Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah AIK tentang “ILMU PENGETAHUAN DALAM
PRESPEKTIF ISLAM”
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Gorontalo, april 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................


DAFTAR ISI .........................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................
A. Latar belakang ...........................................................................................
B. Rumusan masalah......................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................
A. Pengertian ilmu pengetahuan ....................................................................
B. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut objek dan subjek ..........................
C. Sifat ilmu pengetahuan ..............................................................................
D. Hakikat pengetahuan dalam prespektif islam dan fungsi nilai prespektif
islam. .........................................................................................................
E. Konsep ilmu pengetahuan dalam islam. ....................................................
F. Kedudukan ilmu pengetahuan dalam islam...............................................
G. Peran islam dalam pengembangan iptek ...................................................
BAB III PENUTUP ..............................................................................................
Kesimpulan .......................................................................................................
Saran ................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Berbicara tentang filsafat, kita harus tahu terlebih dahulu apa arti filsafat itu
sendiri. Kata filsafat berasal dari bahsa yunani: philoshopia yang banyak di
peroleh pengertian-pengertian baik secara harfiah atau etimologi. Terdiri dari kata
pilos yang berarti cinta, gemar, suka dan kata shophia berarti pengetahuan hikmah
dan kebijaksanaan.
Tentang ilmu pengetahuan sangat luas dan membutuhkan pikiran untuk
memahaminya secara utuh. Akan tetapi masalah ilmu pengetahuan secara
sederhana dapat di pahami semua orang, meskipun semua orang tidak mampu
membuat dan merumuskan difinisi iank tepat. Ilmu kadang memiliki makna
sebagai sesuatu yang dimiliki seseorang setelah mempelajarinya. Sementara
pengetahuan adalah apa-apa yangtelah diketahui yang berawal dari tidak tahu
menjadi tahu.
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia, di samping
seni dan agama. Pengetahuan merupakan sumber jawaban atas berbagai
pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Maka perlu diketahui terhadap
pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus diajukan. Jika orang bertanya :
“Apakah yang akan terjadi setelah manusia meninggal?”, maka pertanyaan itu
tidak dapat diajukan kepada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab, secara
ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup
pengalaman manusia. Sedang agama memasuki pula wilayah penjelajahan yang
bersifat transendental yang berada di luar pengalaman manusia. Sehingga setiap
jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri yang spesifik tentang “apa, bagaimana dan
untuk apa” (ontologi, epistemologi dan aksiologi), ketiga hal ini saling berkaitan.
Ilmu pengetahuan adalah usaha yang bersifat multi dimensional, sehingga
dapat didefinisikan dalam berbagai cara dan tidak baku. Al-Attas berpendapat
bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan secara ketat, ia hanya dapat dijelaskan dan
penjelasan ini hanya lebih mengacu kepada sifat-sifat dasar pengetahuan tersebut.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana konsep umum pengetahuan dalam islam ?
2. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Menurut Subjek dan Objeknya.?
3. Bagaimana Sifat Ilmu Pengetahuan..?
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN


Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia, di samping
seni dan agama. Pengetahuan merupakan sumber jawaban atas berbagai
pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Maka perlu diketahui terhadap
pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus diajukan. Jika orang
bertanya : “Apakah yang akan terjadi setelah manusia meninggal?”, maka
pertanyaan itu tidak dapat diajukan kepada ilmu, melainkan kepada agama.
Sebab, secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang
berada dalam lingkup pengalaman manusia. Sedang agama memasuki pula
wilayah penjelajahan yang bersifat transendental yang berada di luar
pengalaman manusia. Sehingga setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri
yang spesifik tentang “apa, bagaimana dan untuk apa” (ontologi, epistemologi
dan aksiologi), ketiga hal ini saling berkaitan.
Pengetahuan ilmiah atau ilmu sebagai alat bagi manusia untuk
memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Pemecahan itu pada
dasarnya adalah meramalkan dan mengontrol gejala alam. Di sini timbul
persoalan bagi setiap epistemologi pengetahuan, yakni bagaimana
mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek
ontologis dan aksiologisnya. Dan juga mampu meramalkan serta mengontrol
sesuatu, maka harus mengetahui “mengapa” sesuatu itu terjadi. Di sini harus
menguasai pengetahuan yang menjelaskan peristiwa itu. Maka penelaahan
ilmiah diarahkan untuk mendapatkan penjelasan tentang berbagai fenomena
alam. Penjelasan ini diarahkan terhadap deskripsi tentang hubungan berbagai
faktor yang terkait dalam konstelasi yang menyebabkan timbulnya sebuah
fenomena dan proses terjadinya fenomena itu. Seperti, mengapa secangkir kopi
diberi gula menjadi manis rasanya, bukan mendeskripsikan betapa manisnya
secangkir kopi yang diberi gula itu. Ilmu mencoba mengembangkan dunia
empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang
terikat dalam sebuah hubungan yang bersifat rasional. Sedang seni mencoba
mendeskripsikan sebuah fenomena dengan sepenuh maknanya dan menjadi
bermakna bagi pencipta dan yang meresapinya
Upaya untuk menjelaskan fenomena alam telah dilakukan sejak dahulu
kala dengan memperhatikan berbagai kekuatan alam, seperti hujan, banjir,
gempa dan sebagainya. Mereka merasa tak berdaya dalam menghadapi yang
dianggapnya merupakan kekuatan luar biasa. Kemudian mereka coba dengan
mengaitkan dengan makhluk luar biasa pula, dan berkembanglah berbagai
mitos tentang para dewa dengan berbagai kesaktian dan perangainya, sehingga
muncul dewa-dewa pemarah, pendendam, cinta dan sebagainya. Mereka
mengontrol alam sesuai dengan pengetahuannya dengan memberikan berbagai
macam sesaji. Perkembangan selanjutnya, mereka mencoba menafsirkan
fenomena fisik dengan pengembangan penafsiran tertentu, kemudian
mempunyai pegangan tertentu, betapa pun primitifnya. Bukan saja mengerti
mengapa sesuatu terjadi, tetapi yang lebih penting adalah agar sesuatu itu tidak
terjadi.
Intuisi merupakan pengetahuan yang dihasilkan tanpa melalui proses
penalaran tertentu. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu masalah secara
tiba-tiba menemukan jawabannya dan diyakini atas kebenarannya, namun tidak
bisa menjelaskan bagaimana caranya dapat sampai ke sana. Karena intuisi
sangat personal dan tidak bisa diramalkan, maka ia tidak bisa diandalkan untuk
menyusun ilmu pengetahuan yang teratur. Ia hanya dapat digunakan sebagai
hipotesis bagi analisis berikutnya untuk menentukan benar tidaknya pernyataan
yang dikemukakan. Aktifitas intuitif dan analitik dapat bekerja saling
membantu untuk menemukan kebenaran.
Sedang wahyu, merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan
kepada manusia. Pengetahuan ini didasarkan atas hal-hal yang supernatural
(ghaib) dan merupakan pangkal dalam agama. Sehingga suatu pernyataan harus
diyakini terlebih dahulu, bisa saja kemudian dikaji dengan metode lain. Secara
rasional, umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang dikandungnya
bersifat konsisten atau tidak. Sebaliknya, secara empiris dapat dikumpulkan
fakta-fakta yang mendukung pernyataan itu atau tidak. Tegasnya, agama
dimulai dengan rasa percaya, setelah dikaji kepercayaan itu bisa meningkat
atau menurun. Sebaliknya, pengetahuan lain seperti ilmu, bertolak dari rasa
tidak percaya (ragu) setelah dikaji secara ilmiah bisa menjadi yakin atau tetap
seperti semula.

