Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari manusia lainnya. Manusia
senantiasa memiliki naluri yang kuat untuk hidup bersama. Oleh karena itu manusia akan
saling berhubungan satu sama lain, mulai dari manusia dengan manusia lainnya, manusia
dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Dengan adanya hubungan antar
sesama, maka akan terjalin komunikasi. Pada dasarnya, manusia memiliki dua hasrat yang
tertanam dalam dirinya yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di
sekelilingnya dan keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alam sekitarnya. Maka
dari itu, untuk menyesuaikan diri dengan keinginan tersebut, manusia menggunakan akal,
perasaan dan keinginannya untuk menyesuaikan diri. Ada tiga fungsi dasar yang menjadi
penyebab, mengapa manusia perlu berkomunikasi. Pertama, adalah hasrat manusia untuk
mengontrol lingkungannya. Melalui komunikasi manusia dapat mengambil pembelajaran
yang terjadi di lingkungannya. Manusia juga dapat mengambil manfaat dari lingkungan dan
menghindari kerusakan pada lingkungan.
Dengan hal ini, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang ada di alam
sekitarnya menjadi suatu pembelajaran maupun pengetahuan yang baru. Kedua, adalah upaya
manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Manusia perlu beradaptasi untuk
dapat terus hidup begitu juga di dalam masyarakat. Demi terciptanya kehidupan harmonis,
maka beradaptasi di lingkungan sekitarnya sangat diperlukan demi menunjang kestabilitasan
antar sesama. Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi.
Manusia senantiasa beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya, maka anggota
masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan. Orang tua
pasti akan mengajarka peraturan yang berlaku di dalam masyarakat kepada anak-anaknya.
Sekolah yang memiliki fungsi mendidik siswa nya. Media massa sebagai wadah aspirasi
rakyat serta pemerintah yang harus selalu memikirkan rakyatnya. Ketiga fungsi ini memiliki
pengaruh penting dalam menciptakan keseimbangan dalam masyarakat yang mengatur tata
ktama yang berlaku di dalam masyarakat.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar dan Prinsip Komunikasi

1. Pengertian
Komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu communis yang berarti kebersamaan
dan communico yang berarti membagi1. Secara garis besar, komunikasi adalah
penyampaian gagasan, ide, atau pikiran dari seseorang ke orang lain sehingga
pesan tersebut dapat dipahami oleh orang lain2.

2. Jenis komunikasi
Komunikasi menurut bentuknya terbagi dua yaitu komunikasi verbal dan non-
verbal. Verbal berarti menggunakan kata-kata atau tulisan sedangkan non-verbal
tidak menggunakan kata-kata dan tulisan tetapi biasanya menggunakan isyarat
gerakan tubuh dan wajah. Selain menurut bentuknya komunikasi juga dibagi
menurut tingkat formalitasnya, ada komunikasi formal dan non-formal.
Komunikasi formal atau resmi menggunakan bahasa yang baku. Komunikasi non-
formal berarti tidak resmi. Komunikasi ini menggunakan bahasa yang bebas seperti
komunikasi antar sesama teman2.

3. Fungsi komunikasi
Fungsi komunikasi adalah untuk menyampaikan pesan atau informasi ke orang
lain sehingga orang lain memahami informasi tersebut. Hal ini bertujuan agar
penerima informasi memiliki pemahaman atau persepsi sesuai kehendak pemberi
informasi3.

4. Prinsip Komunikasi
Prinsip komunikasi ada lima yaitu respect, empati, dapat dimengerti, kejelasan,
dan rendah hati. Respect berarti menghargai orang lain. Menghargai orang lain
sangat penting karena tanpa menghargai orang lain tidak akan timbul kepercayaan.

