Anda di halaman 1dari 21

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DEMENSIA PADA LANSIA

PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN GERONTIK

ASTRI WULANDARI SITUMORANG NOVITA SARI


DAHLIA LARA SIKUMALAY PRATIWI WULANDARI
ELFA APTIA RAHMI KUMALA
ISTIQAMAH YULIAS RAZKA UTIYA
M. ANGGA MAHALTA SONIA MESTIKA HERNANDEZ
NAJMI ULFA MISBAH

PRAKTEK PROFESI NERS KEPERAWATAN GERONTIK


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2018
SATUAN ACARA KEGIATAN

Pokok Bahasan : Penyuluhan tentang demensia Pada Lansia

Hari/ Tanggal : Rabu / 1 Agustus 2018

Pukul : 9.00-10.00

Sasaran : Lansia diwilayah kerja Puskesmas Ulak Karang Selatan

Tempat : Puskesmas Ulak Karang

A. LATAR BELAKANG

Lanjut usia (lansia) bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari
suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan stress lingkungan. Seseorang dikatakan lanjut usia apabila
usianya lebih dari 65tahun ke atas (Efendi dan Mahfudin 2009). Sedangkan badan
kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan
proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut
usia. Lansia dapat mengalami gangguan kognitif pada lansia seperti demensia
Di negara-negara yang sedang berkembang usia harapan hidup berkisar 10
tahun atau lebih ada di bawah rata-rata usia harapan hidup penduduk dunia.
(dalam Shirdev & Levey, 2004) Usia harapan hidup yang lebih lama akan
menyebabkan perubahan yang terjadi pada struktur dan sistem pada masyarakat
dunia. Berbagai permasalahan yang dialami oleh para orang lanjut usia seperti
tersedianya tenaga kerja yang masih potensial, fasilitas untuk mereka, serta
masalah medis dan psikis yang sering dialami (misal: depresi, demensia, penyakit
jantung, darah tinggi).
Alzheimer kebanyakan menyerang kaum hawa karena hormon wanita lebih
cepat masuk masa menopause ketimbang pria dengan masa andropausenya.
Bahayanya, memang alzheimer lebih banyak hinggap pada wanita daripada pria.
Jadi faktor resiko Demensia Alzheimer (DA) terjadi pada usia lanjut, wanita,
trauma kapitis berat, pendidikan rendah dan menyangkut faktor genetik kasusnya
1 - 5%. (dalam Wibowo, 2007) Sedangkan pada penelitian Lerner (1999) terlihat
bahwa resiko wanita mendapatkan penyakit demensia jenis Alzheimer lebih
dikarenakan angka harapan hidupnya lebih besar daripada pria. Menurutnya
faktor resiko terbesar penyakit demensia adalah usia lanjut, dan jenis kelamin
tidak mempunyai hubungan yang langsung dengan penyakit tersebut.
Demensia vaskuler dan demensia Alzheimer merupakan penyebab utama
demensia, bahkan diantara keduanya sering terjadi bersamaan. Erkinjutti (2005)
melaporkan hasil penelitian patologi melalui proses otopsi, pada 50% penderita
demensia Alzheimer terlihat adanya CVD dan pada 80% penderita demensia
vaskuler didapatkan kelainan sesuai dengan Alzheimer. (dalam Wibowo, 2007)
Berdasarkan hal diatas maka kami merasa perlu memberikan informasi
melalui penyuluhan tentang hipertensi dan asam urat pada lansia. Dengan adanya
penyuluhan diharapkan lansia dapat mengatasi dan termotivasi dalam mengetahui
tentang demensia..

