Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mengelola keuangan Islami terdapat 7 akun yang terdiri dari 1 akun pendapatan
(income) dan 6 akun pengeluaran yang terdiri dari spending, longevity, assurance,
management of debt, investment dan cleansing of wealth. Mengacu pada goal pengelolaan
keuangan Islami yaitu falah dan tahapan untuk mencapai falah yaitu maslahah maka akun
pemanfaatan pendapatan harus mencakup untuk tujuan jangka pendek yaitu kebahagiaan
hidup di dunia dan kesuksesan hidup di akhirat.
Menekankan perhatian kesejahteraan para prajurit dan keluarganya. Berkomunikasi
langsung dengan masyarakat melalui pertemuan terbuka terutama orang-orang miskin,
teraniaya dan penyandang cacat. Melawan korupsi dan penindasan, mengontrol pasar,
memberantas para tukang catut laba, penimbun barang dan pasar gelap.
Karena peletakan dasar-dasar sistem keuangan Negara yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw, merupakan langkah yang sangat signifikan, sekaligus Berlian dan sangat
sprektakuler pada masa itu. Sehingga Islam menjadi agama dan Negara yang dapat
berkembang dengan pesat dalam jangka waktu yang relatif singkat. Dalam perjalanan roda
pemerintahannya, Rasulullah Saw, mendapat 2 sumber pendapatan secara umum, yaitu:
1. Sumber pendapatan primer
2. Sumber pendapatan sekunder

B. Rumusan Masalah
1. Sumber Keuangan dalam Ekonomi Islam
2. Sejarah Sumber-Sumber Keuangan Negara
3. Sumber Keuangan Indonesia Sekarang
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sumber Keuangan dalam Ekonomi Islam

Kegiatan ekonomi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan
manusia. Kegiatan yang berupa produksi, distribusi dan konsumsi ini dilakukan dalam rangka
memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Setiap tindakan manusia didasarkan pada keinginannya
untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Aktifitas ekonomi inipun dimulai dari zaman Nabi Adam hingga detik ini, meskipun
dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Setiap masa manusia mencari cara untuk
mengembangkan proses ekonomi ini sesuai dengan tuntutan kebutuhannya. Tidak terlepas
dari itu, Islam yang awal kejayaannya di masa Rasulullah juga memiliki konsep sistem
ekonomi yang patut dijadikan bahan acuan untuk mengatasi permasalahan ekonomi yang ada
saat ini.
Ketika kita berbicara tentang pengelolaan keuangan maka mau tidak mau kita harus
berhadapan dengan pengelolaan pendapatan dan pengeluaran. Pendapatan adalah hal yang
berkaitan dengan sumber pemasukan baik tentang jumlah yang harus didapat maupun tata
cara dalam mendapatkannya. Sementara pengeluaran adalah hal yang berkaitan dengan
jumlah yang harus dikeluarkan maupun tentang tempat pengalokasian pengeluaran.
Harta yang sumber pendapatannya tidak jelas (ghoror), riba (bunga) dan maysir
(untung-untungan atau judi) akan menyebabkan pendapatan menjadi tidak halal. Sehingga
akan menghilangkan keberkahan. Pernahkah kita mendengar satu unit usaha menjadi
bangkrut lantaran sumber pendanaan dari usaha tersebut berasal dari hasil korupsi? Konsep
pengelolaan keuangan di dalam Islam sangat memperhatikan proses mendapatkan dan proses
membelanjakan.
Sedangkan tentang akun pengelolaan keuangan, Eko Pratomo menjelaskan bahwa
dalam mengelola keuangan yang Islami haruslah memenuhi ketentuan ISLAMIC yang
artinya Income (Pendapatan), Spending (Pengeluaran dengan mengutamakan skala prioritas
dalam pelaksanaannya), Longevity (Kehidupan panjang yang menyangkut kehidupan masa
pensiun dan kehidupan akhirat), Assurance (Proteksi terhadap hal yang tidak terduga),
Management of debt (Pengelolaan Hutang), Invesment (investasi) dan Cleansing of Wealth
(Zakat sebagai sarana pembersihan harta).
Dari sini terlihat bahwa dalam mengelola keuangan Islami terdapat 7 akun yang
terdiri dari 1 akun pendapatan (income) dan 6 akun pengeluaran yang terdiri dari spending,
longevity, assurance, management of debt, investment dan cleansing of wealth. Mengacu
pada goal pengelolaan keuangan Islami yaitu falah dan tahapan untuk mencapai falah yaitu
maslahah maka akun pemanfaatan pendapatan harus mencakup untuk tujuan jangka pendek
yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan kesuksesan hidup di akhirat.

