Anda di halaman 1dari 43

EBOOK

KISAH SUKSES PARA PENJAHIT

http://www.pancafashion.com

http://www.pancafashion.com 1
DAFTAR ISI

Usaha menjahit Nancy Modeste

Usaha Kursus Menjahit


Pedagang Keliling menjadi Pengusaha Konveksi

Perjalanan bisnis seorang tukang jahit

HABIS GURU TERBITLAH PENGUSAHA

Dari Penjahit Menjadi Miliarder


NAIK TURUN, TETAP OKE DAN UNTUNG

Kisah Risna, Pemilik Usaha Kursus Menjahit Mode Centre


Musibah Mendatangkan Jutaan Rupiah

UKM Binaan PT. KS Handayani Collection, Order Datang Sendiri

MUSIM SUKSES PARA PENJAHIT

KISAH SUKSES PENJAHIT DI BISNIS KONVEKSI

MONICA SUBIAKTO: Katun Membawa Berkah

Kebaya: Seksi & Padat Laba

http://www.pancafashion.com 2
Usaha menjahit Nancy Modeste

Usaha menjahit Nancy Modeste berdiri sejak 1969, seiring waktu jasa
usaha menjahit ini terus merambah. Memasuki tahun 2000,
pemiliknya Hj Yusnaniar membuka toko baru di jalan Hang Tuah
Pekanbaru. Mereka juga menyediakan hasil jahitan yang siap dijual
kepada pembeli. Saat ini, jumlah karyawannya mencapai 11 orang,

Awalnya Hj. Yusnaniar membuka usaha penjahitan hanya di rumah


sendiri, tepatnya Jalan Melati Pekanbaru. Seiring perjalanan waktu,
kepercayaan pelanggan terhadap jahitannya bertambah. Lalu ia pun
mendirikan rumah toko di Jalan Hang Tuah Pekanbaru. Pelanggan jasa
jahitan ini sudah merambah hampir seluruh Riau. Baik daratan
maupun kepulauan. Namun jasa ini lebih banyak pesanan dari
perorangan.

"Jarang sekali kami menerima para calon


pelanggan yang berasal dari partai besar. Ini
karena sifat saya yang sangat perfeksionis dalam
menjahit. Sehingga untuk satu baju saya bisa
memakan waktu yang sedikit lama dibandingkan
toko lain," papar Yusnaniar kepada riaubisnis.com,
Senin (16/3/2009).

Jasa jahitan Nancy Modeste ini bisa dibilang lebih khas dalam menjahit
kebaja. Menurut salah satu pelanggannya, hasil jahitan dari Nancy
Modeste ini rapi dan enak dipakai. Ini dikarenakan setiap hasil jahitan
sesuai dengan lekukan tubuh pemakainya. Sedangkan mode yang
ditawarkan jahitan ini selalu up to date.

Lihat saja, di meja kerjanya. Tersusun rapi beraneka ragam buku


kreasi kebaya terbaru, sehingga pelanggan tidak akan merasa
ketinggalan mode bila menggunakan jasa penjahit disini.

Seperti jasa penjahit yang lain. Harga upah jahitan tergantung


beberapa hal. Seperti jenis bahan dasar baju dan model baju. Juga
dilihat tingkat kerumitan mode yang dipesankan serta dilihat apakah
bahan baju tersebut diberi bordir dan payet. Namun, harga upah
minimal berkisar Rp 250. Selain membuat baju berdasarkan pesanan.
Toko ini juga menjual pakaian jadi hasil jahitan. Seperti baju kebaya
dan baju kurung Melayu. Bagi para pelanggan yang tidak memiliki
bahan dasar baju, toko ini juga menawarkan beragam bahan dasar
pakaian seperti kain songket, kebaya dan bahan brokat.

Nancy Modeste
Jl. Hang Tuah No. 35 Pekanbaru

http://www.pancafashion.com 3
Usaha Kursus Menjahit

Posted on December 30th, 2009 in Bisnis Jasa

Peluang bisnis dalam bidang


busana selalu akan hadir karena
tentunya busana merupakan
kebutuhan manusia. Trend
terkini menunjukkan bahwa
busana tidak lagi dipandang
sebagai bahan untuk menutup
aurat tubuh dan pastinya dari
musim ke musim, tahun ke
tahun ada pergantian tren
berpakaian. Salah satu
kemampuan yang paling dasar
di bidang busana adalah keahlian menjahit. Kemampuan menjahit pun
terkadang merupakan prasyarat untuk bekerja di perusahaan garmen
namun tidak tertutup kemungkinan setelah mengikuti kursus
menjahit, konsumen bisa membuka sendiri usaha busana.

Usaha kursus menjahit akan selalu ada konsumennya dan Anda pun
bisa membuka kursus menjahit namun dengan syarat Anda harus
memiliki keterampilan menjahit! Anda tidak perlu menjadi seorang
pakar dalam bidang menjahit dan bila memang Anda tidak memiliki
keterampilan menjahit bisa saja Anda mengambil kursus dulu dibidang
menjahit.

Menjahit termasuk keterampilan sehingga mungkin dalam kursus ini


praktek lebih banyak dibanding dengan teori. Untuk bahan ajar bisa
saja Anda susun sendiri atau mencai literatur di toko buku. Gambaran
hasil akhir pelatihan antara lain menghasilkan siswa yang mampu
mengukur pakaian, menggambar pola pakaian, memotong bahan
pakaian, menjahit pakaian. Sudah cukup banyak buku tentang teori
menjahit atau aplikasi menjahit baju, tinggal Anda kemas ulang materi
teori tersebut dan ditampilkan kembali dalam sebuah buku petunjuk
yang bisa dibawa pulang oleh siswa kursus.

Hal yang harus dipertimbangkan adalah tempat atau lokasi untuk


kursus menjahit. Jika memang ingin membuka usaha di rumah sendiri
mungkin sangat bijak kalau ruangan ini tidak digunakan oleh aktivitas
lain dan memang dikhususkan untuk menjahit. Pikirkan saja repotnya
menggeser-geser meja. Jika kita tidak memiliki ruangan, kita bisa
menyewa ruangan yang strategis dijangkau konsumen. Ruangan yang
kita sewa kelak khusus menyelenggarakan program kursus menjahit.

http://www.pancafashion.com 4
Langkah berikutnya adalah mempersiapkan prasana dan peralatan
yang diperlukan. Sesuaikan peralatan dengan jumlah siswa yang Anda
akan ajar per sesi. Untuk tahap awal kita bisa memulai dengan 3-5
siswa terlebih dahulu dengan lama pertemuan 2-3 jam per sesi namun
sebetulnya itu hanya gambaran teknis yang bisa dikondisikan dengan
kondisi lapangan.

Berbicara mengenai prasarana, modal utamanya memang perlu


membeli mesin jahit namun jika modal terbatas bisa saja kita membeli
mesin jahit bekas. Salah satu hal yang penting adalah mempersiap
peralatan agar siap digunakan setiap saat. Perlengkapan yang
dibutuhkan antara lain, gunting, benang, bahan kain, mesin setrika
dan lain-lain). Semua bahan ditempatkan di tempat yang teratur dan
dinamai dengan jelas agar nanti bila diperlukan dapat mudah diakses.

Usaha kursus Anda bisa dibuat menarik dengan melakukan modifikasi


pada penataan ruangan Anda. Sebagai contoh pajanglah beberapa
sampel hasil jahitan di salah satu dinding karena mungkin akan
membuat konsumen tertarik untuk kursus di tempat Anda. Pajangan
hasil kreasi jahitan bisa dibuat dengan display menarik.

Untuk mencari konsumen jasa kursus Anda berarti Anda harus


melakukan promosi. Langkah promosi antara lain memasang iklan di
koran, membuat spanduk dan memasangnya di tempat strategis. Bila
Ana aktif dalam perkumpulan atau organisasi, Anda bisa
mempromosikan usaha Anda, jangan lupa membawa kartu nama
usaha Anda sebagai media promosi ya!

Terakhir, untuk menentukan tarif di kursus menjahit, Anda bisa


melakukan perbandingan terlebih dahulu dengan pesaing Anda karena
kursus merupakan kursus yang umum ditemui. Walau Anda
menetapkan tarif murah dalam usaha Anda, usahakan tetap
mengutamakan kenyamanan konsumen, kualitas pendidikan dan
tentunya tetap menguntungkan bagi Anda.

http://www.pancafashion.com 5
Pedagang Keliling menjadi Pengusaha Konveksi

Banyak cara atau jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk merubah
nasib, agar tetap bisa berguna bagi orang lain dan dirinya sendiri.
Demikian pula yang dilakukan oleh seorang perantau asal Lombok-
NTB, yang mengadu nasib sebagai pedagang keliling

Satu lagi, profil seorang pengusaha kecil yang mampu


mengaktualisasikan dirinya, yaitu dari seorang pedagang keliling
hingga menjadi bukan pedagang keliling lagi

Pada tahun 1975 Bapak Marnan, seorang pemuda asal Lombok itu,
pergi merantau ke Kalimantan. Jiwa dagangnya mulai terlihat ketika
pertama kali ia berkenalan dengan seorang pedagang gorden keliling
dari Bandung. Selama beberapa tahun ia mencoba berjualan gorden,
juga dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Pak Marnan
tidak mengenal lelah, seperti layaknya ciri-ciri seorang wirausahawan.
Digelutinya usaha berjualan gorden secara tekun. Sampai tahun 1984
Pak Marnan berdagang gorden tidak saja di Kalimantan, melainkan
juga pernah di Jakarta, Bandung, dan Ujung Pandang.

Dengan berbekal pengalaman dan dana dari hasil berdagang keliling


selama ini, pada tahun 1989 Pak Marnan mengembangkan bisnisnya
sebagai pengusaha konveksi yang membuat aneka gorden, bed cover,
dan sejenisnya di daerah asalnya, Lombok. Perusahaan konveksi Pak
Marnan ini diberi nama UD Beruntung Jaya

Bertolak dari keterbatasan modal, dan di pihak lain perkembangan


usahanya semakin baik, menyebabkan ia berencana meningkatkan
kemampuan modalnya. Akan tetapi, seperti umumnya pengusaha
kecil, kecukupan modal menjadi salah satu kendala dalam melakukan
ekspansi bisnisnya. Untuk berhubungan dengan lembaga keuangan
perbankan dirasakan tidak mudah bagi seorang pengusaha informal
seperti UD Beruntung Jaya. Kemudian ia ingat, di Mataram telah
berdiri satu perusahaan modal ventura yang mengkhususkan diri
dalam pembiayaan kepada usaha kecil. Perusahaan modal ventura
dimaksud adalah PT Sarana NTB Ventura (NTB Ventura).

Pak Marnan mulai memikirkan untuk bekerjasama dengan NTB


Ventura. Ia mencoba membuat proposal bisnis secara sederhana.
Kemudian, dengan langkah dan tekad optimis ia mendatangi kantor
NTB Ventura. Perusahaan modal ventura ini merasa tertarik dengan
bisnis yang dijalankan oleh Pak Marnan. Selanjutnya, NTB Ventura
mulai melakukan penjajagan awal. Setelah venture capital officer-nya
melakukan tahapan-tahapan prosedur investasi, akhirnya NTB Ventura

http://www.pancafashion.com 6
sampai kepada kesimpulan bahwa UD Beruntung Jaya layak untuk
dijadikan sebagai perusahaan pasangan usaha (PPU). Ternyata usaha
Pak Marnan tidak sia-sia. Dana tambahan yang ia dapatkan digunakan
untuk modal kerja dan investasi berupa mesin jahit dan mesin obras.

Setelah bermitra dengan NTB Ventura, usaha konveksi UD Beruntung


Jaya dari tahun ke tahun terus berkembang, seiring dengan
peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di wilayah Indonesia
Timur. Dalam melayani para konsumennya, UD Beruntung Jaya
membuka satu unit toko di wilayah Sweta-Mataram. Selain itu, PPU
juga menerima pesanan dari luar Lombok, seperti : Sumbawa, NTT,
Maluku, dsb. Untuk mendukung luasnya daerah pemasaran, PPU juga
mempunyai beberapa unit kerja di lokasi-lokasi tertentu, yang
berfungsi sebagai perwakilan.

Pedagang keliling menjadi pengusaha konveksi ! Mengapa tidak ?


Dengan berbekal keuletan seperti layaknya seorang wirausahawan,
jalan terang akan terbuka lebar, meskipun itu dilakukan oleh seorang
pengusaha kecil seperti Pak Marnan dengan UD Beruntung Jaya.
Sesuai dengan nama perusahaannya, memang Pak Marnan sungguh
beruntung dan berjaya !

* Artikel sumbangan dari PT Sarana NTB Ventura


Profil Pengusaha Jeans Depok
Sumber : Kontan, Edisi 15/VI, 15 Januari 2002
Oleh : Titis Nurdiana, Priyanto Sukandar

http://www.pancafashion.com 7
Perjalanan bisnis seorang tukang jahit

Dengan modal mesin jahit tua, pria asal Tasikmalaya itu merintis
usaha jahitnya di bawah pohon akasia. Kini celana jins buatan Rahmat
menjadi incaran para mahasiswa dan selebritis. Kuncinya adalah kerja
keras, menjaga kualitas, dan memasang harga murah.

