Anda di halaman 1dari 44

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

- Adalah Mual /muntah berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu aktivitas dan keadaan
usus ibu jelek (dehidrasi, gangguan asam basa dan elektrolit, muntah >10x/hari)
- Faktor predisposisi:
1. Faktor hormonal HCG berlebih (mola hidatidosa, primigravida, diabetes, gemelli, riw.
Keluarga/kehamilan sebelumnya dengan tingginya kadar HCG)
2. Faktor organik (vili choriales masuk sirkulasi maternal)
3. Faktor psikologis ; emosi, stress
- Klasifikasi:
- Derajat I  lemah, tak mau makan, BB turun, nyeri epigastrium, Nadi normal, TD turun,
turgor turun
- Derajat II dehidrasi, Nadi kecil dan cepat, TD turun, suhu naik, turgor jelek, oligouria,
tanda pre syok
- Derajat III somnolent, Nadi tak teraba, TD tak terukur, suhu sangat tinggi, “encephalopati
wernicke” (perubahan mental, diplopia&nistagmus)
- Terapi: antimuntah, antasida, sedativa (stesolid), multivitamin (vit. B1, B6), derajat II dan III
dirawat di RS (isolasi, infus D5, obat obatan sedativa + antasida+anti muntah, psikoterapi)
INKONTINENSIA URINE
- Adalah keadaan tidak mampu menahan urin
- Etiologi:
 Spincter VU lemah
 Fistula urin
 Trauma persalinan (partus lama)
 Enuresis nocturnal
- Klasifikasi:
 Derajat I : Batuk/ kerja berat  kencing
 Derajat II : Kerja ringan  kencing
 Derajat III : Kencing keluar terus menerus
- Terapi:
1. Colporaphy anterior (penjahitan dinding depan vagina)
2. Colporaphy posterior (penjahitan dinding belakang vagina)
- Sebagai terapi operatif pada prolapsus uteri & inkontinensia urin
3. Colporaphy anterior-posterior (vaginoplasty)
- Sebagai terapi operatif pada prolapsus uteri yang masih aktif seksual
- Kerugiannya tidak dapat dilakukan pemeriksaan pap smear
4. Colpociesis (penjahitan vagina)
5. Penguatan ligamentum pada spincter VU

SYOK DALAM OBSTETRI


- Adalah berkurangnya darah pada sirkulasi umum sehingga terjadi gangguan perfusi pada pembuluh
darah kapiler
- Ada 5 tipe syok: anafilaktik,hipovolemik,sepsis,kardiogenik,neurogenik. Yang paling sering terjadi
dalam kasus obstetri, yaitu hipovolemik & septik
- Etiologi :
 Berkurangnya volume darah : perdarahan, luka bakar, dehidrasi, peritonitis
 Vasodilatasi (terjadi pada syok neurogenik, syok septik, syok anafilaktik)
 Syok kardiogenik (akibat berhentinya fungsi jantung )
- Klasifikasi :
 Berdasarkan onsetnya
a. Early reversible shock
b. Late reversible shock
c. Refractory shock
d. Irreversible shock
 Berdasarkan tipenya:
1. Syok hemoragik
- Trimester I : abortus,mola KET
- Trimester III : plasenta previa, solutio plasenta
- Postpartum : atonia uteri, ruptur uteri, retensio plasenta
2. Syok septik : infeksi berat, emboli air ketuban
TOKSEMIA GRAVIDARUM & HIPERTENSI KEHAMILAN

1. Preeklampsia
- Adalah kumpulan gejala pada wanita hamil > 20minggu yang terdiri dari Trias HPE (Hipertensi,
Proteinuria, Edema) yang kadang-kadang disertai konvulsi dan koma, dimana pada wanita tersebut
tidak didapatkan kelainan vaskular/hipertensi sebelumnya.
- Terjadi perbaikan kondisi ibu jika IUFD
- Frekuensi menurun pada kehamilan berikutnya
- Faktor predisposisi:
 Primigravida ibu
 Mola hidatidosa
 Hidramnion hiperplasentosis
 Gemelli
 DM
 Usia > 36 tahun
- Klasifikasi:
1. Preeklampsia ringan (PER)
a. Gejala : Tensi > 140/90 dan < 170/110. Proteinuria < 5gr/liter/24 jam. Edema lokal /
general
b. Penanganan :
Bed rest
Diet tinggi protein, rendah kalori rendah garam
Diazepam 3x2 mg
Lab : darah urin rutin, trombosit, asam urat
Rawat inap jika : keluhan tidak membaik dlm 2 minggu, kenaikan BB > 1kg/
minggu
2. Preeklampsia berat (PEB)
a. Gejala :
Tensi > 170/110 . Proteinuria > 5gr/liter/24 jam (atau +4). Edema masif
Oligouria < 500 cc/24 jam
Gangguan visual/serebral, nyeri epigastrium, edema paru, IUGR
Sindroma HELLP (Hemolysis Elevated Liver enzyme and Low Platelet count)
b. Penanganan :
1. Konservatif
a. Rawat inap (isolasi)
b. Diet Tinggi Kalori (>100gr/hr), Rendah Garam (<0,5 gr/hr)
c. Infus D5:RL = 2:1 sebanyak urin output + 500 ml
d. MgSO4 :
 Initial: 8gr lar. 40% (20 ml) im di gluteus kanan-kiri
 Maintanance : 4 gr/6 jam sampai 6 jam post partum
 Syarat :
01. Refleks patella (+)
02. Respirasi > 16x/mnt
03. Urin > 100 ml
04. Tersedia antidotum Calsium Glukonas
e. Antihipertensi (bila > 170/110)
 Hidralazine 10 mg/ 6jam im atau 5 mg/5 menit iv (maksimal
25 mg)
 Klonidine 0,075 mg dalam 4,5 ml NaCl iv pelan
2. Aktif ( Bila kehamilan > 37 minggu, impending eklampsia, fetal distres,
IUGR, HELLP Syndrome, Gagal terapi konservatif)
*Dikatakan gagal terapi jika :
> 6 jam terapiterdapat kenaikan tensi
> 48 jam terapi  diastolik > 100 mmHg & Indeks gestosis >6
*Indeks Gestosis :
Nilai 0 1 2 3
Edema (-) Tibial General (-)
Protenuria < 0,5 gr 0,5-2gr 2-5 gr > 5gr
Sistolik <140 140-160 160-170 >170
Diastolik < 90 90-100 100-110 .110
 Induksi (Bishop’s score >5) / SC (primigravida,janin
berharga,kontraindikasi induksi, 12 jam induksi tapi tidak mencapai fase
aktif, Bishop’s score <5)
*Bishop’s score

 Jika dalam persalinan :


o Fase laten : SC
o Fase aktif : amniotomi / SC (jika post 6 jam amniotomi
pembukaan tidak lengkap)
o Kala II  vakum/forceps
- Patofisiologi:
Persiapan endometrium dan junctional zone miometrium yang buruk gangguan invasi
tropoblas pada arteri miometrium  Adaptasi arteri spiral yang buruk reperfusi iskemia 
stres oksidatif plasental  Pelepasan komponen dari ruang intervilus ke sirkulasi maternal
sistemik Meningkatkan respon inflamasi sistemik pada intravaskular maternal 
menyebabkan disfungsi endotel dan leukosit, komplemen dan aktivasi pembekuan
meningkatkan reaktifitas vaskular dan penurunan volume intravaskular

 Terjadi spasme pembuluh darah, retensi air & garam muncul gejala HPE
 Terjadi edema otak yang mengakibatkan kelainan serebral (kejang,koma) & kelainan visus
 Pada uterus terjadi :
o insufisiensi uteroplacentair  IUGR & fetal distres
o kenaikan tonus rahim  partus prematurus
 Pada ginjal terjadi :
o Penurunan GFR  retensi air&garam  oligouria/anuria
 Pada paru  edema paru

- Komplikasi:
 Solusio plasenta
 Hipofibrinogenemia
 Perdarahan otak
 Hemolisis

2. Impending Eklampsia
- Gejala klinis: gangguan visual, pusing, hiperrefleksia, eksitasi motorik, gangguan kesadaran,
sianosis
- Diagnosis:
 TDS >160mmHg. Edema
 Funduskopi:sklerosis dinding pembuluh darah (crossing phenomenon seperti perak)
 Lab: kenaikan Ht, penurunan trombosit, peningkatan ureum & kreatinin, peningkatan
bilirubin direk,indirek, SGOT,SGPT
- Klasifikasi:
 Klinis
o Monosimptomatis EPH gestosis
o Polisimptomatis EPH gestosis
o Iminent eklampsia
o eklampsi
 Patogenik
o Superimposed EPH gestosis
o Transient EPH gestosis
o Unclassified EPH gestosis
o Concomittant disease
- Perubahan yang terjadi :
 Penurunan ratio prostacycline:tromboxane
 Penurunan Asam Arakidonat
 Penurunan prostacycline
 Peningkatan tromboxane
 Penurunan angiotensin II
- Penanganan berdasarkan patogenesis :
o Meningkatkan ratio prostacycline : tromboxane  aspirin & antiprostaglandin
o Peningkatan AA  Diet Rendah Kalori Tinggi Protein Rendah Garam
o Meningkatkan prostacycline dan Menurunkan tromboxane
o Menghilangkan hipovolemia & vasokonstriksi infus dextran 1500 cc dlm 12 jam,
diazepam. MgSO4
o Terapi antihipertensi :hidralazine/clonidine iv
*Syarat menggunakan antihipertensi:
 Sistole > 180 mmHg
 Diastole > 110 mmHg
 Kenaikan > 20%
- Penyulit:
 Sistem pernafasan: edema paru, hiperventilasi
 Sistem kardiovaskular: hipertensi, hipervolemia
 SSP: edema otak, perdarahan otak, anemia