B. Sejarah Sumber-Sumber Keuangan Negara


Sumber Keuangan Negara Pada Masa Rasulullah Saw
Pemikiran Ekonomi Islam diawali sejak Nabi Muhammad Saw diutus sebagai seorang
Rasul (utusan Allah). Rasulullah Saw mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menyangkut
berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan, selain masalah hukum (fiqh),
politik, dan juga masalah perniagaan atau ekonomi. Permasalahan ini menjadi salah satu
pusat perhatian utama Rasulullah Saw, karena hal ini merupakan pilar penyangga keimanan
yang penting. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw bersabda,
“kemiskinan membawa orang kepada kekufuran”
Sebelum Islam datang, situasi kota Yastrib sangatlah tidak menentu. Karena tidak
mempunyai pemimpin yang berdaulat secara penuh. Hukum dan pemerintahan dikota ini
tidak pernah berdiri dengan tegak, dan masyarakat senantiasa hidup dalam ketidak pastian.
Oleh karena itu, beberapa kelompok penduduk kota Yastrib berinisiatif menemui Nabi
Muhammad Saw, yang terkenal dengan sifat Al-Amin (terpercaya) untuk memintanya agar
menjadi pemimpin mereka. Mereka juga berjanji untuk selalu menjaga keselamatan diri Nabi
dan para pengikutnya yang ikut serta dalam memelihara dan mengembangkan ajaran Islam.
Nabi Muhammad Saw berhijrah dari kota Makkah kekota Yastrib sesuai dengan perjanjian,
dikota yang subur ini, Rasulullah Saw disambut dengan hangat serta diangkat sebagai
pemimpin penduduk kota Yastrib. Sejak saat itulah kota Yastrib berubah nama menjadi kota
Madinah.
Sudah pasti, upaya mengentas kemiskinana merupakan kebijakan-kebijakan sosial
yang dikeluarkan Rasulullah Saw. Lebih aktualnya lagi, bahwa Muhammad Rasulullah
sangat memperhatikan perihal ekonomi umat Islam, ketika umat Islam telah memiliki sebuah
wilayah, yaitu Madinah. Masjid sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Islam. Selain
sebagai pusat ibadah, Rasulullah telah mengfungikan masjid sebagai pusat komando operasi
militer, pemerintahan dan pusat perekonomian.
Pada tahun-tahun awal dideklarasikan Madinah sebagai sebuah Negara, Madinah
hampir tidah memiliki sumber pemasukan ataupun pengeluaran Negara. Seluruh tugas
Negara dilaksanakan oleh kaum muslim secara bergotong royong dan sukarela. Mereka
memperoleh pendapatan dari berbagai sumber yang tidak terikat. Oleh karena itu, Madinah
merupakan Negara yang baru dibentuk dengan kemampuan daya mobilitas yang sangat
rendah dari sisi ekonomi. Karena peletakan dasar-dasar sistem keuangan Negara yang
dilakukan oleh Rasulullah Saw, merupakan langkah yang sangat signifikan, sekaligus Berlian
dan sangat sprektakuler pada masa itu. Sehingga Islam menjadi agama dan Negara yang
dapat berkembang dengan pesat dalam jangka waktu yang relatif singkat. Dalam perjalanan
roda pemerintahannya, Rasulullah Saw, mendapat 2 sumber pendapatan secara umum, yaitu:
3. Sumber pendapatan primer
4. Sumber pendapatan sekunder

