Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS JURNAL

PENGARUH TERAPI MEDITASI TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN

DARAH PADA LANSIA YANG MENGALAMI HIPERTENSI

Oleh :

YULAN A.MOBI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN


UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Berdasarkan dari demografi Internasional U.S. Census Bureau, International

Data Base 2009 (dalam Darmojo 2011) dalam jumlah penduduk lansia sebesar

18,96 juta jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 jiwa jumlah ini termasuk

terbesar keempat setelah China, India dan Jepang diperlihatkan selama kurun

waktu 19902025, Indonesia mengalami peningkatan populasi lansia yang

diperkirakan 414% (Komnas Lansia, 2010). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia

(WHO) bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah

mencapai angka 11,34% atau tercatat 28,8 juta orang, balitanya tinggal 6,9% yang

menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia (Badan Pusat Statistik,

2009).

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Triyanto,

2014 menjelaskan bahwa kejadian hipertensi pada tahun 2012 diseluruh dunia,

sekitar 972 juta (26,4%), 333 juta berada di negara maju dan 639 juta berada di

negara berkembang. Diperkirakan meningkat menjadi 1,15 milyar kasus di tahun

2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia (Paat et al., 2014). Hasil Riset

Kesehatan Dasar tahun 2013 menjelaskan pravelensi hipertensi di Indonesia yaitu

25,8% dengan angka prevalensi untuk Sumatera 20,8%, Jawa-Bali 24,3% dan

kawasan Indonesia Timur 25,2%. Sedangkan angka prevalensi untuk Sumatera

Barat sendiri adalah 22,6%.(Dinas Kesehatan Republik Indonesia, 2013).


Hipertensi merupakan masalah yang dapat menyebabkan kematian termasuk

dalam kategori penyakit non-infeksi. Selain itu, hipertensi juga merupakan faktor

pencetus terjadinya jantung dan stroke. Salah satu penyebab hipertensi adalah

peningkatan stimulasi respon stres neuron sismpatik yang berlebihan (Brunner &

Suddarth. 2000).

Terapi yang dapat menurunkan tekanan darah ada beberapa terapi diantaranya

terapi buah,terapi oksigen, terapi jus, terapi relaksasi dan terapi meditasi. Salah

satu yang akan dilakukan analisis jurnal adalah terapi meditasi.

Meditasi adalah cara untuk mengurangi respon stres dengan teknik relaksasi,

Pada dasarnya pemberian terapi meditasi ini dapat memberikan kondisi yang

rileks dimana pada kondisi rileks semua sistem tubuh akan bekerja dengan baik

dan pada kondisi ini hipotalamus akan meyesuaikan dan terjadinya penurunan

aktifitas sistem saraf simpatis dan menigkatkan aktifitas sistem parasimpatis.

Urutan efek fisiologis dan gejala maupun tandanya akan terputus dan stres

psikologis akan berkurang. Teknik relaksasi otot, relaksasi dengan imajinasi

terbimbing dan respon relaksasi dari Benson (Boedhi, Darmojo, R. 2011).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka mahasiswa merasa tertarik untuk

menganalisis jurnal tentang pengaruh terapi meditasi terhadap perubahan tekanan

darah pada lansia yang mengalami hipertensi. Maka diharapkan dapat menjadi

sumbangan alternatif intervensi keperawatan terapi meditasi khususnya pada

lansia.

1.2. Tujuan
Mengetahui pengaruh terapi meditasi terhadap perubahan tekanan darah

pada lansia yang mengalami hipertensi.

1.3. Manfaat

1.3.1 Manfaat Praktis

Menambah ilmu pengetahuan perawat tentang pengaruh terapi meditasi

terhadap perubahan tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi.

1.3.2 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam pemberian intervensi

keperawatan.