2
Prinsip empati maksudnya seseorang dapat menempatkan dirinya pada kondisi
orang lain. Sebagai seorang tenaga kesehatan kita harus bisa berempati dengan
pasien kita. Selain berempati, pesan yang disampaikan haruslah jelas dan dapat
dimengerti agar pesan yang diterima merupakan suatu kesatuan yang utuh. Prinsip
selanjutnya adalah rendah hati. Rendah hati membawa seseorang untuk dapat
menghargai pendapat orang lain. Rendah hati penting agar seseorang tidak egois4.

5. Proses Komunikasi
Dalam prosesnya, komunikasi melibatkan empat komponen sesuai dengan teori
Borle atau biasa disebut dengan teori SMRC. Empat komponen tersebut adalah
sumber pesan(source), pesan tersebut (message), saluran atau media(channel), dan
penerima pesan(receiver). Berikut adalah skema proses komunikasi3.

Saluran/
media
Pesan
Umpan balik

Sumber/ Sumber/

enkoder enkoder
Penerima/ Gangguan Penerima/

dekoder dekoder

Pesan Umpan balik Saluran/


media

Komunikasi berawal dari sumber yang mengirimkan pesan ke penerima. Proses


ini dinamakan encoding. Penyampaian pesan ini melalui saluran atau media
tertentu. Dalam penyampaian ini ada gangguan baik dari sumber dan penerima
pesan ataupun juga dari media penyampaian pesan. Gangguan juga dapat berasal
dari pesan itu sendiri. Setelah menerima gangguan, penerima menerima pesan
yang disampaikan oleh sumber, proses ini disebut dekoding. Setelah proses
penerimaan pesan, komunikasi yang baik seharusnya terdapat proses umpan balik4.

3
B. Faktor-faktor yang Berperan dalam Komunikasi

Faktor yang ada dalam komunikasi sesungguhnya dibedakan menjadi dua, yaitu
faktor-faktor yang berperan dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor yang
berperan itu adalah faktor yang terlibat dan terlihat dalam komunikasi, sedangkan
faktor yang mempengaruhi adalah faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan suatu
komunikasi.

Faktor yang berperan dalam komunikasi merupakan faktor yang harus ada dalam
sebuah komunikasi. Faktor-faktor ini juga sering disebut sebagai unsur-unsur di dalam
komunikasi. Wilbur Scramm (1965), seorang ahli dari Amerika menyebutkan bahwa
komunikasi membutuhkan sedikitnya tiga unsur, yaitu sumber (source), berita atau
pesan (message), dan sasaran (destination)5. Pendapat lain mengatakan bahwa
komunikasi membutuhkan empat unsur, yaitu sumber, media, pesan, dan
sasaran.Terdapat pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa terdapat minimal enam
unsur yang harus dipenuhi demi lancarnya komunikasi, yaitu sumber, pesan, media,
sasaran, umpan balik, dan akibat. Pendapat-pendapat tersebut pada dasarnya tidak perlu
diperdebatkan karena justru saling melengkapi satu sama lain.

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing faktor yang berperan dalam proses
komunikasi5:

1. Sumber atau pengirim pesan (komunikator)


Sumber atau pengirim pesan ini sering disebut sebagai komunikator, yaitu orang
yang menjadi subjek dalam berlangsungnya proses komunikasi dan merupakan
penyampai dari informasi. Sumber ini dapat berasal dari perorangan, kelompok,
dan institusi atau organisasi tertentu. Komunikator harus dapat merumuskan isi
pesan yang disampaikan dengan baik. Selain itu, komunikator juga diharapkan
dapat memiliki sikap empati dan menempatkan dirinya pada komunikan atau
pasien dalam konteks dunia kesehatan6.
2. Pesan
Pesan merupakan hal yang dikirimkan oleh komunikator kepada komunikan
atau penerima pesan. Pesan ini berupa pertanyaan yang didukung oleh lambang,
yang dapat berupa lisan maupun tulisan. Lambang yang digunakan dalam
komunikasi tersebut misalnya, lambang suara dalam komunikasi lisan yang berupa
intonasi suara dalam penyampaian pesan, lambang gerak berupa ekspresi muka dan