Sumber Primer Keuangan Negara


Sumber pendapatan primer merupakan pendapatan utama bagi Negara dimasa
Rasulullah Saw adalah zakat dan ushur. Keduanya berbeda dengan pajak dan tidak
diperlakukan seperti pajak. Zakat dan ushur merupakan kewajiban agama dan termasuk salah
satu pilar Islam. Dan pengeluaran untuk zakat tidak dapat dibelanjakan untuk pengeluaran
umum Negara. Lebih jauh lagi, zakat secara fundamental adalah pajak lokal. Dalam hadist
Bukhori disebutkan, Rasulullah Saw berkata kepada muadz, ketika ia mengirimnya ke
Yaman sebagai pengumpul dan pemberi zakat. “katakanlah kepada mereka (penduduk
Yaman) bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk membayar zakat yang akan diambil
dari orang kaya diantara mereka, dan memberikannya kepada orang miskin diantara mereka”.
Demikianlah bahwa, pemerintah pusat berhak menerima keuntungan hanya bila terjadi
surplus yang tidak dapat didistribusukan lagi kepada orang-orang yang berhak. Pencatatan
seluruh penerimaan Negara pada masa Rasulullah tidak ada. Dalam kebanyakan kasus
pencatatan diserahkan pada pengumpul zakat, karena setiap orang pada umumnya telah
terlatih dalam masalah pengumpulan zakat.
Sumber Sekunder Neuangan Negara
Di samping sumber-sumber pendapatan primer sebagai penerimaan fiskal
pemerintahan Rasulullah Saw, ada juga sumber pendapatan sekunder yang menjadi sumber
pendapatan Negara, antara lain :
Uang tebusan untuk para tawanan perang (hanya khusus pada perang Badar, pada
perang lain tidak disebutkan jumlah uang tebusan tawanan perang) Pinjaman-pinjaman
setelah menaklukkan kota Makkah, untuk pembayaran uang pembebesan kaum muslimin dari
Judhaima atau sebelum pertempuran hawazin sebesar 30.000 dirham ( 20.000 dirham
menurut bukhari) dari Abdullah bin Rabi’ah dan meminjam beberapa pakaian dan hewan
tunggangan dari Sofyan bin Umaiyah
Khums atas rikaz (harta karun temuan pada periode sebelum Islam) Amwal fadhilah
yaitu harta yang berasal dari harta benda kaum muslin yang meninggal tanpa ahli waris, atau
berasal dari barang-barang seorang muslim yang meninggalkan negerinya.
Wakaf adalah harta benda yang didedikasikan oleh seorang muslim untuk
kepentingan agama Allah dan pendapatannya disimpan di Bitul mal.
Nawaib adalah pajak khusus yang dibebankan kaum muslimin yang kaya raya dalam
rangka menutupi pengeluaran Negara selama masa darurat.
Jizyah yaitu pajak yang dibebankan kepada orang-orang non muslim Kharaj, yaitu
pajak tanah yang dipunggut dari kaum non muslim ketika wilayah khaibar ditaklukkan Zakat
fitrah, zakat yang ditarik dibulan Ramadhan dan dibagikan sebelum sholat idul fitri.
Shadaqah, seperti kurban dan kaffarat. Kaffarat adalah denda atas kesalahan yang
dilakukan seorang muslim pada acara keagamaan, seperti berburu dimusin haji.
Ghanimah, harta rampasan perang atas musuh yang kalah.
Fay’, harta yang ditinggalkan oleh pemiliknya tanpa peperangan

Lembaga Keuangan Negara (Baitul Maal)


Lima abad yang lampau tidak ada konsep yang jelas mengenai cara mengurus
keuangan dan kekayaan Negara dibelahan dunia manapun. Pemerintah suatu Negara adalah
badan yang dipercaya untuk menjadi pengurus tunggal kekayaan Negara dan keuangannya.
Rasulullah adalah kepala Negara pertama yang memperkenalkan konsep keuangan Negara
diabad ke-7, yaitu semua hasil pengumpulan Negara harus dikumpulkan terlebih dahulu dan
kemudiaan dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan Negara. Hasil pengumpulan itu adalah milik
Negara bukan milik individu. Dan tempat pengumpulan ini disebut Baitu maal atau
bendahara Negara.
Semasa Rasulullah masih hidup, masjid Nabawi digunakan sebagai kantor pusat
Negara sekaligus menjadi tempat tinggalnya dan Baitul Maal. Namun binatang-binatang
tidak bisa disimpan di Baitul Maal, akan tetapi ditempatkan di padang terbuka sesuai dengan
alamnya. Pemasukan yang diterima Negara disimpan dimasjid dalam jangka waktu yang
singkat, dan kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa ada sisa.
Dalam buku-buku budaya dan sejarah terdapat 40 nama sahabat yang biasa dikatakan dalam
istilah modern disebut pegawai Rasulullah, namun tidak disebutkan adanya seorang
bendahara Negara. Karena hal ini hanya dimungkinkan terjadi didalam lingkungan yang
memiliki pengawasan yang ketat.

