Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu
untuk tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Tujuan pembangunan kesehatan telah ditetapkan dalam UU RI No. 23
tahun 1992 pasal 3 yaitu pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar mewujudkan derajat
kesehatan masyarakat dengan optimal (Depkes RI, 2003).
Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan dengan
diselenggarakannya upaya-upaya kesehatan yaitu; upaya pendekatan peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan
kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan
(Noor, 2000).
Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari tata kehidupan masyarakat, memandang
bahwa permasalahan yang ada di masyarakat juga merupakan permasalahan bagi perguruan
tinggi. Perguruan Tinggi memiliki tiga fungsi yang dikenal dengan “TRI DHARMA
PERGURUAN TINGGI”, yakni :1) Pendidikan dan pengajaran, 2) Penelitian, 3) Pengabdian
pada masyarakat. Melalui darma ketiga perguruan tinggi akan mengambil langkah-langkah untuk
ikut serta memecahkan masalah-masalah di masyarakat. Pengaplikasian fungsi atau
melaksanakan darma ketiga, perguruan tinggi menyelanggarakan program kegiatan bagi
masyarakat yang dikenal dengan istilah “KULIAH KERJA NYATA (KKN)”. KKN merupakan
suatu program kegiatan belajar yang dilaksanakan di lapangan oleh mahasiswa peserta program
pendidikan strata satu (S1) dan DIV, sebagai upaya mengaplikasikan kemampuan teori, dengan
praktek di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Selama 22 Hari mahasiswa akan melakukan pengabdian pada masyarakat setempat
dengan program yang bersifat problem solving. Derajat ksehatan masyarakat yang optimal dapat
di wujudkan dengan di selenggarakannya upaya-upaya kesehatan yaitu: upaya pendekatan
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit

1
(kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh,terpadu
dan berkesinambungan (Noor, 2000).Hasil observasi pada tanggal 26 – 31 Agustus 2015 di
Kelurahan Tempurejo Kecamatan Pesantren Kota Kediri, maka kami mendapatkan data-data
berikut:
Kelurahan : Tempurejo
Kecamatan : Pesantren
Kota : Kediri
Memiliki wilayah yang terdiri dari :
1. Luas wilayah : 313,26 ha/m2
2. Adapun batas-batas wilayah KelurahanTempurejo adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Ketami
b. Sebelah Selatan : Ngletih
c. SebelahTimur : Janti
d. Sebelah Barat : Pesantren
3. Geografis
a. Tinggitempatdaripermukaanlaut : 50 mdl
b. Bentanganwilayah : Desadengandataranrendah
c. Jarakkeibukotakecamatan : 3 km
d. Jarakkeibukotakabupaten : 8 km
4. Kependudukan
Penduduk di Kelurahan Tempurejo Tahun 2014 berjumlah 4242 ojiwa yang
terdiri dari 2879 KK dengan jumlah laki-laki 2096jiwa dan perempuan 2146 jiwa. Dan
jumlah KK darilaki – lakiterdiri 1244 KK danperempuanterdiridari
5. RekapitulasiUsiaPenduduk
a. Usia < 12 bulan : 36 orang
b. Usia 1-10 tahun : 538 orang
c. Usia 11-20 tahun : 549 orang
d. Usia 21-30 tahun : 631 orang
e. Usia 31-40 tahun : 824 orang
f. Usia 41-50 tahun : 714 orang

2
g. Usia 51-60 tahun : 533 orang
h. Usia 61-75 tahun : 342 orang
i. Usia > 75 tahun : 75 orang
6. Agama
a. Islam : 4231 orang
b. Kristen : 8 orang
c. Katolik : 2 orang
d. Budha :-
e. Hindu : 1 orang
7. Sarana Pendidikan
a. SDN 01 Tempurejo
b. SDN 02 Tempurejo
c. TK Dharma Wanita I
d. TK Dharma Wanita II
e. PAUD Purinanda
f. PAUD Al - Fath
8. Sarana Kesehatan
a. PuskesmasPembantu : 1 unit
b. Posyandu : 6 unit
c. Balaipengobatanmasyarakat : 1 unit
d. Rumah / kantorpraktekdokter : 1 unit
e. Tenagakesehatan
1) Dokterumum : 1 orang
2) Bidan : 3 orang
3) Perawat / mantra kesehatan : 3 orang
9. SaranaPemerintahanDesa
a. Balai Desa/Kelurahan/sejenisnya : 1unit
b. Gedung Kantor : 1 unit
Pada KKN kali ini kami mengambil tema“22 Hari Perjalanan Pengabdian Masyarakat“
dengan tujuan agar masyarakat KelurahanTempurejosadar akan pentingnya hidup sehat.

3
1. NamaKegiatan
Kegiatan ini bernama : “Kuliah Kerja Nyata Upaya Promosi Kesehatan di Kelurahan
Tempurejo” Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi dan Fakultas Ilmu Kesehatan
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri di Kelurahan Tempurejo Kecamatan
Pesantren Kota Kediri tahun 2015
2. TemaKegiatan
Tema kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi
dan Fakultas Ilmu Kesehatan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri di Kelurahan
Tempurejo Kecamatan Pesantren Kabupaten Kediri tahun 2015 yaitu“22 Hari
Perjalanan Pengabdian Masyarakat”.

3. Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelurahan Tempurejo akan
dilaksanakan pada :
Waktu : 1 – 22 September 2015
Tempat : Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri
4. Sasaran
Sasaran kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), yaitu:
a. Masyarakat bersama Pemerintah Daerah
b. Mahasiswa

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan seperti di bawah
ini :
1. Bagaimanakah tingkat kesadaran masyarakat tentang kesehatan?
2. Bagaimanakah antusias masyarakat terhadap program yang berkaitan tentang kesehatan?
3. Bagaimanakah cara memberikan suatu pengarahan terhadap masyarakat tentang masalah
kesehatan?

4
C. TUJUAN
Kuliah Kerja Nyata dalam aplikasinya dimaksudkan untuk mencapai tujuan :
1. Meningkatkan penegtahuan, keterampilan dan sikap positif masyarakat
2. Meningkatkan pengembangan kualitas sumber daya manusia
3. Meningkatkan upaya–upaya untuk kesehatan masyarakat
4. Meningkatkan motivasi anggota masyarakat dalam membangun diri di bidang kesehatan
5. Meningkatkan kesadaran akan arti penting pendidikan pada masyarakat, dalam
menunjang program peningkatan derajat kesehatan, dan pembinaan kualitas sumber daya
manusia (SDM)
6. Memberikan pengalaman kepada para mahasiswa, mengenai realita kehidupan
masyarakat yang sarat dengan kompleksitas masalahnya
7. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mencari dan menemukan data, atau
informasi serta mengidentifikasi masalah–masalah pokok dan penting, untuk kemudian
merumuskan masalah dan memecahkannya melalui pendekatan ilmiah.

D. MANFAAT
1. Bagi Institusi
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata sebagai kampus kesehatan dengan berbagai
banyak prodi yang siap terjun dan berperan di masyarakat.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan dengan adanya kegiatan KKN ini, masyarakat lebih peduli akan pentingnya
kesehatan dan kebersihan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
3. Bagi mahasiswa
Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi sarana belajar bagi mahasiswa untuk
mengaplikasikan ilmu kesehatan yang diterima selama menempuh pendidikan.

5
BAB II
PROGRAM DAN KALENDER KERJA

A. Program Kerja
Sesuai dengan program kerja yang berhasil kami lakukan di Kelurahan Tempurejo,
Kecamatan Pesantren, Kota Kediri yaitu sebagai berikut:
1. Penyuluhan DHE (Dental Health Education)
Co: Aulia Indah Pratiwi dan Surga Betari
2. Penyuluhan TOGA
Co: Yuli Setyorini
3. DAGUSIBU / Penyuluhan Tentang Obat
Co: Wanda Cumala S.
4. Pemberian Obat Cacing
Co: Intan Fierrizqy All Hady
5. Pemeriksaan Gratis (Asam urat, gula darah, golongan darah, kolesterol, serta gigi dan
mulut).
Co: Ernestina Maria D.C
6. Senam Ibu Hamil
Co: Aliatus S.
7. Senam Lansia
Co: Mellia Arifani
8. Kerja bakti
Co: Gaspar Almeida F. dan Andreas Moruk
9. Mengajar Mengaji
Co: Trisna Nurmala Sari
10. Belajar bersama SD
Co: Ika Wahyu
11. PHBS dengan cuci tangan 7 langkah
Co: Yeni Ika W.
12. Pemberian PMT pada batita

6
Co: Feni Arianti
13. Penyuluhan manfaat BAB di jamban
Co: Wulandari S.S.
14. Lomba futsal wanita
Co: Linda Siena Maria
15. Kunjungan pasien gangguan jiwa
Co: Yeni Ika dan Ari W.
16. Survey Mawas Diri (SMD)
Co: Wulandari S.S., Luluk I., dan Gladys R.S.
17. Demo Masak
Co: Ika Wahyu

B. Kalender Kerja

Tanggal Kegiatan September 2015


Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2
Pembukaan KKN
Survey TK, SD dan
Kelurahan
Rapat Kegiatan
Agustusan
Posyandu Balita dan
Lansia
Kelas Ibu Hamil
Senam Lansia
Kerja Bakti
Penyuluhan DHE
dan cuci tangan
Kegiatan Agustusan
(Lomba anak – anak)
Bimbel
Mengajar di TPA
Penyuluhan pada Ibu
Hamil
Posbindu
(Pemeriksaan asam
urat dan gula darah,
7
dan penyuluhan
manfaat BAB di
jamban)
Imunisasi Balita
Posko pemeriksaan
Kesehatan
Survey Mawas Diri
Dagusibu, TOGA
dan Demo Masak
Kunjungan Pasien
Gangguan Jiwa
Jalan Sehat Dan
Pesta Rakyat
Sosialisasi tentang
HIV AIDS dan
Pembagian Kondom
Membantu tenaga di
Pustu
Gladi Kotor
Gladi Bersih dan
Penutupan

8
BAB III

3.1 LAPORAN PELAKSANAAN

Kuliah Kerja Nyata adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh
mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada daerah dan waktu tertentu.
Pelaksanaan kegiatan KKN bertempat di daerah setingkat desa atau kelurahan. Dirjen pendidikan
tinggi di Indonesia mewajibkan setiap perguruan tinggi untuk melaksanakanKKN sebagai
kegiatan intrakulikuler yang memadukan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu : pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat merupakan proses pembangunan dimana masyarakat
berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri
sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warga ikut berpartisipasi, karena
warga bertindak sebagai agen pembangunan. Proses pembangunan dalam masyarakat tersebut
menjadi program ajang pembelajaran Kuliah Kerja Nyata bagi mahasiswa sebagai bentuk
pemberdayan dalam masyarakat.
Kuliah Kerja Nyata sebagai bentuk Pembelajaran pemberdayaan Masyarakat
mempunyai beberapa program kegiatan sebagai gambaran dari peran mahasiswa dalam
masyarakat. Program kegiatan yang dilaksanakan hendaknya sesuai dengan lintas keilmuan yang
dikuasai atau tengah ditempuh mahasiswa. Mahasiswa dari program studi bidang kesehatan
cenderung melaksanakan program-program yang berkaitan dengan kesehatan bagi masyarakat.
Program kegiatan yang bisa dilaksanakan misalnya penyuluhan, screening dan pemeriksaan
kesehatan masyarakat.
Penyuluhan merupakan salah satu metode meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan
sikap. Pengetahuan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari yang tidak mampu menjadi
mampu melakukan suau pekerjaan yang bermanfaat. Kegiatan penyuluhan yang bisa dilakukan
mahasiswa dari program studi kesehatan adalah penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan
tersebut diantaranya tentang penggunaan obat yang baik; tanaman obat keluarga; kesehatan gigi
dan mulut; dan cuci tangan yang baik dan benar.
Screening merupakan proses mengidentifikasi penyakit atau kesehatan masyarakat
menggunakan berbagai tes atau pengujian. Kegiatan screening yang dapat dilakukan mahasiswa

