Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN NY. K DENGAN KASUS PENYAKIT BASALIOMA


DI RUANG 14 RSU Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
2018

DISUSUN OLEH :

SUGENG YULIAWAN
NIM. 201501038

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BANYUWANGI
2018/2019

1
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN KASUS PENYAKIT BASALIOMA
DI RUANG 14 RSU Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
2018

DISUSUN OLEH :

SUGENG YULIAWAN
NIM. 201501038

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BANYUWANGI
2016/2017

2
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar Pengesahan Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan ini dibuat berdasarkan Praktik
Klinik Keperawatan dengan kasus Basalioma di RSU Dr. Saiful Anwar ( RSSA ) Malang di
Ruang 14 yang dilaksanakan pada tanggal 02 Juli – 07 Juli 2018.

Malang, ………………………….

Mahasiswa

Sugeng Yuliawan
NIM. 201501038

Disetujui Oleh :

Pembimbing Rumah Sakit Pembimbing Institusi

…………………………… ……………………………

Mengetahui

Kepala Ruangan

……………………………

3
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar Pengesahan Asuhan Keperawatan ini dibuat berdasarkan Praktik Klinik Keperawatan
dengan kasus Basalioma pada pasien Ny. K di RSU Dr. Saiful Anwar ( RSSA ) Malang di Ruang
14 yang dilaksanakan pada tanggal 02 Juli – 07 Juli 2018.

Malang, ………………………….

Mahasiswa

Sugeng Yuliawan
NIM. 201501038

Disetujui Oleh :

Pembimbing Rumah Sakit Pembimbing Institusi

…………………………… ……………………………

Mengetahui

Kepala Ruangan

……………………………

4
BAB 1

TINJAUAN TEORI

1.1 DEFINISI

Basalioma atau karsinoma sel basal merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan.
Berasal dari sel-sel epidermis sepanjang lapisan basal.

Basalioma adalah merupakan kanker kulit yang timbul dari lapisan sel basal epidermis atau
folikel rambut ; yang paling umum dan jarang bermetastasis ; kekambuhan umum terjadi
(Brunner and Suddarth, 2000).

Basalioma adalah karsinoma sel basal merupakan kangker kulit yang timbul dari sel basal
epidermis atau folikel rambut( Brunner & Suddarth,2001).

Basalioma merupakan keganasan kulit yang paling sering ditemukan umumnya di daerah
wajah dan paling banyak timbul pada orang yang kulitnya miskin pelindung terhadap sinar
ultraviolet dari cahaya matahari tumor ini berasal dari sel lapisan basal atau dari luar sel
folikel rambut ( R Sjamsuhidayat, 2004)

Basalioma adalah suatu tumor ganas kulit (kanker) yang berasal dari pertumbuhan
neoplastik sel basal epidermis dan appendiks kulit (Graham,R, 2005). Pertumbuhan tumor
ini lambat ,dengan beberapa macam pola pertumbuhan sehingga memberikan gambaran
klinis yang bervariasi,bersifat invasif,serta jarang mengadakan metastasis (Nila, 2005)

Karsinoma sel basal ( BCC ) atau basalioma adalah neoplasma maligna yang
berasal dari sel basal epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat
timbul pada kulit yang berambut (Manuaba, 2010 ).

1.2 ETIOLOGI

Penyebab pasti masih belum diketahui, tetapi ada berbagai faktor yang menjadi presdiposisi
terjadinya basalioma.

1. Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogenik adalah sinar yang memiliki
panjang gelombang berkisar antara 280 sampai 320 nm. Spektrum ini terutama
bertanggung jawab dalam membakar dan membuat kulit menjadi cokelat. Pemakaian
bahan-bahan yang melindungi kulit dari sinar matahari sangat dianjurkan pada setiap
orang yang dalam keluarganya ada yang menderita kanker kulit, dan pada orang-
orang yang berkulit peka sehingga mudah sekali menderita luka bakar karena sinar
matahari.