Celana jins memang bukan pakaian tradisional Indonesia. Tapi, hampir


sebagian besar penduduk di kota-kota besar sudah mengenalnya dan
mungkin pernah memakai celana para koboi itu. Malah, di kalangan
anak muda celana jins sudah seperti pakaian wajib. Alasan ini pula
yang mendorong Rahmat untuk menekuni usaha pembuatan celana
jins.

Kini, celana jins buatan Rahmat tidak cuma mampu menafkahi


keluarga, tapi juga boleh dikatakan sukses. Buktinya, pria asal
Tasikmalaya ini telah memiliki beberapa gerai yang membuat ratusan
celana jins setiap hari. Di saat mendekati hari-hari besar, seperti Idul
Fitri dan Natal, satu gerai milik Rahmat rata-rata mampu membuat
300 potong. Tak berlebihan kalau bekas tukang ojek ini mendapat
julukan Raja Jins dari mahasiswa maupun penduduk Depok.

Tapi, sukses itu harus diraih Rahmat dengan bersakit-sakit dahulu.


Saya benar-benar merintisnya dari nol, kenangnya. Berbekal
kemampuan menjahit, 1978, Rahmat mengawali profesinya di Depok.
Usaha ini hanya dia jalani selama tiga tahun karena harus hijrah ke
Bandung.

Di Kota Kembang ini pun Rahmat tetap menekuni usaha jahitan.


Namun, ketatnya persaingan telah memaksanya kembali ke tanah
kelahiran, Tasikmalaya. Di Kota Payung itu Rakmat tidak lagi
menekuni profesi sebagai tukang jahit. Untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, dia mencoba mengadu nasib sebagai tukang ojek
merangkap tukang batu. Mencari keberuntungan lain, ujarnya.

Meski sudah banting tulang, duit yang dia peroleh dari mengojek dan
tukang batu ternyata tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Tak cukup buat makan istri dan dua anak, ujar Rahmat.

Didesak oleh kebutuhan rumah tangga, tahun 1993 Rahmat


memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Jakarta. Tahu-
tahu saya ingat kembali dengan Depok, katanya. Berbekal uang Rp
100.000 hasil pinjaman dari tetangga, Rahmat mencoba peruntungan

http://www.pancafashion.com 8
nasib di pinggiran metropolitan. Tidak tahu nasib saya akan
bagaimana. Yang saya tahu hanya menjahit, ujarnya lagi.

Dengan uang hasil pinjaman itulah Rahmat menyewa tanah 2,5 m


meter di depan stasiun Depok untuk menjadi tempat tinggal.

Merintis usaha di bawah pohon akasia

Kendati sudah punya tempat tinggal, perkerjaan untuk menafkahi


keluarga tak kunjung diperoleh. Sementara niatan untuk membuka
jahitan terbentur soal modal mesin jahit. Beruntung, suatu hari
Rahmat melihat seorang tukang abu gosok keliling yang lewat di
depan stasiun Depok membawa mesin jahit. Setelah melalui tawar-
menawar lumayan alot, sebuah mesin jahit tua akhirnya berhasil
dimiliki Rahmat. Harganya hanya Rp 12.500, katanya.

Bermodal mesin jahit tangan, plus sebuah kursi dan meja, Rahmat
membuka usaha jahit di bawah pohon akasia. Tapi, akibatnya Rahmat
harus rela kehujanan dan kepanasan. Dia pun tak jarang tertidur di
kursi kerja saat menunggu orang yang mau menjahitkan pakaian.
Pokoknya nongkrong di situ, katanya.

Ketekunan dan usaha keras akhirnya membuahkan hasil. Rahmat


mulai kedatangan pelanggan untuk memermak jins. Mungkin mereka
iba dan kasihan ngelihat saya tiap hari, kata Rahmat terkekeh. Usaha
jahitnya mulai dikenal banyak orang lewat mulut ke mulut. Apalagi,
usaha memperbaiki jins masih jarang ada di Depok, katanya.

Tentu saja, makin banyak pelanggan yang datang makin banyak pula
kemauan yang harus dilayani. Apalagi kebanyakan pelanggan Rahmat
adalah para mahasiswa yang kuliah di Depok. Tak hanya permak,
banyak pula yang minta dibuatkan celana jins dengan berbagai model,
katanya.

Lantaran tak punya uang untuk membeli bahan, Rahmat sering


meminta pelanggannya membayar di muka. Untuk beli kain,
lanjutnya. Beruntung, pelanggan yang kebanyakan mahasiswa itu
mengerti kondisi keuangan Rahmat yang cekak. Dibantu sang istri,
usaha jahitnya mulai dikenal penduduk Depok.

Baru tahun 1994 ia berani mempekerjakan tiga orang karyawan. Tentu


saja, dengan makin majunya usaha, Rahmat tak lagi duduk di bawah
pohon. Pindah, ngontrak tak jauh dari pohon akasia, kenangnya.

http://www.pancafashion.com 9
Tahun 1998 boleh dibilang tahun keberuntungan bagi Rahmat. Krisis
ekonomi, yang mendorong barang impor melambung tinggi, membuat
usaha jahitnya berkembang pesat. Harga jins impor tak kebeli kantung
mahasiswa, ujar Rahmat. Tak mengherankan, tahun itu juga ia harus
merekrut 28 karyawan baru untuk memenuhi pesanan yang bertubi-
tubi datang. Kalau tidak, banyak pelanggan yang kecewa, ujarnya.

Kini, Rahmat sudah bisa merasakan nikmatnya buah berakit-rakit ke


hulu. Setiap bulan, ketujuh gerainya rata-rata menerima pesanan
6.000 potong celana jins. Kalau setiap potong celana dijual dengan
harga Rp 80.000, hitung sendiri berapa banyak uang yang masuk ke
kantung Rahmat. Belum lagi pemasukan dari permak jins atau jahitan
untuk setelan safari, jas, dan rok.

Meski tergolong laris, usahanya tak semulus jalan tol. Maklum, banyak
pelanggan mahasiswa yang tidak mengambil barangnya. Jumlahnya
lumayan banyak, ujarnya. Toh, Rahmat tak pernah kehilangan akal.
Biasanya, celana atau pakaian yang tak ditebus pelanggannya dijual
dengan harga miring. Yang penting balik modal, katanya.

Berbeda dengan ketika memulai usaha, sekarang Rahmat harus hati-


hati dalam mengatur aliran kas (cash flow) usahanya. Bukan karena
dia ingin lebih kaya. Tidak. Tapi, Rahmat juga harus memperhatikan
95 karyawan yang menggantungkan nafkah padanya.

Obsesi Tukang Jahit sebelum Pensiun

Dilahirkan 49 tahun silam di Tasikmalaya, Rahmat kecil memang


sudah akrab dengan kain. Sebagai anak pedagang kain dan pakaian,
ia sudah mampu membedakan kain yang berkualitas baik dan tidak.
Bahkan, menurut pengakuannya, kualitas kain bisa diketahuinya
dengan hanya sekali sentuh.

Berbekal kemampuan seperti itu, Rahmat menjadi tidak mudah ditipu


pedagang kain yang menawarkan dagangan. Kain yang bagus makin
lama makin enak dipakai, ujar Rahmat seolah ingin membuka rahasia.
Keahlian menjahit diperoleh setelah Rahmat ikut orang yang membuka
usaha menjahit.

Boleh jadi, kedua keahlian itulah yang membuat usaha celana jins
Rahmat di Depok maju pesat. Kelebihan lain, meski sudah dikenal luas
oleh masyarakat, dia berani menjual jins buatannya dengan harga
murah. Maklum, meski pelanggannya sudah merambah sampai
kalangan selebritis, mahasiswa tetap menjadi bidikan utama usaha

http://www.pancafashion.com 10
Rahmat. Mereka yang menjadikan saya seperti sekarang ini, ujar ayah
tiga orang anak ini.

Mahasiswa juga, agaknya, yang mengilhami Rahmat untuk membuka


gerai jins di tiap kampus. Usaha ini telah dirintisnya dengan membuka
pojok jins di dekat kampus Universitas Pancasila. Hasilnya? Lumayan,
setiap hari Rahmat mampu membuat 90 potong celana jins. Selain
pasarnya masih terbuka lebar, mereka adalah pasar potensial,
katanya.

Tak hanya itu. Rahmat ternyata masih menyimpan obsesi untuk


memproduksi 200 potong celana setiap hari. Kalau sudah tercapai,
lega hati ini, kata Rahmat.

Ekspansi usaha memang harus dirintis dari sekarang, karena Rahmat


berniat mewariskan usaha ke anak-anaknya. Lima tahun lagi saya
ingin istirahat dan kembali ke Tasikmalaya, ujar Rahmat. Dia tak
bermaksud kembali menekuni profesi sebagai tukang ojek atau tukang
batu, tapi cuma ingin menghabiskan masa tuannya di Tasikmalaya
dengan istri tercinta, Masitoh

http://www.pancafashion.com 11
Habis Guru Terbitlah Pengusaha

Cita-cita sebagai pendidik akhirnya kandas di


tengah jalan. Kini, dia malah sukses berkutat di
usaha. Mengelola bisnis garmen sampai tembus
manca negara.

Ruangan kecil di ujung barat laut rumah di


kawasan Perumahan Permata Indah, Jalan
Pererepan nomor 44, Desa Pemogan, Kecamatan
Denpasar Selatan, Kota Denpasar tampak cukup
sederhana. Hanya dilengkapi dua meja persegi panjang, alat
pendingin, sebuah tempat meletakkan sesaji (pelangkiran) di ujung
timur laut, serta lukisan kuda berlari penuh energik.

Di bawah lukisan kuda, wanita setengah baya


mengenakan baju kaos berwarna merah
muda dengan rambut sedikit acak-acakan,
tampak duduk santai. Sesekali waktu
kepalanya ditengadahkan melnikmati plafon
rumah nan bersih.

Sejurus kemudian, dia keluar menuju tempat


puluhan orang yang lagi sibuk menjahit,
menyetrika baju kaos oblong sudah jadi. Wanita bernama lengkap
Desak Putu Kriani itu terlihat berkeliling ruangan. Mengamati orang-
orang yang suntuk menunaikan kewajiban. “Memantau karwayan
bekerja, siapa tahu ada kesalahan atau ada yang perlu
dipertanyakan,” pengusaha garmen bertubuh langsing itu beralasan.
Ibu Desak, begitu putri pertama dari lima berkeluarga buah hati Dewa
Putu Mergug dengan Jro Made Mundeh ini biasa disapa, saat ini lagi
disibukkan mengurus garmen. Satu usaha yang dirintisnya sejak 9
tahun silam dan kini berkembang cukup pesat. Tak hanya meladeni
pesanan dalam negeri, tiada sedikit melayani permintaan pelanggan
dari luar negeri seperti Jepang, Jerman, Perancis, dan negara Eropah
lainnya.
Di sela-sela kesibukan mengurus usaha garmen yang bernaung di
bawah payung PT Adhi Manggala Putra, wartawan SARAD I Wayan
Sucipta, sempat bercengkerama terkait kisah awal terjun di bisnis
garmen. Berikut petikan wawancaranya :

Pendidikan formal yang Anda tekuni bukan di bidang usaha atau di


bisnis, tapi sebagai tenaga pendidik. Bagaimana sampai terpincut di
dunia bisnis?

http://www.pancafashion.com 12
Ceritanya cukup panjang. Sejak kecil saya memang berkeinginan
menjadi guru. Maklum, dasa warsa 1980-an profesi guru begitu
melekat di masyarakat, termasuk dalam diri saya. Maka, selepas
Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya langsung melamar ke
Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Denpasar. Kini menjadi SMA 7
Denpasar.

Apa yang Anda bayangkan pada sosok guru kala itu?

Amat sederhana. Pagi pergi ke sekolah berpakian bersih dan rapi,


bertemu teman-teman seprofesi, kemudian mengajar anak-anak.
Siang hari pulang. Sempat pula terbayangkan bisa membeli
kendaraan.
Niat Desak Kriani menjadi “Pahlawan tanpa tanda jasa” begitu
membara memang. Terbukti tamat dari SPG Negeri Denpasar tahun
1987, ibu empat putra ini memilih melanjutkan kuliah pada IKIP
(Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) swasta di bilangan Denpasar.
Karena orangtuanya tak sanggup membiayai, maka sambil kuliah dia
mengajar di sekolah dasar (SD) swasta. Dari sinilah mencoba meraih
cita-citanya menjadi seorang pendidik dengan mengetoktularkan ilmu
yang didapatkan selama bersekolah di SPG.

Beberapa bulan berjalan, Kriani menikmati profesi sebagai pendidik.


Hatinya teramat girang bisa mengajar, mempraktekkan sistem
pembelajaran pada anak-anak di sekolah dasar. Pagi-pagi sudah
bangun, membersihkan diri, mengenakan busana atas bawah yang
rapi kemudian berangkat ke sekolah. Siang hari saat jam sekolah usai,
dia kembali ke tempat kos. Sorenya pergi kuliah, hendak
memperdalam ilmu menjadi guru.