4
gerak tubuh yang digunakan komunikator sebagai pendukung untuk memudahkan
pemahaman terhadap pesan yang disampaikan, atau pun lambang-lambang lain
seperti kode-kode yang disepakati oleh pihak-pihak yang melakukan komunikasi5,6.
Komunikasi dengan lambang lisan maupun tulisan yang merupakan simbol
bahasa merupakan komunikasi verbal, sedangkan komunikasi melalui ekspresi dan
gerak tubuh merupakan komunikasi nonverbal. Isi simbol dari pesan disebut
informasi5.
3. Media
Media adalah saluran atau alat yang digunakan oleh komunikator untuk
menyampaikan pesannya kepada komunikan. Media ini bisa berupa media cetak,
audio, visual, maupun audio visual. Media tersebut dibedakan menjadi dua, yaitu
media komunikasi massa, dan media komunikasi pribadi. Media komunikasi massa
adalah media yang dapat diakses oleh umum, seperti TV, radio, surat kabar,
internet, dan majalah. Sementara itu, media komunikasi pribadi adalah media yang
menghubungkan komunikasi yang bersifat interpersonal, seperti telepon, surat,
maupun jenis pembicaraan lainnya5.
4. Sasaran atau penerima (komunikan)
Penerima informasi dari komunikator disebut juga komunikan. Seperti halnya
sumber atau komunikator, komunikan bisa berupa perorangan, kelompok, maupun
institusi atau organisasi. Seorang komunikan harus peka dan tanggap terhadap
penyampaian pesan dari komunikator. Agar pesan dapat tersampaikan dengan baik
dan menimbulkan umpan balik yang diinginkan, maka komunikan harus memiliki
pengertian dan pemahaman yang sama dengan komunikator5,6.
5. Umpan balik (feedback)
Komunikasi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus. Umpan
balik merupakan dampak atau pengaruh dari informasi yang diberikan komunikator
kepada komunikan. Umpan balik yang berupa respons komunikan ini dibedakan
menjadi umpan balik langsung dan umpan balik tidak langsung. Umpan balik
langsung dikomunikasikan oleh penerima pesan baik secara verbal menggunakan
kalimat secara langdung maupun secara nonverbal melalui ekspresi wajah dan
gerak tubuh. Sedangkan umpan balik tidak langsung dapat berupa perubahan sikap
dari komunikan yang bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat maupun dalam
jangka waktu yang lama. Pada beberapa buku, umpan balik secara tidak langsung

5
merupakan suatu bentuk akibat. Suatu proses komunikasi dapat dikatakan berhasil
jika komunikan memberikan umpan balik yang tepat kepada komunikator5.
6. Akibat (Impact)
Akibat atau impact ini merupakan hasil akhir komunikasi yang bisa berupa
perubahan pada diri komunikan. Perubahan ini bisa berupa perubahan pada
pengetahuan, sikap, dan perilaku5.

Keenam faktor tersebut harus dipenuhi dalam komunikasi agar komunikasi dapat
berjalan dengan lancar dan tujuan dari komunikasi tersebut dapat tercapai.

Selain faktor-faktor yang memiliki peran dalam komunikasi, terdapat juga faktor-
faktor yang mempengaruhi komunikasi. Faktor-faktor tersebut, antara lain :

