Anda di halaman 1dari 12

PORTOFOLIO

Kasus-1

Topik: Fasciitis Plantaris


Tanggal (Kasus): 11 Desember 2017 Presenter: dr. Indah Aprilia
Tanggal Presentasi: 22 Februari 2018 Pendamping: dr. Bambang Wahyu Nugroho
Tempat Presentasi: Puskesmas Prabumulih Barat
Objektif Presentasi:
Keilmuan  Ketrampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Bay
Neonatus i Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Umum, An AK, laki – laki usia 54 tahun datang ke Puskesmas Prabumulih
Barat Tanggal 11 Desember 2017 dengan keluhan nyeri pada telapak kaki kanan
terutama dibagian tumit, nyeri dirasakan pada saat pagi hari saat bangun dari tempat
tidur, mulai menaiki tangga dan berdiri terlalu lama, nyeri semakin bertambah sejak ±
1 minggu yang lalu.
Tujuan: Mengetahui diagnosis dan tatalaksana Fasciitis Plantaris
Bahan Bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data Pasien: Nama: An. AK Pekerjaan : Swasta No. Reg : -
Usia: 54 tahun Alamat: Jl. Madang
Agama: Islam Bangsa: Indonesia
Nama Puskesmas : Prabumulih Barat Telp :- Terdaftar sejak :

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Fasciitis plantaris/Keadaan umum tampak sakit sedang/ Pasien datang dengan
keluhan utama nyeri pada telapak kaki kanan terutama dibagian tumit, nyeri
dirasakan pagi hari saat pertama kali menapakkan setelah bangun tidur, setelah
jalan beberapa langkah keluhan agak berkurang, dan terus berkurang setelah
makin siang. Namun keluhan nyeri kambuh lagi jika duduk agak lama
kemudian berdiri atau berdiri terlalu lama, nyeri semakin bertambah sejak ± 1
minggu sebelum ke Puskesmas.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien mengaku belum pernah berobat dan tidak sedang mengkonsumsi obat
apapun.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit:
Riwayat penyakit dengan gejala serupa pada pasien sebelumnya tidak ada.
Riwayat trauma atau cidera pada kaki sebelumnya tidak ada,
Riwayat deformitas / abnormalitas bentuk tulang kaki tidak ada.
Riwayat bengkak pada persendian sebelumnya tidak ada.
Riwayat hipertensi, diabetes melitus dan penyakit jantung sebelumnya tidak
ada.
4. Riwayat Keluarga:
Riwayat dengan keluhan yang sama pada keluarga tidak ada.
Riwayat hipertensi, diabetes melitus dan penyakit jantung dalam keluarga tidak
ada
5. Riwayat Pekerjaan
Riwayat pekerjaan kuli bangunan yang memaksakan pasien untuk berdiri yang
lama dan mengangkat beban berat dengan posisi yang tidak ergonomis.
Daftar Pustaka:
1. Joshua Dubin. DC, CCSP, CSCS. Evidence Based Treatment for Plantar
Fasciitis. 2007.
2. Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono T, Rudiman R. Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi ke-3. Jakarta: EGC, 2010
3. Price S A, Wilson L M. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Edisi ke-6. Jakarta: EGC, 2005.
4. Hendarto, D. 2015. Efek Active Stretching Otot Plantar Flexor Ankle terhadap
Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
5. Sobhani S, Dekker R, Postema K, Dijkstra PU. Epidemiology of ankle and foot
overuse injuries in sports: a systematic review. (Scand J Med Sci Sports.
2013;23:669-686. Updated Jan 18, 2018) Avalaible from : http://dx.doi.
org/10.1111/j.1600-0838.2012.01509.
6. Saputra, BR. 2016 Etiologi dan Penatalaksanaan Fisioterapi pada Fasciitis
plantaris Bilateral di RS dr. Soedjono Magelang. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah.
7. Werner RA, Gell N, Hartigan A, Wiggerman N, Keyserling WM. Risk factors