Sayang, rasa riang itu lamat-lamat mulai terusik. Jiwa pengabdian


menjadi guru mulai ada yang mengganjal. Bukan karena sistem
mengajar, bukan pula akibat gangguan suasana sekitar sehingga
Desak Kriani memilih berhenti dari profesi yang sempat dicita-citakan
sejak masih duduk di bangku SD.

Apa yang melatarbelakangi Anda memilih berhenti sebagai tenaga


pendidik?
Perhitungan kala itu murni soal keperluan hidup. Saya masih kuliah
dengan biaya sendiri. Termasuk membayar sewa rumah. Sedangkan
pendapatan dari menjadi guru, lebih-lebih di swasta kala itu amat
minim. Jangankan beli baju, bisa bayar kos-kosan saja sudah syukur.

http://www.pancafashion.com 13
Solusinya?
Agar kuliah tak terbengkalai, apalagi
sampai berhenti, maka saya memilih kerja
di swasta dan itu bukan menjadi guru
melainkan di satu perusahaan garmen.
Saya dapat di administrasi. Begitu terjun di
kerjaan baru, malah kebingungan. Apalagi
bertugas merekap data dan mengetik.
Sedangkan kerja mengetik sama sekali
belum pernah dilakoni. Akibatnya, tugas-
tugas yang harus diselesaikan berjalan
lamban. Itu sebab waktu awal-awal bekerja, bos sempat bilang rugi
membayar karyawan kalau cara kerjanya seperti ini.

Bagaimana perasan Anda kala itu?

Cukup tersentak, dan saya bilang kalau begitu, nggak usah dibayar
saja. Untungnya pemilik perusahaan cepat tanggap dan mengataklan
maksud dari peringatan itu agar saya lebih giat belajar mengetik.
Desak Kriani menyadari kekurangan dalam diri, maka dia berupaya
belajar lebih giat. Begitu lepas dari IKIP tahun 1993, ternyata tak lagi
berkeinginan melamar jadi guru. Dia tetap memilih bekerja di
perusahaan. Selama rentang waktu 7 tahun dia sempat menjadi
karyawan di berbagai perusahaan swasta. Pindah dari satu perusahaan
ke perusahaan lain. Dan, dalam kurun waktu itu pula berbagai jabatan
pernah direngkuh, dari soal administrasi, menangani eksport, sampai
tingkat manager produksi. Tahun 2000, saat masih bekerja di kawasan
Kuta, terbersit keinginan lain.

Apa itu?

Saya berkeinginan punya kerja sampingan. Waktu itu tujuannya amat


sederhana, sambil bekerja agar bisa mengurus anak-anak. Saya pun
berpikir tak mungkin bisa berlama-lama bekerja di perusahaan milik
orang. Maka, dengan modal Rp 10 juta membeli mesin jahit.

Apakah saat itu sudah piawai menjahit?

Saya memang tak bisa menjahit, bahkan sampai sekarang. Saat awal
membangun usaha juga merekrut empat orang tukang jarit.

Adakah usaha garmen yang di pilih akibat pengaruh dari tempat Anda
berkerja?

http://www.pancafashion.com 14
Itu semua memang tiada lepas dari pengaruh yang dapatkan selama
bekerja. Sebelum membuka usaha sendiri, saya pernah bekerja pada
beberapa perusahaan swasta di bilangan Denpasar dan Kuta.
Kebetulan tempat itu dominan bergerak di usaha garmen.

Bagaimana Anda mengatur usaha di awal, apalagi masih tercatat


sebagai karyawan di satu perusahaan?

Pagi bekerja, sore sepulang kantor keliling mencari pesanan. Berbagai


tempat ditelusuri mencari orang-orang yang mau memanfaatkan jasa
menjahit. Termasuk bilang pada pemimpin perusahaan tempat
bekerja, jika saya sekarang memiliki tukang jarit yang siap
mengerjakan baju kaos pesanan perusahaan.

Apa tanggapan pemilik perusahaan?

Beruntung bos tempat bekerja baik hati dan terus mendorong untuk
maju, termasuk memberikan orderan. Karena telah dipercaya, saya
pun berupaya memberikan pelayanan terbaik lewat menunjukkan hasil
kerja yang maksimal.

Pasca memiliki usaha sampingan, istri dari Gede Putu ini terus
memacu semangat kerja. Menjalin komunikasi dengan banyak orang
agar bisa. Sifat kerja keras yang tertanam sejak kecil tentu tak terlalu
menyulitkan Desak Kriani dalam melakukan tugas-tugasnya. Setiap
peluang ditangkap sebaik mungkin, kemudian dicerna secara
maksimal. Menginjak tahun ke tiga (2003), nyaris tanpa kendala.
Karyawan direkrut meningkat sampai 30 orang. Pesanan pun datang
mengalir.

Begitu besarnya tanggungjawab yang mesti dipikul, apakah Anda


masih bisa mendua dalam membagi tugas?

Tentu tidak, makanya tahun 2003 mantapkan diri mengelola usaha


sendiri. Berhenti kerja di perusahaan orang pun jadi pilihan. Sekalipun
sudah berhenti, hubungan saya dengan tempat kerja terdahulu tetap
baik. Pesanan menjahit masih terus diberikan.

Apa langkah yang diambil selanjutnya?

Terus berupaya membesarkan perusahaan. Selain mencari pesanan,


tiap kali dapat untung, modalnya dialihkan untuk menambah mesin
sehingga mempermudah bekerja. Urusan di rumah tangga,
sepenuhnya diserahkan ke suami yang kebetulan juga bekerja.

http://www.pancafashion.com 15
Apa pula dilakukan agar karyawan bisa betah bertahan?

Jiwa mendidik itu tetap menjadi pegangan. Sekalipun gagal menjadi


guru secara formal, ilmu itu coba saya terapkan di perusahaan.
Mereka saya arahkan secara baik, benar, dan teliti. Konsep kerja hati-
hati dan ketelitian itu amatlah penting. Lebih-lebih diperuntukkan bagi
orang luar. Sedikit saja ada yang kurang memuaskan, customer akan
protes. Itu sebab ketika ada kegiatan packing, menjarit, menyetrika,
saya tetap memantau sepenuhnya.

Cara lain?

Tetap menumbuhkembangkan komunikasi. Semua di sini adalah


keluarga besar, maka komunikasi itu harus nyambung. Bila ada
kendala mesti diperbincangkan sehingga bisa diselesaikan dengan
baik. Mungkin karena saya terlahir dari keluarga kurang mampu, maka
saya tak tahan melihat penderitaan orang. Termasuk karyawan.

Maksud Anda?

Sedapat mungkin kewajiban untuk karyawan diutamakan. Bila melihat


ada yang perlu mesin atau kendaraan, sedapat mungkin dilayani.
Untuk pembayaran mereka bisa mencicil lewat perusahaan.

Bagaimana dengan urusan keluarga dan kegiatan adat, terutama


mengatur waktu antara keduanya?

Mengelola perusahaan agar tetap maju itu penting dilakukan. Tapi bagi
saya, lebih penting masalah keluarga. Sesibuk apapun saya selalu
menyempatkan diri bercengkerama dengan anak-anak dan suami.
Kedekatan itu amat penting dilakukan sehingga keluarga tak mudah
terpecah. Saya juga sering melibatkan anak-anak dalam perusahaan.
Misalkan ada pengepakkan barang, mereka saya ajarkan dan langsung
dipraktekkan. Cara-cara seperti ini disamping untuk menjalin rasa
keakraban, sekaligus mengajarkan anak-anak agar nanti hidup
mandiri.

Kini Anda amat suka pergi sembahyang ke berbagai tempat suci di Bali
malah sampai ke luar daerah. Apa sejatinya yang Anda cari?

Kedamaian, keheningan, dan menghilangkan stres. Setelah seharian


bekerja di perusahaan, mengurus 55 karyawan dengan berbagai
pekerjaan, tentu pikiran ini akan dibebani banyak persoalan. Belum
lagi ada komplain dari customer. Untuk menetralisasi beban yang

http://www.pancafashion.com 16
bercokol di kepala, saya rasakan lewat mendekatkan diri dengan
Tuhan sebagai satu cara di samping tiap minggu berolahraga.

Apakah dalam persembahyangan itu mengikutsertakan karyawan?

Sesekali waktu saya ikutsertakan. Langkah ini juga sebagai satu upaya
menjalin keakraban sesama karyawan.

Kriani tergolong sukses menjalankan usaha garmen. , wanita kelahiran


Pejeng 40 tahun silam—Desak Putu Kriani lahir di Banjar Intaran, Desa
pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, 5 Pebruari
1969—tetap tampil sederhana. Tiada kemewahan yang tampak dalam
dirinya. Sifat itu muncul tentu tak lepas dari kebiasaan yang tertanam
dan melekat dalam diri sedari kecil. Berasal dari lingkungan keluarga
tergolong berpendapatan rendah, menyebabkan dia mesti hidup serba
dalam keterbatasan. Kesederhanaan, tampil bersahaja dan seadanya
seakan menjadi kartu as dalam hidupnya.

Kini teman-teman Anda yang satu angkatan waktu di SPG Denpasar


telah banyak menjadi guru. Bagaimana perasaan Anda?

Biasa-biasa saja. Saya selalu berpatokan bahwa jalan hidup dan


rezeki tiap manusia itu sudah ditentukan Hyang Maha Agung.
Mungkin bukan garis tangan jadi pegawai negeri sipil (PNS).

Kenapa Anda begitu yakin bukan berjodoh di PNS?

Beberapa tahun lalu sempat mencoba mencari PNS, begitu sampai


pada detik-detik terakhir akan dapat, ada saja kendala menghadang
yang pada akhirnya membuahkan kegagalan. Dan, saya meyakini
apapun yang dikerjakan asal dilandasi kemauan, kerja keras, dan
berasal dari lubuk hati paling dalam, pasti bisa meraih sukses. WS

http://www.pancafashion.com 17
Dari Penjahit Menjadi Miliarder

Lebih dari 2.600 butik pakaian telah didirikan Zhou Chengjian di


seluruh penjuru China. Kini, bisnisnya bahkan telah memasuki Taiwan
dan Hong Kong. Hebatnya, Chengjian memulai usahanya dari nol
sebagai seorang penjahit biasa.

Lebih dari 2.200 merek pakaian dan 3.000 desain baru setiap
tahunnya dijual di tokonya. Ekspansi yang terus digencarkan
Chengjian pun semakin menambah pundi-pundi kekayaannya. Forbes
mencatat, nilai kekayaan Chengjian mencapai USD2,6 miliar pada
tahun ini dan menduduki peringkat 246 orang terkaya di dunia.

Tak aneh jika mantan penjahit ini didaulat sebagai miliarder


pendatang baru yang sukses dengan bisnis pakaiannya, Metersbonwe.
Chengjian selalu mengatakan bahwa lakukan bisnis besar dan galilah
otak untuk meraih keuntungan. Dia mengutarakan bahwa pemerintah
telah menawarkan berbagai sumber daya dan memberikan
kesempatan bagi pengusaha untuk mengeksplorasinya.

"Terpenting, memulai bisnis bukan urusan sepele, tetapi kita harus


mencari pasar yang lebih sulit dibandingkan menemui wali kota,"
paparnya.

Pada 1982, ketika Chengjian berusia 17 tahun, ia mendirikan butik


pakaian di kota kelahirannya, Zhejiang. Namun, tanpa dukungan
modal yang kuat, akhirnya toko tersebut gulung tikar.

Sedikit putus asa, pada 1986, dia pun bekerja pada sebuah
perusahaan menjadi seorang penjahit. Namun, kerja keras adalah
prinsip yang selalu dipegangnya. Sebagai penjahit, dia bekerja selama
16 jam per hari, bahkan kadang-kadang lebih. Walaupun sebagai
karyawan, dia tetap mengutamakan inovasi dan kreativitas dalam
bekerja. Ketika itu, dia lebih rajin menjahit pakaian jas resmi.

Dia pun berani mengubah jas yang identik dengan panjang dan lebar
menjadi lebih ketat. Atas inovasi itu, Chengjian pun meraih
kesuksesan dan mendapatkan pujian dari sang bos. Terinspirasi dari
prestasinya sendiri, Chengjian pun berpikir untuk memulai bisnis baru.
Dia ingin melepaskan diri dari bos lamanya.

Dia menjahit pakaiannya sendiri dan menjualnya ke pasar-pasar.


Bahkan, dia pun menjual pakaian tersebut ke hotel-hotel tempat
menginap wisatawan. Dengan kerja keras tersebut, hingga pada akhir

http://www.pancafashion.com 18
1993, mimpi Chengjian untuk memiliki bisnis dengan modal yang kuat
terealisasi.

Pada 1994, Chengjian menginvestasikan 4 juta yuan untuk mendirikan


Metersbonwe, sebuah perusahaan garmen. Ketika itu dia menerapkan
strategi pasar dengan tidak menjual jas resmi. Namun, dia memilih
menjual pakaian olahraga karena belum memiliki banyak pesaing.