BAB II
METODE DAN TINJAUAN TEORITIS

2.1 Metode Pencarian

Analisis jurnal ini menggunakan 3 (tiga) media atau metode pencarian

jurnal, yaitu sebagai berikut :

1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

2. EBSCO

3. Google scholar

2.2 Konsep Tinjauan Teoritis

2.2.1 Hipertensi

a. Pengertian

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten

dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90

mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan

sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Darmojo,2011).

b. Klasifikasi

Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas :(Darmojo,2011)

Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg

dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.

Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160

mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

c. Etiologi

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya

perubahan–perubahan pada :Elastisitas dinding aorta menurun


Katub jantung menebal dan menjadi kaku

Kemampuan jantung memompa darah menurun

1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa

darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

Kehilangan elastisitas pembuluh darah

Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer

untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya,

data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering

menyebabkan terjadinya hipertensi.

Faktor tersebut adalah sebagai berikut :Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan

lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah

penderita hipertensi.

Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi

timbulnya hipertensi adalah:Umur ( jika umur bertambah maka TD

meningkat )Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )

Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )

Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya

hipertensi adalah :Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )

Kegemukan atau makan berlebihan stress merokok minum alcohol minum

obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin) Sedangkan penyebab

hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis


Nekrosis tubular akut Tumor Vascular Aterosklerosis Hiperplasia

Trombosis Aneurisma Emboli kolestro Vaskulitis Kelainan endokrin DM,

hipertiroidisme, hipotiroidisme, saraf, stroke, ensepalitis, obat-obatan,

kontrasepsi oral kortikosteroid.

d. Tanda Dan Gejala

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter

yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah

terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.Gejala yang lazim Sering

dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri

kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim

yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu:

mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan sesak nafas, gelisah,

mual, muntah, epistaksis, kesadaran menurun.

e. Pemeriksaan Penunjang

1. Hemoglobin / hematokrit

Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan

(viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti

hiperkoagulabilitas, anemia.

2. BUN:memberikan informasi tentang perfusi ginjal


3. Glukosa

Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat

diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi )

4. Kalium serum

Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab )

atau menjadi efek samping terapi diuretik.

5. Kalsium serum

Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi

6. Kolesterol dan trigliserid serum

Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya

pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )

7. Pemeriksaan tiroid

Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi

8. Urinalisa

Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya

diabetes.

9. Asam urat

Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi

Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme

10. IVP

Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim

ginjal, batu ginjal / ureter .

11. Foto dada


Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, pembesaran jantung

12. CT scan

Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati

13. EKG

Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan

konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit

jantung hipertensi

f. Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan

mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan

pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

1. Terapi tanpa Obat

Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan

sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa

obat ini meliputi :

Diet

Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :

a. Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr

b. Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh

c. Penurunan berat badan

d. Penurunan asupan etanol

e. Menghentikan merokok
f. Latihan Fisik

Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang

dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang

mempunyai empat prinsip yaitu :Macam olah raga yaitu isotonis

dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain

2. Terapi dengan obat

Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4. Tidak menimbulakn intoleransi.
5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi
seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,
golongan penghambat konversi rennin angitensin.
2.2.2 Terapi Meditasi

