu penyakit ISPA yaitu dengan

jumlah kasus 114.137% (Dinkes SULTRA, 2017).

Penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat salah satunya adalah

ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Sebagian besar dari infeksi saluran

pernafasan hanya bersifat ringan seperti batuk-pilek, disebabkan oleh virus dan tidak

memerlukan pengobatan menggunakan antibiotik. Infeksi saluran pernafasan bagian

atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan

masyarakat dan dan kasus terbanyak terjadi pada bulan-bulan musim dingin.

Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem

pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk-pilek pada balita di

Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata

mendapat serangan batuk-pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun (Depkes, 1992).


Infeksi saluran pernafasan akut menjadi perhatian bagi anak-anak baik di

Negara berkembang maupun di Negara maju karena berkaitan dengan sistem

kekebalan tubuh. Anak-anak dan balita akan sangat rentan terinfeksi penyebab ISPA

karena sistem imun tubuh yang masih rendah, itulah yang menyebabkan angka

prevalensi dan gejala ISPA sangat tinggi bagi anak-anak dan balita (WHO, 2007).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan yang

paling penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu

kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Hingga saat ini, angka mortalitas ISPA yang

berat masih sangat tinggi. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA

mencakup 20-30% (Depkes, 1992).

Pemberian antibiotik pada kondisi yang bukan disebabkan oleh bakteri banyak

ditemukan dari praktik sehari-hari, baik di puskesmas (primer), rumah sakit, maupun

praktek swasta. Sampai saat ini peresepan antibiotik oleh dokter pada kondisi yang

bukan disebabkan oleh bakteri masih banyak ditemukan baik di rumah sakit maupun

praktek swasta (Hersh et al., 2013). Pemilihan antibiotik harus berdasarkan informasi

tentang spektrum kuman penyebab infeksi, hasil pemeriksaan mikrobiologi, profil

farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik serta harga yang terjangkau

(Permenkes, 2011). Selain itu faktor yang perlu diperhatikan pada pemberian

antibiotik dari segi keadaan klinis pasien adalah kegawatan atau bukan kegawatan,

usia pasien, insufisiensi ginjal, ganguan fungsi hati, keadaan granulositopenia dan

gangguan pembekuan darah (Di piro et al., 2008).

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim (2016) di Kota Kendari,

tentang evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotika ditinjau dari indikator peresepan


di puskesmas rawat inap, didapatkan hasil penelitian pada puskesmas lepo-lepo

sekitar 37,5%, Puuwatu 54,16%, poasia 31,66%, Abeli 46,66%, dan Kandai berkisar

45%. Sebagaimana yang diterapkan oleh WHO yaitu standard presepan antibiotik ≤

30 %, sehingga dapat dikatan hasil penelitian penggunaan antibiotik ditinjau dari

indikator peresepan yang terdapat di puskesmas rawat inap kota kendari belum

mencapai tingkat rasional. Untuk hasil Penelitian yang dilakukan oleh syukriadi

(2016) di Kota Kendari, tentang evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotika ditinjau

dari indikator peresepan menurut WHO di puskesmas non rawat inap, bahwa hasil

seluruh persentasi peresepan antibiotik non rawat inap berkisar 33,79%, hal ini jelas

belum mencapai tingkat rasional atau melebihi pemkaian antibiotik ditinjau dari nilai

WHO, dan tingkat peresepan yang tertinggi yaitu terdapat di Puskesmas Mata Kota

Kendari dengan nilai 52,77%. Maka dari itu perlu dilakukan evaluasi agar diperoleh

penggunaan antibiotik yang rasional.

Menurut WHO (2011), kriteria penggunan obat yang rasional meliputi tepat

indikasi (sesuai dengan indikasi penyakit), tepat obat, diberikan dengan dosis yang

sesuai (tepat dosis) dan cara pemberian, tepat pasien, serta waspada efek samping

dan alergi obat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memastikan penggunaan

antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab adalah dengan mengevaluasi

penggunaan antibiotik. Evaluasi dapat dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif.

Secara kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD (Anatomical Therapeutic

Chemical/Defined Daily Dose), sedangkan secara kualitatif menggunakan metode

Gyssen. Sistem ATC/DDD merupakan sistem klasifikasi dan pengukuran

penggunaan obat yang saat ini menjadi perhatian pada pengembangan penelitian
penggunaan obat. Klasifikasi ATC dan metode DDD biasa digunakan untuk

membandingkan konsumsi penggunaan obat antar negara karena dapat menunjukkan

dosis obat secara global tanpa dipengaruhi oleh variasi genetik dari setiap etnik

(WHO, 2003). Metode DDD adalah asumsi dosis rata-rata per hari penggunaan

antibiotik untuk indikasi tertentu pada orang dewasa (Kemenkes, 2011). Namun,

nilai DDD secara umum dapat digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur

perbandingan secara keseluruhan jika suatu kelompok anak sulit diidentifikasi

(WHO, 2017) .

Pada penelitian ini telah memilih puskesmas karena pelayanan kesehatan di era

sekarang lebih mendominan BPJS khususnya program pemerintah, dimana rujukan

pengobatan tertera di puskesmas sekitar, disamping itu, di Indonesia puskesmas

merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. pelayanan

kesehatan bagi masyarakat karena cukup efektif membantu masyarakat dalam

memberikan pertolongan pertama dengan standar pelayanan kesehatan. Pelayanan

kesehatan yang dikenal murah seharusnya menjadikan puskesmas sebagai tempat

pelayanan kesehatan utama bagi masyarakat (Sanah, 2017).

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, beberapa permasalahan yang ditemukan

antara lain:

1. Bagaimana gambaran penggunaan antibiotik pada pasien ISPA anak dengan

metode ATC/DDD di Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017 ?

2. Berapakah nilai DDD 100 patient-days dari penggunaan antibiotik pada anak di

Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017 ?


C. Tujuan penelitian

1. Mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien ISPA anak dengan

metode ATC/DDD di Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017

2. Mengetahui nilai DDD 100 patient-days dari penggunaan antibiotik pada anak di

Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017.

D. Manfaat penelitian

1. Bagi peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang penggunaan antibiotik yang

tepat dan bijak.

2. Manfaat bagi institusi

Diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi terkait dengan tingkat penggunaan

antibiotik serta dapat menjadi bahan dan pembelajaran dalam meningkatkan

kinerja.

3. Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan

Diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya bidang farmasi klinis tentang pengunaan antibiotik pada

pasien anak. Data dan informasi dari hasil penelitian ini diharapkan dapat

digunakan untuk penelitian berikutnya.

4. Manfaat bagi masyarakat

Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan wawasan dan pengetahuan

tentang pengunaan obat antibiotik yang tepat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

1. Definisi ISPA

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi pada saluran pernapasan

baik saluran pernapasan atas atau bawah, dan dapat menyebabkan berbagai spektrum

penyakit dari infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, yang

dipengaruhi oleh patogen penyebab, faktor lingkungan, dan faktor pejamu.1 Penyakit

ini dapat menyerang saluran napas mulai dari hidung sampai alveoli termasuk

adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura).2 Penyakit ini disebabkan oleh

bakteri atau virus yang masuk kesaluran nafas dan menimbulkan reaksi inflamasi.

Virus yang paling sering menyebabkan ISPA pada balita adalah influenza-A,

adenovirus, parainfluenza virus. Proses patogenesis terkait dengan tiga faktor utama,

yaitu keadaan imunitas inang, jenis mikroorganisme yang menyerang pasien, dan

bernagai faktor yang berinteraksi satu sama lain. ISPA termasuk golongan Air Borne

Disease yang penularan penyakitnya melalui udara. Patogen yang masuk dan

menginfeksi saluran pernafasan dan menyebabkan inflamasi. Penyakit infeksi ini

dapat menyerang semua golongan umur, akan tetapi bayi, balita, dan manula

merupakan yang paling rentan untuk terinfeksi penyakit ini (Lebuan, 2017).

Infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan

14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh berbagai

penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Saluran pernafasan atas

berfungsi menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara. Infeksi Saluran


Pernafasan Akut bagian atas ini disebabkan oleh virus dan bakteri termasuk

nasofaringitis atau common cold, faringitis akut, uvulitis akut, rhinitis, nasofaringitis

kronis, dan sinusitis (Merson, 2012). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di-

awali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala, tenggorokan terasa sakit atau

nyeri saat menelan, pilek, batuk kering atau berdahak. Period prevalence ISPA

dihitung dalam kurun waktu 1 bulan terakhir (Wahyuningsih S, 2017).

Penyakit saluran pernafasan akut disebabkan oleh agen infeksius. Meskipun

spektrum gejala infeksi saluran pernapasan akut sangat bervariasi, timbulnya gejala

biasanya cepat, mulai dari jam ke hari setelah timbulnya infeksi. Gejalanya meliputi

demam, batuk, dan sering sakit tenggorokan, pilek, sesak napas, mengi, atau

kesulitan bernapas. Patogen yang menyebabkan penyakit ini termasuk virus

influenza, virus parainfluenza, rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV) dan

severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV) (WHO, 2014).

Gambar 1. Anatomi Saluran Pernafasan (Depkes, 2012)


2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian atas

a. Otitis media

1) Definisi Otitis media

Otitis media merupakan inflamasi pada telinga bagian tengah dan terbagi

menjadi Otitis Media Akut, Otitis Media Efusi, dan Otitis Media Kronik. Infeksi ini

banyak menjadi problem pada bayi dan anak-anak. Otitis media mempunyai puncak

insiden pada anak usia 6 bulan-3 tahun dan diduga penyebabnya adalah obstruksi

tuba Eustachius dan sebab sekunder yaitu menurunnya imunokompetensi pada anak

(Depkes, 2005).

2) Epidemiologi

Di Amerika Serikat, 90% anak usia di bawah 10 tahun pernah menderita OME.

Insidens OME pada usia neonatus adalah 0-12%, usia 1 tahun 12%, usia 2 tahun 7-

12%, usia 3-4 tahun 2-18%, usia 5 tahun 4-17%, usia 6-8 tahun 3-9%, dan usia 8-9

tahun 0-6%.3 Di Inggris, 80% anak-anak usia sampai 4 tahun pernah menderita

OME.1 Penelitian di Arab Saudi mendapatkan prevalensi OME 7,5% pada anak usia

di bawah 8 tahun.9 Predileksi OME adalah jumlah anak lebih dari 4 orang,

pendidikan ibu hanya setingkat sekolah dasar, tinggal di area rural, serta sering

menderita OMA.9 Di Indonesia, Anggraeni R, et al, melakukan penelitian terhadap

7005 anak sekolah usia 6 tahun hingga 15 tahun dan mendapatkan 26 anak dengan

diagnosis OME.10 Sementara Tamin mendapatkan prevalensi OME adalah 26,7%

pada anak TK dan SD.11 (Aquinas, 2017).


3) Etiologi

Pada kebanyakan kasus, otitis media disebabkan oleh virus, namun sulit

dibedakan etiologi antara virus atau bakteri berdasarkan presentasi klinik maupun

pemeriksaan menggunakan otoskop saja. Otitis media akut biasanya diperparah oleh

infeksi pernapasan atas yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan oedema pada

tuba eustachius. Hal ini berakibat pada akumulasi cairan dan mukus yang kemudian

terinfeksi oleh bakteri. Patogen yang paling umum menginfeksi pada anak adalah

Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis (Depkes,

2005).

Etiologi OME bersifat multipel. OME terjadi karena interaksi berbagai faktor

host, alergi, faktor lingkungan, dan disfungsi tuba Eustachius. Tekanan telinga

tengah negatif, abnormalitias imunologi, atau kombinasi kedua faktor tersebut

diperkirakan menjadi faktor utama. Faktor penyebab lain adalah hipertrofi adenoid,

adenoiditis kronik, palatoskisis, barotrauma, dan radang penyerta seperti sinusitis

atau rinitis. OME bisa juga terjadi saat fase resolusi OMA. Saat proses inflamasi akut

sudah sembuh, 45% pasien OMA mengalami efusi persisten setelah 1 bulan,

berkurang menjadi 10% setelah 3 bulan (Aquinas, 2017).

4) Patofisiologi

Teori klasik menjelaskan disfungsi persisten tuba Eustachius (TE). Fungsi TE

adalah sebagai ventilasi, proteksi, dan drainase. Fungsi ventilasi untuk

menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah sama dengan tekanan udara luar.