3. Eklampsia
- Adalah kejang atau koma pada penderita preeklampsia berat
- Klasifikasi (4 stadium) :
 Stadium Aurora  mata terpaku, kelopak mata & tangan bergetar
 Stadium Kejang Tonik badan kaku, nafas berhenti, sianosis
 Stadium Kejang Klonik seperti epilepsi grand mal - Koma lama
 Stadium Koma suhu dan TD meningkat
- Diagnosis : - Nadi > 120 x/mnt

- Suhu > 39,4 ‘C


“Kriteria EDEN”
- TDS > 200 mmHg
* Eklampsia ringan : 1 gejala
* Eklampsia berat : > 1 gejala Kejang > 10x

- Proteinuria > 10 gram

- Penanganan: - Edema (-)


1. Konservatif
- Sama seperti penanganan PEB namun ditambah rejimen khusus
 Regimen MgSO4 :
 Regimen Sodium Pentotal
 Regimen Valium
 Regimen Litic Coctail
2. Aktif
a. Partus pervaginam setelah 4-8 jam kejang terakhir
b. SC setelah 12 jam kejang terakhir

- Komplikasi:
 Perdarahan otak
 Henti nafas
 Solutio plasenta
 Abortus
KELAINAN CAIRAN AMNION

1. Hidramnion
- Adalah cairan amnion/ketuban > 2000 cc pada usia kehamilan > 38 minggu
- Klasifikasi :
 Akut : produksi tetap tetapi konsumsi menurun
 Kronis : produksi bertambah dengan konsumsi tetap
- Etiologi :
o DM
o Gemelli
o Preeklampsia/Eklampsia
o Kelainan kongenital: hidrocephalus, anencephalus, hidrop fetalis, atresia esofagus, spina
bifida
- Diagnosis :

 TFU > normal, perut besar mengkilat, venektasi (+), Undulasi (+)
 Letak janin sulit ditentukan, bagian janin tak teraba, DJJ sulit didengar
 USG
o Bayi tampak kecil
o Cairan an echoid >> scan transversal longintudinal (jarak uterus ke bagian janin)
CATATAN:
< 2cm : oligohidramnion, 2-10 cm : normal, > 10 cm :hidramnion

- Diagnosis Banding : Asites, Gemelli, kistoma ovarii


- Tatalaksana :
 Pre dan intra partum : Diet rendah garam, tunggu partus spontan, amniocentesis (px FOAM
TEST/ maturitas paru dan Kadar Estriol) atau Pungsi transvaginal)
 Post partum: infus D5 dan RL, Transfusi, uterotonika
- Komplikasi :
a. Janin  anomali kongenital (Paling sering atresia esofagus), prematuritas, kelainan letak,
DM, Eritroblastosis fetalis
b. Ibu solusio plasenta, retensio plasenta, atonia uteri, perdarahan postpartum

2. Oligohidramnion
- Adalah keadaan dimana cairan amnion < 500 cc
- Etiologi : KPD, KPA
- Diagnosis : TFU < normal, nyeri perut setiap gerak anak & his, ketuban sudah pecah (partus lama)
- Komplikasi : Kelainan kongenital (Club foot, kulit tebal dan kering mirip kulit sapi ( leathery
appearance), tipis seperti kertas (Fetus papyraceaus), Bilateral Renal Agenesis (paling sering)

3. Korioamnionitis
- Adalah infeksi pada korion dan amnion
- Diagnosis : Demam 38 C dengan ≥ 2 tanda berikut:
 Leukositosis > 15.000 sel/m3
 DJJ > 160 x/mnt
 HR ibu > 100 x/mnt
 Nyeri tekan fundus saat tidak ada kontraksi
 Cairan amnion berbau
- Faktor risiko :
o KPD lama
o Partus lama
o Partus prematurus
o VT yang dilakukan berulang ulang
o IMS
- Penatalaksanaan :
1. Antibiotika kombinasi : Ampisilin 2 g iv/ 6 jam + gentamisin 5 mg /kgBB iv/ 24 jam
a. Jika persalinan pervaginam : hentikan antibiotik setelah persalinan
b. Jika SC: lanjutkan antibiotik + metronidazole 500 mg iv/ 8 jam
2. Terminasi kehamilan

4. Emboli Air Ketuban


- Faktor predisposisi : KPD, His yang kuat, toxemia gravidarum, solutio plasenta, sectio caesaria
- Etiopatogenesis : His yang kuat menyebabkan pecahnya ketuban & terjadi emboli  air ketuban
mengandung tromboplastin  DIC (hipofibrinogenemia)
- Diagnosis :
 Fase I  dispneu, sianosis, edema paru, nyeri dada
 Fase II  Hipofibrinogenemia
- Terapi & Pencegahan :
 Infus, oksigen, kardiotonik, steroid
 Pemecahan kulit ketuban diluar his

KETUBAN PECAH DINI (KPD)

 Pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan/ sebelum kala I (disebut juga Premature
Rupture of Membrane /PROM)
 Etiologi :
o Hipermotilitas rahim
o Infeksi (sistitis, cervisitis, amnionitis, korioamnionitis)
*CATATAN:
Lag period / Periode Laten
- selang waktu / jarak antara pecahnya kulit ketuban dan permulaan persalinan,
semakin panjang periode laten semakin besar risiko terjadinya infeksi
o Ketuban terlampau tipis
o Malposisi janin
o Multiparitas
 Klasifikasi :
- Ketuban pecah dini (Premature Rupture of Membrane/ PROM)  pecah
ketuban sebelum persalinan/ sebelum kala 1
- Ketuban pecah awal (Early Rupture of Membrane/ EROM)  pecah ketuban
pada awal inpartu (pembukaan < 3cm pada primigravida dan < 5cm pada
multigravida)
 Diagnosis :
o air ketuban keluar dari canalis cervicalis (anamnesis keluar cairan ngepyok)
o Px sitologi: cairan amnion bercampur mekonium, vernix caseosa, lanugo, berwarna
keruh dan berbau khas
o tes lakmus ( Jika bersifat basa (biru) berarti air ketuban dan jika bersifat asam
(merah) berarti urin)
o Pemeriksaan penunjang : Pap smear test, Nitrazine Test dan Fern Test
 Komplikasi :
o Pada janin : infeksi, asfiksia, prematuritas, IUFD
o Pada Ibu : infeksi intra/postpartum, atonia uteri, perdarahan postpartum,
peritonitis, oligohidramnion, emboli air ketuban, partus lama/macet, prolapsus
funiculi
 Penanganan :
o Janin aviabel : (< 36 minggu)
- Pertahankan sampai aterm
- Bed rest 3x24 jam
- Antibiotika
- Dexamethasone 5 mg im/ 12 jam
- Tokolitik (papaverin)
- Progesteron (gestanon)
- Awasi vital sign dan suhu, DJJ, jumlah leukosit, tanda-tanda infeksi
- Bila tanda infeksi (+) atau fetal distress dilakukan SC
o Janin viabel : (> 36 minggu)\
- Ditunggu partus spontan (maksimal 6 jam)
- Bila 6-8 jam belum terjadi persalinan, lakukan induksi
- Antibiotika
- Bila tanda infeksi (+) atau fetal distress  lakukan SC
o Janin imatur : (< 26 minggu)
- Terminasi kehamilan
- Antibiotika
KELAINAN PLASENTA
1. Infark Plasenta
 Klasifikasi infark
a.Infark marginal (tepi uri)
b.Infark permukaan fetal saja
c.Infark tebal
- Infark putih
- Infark merah (hematoma intervilli)
 Komplikasi infark
 Solutio plasenta
 Retensio plasenta
 Perdarahan ante partum
 Partus prematurus
 Hidrorrhoea
2. Tumor Plasenta
 Hemangioma
 Chorioangioma
 Fibromata
 Kista Plasenta
3. Kelainan Bentuk Plasenta
1) Plasenta spuria (kedua uri tidak dihubungkan oleh pembuluh darah)
2) Plasenta membranacea (plasenta kecil dan tipis)
3) Plasenta succenturiata (terdapat plasenta kecil disamping plasenta utama / dua namun tidak
sama besar)
4) Plasenta fenestrata (plasenta berlubang)
5) Plasenta bilobatus (dua lobus)
6) Plasenta trilobatus (tiga lobus)
7) Plasenta anularis
8) Plasenta sircumvalata (terdapat cincin putih pada samping plasenta)
9) Horseshoe plasenta
4. Kelainan Perlekatan Plasenta
 Plasenta adhesiva
 Plasenta acreta
 Plasenta increta
 Plasenta percreta

5. Insufisiensi Plasenta
- Adalah ketidakmampuan plasenta dalam
mencukupi keperluan oksigen, zat makanan, ekskresi, dan hormonal.
- Etiologi: Kelainan insersi tali pusat
- Akibatnya: hipoksia janin, IUGR, IUFD
- Monitoring dengan : Amnioskopi, kadar HCG/Estriol, CTG(Cardiothoracografi),
Sitologik,Histaminase
6. Kelainan Insersi Tali Pusat
1. Plasenta Bailedore (insersi di tepi uri)
2. Insersi Filamentosa (berinsersi dalam ketuban berjalan diantara amnion dan korion menuju
plasenta)  Pada filamentosa, pembuluh darah kulit ketuban ke plasenta tidak
terlindungmudah pecahkematian.