5
2. Orang yang tidak memproduksi (pigmen) melanin dengan jumlah yang cukup di
dalam kulit untuk melindungi jaringan di bawahnya sangat rentan terhadap
kerusakan akibat sinar matahari. Orang yang paling berisiko itu adalah orang yang
berkulit cerah, bermata biru, berambut merah yang nenek moyangnya berdarah
Celtic, atau orang dengan warna kulit yang merah muda atau cerah di samping orang
yang sudah lama terkena sinar matahari tanpa terjadi perubahan kulit menjadi cokelat
kekuningan.
3. Para pekerja yang mengalami kontak dengan zat-zat kimia tertentu (senyawa arsen,
nitrat, batubara, ter dan aspal, serta paraffin).
4. Xeroderma pigmentosum: penyakit ini merupakan penyakit resesif autosomal yang
menjadi presdiposisi untuk penuaan dini pada kulit, dimulai dengan perubahan
pigmen dan berubah menjadi karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, dan
melanoma maligna. Efek dari Xeroderma pigmentosum adalah ketidakmampuan
untuk memperbaiki kerusakan DNA akibat sinar ultraviolet dari matahari.
5. Orang yang menderita kanker sikatriks akibat luka bakar yang berat dapat
mengalami kanker kulit setelah 20 hingga 40 tahun kemudian.
6. Trauma

1.3 MANIFESTASI KLINIK


Tanda dan gejala yang menyertai penyakit basalioma adalah predileksinya terutama pada
wajah (pipi, dahi, hidung, lipat nasolabial, daerah periorbital), leher. Meskipun jarang dapat
pula dijumpai pada lengan, tangan, badan, tungkai, kaki dan kulit kepala. Gambaran klinik
basalioma bervariasi terbagi menjadi 5 bentuk :
1. Tipe Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens, merupakan jenis yang paling sering
dijumpai. Lesi biasanya tampak sebagai lesi tunggal. Paling sering mengenai wajah,
terutama pipi, lipat nasolabial, dahi dan tepi kelopak mata. Pada awalnya tampak
papul atau nodul kecil, transparan seperti mutiara, berdiameter kurang dari 2 cm,
denggan tepi meninggi. Permukaannya tampak mengkilat, sering dijumpai adanya
teleangiektasis dan kadang-kadang dengan skuama yang halus atau krusta tipis.
Berwarna seperti mutiara, kadang-kadang seperti kulit normal sampai eritem yang
pucat. Lesi membesar secara perlahan dan suatu saat bagian tengah lesi menjadi
cekung, meninggalkan tepi yang meninggi, keras. Jika terabaikan, lesi-lesi ini akan
mengalami ulserasi (disebut ulkus rodens), dengan destruksi jaringan di sekitarnya.
2. Tipe Berpigmen, gambaran klinisnya sama dengan yang tipe nodulo-ulseratif.
Bedanya, pada jenis ini berwarna coklat atau hitam berbintik-bintik atau homogen,
yang secara klinis dapat menyerupai melanoma.
3. Tipe Morfea atau fibrosing atau sklerosing, biasanya terjadi pada kepala dan leher.
Lesi tampak sebagai plak sklerotik yang cekung, berwarna putih kekuningan dengan

6
batas tidak jelas. Lesi tampak sebagai bercak sklerodermatosa dan tidak member
kesan karsinoma sel basal bila dilihat oleh mata yang tidak berpengalaman.
Pertumbuhan perifer diikuti oleh perluasan sklerosis di tengahnya.
4. Tipe Superfisial, lesi biasanya multipel, mengenai badan. Secara klinis tampak
sebagai plak transparan, eritematosa sampai berpigmen terang, berbentuk oval
sampai ireguler dengan tepi berbatas tegas, sedikit meninggi, seperti benang atau
kawat. Biasanya dihubungkan dengan ingesti arsenik kronis.
5. Tipe Fibroepitelioma, paling sering terjadi pada punggung bawah. Secara klinis, lesi
berupa papul kecil yang tidak bertangkai atau bertangkai pendek, dengan permukaan
halus atau noduler, dengan warna yang bervariasi.