Sumber Keuangan Negara Pada Masa Khulafaurrasyidin


Masa Kekhalifahan Abu Bakar As-Shidiq. Pada masa pemerintahan Abu Bakar As-
Shidiq belum banyak perubahan dan inovasi baru yang berkaitan dengan sektor ekonomi dan
keuangan Negara. Kondisinya masih seperti pada masa Rasulullah Saw. Kondisi ini dibentuk
oleh konsentrasi Abu Bakar untuk mempertahankan eksistensi Islam dan kaum muslimin.
Disamping itu para sahabat masih terfokus untuk memerangi mereka yang enggan membayar
zakat setelah wafatnya Rasulullah Saw, dan memerangi yang murtad serta gerakan Nabi
palsu.
Abu Bakar As-Shidiq terpilih sebagai khalifah dalam kondisi miskin, karena sebagai
pedangang dengan hasil yang sangat minim tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Akan
tetapi sejak menjadi khalifah kebutuham keluarga Abu Bakar diurus oleh baitul maal. Diakhir
masa kekhalifahannya dan mendekati wafatnya, sumber pendapatan Negara semakin menipis.
Hal ini menyebabkan kekayaan pribadinya dipergunakan untuk pembiayaan Negara.
Masa Kekhalifahan Umar bin Khattab Dalam masa pemerintahannya, Umar bin
Khattab banyak melakukan perluasan kekuasaan Islam hingga ke wilayah dijazirah arab,
sebagian wilayah romawi (Syria, Palestina dan Mesir) serta seluruh kerajaaan Persia,
termasuk irak. Oleh karena itu Khalifah Umar mencotoh Persia dalam mengatur administrasi
Negara. Untuk masalah kebijakan keuangan, Khalifah Umar banyak melakukan kemajuan
diantaranya : 1) baitul maal, (2) kepemilikan tanah, (3) zakat dan ushur, (4) sedekah untuk
non muslim, (5) mata uang. Dengan penjelasan singkat sebagai berikut.

Baitul Maal
Pembangunan baitul maal dizaman khalifah Umar dilatarbelakangi oleh kedatangan
Abu Hurairah (Gubernur Bahrain) dengan membawa harta hasil pengumpulan pajak sebesar
500.000 dirham. Dan inisiatif Khalifah Umar adalah untuk tidak mendistribusikan harta yang
ada dibaitul maal, tetapi disimpan sebagai cadangan untuk keperluan darurat, membiayai gaji
para tentara dan keperluan umat lainnya.
Harta yang tersimpan dibaitul maal dianggap sebagai “harta umat muslim”.
Sedangkan khalifah dan amil-amilnya hanyalah pemegang kepercayaan untuk mengatur
penerimaan dan pendistribusiannya terhadap umat yang membutuhkan, seperti : janda, anak
yatim, anak terlantar, pembiayaan penguburan orang miskin, membayar hutang orang
bangkrut dan gaji bagi penyebar dakwah Islam.

Kepemilikan Tanah
Dalam pemerintahan Umar, banyak daerah yang ditaklukkan melalui perjanjian
damai. Dari sinilah mulai muncul permasalahan bagaimana cara pembagiannya. Beberapa
sahabat ada yang menuntut untuk mendistribusikan kekayaan itu dan sebagian lainnya
menolaknya. Maka dari itu, Khalifah Umar mencari solusi dari masalah ini dengan
melakukan musyawarah, dengan keputusan untuk memperlakukan tanah-tanah tersebut
sebagai fay, dan prinsip ini akan menjadi ketetapan untuk kasus-kasus yang akan datang.

