Anda di halaman 1dari 13

Kememberang dan Pelandok

Oleh: Agus Kurniawan

Berang – berang adalah tukang kayu yang handal.


Mereka merangkai reranting kecil di parit-parit
dalam hutan menjadi sebuah bendungan, membuat
ikan yang hidup hilir mudik di dalam aliran sungai
terjebak dan dengan mudah ditangkapnya. Berang –
berang di Tanah Kayong sering disebut
Kememberang.

Suatu hari di dalam hutan Tanah Kayong, ibu


Kememberang hendak pergi mencari ikan
tambahan karena hasil tangkapan dari bendungan
yang dibuatnya dianggap masih kurang. Ibu
Kememberang memang terkenal selalu kekurangan
pada rejeki yang diberikan Tuhan, terkadang hasil
tangkapannya cuma menjadi bangkai yang tak
dimakan.
Karena anak – anaknya masih kecil dan belum
terbuka matanya, ibu Kememberang
khawatir untuk meninggalkan bayi-bayi itu. Sang
suami telah tiada hingga tak ada yang akan
menjaga mereka.

Saat Ibu Kememberang sedang susah,


lewatlah sang Kancil atau di Tanah Kayong disebut
Pelandok di depan sarangnya. Binatang serupa rusa
kecil itu melompat – lompat memamah dedaunan
dipinggir sungai. Senanglah Ibu Kememberang
melihatnya, ia kini tahu pada siapa akan meminta
tolong.

“Hai Pelandok, mau kah engkau menolongku?”


Tanya ibu Kememberang.

“tentu saja, selama aku masih bisa


menolongmu” jawab sang Pelandok.

“Begini Pelandok, aku hendak berburu ikan ke


sarang Seluang hari ini. Tapi anak – anakku tak ada
yang menjagakan. Mau kah engkau menolongku
menjaganya?” mohon ibu Kememberang, Pelandok
mengangguk setuju. Hari ini dia sedang tak ada
kerja, apalagi sesama warga hutan sudah
sepantasnya saling tolong menolong.

Berangkatlah Ibu Kememberang untuk


mencari ikan ke Hulu, sedang anak – anaknya masih
pulas tidur disarangnya.

Karena bosan menunggui bayi, sang Pelandok


bersantai sejenak di teras. Sembari menikmati
suara merdu aliran air dan bunyi riuh hutan yang
menyejukkan mata, sang Pelandok jadi mengantuk.
Tiba – tiba terdengar tabuhan genderang
“Dung dak dung dung, dung dak dung dak dung dung”
ternyata Elang Ketupik sedang menabuh genderang
perang. Sang Pelandok yang terperanjat langsung
memasang kuda-kuda dan mengeluarkan jurus
silatnya. Sang Pelandok memang terkenal sebagai
pesilat handal dan tak boleh mendengar genderang
perang, kaki – kakinya akan mengikuti tetabuhan itu
dalam gerak silat yang gesit.

Saking asyiknya sang Pelandok bersilat


sendirian, tak disadarinya anak Kememberang
terbangun dari tidur. Seekor dari mereka
merangkak keluar mendekati suara pencak silat
sang Pelandok. Tak sengaja Pelandok terinjak ke
tubuh bayi yang matanya masih belum terbuka itu.
Pelandok terkejut, bergegas ia mengembalikan bayi
itu ke dalam kamar.

Sang Pelandok melanjutkan bersilat mengikuti


genderang perang yang ditabuh Elang Ketupik,
hingga keletihan dan tertidur.
***

Ketika hari sudah sore, ibu Kememberang


pulang ke sarang, ia melihat sang Pelandok tidur
dipelataran sarangnya

“Hai Pelandok, bangunlah, dimana anak –


anakku?” tanyanya khawatir, yang ditanya
membuka mata lalu menguap besar.

“Itu di dalam, masih tidur...” jawab Pelandok


malas. Ibu Kememberang masuk ke kamar dan
mendapati salah satu anaknya luka lebam dan
tulang ekornya patah.

