Anda di halaman 1dari 21

ASKEP

HERNIA NUCLEUS PULSOSUS


(HNP)

Kelompok 4:
Egiyatri
Fajri Febrini Aulia
Pegi Eka Pratama
Sarah Dian Rani

DOSEN PEMBIMBING :
Ns. Reki Afrino, S.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
FORT DE KOCK BUKITTINGGI
TAHUN AJARAN 2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan inayah-Nya
Penulis telah dapat menyelesaikan Makalah ini meski secara sederhana. Semoga Allah SWT
senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Makalah ini Penulis susun untuk memenuhi tugas mata kuliah system respirasi. Dalam
penyusunannya Penulis menemui berbagai rintangan. Namun Allah SWT sangat memperhatikan
hambanya yang mau berusaha dan berdo’a. Sehingga dengan adanya bantuan dari berbagai pihak
Makalah ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini,tak lupa Penulis ucapkan Terima Kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penulisan Makalah ini. Semoga bantuan dan partisipasi dari berbagai
pihak dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda. Penulis berharap Makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Bukittinggi, 18 Oktober 2014

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diskus intervertebral dibentuk oleh dua komponen yaitu; nukleus pulposus yang
terdiri dari serabut halus dan longgar, berisi sel-sel fibroblast dan dibentuk oleh anulus
fibrosus yang mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri dari jaringan pengikat yang
kuat.
Nyeri tulang belakang dapat dilihat pada hernia diskus intervertebral pada daerah
lumbosakral, hal ini biasa ditemukan dalam praktek neurologi. Hal ini biasa berhubungan
dengan beberapa luka pada tulang belakang atau oleh tekanan yang berlebihan, biasanya
disebabkan oleh karena mengangkat beban/ mengangkat tekanan yang berlebihan (berat).
Hernia diskus lebih banyak terjadi pada daerah lumbosakral, juga dapat terjadi pada
daerah servikal dan thorakal tapi kasusnya jarang terjadi. HNP sangat jarang terjadi pada
anak-anak dan remaja, tetapi terjadi dengan umur setelah 20 tahun.
Menjebolnya (hernia) nucleus pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau di
bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis vertbralis. Menjebolnya sebagian dari
nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat dilihat dari foto roentgen polos dan
dikenal sebagai nodus Schmorl. Robekan sirkumferensial dan radikal pada nucleus
fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan terbentuknya nodus schomorl merupakan
kelainan mendasari “low back pain” sub kronik atau kronik yang kemudian disusun oleh
nyeri sepanjang tungkai yang dikenal sebagai khokalgia atau siatika.
HNP sering terjadi pada daerah L4-L5 dan L5 –S1 kemudian pada C5-C6 dan
paling jarang terjadi pada daerah torakal, sangat jarang terjadi pada anak-anak dan remaja
tapi kejadiannya meningkat dengan umur setelah 20 tahun. Insiden terbanyak adalah pada
kasus Hernia Lumbo Sakral lebih dari 90 %, dan diikuti oleh kasus Hernia Servikal 5-10
%.
B. Rumusan Masalah
1. Untuk mengetahui Definisi Hernia Nukleus Pulposus
2. Untuk mengetahui Etiologi dari Hernia Nukleus Pulposus
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis Hernia Nukleus Pulposus
4. Untuk mengetahui Klasifikasi Hernia Nukleus Pulposus
5. Untuk mengetahui komplikasi Hernia Nukleus Pulposus
6. Untuk mengetahui patofisiologi Hernia Nukleus Pulposus
7. Untuk mengetahui pencegahan Hernia Nukleus Pulposus
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari Hernia Nukleus Pulposus

C. Tujuan
1. Bagi penulis, makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendalami
pemahaman tentang konsep penyakit yang disebabkan oleh HNP.
2. Bagi pembaca, khususnya mahasiswa keperawatan dapat mengerti tentang konsep
penyakit yang disebabkan oleh HNP yang sesuai dengan standart kesehatan demi
meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai
referensi untuk penelitian yang lebih lanjut.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Hernia Nukleus Pulposus

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah menjebolnya nucleus pulposus ke dalam


kanalis vertebralis akibat degenerasi annulus fibrosus korpus vertebralis. HNP
mempunyai banyak sinonim antara lain Herniasi Diskus Intervertebralis, ruptured disc,
slipped disc, prolapsus disc dan sebagainya.