1. Persepsi
Persepsi merupakan tanggapan jiwa akan suatu rangsangan atau stimulus yang
ada di lingkungannya, baik yang ada pada individu tersebut, maupun yang ada di
luar diri individu yang bersangkutan. Seorang akan menanggapi, menginterpretasi,
dan memahami informasi yang ada secara berbeda. Persepsi biasanya terbentuk
berdasarkan tujuan dan harapan dari individu yang bersangkutan, juga dari latar
belakang dirinya.
Persepsi juga bisa dillihat sebagai sudut pandang yang diambil seseorang dalam
menerima pesan yang disampaikan. Perbedaan persepsi bisa menjadi salah satu
penghambat dalam komunikasi karena perbedaan pemahaman antara individu satu
dengan yang lain5. Oleh karena itu, ada hal-hal yang perlu dilakukan dalam
komunikasi agar tidak ada salah persepsi di antara pihak-pihak yang
berkomunikasi. Hal-hal tersebut antara lain, dengan menyampaikan informasi yang
jelas dan telah terbukti kebenarannya agar pesan tersebut valid, menghargai
pendapat individu lain dalam suatu komunikasi yang bersifat dua arah, dan saling
keterbukaan menyampaikan pemahamannya akan sebuah informasi agar dapat
diluruskan jika masih terdapat pemahaman yang salah.
2. Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan seseorang akan ide atau tingkah laku. Ketika
seseorang dihadapkan dengan suatu ide, ia akan menilai apakah ide tersebut cocok
dengan dirinya atau orang lain. Nilai juga merupakan cerminan dari kebutuhan dan
keinginannya, budaya dan refleksi sosial yang dimilikinya, termasuk interaksi

6
sosialnya dengan orang lain. Nilai dapat dikatakan sebagai prinsip yang dianut
seseorang. Nilai sangat berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan individu
dengan berbagai pertimbangan7. Seorang yang bekerja di bidang pelayanan
kesehatan perlu mengklarifikasi nilai-nilai yang mereka anut agar dapat membuat
keputusan dan berinteraksi secara tepat dengan klien, yaitu pasien4.
3. Emosi
Emosi merupakan perasaan subjektif yang dimiliki seseorang terhadap suatu
kejadian yang dihadapkan padanya, dan memengaruhi bagaimana individu tersebut
menggunakan kapasitas yang dimilikinya untuk bertindak. Emosi yang berlebihan
akan menyebabkan terjadinya keliru paham dalam komunikasi. Dalam dunia
kesehatan pada khususnya, seorang yang memberikan pelayanan kesehatan seperti
dokter, perawat, harus mampu mengendalikan emosinya, agar tidak bercampur dan
mengganggu keoptimalan kinerja yang dilakukannya. Meski demikian, sikap
empati sangat diperlukan ketika berkomunikasi dengan pasien7. Selain
mengendalikan emosi yang dimilikinya, dokter maupun perawat hendaknya juga
mengkaji emosi pasien dan keluarganya sehingga dapat memberikan perlakuan
secara tepat4.
4. Latar belakang sosial-budaya
Latar belakang sosial-budaya akan mempengaruhi pandangan umum dan
persepsi seseorang terhadap dunia tempat ia tinggal. Bahasa dan gerak-gerik
seseorang menunjukkan latar belakang sosial budayanya. Sebagai penyedia
pelayanan kesehatan, baik dokter, perawat, mantra dan lainnya harus mampu
menerima perbedaan latar belakang sosial dan budaya pasien yang dihadapinya7.
5. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan sangat berpengaruh dalam proses komunikasi. Perbedaan
tingkat pengetahuan seseorang bisa menghambat terjadinya proses komunikasi.
Sesorang yang memiliki tingkat pengetahuan rendah akan sulit menerima bahasa
verbal dibanding mereka dengan tingkat pengetahuan yang tinggi. Pengetahuan itu
sendiri sebenarnya merupakan hasil dari perkembangan dan pendidikan. Untuk
menjembatani perbedaan tingkat pengetahun antara penyedia dan penerima
layanan kesehatan, maka hendaklah menggunakan kalimat atau kata-kata yang
lazim dan bisa diterima oleh kalangan masyarakat mana pun4,7.