a. Definisi
Meditasi adalah suatu teknik latihan dalam meningkatkan kesadaran,
dengan membatasi kesadaran pada satu objek stimulasi yang tidak berubah
pada waktu tertentu untuk mengembangkan dunia internal atau dunia batin
seseorang, sehinga menambah kekayaan makna hidup baginya. Menurut
Iskandar (2008) meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat
menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang
b. Tujuan Meditasi
1. perenungan dan kebijaksanaan
2. perubahan dalam kesadaran
3. relaksasi.
c. Manfaat Meditasi
Meditasi banyak digunakan untuk mengurangi kecemasan, stress, dan
depresi. Ketenangan jiwa yang diperoleh ketika bermeditasi dengan baik
mampu meredakan dan memungkinkan seseorang berpikir jernih dalam
pengambilan suatu keputusan. Meditasi merupakan pengalihan perhatian
ketingkat pemikiran yang lebih dalam hingga masuk ke tingkat pemikiran
yang paling dalam dan mencapai sumber pemikiran (T. Mattesion, 2006).
Meditasi mampu menurunkan tingkat rangsangan seseorang dan membawa
suatu keadaan yang lebih tenang, baik secara psikologis maupun fisiologis
(T. Mattesion, 2006).Dengan meditasi mampu menurunkan kecemasan,
perasaan reaktif dan agresivitas (Hjelee,1974;Prabowo,2007).
Meditasi yang dilakukan individu akan menghasilkan reaksi yang
mampu meningkatkan kesehatan secara umum dengan mempelancar
proses metabolisme tubuh, laju denyut jantung lebih teratur, peredaran
darah lancar, mengatasi berbagai macam penyakit, mendorong racun dan
kotoran dari dalam tubuh keluar, menurunkan tingkat agretifitas dan
perilaku-perilaku buruk dampak dari stress, menurunkan tingkat egosentris
sehingga hubungan intrapersonal ataupun interpersonal menjadi lancar,
mengurangi kecemasan, pada anak-anak dapat meningkatkan intelegensi
meliputi karakter kognitif, matematis, logis serta karakter afektif,
relational, kreatif dan emosional, pola pikir menjadi lebih matang,
mempermudah dalam mengendalikan diri, meningkat kesejahteraan
(Benson, 2000; R. Santoso, 2001).
d. Jenis Meditasi
Narayo dan Onstein (Tart,1997; Prabowo,2007) mengklarifikasikan
meditasi menjadi meditasi Konsefatif dan meditasi Pembukaan (Opening
up meditation). Teknik meditasi konserfatif pada dasarnya memberikan
instruksi untuk memperhatikan secara penuh pada hal tertentu, dapat
berupa objek eksternal yang terlihat nyata atau sensasi internal seperti
tarikan nafas. Sedangkan opening up meditation pada dasarnya mengacu
pada keragaman teknik bertujuan membantu seseorang meningkatkan
kepekaan dan kesadaran penuh dari apapun yang terjadi padanya, menjadi
pengamat yang sadar dalam mengamati apa yang terjadi tanpa harus
bereaksi padanya.
e. Tahap Proses Meditasi
1. Fase orientasi
a) Salam teraupetik
b) Bina hubungan saling percaya dengan pasien.
c) Eksplorasi perasaan pasien.