B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat penyuluhan tentang demensia pada lansia, peserta
mengetahui dan memahami tentang demensia.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan tentang demensia pada lansia
diharapkan peserta :
a. Mengetahui pengertian demensia
b. Mengetahui klasifikasi dari demensia
c. Mengetahui penyebab dari demensia
d. Mengetahui tanda gejala dari demensia
e. Mengetahui komplikasi demensia
f. Mengetahui penatalaksanaan pada klien dengan demensia
g. Mengetahui cara perawatan lansia dengan demensia
C. Pelaksanaan Kegiatan
1. Topik
Penyuluhan tentang demensia pada lansia

2. Sasaran/Target
 Lansia diwilayah kerja Puskesmas Ulak Karang
 Bersedia menjadi peserta penyuluhan
 Kooperatif

3. Metoda
Presentasi dan Diskusi

4. Media dan Alat


 Laptop
 LCD
 Slide Power Point
 Leaflet

5. Waktu dan tempat


 Hari/Tanggal : Rabu, 1 Agustus 2018
 Waktu : 09.00 s.d 10.00 WIB
 Tempat : Puskesmas Ulak Karang
D. Kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok
Kegiatan
N TAK Kegiatan Peserta Waktu
o
Fase1 Orientasi
 Memberikan salam dan  Menjawab salam 5 menit
memperkenalkan semua  Mendengarkan
anggota kelompok dan
 Menjelaskan topik memperhatikan
penyuluhan  Mendengar dan
 Menjelaskan tujuan memperhatikan
penyuluhan
2 Kerja
Fase
 Menggali pengetahuan  Menjawab 20 menit
peserta penyuluhan pertanyaan
 Menjelaskan kepada pemateri
lansia tentang  Mendengar dan
pengertian demensia memperhatikan
pada lansia, klasifikasi
demensia, penyebab
demensia, tanda gejala,
serta komplikasi dan
penatalaksanaan pada
pasien dengan
demensia.
Menjelaskan cara
perawatan lansia
dengan demensia secara
mandiri.
3
Penutup
 Mengevaluasi kembali  Menyampaikan
materi yang sudah respon selama 5 M
diberikan kegiatan e
n
 Memberikan
 Menerima i
reinforcement positif
reinforcement t
kepada orang tua anak
positif
 Memberi kesempatan
kepada peserta
penyuluhan untuk
bertanya

 Menyimpulkan materi
penyuluhan

 Menutup pertemuan
dan memberi salam  Menjawab salam

E. SETTING TEMPAT T.A.K


Keterangan :

: Moderator
: Fasilitator & observer
: Pasien dan keluarga pasien
: Presentator

F. PENGORGANISASIAN
a. Pembagian Tugas
1. Presentator : Novita Sari
2. Moderator : Rahmi Kumala
3. Fasilitator :
 Istiqamah Yulias
 Razka Utiya
 Dahlia Lara Sikumalay
 Elfa Aptia
 M. Angga Mahalta
 Najmi Ulfa Misbah
 Pratiwi Wulandari
4. Observer : Astri Wulandari Situmorang
b. Rincian Tugas/Peran
1. Peran Moderator
a. Membuka dan menutup acara.
b. Memperkenalkan diri.
c. Menetapkan tata tertib acara penyuluhan.
d. Kontrak waktu yang akan digunakan selama penyuluhan
e. Menjaga kelancaran acara.
f. Memimpin praktek.
g. Bersama fasilitator menjalin kerja sama dalam acara penyuluhan.
2. Peran Presentator
Menyampaikan pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang akan dilakukan
3. Peran Fasilitator
a. Bersama leader menjalin kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan
penyuluhan.
b. Memotivasi peserta kegiatan dalam penyuluhan.
c. Menjadi contoh dalam kegiatan.
4. Peran Observer
a. Mengamati jalannya kegiatan.
b. Mengevaluasi kegiatan.
c. Mencatat perilaku verbal dan non verbal peserta
kegiatan.

G. EVALUASI PROSES
1. Evaluasi Struktur:
 Penggunaan media yang lengkap, kondisi tempat yang kondusif.
 Presentator menguasai langkah-langkah pelaksaanaan kegiatan
penyuluhan
 Peserta berperan aktif selama proses penyuluhan
2. Evaluasi Proses
 Proses penyuluhan dapat terlaksana sesuai dengan perencanaan
 Peserta aktif dalam kegiatan penyuluhan
3. Evaluasi Hasil
 Sebanyak 70% dari peserta penyuluhan mampu menyebutkan kembali
pengertian hipertensi pada lansia, klasifikasi, penyebab, tanda gejala,
komplikasi dan penatalaksanaan demensia
 Sebanyak 70% dari peserta penyuluhan mampu menyebutkan kembali
pencegahan demensia, cara perawatan demensia secara mandiri,
Lampiran Materi

A. Pengertian demensia
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan
beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom)
yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive).

Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa,


melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu
sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan
memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari -hari.
Demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan
daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari
(Nugroho, 2008).

Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi vegetatif atau
keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan
interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu. (Elizabeth J. Corwin,
2009). Demensia adalah penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan hilangnya
independensi sosial. (William F. Ganong, 2010)

B. Klasifikasi demensia
1. Menurut Kerusakan Struktur Otak
a. Tipe Alzheimer
Alzheimer adalah kondisi dimana sel saraf pada otak mengalami kematian
sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana
mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori,
kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir. Sekitar 50-
60% penderita demensia disebabkan karena penyakit Alzheimer.
Demensia ini ditandai dengan gejala :
1. Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif.
2. Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia, gangguan
fungsi eksekutif,
3. Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
4. Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
5. Kehilangan inisiatif.
Penyakit Alzheimer dibagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya
deteorisasi intelektual :
Ø Stadium I (amnesia)
- Berlangsung 2-4 tahun
- Amnesia menonjol
- Perubahan emosi ringan
- Memori jangka panjang baik
- Keluarga biasanya tidak terganggu
Ø Stadium II (Bingung)
- Berlangsung 2 – 10 tahun
- Episode psikotik
- Agresif
- Salah mengenali keluarga
Ø Stadium III (Akhir)
- Setelah 6 - 12 tahun
- Memori dan intelektual lebih terganggu
- Membisu dan gangguan berjalan
- Inkontinensia urin
b. Demensia vaskuler
Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak dan
setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia.
Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi
darah otak, sehingga depresi dapat diduga sebagai demensia vaskular.
Tanda-tanda neurologis fokal seperti :
1) Peningkatan reflek tendon dalam
2) Kelainan gaya berjalan
3) Kelemahan anggota gerak

2. Menurut Umur:
a. Demensia senilis ( usia >65tahun)
b. Demensia prasenilis (usia <65tahun)

3. Menurut perjalanan penyakit :


a. Reversibel (mengalami perbaikan)
b. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma,
vit.B,defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb)
Pada demensia tipe ini terdapat pembesaran vertrikel dengan
meningkatnya cairan serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :
1) Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret).
2) Inkontinensia urin.
3) Demensia.

4. Menurut sifat klinis:


a. Demensia proprius
b. Pseudo-demensia
5. Faktor Genetik
Walaupun penyebab demensia tipe Alzheimer masih belum diketahui,
telah terjadi kemajuan dalam molekular dari deposit amiloid yang merupakan
tanda utama neuropatologi gangguan. Beberapa peneliti menyatakan bahwa
40 % dari pasien demensia mempunyai riwayat keluarga menderita demensia
tipe Alzheimer, jadi setidaknya pada beberapa kasus, faktor genetik dianggap
berperan dalam perkembangan demensia tipe Alzheimer tersebut. Dukungan
tambahan tentang peranan genetik adalah bahwa terdapat angka persesuaian
untuk kembar monozigotik, dimana angka kejadian demensia tipe Alzheimer
lebih tinggi daripada angka kejadian pada kembar dizigotik. Dalam beberapa
kasus yang telah tercatat dengan baik, gangguan ditransmisikan dalam
keluarga melalui satu gen autosomal dominan, walau transmisi tersebut jarang
terjadi.
 Protein prekursor amiloid
Gen untuk protein prekusor amiloid terletak pada lengan panjang
kromosom 21. Melalui proses penyambungan diferensial, dihasilkan empat
bentuk protein prekusor amiloid. Protein beta/ A4, yang merupakan
konstituen utama dari plak senilis, adalah suatu peptida dengan 42-asam
amino yang merupakan hasil pemecahan dari protein prekusor amiloid. Pada
kasus sindrom Down (trisomi kromosom 21) ditemukan tiga cetakan gen
protein prekusor amiloid, dan pada kelainan dengan mutasi yang terjadi pada
kodon 717 dalam gen protein prekusor amiloid, suatu proses patologis yang
menghasilkan deposit protein beta/A4 yang berlebihan. Bagaimana proses
yang terjadi pada protein prekusor amiloid dalam perannya sebagai penyebab
utama penyakit Alzheimer masih belum diketahui, akan tetapi banyak
kelompok studi yang meneliti baik proses metabolisme yang normal dari
protein prekusor amiloid maupun proses metabolisme yang terjadi pada
pasien dengan demensia tipe Alzheimer untuk menjawab pertanyaan tersebut.


