Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pada reaksi kimia yang terjadi pada analisa dengan metode netralisasi dan
metode pengendapan tidak terjadi perubahan valensi, tetapi pada metode oksidasi
reduksi terjadi perubahan valensi dari zat-zat yang bereaksi.
Reaksi oksidasi reduksi yang umum digunakan dalam proses penentuan kadar
ialah antara elektrolit-elektrolit dalam larutan air.Nilai kuantitatifnya terletak pada
pada reaksi logam, metaloid dan ion-ionnya dalam kondisi yang sesuai dimana terjadi
pelepasan elektron dan perubahan muatan pada ion itu secara kuantitatif.Karena itu
dalam tiap-tiap reaksi oksidasi reduksi terjadi pelepasan atau penerimaan elektron
oleh suatu zat yang harus diimbangi dengan penerimaan atau pelepasan elektron oleh
zat yang lain, jadi dalam reaksi oksidasi reduksi terjadsi pelepasan elektron.
Reaksi oksidasi reduksi terbagi atas beberapa metode, diantaranya bromometri,
diazotasi, iodometri, permanganometri, serimetri.Pada praktikum ini kita melakukan
percobaan bromometri, yang dalam pustaka bromometri juga dikenal bromatometri.

I.2 Maksud dan Tujuan


I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara menentukan kadar suatu sampel dengan
menggunakan metode bromatometri.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan kadar asam salisilat dengan menggunakan metode titrasi
bromatometri.
I.3 Prinsip Percobaan
Penetapan kadar asam salisilat dengan menggunakan metode bromatometri
berdasarkan reaksi redoks antara sampel yang reduktor dengan bromin yang bersifat
oksidator dalam suasan asam dengan penambahan larutan baku Na 2S2O3
0,1130N.Titik akhir titrasi diamati diamati dengan penambahan indikator kanji dari
cokelat menjadi tidak berwarna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Bromatometri merupakan salah satu metoda oksidimetri dengan dasar reaksi
oksidasi dari larutan ion bromat (BrO3-).
BrO3- + 6H+ + 6 e → Br- + 3H2O
Dari persamaan reaksi ini ternyata bahwa satu gram ekuivalen sama dengan 1/6
gram molekul.Disini dibutuhkan lingkungan asam karena kepekatan ion H+
berpengaruh terhadap perubahan ion bromat menjadi ion bromida (Br-).(1:105)
Ekuivalen dari suatu zat pengoksid atau pereduksi, paling sederhana didefinisikan
sebagai massa reagensia yang bereaksi atau mengandung 1,008 g hidrogen tersedia,
atau 8,000 g oksigen tersedia.Dengan ‘tersedia’ dimaksudkan dapat digunakan
dalam oksidasi atau reduksi.Dalam proses oksidasi reduksi yang sesungguhnya,
elektron-elektron dipindahkan dari zat pereduksi ke zat pengoksid.Ini menimbulkan
definisi-definisi berikut.Oksidasi merupakan proses yag mengakibatkan kehilangan
satu atau lebh elektron dalam atom atau ion.Reduksi adalah proses, yang
mengakibatkan dipwerolehnya satu atau lebih elektron dalam atom atau ion.Zat
pengoksid adalah zat yang memperoleh elektron dan tereduksi; zat pereduksi adalah
zat yang kehilang elektron dan teroksidasi.Ekuivalen dari suatu oksidasi atau suatu
reaktan, adalah mol dibagi dengan jumlah elektron yang diperoleh atau yang
kehilangan dari 1 mol zat dalam reaksi itu.(2:264)
Bromatometri secara prinsip dapat diterapkan sebagai oksidator paa penentuan
oksidimetri.Dalam praktek penentuan bromatometri pada tahap pertama melibatkan
reaksi adisi dan subsitusi.larutan brom titernya kurang konstan.Oleh sebab itu pada
umumnya dilakukan sedemikian rupa hingga brom yang diperlukan untuk reaksi
baru terjadi selama penentuan melalui komproporsional dari bomat dan
bromida.Sebagai larutan baku digunakan larutan bromat yang diketahui
konsentrasinya.Dengan dasar ini dalam pustaka sebagai ganti bromometri juga
dikenal bromatometri.(3:279)
Adanya sedikit kelebihan kalium bromat dalam larutan akan menyebabkan ion
bromida bereaksi dengan ion bromat, dan bromin yang dibebaskan akan merubah
larutan menjkadi kuning pucat, warna ini sangat lemah sehingga tidak mudah untuk
menetapkan titik akhir.Bromin yang dibebaskan ini tidak stabil, karena mempunyai
terkanan uap yang tinggi dan mudah menguap, karena itu penetapan kadar
dilakukan pada suhu serendah mungkin, serta labu yang dipakai untuk titrasi harus
ditutup.(1:105)
Metoda langsung dan tidak langsung dalam bromometri atau bromatometri ini
hasilnya tidak sama, karena banyak senyawa-senyawa seperti misalnya naftilamina
dan asam-asam naftosulfonat hanya mengikat satu atom brom pada titrasi langsung,
tetapi dengan adanya kelebihan bromin, subsitusi akan berjalan terus.Pada metode
subsitusi ini terdapat bebrapa sumber kesalahan, antara lain misalnya oksidasi dan
destruksi molekul, endapan dan hasil yang tak sempurna, terjadinya atau adanya
subsitusi brom yang tak dikehendaki pada gugusan tertentu seperti misalnya
gugusan karboksilat, gugusan sulfonat.Metoda bromometri ata bromatpometri ini
terutama digunakan untuk menetapkan senyawa-senyawa organik aromatis seperti
misalanya fenol-fenol, asam salisilat, resorsinol, paraklorfenol dan lain-lainnya,
dengan membentuk tribrom subsitusi.Metode ini dapat juga digunakan untuk
menetapakan senyawa arsen dan stibium dalam bentuk trivalent walaupun
tercampur dengan stanum valensi empat.(1:106)