9
diantaranya Survey Mawas Diri 200 KK. Proses tersebut diantaranya melihat kondisi air, letak
rumah terhadap vektor dan ada tidaknya jamban.
Pemeriksaan adalah suatu kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan secara
objektif didasarkan suatu standar pemeriksaan. Pemeriksaan kesehatan berarti suatu kegiatan
pengolahan informasi kesehatan masyarakat. Pemeriksan kesehatan yang dapat dilaksanakan
selama proses kuliah kerja nyata mahasiswa dari program studi kesehatan diantaranya
pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan kadar gula dalam darah, dan asam urat.
Program kegiatan yang dilaksanakan dalam Kuliah Kerja Nyata sebagai proses
pembelajaran pemberdayaan Masyarakat diantaranya yaitu,
1. Penyuluhan penggunaan dan penyimpanan obat yang baik dan benar, serta
pemberian obat cacing.
2. Penyuluhan mencuci tangan yang baik dan benar di TK Dharma Wanita I dan SDN
Tempurejo 1
3. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut TK Dharma Wanita I dan SDN Tempurejo 1
4. Penyuluhan dan penanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga)
5. Posko pemeriksaan kesehatan lansia
6. Screening SMD (Survei Mawas Diri)
7. Screening Kejiwaan
8. Serta beberapa program tambahan lain
Adapun laporan kegiatan dari masing-masing program kegiatan Kuliah Kerja Nyata
adalah sebagai berikut :

10
DAGUSIBU
1

A. Latar Belakang
Motto DAGUSIBU yang berisi mengenai cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan,
dan membuang obat dengan benar ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan di kalangan
Apoteker, hanya saja kurang sosialisasi dan pengenalan kepada masyarakat terutama kalangan
awam aka informasi kesehatan. Seiring berkembangnya perekonomian dan pengetahuan
masyarakat, Apotek yang berdiri kini sudah mulai berkembang dan bertambah banyak dengan
kualitas pelayanan yang bervariasi. Persoalan yang sering muncul adalah keahlian dan
pengetahuan tentang obat yang dijual dan diberikan juga berbeda.
Masyarakat umumnya kurang mendapatkan edukasi mengenai penggunaan obat yang
dikonsumsi dengan benar. Selain itu, fenomena yang ada di masyarakat adalah rasa ingin
menolong terhadap tetangga, saudara, ataupun sesama, dengan begitu apabila ada yang memiliki
keluhan penyakit yang dianggap sama, obat yang tersisa diberikan sebagai bahan uji coba kalau-
kalau cocok. Tindakan tersebut akan berbahaya apabila obat yang diminum tidak cocok, atau
memiliki efek samping alergi terhadap daya tahan tubuh kita.
Penyimpanan obat ditempat yang benar juga merupakan hal yang penting. Selama ini
masyarakat kurang memperhatikan cara menyimpan obat yang telah digunakan . Bahkan
menyediakan kotak obat juga belum banyak digunakan oleh masyarakat umumnya di Indonesia.
Hal ini yang membhayakan apabila di rumah tersebut terdapat anak – anak. Selain itu, terhadap
obat yang harus disimpan dengan perlakuan khusus, misalnya ada obat yang disimpan di suhu
ruang (25-300C), ada pula obat yang harus disimpan di dalam lemari es. Semua itu bertujuan
untuk menjaga stabilitas obat supaya tetap memberikan efek terapi.
Selain itu, masyarakat diharapkan dapat membuang obat dengan semestinya. Sebelum
membuang obat, masyarakat perlu mewaspadai taggal kadaluarsa obat dan kondisi obat tersebut .
Apabila batas kadaluarsa obat tersebut masih panjang, diharapkan masyarakat tetap menyimpan
obat tersebut tanpa harus diberikan kepada tetangga, saudara, ataupun orang lain. Seharusnya
masyarakat membuang obat yang berlabel maupun terbungkus dalam strip adalah dengan cara
membuka seluruh kemasan obat tersebut dan membuang ke tempat sampah dalam kondisi yang
sudah tidak bisa dikonsumsi orang lain (dihancurkan).

11
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pemahaman masyarakat tentang DAGUSIBU obat ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum:
Tujuan umum dari kegiatan ini adalah memberikan informasi seputar dagusibu.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan informasi cara mendapatkan obat yang benar.
b. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang cara penggunaan
obat dengan baik dan benar.
c. Untuk memberikan informasi cara menyimpan obat dengan baik dan
benar.
d. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara membuang obat
dengan baik dan benar.
D. Manfaat
Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan pada ibu-ibu PKK RT 15 di Kelurahan
Tempurejo, diharapkan para ibu-ibu dapat mengerti dan menerapkan dalam kehidupan sehari-
hari.

E. Nama Program
DAGUSIBU
F. Tema kegiatan
Cermati DAGUSIBU Obat
G. Jadwal Pelaksanaan :
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 11 September 2015 dengan jadwal kegiatan
sebagai berikut:
Pukul 18.00 – 18.15 : Pembukaan
Pukul 18.15 – 18.30 : Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Pukul 18.30 – 19.00 : Penjelasan DAGUSIBU
Pukul 19.00 – 19.30 : Penjelasan TOGA

12
Pukul 19.30 – 20.00 : Sesi Tanya jawab
Pukul 20.00 – 20.20 : Penutup

H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


A. Waktu : 18.00 – 20.20 WIB
B. Tempat Pelaksanaan : Rumah Bu Kasun RW 05 RT 15
I. Sasaran Program
Sasaran program ini adalah ibu –ibu PKK yang ada di Lingkungan Kwangkalan.

J. Media yang digunakan


Media yang digunakandalam program ini yaitu berupa leaflet yang berisi tentang apa itu
DAGUSIBU dan penjelasannya.
K. HasilKegiatan
Hasil dari kegiatan ini adalah warga sangat antusias sekali saat program ini berlangsung,
karena sebelumnya belum pernah ada program kegiatan tentang DAGUSIBU yang ada
lingkungan mereka. Oleh karena itu mereka sangat antusias sekali dalam kegiatan
program ini, karena DAGUSIBU ini sangat berguna sekali dalam kehidupan mereka.
L. Indikator Keberhasilan Program
A. 75% ibu – ibu PKK hadir dalam kegiatan tersebut.
B. 50% ibu – ibu PKK aktif bertanya dalam kegiatan tersebut.
M. Hambatan
Masyarakat kurang memahami materi, sehingga pemateri harus menyampaikan ulang
materi yang diberikan.

13
TOGA

A. Latar Belakang
Keanekaragaman hayati yang ada di bumi Indonesia ini memiliki sejuta manfaat,
baiksebagai bahan pangan, bernilai ekonomisdan untuk memenuhi aspek estetika
jikadiperhatikan tata letaknya dalam suatu media tanam. Banyak tumbuhan yang
dapatdigunakan sebagai bahan untuk mengobati berbagai penyakit. Tanamanyang
tumbuh diIndonesia dikenal sebagai bahan yang ampuh untuk obat-obatan,baik
diterapkan sebagaibahan baku industri obat modern maupun sebagai obatobatan
tradisional.
TOGAadalah singkatan daritanaman obat keluarga. Taman obat
keluargapadahakekatnya merupakan sebidang tanah baik dihalaman rumah, kebun
ataupun ladang yangdigunakanuntukmembudidayakantanaman yangberkhasiat
sebagaiobatdalam rangkaMemenuhikeperluankeluarga akan obat-obatan.Dengan adanya
TOGAyang menerapkanpenataan tamanyang baik, akan menghasilkan keindahan bagi
orang/masyarakatyang ada disekitarnya. Untuk menghasilkan keindahan, tentu
diperlukan perawatan terhadaptanaman terutama yang berada di pekarangan rumah.
Dengan ini maka TOGA dapat memilikidua fungsi yaitu sebagai obat dan hiasan taman
rumah.
Obat-obatan itu dalam berbagai bentuk sudah dijual bebas dan mudah sekali
didapatkandengan harga yang relatif terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kecenderungan metode pengobatan mulai kembali ke tanaman obat yang digunakan
secaratradisional. Ada beberapa alasan yang mendasari kecenderungan ini yaitu tanaman
obat yangdigunakan secara tepat akan memiliki efek samping yang lebih rendah
dibandingkan denganobat-obatan modernyang biasanya terbuat dari bahan sintesis. Selain
itu, obat-obatantradisional juga lebih tepat untuk digunakan untuk mencegah dan
mengobati penyakit sertamenjaga kesehatan.
Upaya pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat luas, untuk saat ini belum
dapat dilayani oleh unit pelayanan kesehatan secara paripurna, banyak hal yang menye-
babkan demikian, aksesibilitas, ke-terjangkauan, mahalnya harga, me-nyebabkan
masyarakat akan mela-kukan upaya self treatment (yaitu upaya penyembuhan sendiri)
dengan lebih mempercayai obat dan perubatan yang berbau alternative, malangnya
seringkali obat dan peru-batan alternative tersebut sering belum teruji secara klinik
manfaat, efek yang ditimbulkan dan prosedur pengelolaannya yang masih belum
memenuhi prosedur yang layak bagi kesehatan. Fenomena ini mendorong para ahli di
bidang promosi kesehat-an untuk menawarkan solusi baru, yang minim biaya, memenuhi
asas aksesibilitas, keterjangkauan dengan jalan pemanfaatan lahan rumah dalam hal ini
dapat dilakukan meskipun hanya lahan sisa yang akan dimanfaatkan secara optimal
14
melalui penanaman lahan dengan tanaman obat keluarga sebagai aplikasi upaya preventif
(pencegahan) dan kuratif (pengobatan) sederhana sebagai per-tolongan pertama dan
promosi kesehatan di lini keluarga. Lahan rumah atau lahan sisa di sekitar rumah yang
tidak diman-faatkan, akan lebih memiliki daya guna yang sangat besar apabila dapat
dimanfaatkan menjadi apotek hidup dengan jalan memanfaatkan lahan sisa tersebut
dengan menanam tana-man obat keluarga (TOGA). Ruang lingkup promosi kesehatan
berdasarkan tatanan pelaksanaan, dibagi menjadi lima lini/tingkatan, diantaranya adalah
promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga), promosi kesehatan pada
tatanan sekolah, promosi kesehatan di tempat kerja, promosi kesehatan di tempat-tempat
umum, diantaranya pasar, terminal bus, Bandar udara, tempat-tempat atau pusat
perbelanjaan, tempat-tempat olah raga, taman-taman kota, dan yang terakhir pada
fasilitas pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2005).
Pemanfaatan lahan rumah untuk tanaman obat keluarga (TOGA), sebagai bentuk
upaya promosi kesehatan masyarakat pada level keluarga akan membahas mengenai
pengertian tanaman obat keluarga (TOGA), jenis tanaman obat keluarga, manfaat
tanaman obat keluarga, nilai lebih promosi kesehatan masyarakat pada level keluarga
melalui pemanfaatan lahan sisa dengan TOGA.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah manfaat TOGA bagi masyarakat di lingkungan Tempurejo sekitar
2. Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengubah daya pikir masyarakat akan
pentingnya TOGA
3. Bagaimana cara Pengolahan Tanaman TOGA agar bisa dikonsumsi masyarakat
sekitar.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat pentingnya TOGA.
Tanaman obat akan mengisi lahan sisa di rumah kitaakan menjadi apotek hidup
yang sangat besar manfaat dan diharapkan untuk pemenuhan upaya preventive
(pencegahan), promotif (peningkatan derajat kesehatan) dan kuratif (pengobatan).

2. Tujuan Khusus
Memberikan Penyuluhan tentang banyaknya maanfaat tumbuhan yang bisa
digunakan sebagai tanaman yang berkhasiat obat. Pemberdayaan masyarakat
khususnya ibu-ibu PKK dalam penanaman TOGA, memelihara dan sekaligus
menikmati hasilnya, dimana salah satu pemanfaatan TOGA adalah diolah menjadi
jamu tradisional, dimana kader PKK diharapkan mampu mensoialisasikan
15
manfaat TOGAdi masyarakat,sekaligus ikut membimbing untuk membuat jamu
yang benar .