HNP sering menyebabkan nyeri punggung bawah (Low Back Pain). Nyeri
punggung bawah atau LBP adalah nyeri yang terbatas pada region lumbar, tetapi
gejalanya lebih merata dan tidak hanya terbatas pada satu radiks saraf, namun secara luas
berasal dari diskus intervertebralis lumbal.

Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah


bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam
satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP
merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga
langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990).

B. Etiologi
HNP terjadi karena proses degenratif diskus intervetebralis. Keadaan patologis
dari melemahnya annulus merupakan kondisi yang diperlukan untuk terjadinya herniasi.
Banyak kasus bersangkutan dengan trauma sepele yang timbul dari tekanan yang
berulang. Tetesan annulus atau titik lemah tidak ditemukan akibat dari tekanan normal
yang berulang dari aktivitas biasa atau dari aktivitas fisik yang berat.

a. Trauma, hiperfleksia, injuri pada vertebra.


b. Spinal stenosis.
c. Ketidakstabilan vertebra karena salah posisi, mengangkat, dll.
d. Pembentukan osteophyte.
e. Degenerasi dan degidrasi dari kandungan tulang rawan annulus dan nucleus
mengakibatkan berkurangnya elastisitas sehingga mengakibatkan herniasi dari
nucleus hingga annulus.

C. Manifestasi Klinis
Biasanya keluhan dan gejala herniasi discus intervertebralis tergantung kepada
materi discus yang menonjol keluar atau mengalami herniasi. Herniasi vertebra lumbalis
biasanya menyebabkan nyeri punggung bawah dengan atau tanpa disertai skiatika atau
mungkin hanya berupa nyeri punggung bawah yang bersifat kronis dengan skiatika
dimana nyeri menjalar mulai dari punggung bawah ke bokong sampai ke tungkai bawah.
Gejala klinis yang dapat ditemukan :
1. Nyeri punggung bawah yang hebat, mendadak, menetap beberapa jam sampai
beberapa minggu secara perlahan-lahan.
2. Skiatika berupa rasa nyeri hebat pada satu atau dua tungkai sesuai dengan
distribusiakar saraf dan menjadi hebat bila batuk, bersin atau membungkuk.
3. Parestesia yang hebat dapat disertai dengan skiatika sesuai dengan distribusi saraf
dan mungkin terjadi sesudah gejala nyeri saraf menurun.
4. Deformitas berupa hilangnya lordosis lumbal atau skoliosis oleh karena spasme
otot lumbal yang hebat.
5. Mobilitas gerakan tulang berkurang. Pada stadium akut gerakan pada bagian
lumbal sangat terbatas, kemudian muncul nyeri pada saat ekstensi tulang
belakang.
6. Nyeri tekan pada daerah herniasi dan pada daerah paravertebral atau bokong.
7. Uji menurut Lasque-leg Raising (SLR). Tes ini akan menunjukkan derajat
terbatasnya dan besarnya tekanan pada akar saraf.
8. Tes tegangan saraf femoral. Pada herniasi diskus vertebra L-3/4, fleksi pada sendi
lutut secara pasif dalam posisi telungkup akan menyebabkan nyeri pada paha
bagian depan.
9. Gejala neurologis pada tungkai, berupa kelemahan otot, perubahan refleks dan
perubahan sensoris yang mengenai akar saraf.
D. Klasifikasi
1. Hernia Lumbosacralis

Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya oleh kejadian luka


posisi fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada pasien non trauma adalah
kejadian yang berulang. Proses penyusutan nukleus pulposus pada ligamentum
longitudinal posterior dan annulus fibrosus dapat diam di tempat atau
ditunjukkan/dimanifestasikan dengan ringan, penyakit lumbal yang sering kambuh.

Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan nucleus pulposus prolaps,


mendorong ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus posterior. Pada kasus berat
penyakit sendi, nucleus menonjol keluar sampai anulus atau menjadi “extruded” dan
melintang sebagai potongan bebas pada canalis vertebralis. Lebih sering, fragmen
dari nucleus pulposus menonjol sampai pada celah anulus, biasanya pada satu sisi
atau lainnya (kadang-kadang ditengah), dimana mereka mengenai menimpa sebuah
serabut atau beberapa serabut syaraf. Tonjolan yang besar dapat menekan serabut-
serabut saraf melawan apophysis artikuler.

2. Hernia Servikalis
Keluhan utama nyeri radikuler pleksus servikobrakhialis. Penggerakan
kolumma vertebralis servikal menjadi terbatas, sedang kurvatural yang normal
menghilang. Otot-otot leher spastik, kaku kuduk, refleks biseps yang menurun atau
menghilang Hernia ini melibatkan sendi antara tulang belakang dari C5 dan C6 dan
diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini menonjol keluar posterolateral
mengakibatkan tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini menghasilkan nyeri radikal yang
mana selalu diawali gejala-gejala dan mengacu pada kerusakan kulit.

3. Hernia Thorakalis
Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris tengah hernia. Gejala-
gejalannya terdiri dari nyeri radikal pada tingkat lesi yang parastesis. Hernia dapat
menyebabkan melemahnya anggota tubuh bagian bawah, membuat kejang paraparese
kadang-kadang serangannya mendadak dengan paraparese.
Penonjolan pada sendi intervertebral toracal masih jarang terjadi (menurut
love dan schorm 0,5 % dari semua operasi menunjukkan penonjolan sendi). Pada
empat thoracal paling bawah atau tempat yang paling sering mengalami trauma jatuh
dengan posisi tumit atau bokong adalah faktor penyebab yang paling utam

E. Komplikasi

1. kelumpuhan pada ekstremitas bawah

2. cedera medula spinalis

3. radiklitis (iritasi akar saraf)

4. parestese

5. disfungsi seksual

6. hilangnya fungsi pengosongan VU dan sisa pencernaan.

F. Patofisiologi

Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan


degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam
diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang
menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma jatuh,
kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.

Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan
gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan
maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah
medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong
terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.

Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus


menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam
bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat
herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada
tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di
garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.

Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami


lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.

Faktor resiko timbulnya HNP :

a) Faktor resiko yang tidak dapat diubah :

1. Umur

2. Jenis kelamin

3. Riwayat cedera punggung atau HNP sebelumnya

b) Faktor resiko yang dapat diubah :

1. Pekerjaan dan aktivitas

2. Olah raga yang tidak teratur

3. Berat badan berlebihan

4. Batuk lama dan berulang

G. Pencegahan

Tentunya menghindari gaya hidup dan faktor-faktor penyebab HNP yang telah
disebutkan sebelumnya. Selain itu, kita pun harus mengontrol berat badan sehingga
tekanan pada tulang belakang tidak berat dan sikap tubuh yang benar. Kadang
penggunaan korset untuk dapat menopang tulang belakang dan mencegah kerusakan saraf
pada orang yang sering mengangkat beban yang berat. Bekerja atau melakukan aktifitas
dengan aman, menggunakan teknik yang aman. Mencegah trauma punggung atau
pinggang pada beberapa orang.

Setelah sekitar 2 minggu, kebanyakan orang sembuh tanpa pengobatan apapun.


Memberikan kompres dingin (seperti ice pack) untuk nyeri yang akut dan panas (seperti
heating pad) untuk nyeri yang kronik. Dapat pula menggunakan analgesik OTC bisa
membantu meringankan nyeri tersebut. kadangkala operasi untuk mengangkat bagian
atau seluruh piringan dan bagian tulang belakang diperlukan. Pada 10 % sampai 20%
orang yang mengalami operasi untuk sciatica disebabkan piringan hernia, piringan lain
pecah.