Chengjian pun lebih fokus pada produk pakaian kasual dibandingkan


formal. Dia mengatakan, harga pakaian tersebut memang cenderung
lebih murah. Namun, secara kuantitas jumlah penjualannya terus
mengalami peningkatan sehingga keuntunganpun semakin banyak.
Kenapa berbisnis pakaian? Chengjian menganggap bahwa pakaian
selalu dibutuhkan orang dan hampir tak ada rumah yang tidak
memiliki pakaian.

Semua rumah pasti dihuni orang yang menggunakan pakaian. Jumlah


produk pakaian juga bisa dihitung dengan jumlah penduduk suatu
negara dan dikalikan dengan dua atau tiga.

"Populasi manusia pastinya makin bertambah, maka jumlah


pakaiannya juga akan bertambah," paparnya. "Berikan saya 10.000
kesempatan untuk berbisnis, saya tetap akan memilih bisnis
pakaian," cetusnya.

Prestasi yang telah diraih Chengjian pun diapresiasi oleh Pemerintah


China. Pada 2003, dia meraih penghargaan Tokoh Ekonomi China.
Maklum, dia merupakan pengusaha China pertama yang menerapkan
prinsip virtual operation dan model jaringan butik dalam industri
pakaian.

Pada 2001, Chengjian menerapkan manajemen kualitas untuk


mengenalkan kualitas produk pakaian, desain, pengembangan pasar,
dan informasi pelayanan penjualan. Tak bisa disangkal, Metersbonwe
pun menjadi salah satu peritel pakaian kasual terbesar di China.

Hingga pada 2004, Metersbonwe pun diakui sebagai merek paling


favorit bagi generasi muda di China. Pada 2005, Metersbonwe kembali
meraih penghargaan merek terbaik. Chengjian berhasil memoles
Metersbonwe menjadi sebuah merek yang benar-benar menjadi kiblat
konsumsi pakaian oleh rakyat China. Bagi dia, loyalitas pelanggan dan
memelihara reputasi merupakan kunci sukses dalam bisnis pakaian.

"Selanjutnya, tinggal melakukan pengembangan komunitas pelanggan


dan komunitas bisnis," paparnya.

http://www.pancafashion.com 19
Tidak ketinggalan, Chengjian pun selalu merekrut sumber daya
manusia kelas satu untuk mendesain pakaian dan bekerja sama dalam
tim.

Bahkan, Chengjian selalu memotivasi anak buahnya untuk bekerja


sama dengan para perancang di Prancis, Italia, dan Hong Kong. Tak
mengherankan jika setiap tahun Metersbonwe mampu menghasilkan
lebih dari 3.000 desain pakaian baru. Setiap tahunnya, Chengjian
memproduksi lebih dari 30 juta pakaian yang disebar ke seluruh
China.

Menghadapi pasar global, dia pun mengaku siap untuk melakukan


ekspansi ke berbagai negara. Tentunya, dia siap bersaing dengan
merek-merek pakaian ternama yang telah mendunia lainnya. Hanya
dalam beberapa tahun setelah dirikan, aset Metersbonwe dari 1 juta
yuan meningkat menjadi puluhan juta yuan.

Nama Chengjian pun selalu disebut sebagai fenomena baru dalam


industri pakaian di China. "Produksi akan menentukan sebuah mereka
dan meminjam jaring ikan untuk meraih pasar. Itulah strategi bisnis
yang dikembangkannya," paparnya seperti dikutip dari wayenet.

Dalam bisnis, Chengjian selalu menganggap bahwa bisnis selalu penuh


dengan risiko. Namun, tegas dia, jika seorang pengusaha mampu
mengelola risiko menjadi sebuah peluang, keuntungan besar akan
selalu diraih. Dia selalu mengutip analogi bahwa seorang pengusaha
harus seperti kura-kura yang selalu berjalan lurus dan jangan meniru
kelinci yang sering salah mengambil jalan. Setiap pagi hari, Chengjian
selalu berolahraga dengan lari pagi.

Dia menganggap bahwa lari pagi merupakan aktivitas yang paling


menyenangkan selain bekerja. Dia menganggap bahwa dia selalu
menemukan hal baru ketika dia berlari dan bertemu dengan banyak
orang.

"Tapi ingat, jangan selalu mengambil rute yang sama," paparnya.

Bisa jadi Chengjian pun disebut banyak media di China sebagai orang
yang luar biasa dan tidak umum dibandingkan orang di usianya.
Kenapa? Tak bisa dimungkiri bahwa dia adalah orang yang sangat
hiperaktif. Kini, selain bisnis pakaian, Chengjian pun membuka bisnis
penginapan. Dia berniat membangun 1.000 penginapan di seluruh
China.

http://www.pancafashion.com 20
Sisi lain Chengjian adalah dia tidak malu mengakui asal usulnya
sebagai anak seorang petani. Chengjian mengakui melalui masa
kecilnya dengan bahagia di perdesaan. Semasa belajar di sekolah
dasar, dia sering menjadi korban kekerasan dan perkelahian.

Namun, dia mengaku selalu membalas ketika ada temannya yang


memukul dan selalu melawan jika ada orang yang menantangnya.
"Walaupun demikian, identitas saya adalah orang desa. Biarlah orang
yang menilai. Saya sering disebut anak kerdil. Dengan perjuangan
hidup yang keras, saya memiliki jati diri," papar Chengjian.

Dia mengaku, sedari kecil telah beranggapan bahwa tidak akan maju
ketika tinggal di desa. Karena itu, dia memilih merantau ke kota.
"Ketika itu, saya ingin membuktikan kepada orang lain bahwa saya
mampu memberikan kebanggaan pada mereka," ungkapnya kepada
chinaretail.org.

Selanjutnya, Chengjian juga menganggap bahwa pekerjaan yang


dilakukannya selalu menyenangkan. Dia berpikir bahwa dirinya tidak
akan menemui kesulitan jika melakukan pekerjaan dengan rasa
senang. "Walaupun hasil pekerjaan tidak menyenangkan, kita harus
bersikap tenang dan senang," paparnya.

http://www.pancafashion.com 21
NAIK TURUN, TETAP OKE DAN UNTUNG

Tahun 2009, genap sudah 32 tahun Almakruf (53) menjalankan usaha


menjahit pakaian. Ia pernah menjadi penjual daging sapi di Pasar
Jodoh. Pernah juga beralih berdagang sembako. Tapi tetap saja
kembali lagi ke usaha menjahit pakaian.

Usaha menjahit pakaian cukup menguntungkan. Syaratnya harus


menjaga kualitas jahitan, selesai sesuai waktu yang dijanjikan dan
lokasi usahanya dekat dengan konsumen. Dengan menerapkan tiga
syarat tersebut, Batam Tailor banjir order dari 500-an pelanggan
setianya. Setiap hari 12 stel pakaian seragam dan safari harus dijahit
oleh dua karyawan Batam Tailor. "Sekarang paling banyak pesanan
pakaian seragam satpam dan pakaian safari," kata pemilik Batam
Tailor, Almakruf.

Almakruf termasuk wirausahawan yang sudah makan asam garam


dalam dunia usaha menjahit pakaian. 32 tahun ia naik turun
menjalankan bisnisnya. Ia pernah berkali-kali bangkrut dan habis
modal. Lalu harus kembali merintis usahanya. Tapi pernah juga
merasakan puncak kejayaan usahanya. ‘Tahun 1991-1997, sebelum
krisis moneter itu luar biasa, Batam Tailor benar-benar di puncak
kejayaan. Saya punya pelanggan 8 perusahaan industri. Belum
termasuk perusahaan non industri dan pelanggan perorangan. Sekali
order, satu perusahaan ada yang sampai 1200 stel pakaian
seragam,"kata pria asal Lubuk Alung Sumatera Barat.

Sekarang, memang orderan tidak sebanyak dahulu. Tapi tetap saja


usaha menjahit pakaian lebih menguntungkan. Biaya menjahit mulai
Rp250 ribu untuk pakaian satpam dan untuk pakaian safari Rp350
ribu. Dari harga itu karyawan dibayar Rp20ribu -Rp25 ribu per potong.
Sisanya milik pemilik usaha, untuk modal dasar pembelian kain dan
biaya operasional. "Lumayan omsetnya. Dari satu stel pakaian bisa
dapat Rp100 ribu. Kalau empat stel, kita dapat Rp400 ribu," ujarnya.
Sejak terjun berwirausaha dari tahun 1976, Almakruf bukannya tidak
pernah mencoba berbisnis lain. Ia pernah menjadi penjual daging di
Pasar Jodoh. Ia juga pernah beralih ke bisnis sembako. Tapi rupanya
dua bisnis tersebut bangkrut karena sepi pembeli dan hanya bertahan
dua tahun. Jadilah Almakruf kembali berbisnis menjahit pakaian.

Modal Mesin Jahit Seken

Untuk merintis usaha menjahit tidak membutuhkan dana besar. Cuma


mengeluarkan uang untuk beli mesin jahit seken dan punya keahlian
menjahit. Keuntungan langsung diperoleh saat ada order menjahit

http://www.pancafashion.com 22
pakaian. Tapi dengan catatan tidak salah mengukur dan memotong
bahan. Selain itu harus bayar di muka 30 persen.

Pertamakali merantau ke Batam tahun 1990, Almakruf hanya


membawa uang Rp90 ribu. Uang tersebut, habis dipakai untuk ongkos
pesawat Padang-Batam Rp75 ribu. Sisanya Rp15 ribu. Tapi untunglah,
saat itu Ia membawa cabai merah Rp30 kg dari kampungnya Lubuk
Alung.

Alhasil begitu tiba di Batam, Ia langsung jualan cabai merah di Pasar


Jodoh. "Lumayan juga hasilnya. Cabe merahnya laku Rp3 ribu per kg.
Saya jadi dapat tambahan uang Rp90 ribu," kata Almakruf sambil
tertawa, mungkin teringat masa lalunya.

Uang yang didapatnya langsung dijadikan tambahan modal usaha,


untuk membeli mesin jahit seken. Sementara untuk tempat usaha
jahitnya yaitu dua toko ukuran 4x6 meter persegi dekat Hotel Nagoya
Plaza milik pamannya, Buyung Lambau. Saat merintis usahanya masih
belum banyak saingan. Alhasil, Batam Tailor langsung banjir orderan.

Jauh sebelum melakoni bisnis menjahit, Almakruf menjadi penjual


daging sapi di Pasar Jodoh, sekitar tahun 1973. Sampai akhirnya ia
bangkrut di tahun 1976. Ia-pun merantau ke Jakarta. Di sana ada
saudaranya yang seorang guru tapi menyambi menjahit pakaian.Dari
dialah, Almakruf belajar menjahit pakaian

Banjir Order dari Perusahaan

Punya keahlian menjahit, ia memilih buka usaha sendiri. Menyewa


toko kecil di Jakarta. Berkat ketekunannya, usaha menjahitnya
berkembang dan maju. Tahun 1983, usaha menjahit turun drastis
karena saat itu di Jakarta tumbuh perusahaan konveksi. Orderan jadi
semakin seret karena direbut perusahaan konveksi.

Ia pun langsung beralih ke usaha sembako dengan menyewa kios di


Pasar Minggu. Tahun pertama hasilnya cukup bagus, tapi tahun ke-2
bisnis sembakonya terpuruk karena sepi pembeli. Akhirnya Almakruf
memilih menjual toko sembako bersama isinya sebesar Rp900 ribu.
Setelah itu ia pilih pulang kampung ke Lubuk Alung, Sumatera Barat.
Memiliki segudang harapan untuk bisa hidup maju lagi, Almakruf
kembali merantau ke Batam tahun 1990 dan mendirikan Batam Tailor.
Sejak tahun 1991 -1997 Batam Tailor berada di masa emas. Almakruf
sampai memiliki 16 orang karyawan karena banyak orderan dari
perusahaan industri. Kejayaan usahanya terpuruk saat krisis moneter
di tahun 1997. Batam Tailor bangkrut dan habis modal serta tak punya

http://www.pancafashion.com 23
karyawan lagi. Tapi kini, usahanya kembali tumbuh. Batam Tailor
punya dua orang karyawan karena order jahitan mulai banyak. "Habis
modal itu biasa dalam bisnis. Yang terpenting bagaimana usaha ini
(menjahit-red) tetap bertahan dan maju," katanya.

Almakruf yang berasal dari Padang dan terkenal suka merantau dan
berdagang mengusung nama Batam Tailor begitu merintis usaha
menjahitnya di Batam pada tahun 1990.Ditambah lagi, biduk rumah
tangganya hancur dan membuat aset usaha jahitnya harus dijual
untuk dibagi dua dengan mantan istri.

Dari pembagian harta gono gini, Almakruf mendapat Rp2 juta, nilai
yang lumayan besar di tahun 1983. Almakruf sampai belanja kain ke
Singapura, tiga kali sepekan. Waktu itu di Singapura, harga kain satu
meter masih murah, cuma Rp5 ribu. Lebih mahal di Jakarta Rp6 ribu
per satu meter.