7
6. Peran dan pola hubungan seseorang
Peran dan pola hubungan seseorang yang tepat akan memperlancar komunikasi,
sebaliknya peran dan pola hubungan sangat berbeda akan menghambat komunikasi.
Dalam komunikasi, sudah seharusnya kita memilah dan memilih cara
berkomunikasi yang tepat, sesuai dengan pola hubungan kita terhadap orang yang
kita ajak komunikasi. Suatu komunikasi akan berjalan dengan baik, ketika
individu-individu yang terlibat menyadari peran dan pola hubungannya masing-
masing7.
7. Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan ini bisa berupa lingkungan fisik dan lingkungan non-fisik
atau mental-psikologi. Seseorang dapat menyampaikan dan menerima informasi
dengan efektif ketika berada pada suatu kondisi yang nyaman dan kondusif,
meliputi tempat dan suasananya. Lingkungan yang bising misalnya, tentu akan
membuat komunikasi terhambat dan mungkin akan membingungkan kedua pelaku
komunikasi karena informasi kurang bisa ditangkap dengan baik4,7.
8. Jenis kelamin
Jenis kelamin seseorang berpengaruh dalam gaya komunikasinya. Setiap jenis
kelamin memiliki gaya komunikasi sendiri yang berbeda. Seorang wanita sejak
umur 3 tahun menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan, meminimalkan
perbedaan, serta membangun dan mendukung keintiman, sedangkan laki-laki
menggunakan bahasa untuk kemandirian diri dalam bermain4.
9. Perkembangan
Perkembangan bisa berupa perkembangan mental, perkembangan usia, dan
kedewasaan dalam pola pikir seseorang. Sebagai penyedia layanan kesehatan,
dokter maupun perawat harus mampu memahami tingkat perkembangan seseorang,
dengan menyesuaikannya ketika berhadapan langsung dan diharuskan
berkomunikasi dengan pasien4.
10. Jarak
Jarak mempengaruhi komunikasi dengan menyediakan rasa aman dan kontrol.
Misalnya ketika seorang yang tidak dikenal berada oada jarak yang sangat dekat
dengan dirinya4. Selain itu jarak juga menentukan dengan apa media komunikasi
yang digunakan. Jika jarak antara komunikator dan komunikan dekat, maka
komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Namun,
jika komunikasi tersebut dibatasi oleh jarak yang jauh seperti antar pulau,

8
komunikasi yang dilakukan tentu dengan menggunakan media, misalnya telepon,
pesan singkat, atau surat.

C. Sikap dan Perilaku dalam Komunikasi Kesehatan

Dalam berkomunikasi, ada tiga kecenderungan sikap yang ditunjukkan oleh pihak-
pihak yang melakukan komunikasi, yaitu agresif, pasif, dan asertif.

1. Agresif

Sikap agresif dalam komunikasi ditunjukkan dengan adanya dominansi oleh


satu pihak dalam berkomunikasi dengan pihak lainnya8. Pihak tersebut berusaha
memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lain. Dalam menyampaikan
pendapatnya, pihak yang agresif akan bersifat keras dan bermusuhan. Ia yakin
kalau pendapatnya yang paling benar dan harus diterima oleh pihak yang lain9. Ia
akan cenderung mengendalikan pembicaraan dan mengintimidasi lawan bicaranya
agar menyetujui ide miliknya. Bahkan sikapnya itu dapat berujung dengan tindakan
atau perkataan yang merendahkan lawan bicaranya. Ia juga akan sering
menginterupsi lawan bicaranya apabila lawan bicaranya menyampaikan ide yang
bertentangan dengannya. Ia akan bertindak seperti big boss yang paling benar dan
cenderung menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam. Sikap agresif ini
juga dapat terlihat dari sikap tubuh komunikator saat berkomunikasi. Dalam
berkomunikasi, tubuhnya akan condong ke depan ke arah lawan bicara. Kepala
mendongak dengan muka tegas. Saat menyampaikan pendapat, nada suaranya
tegas dan matanya akan cenderung melotot. Dalam berkomunikasi, pergerakannya
lambat dan keras, serta anggota gerak terkontrol dalam artian tidak dalam posisi
bebas atau rileks.

