Anda di halaman 1dari 10

Laporan Upaya Kesehatan Masyarakat

UKM
F.6 Upaya Pengobatan Dasar

HIPERTENSI

diajukan untuk memenuhi tugas


Program Dokter Internsip Indonesia

Pembimbing
dr. Erna Astuty

Disusun oleh:
dr. Mochammad Adam Eldi

Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara


Puskesmas Rakit II
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Upaya Kesehatan Masyarakat


UKM
F.6 Upaya Pengobatan Dasar

Keratitis dengan Ulkus Kornea

Disusun oleh:
dr. Mochammad Adam Eldi

telah disahkan pada tanggal 1 November 2017

Kepala Puskesmas Rakit II

dr. Erna Astuty


DESKRIPSI KASUS

ANAMNESIS
 Tanda vital sign :
- TD : 110/80 mmHg
Identitas Pasien :
- Nadi : 84 kali permenit
 Nama : Ny. S - Nafas : 20 kali permenit
 Jenis kelamin : Perempuan - Suhu : 36,8ºC
 Umur : 47 tahun
 Status Oftalmologis Occuli Dextra
 Alamat : Kincang 01/01 Rakit
- visus: 1/60
 Jaminan : BPJS
- palpebra superior: edem (-)
 Mengunjungi puskesmas pada 9 Juni 2017
- palpebra inferior: spasme (+)
- bulbus oculi: eksoftalmus (-), endoftalmus
Keluhan Umum
(-)
Mata gatal dan penurunan penglihatan - konjungtiva bulbi: mixed injeksi (+),
- konjungtiva palpebra: hiperemis (+),
Riwayat Penyakit Sekarang : - kornea: keruh (+), defek (+) O 3 mm
- kamera okuli anterior sulit dinilai, hipopion
Pasien datang ke puskesmas karena sering merasa
(+)
gatal pada mata kanan disertai penglihatan yang
- iris, pupil dan lensa sulit dinilai, tensio oculi
berkurang. Gejala dirasakan sejak 2 minggu yang
dalam batas normal
lalu. Keluhan disertai dengan mata merah, nyeri,
silau dan terasa berair. Menurut pasien, sejak 10  Kepala :
hari yang lalu muncul bercak putih pada mata - Normocephal
sebelah kanan disertai dengan keluhan nyeri yang - Slekra ikterik (-), Konjungtiva anemis (-)
makin terasa. Bintik putih tersebut semakin lama - Telinga dan tenggorokan dalam batas
semakin membesar hingga saat diperiksa pasien normal
tidak lagi dapat melihat menggunakan mata kirinya.
 Leher :
Sekitar 3 minggu sebelumnya, pasien mengatakan
- Limfonodi tidak teraba.
matanya kelilipan saat bekerja mengolah padi.
Matanya dikucek-kucek karena gatal dan kemudian  Thorak :
merasakan mata kirinya menjadi merah, nyeri, silau - Dinding dada simetris
dan berair. Untuk mengurangi nyeri, pasien - ketinggalan gerak (-/-)
membilas dengan air hangat. Belum dilakukan - Paru-paru suara dasar vesikuler (+/+),
pemeriksaan dan pengobatan medis. ronkhi (-/-), wheezing (-/-), terdapat stridor
Tidak ada riwayat penyakit pada mata sebelumnya pada saluran nafas atas.
seperti myopia, hipermetropia, glaucoma, katarak. - suara jantung S1 dan S2 reguler, bising (-)
Tidak ada riwayat penyakit kronis seperti  Abdomen :
hipertensi, diabetes, penyakit jantung. - dinding perut datar, supel, nyeri (-)
- hepar dan lien dalam batas normal
- bising usus (+) dalam batas normal
PEMERIKSAAN FISIK - turgor kulit baik, kembali dengan cepat.
 Ekstermitas:
 Keadaan Umum : - akral hangat, nadi kuat
- Baik, kompos mentis - CRT<2detik
- Terlihat menutupi mata sebelah kanan - cyanosis (-)