1. Ilmu pengetahuan dalam prefektif islam


Ilmu pengetahuan adalah usaha yang bersifat multi dimensional, sehingga
dapat didefinisikan dalam berbagai cara dan tidak baku. Al-Attas berpendapat
bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan secara ketat, ia hanya dapat dijelaskan
dan penjelasan ini hanya lebih mengacu kepada sifat-sifat dasar pengetahuan
tersebut. Pengetahuan yang dimiliki manusia adalah tafsiran terhadap
pengetahuan dari ALLAH. Menurut Al-Attas, dilihat dari sumber hakiki
pengetahuan tersebut, maka pengetahuan adalah kedatangan makna suatu objek
kedalam jiwa, (Al-Attas, 1980:42)
Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, bahkan ALLAH SWT sendiri
melalui Al-quran mengangkat derajat orang-oramg yang berilmu "niscaya
ALLAH akan meninggikan orang-orang beriman di antara mu dan orang-orang
yang diberi Ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Al-Mujadillah:11)
Pentingnya ilmu pengetahuan bagi umat manusia, dipandang dari sudut
ibadah sangat tinggi nilai pahalanya. Nabi Muhammad SAW bersabda
"sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (menjelang
petang) kemudian mempelajari suatu ayat dari kitab ALLAH yaitu Al-Quran,
maka pahalamya lebih baik dari ibadah satu tahun". Hal denada di temukan di
hadis lain yang artinya "barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka ia
termasuk golongan fisabilillah (orang-orang yang menegakkan agama
ALLAH) hingga sampai ia pulang kembali. Demikian pentingnya ilmu
pengetahuan, sehingga ALLAH SWT mewajibkan setiap muslim untuk
menuntut ilmu sebagai bekal dirinya, baik dalam menjalani hidup dam
memenuhi segala keperluan hidupnya. Sebagai sabda Rasulullah yang artinya
"menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim". Nabi Muhammad SAW,
mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu tanpa batas waktu: "tuntutlah ilmu
dari lahir hingga ke liang lahat". Dengan demikian jelas bahwa islam
menghargai ilmu pengetahuan dan merupakan kewajiban.
2. Ilmu pengetahuan pada ummnya
Fundamen dalam pemikiran Islam bahwa Allah berkuasa atas segala
sesuatu, termasuk pengetahuan yakni bersumber dari Allah. Sehingga tujuan
pengetahuan itu tidak lain adalah kesadaran tentang Allah. Al-Qur’an, wahyu
Allah menyatakan dalam sebuah cerita, bahwa awal penciptaan Adam, Allah
mengajarkan kepadanya tentang nama benda-benda. Adam sebenarnya
merupakan simbol manusia, dan “nama benda-benda” berarti unsur-unsur
pengetahuan, baik yang materi ataupun non-materi. Demikian juga wahyu
pertama yang diterima Nabi Muhammad saw mengandung perintah “Bacalah
dengan nama Allah”. Perintah ini mewajibkan orang untuk membaca, yakni
pengetahuan harus dicari dan diperoleh demi Allah. Ini berarti wawasan
tentang Allah Yang Maha Suci merupakan fundamen hakiki bagi pengetahuan.
Keyakinan bahwa al-Qur’an, wahyu Allah sebagai sumber utama bagi
pengetahuan lebih komprehensif daripada lainnya. Jika sumber yang lain hanya
mengakui secara parsial, tidak demikian bagi al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui
sumber rasional-deduktif, telah banyak disebutkannya. Seperti “afala ta’qilun”,
“afala tubsirun”, dan sebagainya. Al-Qur’an juga mengakui empirisme-
induktif, banyak disebutkannya. Seperti penciptaan unta, langit, gunung dan
bumi, penciptaan tumbuh-tumbuhan, perintah memperhatikan apa-apa yang
ada di langit dan bumi, dan sebagainya. Demikian juga sumber intuisi dan
sebangsanya dapat diraih melalui penyucian hati. Para ilmuwan Muslim
menekankan perlunya tazkiyah al-nafs untuk memperoleh hidayah Allah,
karena sadar atas kebenaran firman-Nya. Kecuali itu, dalam Islam terdapat apa
yang disebut ‘ilm al-laduni dan hikmah, yaitu pengetahuan kerohanian dan
kebijaksanaan yang diperoleh melalui kontinuitas perbuatan yang saleh. Seperti
latihan-latihan yang dipraktekkan para sufi, sehingga mampu menangkap
komunikasi dari alam ghaib dan transendental serta selalu dibawah bayangan
Yang Qudus.
Pada umumnya ilmu pengetahuan dapat kita lihat dari dua aspek yaitu:
aspek isi (conten definition) adalah pengetahuan yang bersifat terpadu atau
kumpulan pengetahuan yang saling berkaitan dan mengikat dalan suatu
kesatuan kebenaran yang sahih. Aspek proses (process difinition) adalah ilmu
sebagai kegiatan yang ditujukan untuk menemukan variabel variabel alami
yang penting dan kemudian menerangkan serta meramal hubungan tersebut
(sedamayanti: 2002).
Menurut The Ling Gie (1987:56) mengartikan ilmu sebagai rangkaian
aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh
pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia dalam berbagai seginua
dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala
yang ingin di mengerti manusia.
Menurut Lorens Bagus (1996:307), mengutip pendapat Arthur Thompson
yang mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan fakta-fakta pengalaman secara
lengkap dan konsisten meski dalam perwujudan istilah yang sangat sederhana.
Menurut Bahm dikutip Kunto Wibisiono (1997), mengartikan ilmu
pengetahuan memiliki 6 komponen yaitu masalah (problem), sikap (attitude),
metode (method), aktifitas (actifity), kesimpulan (conclution) dan pengaruh
(effect).

 Ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan


sehari-hari dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan
menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah
(observasi, eksperimen, survei, studi kasus dan lain-lain). Berikut penjelasan
pengetahuan secara khusus
a. Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari
seseorang yang telah melakukan pengindraan terhadap suatu obyek
tertentu.
b. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), pengetahuan adalah
sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran.
c. Menurut Suharto (2003), pengetahuan adalah suatu informasi,
sedangkan informasi adalah analisis pengetahuan. Pengetahuan biasanya
dikelompokkan sebagai berikut: Penciptaan Pengetahuan Knowladge),
Penyimpanan Pengetahuan (Knowladge), Pemanfaatan Pengetahuan
(Knowladge).
 Secara umum, karakteristik sains sebagai berikut:
a. Hasil sains bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama.
b. Hasil sains bersifat relatif atau tidak mutlak, bisa terjadi kekeliruan. Hal
uni dapat terjadi karena yang menyelidiki adalah manusia yang
mempunyai keterbatasan
c. Sains bersifat objektif, karena prosedur kerja dengan penggunaan
metode sains tidak tergantung pada yang menggunakan dan tidak
tergantung pada pemahaman secara seseorang. Untuk itu, ilmu memiliki
hakikat tertentu sebagai unti filosofis dengan hirarki: ontologi ilmu,
epistimologi ilmu, aksiologi ilmu. Ketiganya ini menjadi tolak umur
utama dari karya ilmiah.

Dalam kamus besar bahasa indonesia yang telah disempurnakan dimaksud


ilmu pengetahuan adalah suatu bidang yang disusun secara sistematis
berdasarkan metode tertentu untuk dapat dimanfaatkan sebagai penjelas.

Menurut Mulyaddi Kartanegara yang dimaksud adalah melebihi sains adalah


apabila sains hanya terfokus pada bidang pembahasan secara fisik dan
indrawi saja, maka ilmu pengetahuan melampaui bidang-bidang tersebut.

Menurut Ensiklopedia indonesia ilmu pengetahuan adalah suatu sistem dari


berbagai pengetahuan yang masing-masing didapati hasil pemeriksaan yang
dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode tertentu.

Ilmu pengetahuan adalah suatu bidang yang berasal dari berbagai


pengetahuan yang di dapatkan sebagai hasil dari suatu gejala yang di analisa
dan di periksa secara teliti dengan menggunakan metode tertentu (secara
rasional, sistematik, logis dan konsisten) sehingga dapat dijelaskan mengenai
gejala yang bersangkutan.

