Anda di halaman 1dari 27

Laporan Pendahuluan

Perencanaan Jembatan Yaentu II


Kec. Mori Utara

BAB 3
Metodologi & Rencana Kerja

3.1 METODOLOGI KERJA


Metodologi kerja merupakan acuan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian
kegiatan pekerjaan Perencanaan Jembatan Yaentu II sehingga diharapkan
seluruh aspek pekerjaan dapat dilakukan seoptimum mungkin secara lebih
efisien dan efektif.

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, maka hasil yang diharapkan sebagai
keluaran (output) dari pekerjaan ini meliputi :

a. Detail Perencanaan Teknis Penggantian Jembatan yang akurat, sesuai


dengan standar perencanaan.
b. Dokumen Lelang sesuai standar yang dikeluarkan oleh Departemen
Pekerjaan Umum.

Untuk dapat mencapai sasaran tersebut maka dalam melaksanakan pekerjaan


ini kami akan menerapkan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Melakukan pemahaman terhadap KAK dan pengenalan terhadap materi


layanan yang diperlukan.
b. Menyediakan tenaga ahli maupun tenaga asisten yang berpengalaman
dalam pekerjaan sejenis dan didukung dengan fasilitas penunjang yang
memadai.
c. Melakukan pemahaman terhadap issue permasalahan yang ada, mencakup
kondisi eksisting, batasan yang ada, standar perencanaan dan ketentuan
yang berlaku.

1
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

d. Melakukan kajian teknis secara umum guna menetapkan kriteria desain


dan menentukan rencana kerja dan metode pelaksanaan pekerjaan yang
tepat dan efektif.
e. Melakukan kegiatan pengumpulan data lapangan secara terinci yang akan
diperlukan sebagai data masukan dalam proses perencanaan teknik ini.
f. Melakukan kajian dan analisa terhadap semua data yang telah diperoleh,
melakukan perhitungan perencanaan teknik yang mencakup perencanaan
geometrik jalan dan jembatan, melakukan analisa penyelidikan tanah,
analisa lalu lintas, perhitungan struktur perkerasan jalan, perencanaan
bangunan bawah dan bangunan atas jembatan, serta bangunan-bangunan
pelengkap lainnya.
g. Menyiapkan gambar rencana.
h. Melakukan perhitungan kuantitas pekerjaan dan analisa harga satuan
pekerjaan serta menghitung perkiraan biaya proyek.
i. Menyiapkan dokumen pelelangan.

Secara kronologis, pekerjaan penyusunan rencana penggantian jembatn ini


dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga) tahapan kegiatan utama sebagai berikut :

a. Tahap – 1 : Pendahuluan
1. Persiapan
2. Survey Pendahuluan
b. Tahap – 2 : Antara
1. Survey Detail
2. Penyusunan Konsep Perencanaan
3. Penyusunan Pra-Rancangan
c. Tahap – 3 : Akhir
1. Analisis
2. Penyiapan Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis
3. Perhitungan Kuantitas dan Analisa Harga Satuan
4. Penyiapan Dokumen Lelang dan Laporan

Secara lebih jelas, metodologi pekerjaan diilustrasikan dalam Bagan Alir


Pelaksanaan sebagai berikut.

2
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

Gambar .1 Kerangka Kegiatan Perencanaan Jembatan Yaentu II

3
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Teknis Jembatan Lemo 1
Kec. Bungku Utara

3.2 URAIAN METODOLOGI KERJA


Rencana Kerja yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan
Perencanaan Jembatan Desa Lemo 1 ini meliputi :
a. Pemahaman mengenai maksud dan tujuan dari perencanaan jembatan
b. Persiapan
c. Inventarisasi data
d. Pembuatan Peta Rencana Kerja
e. Persiapan Personil dan Peralatan
f. Pembuatan Rencana Kerja
g. Pengumpulan Data Primer dan Sekunder
h. Koordinasi dengan Instansi Terkait

Pelaksanaan survey ini Konsultan mengamati kondisi lapangan dan


permasalahan desain yang mungkin timbul, dan berkonsultasi dengan pihak
dari dinas terkait untuk mendiskusikan segala hal yang bersangkutan dengan
jembatan yang akan ditangani.

Sebelum melakukan kegiatan survey pendahuluan maka konsultan


mengumpulkan semua data yang berhubungan dengan lokasi rencana
jembatan seperti peta situasi, peta tata guna lahan dan dokumen pendukung
lainnya. Studi pendahuluan dilakukan pada area sekitar lokasi rencana
jembatan.

3.2.1 Tahap Persiapan


Di dalam tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan sebagai awal
(inisiasi) dari seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan. Hasil tahap
persiapan ini akan sangat mempengaruhi proses yang dilakukan dalam tahap
selanjutnya.

Secara umum kegiatan utama di dalam tahap persiapan ini, yakni :


a. Mobilisasi
b. Koordinasi & Konfirmasi
c. Inventarisasi Data Awal

4
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

3.2.2 Survey Pendahuluan


Survey pendahuluan merupakan lanjutan dari hasil persiapan desain yang
sudah disetujui sebagai panduan pelaksanaan survey dilapangan yang meliputi
kegiatan :
a. Studi literatur
Pada tahapan ini Tim harus mengumpulkan data pendukung perencanaan
baik data sekunder maupun data laporan Studi Kelayakan (FS), laporan
Studi Amdal (bila ada).
b. Koordinasi dengan instansi terkait
Tim melaksanakan koordinasi dan konfirmasi dengan instansi/ unsur-
unsur terkait di daerah sehubungan dengan dilaksanakannya survey
pendahuluan.