DIAGNOSIS BANDING  ulkus kornea okuli dekstra


 keratitis e.c. fungi dd bakterial Fasilitas yang ada pada puskesmas kurang lengkap
untuk mendiagnosis kecurigaan ulkus kornea ini,
TATALAKSANA sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan
untuk dilakukan pemeriksaan klinis menggunakan
 Rujuk ke poliklinik mata RSUD Banjarnegara
slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.
 Farmakologi
Pemeriksaan laboratorium berguna untuk
- R/ chloramfenicol eyedrop, s.6.d.d.2gtt. OD
membantu membuat diagnosa kausa. Pemeriksaan
- R/ tab asam mefenamat 500 mg s.3.d.d.I
jamur dilakukan dengan sediaan hapus yang
 Edukasi
memakai larutan KOH. Pemeriksaan bakteri
- Istirahat cukup
dilakukan dengan kerokan kornea dan pemeriksaan
- Hindari paparan angin debu air, tidak
mikrobiologi gram, kultur, dan uji resistensi.
pegang mata
- Rajin control pemeriksaan dan pengobatan Berdasarkan keluhan utama dari penderita,
di rumah sakit / puskesmas. yaitu adanya penurunan penglihatan disertai
dengan mata merah, maka dapat dipikirkan
PROGNOSIS kemungkinan adanya ulkus kornea, keratitis,
Prognosis pada kasus ini, ad vitam baik karena glaukoma akut, uveitis anterior, dan endofthalmitis.
tidak mengancam kematian, ad functionam kearah - Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit,
baik karena visusnya kemungkinan bisa kembali terdapat riwayat kemasukan debu padi pada
normal dan letak ulkus berada di perifer sehingga mata kiri pasien yang kemudian dikucek oleh
tidak begitu mengganggu pembiasan cahaya ke pasien hingga mata kiri menjadi merah, nyeri,
pupil. Selain itu, ulkus hanya mengenai satu bola silau dan berair. Penderita juga mengeluh
mata (unilateral), sehingga pasien tidak akan adanya bintik putih pada mata yang timbul
kehilangan fungsi penglihatannya. Prognosis ad setelah kejadian. Diagnosis yang sangat
sanationamnya juga kearah baik karena tentunya memungkinkan pada kasus ini adalah ulkus
saat penglihatan sudah pulih kembali tidak akan kornea dan keratitis.
mengganggu dalam aktivitas bekerja pasien. - Diagnosis glaukoma akut dapat disingkirkan
karena tidak ada riwayat penurunan
penglihatan tidak terjadi secara tiba-tiba dan
tidak disertai dengan nyeri kepala hebat.
:: PEMBAHASAN KASUS :: - Kemungkinan diagnosis uveitis anterior juga
dapat disingkirkan karena pada penderita ini
Dari anamnesis diketahui bahwa mata pasien ditemukan adanya infiltrat dan gambaran tukak
pernah terkena debu padi saat bekerja. Ini di kornea yang menunjukkan bahwa ini adalah
menandakan adanya riwayat trauma akibat benda bukanmurni suatu uveitis anterior.
asing sebelumnya. Pada pemeriksaan oftalmologis, - Diagnosis endofthalmitis dapat dipikirkan
ditemukan adanya injeksi konjungtiva, injeksi karena terdapat faktor penyebab berupa ulkus
siliaris, serta gambaran defek bergaung berwarna kornea. Akan tetapi, segmen posterior tidak
putih, dan penurunan visus. Ulkus kornea biasanya dapat dinilai, sehingga diagnosis endofthalmitis
terjadi sesudah terdapatnya trauma ringan yang tidak dapat ditegakkan secara pasti
merusak epitel kornea. Ada dua faktor utama yang
menyebabkan terjadinya ulkus kornea, yakni Prognosis ulkus kornea tergantung pada
kerusakan pada epitel kornea dan infeksi pada tingkat keparahan, cepat lambatnya mendapat
bagian kornea yang mengalami erosi tersebut. Lesi pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya,
pada kornea umumnya mengaburkan penglihatan, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus
terutama jika terletak di sentral. kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan
Diagnosis definitif dapat ditegakkan yang lama, karena jaringan kornea bersifat
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, avaskular.
pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan laboratorium.