Keputusan ini berdasarkan atas firman Allah SWT dalam al-Qur’an :

َ‫س ِبي ِل ك َۡى ََل يَ ُكونَ دُولَ َۢةَ بَ ۡين‬


َّ ‫ين َو ۡٱب ِن ٱل‬ َ ‫سو ِل َو ِلذِى ۡٱلقُ ۡربَ ٰى َو ۡٱليَتَ ٰـ َم ٰى َو ۡٱل َم‬
ِ ‫س ٰـ ِك‬ َّ ‫سو ِلِۦه ِم ۡن أ َ ۡه ِل ۡٱلقُ َر ٰى فَ ِللَّ ِه َو ِل‬
ُ ‫لر‬ َّ ‫َّما ٓ أَفَا ٓ َء‬
ُ ‫ٱَّللُ َعلَ ٰى َر‬

‫ۡٱل َ ۡغنِيَا ٓ ِء ِمن ُك ۡم‬

“Apa saja harta rampasan [fai-i] yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal
dari penduduk kota-kota negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim,
orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya”. (QS. Al-Hasyr : 7).

Zakat dan Ushur


Pada masa Khalifah Umar zakat dibebankan terhadap barang-barang yang memilii
produktivitas, seorang budak atau seekor kuda yang dimiliki kaum Muslimin ketika itu tidak
dikenakan zakat. Karena maraknya perdagangan kuda, pedagang memohon kepada Khalifah
supaya zakat, sehingga ditetapkan zakat kuda sebesar satu dinar. Dan ushur dibebankan
kepada suatu barang yang wajib dibayar hanya sekali dalan setahun, yaitu sebesar sepuluh
persen dari nilai barang. Khalifah Umar menetapkan pajak penbelian 2,5% untuk pedagang
muslim, 5% untuk kafir dzimmi dan 10% untuk kafir harbi.

Sedekah non muslim


Tidak ada ahli kitab yang membayar sedekah atas ternaknya kecuali orang Kristen
Bani Taghlib yang keseluruhan kekayaannya terdiri dari hewan ternak. Mereka membayar
dua kali lipat dari yang dibayar kaum Muslimin. Umar mengenakan jizyah kepada ahli kitab
Bani Taghlib, tetapi mereka terlalu gengsi sehingga menolak membayar jizyah dan malah
membayar sedekah. Nu'man ibn Zuhra memberikan alasan untuk kasus mereka dengan
mengatakan bahwa “pada dasarnya tidak bijaksana memperlakukan mereka seperti musuh
dan seharusnya keberanian mereka menjadi aset Negara”. Umar menerima sedekah 2 kali
lipat dengan syarat mereka tidak boleh membaptis seorang anak atau memaksanya menerima
kepercayaan mereka.

Mata uang
Pada masa Nabi dan sepanjang masa pemerintahan al-Khulafa ar-Rasyidun, koin mata
uang asing dengan berbagai bobot telah dikenal di Jazirah Arab, seperti dinar (sebuah koin
emas) dan dirham (sebuah koin perak). Umar adalah khalifah pertama dalam Islam yang
menetapkan gaji untuk para hakim dan membangun kantornya terpisah dengan kantor
eksekutif, Menetapkan perbaikan ekonomi dibidang pertanian dan perdagangan sebagai
prioritas utama, mensubsidi masjid dan sekolah dan membangun gudang persediaan bagi
muslim yang melakukan perjalanan haji.