c. Diskusi perencanaan di lapangan


Tim bersama-sama melaksanakan survey dan mendiskusikannya dan
membuat usul perencanaan di lapangan bagian demi bagian sesuai dengan
bidang keahliannya masing-masing serta membuat sketsa dilengkapi
catatan-catatan dan kalau perlu membuat tanda di lapangan berupa patok
serta dilengkapi foto-foto penting dan identitasnya masing-masing yang
akan difinalkan di kantor sebagai bahan penyusunan laporan setelah
kembali.

d. Survey pendahuluan upah, harga satuan dan peralatan


Tim melaksanakan pengumpulan data upah, harga satuan, dan data
peralatan yang akan digunakan.

e. Mengidentifikasi kondisi existing


1. Mengidentifikasi kondisi existing jembatan dan sungai, dengan
pengamatan secara visual serta menentukan jenis metoda penanganan
dan pengujian dengan peralatan yang sesuai.
2. Menetapkan lokasi posisi jembatan untuk penggantian
jembatan/ pembangunan jembatan baru/ duplikasi jembatan, setelah
berdiskusi dengan Bridge Engineer, Geoteknik Engineering, Hidrologi
Engineering dan Tenaga Ahli lain berdasarkan pengamatan lapangan.

5
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

3. Menetapkan perkiraan elevasi, jenis dan susunan/ konfigurasi


bentang jembatan serta teknik pelaksanaan atau ereksinya.
4. Mencatat material yang tersedia di sekitar lokasi jembatan, dan
menyarankan jenis jembatan yang paling efisien sesuai dengan
Material yang ada di lokasi tersebut.
5. Membuat sketsa situasi rencana jembatan baru serta profil
sungai pada lokasi jembatan baru.

f. Menetapkan jenis soil investigation yang diperlukan :


1. Menentukan perkiraan pondasi yang paling baik untuk lokasi
tersebut sehubungan dengan material dan kondisi tanah.
2. Memperkirakan letak, jumlah serta panjang bentang, elevasi
jembatan baru dan lokasi jembatan baru.
3. Mencatat banjir terbesar serta erosi yang pernah terjadi, apabila
survai pendahuluan ini dilaksanakan untuk pekerjaan perencanaan
teknis pada lokasi sulit, dimana jembatan tersebut akan melintasi
sungai.
4. Memberikan rekomendasi untuk tahapan pekerjaan selanjutnya
serta menyarankan lokasi dan jumlah titik bor yang harus
dilaksanakan.

g. Survey pendahuluan topografi


Kegiatan yang dilakukan pada survey topografi adalah :
1. Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan
patok beton Bench Mark di awal dan akhir Pelaksanaan.
2. Mengamati kondisi topografi.
3. Mencatat daerah-daerah yang akan dilakukan pengukuran
khusus serta morfologi dan lokasi yang perlu dilakukan perpanjangan
koridor.
4. Membuat rencana kerja untuk survey detail pengukuran.
5. Menyarankan posisi patok Benchmark pada lokasi/titik yang
akan dijadikan referensi.
h. Survey pendahuluan Hidrologi
Kegiatan survey pendahuluan drainase diantaranya :

6
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

1. Mengumpulkan data curah hujan.


2. Menganalisa luas daerah tangkapan (Catchment Area).
3. Mengamati kondisi terrain pada daerah tangkapan sehubungan
dengan dengan bentuk dan kemirngan yang akan mempengaruhi pola
aliran.
4. Mengamati tata guna lahan.
5. Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi penting.
6. Membuat rencana kerja untuk survey detail.
7. Mengamati karakter aliran sungai/ morfologi yang mungkin
berpengaruh terhadap konstruksi dan saran-saran yang diperlukan
untuk menjadi pertimbangan dalam perencanaan berikut.

i. Survey pendahuluan Geologi & Geoteknik


Kegiatan yang dilakukan pada survey pendahuluan geologi dan geoteknik
adalah :
1. Melakukan pengambilan data mengenai karakteristik tanah,
perkiraan lokasi sumber material, dan mengantisipasi dan
mengidentifikasi lokasi yang akan longsor.
2. Mengidentifikasi lokasi/titik pengujian antara lain Bor, Sondir.
3. Memberikan rekomendasi rencana trase alinyemen jalan.
4. Mengidentifikasi masalah-masalah geoteknik, bahaya, resiko-
resiko, dan batasan-batasan proyek.
5. Mencatat pengamatan visual menurut stasiun, patok kilometer
atau informasi lokasi lain seperti GPS.

j. Survey Pendahuluan Geometri


Kegiatan yang dilakukan pada survey pendahuluan Geometri adalah :
1. Mengidentifikasi/memperkirakan secara tepat penerapan
desain geometrik (alinyemen horisontal dan vertikal) berdasarkan
pengalaman dan keahlian yang harus dikuasai sepenuhnya oleh
Highway Engineer yang melaksanakan pekerjaan ini dengan
melakukan pengukuran-pengukuran secara sederhana dan benar
(jarak, azimut dan kemiringan dengan helling meter) dan membuat
sketsa desain alinyemen horizontal maupun vertikal secara khusus

7
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

untuk lokasi-lokasi yang dianggap sulit, untuk memastikan trase yang


dipilih akan dapat memenuhi persyaratan geometrik yang dibuktikan
dengan sketsa horizontal dan penampang memanjang rencana trase
jalan.
2. Didalam penarikan perkiraan desain alinyemen horizontal dan
vertikal harus sudah diperhitungkan dengan cermat sesuai dengan
kebutuhan perencanaan untuk lokasi-lokasi : galian dan timbunan.
Semua kegiatan ini harus sudah dikonfirmasikan sewaktu mengambil
keputusan dalam pemilihan lokasi jembatan dengan anggota team
yang saling terkait dalam pekerjaan ini.
3. Di lapangan harus diberi/dibuat tanda-tanda berupa patok dan
tanda banjir, dengan diberi tanda bendera sepanjang daerah rencana
dengan interval 50 m untuk memudahkan tim pengukuran, serta
pembuatan foto-foto penting untuk pelaporan dan panduan dalam
melakukan survey detail selanjutnya.
4. Dari hasil survey pendahuluan ini, secara kasar harus sudah bisa
dihitung perkirakan volume pekerjaan yang akan timbul serta bisa
dibuatkan perkiraan rencana biaya secara sederhana dan diharapkan
dapat mendekati desain final.