d) Siapkan pasien untuk berpartisipasi dalam terapi
2. Fase Relaksasi
a) Duduk / tidur telentang.
b) Konsentrasi.
c) Merasakan.
3. Fase Trance
a) Hening.
b) Berdo’a sesuai dengan kebutuhan.
c) Pasrah.
4. Fase Terminasi
a) Ucapkan terima kasih kepada tuhan karena telah mendapat
bantuan dari Tuhan.
b) Pertahankan kondisi meditatif dalam keadaan mata dibuka.
f. Proses Pelaksanaan Terapi Relaksasi Meditasi
 Posisi duduk
1. Duduk dengan santai.
2. Anjurkan pasien memfokuskan pandangan pada satu titik dengan
jarak satu meter didepan pasien hingga mata merasa lelah dan
tertutup sendiri.
3. Anjurkan pasien menarik nafas dalam melalui hidung dan niatkan
dalam hati bersamaan dengan menarik nafas untuk menarik energi
penyembuhan dari sekitar kita.
4. Keluarkan nafas pelan melalui hidung, bersamaan dengan itu
keluarkan energi melalui telapak kedua kaki. Lakukan secara
berulang-ulang ( 3 x).
Tarik nafas dalam , keluarkan energi melalui kedua telapak tangan.
Lakukan berulang-ulang sebanyak 3 kali.
Tarik nafas dalam , keluarkan energi melalui ubun-ubun. Lakukan
berulang-ulang sebanyak 3 kali.
Tarik nafas dalam , keluarkan energi ke seluruh tubuh. Lakukan
berulang-ulang sebanyak 3 kali.
5. Bawa pasien kembali pada masa lalu yang mengganggu pasien.
6. Bimbing pasien untuk pasrah kepada Tuhan dan menyadari bahwa
masalah tersebut merupakan bagian dari kehidupan dan terima apa
adanya.
7. Bimbing pasien berdo’a kepada Tuhan, “ Tuhan berikanlah
penyembuhan pada diri saya”. Kemudian rasakan energi dari atas
kepala masuk kedalam tubuh dan menyapu bersih semua energi
negatif dalam diri. Biarkan energi tersebut membersihkan energi
negatif, sementara pasien pasrah kepada Tuhan dengan fokus pada
hati nurani.
 Posisi berbaring
1. Anjurkan pasien melakukan posisi tidur telentang dan pejamkan
mata.
2. Dorong pasien untuk merilekskan semua organ tubuh mulai kaki
sampai ujung kepala.
3. Dorong pasien untuk memfokuskan pikiran pada kedua kaki pasien
dan merasakan energi masuk mulai ujung ibu jari naik ke mata
kaki, betis, lutut, paha hingga ujung kepala.
4. Anjurkan pasien untuk membiarkan energi mengalir terus mulai
ujung kaki hingga ujung kepala.
5. Bawa pasien kembali pada masa lalu yang mengganggu pasien.
6. Bimbing pasien untuk pasrah kepada Tuhan dan menyadari bahwa
masalah tersebut merupakan bagian dari kehidupan dan terima apa
adanya.
7. Bimbing pasien berdo’a kepada Tuhan, “ Tuhan berikanlah
penyembuhan pada diri saya”. Kemudian rasakan energi dari atas
kepala masuk kedalam tubuh dan menyapu bersih semua energi
negatif dalam diri. Biarkan energi tersebut membersihkan energi
negatif, sementara pasien pasrah kepada Tuhan dengan fokus pada
hati nurani.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Author Judul Penelitian Metode Hasil Source