Fungsi proteksi untuk perlindungan telinga tengah terhadap tekanan dan secret
nasofaring. Fungsi drainase untuk mengalirkan produksi sekret dari telinga tengah ke

nasofaring. 8,13 TE tidak hanya tabung melainkan sebuah organ yang mengandung

lumen dengan mukosa, kartilago, dikelilingi jaringan lunak, musculus tensor veli

palatine, levator veli palatine, salpingofaringeus, dan tensor timpani. Tuba terdiri

atas tulang rawan pada 2/3 ke arah nasofaring dan sepertiganya terdiri atas tulang.

Panjang tuba pada anak 17,5 mm, lebih pendek, lebih lebar, dan lebih horizontal dari

pada TE dewasa. Anatomi tuba pada anak inilah yang mengakibatkan sekret dari

nasofaring dapat lebih mudah refluks ke dalam telinga tengah melalui TE. Disfungsi

TE bisa terjadi karena upper respiratory tract infection (URTI), trauma, obstruksi

mekanis, atau alergi yang mengakibatkan inflamasi. Jika disfungsi tuba persisten,

akan terbentuk tekanan negatif dalam telinga tengah akibat absorpsi dan/atau difusi

nitrogen dan oksigen ke dalam sel mukosa telinga tengah. Selanjutnya sel mukosa

akan menghasilkan transudasi, kemudian akan terjadi akumulasi cairan serous,

berupa efusi steril sehingga terjadi OME. Jika disfungsi tuba Eustachius berlanjut,

efusi menjadi media ideal untuk tumbuhnya bakteri (Aquinas, 2017).

5) Diagnosis

Otitis media akut ditandai dengan adanya peradangan lokal, otalgia, otorrhea,

iritabilitas, kurang istirahat, nafsu makan turun serta demam. Otitis media akut dapat

menyebabkan nyeri, hilangnya pendengaran, demam, leukositosis. Manifestasi otitis

media pada anak anak kurang dari 3 tahun seringkali bersifat non-spesifik seperti

iritabilitas, demam, terbangun pada malam hari, nafsu makan turun, pilek dan tanda

rhinitis, konjungtivitis. Otitis media efusi ditandai dengan adanya cairan di rongga

telinga bagian tengah tanpa disertai tanda peradangan akut. Manifestasi klinis otitis
media kronik adalah dijumpainya cairan (Otorrhea) yang purulen sehingga

diperlukan drainase. Otorrhea semakin meningkat pada saat infeksi saluran

pernapasan atau setelah terekspose air. Nyeri jarang dijumpai pada otitis kronik,

kecuali pada eksaserbasi akut. Hilangnya pendengaran disebabkan oleh karena

destruksi membrane timpani dan tulang rawan.

Terapi otitis media akut meliputi pemberian antibiotika oral dan tetes bila disertai

pengeluaran sekret. Lama terapi adalah 5 hari bagi pasien risiko rendah (yaitu usia >

2 th serta tidak memiliki riwayat otitis ulangan ataupun otitis kronik) dan 10 hari

bagi pasien risiko tinggi. Rejimen antibiotika yang digunakan dibagi menjadi dua

pilihan yaitu lini pertama dan kedua. Antibiotika pada lini kedua diindikasikan bila:

a) antibiotika pilihan pertama gagal

b) riwayat respon yang kurang terhadap antibiotika pilihan pertama

c) Hipersensitivitas

d) Organisme resisten terhadap antibiotika pilihan pertama yang dibuktikan dengan

tes sensitifitas

e) adanya penyakit penyerta yang mengharuskan pemilihan antibiotika pilihan


N0 Obat Dosis Biasa dan Keterangan
Jadwal
1 Amoksisilin 80-90 mg/kg/hari Obat pilihan untuk AOM;
dalam dua dosis Para ahli merekomendasikan
dosis tinggi untuk mengatasi
resistensi penisilin

2 Amokssilin- 90 mg/kg/hari Efek diarenya lebih besar


klavulanat dalam dua dosis dibanding amoksisilin; rasio
amoksisilin:kavulanat 14: 1
lebih disukai karena
komponen dosis harian
untuk klavulanat lebih
rendah

3 Sefuroksim 30 mg/kg/hari Suspensi terasa kasar dan


aksetil dalam dua dosis pahit; tidak dapat diganti
(maks. 1 g/hari dengan tablet
dengan suspensi) (bioavailabilitasnya akan
berkurang)

4 Sefdinir 14 mg/kg/hari Lebih disukai dari pada


dalam satu sefalosporin oral (rasanya
sampai dua dosis lebih enak); diminum
terpisah dengan suplemen Fe
dalam selang waktu 3 jam

5 Sefpodoksim 10 mg/kg/hari Suspensi terasa pahit


proksetil dalam dua dosis

6 Seftriakson 50 mg/kg IM Regimen 3 hari lebih disukai


atau IV selama 1 untuk PRSP (penicillin-
atau 3 hari resistant S. pneumoniae)
(maks. 1 g/
dosis)
7 Klindamisin 30-40 mg/kg/hari Larutan oral tidak berasa;
dalam tiga dosis hanya untuk infeksi
pneumokokus

Tabel 2.1. Antibiotik untuk Pengobatan Otitis Media Akut (Chisholm-Burns


dkk., 2016).
b. Faringitis

1) Definisi faringitis

Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring dan sering meluas ke jaringan

sekitarnya. Faringitis biasanya timbul bersama-sama dengan tonsilitis, rhinitis dan

laryngitis. Faringitis banyak diderita anak-anak usia 5-15 th di daerah dengan iklim

panas. Faringitis dijumpai pula pada dewasa yang masih memiliki anak usia sekolah

atau bekerja di lingkungan anak-anak (Depkes, 2005).

2) Etiologi

Faringitis dapat disebabkan oleh virus seperti rhinovirus, adenovirus,

parainfluenza, koksakkievirus dan oleh bakteri seperti grup A β-hemolytic

Streptococcus (paling sering), Chlamydia, Corynebacterium diphtheria, Hemophilus

influenza, Neisseria gonorrhoeae. Gejala yang timbul akibat bakteri seperti demam

yang muncul secara tiba-tiba, disfagia (kesulitan menelan), sakit tenggorokan, dan

mual. Jika infeksi yang terjadi akibat bakteri Group A streptococcus/GAS maka

ditandai dengan adanya pembengkakan kelenjar limfa, tidak batuk, demam dengan

suhu tubuh > 380C. Gejala yang timbul akibat virus seperti demam, nyeri menelan,

batuk, kongesti nasal, faring posterior hiperemis atau bengkak, onset radang

tenggorokannya lambat dan progresif (Sukandar dkk, 2009).

Virus merupakan etiologi terbanyak faringitis akut, terutama pada anak berusia <

3 tahun (prasekolah). Virus penyebab penyakit respiratori seperti Adenovirus,

Rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat menjadi penyebab faringitis. Virus Epstein

Barr (Epstein Barr virus,EBV) dapat menyebabkan faringitis, tetapi disertai dengan
gejala infeksi mononikleosis seperti splenomegali dan limfadenopati genelisata.

Infeksi sistemik seperti infeksi virus campak, virus Rubella, dan berbagai virus

lainnya juga dapat menunjukan gejala faringitis akut. Streptococcus ß hemolitikus

grup A adalah bakteri penyebab terbanyak faringitis akut. Bakteri tersebut mencakup

15 – 30 % dari penyebab faringitis akut pada anak (Ikatan Dokter Anak Indonesia.,

2008).

3) Patofisiologi

Pathofisiologi dari faringitis akut adalah penularan terjadi melalui droplet.

Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan

limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit

polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan

sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan

cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi,

pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna

kuning, putih, atau abu – abu terdapat folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa

folikel dan bercak – bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral

menjadi meradang dan membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok atau

faringitis (Arif M., 2007).

patogenesis dari faringitis akut yaitu bakteri maupun virus dapat secara langsung

menginfasi mukosa faring yang kemudian menyebabkan respon peradangan lokal.

Rhinovirus menyebabkan iritasi mukosa faring sekunder akibat sekresi nasal.

Sebagian besar peradangan melibatkan nasofaring uvula, dan palatum mole.

Perjalanan penyakitnya ialah terjadi inokulasi dari agen infeksius di faring yang
menyebabkan peradangan local, sehingga menyebabkan eritema faring, tonsil, atau

keduanya. Infeksi streptokokus ditandai dengan invasi local serta penglepasan toksin

ekstraseluler dan protease. Transmisi dari virus yang khusus dan SBHGA terutama

terjadi akibat kontak tangan dengan secret hidung di bandingkan dengan kontak oral.

Gejala akan tampak setelah masa inkubasi yang pendek, yaitu 24-72 jam (Ikatan

Dokter Anak Indonesia., 2008).

4) Diagnosis

Faringitis didiagnosis dengan cara pemeriksaan tenggorokan, kultur swab

tenggorokan. Pemeriksaan kultur memiliki sensitivitas 90-95% dari diagnosis,

sehingga lebih diandalkan sebagai penentu penyebab faringitis yang diandalkan.27

Faringitis yang paling umum disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes yang

merupakan Streptocci Grup A hemolitik. Bakteri lain yang mungkin terlibat adalah

Streptocci Grup C, Corynebacterium diphteriae, Neisseria Gonorrhoeae.

Streptococcus Hemolitik Grup A hanya dijumpai pada 15-30% dari kasus faringitis

pada anak-anak dan 5-10% pada faringitis dewasa. Penyebab lain yang banyak

dijumpai adalah nonbakteri, yaitu virus-virus saluran napas seperti adenovirus,

influenza, parainfluenza, rhinovirus dan respiratory syncytial virus (RSV). Virus lain

yang juga berpotensi menyebabkan faringitis adalah echovirus, coxsackievirus,

herpes simplex virus (HSV). Epstein barr virus (EBV) seringkali menjadi penyebab

faringitis akut yang menyertai penyakit infeksi lain. Faringitis oleh karena virus

dapat merupakan bagian dari influenza (Depkes, 2005).


Terapi antibiotika ditujukan untuk faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus

Grup A, sehingga penting sekali untuk dipastikan penyebab faringitis sebelum terapi

dimulai. Terapi dengan antibiotika dapat dimulai lebih dahulu bila disertai

kecurigaan yang tinggi terhadap bakteri sebagai penyebab, sambil menunggu hasil

pemeriksaan kultur. Terapi dini dengan antibiotika menyebabkan resolusi dari tanda

dan gejala yang cepat.13 Namun perlu diingat adanya 2 fakta berikut:

a) Faringitis oleh Streptococcus grup A biasanya sembuh dengan sendirinya, demam

dan gejala lain biasanya menghilang setelah 3-4 hari meskipun tanpa antibiotika.

b) Terapi dapat ditunda sampai dengan 9 hari sejak tanda pertama kali muncul dan

tetap dapat mencegah komplikasi.

Sejumlah antibiotika terbukti efektif pada terapi faringitis oleh Streptococcus

grup A, yaitu mulai dari penisillin dan derivatnya, sefalosporin maupun makrolida.

