Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SPONTAN


DI RUANG MAWAR

Disusun oleh :

Nama : Rini Siyammi

NIM : 1820161099

PROGRAM PENDIDIKAN DIII KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADUYAH KUDUS
2017/2018
A. PENGERTIAN
Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas (puerperium)
yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang
lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi sampai kembali ke keadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2010).
B. ETIOLOGI
Penyebab persalinan belum pasti diketahui,namun beberapa teori menghubungkan dengan
faktor hormonal,struktur rahim,sirkulasi rahim,pengaruh tekanan pada saraf dan
nutrisi (Hafifah, 2011)
a. Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone progesterone dan estrogen.
Fungsi progesterone sebagai penenang otot –otot polos rahim dan akan menyebabkan
kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila progesterone turun.
b. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan kekejangan pembuluh
darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga
mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss). Bila ganglion ini
digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
e. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan dalam kanalis
servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser, amniotomi pemecahan
ketuban), oksitosin drip yaitu pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus.
C. MANIFESTASI KLINIS
 kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml),
 nadi lemah,
 pucat,
 lochea berwarna merah,
 pusing,
 gelisah, letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik,
 tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual.

D. PATOFISIOLOGI
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan
berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat
genetal ini dalam keseluruhannya disebut “involusi”. Disamping involusi terjadi perubahan-
perubahan penting lain yakni memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang terakhir ini
karena pengaruh hormon laktogen dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamae.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-pembuluh darah yang ada antara
nyaman otot-otot uretus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah
plasenta lahir. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks ialah segera post partum
bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri
terbentuk semacam cincin. Peruabahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah
timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta pada hari pertama
endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar akibat
pelepasan desidua dan selaput janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua
basalis yang memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis
serta fasia yang merenggang sewaktu kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur-
angsur kembali seperti sedia kala.
F.PENATALAKSANAAN
1. Observasi ketat selama 2 jam post partum ( adanya komplikasi perdarahan ).
2. 6 – 8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan kiri.
3. Hari ke 1 - 2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang benar dan perawatan
payudara , perubahan – perubahan yang terjadi pada masa nifas, pemberian informasi
tentang senam nifas.
4. Hari ke 2 : mulai melatih duduk.
5. Hari ke 3 : diperkenakan latihan berdiri dan berjalan.

G. PENGAKAJIAN FOKUS
a. Riwayat ibu
1) Biodata ibu.
2) Penolong.
3) Jenis persalinan.
4) Masalah-masalah persalinan.
5) Nyeri.
6) Menyusui atau tidak.
7) Keluhan-keluhan saat ini, misalnya : kesedihan/depresi, pengeluaran per
vaginam/perdarahan/lokhia, putting/payudara.
8) Rencana masa datang : kontrasepsi yang akan digunakan.
b. Riwayat sosial ekonomi
1) Respon ibu dan keluarga terhadap bayi.
2) Kehadiran anggota keluarga untuk membantu ibu di rumah.
3) Para pembuat keputusan di rumah.
4) Kebiasaan minum, merokok dan menggunakan obat.
5) Kepercayaan dan adat istiadat.
c. Riwayat bayi
1) Menyusu.
2) Keadan tali pusat.
3) Vaksinasi.
4) Buang air kecil/besar.
d. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan umum
a) Suhu tubuh.
b) Denyut nadi.
c) Tekanan darah.
d) Tanda-tanda anemia.
e) Tanda-tanda edema/tromboflebitis.
f) Refleks.
g) Varises.
h) CVAT (Contical Vertebral Area Tenderness).
2) Pemeriksaan payudara
a) Putting susu : pecah, pendek, rata.
b) Nyeri tekan.
c) Abses.
d) Pembengkakan/ASI terhenti.
e) Pengeluaran ASI.
3) Pemeriksaan perut / uterus
a) Posisi uterus/tinggi fundus uteri.
b) Kontraksi uterus.
c) Ukuran kandung kemih.
4) Pemeriksaan vulva/perineum
a) Pengeluaran lokhia.
b) Penjahitan laserasi atau luka episiotomi.
c) Pembengkakan.
d) Luka.
e) Henoroid.
5) Aktivitas/istirahat
Insomnia mungkin teramati.
6) Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
7) Integritas ego
Peka rangsang, takut / menangis (“post partum blues” sering terlihat kira-kira 3 hari
setelah melahirkan).
8) Eliminasi
Diuresis diantara hari kedua dan kelima.
9) Makanan/cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ketiga.
10) Nyeri/ketidaknyamanan
Nyeri tekan payudara / pembesaran dapat terjadi diantara hari ketiga sampai kelima
pasca partum.
11) Seksualitas
Uterus 1 cm di atas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran, menurun kira-kira 1
lebar jari setiap harinya.
Lokhia rubra berlanjut sampai hari kedua sampai ketiga, berlanjut menjadi lokhia serosa
dengan aliran tergantung pada posisi (misal : rekumben versus ambulasi berdiri) dan
aktivitas (misal : menyusui).
Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada suhu matur, biasanya pada
hari ketiga; mungkin lebih dini, tergantung kapan menyusui dimulai.

2. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peregangan perineum; luka
episiotomi; involusi uteri; hemoroid; pembengkakan payudara

b. Resiko defisit volume cairan berubungan dengan pengeluaran yang berlebihan; perdarahan;
diuresis; keringat berlebihan.

c. Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) berhubungan dengan trauma perineum dan
saluran kemih

d. Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) berhubungan dengan kurangnya mobilisasi;


diet yang tidak seimbang; trauma persalinan.

e. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan immobilisasi; kelemahan.

f. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jalan lahir.


g. Resiko gangguan proses parenting berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
cara merawat bayi.
3. Rencana Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Rencana Intervensi Rasional


No.
Keperawatan Kriteria Hasil

1. Gangguan rasa Pasien 1. Kaji tingkat nyeri1. Menentukan


nyaman (nyeri) mendemonstrasikan pasien. intervensi keperawatan
b/d peregangan tidak adanya nyeri. sesuai skala nyeri.
perineum; luka
episiotomi; Kriteria hasil: vital 2. Mengidentifikasi
involusi uteri; sign dalam batas 2. Kaji kontraksi penyimpangan dan
normal, pasien uterus, proses kemajuan berdasarkan
hemoroid; involusi uteri.
pembengkakan menunjukkan involusi uteri.
payudara. peningkatan 3. Anjurkan pasien 3.
aktifitas, keluhan Mengurangi
untuk membasahi ketegangan pada luka
nyeri terkontrol, perineum dengan air perineum.
payudara lembek, hangat sebelum
tidak ada bendungan berkemih.
ASI.
4. Anjurkan dan latih
pasien cara merawat
payudara secara 4. Melatih ibu
teratur. mengurangi bendungan
ASI dan memperlancar
5. Jelaskan pada ibu pengeluaran ASI.
tetang teknik
merawat luka 5. Mencegah infeksi
perineum dan dan kontrol nyeri pada
mengganti PAD luka perineum.
secara teratur setiap
3 kali sehari atau
setiap kali lochea
keluar banyak.
6. Mengurangi
6. Kolaborasi dokter intensitas nyeri denagn
tentang pemberian menekan rangsnag
analgesik bial nyeri nyeri pada nosiseptor.
skala 7 ke atas.

2. Resiko defisit Pasien dapat 1. Pantau: 1. Mengidentifikasi


volume cairan b/d mendemostrasikan penyimpangan indikasi
pengeluaran yang status cairan  Tanda-tanda kemajuan atau
berlebihan; membaik. vital setiap 4 penyimpangan dari
perdarahan; jam. hasil yang diharapkan.
diuresis; keringat Kriteria evaluasi: tak  Warna urine.
berlebihan. ada manifestasi  Berat badan
dehidrasi, resolusi setiap hari.
oedema, haluaran  Status umum
urine di atas 30 setiap 8 jam.
2. Mengidentifikasi
ml/jam, kulit keseimbangan cairan
2. Pantau: cairan
kenyal/turgor kulit pasien secara adekuat
masuk dan cairan
baik. dan teratur.
keluar setiap 8 jam.
3. Beritahu dokter
3. Temuan-temuan ini
bila: haluaran urine
mennadakan
< 30 ml/jam, haus,
hipovolemia dan
takikardia, gelisah,
perlunya peningkatan
TD di bawah rentang
cairan.
normal, urine gelap
atau encer gelap.