Martin,2016 Pengaruh terapi Jenis penelitian ini Hasil penelitian Google
meditasi terhadap adalah Pre Eksperiment menunjukkan bahwa scholar
perubahan tekanan Design tanpa kelompok tekanan darah sistolik
darah pada lansia kontrol dengan pada uji statistik
yang mengalami menggunakan menunjukkan bahwa p =
hipertensi pendekatan One Group 0,000 (p> 0,05) artinya
Pretest-Posttest bahwa Ha diterima atau
(Hidayat, 2012). tekanan darah sistolik
Awalnya kelompok antara sebelum dan
subjek akan diukur sesudah terapi meditasi
tekanan darah (pretest), adanya pengaruh secara
kemudian langsung signifikan.
diberikan terapi
meditasi selama 15
menit, setelah itu
diukur kembali tekanan
darah (posttest), untuk
mengetahui pengaruh
terapi meditasi terhadap
tekanan darah pada
lansia. Subjek dalam
penelitian ini adalah
lansia yang mengalami
hipertensi yang tidak
mendapatkan terapi
farmakologis.
Intervensi dilakukan 3
kali dalam selama
seminggu sebanyak 20
orang lansia yang
mengalami hipertensi
ringan dan sedang.
Fuad, M. N. Pengaruh Penelitian ini Terdapat pengaruh PNRI
(2012). meditasi Garuda menggunakan quasi meditasi garuda terhadap
terhadap tekanan eksperimen dengan tekanan darah dan gejala
darah dan gejala pendekatan hipertensi (p-value =
hipertensi pada ramdomized with 0,000). Nilai t negatif
pasien hipertensi control group pretest artinya terdapat
usia pertengahan postest. Populasi penurunan tekanan darah
di Desa Balung penelitian ini berjumlah dan gejala hipertensi
Lor, Kecamatan 72 orang dengan tehnik setelah penerapan
Balung pengambilan sampel Meditasi Garuda.
Kabupaten simple ramdom
Jember sampling
Sudiarto Pengaruh Terapi Jenis penelitian ini terhadap lansia dengan Google
(2007) Relaksasi adalah Pre Eksperiment hipertensi terdapat scholar
Meditasi Design tanpa kelompok perbedaan signifikan
Terhadap kontrol dengan perubahan tekanan darah
Penurunan menggunakan sistolik dan diastolik pre-
Tekanan Darah pendekatan One Group test dan posttest terapi
Pretest-Posttest dengan meditasi. Subjek dalam
30 responden yang penelitian ini terdiri dari
dipilih dengan purposiv 30 responden. Hasil
sampling penelitian yang
dilakukan oleh peneliti
memperlihatkan bahwa
terapi meditasi
merupakan bagian dari
tindakan non
farmakologis yang dapat
menurunkan tekanan
darah. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa
terjadi pengaruh terapi
meditasi pada lansia yang
mengalami hipertensi
terhadap perubahan
tekanan darah.
Harmilah, Penurunan stres Penelitian quasi Hasil penelitian dengan Google
2011 fisik dan eksperimen dengan uji T menunjukan scholar
psikososial melalui kontrol dan sampel 22 penurunan rerata stres
meditasi pada untuk masing masing fisik dan psikososial
lansia dengan kelompok melalui meditasi pada
hipertensi primer kelompok intervensi
lebih banyak di banding
kelompok kontrol.
Meditasi dapat
menurunkan stres fisik
dan psikososial melalui
meditasi pada lansia
dengan hipertensi primer
secara signifikan(p-value
= 0,000).
Mrs. Devi A Study to Assess A pre-experimental Data analysis include EBSCO
.S1 & Dr. L the Effect and ―one group pre test- description of subjective
N Samaga Experience of post test design‖ was complaints, paired t-test
MD, DNB Transcendental adopted, involving 60 was carried out against
(MED),2015 Meditation on patients through the null hypothesis that
at Hypertension purposive sampling SBP and DBP before and
Mangalore, Patients Attending after meditation
Karnataka Medical OPD remained the same.
Average systolic blood
pressure before and after
meditation was 141.66
and 136.30 mmHg
respectively. This
decrease is statistically
significant (p<0.0001).
Average diastolic blood
pressure before and after
meditation was 84.84
and 79.86 mmHg
respectively, the
difference is statistically
significant (p<0.0001)
Carly,USA Current An earlier ramdomized Meditation techniques EBSCO
(2012) perspectives on the controlled trial of TM appear to produce small
use of meditation to by the same outhors yet meaningfull reduction
reduce blood reported that 20 elderly in blood pressure either
pressure patients ats monotheraphy or in
conjunction with
traditional
pharmacotherapy