TINJAUAN PUSTAKA
KORNEA yang akan meghilang bila sel-sel epitel telah
beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan pada
bersifat transparan, berukuran 11- 12 mm horizontal lapisan air mata tersebut. Hal ini mungkin
dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma
1,37. Kornea memberikan kontribusi 74 % atau kornea superfisial dan membantu mempertahankan
setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60 keadaan dehidrasi.
kekuatan dioptri mata manusia. Dalam nutrisinya, Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik.
kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueus Substansi larut-lemak dapat melalui epitel utuh dan
humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air substansi larut-air dapat melalui stroma yang utuh.
mata. Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak
oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah dan larut-air sekaligus. Epitel adalah sawar yang
satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam
saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang
jika dibandingkan dengan konjungtiva ( AAO, 2008). avaskular dan membran Bowman mudah terkena
Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 μm, infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti
diameter horizontalnya sekitar 11,75 mm dan bakteri, virus, amuba, dan jamur.
vertikalnya 10,6 mm.
KERATITIS

Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya


infiltrasi sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat
terjadinya kekeruhan pada media kornea ini, maka
tajam penglihatan akan menurun. Mata merah pada
keratitis terjadi akibat injeksi pembuluh darah
perikorneal yang dalam atau injeksi siliar. Keratitis
biasanya diklasifikasikan dalam lapis yang terkena
seperti keratitis superfisial dan profunda atau
interstisial.
Ulkus kornea merupakan suatu keadaan
patologi kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat
supuratif disertai defek kornea bergaung,
diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dari epitel hingga stroma kornea. Ulkus kornea
dan “jendela” yang dilalui berkas cahaya menuju merupakan masalah kesehatan mata yang
retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh menempati urutan kedua dalam penyebab utama
strukturnya yang uniform, avaskuler dan kebutaan setelah katarak.
deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi Ulkus kornea disebabkan oleh infeksi
relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan virus
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar dan apabila kekeruhan tersebut terlambat
epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, didiagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan
endotel jauh lebih penting daripada epitel. mengakibatkan kerusakan pada stroma kornea dan
Kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel meninggalkan jaringan parut.
berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan
pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan.
Sebaliknya, kerusakan pada epitel hanya
menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat
dalam yang menyebabkan perforasi atau
descemetocele.
3. Tahap regresi. Tahap ini diinduksi mekanisme
defensif host dan tatalaksana yang mendukung
respon host normal. Di sekitar ulkus terdapat
garis pembatas yang terdiri dari leukosit. Kadang
proses ini disertai dengan vaskularisasi
superfisial yang dapat menyebabkan
peningkatan respon imun. Pada tahap ini ulkus
mulai sembuh dan epitel mulai tumbuh.
4. Tahap sikatrik. Penyembuhan berlanjut menjadi
epitelisasi progresif. Stroma menebal dan
memenuhi bagian bawah epitel sehingga
menekan permukaan epitel ke arah anterior.
Tahap sikatrik dari proses penyembuhan
berbedabeda. Ulkus yang sangat superfisal dan
hanya melibatkan epitel akan sembuh tanpa
meninggalkan opasitas. Ulkus yang melibatkan
membran Bowman dan lamela stroma
superfisial akan membentuk nebula. Pada ulkus
yang mengenai sepertiga, bahkan lebih dari
sepertiga stroma kornea, akan menimbulkan
makula dan leukoma pada proses
penyembuhannya

Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor,


diantaranya:
 Virus.
 Bakteri.
Faktor predisposisi terjadinya ulkus kornea  Jamur.
antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa  Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari.
kontak, kekurangan gizi, adanya kelemahan atau  Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
gangguan pada permukaan mata, dan yang kadang-  Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata
kadang tidak diketahui penyebabnya robek atau tidak cukupnya pembentukan air
mata.
Perubahan-perubahan yang terjadi akibat  Adanya benda asing di mata.
kerusakan dari epitel kornea dapat dideskripsikan  Reaksi terhadap obat seperti neomisin,
menjadi 4 tahap, yakni tobramisin, polusi, atau partikel udara seperti
1. Tahap progresif infiltrasi. Infiltrasi PMN dan/atau debu, serbuk sari
limfosit ke dalam epitel terjadi pada tahap ini.
2. Tahap ulserasi aktif. Nekrosis dan pengelupasan Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan
dari epitelium, membrane Bowman dan stroma beberapa hal. Klasifikasi keratitis berdasarkan
kornea terjadi pada fase ulserasi aktif. Adanya lapisan yang terkena Keratitis dibagi menjadi:
akumulasi eksudat purulen pada kornea yang
disebabkan oleh hiperemia dari jaringan a. Keratitis Pungtata
pembuluh darah sirkumkornel. Dapat terjadi Keratitis pungtata adalah keratitis dengan
kongesti vaskular iris dan badan silier akibat infiltrat halus pada kornea yang dapat terletak
toksin yang diserap dari ulkus. Kadang disertai superfisial dan subepitel. Keratitis Pungtata ini
dengan hipopion yang terjadi akibat eksudasi disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan
dari pembuluh darah iris dan badan silier ke bilik dapat terjadi pada Moluskum kontangiosum,
mata depan. Ulserasi dapat meluas atau semakin Akne rosasea, Herpes simpleks, Herpes zoster,
Blefaritis neuroparalitik, infeksi virus, vaksinisia, memberikan rasa nyaman seperti air mata
trakoma, trauma radiasi, dry eye, keratitis buatan, sikloplegik dan kortikosteroid (Ilyas,
lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, 2003).
tobramisin dan bahaya pengawet lainnya.
b. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada
tepi kornea sejajar dengan limbus. Penyakit
infeksi lokal konjungtiva dapat menyebabkan
keratitis kataral atau keratitis marginal ini.
Keratitis marginal kataral biasanya terdapat
pada pasien setengah umur dengan adanya
blefarokonjungtivitis. Etiologinya adalah
Strepcoccus pneumonie, Hemophilus aegepty,
Moraxella lacunata dan Esrichia.
Gejala klinis penderita akan mengeluhkan
sakit, seperti kelilipan, lakrimasi, disertai
fotofobia berat. Pada mata akan terlihat
Gejala klinis dapat berupa rasa sakit, silau, blefarospasme pada satu mata, injeksi
mata merah, dan merasa kelilipan. Penyakit ini konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang
ditandai kekerutan epitel yang meninggi memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal
berbentuk lonjong dan jelas yang menampakkan ataupun multipel, sering disertai
bintik-bintik pada pemulasan dengan fluoresein, neovaskularisasi dari arah limbus. Pemeriksaan
terutama di daerah pupil. Uji fluoresein laboratorium dilakukan dengan emeriksaan
merupakan sebuah tes untuk mengetahui kerokan kornea yang dipulas dengan pewarnaan
terdapatnya kerusakan epitel kornea. Dasar dari Gram maupun Giemsa dapat mengidentifikasi
uji ini adalah bahwa zat warna fluoresein akan organisme, khususnya bakteri.
berubah berwarna hijau pada media alkali. Zat Pengobatan yang diberikan adalah
warna fluoresein bila menempel pada epitel antibiotika yang sesuai dengan penyebab infeksi
kornea maka bagian yang terdapat defek akan lokalnya dan steroid dosis ringan. Pada pasien
memberikan warna hijau karena jaringan epitel dapat diberikan vitamin B dan C dosis tinggi
yang rusak bersifat lebih basa. Kekeruhan (Ilyas, 2004).
subepitelial dibawah lesi epitel sering terlihat
semasa penyembuhan epitel ini, uji sensibilitas c. Keratitis Interstisial
kornea juga diperiksa untuk mengetahui fungsi Keratitis interstitial adalah kondisi serius
dari saraf trigeminus dan fasial. Pada umumnya dimana masuknya pembuluh darah ke dalam
sensibilitas kornea juga akan menurun. kornea dan dapat menyebabkan hilangnya
Penatalaksanaan pada ketratitis pungtata transparansi kornea. Keratitis interstitial dapat
superfisial pada prinsipnya adalah diberikan berlanjut menjadi kebutaan. Sifilis adalah
sesuai dengan etiologi. Untuk virus dapat penyebab paling sering dari keratitis interstitial.
diberikan idoxuridin, trifluridin atau asiklovir. Keratitis Interstisial dapat terjadi akibat alergi
Untuk bakteri gram positif pilihan pertama atau infeksi spiroket ke dalam stroma kornea