7. Prolapsus Funiculi
- Keadaan dimana teraba tali pusat dari luar pada saat ketuban sudah pecah
- Disebut “Tali Pusat Terkemuka” jika tali pusat teraba di canalis cervicalis (disamping bagian besar
janin) pada saat ketuban masih intak
- Etiologi:
a. Bagian terdepan janin tidak terfiksasi di PAP
b. Letak lintang atau sungsang
c. Hidramnion
d. Anencephali/ Hidrocephalus
e. Plasenta previa
- Diagnosis: VT  teraba tali pusat/ pulsasi tali pusat
- Penanganan:
1. Prolapsus funiculi
a. Letak kepala
i. Pembukaan kecil
ii. Pembukaan lengkap
1. Kepala sdh masuk PAP  akhiri persalinan pervaginam :VE/FE
2. Kepala blm masuk PAP akhiri persalinan: VE /SC
b. Letak lintang  SC
c. Letak sungsang  tunggu pembukaan lengkap & ekstraksi kaki
d. Janin mati  tunggu partus spontan
2. Tali Pusat Terkemuka
 Reposisi tali pusat : ibu posisi tredelenburg, ketuban tidak blh dipecah, tidur miring
bertentangan dengan tempat tali pusat, reposisi dan kepala terdorong ke dalam PAP
- Prognosis: membahayakan janin letak kepala karena jepitan tali pusat insufisiensi
plasentadistress janin
8. Plasenta Previa
- Adalah keadaan dimana plasenta berinsersi pada tempat abnormal (segmen bawah rahim) sehingga
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir / canalis servikalis (OUI)
- Plasenta previa terjadi pada trimester III karena saat itu SBR melebar sementara plasenta tetap 
robekan plasenta
- Klasifikasi :
1. Plasenta previa totalis / centralis (20%) plasenta menutupi seluruh OUI pada pembukaan 4-
5 cm
2. Plasenta previa lateralis (30%) plasenta menutupi sebagian OUI pada pembukaan 4-5 cm
a. Plasenta previa lateralis anterior  plasenta menutupi sebagian OUI bag. depan
b. Plasenta previa lateralis posterior plasenta menutupi sebagian OUI bag. belakang
c. Plasenta previa marginalis  plasenta pada tepi OUI
3. Plasenta previa letak rendah (50%) tepi plasenta 3-4 cm diatas pinggir pembukaan (pada
SBR) tetapi pada VT tidak teraba
- Etiologi :
 Endometrium yang inferior
 Chorion leave yang persisten
 Corpus luteum bereaksi lambat
 Multiparitas
 Hipoplasia endometrium
 Polip endometrium
 Mioma uteri
 Bekas kuretase
 Endometriosis
- Faktor risiko :
Riw. Plasenta previa
Multiparitas
Gravida tua
Kehamilan multipel
Merokok
- Gambaran klinis :
o Perdarahan trimester III (> 28 minggu) yg bersifat
 Berwarna merah segar
 Tanpa sebab
 Berulang/recurrent
o Kepala tidak dapat masuk PAP
o Kelainan letak janin
- Diagnosis :
 Keluhan utama perdarahan
 Palpasi : kelainan letak, bagian terbawah janin tidak masuk PAP
 VT : (hanya di meja operasi karena mengakibatkan perdarahan,infeksi,partus prematurus,
induksi his)
- Indikasi : perdarahan > 500cc, Hb < 8gr%, perdarahan berulang, his (+) & janin viable
- Dilakukan Fornix Test : meraba bantalan antara jari dan kepala janin pada fornix anterior
serta fornix posterior
 Radioisotop : placentografi jaringan lunak, sitografi, arteriografi, amniografi
 USG : letak janin, letak plasenta, maturitas janin, DJJ
- Penanganan :
A. Konservatif (janin hidup, belum inpartu, kehamilan < 37 minggu, TBJ <2500 gram) 
Bedrest total, spasmolitik, progesteron
B. Aktif
a. Persalinan pervaginam
Indikasi: plasenta previa lateralis anterior/marginalis
Tindakan :
- Amniotomi
- Pemasangan cunam Willet Gausz
- Versi Braxton Hicks
- Metreurynter
b. SC
Indikasi: plasenta previa totalis/lateralis posterior, plasenta previa dengan panggul
sempit, perdarahan masif
c. Histerektomia
d. Ligasi A.hipogastrica Jika plasental bed berdarah
9. Vasa Previa
- Adalah vasa terbuka tanpa pelapis sbg kelanjutan insersi filamentosa yang turun keluar
serviksperdarahan ante partum)
- Faktor Risiko :
 Insertio filamentosa plasenta (70%)
 Insersi marginalis plasenta
 Plasenta bilobatus dan plasenta succenturia
 Plasenta letak rendah

- Diagnosis :
 Takikardia janin kemudian berakhir menjadi bradikardia
janin pada stadium terminal
 Apt test :
o Yaitu dengan membedakan apakah ini darah fetus
dari sirkulasi maternal
o Teknik :
 Ambil darah dari cairan vagina
 Tambahkan sedikit air
 Sampel di sentrifuge
 Tambahkan 5cc supernatant pink ke dalam 1 cc Natrium hidroksida 1%
 Baca dalam waktu 2 menit:
- Jika berwarna pink menunjukkan Hb Fetal
- Jika berwarna Kuning kecoklatan menunjukkan Hb dewasa (Ibu)
- Penatalaksanaan:

10. Solutio Plasenta


- Adalah keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari insersinya pada kehamilan
trimester III (>28 minggu)
- Solutio Plasenta manifest  darah keluar dari OUE
- Solutio Plasenta tersembunyi  hematoma retroplacentair

- Etiologi :
 Multiparitas
 Tali pusat pendek
 Faktor traumatik : jatuh, gemelli, hidramnion
 Faktor vaskular : hipertensi, GN Kronis, Preeklampsia/Eklampsia
- Klasifikasi jenis/macamnya :
- Solutio plasenta totalis
- Solutio plasenta partialis
- Prolapsus placentae
- Derajat Solutio Placentae :
Grade I Grade II Grade III
Perdarahan Ringan Sedang Berat
Konsistensi uterus Kaku Tetanik tetanik
Shock Ibu - +/- -
Fetal distres - + +/-
Kematian janin - Kadang sering
Penurunan fibrinogen - Ringan Berat
Ibu
Tidak membahayakan Membahayakan ibu & Membahayakan ibu &
ibu & janin janin janin
Plasenta lepas < ¼ bagian >1/4 dan< 2/3 bagian > 2/3 bagian
- Patofisiologi :
Adanya spasme tiba-tiba pada arteri yang menuju ruang interviler  anoksia bagian distal
nekrotisasi hematoma retroplacentair pada pilinan plasenta terlepas plasenta
- Diagnosis :
1. Perdarahan pervaginam sekonyong-konyong, non recurrent, nyeri hebat (perdarahan
retroplacentae menyebabkan defans muscular)
2. TFU bertambah tinggi (karena hematoma retroplacentair)
3. Fenomena Wooden Uterus (Uterus teraba keras sehingga bagian janin sulit diraba)
4. DJJ >140x/mnt
5. Px Lab : Hb turun, Hipofibrinogenemia (≤150 mg%)
6. VT : serviks terbuka, ketuban menonjol, prolapsus plasenta
7. USG :
a. Anechoid retroplacentair (perdarahan)
b. Plasenta tipis dan cekung pada bagian yg lepas
c. Penonjolan plasenta ke arah janin
d. Maturitas janin
- Komplikasi :
 Langsung :
o Perdarahan yaitu berupa :
 Hematoma retroplacentair
 External hemmorage (revealed) dikeluarkan pervaginam
 Internal hemmorage (concealed)
 Couvelair uterus (apoplexia uteroplacentair)
o Infeksi
o toksemia gravidarum
o prematuritas/IUFD
o tetania uteri (terjadi karena rangsangan hematoma retroplacentair, penurunan
progesteron, peningkatan histamin sirkulasi ibu)
 Tak langsung : Hipofibrinogenemia/DIC, perdarahan postpartum, couvelair uterus, gagal
ginjal
- Penanganan :
A. Konservatif : perbaikan keadaan umum
B. Aktif :
a. Persalinan pervaginam
i. Amniotomi & induksi
ii. Pemasangan cunam Willet Gausz / Versi Braxton Hicks
iii. Jika pembukaan lengkap (H III +) : VE/FE atau embriotomi (janin mati)
b. SC
c. Histerektomia  bila hipofibrinogenemia berat/couvelair uterus dgn kontraksi uterus
(-)
d. Ligasi A.hipogastrica  bila perdarahan masif berat
- Prognosis :
 Pada ibu prognosis baik (asal perdarahan diatasi)
 Pada janin jelek (akibat gangguan sirkulasi uteroplacentair)

11. Retentio Plasenta


- Adalah keadaan dimana plasenta blm lahir dalam waktu > 1jam setelah janin lahir
- Etiologi :
 Faktor diluar plasenta
o Atonia uteri/tetania uteri