Disamping itu terdapat pula 3 sindroma klinis, dimana epitelioma sel basal berperan penting,
yaitu:
1. Sindroma Epitelioma Sel Basalnevoid, dikenal pula sebagai sindroma Gorlin-Goltz.
Merupakan kelainan autosomal dominan dengan penetrasi yang bervariasi, ditandai
oleh 5 gejala mayor yaitu :
a. Karsinoma sel basal multipel yang terjadi pada usia muda.
b. Cekungan-cekungan pada telapak tangan dan telapak kaki.
c. Kelainan pada tulang, terutama tulang rusuk.
d. Kista pada tulang rahang.
e. Kalsifikasi ektopik dari falks serebri dan struktur lainnya.

Disamping gejala mayor ini, dijumpai banyak kelainan sistem organ multipel yang
berhubungan dengan sindroma ini.
2. Nevus sel basal unilateral linier, merupakan jenis yang sangat jarang dijumpai. Lesi
berupa nodul dan komedo, dengan daerah atrofi bentuk striae, distribusi
zosteriformis atau linier, unilateral. Lesi biasa dijumpai sejak lahir dan lesi ini tidak
meluas dengan meningkatnya usia.
3. Sindroma bazex, sindroma ini digambarkan pertama kalinya oleh Bazex, diturunkan
secara dominan, dengan cirri khas sebagai berikut :
a. Atrofoderma folikuler, yang ditandai oleh folikuler yang terbuka lebar,
seperti ice-pick marks, terutama pada ekstremitas.
b. Epitelioma sel basal kecil, multipel pada wajah, biasanya timbul pertama kali
pada saat remaja atau awal dewasa. Namun kadang-kadang dapat juga timbul
pada akhir masa anak-anak.

Disamping itu dapat pula dijumpai anhidrosis lokal atau hipohidrosis generalisata,
hipotrikosis kongenital pada kulit kepala dan daerah lainnya.

7
Gambar penderita basalioma :

1.4 komplSIFIKASI
Klasifikasi TNM digunakan sebagai sistem klasifikasi pada tumor ganas kulit non
melanoma. Klasifikasi TNM Tumor Ganas Kulit ( kecuali Melanoma Maligna ) :
T : Tumor primer
Tx : Tumor primer tidak dapat dievaluasi
T0 : Tidak ditemukan tumor primer
Tis : Karsinoma insitu
T1 : Tumor dengan ukuran terbesar tidak melebihi 2 cm.
T2 : Tumor dengan ukuran terbesar antara 2-5 cm.
T3 : Tumor dengan ukuran lebih dari 5 cm.
T4 : Tumor menginvasi struktur ekstradermal dalam misalnya kartilago, otot skelet
atau tulang.
N : Kelenjar getah bening
Nx : Kelenjar getah bening tidak dapat diperiksa
N0 : Tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional
N1 : Ada metastasis kelenjar limfe regional
M : Metastasis jauh
Mx : Tidak dapat diperiksa
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Ada metastasis jauh
Stadium tumor ganas kulit non melanoma menurut American Joint Committee on
Cancer tahun 2006 :
Stadium T N M

0 Tis N0 M0

I T1 N0 M0

8
T2 N0 M0
II
T3 N0 M0

T4 N0 M0
III
Tiap T N1 M0

IV Tiap T Tiap N M1

Stadium tumor ganas kulit non melanoma menurut AJCC tahun 2006.

1.5 PATOFISIOLOGI
Basalioma merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Basalioma berasal dari sel
epidermis sepanjang lamina basalis. Kanker sel basal terjadi pada daerah terbuka yang
biasanya terpapar sinar matahari, seperti wajah, kepala, dan leher. Untungnya tumor ini
jarang sekali bermetastasis. Pasien dengan kanker sel basal tunggal lebih mudah mendapat
kanker kulit.
Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogen adalah sinar yang panjang gelombangnya,
bekisar antara 280 samapi 320 mm. Spektrum inilah yang membakar dan membuat kulit
menjadi cacat. Selain itu, pasien yang memiliki riwayat kanker sel basal harus menggunakan
tabir surya atau pakaian pelindung untuk menghindari sinar karsinogen yang terdapat di
dalam sinar matahari.
Penyebab lain basalioma adalah riwayat pengobatan, radiologi, sebelumnya untuk
menyembuhkan penyakit kulit lain. Sinar ultraviolet panjang (UVA) yang dipancarkan oleh
alat untuk membuat kulit kecoklatan seperti terbakar sinar matahari juga merusak epidermis
dan di anggap sebagai karsinogen. Tumor ini ditandai oleh nodul eritromatosa, halus dan
seperti mutiara, bagian tengah mengalami ulserasi dan perdarahan, meninggi dan memiliki
pembuluh telangiektatik pada permukannya.