D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat turun langsung kemasyarakat untuk memberikan informasi
tentang TOGA, manfaat dari tanaman obat, khasiat, cara pengolahan TOGA
sebagai obat tradisional yang benar, serta cara penanaman TOGA yang benar.
2. Bagi Tempat Pelaksana
Diharapkan mampu memberikan edukasi terhadap masyarakat disekitar,
pentingnya TOGA kususnya dilingkungan Tempurejo. Bagi ibu-ibu kader PKK
diharapkan dapat mengajak dan memberikan penyuluhan petingnyaTOGA dan
sekaligus ikut membimbing untuk membuat jamu yang benar .
3. Bagi Instansi Pendidikan
Bagi Instansi pendidikan yaitu agar dapat menambah dan menjalin kerja sama
dengan instansi lain yang dijadikan mahasiswa untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata)

E. Nama Program
Penyuluhan TOGA
F. Tema Kegiatan
Pemanfaatan tumbuhan sebagai TOGA
G. Jadwal Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 11 September 2015 dengan jadwal kegiatan
sebagai berikut:
Pukul 18.00 – 18.15 : Pembukaan
Pukul 18.15 – 18.30 : Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Pukul 18.30 – 19.00 : Penjelasan DAGUSIBU
Pukul 19.00 – 19.30 : Penjelasan TOGA
Pukul 19.30 – 20.00 : Sesi tanya jawab
Pukul 20.00 – 20.20 : Penutup
H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Waktu
Dilaksanakan pada pukul 18.00- 20.20 WIB.
2. Tempat pelaksanaan

16
Program kerja dilaksanakan di Rumah Bu Kasun RW.05/RT.15, Lingkungan
Kwangkalan, KelurahanTempurejo.
I. Sarana Progaram
Sasaran program kerja adalah ibu-ibu kader PKK, yang bejumlah kurang lebih 30 orang.

J. Media yang Digunakan


Media yang digunakan adalah Tanaman TOGA yang berjumlah 25 yang dengan 10
macam tumbuhan seperti; mahkota dewa, sambang nyowo, brotowali, mengkudu, sirsak,
palem, kumis kucing, dandang gendis, kejibeling, dll. Serta Label dari masing masing
tumbuhan yang berisi nama tumbuhan, nama latin, manfaat bagi penyakit dan
menggunakan selebaran yang berisi khasiat akan penyakit dan resep pembuatan jamu
tradisional dari masing - masing tumbuhan.
K. Hasil Kegiatan
Hasil dari kegiatan ini adalah warga sangat antusias sekali saat program ini berlangsung,
karena sebelumnya belum pernah ada program kegiatan tentang TOGA yang ada
lingkungan mereka. Dan dari TOGA yang kami bawa saat presentasi pun banyak menarik
minat ibu – ibu PKK untuk melihatnya.
L. Indikator Keberhasilan Program
1. 95% ibu-ibu kader PKK datang dalam acara program kerja.
2. 65% ibu – ibu aktif dalam mengikuti penyuluhan tentang pentingnya pemanfaatan
tumbuhan sebagai tanaman obat keluarga. Dalam sesi tanya jawab ibu – ibu aktif
bertanya seputar TOGA baik cara penanaman, perawatan, cara pembuatan obat
tradisional, bagian yang bisa digunakan dan lain – lain.
M. Hambatan
Tidak adanya media pendukung seperti LCD karena tempat kurang kondusif untuk
pemakaian layar LCD.Kurangnya selebaran dari resep tumbuhan obat karena kedatangan
para kader PKK melebihi tafsiran.Kurangnya waktu yang digunakan untuk memberikan
penyuluhan karena hanya sebentar dan padahal topik yang diberikan ke anggota kader
PKK sangat menarik.

N. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa program yang dibuat dari latar belakang masalah yang
adayaitu Penyuluhan Pentingnya Pemaanfaat Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA).
Kegiatandilaksanakanpada tanggal 11 September 2015, pada pukul 16.00-20.20 WIB.
Program dilaksanakan di Rumah Bu Kasun RW.05/ RT.15, Lingkungan Kwangkalan,

17
KelurahanTempurejodimana kami melaksanakan program ini masuk kedalam pertemuan
kader PKK. Sasaran program adalah para kader PKK dengan rentang umur 25 keatas
dengan jumlah kurang lebih 30 orang. Dengan media yang digunakan adalah label TOGA
dan Selebaran resep dari TOGA.
O. Saran
Yang dapat diberikan khususnya kepada Pemerintah setempat yaitu agar memberikan
lahan kosong yang sekiranya dapat dijadikan sebai taman TOGA sehingga diharapkan
ibu–ibu ikut berpartisipasi aktif dalam peningkatan kesehatan dengan latar belakang alam
yang dapat dimaanfaatkan sebagai obat keluarga. Selain itu kerjasama dengan instansi
terkait yaitu Ibu- ibu PKK dan masyarakat sekitar agar lebihmembuat program–program
kesehatan yang khususnya membahas tentang pentingnya kesehatan dan cinta terhadap
lingkungan (back to nature).

18
PENYULUHAN BAB
3

A. Latar Belakang
Indonesia hingga saat ini masih memiliki masalah dengan sanitasi, hasil penelitian yang
dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan millennium (MDG’s) padatahun 2010
menunjukkan bahwa akses sanitasi layak di wilayah perkotaan masih pada angka 69,51%.
Sedangkan capaian akses sanitasi layak di wilayah pedesaan hanya mencapai 33,96% (Bappenas,
2010). Masalah buruknya sanitasi tersebut cenderung terus meningkat setiap tahunnya sesuai
dengan pertumbuhan penduduk Indonesia.
Pemerintah pada dasarnya telah melaksanakan berbagai kebijakan untuk menangani
masalah buruknya sanitasi. Seperti melakukan kebijakan pembangunan sanitasi. Dan yang terjadi
di Kelurahan Tempurejo Kecamatan Pesantren memang sudah dilakukan beberapa pembangunan
sanitasi khususnya yang berada di dekat Posko KKN kami di Lingkungan Kwangkalan. Sudah
terdapat MCK umum yang berada di dekat lapangan Tempurejo Lingkungan Kwangkalan.
Namun, hanya terdapat 2 MCK umum dan yang biasanya digunakan hanya 1. Karena yang
satunya lagi digunakan untuk penjaga MCK sebagai kamar mencuci laundyan. Sehingga tidak
dapat digunakan secara maksimal.
Dan berdasarkan data yang kami peroleh dari Puskesmas Ngletih dimana dari jumlah
2879 KK terdapat 251 KK yang masih BABS (Buang Air Besar Sembarangan) yaitu sebesar
8,7%. Hal ini menunjukkan kurangnya MCK umum yang di bangun dan tidak mencakup seluruh
warga yang khususnya belum memiliki jamban. Serta lingkup geografis Kelurahan Tempurejo
yang dekat dengan sungai atau kali dalam istilah bahasa jawa juga mendukung masyarakat untuk
BAB di sungai.

B. RumusanMasalah
Bagaimana program yang dapat dilakukan untuk mengubah kesadaran masyarakat
untuk BAB di jamban?
C. Tujuan
1. TujuanUmum

19
Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang manfaat BAB
di jamban.
2. TujuanKhusus
a. Untuk meningkatkan kebersihan lingkungan
b. Untuk mencegah pencemaran sumber air di lingkungan sekitar
c. Untuk mencegah datangnya vektor penular penyakit
d. Untuk merubah perilaku masyarakat dari BAB di sungai kejamban
e. Untuk menurunkan angka kesakitan khususnya penyakit diare

D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Manfaat bagi mahasiswa yaitu agar dapat mempraktikkan ilmu yang telah
di peroleh selama di bangku kuliah agar dapat diterapkan di masyarakat.
2. Bagi Tempat Pelaksaanan Program
Manfaat bagi tempat pelaksanaan program yaitu agar masyarakat sekitar
dapat menerapkan ilmu yang telah diberikan agar beralih dari BAB di sungai
kejamban.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Manfaat bagi instansi pendidikan yaitu agar dapat menambah dan menjalin
kerja sama dengan instansi lain yang dijadikan mahasiswa untuk KKN (Kuliah
Kerja Nyata).
E. Nama Program
Penyuluhan Manfaat BAB di Jamban.
F. Tema Kegiatan
Cara Mencegah Pencemaran Lingkungan di Sekitar Sungai.
G. Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 8 September 2015, dengan jadwal pelaksanaan
sebagai berikut:
Pukul 07.45 – 08.00 WIB : Pembukaan
Pukul 08.00 – 09.00 WIB : Pemeriksaan BB, TB dan tekanan darah

20
Pukul 09.00 – 09.30 WIB : Penyuluhan Manfaat BAB di Jamban
Pukul 09.30 – 10.00 WIB : Pembukaan sesi tanya jawab
Pukul 10.00 – 10.15 WIB : Pemeriksaan gula darah, dan asamurat
Pukul 10.15 – 10.30 WIB : Penutup
H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Waktu
Dilaksanakan hari Selasa, 8 September 2015 pada pukul 09.00 – 10.00 WIB.

2. Tempat Pelaksanaan
Program dilaksanakan di Rumah Bu Yana RW.01, Lingkungan Kresek,
Kelurahan Tempurejo.
I. Sasaran Program
Sasaran program adalah dewasa – lansia baik laki – laki maupun perempuan
dengan rentang umur 40 – 60 tahun dengan jumlah 30 orang.
J. Media yang digunakan
Media yang digunakan adalah poster. Poster ini berisi alasan mengapa harus
BAB di jamban. Selain itu juga berisi beberapa penyakit – penyakit yang dapat
ditimbulkan jika BAB di sungai. Tujuan media disini yaitu agar masyarakat
menyadari akan manfaat BAB di jamban.
K. Hasil Kegiatan
Warga yang datang dengan antusias, namun sebagian ada yang mendengarkan
waktu penyuluhan dan sebagian juga ada yang tidak mendengarkan karena repot
dengan cucu yang mereka bawake Posbindu.
L. Indikator Keberhasilan Program
a. 75% bapak – bapak dan ibu – ibu datang ke Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu).
b. 50% bapak – bapak dan ibu – ibu aktif dalam mengikuti penyuluhan seperti aktif
bertanya saat sesi tanyajawab.
M. Hambatan
a. Sulitnya mencari waktu yang tepat untuk mengumpulkan para warga dalam
melaksanakan penyuluhan.

21
b. Banyak bapak – bapak dan ibu – ibu yang repot dengan cucu yang di bawa ke
Posbindu sehingga kurang memperhatikan saat penyuluhan berlangsung.
N. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa program yang dibuat dari latarbelakang masalah yang
ada yaitu Penyuluhan Manfaat BAB di Jamban. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal
8 September 2015, pada pukul 09.00 – 10.00 WIB. Program dilaksanakan di Rumah
Bu Yana RW.01, Lingkungan Kresek, Kelurahan Tempurejo dimana kami
melaksanakan program ini masuk kedalam kegiatan Posbindu (Pos Pembinaan
Terpadu). Sasaran program adalah dewasa – lansia baik laki – laki maupun
perempuan dengan rentang umur 40 – 60 tahun dengan jumlah 30 orang. Dengan
media yang digunakan adalah poster.

O. Saran
Saran yang dapat diberikan khususnya kepada Pemerintah setempat yaitu
agar lebih menambah sarana sanitasi di Kelurahan Tempurejo. Selain itu kerja sama
dengan instansi terkait yaitu Puskesmas Inti Puskesmas Ngletih dan Puskesmas
Pembantu (Pustu) di Kwangkalan agar lebih membuat program – program kesehatan
yang khususnya membahas tentang perilaku masyarakat yang masih BAB di
sungai. Tujuannya agar masyarakat memiliki kesadaran yang baik akan pentingnya
BAB di jamban.

22
PROGRAM SMD
4

A. Latar Belakang
Survei mawas diri (SMD) adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan, dan pengkajian
masalah kesehatan oleh tokoh masyarakat dan kader setempat dibawah bimbingan petugas
kesehatan (Depkes RI, 2007). Tujuan survei mawas diri adalah masyarakat lebih mengenal
kesehatan yang ada di desadan menimbulkan minat atau kesadaran untuk mengetahui masalah
kesehatan dan pentingnya permasalahan tersebut untuk di atasi. Pentingnya pelaksanaan
survei mawas diri agar masyarakat menjadi sadar akan adanya masalah, karena mereka
sendiri yang melakukan pengumpulan fakta dan data, untuk mengetahui besarnya masalah
yang ada dilingkungannya sendiri, dan untuk menggali sumberdaya yang ada / dimiliki desa.
Hasil SMD dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun pemecahan masalah yang
dihadapi dimasyarakat. SMD disini merupakan program dari Puskesmas Ngletih dan kami
dari tim KKN Tempurejo bersedia membantu dalam melaksanakan program dari Puskesmas
tersebut.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana program SMD tersebut berjalan di lapangan?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengumpulkan data, masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengkaji dan menganalisis masalah kesehatan, lingkungan, dan perilaku.
b. Untuk menginventarisasi sumberdaya masyarakat yang dapat mendukung upaya
mengatasi masalah kesehatan.
c. Untuk memperoleh dukungan kepala desa/kelurahan dan pemuka masyarakat dalam
pelaksanaan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat.
D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa

23
Manfaat bagi mahasiswa yaitu agar dapat mempraktikkan ilmu yang telah di
peroleh selama di bangku kuliah agar dapat diterapkan di masyarakat.
2. Bagi Tempat Pelaksaanan Program
Manfaat bagi tempat pelaksanaan program yaitu agar masyarakat dapat menyadari
akan adanya masalah yang ada di lingkungan sekitarnya.

3. Bagi Instansi Pendidikan


Manfaat bagi instansi pendidikan yaitu agar dapat menambah dan menjalin
kerjasama dengan instansi lain yang dijadikan mahasiswa untuk KKN (Kuliah Kerja
Nyata).
E. Nama Program
Survei Mawas Diri (SMD).
F. Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 11 - 12 September 2015, dengan jadwal
pelaksanaan sebagai berikut:
1. Jadwal hari jum’at tanggal 11 September 2015
Pukul 09.00 – 12.00 WIB : Ijin kader dan door to door kerumah warga
Pukul 12.00 – 16.00 WIB : Istirahat
Pukul 16.00 – 19.30 WIB : Door to door kerumah warga
Pukul 19.30 – 19.45 WIB : Ijin pulang ke kader
2. Jadwal hari sabtu tanggal 12 September 2015
Pukul 09.00 – 12.00 WIB : Door to door kerumah warga
Pukul 12.00 – 14.00 WIB : Pengecekan data bersama kader
Pukul 14.00 – 14.15 WIB : Ijin pulang ke kader
G. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Waktu
Dilaksanakan pada hari Jum’at – Sabtu tanggal 11 – 12 September 2015.
2. Tempat Pelaksanaan
Program dilaksanakan di RT. 7 dan 8, RW. 3 Lingkungan Kresek, Kelurahan
Tempurejo.

24
H. Sasaran Program
Sasaran program adalah 200 KK di RT. 7 dan 8, RW. 3 Lingkungan Kresek, Kelurahan
Tempurejo.
I. Media yang digunakan
Tidak menggunakan media apapun. Hanya menggunakan lembar kuesioner SMD yang
diberikan oleh Puskesmas Ngletih yang terdiri dari data umum, data lingkungan, data ibu
hamil, dan data balita.
J. Hasil Kegiatan
Warga yang mengikuti kegiatan SMD memenuhi target Puskesmas yaitu sebanyak
200 KK. Namun, sebagian masyarakat masih ada yang asing dengan kedatangan kami,
karena kami masih pertama kalinya kelingkungan tersebut. Dan sebagian juga masih banyak
yang tidak ada di rumah karena bekerja dan ada juga masih keluar kota sehingga sulit di
temui dan tidak ada di rumah.
K. Indikator Keberhasilan Program
1. 100% KK yang ada di RT. 7 dan 8 mengikuti SMD
2. 75% warga antusias dalam pelaksanaan program seperti jika di wawancarai selalu
terbuka, dan lain sebagainya.
L. Hambatan
1. Masih banyak warga yang asing dengan SMD, sehingga sebelum kami masuk kerumah
warga kami harus menjelaskan secara rinci apa maksud kedatangan kami kerumah
warga.
2. Waktu deadline yang di tentukan pihak Puskesmas mengharuskan kami harus mengebut
door to door kerumah warga, padahal selain program Puskesmas ini kami masih
memiliki jadwal program lain yang berbenturan dengan berlangsungnya program ini.
Sehingga kami harus pintar – pintar mengatur jadwal kami.
3. Masih banyak warga yang tertutup dalam arti masih banyak warga yang mengira kami
adalah sales dan lain sebagainya.
M. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa program SMD ini lumayan berjalan lancar dengan
terpenuhinya target KK yang telah ditentukan oleh pihak Puskesmas. Dimana sasaran KK

25
yaitu sebanyak 200 KK sudah tercapai di RT. 7 dan RT. 8 di RW. 3 Lingkungan Kresek,
Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
N. Saran
Saran yang dapat diberikan khususnya kepada Pihak Puskesmas, agar deadline yang
ditentukan jangan terlalu mepet karena juga berbenturan dengan jadwal program dari kami
sendiri. Selain itu, para kader hendaknya lebih membantu kami dalam melaksanakan SMD.
Karena kami sendiri pada awal pertamanya sempat kebingungan dimana saja batas bagian RT.
7 dan RT. 8.

26
PEMBERIAN OBAT CACING
5
A. Latar Belakang
Cacingan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia.
Prevalensi penyakit cacingan berkisar 60 % - 90 % tergantung lokasi, higine, sanitasi pribadi
dan lingkungan penderita. Tingginya prevalensi ini disebabkan oleh iklim tropis dan
kelembaban udara yang tinggi di Indonesia selain sanitasi dan higine yang rendah sehingga
menjadi lingkungan yang baik untuk perkembangan cacing.
Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk),
Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (cacing tambang) merupakan beberapa dari
Soil Transmitted Helminths (STH) yang sering dijumpai pada penderita. Penularan infeksi
cacing yang tergolong STH umumnya terjadi melalui cara tertelan telur infeksius atau larva
menembus kulit seperti cacing tambang disebut sebagai STH karena bentuk infektif cacing
tersebut berada di tanah.
Infeksi cacing usus merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
penurunan kualitas sumber daya manusia, dalam hal ini, akan menghambat pertumbuhan
fisik,perkembangan, dan kecerdasan bagi anak yang terinfeksi.
Penggunaan antihelmintik atau obat anti cacing perlu untuk memberantas dan
mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Sebagian besar antihelmintik
efektif terhadap satu macam jenis cacing, sehingga diperlukan diagnosis yang tepat sebelum
menggunakan obat tertentu. Seharusnya pemberian antihelmintik haruslah mengikut indikasi-
indikasi tertentu, untuk mengobati cacingan, banyak obat anti cacing diberikan pada anak
bertujuan untuk mengeluarkan cacing segera bersama tinja hanya dalam dosis sekali minum.
Obat anti-cacing yang dipilih harus diperhatikan benar karena tidak semuanya cocok pada
anak.
Pemberian obat anti cacing tanpa dasar justru akan merugikan anak yang mana akan
memperberat kerja hati. Diagnosis harus dilakukan dengan menemukan telur atau larva
dalam tinja, urin, sputum dan darah atau keluarnya cacing dewasa melalui anus,mulut atau
lainnya.

27
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara meningkatan kesehatan para balita dari penyakit infeksi cacing di
Kelurahan Tempurejo Kecamatan Pesantren Kota Kediri
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk meningkatan kesehatan para balita dari penyakit infeksi cacing di Kelurahan
Tempurejo Kecamatan Pesantren Kota Kediri
b. Tujuan Khusus
a. Untuk mencegah para balita dari penyakit yang disebabkan oleh cacing.
b. Meningkatkan status gizi para balita.

D. Manfaat
Pemberian obat cacing ini bermanfaat untuk kesehatan para balita yang berusia 1 – 5
Tahun agar terhindar dari infeksi cacing dan untuk penderita infeksi cacing agar sembuh
dari infeksi tersebut.

E. Nama Program : Pemberian Obat Cacing


F. Tema Kegiatan : Meningkatkan Kesehatan Balita dari Penyakit Infeksi
Cacingan
G. Jadwal Pelaksanaan : 3 September 2015
H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
i. Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
ii. Tempat Pelaksanaan : Posyandu RW 04 kelurahan tempurejo

I. Sasaran Program : Balita 1 - 5 Tahun


J. Media yang digunakan : Sendok Stainless dan Air
K. Indikator Keberhasilan Program : Berhasilnya para Balita meminum obat cacing
L. Hambatan : Hambatan pada kegiatan ini adalah ketika para balita tidak mau
meminum obat sehingga pihak kkn membujuk agar obat cacing tersebut tetap bisa
masuk ke dalam tubuh para balita.

28
M. Kesimpulan

Program pemberian obat cacing Albendazol 400mg berhasil dilakukan pada kegiatan
Posyandu Balita di RW 4 Lingkungan Kresek Kelurahan Tempurejo Kecamatan Pesantren
Kota Kediri dimana terdapat 30 Balita yang telah diberikan obat cacing Albendazol.

N. Saran

Saran untuk Program ini diharapkan agar pihak Posyandu dapat memenuhi sarana
stamper dan mortir untuk penggerusan obat pada pemberian obat cacing supaya penggerusan
tidak dilakukan di antara 2 sendok.

29
SENAM LANSIA
6
A. Latar Belakang
Lansia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang
semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Jumlah
lansia meningkat di seluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2%
dari seluruh penduduk dengan usia harapan hidup 64,05 tahun. Tahun 2006 usia harapan
hidup meningkat menjadi 66,2 tahun dan jumlah lansia menjadi 19 juta orang, dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4%. Hal ini menunjukkan
bahwa jumlah lansia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu.
Semakin tingginya usia harapan hidup, maka semakin tinggi pula faktor resiko
terjadinya berbagai masalah kesehatan. Masalah umum yang dialami para lansia adalah
rentannya kondisi fisik para lansia terhadap berbagai penyakit karena berkurangnya daya
tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar serta menurunnya efisiensi mekanisme
home ostatis, oleh karena hal tersebut lansia mudah terserang berbagai penyakit.
Menurut Jubaidi (2008) ada beberapa perubahan fisik pada lansia yang dapat menjadi
suatu kondisi lansia terserang penyakit, seperti perubahan kardiovaskuler yaitu menurunnya
elastisitas pembuluh darah, perubahan pada respirasi yaitu menurunnya kekuatan otot-otot
pernafasan, serta perubahan pada pendengaran dan perubahan pada penglihatan. Terdapat
beberapa macam penyakit yang biasa menimpa para lansia antara lain hipertensi, diabetes
mellitus, jatung koroner, stroke, katarak, dan lain sebagainya.
Macam-macam masalah kesehatan tersebut yang sering menimpa lansia yaitu
hipertensi yang bisa menjadi kaitan dari berbagai masalah kardiovaskuler lainnya yang lebih
gawat. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2 penderita hipertensi pada
tahun 1992 yaitu sebanyak 16% dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 26,4%. Hal ini
menunjukkan prevalensi angka keja dan hipertensi semakin meningkat. Sekitar 80 - 90%
hipertensi tidak diketahui penyebabnya.
Olahraga sangat berperan dalam meningkatkan kesehatan jasmani, diantara manfaat
dari olahraga adalah melancarkan sirkulasi darah, memperkuat otot, mencegah pengroposan
tulang, menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol jahat, dan menaikkan kolesterol

30
baik. Olahraga juga bermanfaat untuk membakar kalori, meningkatkan keseimbangan dan
koordinasi otot, meningkatkan kekebalan tubuh. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa
latihan dan olah raga pada usia lanjut dapat mencegah atau melambatkan kehilangan
fungsional tersebut, bahkan latihan yang teratur dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas
yang diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler. Penelitian yang telah dilakukan di Jepang
memberikan salah satu bukti bahwa olahraga yang teratur sangat efektif untuk menurunkan
tekanan darah (Williams & Wilkins, 2001).
Latihan atau olah raga pada usia lanjut harus disesuaikan secara individual untuk
tujuan yang khusus dapat diberikan pada jenis dan intensitas latihan tertentu. Latihan
menahan beban yang intensif, misalnya dengan berjalan merupakan cara yang paling
aman, murah, dan mudah serta sangat bermanfaat bagi sebagian besar usia lanjut. Salah satu
olahraga yang aman dan dapat menurunkan perubahan fisik pada lansia adalah senam.
Aktivitas fisik seperti senam pada usia lanjut yang dilakukan secara rutin akan
meningkatkan kebugaran fisik, sehingga secara tidak langsung senam dapat meningkatkan
fungsi jantung dan menurunkan tekanan darah serta mengurangi resiko penumpukan lemak
pada dinding pembuluh darah sehingga akan menjaga elastisitasnya. Disisi lain akan melatih
otot jantung dalam berkontraksi sehingga kemampuan pemompaannya akan selalu terjaga.
B. Rumusan Masalah
Apakah senam lanjut usia dapat menjaga kesehatan dan kebugaran pada orang lanjut
usia.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mempertahankan derajat kesehatan lansia melalui senam lansia.
2. Tujuan Khusus
a. Mempertahankan dan mengkoordinasikan gerak, sehinga dapat mencegah
terjadinya kecelakaan/jatuh.
b. Melatih kekuatan otot
c. Memperdayakan usia lanjut
d. Meningkatkan daya tahan tubuh
e. Membantu mencegah terjadinya kekuatan otot persendian dan ligamentum.

31
D. Manfaat
i. Bagi Mahasiswa
Manfaat bagi mahasiswa yaitu dapat menyampaikan ilmu yang telah dipelajari
mengenai senam lansia dan dapat berpartisipasi langsung pada warga setempat.
ii. Bagi Tempat Pelaksaanan Program
Manfaat bagi tempat pelaksanaan program yaitu agar masyarakat sekitar khususnya
para lansia dapat memperoleh motivasi untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka
melalui senam lansia.
iii. Bagi Instansi Pendidikan
Manfaat bagi instansi pendidikan yaitu agar dapat menambah dan menjalin
kerjasama dengan instansi lain yang dijadikan mahasiswa untuk KKN (Kuliah Kerja
Nyata).
E. Nama Program
Senam Lansia (Lanjut Usia).
F. Tema Kegiatan
Menjaga kesehatan dan kebugaran para lanjut usia melalui senam Lansia.
G. Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9 dan 11 September 2015, dengan jadwal
pelaksanaan sebagai berikut:
Pukul 15.00 – 15.30 WIB : Persiapan
Pukul 15.30 – 15.55 WIB : Pembukaan Senam Lansia
Pukul16.00 – 17.20 WIB : Senam Lansia
Pukul17.20 – 17.30 WIB : Penutupan dan foto bareng dengan para lansia
H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Waktu
Dilaksanakan pada pukul 15.00 – 17.30 WIB.
2. Tempat Pelaksanaan
Program dilaksanakan di Lapangan Lingkungan Kwangkalan. Kelurahan Tempurejo,
Kecamatan Pesantren Kediri.
I. Sasaran Program

32
Sasaran program adalah para Lanjut Usia > 40 tahun. Dengan jumlah peserta +60
orang.

J. Media yang digunakan


Media yang digunakan adalah sound system dan vcd. Tujuan media tersebut adalah
sebagai penunjang dilakukannya senam lansia serta pemberian sedikit pembukaan pada
warga sekitar.
K. Indikator Keberhasilan Program
90% warga lanjut usia di Kelurahan Tempurejo ikut berpartisipasi dalam mengikuti
senam lanjut usia.
L. Hambatan
1. Sulitnya mencari waktu yang tepat untuk mengumpulkan para warga dalam
melaksanakan senam lansia.
2. Banyak para lansia yang datang terlambat saat berjalannya acara tersebut.
M. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa senam lanjut usia yang diberikan untuk para lansia di
Kelurahan Tempurejo dapat memberikan manfaat pada warga sekitar. Terutama dalam
menjaga kesehatan dan kebugaran para lansia. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9 dan 11
September 2015, pada pukul 15.00-17.30 WIB. Program dilaksanakan di Lapangan
Lingkungan Kwangkalan. Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren Kediri. Dengan
sasaran pada senam lansia yaitu para Lanjut Usia di Kelurahan Tempurejo Kediri, dengan
jumlah + 60 orang.
N. Saran
Saran yang dapat diberikan khususnya kepada Pemerintah setempat yaitu agar dapat
memberikan perhatian yang lebih pada masyarakat, khususnya para Lanjut Usia. Untuk
memberikan sarana dan prasarana yang memadai guna memfasilitasi para lansia untuk
menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh mereka.

33
PMT

A. Latar Belakang

Usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan
rawan terhadap kekurangan gizi. Selain balita, ibu hamil juga merupakan kelompok yang rawan
terhadap kekurangan gizi. Gizi kurang pada ibu hamil akan mempengaruhi proses tumbuh
kembang janin yang berisiko kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR). Hasil Riskesdas 2010
menunjukkan prevalensi BBLR sebesar 11,1%, balita gizi kurang sebesar 17,9% dan balita
pendek sebesar 35,6%. Angka prevalensi risiko KEK pada Wanita Usia Subur (WUS) di
Indonesia sebesar 13,6 % (Riskesdas, 2007).

Selama tahun 2015 Kementerian Kesehatan intensif mengirim makanan pendamping air
susu ibu (MP-ASI), pemberian makanan tambahan ibu hamil (PMT-Bumil), dan pemberian
makanan tambahan anak sekolah (PMT-ASI) di beberapa daerah di Indonesia. Makanan
pendamping ini dikirimkan baik di tingkat provinsi maupun langsung ke Kabupaten. MP-ASI
dan PMT Bumil dilakukan untuk mengantisipasi masalah gizi, sementara PMT-AS lebih
mengarah kepada memperkenalkan atau membiasakan sarapan sebelum anak-anak beraktifitas di
sekolah. Masyarakat dapat berpartisipasi dalam mencegah terjadinya gizi buruk. Ini dilakukan
dengan aktif pemantauan pertumbuhan anak dimulai dari Posyandu. Jika berat badan bayi/anak
tidak naik 2 kali berturut-turut, maka anak tersebut dapat segera dirujuk ke Puskesmas untuk
divalidasi apakah memerlukan perawatan lebih lanjut. (Kementerian Kesehatan RI, 2015).

Pemberian Makanan Tambahan merupakan salah satu upaya dalam mengatasi masalah
gizi kurang dan buruk. PMT bertujuan memulihkan keadaan gizi balita gizi kurang dan buruk
dengan cara memberikan makanan dengan kandungan gizi yang terukur agar kebutuhan gizi
dapat terpenuhi. Salah satu pemberian makanan tambahan pemulihan yaitu dengan memberikan
formula 100 dan PMT Pemulihan lain (Fitriyanti, 2012).

Untuk memperoleh pemahaman yang sama dalam melaksanakan kegiatan dimaksud,


maka dilaksanakan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita .

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pelaksanaan program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan untuk balita


gizi buruk di Kelurahan Tempurejo ?

34
C.. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui peningkatan status gizi dan morbiditas balita KEP berdasarkan tipe
pemberian makanan tambahan pemulihan di wilayah Posyandu Kelurahan
Tempurejo.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menganalisa pendampingan program PMT Pemulihan untuk balita gizi


buruk di Kelurahan Tempurejo

b. Untuk memberikan informasi tentang penyelenggaraan PMT Pemulihan


berbasis bahan makanan lokal bagi balita gizi kurang 6 – 59 bulan di
Kelurahan Tempurejo.

D. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

Sebagai bahan tambahan referensi penelitian tentang peningkatan status gizi dan
morbiditas balita KEP dari tipe pemberian makanan tambahan pemulihan.

2. Bagi Tempat Pelaksanaan Program

a. Memberikan gambaran dan informasi tentang peningkatan status gizi


berdasarkan BB/U, BB/TB, IMT/U dan morbiditas balita
KEPberdasarkan tipe pemberian makanan tambahan.

b. Sebagai masukan bagi penentu kebijakan program penanggulangangizi


kurang dan gizi buruk di Posyandu Kelurahan Tempurejo.

3. Bagi Instansi Pendidikan

Sebagai bahan ilmiah bagi peneliti lain dan untuk menambah perbendaharaan
ilmu terhadap penyusunan dan pengelolaan program kesehatan.

E. Nama Program

Pemberian Makanan Tambahan pada Balita usia 6 – 59 bulan

F. Jadwal Pelaksanaan

35
Hari/ Tanggal : Kamis / 03 September 2015

G. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

1. Waktu : 08.00 – 12.00

2. Tempat Pelaksanaan : Posyandu Kelurahan Tempurejo

H. Sasaran Program

Balita usia 6 – 59 bulan

J. Indikator Keberhasilan Program

Pemberian makanan tambahan bagi balita saat pelaksanaan posyandu berjalan


dengan baik dan lancar. Balita sangat menyukai makanan yang diberikan saat pemberian
makanan tambahan

K. Hambatan

Hambatan untuk pemberian makanan tambahan tidak ada , namun dalam


pembuatan makanan tambahan seperti kacang hijau harus disiapkan dulu karena
memerlukan waktu yang lama, dan tempat peletakkan makanan harus bersih tidak
disembarangan tempat

L. Kesimpulan

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sangat diperlukan bagi balita karena dapat
menunjang gizi. PMT bertujuan memulihkan keadaan gizi balita gizi kurang dan buruk
dengan cara memberikan makanan dengan kandungan gizi yang terukur agar kebutuhan gizi
dapat terpenuhi. Contoh pemberian makanan tambahan untuk balita misalnya biskuit,
puding, buah-buahan, dan minuman yang terbuat dari kandungan kedelai.

M. Saran
Disediakan tempat yang bersih untuk pada saat peletakkan makanan

36
PHBS CUCI TANGAN

A. Latar Belakang
Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan perilaku sehat yang telah terbukti secara
ilmiah dapat mencegah penyebaran penyakit menular seperti diare, Infekai Saluran Pernafasan
Atas (ISPA) dan flu burung, bahkan disarankan untuk mencegah penularan influenza. Banyak
pihak yang telah memperkenalkan perilaku ini sebagai intervensi kesehatan yang sangat mudah,
sederhana dan dapat dilakukan oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Berbagai survey di
lapangan menunjukkan menurunnya angka ketidakhadiran anak karena sakit yang disebabkan
oleh penyakit-penyakit tersebut di atas, setelah diintervensi dengan CTPS. (Panduan CTPS
DepKes RI,2009)
Namun demikian, pentingnya perilaku sehat cuci tangan pakai sabun (CTPS) untuk
mencegah penyakit-penyakit menular masih belum dipahami masyarakat secara luas dan
praktiknya pun masih belum banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Riset kesehatan
dasar menunjukkan bahwa ISPA dan diare masih ditemukan dengan persentase tertinggi pada
anak usia dibawah lima tahun masing-masing 43% dan 16%. Demikian pula perilaku CTPS yang
tidak benar masih tinggi ditemukan pada anak usia 10 tahun ke bawah. Karena anak pada usia-
usia tersebut sangat aktif dan rentan terhadap penyakit, maka dibutuhkan kesadaran dari mereka
bahwa pentingnya perilaku sehat cuci tangan pakai sabun diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. (Panduan CTPS DepKes RI, 2008)
Penelitian pada siswa SDN Keburuhan Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo
menemukan bahwa ada hubungan antara kebiasaan cuci tangan dengan kejadian infeksi cacing
(Wisnungsih,2004). Penelitian selanjutnya menemukan bahwa ada perbedaan kejadian infeksi
cacing usus pada anak sekolah dasar di desa tertinggal dan non tertinggal Kecamatan Tasikmadu
Kabupaten Karanganyar dan menunjukkan bahwa ada hubungan antara mencuci tangan sebelum
makan terhadap kejadian infeksi cacing (Widyaningsih,2004).
Pada tanggal 15 Oktober 2009 melanjutkan kesuksesan perayaan Hari Cuci Tangan Pakai
Sabun Sedunia (HCTPSS) tahun sebelumnya yang melibatkan 70 negara dan 120 anak di seluruh

37
dunia, maka pelaksanaan di tahun kedua ini bertujuan untuk meningkatkan praktik CTPS di
lingkungan sekolah. (Panduan CTPS DepKes RI, 2009).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan
pertanyaan sebagai berikut :

Bagaimana perbedaan perilaku cuci tangan antara anak SD dengan anak TK?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini memiliki tujuan umum untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan
dan perilaku sehat cuci tangan antara anak SD dengan anak TK.
2. Tujuan Umum
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan khusus antara lain :

1. Mengetahui pengetahuan anak tentang cuci tangan.

2. Mengetahui perilaku anak terhadap cuci tangan.

3. Mengetahui fasilitas cuci tangan yang dimiliki oleh sekolah-sekolah.

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk bidang-
bidang sebagai berikut :
a. Bidang akademik
Penelitian ini dapat menjadi suatu pendahuluan dan bahan rujukan bila

ada topik serupa yang ingin diteliti peneliti lainnya.

b. Bidang pelayanan kesehatan masyarakat


Penelitian ini dapat menjadi pedoman bagi pelayanan kesehatan masyarakat untuk
terus memberikan pengajaran perilaku sehat cuci tangan pada masyarakat khususnya anak-
anak dan menyediakan fasilitas untuk mendukung program tersebut.

38
c. Bidang Pemerintahan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah mengenai apakah
program mereka sudah terlaksana dengan baik atau tidak.

E. Nama Progam : PHBS Cuci Tangan


F. Jadwal Pelaksana : Tanggal 4 – 5 September 2015
G. Waktu dan Tempat Pelaksanaan :
1. Waktu : Jam O8.00 – selesai
2. Tempat Pelaksanaan : di SDN TEMPUREJO 1 Dan TK DHARMAWANITA
TEMPUREJO 1
H. Sasaraan Program : semua murid kelas 1-6 SDN TEMPUREJO 1 dan TK
A1,2,3 dan B1,2 DHARMAWANITA TEMPUREJO 1
I. Media yang di gunakan : sabun cair dan handsanitizer
J. Hambatan :
a. Sulit diaturnya anak-anak saat kegiatan
b. Minimnya wastafell
K. Indikator keberhasulan program :
a. Membuat anak-anak semangat cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
b. 75% anak-anak mengikuti kegiatan PHBS cuci tangan.
c. 50% anak-anak aktif mengikuti kegiatan.

L. Kegiatan yang dilaksanakan pada penyuluhan PHBS cuci tangan dapat disimpulkan bahwa
kegiatan ini berhasil. Penyuluhan PHBS cuci tangan pada sasaran anak-anak PAUD, SD, dan
TK diharapkan mampu memberikan edukasi pentingnya hidup sehat sejak dini.
M. Saran

Penyuluhan PHBS cuci tangan ini sebaiknya bisa dilakukan secara rutin. Seharunya
dilakukan di tempat yang sarana dan prasarananya mendukung.

39
DHE

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, sehat secara jasmani
dan rohani. Tidak terkecuali anak-anak, setiap orang tua menginginkan anaknya bisa tumbuh dan
berkembang secara optimal, hal ini dapat dicapai jika tubuh mereka sehat. Kesehatan yang perlu
diperhatikan selain kesehatan tubuh secara umum, juga kesehatan gigi dan mulut, karena
kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dengan kata
lain bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara
keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh secara urnum.

Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Usia
sekolah dasar merupakan saat yang ideal untuk melatih kemampuan motorik seorang anak,
termasuk di antaranya menyikat gigi. Kemampuan menyikat gigi secara baik dan benar
merupakan faktor yang cukup penting untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
Keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh faktor penggunaan
alat, metode penyikatan gigi, serta frekuensi dan waktu penyikatan yang tepat.

Pendidikan cara-cara penyikatan gigi bagi anak-anak perlu diberikan contoh suatu model
yang baik serta dengan teknik yang sesederhana mungkin. Penyampaian pendidikan kesehatan
gigi dan mulut pada anak-anak harus dibuat semenarik mungkin, antara lain melalui penyuluhan
yang atraktif tanpa mengurangi isi pendidikan, demonstrasi secara langsung, program audio
visual, atau melalui sikat gigi massal yang terkontrol.

Perawatan gigi dan mulut sejak usia dini sangat menentukan kesehatan gigi dan mulut
sampai akhir hayat. Beberapa penyakit gigi dan mulut bisa dialami oleh anak-anak dan balita bila
perawatan tidak dilakukan dengan baik, misalnya lubang pada permukaan gigi, gusi yang
meradang, dan adanya sariawan.

40
Kerusakan gigi yang umumnya terjadi pada usia dini (anak-anak dan balita) biasanya
karena faktor makanan/minuman. Makanan yang manis seperti coklat dan lengket seperti dodol
kalau tidak segera disikat/kumur akan tertinggal dan menyebabkan kerusakan gigi. Juga
minuman seperti teh, kopi, minuman ringan, serta rokok dapat menimbulkan lapisan tipis di gigi
yang disebut stain sehingga warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar
itu mudah ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak
dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi dan bisa merambat ke akar gigi. Akibatnya
gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal.

Mulut merupakan suatu tempat yang ideal bagi perkembangan bakteri. Bila tidak
dibersihkan dengan sempurna, sisa makanan yang terselip bersama bakteri akan tetap melekat
pada gigi dan bertambah banyak membentuk koloni yang disebut plak. Plak atau debris
dipermukaan gigi dapat dipakai sebagai indikator kebersihan mulut. Plak merupakan lapisan
tipis, tidak berwarna, mengandung bakteri, melekat pada permukaan gigi dan selalu terbentuk
dalam mulut dan akan membentu asam. Asam ini akan berada dalam mulut untuk jangka waktu
yang lama, karena gula hasil fermentasi membuat plak menjadi lebih melekat. Asam akan
menyerang jaringan gigi yang terluar, yaitu enamel.. Jika tidak disingkirkan dengan melakukan
penyikatan gigi, asam tersebut akhirnya akan menghancurkan email gigi dan akhirnya
menyebabkan gigi berlubang (karies). Plak selain merupakan penyebab utama karies juga dapat
menyebabkan terjadinya penyakit periodontal.

B. Rumusan Masalah

Apakah masyarakat desa Tempurejo telah menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan
Sehat) dan cara membersihkan gigi dengan baik dan benar

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Memberikan informasi dan penyluhan tentang pola hidup bersih dan sehat serta
menerapkan cara membersihkan gigi dengan baik dan benar

2. Tujuan Khusus

41
a. Merealisasikan tentang pola hidup bersih dan sehat serta cara menyikat gigi
dengan baik dan benar
b. Memotivasi masyarakat supaya merubah pola hidup menjadi lebih sehat

D..Manfaat

Setelah dilakukannya penyuluhan diharapkan masyarakat Tempurejo dapat merubah pola


hidup menjadi lebih sehat dan menerapkan cara membersihkan gigi dengan baik dan benar.

E. Nama program : PHBS dan DHE

F. Jadwal pelaksanaan : 04 september 2015 dan 05 september 2015

G. Waktu dan tempat pelaksanaan

1. Waktu : 07.00-09.00

2. Tempat : TK DHARMA WANITA I dan SDN TEMPUREJO1

H. Sasaran program : Siswa dan siswi TK DHARMA WANITA dan SDN


TEMPUREJO 1

I. Media penyluhan : POP UP, komik cara menyikat gigi, phantom dan
permainan ular tangga kedokteran gigi

J. Indikator keberhasilan : Melakukan praktik secara langsung

K..Hambatan : Karakter yang berbeda dari masing-masing anak dan


guru atau pengajar yang kurang kooperatif

L. Kesimpulan

PHBS adalah pola hidup bersih dan sehat. Masyarakat sering tidak mempedulikan
kebersihan kecil yang dapat menghambat berkembang biaknya kuman dalam tubuh, contoh
dengan melakukan cuci tangan dengan bersih dan sehat. Selain PHBS, masyarakat juga sangat
minim pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sehingga penyuluhan
juga di tambahkan dengan memberikan contoh dan penerapan langsung tentang DHE(Dental
Health Education).
42
M.Saran

Masyarakat harus lebih memperhatikan tentang PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat)
dengan cara mencuci tangan sebelum dan setelah makan, setelah dari kamar madi serta
melakukan pembersihan gigi dengan cara yang baik dan benar.

43
POSKO PEMERIKSAAN GRATIS

10

A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan merupakan salah satu hak mendasar masyarakat yang
penyediaannya wajib diselenggarakan oleh pemerintah sebagaimana telah diamanatkan
dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) “Setiap orang berhak hidup sejahtera
lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat
serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan” dan Pasal 34 ayat (3) “Negara bertanggung
jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang
layak”. Salah satu bentuk fasilitas pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang
diselenggarakan oleh pemerintah adalah puskesmas. Fasilitas pelayanan kesehatan ini
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat dalam membina peran serta
masyarakat juga memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat.
Dengan kata lain puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan
kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya. Pelayanan kesehatan yang diberikan
puskesmas adalah pelayanan kesehatan menyeluruh yang meliputi pelayanan: kuratif
(pengobatan), preventif (upaya pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan), dan
rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk,
tidak membedaan jenis kelamin dan golongan umur, sejak pembuahan dalam kandungan
sampai tutup usia. Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dibutuhkan
pembiayaaan kesehatan yang cukup guna memenuhi hak mendasar masyarakat tersebut.
Pembiayaan kesehatan di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pembiayaan yang berasal
dari masyarakat sedangkan pengeluaran pemerintah untuk kesehatan walaupun terus
mengalami peningkatan namun proporsinya masih berkisar 2,6–2,8% terhadap seluruh
APBN yang berkontribusi yaitu sebesar 38% dari total pembiayaan kesehatan (SKN,2009).
Masih tingginya pembiayaan kesehatan yang berasal dari masyarakat tentunya akan
menimbulkan beban pengeluaran rumah tangga bagi masyarakat apabila menderita penyakit
yang membutuhkan biaya yang besar dalam perawatannya, sementara berdasarkan data dari
Departemen Kesehatan RI tahun 2008, penduduk yang telah dicakup oleh jaminan
pemeliharaan kesehatan sekitar 46,5% dari keseluruhan penduduk yang sebagian besar
44
dananya berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin
sebesar 76,4 juta jiwa atau 34,2% (SKN,2009). Rendahnya pendanaan kesehatan dan
cakupan asuransi kesehatan sosial di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ketidak-tahuan dan
ketidak-pedulian pemerintah dalam melindungi penduduknya dari proses pemiskinan karena
mahalnya biaya kesehatan (Hasbullah Thabrany,2008).

B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana cara menjaga kesehatan atau pola hidup sehat yang baik dan benar ?
2) Bagaimana cara menjaga kebersihan gigi dan mulut ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum :

Untuk memberikan informasi tentang seputar kesehatan, agar masyarakat dapat


mengerti tentang pentingnya pola hidup sehat serta kebersihan gigi dan mulut
yang baik untuk diterapkan di kehidupan masyarakat sehari-hari.

2. Tujuan Khusus :

a. untuk membantu masyarakat mengetahui kesehatan berdasarkan keluhan dan


tingkat kebersihan gigi dan mulut.
b. untuk membantu memberikan informasi tentang cara hidup sehat.
D.Manfaat
1. Dengan adanya pemeriksaan gratis ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara
teoritis pada masyarakat tentang kesehatan.
2. Dengan kegiatan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa terhadap
masyarakat.
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk
meningkatkan kesehatan bagi masyarakat.
4. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan
mulut.

45
E. Nama Program : Pemeriksaan Gratis (Gula Darah, Asam Urat, Cholesterol, Gigi
dan Mulut)

F. Tema kegiatan : Kesehatan Masyarakat

G. Jadwal Pelaksanaan : 10- 11 September 2015

H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

2.4.1 Waktu : Mulai pukul 10:00-16:00 WIB

2.4.2 Tempat : Posko

I. Sasaran Program : Warga Kelurahan Tempurejo

J. Media yang digunakan :-

K. Indikator Keberhasilan Program

- Pasien yang datang periksa melebihi target >20orang

L. Hambatan

Tidak ada hambatan

M. Kesimpulan

Hasil kegiatan yang kami laksanakan dapat disimpulkan bahwa kesadaran


masyarakat tentang pentingnya kesehatan masih kurang.