Penisillin tetap menjadi pilihan karena efektivitas dan keamanannya sudah terbukti,

spektrum sempit serta harga yang terjangkau. Amoksisilin menempati tempat yang

sama dengan penisilin, khususnya pada anak dan menunjukkan efektivitas yang

setara. Lama terapi dengan antibiotika oral rata-rata selama 10 hari untuk

memastikan eradikasi Streptococcus, kecuali pada azitromisin hanya 5 hari (Depkes,

2005).
No Obat Dosis Pediatri Laman komentar
ya
1 penisilin V 250 mg 2-3 10 hari Obat pilihan tetapi
timesdaily (jika ≤ 27 meningkatkan laporan
kg), 500 mgtwo tiga kegagalan pengobatan
kali sehari (jika> 27
kg)

2 penisilin G 600.000 unit (jika ≤ 1 dosis Berguna untuk pasien


benzatin 27 kg); 1,2 juta unit IM dengan kepatuhan atau
(jika> 27 kg) emesis yang buruk;
injeksi menyakitkan tapi
rasa sakit bisa berkurang
dengan menghangatkan
sampai suhu kamar
sebelum pemberian

3 amoksisilin 50 mg / kg sekali 10 hari


sehari; max 1 g
4 sefaleksin 25-50 mg / kg / hari 10 hari Obat disukai untuk anak
2 dosis karena muda
ditingkatkan palatabilitas
dan dosis sekali sehari

5 sefadroksil 30 mg / kg sekali 10 hari Direkomendasikan


sehari bukan jenis alergi I
penisilin
6 sefuroksim 20 mg / kg / hari 2 10 hari Direkomendasikan
aksetil dosis bukan jenis alergi I
penisilin
7 sefdinir 14 mg / kg / hari 5-10 Spektrum yang luas;
dalam satu dosis hari mahal
totwo

8 azitromisin 12 mg / kg sekali 5 hari Direkomendasikan


sehari penisilin tipe segera;
meningkatkan resistensi

9 klindamisin 20 mg / kg / hari di 3 10 hari Direkomendasikan


dosis penisilin tipe segera;
penggunaan untuk
infeksi berulang

Tabel 2.2. Antibiotik untuk Pengobatan Faringitis (Chisholm-Burns dkk., 2016).


c. Sinusitis

1) Definisi sinusitis

Sinusitis merupakan peradangan pada mukosa sinus paranasal. Peradangan ini

banyak dijumpai pada anak dan dewasa yang biasanya didahului oleh infeksi saluran

napas atas. Sinusitis dibedakan menjadi sinusitis akut yaitu infeksi pada sinus

paranasal sampai dengan selama 30 hari baik dengan gejala yang menetap maupun

berat. Gejala yang menetap yang dimaksud adalah gejala seperti adanya keluaran

dari hidung, batuk di siang hari yang akan bertambah parah pada malam hari yang

bertahan selama 10-14 hari, yang dimaksud dengan gejala yang berat adalah di

samping adanya sekret yang purulen juga disertai demam (bisa sampai 39ºC) selama

3-4 hari. Sinusitis berikutnya adalah sinusitis subakut dengan gejala yang menetap

selama 30-90 hari. Sinusitis berulang adalah sinusitis yang terjadi minimal sebanyak

3 episode dalam kurun waktu 6 bulan atau 4 episode dalam 12 bulan2. Sinusitis

kronik didiagnosis bila gejala sinusitis terus berlanjut hingga lebih dari 6 minggu

(Depkes, 2005).

2) Etiologi

Sinusitis bakteri akut umumnya berkembang sebagai komplikasi dar infeksi virus

saluran napas atas. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut

adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Moraxella

catarrhalis. Patogen yang menginfeksi pada sinusitis kronik sama seperti pada

sinusitis akut dengan ditambah adanya keterlibatan bakteri anaerob dan S. Aureus

(Depkes, 2005).
Penyebab utama dan terpenting dari rinosinusitis adalah obstruksi ostium rbagai

faktor baik lokal maupun sistemik dapat menyebabkan inflamasi atau kondisi yang

ngarah pada obstruksi ostium sinus. Berbagai faktor tersebut meliputi infeksi saluran

napas s, alergi, paparan bahan iritan, kelainan anatomi, defisiensi imun dan kondisi

ko-morbid. Infeksi bakteri atau virus, alergi dan berbagai bahan iritan hirupan dapat

menyebabkan inflama: mukosa hidung. Infeksi akut saluran napas atas yang

disebabkan virus (acute viral uppe respiratory tract infection) merupakan faktor

penyebab terbanyak dari rinosinusitis (vin rhinosinusitis). U1-15 Human Rhinovirus

dapat masuk ke dalam sel oleh karena berikata dengan intercellular adhesion

molecule-1 (ICAM-1) di permukan sel yang berfungsi sebagc reseptor virus.9 Udem

mikosa hidung dan sinus maksila yang berakibat penyempitan ostiur sinus maksila

diketemukan pada 80% pasien Common cold.14 Adanya cairan (efusi) di sinu dapat

di ikuti pertumbuhan bakteri sekunder sehingga timbul gejala keradangan aki

(rinosinusitis akut bakterial). Sebagian besar kasus rinosinusitis disebabkan karena

inflamasi akibatdari colds (infeksi virus) dan rinitis alergi.9-16 Infeksi virus yang

menyerang hidung dan sinus paranasal menyebabkan udem mukosa dengan tingkat

keparahan yang berbeda. Virus penyebab tersering adalah coronavirus, rhinovirus,

virus influenza A, dan respiratory syncytial virus (RSV). Selain jenis virus, keparahan

udem mukosa bergantung pada kerentanan individu. Infeksi virus influenza A dan

RSV biasanya menimbulkan udem berat. Udem mukosa akan menyebabkan obstruksi

ostium sinus sehingga sekresi sinus normal menjadi terjebak (sinus stasis) (Kentjono,

2004).
3) Patofisiologi

Kegagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan faktor

utama berkembangnya sinusitis. Patofisiologi rinosinusitis digambarkan sebagai

lingkaran tetutup, dimulai dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks

ostiomeatal (KOM). Secara skematik patofisiologi rinosinusitis sebagai berikut:73

Inflamasi mukosa hidung, pembengkakan (udem) dan eksudasi, obstruksi (blokade)

ostium sinus, gangguan ventilasi & drainase, resorpsi oksigen yang ada di rongga

sinus, hipoksi (oksigen menurun, pH menurun, tekanan negatif), permeabilitas

kapiler meningkat, sekresi kelenjar meningkat Mransudasi, peningkatan eksudasi

serus, penurunan fungsi silia, retensi sekresi di sinus a pertumbuhan kuman

(Kentjono, 2004).

4) Diagnosis

Tanda lokal sinusitis adalah hidung tersumbat, sekret hidung yang kental

berwarna hijau kekuningan atau jernih, dapat pula disertai bau, nyeri tekan pada

wajah di area pipi, di antara kedua mata dan di dahi. Tanda umum terdiri dari batuk,

demam tinggi, sakit kepala/migraine, serta menurunnya nafsu makan, malaise

(Depkes, 2005).

Penegakan diagnosis adalah melalui pemeriksaan klinis THT, aspirasi sinus yang

dilanjutkan dengan kultur dan dijumpai lebih dari 104/ml koloni bakteri, pemeriksaan

x-ray dan CT scan (untuk kasus kompleks). Sinusitis viral dibedakan dari sinusitis

bakteri bila gejala menetap lebih dari 10 hari atau gejala memburuk setelah 5-7 hari.
Selain itu sinusitis virus menghasilkan demam menyerupai sinusitis bakteri namun

kualitas dan warna sekret hidung jernih dan cair (Depkes, 2005).

Sinusitis bakteri akut umumnya berkembang sebagai komplikasi dari infeksi virus

saluran napas atas.25 Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut

adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Moraxella

catarrhalis. Patogen yang menginfeksi pada sinusitis kronik sama seperti pada

sinusitis akut dengan ditambah adanya keterlibatan bakteri anaerob dan S. Aureus

(Depkes, 2005).

Peradangan satu atau lebih dari rongga sinus paranasal, kemungkinan disebabkan

alergi, virus, bakteri, atau jamur (jarang). Sinusitis merupakan infeksi pada sinus

yang terjadi secara akut (sampai dengan 4 minggu). Bakteri yang sering

menyebabkan sinusitis adalah Streptococcus pneumonia (30-40%), Haemophilus

influenza (20-30%), Moxarella catarrhalis (12-20%), Streptococcus pyogenes, dan

Staphylococcus aureus. Gejalanya yaitu keluarnya cairan kental berwarna dari

hidung, sumbatan di hidung, nyeri muka, sakit gigi, dan demam. (Sukandar dkk,

2009).
No Obat Dosis pediatri Keterangan

1. Amokssilin 45-90 mg/kg/hari Perlindungan lemah terhadap


dalam dua dosis penghasil β-laktamase

2. Amokssilin- 45-90 mg/kg/hari Perlindungan luas terutama dengan


klavulanat dalam dua dosis dosis tinggi augmentin XR (2 g setiap
12 jam) ditujukan bagi
PRSP
3. Sefdinir 14 mg/kg/hari larutan oral sefalosporin lebih disukai
dalam satu karena palatabilitas baik
sampai dua dosis

4. Sefiksim 8 mg/kg/hari IDSA merekomendasikan digunakan


dalam dua dosis hanya jika dikombinasi dengan
Klindamisin
5. Sefpodoksim 10 mg/kg/hari IDSA merekomendasikan digunakan
proksetil dalam dua dosis hanya jika dikombinasi dengan
Klindamisin
6. Sefuroksim asetil 15-30 mg/day
dalam dua dosis

7. Seftriaksson 50 mg/kg i.m/i.v Para ahli menyarankan pengobatan


setiap 24 jam selama 5 hari; berguna untuk pasien
yang muntah dan tidak bisa mentolerir
terapi oral.
8. Doksisiklin Tidak dianjurkan Dapat menyebabkan sensitivitas
untuk anak usia < terhadap cahaya, masalah GI, gigi
8 tahun berwarna pada anak-anak; banyak
obat-obat yang berinteraksi (antasida,
besi, kalsium)
9. Levofloksasin 10 mg/kg/dosis Efek samping umum fluorokuinolon
setiap 12-24 jam seperti mual, diare, pusing; banyak
obat-obat yang berinteraksi (antasida,
besi, kalsium); tendon pecah,
sensitivitas terhadap cahaya ,
mungkin perpanjangan QT; biaya
10. Moksifloksasin Tidak tersedia Mirip dengan amoksisilin klavulanat

11. Klindamisin 30-40 mg /kg/hari Tidak dapat melindungi dari bakteri-


dalam tiga dosis gram negatif; digunakan hanya dengan
kombinasi sefalosporin
12. Linezoid 10 mg/kg /dosis Tidak dapat melindungi dari bakteri-
setiap 8-12 jam gram negatif; digunakan hanya sebagai
alternatif untuk klindamisin

Tabel 2.3. Antibiotik untuk Pengobatan sinusitis(Chisholm-Burns dkk., 2016).


B. Evaluasi Penggunaan Obat.

1. Secara Kualitatif

Penilaian kualitas penggunaan antibiotik bertujuan untuk perbaikan kebijakan

atau penerapan program edukasi yang lebih tepat terkait kualitas penggunaan

antibiotik. Penilaian kualitas penggunaan antibiotik sebaiknya dilakukan secara

prospektif oleh minimal tiga reviewer (dokter ahli infeksi, apoteker, dokter yang

merawat). Kualitas penggunaan antibiotik dinilai dengan menggunakan data yang

terdapat pada Rekam Pemberian Antibiotik (RPA), catatan medik pasien dan kondisi

klinis pasien (Kemenkes, 2011).

Penggunaan obat yang rasional meliputi pasien menerima obat sesuai dengan

kondisi klinisnya, dosis sesuai dengan kebutuhan individual, periode waktu yang

tepat, dan biaya yang terendah untuk individu dan komunitasnya (WHO, 2012).

Kriteria penggunaan obat yang rasional adalah tepat diagnosis yaitu obat

diberikan sesuai dengan diagnosis karena apabila diagnosis tidak ditegakkan dengan

benar maka pemilihan obat akan salah; tepat indikasi penyakit yaitu obat yang

diberikan harus yang tepat bagi suatu penyakit; tepat pemilihan obat yaitu obat yang

dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan penyakit; tepat dosis yaitu dosis,

jumlah, cara, waktu dan lama pemberian obat harus tepat karena bila salah satu dari

empat hal tersebut tidak dipenuhi akan mengakibatkan efek terapi tidak tercapai.

Tepat jumlah yaitu jumlah obat yang diberikan harus dalam jumlah yang cukup.

Tepat cara pemberian, misalkan antibiotika tidak boleh dicampur dengan susu karena

akan membentuk ikatan sehingga menurunkan efektifitasnya. Tepat interval waktu


pemberian hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis agar mudah ditaati

oleh pasien. Tepat lama pemberian harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing;

tepat penilaian kondisi pasien yaitu penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi

pasien dan harus memperhatikan kontraindikasi obat, komplikasi, kehamilan,

menyusui, lanjut usia atau bayi; waspada terhadap efek samping yaitu obat dapat

menimbulkan efek samping yang merupakan efek tidak diinginkan yang timbul pada

pemberian obat dengan dosis terapi, seperti timbulnya mual, muntah, gatal-gatal, dan

lain sebagainya; efektif, aman, mutu terjamin, tersedia setiap saat, dan harga

terjangkau, untuk mencapai kriteria ini obat dibeli melalui jalur resmi; tepat tindak

lanjut (follow up) yaitu apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila sakit

berlanjut konsultasikan ke dokter; tepat penyerahan obat (dispensing) yaitu resep

yang dibawa ke apotek atau tempat penyerahan obat akan dipersiapkan obatnya dan

diserahkan kepada pasien dengan informasi yang tepat; pasien patuh terhadap

perintah pengobatan yang diberikan (Depkes RI, 2008).

2. Secara kuantitatif

Evaluasi penggunaan antibiotik secara retrospektif dapat dilakukan dengan

menggunakan ATC/DDD (Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose).

