Anda di halaman 1dari 3

A.

Deskripsi Lahan Pasir Pantai


Lahan pasir pantai merupakan tanah yang mengandung lempung, debu, dan zat hara yang
sangat minim. Akibatnya, tanah pasir mudah mengalirkan air, sekitar 150 cm per jam. Sebaliknya,
kemampuan tanah pasir menyimpan air sangat rendah, 1,6-3% dari total air yang tersedia. Angin
di kawasan pantai selatan itu sangat tinggi, sekitar 50 km per jam. Angin dengan kecepatan itu
mudah mencerabut akar dan merobohkan tanaman. Angin yang kencang di pantai bisa membawa
partikel-partikel garam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Suhu di kawasan pantai
siang hari sangat panas. Ini menyebabkan proses kehilangan air tanah akibat proses penguapan
sangat tinggi (Prapto dkk., 2000).
Lahan pasir pantai memiliki karakteristik tanah yang bertekstur kasar dengan kandungan
fraksi pasirnya > 70%, struktur lepas-lepas, poros, temperatur permukaan yang tinggi dan
hembusan angin yang kencang yang berakibat evaporasi dan evapotranspirasi sangat tinggi. Hal
ini menyebabkan kadar lengas tanah dan ketersediaan hara tanah pasir rendah, sehingga lahan pasir
disebut lahan marginal.

B. Proses Pembentukan Lahan Pasir Pantai


Bentuk lahan asal proses marine terbentuk oleh aktivitas gelombang yang bervariasi sesuai
dengan pasang surut air laut. Bentuk lahan asal proses marine merupakan bentuk lahan yang
terbentuk oleh kerja air laut (gelombang dan arus), Baik proses yang
bersifat konstruktif (pengendapan) maupun destruktif (abrasi) dan terdapat pada wilayah
kepesisiran.
Geomorfologi asal marine merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang pantai.
Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut. Semakin
dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam daerah pantai, dan
semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang alam di daerah pantai.
Selain dipengaruhi oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan daerah pantai juga
dipengaruhi oleh:
1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah sekitar pantai
tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga
dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan bentang
alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga vulkanisme, diastrofisme,
pelipatan, patahan, dan sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan organisme
yang ada di laut.
Wilayah kepesisiran merupakan daerah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah daratan
meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih terpengaruh sifat-sifat laut,
seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut mencangkup
bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di daratan, seperti
sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti
penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976)
Bentuk lahan asal proses marine (laut):
1. Gisik pantai (Beach)
Bentuk lahan ini dijumpai di sepanjang garis pantai. Bentuk lahan ini berupa dataran yang
sejajar dengan garis pantai dengan beda tinggi yang relatif kecil. Di depan bentuk lahan gisik pantai
ini yaitu ke arah laut merupakan zona empasan gelombang. Material pada bentuk lahan gisik pantai
terdiri dari pasir kasar, fragmen karang, kerakal, dan sisik binatang laut dangkal (sisa-sisa
organisme laut). Tenaga yang mempengaruhi terbentuknya bentuk lahan ini adalah arus dan
gelombang laut. Arus sepanjang pantai mempunyai peranan dalam pengangkutan sedimen laut dan
arah pengangkutannya dipengaruhi oleh kondisi angin saat itu. Gelombang yang besar yang terjadi
pada waktu air laut pasang ikut mempengaruhi terbentuknya bentuk lahan ini dengan
ditunjukkannya variasi ukuran butir, jenis endapan yang beraneka, serta relatif tidak terkotori oleh
endapan dari daratan. (Sumber : Barandi, 2003)
2. Swale (Depresi antar Beting Gisik)
Swale merupakan morfologi berupa ledokan yang terdapat diantara dua beting gisik yang
tersusun oleh material pasir. Tekstur tanahnya adalah pasir berlanau. Topografinya berbentuk
cekung dengan pola letak sejajar dengan garis pantai. Penggunaan lahannya berupa tegalan,
perkebunan dan sawah . Bentuklahan asal proses aeolian (angin) Gumuk pasir (sand dunes)
Gumuk pasir merupakan bentuklahan yang dihasilkan oleh kekuatan angin yang menerbangkan
material pasir dan diendapkan disuatu tempat membentuk bentukan-bentukan yang khas. Syarat
terbentuknya gumuk pasir antara lain adanya suplai material pasir yang cukup banyak, kelengasan
pasir, sinar matahari, adanya kekuatan angin yang bertiup, adanya vegetasi sebagai penghalang,
dan tempat pengendapan yang cukup luas. Dua faktor utama yang menentukan morflogi gumuk
pasir adalah karakter angin (arah dan kecepatan) dan pasokan material (ukuran butir dan jumlah).
Gumuk pasir melintang (transversal) cenderung terbentuk pada daerah yang banyak
cadangan pasirnya dan sedikit tumbuhan. Proses terbentuknya dibawah pengaruh angin yang
lemah yang hanya memindahkan material pasir yang halus sehingga material pasir yang kasar
tidak terangkut. Tinggi dan lebar pematang tergantung pada besarnya tenaga angin yang bertiup
dan komposisi ukuran butir material pasir. Ketinggian pada umumnya antara 5 sampai 15 m dan
berbentuk seperti ombak dengan punggung melengkung dan melintang tegak lurus terhadap arah
angin.
Gumuk pasir memanjang (longitudinal) merupakan gundukan pasir yang hampir lurus
yang bentuknya sejajar terhadap arah angin. Gumuk pasir memanjang ini terdapat pada pengaruh
angin yang kuat dan berhembus dengan arah tetap, sehingga mampu memindahkan semua material
pasir yang ada di lokasi tersebut. Umumnya berketinggian kurang dari 15 m dan panjang beberapa
ratus meter.
Gumuk pasir sabit (barchan) cenderung terbentuk pada daerah yang pasirnya terbatas dan
sedikit vegetasi. Ujung dan tanduk gumuk pasir sabit berarah ke belakang dan pasir tersapu ke
sekitar gumuk maupun ke atas serta melampaui puncak. Penampang gumuk tidak simetri pada
puncaknya tetapi berangsur-angsur menjadi hampir simetri pada tanduknya. Ketinggian gumuk
pasir sabit umumnya antara 5 -15 m dan maksimum mencapai 30 m. Gambar 68. Gumuk Pasir
Sabit/Barchan (Sumber : Foto Lapangan, 2006)