 Gen E4 multipel
Sebuah penelitian menunjukkan peran gen E4 dalam perjalanan
penyakit Alzheimer. Individu yang memiliki satu kopi gen tersebut memiliki
kemungkinan tiga kali lebih besar daripada individu yang tidak memiliki gen
E4 tersebut, dan individu yang memiliki dua kopi gen E4 memiliki
kemungkinan delapan kali lebih besar daripada yang tidak memiliki gen
tersebut. Pemeriksaan diagnostik terhadap gen ini tidal direkomendasikan
untuk saat ini, karena gen tersebut ditemukan juga pada individu tanpa
demensia dan juga belum tentu ditemukan pada seluruh penderita demensia.
 Neuropatologi
Penelitian neuroanatomi otak klasik pada pasien dengan penyakit
Alzheimer menunjukkan adanya atrofi dengan pendataran sulkus kortikalis
dan pelebaran ventrikel serebri. Gambaran mikroskopis klasik dan
patognomonik dari demensia tipe Alzheimer adalah plak senilis, kekusutan
serabut neuron, neuronal loss (biasanya ditemukan pada korteks dan
hipokampus), dan degenerasi granulovaskuler pada sel saraf. Kekusutan
serabut neuron (neurofibrillary tangles) terdiri dari elemen sitoskletal dan
protein primer terfosforilasi, meskipun jenis protein sitoskletal lainnya dapat
juga terjadi. Kekusutan serabut neuron tersebut tidak khas ditemukan pada
penyakit Alzheimer, fenomena tersebut juga ditemukan pada sindrom Down,
demensia pugilistika (punch-drunk syndrome) kompleks Parkinson-demensia
Guam, penyakit Hallervon-Spatz, dan otak yang normal pada seseorang
dengan usia lanjut. Kekusutan serabut neuron biasanya ditemukan di daerah
korteks, hipokampus, substansia nigra, dan lokus sereleus.Plak senilis (disebut
juga plak amiloid), lebih kuat mendukung untuk diagnosis penyakit
Alzheimer meskipun plak senilis tersebut juga ditemukan pada sindrom Down
dan dalam beberapa kasus ditemukan pada proses penuaan yang normal.
 Neurotransmiter
Neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi dari
demensia Alzheimer adalah asetilkolin dan norepinefrin. Keduanya
dihipotesis menjadi hipoaktif pada penyakit Alzheimer. Beberapa penelitian
melaporkan pada penyakit Alzheimer ditemukannya suatu degenerasi spesifik
pada neuron kolinergik pada nukleus basalis meynert. Data lain yang
mendukung adanya deficit kolinergik pada Alzheimer adalah ditemukan
konsentrasi asetilkolin dan asetilkolintransferase menurun.
 Penyebab potensial lainnya
Teori kausatif lainnya telah diajukan untuk menjelaskan
perkembangan penyakit Alzheimer. Satu teori adalah bahwa kelainan dalam
pengaturan metabolisme fosfolipid membrane menyebabkan membran yang
kurang cairan yaitu, lebih kaku dibandingkan dengan membrane yang normal.
Penelitian melalui spektroskopik resonansi molekular (Molecular Resonance
Spectroscopic; MRS) mendapatkan kadar alumunium yang tinggi dalam
beberapa otak pasien dengan penyakit Alzheimer.
 Familial Multipel System Taupathy dengan presenile demensia
Baru-baru ini ditemukan demensia tipe baru, yaitu Familial Multipel
System Taupathy, biasanya ditemukan bersamaan dengan kelainan otak yang
lain ditemukan pada orang dengan penyakit Alzheimer. Gen bawaan yang
menjadi pencetus adalah kromosom 17. Gejala penyakit berupa gangguan
pada memori jangka pendek dan kesulitan mempertahankan keseimbangan
dan pada saat berjalan. Onset penyakit ini biasanya sekitar 40 – 50 detik, dan
orang dengan penyakit ini hidup rata-rata 11 tahun setelah terjadinya gejala.