Orang yang membaca Al Qur’an akan mendapati materi ‘ilm yang


terdapat dalam surah Makiyah dan Madaniyah secara seimbang dengan
semua kata jadiannya;sebagai kata benda, kata kerja, atau kata keterangan
beberapa ratus kali. Kata kerja ta’lamun (kamu mengetahui) terulang
sebanyak 56 kali. Ditambah 3 kali dengan redaksi fasata’lamun (maka kalian
akan mengetahui), 9 kali dengan redaksita’lamu (kalian mengetahui), 85 kali
dengan redaksi ya’lamun (mereka mengetahui), 7 kali dengan
redaksi ya’lamu (mereka mengetahui) dan sekitar 47 kali terulang kata
kerja ‘allama beserta kata jadiannya.

Dari pemaparan diatas ilmu dalam Islam menempati posisi yang sangat
penting. Sehingga orang berilmu menempati kedudukan yang mulia, Allah
SWT berfirman; “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat,
dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Mujadalah:
11). Dalam satu hadits, mencari ilmu juga mendapatkan tempat yang mulia;
“Barang siapa yang mencari ilmu maka ia di jalan Allah sampai ia pulang”
(HR. Tirmidzi).

Wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad


SAW berkaitan dengan perintah membaca (iqra’). Tetapi, sejak awal, sudah
diingatkan bahwa proses membaca tidak boleh dipisahkan dari ingat kepada
Allah SWT. Harus dilakukan dengan mengingat nama Allah SwT (Iqra’
bismi rabbikalladzi khalaq). Konsepsi Ilmu dalam Islam tidak memisahkan
secara dikotomis antara iman dan ilmu pengetahuan. Tidak memisahkan
unsur dunia dan unsur akhirat. Karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan
dipelajari bermuara pada satu tujuan penting, mengenal Allah, beribadah
kepada-Nya dan kebahagiaan di akhirat.
Sehingga dalam Islam sendiri ilmu itu terkait dengan akidah. Syed
Muhammad Naquib al-Attas mengatakan “Mengawali akidah (yang disusun
oleh al-Nasafi) dengan pernyataan yang jelas tentang ilmu pengetahuan
adalah sesuatu yang sangat penting, sebab Islam adalah agama yang
berdasarkan ilmu pengetahuan. Penyangkalan terhadap kemungkinan dan
objektifitas ilmu pengetahuan akan mengakibatkan hancurnya dasar yang
tidak hanya menjadi akar bagi agama, tetapi juga bagi semua jenis sains”.

Orang yang bertambah ‘informasi pengetahuannya’, namun tidak


bertambah imannya, maka orang tersebut dijauhkan dari petunjuk Allah.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak
bertambah petunjuknya, maka tidak akan bertambah kecuali dia akan makin
jauh dari Allah SWT” (HR. al-Dailami). Beriman mensyaratkan untuk
berilmu, seperti firman Allah swt, “Hanya orang-orang berilmu (ulama’)
yang betul-betul takut kepada Allah” (QS Al-Fathir: 28).

Sementara kaum sofis berkeyakinan bahwa mengetahui hakikat sesuatu


itu tidak mungkin. Dalam konteks beragama, manusia tidak mengetahui
hakikat yang benar itu. Dalam Islam, pandangan ini ditolak. Manusia secara
lahir, batin, mental dan spritiual diberi kemampuan untuk mengetahui.
Dalam Islam, mengetahui itu tidak mustahil. Persoalannya, – yang
membedakan dengan Barat – darimana kita mengetahui? Inilah persoalan
sistem, dan kaidah mengetahui.

Dr. Syamsuddin Arif mengatakan sumber ilmu dalam Islam ada;


persepsi indera (idrak al-hawas), proses akal sehat (ta’aqqul), intuisi sehat
(qalb) dan khabar shadiq. Persepsi inderawi meliputi yang lima (indera
pendengar, pelihat, perasa, penyium, penyentuh), daya ingat atau memori ,
penggambaran dan estimasi. Proses akal mencakup nalar dan alur pikir.
Dengan alur pikir kita bisa berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan
pendapat, berargumentasi, melakukan analogi, membuat putusan dan
menarik kesimpulan.
Selanjutnya dengan intuisi qalbu seseorang dapat menangkap pesan-
pesan isyarat ilahi, fath, ilham, kasyf dan sebagainya. Sumber lain yang tak
kalah pentingnya adalah khabar shadiq, yang berasal dari dan bersandar pada
otoritas. Sumber khabar shadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu
(Kalam Allah dan Sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan diteruskan yakni
ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai ke akhir zaman.

Dalam Islam, wahyu merupakan sumber ilmu yang primer karena ia


berkaitan langsung dengan realitas absolute, yaitu Allah SWT. Bahkan
penggalian ilmu pengetahuan dapat ditemukan di dalam wahyu. Hal ini
berbeda dengan Barat yang menolak sama sekali wahyu sebagai sumber
ilmu. Wahyu tidak dapat diverifikasi secara ilmiah. Dalam konteks
epistemologi, sebenarnya konsepsi Islam lebih komprehensif daripada Barat
yang membatasi pada ranah empirik saja.

Dari sisi ontologis, Tuhan merupakan aspek sentral dalam ilmu


pengetahuan Islami. Pengetahuan Tuhan yang absolut ini dibutuhkan ketika
indera dan akal manusia tidak mampu menerjemahkan realitas non-fisik.
Maka di sini diperlukan pemahaman tentang konsep Tuhan yang benar.
Pemahaman yang keliru tentang konsep Tuhan beserta aspek-aspek teologis
lainnya berimplikasi terhadap epistemologi. Jika Tuhan yang diyakini itu
hanya aspek transenden saja yang memiliki sifat absolut, sedangkan Tuhan
itu tidak imanen, maka tidak akan menghasilkan apa-apa terhadap ilmu
pengetahuan Islam.