Kalah Bersaing dengan Perusahaan Konveksi


Ia tak bisa berbelanja ke Singapura lagi, karena harga kain sudah naik
tiga kali lipat gara-gara nilai rupiah jatuh. Untuk kebutuhan bahan
kain, Iapun beralih belanja ke Jakarta. Sebenarnya setelah krisis
moneter, perusahaan tetap mau order menjahit pakaian. Tapi mereka
(perusahaan industri-red)tak mau naik harga, sementara harga kain
saja naik berlipat-lipat. Saya tak sanggup. Mereka lari ke perusahaan
konveksi di Jakarta, " katanya.

Kian sepi terima orderan, Batam Tailor pun akhirnya memutuskan


pindah ke ruko Greenland tahun 2003. Di Greenland usahanya tumbuh
lagi, Ia memiliki delapan karyawan.

Memasuki tahun 2008, sang pemilik ruko menetapkan kenaikan sewa


ruko. Jadilah Batam Tailor pindah ke Panbil. Tapi tak sesuai
perhitungannya, usahanya malah merosot tajam ketika pindah ke
Panbil. "Waktu pindah ke Panbil saya punya modal Rp40 juta. Rp30
juta untuk sewa ruko setahun. Setelah kontrak setahun habis. Modal
habis karena sepi order. Saya benar-benar salah perhitungan tempat.
Coba waktu itu saya sewa tempat ruko di depan ruko Greenland,
mungkin keadaannya jadi lain," katanya.

Gara-gara habis modal, Almakruf-pun akhirnya pindah usaha ke


rumahnya di Sakura Garden tanpa punya karyawan lagi. Karena sepi
order, akhirnya Batam Tailorpun pindah ke Bengkong Al Jabar (tempat
usahanya sekarang-red) di awal tahun 2008 hingga sekarang.

http://www.pancafashion.com 24
Tak Cocok Berdagang Sembako dan Daging

Almakruf yang naik turun dalam menjalankan usaha menjahitnya


mengaku cocok dengan usaha menjahit pakaian. “Itulah mungkin
karena menjahit sudah cocok sebagai profesi saya. Nyatanya, meski
saya pernah pindah ke usaha lain, tetap saja kembali membeli mesin
jahit dan membeli mesin jahit lagi untuk modal setelah bangkrut
usahanya," katanya. Asyiknya lagi, waktu kerjanya bebas, bisa mulai
kerja pukul 10.00 WIB. Kalau sedang banyak order dan tidak sanggup,
tinggal dialihkan ke tetangga yang punya usaha tailor.

Almakruf mengatakan ia tak mungkin lagi berjualan daging di pasar


sekarang ini. Pasalnya usaha berjualan daging sapi diatur waktu. Jam
03.00 WIB harus sudah ada di pasar karena pukul 04.00 WIB para
pembeli sudah banyak yang datang. Bila tidak seperti itu usaha
berjualan daging akan bangkrut. "Saya tak sanggup lagi. umur sudah
tua, 53 tahun, "katanya. Adapun bisnis sembako, Almakruf juga
kurang bisa menikmatinya. "Kalau berjualan sembako, kita menunggu
pembeli dari pagi sampai sore. Kalau ramai okelah kita sibuk melayani
pembeli. Tapi kalau sepi kita hanya duduk di toko seharian menunggu
pembeli," katanya.(Sumber : Batam Pos)

http://www.pancafashion.com 25
Kisah Risna, Pemilik Usaha Kursus Menjahit Mode Centre
Musibah Mendatangkan Jutaan Rupiah

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menimpa seseorang bisa


mendatangkan dua akibat berbeda. Yakni menjadikan seorang
pengangguran yang terpuruk atau sebaliknya, justru membuka
peluang baru. Hal terakhir inilah yang dilihat oleh Kun Hidaya Risna
(35), seorang pemilik kursus Menjahit Sampai Bisa bernama Mode
Centre di Legenda Malaka.

Tahun 2000-an, Kun Hidaya Risna hanyalah sebagai ibu rumah tangga
biasa. Ia sepenuhnya menggantungkan hidup dari penghasilan
suaminya, M Abidin (36) yang bekerja di PT Inovalue di Kawasan
Industri Camo Batam Centre. Pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga
waktu itu hanyalah mengurusi suami, anak pertamanya Hanan yang
baru berusia 2 tahun dan membereskan segala hal dari ujung dapur
hingga halaman depan rumah.

Tibalah musibah itu datang, tahun 2002 sang suami di PHK. Saat itu,
dampak PHK sangat terasa. Pundi-pundi ekonomi keluarga yang
selama ini aman-aman saja, sebesar Rp600 ribuan (UMK-di tahun itu)
lenyap seketika. Di sisi lain, segala kebutuhan sehari-hari tetap harus
dipenuhi. Paling utamanya soal makan, dan susu serta bubur untuk si
kecil. Belum lagi tagihan kredit rumah yang ditinggali mereka tipe 21
sebesar Rp140 ribuan yang wajib dibayar setiap bulan.
”Bingung mau makan dari mana. Sayapun mikir kira-kira apa yang
bisa saya lakukan, suami di PHK,” kata Kun Hidaya Risna.

Pikirannya pun jadi menerawang jauh mengingat semasa remaja dulu.


Waktu masih di bangku SMA di kampungnya di Madiun, Jawa Timur ia
pernah belajar menjahit pakaian. Kun Hidaya Risna akhirnya
memberanikan diri membuka usaha jasa menjahit. Dia pun membeli
dua mesin jahit manual. Pelanggannya tidak lain para tetangganya di
Perumahan Legenda Malaka.

Ada yang mau mengecilkan pakaian, ada yang potong celana karena
kepanjangan. Semuanya dikerjakan oleh Kun, begitu wanita ini disapa.
”Kalau tidak ada orderan, saya jalan keliling ke rumah-rumah, kali
saja ada yang mau dijahit. Hasilnya, habis untuk makan sehari-hari,
tapi lumayanlah untuk menyambung hidup,” kata Kun.

Sementara itu, sang suami M Abidin yang di PHK memilih mengajar


Iqro di daerah Tiban. Namun penghasilan menjadi guru Iqro itu tidak

http://www.pancafashion.com 26
bisa diharapkan. ”Mengajar Iqro tidak digaji. Dibayarnya kalau ada
infak. Infak itu kan sukarela. Kadang ada kadang tidak ada,” katanya
Selain itu, Kun dan suaminya terus berusaha bertahan hidup di Batam.
Mereka mencoba membuat usaha kecil-kecilan. Dari mulai jadi penjual
bakso, jualan nasi kuning, sewa-sewa stan untuk berjualan. Mereka
juga pernah menyewa stan di Asrama Haji Batam saat musim haji.
Tapi dari semua usaha kecil-kecilan itu semuanya gagal dan tidak bisa
diharapkan.

Terakhir usaha mereka adalah kongsi modal dengan seorang teman


berbisnis fesyen. Kun dan suaminya mengambil pakaian muslim,
kerudung untuk dijual kembali dari pintu ke pintu dan ke siapa saja
dengan sistem kredit. Usaha menjual pakaian dengan sistem
penjualan kredit itu ternyata tidak membuahkan hasil. Tapi justru
membuat Kun dan suaminya terbelit hutang senilai Rp4 juta.

”Jadi terlilit hutang karena mungkin waktu itu kurang bisa


memenejnya. Terus yang belinya banyak orang kos-kosan. Orang itu
kreditnya macet, mereka ada yang pulang kampung, ada yang pindah
kos, tidak tahu pindahnya kemana, jadi mereka tidak dibayar,” kata
Kun.

Nilai utang senilai Rp4 juta yang harus dibayar oleh Kun benar-benar
menjadi beban berat. Apalagi saat itu suaminya tidak lagi punya
penghasilan tetap lagi. Masih di tahun 2002, tepatnya enam bulan
setelah suaminya di PHK, cobaan berat kembali datang. Suatu hari
ketika selesai menghadiri acara wisuda murid –murid suaminya di
Tiban, diperjalanan menuju ke rumahnya di Legenda Malaka, Kun dan
suaminya yang mengendarai sepeda motor diserempet mobil. Kun
yang menggendong anaknya terjatuh ke aspal dan mengalami patah
tangan. Anaknya juga ikut cedera dan dirawat di rumah sakit.
Untungnya sang suami tidak terlalu parah lukanya. ”’Uang berobat itu
dibayar sendiri. Waktu itu kami punya uang pesangon Rp4 juta. Uang
itu habis untuk berobat,” katanya.

Cobaan yang bertubi-tubi, mulai PHK, bisnis terbelit utang dan


kecelakaan serta tangah kanan patah membuat Kun menjadi terpuruk
dan hampir putus asa. ”Saya benar-benar frustasi. Karena nggak bisa
menjahit lagi, mau makan dari mana lagi, tidak bisa menjahit. Punya
hutang, mau usaha tak ada modal. Waktu itu pikirannya sudah mau
pulang kampung saja,” ujar Kun.

Bolak-balik Mengajar
Di tengah rasa frustasi, bingung dan kesusahan, datang seorang
kawan yang tinggal di Batuaji menengoknya. Karmi itulah nama

http://www.pancafashion.com 27
temannya. Merekapun berbincang-bincang dan berbagi cerita. Dari
perbincangan santai itu, Karmi akhirnya mengajak Kun untuk
bekerjasama membuka kursus menjahit. Di kursus menjahit itu Kun
jadi gurunya. Kun jadi bolak balik mengajar di tempat kursus
temannya di Batuaji.

Jarak Legenda Malaka dan Batuaji yang cukup jauh itujugalah yang
akhirnya membuat Kun tidak lagi mengajar di tempat kursus
temannya. Karmi-pun memberi saran agar Kun membuka kursus
menjahit sendiri di Legenda Malaka. Karena tidak punya pilihan lain,
Kun akhirnya menuruti saran temannya. Ia membuka kursus menjahit
sendiri sekitar tahun 2004. Tempat kursus menjahitnya ia beri nama
‘Mode Centre’

Waktu itu kebetulan ada Muhammad Arif dan Cahyo dari Dana Sosial
Nurul Islam yang datang memberikan bantuan modal usaha. ”Katanya
dana itu berasal dari zakat profesi itu katanya sih memang buat
dialokasikan untuk bantuan modal usaha bagi yang mau usaha tapi
tidak punya modal,” ujar Kun.

Dana bantuan modal usaha yang diberi oleh Nurul Islam itu menjadi
setitik cahaya di tengah kondisi ekonomi keluarganya yang morat
marit plus cobaan yang datang bertubi-tubi. Dana yang diterima dari
Nurul Islam sebesar Rp6 jutaan digunakan oleh Kun untuk melunasi
hutangnya sebesar Rp4 juta, sisanya sebesar Rp2 juta untuk membeli
mesin obras.

Saat itu Kun mencari orang yang ingin belajar menjahit dari rumah ke
rumah. Saban hari Kun harus berjalan kaki mendatangi rumah ke
rumah di perumahan Legenda Malaka. ”Kalau di Blok F atau C ada
lima ibu-ibu yang ingin belajar menjahit, maka saya datangi mereka,”
katanya.
Usahanya membuatkan hasil, saat itu ada dua orang yang mau belajar
kursus ditempatnya.

Rumah tipe 21 yang ditempatinya jadi berfungsi ganda. Selain sebagai


rumah tinggal, rumahnya juga jadi tempat kursus menjahit. Satu
kamar tidur di rumahnya berukuran 3 meter x 3 meter itu disulap
menjadi tempat belajar menjahit. ”Kami tetap tidur di kamar tidur
tempat kursus jahit itu. Tidurnya uyel-uyelan (desak-desakan) sama
mesin jahit,” katanya.

Siang hari, saat berlangsung kursus menjahit di kamar tidur itu, kasur
untuk tidur itu digulung supaya sedikit lapang. Di sisi bagian kamar
tidur itu tampak dua mesin jahit manual dan 1 mesin jahit obras. Saat

http://www.pancafashion.com 28
itu, Kun Hidaya Risna menerapkan sistem seperti lembaga-lembaga
kursus atau pelatihan keterampilannya lainnya. Biaya kursusnya
Rp100 ribu, untuk satu bulan dengan tiga kali pertemuan. Dimana
setiap pertemuan berlangsung selama dua jam.

Seiring berjalannya waktu ternyata bayar kursus setiap bulan itu


punya banyak kekurangannya. Salah satunya tidak ada kepuasan
murid-muridnya. Di sisi lain dengan sistem seperti itu tidak ada
jaminan sampai berapa lama murid-muridnya itu bisa lihai menjahit
secara profesiaonal. ”Menjahit ini kan harus telaten,” ujarnya.

Bayangkan saja, kalau muridnya tidak telaten, tentu makin lamanya


muridnya belajar menjahit, semakin lama maka semakin besar pula
biaya kursus yang dikeluarkan. Tentu itu tidak diinginkan oleh Kun dan
murid-muridnya. Dari sisi murid, mereka dirugikan karena biaya
kursus menjahit jadi makin mahal
Sedangkan buat Kun akibatnya akan fatal yaitu sebuah imej tempat
kursusnya Mode Centre akan tercoreng.