2
for plantar fasciitis among assembly plant workers. PM R. Feb 2010;2(2):110-
6; quiz 1 p following 167.
8. Fascitis Plantaris. (Updated Jan 21, 2018) . Avalaible from :
http://emedicine.medscape.com/article/86143-overview
9. Siburian. 2008. Penyakit Plantar Fasciitis. Dalam: Soeparman, Waspadjin S,
eds. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
10. Black J M, Hawks J H. Medical- Surgical Nursering, Clinical Management for
Positive Outcomes. 8th ed. Singapore: Saunders, 2009.
11. Goff, JD., Crawford, R. 2011. Diagnosis and Management of Plantar Fasciitis.
American Academy of Family Physicians.
12. McMillan AM, Landorf KB, Barrett JT, Menz HB, Bird AR. Diagnostik
pencitraan untuk nyeri tumit kronis plantar:. Review sistematis dan meta-
analisis Res Foot Ankle J . 13 November 2009,. 02:32
13. Mahowald S, Legge BS, Grady JF. Korelasi antara ketebalan plantar fascia dan
gejala plantar fasciitis. J Am Podiatr Med Assoc . Sep 2011, 101 (5) :385-9.
14. A Guide toThe Differential Diagnosis Of Heel Pain ( Update Jan 26, 2018)
avalaible from : http://www.podiatrytoday.com/a-guide-to-the-differential-
diagnosis-of-heel-pain.
15. Sari Devi P. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Calcaneus Spur di
RSUP Surdjito Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Yogyakarta.
2012.
16. Thompson, JV., Saini, SS., Reb, CW., Daniel, JN. 2014. Diagnosis and
Management of Plantar Fasciitis. The Journal of the American Osteopathic
Association. 114 (12): 900 – 906.
17. McPoil TG, Martin RL, Cornwall MW, Wukich DK, Irrgang JJ, Godges JJ.
Heel pain--plantar fasciitis: clinical practice guildelines linked to the
international classification of function, disability, and health from the
orthopaedic section of the American Physical Therapy Association.
2008;38(4):A1-A18
18. Werner RA, Gell N, Hartigan A, Wiggerman N, Keyserling WM. Prognosis for
plantar fasciitis among assembly plant workers. PM R. Feb 2010;2(2):110-
6;167.

3
Hasil Pembelajaran:
1. Diagnosis Fasciitis Plantaris
2. Tatalaksana Fasciitis Plantaris

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN

1. Subjektif:
± Sejak 1 minggu yang lalu pasien mengeluh nyeri pada telapak kaki kanan
terutama dibagian tumit, nyeri dirasakan pada pagi hari saat pertama kali
menapakkan kaki setelah bangun tidur, setelah jalan beberapa langkah
keluhan agak berkurang, dan terus berkurang setelah makin siang. Namun
keluhan nyeri kambuh lagi jika duduk agak lama kemudian berdiri, mulai
menaiki tangga atau berdiri terlalu lama, nyeri dirasakan hilang timbul,
nyeri seperti ditusuk – tusuk benda tajam, nyeri menjalar kebagian atas kaki
tidak ada, kesemutan tidak ada, rasa kebas tidak ada, panas pada telapak
kaki tidak ada, bengkak pada bagian tumit tidak ada. Keluhan nyeri pada
bagian lain tidak ada. Pasien tidak mengeluh nyeri kepala, demam, batuk ,
pilek, mual dan muntah, bab dan bak tidak ada keluhan. Pasien belum
berobat.
± 3 hari sebelum ke Puskesmas, pasien merasakan nyeri semakin
bertambah pada bagian tumit telapak kaki, nyeri dirasakan terus menerus
berkurang dengan istirahat, bengkak tidak ada, merah ada, rasa kebas tidak
ada, kesemutan tidak ada. Pasien tidak berobat, hanya mengobati sendiri
dengan merendam kaki dengan air hangat sebanyak dua kali.
± 1 hari sebelum ke Puskesmas, pasien mengeluh tumit telapak kaki kanan
sedikit bengkak dan merah, nyeri semakin bertambah dan dirasakan terus
menerus. Pasien menjadi kesulitan untuk berjalan dan aktivitas kerja
menjadi terganggu, untuk mengurangi nyeri pasien berjalan dengan
menjinjitkan kakinya. Nyeri menjalar tidak ada, kesemutan ada sesekali
dirasakan, rasa kebas tidak ada, demam tidak ada. Pasien kemudian datang
ke poli umum Puskesmas Prabumulih Barat.