 Faktor plasenta
o Tumbuh melekat pada uterus
 Plasenta adhesiva, acreta, increta, percreta
o Sudah lepas tapi tertangkap lingkaran kontraksi uterus
 Plasenta inkarserata
- Penanganan :
1. Atonia uteri/Tetania uteri
2. Faktor plasenta
a. Manual plasenta
i. Pasien litotomi+infus D5/NaCl lambat+uterotonika+diazepam
ii. Tangan kiri difundus, tangan kanan masuk menyusur tali pusat  plasenta
dilepaskan dengan menebas menggunakan tepi telapak tangan
iii. Eksplorasi luka luka & sisa plasenta bila ada sisa plasenta dilakukan
kuretage
iv. Antibiotika
*CATATAN
Komplikasi : ruptur uteri, invertio uteri, perdarahan, infeksi postpartum
b. Kuretage

12. Sisa Plasenta


- Adanya sisa plasenta yang tertinggal pasca persalinan
- Diagnosis: Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan
perdarahan postpartum dini atau perdarahan postpartum lambat (biasanya terjadi dalam 6-10 hari
pasca persalinan).
- Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan perdarahan dari rongga
rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik.
- Pada perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim, yaitu
perdarahan yang berulangatau langsung terus sdan berasal dari rongga rahim. Perdarahan
akibat sisa plasenta jarangmenimbulkan syok

- Penatalaksanaan :
- 20-40 unit oksitosin dalam 1000 ml lar NaCl 0.9%/RL, 60 tpm, dan 10 unit IM, lanjutkan
infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml NaCl/RL kec 40 tpm hingga perdarahan berhenti
- Eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan keluarkan bekuan darah dan jaringan. Bila serviks
hanya dapat dilalui oleh instrumen  evakuasi sisa plasenta dgn aspirasi vakum manual atau
dilatasi atau kuretase.

KELAINAN UTERUS

1. Couvelair Uterus
- Adalah Uterus dengan bintik bintik biru kehitaman (hematoma)
sebagai akibat dari darah yang merembes masuk miometrium sampai
lapisan serosa & ligamentum latum.
- Etiologi:
 Vasospasme
 Perubahan toksik
 Hipofibrinogenemia
 Hematoma retroplacentair hebat
- Komplikasi: Kontraksi uterus terganggu terutama saat postpartum  Atonia Uteri
- Penanganan: Histerektomia

2. Ruptura Uteri
- Adalah robeknya dinding uterus pada kehamilan dengan janin sudah mampu hidup (viable)
- Faktor risiko:
 Bayi besar (makrosomia)
 Ibu TB < 145 cm
 Bekas SC
- Klasifikasi:
1. Menurut terjadinya :
a. Ruptur uteri spontan (tanpa manipulasi dari luar)
- Rahim cacat : post SC, manual plasenta, histerotomi
- Regangan berlebih dari Rahim : makrosomia, serotinus, hydrocephalus,
hidramnion, gemelli, malpresentasi
b. Ruptur uteri traumatica (trauma dari luar)
- VE, FE, induksi berlebih, versi brakton hicks, curetage
2. Menurut derajat robekannya
a. Ruptur uteri totalis/complete terjadi pada seluruh dinding uterus (perimetrium ikut
robek)
b. Ruptur uteri incomplete/subtotalis terjadi hanya sampai lapisan miometrium
3. Menurut perlangsungannya
a. Rupture uteri sebenarnya (RUS)
- Anamnesis: saat his penderita kesakitan & ppv (+)
- Px fisik:
 Tanda syok (+)
 Defans muskuler & meteorismus
 Uterus teraba seperti bola keras
 Bagian janin langsung teraba dibawah kulit
b. Rupture uteri iminen (RUI)
- Anamnesis : setiap his penderita kesakitan, partus lama dan didorong dorong dukun
- Px fisik:
 Tanda syok (+) & Tanda dehidrasi (+) akibat partus lama
 Nyeri terus menerus saat his dan diluar his
 Cincin Bandl (antara corpus & SBR) sebagai lekukan setinggi pusat makin
lama makin tinggi sehingga SBR semakin menipis dan teregang (sering
keliru dengan VU yang penuh sehingga kateterisasi rutin selam persalinan
sangat perlu)

*CATATAN : Cincin Bandl bersifat fisiologis jika terletak 2 jari diatas 50◦
dan patologis apabila setinggi pusat
 Janin mudah didorong/diraba
 DJJ ireguler
 VT : edema portio & edema vulva

- Lokalisasi:
o Corpus uteri (post SC)
o SBR (partus lama)
o Serviks uteri (vaccum/forceps ekstraksi dengan pembukaan tidak lengkap)
o Antara serviks dan vagina (colpoporeksis-colpoporeksis)

- Penanganan:
 RUI  terminasi kehamilan (SC apabila sdh masuk PAP, VE&FE blm msk PAP,
embriotomi apabila janin mati)
 Ruptur Sub totalis
 Ruptur Totalis jumlah anak <3  histerorafi , jumlah anak >3 histerektomia

*Perbedaan plasenta previa, solution plasenta, dan rupture uteri*

Solutio plasenta Plasenta previa Ruptur Uteri


Terjadinya Hamil/inpartu hamil Inpartu
Mulai Tiba-tiba perlahan Dari RUI
Perdarahan Non-recurrent recurrent +/-
Warna darah Gelap/tua segar Segar
Toxemia (+) (-) (-)
Anemia (-) (+) (+)
Nyeri perut (+) (-) Di SBR
Palpasi Bagian janin sulit biasa Defans muscular
teraba
His kuat normal (-)
VT Tegang dan teraba plasenta Robekan
menonjol
DJJ (-) (+) (-)
Plasenta Tipis dan bagian Tepi normal Biasa
tengah cekung

*Rumus tekanan intrauteri ( R= H : O)*


- Ruptur = His : Obstruksi
- Dalam keadaan inpartu  corpus uteri kontraksi, SBR pasif, serviks lembek (effacement dan
dilatasi)
- Dalam keadaan obstruksi  corpus uteri kontraksi, SBR tertarik, lingkaran Bandl meninggi &
terjadi robekan uterus

3. Inversio Uteri
- Adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam cavum uteri
- Klasifikasi :
 Derajat I  belum keluar dari cavum uteri
 Derajat II sudah masuk ke dalam vagina
 Derajat III  sebagian uterus keluar dari vagina
- Etiologi :
- Uterus lembek atau lemah (multipara)
- Tarikan tali pusat berlebihan
- Atonia uteri
- Diagnosis :
 Perdarahan, nyeri hebat, syok
 Pada palpasi perut bagian bawah nyeri tekan (+)

- Pencegahan : hati hati dalam melakukan prasat Crede (melahirkan plasenta) & Prasat Kristeller
- Penanganan :
1. Transfusi
2. Reposisi (diberi uterotonika)

3. Tamponade vaginal
4. Operasi Naustlin (per abdominal) atau Operasi Spinelli (per vaginam)

4. Prolapsus Uteri / Desensus Uteri


- Adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan
ligamen-ligamen (penggantung), fasia (sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus.
- Etiologi:
 Ligamentum penggantung uterus kendor (biasanya pada multipara/menopause)
 Tumor intraabdominal yang menekan uterus
- Klasifikasi :
 Derajat 1  portio terlihat pada introitus vagina bila mengejan
 Derajat II portio terlihat pada introitus vagina tanpa mengejan
 Derajat III  semua bagian uterus diluar vulva
- Gambaran klinis :
 Benda keluar dari kemaluan
 Low abdominal pain
- Komplikasi :
1. Elongatio colli cervicouteri (leher serviks memanjang)
2. Erosi, perdarahan, infeksi
3. Obstipasi dan tenesmus
- Penanganan :
 Colpoclesis / Ventrofiksasi : dinding anterior dan posterior dijahit
 Colporaphi
5. Pendulous Uteri (Perut gantung)
- Adalah keadaan fundus uteri lebih rendah daripada SBP sehingga bila aterm janin sulit masuk ke
dalam PAP dan dapat mengakibatkan kehamilan serotinus

6. Retrofleksi Uteri
- Adalah keadaan uterus retrofleksi dan terkurung dalam rongga panggul
- Klasifikasi :
 Fiksata
 Mobilis
- Gambaran Klinis :
 Gangguan miksi/defekasi
 Rasa penuh di panggul
 Dismenore/ Dispareunia
- Komplikasi:
 Retrofleksi uteri gravidis partial (RUGP)
 Retrofleksi uteri gravidis Inkarserata (RUGI)
 Retensio urin
 Abortus habitualis
- Penanganan :
 Reposisi spontan / manual
 Terapi operatif (pada RUGI)

7. Kelainan Bentuk Uterus (Kongenital)


1. Uterus septus : septum pada
fundus
2. Uterus bicornis : septum
difundus melebar sampai
korpus uteri
3. Uterus didelphis : terdapat
septum membelah menjadi 2
corpus, 2 serviks, 2 vagina
4. Uterus arcuatus : fundus uteri
melengkung membentuk
busur/arcus
PERDARAHAN PADA OBSTETRI

- Perdarahan pada obstetri terdiri atas:

PERDARAHAN ANTE PARTUM


(>20MINGGU)
*Kelainan plasenta (berat) PERDARAHAN
PERDARAHAN 1. Plasenta previa POSTPARTUM
HAMIL MUDA (<20 2. Solusio plasenta
PERDARAHAN
minggu) 3. Vasa previa 1. Atonia Uteri
INTRAPARTUM
4. Ruptura sinus marginalis 2. Sisa plasenta
1. Abortus 5. Plasenta sirkumvalata 3. Laserasi Jalan Lahir
2.Penyakit 1. Ruptur Uteri
*Kelainan non plasenta
Tropoblas 2. Retensio Plasenta
(ringan) 4. Kelainan pembekuan
3. KET 1. Laserasi darah (Koagulopati)
serviks/vagina 5. Inversio Uteri
2. Polip serviks/vagina