Secara aksiologis, pemahaman tentang konsep Tuhan, wahyu, agama


dan lainnya dijadikan sebagai sumber nilai. Sistem nilai tidak diambil dari
pengalaman manusia atau fenomena sosial yang selalu berubah-ubah. Nilai
dalam Islam tidak ‘on going proces’. Ia bersifat tetap dan harus
termanifestasikan dalam setiap kerja-kerja ilmiah. Sehingga, Ilmu
pengetahuan Islam yang dihasilkan harus memiliki visi nilai. Karena teologi
mengimplikasikan epistemologi, maka teologi beserta aspek-aspeknya
mempengaruhi proses berpikir seorang ilmuan. Teologi yang benar akan
menghasilkan sistem epistemologi yang tepat pula sesuai dengan nilai Islam.

B. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Menurut Subjek dan Objeknya


 Menurut Subjeknya
1. Teoritis: nomotetis (ilmu alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat sbb)
dan ideografis (ide: cita-cita, grafis: lukisan)
2. Praktis (ilmu terapan) yaitu ilmu yang langsung di tunjukan kepada
pemakaian atau pengalaman pengetahuan, maka ini pun diperinci lebih
lanjut yaitu: normatif seperti filsafat kesusilaan atau filsafat moral) positif
(ilmu pertanian, Ilmu teknik) yang kedua nya salin melengkapi, jadi
walaupun di bedakan tetap tidak bisa dipisahkan. Ke banyak an ilmu
pengetahuan mempunyai baguan teoritis disamping bagian praktis
sehingga sering sulit diterapkan dimana ilmu harus dimasukkan dalam
bagian ini. Ilmu teoritis dapat berdiri sendiri tanpa ilmu praktis
sedangkan ilmu praktis mempunyai dasar teoritis.
 Menurut objeknya
1. Universal/umum: seperti keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusia:
misal teologi/agama dan filsafat.
2. Khusus: hanya mengenai salah satu kapangan tertentu dan kehidupan
manusia, jadi objeknya terbatas. Ini yang disebut dengan ilmu
pengetahuan.
 Ilmu pengetahuan menurut Prof. Dr. Harsya Bachtiar dikelompokkan
dalam 3 besar, yaitu:
1. ilmu alamiah, bertujuan mengetahui keteraturan yang terdapat dalam
alam semesta.
2. Ilmu sosial, bertujuan untuk mengkaji keteraturan yang terdapat dalam
hubungan antar manusia.
3. Pengetahuan budaya, bertujuan memahami dan mencari
arti kenyataan yang bersifat manusiawi.
Al-Ghazali mengemukakan bahwa ada tiga jenis ilmu. Pertama,
ilmu rasional murni (‘aqli mahdh). Contoh yang diberikan al-Ghazali
adalah aritmetika (al-hisab), geometri (al-handasa), dan astrologi (al-
nujum). Ilmu-ilmu rasional ini, menurut al-Ghazali, tidak dianjurkan oleh
agama untuk dipelajari. Alasan yang ia kemukakan sangat menarik yaitu
ilmu-ilmu tersebut tidak seluruhnya benar, sebagian mengandung
kebenaran, dan sebagian lagi hanyalah dugaan-dugaan atau spekulasi yang
tak berdasar. Meski mengandung kebenaran, ilmu-ilmu itu, menurut al-
Ghazali, tetap tiada guna karena hanya berurusan dengan kehidupan
duniawi yang fana.
Kedua, adalah ilmu-ilmu tradisional atau ilmu naqli. Kata “naqli”
secara harafiah berarti sesuatu yang didengar atau dinukil dari sumber
terdahulu. Contoh ilmu semacam ini adalah ilmu hadis dan tafsir. Tentu
yang dimaksud oleh al-Ghazali di sini adalah genre tafsir yang dikenal
dengan tafsir bi al-ma’tsur, yakni tafsir yang didasarkan pada hadits,
pendapat para sahabat atau tabi’in. Ilmu-ilmu ini disebut sebagai “naqli”
karena didasarkan pada riwayat atau pendapat otoritas terdahulu.
Meskipun ada peran akal di sana, tapi sangatlah minimal karena yang
diutamakan hanya ingatan yang kuat.
Ketiga adalah ilmu yang menggabungkan antara akal dan tradisi,
antara penalaran dan riwayat. Ilmu semacam ini paling tinggi statusnya
dalam pandangan al-Ghazali, sebab di sana akal dan wahyu bekerja secara
serentak. Contoh ilmu semacam ini antara lain adalah ushul fiqh, yakni
ilmu yang mengulas cara-cara untuk menentukan hukum dari dalil-dalil
agama yang bersifat umum. Ilmu ushul fiqh disebut sebagai ilmu “aqnali”
sebab di sana akal tidak berjalan sendirian, begitu pula wahyu atau tradisi
tidak merupakan sumber utama. Baik wahyu dan akal bekerja secara
bersama-sama. Karena itu, ushul fiqh adalah ilmu yang statusnya lebih
tinggi dan mulia ketimbang ilmu hadis atau tafsir.
Al-Ghazali mengemukakan argumen tambahan untuk mendukung
pendapatnya tentang keunggulan ilmu aqnali. Yakni, bahwa ilmu-ilmu
semacam itu tidak dilandaskan pada taqlid semata yang menjadi ciri utama
ilmu naqli, begitu pula ia tidak bersandar pada akal murni. Taqlid atau
meniru secara membabi buta ditolak oleh akal, sementara itu berpegangan
pada akal semata juga tidak dapat dibenarkan oleh agama. Ilmu yang
unggul adalah yang berdiri di tengah-tengah antara akal dan wahyu.
Memang benar kenyataannya bahwa tidak semua persoalan dapat
dijawab oleh ilmu pengetahuan. Bagaimanapun juga ilmu pengetahuan itu
memiliki batas-batas tertentu untuk memecahkan masalah. Masalah-
masalah yang diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan yang secara
otomatis tidak bisa terselesaikan maka akan diserahkan kepada
filsafat. Tentu kita dalam berfilsafat dengan cara apapun tidak boleh
menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits, karena didalam itu semua ada
petunjuk dari Allah SWT.