DDD adalah asumsi dosis rata-rata per hari penggunaan antibiotik untuk indikasi

tertentu pada orang dewasa. Penilaian penggunaan antibiotik di rumah sakit dengan

satuan DDD/100 hari rawat; dan di komunitas dengan satuan DDD/1000 penduduk.

Studi validasi adalah studi yang dilakukan secara prospektif untuk mengetahui
perbedaan antara jumlah antibiotik yang benar digunakan pasien dibandingkan

dengan yang tertulis di rekam medis (Kemenkes, 2011).

Pada tahun 1981, sistem ATC / DDD direkomendasikan oleh WHO sebagai

internasional Standar untuk studi pemanfaatan obat, dan pada tahun 1982 WHO

Collaborating Centre untuk Obat statistik Metodologi didirikan dan diberi tanggung

jawab untuk mengkoordinasikan pengembangan dan penggunaan ATC sistem /

DDD. Pada tahun 1996, Pusat diakui sebagai pusat global. Hal ini dianggap penting

untuk memungkinkan integrasi dekat penelitian pemanfaatan obat internasional dan

inisiatif WHO untuk mencapai akses universal terhadap obat-obatan yang diperlukan

dan penggunaan obat rasional khususnya di negara-negara berkembang. Akses

informasi standar dan divalidasi pada narkoba penggunaan sangat penting untuk

memungkinkan audit pola pemanfaatan obat, identifikasi masalah, pendidikan atau

intervensi lain dan pemantauan hasil dari intervensi (WHO, 2018).

DDD adalah unit pengukuran. Dosis terapi untuk pasien individu dan kelompok

pasien akan sering berbeda dari DDD karena mereka akan didasarkan pada

karakteristik individu (seperti usia, berat badan, perbedaan etnis, jenis dan tingkat

keparahan penyakit) dan pertimbangan farmakokinetik. Hanya pada DDD ditugaskan

per kode ATC dan rute pemberian (misalnya oral). formulasi DDD hampir selalu

kompromi berdasarkan penelaahan informasi yang tersedia termasuk dosis yang

digunakan di berbagai negara ketika ini informasi tersedia. DDD kadang-kadang

“dosis” yang jarang jika pernah diresepkan, karena mungkin rata-rata dua atau lebih

umum digunakan dosis. Data pemanfaatan obat yang disajikan dalam DDD hanya
memberikan perkiraan kasar dari konsumsi dan bukan gambaran yang tepat dari

penggunaan aktual. DDD menyediakan unit tetap pengukuran independen harga,

mata uang, ukuran paket dan kekuatan yang memungkinkan peneliti untuk menilai

tren konsumsi obat dan melakukan perbandingan antara kelompok populasi. DDD

tidak ditetapkan untuk produk topikal, sera, vaksin,antineoplastik, agen ekstrak

alergen, anestesi umum dan lokal dan media kontras. DDD hanya ditugaskan untuk

obat dengan kode ATC dan DDD akan biasanya tidak ditugaskan untuk bahan

sebelum produk disetujui dan dipasarkan di setidaknya satu negara (WHO, 2018).

Prinsip dasarnya adalah untuk menetapkan hanya satu DDD per rute pemberian

dalam kode ATC. DDD untuk zat tunggal biasanya didasarkan pada monoterapi.

Pengecualian untuk aturan ini diberikan dalam pedoman dari kelompok ATC yang

relevan. Untuk zat diindikasikan untuk gangguan langka dengan dosis sangat jadwal

individual, Kelompok Kerja bisa memutuskan untuk tidak menetapkan DDD. DDD

untuk produk obat herbal tidak termasuk dalam indeks ATC. Mereka diterbitkan

dalam ATC diurutkan daftar di website. Ketika DDD baru ditetapkan, berbagai

sumber yang digunakan untuk mendapatkan yang terbaik gambaran dari penggunaan

aktual atau diharapkan suatu zat. DDD ditugaskan didasarkan pada prinsip-prinsip

berikut:

a. Dosis rata-rata orang dewasa direkomendasikan untuk indikasi utama yang

dicerminkan oleh kode ATC. Ketika dosis yang dianjurkan mengacu pada berat

badan, orang dewasa dianggap sebagai orang dengan berat 70 kg. Perlu

ditekankan bahwa bahkan bentuk farmasi khusus terutama ditujukan untuk anak-
anak (misalnya tunggal, campuran, supositoria) diberikan DDD yang digunakan

untuk orang dewasa.

b. Untuk beberapa kelompok produk obat prinsip-prinsip khusus untuk DDD tugas

ditetapkan (misalnya DDD untuk agonis serotonin selektif dalam pengobatan

migrain didasarkan pada dosis awal yang telah disetujui). Prinsip-prinsip ini

diberikan dalam pedoman untuk kelompok ATC yang relevan.

c. Sebuah DDD biasanya didirikan sesuai dengan isi menyatakan (kekuatan) dari

produk.Berbagai garam dari suatu zat biasanya tidak diberikan DDD berbeda.

Pengecualian dijelaskan dalam pedoman untuk kelompok ATC yang relevan.

Sebagai contoh, DDD untuk antimalaria dinyatakan sebagai dasar.

d. Bentuk stereoisomer yang berbeda biasanya ditugaskan DDD terpisah dan ATC.

Kode DDD untuk bentuk stereoisomer dijelaskan dalam ATC pada kelompok

masing-masing.

e. Produk, yang belum diberi kode ATC, tidak bisa mengunakan metode DDD

karena penggunaan metode DDD hanya yang memiliki kode ATC sehingga obat

tersebut dipisahkan.

f. DDD sering didentik untuk berbagai bentuk sediaan obat yang sama. DDD yang

berbeda dapat dibuat bila bioavailabilitas yang secara substansial berbeda untuk

berbagai rute administrasi (misalnya oral dan parenteral pemberian morfin) atau

jika bentuk sediaan yang digunakan untuk yang indikasi berbeda. Ketika

penggunaan formulasi parenteral hanya mewakili kecil sebagian dari total


penggunaan untuk indikasi tertentu, produk ini telah biasanya tidak menerima

DDD terpisah bahkan jika bioavailabilitas bentuk lisan secara substansial berbeda.

Prinsip ini belum secara ketat diikuti dalamterakhir. beberapa tahun Antibakteri

parenteral misalnya terutama digunakan di rumah sakit dan sering untuk infeksi

yang lebih parah daripada dalam perawatan primer. The DDD sering digunakan

sebagai indikator untuk digunakan antibakteri di rumah sakit, dan telah

memutuskan bahwa menetapkan DDD berbeda untuk formulasi oral dan

parenteral bisa menjadi penting dalam beberapa kasus untuk meningkatkan

kegunaan dari metodologi dalamobat pemantauan pemanfaatandan penelitian.

g. Produk parenteral dengan rute yang berbeda administrasi (o dan im) memiliki

DDD yang sama.

Pada sistem klasifikasi ATC, zat aktif dibagi menjadi beberapa kelompok yang

berbeda sesuai dengan organ atau sistem organ dimana zat aktif tersebut bekerja dan

menghasilkan efek terapi, farmakologi, dan sifat kimia. Obat diklasifikasikan

menjadi 5 kelompok dengan level yang berbeda seperti berikut (WHO, 2018).

1. Level pertama, merupakan kolompok utama anatomi

A : Saluran pencernaan dan metabolisme

B : Darah dan organ pembentuk darah

C : Sistem kardiovaskular

D : Dermatologis

G : Genito sistem urin dan hormon seks

H : Persiapan hormonal sistemik, kecuali hormon seks dan insulin


J : Antiinfeksi untuk penggunaan sistemik

L : Agen antineoplastik dan imunomodulasi

M : Sistem Musculo-skeletal

N : Sistem nervous

P : Produk antiparasit, insektisida dan repellents

R : Sistem pernapasan

S : Organ sensorik

V : Various

Antibiotik yangg digunakan pada pengobatan ISPA termasuk dalam kategori

kelompok antiinfeksi untuk penggunaan sistemik yaitu kode J.

2. Level kedua, merupakan kelompok utama farmakologi. Contoh:

J01 : Antibakteri untuk penggunaan sistemik

J02 : Antimikotik untuk penggunaan sistemik

3. Level ketiga, merupakan kelompok farmakologi. Contoh :

J01C : Untuk antibakteri beta laktam, penicillin

J01D : Untuk antibakteri beta laktam lain

4. Level keempat, merupakan kelompok kimia. Contoh:

J01C : Penicillin dengan sepectrum diperpanjang

J01DC : Generasi kedua Sefalosporin

5. Level kelima, merupakan kelompok zat kimia. Contoh:

J01CA01 : Ampisillin

J01DC02 : Sefuroksim
Berikut adalah rumus perhitungan konsumsi antibiotik, DDD 100 patient-days:

DDD 100 patient-days =

(jumlah gram AB yang digunakan oleh pasien) 100


x (total LOS)
Standar DDD WHO dalam gram

Cara perhitungan (Kemenkes, 2011).

a) Dikumpulkan data semua pasien yang menerima terapi antibiotik

b) Dikumpulkan lamanya waktu perawatan pasien rawat inap (total Length Of Stay,

LOS semua pasien)

c) Dihitung jumlah dosis antibiotik (gram) selama dirawat

d) Dihitung DDD 100 patient-days.


C. Kerangka Konsep Penelitian

Puskesmas Mata Kota Kendari

Reka Medik dan Resep

Pasien ISPA Non Pneomunia pada Pediatri


(0-16 tahun)

Profil Penggunaan Antibiotik Evaluasi Penggunaan


Antibiotik (ATC/DDD)
 Nama Antibiotik
 Indikasi Penggunaan
 Sediaan
 Dosis Antibiotik (mg) Nilai DDD 100 Patient-days
 Durasi Pemakaian Antibiotik
 Jumalah Penggunaan Antibiotik Per
hari (g)
 Total antibioik yang di proleh


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medik di Puskesma Mata Kota

Kendari pada bulan April-Mei 2018.

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif non ekperimental dengan

pendekatan retrospektif, melalui pengambilan data rekam medik pasien ISPA yang

memenuhi kriteria inklusi di Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017.

C. Populasi penelitian

Populasi penelitian ini adalah pasien anak yang terdiagnosa ISPA di Puskesmas

Mata Kota Kendari tahun 2017.

D. Sampel penelitian

Catatan medik yang memuat antibiotik dari pasien ISPA anak yang memenuhi

kriteria penelitian tahun 2017. Besar sampel pada penelitian ini ditentukan dengan

menggunakan rumus:

Zz p(1−p)N
1−0,5α
n = d2 (N−1)+ Z2 1−0,5α P(1−P)

Keterangan

n: jumlah sampel minimal yang dibutuhkan


N: jumlah populasi (2641)

Z1-0,5α: derajat koefisien konfidensi 95%(1,96)

P: proposi suatu Kasus tertentu terhadap populasi bila tidak diketahui

proporsinya ditetapkan 50% (0,50)

d: persentasi kemungkinan membuat kekeliruan dalam menentukanukuran

sampel (5%).

1.962 x 0.50 (1−0.50)2641


n = 0.052 (2641−1)+ 1.962 x 0.50 (1−0.50)

2536,41
n = 6.6+0.96

2536,41
n= 7.56

n = 335,5039683

n = 336

E. Subyek Penelitian

Pasien anak yang berobat di Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017, dalam

hal ini data pasien diambil dari lembar rekam medik.

1. Kriteria Inklusi

a. Pasien anak yang terdiagnosa ISPA di Puskesmas Mata Kota Kendari yang

mendapatkan antibiotik selama tahun 2017.

b. Pasien anak yang menggunakan obat antibiotik yang terdapat kode dalam

klasifikasi ATC.
c. Pasien anak dengan catatan medik lengkap dan jelas terbaca oleh peneliti.

2. Kritria Eksklusi

a. Pasien anak yang meninggal sebelum program pemberian antibiotik pada

pasien selesai.

b. Pasien anak yang terapinya dilanjutkan di tempat lain (pindah

puskesmas/sarana kesehatan lainnya).

c. Data catatan medik tidak lengkap.

F. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar rekam medik dan resep pasien

anak penderita ISPA di Puskesmas Mata Kota Kendari selama tahun 2017 dari

subyek yang memenuhi kriteria inklusi.