Dibahas pada bab Kelainan uterus Dibahas pada bab kelainan plasenta

1. Abortus
 Adalah berhentinya kehamilan dan pengeluaran hasil konsepsi sebelum 20 minggu atau berat
badan janin <500 gram
 Etiologi :
o Faktor ibu:
 Kelainan genetalia ibu
 Anomali kongenital : uterus bikorni, hipoplasia uteri
 Kelainan letak uterus : retrofleksi uteri fiksata
 Regangan uterus : mola hidatidosa, gemelli
 Distorsi karena tumor pelvis
 Nidasi tak sempurna : def. estrogen / progesteron
 Gangguan sirkulasi plasenta
 Penyakit ibu
 Antagonisme rhesus
 Inkompetensi servix
 Servisitis
 Faktor psikis
o Faktor bapak:
 Penyakit bapak
 Hepatoma
 DM
 Decompentatio cordis
 TB
 Radiasi sinar X

o Kelainan dari ovum: (50-80 x menyebabkan abortus spontan)


o Kelainan dari lingkungan:
 Zat kimia
 Bom nuklir
 Demam kuning (senjata kimia)
 Obat-obatan
 Thalidomite
 Obat karsinogenik
 Mekanisme:
 Perdarahan decidua basalis dan nekrosis jaringan
 Hasil konsepsi lepas (sebagai corpus alienum)
 Kehamilan <8 minggu keluar total karena decidua belum menembus dalam
 Kehamilan >8 minggu plasenta / decidua basalis banyak yang tertinggal
 Gejala klinis :
- Amenore
- PPV disertai stolsel (darah beku)
- Perut mulas disertai keluar jaringan (fetus)
- Cervix membuka (pada abortus iminent cervix tidak membuka)
- Uterus lebih kecil dari ukuran sebenarnya (bila jaringan sudah keluar)
- Reaksi kehamilan (-)
 Klasifikasi :

Abortus spontaneus Abortus provocatus


- Abortus Komplit Tidak ada ekspulsi
- Abortus Medicinalis
 -Nasib
Abortus
Fetus
Inkomplit
: konsepsi
(abortus karena tindakan medis dgn alasan bila
-- Missed
Keluarabortion
spontan
kehamilan dilanjutkan akan membahayakan jiwa)
Diresorbsi
- - Abortus kembali (fetus compressus)
Iminen Ada ekspulsi
- Abortus Criminalis
- Abortus Insipiens konsepsi
(akibat tindakan ilegal dan bukan indikasi medis)
 Penanganan :
- Jenis penanganan
 Dilatasi dan curatage
Tahap pelaksanaan: VT, Sondage, dilatasi (bugi Hegar no.7),
curatage (besar dan tajam)
Peralatan :spekulum sims, cunam portio,sendok uterus, bugi Hegar,
sendok kuret, cunam abortus, pinset.
Komplikasi: perdarahan, infeksi, perforasi, robekan serviks
 Suction Curatage
Tahap pelaksanaan: seperti suction dengan kanula dlm uterus,
tekanan negatif 700 mmHg
Peralatan: spekulum sims, cunam portio,sonde uterus, bugi Hegar,
cunam abortus, suction.
Keuntungan: risiko perdarahan & perforasi rendah, dpt dipakai pada
pembukaan kecil, waktu pelaksanaan singkat
 Dilatasi bertahap
Tahap pelaksanaan : laminaria (3 buah) selama 12 jam, buginasi
Hegar,pengeluaran produk kehamilan dengan cunam
abortus/curatage.
 Penggaraman (salting out)
 Prostaglandin
Indikasi: induksi menstruasi, induksi abortus, induksi persalinan
Jenis prostaglandin:
a. PGE2
 Diberikan peroral, sediaan tablet 0,5 mg
 Penggunaan:
- 4 jam I : 1 tablet/jam
- 4 jam II : 2 tablet/jam
- 4 jam II : 3 tablet/ jam
b. PGF2
 Penggunaan: Diberikan i.m ,dosis 0,5 mg/8 jam
maksimal 5x pemberian
c. PG pessarium vaginal (pessarium: memasukkan suatu ring
ke dalam vagina berbahan karet/ silikon)
 Digunakan untuk induksi menstruasi dan induksi
persalinan, sediaan 1 mg
 Penggunaan: 5 pessarium/ 3 jam selama 12 jam
 Histerotomi
Adalah tindakan membuka uterus dan mengeluarkan isinya serta
menjahit kembali lapis demi lapis
Jenis-jenis: Histerotomi abdominal, histerotomi vaginal (insisi pada
serviks)
- *CATATAN
o Curetage
 Usia kehamilan < 12 minggu : langsung dilakukan curetage
 Usia kehamilan > 12 minggu : induksi terlebih dahulu (diupayakan
janin keluar spontan untuk mencegah perforasi karena lunaknya
dinding rahim)
o Histerektomi operasi pengangkatan rahim
o Sectio Caesaria upaya mengeluarkan janin dari dalam rahim dengan
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina
 Komplikasi :
- Fetus mati dan melekat pada uterus
- Hipofibrinogenemia
1.1 Abortus iminens
- Adalah abortus yang masih dapat dicegah sehingga hasil konsepsi masih dapat dipertahankan
- Diagnosis:
 Anamnesis: hamil muda dengan ppv sedikit, nyeri memilin (kontraksi ringan), TFU sesuai usia
kehamilan
 Vaginal touche: kelainan serviks (-) dan serviks tertutup
 Reaksi kehamilan (-)
 USG:
o Saccus gestational (+)
o Fetal plate/plasenta (+)
o Fetal movement (+)
o DJJ (+)
- Penanganan:
 Bed rest total hingga 3 hari bebas perdarahan
 Spasmolitik hingga 3 hari bebas perdarahan
o Papaverin 3x40 mg
o Terbutalin
 Sedativa
o Luminal 3x30 mg
 Progesteron
o Gestanon 10 mg/hari
 Dilarang koitus sampai 2 minggu
1.2 Abortus Insipiens
- Adalah abortus yang sedang atau sudah berlangsung sehingga hasil konsepsi tidak dapat
dipertahankan kelangsungannya lagi (hasil konsepsi belum keluar dari rahim)
- Diagnosis:
 Anamnesis : Hamil dengan ppv banyak, kontraksi rahim kuat, TFU sesuai usia kehamilan
 Vaginal touche : serviks terbuka
 USG :
o Saccus gestational (+)
o Fetal plate/plasenta (+)
o Fetal movement (+)
o DJJ (+) atau (-)
 Reaksi kehamilan (-)
- Penanganan:
 Tunggu keluar spontan
 Dilatasi (laminaria stiff/buginasi Hegar)
 Induksi
 Curetage

1.3 Abortus Inkomplit


- Adalah abortus yang tidak lengkap dimana sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan dari rahim
- Diagnosis:
 Anamnesis: Hamil muda dengan ppv banyak, kontraksi rahim kuat, TFU lebih rendah dari
usia kehamilan, keluar gumpalan jaringan/darah beku
 Vaginal touche : serviks terbuka, terlihat sisa jaringan konsepsi / hasil konsepsi pada portio
 USG :
o Saccus gestational (-)
o Fetal plate/plasenta (+) atau (-)
o Fetal movement (-)
o DJJ (-)
 Reaksi kehamilan (-)
- Penanganan:
 Dilatasi (laminaria stiff/buginasi Hegar)
 Induksi
 Curetage

1.4 Abortus Komplit


- Adalah abortus yang lengkap dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari rahim (decidua
dan fetus) sehingga rongga rahim kosong.

1.5 Missed Abortion


- Adalah abortus yang tertunda dimana janin telah mati sebelum usia 20 minggu atau berat badan
500 gr tetapi tertahan didalam rahim selama lebih dari 2 bulan setelah janin mati.
- Diagnosis:
 Anamnesis: Hamil muda dengan ppv banyak, gerak janin dirasakan (-), TFU lebih rendah dari
usia kehamilan, payudara mengecil kembali
 Vaginal touche : serviks tertutup
 USG :
o Saccus gestational (+) atau (-)
o Fetal plate/plasenta (-)
o Fetal movement (-)
o DJJ (-)
 Reaksi kehamilan (-)

- Penanganan :
 Periksa Hb, HE, HT, CT.BT, Fibrinogen
 Dilatasi (laminaria stiff)
 Induksi dan curetage
 Apabila fibrinogen abnormal (<120 mg%) dilakukan terapi seperti IUFD

1.6 Abortus Habitualis


- Terjadinya abortus > 3 kali berturut turut
- Etiologi :
 Kelainan ovum
 Kelainan kromosom
 Inkompeten serviks
 Hipertensi
 Kelainan anatomis Rahim
 Infeksi
 Malnutrisi
- Penanganan :
 Serviks inkompeten : operasi sirklase
 Hindari rokok, alcohol
 Terapi penyakit secara tuntas

2. Penyakit Tropoblas Gestasional


- Adalah penyakit yang berasal dari jaringan tropoblas baik yang bersifat ganas maupun jinak
- Klasifikasi :