C. Sifat Ilmu Pengetahuan


1. Logis atau Masuk akal, yatu sesuai dengan logika atau aturan berfikir yang
ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. logika
dalam ilmu pengetahuan adalah sesuai dengan fakta. fakta adalah
informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penalaran fenomena.
2. Objektif, yaitu ilmu pengetahuan berkenaan dengan sikap yang tidak
tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi.
Atribut objektif mengandung arti bahwa kebenaran ditentukan oleh
pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan dan penalaran
fenomena.
3. sistematis, yaitu adanya knsistensi dan ketentuan internal. kedewasaan
ilmu pengetahuan dicerminkan oleh adanya keteraturan internal dalam tori,
hukum, prinsip dan metodenya. konsistensi internal dapat berubah dengan
adanya penemuan baru. sifat dinamis ini tidak boleh menghasilkan
kontradisi pada azas teori ilmu pengetahuan.
4. Andal, yaitu dapat diuji kembali secara terbuak menurut persyaratan ynag
ditentukan dengan hasil yang dapat diandalkan. ilmu pengetahuan bersifat
umum, terbuka dan universal.
5. Dirancang, yaitu pengetahuan tidak berkembang dengan sendirinya. ilmu
pengetahuan dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan
metode ilmiah. rancangan ini akan menentukan mutu keluaran ilmu
pengetahuan.
6. Akumulatif, yaitu himpunan fakta teori, hukum dll yang terkumpul sedikit
demi sedikit. apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah ini akan diganti
dengan kaedah yang benar dan ilmu bersifat relatif dan temporal yang
tidak pernah mutlak dan final sehingga ilmu pengetahuan bersifat dinamis
dan terbuka.
7. Verifikatif, yaitu ilmu yang mengarah pada tercapainya suatu kebenaran.
misalnya teori tentang Generatio Spontanea, meyatakan bahwa makhluk
hidup berasal dari benda mati yang sudah diyakini kebenarannya tetapi
akhirnya teori itu digugurkan dengan teori Biognesis menyatakan bahwa
makhluk hidup berasal dari makhluk hidup juga.