II.2 Uraian Bahan


1.Asam Salisilat (4 , 56)
Nama resmi : Acidum salicylicum
Nama lain : Asam salisilat
RM/BM : C7H6O3 / 238,12
Rumus Bangun :
Pemerian : Hablur putih; biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk
hablur putih; rasa agak manis, tajam dan stabil di udara.Bentuk
sintetis berwarna putih dan tidak berbau.
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut dalam air
mendidih; agak sukar larut dalam kloroform
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai sampel
2. Aquadest (4 , 96)
Nama Resmi : Aqua destillata
Nama lain : Air suling
RM/BM : H2O/ 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut
3. Kalim bromat ( 4 , 687)
Nama resmi : Kalii bromat
Nama lain : Kalium bromat
RM/BM : KbrO3/ 166,999
Pemerian : Serbuk hablur, putih
Kelarutan : Pada suhu 15,5º larut dalam 12,5 bagian air.Dalam 2 bagian air
mendidih, sangat sukar larut dalam etanol (95%) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi
4. Kalium bromida (4 , 328)
Nama resmi : Kalii bromidum
Nama lain : Kalium bromidum
RM/BM : KBr/ 119,01
Pemerian : Hablur tidak berwarna, transparan atau buram atau serbuk butir,
tidak berbau, rasa asin dan agak pahit
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 1,6 bagian air dan dalam lebih kurang
200 bagian etanol (95%) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai pereaksi
5. Asam klorida ( 4 , 53)
Nama resmi : Acidum Hydrochloridum
Nama lain : Asam klorida
RM/BM : HCl/ 36,46
Pemerian : Cairan, tidak berwarna, berasap, bau merangsang jika
diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau hilang
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pelarut
6. Natrium tiosulfat (4 , 605)
Nama resmi : Natrii thiosulfas
Nama lain : Natrium tiosulfat
RM/BM : Na2S2O3 / 158,109
Pemerian : Hablur besar, tidak berwarna atau serbuk hablur
kasar.Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara
kering.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; tidak larut dalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : sebagai titran
7.Kanji (4 ,93)
Nama resmi : Amylum manihot
Nama lain : Pati singkong
Pemerian : Serbuk halus, kadang-kadang berupa gumpalan kecil; putih;
tidak berbau ; tidak berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol (95%) P
Peyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai indikator
II.3 Prosedur Kerja
Penetapan kadar asam salisilat ( 5 , 7-8)
Timbang teliti 2 gram sampel, masukkan ke dalam labu ukur 1000 ml, dan
encerkan dengan air suling hingga tanda batas.Pipet 25 ml larutan ini ke dalam labu
tutup asah 250 ml, tambahkan 30 ml larutan bromin 0,1 N, kemudian 5 ml asam
klorida pekat dan tutup labu segera.Kocok selama 30 menit dan biarkan selama 15
menit, dan tambahakan dengan cepat 5 ml larutan KI 20% sambil dijaga dengan
hati-hati penguapan dari bromin.Kocok baik-baik dan buka tutup labu, bilas tutup
dan mulut labu dengan sedikit air, tambahkan 1 ml kloroform, kocok dan titrasi
dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N terhadap iodin yang dibebaskan dengan
menggunakan indikator kanji.Lakukan pengerjaan blanko.
Tiap ml bromin 0,1 N setara dengan 2,302 mg C7H6O3
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan


III.1 Alat yang Digunakan
1.Buret 50 ml
2.Erlenmeyer 250 ml
3.Gelas kimia 100 ml
4.Pipet volume 25 ml
5.Gelas ukur 25 ml
6.Statif dan klem
7.Neraca analitik
III.1 Bahan yang Digunakan
1.Asam salisilat
2.Air suling
3.larutan KBrO3
4.Asam klorida P
5.Kalium Iodida
6.Indikator kanji
7.Larutan baku Na2S2O3.5H2O 0.1130 N
8.Aluminium foil
III.2 Cara Kerja
1.Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.Dipipet 10 ml asam salisilat kemudian ditambahkan 50 ml aquadest
3.Ditambahakan 10 ml larutan KBrO3 kemudian ditambahkan 5 ml HCl P
4.Ditambahkan 4 ml KI dan 0,5 ml indikator kanji
5.Larutan disimpan di tempat yang gelap sekitar 15 menit
6.Larutan dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3.5H2O 0,1130 N
7.Percobaan di atas dilakukan secara duplo
BAB V
PEMBAHASAN

Bromometri atau bromatometri adalah salah satu metode oksidimetri dengan dasar
reaksi oksidasi dari ion bromat (BrO3-).Dibutuhkan lingkungan atau suasana asam karena
kepekaan ion H+ sangat berpengaruh terhadap perubahan ion bromat menjadi ion bromida
(Br-).
Pada percobaan ini kita menggunakan asam salisilat sebagai sampel.Asam salisilat
diencerkan kemudian dipipet masing-masing sebanyak 10 ml ke dalam
erlenmeyer.Kemudian dipipet larutan KBrO3 sebanyak 10 mldan ditambahkan HCl P
sebanyak 5 ml.Kemudian larutan didiamkan selama 15 menit di tempat yang gelap,
dimaksudkan untuk membiarkan terjadinya reaksi brominasi, selain itu untuk
menghindari faktor oksidasi dari luar.Setelah itu ditambahkan 4 ml KI, KI digunakan
untuk menghasilkan I2 yang akan bereaksi dengan larutan baku tiosulfat.Dan
ditambahkan indikator kanji sebanyak 0,5 ml.Lalu dititrasi dengan larutan baku tiosulfat
0,1130 N sehingga terjadi perubahan dari yang semula berwarna cokelat menjadi tak
berwarna.Dalam percobaan ini mulut erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil untuk
mencegah menguapnya bromin.
Pada percobaan ini, persen kadar rata-rata asam salisilat yang diperoleh sebesar
84,54%.Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang ada pada farmakope yaitu asam salisilat
mengandung tidak kurang dari 99,5% C7H6O3.Hasil ang diperoleh tidak sesuai dengan
teori dapat disebabkan oleh bebrapa faktor, diantaranya:
1.Adanya kesalahan titrasi yaitu kelebihan atau kekurangan dari volume titrasi yang
dihasilkan saat titrasi.
2.Kekurangtelititan saat melihat titik akhir titrasi yang terjadi.
3.Kesalahan saat membaca skala buret.
BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, maka dapat disimpulkan bahwa %kadar rata-
rata asam salisilat pada metode bromatometri sebesar 84,54%

VI.2 Saran
Sebaiknya bahan-bahan yang alkan digunakan dalam percobaan dibuat
berlebih, agar semua kelompok mendapat bahan yang akan dicobakan
DAFTAR PUSTAKA

1.S,Susanti dan Yeanny Wunas.1986.Analisa Kimia Farmasi Kwantiatip.Ujung


Pandang:Universitas Hasanuddin.
2.Basset, J dkk.1994.Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3.Roth, Hermann J dan Gottfried Blaschke.1985.Analisis Farmasi.Yogyakarta:Gadjah
Mada University Press.
4.Dirjen POM.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta:Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
5.Tim Asisten.2006.Penuntun Praktikum Kimia Analisis.Makassar:Unversitas
Hasanuddin.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan


Sampel Titran Volume Indikator Perubahan Warna
titran
Asam salisilat 10 ml Na2S2O3.5H2O 3,8 ml Larutan kanji Cokelat-tak berwarna
Asam salisilat 10 ml Na2S2O3.5H2O 4 ml Larutan kanji Cokelat- tak berwarna

IV.2 Reaksi
BrO3- + 6 H+ + 6 e → Br- + 3H2O
BrO3- + 5Br- + 6 H+ → 3Br2 + 3H2O
KBrO3 + 5 Br + 6 HCl → 3Br2 + 6KCl + 3H2O
2KI + Br2 → 2KBr + I2
I2 + 2 Na2S2O3 → 2NaI + Na2S4O6

+ Br2 → + CO2 ↑ + 3HBr

Asam salisilat Tribromofenol

IV.3 Perhitungan
% Kadar Asam Salisilat = V x N Na2S2O3 x BE x Fp x 100%
Bs
= V x N Na2S2O3 x (1/6 BM) x Fp x 100%
Bs

%K1 = 3,8 x 0,1130 x 23,02 x 25 x 100%


300
= 24711,97 %
300
%K1 = 82,373%
%K2 = 4 x 0,1130 x 23,02 x 25 x 100%
300
= 26012,6%
300
%K2 = 86,708%

% Krata-rata = 82,373 % + 86,708 %


2
% Krata-rata = 84,54 %

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Larutan kalium permanganat dapat dibakukan dengan mudah, dan
konsentrasinya tetap dalam jangka waktu yang lama bila diperhatikan baik-baik
cara pembuatan dan pengawetannya.Reaksi ion permanganat dalam air dapat
berlangsung cepat.Kalium permanganat merupakan oksidator kuat, yang dalam
larutan asam praktis tereduksi mernjadi mangan (II) tidak berwarna, dalam larutan
netral atau alkali tereduksi menjadi mangan (IV) oksida.Selain itu ia juga dapat
bertindak sebagai indikator bila dipakai dalam titrasi, karena kelebihan sedikit saja
dari kalium permanganat menyebabkan larutan berwarna merah ungu.(1:135)
Zat pengoksida yang berharga dan sangat kuat ini paling mula diperkenalkan
dalam analisis trimetri oleh F. Marguirette untuk titrasi besi (II).Dalam larutan –
larutan asam, redusi ini dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
MnO4- + 8 H+ + 5e ↔ Mn2+ + 4H2O
Sehingga ekuivalennya adalah seperlima mol, yaitu 158,03/5 atau 31,606.Potensial
standar dalam larutan asam E, menurut perhitungan adalah 1,51 volt, maka ion
permanganat dalam larutan asam adalah zat pengoksid yang kuat.(2:406)
Dalam suasan asam reaksi diatas berjalan sangat lambat, tetapi masih cukup
cepat untuk memucatkan warna dari permanganat setelah reaksi sempurna.Jadi
umumnya titrasi dilakukan dalam lingkungan asam karena lebih mudah mengamati
titik akhirnya.Sebaliknya ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam
suasana netral atau alkali.Disini perlu diperhitungkan bukan saja oksidasi potensial
reduksi dari senyawa yang akan ditetapkan.Misalnya hidrazin, muda dioksidasi
menjadi nitrogen dan air dalam lingkungan alkali, dimana bila dilakukan dalam
lingkungan asam akan terjadi beberapa hasil sampingan yang tidak
dikehendaki.Sulfit, sulfida dan tiosulfat dapat diubah secara kuantitatif menjadi
sulfat dengan adanya alkali, tetapi hanya sebagian yang dioksidasi bila larutannya
asam.Titrasi yang dilakukan dalam lingkungan alkali menghasilkan endapan yang
berwarna coklat tua dari mangan oksida, atau hidratnya, (MnOH)2 yang akan
menyulitkan pengamatan titik akhir titrasi kalau lingkungan alkali ion permanganat,
yang akan tereduksi lebih lanjut menadi mangan oksida.(1:136)
Kalium permanganat bukanlah suatu standar primer.Zat ini sukar diperoleh
sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangan oksida.Lagi pula, air suling
yang biaa mungkin mengandung zat-zat pereduksi (runutan bahan-bahan organik,
dan sebagainya), yang akan bereaksi dengan kalium permanganat itu dengan
membentuk mangan oksida.Adanya zat yang disebut terakhir ini sangatlah
menganggu, karena ia mengkatalisis penguraian sendiri dari larutan permanganat
setelah didiamkan.Karena alasan-alasan ini kalium permanganat jarang dibuat
dengan melarutkan jumlah–jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat
dimurnikan dalam air, lebih lazim adalah memanaskan suatu larutan yang baru saja
dibuat sampai mendidih, dan mendiamkannya di atas penangas uap selama satu-dua
jam, lalu menyaring larutan itu melalui suatu medium penyaring yang tak
mereduksi, seperti wol kaca yang telah dimurnkan atau melalui krus saring dari
kaca masir.(2:408)