Gara-gara itu, beberapa tahun terakhir ini system bayar kursus setiap
bulan itu dihapuskan. Sejalan dengan itu, Kun mulai mengurus izin
usaha kursus menjahit. ”Alhamdulillah akhirnya Kursus Menjahit Mode
Centre dapat izin dari Dinas Pendidikan Kota Batam sekitar tahun
2007.
Sesudah mendapat izin, kursus menjahit yang dikelolanya tidak bayar
setiap bulan, tapi bayar Rp750 ribu sampai bisa menjahit terampil dan
profesional. Untuk jadwal kursus menjahitnya dari hari Senin sampai
hari Jumat. Sementara untuk proses belajar mengajar menjahit
dimulai dari pagi hari sampai sore hari. ‘’Jam kursusnya bisa sesuka
hati. Kalau untuk biaya kursusnya tidak harus kontan bayar di depan,
tapi bisa dibayar dengan dicicil selama dua kali atau tiga kali bayar,”
ujarnya.

Dengan sistem paket menjahit sampai bisa hanya bayar Rp750 ribu,
lambat laun tempat kursusnyapun mulai dibanjiri muridnya. Ratusan
orangpun berbondong-bondong datang belajar menjahit ke tempat
kursusnya. Tidak hanya warga perumahan Legenda Malaka, tapi juga
datang dari perumahan lain di Batam Centre. Selain itu muridnya juga
banyak dari daerah Kabil, Tiban, Nagoya hingga Nongsa dan Punggur.
‘’Baru dua tahun terakhir ini mulai ramai, mereka tahu dari spanduk,
kebetulan mereka lewat dan melihatnya. Ada juga yang dari teman,
kayak anak-anak PT itu, mereka memberi info ke temannya,” katanya.

Semua orang yang telah kursus di Mode Centre milik Kun, menurut
Kun lulus dengan memiliki keterampilan menjahit professional.

http://www.pancafashion.com 29
Mereka-pun tidak jadi pengangguran lagi. Bahkan sebanyak 70 persen
dari alumni kursus menjahitnya di Mode Centre rata-rata memilih
membuka usaha menjahit sendiri. Adapun sisanya sekitar 30
persennya, memilih bekerja di perusahaan garmen di kawasan-
kawasan industri Batam. Seperti di kawasan Industri Tunas, Batam
Centre.

Jumlah muridnya yang banyak, membuat rang kamar tidur tempat


kursus menjahit di rumahnyapun jadi terasa. Ruang tidur itu tak
mampu lagi menampung murid-muridnya yang terus bertambah
banyak. Secara perlahan-lahan tempat kursusnya yang dulunya di
ruang kamar tidur itu akhirnya dipindahkan ke teras rumah yang
telah direnovasi jadi tempat kursus. ”Rumah saya mulai direnovasi di
tahun 2006,” ujarnya.

Sekarang karena makin banyak murid belajar menjahit, Kun pun


menambah koleksi mesin jahitnya. Di antaranya ada mesin jahit asli
untuk benar-benar menjahit, ada juga mesin obras, mesin bordir,
mesin sulam pita, payed dan lainnya. ‘’Jumlahnya ada 20 mesin jahit.
Ada yang seken ada juga yang baru. Waktu saya beli mesin jahit ini
harganya bervariasi. Termurah harganya Rp700 ribuan dan termahal
Rp2 jutaan,” katanya.

Kun Hidaya yang sukses mengelola usaha kursus menjahit di Legenda


Malakan mulai memperluas tempat kursus menjahitnya ke daerah lain.
Ia membuka cabang kursus menjahit Mode centre di daerah Batuaji.
Lokasi persisnya berada di Griya Batuaji. Di Cabang kursus menjahit
di Griya Batuaji, Kun mempercayakan pada asistennya, bernama Evi.
‘’Evi itu dulunya murid saya di sini, ia pintar menjahit, Dialah yang
sekarang mengajar menjahit disana,” katanya.

Disela-sela kesibukannya mengajar murid-muridnya di Mode Centre,


Kun Hidaya Risna juga guru menjahit di PT Singer Cabang Batam.
‘’Saya diminta untuk mengajar menjahit disana. Di PT Singar kan ada
program kursus menjahit,” katanya.

Jadwal kursus menjahit di PT Singer dilakukan setiap akhir pekan yaitu


hari Sabtu dan Minggu. ‘’Satu bulan dua kali pertemuan. Setiap
pertemuan selama dua jam.,” ujar wanita yang dalam keseharian suka
mamakai jilbab lebar.

Dari hasil mengajar di PT Singer, Kun juga mendapatkan penghasilan


tambahan. Ia dibayar Rp500 ribuan setiap bulan. Pundi-pundi ekonomi
keluarganya kian bertambah kokoh, ketika suaminya kembali bekerja
di tahun 2005. M Abidin kembali mendapat pekerjaan di PT Merapi

http://www.pancafashion.com 30
Utama Pharma di kawasan Industri Tunas di Batam Centre. Belum lagi
pendapatan dari mengelola usaha kursus yang kata Kun setiap bulan
bisa menghasilkan Rp 2 jutaan.

Buka Cabang di Batuaji

Masa keterpurukan akibat suami di PHK dan dicoba dengan kecelakaan


telah berakhir. Kini Kun bersama suaminya dari sisi ekonomi sudah
lebih baik. Di tahun 2009, anaknyapun tidak hanya Hanan. Hanan
yang dulu waktu masa PHK baru berusia 2 tahun, sekarang sudah
berumur 9 tahun. Hananpun sudah memiliki dua adik yaitu Mazam (5)
dan Fahmida (1).

Di saat usaha kursus menjahitnya sudah melebar dan sukses punya


cabang baru di Batuaji, beberapa hari lalu Batam Pos pun datang ke
tempat kursus milik Kun Hidaya Risna, Mode Centre di Legenda
Malaka. ‘’Rumah saya di Blok G, Gajah nomor 5 di Legenda Malaka.
Rumahnya kecil kok mbak, tipe 21,” suara Kun terdengar diujung
telepon.

Tidal lama setelah menelpon, Batam Pos pergi mencari rumahnya di


Legenda Malaka Blok G 5 no 31. Rumah bercat krem dan berpagar
tembok warna hijau itu terlihat sangat sederhana dan kecil.
Kondisinya, hampir sama dengan rumah-rumah di deretan itu.
Semuanya berukuran kecil, tipe 21 dengan luas tanah sekitar 60
meter persegi. Di sanalah keluarga Muhammad Abidin (36) dan Kun
Hidaya Risna (35) tinggal bersama ketiga anaknya.
Rumah keluarga M Abidin tampak berbeda dengan rumah
tetangganya. Di bagian depan rumahnya ditempel sebuah spanduk
berwarna kuning. Di sana tertulis ‘KURSUS MENJAHIT MODE CENTRE,
Legenda Malaka Blok G 5 No 31, Kursus menjahit tingkat dasar dan
terampil, kursus bordir, kursus hand made dan pelatihan kerja. Di
rumah tipe 21 yang berspanduk itulah, Kun menjalankan usahanya.
Disana, Ia mengajar kursus menjahit sendiri.

Rumah tipe 21 milik keluarga M Abidin, terlihat tak lagi punya halaman
yang dihiasi tanaman. Sejak kursus menjahitnya kian maju, Kun dan
suaminya sepakat untuk menyulap halaman depan yang tidak terlalu
lebar itu menjadi tempat kursus menjahit. Halamannya ditembok
dengan semen. Di atasnya diberi atap sebagai peneduh dikala terik
matahari ataupun ketika hujan turun dari langit. Sementara sepuluh
mesin jahit ditata berderet di pinggir halaman, baik pinggiran dekat
dinding tetangga, dekat pagar rumah dan dekat batas ruang
tamunya. ”Beginilah mbak keadaannya, rumahnya kecil, cuma tipe
21,” lagi-lagi Kun menerangkan tempat kursusnya.

http://www.pancafashion.com 31
Saat datang ke rumahnya, siang itu terlihat seorang wanita
berkerudung sibuk menjahit dengan mesin jahit listrik di teras rumah
Kun. Ia terlihat asik mengatur kainnya, sesekali tangannya
menghidupkan dan mematikan mesin jahit. Di selembar kain yang
dipegangnya terlihat hasil sulaman mesin motif bunga-bunga. Ada
juga sulaman mesin bermotif daun. Jumlahnyapun sudah tidak
terhitung.

‘’Saya dari Kabil, baru tiga minggu belajar menjahit disini. Ini baru
belajar dasarnya saja,” kata wanita katanya bernama Rohani.

Rohani adalah salah satu murid Kun. Ia pun setiap hari datang rutin ke
tempat kursus menjahit milik Kun. Rohani yang tinggal di perumahan
Pertamina Tongkang di Kabil bertekad ingin bisa menjahit. ‘’Kalau
sudah bisa menjahit, saya mau usaha menjahit,” ujar ibu dari tiga
anak ini.

Sebenarnya kalau sisi penghasilan, Rohani mengaku sudah lebih dari


cukup. Sang suami bekerja di perusahaan di kawasan Pertamina
Tonggang. ‘’Saya mau belajar menjahit karena anak-anak saya sudah
besar-besar. Yah daripada di rumah tak ada kerjaan,” ujarnya.

Iapun sudah membayangkan di masa depan nanti. Bila ia nanti punya


modal, rencananya Rohani akan membuka jasa menjahit di rumahnya
di perumahan Pertamina Tongkang. Kini, Rohanipun giat belajar
menjahit. Setiap hari saat siang hari, Rohanipun datang ke tempat
Kun di perumahan Legenda Malaka.

Saat Batam Pos bertanya pada Rohani, Kun yang saat itu menemani
Rohani, sesekali memberi arahan kepada Rohani. Saat itu, ke dua
tangan Rohani sibuk mengatur kain. Kun yang sejak dari tadi
menemani Rohani menjahitpun mulai ikut berbicara. ”Kalau siang sepi
mbak. Cuma satu orang saja yang kursus menjahit. Yang rame itu tadi
pagi mbak” ujar Kun kepada Batam Pos.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, rumah Kun yang berfungsi gangga
sebagai tempat kursus menjahit memang menjadi ramai dengan
murid-muridnya. ‘’Mungkin karena kusrus paketnya menjahit sampai
bisa cuma bayar Rp750 ribu itu, makanya jadi diminati,” katanya.
Muridnya tidak lagi hanya dari seputaran Legenda Malaka, tapi daerah
lainnya di wilayah Batam.
Ternyata lembaga kursus menjahit yang didirikan oleh Kun tidak
direncanakan, tapi muncul gara-gara sang suaminya terkena PHK di
tahun 2002. ‘’Saya ibu rumah tangga saja waktu itu. Pas suami di PHK
benar-benar bingung, mau makan pakai apa, tidak ada uang sama

http://www.pancafashion.com 32
sekali. Belum lagi harus setor cicilan rumah ke bank, kami juga butuh
susu buat hanan (anaknya yang saat itu baru berumur 2 tahun),”
katanya.

Meski saat itu sang suami bergaji UMK sekitar Rp600 ribuan,
penghasilan sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk makan sehari-
hari. Begitu di PHK semua penghasilan itu tidak ada. Di saat sedang
bingung, Kun berpikir keras mencari cara untuk bertahan hidup di
Batam. Akhirnya usaha kursus menjahit inilah yang jadi pilihannya.
”Kalau saya bilang, usaha kursus menjahit ini, usaha kepepet
(terjepit, red), karena waktu itu tidak ada penghasilan, kebutuhan
banyak, menjahit juga tak bisa karena tangan patah, mau buka usaha
lain juga tidak punya modal,” kata Kun.

Karena kondisinya terjepit, Kun yang hanya ibu rumah tangga jadi
berpikir keras dan akhirnya muncul ide buka usaha. ”Saya merasa,
sebenarnya perempuan (istri) itu harus membantu suami. Dalam
kondisi suami tidak punya penghasilan, kita sebagai istri harus
berusaha membeking. Seorang istri harus punya skill. Jadi kalau suami
ada halangan, sakit atau bahkan diambil Tuhan, kita sebagai istri
sudah siap,” ujarnya.

Petaka PHK yang dialami suaminya memberi pelajaran tersendiri bagi


Kun dan keluarganya. Saat dulu menjadi ibu rumah tangga, sebagai
seorang istri Kun emengaku harus pandai-pandai mengatur uang
yang diberi pada suaminya. ‘’Berapapun suami kasih uang ke kita, kita
harus pintar-pintar mengatur dicukup-cukupi,” ujarnya.

Sementara saat memiliki usaha kursus menjahit, Kun mengaku


merasa lebih enak punya penghasilan sendiri. Uang dari suaminya
yang telah kembali bekerja, digunakan untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari seperti untuk makan. Selebihnya uang dari penghasilannya
sendiri, dialokasikan ke berbagai keperluan. ”Kita bisa kirim ke
keluarga kita di kampung. Selain itu, penghasilan dari kursus, juga
untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Sekarang anak-anak mulai
besar, banyak membutuhkan biaya,” katanya.