adalah cafazolin, penisilin G atau vancomisin dan dan akibat tuberculosis.
bakteri gram negatif dapat diberikan tobramisin, Keratitis interstisial biasanya akan
gentamisin atau polimixin B. Pemberian memberikan gejala fotofobia, lakrimasi, dan
antibiotik juga diindikasikan jika terdapat sekret menurunnya visus. Menurut Hollwich (1993)
mukopurulen yang menunjukkan adanya infeksi keratitis yang disebabkan oleh sifilis kongenital
campuran dengan bakteri. Untuk jamur pilihan biasanya ditemukan trias Hutchinson (mata:
terapi yaitu natamisin, amfoterisin atau keratitis interstisial, telinga: tuli labirin, gigi: gigi
fluconazol. Selain terapi berdasarkan etiologi, seri berbentuk obeng), sadlenose, dan
pada keratitis pungtata superfisial ini sebaiknya pemeriksaan serologis yang positif terhadap
juga diberikan terapi simptomatisnya agar dapat sifilis. Pada keratitis yang disebabkan oleh
tuberkulosis terdapat gejala tuberkulosis 1) Jamur berfilamen (filamentous fungi) :
lainnya. Pemeriksaan laboratorium dilakukan bersifat multiseluler dengan cabang-cabang
dengan pemeriksaan kerokan kornea yang hifa.
dipulas dengan pewarnaan gram maupun 2) Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium
Giemsa dapat mengidentifikasi organisme, sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp,
khususnya bakteri. Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora
Penatalaksanaannya dapat diberikan sp, Curvularia sp, Altenaria sp.
kortikosteroid tetes mata jangka lama secara 3) Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus
intensif setiap jam dikombinasi dengan tetes sp, Absidia sp.
mata atropin dua kali sehari dan salep mata pada 4) Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler
malam hari. dengan pseudohifa dan tunas : Candida
albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
Berdasarkan penyebabnya Keratitis diklasifikasikan 5) Jamur difasik. Pada jaringan hidup
menjadi: membentuk ragi sedang media pembiakan
membentuk miselium : Blastomices sp,
a. Keratitis Bakteri Coccidiodidies sp, Histoplastoma sp,
Menurut American Academy of Ophthalmology Sporothrix sp.
(2009), etiologi keratitis bacterial adalah
Untuk menegakkan diagnosis klinik dapat
Common Organisms Uncommon dipakai pedoman berikut :
Organisms 1) Riwayat trauma terutama tumbuhan,
Staphylococcus Neisseria spp pemakaian steroid topikal lama.
aureus 2) Lesi satelit.
Staphylococcus Moraxella spp 3) Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi
epidermidis yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di
Streptococcus Mycobacterium spp bawah endotel utuh.
pneumoniae and 4) Plak endotel.
other Streptococcus 5) Hipopion, kadang-kadang rekuren.
spp 6) Formasi cincin sekeliling ulkus.
Pseudomonas Nocardia spp 7) Lesi kornea yang indolen.
aeruginosa (most
common organism in Diagnosis laboratorik sangat membantu
soft contact lens diagnosis pasti, walaupun negatif belum dapat
wearers) menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Hal yang
Enterobacteriaceae Non-spore-forming utama adalah melakukan pemeriksaan kerokan
(Proteus, anaerobes kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu
Enterobacter, Corynebacterium dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop.
Serratia) spp Kemudian dapat dilakukan pewarnaan KOH,
Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata angka keberhasilan masing-masing ± 20-30%,
merah, berair, nyeri pada mata yang terinfeksi, 50-60%, 60-75% dan 80%. Sebaiknya melakukan
penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan
menjadi kabur (Kanski, 2005). Pada pemeriksaan Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver,
bola mata eksternal ditemukan hiperemis tetapi memerlukan biaya yang besar. Akhir-akhir
perikornea, blefarospasme, edema kornea, ini dikembangkan Nomarski differential
infiltrasi kornea. interference contrast microscope untuk melihat
morfologi jamur dari kerokan kornea (metode
b. Keratitis Jamur Nomarski) yang dilaporkan cukup memuaskan.
Infeksi jamur pada kornea yang dapat disebut Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar
juga mycotic keratitis. Etiologi secara ringkas Sabouraud atau agar ekstrak maltosa ( Susetio,
dapat dibedakan: 1993).
Cara efektif mengobati keratitis
Hal yang utama dalam terapi keratomikosis dendritik adalah debridement epithelial,
adalah mengenai jenis keratomikosis yang karena virus berlokasi didalam epitel.
dihadapi, dapat dibagi: Debridement juga mengurangi beban
1) Belum diidentifikasi jenis jamur antigenik virus pada stroma kornea. Epitel
penyebabnya: Topikal amphotericin B sehat melekat erat pada kornea namun