Penatalaksanaan pada klien dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah :

1. Pemberian obat-obatan seperti analgetik, sedatif (untuk mengontrol kecemasan yang


sering ditimbulkan oleh penyakit diskus vertebra servikal), relaksan otot, anti
inlamasi atau kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi yang biasanya terjadi
pada jaringan penyokong dan radiks saraf yang terkena, antibiotik diberikan pasca
operasi untuk mengurangi resiko infeksi pada insisi pembedahan .
2. Prosedur pembedahan.
a. Laminektomi, adalah eksisi pembedahan untuk mengangkat lamina dan
memungkinkan ahli bedah spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat
patologi dan menghilangkan kompresi medulla dan radiks, laminektomi
juga berarti eksisi vertebra posterior dan umumnya dilakukan untuk
menghilangkan tekanan atau nyeri akibat HNP.
b. Disektomi, adalah mengangkat fragmen herniasi atau keluar dari diskus
intervertebral.
c. Laminotomi, adalah pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan- graft tulang (dari krista iliaka atau bank
tulang) yang digunakan untuk menyatukan dengan prosesus spinosus
vertebra ; tujuan peleburan spinal adalah untuk menjembatani diskus
defektif untuk menstabilkan tulang belakang dan mengurangi angka
kekambuhan.
e. Traksi lumbal yang bersifat intermitten.
f. Interbody Fusion (IF) merupakan penanaman rangka Titanium yang
berguna untuk mempertahankan dan mengembalikan tulang ke posisi
semula.
3. Fisioterapi
a. Immobilisasi
Immobilisasi dengan menggunakan traksi dan brace. Hal ini dilakukan agar
tidak terjadi pergerakan vertebra yang akan memperparah HNP.
b. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada
katrol dan beban. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan vertebra
servikalis.
c. Meredakan Nyeri
Kompres hangat dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri. Kompres hangat
menimbulkan vasodilatasi sehingga tidak terjadi kekakuan pada daerah
vertebra.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan Hernia Nukleolus Pulposus menurut Marillyn E.
Doenges, 2001 adalah :
1. Aktivitas/ istirahat
Klien mempunyai riwayat pekerjaa yang perlu mengangkat benda berat,
dudukmengemudi dalam waktu lama. Membutuhkan papan atau metras keras saat
tidur, penurunan rentang gerak dari ektremitas pada salah satu bagian tubuh.
Tidak mampu mekukan aktivitas yang biasanya dilakukan. Atrofi otot pada
bagian tubuh yang terkena dan gangguan dalam berjalan.
2. Eleminasi
Konstipasi, mengalami kasakitan dalam defekasi, adanya inkontinensia/
retensi urine.
3. Neurosensori
Kesemutan, kekakuan, kelemahan tangan dan kaki, penurunan refleks
tendon dalam, kkelemahan otot, hipotonia, nyeri tekan,/ spasme otot
paravertebralis dan penurunan persepsi nyeri.
4. Nyeri/ ketidaknyamanan
Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya
batuk, bersin, membungkukkan badan, mengangkat, defekasi, mengangkat kaki,
atau fleksi pada leher. Nyeri yang tidak ada hentinya atau adanya episode nyeri
yang lebih berat secara intermitten, nyeri yang menjalar ke kaki, bokong ( lumbal
) atau bahu/ lengan, kaku pada leher ( servical ).
Terdengar adanya suara “krek” saat nyeri bahu timbul/ saat trauma atau
merasa “punggung patah”, keterbatasan untuk mobilisasi/ membungkuk ke depan.
Sikap : dengan cara bersandar pada bagian tubuh yang terkena. Perubahan cara
berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang. Pinggang terangkat pada bagian
tubuh yang terkena.
5. Keamanan
Adanya riwayat masalah “punggung” yang baru saja terjadi.
6. Pembelajaran
Gaya hidup monoton atau hiperaktif.
Rencana pemulangan : mungkin memerlukan bantuan dalam transportasi,
perawatan diri dan menyelesaikan tugas-tugas rumah.