G. Alat Penelitian

Alat penelitian yang digunakan yaitu lembar pencatatan data yang terdiri atas

lembar data dasar pasien dan lembar data penggunaan antibiotik:

1. Lembar data dasar pasien (Lampiran 1) berisi informasi mengenai nomor rekam

medik pasien, nama pasien, jenis kelamin pasien, usia, berat badan pasien,

diagnosa utama, waktu datang periksa, dan status (BPJS/umum)

2. Lembar data penggunaan antibiotik (Lampiran 2) berisi informasi mengenai

nama antibiotik, indikasi penggunaan, dosis antibiotik (mg), rute pemberian,

durasi pemakaian antibiotik, jumlah penggunaan antibiotik per hari (g), total

antibiotik yang diperoleh (g).


H. Definisi Operasional

1. Antibiotik adalah antibiotik yang digunakan pada pasien ISPA anak di

Puskesmas Mata Kota Kendari.

2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang terdiagnosa ISPA

pada pasien anak di Puskesmas Mata Kota Kendari dan mendapat terapi

antibiotik.

3. Pasien anak/pediatri adalah pasien yang berusia 0-16 tahun

4. ATC/DDD merupakan standar pengukuran kuantitas antibiotik yang

direkomendasikan oleh WHO (Guidelines For ACT Classification and DDD

Assignment 2018).

5. LOS (Length Of Stay) adalah lama perawatan pasien yang dihitung berdasarkan

jumlah obat yang diterima dibagi dengan frekuensi pemberian/penggunaan obat

dalam sehari.

I. Prosedur Penelitian

1. Persiapan

Pembuatan surat permohonan izin pelaksana penelitian dari Fakultas Farmasi

Universitas Halu Oleo yang kemudian diajukan kepada BALITBANG Provinsi

Sulawesi Tenggara yang selanjutnya diserahkan ke Puskesmas Mata Kota Kendari.

2. Pengumpulan Data Penelitian

Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan alur sebagai berikut:

a. Pengumpulan data pasien yang terdiagnosa ISPA selama tahun 2017.

b. Pemilihan pasien yang masuk ke dalam kriteria inklusi.


c. Pemilihan sampel yang dipilih secara ramdom sampling

d. Data rekam medik dari pasien tersebut kemudian ditulis ke dalam lembar data

pasien dan lembar data penggunaan antibiotik (alat penelitian)

e. Data dari rekam medis pasien diolah lebih lanjut.

3. Pengolahan Data

Pengolahan data akan dilakukan dengan:

a. Diperiksa ulang kelengkapan kelengkapan data-data yang diperoleh dari catatan

medik pasien di Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017.

b. Memasukkan data yang akan diolah yaitu data dari lembar data pasien dan lembar

penggunaan antibiotik.

c. Diperiksa ulang data-data yang telah dimasukkan.

4. Analisis Data

Analisis dilakukan dengan menghitung kuantitas penggunaan antibiotik pada

pasien ISPA dengan metode ATC/DDD. Berikut tata cara analisis dengan

menggunakan metode ATC/DDD:

a. Diklasifikasikan kode Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) suatu antibiotik

berdasarkan Guidelines for ATC and DDD Assignment WHO tahun 2018.

b. Diidentifikasi jenis antibiotik, baik tunggal maupun kombinasi yang digunakan

c. Diidentifikasi Define Daily Dose (DDD) untuk masing-masing antibiotik

berdasarkan Guidelines for ATC and DDD Assignment WHO tahun 2018.

d. Dihitung jumlah kekuatan antibiotik (dalam gram) yang digunakan


e. Dihitung jumlah hari rawat (total Length Of Stay, LOS) pasien ISPA di

Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2017.

f. Dihitung DDD/100 patient-days untuk masing-masing jenis antibiotik atau

kombinasi antibiotik dengan menggunakan rumus (Kemenkes RI, 2011):

DDD 100 patient-days =

(jumlah gram AB yang digunakan oleh pasien) 100


x (total LOS)
Standar DDD WHO dalam gram

5. Jadwal Penelitian

Jadwal Penelitian
No Kegiatan
M-1 M-2 M-3 M-4 M-5 M-6 M-7

1. Persiapan

Pengumpulan
2.
data

Pengolahan data

Pengolahan
3.
data

Analisis data

Penyajian data

Keterangan:

M: Minggu ke
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada

pasien ISPA anak dengan metode ATC/DDD dan mengetahui nilai DDD 100 patient-

days dari penggunaan antibiotik pada anak di Puskesmas Mata Kota Kendari tahun

2017. Evaluasi penggunaan antibiotika secara kuantitas dilakukan dengan cara

menghitung DDD (Defined Daily Dose). Pada penelitian ini digunakan DDD 100

bed-days. Pertimbang penggunaan metode DDD 100 bed-days karena menurut WHO

(2018) menyatakan bahwa untuk pengukuran kuantitas penggunaan antibiotika dapat

digunakan nilai DDD 100 bed-days. Hasil perhitungan dengan metode DDD dapat

dibandingkan baik antar bangsal, rumah sakit, puskesmas, kota maupun antar negara

(Kemenkes, 2011).

Pada penelitian ini diperoleh 121 rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi

selama periode Januari-desember 2017. Dari 121 catatan medik tersebut, didapatkan

data mengenai pola penyakit berdasarkan diagnosis yang ditulis oleh dokter,

karakteristik pasien, pola peresepan dan kuantitas penggunaan antibiotika. Data

penggunaan antibiotika ini dihitung berdasarkan konsep DDD, data penggunaan

antibiotika diperoleh dari data pasien anak yang menerima peresepan antibiotika

selama periode Januari-desember 2017.

Dari 121 rekam medik pasien anak di Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun

2017, pasien anak dengan jenis kelamin perempuan merupakan kelompok anak

dengan jumlah paling banyak yaitu sekitar 70 pasien dan laki-laki 51 pasien
perempuan laki-laki

51 pasien

70 spasien

Gambar 2. Perbandingan Jumlah Pasien Anak Laki-laki dan Perempuan yang


Menerima Antibiotika di puskesmas mata kota kendari Periode Januari sampai
September 2017.

Pada penelitian ini rentang umur pasien anak yang diteliti adalah umur anak

kurang dari 1 tahun sampai dengan 16 tahun. Kategori Pembagian usia anak

didasarkan menurut depkes (2009), usia anak dikelompokkan menjadi empat yaitu

masa balita 0-5 tahun, masa kanak-kanak 6-11 tahun, masa remaja awal 12-16 tahun.

Jumlah penggunaan antibiotika berdasarkan umur dari 121 pasien anak yang

menerima peresepan antibiotika, sebagian besar merupakan pasien anak yang berusia

6 samapai 11 tahun sebanyak 51%. Pasien remaja awal yang berusia 12-16 tahun

sebanyak 37%. Pasien bayi yang berusia 1 sampai 5 tahun sebanyak 33%. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa kelompok pasien anak yang banyak terserang

penyakit infeksi adalah anak dengan rentang usia 6 samapai 11 tahun. Temuan ini

sejalan dengan faktor lingkuan, Dimana anak yang berusia demikian telah aktif

diluar sehingga mudah terjaring infeksi bakteri, dan secara umun pasien pediatri 10
kali lebih rentan terserang penyakit infeksi dikarenakan sistem imunitas yang belum

berkembang dengan sempurna (Shea et al., 2001).

37% 33%

P 0-5
P 6-11
P 12-16
51%

Gambar 3. Jumlah Pasien Anak yang Menerima Antibiotika Berdasarkan Umur di


puskesmas mata kota kendari Periode Januari sampai September 2017.

A. jenis Penyakit

penyakit diperoleh berdasarkan diagnosis dokter yang tertulis di catatan medik

pasien. Dari 121 catatan medik, diperoleh empat penyakit ditemukan berdasarkan

diagnosis yang ditulis dokter. Diagnosis terbanyak pertama adalah tonsilitis

ditemukan dengan jumlah 53 pasien, diikuti urutan kedua adalah Faringitis sebanyak

44 pasien, diurutan ketiga adalah otitis media ditemukan 18 pasien dan diurutan

keempat ISPA ditemukan 6 pasien.

Penyakit yang terbanyak pertama yaitu tonsillitis yaitu 53 pasien, tonsilliitis

sendiri merupakan suatu penyakit berupa infeksi dan inflamasi pada tonsil. Pada

kasus tersebut bahwa dari 53 pasien yang diresepkan antibiotik terdapat 41 pasien

menerima antibiotik amoksisilin dan 12 pasien menerima antibiotik sefadroksil,


pemberian antibiotik jenis amoksisilin merupakan pemberian utama untuk penyakit

tonsillitis karena amoksislin (depkes, 2005) merupakan jenis antibiotik penisillin

yang digunakan untuk mengobati berbagai macam jenis bakteri dan mampu

menghentikan pertumbuhan bakteri. Penelitian lain (Khusuma M, 2014) yaitu pola

pengobatan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pasien pediatri, bahwa dari hasil

data yang diperolehnya obat golongan penisillin jenis amoksisilin merupakan

pemberian terbanyak untuk penderita ISPA secara umum. Menurut dokter di

Puskesmas Mata bahwa untuk pelayanan pemberian antibiotik di tingkat puskesmas

hanya berlaku pada pemeberian antibiotik lini pertama sesuai aturan yang di ajukan

oleh pemerintah kesehatan. Menurut badan POM obat golongan Sefalosporin

merupakan antibiotik spectrum luas untuk terapi penyakit infeksi pada penyakit

ISPA. Sefadroksil adalah jenis antibiotik lini pertama golongan sefalosporin.

Sefadroksil merupakan pilihan kedua setelah pemberian amoksisilin disamping itu

salah satu alasan pemberian sefadroksil menurut badan POM karena ada sebagian

besar pasien yang sinsitif dengan pengobatan menggunakan golongan penisilin yaitu

amoksisilin sehingga pemberian disarankan mengunakan sefadroksil.

Penyakit keduan dari kasus yang diperoleh adalah Faringitis, yaitu sekitar 44

pasien. Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring dan sering meluas ke

jaringan sekitarnya, biasanya timbul bersama-sama dengan tonsillitis (depkes, 2005).

Pada kasus tersebut bahwa dari 44 pasien yang diresepkan antibiotik terdapat 34

pasien menerima antibiotik amoksisilin dan 9 pasien menerima antibiotik sefadroksil.

Menurut (Chisholm-Burns, 2016) antibiotik untuk pengobatan faringitis, pengobatan

utama yaitu menggunakan obat amoksisilin, sehingga dari data yang diperoleh telah
sesuai yang diberikan oleh pasien, menurut (depkes 2005) amoksisilin merupakan

pemeberian lini pertama untuk penyakit ISPA faringitis. Dari data yang diperoleh

bahwa terdapat 9 pasien yang menerima antibiotik sefadroksil, hal ini

direkomendasikan kerena menurutn(Chisholm-Burns, 2016) sefadroksil sendiri di

rekomendasikan untuk pasien yang sensitiv terhadap obat amoksisilin. Sefadroksil

merupakan pilihan kedua setelah pemberian amoksisilin disamping itu salah satu

alasan pemberian sefadroksil menurut badan POM karena ada sebagian besar pasien

yang sinsitif dengan pengobatan menggunakan golongan penisilin yaitu amoksisilin

sehingga pemeberian disarankan mengunakan sefadroksil.

Penyakit ketiga dari kasus yang diperoleh adalah otitis media, yaitu sekitar 18

pasien. Otitis media merupakan suatu penyakit terjadinya inflamasi pada bagian

tengah. Pada kasus tersebut bahwa dari 18 pasien semua menerima antibiotic

amoksisilin. Menurut (Chisholm-Burns, 2016), antibiotik untuk pengobatan otitis

media, yaitu menggunakan obat amoksisilin, obat ini merupakan obat pilihan utama

baik dewasa maupun anak-anak, sehingga dari data yang diperoleh telah sesuai yang

diberikan oleh pasien.

Penyakit keempat dari kasus yang diperoleh adalah ISPA, sesuai data yang

tertulis di rekamedik bahwa jenis penyakit yang tertulis yaitu ISPA, sehingga peneliti

bingung dengan data yang telah tertulis, dari data tersebut terdapat 6 pasien yang

teridentifikasi penyakit ISPA tanpa diketahui jenis penyakitnya, namun dokter

Puskesmas Mata memberikan resep antibiotik sefadroksil. Alasan pemberian

antibiotik pada pasien karena dokter melihat dari kondisi riwayat pasien. Menurut

badan POM obat golongan Sefalosporin merupakan antibiotik spectrum luas untuk
terapi penyakit infeksi pada penyakit ISPA. penggunaanya Sefadroksil ditujukan

sebagai terapi empiris untuk penyakit infeksi yang belum dapat diketahui

penyababnya, sehingga digunakan antibiotika yang mempunyai spektrus luas seperti

ampisilin dan sefalosporin. Selain itu antibiotika golongan sefalosporin, penisilin

merupakan antibiotika yang banyak digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi

bakteri pada pediatri (IDAI, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dan hasil penelitian

serupa menunjukkan bahwa penyakit infeksi bakteri merupakan penyakit yang sering

dialami oleh pasien anak. Temuan ini juga serupa dengan data dari Dinas Kesehatan

Provinsi Sulawesi tenggara (2017) bahwa pada anak-anak masih banyak didominasi

oleh penyakit infeksi.