Ganas
Jinak

Mola Hidatidosa Tipe villosus Tipe non villosus

Mola destruens / Chorio Carsinoma


Mola Invasiva
2.1 Mola Hidatidosa
- Adalah pertumbuhan tropoblas berlebihan dengan stroma yg mengalami degenerasi hidrofit
(terutama bagian sinsitiotropoblas), vili
choriales (jonjot chorion) tumbuh berganda
berbentuk gelembung kecil berisi cairan jernih
(as.amino, mineral) menyerupai buah
anggur/mata ikan  disebut “hamil
anggur/hamil mata ikan”.
- Etiologi :
o Multiparitas
o Faktor ovum mati
o Imunoselektif tropoblas
o Infeksi virus
o Kelainan kromosom
o Sosial ekonomi rendah
- Klasifikasi :
 Komplit tidak ditemukan janin
 Inkomplet  ditemukan janin
- Diagnosis :
o Amenore
o Tanda-tanda subjektif kehamilan
o Mola face (+)/ pucat kekuningan
o Hiperemesis gravidarum (HCG meningkat tajam)
o Toxemia gravidarum
o Bentuk uterus lebih bulat
o TFU lebih tinggi dari usia kehamilan tapi pada palpasi tidak ditemukan bagian janin
o Ballotement (-), Gerak janin (-), DJJ (-)
o Auskultasi ”bising khas mola”
o PPV Kecoklatan + keluar gelembung mola dari OUE (diagnostik pasti)
o Fenomena Harmonica “ TFU turun jika darah dan gelembung mola keluar dari OUE tapi naik
kembali akibat adanya kumpulan darah baru”
o TRIAS PA mola Proliferasi tropoblas
Hilang gambaran Pembuluh darah Degenerasi hidrofit stroma vili

o Px HCG pengenceran > 1/400 (+) atau meningkat tajam


o Px Amniografi : Gambaran Honey Comb Appearance
o Px USG : Gambaran badai salju (snow flake pattern)
o Tes sonde :
- Tes Acosta Sison (Dokter kebangsaan Filipina)  jaringan mola dapat dikeluarkan
- Tes Hanifa  tidak ada tahanan

- Diagnosis Banding : Abortus, Hidramnion, Gemelli


- Komplikasi : perdarahan, infeksi, kista lutein (perangsangan HCG pada ovarium), pertumbuhan
infiltratif (menjadi mola destruen) atau menjadi ganas (chorio carcinoma)
- Penanganan :
 Evakuasi
o Curatage
 Curatage I laboratorium PA
 Curatage II 2 minggu kemudian
*CATATAN:
Setelah curatage I umumnya uterus mengecil dan perdarahan berkurang, tetapi bila
kurang bersih dalam evakuasi, perdarahan masih terjadi , uterus membesar dan
melunak  tindakan tampon vaginal, transfusi dan evakuasi ulang.
o Histerektomi pada high risk mola (usia > 40 thn, jumlah anak > 3, mola
besar/berulang)
 Monitoring keganasan
o Kontrasepsi non hormonal / IUD (sampai 2 tahun)
o Pemeriksaan HCG serial
o Foto rontgen paru (penapisan metastasis paru)
o Apabila :
 Titer HCG sangat tinggi
 > 4 minggu post curatage II , HCG masih (+)
 High risk mola
 Hasil PA keganasan (+)

Profilasis Keganasan

Sitostatika MTX Imunisasi BCG (mola disebabkan imunitas rendah)

Efek Samping :

 Alopesia
 Pruritus
 Stomatitis
 Anoreksia
 Diare
 Anemia
Aplastik
 Leukopenia

2.2 Mola Destruens/ Mola Invasiva/Mola Destruktif


- Adalah hiperplasia tropoblas dengan penyebukan vili choriales menembus dinding rahim
(miometrium) dan beranak sebar (vili choriales mengalami degenerasi hidrofik).
- Diagnosis:
 Riwayat mola berulang
 Titer HCG sangat tinggi
 Perdarahan intraabdomen
 Px PA curetage: villus (+)
- Penanganan :
1. Histerektomia + ligasi A. Hipogastrica
2. Sitostatika MTX 0,4 mg/kgBB

2.3 Chorio Carsinoma


- Adalah tumor ganas dari jaringan tropoblas (chorion), bersifat invasif (metastasis ke paru, otak,
hati).
- Faktor predisposisi:
 Mola hidatidosa (50%)
 KE
 Abortus inkomplit
Tabel Skoring Faktor Risiko Menurut FIGO (WHO) Dengan Staging FIGO
Skor faktor risiko 0 1 2 4
menurut FIGO (WHO)
dengan staging FIGO
Usia < 40 ≥ 40 - -

Kehamilan sebelumnya mola Abortus Aterm -

Interval dengan <4 4-6 7-12 >12


kehamilan tersebut
(bulan)
Kadar hCG sebelum < 10³ 1000-10000 > 10000 – >
terapi (mIU/mL) 100000 100000

Ukuran tumor terbesar, - 3-4 ≥ 5 cm -


termasuk uterus
Lokasi metastasis, Paru-paru Limpa, ginjal Traktus Otak,
termasuk uterus gastrointestin hepar
al
Jumlah metastasis yang - 1-4 5-8 >8
diidentifikasi
Kegagalan kemoterapi - - Agen tunggal Agen
sebelumnya multipe
l

Klasifikasinya adalah sebagai berikut :


1. Risiko rendah, skor total ≤ 4
2. Risiko sedang, skor total 5-7
3. Risiko tinggi, skor total ≥ 8
- Klasifikasi:
1. Tipe Villosum
2. Tipe Non Villosum
3. Koriokarsinoma Klinis
- Stadium Koriokarsinoma:
• Stadium I yang terbatas pada uterus
• Stadium II, sudah mengalami metastasis ke parametrium, serviks dan vagina
• Stadium III, mengalami metastasis ke paru-paru
• Stadium IV, metastasis ke oragan lain, seperti usus, hepar atau otak.
- Diagnosis:
 Gambaran seperti diagnosis mola
 Tumor seperti massa nekrotik/hemoragik
 Kadar HCG > 100.000 mikrounit/ml
*CATATAN
Peningkatan jumlah kadar ß-hCG
 Kadar ß-hCG normal pada tiap umur kehamilan berbeda, dari 5-25 IU/ml.
 Kadar ß-hCG yang dianggap mola < 100.000 IU/urine 24jam
 Kadar ß-hCG yang dianggap kanker adalah > 100.000 IU/urine 24jam >40.000 u/ml
dalam interval lebih dari 4 bulan.
 Kista lutein (+)
 Gambaran PA keganasan (+)  sel-sel trofoblas yang atipik, tanpa vili korialis, disertai
hemoragi dan nekrosis
 Metastase (+)
 USG : biasanya akan tampak masa kompleks dengan disertai adanya neovaskularisasi
 Uji Galli Mainini 
a. Galli mainini 1/3000 (+) maka suspect koriokarsinoma
b. Galli mainini 1/2000 (+) maka kemungkinan mola atau hamil kembar.
 “Kriteria H B es” dari Acosta Sison :
H : having expelled a product of conception
B : Bleeding
es : enlargement and softness of the uterus

“Jadi, menurut Acosta Sison, pada semua wanita yang pernah mengeluarkan hasil
kehamilan, apapun jenisnya, kemudian mengalami perdarahan pervaginam, yang disertai
adanya subinvolusi uterus, maka wanita tersebut patut dicurigai adanya keganasan. Apalagi
disertai dengan adanya kenaikan kadar B-hCG atau tanda-tanda metastasis lainnya”
- Penanganan :
a. Sitostatika (kuratif)  MTX + Actinomycin D
b. Pan Histerektomia
*CATATAN: Ada beberapa yang berpendapat menolak operasi karena:
- karena memudahkan penyebaran keganasan
- post operatif kurang sensitif terhadap sitostatika (MTX)
3. Kehamilan Ektopik Terganggu
- Dalam keadaan normal kehamilan akan terjadi intrauterin & nidasi terjadi pada endometrium
korpus uteri. Dalam keadaan abnormal implantasi hasil konsepsi terjadi diluar endometrium rahim.
- Kehamilan Ektopik (KE) adalah kehamilan dengan hasil konsepsi berimplantasi diluar endometrium
rahim.
- Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) adalah kehamilan ektopik yang terhenti proses perkembangan
janinnya dengan terjadi ruptur pada tempat implantasi janin.
- Etiologi :
 Faktor uterus : hipoplasi uterus, tumor uterus yang menekan tuba
 Faktor tuba : salpingitis, striktura, endometriosis, sterilisasi tak sempurna
 Faktor ovum : migrasi interna/eksterna, rapid cell densun
 Faktor sperma : gerak sperma yang lebih cepat
- Lokalisasi :
1. Interstisial (2%)
2. Istmus (25%)
3. Ampulla (55%)
4. Fimbrial (17%)
5. Ovarial, terdiri dari 3 struktur:
a. Intrafolikular
b. Superficial
c. Interstisia
6. Intraabdominal
* CATATAN : Laparotomi kehamilan abdominal, pemotongan tali pusat dilakukan sependek
mungkin karena tempat implantasi janin tidak memiliki struktur otot sehingga
menyebabkan perdarahan hebat.
7. Tubo-ovarial
8. Intraligamentar
9. Servikasl

1) Fimbria 2) Ampulla 3) Isthemus 4) Interstitial 5) Ovarium


6) Cervic 7) Cornual 8) Secondary abdominal 9) ligamentum
latum 10) Primary abdominal
- Diagnosis :
o Tanda kehamilan tidak pasti (+)
o Produksi estrogen dan progesteron seperti pada kehamilan normal :
o Nyeri perut bagian bawah sampai pingsan
o Tanda tanda akut abdomen : defans muskuler (+), tanda tanda syok (+)
o Cullen sign (+)  warna biru kehitaman (lebam) disekitar umbilikus dan linea alba
- Penatalaksanaan :
• Saat laparotomi, lakukan eksplorasi kedua ovarium dan tuba fallopii:
• Jika terjadi kerusakan berat pada tuba, lakukan salpingektomi (eksisi bagian tuba yang
mengandung hasil konsepsi)
• Jika terjadi kerusakan ringan pada tuba, usahakan melakukan salpingostomi untuk
mempertahankan tuba (hasil konsepsi dikeluarkan, tuba dipertahankan)
• Sebelum memulangkan pasien, berikan konseling untuk penggunaan kontrasepsi. Jadwalkan
kunjungan ulang setelah 4 minggu. Atasi anemia dengan pemberian tablet besi sulfas
ferosus 60 mg/hari selama 6 bulan.