3.2 Pembahasan

Peneliti Weddy Martin,2016 berasal dari bukittinggi, Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui pengaruh meditasi untuk tekanan darah pada lansia menderita

hipertensi. kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik

pada uji statistik menunjukkan bahwa p = 0,000 (p> 0,05) artinya bahwa Ha

diterima atau tekanan darah sistolik antara sebelum dan sesudah terapi meditasi
adanya pengaruh secara signifikan. Bahwa tekanan darah diastolik pada uji

statistik menunjukkan bahwa p = 0,001 (p> 0,05) yang berarti bahwa Ha diterima

atau tekanan darah sistolik antara sebelum dan sesudah terapi meditasi adanya

pengaruh secara signifikan.

Hasil penelitian dengan jumlah sampel 20 orang lansia yang mengalami

hipertensi hasil analisis didapatkan rata-rata tekanan darah sistolik setelah

dilakukan terapi meditasi adalah 140,75 mmHg dengan standar deviasi 4.940.

Rata-rata tekanan darah diastolik sebelum dilakukan terapi meditasi adalah 86,75

mmHg dengan standar deviasi 5,447. Berdasarkan hasil didapatkan penurunan

tekanan darah pada lansia setelah diberikan terapi meditasi. Terlihat responden

yang mengalami hipertensi sulit untuk melakukan aktivitas dengan baik

mengatakan biasanya saat mengalami hipertensi nmereka membutuhkan terapi

farmakologi dan ada juga terapi non farmakologi yaitu obat penurun tekanan

darah, obat sakit kepala, rebusan daun sirsak dan sebagainya.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tekanan darah sistolik sebelum

dilakukan terapi meditasi adalah 148,25 mmHg. Sesudah dilakukan terapi

meditasi didapat rata-rata tekanan darah sistolik 140,75 mmHg. Dari hasil sistolik

sebelum dan sesudah dilakukan terapi meditasi didapatkan PValue 0,000. Hasil uji

statistik diperoleh nilai p ≤ 0,05 artinya terdapat pengaruh terapi meditasi terhadap

perubahan tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat dilihat distribusi responden

berdasarkan hasil pengamatan terhadap nilai pre-test dan post-test tekanan darah

lansia yang mengalami hipertensi menunjukan bahwa 20 responden yang


melakukan terapi meditasi terdapat perubahan tekanan darah. Responden tampak

menikmati terapi meditasi yang dilakukannya itu, responden tidak mengeluh

setelah dilakukan terapi meditasi dan responden mengatakan rileks serta segar

setelah melakukan terapi meditasi tersebut. Respon tubuh terhadap pengelolahan

nafas dan manajemen pikiran yang berlandaskan spiritual dapat mengurangi

respon stres tubuh, kerja kelenjar adrenal menurun sehingga terjadi pengurangan

kortisol yang mengakibatkan konstruksi pembuluh darah berkurang. Konstruksi

dan dilatasi pembuluh darah juga diatur saaf simpatis dan parasimpatis.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Sudiarto (2007)

terhadap lansia dengan hipertensi terdapat perbedaan signifikan perubahan

tekanan darah sistolik dan diastolik pre-test dan posttest terapi meditasi. Subjek

dalam penelitian ini terdiri dari 30 responden. Hasil penelitian yang dilakukan

oleh peneliti memperlihatkan bahwa terapi meditasi merupakan bagian dari

tindakan non farmakologis yang dapat menurunkan tekanan darah. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh terapi meditasi pada lansia

yang mengalami hipertensi terhadap perubahan tekanan darah. Dalam berbagai

penelitian juga di tegaskan bahwa Terapi non farmakologis dapat digunakan

sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan farmakologis (obat anti

hipertensi) yang lebih baik (Dalimartha, 2008).

Menrut Brunner & Suddarth, 2002 membuktikan bahwa penatalaksanaan

nonfarmakologis merupakan intervensi yang baik dilakukan pada setiap

pengobatan hipertensi .Terapi nonfarmakologis terbukti dapat mengontrol dan

mempertahankan tekanan darah agar tidak semakin meningkat (Flora et al., 2012).
Pada dasarnya pemberian terapi meditasi ini dapat memberikan kondisi yang

rileks dimana pada kondisi rileks semua system tubuh akan bekerja dengan baik

dan pada kondisi ini hipotalamus akan meyesuaikan dan terjadinya

penurunanaktifitas sistem saraf simpatis dan menigkatkan aktifitas sistem

parasimpatis. Urutan efek fisiologis dan gejala maupun tandanya akan terputus

dan stres psikologis akan berkurang. Teknik relaksasi otot, relaksasi dengan

imajinasi terbimbing dan respon relaksasi dari Benson Hasil penetilian ini sesuai

dengan teori yang mengatakan bahwa terapi meditasi adalah salah satu metode

untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Penurunan tekanan darah disebabkan karena relaksasi meditasi pada

prinsipnya adalah memposisikan tubuh dalam kondisi tenang, sehingga akan

mengalami kondisi keseimbangan, dengan demikian relaksasi meditasi yang

berintikan pada pernafasan akan mengingkatkan sirkulasi oksigen ke otot-otot,

sehingga otot-otot akan mengendur, tekanan darah akan menurun. Relaksasi dapat

menurunkan tekanan sistolik lebih dari 20 mmHg sedangkan tekanan darah

diastolik antara 10 sampai 15 mmHg.