4
2. Objektif:
Statu Generalis:
 Keadaan umum : Tampak sakit ringan
 Kesadaran : Compos mentis
 Nadi : 84 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,8oC
 BB : 68 kg
 TB : 165 cm
 IMT : 25,0 (Gizi lebih/obesitas)
 VAS :5
Keadaan Spesifik:
 Kepala
 Bentuk : Normosefali, simetris
 Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut
 Mata : Tidak cekung, pupil bulat isokor ø 3mm,
reflek cahaya (+/+), konjungtiva anemis (-),
sklera ikterik (-)
 Telinga : Meatus akustikus eksternus lapang, nyeri
tarik aurikula (-), nyeri tekan tragus (-),
sekret (-)
 Hidung : Septum dan tulang dalam perabaan baik,
epistaksis (-), sekret (-), napas cuping
hidung (-)
 Mulut : Mukosa mulut dan bibir kering (-),
sianosis (-), cheilitis (-), stomatitis (-)
 Tenggorokan : Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1
 Leher
 Pembesaran KGB (-)
 Pembesaran kelenjar submandibularis (-/-)
 Thorax
Paru-paru
 Inspeksi : Statis dan dinamis simetris, iga gambang (-),
retraksi (-)
 Palpasi : Stemfremitus kiri sama dengan kanan
 Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
 Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
 Auskultasi : HR: 86 x/menit, irama reguler, BJ I-II normal,
murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
 Inspeksi : Datar
 Palpasi : Lemas, hepar dan lien tidak teraba, turgor baik

5
 Perkusi : Timpani
 Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Ekstremitas
Ekstremitas Atas
Akral hangat, edema (-), capillary refill time < 2 detik
Ekstremitas Bawah
Inspeksi :
bentuk kaki normal, edem (+) minimal pada plantar/medial
calcaneus dextra, hiperemis (+), deformitas (-), paresthesia (-),
parese (-), akral hangat (+), capillary refill time <2 detik.

Palpasi :
nyeri tekan (+) pada bagian plantar/ medial calcaneus dextra,
benjolan (-).

Status Neurologis
 Kesadaran : GCS E4V5M6
 Fungsi Motorik
Gerakan: cukup cukup
cukup cukup
Kekuatan: 5 5
5 5
Tonus: N N
N N
Klonus tungkai: (-) / (-)
Reflek fisiologis: + +
+ +
Reflek patologis: - -
- -
 Fungsi Sensorik : dalam batas normal
 Fungsi Luhur : dalam batas
normal
 Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
 Meningeal sign : (-)
 Gerakan abnormal : (+) Pasien
berjalan menjijit, bertumpu pada ujung jari
– jari kaki,
 Gait dan keseimbangan: dalam batas normal

Pemerikasaan nervus kranialis :


Tidak dilakukan

6
Pemeriksaan Tambahan :
Pemeriksaan dorso fleksi ibu jari kaki (+) nyeri meningkat

Pemeriksaan Khusus
- Windlass Test
- Plantar Fascia Test
- Manuver Perthes
Tidak dilakukan