4. Konsultasi dokter
bila manifestasi
kelebihan cairan 4. Mencegah pasien
terjadi. jatuh ke dalam kondisi
kelebihan cairan yang
beresiko terjadinya
oedem paru.

3. Perubahan pola Pola eleminasi 1. Kaji haluaran 1. Mengidentifikasi


eleminasi BAK (BAK) pasien urine, keluhan serta penyimpangan dalam
(disuria) b/d teratur. keteraturan pola pola berkemih pasien.
trauma perineum berkemih.
dan saluran Kriteria hasil: 2. Ambulasi dini
kemih. eleminasi BAK 2. Anjurkan pasien memberikan
lancar, disuria tidak melakukan ambulasi rangsangan untuk
ada, bladder kosong, dini. pengeluaran urine dan
keluhan kencing pengosongan bladder.
tidak ada. 3. Anjurkan pasien
untuk membasahi 3. Membasahi bladder
perineum dengan air dengan air hangat dapat
hangat sebelum mengurangi ketegangan
berkemih. akibat adanya luka
4. Anjurkan pasien pada bladder.
untuk berkemih
secara teratur. 4. Menerapkan pola
berkemih secara teratur
5. Anjurkan pasien akan melatih
untuk minum 2500- pengosongan bladder
3000 ml/24 jam. secara teratur.

6. Kolaborasi untuk5. Minum banyak


melakukan mempercepat filtrasi
kateterisasi bila pada glomerolus dan
pasien kesulitan mempercepat
berkemih. pengeluaran urine.

6. Kateterisasi
memabnatu
pengeluaran urine
untuk mencegah stasis
urine.

4. Perubahan pola Pola eleminasi 1. Kaji pola BAB, 1. Mengidentifikasi


eleminasi BAB (BAB) teratur. kesulitan BAB, penyimpangan serta
(konstipasi) b/d warna, bau, kemajuan dalam pola
kurangnya Kriteria hasil: pola konsistensi dan eleminasi (BAB).
mobilisasi; diet eleminasi teratur, jumlah.
yang tidak feses lunak dan 2. Ambulasi dini
seimbang; trauma warna khas feses, 2. Anjurkan merangsang
persalinan. bau khas feses, tidak ambulasi dini. pengosongan rektum
ada kesulitan BAB, secara lebih cepat.
tidak ada feses
bercampur darah 3. 3. Cairan dalam jumlah
Anjurkan pasien cukup mencegah
dan lendir, untuk minum banyak terjadinya penyerapan
konstipasi tidak ada. 2500-3000 ml/24
cairan dalam rektum
jam. yang dapat
menyebabkan feses
menjadi keras.
4. Kaji bising usus
setiap 8 jam. 4. Bising usus
mengidentifikasikan
5. Pantau berat pencernaan dalam
badan setiap hari. kondisi baik.
6. Anjurkan pasien 5. Mengidentifiakis
makan banyak serat adanya penurunan BB
seperti buah-buahan secara dini.
dan sayur-sayuran
hijau. 6. Meningkatkan
pengosongan feses
dalam rektum.

