Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

KEJANG DEMAM KOMPLEKS

Penyusun :

Nadiah binti Ahmad Lutfi 030.07.307

Pembimbing :

Dr. Stephanie, Sp. A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA

PERIODE 1 APRIL – 8 JUNI 2013

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

Kejang demam merupakan bentuk kejang yang sering dijumpai dan terjadi pada 2 - 5% anak. Dalam 25
tahun terakhir ini diketahui bahwa kejang demam sebenarnya tidaklah menakutkan. Kejang demam tidak
berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya sebagian kecil saja yang akan berkembang
menjadi epilepsi.

Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on
Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari
38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas
1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.

Kejang demam diklasifikasikan sebagai kejang demam kompleks bila bersifat fokal, berlangsung lama
(>10 - 15 menit), atau multiple (> 1 kali serangan selama 24 jam demam). Sebaliknya, kejang demam
sederhana adalah kejang yang berlangsung satu kali, singkat, dan bersifat umum. Anak dapat saja normal
atau mempunyai kelainan neuorologis. Anak bisanya berusia antara 6 bulan sampai 3 tahun, dan tersering
pada usia 18 bulan. Bila kejang demam berlangsung terus sampai usia di atas 6 tahun atau pernah
mengalami kejang tanpa demam baik tonik-klonik, mioklonik, absens atau atonik maka diklasifikasikan
sebagai Generalized epilepsy with seizure plus (GEFS+).

Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah (1) riwayat kejang demam dalam keluarga; (2) usia
kurang dari 18 bulan; (3) temperatur tubuh saat kejang. Makin rendah temperatur tubuh saat kejang.
Makin rendah temperatur saat kejang makin sering berulang; dan (4) lamanya demam. Adapun faktor
risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah (1) adanya gangguan perkembangan neurologis; (2)
kejang demam kompleks; (3) riwayat epilepsi dalam keluarga; dan (4) lamanya demam.
Pada umumnya kejang demam akan berlangsung singkat, kurang dari 10 menit dan berhenti sendiri.
Pengobatan saat kejang adalah suntikan diazepam intravena atau diazepam per rektal. Oleh karena demam
merupakan faktor pencetus terjadinya kejang, maka pencegahan kenaikan suhu tubuh adalah pendekatan
yang utama. Pengobatan yang dianjurkan saat ini adalah pemberian antipiretika dan diazepam oral
(0,33mg / kg / dosis tiap 8 jam) atau diazepam rektal pada saat demam. Pengobatan jangka panjang telah
ditinggalkan. Akan tetapi pengobatan jangka panjang dapat dipertimbangkan pada keadaan pasien dengan
kelainan neurologis, kejang fokal, kejang demam yang sering berulang atau tinggal jauh dari fasilitas
kesehatan. Obat yang digunakan adalah fenobarbital atau asam valproat, selama 1 tahun. Serangan kejang
sangat menakutkan orangtua pasien, oleh karenanya edukasi yang cukup dan dukungan emosi pada
orangtua sangatlah diperlukan. Orangtua sebaiknya mengenali pada suhu berpa anak biasanya kejang,
menyediakan termometer, obat penurun panas dan obat penghenti kejang (rektal) di rumah. Tindakan
pada saat anak kejang perlu dipahami oleh orangtua dan kerluarga. Anak harus dibawa ke rumah sakit
bila: kejang berlangsung lama, kejang fokal, kejang berulang, panas tinggi lebih dari 39,5oC, jenis
kejangnya lain dari biasanya, dan setelah kejang anak menjadi tidak sadar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI (1)(5)
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak
yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. Derajat
tinggi suhu yang dianggap cukup untuk diagnosa kejang demam adalah 38 derajat
celcius di atas suhu rektal atau lebih. Kejang terjadi akibat loncatan listrik abnormal
dari sekelompok neuron otak yang mendadak dan lebih dari biasanya, yang meluas ke
neuronsekitarnya atau dari substansia gras ia ke substansia alba yang disebabkan oleh
demam dari l u a r o t a k . K e j a n g d e m a m s e r i n g j u g a d i s e b u t k e j a n g d e m a m
t o n i k - k l o n i k , s a n g a t s e r i n g dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun.