Masa Kekhalifahan Utsman bin Affan


Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga. Pada enam tahun pertama
kepemimpinannya, Balhk, Kabul, Ghazni dan Karman ditaklukkan. Untuk menata
pendapatan baru, dan kebijakan Umar diakui atau diterapkan. Tidak lama setelah Negara-
Negara itu ditaklukkan, tindakkan efektif langsung diterapkan dalam rangka pengembangan
sumber daya alam. Aliran air digali jalan dibangun, pohon buah-buahan ditanam dan
keamanan perdagangan diperhatikan dengan cara pembangunan organisasi kepolisian tetap.
Khalifah Utsman tidak mengambil upah dari kantornya. tapi sebaliknya, dia meringankan
beban pemerintahan dalam hal yang serius. Dia bahkan menyimpan uang pribadinya
dibendahara Negara. Hal ini menimbulkan keslahpahaman antra khalifah dan Abdullah bin
Arqam, salah seorang sahabat Nabi yang berwenang untuk mengelola baitul maal pusat
dimasa khalifah Utsman. Disamping itu khalifah Utsman selalu mendiskusikan tingkat harga
yang sedang berlaku dipasaran dengan seluruh umat muslim setiap selesai sholat berjama’ah
di masjid.

Masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib


Setelah meninggalnya Utsman, Ali terpilih sebagai khalifah dengan suara bulat. Ali
menjadi khalifah selama lima tahun. Kehidupan Ali sangat sederhana dan dia sangat ketat
dalam menjalankan keuangan Negara. Mengambil tindakan seperti memberhentikan para
pejabat yang korup, membuka kembali lahan perkebunan yang telah diberikan kepada orang-
orang kesayangan Khalifah Utsman, dan mendistribusikan pendapatan pajak tahunan sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan Umar Bin Khattab, adalah tindakan yang dilakukan oleh
khalifah Ali. . Ia secara sukarela menarik diri dari daftar penerima bantuan baitul maal
bahkan Ali memberikan sumbangan sebesar 5000 dirham setiap tahunnya. Dan menetapkan
pajak terhadap pemilik hutan sebesar 4000 dirham dan memungut pajak terhadap sayuran
segar yang akan dibuat bumbu makanan.
Ali menginginkan mendistribusikan seluruh pendapatan yang ada di baitul maal,
berbeda dengan Khalifah Umar dengan kebijakannya menyimpan sebagaian untuk cadangan.
Prinsip utama dari pemerataan distribusi uang rakyat telah diperkenalkan, hari kamis
mendistribusikan dan hari sabtu dimulai penghitungan baru. Ali memiliki konsep yang jelas
tentang pemerintahan, administrasi umum yang ditulis dalam sebuah surat yang isinya
tentang bagaimana berhubungan dengan masyarakat sipil, lembaga peradilan dan angkatan
perang.
Ali menekankan perhatian kesejahteraan para prajurit dan keluarganya.
Berkomunikasi langsung dengan masyarakat melalui pertemuan terbuka terutama orang-
orang miskin, teraniaya dan penyandang cacat. Melawan korupsi dan penindasan,
mengontrol pasar, memberantas para tukang catut laba, penimbun barang dan pasar gelap.