B. Pemeriksaan penunjang
1. Foto Ronsen spinal : memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang
belakang/ ruang intervertebralis atau mengesampingkan kecurigaan petologis lain
seperti tumor, osteomielitis.
2. Elektromielografi : dapat melokalisasi lesi pada yingkat akar saraf spinal utama
yang terkena
3. Venogram epidural : dapat dilakukan pada kasus dimana keakuratan dari Miografi
terbatas.
4. Fungsi lumbal : mengesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi, adanya
darah.
5. Tanda Le Seque (tes dengan mengangkat klaki lurus ke depan ) mendukung
diagnosa awal dari herniasi Diskus Intervertebralis ketika muncul nyeri pada kaki
posterior.
6. CT Scan : dapat menunjukkan kanal spinal yamg mengecil, adanya potensi Discus
Intervertebralis.
7. MRI : pemeriksaan non inpasif yang dapat menunjukkan adanya perubahan tulang
dan jaringan dan dapat memperkuat bukti adanya Herniasi Discus.
8. Mielogram : mungkin normal atau memperlihatkan “penyempitan” dari ruang
discus menentukan lokasi dan ukuran Herniasi secara spesifik.

C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada Hernia Nukleolus Pulposus adalah :
1. Nyeri akut/ kronis yang dapat dihubungkan dengan agen pencedera fisik,
kompresi saraf, cedera otot.
2. Kerusakan mobilitas fisik yang dapat dihubungkan dengan nyeri dan
ketidaknyamanan, spasme otot, terapi restriktif misalnya : tirah baring, traksi,
kerusakan neurovaskuler.
3. Anxietas/ koping, individual, takefektif yang dapat dihubungkan dengan situasi
krisis, ststus sosioekonomik, peran fungsi gangguan berulang dengan nyeri terus
menerus , ketidak adekuatan relaksasi, latihan sedikit atau tidak sama sekali,
ketidak adekuatan metode koping.
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan tindakan yang dapat
dihubungkan dengan keselahan informasi, keselahan interpretasi, informasi
kurang mengingat, tidak mengenal sumber-sumber informasi.

D. Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan ditemukan dilanjutkan dengan penyusunan rencana
untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas dagnosa keperawatan, penetapan
tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut :
1. Nyeri akut/ kronis yang dapat dihubungkan dengan agen pencedera fisik,
kompresi saraf, spasme otot
Tujuan : Nyeri akut/ kronis hilang/ berkurang
Kriteria hasil :
a). Klien tampak rileks dan melaporkan nyeri hilang/ berkurang
b). Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan.
c). Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik ( mis :
keterampilan relaksasi modifikasi prilaku ) untuk menghilankan nyeri.

Intervensi keperawatan :
a). Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lama serangan, faktor
pencetus/ yang memperberat. Minta pasien untuk menetapkan
pada skala 0 – 10
b). Mempertahan tirah baring selama fase akut. Letakkan pasien pada
posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggan dan lutut dalam
keadaan fleksi; posisi terlentang dengan atau tanpa meninggikan
kepala 10º - 30º atau pada posisi lateral.
c). Gunakan logroll ( papan ) selama melakukan perubahan posisi.
d). Bantu pemasangan brace/ Korset.
e). Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan.
f). Letakkan semua kebutuhan, termasuk bel panggil dalam batas yang
mudah dijangkau oleh pasien.
g). Instruksikan pasien untuk melakukan tehnik relaksasi/ visualisasi
h). Instruksikan untuk melkukan mekanika tubuh/ gerakan yang tepat.
i). Berikan kesempatan untuk berbicara/ mendengarkan masalah pasien.