D. Hakikat pengetahuan dalam prespektif islam dan fungsi nilai


presfektif islam
Terjadinya pemisahan antara ilmu dan agama memunculakan ide-
ide pembaharuan dari kalangan islam, yang hendak memperjelas kembali
konsep ilmu itu sebenarnya seperti apa, apakah memang ilmu
pemgetahuan itu bertolak belaka dengan konsep ajaran agama khususnya
ajaran agama islam. para pemikir islam seperti Muhammad Naqib al attas,
Ismail Raji al Faruqi dan sayyed hossein Nasr, mencoba memunculakan
ide pembaharuan, dengan tujuan agar ilmu pengetahuan dapat membawa
manusia dalam kesejahteraan bukan kesensaraan seperi saat ini, maka
pengembangan ilmu pengetahuan perlu dikembalikan kepada kerangka
dan perspektif ajaran agama islam, maka caranya islamisasi ilmu
pengetahuan. Karena ternyata konsep pengambangan ilmu pengatahuan
dan gagasan yang paling canggih dan sangat komprehensif serta medalam
yang ditemukan dalam Al-Qur'an kitab landasan islam ialah konsep Ilmu,
pentingnya konsep ilmu ini terungkap dalam kenyataan turunannya sekitar
800 kali. Dalam sejarah peradaban muslim, konsep ilmu secara mendalam
meresap ke dalam seluruh lapisan masyarakat dan mengungkapkan
dirinya dalam semua upaya intelektual. Tidak ada peradaban lain dalam
sejarah yang meiliki konsep ilmu pengatahuan dengan semangat yang
demikian tinggi seperti itu.
Dengan demikian islam sebagai agama rahmatan lil alamin tidak
menolak adanya pengambangan ilmu pengatahuan yang sifatnya modern
justru mendukung hal tersebut, karena ilmu pengatahuan adalah konsep
islam yang sumbernya dari yang satu, yaitu bersumber pada tuhan yang
maha esa, islam membuka diri terhadap seluruh warisan peradaban islam
karena islam adalah paradigma terbuka. Dengan demikian ilmu yang
bernuansa islam dapat di bangun dalam segala bidang yang berdasarkan
dari ajaran islam tidak perlu takut dan khawatir terhadap dimensi sains
baru dan globalisasi yang terjadi di berbagai segi manapun.
pengembangan ilmu pengatahuan di dasarkan beberapa perinsip
sebagai berikut :
1. Ilmu pengetahuan dalam islam di kembangkan dalam kerangka tauhid atau
teologi. Yaitu teologi yang bukan semata-mata meyakini adanya Tuhan
dalam hati, mengucapkannyanya dengan lisan dan mengamalkannya
dengan tingkah laku, melainkan teologi yang menyangkut aktivitas mental
berupa kesadaran manusia yang paling dalam prihal hubungan manusia
dengan tuhan, lingkungan dan sesamanya. Lebih tegasnya adalah teologi
yang memunculkan kesadaran, yaitu paling mendasar dalam diri manusia
yang menformat pandangan dunianya, yang kemudian menurunkan pola
sikap dan tindakan yang selars dengan pandangan dunia tu, karena ini,
teologi pada ujungnya akan mempunyai implikasi yang sangat sosiologis,
sekaligus antropologis.
2. Ilmu pengatahuan dalam islam hendaknya di kembangakan dalam rangka
bertaqwa dan beribadah kepada tuhan. Hal ini penting di tegaskan, karena
dorongan Al-Qur'an untuk mempelajari fenomena alam dan sosial tampak
kurang diperhatikan, sebagai akibat dan perhatian dakwah islam yang
semula lebih dituju untuk memperoleh keselamatan di akhirat, hal ini
mesti di imbangai dengan perintah mengabdi kepada Allah SWT dalam
arti yang luas, termasuk mengambangakan ilmu pengatahuan.
Menyesuaikan motivasi pengambangan ilmiah dengan ajaran islam selain
akan meningkatkan kuantitas juga kualitas ilmiah, karena motivasi utama
tidak untuk mendapatkan popularitas dan imbalan materi atau sekedar ilmu
untuk ilmu malainkan mengembangakan ilmu yang didorong oleh
keihlasan dan rasa tanggung jawab kepada Allah SWT.
3. Orintasi pengembangan ilmu pengatahuan harus di mulai dengan suatu
pemahaman yang segera dan kritis atas epistimologi islam klasik dan suatu
rumusan kontemporer tentang konsep ilmu. Perubahan harus ditafsirka
dalam rangka struktur fisik luarnya, dan infrastruktur dari gagasan
epistimologi islam yang abadi harus dipulihkan dalam keseluruhannya,
dalam kaitan ini, maka pengambangan ilmu dalam bentuk lahiriyah,
jangan sampai menghilangkan makna spritualitas yang abadi, yakni
sebagai alat untuk menyaksikan kebesaran Tuhan. Roger Garaudi
mengatakan bahwa setiap ilmu di samping memilki makana yang dapat di
cerana oleh akal tetapi juga harus memiliki makna yang dapat dirasakan.
4. Ilmu pengatahuan harus di kembangkan oleh orang-orang islam yang
memiliki keseimbangan antara kecerdasan akal dengan kecerdasan
emosional yang dibarengi dengan kesungguhan untuk beribadah kepada
Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya.
Keempat ilmu pengetahuan di atas harus di kembangkan dan di
manfaatkan dalam rangka integral yakni antara ilmu agama dan ilmu umum
harus seimbang walaupun bentuk formalnya berbeda-beda, namun hakekatnya
sama, yakni sama-sama sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Dengan
pandangan yang demikian itu, maka tidak ada lagi perasaan yang merasa lebih
unggul antara satu dan lainnya. Hal ini sesui dengan konsep Al-Qur'an tentang
ilmu pengatahuan yang mana tidak membenda-bedakan antara ilmu
pengatahuan agama dengan umum, kedua jenis pengatahuan tersebut
merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, karena semua ilmu
adalah merupakan manifestasi dari ilmu pengatahuan yang satu, yaitu ilmu
pengatahuan Allah.Firman Allah SWT yang menunjukkan bahwa semua ilmu
pengatahuan berasal dari Allah ialah : Surah Ar-rahman 1-5
(Tuhan) yang maha pemurah, Yang telah megajarkan Al-Qur'an, Dia
menciptakan manusia, mengajarinya pandai berbicara. (Q.S. Ar-rahman: 1-5)
Dan dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda
benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lal
berfirman “ sebutkalah kepadaku nama benda0benda itu jika kamu memang
orang-orang yang benar”.(Q.S. Al-Baqarah :31)

E. Konsep ilmu pengetahuan dalam islam


Kata “ilmu” berasal dari bahasa Arab yaitu (alima, ya’lamu, ‘ilman) yang
berarti mengerti, memahami benar-benar. Sedangkan menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang
disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yg dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Ilmu ialah deskripsi
data pengalaman secara lengkap dan tertanggung jawabkan dalam rumusan-
rumusannya yang sesederhana mungkin.
Ilmu merupakan perkataan yang memiliki makna lebih dari satu arti. Oleh
karenanya diperlukan pemahaman dalam memaknai apa yang dimaksud.
Menurut cakupannya pertama-tama ilmu adalah istilah umum untuk
menyebut segenap pengetahuan ilmiah dalam satu kesatuan. Dalam arti kedua
ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang
mempelajari pokok tertentu. Maksud dari pengertian ini adalah bahwa ilmu
berarti suatu cabang ilmu khusus. Berpikir pada dasarnya merupakan sebuah
proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian
gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya
sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Gerak pemikiran
ini dalam kegiatannya mempergunakan lambang yang merupakan abtraksi
dari objek yang sedang kita pikirkan. Bahasa adalah salah satu lambang
tersebut dimana objek-objek kehidupan yang konkrit dinyatakan dengan kata-
kata dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Pengetahun ini merupakan produk
kegiatan berfikir yang merupakan obor peradaban dimana manusia
menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna.