INSIDEN
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4
tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang
demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada
perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan
m a t u r a s i s e r e b r a l y a n g l e b i h c e p a t dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr.
Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang demam. Pada
tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka
kematian (0%). Pada tahun 2000 ditemukan pasien kejang demam 132 or ang
d a n t i d a k didapatkan angka kematian (0 %). Dari data di atas menunjukkan adanya peningkatan
insiden kejadian sebesar 37% .Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2 – 4% dari
jumlah penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.
Namun di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% di antara
jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih
teliti. Bila dilihat jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak
laki-laki. (1)
ETIOLOGI
Etiologi dan pathogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi
umur anak, tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang.
Faktor h e r e d i t a s juga mempunyai peran yaitu 8-22% anak yang
m e n g a l a m i k e j a n g d e m a m mempunyai orang tua dengan riwayat kejang demam pada
masa kecilnya. (1)(9)
Semua jenis infeksi bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat
menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam a d a l a h
infeksi saluran pernafasan atas terutama tonsillitis dan faringitis, otitis
m e d i a akut (cairan telinga yang tidak segera dibersihkan akan merembes ke saraf di kepala pada
otak a k a n m e n y e b a b k a n k e j a n g d e m a m ) , g a s t r o e n t e r i t i s a k u t , e x a n t e m a
subitum dan infeksi saluran kemih. Selain itu, imunisasi DPT
( p e r t u s i s ) d a n c a m p a k ( m o r b i l i ) j u g a d a p a t menyebabkan kejang demam.

PATOFISIOLOGI (2)(4)
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi
d i p e c a h menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari
permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal
membran sel neuron dapatdilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui
oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorid a (Cl-). Akibatnya
konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang di
luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di
dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan p o t e n s i a l m e m b r a n y a n g d i s e b u t
potensial membran dari neuron. U n t u k m e n j a g a keseimbangan potensial
membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :


•Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
•Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya
•Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan

P a d a k e a d a a n d e m a m k e n a i k a n s u h u 1 oC a k a n m e n g a k i b a t k a n
k e n a i k a n metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak
3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang
dewasa yang h a n y a 1 5 % . O l e h k a r e n a i t u k e n a i k a n s u h u t u b u h d a p a t
m e n g u b a h k e s e i m b a n g a n d a r i membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi
difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas
muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke
membran sel sekitarnya dengan bantuan“neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang
demam yang berlangsung lama (lebih dari 15menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksiotot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal
disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan
makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.

KLASIFIKASI KEJANG DEMAM


Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI 2004), membagi kejang demam menjadi dua (8) :
1. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)
–Berlangsung singkat
–Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu < 15 menit
–Bangkitan kejang tonik, tonik -klonik tanpa gerakan fokal
–Tidak berulang dalam waktu 24 jam

2.Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut)


–Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit
–Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan kejang
parsial
–K e j a n g b e r u l a n g 2 k a l i atau lebih dalam 24 jam, anak sadar
k e m b a l i d i a n t a r a bangkitan kejang

Menurut Livingstone (1970), membagi kejang demam menjadi dua : (5)


1.Kejang demam sederhana
•Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
•Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit
•Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak > 4 kali
•Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
•Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
•P e m e r i k s a a n E E G y a n g d i b u a t s e d i k i t n y a s e m i n g g u s e s u d a h s u h u n o r m a l
t i d a k menunjukkan kelainan
2.Epilepsi yang diprovokasi demam
•Kejang lama dan bersifat lokal
•Umur lebih dari 6 tahun
•Frekuensi serangan lebih dari 4 kali /tahun
•EEG setelah tidak demam abnormal

Menurut sub bagian syaraf anak FK-UI membagi tiga jenis kejang demam, yaitu :
1.Kejang demam kompleks
•Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
•Kejang berlangsung lebih dari 15 menit
•Kejang bersifat fokal/ multipel
•Didapatkan kelainan neurologis
•EEG abnormal
•Frekuensi kejang lebih dari 3 kali/ tahun
•Temperatur kurang dari 39℃
2.Kejang demam sederhana
•Kejadiannya antara umur 6 bulan sampai dengan 5 tahun
•Serangan kejang kurang dari 15 menit atau singkat
•Kejang bersifat umum (tonik/klonik)
•Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
•Frekuensi kejang kurang dari 3 kali /tahun
•Temperatur lebih dari 39℃
3.Kejang demam berulang
•Kejang demam timbul pada lebih dari satu episode demam
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
1.Usia <15 bulan saat kejang demam pertama
2.Riwayat kejang demam dalam keluarga
3.Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relati f
normal
4.Riwayat demam yang sering
5.Kejang pertama adalah kejang demam kompleks
Perbedaan kejang demam dengan epilepsi yait u pada epilepsi, tidak
disertai demam. Epilepsi terjadi karena adanya gangguan
keseimbangan kimiawi sel-sel otak yang mencetuskan muatan listrik
berlebihan di otak secara tiba-tiba. Penderita epilepsi adalah seseorang yang
mempunyai bawaan ambang rangsang rendah terhadap cetusan tersebut. Cetusan bisa di
beberapa bagian otak dan gejalanya beraneka ragam. Serangan epilepsi sering terjadi pada saat
ia mengalami stres, jiwanya tertekan, sangat capai, atau adakalanya karena terkena
sinar lampu yang tajam.