Intervensi kolaborasi :
a). Berikan tempat tidur ortopedik/ letakkan papan di bawah kasur/
matras.
b). Berikan obat sesuai dengan kebutuhan.
c). Pasang penyokong fisik seperti Brace lumbal, Kolar servikal.
d). Pertahankan traksi jika diperlukan.
e). Konsultasikan dengan ahli terapi fisik.
f). Berikan instruksi tertentu pada pasca prosedur Mielografi jika perlu
seperti : jaga jangan sampai aliran terlalu cepat, posisi tidur datar atau
ditinggikan 30º sesuai indikasi selama beberapa jam.
g). Bantu untuk persiapan pemasangan TENS.
h). Rujuk ke klinik nyeri

2. Kerusakan mobilitas fisik yang dapat dihubungkan dengan nyeri dan


ketidaknyamanan, spasme otot terapi restriktif misalnya : tirah baring, trajsi,
kerusakan neurovaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Kriteria evaluasi :
a). Klien mengungkapkan pemahaman tentang situasi/ faktor risiko dan
aturan pengobatan individual.
b). Mendemonstrasikan tehnik prilaku yang mungkin
c). Mempetahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh
yang sakit dan atau kompensasi.

Intervensi mandiri :
a). Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi yang
spesifik.
b). Catat respon emosi/ prilaku pada imobilisasi. Berikan aktivitas yang
sesuai dengan pasien.
c). Ikuti aktivitas/ prosedur dengan metode istirahat. Anjurkan pasien
untuk tetap ikutberperan serta dalam aktivitas sehari-hari dalam
keterbatasan individu.
d). Bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak aktif atau pasif.
e). Anjurkan pasien untuk melatih kaki bagian bawah/ lutut. Nilai adanya
edema, erytema pada ekstremitas bawah.
f). Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif.
g). Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti alat bantu jalan,
tongkat.
h). Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan
setelahsetiap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit di bawah Brace,
dengan periode waktu tertentu.

Intervensi Kolaborasi :
a). Berikan obat menghilangkan nyeri kira-kira 30 menit sebelum
memindahkan/ melukukan ambulasi pasien.
b). Pakaikan stokoing anti emboli

3. Anxietas/ koping, individual, takefektif yang dapat dihubungkan dengan krisis


situasi, status sosioekonomi, peran fungsi. Gangguan berulang dengan situasi
nyeri terus menerus, ketidak adekuatan relaksasi, latihan sedikit atau tidak sama
sekali, ketidak adekuatan metode koping.
Tujuan : Cemas/ anxietas hilang/ berkurang.
Kriteria evaluasi :
a). Klien tampak rileks dan melaporkan anxietas berkurang pada tingkat
dapat diatasi.
b). Mengidentifikasi ketidak efektifan prilaku koping dan
konsekuensinya.
c). Mengkaji situasi terbaru dengan akurat.
d). Mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalah.
e). Mengembangkan remcana untuk perubahan gaya hidup yang perlu.

Intevensi mandiri :
a). Kaji tingkat anxietas pasien.
b). Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur.
c). Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan masalah
yang dihadapinya seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap
fungsi seksual, perubahan dalam pekerjaan/ finansial, perubahan peran
dan tanggung jawab.
d). Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan
untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
e). Catat prilaku dari orang terdekat/ keluarga yang meningkatkan “peran
sakit” pasien.

Intervensi Kolaborasi :
Rujuk pada kelompok penyokong yang ada, pelayanan sosial, konselor
pinansial/ konselor kerja, psikoterapi dan sebagainya.
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan tindakan yang dapat
dihubungkan dengan kesalahan informasi, kesalahan interpretasi, informasi
kurang mengingat, tidak mengenal sumber-sumber informasi.
Tujuan : Klien mengetahui, mengerti, tentang kondisi, prognosis dan tindakan
yang akan dilakukan.
Kriteria evaluasi :
a). Klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis
dan tindakan.
b). Melakukan kembali perubahan gaya hidup.
c). Berpartisipasi dalam aturan tindakan.