Sikap komunikator yang agresif akan menimbulkan kerugian baik bagi pihak
yang menyampaikan pendapat maupun bagi lawan bicaranya. Komunikasi yang
agresif akan mengakibatkan adanya dominasi yang berlebih terhadap pihak yang
lain. Akibatnya, komunikasi yang terjadi tidak akan seimbang. Satu pihak terlalu
mendominasi dan pihak yang lain tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk
memberikan tanggapan. Akibatnya, sulit atau bahkan tidak ada feedback yang
diperoleh dari lawan bicara. Selain itu, komunikator yang agresif juga berpotensi
menyinggung lawan bicaranya dalam berkomunikasi8.

9
2. Pasif

Sikap pasif atau sering disebut submisif adalah lawan dari sikap agresif, yaitu
sikap yang cenderung mengalah dan tidak dapat mempertahankan kepentingannya
sendiri dalam berkomunikasi. Ia akan cenderung menghindari konflik dan
mengorbankan kepentingannya sendiri demi terhindarnya konflik dalam
komunikasi. Ia akan cenderung mengiyakan pendapat orang lain dan ragu-ragu
bahkan jarang untuk menyampaikan keinginan dan kebutuhannya sendiri. Orang
yang bersikap pasif akan cenderung meminta maaf berlebihan. Apabila ia kesal
terhadap seseorang, ia akan cenderung memendam amarahnya itu. Orang yang
bersikap pasif akan sulit untuk mengambil keputusan. Dari sikap tubuhnya pun
seorang komunikator yang pasif dapat dikenali. Posisi tubuhnya akan cenderung
bungkuk dan menjauhi lawan bicara. Ia tidak berani membuat kontak mata dengan
lawan bicaranya. Ia juga terlihat salah tingkah, bahasa tubuhnya gugup, dan tangan
berkeringat. Orang yang pasif akan senantiasa tersenyum walaupun sedang marah
atau kesal. Nada suaranya pelan dan ragu-ragu. Dalam jangka pendek, sikap pasif
dapat membuat komunikator merasa lega, terhindar dari rasa bersalah dan tidak
terjadi konflik, juga muncul rasa kasihan pada diri sendiri. Namun, apabila terus-
terusan dilakukan dalam jangka panjang, rasa percaya diri dan hormat pada diri
sendiri dari sang komunikator dapat hilang.

3. Asertif

Asertif merupakan sikap yang paling baik dalam melakukan komunikasi.


Sikap asertif merupakan sikap yang mampu untuk menyatakan pendapatnya sendiri
dengan tetap menghargai hak orang lain. Tidak seperti agresif yang hanya mau
menyampaikan pendapatnya tanpa mau menghargai orang lain atau pasif yang
hanya menghargai orang lain tanpa menyampaikan pendapatnya sendiri, sikap
asertif mengakomodir terjadinya komunikasi yang baik karena baik pemberi pesan
maupun lawan bicara memiliki kesempatan mengungkapkan pendapat dan dihargai
haknya10.

Unsur-unsur yang ada dalam komunikasi asertif yaitu berbicara secara terbuka
dan jelas, langsung berbicara kepada orangnya, jujur, tepat dalam bersikap, dan
menanyakan umpan balik. Orang yang bersikap asertif bersikap terbuka dan jujur
akan pendapatnya sendiri dan orang lain. Ia dapat menyampaikan pendapat

10
pribadinya tanpa mengorbankan perasaan orang lain, ia pun dapat mendengarkan
dan memahami pendapat orang lain. Ia mampu menghargai diri sendiri dan orang
lain tanpa menimbulkan konflik, ia juga bisa mencari solusi bersama apabila terjadi
masalah. Orang yang bersikap asertif tidak takut untuk berkata “tidak”. Ia mampu
mengekspresikan kemarahan atau ketidak setujuannya secara proporsional. Ia juga
tidak mudah untuk tersinggung dan terbuka untuk kritik.

