Anda di halaman 1dari 2

TEKNIK PERKUATAN BATUAN PADA PEKERJAAN TEROWONGAN

pada dasarnya pembuatan tunnel dapat dilaksanakan dengan berbagai cara tergantung dari
kondisi setempat terutama dari keadaan batuan. Salah satu cara pembuatan tunnel yang terbaru
telah ditemukan di Austria, dikenal dengan nama NATM (New Austrian Tunneling Methode)
Sekilas tentang NATM

New Austrian Tunneling Methode adalah suatu sistem pembuatan tunnel dengan
menggunakan shotcrete (beton yang disemprotkan dengan tekanan tinggi) dan rock boltsebagai
penyangga sementara tunnel, sebelum diberi lapisan concrete (lining concrete). Sebelum
ditemukannya metode NATM ini, digunakan kayu dan rangka baja sebagai konstruksi penyangga
sementara. Kelemahan dari konstruksi kayu ini menurut Prof. LV. Rabcewicz dalam bukunya NATM
adalah kayu khususnya dalam keadaan lembab akan sangat mudah mengalami keruntuhan,
meskipun baja mempunyai sifat fisik yang lebih baik, efisiensi busur kerja baja sangat tergantung
dari kualitas pengganjalan (kontak baja dengan batuan), sementara diketahui bahwa akibat
meregangnya batuan pada waktu penggalian seringkali menyebabkan terjadinya penurunan
bagian atas terowongan.
Pengaruh tekanan akibat stress rearrangement

Menurut Prof.LV.Rabcewicz, apabila sebuah rongga digali maka pola distribusi tegangan akan
berubah. Pada suatu saat, suatu tatanan tegangan yang baru akan terjadi diskitar rongga dan
kesimbangan akan tercapai dengan atau tanpa bantuan suatu lapisan (tergantung dari kekuatan
geser batuan, terlampaui atau tidak).
Shotcrete Sebagai Penyangga Sementara Pada Tunnel Excavation

Tunnel excavation dapat dibagi menjadi beberapa bagian pekerjaan;


1. pekerjaan persiapan/ surveying
2. Drilling
3. Charging
4. Blasting
5. Ventilating
6. Muching
7. Scalling
8. Shotcreting
9. Rock bolting, dll.

Shotcreting adalah pekerjaan yang dilaksanakan segera setelah scalling. Tujuan dilakukan
shotcreting adalah;
1. Sebagai konstruksi penyangga sementara tunnel sebelum di lining concrete (temporary support)
2. Untuk mencegah loosening
3. Mentransformasi batu yang kurang bagus/keras menjadi batu keras
4. Melindungi terhadap kerapuhan batuan akibat perubahan suhu/cuaca

Suatu konstruksi penyangga sementara yang direncanakan untuk mencegah lepasan (loosening)
haruslah dapat memikul beban yang relatif besar dalam tempo yang relatif singkat, cukup kaku
dan tidak runtuh. Selama beberapa dekade dahulu telah diperkenalkan rock bolting dan
shotcreting dalam pembuatan terowongan. Melihat hasil-hasil yang ada, pengenalan metode
penyangga dan perlindungan permukaaan (support and surface protection) tersebut diatas dapat
dianggap sebagai peristiwa penting khususnya pada batuan lunak dan tanah. Kelebihan metode ini
dapat ditunjukkan dengan membandingkan mekanika batuan yang dilapis dengan shotcrete.

Penyangga sementara yang lain (kayu dan baja), cenderung mengakibatkan loosening dan voids
yang timbul karena kerusakan bagia-bagian tertentu. Akan tetapi suatu lapisan tipis shotcrete
yang bekerja sama dengan rock bolt yang dipasang segera setelah penggalian, sepenuhnya
mencegah “loosening” dan mengubah batuan sekeliling menjadi self supporting arch.
Menurut pengamatan, suatau lapisan shotcrete setebal 15 cm yang digunakan pada terowongan
berdiameter 10 meter dapat dengan aman menahan beban sampai 45ton/m2, sedangkan apabila
digunakan baja tipe WF-200 yang dipasang pada jarak 1m, hanya mampu menahan ± 65 % dari
kekuatan shotcrete tersebut.
Kelebihan lain dari shotcrete adalah interaksinya dengan batuan sekeliling. Suatu lapisan
shotcrete yang “ditembakkan” pada permukaan batuan yang baru saja digali akan membentuk
permukaan yang keras, serta batuan yang kurang keras ditransformasikan menjadi suatau
permukaan yang stabil dan keras.
Shotcrete menyerap tegangan –tegangan tangensial yang terjadi dan berharga maksimum
dipermukaan terowongan setelah proses penggalian. Dalam hal ini tegangan tarik akibat lentiur
mengecil dan tegangan tekan diserap oleh batuan sekeliling. Kemampuan shotcrete memperoleh
kekuatananya dalam tempo yang singkat sangat menguntungkan, terutama karena kekuatan tarik
lenturnya akan mencapai kira-kira 30%- 50% dari compressive strength setelah 1-2 hari.
Klasifikasi massa batuan

Klasifikasi massa batuan sangat berguna untuk menentukan apakah terowongan yang
direncanakan diperlukan sistem penyangga sementara atau tidak. Lauffer (1958) mengusulkan
bahwa stand-up time untuk batuan tanpa penyangga sementara (shotcrete) tertanggung pada
jenis batuan yang digali. Arti penting dari konsep stand-up time adalah waktu yang dibutuhkan
batuan untuk menahan beban sampai saat batuan akan mengalami keruntuhan.