Intervensi mandiri :
a). Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis serta pembatasan
kegiatan seperti hindari mengemudikan kendaraan dalam periode
waktu yang lama.
b). Berikan informasi tentang berbagai hal serta instruksikan pasien untuk
melakukan perubahan “dinamika tubuih” tanpa bantuan dan juga
melakukan latihan termasuk informasi mengenai mekanika tubuh
sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu
penyokong.
c). Diskusikan mengenai pengobatan dan beberapa efek sampingnya.
d). Anjurkan untuk menggunakan papan/ matras yang keras. Bantal kecil
yang agak datar di bawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan
hindari posisi terlungkup.
e). Diskusikan mengenai kebutuhan diet.
f). Hindari pemakaian pemanas dalm waktu yang lama.
g). Lihat kembali pemakaian kolar leher yang lunak.
h). Anjurkan untuk melakukan evaluasi medis secara teratur.
i). Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu untuk dilaporkan
pada evaluasi berikutnya seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi/
kemampuan untuk berjalan.
j). Kaji kemungkina untuk melakukan penanganan alternatif seperti
Kemonukleolisis, intevensi pembedahan.
E. Impelentasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan mandiri dasar berdasarkan ilmiah., masuk akal
dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang bermanfat bagi klien, berhubungan
dengan dignosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan.. Pelaksanaan merupakan
pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan keperawatan yang telah disusun pada
tahap perencanaan. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dfapat berupa
tindakan mandiri maupun kolaborasi.
Dalam pelaksanaan tindakan, langkah-langkah yang dilakukan adalah mengkaji
kembali keadaan klien, validasi rencana keperawatan, menentukan kebutuhan dan
bantuan yang diberikan serta menetapkan strategi tindakan yang akan dilakukan. Selain
itu juga dalam pelaksanaan yang dilakukan pada pasien dan persepsi pasien harus
didokumentasikan dalam catatan keperawatan. Dalam pendokumentasian catatan
keperawatan hal yang perlu didokumentasikan adalah waktu tindakan dilakukan, tindakan
dan respon klien serta diberi tanda tangan sebagai aspek legal dari dokumentasi yang
dilakukan.

F. Evaluasi
Evaluasi merupan tahap akhir dari proses keperawatan yang berguna untuk
mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai berdasarkan
standar/kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting dalam proses
keperawatan karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi keperawatan diakhiri
atau ditinjau kembali dan dimodifikasi.Evaluasi harus memahami objektifitas, reliabilitas
dan validitas dapat dipertahankan agar keputusan yang diambil tepat.
Evaluasi keperawatan ada dua macam yaitu evaluasi formatif ( proses ) yaitu
evaluasi yang dilakukan segera setelah tindakan dilakukan dan didokumentasikan pada
catatan keperawatan. Sedangkan evaluasi sumatif ( hasil ) adalah evaluasi yang
dilakukan untuk mengikur sejauh mana pencapaian tujuan yang ditetapkan dan dilakukan
pada akhir pemberian asuhan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Hernia nukleus pulposus merupakan penyakit yang disebabkan oleh trauma atau
perubahan degeneratif yang menyerang massa nukleus pada daerah vertebra L4-L5, L5-
S1, atau C5-C6 yang menimbulkan nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan
berulang atau kambuh. Hernia dibagi menjadi tiga klasifiksi, yaitu hernia lumbosacralis,
hernia servikalis, hernia thorakalis.

Dimana pada hernia lumbosacralis penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar,


bisanya oleh kejadian luka posisi fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada
pasien non trauma adalah kejadian yang berulang. Gejala utama yang muncul adalah rasa
nyeri di punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan. Dimana nyeri
tersebut terjadi tergantung dimana piringan tersebut mengalami herniasi dan dimana
pusat syaraf tulang punggung terkena. Nyeri tersebut terasa sepanjang lintasan syaraf
yang tertekan oleh piringan yang turun berok.

B. Saran

Diharapkan bagi pembaca setelah membaca makalah ini khususnya perawat dapat
memahami dan mengerti serta dapat mengaplikasikan tindakan yang harus dilakukan
apabila mendapati klien hernia nucleus pulposus di lahan.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzane C, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth edisi 8 Vol 3, Jakarta : EGC,
Doengoes, ME, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC.
Tucker,Susan Martin, 1998,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC.
Long, Barbara C,1996, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Pajajaran
Priguna Sidharta, 1996, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat,.
Chusid, IG, 1993, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta :
Gajahmada University Press.