k. Survey Pendahuluan Rencana Jembatan


Kegiatan yang dilakukan pada survey rencana jembatan adalah :
1. Menentukan dan memperkirakan total panjang, lebar, kelas
pembebanan jembatan, tipe konstruksi, dengan pertimbangan terkait
dengan LHR, estetika, lebar sungai, kedalaman dasar sungai, profil
sungai/ada tidaknya palung, kondisi arus dan arah aliran, sifat-sifat
sungai, scouring vertikal/horisontal, jenis material bangunan atas
yang tersedia dan paling efisien.
2. Menentukan dan memperkirakan ukuran dan bahan tipe
abutmen, pilar, fondasi, bangunan pengaman (bila diperlukan) dengan
mempertimbangkan lebar dan kedalaman sungai, sifat tebing, sifat
aliran, endapan/sedimentasi material, benda hanyutan, scouring yang
pernah terjadi.

8
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

3. Memperkirakan elevasi muka jembatan dengan


mempertimbangkan MAB (banjir), MAN (normal), MAR (rendah) dan
banjir terbesar yang pernah terjadi.
4. Menentukan dan memperkirakan posisi/letak lokasi jembatan
dengan mempertimbangan situasi dan kondisi sekitar lokasi, profil
sungai, arah arus/aliran sungai, scouring, segi ekonomi, sosial, estetika
yang terkait dengan alinyemen jalan, kecepatan lalu lintas rencana,
jembatan darurat, pembebanan tanah timbunan dan quarry.
5. Dari hasil survey recon ini secara kasar harus sudah bisa
dihitung perkiraan volume pekerjaan yang akan timbul serta bisa
dibuatkan perkiraan rencana biaya secara sederhana dan diharapkan
dapat mendekati desain final.

3.2.3 Survey Detail


Untuk mengetahui secara rinci semua asumsi yang digunakan dalam tahap
perencanaan serta mendapat parameter penting bagi perencana jembatan,
diperlukan serangkaian studi detail pengumpulan data sebagai berikut.
a. Survey Topografi
Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan
data koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase
jalan dan jembatan di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan
peta topografi dengan skala 1:500.
1. Lingkup Pekerjaan
a) Pemasangan patok-patok :
1) Patok-patok BM harus dibuat dari beton dengan ukuran
10x10x75 cm atau pipa pralon ukuran 4 inci yang diisi dengan
adukan beton dan di atasnya dipasang neut dari baut,
ditempatkan pada tempat yang aman, mudah terlihat. Patok
BM dipasang setiap 1 (satu) km dan pada setiap lokasi
rencana jembatan dipasang minimal 4, masing-masing 1
(satu) pasang di setiap sisi sungai disekitar sungai yang
posisinya aman dari gerusan air sungai.
2) Patok BM dipasang/ ditanam dengan kuat, bagian yang

9
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

tampak di atas tanah setinggi 20 cm, dicat warna kuning,


diberi lambang Kementerian Pekerjaan Umum, notasi dan
nomor BM dengan warna hitam. Patok BM yang sudah
terpasang, kemudian diphoto sebagai dokumentasi yang
dilengkapi dengan nilai koordinat serta elevasi.
3) Untuk setiap titik poligon dan sifat datar harus digunakan
patok kayu yang cukup keras, lurus, dengan diameter sekitar 5
cm, panjang sekurang-kurangnya 50 cm, bagian bawahnya
diruncingkan, bagian atas diratakan diberi paku, ditanam
dengan kuat, bagian yang masih nampak diberi nomor dan
dicat warna kuning. Dalam keadaan khusus, perlu
ditambahkan patok bantu.
4) Untuk memudahkan pencarian patok, sebaiknya pada daerah
sekitar patok diberi tanda-tanda khusus.
5) Pada lokasi-lokasi khusus dimana tidak mungkin dipasang
patok, misalnya di atas permukaan jalan beraspal atau di atas
permukaan batu, maka titik-titik poligon dan sifat datar
ditandai dengan paku seng dilingkari cat kuning dan diberi
nomor.

b) Pengukuran titik kontrol horizontal


1) Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dengan sistem
poligon, dan semua titik ikat (BM) harus dijadikan sebagai
titik poligon.
2) Sisi poligon atau jarak antar titik poligon maksimum 100
meter, diukur dengan meteran atau dengan alat ukur secara
optis ataupun elektronis.
3) Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolit
dengan ketelitian baca dalam detik. Disarankan untuk
menggunakan Electronik Distance Metre/theodolit jenis T2
atau yang setingkat.
4) Penentuan Koordinat Awal dilakulkan pada titik awal dan titik
akhir pengukuran dengan menggunakan alat GPS (Global

10
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

Positioning System Geodetic yang mempunyai presisi tinggi


maksimal sampai desimeter).