9
10
1.6 WOC PRE OPERSI
Sinar uv, orang yg tidak/kurang pigmen, kontak lama dengan zat2 toksik, sering terpapar dng sinar Terapi imuno supresi
radiasi, mengalami trauma fisik yg berulang, ps yg
dpt pengobatan utk menekan reaksi imun, pembentukknya siktarik yg meluas, genetik, terjadinya
melanosti nevi yg brhubungan dengan kelainan genetik/lingkungan.

Pada imun yang lemah Lesi di kulit


akan menimbulkan kulit
meradang

Lesi, kemerahan timbul Lama kelamaan timbul


nodul plak dan nodul

Kemudian berpoliferasi

Nodul ulserasi

Nodul ulserasi yang Tipe papilen yg menonjol di


menimbulkan ulkus atas kulit seperti kemabng kol

Mengalir melalui aliran limfatik dan aliran darah

11
Mengalir melalui aliran limfatik dan aliran darah

Pertumbuhan sel-sel yg lebih agresif

Karsinoma sel basal Suplai nutrisi ke


jaringan CA meningkat
Seperti nodul kecil dengan tepi yang tergulung,
translusen dan mngilap
Hipermetabolisme ke
jaringan

Ulserasi Pasien cemas Perfusi jaringan


dengan keadaannya terganggu Suplai nutrisi jaringan
lain menurun
Lesi yang diabaikan dapat
menyebabkan hilangnya mata, MK. Ansietas Ulkus Luka yang tidak
hidung, telinga dan bibir sembuh
Berat badan menurun

Inflamasi
MK. Gangguan Citra Tubuh MK. Kerusakan
Integritas Jaringan MK. Ketidakseimbangan
MK. Nyeri Akut Nutrisi Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh

12
1.6 WOC POST OPERASI

Karsinoma sel basal

Tindakan Operasi
Basalioma

Struktur kulit dan Eksisi bedah / luka Terputusnya jaringan


jaringan terputus

Media masuknya Rangsangan terhadap


Perubahan terhadap mikroorganisme reseptor nyeri di
kulit dan jarigan korteks serebri

MK. Resiko Infeksi


MK. Kerusakan Nyeri dipersepsikan
Integritas Jaringan

MK. Nyeri Akut

13
1.7 KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang dapat di timbulkan dari penyakit kanker kulit ini yaitu:
1. Akibat pembedahan dan terapi radiasi:
a. Jaringan yang di buat tergores/ terluka.
b. Perubahan warna kulit.
c. Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik.
d. Luka kulit yang kronis.
e. Keterbatasan anggota badan jika pengobatan luas.
2. Akibat kemoterapi dan bioterapi:
a. Mual dan muntah.
b. Syndrome flulike.
c. Mielosupresi.
d. Paresthesia
e. Fibrosis pulmonary.
f. Hipersensivitas.
g. Alopesia.
h. Reaksi alergi

3. Umum:
a. Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik dan citra tubuh.
b. Kehilangan fungsi pada ekstremitas.
c. Perlukaan dan perubahan warna kulit.
d. Proses hasil metastase penyakit pada paengobatan invasif dan potensial
kematian terakhir.

1.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Menurut Baughman, CD & Hackley J.C, 2000, pemeriksaan diagnostik yang biasa
dilakukan pada penderita. Basalioma adalah :
a. Evaluasi histologist
b. Biopsi

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan


diagnosis basalioma yaitu pemeriksaan histopatologis. Biopsi kulit sering diperlukan