MANIFESTASI KLINIS (1)(2)(5)


Terjadinya bangkitan kejang pada b a yi dan anak keban yakan
b e r s a m a a n d e n g a n kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi
di luar susunan saraf pusat, otitis media akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain -lain.
Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau
akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Namun anak akan terbangun dan sadar
kembali setelah beberapa detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik.
Gejala yang timbul saat anak mengalami kejang demam antara lain: anak mengalami
demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba -
tiba), k e j a n g t o n i k - k l o n i k a t a u g r a n d m a l , p i n g s a n y a n g b e r l a n g s u n g s e l a m a
3 0 d e t i k - 5 m e n i t (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).
Kejang dapat dimulai dengan kontraksi yang tiba-tiba pada otot kedua sisi tubuh anak.
Kontraksi pada umumnya terjadi pada otot wajah, badan, tangan dan kaki. Anak dapat
menangis atau merintih akibat kekuatan kontaksi otot. Anak akan jatuh apabila dalam keadaan
berdiri.
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang b iasanya
berlangsungselama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang
kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya
tergigit, gigi atau rahangnya t e r k a t u p r a p a t , i n k o n t i n e n s i a ( m e n g e l u a r k a n a i r
k e m i h a t a u t i n j a d i l u a r k e s a d a r a n n y a ) , gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan
kulitnya kebiruan.Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam gejala seperti :
1.Anak hilang kesadaran
2.Tangan dan kaki kaku atau tersentak -sentak
3.Sulit bernapas
4.Busa di mulut
5.Wajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan
6.Mata berputar-putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat.

DIAGNOSIS (4)(9)(10)
Diagnosis kejang demam hanya dapat ditegakkan dengan menyingkirkan
penyakit- penyakit lain yang dapat menyebabkan kejang, di antaranya: infeksi
susunan saraf pusat, perubahan akut pada keseimbangan homeostasis, air dan elektrolit dan
adanya lesi structural pada system saraf, misalnya epilepsi. Diperlukan anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaanlaboratorium dan pemeriksaan penunjang yang menyeluruh untuk menegakkan
diagnosis ini.
•Anamnesis
–waktu terjadi kejang, durasi, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang
–sifat kejang (fokal atau umum)
–Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik -klonik)
– K e s a d a r a n s e b e l u m d a n s e s u d a h k e j a n g
( m e n y i n g k i r k a n d i a g n o s i s meningoensefalitis)
–Riwayat demam ( sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap
a t a u n a i k turun)
–Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA, GE)
–Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai
d e m a m atau epilepsi)
–Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
–Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
– T r a u m a k e p a l a
•Pemeriksaan fisik
–Tanda vital terutama suhu
–M a n i f e s t a s i k e j a n g y a n g t e r j a d i , m i s a l : p a d a k e j a n g m u l t i f o k a l ya n g
b e r p i n d a h - pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur
otak.
–Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan
hipoventilasi, henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil
t e r h a d a p c a h a y a n e g a t i f , d a n terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya
perdarahan intraventikular.
–P a d a kepala apakah terdapat frak tur, depresi atau mulase kepala
b e r l e b i h a n y a n g disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol
menunjukkan a d a n y a p e n i n g g i a n t e k a n a n i n t r a k r a n i a l y a n g d a p a t d i s e b a b k a n
o l e h p e n d a r a h a n subarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir deng an
kesadaran menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel
enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.
–Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan
k r a n i o f a s i a l y a n g mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.
–Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi
sitomegalovirusdan rubella. Tanda stasis vaskuler deng an pelebaran vena yang
berkelok–kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas.
–Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan
subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
–Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan
bising jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.
–Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya
d e m a m ( I S P A , OMA, GE)
–Pemeriksaan refleks patologis
–Pemeriksaan tanda rangsang meningeal (menyingkirkan diagnosis meningoensefalitis)
•Pemeriksaan laboratorium
–Darah tepi lengkap  penyebab demam
–E l e k t r o l i t , g l u k o s a d a r a h  d i a r e , m u n t a h , h a l l a i n y a n g d a p a t
m e n g g a n g g u keseimbangan elektrolit atau gula darah.
–Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal  gangguan metabolisma
–K a d a r T N F a l f a , I L - 1 a l f a & I L - 6 p a d a C S S  meningkat  Ensefalitis
akut /Ensefalopati.
•Pemeriksaan penunjang
–Lumbal Pungsi  curiga meningitis, umur kurang dari 12 bulan diharuskan dan umur di antara
12-18 bulan dianjurkan.
–EEG tidak dapat mengidentifikasi kelainan yang spesifik maupun memprediksi
terjadinya kejang yang berulang, tapi dapat dipertimbangkan pada KDK
–CT-scan atau MRI tidak dilakukan p ada KDS yang terjadi pertama
k a l i , a k a n t e t a p i dapat dipertimbangkan untuk pasien yang mengalami
K D K u n t u k m e n e n t u k a n kelainan struktural berupa kompleks tunggal atau multipel