“Alahai Pelandok, engkau apakan anak ku


sampai luka lebam dan patah tulang begini begini?”
Ibu Kememberang marah sambil menangis.
Pelandok rusuh mengingat – ingat kembali kejadian
tadi siang. Lalu sadarlah ia jangan – jangan itu bayi
yang tadi terinjaknya.
“Anu... anu...” Sang Pelandok gugup “itu gara –
gara Elang Ketupik menabuh genderang perang...”

“Apa hubungannya Elang Ketupik menabuh


Genderang dengan anakku yang luka? Jangan-
jangan kau menyiksa anakku selagi aku pergi?”
suara ibu Kememberang meninggi, sang Pelandok
kemudian menjelaskan kejadiannya.

Ibu Kememberang masih tak terima dengan


penjelasan sang Pelandok. Dibawanya Pelandok
menghadap pemimpin belantara tanah Kayong
untuk mempertanggung jawabkan kecerobohan itu.

***

“Pak Mawas, aku ingin melaporkan Pelandok


karena telah melukai anakku” Ibu Kememberang
melapor ke Pak Mawas, Orang Hutan yang mereka
jadikan pemimpin dihutan tanah Kayong ini.

Maka diadakanlah sidang warga hutan esok


harinya.
Di Majelis persidangan warga hutan, Ibu
Kememberang melaporkan kejadian yang menimpa
anaknya kepada Pak Mawas sambil terisak – isak
sedih. Warga hutan tampak iba dan ramai suara
menyalahkan Pelandok.

“Mengapa bisa engkau seceroboh itu


Pelandok?” Tanya pak Mawas wibawa.

“Wahai Pak Mawas, aku ceroboh demikian


karena Elang Ketupik Menabuh Genderang Perang.
Bukankah engkau tahu kalau aku tak bisa
mendengar tetabuhan genderang? Aku bersilat
hingga lupa diri. Jadi itu bukan salahku sepenuhnya”
ia membela diri.

“Maka kita harus memanggil Elang Ketupik


untuk bertanggung jawab” Perintah Pak Mawas
pada Harimau Kumbang, tak lama punggawa hutan
itu telah kembali dengan Elang Ketupik yang hinggap
di dahan pohon yang rendah.
“Mengapa engkau menabuh genderang perang
membuat Pelandok bersilat hingga tertinjak pada
anak Kememberang?” Pak Mawas meminta
penjelasan

“Daulat tuan hamba” Sembah Elang Ketupik


“Hamba memukul genderang perang karena
melihat Ikan Tapah berbaju landung...” Masyarakat
hutan semakin bingung mendengar penjelasan
Elang Ketupik.

“Panggil Ikan Tapah” Perintah Pak Mawas.


Ketika datang ke hadapan Majelis ikan Tapah
langsung ditanya mengapa ia berbaju Landung?

“Daulat tuan hamba” ia menjura dari sungai


“Adapun hamba berbaju landung, karena melihat
Ikan Silok berbaju rantai” Kembali Pak Mawas
memerintahkan seekor Belut besar menyusul Silok
ke sarangnya, tak lama ia telah kembali dengan
Silok. Segera Ikan bersisik indah itu diminta
keterangannya.
“Daulat tuan hamba” terang Silok “Apakah
sebab hamba berbaju rantai hingga tapah berbaju
landung? Hamba berbaju rantai karena melihat Ikan
Baung berkeris tiga” sekali ini tak perlu diminta,
sang Belut besar masuk ke dalam sungai mencari
ikan Baung

“Wahai Baung” sabda Pak Mawas


“Mengapakah engkau berkeris tiga yang membuat
Silok berbaju rantai hingga Tapah memakai baju
landing. Melihat itu Elang Ketupik mengira terjadi
perang hingga ia menabuh genderang. Oleh sebab
tetabuhan itu sang Pelandok keluar silatnya hingga
ceroboh menginjak anak ibu Kememberang?”
Pertanyaan itu didengarkan seksama oleh Ikan
Baung sambil mengangguk - angguk. Masyarakat
hutan sunyi hendak tahu siapa yang bertanggung
jawab atas semua ini.