1,02,5 mg/ml, thiomerosal (10 mg/ml), epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan.
natamycin > 10 mg/ml, golongan imidazole. Debridement dilakukan dengan aplikator
2) Jamur berfilamen: Untuk golongan II : berujung kapas khusus. Obat siklopegik
Topikal amphotericin B, thiomerosal, seperti atropin 1% atau homatropin 5%
natamycin (obat diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan
3) terpilih), imidazole (obat terpilih). ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus
4) Ragi (yeast) : Amphoterisin B, natamycin, diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya
imidazole sampai defek korneanya sembuh umumnya
5) Golongan Actinomyces yang sebenarnya dalam 72 jam (Biswell, 2010).
bukan jamur sejati: Golongan sulfa, 2) Terapi Obat menurut Ilyas, 2004:
berbagai jenis antibiotik. - IDU (Idoxuridine) analog pirimidin
(terdapat dalam larutan 1% dan
c. Keratitis Virus diberikan setiap jam, salep 0,5%
Herpes simpleks virus (HSV) merupakan diberikan setiap 4 jam).
salah satu infeksi virus tersering pada kornea. - Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya
Virus herpes simpleks menempati manusia terdapat dalam bentuk salep.
sebagai host, merupakan parasit intraselular - Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan
obligat yang dapat ditemukan pada mukosa, IDU, diberikan 1% setiap 4 jam.
rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata. - Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan jam.
cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, - Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk
alat kelamin yang mengandung virus. herpes mata berat, khususnya pada
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh orang atopi yang rentan terhadap
nyeri pada mata, fotofobia, penglihatan kabur, penyakit herpes mata dan kulit agresif.
mata berair, mata merah, tajam penglihatan 3) Terapi Bedah
turun terutama jika bagian pusat yang terkena. Keratoplasti penetrans mungkin
Infeksi primer Herpes simpleks pada mata diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan
biasanya berupa konjungtivitis folikularis akut pasien yang mempunyai parut kornea yang
disertai blefaritis vesikuler yang ulseratif, serta berat, namun hendaknya dilakukan
pembengkakan kelenjar limfe regional. beberapa bulan setelah penyakit herpes
Kebanyakan penderita juga disertai keratitis nonaktif
epitelial dan dapat mengenai stroma tetapi
jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini dapat d. Keratitis Acanthamoeba
sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan Keratitis ini berhubungan dengan infeksi
tertentu dimana daya tahan tubuh sangat lemah Acanthamoeba yang biasanya disertai dengan
akan menjadi parah dan menyerang stroma. penggunaan lensa kontak. Gejalanya yaitu rasa
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan sakit yang tidak sebanding dengan temuan
kerokan dari lesi epitel pada keratitis HSV dan kliniknya yaitu kemerahan, dan fotofobia. Tanda
cairan dari lesi kulit mengandung sel-sel raksasa. klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin
Virus ini dapat dibiakkan pada membran korio- stroma, dan infiltrat perineural. Bentuk-bentuk
allantois embrio telur ayam dan pada banyak awal pada penyakit ini, dengan perubahan-
jenis lapisan sel jaringan (misal sel HeLa, tempat perubahan hanya terbatas pada epitel kornea
terbentuknya plak-plak khas). semakin banyak ditemukan. Keratitis
Terapi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu Acanthamoeba sering disalah diagnosiskan
1) Debridement sebagai keratitis herpes.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan adalah paromomisin dan berbagai imidazol
kerokan dan biakan di atas media khusus. Biopsi topikal dan oral seperti ketokonazol, mikonazol,
kornea mungkin diperlukan. Sediaan itrakonazol. Terapi juga dihambat oleh
histopatologik menampakkan bentuk-bentuk kemampuan organisme membentuk kista
amuba (kista atau trofozoit). Larutan dan kontak didalam stroma kornea, sehingga memerlukan
lensa harus dibiak. Sering kali bentuk amuba waktu yang lama. Kortikosteroid topikal mungkin
dapat ditemukan pada larutan kotak penyimpan diperlukan untuk mengendalikan reaksi radang
lensa kontak. dalam kornea. Keratoplasti mungkin diperlukan
Terapi dengan obat umumnya dimulai pada penyakit yang telah lanjut untuk
dengan isetionat, propamidin topikal (larutan menghentikan berlanjutnya infeksi atau setelah
1%) secara intensif dan tetes mata neomisin. resolusi dan terbentuknya parut untuk
Bikuanid poliheksametilen (larutan 0,01-0,02%) memulihkan penglihatan. Jika organisme ini
dikombinasi dengan obat lain atau sendiri, kini sampai ke sklera, terapi obat dan bedah tidak
makin populer. Agen lain yang mungkin berguna berguna.