14
untuk memperkuat diagnosis dan menentukan gambaran histopatologi. Dari
pemeriksaan ini dapat ditemukan :
a. Karsinoma sel basal tipe nodular : nukleus oval besar, hiperkromatik, dan
sitoplasma sedikit. Bentuk sel seragam dan bila ada gambaran mitotik biasanya
sedikit. Bentuk padat biasanya bergabung dengan pola berbentuk palisade di
daerah perifer dan membentuk sarang-sarang. Biasanya ada peningkatan
produksi musin di sekitar stroma dermis. Pembelahan sel, yang dikenal sebagai
artefak retraksi biasanya muncul diantara sarang-sarang basalioma dan stroma,
yang berkurang selama fiksasi dan pewarnaan.
b. Karsinoma tipe berpigmen : mengandung melanosit yang terdiri dari sitoplasma
granula melanin dan dendrit.
c. Karsinoma sel basal tipe morfea : pola sarang pertumbuhannya tidak melingkar
tapi membentuk untaian.
d. Karsinoma sel basal tipe superfisial : penampakannya seperti semak-semak sel
basaloid yang berlekatan dengan epidermis. Sarang-sarang berbagai ukuran
sering terlihat di dermis(Wong & Strange, 2009)

(a) (b)
Gambaran histopatologi kulit normal(a). Basalioma (b).
(Berman, 2008)
Untuk basalioma yang metastasis atau yang berpenetrasi ke tulang dapat
dilakukan pemeriksaan radiologi. Salah satunya adalah dengan MRI (Magnetic
Resonance Imaging). Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas yang tinggi untuk
mendeteksi terjadinya destruksi tulang pada basalioma.

15
a b
(Berman, 2008)
(a) Ulserasi supefisial dari tumor yang berpenetrasi ke lapisan superfisial
pada regio temporalis. (potongan axial)
(b) MRI potongan coronal. Gambaran destruksi tulang zygoma (panah),
tetapi tidak dapat dipastikan berasal dari tumor yang mengalami penetrasi,
sehingga dibutuhkan konfirmasi dengan pemeriksaan hystopatologi.

1.10 PENATALAKSANAAN
Terdapat banyak alternatif pengobatan pada karsinoma sel basal yaitu :
1. Kuretase dan elektrodesikasi
Keuntungan :
a. Tehniknya sederhana.
b. Meninggalkan luka yang teratur dan kering.

Kerugian :
a. Tidak efektif untuk tumor primer yang luas atau residif.
b. Tidak didapat konfirmasi batas tepi pembuangan jaringan yang adekuat.
2. Bedah eksisi
Keuntungan :
a. Penyembuhannya cepat dengan luka yang teratur dan kering.
b. Dari segi kosmetik baik, memungkinkan pengambilan jaringan tumor secara
menyeluruh dan dapat ditentukan batas eksisi dengan pemeriksaan
histopatologi.
Kerugian :
a. Membutuhkan waktu.

16
b. Biaya mahal.
c. Memerlukan pengalaman yang luas.
d. Pengambilan jaringan normal dapat berlebihan
3. Radioterapi
Keuntungan :
a. Bermanfaat pada daerah anatomis yang sulit diterapi dengan metode
pembedahan.
b. Bermanfaat bagi penderita dengan lesi yang luas yang tidak memungkinkan
untuk dilakukan anestesi umum.
c. Pada umumnya karsinoma sel basal sangat radio-sensitif.
Kerugian :
a. Memerlukan peralatan yang mahal.
b. Memerlukan kunjungan yang berulang kali.
c. Memberikan efek samping yang signifikan.
4. Bedah beku
Keuntungan :
a. Tehniknya cepat.
b. Peralatan yang dibutuhkan sederhana.
c. Tidak mempengaruhi syaraf, pembuluh darah besar, tulang rawan, dan sistem
saluran air mata.

d. Bermanfaat pada daerah tumor yang sulit diterapkan dengan metode


pengobatan lainnya, seperti kelopak mata.
e. Dapat dikombinasi dengan metode lainnya, seperti kuretase.
f. Dapat digunakan untuk pengobatan tumor yang luas bagi penderita rawat
jalan.
Kerugian :
a. Rasa nyeri dan edema.
b. Timbul bula, edema, dan lesi yang basah.
c. Dapat terjadi hipopigmentasi.
d. Batas tepi tumor perlu ditentukan terlebih dahulu.
e. Resisten untuk jenis morfea atau jenis adenoid.
5. Bedah mikrografik Mohs
Keuntungan :