Bersikap asertif dalam komunikasi tentunya memiliki banyak manfaat. Orang


yang dapt berkomunikasi secara asertif tentunya dapat meningkatkan rasa percaya
diri dalam mengekspresikan diri. Ia juga dapat mengembangkan dirinya sendiri,
mampu membuat keputusan, serta memperoleh apa yang ia cari dalam hidup.
Orang yang bersikap asertif dapat bernegosiasi dengan lebih produktif dan
menghasilkan solusi dari masalah yang ada sehingga ia dapat mengurangi
kesalahpahaman dan mengubah situasi kerja yang negatif menjadi positif. Ada
hambatan-hambatan tersendiri yang terkadang menyulitkan seseorang untuk
bersikap asertif dalam berkomunikasi. Ada kalanya orang berpikir negatif sehingga
takut untuk menyampaikan tanggapan asertif dalam suatu situasi yang menentukan
karena takut memicu konflik. Pikiran-pikiran negatif ini tentu akan membatasi
ruangnya dan menghambat penyampaian pendapat. Ada kalanya pendidikan
maupun kebiasaan masa kecil berpengaruh terhadap sikap asertif ini11.

11
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Komunikasi merupakan penyampaian informasi dalam sebuah interaksi tatap muka yang
berisi ide, perasaan, perhatian, makna, serta pikiran, yang diberikan pada penerima pesan
dengan harapan si penerima pesan memahami pesan yang disampaikan. Dalam komunikasi
ada beberapa faktor yang berperan, antara lain, pemberi pesan, penerima pesan, pesan yang
disampaikan, media atau saluran, umpan balik, dan akibat yang ditimbulkan. Faktor-faktor
tersebut terlibat dalam sebuah proses komunikasi melalui proses encoding dan decoding.
Selain itu ada faktor yang mempengaruhi pemahaman seseorang akan yaitu persepsi, nilai,
emosi, latar belakang sosial budaya, pengetahuan, peran dan pola hubungan seseorang,
kondisi lingkungan, jenis kelamin, perkembangan, dan jarak.
Dalam komunikasi, setiap individu memiliki sikap dan perilaku yang berbeda. Sikap
yang bisa muncul dalam komunikasi dapat dibedakan menjadi sikap agresif yang cenderung
mendominasi komunikasi, sikap pasif yang cenderung diam dalam sebuah komunikasi, dan
sikap asertif yaitu menyampaikan pendapat dengan tetap menghargai pendapat orang lain.
Ada banyak hambatan yang dapat muncul dalam sebuah komunikasi. Hambatan tersebut
dapat bersumber dari pihak yang melakukan komunikasi maupun dari lingkungan sekitarnya.
Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik, hambatan-hambatan tersebut harus diatasi agar
komunikasi dapat berjalan dengan baik dan pesan yang disampaikan dapat dipahami.
Komunikasi yang efektif yaitu komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap
(attitude change) pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses komunikasi. Jadi suatu
komunikasi dapat dikatakan baik apabila adanya umpan balik atau feedback dari penerima
pesan atau lawan bicara serta dengan mentaati prinsip-prinsip dan konsep dalam komunikasi.

12
REFERENSI

1. Universitas Gunadarma. Konsep Dasar Komunikasi.[online][cited 11 September 2013]


Available from: http://ocw.gunadarma.ac.id/course/diploma-three-program/study-
program-of-midwife-practices-d3/komunikasi-konseling-dalam-praktek-
kebidanan/konsep-dasar-komunikasi.

2. Wiyana M. Konsep Dasar Komunikasi. [online]. [cited 11 September 2013]. Available


from: http://www.scribd.com/doc/60444777/Konsep-Dasar-Komunikasi.

3. Sasongko A, Setiarini A, Hadi E, Pratomo H, Putra W.Buku Ajar Komunikasi Efektif. Ed.
2. Jakarta: Universitas Indonesia; 2012.

4. Fanani A, Putri T. Komunikasi Kesehatan : Komunikasi efektif untuk perubahan perilaku


kesehatan. Yogyakarta: Merkid Press; 2013.

5. Maulana H D. Promosi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.

6. Supartini Y. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2004.

7. Arwani. Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;


2003.

13