c) Pengukuran titik kontrol vertikal


1) Pengukuran ketinggian dilakukan dengan cara 2 kali berdiri/
pembacaan pergi- pulang.
2) Pengukuran sifat datar harus mencakup semua titik
pengukuran (poligon, sifat datar, dan potongan melintang)
dan titik BM.
3) Rambu-rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik,
berskala benar, jelas dan sama.
4) Pada setiap pengukuran sifat datar harus dilakukan
pembacaan ketiga benangnya, yaitu Benang Atas (BA), Benang
Tengah (BT), dan Benang Bawah (BB), dalam satuan milimiter.
Pada setiap pembacaan harus dipenuhi: 2 BT = BA + BB.
5) Dalam satu seksi (satu hari pengukuran) harus dalam jumlah
slag (pengamatan) yang genap.

d) Pengukuran situasi
1) Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachimetri, yang
mencakup semua obyek yang dibentuk oleh alam maupun
manusia yang ada disepanjang jalur pengukuran, seperti alur,
sungai, bukit, jembatan, rumah, gedung dan sebagainya.
2) Dalam pengambilan data agar diperhatikan keseragaman
penyebaran dan kerapatan titik yang cukup sehingga
dihasilkan gambar situasi yang benar. Pada lokasi-lokasi
khusus (misalnya: sungai, persimpangan dengan jalan yang
sudah ada) pengukuran harus dilakukan engan tingkat
kerapatan yang lebih tinggi.
3) Untuk pengukuran situasi harus digunakan alat theodolit.

e) Pengukuran pada perpotongan rencana trase jembatan dengan


sungai atau jalan.
1) Koridor pengukuran ke arah hulu dan hilir masing-masing

11
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

minimum 200 m dari perkiraan garis perpotongan atau


daerah sekitar sungai (hulu/ hilir) yang masih berpengaruh
terhadap keamanan jembatan dengan interval pengukuran
penampang melintang sungai sebesar 25 meter.
2) Koridor pengukuran searah rencana trase jembatan masing-
masing minimum 250 m dari garis tepi sungai/ jalan atau
sampai pada garis pertemuan antara oprit jembatan dengan
jalan dengan interval pengukuran penampang melintang
rencana trase jalan sebesar 25 meter.
3) Pada posisi lokasi jembatan interval pengukuran penampang
melintang dan memanjang baik terhadap sungai maupun jalan
sebesar 10 m, 15 m, dan 25 m.
4) Pengukuran situasi lengkap menampilkan segala obyek yang
dibentuk alam maupun manusia disekitar persilangan
tersebut.

2. Persyaratan
a) Pemeriksaan dan koreksi alat ukur.
Sebelum melakukan pengukuran, setiap alat ukur yang akan
digunakan harus diperiksa dan dikoreksi .Hasil pemeriksaan dan
koreksi alat ukur harus dicatat dan dilampirkan dalam laporan.

b) Ketelitian dalam pengukuran


Ketelitian untuk pengukuran poligon adalah sebagai berikut :
1) Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10”vn, atau dari
pengukuran Global Position System (GPS) geodetic yang
mempunyai presisi tinggi pertama ke pengukuran GPS
berikutnya dalam desimeter).
2) Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dari 5”.

c) Perhitungan
1) Perhitungan koordinat poligon dibuat setiap seksi, antara
pengamatan matahari yang satu dengan
pengamataberikutnya. Koreksi sudut tidak boleh diberikan

12
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

atas dasar nilai rata-rata, tapi harus diberikan berdasarkan


panjang kaki sudut (kaki sudut yang lebih pendek
mendapatkan koreksi yang lebih besar), dan harus dilakukan
di lokasi pekerjaan.
2) Perhitungan sifat datar harus dilakukan hingga 4 desimal
(ketelitian 0,5 mm), dan harus dilakukan kontrol perhitungan
pada setiap lembar perhitungan dengan menjumlahkan beda
tingginya.
3) Perhitungan Ketinggian detail dihitung berdasarkan
ketinggian patok ukur yang dipakai sebagai titik pengukuran
detail dan dihitung secara tachimetris.
4) Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistim
komputerisasi.

d) Penggambaran
1) Penggambaran poligon harus dibuat dengan skala 1 : 500.
2) Garis-garis grid dibuat setiap 10 Cm.
3) Koordinat grid terluar (dari gambar) harus dicantumkan
harga absis (x) dan ordinat (y)-nya.
4) Pada setiap lembar gambar dan/ atau setiap 1 meter panjang
gambar harus dicantumkan petunjuk arah Utara.
5) Penggambaran titik poligon harus berdasarkan hasil
perhitungan dan tidak boleh dilakukan secara grafis.
6) Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai X,Y,Z-nya dan
diberi tanda khusus.
7) Semua hasil perhitungan titik pengukuran detail, situasi, dan
penampang melintang harus digambarkan pada gambar
polygon, sehingga membentuk gambar situasi dengan interval
garis ketinggian (contour) 0,5 meter.
8) Proses pengambilan data untuk Topografi mengacu pada
Pedoman Pengukuran Topografi NO.010/PW/2004, atau
Pedoman yang dipersyaratkan.

b. Survey Drainase

13
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

Tujuan survey drainase yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah


untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter/ perilaku aliran air
pada bangunan air yang ada (sekitar jembatan maupun jalan), guna
keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana (elevasi muka
air banjir), perencanaan drainase dan bangunan pengaman terhadap
gerusan, river training (pengarah arus) yang diperlukan.