C. Sumber Keuangan Indonesia Sekarang


Penerimaan pemerintah kita artikan sebagai penerimaan pemerintah dalam arti yang
seluas-luasnya, yaitu meliputi pajak, penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan barang
dan jasa yang dimiliki dan dihasilkan oleh pemerintah, pinjaman pemerintah, mencetak uang
dan sebagainya. Didalam kenyataannya kita tidak bisa menarik batas yang tegas dalam
macam-macam sumber kpenerimaan pemerintah. Tetapi, walaupun demikian sumber-sumber
penerimaan Negara atau cara-cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk
mendapatkanpenerimaan pada intinya dapat digolongkan sebagai berikut :
Pajak, yaitu pembayaran iuran oleh rakyat kepeda pemerintah dengan tanpa balas jasa
langsung.
Retribusi, yaitu suatu pembayaran dari rakyat kepada pemerintah, dimana kita bisa
melihat adanya hubungan antara balas jasa langsung diterima dengan adanya
pembayaran.[1][9] Contoh : pelayanan medis dirumah sakit milik pemerintah.
Keuntungan dari perusahaan-perusahaan Negara, yaitu penerimaan yang berasal dari
penjualan barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan Negara dari Badan Usaha Milik
Negara (BUMN).
Denda-denda dan rampasan yang dilakukan oleh pemerintah.
Sumbangan masyarakat untuk jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah, sebagai
pembayaran biaya-biaya perizinan (lisensi) atau pungutan lainnya.
Percetakan uang, merupakan kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah dan tidak
dimiliki oleh individu dalam masyarakat.
Pinjaman Negara, yaitu sumber penerimaan Negara, yang dilakukan apabila terjadi
defisit anggaran. Pinjaman pemerintah dikemudian hari akan menjadi beban pemerintah,
karena pinjaman tersebut harus dibayar kembali, berikut dengan bunganya. Pinjaman dapat
diperoleh dari dalam maupun luar negeri. Sumber pinjaman bisa berasal dari pemerintah,
institusi perbankan, institusi non bank, maupun individu.
Penyelenggaraan undian berhadiah, dengan menunjuk suatu institusi tertentu sebagai
penyelenggara, jumlah yang diterima pemerintah adalah selisih dari penerimaan uang undian,
yang dikurangi dengan biaya operasional dari besarnya hadiah yang dibagikan. Negara-
Negara yang menyelenggarakan undian berhadiah seperti, Amerika Serikat, Kanada,
Austalia, Jepang, Jerman dan Indonesia juga pernah.
Dari uraian diatas, pajak merupakan sumber utama penerimaan Negara, disamping
dari sumber migas dan nonmigas. Dengan demikian, pajak merupakan penerimaan Negara
yang strategis yang harus dikelola dengan baik agar keuangan Negara dapat berjalan dengan
lancar dan baik. Dalam struktur keuangan Negara, tugas dan fungsi penerimaan pajak
dijalankan oleh Direktorat Jendral Pajak dibawah Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Jenis-jenis pajak yang dikelola oleh Direktorat Jendral Pajak meliputi pajak
penghasilan (PPh), pajak pertambahan niali (PPN), pajak bumi dan bangunan (PBB) dan
pajak penjualan barang mewah (PPnBM).
Sebagai sumber utama penerimaan Negara, pajak mempunyai peranan yang sangat
strategis bagi kelangsungan pembangunan Negara. Maka pajak harus dikelola dengan baik.
Dan untuk meningkatkan penerimaan pajak melalui PPh, maka prioritas utama yang perlu
diperhatikan adalah peningkatan wajib pajak (WP), sehingga cukup tepat kebijakan
pemerintah saat ini yang memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWB) pribadi secara
gratis kepada seluruh masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk memiliki NPWP. Hal ini
untuk lebih menintensifkan penerimaan pajak, dan untuk lebih meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk membayar pajak bagi para wajib pajak yang telah memenuhi syarat
memiliki NPWP maupun bagi badan usaha yang bersangkutan.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
”Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya
tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa
mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia
peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang
dia amalkan. “
(HR. Ahmad)
Pada masa Nabi dan sepanjang masa pemerintahan al-Khulafa ar-Rasyidun, koin mata
uang asing dengan berbagai bobot telah dikenal di Jazirah Arab, seperti dinar (sebuah koin
emas) dan dirham (sebuah koin perak). Umar adalah khalifah pertama dalam Islam yang
menetapkan gaji untuk para hakim dan membangun kantornya terpisah dengan kantor
eksekutif, Menetapkan perbaikan ekonomi dibidang pertanian dan perdagangan sebagai
prioritas utama, mensubsidi masjid dan sekolah dan membangun gudang persediaan bagi
muslim yang melakukan perjalanan haji.
Pajak merupakan sumber utama penerimaan Negara, disamping dari sumber migas
dan nonmigas. Dengan demikian, pajak merupakan penerimaan Negara yang strategis yang
harus dikelola dengan baik agar keuangan Negara dapat berjalan dengan lancar dan baik.
Dalam struktur keuangan Negara, tugas dan fungsi penerimaan pajak dijalankan oleh
Direktorat Jendral Pajak dibawah Departemen Keuangan Republik Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Eko Pratomo, “Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami”, (Hijrah
Institute, Jakarta: 2004)
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam,
Yogyakarta, 2008
Dr. Muhammad Asraaf Dawwabah, Al Iqtishad al Islamy Madkhalun wa Manhajun,
Darussalam, Kairo, 2010
Departemen RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 2002, CV.Darus Sunnah, Jakarta.