DIAGNOSA BANDING
Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus
dipikirkan apakah penyebab kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat. Kelainan di
dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak, dan lain-lain.
Oleh sebabitu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak.
Menegakkan diagnosa meningitis tidak selalu mudah terutama pada bayi dan
anak yang masih muda. Pada kelompok ini gejala meningitis sering tidak khas dan
gangguan neurologisnya kurang nyata. Oleh karena itu agar tidak terjadi kekhilafan yang
berakibat fatal harus dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal yang umumnya
diambil melalui pungsi lumbal.
Baru setelah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam
kompleks atau epilepsi yang dprovokasi oleh demam.

Tabel Diagnosa Banding

No Kriteria Banding Kejang Demam Epilepsi Meningitis


Ensefalitis
1 Demam Pencetusnya Tidak berkaitan Salah satu
demam dengan demam gejalanya
demam
2 Kelainan otak - + +
3 Kejang berulang + + +
4 Penurunan + - +
kesadaran

PENATALAKSANAAN (3)(4)(10)
Dalam penanggulangan kejang demam ada 6 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :
1.Mengatasi kejang secepat mungkin
2.Pengobatan penunjang
3.Memberikan pengobatan rumat
4.Mencari dan mengobati penyebab
5.Mencegah terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas
6.Pengobatan akut
I.Mengatasi kejang secepat mungkin
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu datang, kejang sudah
berhenti.Apabila pasien datang dalam keadaan kejang, obat paling cepat untuk
menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis 0,3-0,5
mm/kgBB perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua di rumah atau yang sering
digunakan di rumah sakit adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75
mg/kgBB atau diazepam rektal 5mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, dan
10 mg untuk berat badan lebih dari10 kg. atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak
di bawah usia 3 tahun atau 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun. Berikut adalah tabel dosis
diazepam yang diberikan :

Terapi awal dengan diazepam


Usia Dosis IV (infus) Dosis per rektal
0.2mg/kg 0.5mg/kg
<1 tahun 1-2 mg 2.5-5 mg
1-5 tahun 3 mg 7.5 mg
5-10 tahun 5 mg 10 mg
>10 tahun 5-10 mg 10-15 mg

Jika kejang masih berlanjut :


1.Pemberian diazepam 0,2 mg/kgBB per infus diulangi. Jika belum terpasang selang
infus, 0,5 mg/kg per rectal
2.Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Jika kejang masih berlanjut :


1.Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kgBB per infus dalam 30 menit
2.P e m b e r i a n f e n i t o i n 1 0 - 2 0 m g / k g B B p e r i n f u s d a l a m 3 0 m e n i t d e n g a n
k e c e p a t a n 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50mg/menit.

Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan
intensif dengan Thiopentone dan alat bantu pernapasan.Bila kejang telah berhenti, pemberian
obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor
risikonya.
II.Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang dapat dilakukan dengan memonitor jalan nafas, pernafasan,
sirkulasi dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sebaiknya semua pakaian ketat
dibuka, posisi kepala dimiringkan untuk mencegah aspirasi lambung. Penting sekali
mengusahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi terjamin, kalau perlu dilakukan intubasi
atau trakeostomi.Pengisapan lendir dilakukan secara teratur dan pengobatan ditambah
dengan pemberian oksigen. Cairan intavena sebaiknya diberikan dan dimonitor
sekiranya terdapat kelainan metabolik atau elektrolit. Fungsi vital seperti kesadaran, suhu,
tekanan darah, pernafasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat.
Pada demam, pembuluh darah besar akan mengalami vasodilatasi, manakala pembuluh
darah perifer akan mengalami vasokontrisksi. Kompres es dan alkohol tidak lagi digunakan
karena p e m b u l u h darah perifer bisa mengalami vasokontriksi
y a n g b e r l e b i h a n s e h i n g g a menyebabkan proses penguapan panas dari tubuh pasien
menjadi lebih terganggu. Kompres hangat juga tidak digunakan karena walaupun bisa
menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah perifer, tetapi sepanjang waktu anak
dikompres, anak menjadi tidak selesa karena dirasakan tubuh menjadi semakin panas,
anak menjadi semakin rewel dan gelisah. Menurut penelitian, apabila suhu penderita tinggi
(hiperpireksi), diberikan kompres air biasa. Dengan ini, proses penguapan bisa terjadi dan suhu
tubuh akan menurun perlahan-lahan.

Bila penderita dalam keadaan kejang obat pilihan utama adalah diazepam yang
diberikans e c a r a per rektal, disamping cara pemberian yang mudah,
s e d e r h a n a d a n e f e k t i f t e l a h dibuktikan keampuhannya. Hal ini dapat dilakukan
oleh orang tua atau tenaga lain yang mengetahui dosisnya. Dosis tergantung dari berat badan,
yaitu berat badan kurang dari 10 kg diberikan 5 mg dan berat badan lebih dari 10 kg rat a-
rata pemakaiannya 0,4-0,6 mg/kgBB. Kemasan terdiri atas 5 mg dan 10 mg dalam rectiol.
Bila kejang tidak berhenti dengan dosis pertama, dapat diberikan lagi setelah 15 menit dengan
dosis yang sama.
Untuk mencegah terjadinya udem otak diberikan kortikosteroid yaitu dengan
dosis 20-30m g / k g B B / h a r i d i b a g i d a l a m 3 d o s i s . G o l o n g a n g l u k o k o r t i k o i d
s e p e r t i d e k s a m e t a s o n diberikan 0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.
III.Pengobatan rumat
Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan
c a r a m e n g i r i m penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawata n lebih lanjut.
Pengobatan ini dibagiatas dua bagian, yaitu:
•Profilaksis intermitten
Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam
diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada
anak selama e p i s o d e d e m a m . A n t i p i r e t i k y a n g d i b e r i k a n a d a l a h
p a r a c e t a m o l d e n g a n d o s i s 1 0 - 15mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari atau
ibuprofen dengan dosis 5-10mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Antikonvulsan yang ampuh
dan banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnya kejang demam ialah diazepam,
baik diberikan secara rectal dengan dosis 5 mg pada anak dengan berat di bawah 10kg
dan 10 mg pada anak dengan berat di atas 10kg, maupun oral dengan dosis 0,3 mg/kg
setiap 8 jam. Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai k e m u n g k i n a n a n a k
untuk menderi ta kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar
umur 4 tahun. Fenobarbital, karbamazepin dan fenition pada saat demam
t i d a k berguna untuk mencegah kejang demam.

•Profilaksis jangka panjang


Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik yang
stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di
kemudian hari. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:
1). Fenobarbital
Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka
panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan kadang-
kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur.
2). Sodium valproat / asam valproat
Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun, obat ini
harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik berupa rasa mual,
kerusakan hepar, pankreatitis.
3). Fenitoin
Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat berupa
hiperaktif s e b a g a i p e n g g a n t i f e n o b a r b i t a l . H a s i l n y a t i d a k a t a u k u r a n g
memuaskan. Pemberian antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang ini
dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti mengobati epilepsi. Menghentikan
pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 3 atau
6 bulan.
IV.Mencari dan mengobati penyebab
Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya
infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat
dan kuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut. Secara akademis pada anak dengan
kejang demam yangdatang untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan
pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya
meningitis. Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang intensif perlu
dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya gula darah, kalium,
magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.