II.2 Uraian Bahan


1.Besi (II) sulfat ( 3 , 254)
Nama resmi : Ferrosi sulfas
Nama lain : Besi (II) sulfat
RM/BM : FeSO4/ 151,90
Pemerian : Serbuk putih keabuan rasa logam, sepat.
Kelarutan : Perlahan-lahan larut hampir sempurna dalam air bebas
karbondioksida P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
2. Aquadest ( 3, 96)
Nama Resmi : Aqua destillata
Nama lain : Air suling
RM/BM : H2O/ 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut
3.Asam sulfat ( 3 , 58)
Nama resmi : Acidum sulfuricum
Nama lain : Asam sulfat
RM/BM : H2SO4 / 98,07
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna; jika
ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Pemberi suasana asam, pelarut
4.Kalium permanganat ( 3 , 330)
Nama resmi : Kalii permanganas
Nama lain : Kalium permanganat
RM/BM : KmnO4 / 158,03
Pemerian : Hablur mengkilap; ungu tua atau hampir hitam, tidak berbau;
rasa manis atau sepat.
Kelarutan : larut dalam 16 bagian air; mudah larut dalam air mendidih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Titran

II.3 Prosedur Percobaan


Penetapan Besi (II) sulfat (4, 6)
Timbang seksama 300 mg FeSO4.7H2O, masukkan ke dalam erlenmeyer lalu
tambahkan 25 ml asam sulfat encer dan 25 ml air.Titrasi dengan larutan kalium
permanganat 0,1 N sampai warna merah muda yang tetap.
Tiap ml KmnO4 0,1 N setara dengan 15,19 mg FeSO4 atu dengan 27,80 mg
FeSO4.7H2O

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1 Alat yang Digunakan
1.Buret
2.Gelas ukur
3.Erlenmeyer
4.Kompor listrik
5.Satatif dan klem
6.Neraca analitik
III.1.2 Bahan yang Digunakan
1.Besi (II) sulfat
2.H2SO4
3.Aquadest
4.KmnO4 0,1138 N
III.2 Cara Kerja
1.Disiapkan alat dan bahan
2.Buret diisi dengan larutan baku KMnO4 0,1138 N
3.Ditimbang seksama 300 mg FeSO4.7H2O, lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer
4.Ditambahkan 25 ml H2SO4 encer
5.Ditambahkan 25 ml air
6.Dipanaskan sampai FeSO4.7H2O larut
7.Dititrasi dengan larutan KmnO4 0,1138 N sampai didapat warna merah muda
yang tetap
8.Dicatat volume titrasi

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan


Sampel Berat Sampel (mg) Titran Volume titran (ml) Perubahan warna
Ungu- merah
FeSO4.7H2O 300 KmnO4 0,6
muda tetap

IV.2 Reaksi
MnO4- + 8H+ + 5e → Mn2+ + 4H2O x1 MnO4- + 8H+ + 5e → Mn2+ + 4H2O
Fe2+ → Fe3+ + e x5 5Fe2+ → 5Fe3+ + 5e
MnO4- + 5Fe2+ +8H+ → Mn2++5Fe3++4H2O

IV.3 Perhitungan
% K= V x N x Bst
Bs x Fk
1 ml KMnO4 0,1 N setara dengan 27,80 ml FeSO4.7H2O
%K = 0,6 ml x 0,1138 N x 27,80 x 100%
300 x 0,1
%K = 1,898 x 100%
30
%K = 6,326 %

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami penetapan kadar suatu sampel dengan
menggunakan metode volumetri.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Untuk menentukan kadar besi (II) sulfat dengan menggunakan metode
permanganometri.
I.3 Prinsip Percobaan
Penetapan kadar besi (II) sulfat dengan menggunakan metode permanganometri
berdasarkan reaksi redoks dimana besi (II) sulfat sebagai reduktor dititrasi dengan
larutan baku kalium permanganat 0,1138 N sebagai oksidator hingga dicapai titik
akhir titrasi yang ditandai dengan terbentuk nya warna merah muda yang tetap.