NO JENIS PENYAKIT JUMLAH PEMAKAIAN


AMKSISILIN SEFADROKSIL

1. Tonsilitis 41 Orang 12 Orang


2. Faringitis 34 Orang 9 Orang
3. Otitis Media 18 Orang -
4. Ispa - 6 Orang
Tabel 4. Jenis penyakit yang diberikan antibotika di Puskesmas Mata Kota Kendari
periode Januari sampai Desember Tahun 2017.

B. Pola Peresepan Antibiotika

Selama periode Januari sampai Desember 2017 terdapat 2 jenis antibiotika yang

diresepkan kepada pasien pediatri untuk penyakit ISPA. Antibiotika yang paling

banyak diresepkan adalah golongan penisilin dengan jenis antibiotika amoksisilin

(77% ) dan. Antibiotika terbanyak kedua adalah golongan sefalosforin dengan jenis

antibiotika sefadroksil (23% ).


Penelitian serupa yang membahas tentang golongan dan jenis antibiotika yang

digunakan pada pasien anak dipuskesmas adalah penelitian tentang Kajian

Rasionalitas Penggunaan Antibiotika Pada Penyakit ISPA di Puskesmas Kuamang

Kuning I Kabupaten Bungo (Tobat SR, dkk.,2015). Penelitian tersebut menunjukkan

bahwa antibiotika yang paling banyak digunakan adalah golongan ampisillin yaitu

obat amoksisilin (70%), begitu pula penelitian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di

Bangsal Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011

(Febiana, 2012). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa antibiotika yang paling

banyak digunakan adalah amoksisilin (22,8%).

Antibiotika golongan sefalosporin dan ampisilin banyak digunakan, hal ini

kemungkinan disebabkan terkait dengan penggunaanya yang ditujukan sebagai terapi

empiris untuk penyakit infeksi yang belum dapat diketahui penyababnya, sehingga

digunakan antibiotika yang mempunyai spektrus luas seperti ampisilin dan

sefalosporin. Selain itu antibiotika golongan sefalosporin, penisilin merupakan

antibiotika yang banyak digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi bakteri pada

pediatri (IDAI, 2008). Pada penelitian ini antibiotika sefadroksil merupakan jenis

antibiotika yang digunakan. sefadroksil banyak ditemukan karena sefradoksil

merupakan antibiotika generasi pertama dari golongan sefalosporin, sefadroksil

memiliki aktivitas spektrum luas yang dapat melawan bakteri Gram positif maupun

Gram negatif sehingga sering digunakan sebagai terapi empiris pada pediatrik

dengan penyakit infeksi bakteri (Babu, 2011).


Pemeberian antibiotik
amoksislin sefadroksil

23%

77%

Gambar 3. Jumlah Pemberian Antibiotika pasien ISPA Non Penumonia di


puskesmas mata kota kendari Periode Januari sampai September 2017.

Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, bahwa dari 121 pasien yang

diberikan antibiotik, terdapat 2 jenis pemebrian antibiotik yaitu antbiotik tablet dan

antibiotik sirup. Untuk pemebrian antibiotik tablet sekitar 101 pasien yang telah

diberikan sedangkan 20 pasien diberikan menggunakan antibiotik sirup. menurut

dokter di puskesmas mata kendari bahwa pemberian antibiotik harus didasari sesuai

karakter pasien agar pasien bisa mengkonsumsi obat dengan rutin.

Rute pemberian yang digunakan dalam pemberian antibiotika yang dilakukan

oleh peneliti, bahwa dari 121 pasien yang telah diberikan antibiotik 100%

menggunakan rute pemberian secara oral. Hal ini juga sebandingan dengan peneliti

yang dilakukan oleh (Ihsan S, dkk.,2017) tentang Evaluasi Rasionalitas Penggunaan

Obat Ditinjau dari Indikator Peresepan Menurut World Health Organization (WHO)

di Seluruh Puskesmas Kota Kendari Tahun 2016, bahwa pemberian antibiotik secara
oral berkisar 90% sedangan injeksi hanya sekitar 10% yang diberikan kepada pasien.

Rute pemberian oral menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi salah satunya

penyakit ISPA (yang tidak menetap dan berulang). Rute pemberian secara oral

biasanya digunakan untuk terapi infeksi yang tergolong sedang sampai berat

(Kemenkes RI, 2011).

Identifikasi terhadap rute pemberian antibiotika penting untuk dilakukan

karena beberapa antibiotika memiliki nilai standar DDD WHO berbeda untuk

masing-masing rute pemberian. Salah satu contoh adalah nilai standar DDD untuk

siprofloksasin, pada pemberian secara parenteral siprofloksasin memiliki nilai

standar sebesar 1, namun pada pemberian secara per-oral siprofloksasin memiliki

nilai standar sebesar 0,5. Adanya perbedaan nilai standar dari masing-masing rute

pemberian untuk satu jenis antibiotika nantinya akan berpengaruh terhadap

penentuan tinggi rendahnya nilai DDD dari suatu antibiotika yang diperoleh.

Penentuan tinggi rendahnya nilai DDD dari suatu antibiotika ditentukan oleh

perbandingan nilai DDD yang diperoleh dengan nilai DDD standar yang telah

ditetapkan. Nilai DDD dari suatu antibiotika dikatakan tinggi apabila nilai DDD

yang diperoleh lebih besar dari nilai DDD standar yang telah ditetapkan (WHO,

2018).

Dari 121 pola peresepan antibiotika yang telah diresepkan, diperoleh

karakteristik aturan pemakaian antibiotika yang paling banyak diresepkan adalah 3 x

sehari dengan presentase 77% dan 2 x sehari dengan persentasi 22%. Gambaran

distribusi aturan pemakaian antibiotika yang diresepkan pada pasien anak dapat

dilihat pada Gambar 4.


Amoksisilin merupakan jenis antibiotik golongan ampicilin. Pada data yang

diambil bahwa antibiotika amoksisilin memiliki frekensi 3 x sehari untuk tiap

pemeberiannya. Menurut badan pom bahwa aturan pakai untuk pasien anak-anak

yaitu 3x sehari dengan dosis yang disesuaikan kepada umur pasien oral 250 mg tiap

8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat; anak hingga 10 tahun 125-350 mg tiap 8

jam. Dosis anak-anak juga bisa diberikan 500 mg disesuaikan dengan barat badan

pasien yang dimana sekitar diatas 20 kg. Dari hasil pengamatan bahwa dosis yang

telah diberikan sesuai aturan yang dari Badan POM.

Sefadroksil merupakan jenis antibiotik golongan sefalosporin, Pada data yang

diambil bahwa antibiotika sefadroksil memiliki frekensi pemakaian 2 x sehari untuk

tiap pemeberiannya. Menurut badan POM bahwa dosis pemberian pada anak-anak,

berat badan lebih dri 40 kg pemeberian 0,5- 1 g 2 x sehari, anak-anak 1-6 tahun 250

mg 2 x sehari, anak lebih dari 6 tahun: 500 mg 2 x sehari, pemeberian antibiotic

tersebut hrus disesuaikan dengan berat badan pasien. Dari data yang telah di ambil,

telah sesuai dengan aturan yang di tulis olh badan POM.

Aturan pemakaian antibiotika menggambarkan frekuensi penggunaan

antibiotika yang digunakan pasien per hari. Semakin tinggi frekuensi antibiotika

yang digunakan dalam satu hari, maka akan menyebabkan dosis penggunaan

antibiotika semakin besar. Meningkatnya dosis akan berpengaruh pada jumlah

(gram) antibiotika yang diterima oleh pasien. Semakin besar jumlah (gram)

antibiotika yang digunakan akan memungkinkan menyebabkan nilai DDD dari suatu

jenis antibiotika semakin besar pula (WHO, 2012).


Frekuensi Pemeberian Antibiotik
amoksislin sefadroksil

23%

77%

Gambar 4. frekuensi Pemberian Antibiotika pasien ISPA Non Penumonia di


puskesmas mata kota kendari Periode Januari sampai September 2017.

Lama penggunaan antibiotika di puskesmas mata kota Kendari yaitu antara 3

sampai 7 hari. Lama penggunaan antibiotika kemudian dibagi menjadi tiga kelompok

yaitu lama penggunaan antibiotika 1 sampai 3 hari, lama penggunaan antibiotika 1

sampai 4 hari dan lama penggunaan antibiotika 1 sampai 6 hari dan lama penggunaan

antibiotik 1 sampai 7 hari. Data mengenai lama penggunaan antibiotika dari setiap

pasien menunjukkan bahwa lama penggunaan antibiotika selama 1 sampai 7 hari

merupakan waktu lama penggunaan antibiotika yang banyak ditemukan di

dipuskesmas mata kota kendari 47.10%. Distribusi lama penggunaan antibiotika

tercantum pada Gambar 5.

Lama penggunaan antibiotika untuk sebagian besar penyakit infeksi adalah

selama 3-7 hari (Kemenkes RI, 2011). Pada penelitian ini lama penggunaan

antibiotika yang paling sering ditemukan adalah selama 1-5 hari. Terdapat beberapa
faktor kemungkinan yang mempengaruhi besarnya temuan lama penggunaan

antibiotika 1 sampai 5 hari diantaranya : pertama, banyak antibiotika diresepkan

dengan tujuan sebagai terapi empiris. Pada kasus terapi empiris digunakan

antibiotika dengan spektrum luas seperti antibiotika golongan sefalosporin atau

penisilin dengan lama pemakaian antibiotika adalah 2 sampai 3 hari (Permenkes,

2011). Pada penelitian ini ditemukan bahwa golongan sefalosporin dan penisilin

merupakan antibiotika yang paling banyak diresepkan, hal ini ikut berkontribusi

terhadap besarnya jumlah pemakaian antibiotika yang digunakan dengan lama

pemakaian 1 sampai 7 hari.

Lama penggunaan antibiotika juga dapat berpengaruh terhadap hasil nilai

DDD. Semakin lama waktu penggunaan antibiotik pada saat pasien mengkonsumsi

antibiotik maka semakin besar dosis antibiotik yang diterima oleh pasien tersebut.

Semakin besarnya dosis antibiotik yang digunakan oleh pasien per harinya akan

memiliki kemungkinan untuk menyebabkan nilai DDD dari suatu jenis antibiotika

akan semakin besar pula (WHO, 2012).


lama pemberian antibiotik

10%

31% 47% 1-7 hari


1-6 hari
1-4 hari
1-3 hari
12%

Gambar 5. lama Pemberian Antibiotik pasien ISPA Non Penumonia di puskesmas


mata kota kendari Periode Januari sampai September 2017.

Temuan terhadap tingginya persentase untuk lama pemeberian antibiotik per hari,

sesuai dengan hasil dari studi literatur yang telah didapatkan, dimana lama

pengobatannya adalah sekitar 3 sampai dengan 7 hari untuk sebagian besar penyakit

infeksi salah satunya ISPA non Pnoumonia (Kemenkes, 2011).

C. ATC dan Nilai DDD 100 patien-days

1. ATC

ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) adalah sistem klasifikasi obat dari

WHO dengan prinsip produk obat dikelompokkan berdasarkan fungsi terapetik

utama dari senyawa aktif dan satu kode ATC hanya untuk satu rute administrasi.

Pada sistem ini, setiap kode yang memiliki level dimana setiap zat aktif bekerja dan

menghasilkan efek terapi, farmakologi dan sifat kimia. Pada penelitian yang

dilakukan peneliti, bahwa obat yang di identifikasi yaitu mengenai infeksi sehingga
dari ATC tersebut memiliki kode sebagimana yang ditentukan pada sisitem ATC.

Salah satu persyaratan menggunakan matode ATC DDD harus memiliki kode ATC

yang telah ditentukan pada tiap jenis obat. Tujuan utuma WHO sendiri mengkodekan

setiap jenis obat yang telah terdaftar di WHO yaitu untuk mencegah terjadinya

penyalagunan obat ilegal dan mecegah penipuan dari opnum-opnum yang

memasukan obat ilegal kedalam sistem ATC dengan menarik keuntungan untuk diri

sendiri ( WHO, 2018).