Seorang pasien dengan penyakit Alzheimer memiliki protein pada sel neuron
dan glial seperti pada Familial Multipel System Taupathy dimana protein ini
membunuh sel-sel otak. Kelainan ini tidak berhubungan dengan plaq senile
pada pasien dengan penyakit Alzheimer.
 Penyakit Binswanger
Dikenal juga sebagai ensefalopati arteriosklerotik subkortikal, ditandai
dengan ditemukannya infark-infark kecil pada subtansia alba yang juga
mengenai daerah korteks serebri. Dulu dianggap penyakit yang jarang terjadi
tapi dengan pencitraan yang canggih dan kuat seperti resonansi magnetik
(Magnetic Resonance Imaging; MRI) membuat penemuan kasus ini menjadi
lebih sering.
 Penyakit Pick
Penyakit Pick ditandai atrofi yang lebih banyak dalam daerah
frontotemporal. Daerah tersebut mengalami kehilangan neuronal, gliosis dan
adanya badan Pick neuronal, yang merupakan massa elemen sitoskeletal.
Badan Pick ditemukan pada beberapa specimen postmortem tetapi tidak
diperlukan untuk diagnosis. Penyebab dari penyakit Pick tidak diketahui.
Penyakit Pick berjumlah kira-kira 5% dari semua demensia
ireversibel. Penyakit ini paling sering pada laki-laki, khususnya yang
memiliki keluarga derajat pertama dengan penyakit ini. Penyakit Pick sukar
dibedakan dengan demensia Alzheimer. Walaupun stadium awal penyakit
lebih sering ditandai oleh perubahan kepribadian dan perilaku, dengan fungsi
kognitif lain yang relative bertahan. Gambaran sindrom Kluver-Bucy
(contohnya: hiperseksualitas, flaksiditas, hiperoralitas) lebih sering ditemukan
pada penyakit Pick daripada pada penyakit Alzheimer.
 Penyakit Jisim lewy (Lewy body diseases)
Penyakit Jisim Lewy adalah suatu demensia yang secara klinis mirip
dengan penyakit Alzheimer dan sering ditandai oleh adanya halusinasi,
gambaran Parkinsonisme, dan gejala ekstrapiramidal. Inklusi Jisim Lewy
ditemukan di daerah korteks serebri. Insiden yang sesungguhnya tidak
diketahui. Pasien dengan penyakit Jisim Lewy ini menunjukkan efek yang
menyimpang (adverse effect) ketika diberi pengobatan dengan antipsikotik.
 Penyakit Huntington
Penyakit Huntington secara klasik dikaitkan dengan perkembangan
demensia. Demensia pada penyakit ini terlihat sebagai demensia tipe
subkortikal yang ditandai dengan abnormalitas motorik yang lebih menonjol
dan gangguan kemampuan berbahasa yang lebih ringan dibandingkan
demensia tipe kortikal. Demensia pada penyakit Huntington menunjukkan
perlambatan psikomotor dan kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan yang
kompleks, akan tetapi memori, bahasa, dan tilikan relatif utuh pada stadium
awal dan pertengahan penyakit. Dalam perkembangannya, demensia menjadi
lengkap dan gambaran klinis yang membedakannya dengan demensia tipe
Alzheimer adalah tingginya insiden depresi dan psikosis, selain gangguan
pergerakan berupa gambaran koreoatetoid klasik.
 Penyakit Parkinson
Sebagaimana pada penyakit Huntington, Parkinsonisme merupakan
penyakit pada ganglia basalis yang biasanya dikaitkan dengan demensia dan
depresi. Diperkirakan 20 hingga 30 persen pasien dengan penyakit Parkinson
mengalami gangguan kemampuan kognitif. Gerakan lambat pada pasien
dengan penyakit Parkinson sejajar dengan perlambatan berpikir pada beberapa
pasien, suatu gambaran yang sering disebut oleh para klinis sebagai
bradifrenia.