Dari sekian banyak pelajaran yang bisa dipetik, kata Kun yang paling
penting adalah seseorang harus punya skill. Jadi ketika terkena PHK
kita tetap bisa bertahan hidup dengan skill yang dimiliki. Lain halnya
kalau tidak punya kemampuan sama sekali. Tentu saat terkena PHK
akan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. ***

http://www.pancafashion.com 33
UKM Binaan PT. KS Handayani Collection, Order Datang Sendiri

Wednesday, 17 June 2009, 3:50

Dari usaha menjahit kelas rumah tangga, setelah mendapatkan


bantuan modal dari PT Krakatau Steel (KS) Handayani Collection
mampu tumbuh menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM). Bahkan Hj.
Hukmiyati sebagai pengelola, kini berusaha menularkan jiwa
kewirausahaannya kepada para ibu rumah tangga binaannya.

Handayani Collection menempati sebuah kios berukuran 3×6 meter itu


tampak dipajang contoh-contoh busana muslim serta kebaya hasil
jahitan Hj. Hukmiyati dan tiga orang karyawannya. Bahan-bahan jahit
seperti benang, resleting, kancing dan biolin nampak tersusun rapi di
sebuah kotak bertingkat yang digantung di dinding. Tujuh mesin jahit,
sebuah mesin bordir serta dua galosi tertata rapi di kios.

Dari papan nama Handayani Collection, tertulis menerima pesananan


dan jahitan seragam busana muslim wanita, baju anak-anak/ bayi,
macam-macam kaos dan bahan terbaca di papan nama. Di Pasar
Kelapa, Blok F los J No 14 Kota Cilegon tempat usaha Hj. Hukmiyati
beserta karyawannya.

Dengan menggunakan busana muslim dan jibab warna putih


mencirikan seorang muslimah Hj. Hukmiyati duduk di atas kursi
dengan mesin jahit sebagai mata pencarian setiap hari. Berbekal ilmu
menjahit yang dipelajarinya di pondok pesantren milik Hj. Maemanah
bibinya sendiri, ia membuka tempat menjahit di Ciwaduk. Pada tahun
1991 Hj. Hukmiyati memulai menjahit kecil-kecilan di rumah yang
disewa dengan harga Rp 25 ribu per bulan. Dengan modal Rp 300 ribu
dan meminjam ke Bank BRI sebesar Rp 1 juta dengan menggadaikan
intan miliknya, Hj. Hukmiyati memulai usaha jahitan. Dengan
menggunakan satu mesin jahit dan satu mesin bros serta satu orang
karyawan yang membantu memperlancar usahanya.

Untuk menaikkan popularitasnya, Hj. Hukmiyati membuka kursus jahit


selama tiga bulan di Kantor Kelurahan Ciwaduk yang digratiskan,
waktu itu diikuti 30 orang. Berkat kursus yang dibukanya itu, dirinya
mendapatkan karyawan dan mulai mendapatkan pesanan dari
berbagai kalangan masyarakat.

Untuk meningkatkan usahanya, pada tahun 1998 Hj. Hukmiyati


meminjam modal ke PT. Krakatau Steel (KS). Dari tahun 1998
sekarang ia telah menginjak empat periode pinjaman modal. Pada
tahap pertama dirinya diberi pinjaman Rp 8 juta. Tahap kedua Rp 14

http://www.pancafashion.com 34
juta, tahap ketiga Rp 26 juta dan tahap keempat ini dipinjamai modal
sebesar Rp 48 juta oleh PT. KS.

Dengan modal yang dipinjam dari PT.KS, Hj Hukmiyati memberanikan


diri membeli sebuah kios di Pasar Kelapa Kecamatan Cilegon dengan
harga Rp 12 juta yang dibayar secara mengangsur. “Agar modal yang
diberikan oleh PT. KS dapat dibelikan untuk keperluan menjahit dan
memperlancar usaha tentunya,” ungkap Hj. Hukmiyati.

Berkat modal dan binaan dari PT. KS, perlahan tapi pasti usaha yang
dibuka Hj. Hukmiyati mulai berkembang. “Saya gak pernah cari order
tapi rata-rata mereka pada datang ke sini untuk memesan pakaian. Di
sini kami hanya melayani pesanan, khusus pakaian muslim seperti
seragam karyawan, klinik-klinik, guru-guru dan lain lain. Dengan
harga yang beragam sesuai dengan bahannya,” jelasnya.

Kini dari usahanya, Hj. Hukmiyati mampu menyumbang satu mesin


jahit kepada empat orang anak didiknya yang sudah berkeluarga
untuk usaha di rumahnya masing-masing. “Mungkin berkat doa dari
mereka dan ridho dari Allah usaha saya bisa seperti sekarang ini,”
ujarnya.

Hj. Hukmiyati juga mengucapkan banyak terima kasih untuk PT. KS


yang telah membantu berupa modal dan pembinaan untuk kesuksesan
usahanya. Dari usahanya, kini Hj. Hukmiyati telah memiliki rumah
permanen bahkan mampu melaksanakan ibadah haji. Dari usaha
menjahit itu dia pergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
dan membiayai kuliah putrinya. Dari tiga orang putrinya, satu di
antaranya telah menikah sedangkan dua orang putrinya masih kuliah.

Mujiono, Pembina UKM sekaligus surveyor di PKBL PT. KS yang ikut


menemani saat Teras mewawancarai Hj. Hukmiyati berpesan agar
pinjaman PT. KS bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar usaha yang
dikelola lebih berkembang lagi.@ADV

http://www.pancafashion.com 35
MUSIM SUKSES PARA PENJAHIT

Libur panjang telag usai, kini aktivitas kembali sibuk pada kegiatannya
masing-masing, begitu juga bagi para penjahit. Pada musim Tahun
ajaran Baru seperti sekarang ini para penjahit mendapatkan omset
yang lebih banyak/lebih besar pada biasanya.

Contohnya saja konveksi milik pak Loso yang alamatnya di Gunung


Wijil 05/26 Ngringo. Pada biasanya pak Loso melayani pesanan
kemeja dan blouse batik saja yang omsetnya sudah lumayan banyak.
Dengan adanya musim tahun ajaran baru separti sekarang ini pak
Loso mendapat tambahan omset dari permintaan jasa
membuatkan/menjahitkan seragam sekolah bagi para siswa baru dan
ditambah juga banyaknya pesanan seragam batik bagi para guru,
karyawan, pegawai dan sebagainya.

Dari pekerjaan yang menumpuk, permintaan untuk segera


menyelesaikan dan tidak mau mengecewakan para pelanggannya
itulah pak Loso berusaha bekerja semaksimal mungkin dan
seprofesional mungkin. Pak Loso mempunyai 10 karyawan yang
bekerja sesuai dengan keahliaannya masing-masing yang membantu
menyelesaikan pekerjaan tersebut. Karena teerbatasnya waktu dan
permintaan yang terlalu banyak maka pak Loso menggunakan sistem
lembur agar pekerjaan selesai tepat waktu.

Itu hanya salah satu contoh penjahit yang sukses dalam bidangnya,
mungkin diluar sana masih banyak penjahit yang sukses seperti pak
Loso meski hanya pada musim-musim tertentu saja. Tapi gak papa
meskipun hanya indutri rumah tangga, jasa penjahit sangat
dibutuhkan oleh manusia karena sekecil apapun pekerjaan apabila
ditekuni maka pekerjaan itu akan semakin berkembang dan orang
akan menilai itu sebagai profesi kita, Bangga Bukan???

http://www.pancafashion.com 36
KISAH SUKSES PENJAHIT DI BISNIS KONVEKSI

Di sebuah rumah ukuran sedang di salah satu komplek perumahan


tengah kota Tegal. Suara berisik mesin jahit menyambut di sebuah
garasi yang beralih fungsi menjadi bengkel konveksi. Tak kurang dari
sepuluh perempuan sedang sibuk menyelesaikan tugasnya, ada yang
menjahit, ada pula yang mengobras.

Kusnah, adalah pemilik usaha konveksi ini. Memulai usaha di tahun


1992, wanita berperawakan kecil ini dulunya hanyalah seorang
penjahit seperti kebanyakan penjahit, menjahit bila ada order. Namun
dengan ketekunan dan keuletannya, lambat laun ia pun mulai
merambah ke dunia konveksi dengan spesifikasi pakaian wanita.
Waktu itu ia hanya memproduksi pakaian setelah ada pesanan.
Pekerjanya pun hanya berjumlah 4 orang saja.Kemudian, pada tahun
2003 ia menjadi mitra binaan Program Kemitraan PT. PLN (Persero)
Distribusi Jawa Tengah & DIY. Ia mendapat pinjaman berbunga lunak
sebesar Rp 10 juta dari. Bantuan ini kemudian berlanjut di tahun
2006. Kali ini sebesar Rp 15 juta rupiah.

Berkat bantuan tersebut usaha Kusnah pun berkembang pesat. Jika


dahulu ia hanya memiliki 3 mesin jahit saja, kini mesin jahitnya sudah
mencapai 13 buah. Jumlah pekerjanya pun meningkat tajam, dari 4
orang menjadi 11 orang. Tak sampai di situ, lokasi usaha yang dulu
masih berstatus sebagai rumah kontrakan kini telah mampu dibelinya.

Pertambahan alat produksi dan jumlah karyawan ini membuat jumlah


produksinya melambung. Tak kurang dari 500 potong pakaian bisa
dihasilkannya per bulan. Bahkan kini, ia juga mulai mengerjakan
seluruh detail pakaian yang dihasilkan sendiri. “Dulu kalau dapat job
bordir saya limpahkan ke orang, sekarang sudah tidak lagi karena
saya sudah punya mesin bordir sendiri,” tambahnya. Tak pelak, omzet
usahanya kini pun terbilang lumayan, hingga Rp 18 jutaan per bulan.
Soal pemasaran, ia juga tak perlu lagi ambil pusing. Meski tanpa
pesanan, produk buatannya tetap laku keras di pasaran. Tercatat,
Tegal, Jakarta, Semarang, dan Brebes adalah beberapa kota yang kini
menjadi langganan produknya.

Sukses di dunia konveksi tidak lantas membuat Kusnah puas. Ia


memiliki cita-cita untuk membuat toko yang menyediakan segala tetek
bengek jahit-menjahit mulai dari kain, jarum, benang, dan alat-alat
menjahit lainnya. “Kan enak kalau punya toko alat jahit dan kain
sendiri. Ongkos produksi bisa kita pangkas,” ungkapnya optimis.

http://www.pancafashion.com 37
Kisah Sukses
MONICA SUBIAKTO: Katun Membawa
Berkah

Wanita bergelar sarjana ekonomi dari


Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo ini
memulai karir sebagai student banker di
sebuah bank swasta. Lalu pindah menjadi
staf divisi management information system
di perusahaan ritel, lalu store manager dan product development officer di
perusahaan batik ternama, kemudian keluar dan menjadi makelar tanah serta
rumah.

Berkarir selama 14 tahun di beragam profesi itu membuat Monica Subiakto


(40) tak canggung untuk berbisnis sendiri. Makanya begitu berwirausaha, ia
meraih sukses dalam waktu singkat. Kreativitas dan keunikan produknya juga
membuat ia menjadi Pemenang II Lomba Wanita Wirausaha BNI-femina
2009.

Permintaan Si Sulung
“Saya lulus sarjana 3,5 tahun saja. Soalnya, sudah nggak betah kuliah,”
Monica tertawa. Maklum, sejak SMA, ibu dua anak ini sudah senang berjualan
dan tertarik pada fashion. Baju, kaus, bahkan batik, ia beli, lalu dijual kembali
ke teman-temannya. Sayang, orangtua tak mendukung minatnya. Mereka ingin
Monica menjadi apoteker, mendampingi kakaknya yang dokter. Tetapi, melalui
program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), Monica akhirnya
diterima di Fakultas Ekonomi tanpa tes.

Lulus dari Jurusan Manajemen, Monica memilih profesi yang dekat dengan
minatnya, fashion. Ia bekerja 5 tahun di Matahari Department Store,
disambung 7 tahun di Batik Danar Hadi. Setelah itu, Monica merasa
pengalamannya sebagai karyawan sudah cukup. “Saya banting setir jadi
pengusaha. Saya join kakak membangun restoran. Bisnis ini cukup sukses,
tetapi entah mengapa, lama-kelamaan saya kehilangan minat,” Monica
berterus-terang.

Dengan bakat marketing-nya, Monica mencoba menjadi broker rumah dan


tanah. Diakui, komisi yang ia peroleh cukup besar, tetapi suaminya, Subiakto,
keberatan. Maklum, jam kerjanya tak teratur. Ia kerap harus memenuhi janji

http://www.pancafashion.com 38
bertemu dengan calon pembeli di malam hari. “Klien saya kebanyakan memang
bapak-bapak,” ujarnya.

Di saat sibuk menjadi broker itulah, tiba-tiba putri sulungnya, Amanda (14),
meminta Monica untuk membuatkan bisnis untuknya. Amanda, meski baru
duduk di bangku SMP saat itu, sudah bertekad jika dewasa nanti tak ingin
kerja ‘ikut orang’. “Mungkin ia tidak nyaman melihat bapak-ibunya kerja pergi
pagi, pulang malam,” jelas Monica.