PROGNOSIS (8)(9)
1.Kematian
D e n g a n p e n a n g a n a n k e j a n g ya n g c e p a t d a n t e p a t , p r o g n o s a b i a s a n ya b a i k ,
t i d a k sampai terjadi kematian. Dalam penelitian ditemukan angka kematian KDS
0,46 %s/d 0,74 %.
2.Terulangnya Kejang
Kemungkinan terjadinya ulangan kejang kurang lebih 25 s/d 50 % pada 6 bulan pertama dari
serangan pertama.
3.Epilepsi
Angka kejadian epilepsi ditemukan 2,9% dari KDS dan 97% dari kejang demam kompleks.
Resiko menjadi epilepsi yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita KDS tergantung
kepada faktor :
a. riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
b. kelainan dalam perkembangan atau kelainan sebelum anak menderita KDS
c. kejang berlangsung lama atau kejang fokal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor di atas, maka kemungkinan mengalami serangan
kejang tanpa demam adalah 13 %, dibanding bila hanya didapat satu atau tidak sama sekali faktor
di atas.
4.Hemiparesis
Biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari
setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun kejang fokal. Kejang fokal
yang terjadi sesuai dengan kelumpuhannya. Mula -mula kelumpuhan bersifat flaccid,
sesudah 2 minggu timbul keadaan spastisitas. Diperkirakan + 0,2 % KDS mengalami hemiparese
sesudah kejang lama.
5.Retardasi Mental
Ditemuan dari 431 penderita dengan KDS tidak mengalami kelainan IQ, sedang kejang
demam pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan perkembangan atau kelainan neurologik
ditemukan IQ yang lebih rendah. Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa
demam, kemungkinan menjadi retardasi mental adalah 5x lebih besar.

BAB III
PENUTUP
Kejang demam adalah kejang yang terjadi saat demam (suhu rektal diatas 380c) tanpa
adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit akut, terjadi pada anak diatas umur 1 bulan, dan tidak
ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.

Klasifikasi dari kejang demam :


1. Kejang demam sederhana
2. Kejang demam kompleks.

Penatalaksanaan yang perlu dikerjakan yaitu :


1. Pengobatan fase akut
2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam

Untuk prognosis kejang demam, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan kematian jika
ditanggulangi dengan tepat dan cepat. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap
normal pada pasien yang sebelumnya normal.

DAFTAR PUSTAKA
1.Behrman dkk, (e.d Bahasa Indonesia), Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15, EGC, 2000.
Hal 2059-2067.
2.Rudolph AM.
Febrile Seizures. Rudoplh Pediatrics. Edisi ke-20. Appleton danLange, 2002.
3.Pusponegoro. D. Hardiono dkk. Konsensus Penatalaksanaan Kejang
D e m a m . Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2006.
4.M a r y R u d o l f , M a l c o l m L e v e n e . P e d i a t r i c a n d C h i l d H e a l t h . E d i s i
k e - 2 . Blackwell pulblishing, 2006. Hal 72-90.
5 . P r i c e , S yl v i a , A n d e r s o n . P a t o f i s i o l o g i , K o n s e p K l i n i s P r o s e s - P r o s e s
P e n y a k i t . EGC, Jakarta 2006.
6.Mardjono Mahar, dkk. Neurologi Klinis Dasar, PT. Dian Rakyat. Jak arta, 2006.
7.Pediatrica, Buku Saku Anak, edisi 1, Tosca Enterprise. UGM Jogjakarta, 2005.
8.Febrile Seizures Fact Sheets: National Institutes of Neurology and Stroke.
Diunduh pada tanggal 20 October 2009. Didapatkan
dari:www.ninds.nih.gov/disorders/febrile_seizures/detail_febrile_seizures.htm
9.Febrile Seizures: Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment. Diunduh padatanggal 20 October 2009.
Didapatkan dari:www.medicinenet.com/febrile_seizures/article.htm
10.Seizures types. D i u n d u h p a d a t a n g g a l 2 0 O c t o b e r 2 0 0 9 . D i d a p a t k a n
d a r i www.2betrhealth.com/SeizureTypes.html