2.1 Implikasi Keperawatan

Implikasi penelitian ini memberikan pemahaman bahwa terapi meditasi

berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah pada lansia yang mengalami

hipertensi sehingga bisa di terapkan dan mudah tampa menggunakan alat

kapanpun dan dimana saja.


BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Pada prinsipnya adalah memposisikan tubuh dalam kondisi tenang, sehingga

akan mengalami kondisi keseimbangan, dengan demikian relaksasi meditasi yang

berintikan pada pernafasan akan mengingkatkan sirkulasi oksigen ke otot-otot,

sehingga otot-otot akan mengendur, tekanan darah akan menurun. Relaksasi dapat

menurunkan tekanan darah.

4.1 Saran

a. Bagi Perawat

Diharapkan analisis jurnal ini khususnya bagi perawat dapat memberikan

tambahan pengetahuan tentag terapi meditasi dan dapat melakukan tindakan

keperawatan pada lansia yang mengalami hipertensi.

b. Bagi Prodi

Untuk prodi dapat dipakai sebagai referensi bagi mahasiswa yang melakukan

praktek di keperawatan gerontik dan mahasiswa dapat menerapkannya tentang

terapi meditasi yang dapat menurunkan tekanan darah pada hipertensi.


DAFTAR PUSTAKA

Boedhi, Darmojo, R. (2011).Buku Ajar Geriatic (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia)


edisi ke – 4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Brunner & Suddarth. 2000. Keperawatan Medikal Medah Edisi Ke-8. Jakarta:
EGC

Carly,USA(2012) Current perspectives on the use of meditation to reduce blood


pressure
Darmojo, R. Boedhi dan H. Hadi Martono. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan
Usia Lanjut) Ed. 3. Jakarta : FKUI. 2004.

Dinas Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Riset
Kesahatan Dasar, 111–116. http://doi.org/1 Desember 2013.

Flora, R., Purwanto, S., Program, D., Ilmu, S., Fakultas, K., & Sriwijaya, U.
(2012). PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS TERAPI PADA
PENDERITA HIPERTENSI PRIMER DI, 124–131.

Fuad, M. N. (2012). Pengaruh meditasi Garuda terhadap tekanan darah dan gejala
hipertensi pada pasien hipertensi usia pertengahan di Desa Balung Lor,
Kecamatan Balung Kabupaten Jember.

Harmilah, 2011. Penurunan stres fisik dan psikososial melalui meditasi pada
lansia dengan hipertensi primer

Indonesia, P. R. (1992). Undang Undang No . 23 Tahun 1992 Tentang :


Kesehatan. Undang Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang : Kesehatan, (23),
1–31.

Mrs. Devi .S1 & Dr. L N Samaga MD, DNB (MED),2015 at Mangalore, Karnataka A
Study to Assess the Effect and Experience of Transcendental Meditation on
Hypertension Patients Attending Medical OPD

Martin,2016 Pengaruh terapi meditasi terhadap perubahan tekanan darah pada


lansia yang mengalami hipertensi

Paat, I. G. O., Ratag, B. T., Kepel, B. J., Kesehatan, F., Universitas, M.,
Ratulangi, S., … Manado, R. (2014). HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI
ALKOHOL DAN STATUS MEROKOK DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI.

Sudiarto. (2007). PENGARUH TERAPI RELAKSASI MEDITASI TERHADAP


PENURUNAN TEKANAN DARAH. Prevention (Vol. 2).