Monica tertantang untuk memenuhi permintaan lugu anaknya itu. Bukan hanya
karena rasa sayang, tetapi juga karena sejak kelas 3 SD, Amanda memang
sudah hobi berjualan pernak-pernik. Stiker, aksesori rambut, dan peralatan
sekolah dibeli Amanda secara grosir, lalu dijual ke teman-temannya. “Tetapi,
ia lebih lihai dari saya. Kalau sudah tidak ada yang mau membeli, ia bisa, lho,
merayu teman-temannya untuk tetap membeli dengan alasan untuk
dihadiahkan ke adik atau teman satu kelas yang ditaksir.”

Inspirasi Laura Ashley


Dalam memulai usaha baru itu, Monica tak mau jor-joran mengeluarkan uang.
Monica khawatir, Amanda nantinya malah bosan dengan bisnis tersebut, dan
akhirnya ditinggalkan. Monica sengaja meminjam uang dari kakak dan asisten
rumah tangganya. Jumlah totalnya Rp 3 juta. “Pinjam uang dari Si Mbak
adalah tantangan buat saya. Saya ingin membuktikan, saya bisa berhasil. Janji
saya, uang kembali dalam seminggu,” tekadnya.

Untuk mengembangkan uang tersebut, Monica memakai cara lama: ia membeli


barang-barang fashion dari rekannya yang baru kembali dari Bangkok, lalu
dijual lagi ke teman-teman di lingkungan tempat tinggal. Tak disangka, Rp 3
juta itu ‘berubah’ menjadi Rp 6 juta dalam sekejap. Monica menepati janjinya
mengembalikan uang itu.
Setelah meraih Rp 3 juta, Monica berpikir, meski pemula, bisnis ini harus
dijalankan dengan serius. Ia butuh tambahan modal. Modal sebesar Rp 9,5
juta akhirnya didapat dari sebuah bank asing. “Selama 3 tahun, pinjaman itu
harus dicicil sebesar Rp 425.000 per bulan. Tanggung jawab untuk membayar
cicilan, saya serahkan kepada Amanda. Artinya, baik saya maupun ia, tak
boleh main-main dalam bisnis ini.”
Pilihan bisnis akhirnya jatuh pada busana wanita dari bahan katun. Ia
memanfaatkan kain katun produk lokal yang melimpah, dipadu katun impor
dari Jepang, Korea, dan India. Mengapa katun? Menurut Monica, kain ini

http://www.pancafashion.com 39
cocok dipakai di Indonesia yang berhawa tropis. Harganya cukup terjangkau
untuk kalangan menengah ke atas, yakni Rp 175.000-700.000.

Kalau umumnya orang hanya memakai baju dengan satu jenis motif, baik itu
bunga, polkadot, atau garis, Monica bereksperimen dengan memadu-padankan
berbagai motif tersebut. Termasuk, tabrak warna dalam satu helai pakaian.
“Saya teringat baju Amanda sewaktu masih balita. Mereknya Oilily, produk
Belanda. Bajunya manis dengan motif bunga ‘tabrak lari’. Bahkan, 4 motif
dengan warna-warna berani dipadu jadi satu. Tapi, kok, tetap lucu.”

Warna-warna jreng ini kemudian diubah oleh Monica menjadi lebih kalem.
Inspirasinya datang dari Laura Ashley, pendiri sekaligus merek fashion dan
interior ternama asal Inggris yang mengawali bisnisnya dari kain perca.
Menurut Monica, warna-warna lembut seperti dusty pink, mint green,
mustard yellow belum terlalu banyak dipakai di Indonesia. “Setahu saya,
desainer Indonesia yang senang memakai warna itu hanya Biyan dan Ronald
V. Gaghana.”
Tantangan baru pun menghadang. Warna-warna yang diinginkan ada, tetapi
jumlahnya tak banyak. Untunglah, motif ‘tabrak lari’ yang diusung Monica
memang tak membutuhkan terlalu banyak kain. Dari modal Rp 12 juta, Monica
berhasil membuat lebih dari 50 pasang pakaian, yang dikerjakan oleh penjahit
terampil. Merek Romantic Cotton pun lahir pada Juli 2008.

Lama bergelut di dunia fashion, Monica


tahu benar pentingnya branding. Dengan
modal terbatas, ia mencetak katalog dan
paperbag bertuliskan Romantic Cotton.
Koleksinya itu pertama kali digelar di bazar
yang diadakan di sekolah Amanda.
“Macam-macam komentar mereka. Ada
yang bilang, ‘Ini kan baju tidur,’ ada yang
bilang, ‘Kok, mahal? Kainnya kan murah?’.
Tapi banyak juga yang suka,” cerita Monica.
Toh, jualannya laris. Bazar kedua yang ia ikuti berlangsung di lingkungan
tempat tinggalnya sendiri. Koleksinya habis terjual. Pesanan pun mengalir
lewat promosi dari mulut ke mulut.

Kesuksesan dari hasil jualan kecil-kecilan ini membuat Monica dan Amanda
makin pede. Seluruh uang hasil penjualan digunakan untuk membuat koleksi
baru. Rumah yang tadinya rapi di kawasan Kemang Pratama pun berantakan

http://www.pancafashion.com 40
karena kain-kain itu disebar Monica di ruang tamunya untuk menemukan padu
padan yang pas.

Kali ini Monica bertekad menembus event yang lebih besar, yaitu pameran
Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC), April 2009. Tak disangka,
pengunjung memadati stan mungilnya. “Stannya sampai hampir roboh,” kata
Monica, yang waktu itu dibantu Amanda dan 2 orang asisten. Tak hanya
mendatangkan omzet Rp 150 juta, di acara itu koleksinya juga meraih
penghargaan sebagai produk pilihan editor femina.

Backpack Salah Warna

Namun, jalan menuju sukses tak selalu mulus. Monica pernah menimbun
puluhan backpack akibat penjahit salah memberi warna pada ritsleting dan
talinya. “Bajunya warna kalem, tapi dikasih ritsleting warna hitam. Akhirnya
saya kirim semua ke panti asuhan,” jelas Monica, yang rutin memberikan
pakaian koleksinya ke panti asuhan.

Monica mengakui, kerja samanya dengan penjahit didasarkan pada


kepercayaan. Maklum, penjahitnya tersebar di Jakarta, Solo, Yogyakarta,
hingga Bali. Untuk membuat sehelai pakaian, ia hanya mengirimkan gambar
desain dan ukuran. “Yang bisa saya awasi langsung adalah penjahit di
Jakarta.”
Masalah datang lagi ketika suatu hari Monica menerima tumpukan perca di
rumahnya. Perca itu kiriman penjahitnya dari luar kota. Jumlahnya banyak,
tapi dengan ukuran yang kecil, sekitar 10x20 cm, bahkan 3x2 cm. “Mau
dibuang, sayang, kainnya cantik. Akhirnya saya keliling lagi cari orang yang
bisa bikin aksesori, seperti kalung, cincin, bando, jepit, bros, dompet, tas,
hingga taplak meja dari kain perca.” Ternyata, peminatnya banyak sekali.
Pembeli yang batal membeli baju karena tak ada ukuran, beralih membeli
aksesori.
Setelah meraih sukses dalam waktu singkat, apa lagi yang ia cita-citakan?
Sepulang dari ibadah haji beberapa bulan lalu, Monica terpikir untuk
membuat koleksi busana dan perlengkapan muslim. “Tetapi, perlahan-lahan
saja, saya tak mau gegabah. Seperti cara saya mengembangkan Romantic
Cotton. Dari bikin 4 potong per desain, meningkat jadi satu lusin, kemudian
dua lusin, dan seterusnya.” Tahun ini pula ia berniat membangun butik, agar
koleksinya lebih dikenal dan menjangkau masyarakat luas. (HER)

http://www.pancafashion.com 41
Kebaya: Seksi & Padat Laba

Kebaya itu busana ajaib. Apa pun acaranya,


kebaya bisa menjadi andalan untuk tampil
ayu. Kebaya juga tak kenal bentuk tubuh.
Wanita yang kurus jadi tampak padat
berisi, yang gemuk terlihat singset. Kebaya
membuat pemakainya terlihat seksi.
Apalagi, kini kebaya tampil lebih muda
dengan model makin keren dan aplikasi makin gaya. Ujung-ujungnya,
kesempatan untuk berbisnis kebaya pun terbuka makin lebar. Ini pula yang
dimanfaatkan Ariana Ambarwati (39) untuk mendirikan Rumah Kebaya
Attana, di Bogor.

“Kalau pesanan sedang banyak, saya sampai mengerahkan ibu mertua dan adik
ipar untuk membantu memasang payet,” tutur Ambar. Dalam sebulan rata-
rata ia menerima 70 pesanan kebaya. Saat peak season seperti Idul Fitri dan
juga sesudah Idul Adha -'bulan baik' untuk menikah- pesanan bahkan bisa
lebih dari 100 potong. Pernah, saking membludaknya pesanan, di malam
takbiran ia masih mengesum.

Saat ini, untuk satu potong kebaya ia memasang harga Rp 150.000–350.000


dan bustier Rp 150.000. Untuk payet, harganya bervariasi. “Jika payetnya
sedikit, misalnya hanya di kerah, harganya hanya Rp 50.000. Tetapi, jika
memakai ratusan payet dan batu-batuan, harganya bisa mencapai Rp 2 juta."
Harga ini termasuk murah dibandingkan Jakarta. Di Bogor, jika mematok
harga terlalu tinggi, sulit menjaring konsumen.

Bisnis yang Personal


Kebaya akan membuat pemakainya tampak memesona jika jatuhnya pas di
badan. Karena itu, Ambar selalu bertanya kepada pelanggan, apakah mereka
mudah gemuk. Jika jawabannya ‘ya’, ia akan mengantisipasi dengan ‘menyimpan’
bahan lebih di dalam lipatan jahitan. Selain itu, ia menilai, karena ini adalah
bisnis jasa, ia harus ekstra sabar dalam menghadapi pelanggan.

Seringkali klien datang memesan kebaya, tetapi tak tahu ingin model seperti
apa. Mereka hanya bilang, “Pokoknya, yang bagus di badan dan enak dilihat.”
Untuk itu, Ambar mencari gambar di majalah atau membuat sketsa, sampai
klien benar-benar merasa sreg dengan modelnya.

http://www.pancafashion.com 42
Meski sudah sangat akrab dengan pelanggan, Ambar tetap mengenakan uang
muka, paling tidak 30% dari total harga. Demi kepuasan pelanggan, Ambar tak
pernah menggunakan payet buatan lokal. Bukannya sok mau luar negeri, tetapi
karena kualitas produksi lokal masih belum bagus. Selain bentuk manik-
maniknya sering tidak ‘seragam’, manik-manik itu cenderung mudah pecah dan
warnanya mudah luntur. Bahkan, kalau kena lembap bisa berjamur. Karena itu,
payet buatan Jepang, Taiwan, dan Korea menjadi pilihan Ambar. Harganya
bervariasi, antara Rp 300.000-360.000 per kg. Untuk mempercantik kebaya,
Ambar juga menaburkan batu-batu swarovski dari Italia yang harganya
antara Rp 3.000–5.000 per butir. Satu kebaya bisa menggunakan ratusan
swarovski.

Berawal dari Krismon


Krisis moneter yang melanda lebih dari 10 tahun lalu, membuat Ambar
kehilangan pekerjaannya di sebuah bank. Tak punya banyak kegiatan, ia lalu
berpikir untuk mengikuti kursus menjahit, karena memang suka. Tahun 2000,
ia memberanikan diri menerima pesanan teman-teman. Ia mengamati,
permintaan kebaya cukup banyak. ”Saat itu di Bogor tidak banyak penjahit
yang mengkhususkan diri pada kebaya," kata Ambar, yang dulu bermodal satu
mesin jahit dan satu mesin obras secondhand.

Karena pesanan makin banyak, Ambar meminjam rumah ibu mertuanya selama
2 tahun. Tahun 2006 Ambar menyewa ruko lebih besar di Taman Yasmin yang
sangat strategis. Di situ workshop dan ruang display menjadi satu. Ia juga
mengajak adik iparnya, Athanasia Dewi (33), bergabung. Mereka lalu berbagi
pekerjaan: Athanasia mendesain, dan Ambar di bagian produksi.
Untuk menggaet pelanggan baru, Ambar rajin ikut pameran. “Tak hanya
pameran besar, pameran di masjid pun tak ketinggalan. Kami tidak mengejar
omzet. Yang penting orang tahu usaha kami. Kami juga bekerja sama dengan
toko bahan dan jasa rias pengantin,” cerita Ambar, yang modalnya kembali
setelah satu tahun membuka bisnis ini.

Tips dari Ambar:


1. Untuk menghindari salah memotong bahan, sebaiknya Anda sendiri yang
memotong, jangan diserahkan kepada pegawai
2. Karena juga berperan sebagai konsultan, perkaya diri dengan
mempelajari tren dari majalah dan buku
3. Mengikuti lomba bisa membuat usaha makin dikenal.

http://www.pancafashion.com 43