17
a. Evaluasi histopatologi pada tepi irisan mendekati 100% dibandingkan dengan
tehnik seksi vertikal tradisional.
b. Dengan analisa tepi irisan yang lengkap dapat diketahui dan ditelusuri semua
fokus-fokus tumor yang masih tertinggal.
c. Reseksi hanya pada daerah tumor, sehingga dapat menghemat jaringan atau
meminimalkan jaringan yang hilang.
Kerugian :
a. Memerlukan dokter dan petugas laboratorium histopatologi yang terlatih.
b. Biayanya mahal.
6. Beberapa cara pengobatan baru meliputi : 5-fluorourasil yang dikombinasi
dengan kuretase ringan; retinoat; interferon; terapi fotodinamik.

Tiap metode tersebut pada umumnya memberikan hasil penyembuhan yang hampir sama
baiknya. Tiap klinik mempunyai cara pengobatan tertentu, sesuai fasilitas dan
pengalamannya masing-masing. Dalam memilih metode pengobatan yang tepat untuk
karsinoma sel basal, perlu diperhatikan beberapa faktor berikut :
a) Faktor penderita : keadaan umum dan usia penderita, sosio-ekonomi penderita.
b) Faktor tumor
1. Lokasi dan hubungannya dengan jaringan sekitarnya (perlekatan dengan
tulang rawan, tulang, daerah mata, bibir).
2. Ukuran tumor.
3. Jenis histologi.
4. Riwayat tumor (rekurensi, pengobatan sebelumnya).
5. Terjadinya metastasis.
c) Faktor fasilitas: peralatan yang ada, pengalaman dan keahlian dokter yang
mengobati.
d) Faktor metode yang akan digunakan
1. Mempertimbangkan kemungkinan komplikasi yang terjadi, terutama daerah
wajah.
2. Memilih metode yang telah dikuasai dengan angka kesembuhan yang tinggi

18
BAB 2
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 PENGKAJIAN

1. Keluhan Utama
Anamnesis biasanya ada keluhan berupa lesi pada kulit.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Kontak lama dengan sinar ultraviolet matahri, kontak dengan agen arsenik.
3. Pemeriksaan Fisik
Umumnya karsinoma sel basal timbuk di daerah tubuh yang terpajan sinar matahari
dan lebih prevalen pada kawasan tempat populasi penduduk mengalami pajanan sinar
matahari yang intensif serta ekstensif. Insiden tersebut berbanding lurus dengan usia
pasien (rata-rata 60 tahun) serta jumlah total pajanan sinar matahari, dan berbanding
terbalik dengan jumlah pigmen melanin dalam kulit. Karsinoma basal biasanya
dijumpai :
a. Dimulai sebagai nodul kecil seperti malam (lilin) dengan tepi yang tergulung,
transulen dan mengilap; pembuluh darah yang mengalami telangiektasia dapat
dijumpai.
b. Dengan tumbunya karsinoma sel basal akan terjadi ulserasi pada bagian
tengahnya dan kadang terdapat pembentukan krusta.
c. Dapat timbul sebagai plak yang mengilap, datar, berwarna kelabu atau
kekuningan.
d. Ciri khas dari tumor ini adalah berbentuk nodula eritematosa, halus, dan
seperti mutiara. Tepi tumor sering kali meninggi dan memiliki pembuluh
telangiektatik pada permukaannya. Tumor ini sering kali berdarah, menginvasi
dermis, dan merusak jaringan normal.

2.2 DIAGNOSIS KEPERAWATAN


1. Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak efek metastasi kanker basal,
respons sekunder intervensi pascabedah.
2. Kecemasan b.d kondisi penyakit, prognosis kanker pada jaringan kulit.
3. Gangguan citra tubuh b.d kecacatan