Kode ATC pada antiinfeksi untuk penggunaan sistemik memiliki lambng J atau

level 1 dari sistem ATC. Tiap lambang yang telah tetapkan memiliki arti tersendiri,

untuk level 2 merupakan kelompok utama farmakologi memiliki lamabang J01 dan

J02 dimana maksud dari 01 yaitu target utama farmakologi yang di tujukan untuk

pemakaian obat yang disebebkan oleh bakteri sedangkan 02, ditujukan untuk obat

antimikotik. Pada level 3 merupakan kelompok farmakologi memiliki lambang J01C

dan J01D dimana maksud dari C yaitu kode golongan antibiotik beta laktam,

sedangkan lambang D yaitu kode untuk antibakteri golongan lain selain beta laktam,

misalkan golongan antibiotik sefalosporin. Untuk level 4, merukan kelompok kimia,

memiliki lambang J01CA dan J01DB dimana maksud dari A yaitu kode untuk jenis

obat beta laktam generasi pertama dari antibiotik, dan B yaitu kode Golongan

antibiotik Generasi ke-2 yaitu sefalosporin. Untuk level 5 merupakan kelompok zat

kimia yang bekerja sesuai target dari jenis masing masing obat. (WHO, 2018)

Dari hasil yang telah ditentukan terdapat 2 antibiotik yang diberikan kepada

pasien yaitu amoksisilin dan sefadroksil, kedua tingkatan ini merupakan level kelima

dengan kode J01CA04 (Amoksisilin) dan J01DB05 (sefadroksil), kode 04


merupakan kode jenis obat amoksisilin dan kode untuk 05 merupakan kode dari

sefadroksil (WHO, 2018)

2. Nilai DDD 100 patien-days

Pada penelitian ini dilakukan evaluasi penggunaan antibiotika selama periode

Januari sampai Desember 2017 dengan pendekatan kuantitatif menggunakan DDD

(Defined Daily Dose) 100 patient-days. Metode DDD (Defined Daily Dose) dipilih

karena hasil penelitian penggunaan antibiotika dapat dibandingkan dengan hasil

penggunaan antibiotika antar bangsal, rumah sakit, puskesmas, kota, bahkan antar

negara sekalipun (WHO, 2018).

Pada penelitian ini terdapat 2 jenis antibiotika yang digunakan pada pasien

Puskesmas Mata Kota Kendari selama periode Januari sampai Desember 2017

dengan total nilai DDD 100 patient-days sebesar 74. Kode ATC serta nilai standar

DDD WHO (g) disajikan dalam Tabel 5.

Berdasarkan perhitungan DDD 100 patient-days menunjukkan bahwa

penggunaan antibiotika yang paling tinggi adalah antibiotika jenis Amoksisilin

dengan nilai DDD 100 patient-days sebesar 67.84, artinya adalah sebesar 68% dari

pasien yang mendapatkan Antibiotika di Puskesmas Mata Kota Kendari. Untuk

golongan antibiotika yang memiliki nilai DDD 100 patient-days yang renda adalah

jenis antibiotik sefadroksil dengan nilai DDD 100 patient-days sebesar 5.81, artinya

adalah sebesar 6% dari pasien yang mendapatkan Antibiotika di Puskesmas Mata

Kota Kendari. Hasil DDD 100 patient-days ini dapat dibandingkan antar Puskesmas

untuk mengetahui perbandingan tingkat penggunaan antibiotika. Tingkat penggunaan


antibiotika yang tinggi dikhawatirkan dapat menyebabkan meningkatnya kejadian

tidak tepat dosis sehingga dapat menyebabkan over dosis dan dapat

pulamenyebabkan resistensi terhadap jenis dan golongan antibiotika tertentu. Nilai

DDD 100 patient-days pada Tabel 5.

Hasil dari perhitungan nilai DDD 100 patient-days dapat digunakan untuk

mengetahui tingkat penggunaan antibiotika di Puskesmas Mata Kota Kendari dan

dapat dibandingkan antar Puskesmas di kota kendari. Nilai DDD 100 patient-days di

Puskesmas Mata Kota Kendari lebih tinggi nilainya apabila dibandingkan dengan

penelitian serupa yang dilakukan (Rusliati, 2017) pada pasien anak dengan kasus

ISPA Non Pnoumonia di Puskesmas Mekar Kota Kendari Tahun 2017. Hasil

penelitian pada pasien anak dengan kasus ISPA Non Pnoumonia di Puskesmas

Mekar Kota Kendari memiliki nilai total DDD 100 Patient-days sebesar 59.

Antibiotika yang memiliki nilai DDD paling besar adalah Amoksisilin dengan nilai

DDD 100 patient-days sebesar 54 sedangkan sefadroksil memiliki nilai DDD 100

patien-days sebesar 3.

Penelitian lain menunjukkan (Pani S, dkk, 2015) dengan judul Monitoring

Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD Studi Observasional di Seluruh

Puskesmas Kabupaten Gorontalo Utara, bahwa penggunaan amoksisilin 500 mg

untuk ISPA non pneumonia tercatat sebagai penggunaan terbesar yaitu 73,67%, hal

ini menunjukkan bahwa ketidak rasionalnya penggunaan antibiotika untuk jenis

amoksisilin
Kode Standar Nilai DDD/100
Nama Antibiotik Rute
No ATC WHO patient-days
1. Amoksisilin J01CA04 Oral 1 g 68
2. Sefradoksil J01DB05 oral 2 g 6
Total nilai DDD/ patient-days 74

Tabel 4. Kode ATC dan nilai DDD/100 patient-days masing-masing antibiotik di


puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2017.

Nilai DDD 100 patien-days di Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2017

lebih tinggi apabila dibandingkan dengan hasil dari penelitian-penelitian yang

dilakukan oleh penelitian lainnya di Puskesmas lain. Hal ini menunjukkan bahwa

tingkat penggunaan antibiotika di Puskesmas Mata Kota Kendari lebih rendah

dibandingkan dengan puskesmas lainnya. Tingginya tingkat penggunaan antibiotika

dikhawatirkan dapat menyebabkan penggunaan yang tidak rasional pada pasien,

terutama kerasionalan pada tepat dosis dan ketepatan indikasi, serta dikhawatirkan

dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan seperti resistensi (Laras,

2012). Ketidak selektifan pemilihan antibiotika bisa disebabkan oleh beberapa faktor

misalnya kemungkinan ketidak tepatan dalam indikasi sehingga akan berpengaruh

pada kerasionalan penggunaan antibiotikanya. Semakin tingginya nilai DDD untuk

beberapa jenis antibiotika dalam pemakaian tersebut maka dapat diprediksikan dapat

menyebabkan ketidak rasionalan penggunaan antibiotik yang di berikan di

Puskesmas Mata Kota Kendari periode Januari-Desember 2017 dilihat dari segi

kuantitasnya. Penelitian lain mendukung dari pemeberian antibiotika yang di lakukan

oleh (Ihsan dkk, 2016) juga menjelaskan yaitu dengan judul Evaluasi Rasionalitas

Penggunaan Obat Ditinjau dari Indikator Peresepan Menurut World Health

Organization (WHO) di Seluruh Puskesmas Kota Kendari Tahun 2016, bahwa

penggunaan antibiotika yang di berikan di puskesmas mata memiliki persentasi


terbesar diantara puskesmas lain yaitu sekitar 59%, hal ini menunjukkan bahwa

kulitas pemebrian antibiotika yang diberikan di Puskesmas Mata Kota Kendari harus

perlu di evaluasi guna meningkatkan kualias dan keamanan konsumen dalam

mengonsumsi obat obatan yang diberikan.

Tingginya nilai DDD dipengaruhi oleh jumlah (g) pemakaian antibiotika

yang ditentukan oleh banyaknya dosis yang dipakai pasien selama pasien

mengkonsumsi antibiotik. Apabila dosis yang diberikan berlebihan maka DDD akan

cenderung semakin tinggi (WHO, 2003).

Pada penelitian ini, meningkatnya jumlah (g) penggunaan antibiotika, juga

diduga disebabkan oleh pemakaian frekuensi aturan pakai yang diberikan yang

kebanyakan lebih dari 1x sehari. Tingginya jumlah (g) penggunaan antibiotika

dikhawatirkan akan menyebabkan tingginya nilai DDD terutama untuk antibiotika

yang sering menggunakan aturan pemakaian lebih dari 1 x sehari (Carolina, 2014).

Dugaan ini didukung dengan hasil yang didapatkan pada penelitian ini, dimana

antibiotika yang memiliki nilai DDD tertinggi tinggi yaitu antibiotika jenis,

amoksisilin jenis antibiotika ini sebagian besar memiliki aturan pemakaian 3 x

sehari.

Nilai DDD juga dipengaruhi oleh berat badan paisen. Pasien dengan bobot

badan yang lebih besar akan memiliki nilai DDD yang besar karena pada pasien anak

dosis dihitung serta ditentukan dengan berat badan (Andarsini, 2011). Apabila

karakteristik pasien di tempat penelitian menunjukkan keadaan overweight lebih

banyak maka hal ini akan berpengaruh pada dan DDD secara keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA

Aquinas R., 2017., Tatalaksana Otitis Media Efusi Pada Anak., Cdk-254., Vol. 44
No. 7.

Arif M, Dkk., 2007., Kapita Selekta Kedokteran.., Jakarta : Media Aesculapius

Bisht, R., dkk., 2009., Antibiotic Resistance- A Global Issue Of Concern., Asian
Journal Of Pharmaceutical And Clinical Research, Volume 2.

Chisholm-Burns, M. A., Terry, L. S., Barbara, G. W., Patrick, M. M., Jill, M. K., dan
Joseph, T. D., 2016, Pharmacotherapy Principles and Practice, fourth Edision,
McGraw-Hill Education, New York.

Dinas Kesehatan , 2017., Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara Tahun 2016., Sulawasi
Tenggara.

Depkes., 2012, Modul Tatalaksana Standar Pneumonia., Depkes. Jakarta.

Dipiro, J.T., Talbert,R., Yees, G., Matzke, G., Wells, B., & Posey, L. 2008.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 7th Ed. New York: Mc Graw-
Hill Medical Publishing.

Depkes., 2008., Materi Pelatihan Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan


Memilih Obat Bagi Tenaga Kesehatan., Depkes, Jakarta.
Depkes., 2005., Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan.,
Depkes, Jakarta.

Depkes., 1992. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut


(ISPA)., Depkes, Jakarta: Dirjen PPM dan PLP.

Hersh, A. L., dkk., 2013., Principles Of Judicious Antibiotic Prescribing For Upper
Respiratory Tract Infections In Pediatrics.Pediatrics, 132, 1146. Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2406. 2011. Pedoman Umum
Penggunaan Antibiotik. Jakarta: Departemen Kesehatan Ri.
Ibrahim M., 2016., Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Ditinjau Dari Indikator
Peresepan Menurut WHO Di Puskesmas Rawat Inap Kota Kendari 201., Skripsi,
Universitas Halu Oleo, Kendari.

Ikatan Dokter Indonesia. 2008. Respirologi Anak Edisi Pertama. Jakarta : Egc

Kementerian Kesehatan Repeblik Indonesia. 2011., Pedoman Pelayanan


Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik., Jakarta.

Kentjono, W A., 2004., Rinosinusitis : Etiologi Dan Patofisiologi., Surabaya.

Lebuan Aw, Agus Sm., 2017., Faktor Yang Berhubungan Dengan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut Pada Siswa Taman Kanak-Kanak Di Kelurahan Dangin Puri
Kecamatan Denpasar Timur Tahun 2014., E-Jurnal Medika, Vol. 6 No.6.

Merson, M.H., 2012, Global Health, Disease, Programs, Systems, and Policies,
3rd edition, Jones & Bartlett Learning, London, pp. 262.

Permenkes., 2011., Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Pusat


Kesehatan Masyaraka., Departemen Kesehatan Republik Indonesia., Jakarta: 3-
4, 10-11

Sanah N., 2017., Pelaksanaan Fungsi Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)


Dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Di Kecamatan Long Kali
Kabupaten Paser., ilmu pemerintah Vol. 5(1).

Syukriadi A S Z., 2016., Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotika Ditinjau


Dari Indikator Menurut WHO Dipuskesmas Non Rawat Inap Kota Kendari
2016, Skripsi, Universitas Halu Oleo, Kendari.