1. Lingkup
Survey hidrologi lengkap digunakan untuk melengkapi parameter-
parameterdesain jembatan yang dalam hal ini jembatan yang
dimaksud adalah jembatan di atas lalu-lintas sungai atau saluran air.
Untuk itu pengumpulan data untuk analisa hidrologi yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut :

a) Karakteristik daerah aliran (Catchment Area) dari setiap gejala


aliran yang harus dipelajari dengan cermat dari peta topografi
maupun pemeriksaan langsung di tempat meliputi data curah
hujan, tata guna lahan, jenis permukaan tanah, kemiringan dan
lain-lain.
b) Karakteristik sungai yang meliputi: Kecepatan aliran dan gejala
arah Debit dan daerah pengaruh banjir Tinggi air banjir, air
rendah dan air normal, Lokasi penggerusan (scouring) serta
jenis/sifat erosi maupun pengendapan.
c) Kondisi aliran permukaan pada saat banjir
d) Analisa hidrologi yang diperlukan untuk jembatan yang melintas
sungai, sebelum tahap perhitungan/perencanaan hidrolika dari
alur sungai, adalah untuk menentukan Debit banjir dalam alur
sungai jembatan atau debit maksimum sungai selama periode
ulang banjir rencana yang sesuai. Perkiraan tinggi maksimum
muka air banjir yang mungkin terjadi dan semua karakteristiknya.
Kedalaman air : air banjir, air rendah dan air normal.
e) Untuk menentukan elevasi tinggi muka jembatan diperlukan suatu
perkiraan tinggi maksimum banjir yang mungkin terjadi,
ditetapkan dan diperhitungkan dengan periode ulang banjir

14
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

rencana atau dalam kurun waktu rencana sebagai berikut :


1) Untuk jembatan panjang/besar (konstruksi khusus)
diperhitungkan dengan periode ulang 100 tahunan.
2) Untuk jembatan biasa/ tetap termasuk gorong-gorong
diperhitungkan dengan periode ulang 50 tahunan.
3) Untuk jembatan sementara, perlintasan saluran air dan
jembatan yang melintas di atasnya diperhitungkan dengan
periode ulang 25 tahunan.
4) Untuk keperluan analisa hidrologi ditetapkan dengan periode
ulang 50 tahunan.
5) Untuk perhitungan scouring berdasarkan jenis tanah dasar
sungai dan debit serta kecepatan aliran arus sungai.
6) Dalam menentukan besar debit banjir maksimum dalam
kurun waktu rencana tersebut, dipakai pendekatan
berdasarkan analisa frekuensi dari suatu data curah hujan
lebat. Di sini perlu ditinjau hubungan/korelasi antara curah
hujan dan aliran sungai.
7) Metode untuk menentukan besar debit banjir tersebut
diklasifikasikan menjadi 3 cara yaitu : Cara
statistik/kemungkinan-kemungkinan, Cara hidrograf/sintetik,
Rumus empiris/metode rasional.

f) Analisa drainase ditetapkan dengan kala ulang (return period) 25


tahun dan 50 tahun yang pemilihannya terlebih dulu
dikonsultasikan dengan pihak Pemberi Tugas. Dari hasil survey
dan analisa yang dilakukan, antara lain dapat ditentukan elevasi
jembatan dan bangunan pengaman terhadap gerusan, tumbukan
air dan debris.
g) Persyaratan
Proses analisa perhitungan harus mengacu pada Standar Nasional
Indonesia (SNI) No: 03-3424-1994 atau Standar Nasional
Indonesia (SNI) No: 03-1724-1989 SKBI-1.3.10.1987 (Tata Cara
Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk Bangunan di Sungai),

15
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

Pedoman Perencanaan Drainase Jalan Pd.T.02-2006-B, Manual


Hidrolika untuk Jalan dan Jembatan No.01/BM/05, serta pedoman
lain yang dipersyaratkan.

c. Survey Geologi dan Geoteknik


Tujuan yang utama dari penyelidikan geoteknik lapangan dan bawah
permukaan adalah untuk memberikan informasi tentang kondisi bawah
permukaan tanah, bahaya geoteknik, potensi masalah yang mungkin
terjadi di lapangan akibat kondisi tanah asli serta solusi permasalahannya.
1. Lingkup Pekerjaan
a) Penyelidikan Geologi
Penyelidikan meliputi pemetaan geologi permukaan detail dengan
peta dasar topografi skala 1:250.000 s/d skala 1:100.000.
Pencatatan kondisi geoteknik disepanjang rencana trase jalan
untuk setiap jarak 500 – 1000 meter dan pada lokasi jembatan
dilakukan menggunakan lembar isian seperti terlihat pada daftar
lampiran.
b) Penyelidikan lapangan
Meliputi pemeriksaan sifat tanah (konsistensi, jenis tanah, warna,
perkiraan prosentase butiran kasar/ halus) sesuai dengan Metoda
USCS.
c) Penyelidikan Tanah
Penyelidikan geoteknik disini merupakan bagian dari
penyelidikan tanah yang mencakup seluruh penyelidikan lokasi
kegiatan berdasarkan klasifikasi jenis tanah yang didapat dari
hasil tes dengan mengadakan peninjauan kembali terhadap semua
data tanah dan material guna menentukan jenis/ tipe pondasi
yang tepat dan sesuai tahapan kegiatannya, sebagai berikut:
1) Mengadakan penyelidikan tanah dan material di lokasi
pelaksanaan jembatan yang akan dibangun dengan
menetapkan lokasi titik-titik bor yang diperlukan langsung di
lapangan.
2) Melakukan penyelidikan kondisi permukaan air (sub-surface)

16
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

sehubungan dengan pondasi jembatan yang akan dibangun.


3) Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi
pelaksanaan, kemudian dituangkan dalam bentuk
penggambaran peta termasuk sarana lain yang ada seperti
jalan pendekat/oprit, bangunan pelengkap/ pengaman dan
lain sebagainya.
4) Pekerjaan pengambilan contoh dengan pengeboran
(umumnya terhadap undisturbed sampling) dimaksudkan
untuk tujuan penyelidikan lebih lanjut di laboratorium untuk
mendapatkan informasi yang lebih teliti tentang parameter-
parameter tanah dari pengetesan Index Properties (Besaran
Indeks) dan Engineering Properties (Besaran Struktural
Indeks).
5) Penyelidikan tanah untuk desain jembatan yang umum
dilaksanakan di lingkungan Bina Marga dengan bentang > 60
m (relatif dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi) digunakan
bor-mesin (alat bor yang digerakkan dengan mesin) di mana
kapasitas kedalaman bor dapat mencapai 40 m disertai alat
split spoon sampler untuk Standar Penetration Test ( SPT )
menurut AASHTO T 206 – 74.
6) Sedangkan untuk bentang < 60m (relatif dari 25 m s/d 60 m
tergantung kondisi) digunakan peralatan utama lapangan
yang terdiri atas: Alat sondir dengan bor tangan (digerakkan
dengan tangan). Pengeboran harus dilakukan sampai
kedalaman yang ditentukan (bila tidak ditentukan lain) untuk
mendapatkan letak lapisan tanah dan jenis batuan beserta
ukurannya dan harus mencapai tanah keras/batu dan
menembus sedalam kurang lebih 3.00 m.
7) Boring dan sampling harus dikerjakan dengan memakai
”Manual Operated Auger” dengan kapasitas hingga kedalaman
10 m.
8) Alat tes sondir type “Gouda” atau sejenisnya, antara lain

17
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

“Dutch Cone Penetrometer” yang memakai sistem metrik dan


harus dilengkap dengan “Friction Jacket Cone”, kapasitas
tegangan konus minimum 250 kg/cm2 dan kedalamannya
dapat mencapai 25 m.
9) Pada setiap jembatan, penyelidikan tanah yang dibutuhkan
pada masing-masing lokasi rencana pondasi harus sudah
menetapkan penggunaan jenis bor dan posisi lubang bor yang
direncanakan serta jumlah titik bor minimal satu titik boring,
yaitu satu titik bor mesin atau satu set bor tangan dan sondir,
tergantung bentang rencana jembatannya. Hal ini tergantung
pada kondisi area (alam dan lokasi), kepentingan stuktur dan
tersedianya peralatan pengujian beserta teknisinya.
10) Mata bor harus mempunyai diameter yang cukup untuk
mendapatkan undisturbed sample yang diinginkan dengan
baik, dapat digunakan mata bor steel bit untuk tanah clay, silt
dan mata bor jenis core barrel.
11) Digunakan casing (segera) bilamana tanah yang dibor
cenderung mudah runtuh.
12) Untuk menentukan besaran index dan structural properties
dari contoh-contoh tanah, baik yang terganggu (disturbed)
maupun yang asli (undisturbed) tersebut di atas dan contoh
material (quarry), maka pengujian di laboratorium dikerjakan
berdasarkan spesifikasi SNI, SK SNI, AASHTO, ASTM, BS
dengan urutan terdepan sebagai prioritas.
13) Laporan penyelidikan tanah dan material harus pula berisi
analisa dan hasil daya dukung tanah serta rekomendasi jenis
pondasi yang sesuai dengan daya dukung tanah tersebut dan
hasil bor log dituangkan dalam bentuk tabel/formulir bor log
dan form drilling log yang dilengkapi dengan keterangan/data
diantaranya tentang tipe bor yang digunakan, kedalaman
lapisan tanah, tinggi muka air tanah, grafik log, uraian
lithologi, jenis sample, nilai SPT, tekanan kekuatan (kg/cm2),

18
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

liquid/ plastis limit, perhitungan pukulan dan lain sebagainya.

d) Lokasi Quarry
Penentuan lokasi quarry baik untuk perkerasan jalan, struktur
jembatan, maupun untuk bahan timbunan (borrow pit)
diutamakan yang ada disekitar lokasi pekerjaan. Bila tidak
dijumpai, maka harus menginformasikan lokasi quarry lain yang
dapat dimanfaatkan. Penjelasan mengenai quarry meliputi jenis
dan karakteristik bahan, perkiraan kuantitas, jarak ke lokasi
pekerjaan, serta kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul dalam
proses penambangannya, dilengkapi dengan foto-foto.

3.2.4 Perencanaan Teknis


a. Perencanaan Teknis Geometrik dan Jembatan
Perencanaan geometrik jalan adalah perencanaan route dari suatu ruas
jalan secara lengkap, meliputi beberapa elemen yang disesuaikan dengan
kelengkapan dan data dasar yang ada atau dari hasil survey lapangan dan
telah dianalisis, serta mengacu pada ketentuan yang berlaku.

b. Perencanaan Teknis Perkerasan Jalan


Perencanaan Perkerasan pada jalan dan jembatan berupa hasil dari
Perhitungan Perkerasan Lentur yang sesuai dengan Petunjuk Perencanaan
Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen.

c. Perencanaan Teknis Drainase


Saluran drainase pada pekerjaan ini berfungsi untuk mengendalikan
limpasan air dari jalan jembatan dan sekitarnya agar tidak terjadi
limpasan dan genangan air.

d. Perencanaan Jembatan
Untuk perencanaan jembatan akan meliputi perencanaan bangunan atas,
perencanaan bangunan bawah dan perencanaan jalan pendekat jembatan.
Perencanaan bangunan atas dan bangunan bawah jembatan termasuk
bangunan pelengkap mengacu kepada Peraturan Perencanaan Teknik
Jembatan Indonesia yaitu:

19
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

1. Bridge Management System (BMS) 1992 bagian BDC (Bridge


Design Code) dengan revisi pada :
a) Bagian 2 dengan Pembebanan Untuk Jembatan (SK.SNI T-02-
2005), sesuai-Kepmen PU No. 498/KPTSIM/2005.
b) Bagian 6 dengan Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan
(SK.SNI T-12-2004), sesuai Kepmen PU No. 26O/KPTSIM/2004.
c) Bagian 7 dengan Perencanaan struktur baja untuk jembatan
(SK.SNI T-03-2005). sesuai Kepmen PU No. 498/KPTS/M/2005.