19
2.3 RENCANA KEPERAWATAN
Sasaran utama bagi pasien dapat mencakup penurunan respon nyeri dan berkurangnya ansietas atau kecemasan.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1 Nyeri Akut b.d kerusakan Dalam waktu 2 x 24 jam 1. Kaji nyeri dengan PQRST. 1. Menjadi parameter dasar untuk
jaringan lunak, erosi nyeri berkurang/ hilang melihat sejauh mana rencana
jaringan lunak efek atau teradaptasi. Dengan intervensi yang diperlukan dan
metastasi kanker basal, kriteria : sebagai evaluasi keberhasilan
respons sekunder a. Secara subjektif dari intervensi manajemen nyeri
intervensi pascabedah. melaporkan nyeri keperawatan.
berkurang atau dapat 2. Jelaskan dan bantu pasien dengan 2. Pendekatan dengan
diadaptasi. Skala nyeri tindakan pereda nyeri menggunakan relaksasi dan
0-1 (0-4). nonfarmakologi dan noninvasif. nonfarmakologi lainnya telah
b. Dapat menunjukkan keefektifan dalam
mengindentifikasi mengurangi nyeri.
aktivitas yang 3. Lakukan manajemen nyeri 3. a. Posisi fisiologis akan
meningkatkan atau keperawatan. meningkatkan asupan O2 ke
menurunkan nyeri. a. Atur posisi fisiologis dan jaringan yang mengalami
c. Pasien tidak gelisah. imobilisasi ekstrimitas yang peradangan subkutan.
mengalami selulitis. Pengaturan posisi idealnya
adalah pada arah yang

20
berlawanan dengan letak dari
selulitis.
Bagian tubuh yang mengalami
inflamasi lokal dilakukan
imobilisasi untuk menurunkan
respons peradangan dan
meningkatkan kesembuhan.
b. Istirahatkan klien. b. Istirahat diperlukan selama
fase akut. Kondisi ini akan
meningkatkan suplai darah pada
jaringan yang mengalami
peradangan.
c. Manajemen lingkungan: c. Lingkungan tenang akan
lingkungan tenang dan batasi menurunkan stimulus nyeri
pengunjung. eksternal dan pembatasan
pengunjung akan membantu
meningkatkan kondisi O2
ruangan yang akan berkurang
apabila banyak pengunjung yang
berada di ruangan.
d. Meningkatkan asupan O2

21
d. Ajarkan teknik relaksasi segingga akan menurunkan nyeri
pernapasan dalam. sekunder dari peradangan.
e. Distraksi (pengalihan
e. Ajarkan teknik distraksi pada perhatian) dapat menurunkan
saat nyeri. stimulus internal dengan
mekanisme peningkatan
produksi endorfin dan enkefalin
yang dapat memblok reseptor
nyeri untuk tidak dikirimkan ke
korteks serebri sehingga
menurunkan persepsi nyeri.
4. Analgetik memblok lintasan
4. Kolaborasi dengan dokter, nyeri sehingga nyeri akan
pemberian analgetik. berkurang.
2 Kecemasan b.d kondisi Dalam waktu 1 x 24 jam 1. Kaji tanda verbal dan nonverbal 1. Rekasi verbal/nonverbal dapat
penyakit, prognosis kanker kecemasan pasien akan kecemasan. Dampingi pasien dan menunjukkan rasa agitasi,
pada jaringan kulit. berkurang. Dengan lakukan tindakan bila marah, dan gelisah.
kriteria: menunjukkan perilaku merusak.
a. Pasien menyatakan
kecemasan berkurang, 2. Hindari konfrontasi. 2. Konfrintasi dapat meningkatkan
mengenal rasa marah, menurunkan kerja

22
perasaannya sama dan mungkin
b. Dapat memperlambat penyembuhan.
mengindetifikasi 3. Mulai melakukan tindakan untuk 3. Mengurangi rangsangan
penyebab atau faktor mengurangi kecemasan. Beri eksternal yang tidak perlu.
yang lingkungan yang tenang dan
memengaruhinya suasana penuh istirahat.
c. Kooperatif terhadap
tindakan 4. Bina hubungan saling percaya. 4. Pasien harus didorong untuk
d. Wajah rileks. mengekspresikan perasaan
terhadap seorang yang mereka
percayai. Mendengarkan
keprihatinan mereka dan selalu
siap untuk memberikan
perawatan yang terampil serta
penuh kehangatan merupakan
intervensi yang penting untuk
mengurangi ansietas.

5. Orientasikan pasien terhadap 5. Orientasi dapat menurunkan


prosedur rutin dan aktivitas yang kecemasan.
diharapkan.