Pemeriksaan Penunjang:
Tidak dilakukan

3. Assessment:
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien adalah laki - laki berusia
54 tahun. Berdasarkan kepustakaan yang ada disebutkan bahwa fasciitis
plantari lebih banyak terjadi pada usia 40 – 70 tahun. Dengan insiden
tertinggi pada usia 45 – 64 tahun dan lebih sering terjadi pada wanita.
Tetapi pada seseorang yang memiliki kelainan bentuk kaki resiko penyakit
fasciitis plantaris pada usia kurang dari 40 tahun.
Keluhan utama pada pasien adalah nyeri pada telapak kaki kanan
terutama pada bagian tumit telapak kaki sejak ± 1 minggu sebelum
kepuskesmas. Pada anamnesis, diketahui bahwa nyeri dirasakan terutama
pada pagi hari saat melangkah bangun dari tempat tidur, mulai menaiki
tangga dan berdiri terlalu lama. Nyeri berkurang pada saat aktivitas. Hal ini
sesuai dengan gejala klinisnya yaitu nyeri yang cenderung bertambah buruk
pada beberapa langkah pertama setelah bangun tidur, pada saat naik tangga
atau pada saat jinjit (berdiri pada ujung-ujung jari) nyeri kemudian
dirasakan berkurang setelah berjalan beberapa saat dan menghilang seiring
dengan peningkatan aktifitas yang dilakukan. Nyeri dirasakan seperti
ditusuk – tusuk benda tajam karena nyeri pada plantar fascitis merupakan
jenis nyeri inflamasi akibat adanya stress mekanik. Adanya penekanan dan
gaya regang yang konstan dan berulang menyebabkan fascia mengalami

7
iritasi pada tendon periosteal atau kerobekan pada tempat perlekatannya
sehingga timbul inflamasi. Inflamasi dapat dikatakan sebagai penyebab
utama dari nyeri seperti tertusuk benda tajam.
Pasien juga mengalami kesulitan untuk berjalan dan aktivitas kerja
menjadi terganggu, untuk mengurangi nyeri pasien berjalan dengan
menjinjitkan kakinya. Berdasarkan kepustakaan bahwa rasa nyeri pada
medial calcaneus akibat plantar fascitis saat beraktivitas akan menyebabkan
pasien membatasi gerakannya sehingga pasien menjadi hipomobile. Akibat
membatasi gerakan ankle saat beraktivitas membuat pasien mengalami
kesulitan saat akan memasuki fase mid stance saat berjalan akibat fase
midstance yang hilang untuk mengurangi nyeri pasien mengatasi dengan
berjalan menjinjit menumpukan beban tekanan pada ujung – ujung jari
kaki. Peningkatan zat iritan akibat nyeri yang timbul juga akan
menyebabkan konduktifitas saraf menurun sehingga koordinasi
intermuscular pada otot mengalami penurunan, akibatnya gerakan menjadi
tidak efisien dan efektif yang berdampak terhadap keseimbangan saat
berjalan dan fungsional ankle menurun. Sehingga menjadi antalgic gait.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal pasien
tampak sakit sedang, status pemeriksaan khusus ekstremitas bawah, dari
hasil inspeksi bentuk kaki normal, terdapat edem minimal pada plantar
pedis dextra, tampak hiperemis dan tidak ada deformitas, pada palpasi
didapatkan nyeri tekan (+) plantar pedis dextra, dan tidak terdapat bejolan
atau deformitas tulang.
Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis plantar
fascitis juga dapat ditegakan berdasarkan scanning tulang Jika scanning
tulang positif hal ini menandakan stress fracture, infeksi atau adanya
perlukaan operasi. Pemeriksaan laboratorium juga dapat digunakan untuk
mencari kemungkinan arthritis, tapi tidak dapat digunakan sebagai
konfirmasi plantar fascitis. Pemeriksaan dengan MRI menjadi standar untuk
mengetahui adanya fraktur, ruptur fascia plantaris atau infeksi. Ultrasound
dapat digunakan sebagai alat diagnosis untuk melihat ketebalan fascia pada