5. Gangguan ADL dan kebutuhan1. Kaji toleransi 1. Parameter


pemenuhan ADL beraktifitas pasien pasien terhadap menunjukkan respon
b/d immobilisasi; terpenuhi secara aktifitas fisiologis pasien
kelemahan. adekuat. menggunakan terhadap stres aktifitas
parameter berikut: dan indikator derajat
Kriteria hasil: nadi 20/mnt di atas penagruh kelebihan
- Menunjukkan frek nadi istirahat, kerja jnatung.
peningkatan dalam catat peningaktan
beraktifitas. TD, dispnea, nyeri
dada, kelelahan
- Kelemahan dan berat, kelemahan,
kelelahan berkurang. berkeringat, pusing
atau pinsan.
- Kebutuhan ADL 2. Menurunkan kerja
terpenuhi secara 2. Tingkatkan miokard/komsumsi
mandiri atau dengan istirahat, batasi oksigen , menurunkan
bantuan. aktifitas pada dasar resiko komplikasi.
nyeri/respon
- frekuensi
hemodinamik,
jantung/irama dan
berikan aktifitas
Td dalam batas
senggang yang tidak
normal. 3. Stabilitas fisiologis
berat.
- kulit hangat, merah pada istirahat penting
3. Kaji kesiapan untuk menunjukkan
muda dan kering
untuk meningkatkan tingkat aktifitas
aktifitas contoh: individu.
penurunan
kelemahan/kelelahan
, TD stabil/frek nadi,
peningaktan
perhatian pada
aktifitas dan
perawatan diri. 4. Komsumsi oksigen
miokardia selama
4. Dorong berbagai aktifitas dapat
memajukan meningkatkan jumlah
aktifitas/toleransi
oksigen yang ada.
perawatan diri. Kemajuan aktifitas
bertahap mencegah
peningkatan tiba-tiba
5. Anjurkan keluarga pada kerja jantung.
untuk membantu 5. Teknik penghematan
pemenuhan energi menurunkan
kebutuhan ADL penggunaan energi dan
pasien. membantu
6. Jelaskan pola keseimbangan suplai
peningkatan dan kebutuhan oksigen.
bertahap dari 6. Aktifitas yang maju
aktifitas, contoh: memberikan kontrol
posisi duduk jantung, meningaktkan
ditempat tidur bila regangan dan
tidak pusing dan mencegah aktifitas
tidak ada nyeri, berlebihan.
bangun dari tempat
tidur, belajar berdiri
dst.

6. Resiko infeksi b/d Infeksi tidak terjadi.1. Pantau: vital sign,1. Mengidentifikasi
trauma jalan tanda infeksi. penyimpangan dan
lahir. Kriteria hasil: tanda kemajuan sesuai
infeksi tidak ada, intervensi yang
luka episiotomi dilakukan.
kering dan bersih, 2. Kaji pengeluaran
takut berkemih dan lochea, warna, bau 2. Mengidentifikasi
BAB tidak ada. dan jumlah. kelainan pengeluaran
3. Kaji luka lochea secara dini.
perineum, keadaan 3. Keadaan luka
jahitan. perineum berdekatan
dengan daerah basah
mengakibatkan
kecenderunagn luka
untuk selalu kotor dan
4. Anjurkan pasien mudah terkena infeksi.
membasuh vulva
setiap habis 4. Mencegah infeksi
berkemih dengan secara dini.
cara yang benar dan
mengganti PAD
setiap 3 kali perhari
atau setiap kali
pengeluaran lochea
banyak.

5. Pertahnakan 5. Mencegah
teknik septik aseptik kontaminasi silang
dalam merawat terhadap infeksi.
pasien (merawat
luka perineum,
merawat payudara,
merawat bayi).

7. Resiko gangguan Gangguan proses 1. Beri kesempatan 1. Meningkatkan


proses parenting parenting tidak ada. ibu untuk melakukan kemandirian ibu dalam
b/d kurangnya perawatan bayi perawatan bayi.
pengetahuan Kriteria hasil: ibu secara mandiri.
tentang cara dapat merawat bayi
merawat bayi. secara mandiri
(memandikan, 2. Keterlibatan
menyusui, merawat2. Libatkan suami bapak/suami dalam
tali pusat). dalam perawatan perawatan bayi akan
bayi. membantu
meningkatkan
keterikatan batih ibu
dengan bayi.

3. Latih ibu untuk 3. Perawatan payudara


perawatan payudara secara teratur akan
secara mandiri dan mempertahankan
teratur. produksi ASI secara
kontinyu sehingga
kebutuhan bayi akan
ASI tercukupi.
4. Motivasi ibu
untuk meningkatkan4. Meningkatkan
intake cairan dan
diet TKTP. produksi ASI.

5. Lakukan rawat
gabung sesegera
mungkin bila tidak 5. Meningkatkan
terdapat komplikasi hubungan ibu dan bayi
pada ibu atau bayi. sedini mungkin.
DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad (2010), Obstetri Patologi, Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK Unpad, Bandung.

Hacker Moore (2011), Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.

Hanifa Wikyasastro (2010), Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo,
Jakarta.

http://www.slideshare.net/septianraha/asuhan-keperawatan-pada-ny-d-dengan-post-partum-
normal-di-wilayah-kerja-puskesmas-delanggu-klaten diakses pada tanggal 22 Juni 2014

http://dwitasari37.blogspot.com/2013/09/post-partum.html diakses pada tanggal 22 Juni 2014

Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2012), Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi
3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai