Anda di halaman 1dari 5

Keutamaan Bulan Sya’ban secara Detail

16 May

Rasulullah saw bersabda: “…Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan
Ramadhan adalah bulan umatku…”(Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah. Barangsiapa yang berpuasa satu
hari, maka wajib baginya surga. Barangsiapa yang dua hari, maka ia akan menjadi sahabat para
nabi dan shiddiqin pada hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa penuh satu bulan dan
bersambung dengan bulan Ramadhan, maka dosa-dosa diampuni, dosa kecil maupun dosa
besarnya walaupun ia berasal dari darah haram.”

Hadis ini bersumber dari Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) dari ayahnya dari bapak-bapaknya dari
Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 55)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: Ketika bulan Sya’ban tiba Ali Zainal Abidin (sa)
mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kamu
bulan apakah ini? Bulan ini adalah bulan Sya’ban, Nabi saw bersabda: ‘Bulan Sya’ban adalah
bulanku, berpuasalah kamu di bulan ini karena cinta kepada Nabimu dan mendekatkan diri
kepada Tuhanmu’. Aku bersumpah, demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku
mendengar ayahku Al-Husein (sa) berkata: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib (as) berkata: ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta kepada
Rasulullah saw dan mendekatkan diri kepada Allah, Dia mendekatkannya pada kemuliaan-Nya
pada hari kiamat dan mewajibkan baginya surga’.” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)

Keutamaan Puasa di bulan Sya’ban


Ibnu Abbas berkata: Para sahabat menyebut-nyebut keutamaan bulan Sya’ban di dekat
Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda: “Bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia, Sya’ban adalah
bulanku. Malaikat pemikul arasy mengagungkannya dan mereka mengenal haknya. Sya’ban
adalah bulan yang di dalamnya rizki kaum mukminin ditambah. Di dalamnya amal kebajikan
dilipatgandakan tujuh puluh kali, keburukan dihapuskan, dosa-dosa diampuni, dan kebajikan
diterima. Di dalamnya Allah azza wa jalla membanggakan hamba-hamba-Nya, memandangi
mereka yang berpuasa dan melakukan qiyamul layl, lalu Dia membanggakan amal mereka pada
para malaikat pemikul arasy.”

Kemudian Ali bin Abi Thalib (sa) berdiri dan berkata: “Demi ayahku dan ibuku, ya Rasulullah!
Tolong jelaskan pada kami tentang keutamaannya, agar menambah semangat kami untuk
berpuasa dan qiyamul layl, agar kami lebih bersungguh-sungguh di dalamnya.” Maka Rasulullah
saw bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulan Sya’ban, Allah mencatat baginya tujuh puluh
kebajikan berbanding dengan ibadah satu tahun.
Barangsiapa yang berpuasa dua hari di bulan Sya’ban, Dia akan menghapus keburukannya yang
lalu. Barangsiapa yang berpuasa tiga hari di bulan Sya’ban, Dia akan mengangkat baginya tujuh
puluh derajat di surga yang terdiri dari mutiara dan permata merah. Barangsiapa yang berpuasa
empat hari di bulan Sya’ban, Dia akan meluaskan rizkinya.

Barangsiapa yang berpuasa lima hari di bulan Sya’ban, Dia mencintai hamba-hamba-Nya.
Barangsiapa yang berpuasa enam hari di bulan Sya’ban, Dia akan menyelamatkannya dari tujuh
puluh macam bala’.

Barangsiapa yang berpuasa tujuh hari di bulan Sya’ban, Dia akan menjaganya dari iblis dan para
pasukannya dalam masa dan usianya.

Barangsiapa yang berpuasa delapan hari di bulan Sya’ban, ia tidak akan keluar dari dunia kecuali
ia diberi minuman dari telaga kesucian.

Barangsiapa yang berpuasa sembilan hari di bulan Sya’ban, ia akan dikasihani oleh malaikat
Munkar dan Nakir saat keduanya mengajukan pertanyaan padanya.

Barangsiapa yang berpuasa 10 hari di bulan Sya’ban, Allah akan meluaskan kuburnya tujuh
puluh hasta.

Barangsiapa yang berpuasa 11 hari di bulan Sya’ban, Dia akan memancarkan sebelas cahaya
pada kuburnya.

Barangsiapa yang berpuasa 12 hari di bulan Sya’ban, ia akan dikunjungi kuburnya oleh tujuh
puluh ribu malaikat sampai sangkakala ditiupkan (hari kiamat).

Barangsiapa yang berpuasa 13 hari di bulan Sya’ban, tujuh malaikat langit akan memohonkan
ampuanan baginya.

Barangsiapa yang berpuasa 14 hari di bulan Sya’ban, semua binatang melata, binatang buas dan
makhluk hidup di lautan akan memohonkan ampunan baginya.

Barangsiapa yang berpuasa 15 hari di bulan Sya’ban, Tuhan Yang Mulia akan berseru untuknya:
Janganlah ia dibakar dengan api neraka.

Barangsiapa yang berpuasa 16 hari di bulan Sya’ban, tujuh puluhan lautan akan memadamkan
api darinya. Barangsiapa yang berpuasa 17 hari di bulan Sya’ban, semua pintu neraka akan
ditutup baginya.

Barangsiapa yang berpuasa 18 hari di bulan Sya’ban, semua pintu surga akan dibukakan
baginya.

Barangsiapa yang berpuasa 19 hari di bulan Sya’ban, akan dikaruniakan padanya tujuh puluh
ribu istana di surga yang terdiri dari mutiara dan permata merah.
Barangsiapa yang berpuasa 20 hari di bulan Sya’ban, ia akan diberi tujuh puluh ribu pasangan
bidadari.

Barangsiapa yang berpuasa 21 hari di bulan Sya’ban, para malaikat akan mengucapkan selamat
datang dan mengusap-ngusapkan sayapnya padanya.

Barangsiapa yang berpuasa 22 hari di bulan Sya’ban, ia akan dianugerahi tujuh puluh pakaian
dari sutera yang halus dan sutera yang tebal.

Barangsiapa yang berpuasa 23 hari di bulan Sya’ban, maka saat ia keluar dari kuburnya
datanglah padanya binatang melata dari cahaya, lalu ia menaikinya dan terbang menuju ke surga.

Barangsiapa yang berpuasa 24 hari di bulan Sya’ban, ia akan diselamatkan dari kemunafikan.

Barangsiapa yang berpuasa 25 hari di bulan Sya’ban, ia akan diberi syafaat oleh tujuh puluh ribu
ahli tauhid.

Barangsiapa yang berpuasa 26 hari di bulan Sya’ban, Allah mencatatnya sebagai orang yang
selamat saat melintasi shirathal mustaqim.

Barangsiapa yang berpuasa 27 hari di bulan Sya’ban, Allah mencatatnya sebagai orang yang
diselamatkan dari neraka.

Barangsiapa yang berpuasa 28 hari di bulan Sya’ban, wajahnya akan seperti bulan purnama pada
hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa 29 hari di bulan Sya’ban, ia akan memperoleh ridha
Allah Yang Maha Agung.

Barangsiapa yang berpuasa 30 hari di bulan Sya’ban, ia akan dipanggil oleh malaikat Jibril dari
bawah Arasy: Inilah amal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya, inilah amal yang baru,
dosa-dosamu diampuni yang lalu dan mendatang, Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia
berfirman: “Sekiranya dosa-dosamu sebanyak jumlah bintang-bintang di langit, sebanyak tetesan
hujan dan daun-daun pepohonan, butiran pasir dan sebanyak jumlah hari di dunia, niscaya Dia
mengampunimu. Itulah karunia yang kemuliaan dari Allah setelah kamu berpuasa di bulan
Sya’ban.”

Hadis ini bersumber dari Muhammad bin Ahmad Al-Ma’adi, dari Muhammad bin Al-Husein,
dari Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ali, dari Al-Hasan bin Al-Hasan bin Muhammad dari
ayahnya, dari Yahya bin Abbas, dari Ali bin ‘Ashim Al-Wasithi, dari Atha’ bin Saib, dari Said
bin Jubair dari Ibnu Abbas. (Asyhur Ats-Tsalatsah: 47-49)

Puasa Rasululah saw


Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa lebih banyak di bulan yang
lain daripada berpuasa di bulan Sya’ban.”
Hadis ini bersumber dari Sufyan Ats-Tsauri dari Shafwan bin Sulaiman dari Aisyah isteri Nabi
saw. Hadis yang semakna juga bersumber dari Malik bin Anas dan Umar bin Harits dari Abu
Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah isteri Nabi saw (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 66)

Umar bin Hamer berkata: “Sesungguhnya puasa Nabi saw di bulan Sya’ban bersambung dengan
puasa bulan Ramadhan.”

Riwayat ini bersumber dari Ali bin Azhar Al-Ahwazi dari Fadhel bin ‘Iyadh dari Layts dari Nafi’
dari Umar bin Hamer. (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 66)

Yunus bin Ya’qub pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang puasa di bulan
Sya’ban: Apakah salah seorang dari bapak-bapakmu berpuasa di bulan Sya’ban? Beliau berkata:
“Bapak-bapakku yang terbaik adalah Rasulullah saw, beliau paling banyak berpuasa di bulan
Sya’ban.” (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 51)

Puasa dan Penghidupan


Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Puasa di bulan Ramadhan adalah simpanan bagi seorang
hamba untuk hari kiamat. Tidak ada seorangpun yang banyak berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali
Allah memperbaiki urusan penghidupannya, melindunginya dari keburukan musuhnya. Dan
yang paling sedikit adalah orang yang berpuasa satu hari di bulan Sya’ban, wajib baginya surga.”
(Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 44)

Puasa dan Syafaat Rasulullah saw


Rasulullah saw bersabda: “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah.
Barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulanku maka aku pemberi syafaat baginya di hari
kiamat. Barangsiapa yang berpuasa dua hari di bulan Allah, maka Allah mengampuni dosa yang
lalu dan yang mendatang. Barangsiapa yang berpuasa tiga hari, maka dikatakan padanya: ia telah
melakukan amal yang sebelumnya belum pernah dilakukan…”

Hadis ini bersumber dari Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) dari ayahnya dari bapak-bapaknya dari
Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 44)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang berpuasa tiga hari di bulan Sya’ban,
maka wajib baginya surga, dan Rasulullah saw pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.”
(Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 61)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah azza wa jalla. Barangsiapa yang
berpuasa di bulanku, aku pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa
di bulan Allah azza wa jalla, Allah akan menghibur kesepiannya di kuburnya, menyambungkan
kesendiriannya, ia akan keluar dari kuburnya dengan wajahnya seperti bulan purnama, menerima
catatan amalnya dengan tangan kanannya…”

Hadis ini bersumber dari Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Hamdani, dari Al-Hasan bin Ali, Ali
Asy-Syami, dari Abdullah dari Khuzaimi dari Dhahhak dari Imam Ali bin Abi Thalib (sa).
(Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 64)
Puasa dan Rahmat Allah
Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata: “Barangsiapa yang berpuasa hari pertama bulan Sya’ban, wajib
baginya rahmat Allah. Barangsiapa yang berpuasa dua hari di bulan Sya’ban, wajib baginya
rahmat dan maghfirah serta karamah dari Allah azza wa jalla pada hari kiamat. Barangsiapa yang
di bulan Ramadhan, wajib baginya rahmat Allah. Barangsiapa yang berpuasa tiga hari dari akhir
bulan Sya’ban dan bersambung dengan puasa bulan Ramadhan, Allah mencatat baginya seperti
berpuasa dua bulan berturut-turut. Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena
keimanan dan melakukan qiyamul layl, maka ia seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” (Fadhail Al-
Asyhur Ats-Tsalatsah: 52)

Istighfar dan Pengampunan


Imam Ali Ar-Ridha (as) berkata: “Barangsiapa yang beristighfar kepada Allah swt tujuh puluh
kali di bulan Sya’ban, Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak jumlah
bintang-bintang.”

Riwayat ini bersumber dari Ahmad bin Muhammad Al-Hamdani, dari Ali bin Al-Hasan bin Ali
bin Fadhal dari ayahnya, dia mendengar dari Imam Ali Ar-Ridha (sa).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Puasa di bulan Sya’ban adalah penghapus dosa-dosa
besar, sehingga sekiranya seseorang dibesarkan dari darah haram lalu ia berpuasa beberapa hari
di bulan Sya’ban lalu mati, maka ia diampuni.” Kemudian seseorang bertanya: Doa apakah yang
paling utama di bulan ini? Beliau berkata: “Istighfar, sesungguhnya orang yang beristighfar di
bulan Sya’ban tujuh puluh kali setiap hari, seperti orang yang beristighfar tujuh puluh ribu kali di
bulan yang lain. Lalu ditanyai lagi: bagaimana cara aku beristighfar? Beliau berkata:
“Astaghfirullâha wa as-aluhut tawbah.” (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 56)