N. Saran

Pasien diharapkan lebih memperhatikan pola makan yang dapat mempengaruhi


kadar Gula, Asam Urat dan Cholesterol dalam darah. Selain itu, disarankan
membersihkan gigi 2x sehari yaitu sesudah makan dan sebelum tidur.

46
TPA

11

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan
sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran
normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang
pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus
bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Pendidikan agama Islam sebagai suatu disiplin ilmu, mempunyai karakteristik dan tujuan
yang berbeda dari disiplin ilmu yang lain. Bahkan sangat mungkin berbeda sesuai dengan
orientasi dari masing-masing lembaga yang menyelenggarakannya. Maka dari itu, suatu
lembaga pendidikan diharapkan mampu untuk membawa peserta didik mencapai tujuan dari
pendidikan agama Islam itu sendiri, yaitu; menumbuhkan dan meningkatkan keimanan
peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta
pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus
berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai
suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber
daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang. Melalui reformasi
pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi
perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya
secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan.
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan
di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai
pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik,
sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar
menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri. Djamarah berpendapat bahwa
baik mengajar maupun mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga

47
profesional. Oleh sebab itu, tugas yang berat dari seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat
dilaksanakan oleh guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi.
Dari uraian di atas kami sebagai Mahasiswa KKN mempunyai harapan ingin
mengembangkan tugas sebagai tenaga pembantu Ustadz/Ustadzah yang membimbing anak-
anak TK A1, B1 & B2 di TPA kelurahan Tempurejo guna menimba ilmu dalam bidang
pendidikan agama Islam. Dengan demikian kita mampu bersosialisai dengan baik dengan
warga sekitar serta memberikan manfaat yang positif bagi Guru, Anak didik dan bagi kita
sebagai tenaga pembantu dari Tim KKN.

C. Rumusan Masalah
i. Bagaimana cara menulis tulisan Arab dan membaca Al-Quran dengan benar ?
ii. Bagaimana metode menghafal sholawat dan doa-doa sehari-hari yang efektif ?
iii. Bagaimana metode menghafal surat-surat pendek dan asmaul husna ?

D. Tujuan

1. Tujuan Umum: Membantu kegiatan belajar mengajar di TPA Desa Tempurejo

2. Tujuan Khusus :

- Membantu murid TPA dalam menulis tulisan Arab dengan benar dan membaca
Al-Quran sesuai dengan ilmu tajwid.
- Membantu murid TPA untuk menghafal bacaan solawat dan doa-doa sehari-hari
- Membantu murid TPA menghafal surat-surat pendek dan Asmaul Husna.
E.Manfaat
- Bagi Ustadz/Ustadzah : dengan adanya tenaga pembantu dari Tim KKN, dapat
meringankan tugas dalam membimbing anak didiknya untuk belajar.
- Bagi anak didik : mereka merasa lebih nyaman dan senang dalam proses belajar
karena mempunyai Guru sekaligus teman baru.
- Bagi Tim KKN : mampu menambah wawasan tentang dunia pendidikan Al-
QUR’AN dan mencetak pengalaman baru bisa berinteraksi dengan orang baru
48
F. Nama Program : Membantu Kegiatan Belajar di TPA

G. Tema kegiatan : Keagamaan

H. Jadwal Pelaksanaan : Tanggal 8,9,10 serta 16 & 17 September 2015

I. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

1. Waktu : Mulai pukul 14:30-16:15 WIB.

2. Tempat : TPA Desa Kwangkalan, Tempurejo.

J. Sasaran Program : Anak-anak kelas TK A, TK B1 & TK B2

K. Media yang digunakan : tidak ada

L. Indikator Keberhasilan Program :

- anak lebih bersemangat belajar menghafal dari hari biasanya

- anak lebih rajin masuk

- anak yang bandel lebih bisa diatur dengan tertib

M. Hambatan

- tidak ada.

N. Kesimpulan

Kegiatan yang dilaksanakan pada TPA dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini bisa
membantu Ustadz/Ustadzah dalam kegiatan belajar mengajar di TPA Desa Tempurejo sehingga
proses pembelajaran lebih efektif.

O. Saran

TPA Desa Tempurejo ini sebaiknya disediakan taman bermain supaya anak-anak yang
telah selesai mengaji dan beristirahat tidak mengganggu teman lain atau kelas lain yang sedang
belajar.

49
KERJA BAKTI

12

A. LatarBelakang
Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalahsuatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin
keadaan sehat dari manusia. Sedangkan menurut HAKLI(Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia) kesehatan lingkungan adalahsuatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yangdinamis antara manusia dan lingkungannya untuk
mendukung tercapainya kualitashidup manusia yang sehat dan bahagia.
Kerja bakti biasanya dikoordinir oleh ketua RT masing-masing. Tua muda, kaya
miskin, dan semua warga dengan segala latar belakang berkumpul untuk bersatu padu
membersihkan lingkungan mereka. Kerja bakti hendaknya dilakukan sebulan sekali atau
lebih bagus lagi sebulan dua kali. Dalam kerja bakti inilah semua warga berkumpul dan
bercengkrama layaknya sebuah keluarga. Kerja bakti juga menyatukan warga yang jarang
bertemu dan bersosialisasi. Suasana keakraban sangat terasa sekali dalam kerja bakti ini.
Kerja bakti hendaknya tetaplah dijaga sebagai tradisi yang dapat membangun
sekaligus menjaga tali persaudaraan antar warga. Kerja bakti juga menghapuskan
kesenjangan antara si kaya dan si miskin karena dalam kerja bakti semua bekerja sama rata
ibaratnya berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kerja bakti juga menyatukan dan
mempererat tali persaudaraan antar warga karena lewat bekerja bakti inilah warga belajar
bersosialisasi untuk mengenal dan menjaga lingkunganya.
Masalah kesehatan lingkungan yang sering dialami di kelurahan tanah baru adalah
pembuangan sampah, kotoran/tinja hewan, dan air bersih.Pembuangan sampah merupakan
masalah kesehatan lingkungan utama yangditemukan di Kelurahan Tempurejo, Pesantren,
Kediri. Hal ini dikarenakan tidak adanyatempat khusus pembuangan sampah, sehingga
sebagian besar warga membakar sampah disembarang tempat dan ada yang membuangnya
disungai.Tujuan pelaksanaan kegiatan ini selain untuk membersihkan daerah sekitar balai
desa
B. RumusanMasalah

50
Bagaimanacarameningkatankesehatandan kebersamaan warga
diKelurahanTempurejoKecamatanPesantren Kota Kediri

C. Tujuan
i. TujuanUmum
Untukmeningkatandan menumbuhkan sikap saling gotong royong dan bekerjasama untuk
membangun dan menjaga kesehatan desa.
ii.TujuanKhusus
a. Untukmencegahterjadinya kesenjangan sosial antar warga.
b. Meningkatkankebersamaan antar warga.

D. Manfaat
Programkerjabaktiantarwargamampumemberikansuatusikapgotongroyong,salingmen
ghormatidanbekerjasamadalamkegiatanmasyarakat.Kerjabaktitersebutmampumendekatkanm
ahasiswadenganmasyarakatsertamenumbuhkansikapyangbaikdarimahasiswayangnantinyaaka
nbersinggunganlangsungdenganmasyarakat.

E. Nama Program :Kerja bakti bersama warga Tempurejo


F. TemaKegiatan :Meningkatkandan membangun kebersamaan antar warga
danmahasiswa KKN
G. JadwalPelaksanaan : 3 September 2015
H. WaktudanTempatPelaksanaan
i. Waktu : 14.00 - selesei WIB
ii. TempatPelaksanaan : Lapangan kelurahantempurejo
I. Sasaran Program : Warga Kelurahan Tepurejo
J. Media yang digunakan : Cangkul, parang, sapu lidi
K. IndikatorKeberhasilan Program :Terbentuknya kebersamaan antara masyarakat dan
mahasiswa KKN
L. Hambatan : HambatanpadakegiataniniadalahketikaparaWARGAtidakdapat datang
keseluruhan, hanya beberapa warga saja.

51
M. Kesimpulan

Program kerja bakti antar warga mampu memberikan suatu sikap gotong royong,
saling menghormati dan bekerjasama dalam kegiatan masyarakat.Kerja bakti tersebut mampu
mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat serta menumbuhkan sikap yang baik dari
mahasiswa yang nantinya akan bersinggungan langsung dengan masyarakat.

N. Saran

Saran untuk Program inidiharapkanagar segenap warga kelurahan tempurejo mampu


dan bekerjasama untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan desa mereka.

52
BIMBEL

13

A. Latar Belakang
Bimbingan belajar merupakan tambahan pelajaran yang dilakukan untuk membantu
pelajaran-pelajaran yang kurang dimengerti di sekolah serta memberikan wawasan serta cara
belajar yang benar. Kegiatan Bimbingan belajar ini bertujuan untuk memberikan tambahan
pelajaran untuk anak-anak di lingkungan kwangkalan kelurahan tempurejo, khususnya dari
kelas 1 sampai 6 SD serta mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh anak-anak
lingkungan kwangkalan. Bimbingan belajar ini dilaksanakan setiap hari senin, selasa, rabu,
kamis, jumat di posko KKN IIK. Bimbingan belajar sendiri dilakukan untuk semua mata
pelajaran. Pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan disekolah diulas kembali pada saat
bimbingan belajar supaya anak-anak SD lebih mengerti.
Selain itu, dengan adanya bimbingan belajar ini diharapkan lebih memper-erat
pertemanan dan kekompakan karena cara belajar yang diterapkan adalah berkelompok untuk
setiap tingkat.

B. Rumusan Masalah
Apakah manfaat dari kegiatan bimbingan belajar mempengaruhi prestasi disekolah serta
dapat menjadikan anak lebih kompak ?

C. Tujuan
i.Tujuan Umum
Tujuan umum dari kegiatan ini adalah membantu pelajaran-pelajaran yang kurang
dimengerti oleh adik-adik SD .
ii.Tujuan Khusus
a. Mengajarkan atau memberi tambahan pelajaran yang kurang dimengerti.
b. Membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang kurang mengerti.

D. Manfaat
53
Setelah dilakukan kegiatan bimbingan belajar bersama pada anak-anak lingkungan
kwangkalan khususnya SD kelas 1-6 di posko KKN IIK Kelurahan Tempurejo, diharapkan
dapat meningkatkan semangat belajar dan meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah serta
menjalin kekompakan antar teman.

E. Nama Program : Bimbingan Belajar


F. Tema Kegiatan : Meningkatkan prestasi dan kerjasama anak-anak lingkungan
kwangkalan

G. Jadwal Pelaksanaan : Mulai tanggal 6 September – 16 September 2015


H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan :
1. Waktu : 18.00-19.30
2. Tempat Pelaksanaan : Posko KKN IIK RW 05 RT 15 Kwangkalan Kelurahan
Tempurejo
I. Sasaran Program : anak-anak SD kelas 1-6
J. Media yang digunakan : -
K. Indikator Keberhasilan Program : Adanya peningkatan jumlah siswa setiap harinya
L. Hambatan : Dari kegiatan ini yang sangat kurang adalah ruangan yang terlalu kecil dengan
murid-murid yang datang terlalu banyak serta pencahayaan yang kurang
sehingga mengganggu proses belajar.
M. Kesimpulan
Bimbingan belajar adalah ajang menambah ilmu serta mengulas pelajaran yang telah
dilakukan di sekolah agar lebih mengerti lagi. Kurangnya minat belajar anak adalah
kendala dalam kegiatan bimbingan belajar ini.

N. Saran
Saran saya untuk lingkungan kwangkalan diadaakan kegiatan belajar bersama karena
minat anak-anak kwangkalan sangat besar terbukti dengan meningkatnya jumlah siswa
yang datang setiap harinya.