2. Bridge Management System (BMS) 1992 bagian BDM (Bridge


Design Manual).
3. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan Jalan
Raya SK.SNI T-14-1990-0.3).
4. Perencanaan Geometrik Jalan Raya yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Bina Marga No. 13/ 70.
5. Peraturan-peraturan lain yang berhubungan/ berkaitan dengan
perencanaan jembatan jalan raya.
a) Jenis dan Kelas jembatan termasuk pembebanan (BM) yang
digunakan terhadap lalu lintas jembatan yang ada akan ditetapkan
kemudian oleh Project Officer dan PPK.

b) Bila digunakan bangunan atas standard, supaya menggunakan


ketentuan dalam manual yang disertakan sebagai satu kesatuan
dengan material.

e. Perencanaan Pondasi Jembatan


Perhitungan daya dukung pondasi tiang dilakukan dengan cara
menggunakan pehitungan manual berdasarkan rumus Meyerhoff, serta
dilakukan dengan menggunakan program komputer APILE2 dari Ensoft.
Perhitungan daya dukung juga di check dengan menggunakan formula
dinamik dan program Fadwave dari Bowless untuk masalah
pemancangan tiang.

20
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

f. Analisis Lalu lintas


Perhitungan/analisis volume lalu lintas sangat diperlukan bagi
perencanaan jalan sebagai dasar didalam menentukan jumlah lajur dan
kapasitas jalan saat menentukan karakteristik geometrik, sedangkan
jenis kendaraan digunakan dalam menentukan kelas beban (MST) yang
berpengaruh langsung pada perencanaan perkerasan.
Tujuan analisis data lalu lintas pada dasarnya dilakukan untuk
menentukan kapasitas jalan, mengetahui arus jam puncak, komposisi
arus lalu lintas dan fluktuasinya, dan dilakukan bersamaan dengan
perencanaan geometrik.

g. Perencanaan Bangunan Pelengkap dan Pengaman Jalan


a) Umum
Tujuan dari perencanaan fasilitas jalan adalah untuk mengarahkan
dan mengatur lalu lintas, guna kenyamanan dan keamanan pengguna
jalan. Fasilitas jalan yang termasuk dalam perencanaan ini adalah :
1) Perlengkapan jalan
2) Lampu lalu lintas
3) Penerangan jalan.

b) Perlengkapan jalan
1) Pagar pengaman (Guard Rail)
Kegunaan utama dari pagar pengaman adalah untuk melindungi
kendaraan yang bergerak tidak terkontrol agar tidak keluar dari
jalan, serta melindungi fasilitas jalan, seperti tiang jembatan, dari
kerusakan akibat tertabrak kendaraan.

Untuk pagar pengaman akan dipasang pada lokasi sebagai berikut :


- Daerah timbunan (H > 2,0 meter)
- Jembatan dan box culvert
- Tiang pilar jembatan
- Ramp.

21
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

2) Marka jalan
Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan
atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda
yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong
serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu
lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas.
3) Rambu lalu lintas
Rambu lalu lintas adalah salah satu perlengkapan jalan, berupa
lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan diantaranya.
Sesuai dengan fungsinya, rambu lalu lintas dikelompokkan dalam 4
(empat) kelompok, yaitu:
- Rambu peringatan
- Rambu larangan
- Rambu perintah
- Rambu petunjuk (petunjuk jurusan dan petunjuk bukan
jurusan).
Rambu lalu lintas pada jalan mempunyai fungsi yang sangat penting
dan harus benar-benar sesuai dengan persyaratan yang telah
ditentukan.

c) Lampu lalu lintas


Lampu lalu lintas adalah perangkat peralatan teknis yang
menggunakan isyarat lampu untuk mengatur lalu lintas orang
dan/atau kendaraan.
Tujuan dari penggunaan lampu lalu lintas adalah untuk mengurangi
kecelakaan lalu lintas akibat dari tidak adanya pengaturan lalu lintas
yang baik dan kurangnya disiplin pengemudi jalan.
d) Penerangan jalan umum
Tujuan dari penggunaan penerangan jalan umum (PJU) adalah untuk
mengurangi kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat kegelapan.

22
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

h. Tata Cara dan Metode Pelaksanaan Jalan dan Jembatan


Pelaksanaan metoda konstruksi yang baik adalah yang memenuhi pokok-
pokok berikut :
1. Kualitas pekerjaan yang baik.
2. Kemudahan pelaksanaan dengan tingkat keamanan yang tinggi.
3. Ekonomis.
4. Waktu pelaksanaan yang singkat.
5. Menggunakan peralatan/alat bantu yang sudah tersedia dan mudah
didapat.
Untuk mencapai pokok-pokok tersebut maka diperlukan suatu kajian
pelaksanaan yang baik dengan mempertimbangkan beberapa metoda
pelaksanaan yang dapat dilakukan yang akan menjadi acuan pelaksana
pekerjaan fisik.

3.2.5 Perhitungan Volume


Perhitungan kuantitas dapat dibagi menjadi tiga tahap secara terpisah:
a. Trase jalan
b. Jembatan (bangunan atas dan bangunan bawah)
c. Bangunan pelengkap jembatan dan jalan

3.2.6 Pelaporan
Setiap isi laporan harus jelas dan dapat dibaca serta disusun dalam bahasa
Indonesia dengan tata bahasa yang baik dan benar. Ukuran kertas masing-
masing laporan adalah A4 (210 x 297 mm).