C. Manifestasi Klinis demensia


Tanda dan Gejala dari Penyakit Demensia antara lain :

1. Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif.


2. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
3. Gangguan kepribadian dan perilaku (mood swings).
4. Defisit neurologi dan fokal.
5. Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang.
6. Gangguan psikotik : halusinasi, ilusi, waham, dan paranoid.
7. Keterbatasan dalam ADL (Activities of Daily Living)
8. Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.
9. Tidak bisa pulang kerumah bila bepergian.
10. Lupa meletakkan barang penting.
11. Sulit mandi, makan, berpakaian dan toileting.
12. Mudah terjatuh dan keseimbangan buruk.
13. Tidak dapat makan dan menelan.
14. Inkontinensia urine
15. Dapat berjalan jauh dari rumah dan tidak bisa pulang.
16. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa”
menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
17. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan,
tahun, tempat penderita demensia berada
18. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,
menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata
atau cerita yang sama berkali-kali
19. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah
drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain,
rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak
mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
20. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah

D. Penatalaksanaan demensia
1. Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
1) Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan
antikoliesterase seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine ,
Memantine
2) Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet seperti
Aspirin , Ticlopidine , Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah ke
otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.
3) Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan
mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan
dengan stroke.
4) Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-
depresi seperti Sertraline dan Citalopram.
5) Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang
bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-
psikotik (misalnya Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone). Tetapi
obat ini kurang efektif dan menimbulkan efek samping yang serius.
Obat anti-psikotik efektif diberikan kepada penderita yang mengalami
halusinasi atau paranoid.

2. Dukungan atau Peran Keluarga


1) Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita
tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam
dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu
penderita tetap memiliki orientasi.
2) Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa
membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada penderita yang senang
berjalan-jalan.
3) Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya secara
rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita.
4) Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu, bahkan
akan memperburuk keadaan.
5) Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial dan
perawatan, akan sangat membantu.

3. Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi
simtomatik, meliputi:
a. Diet
b. Latihan fisik yang sesuai
c. Terapi rekreasional dan aktifitas
d. Penanganan terhadap masalah-masalah
H. PENCEGAHAN DAN PERAWATAN DEMENSIA
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia
diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan
fungsi otak, seperti :
1) Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan
zat adiktif yang berlebihan.
2) Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan
setiap hari.
3) Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif :
a. Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
b. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang
memiliki persamaan minat atau hobi
4) Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam
kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Christopher, M . 2007. Pikun dan Pelupa. Jakarta : Dian Rakyat

Copel, L. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Jakarta ; EGC

Darmojo, B. 1999. Geriatri. Jakarta: FKUI

Kusuma, W. 1997. Kedaruratan Psikiatri dalam Praktek. Jakarta : Profesional Book’s


Nurviandari, K. 2007. Mengenal Demensia pada Lanjut Usia.

www.komnaslansia.co.id ( 27 Juni 2008)

Subaidah, M. 2008. Demensia. www.mitrakeluarga.com ( 27 Juni 2008)

Yatim, F. 2003. Pikun ( Demensia) , Penyakit Alzheimer, dan Sejenisnya. Jakarta:

Pustaka Populer

http://www.e-psikologi.com/ gangguan psikologi dan perilaku pada dimensia, 2002