KELAINAN USIA KEHAMILAN

- Setiap kehamilan harus berakhir atau diakhiri (diterminasi). Menurut umur kehamilannya dapat
dikategorikan sebagai berikut:
1. Abortus : apabila < 20 minggu, BBL <500 gram
2. Imatur: antara 20-28 minggu, BBL 500-1000 gram
3. Prematur/Preterm: antara 28-37 minggu, BBL <2500 gram
4. Maturus/Aterm: antara 37-40 minggu
5. Serotinus/Postterm: ≥ 42 minggu

- Apabila terdapat ketidaksesuaian antara usia kehamilan dengan berat janin lahir, maka disebut
“dismaturitas”.

1. Prematuritas
- Adalah keadaan janin yang lahir pada usia kehamilan antara 28-37 minggu dan berat janin 1000-
2500 gram.
- Diagnosis:
 Panjang badan < 47 cm (crown hell length)
 Diameter occipito frontalis < 11 cm
 Circuferentia occipito frontalis < 33cm
 Hb fetal tinggi
 Pusat osifikasi distal femoral epifisis (-)
- Faktor predisposisi:
o Mempengaruhi pertumbuhan fetus
 Gemelli, Habitus/BB Ibu, ibu merokok, DM pada Ibu, Insersi plasenta, Infark
plasenta
o Mempengaruhi lamanya kehamilan
 Saraf otonom, cerviks inkompeten, perangsangan mekanik janin
- Etiologi :
 Toksemia gravidarum
 Multiparitas
 Perdarahan antepartum
 Solutio Plasenta
 Plasenta previa
 Kelainan serviks
 KPD
 Hidramnion
 Gemelli
 Rhesus factor
 Decompensasi kordis pada ibu

- Pencegahan:
 Perbaikan sosial ekonomi
 Cegah UTI
 Cegah perkawinan muda
 ANC teratur
 Perbaiki laserasi serviks dengan operasi
o Mc. Donald
o Shirodkar
o Ennet

- Penanganan:
 Sikap  hasil konsepsi dipertahankan sampai aterm/viable
 Tindakan :
o Bed rest
o Sedativa: luminal 3x30 mg/hari
o Tokolitik : isosuprine atau terbutaline
o Bila partus tidak dapat dicegah:
1. Episiotomi
2. Pemotongan tali pusat dilakukan sesegera mungkin
3. Injeksi vit. K 1 mg pada ibu segera setelah anak lahir
4. Persiapan resusitator/inkubator
*CATATAN:
Kompensasi supply oksigen pada janin prematur:
- Denyut jantung lebih cepat
- Kadar Hb tinggi
- Afinitas Hb F terhadap oksigen tinggi

2. Dismaturitas
- Adalah ketidaksesuaian antara tuanya kehamilan dengan berat janin lahir
o Hamil aterm tetapi BBLR (karena IUGR)
o Hamil prematur (< 37 minggu) dengan BBL >2500 gram
- Perbedaan dismaturitas vs prematuritas:

DISMATUR PREMATUR

- Hamil aterm - Hamil < 37 minggu

- janin IUGR - janin tak IUGR

- Refleks janin normal - Refleks janin lemah

- Pernafasan tak terganggu - Sianosis

- Tes tumit-telinga sukar - Tes tumit-telinga mudah

- Kulit tumit berkeriput - Kulit tumit tak berkeriput

- Lanugo sedikit - Lanugo berlebihan

- Tulang rawan telinga (+) - Tulang rawan telinga (-), telinga


terlipat

3. Postmaturitas/Serotinus
- Adalah kehamilan yang berumur > 42 minggu dari HPHT

- Etiologi:
o Hormonal : progesteron>>>, kepekaan oksitosin rendah
o Herediter

- Diagnosis:
o USG : BPD > normal, jumlah air ketuban sedikit, gerak janin melemah
o Rontgenologi: pusat penulangan distal femur >>
o Amnioskopi (warna keruh mekonium)
o Estriol urin
o Cardiothoracografi
o OCT/NST
- Tanda serotinus:
1. Janin lebih besar daripada janin aterm
2. Tulang&sutura lebih keras
3. Lanugo sedikit
4. Verniks caseosa sedikit
5. Kuku panjang
6. Rambut kepala tebal
7. Desquamasi epitel
- Komplikasi:
 Ibu: distosia (janin besar, aksi uterus tidak terkoordinasi, air ketuban sedikit, moulage kepala
sedikit akibat sutura tertutup), partus lama, inertia uteri, kesalahan letak/presentasi
 Janin: IUFD
- Penanganan:
a. Monitoring janin
b. Tindakan :
I. HPHT diketahui
 USG: perbandingan usia kehamilan dgn berat janin
 Bishop score :
- >5 = induksi persalinan
- <5 = pemeriksaan estriol (E3) dan Non Stress Test (NST)
*CATATAN
- Normal: jika E3 > 18mg/ml dan NST (+)
- Jika E3 & NST normal : ditunggu 1 minggu
- Jika E3 dan NST abnormal : dilakukan induksi
- Jika E3/NST abnormal : diulangi
II. HPHT tidak diketahui
 USG: maturitas janin/fetal well being
 Px estriol (E3) 2x seminggu
- E3 normal: ditunggu 1 minggu kemudian induksi
- E3 abnormal: dilakukan NST (Non Stress Test)
o NST normal : ditunggu 1 minggu kemudian diinduksi
o NST abnormal : persalinan diinduksi
III. Tindakan SC bila:
 Insufisiensi plasenta pada serviks yang belum matang
 Partus lama, pembukaan tak lengkap
 Gawat janin, Primitua

FETAL WELL BEING, OCT&CST, dan NST

1. Fetal Well Being


- Adalah upaya untuk mengetahui perkembangan janin secara optimal dalam kandungan,
dilakukan pada usia kehamilan > 30minggu dan dilakukan 1x seminggu
- Indikasi:
 Insufisiensi plasenta
 Preeklampsia/eklampsia
 Hipertensi pada ibu
 Penyakit endokrin pada ibu : DM, Hipotiroid
- Metode:
 Klinis: TFU, Kenaikan BB Ibu, TBJ, Palpasi leopold (letak dan presentasi), DJJ
 Biokimiawi:
o Amnioskopi
o Fetoskopi
o Tes kadar E3
 Kadar <<< : anencephalus, insufisiensi suprarenal, ulangi tes (bila tetap
rendah lakukan NST)
 Kadar >>> : gemelli, hiperplasia suprarenal, DM, Inkompatibilitas Rh
o Tes HPL (Human Placenta Lactogen)
 Kadar < 4uq/ml : fetal distress
 Kadar >>> : pertumbuhan janin baik
 USG: saccus gestasional, fetal plate, fetal movement, heart rate
2. OCT dan CST
- Upaya untuk mengetahui keadaan janin dalam kandungan terhadap pengaruh kontraksi uterus
- OCT= Oxytocine Challenge Test kontraksi uterus ditimbulkan dengan infus oxytocine
- CST= Contraction Stress Test  kontraksi uterus spontan
- Indikasi:
 Insufisiensi uteroplasenta (bila diberi stress hipoksia janin & fetal distress)
 Serotinus
 Preeklampsia/eklampsia
 Gerak janin berkurang
 E3 urin & HPL serum rendah
- Cara Pemeriksaan:
 Dilakukan pada usia kehamilan >30 minggu
 Carditoracografi setiap 15 menit
 Tetesan oksitosin
o Aktifitas uterus (+) : 1 tpm, Aktifitas uterus (-) : 2 tpm  tetesan dinaikkan 2
tpm setiap 15 menit sampai terjadi 3 kontraksi setiap 10 menit
o Tetesan dihentikan jika:
 Hipertonia uteri (Ruptur Uteri Iminens)
 Deselerasi lambat (fetal distress)
 Kontraksi > 5x/ 10 menit dan Lama kontraksi > 40 detik

- Interpretasi:
A. Negatif (kehamilan diteruskan, 1 minggu kemudian diperiksa ulang)
 Deselerasi lambat (-)
 Variabilitas DJJ baik
 Akselerasi pada gerak janin (+)
B. Positif (kehamilan diakhiri dngan SC setelah maturasi paru (+) karena insufisiensi
uteroplasenta
 Deselerasi lambat persisten
 Variabilitas DJJ jelek
 Akselerasi pada gerak janin (-)
C. Suspicious (pemeriksaan diulang)
 Takikardia
 Deselerasi lambat tidak persisten

3. NST (Non Stress Test)


- Adalah pemeriksaan untuk mengevaluasi denyut jantung janin (DJJ) terhadap pengaruh gerak
janin.
- Indikasi:
 Insufisiensi uteroplasenta
 Preeklampsia/eklampsia
 Serotinus
 Gerak janin melemah
 E3 urin & serum HPL rendah
- Cara pemeriksaan:
- Pasien berbaring kemudian dipasang cardiothoracografi & tocodinamometer

