Anda di halaman 1dari 2

Discussion

Dari urian diatas membuktikan bahwa penelitian ini memberikan dukungan secara
empiris bahwa stres kerja berhubungan dengan intensitas turnover suatu rumah sakit. Disisi lain
ditemukan hubungan terbalik antara usia perawat dengan intensitas turnover yang terjadi, dimana
ini juga dikaitkan dengan rendahnya tingkat kepuasan kerja. Turnover perawat di rumah sakit
juga dipengaruhi oleh kemampuan dalam menangani stres kerja. Temuan lain di Iran
menunjukan stres kerja disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, masalah upah atau gaji yang
tidak sesuai merupakan salah satu faktor dominan yang cukup besar mempengaruhi stres kerja.
Kurangnya reward dan juga rendahnya kesempatan promosi juga merupakan prediksi yang
signifikan dimana rendahnya kesempatan promosi menjadi lebih berpengaruh daripada
rendahnya gaji yang diterima. Penigkatan gaji tidak akan memberikan dampak yang signifikan
apabila tidak diikuti dengan pemberian peluang yang sama untuk promosi bagi seluruh
karyawan. Faktor lain yaitu beban kerja yang banyak dengan jumlah staff yang tidak mencukupi
menyebabkan peningkatan ketegangan kerja dan mengurangi kepuasan kerja sehingga
memberikan dampak pada kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan. Beban kerja harusnya
sebanding dengan kemampuan dan sumber daya perawat. Ketidaksetaraan kerja antara perawat
satu dengan lainnya menyebabkan berbagai respon negatif yang dapat memicu stres kerja juga.

Selain itu ketidaknyamanan dalam bekerja mengancam para perawat disektor swasta lebih
tinggi daripada rumah sakit negeri, mengingat memang banyak rumah sakit swasta saat ini yang
mulai berbasis profit. Begitu pula dengan hubungan interpersonal yang kurang baik antara
perawat dengan professional kesehatan yang lain menjadi salah satu sumber stres utama perawat
yang berkerja di rumah sakit. Menjalin relasi, memberikan pendidikan dan pelatihan yang
menekankan kerjasama tim dapat membantu kerjasama antar perawat dan professional klinis
lain. Faktor lainnya yang secara tidak langsung dapat mengubah perilaku perawat adalah
kebijakan yang diberlakukan di rumah sakit. Melibatkan karyawan dalam pembuatan kebijakan
dapat berdampak pada penurunan tingkat stres kerja.

Perawat harus menyadari tugas dan peran perawat yang sangat berat dimana perawat harus
mampu mengendalikan stres kerja mereka. Tingginya tuntutan akan peran mereka,
mengharuskan pembagian jobdesk yang jelas sehingga pekerjaan dapat terselesaikan dengan
efektif. Disisi lain manager juga memerlukan strategi organisasi dalam meningkatkan kulitas
kehidupan kerja perawat. Perawat alangkah lebih baik diberikan kesempatan untuk berpartisipasi
dalam mengembangkan kebijakan di lingkungan kerja yang memang menjadi tanggung
jawabnya juga.

Banyak studi yang mendukung hasil penilitian ini dan menunjukan hal serupa. Perawat yang
ada di departemen psikiatrik, ICU, ruang operasi, pediatri, kardiologi, penyakit dalam, bedah dan
emergency atau IGD memiliki tingkat stres pekerjaan yang lebih tinggi dan lebih mungkin untuk
meninggalkan posisi mereka daripada perawat di departemen lain.