54
DEMO MASAK
14

A. Latar Belakang
Demo masak ini dilakukan untuk memberikan informasi cara mengelolah suatu bahan
yang biasanya disiasiakan namun kenyataannya dapat bermanfaat untuk tubuh. Demo masak
yang dilakukan pada ibu-ibu PKK adalah cara mengelolah lidah buaya. Tanaman lidah buaya
biasanya tidak dihiraukan atau hanya digunakan untuk rambut saja, namun pada
kenyataannya tanaman lidah buaya ini mengandung banyak zat-zat yang berguna bagi tubuh
seperti untuk memperlancar pencernaan, detoksifikasi tubuh, sistem imun tubuh, sumber
vitamin dan mineral. Tanaman ini dapat diolah menjdi sebuah minuman yang menyehatkan
dan juga menyegarkan.

B. Rumusan Masalah
Apakah manfaat lidah buaya baik untuk tubuh ?

C. Tujuan
i. Tujuan Umum
Tujuan umum dari kegiatan ini adalah memberikan informasi cara mengolah lidah
buaya menjadi minuman yang menyegarkan dan menyehatkan bagi tubuh.
ii. Tujuan Khusus
a. Memberikan informasi manfaat dari lidah buaya bagi tubuh
b. Memberikan informasi cara mengolah lidah buaya menjadi minuman.

D. Manfaat
Setelah dilakukan kegiatan demo masal pada ibu-ibu PKK RT 15 di lingkungan
kwangkalan Kelurahan Tempurejo, diharapkan para ibu-ibu dapat mengerti dan menerapkan
untuk kesehatan tubuh sendiri.

E. Nama Program : Demo Masak

55
F. Tema Kegiatan : Demo Masak Es Lidah Buaya
G. Jadwal Pelaksanaan : 11 September 2015

H. Waktu dan Tempat Pelaksanaan :


1 Waktu : 18.00 – 20.20 WIB
2. Tempat Pelaksanaan : Rumah Bu kasun RW 05 RT 15
I. Sasaran Program : Ibu-ibu PKK
J. Media yang digunakan : Pamflet
K. Indikator Keberhasilan Program : Sesi Tanya Jawab
L. Hambatan : Kurangnya sarana untuk mempraktekkan secara langsung sehingga ada
penjelasan yang susah untuk dipahami
M.Kesimpulan
Demo masak merupakan memberi informasi tentang cara mengolah sesuatu yang
biasanya disiasiakan menjadi sesuatu yang dapat dikonsumsi serta mempunyai manfaat yang
sangat banyak untuk tubuh. Membuat es lidah buaya banyak manfaat yang dapat dirasakan
oleh tubuh yaitu untuk memperlancar pencernaan, detoksifikasi tubuh, sistem imun tubuh,
sumber vitamin dan mineral.
N.Saran
Untuk kegiatan PKK mungkin bisa diisi dengan penyuluhan-penyuluhan yang
dapat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari atau kondisi tubuh.

56
GANGGUAN JIWA
15
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna yang
berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu atau lebih
fungsi kehidupan manusia. (Keliat, 2011 )
Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan
setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah. Berdasarkan
data dari World Health Organisasi (WHO) dalam Yosep (2013) , ada sekitar 450 juta orang di
dunia yang mengalami gangguan jiwa. WHO menyatakan setidaknya ada satu dari empat orang
didunia mengalami masalah mental, dan masalah gangguan kesehatan jiwa yang ada di seluruh
dunia sudah menjadi masalah yang sangat serius.
Berdasarkan hasil penelitian dari Rudi Maslim dalam Mubarta (2011) prevalensi masalah
kesehatan jiwa di Indonesia sebesar 6,55%. Angka tersebut tergolong sedang dibandingkan
dengan negara lainnya. Data dari 33 Rumah Sakit Jiwa ( RSJ ) yang ada di seluruh Indonesia
menyebutkan hingga kini jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang.
Berdasrakan informasi yang di dapat dari puskesmas pembantu di Kelurahan Tempurejo
Kecamatan Pesantren Kota Kediri, masih banyaknya ditemukan penderita gangguan kejiwaan,
setidaknya ada 12 keluarga yang anggota keluarganya mengalami gagngguan jiwa. Hal ini
membuktikan bahwa masih banyak penderita yang mengalami gangguan jiwa, bahkan mungkin
hal ini akan terus bertambah setiap tahunnya.
Berdasarkan latar belakang di atas maka kami tertarik untuk melakukan kunjungan ke
rumah pasien jiwa untuk melakukan scrining kesehatan jiwa.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat disimpulkan rumusan masalah yaitu “ bagaimana peran
keluarga dalam merawat keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan ?”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum

57
Untuk mengetahui apakah keluarga pasien gangguan jiwa bersedia dikunjungi
oleh petugas kesehatan dari Puskesmas
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui bagaimana cara merawat pasien gangguan jiwa.
b. Untuk megetahui perkembngan kesehatan pasie gangguan jiwa.
c. Untuk mengetahui peran serta keluarga terhadap pasien gangguan jiwa.
D. Manfaat
1. Untuk mengetahui jumlah pasien gangguan jiwa yang pasti di Kelurahan Tempurejo.
2. Untuk mengetahui saran kepada Pemerintah setempat agar pasien gangguan jiwa yang
ada segera untuk ditindaklanjuti.
3. Untuk mengurangi kasus angka kesakitan gangguan jiwa dengan pencegahan-
pencegahan tertentu yang dapat diterapkan dalam program puskesmas setempat.

E. Nama Progam
Kunjungan pasien gangguan jiwa

F. Jadwal Pelaksanaan :
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 12 dan 16 September 2015, dengan jadwal
pelaksanaan program sebagai berikut:
1. Jadwal hari Sabtu tanggal 12 September 2015
Pukul 09.00 – 12.00 WIB : Kunjungan rumah
Pukul 12.00 – 15.00 WIB : Istirahat
Pukul 15.00 – 17.00 WIB : Kunjungan rumah
Pukul 17.00 – 18.00 WIB : Istirahat
Pukul 18.00 – 20.00 WIB : Kunjungan rumah
Pukul 20.00 – selesai : Pulang
2. Jadwal hari Rabu tanggal 16 September 2015
Pukul 11.00 – 17.00 WIB : Kunjungan rumah bersama petugas
Puskesmas
Pukul 17.00 – selesai : Pulang

58
G. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Waktu : Jam 09.00 – selesai
2. Tempat Pelaksanaan : Rumah warga yang mengalami
gangguan kejiwaan

H. Sasaraan Program
Warga yang mengalami gangguan jiwa yang berjumlah 12 orang.

I. Media yang di gunakan


Pada program ini tidak menggunakan media apapun. Hanya menggunakan lembar
kuesioner form pengkajian asuhan keperawatan keluarga.
J. Hasil Kegiatan
Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu keluarga pasien ada yang bersedia di kunjungi
oleh petugas kesehatan dan sebagian ada juga yang tidak bersedia di kunjungi oleh petugas
kesehatan.

K. Indikator keberhasilan
1. 75% warga yang mengalami gangguan jiwa mengikuti kegiatan kunjungan.
2. 50% keluarga pasien bersedia mengikuti kunjungan dari petugas Puskesmas Ngletih.

L. Hambatan :
1. Pasien gangguan jiwa sulit di ajak komunikasi.
2. Keluarga pasien ada yang tidak bersedia mendapatkan kunjungan dari petugas
kesehatan, karena dulunya pernah di berikan janji akan di kunjungi petugas kesehatan
tapi sampai sekarang tidak mendapatkan kunjungan apapun dari petugas kesehatan.

59
3.2 Laporan Keuangan

LAPORAN KEUANGAN

A. PEMASUKAN
1. Uang program = 2.500.000
2. Uang penutupan = 1.200.000
TOTAL = 3.700.000

B. PENGELUARAN
1. Pengeluaran program
a. PHBS DHE (Dental Health Education) dan Cuci Tangan di PAUD
Purinanda, TK Dharma Wanita 1 dan SDN 1 Tempurejo
1) Poster = 24.000
2) Hadiah kuis = 114.600
3) Permen = 63.100
4) Pasta gigi, sikat gigi, dan tisu = 43.200
5) Kertas kado 10 buah dan buku tulis 3 pak = 82.000
6) Pasta gigi anak – anak = 38.600
7) Presmika, print, dan map = 45.000
TOTAL = 410.500
b. Hadiah untuk kegiatan agustus
1) Hadiah lomba futsal wanita = 214.500
2) Kardus dan lakban = 11.500
3) Kertas kado = 4000
TOTAL = 230.000
c. Posbindu (Pemeriksaan)
1) Stick gula darah dan asam urat = 150.000
2) Poster manfaat BAB di jamban = 15.000
TOTAL = 165.000

60
d. Posko pemeriksaan
1) Stick gula darah, asam urat, dan kolesterol = 277.500
2) Alkohol dan kapas = 14.000
TOTAL = 291.500

e. Penyuluhan TOGA, DAGUSIBU, dan Demo Masak


1) Keperluan demo masak es lidah buaya = 79.200
2) Laminating dan foto copy = 80.700
TOTAL = 159.900
f. Kunjungan pasien gangguan jiwa
1) Uang yang diberikan ke salah satu pasien = 20.000
TOTAL = 20.000
g. Penutupan KKN
1) Snack x 80 orang = 160.000
2) Konsumsi makan x 80 orang = 800.000
3) Kertas kotak snack = 23.200
4) Air mineral club 2 dus = 38.000
5) Vandel 3 buah = 54.000
6) Sembako dan kenang – kenangan = 495.800
7) Plastik parcel dan kertas kado = 18.500
8) Print foto kenang – kenangan = 35.000
9) Bingkai foto kenang – kenangan = 122.000
10) Foto copy undangan tamu = 5.900
11) Baterai mic = 25.000
12) Uang ke kelurahan = 700.000
TOTAL = 2.477.400
2. Keperluan Sekretaris
a. Jilid proposal 4x = 10.000
b. Kertas HVS = 27.000
c. Badge KKN = 88.500

61
d. Kertas foto = 27.800
e. Foto copy dan CD Room = 28.500
TOTAL = 181.800

C. TOTAL
1. Pemasukan = 3.700.000
2. Pengeluaran = 3.936.100
TOTAL = - 236.100

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
62
Dengan terselesaikannya pelaksanaan seluruh program KKN, yang berlangsung
selama 22 hari yang dimulai pada hari senin, tanggal 01 Agustus 2015 – 22September
2015, banyak yang kami dapatkan dari rangkaian kegiatan baik kelompok maupun
individu.
Beberapa hal yang telah tercapai dalam pelaksanaan program KKN, sebagai berikut :
1. Meningkatkan pola pikir masyarakat dalam bidang kesehatan menjadi lebih baik.
2. Membantu petugas kesehatan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.
3. Pelaksanan program-program kerjamemberi banyak pengalaman kepada para
mahasiswa mengenai realitas kehidupan bermasyarakat dengan berbagai macam
permasalahannya.
4. Masyarakat lebih termotivasi dalam upaya pemberdayaan masyarakat terutama
dalam bidang kesehatan.

B. SARAN
Berdasarkan hasil dari pelaksanaan program KKN di Kelurahan Tosaren Kecamatan
Pesantren Kota Kediri, kami menyarankan :
1. Untuk Masyarakat :
a. Lebih meningkatkan kesehatan, dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam
bergotong royong.
2. Untuk Institusi :
a. Sebelum pelaksanaan KKN, diperlukan survei yang lebih lanjut tentang lokasi
yang tepat untuk kegiatan KKN.
b. Lokasi pelaksanaan KKN untuk waktu ke depannya lebih diperhatikankembali,
agar pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat dapat tersalurkan dengan tepat
3. Untuk Mahasiswa :
a. Mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan dalam mencari dan menemukan
data atau informasi, serta dapat bersosialisasi lebih baik dengan masyarakat
b. Peserta KKN lebih mendalami tentang masalah yang ada pada masyarakat
dilingkungan tempat KKN, dan mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh
masyarakat sehingga mahasiswa dapat ikut serta membantu perangkat desa
dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

63
c. Kegiatan KKN menjadi sarana belajar bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan
ilmu kesehatan yang diterima selama menempuh pendidikan.

64