8
pemeriksaan ditemukan fascia yang menebal 2 kali lipat. Namun pada
pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
Pasien tidak mengalami komplikasi. Ini dilihat dari anamnesis yang
ditandai dengan pasien masih mampu berjalan meski mengalami kesulitan,
bengkak yang minimal, tidak ada kelemahan otot, tidak ganguan saraf dan
tidak ada deformitas dan didukung hasil pemeriksaan fisik yang meliputi
keadaan umum, tanda vital, dan pemeriksaan fisik lainnya masih dalam
batas normal. Komplikasi fasciitis plantaris paling sering adalah kelemahan
pada otot-otot kaki yang akan menyebabkan instabilitas sehingga dapat
memicu terjadinya strain. Konduktivitas saraf akibatnya terjadi
hipersensitivitas yang dapat menurunkan nilai ambang rangsang saraf. Heel
spur atau spur pada tulang berkembang karena fascia plantaris yang
mengalami injuri kemudian mengalami inflamasi sehingga tumit menerima
beban lebih banyak dan dalam waktu yang lama akan menyebabkan deposit
kalsium pada tumit sehingga menimbulkan tulang tumbuh yang tidak
normal di tumit. Namun pada pasien belum terdapat tanda – tanda tersebut.
4. Plan:
Diagnosis klinis : Fasciitis Plantaris
Diagnosis etiologis : Nyeri regio calcaneus sinistra
Nyeri tekan medial calcaneus sinistra
Diagnosis topis : Calcaneus dan plantar fascia dextra

Penatalaksanaan:
Farmakologis
- NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drug)
Natrium diclofenac 2 x 50 mg/hari
- Vitamin Bcomplex 2 x 1 tablet/hari
- Injeksi Kortikosteroid (jika diperlukan)
- Metilprednisolon topikal (jika diperlukan)

Non Farmakologis
- Edukasi pasien :
o Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyakitnya, rencana
pemeriksaan selanjutnya dan pengobatan yang akan diberikan.
o Edukasi kepada pasien untuk membatasi gerakan penguluran kaki

9
yang berlebihan dan mengurangi aktivitas seperti berjalan jauh dan
berdiri dalam waktu yang lama
o Istirahatkan kaki secara periodik
o Kurangin mengangkat beban dalam jumlah banyak dan hindari
penggunaan alas kaki yang keras
- Resting and modificatoin activity
- Ice massage (bertujuan untuk penyembuhan dan memperbaiki aliran
darah, dilakukan 10-20 menit 3x/hari)
- Compression and Elevation
- Stretching techniques ( bertujuan untuk meregangkan otot – otot seperti
wall stretches, counter top, towel stretching, cross friction massage dll)
- Heel cups/over-the-counter orthotics (OTC) and shoe recomendations
- Alat Bantu
Night splinting
Custom Orthotics
- Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT)

Tindakan Operatif

5. Prognosis
 Quo ad vitam : Bonam
 Quo ad functionam : Bonam
 Quo ad sanationam : Bonam

10
Fasciitis Plantaris

1. Anatomi
Tulang telapak kaki disusun dari 7 tarsals yaitu: Os. Calcaneus,
Os.Talus, Os. Navicularis, Os. Cuneinforme lateralis, Os.Cuneinforme
intermedium, Os.Cuneinforme medialis, dan Os. Metatarsal. Normalnya
telapak kaki akan membentuk lengkungan medial antara Os. Calcaneus
dengan Os. Metatarsal yang disebut Medial Longitudinal Arch (MLA).1

Gambar 1. Anatomi Telapak Kaki

Normal medial longitudinal arch adalah 15 – 18 mm dari tanah pada


tingkat navicular, sedangkan lateral longitudinal arch lengkungannya lebih
rendah 3 – 5 mm dari tingkat Os. Kuboid.2 Tulang yang membentuk
lengkungan ini saling berkaitan yang di hubungkan oleh ligament plantar
fascia. Menurut American Academy of Ortopedic Surgeon, Plantar Fascia
adalah Ligament tipis dan panjang yang terletak langsung dibawah telapak
kaki, yang menghubungkan tumit dengan kaki depan, dan akan membentuk
suatu lengkungan.2
Topografi dari ligamen plantar fascia merupakan bagian dari
jaringan penyambung (connective tissue) yang komposisinya terdiri atas
11
12