Laporan teknik yang dihasilkan dari jasa konsultan ini dan diserahkan adalah
sebagai berikut :
a. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan merupakan apresiasi terhadap kerangka acuan kerja
kegiatan yang antara lain meliputi latar belakang masalah, maksud dan
tujuan, ruang lingkup yang diharapkan, metode / cara pendekatan, teknik dan
prosedur pengumpulan data serta analisis. Pada pelaporan ini dicantumkan
juga pentahapan pekerjaan, jadwal rencana kerja dan organisasi pelaksanaan
studi yang akan dibahas dalam pertemuan dengan Pengguna Jasa.

23
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

b. Laporan Antara
Laporan Antara berupa laporan yang berisi :
a. Hasil pengumpulan data sekunder dan primer
b. Hasil kajian terhadap data survey
c. Konsep perencanaan
d. Progres kegiatan dan rencana selanjutnya.

c. Laporan Akhir
Dokumen initerdiri dari :
1. Penyempurnaan laporan-laporan dan progress perencanaan
2. Detail Engineering Design yang terdiri dari :
a) Laporan perencanaan
Laporan perencanaan ini dipisahkan berdasarkan paket pekerjaan
masing-masing laporan berisi :
1) Daftar isi
2) Peta lokasi proyek.
3) Daftar bangunan pelengkap.
4) Uraian yang berisi data perencanaan beserta perhitungan
struktur bangunan bawah beserta pondasinya, drainase, jalan
dan lain-lain.
5) Gambar rencana yang dibuat ukuran A3.

b) Laporan perkiraan kuantitas dan biaya


Laporan ini berisi perkiraan kuantitas dan biaya yang dihitung untuk
tiap item pekerjaan yang kemudian digabungkan sebagai kesimpulan
perkiraan biaya. Laporan perkiraan kuantitas dan biaya ini
dipisahkan sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan dengan isi
sebagai berikut :
1) Daftar isi. Peta lokasi proyek.
2) Daftar bangunan pelengkap/jembatan.
3) Perhitungan perkiraan kuantitas.
4) Analisa biaya.
5) Perkiraan biaya.

24
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

c) Laporan penyelidikan tanah


Laporan Akhir Geologi dan Geoteknik harus mencakup sekurang-
kurangnya pembahasan mengenai hal-hal berikut :
1) Data proyek.
2) Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek
terhadap kota besar terdekat.
3) Kondisi morfologi sepanjang lokasi.
4) Kondisi badan jalan yang ada sepanjang trase jalan.
5) Hasil akhir pemeriksaan laboratorium dijadikan acuan untuk
perbaikan hasil diskripsi secara visual.
6) Analisis perhitungan konstruksi timbunan dan stabilitas lereng.
7) Analisis longsoran sepanjang trase jalan.
8) Sumber bahan konstruksi jalan (jenisnya dan perkiraan volume
cadangan).
9) Gejala struktur geologi yang ada (kekar, sesar/ patahan dsb.)
beserta lokasinya.
10) Rekomendasi.

d) Laporan Topografi
Laporan topografi mencakup sekurang-kurangnya pembahasan
mengenai hal-hal berikut :
1) Data proyek.
2) Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi
proyek terhadap kota besar terdekat.
3) Kegiatan perintisan untuk pengukuran.
4) Kegiatan pengukuran titik kontrol horizontal.
5) Kegiatan pengukuran titik kontrol vertikal.
6) Kegiatan pengukuran situasi.
7) Kegiatan pengukuran penampang melintang.
8) Kegiatan pengukuran khusus (bila ada).
9) Perhitungan dan penggambaran.
10) Peralatan ukur yang digunakan berikut nilai koreksinya.
11) Dokumentasi foto mengenai kegiatan pengukuran topografi

25
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

termasuk kegiatan pencetakan dan pemasangan BM,


pengamatan matahari, dan semua obyek yang dianggap penting
untuk keperluan perencanaan jalan.
12) Deskripsi BM (sebagai lampiran).
13) Data ukur hasil ploting dan negatip film harus diserahkan.

e) Laporan Hidrologi
Laporan mengenai survey dan analisis hidrologi, yang meliputi :
1) Data proyek.
2) Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek
terhadap kota besar terdekat, pos pencatat curah hujan.
3) Data curah hujan untuk setiap pos yang diambil.
4) Analisis/ perhitungan.
5) Penentuan dimensi dan jenis bangunan air.
6) Daftar lokasi bangunan air yang direncanakan.

f) Laporan Inventarisasi dan Kondisi


Laporan ini berisi data-data inventarisasi dan kondisi jalan dan
jembatan di lokasi perencanaan beserta hasil analisisnya.

g) Dokumen pelelangan fisik dan CD back up data dan video


Dokumen Pelelangan Pekerjaan Fisik sesuai dengan dokumen
pelelangan standar menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
nomor 07/PRT/M/2011. Seluruh data dan laporan perencanaan
yang dihasilkan dituangkan dalam CD back up dan video.

 Dokumen Lelang yang berisi :


Volume I : Syarat-syarat Kontrak
Volume II : Syarat-syarat Umum Kontrak
Volume III : Spesifikasi Teknis
Volume IV : Gambar Rencana
Volume V : Perhitungan Kuantitas.

Diterbitkan sebanyak 5 (lima) set laporan dan diserahkan bersama


Laporan Akhir. Semua laporan hasil perencanaan berikut Compact
Disc (CD) berisi seluruh laporan harus diserahkan selambat-

26
Laporan Pendahuluan
Perencanaan Jembatan Yaentu II
Kec. Mori Utara

lambatnya 1 (satu) bulan sejak SPMK diterbitkan.

27