BAB V
PEMBAHASAN
Permanganometri adalah cara analisis volumetri yang didasrkan atas reaksi oksidasi
ion permanganat.Prinsip reaksi ini didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi dimana ion
permanganat menjadi Mn2+ dalam suasana asam, titik akhir titrasi ditandai dengan
terbentuknya warna merah muda yang tetap.
Titrasi poermanganometri dilakukan dalam lingkungan asam, sehingga terjadi reaksi :
MnO4- + 8H+ + 5e → Mn2+ + 4H2O
dimana potensial oksiasinya sangat dipengaruhi ooeh adanya kepekatan ion hidrogen,
akan tetapi konsentrasi ion mangan (II) pada persenyawaan diatas tidak terlalu
berpoengaruh terhadap potensial redoks, karena konsentrasi ion mangan (II) sendiri
mampu mereduksi ion permanganat dengan membentuk ion mangan (III) dan mangan
oksida (MnO2) dimana reaksi akan berjalan lambat, tetapi masih cukup cepat untuk
memucatkan warna dari permanganat setelah reaksi sempurna sehingga titik akhirnya
mudah untuk diamati.
Dalam praktikum permanganometri, sampel yang ditentukan kadarnya adalah Besi
(II) sulfat.Mula-mula diisi buret dengan larutan baku KmnO 4 0,1138 N, kemudian
ditimbang FeSO4.7H2O sebanyak 300 mg.Kemudian ditambahkan 5 ml H 2SO4 10%,
kemudian dihomogenkan.H2SO4 ditambahakan untuk menjaga konsentrasi ion hidrogen
yang tetap dalam larutan titrasi, untuk mencegah pembentukan mangan dioksida,
mencukupi kebutuhan ion hidrogen mereduksi permanganat, yang paling penting asam
sulfat tidak bereaksi terhadap kalium permanganat dalam larutan encer.Lalu dipanaskan
agar FeSO4.7H2O cepat larut dalam pelarut.
Larutan kemudian dititrasi dengan KmnO4 0,1138 N dimana titik akhir tercapai padas
saat tercapai perubahan warna dari KmnO 4 yaitu dari tidak berwarna menjadi merah
muda yang tetap.Kalium permanganat berfungsi sebagai autoindikator, yaitu larutan yang
dapat berfungsi sebagai larutan yang dapat berfungsi sebagai larutan titran juga dapat
berfungsi sebagai indikator sendiri dalam titrasi tersebut.Karena larutan kaliun
permanganat sendiri yang berwarna.Kelebihan sedikit saja dari KmnO 4 menyebabkan
larutan berwarna merah muda yang tetap sehingga titik akhir titrasi mudah diamati
dengan jelas.
Volume titrasi yanmg diperoleh pada percobaan sebanyak 0,6 ml, sehingga % kadar
yang diperoleh sebesar 6,326%.Kadar yang diperoleh ini sangat jauh berbeda dengan
teori, yaitu tidak kurang dari 80,0% dan tidak lebih dari 90,0%.Kesalahan tersebut dapat
disebabakan oleh beberapa faktor, diantaranya ;
1.Pada saat melarutkan FeSO4.7H2O masih ada endapan yang belum larut dalam pelarut,
namun sudah dititrasi.
2.Pembacaan skala buret yang kurang tepat.
3.Pengamatan titik akhir titrasi yang kurang tepat.

BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa %
kadar FeSO4.7H2O yang diperoleh sebesar 6,326%.

VI.2 Saran
Sebaiknya digunakan juga sampel yang lain, sehingga praktikan dapat
mengetahui nilai % kadar sampel yang lain.
DAFTAR PUSTAKA

1.S, Susanti dan Yeanny Wunas.1986.Analisa Kimia Farmasi Kwantitatip.Ujung


Pandang: Universitas Hasanuddin.
2.Basset, J dkk.1994.Buku Ajar Vogel.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3.Dirjen POM.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
4.Tim Asisten.2006.Penuntun Praktikum Kimia Analisis.Makassar: Universitas
Hasanuddin.