F. Kedudukan ilmu pengetahuan dalam islam


Manusia diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan
Allah yang lain. Kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk
lainnya tersebut adalah dengan dengan pemberian akal pikiran dalam
penciptaannya. Akal inilah yang dapat membedakan manusia dari makhluk
lainnya.
Dengan akal itu Allah SWT telah memuliakan manusia, mengangkat
derajatnya dengan derajat yang tinggi. Akal adalah alat untuk berpikir, Allah
SWT menjadikan akal sebagai sumber tempat bermula dan dasar dari ilmu
pengetahuan. Imam Ghazali mengatakan sebagaimana dikutip oleh Wahbah
Az-Zuhaili, penyebutan kata yang terkait dengan “al-‘aqlu” dalam Al-Qur’an
sedikitnya ada lima puluh kali dan penyebutan ‘Uulin-nuhaa’ sebanyak dua
kali.
Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dalam setiap ciptaan Allah
terdapat ilmu pengetahuan yang akan menunjukkan tanda-tanda Kebesaran
Allah kepada manusia. Untuk menggali dan mendapatkan pengetahuan itu
manusia harus menggunakan akal pikiran yang telah dianugerahkan
kepadanya. Dalam hal ini wahyu dan akal saling mendukung dan melengkapi
untuk mendapatkan tanda-tanda Kekuasaan Allah.
Agama Islam datang dengan memuliakan sekaligus mengaktifkan kerja
akal serta menuntutnya kearah pemikiran Islam yang rahmatun
lil’alamin. Manusia harus dapat menggunakan kecerdasan yang dimilikinya
untuk kesejahteraan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.
Akal sebagai dasar dari ilmu pengetahuan memberikan kemampuan
kepada manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk dan
dapat memberikan argumen tentang kepercayaan dan keberagamaannya.
Dengan kemampuan akal untuk berpikir ini manusia mampu menentukan
pilihan yang terbaik untuk dirinya dan agamanya.
Islam juga meluaskan cakrawala manusia mengenai potensi intelektual,
psikologis dan unsur - unsur penting penghidupan lainnya. Islam mengajarkan
manusia untuk menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menguasai dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan akal yang
dimilikinya manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan.
Manusia harus terus menimba ilmu karena ilmu terus berkembang
mengikuti zaman. Apabila manusia tidak mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan, niscaya pandangannya akan sempit yang berakibat lemahnya
daya juang menghadapi jalan kehidupan yang cepat ini.
Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah
penekananya terhadap Ilmu (sains). Al-Qur’an dan al-Sunah mengajak kaum
muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta
menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang
tinggi. Allah SWT telah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang
yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Allah SWT berfirman:

‫واذا قيل انشزوا فانشزوا يرفع هللا الذين امنوا منكم والذين اوتواالعلم درجا‬

“Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu” maka berdirilah, niscaya


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-
orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (al-Mujadalah 11).

Allah SWT berfirman dalam S. Al-Jastiyah ayat 3-5:


‫) وفي خلقكم ومايبث من دابة‬3(‫ ان في السموات واالرض اليات للمؤمنين‬.G
‫) واختالف اليل والنهار وماانزل هللا من السماء من‬4(‫ايات لقوم يوقنون‬
)5(‫رزق فاحيابه االرض بعد موتها وتصريف الرياح ايات لقوم يعقلون‬

Artinya: Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-


tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada
penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di
muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang
meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan
Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah
matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang berakal.

H. Peran islam dalam perkembangn iptek


 Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan.
Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma
sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa
Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qaidah fikriyah) bagi
seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam
sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar
bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan
Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan
dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan.
 Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai
standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau
kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar
manfaat (pragmatism/ utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar
syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan
pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh
memanfaatkan iptek, jika telah dihalalkan oleh Syariah Islam. Sebaliknya jika
suatu aspek iptek telah diharamkan oleh Syariah, maka tidak boleh umat
Islam memanfaatkannya, walau pun ia menghasilkan manfaat sesaat untuk
memenuhi kebutuhan manusia.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, manusia di beri akal
pikiran untuk mengembangkan potensi diri untuk kebaikan manusia lain dan
dengan dirinya sendiri. Oleh sebab, manusia patut bersyukur atas apa yang
diberikan Allah SWT.

Saran
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim
Bergen Evan, The Natural on Nonsense, New York: Knop, 1946.
Bertrand Russell, The Impact of Science Upon Society, New York: Simon and Schuster,
1953.
Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, terj. Hasan Basri, Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1989.
Gustav Weigel, S.J. dan Arthur W. Madden, Knowledge: Its Values and
Limits, Englewood Cliffs, N.J.: Prantic Hall, 1961.
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. II, Jakarta: Sinar
Harapan, 1985.
Karl R. Popper, Conjectures and Refutation, New York: Basic, 1962.
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996.
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Lahore:
Shaikh Muhammad Adhraf, 1958