Setiabudy, R., Gunawan, S. G., Nafrialdi Dan Elysabeth. 2009. Antimikroba. In:
Departemen Farmakologi Dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 5 Th Ed. Farmakologi Dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit Fk Ui.

Sukandar, Y.E., dkk., 2009., Iso Farmakoterapi, Pt. Isfi Penerbitan, Jakarta, Pp. 765-
767.
Who., 2018., Guidelines For Atc Classification And Ddd Assignment., 20th Ed.
Norway: World Health Organization..

Wahyuningsih S, dkk., 2017., Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita
di Wilayah Pesisir Desa Kore Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima., Higiene.,
Vol 3, No. 2.

Who., 2017., Guidelines For Atc Classification And Ddd Assignment., 20th Ed.
Norway: World Health Organization.

Who., 2014., Maternal Mortalit : World Health Organization.

Who., 2012., The Pursuit Of Responsible Us Of Medicines Sharing And Learning


From Country Experiences, Who., Geneva. Medical Complex
Peshwar.International Juornal Of Research In Applied, Natural And Social
Sciences,1, 2: 63.
Who., 2007., Introduction To Drug Utilization Research. Norway: World Health
Organization.
LAMPIRAN 1

Lembar Data Dasar Pasien

Jumlah Obat Lama


Nama/No. Umur J BB Antibiotik yang Dosis
No. Jenis ISPA yang diterima penggunaan Status
RM (Thn) K (kg) diterima (mg)/durasi
(g) obat
Tonsilitis
1. G/002321 10 L 25 Amoksisilin 500 mg (3x1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Akut
A. Tonsilitis 4 hari
2. 12 L 26 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
D/001745 Akut
N. Tonsilitis 4 hari
3. 10 P 24 Amoksisilin 500 mg (3x 1) 10 tab Pasien
S/000459 Akut
4. H/000826 9 p 24 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1) 10 tab 4 hari Pasien
5. J.N/000253 12 L 26 ISPA sefradoksil 500 mg ( 2x 1) 6 tab 3 hari Pasien
125 mg/5 ml 4 hari
6. A/000712 1,6 L 10 Otitis media Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x 1)
7. B/000240 9 L 18 Tonsilitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
8 R/000345 7 L 20 Tonsilitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis
9 F/ 000121 7 L 16 Amoksislin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
Tonsilitis 3 hari
10 I/000240 12 P 25 sefradoksil 500 mg ( 2x 1) 6 tab Pasien
akut
11 L.G/001883 2,1 L 12 Otitis media Amoksisilin 125 mg/5 ml 60 ml/1 botol 4 hari Pasien
(3x 1)
Tonsilitis
12 S/000094 6 p 12 Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
13 M.I/000043 12 L 20 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1) 10 tab 3 hari Pasien
14 G/000928 7 P 26 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 6 hari
15 S/000184 6 P 17 Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 6 tab Pasien
akut
16 S.L/000121 11 P 21 ISPA Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 6 tab 6 hari Pasien
17 I.R/002098 8 P 20 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1) 10 tab 4 hari Pasien
W.A/00009
18 4 p 17 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
5
M.D/00232
19 3 L 19 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
8
M.K/00043 Tonsilitis 6 hari
20 12 P 19 Sefradoksil 500 mg (2x 1/2) 6 tab Pasien
0 akut
21 A.N/000121 11 L 29 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
22 C.N/000358 7 P 25 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
23 E.D/000826 13 P 24 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1) 10 tab 4 hari Pasien
24 S.I/000791 3 P 20 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
W.M/00154 6 hari
25 4,2 P 15 ISPA Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 6 tab Pasien
6
Tonsilitis 3 hari
26 A/000448 15 L 25 Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab Pasien
akut

2
Tonsilitis 125 mg/5 ml 4 hari
27 D.A/000417 4 P 11 Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
akut (3x 1)
125 mg/5 ml 4 hari
28 H/000004 5 P 15 Otitis media Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x 1)
29 S.F/000290 11 P 27 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
30 F/001001 12 P 27 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
Tonsilitis 3 hari
31 N/002670 14 P 28 Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab Pasien
akut
Tonsilitis 3 hari
32 N/000166 13 P 26 Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab Pasien
akut
Tonsilitis 250 mg/5 ml 6 hari
33 M.I/001702 7 P 20 Sefradoksil 60 ml/1 botol Pasien
akut (3x sehari)
34 Z/002491 6 L 15 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 3 hari
35 M/000430 12 L 35 sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab Pasien
akut
Tonsilitis
36 J/002375 11 L 25 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
125 mg/5 ml 4 hari
37 S/000790 1,9 P 8,2 Faringitis Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
38 S.M/000790 7 L 18 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
39 R/002575 6 L 13 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
40 I.R/002048 8 L 19 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
41 I/002048 8 L 20 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
42 G/001968 9 L 19 Faringitis Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 6 tab 6 hari Pasien
250 mg/5 ml 6 hari
43 N/000253 5,7 P 16 Faringitis Sefradoksil 60 ml/1 botol Pasien
(2x sehari)
Tonsilitis
44 E/001540 9 L 19 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
250 mg/5 ml 6 hari
45 A/000891 4 P 14 ISPA Sefradoksil 60 ml/1 botol Pasien
(2x sehari)
46 J.M/000253 12 P 24 Faringitis Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab 3 hari Pasien
47 A/000331 6 P 15 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
48 S/000094 6 L 18 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
125 mg/5 ml 4 hari
49 A/000534 3 P 11 Faringitis Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
50 D/000369 10 L 21 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis
51 F/000292 5 P 18 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
52 S/000302 11 L 22 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
53 L.F/002272 13 P 29 Faringitis Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab 3 hari Pasien
54 A/001385 10 P 25 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
55 F/001852 12 P 27 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
56 Z/001250 6 P 15 Tonsilitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien

4
akut
57 A.F/001761 9 L 20 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
125 mg/5 ml 4 hari
58 M/000825 1,6 P 12 Faringitis Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
W.A/00009 Tonsilitis
59 4 P 16 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
1 akut
Tonsilitis 4 hari
60 D/001206 12 P 24 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
61 L/001301 16 P 36 Faringitis Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab 3 hari Pasien
M.R/00067
62 9 L 22 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
5
Tonsilitis 250 mg/5 ml 6 hari
63 N/000253 5 P 17 Sefradoksil 60 ml/1 botol Pasien
akut (2x sehari)
64 A.J/000713 16 L 38 ISPA Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab 3 hari Pasien
M.A/00091 4 hari
65 12 L 24 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
2
125 mg/5 ml 4 hari
66 R.J/000512 2 P 9 Faringitis Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
67 A/000309 12 L 25 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien
68 H/002365 14 L 29 Faringitis Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab 3 hari Pasien
Tonsilitis 4 hari
69 O/000796 12 P 30 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
70 L/001233 6 L 15 Tonsilitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
R.W/00101
71 15 P 15 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
2
72 A/000851 14 P 35 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien
125 mg/5 ml 4 hari
73 A.T/000280 5 L 13 Otitis media Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
74 D/002382 13 P 30 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien
Tonsilitis 4 hari
75 N.A/001031 12 P 28 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
Tonsilitis
76 A.S/001087 10 L 23 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
77 D/000486 6 L 12 ISPA Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 6 tab 6 hari Pasien
Tonsilitis
78 R/000336 6 L 15 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
79 D/000336 10 P 23 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x1/2) 10 tab 7 hari Pasien
80 L/001555 10 P 30 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien
81 A/001282 15 P 35 Faringitis Sefradoksil 500 mg (2x1) 6 tab 3 hari Pasien
125 mg/5 ml 4 hari
82 H/000039 3 L 12 Faringitis Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
Tonsilitis 125 mg/5 ml 4 hari
83 H/000253 5 P 18 Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
akut (3x sehari)
Tonsilitis 4 hari
84 A.S/002282 15 P 35 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
85 R/00155 12 P 37 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien

6
Tonsilitis 4 hari
86 K.S/000150 12 P 33 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
87 M.J/001466 11 L 28 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x1/2) 10 tab 7 hari Pasien
88 N/000146 16 P 39 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien
89 L/000748 6 L 14 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
90 M.I/001702 6 L 15 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
91 A.P/002029 7 P 16 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
Tonsilitis
92 A/002029 10 P 31 Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
M.R/00166 500 mg (3x 1/2)
93 8 L 31 Faringitis Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
3
94 M.F/000815 12 L 29 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
95 C.K/001321 6 P 17 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
96 T/001340 10 P 20 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
97 N.A/000714 5 P 20 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 4 hari
98 A/000165 15 P 40 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
125 mg/5 ml 4 hari
99 S.A/000960 1 p 12 Otitis media Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
100 H/000039 3,9 L 14 Tonsilitis Sefradoksil 250 mg/5 ml 60 ml/1 botol 6 hari Pasien
akut (2x sehari)
Tonsilitis 125 mg/5 ml 4 hari
101 A/000334 2 P 11 Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
akut (3x sehari)
A.M/00079 500 mg (3x 1/2)
102 12 L 25 Faringitis Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
0
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
103 F/000292 11 P 30 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
M.A/00242 Tonsilitis 6 hari
104 4 L 16 Sefradoksil 500 mg (2x1/2) 6 tab Pasien
6 akut
Tonsilitis 125 mg/5 ml 4 hari
105 A/000822 3,4 P 13 Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
akut (3x sehari)
Tonsilitis 4 hari
106 S/000217 15 P 23 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
M.N/00002
107 9 L 18 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
2
M.N/00002
108 4,6 L 10 Faringitis Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
3
109 M.F/000915 14 L 30 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab 4 hari Pasien
Tonsilitis
110 A.S/001087 9 L 23 Amoksisilin 500 mg (3x1/2) 10 tab 7 hari Pasien
akut
125 mg/5 ml 4 hari
111 A/001325 3 P 11 Faringitis Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
(3x sehari)
Tonsilitis 4 hari
112 A/000566 15 P 37 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut
113 D/000486 6 L 12 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien

8
Tonsilitis 125 mg/5 ml 4 hari
114 A/001325 2,7 P 11 Amoksisilin 60 ml/1 botol Pasien
akut (3x sehari)
M.A/00090 Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
115 5 L 15 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
5 akut
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
116 S/000207 4,9 P 14 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
250 mg/5 ml 6 hari
117 R/001283 3 P 10 Faringitis Sefradoksil 60 ml/1 botol Pasien
(2 x sehari)
250 mg/5 ml 6 hari
118 A/001445 1,6 L 8 Faringitis Sefradoksil 60 ml/1 botol Pasien
(2 x sehari)
Tonsilitis 500 mg (3x 1/2)
119 S.M/001445 6 P 15 Amoksisilin 10 tab 7 hari Pasien
akut
120 S.M/002457 8 P 18 Otitis media Amoksisilin 500 mg (3x 1/2) 10 tab 7 hari Pasien
Tonsilitis 4 hari
121 A/001205 15 P 33 Amoksisilin 500 mg (3x1) 10 tab Pasien
akut

Keterangan:
JK : Jenis kelamin
BB : Berat badan
Status : BPJS/umum
LAMPIRAN 2
Lembar Hasil Analisis

REGIMEN
PASIEN LOS TOTAL DDD
ANTIBIOTIK

6 /1 = 6
Amoksisilin 0.5 g x 3 x 4 4 hari x 22 orang
P1-25P 6g 6 x 22 pasien = 132
hari = 88

Amoksisilin 0.125 x 3 x 4 4 hari x 16 orang 1.5/1 = 1.5


P2-16P 1.5 g
hari = 64 1.5 x 16 pasien = 24

Amoksisilin 0.25 x 3 x 7 7 hari x 57 orang 5.25/1 = 5.25


P3-53P 5.25 g
hari = 399 5.25 x 57 pasien = 299.25

6 hari x 7 orang = 3/2 = 1.5


P4-7P Sefadroksil 0.25 x 2 x 6 3g
42 1.5 x 12 pasien = 18

6 hari x 7 orang = 3/2 = 1.5


P5-12P Sefadroksil 0.25 x 2 x 6 3g
42 1.5 x 7 pasien = 10.5

3 hari x 12 orang 3/2 = 1.5


P6-7P Sefadroksil 0.5 x 2 x 3 3g
= 36 1.5 x 7 pasien = 10.5

TOTAL LOS 671 hari

Amoksisilin = 455,25/671 x 100 = 67, 84 patient-days


DDD 100 patien-days Sefadroksil = 39/671 x 100 = 5.81 patient-days

Total Nilai DDD 100 patien-days 73.65 atau 74 patient-days


Keterangan:
P: Pasien

Anda mungkin juga menyukai