“Daulat Tuan Hamba” Ikan Baung menghatur


sembah “Adapun hamba terpaksa memakai keris
tiga adalah karena melihat ikan Senjulung memakai
tombak, hamba mengira akan ada peperangan”
Majelis sidang menjadi ramai, ternyata penanggung
jawab peristiwa itu belum ketemu, masih ada lagi
yang lain.

Ikan Senjulung sebagai seorang punggawa


penjaga ketertiban di dalam sungai dengan senjata
tombak sudah tentu berada dalam persidangan
warga hutan itu.

“Daulat Tuan Hamba, Hamba memakai tombak


karena melihat udang berjalan maju mundur.
Hamba hendak menertibkannya” Lapor Senjulung,
Udang yang sedari tadi juga menyaksikan jalannya
persidangan segera mendekat. Ia menjelaskan
bahwa ia berjalan maju mundur karena Ikan Seluang
berenang Hilir Mudik.

Akhirnya serombongan ikan Seluang


dihadirkan di hadapan sidang “Wahai Ikan Seluang,
mengapakah engkau berenang hilir mudik membuat
udang berjalan maju mundur?”
“Daulat Tuan Hamba” kata seekor ikan Seluang
yang menjadi juru bicara “Bagaimana hamba tidak
berenang hilir mudik, karena hamba melihat ibu
Kememberang memburu ikan di tempat Hamba.
Bagaimanakah hamba dan keluarga hamba tidak
takut? Kami berlarian hilir mudik demi menghindar
dari tangkapan ibu Kememberang Tuanku”

Mendengar keterangan itu maka jelaslah


sudah bahwa asal muasal kecerobohan Pelandok itu
disebabkan oleh Ibu Kememberang sendiri. Semua
kini terdiam menunggu sabda Pak Mawas, Orang
Hutan pemimpin Belantara tanah Kayong.

“Wahai ibu Kememberang, telah teranglah


kesalahan ini bermula dari keserakahan engkau
yang selalu tak puas akan nikmat yang Tuhan
berikan. Apabila engkau puas akan pendapatan ikan
di bendunganmu tentulah engkau tak akan
mengacaukan sarang Seluang yang membuat
mereka ketakutan, alhasil kecerobohan ini tak perlu
terjadi” Simpul Pak Mawas yang diamini hewan
penghuni belantara. Ibu Kememberang tertunduk
menyesali keserakahannya. Seandainya ia puas
pada penghasilan bendungannya tentu ia tak perlu
meminta Pelandok menjaga anaknya. Dirinya
sendirilah yang harus menjaga anak - anak.

“Sesuai dengan hukum belantara tanah


kayong ini...” Sambung Pak Mawas “Aku putuskan
untuk mengampuni Ibu Kememberang atas
kesalahannya. Karena kasihan akan anaknya yang
terluka, jagalah mereka dan jangan turuti
keserakahan” Ibu Kememberang menunduk saja
mendengar itu.

“Sedang bagi kalian Wahai Pelandok yang suka


bersilat, Elang Ketupik penabuh genderang perang,
ikan tapah berbaju landung, ikan silok berbaju rantai,
ikan Baung berkeris tiga, ikan Senjulong memakai
tombak, Udang yang berjalan maju mundur dan
Seluang yang berenang hilir mudik, kalian diampuni”
terdengar suara gemuruh terima kasih.

“terkhusus bagi Pelandok” Sabda Pak Mawas


“engkau harus menolong Ibu Kememberang
mengobati anak nya dan jangan mudah tergoda
menikmati kesukaanmu kalau sudah punya tugas.
Jalani kewajibanmu dengan tanggung jawab”
Pelandok mengangguk mengakui kesalahannya
mudah lupa diri karena asyiknya bersilat yang
memang hobinya.

Persidanganpun bubar, tak hanya Pelandok,


semua warga hutan termasuk Pak Mawas pergi ke
Sarang ibu Kememberang untuk mengurus dan
melihat anaknya.

Di alam tanah Kayong yang dikedepankan


selalu saling tolong menolong dan saling
memaafkan, demikianlah adanya sesuai ciptaan
Allah, Tuhan semesta Alam.

SELESAI

Dikisahkan kembali dari Buku Cerita Rakyat Tanah Kayong, M.Dardi,


D.Has