Dicatat selama 10-15 menit, bagian dengan gerak janin ditandai

- Interpretasi:
1. Reaktif  ditunggu 1 minggu dan diperiksa ulang
a. DJJ basal 100-160x/mnt
b. Variabilitas DJJ >10 / menit
c. Gerak janin multiple >5 setiap 20 menit dengan ratio M/I >1
*CATATAN
- Individual (I) : gerak extremitas selama 3-5 detik dengan interval > 12 detik
- Multiple (M) : adalah gerak seluruh tubuh dengan interval < 12 detik
d. Reaksi DJJ terhadap gerak janin akselerasi omega
*CATATAN
- omega meningkat > 15 x/menit karena rangsangan mekanik dan suara
- lambda meningkat > 15 x/menit karena regangan plasenta
- elliptik meningkat >20 x/menit karena hipoksia singkat
- periodik meningkat > 15 x/menit karena rangsangan gerak janin multipel
2. Non reaktif  segera dilahirkan bila maturitas paru baik
a. DJJ basal <100 atau >160 x/menit
b. Variabilitas DJJ < 10/menit
c. Gerak janin multiple <5 / 20 menit dengan ratio M/I < 1
d. Akselerasi (-) meskipun dirangsang dari luar
3. Sinusoidal terjadi fetal distress sehingga harus segera terminasi tanpa menunggu maturitas
paru, misal terjadi pada Rh isoimunisasi
a. DJJ basal osilasi rata
b. Variabilitas (-)
c. Gerak janin (-)
*CATATAN:
Kriteria fetal distress:
- DJJ < 100 atau > 160x/mnt
- irama tidak teratur
- deselerasi lambat
- serotinus (+) kecuali presentasi bokong
d. Akselerasi DJJ

KEHAMILAN GANDA/ GEMELLI


- Adalah kehamilan dengan 2 janin atau lebih
- Etiologi :
- Keturunan/ras
- Umur
- Paritas
- Obat induksi ovulasi : profertil (klomifen), clomid
- Frekuensi : n-1  n = jumlah janin, 1:89
- Klasifikasi :
- Monozygotik / 1 telur (homolog, uniovular, identik)
- Dizygotik / 2 telur (heterolog, biovular, fraternal)

- Perbedaan Monozigotik vs Dizigotik:


Plasenta 1 2
Chorion 1 2
Amnion 1 atau 2 2
Tali pusat 2 2
JK Sama Sama/beda
Rupa/wajah Sama Beda
Sifat Sama Beda
Gol. Darah Sama Sama/beda
Sidik jari Sama Beda
Antropometri Sama Beda

- Jenis :
- Gemelli/kembar 2 :
- Triplet/kembar 3 :
- Quadriplet/ kembar 4:
- Conjoined Twins / kembar siam (craniopagus, abdominopagus, thoracopagus)
- Superfecundasi : pembuahan 1 sel telur (atau 2 telur pada ovulasi yang sama ) oleh 2
sperma dalam waktu yang singkat, terjadi 2 kali coitus pada jarak waktu yang
pendek.
- Superfetasi: Kehamilan ke II yang terjadi beberapa minggu setelah kehamilan I
(selisih waktu lama)
- Diagnosis :
- Uterus lebih besar dari normal
- TFU lebih tinggi daripada umur kehamilan
- Teraba bagian janin lebih dari 3
- Teraba 2 ballotement
- DJJ dengan 2 punctum maksimum (selisih > 10 denyut/menit)
- Rontgen foto terlihat gambaran 2 janin
- Kadar HCG> normal (> 1/200 (+))
- Komplikasi :
1. Pada Ibu : toksemia gravidarum, inertia uteri, perdarahan postpartum, solutio
plasenta, hidramnion
2. Pada janin : prematuritas, abortus, kesalahan letak, IUGR(BBLR)

*CATATAN :
Pada kehamilan ganda sering terjadi “Sindroma transfusi fetal / SINDROM TFT” dimana
terjadi pembagian sirkulasi yang tidak sama sehingga berat lahir janin tidak sama, dan sangat
dipengaruhi oleh insersi tali pusat pada plasenta (sentral, parasentral/filamentosa)
*Sindroma transfusi fetal*
1. Pada monozigotik :
 Janin I (Sirkulasi >>) : hidramnion, polistemia, edema
 Janin II (Sirkulasi <<) : oligohidramnion, janin kecil, anemia
2. Pada Dizigotik :
Janin I ( Sirkulasi <<) : IUFD, Fetus papyraceus
Janin II (Sirkulasi >>) : aterm
- Penanganan :
 Sikap :
 Persalinan pervaginam kecuali indikasi SC
 Pengawasan terjadinya prolapsus funiculi, perdarahan postpartum
 Pengawasan hipertensi/preeklampsia/eklampsia
 Tindakan :
 Janin I
 Letak membujur : tunggu partus spontan & episiotomi
 Letak melintang : SC

 Janin II
 Letak membujur : tunggu partus spontan & episiotomi
 Letak melintang : versi ekstraksi, vaccum ekstraksi, ekstraksi forceps,
SC
 Injeksi Sintometrin postpartum (10 U Oksitosin + 0,2 mg methergin iv)
*CATATAN:
- Indikasi SC:
1. Janin I letak lintang
2. Bagian terbawah kedua janin sejajar
3. Prolapsus funiculi
4. Plasenta previa
5. Interlocking

IUFD (Intra Uterine Fetal Death)


Adalah kematian janin (keadaan tidak adanya tanda tanda kehidupan janin dlm kandungan)
dgn umur kehamilan > 20 minggu atau berat badan > 500 gram (janin sudah viabel)
Etiologi :
o Plasenta previa
o Solutio plasenta
o Preeklampsia/eklampsia
o Inkompatibilitas darah
o Infeksi (TORCH)
o Penyakit endokrin (DM, Hipotiroid)
Derajat maserasi janin :
o Derajat 1 : kulit tubuh belum rusak tetapi mudah terkelupas
o Derajat 2 : kulit bergelembung berisi cairan bercampur darah  bila pecah kulit
terkelupas (1-3 hari pasca kematian)
o Derajat 3 : semua jaringan kendor, persendian longgar, kulit kendor, tengkorak
merupakan kantong
Diagnosis :
o Perut tidak bertambah besar, mammae regresi
o TFU lebih rendah dari usia kehamilan
o Palpasi tulang kepala janin  krepitasi (+)
o Amnioskopi air ketuban keruh (seperti pus)
o USG : gerak fetus (-), DJJ (-)
o Rontgen Abdomen :
 Akumulasi gas dlm jantung dan vasa besar
 Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
 Kepala janin terlihat seperti kantong benda padat
 Tanda HOUJOK (+) (angulasi tajam pada tulang belakang bagian leher)
 Tanda Kehrer (+) (angulasi tulang leher)
 Tanda Gerhard (+) (hiperektensi tulang leher janin)
 Tanda Spalding (+) (overlapping sutura)
o Px CT, BT, Fibrinogen  Bila IUFD berlangsung > 4 minggu dpt terjadi kelainan
pembekuan darah sehingga pemeriksaan fibrinogen & penanganannya sangat
penting
Penanganan :
o Kematian janin < 2 minggu : stillbestrol 10 mg (1 hari) im 1 minggu kemudian
diinduksi
o Kematian janin > 2 minggu :
Fibrinogen < 120 mg% Fibrinogen > 120 mg%
- Infus heparin 30000 IU - stillbestrol 10 mg/ hr (3 hari) im
- Heparin 4 gr dalam lar. D5 - 1 minggu kemudian diinduksi
- Transfusi darah segar
- Periksa ulang fibrinogen
Bila induksi gagal:
1. Pasien diistirahatkan, diinduksi ualng
2. Dilatasi dgn laminaria stiff 3 batang selama 12 jam
3. Histerotomia (bila induksi gagal 2 kali)
KEHAMILAN RISIKO TINGGI

*Kriteria :
1. Primigravida muda (< 20 tahun)
2. Primigravida tua (> 35 tahun)
3. Granda multipara
4. TB < 145 cm
5. Riwayat obstetric buruk
a. > 2x abortus
b. >2x premature
c. Mola hidatidosa
d. IUFD
e. Eklampsia
f. Inertia uteri
g. Obstetri operatif
6. CPD
7. Kehamilan ganda / Hidramnion
8. Kelainan letak
9. Serotinus
10. Inkompeten serviks
PARTUS LAMA

- Adalah partus yang berlangsung >24 jam pada primigravida atau >18 jam pada multigravida
- Etiologi:
 Kelainan jalan lahir keras
 Kelainan Jalan lahir lunak
 Kelainan his
 Keadaan janin
 Keadaan ibu
- Klasifikasi:
 Partus tak maju (Kala I)
o Persalinan dengan his yang adekuat dlm 2 jam terakhir tidak menunjukkan kemajuan
:
 Pembukaan serviks
 Turunnya kepala
 Putaran paksi (luar/dalam)
 Partus Macet (Kala II)
o Tidak ada kemajuan persalinan pada Kala II dalam jangka waktu yang ditentukan
 Partus Kasep
o Fase terakhir dari partus macet, ditandai dengan
 keadaan dehidrasi
 infeksi
 kelelahan ibu
 asfiksia & IUFD
- Penanganan :
 Sikap : terminasi kehamilan
 Tindakan : Induksi, VE,FFE, Manual aid (pada presbo), SC, embriotomi (bila janin mati)