23
6. Beri kesempatan kepada pasien 6. Dapat menghilangkan
untuk mengungkapkan ketegangan terhadap
ansietasnya. kekhawatiran yang tidak
diekspresikan.

7. Berikan privasi untuk pasien dan 7. Memberi waktu untuk


orang terdekat. mengekspresikan perasaan,
menghilangkan cemas dan
perilaku adaptasi. Adanya
keluarga dan teman-teman yang
dipilih pasien melayani aktivitas
dan pengalihan (misalnya:
membaca akan menurunkan
perasaan terisolasi).
Pengaturan agar anggota
keluarga dan setiap teman
dekatnya untuk lebuh banyak
mencurahkan waktu mereka
bersama pasien dapat menjadi
upaya yang bersifat supportif.

24
8. Kolaborasi : berikan anti cemas 8. Meningkatkan relaksasi dan
sesuai indikasi contuhnya : menurunkan kecemasan.
diazepam
3 Gangguan citra tubuh b.d Klien dapat menerima 1. Kaji perubahan atau kehilangan 1. Episode traumatik membuat
kecacatan keadaannya. Dengan pada pasien. perasaan kehilangan aktual yang
kriteria hasil : perasaan dirasakan.
negatif tentang diri sendiri 2. Bersikap positif selama 2. Meningkatkan hubungan
tidak terjadi pengobatan. kepercayaan antara pasien
dengan perawat.
3. Berikan kelompok pendukung 3. Meningkatkan perasaan dan
untuk orang terdekat. memungkinkan respons yang
lebih membantu pasien.

25
BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Tumor ganas kulit adalah proses keganasan yang timbul dipermukaan kulit dan berasal
dari sel epitel, sel pluripotensial atau dari sel melanin di dalam kulit. Menurut jenis sel
yang berdiferensiasi, tumor ganas kulit diklasifikasikan sebagai berikut: karsinoma sel
basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM).
Menurut etiologinya, tumor ganas kulit dapat disebabkan oleh (1) faktor ekstrinsik
berupa paparan sinar ultraviolet, paparan sinar-X, pemakaian bahan kimia dan adanya
jaringan parut yang luas dan lama; (2) faktor intrinsik berupa genetik, sistem imun yang
rendah dan ras. Karsinoma sel basal biasanya terdapat pada wajah dan leher dengan
gejala klinis berupa nodul ulseratif, berpigmen, morfea, superfisial dan fibroepitelioma.
Biasanya ditandai dengan tepi ulkus yang meninggi tanpa adanya metastasis jauh.
Diagnosis tumor ganas kulit ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan
penunjang. Penanganan KSB dan KSS biasanya dengan mengangkat tumor, baik dengan
cara kuretase dan elektrodesikasi maupun memotongnya dengan pisau bedah. Sedangkan
penanganan MM prinsipnya adalah melakukan eksisi yang pada awalnya dilakukan
pengukuran ketebalan invasi terlebih dahulu dengan teknik Breslow thickness.
Prognosa dari KSB adalah baik dengan angka kesembuhan skitar 95% sedangkan pada
KSS tergantung dari lokasi, ukuran, tingkat diferensiasi sel-sel dan kedalaman
perluasannya, dan pada MM prognosa ditentukan oleh sifat tumor, stadium klinis, lokasi
metastase dan faktor penderita.

26
DAFTAR PUSTAKA

Berman, K. MD, PhD, Associate. 2008. Basal cell carcinoma [Online] Available from:URL:
/das/journal/view/0/N/15119303?issn=&source=MI. Diakses tanggal 03 Juli 2018
12.00

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :EGC

Manuaba, Tjakra Wibawa. 2010. Panduan Penatalaksanaan Kanker Solid Peraboi 2010.
Jakarta: Sagung Seto

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Askep Gangguan Sistem Integumen. Jakarta :
Salemba Medika.

Price, Wilson, 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.EGC: Jakarta.

Sjamsudidayat ,R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8 Volume 3. Jakarta : EGC.

Wong CS, Strange RC, Lear JT. Basal cell carcinoma [Online]. 2009. Available
from: URL:http://bmj.bmjjournals.com/cgi/contaent/full/327/7418/794. Diakses
tanggal 03 Juli 2018 12.00

27

Anda mungkin juga menyukai