Anda di halaman 1dari 7

2.

1 Konsep Nifas
2.3.1 Pengertian Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas ini 6-8
minggu (Mochtar, R. 2012).
(Kumalasari, 2015).
2.3.2 Tahapan Masa Nifas
1. Puerperium Dini
Kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2. Puerperium Intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote Puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil
atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa
berminggu-minggu, bulanan, tahunan. (Ambarwati, 2010).
(Kumalasari, 2015).
2.3.3 Perubahan Fisiologis Masa Nifas
1. Perubahan Sistem Reproduksi
a. Involusi uterus
Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses yang normal uterus
akan kembali ke kondisi sebelum hamil. Perubahan-perubahan normal pada
uterus selama postpartum dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Perubahan Uterus Masa Nifas
No Waktu Tinggi Fundus Berat Diameter Palpasi
Involusi Uteri Uterus Uterus Serviks
1. Bayi lahir Setinggi pusat 1.000 12,5 cm Lunak
gram
2. Plasenta Dua jari bawah 750 gram 12,5 cm Lunak
lahir pusat
3. Satu minggu Pertengahan 500 gram 7,5 cm 2 cm
pusat sampai
simfisis
4. Dua minggu Tidak teraba di 300 gram 5 cm 1 cm
atas simfisis
5. Enam Bertambah kecil 60 gram 2,5 cm Menyempit
minggu
Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa uteri dengan
cara sebagai berikut.
1). Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm di bawah pusat, 12 jam
kemudian kembali 1 cm di atas pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap
hari.
2). Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1 cm di bawah pusat.
Pada hari ke-3-4 tinggi fundus uteri 2 cm di bawah pusat.
3). Pada hari ke-5-7 tinggi fundus uteri setengah pusat simfisis. Pada hari
kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba.
Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam proses involusi
disebut dengan subinvolusi. Subinvolusi dapat disebabkan oleh infeksi dan
tertinggalnya sisa plasenta/perdarahan lanjut. (postpartum haemorrhage).

b. Lochea
Adalah eksresi cairan Rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah
dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Jenis-jenis lochea
adalah sebagai berikut.
1) Lochea rubra : Lochea ini muncul pada hari 1-3 masa postpartum, berwarna
merah karena berisi darah segar jaringan sisa-sisa plasenta.
2) Lochea saguinolenta : cairan berwarna merah kecokelatan dan berlendir,
berlangsung hari ke-4-7.
3) Lochea serosa : berwarna kuning kecokelatan, muncul hari ke-7-14
4) Lochea alba : mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, serabut jarinagn
yang mati berlangsung selama 2-6 minggu.
b. Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama dengan uterus. Warna serviks
sendiri merah kehitam-hitaman karena pembuluh darah. Konsistensinya lunak,
kadang-kadang terdapat laserasi/perlukaan kecil. Oleh karena robekan kecil
yang terjadi selama dilatasi, serviks tidak pernah kembali pada keadaan sebelum
hamil.
c. Vulva dan vagina
Mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses
persalinan dan akan kembali secara bertahap dalam 6-8 minggu. Rugae akan
terlihat kembali pada sekitar minggu keempat.
d. Payudara (mamae)
Pada semua wanita yang telah melahirkan, proses laktasi terjadi secara alami.
Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiolgis, yaitu produksi susu dan
sekresi susu atau let down.
2. Perubahan Sistem Perkemihan
Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, kadang-
kadang puerperium mengalami sulit buang air kecil bisa disebabkan oleh adanya
edema kandung kemih yang terjadi pada persalinan.
3. Pemulihan Ovulasi dan Menstruasi
Pada ibu yang menyusui bayinya, ovulasi jarang sekali terjadi sebelum 20
minggu, dan tidak terjadi di atas 28 minggu pada ibu yang melanjutkan menyusui
untuk enam bulan. Pada ibu yang tidak menyusui ovulasi dan menstruasi biasanya
mulai antara 7-10 minggu.
4. Perubahan Berat Badan
Di saat melahirkan ibu mengalami kehilangan 5-6 kg berat badan dan 3-5 kg
selama minggu pertama masa nifas. Faktor-faktor yang mempercepat penurunan
berat badan pada masa nifas di antaranya adalah peningkatan berat badan selama
kehamilan.
5. Perubahan Kulit
Pada waktu hamil terjadi pigmentasi kulit pada beberapa tempat karena
proses hormonal. Pigmentasi ini berupa kloasma gravidarum pada pipi,
hiperpigmentasi kulit sekitar payudara, hiperpigmentasi kulit dinding perut (striae
gravidarum). Setelah persalinan, hormonal berkurang dan hiperpigmentasi pun
menghilang. Pada dinding perut akan menjadi putih mengkilap yaitu striae
albican.
(Kumalasari, 2015).
2.3.4 Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas
Beberapa penulis mengatakan dalam minggu pertama setelah melahirkan,
banyak wanita menunjukan gejala-gejala terutama gejala depresi dari ringan sampai
berat. Biasanya ibu dapat sembuh kembali tanpa dengan pengobatan. Jadi hal yang
perlu diperhatikan, yaitu adaptasi psikososial pada masa pascapersalinan. Dalam
menjalani adaptasi tersebut ibu akan melaui fase-fase sebagai berikut.
1. Fase taking in
Fase ini merupakan periode ketergantungan yang berlangsung dari hari
pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini focus perhatian ibu
terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering
diceritakan kembali. Kelelahan membuat ibu cukup perlu istirahat untuk
mencegah kurang tidur. Oleh karena itu, kondisi ini perlu dipahami dengan
menjaga komunikasi yang baik.
2. Fase taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Ibu merasa khawatir
akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain
itu, perasaannya sangat sensitif sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya
kurang tepat. Oleh karena itu, pada fase ini merupakan kesempatan yang baik
untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga
tumbuh rasa percaya diri.
3. Fase letting go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang
berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri
dengan ketergantungan bayinya. Keinginan merawat diri dan bayinya meningkat
pada fase ini.
(Indriani, 2013).
2.3.5 Kebutuhan Ibu Nifas
1. Nutrisi dan cairan
Pada masa nifas ibu perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi
yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat memengaruhi produksi
air susu. Nutrisi yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi
protein, dan banyak mengandung cairan dan serat untuk mencegah konstipasi.
Obat-obatan dikonsumsi sebatas yang dianjurkan dan tidak berlebihan.
2. Ambulasi
Jika tidak ada kelainan lakukan mobilisasi sedini mungkin, yaitu dua jam
setelah persalinan normal. Pada ibu dengan partus normal ambulasi dini di lakukan
paling tidak 6-12 jam post partum, sedangkan pada ibu dengan partus section
caesarea ambulasi dini dilakukan paling tidak setelah 12 jam post partum setelah
ibu sebelumnya istirahat (tidur).
Tahapan ambulasi yaitu miring kiri atau kanan terlebih dahulu, kemudian
duduk dan apabila ibu sudah cukup kuat berdiri maka ibu dianjurkan untuk
berjalan.
3. Eliminasi
a. Buang air kecil
Sebaiknya, ibu tidak menahan buang air kecil ketika ada rasa sakit pada
jahitan karena dapat menghambat uterus berkontraksi dengan baik sehingga
menimbulkan perdarahan yang berlebihan. Dengan mengosongkan kandung
kemih secara edekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam
5-7 hari postpartum. Ibu harus berkemih spontan dalam 6-8 jam postpartum.
Pada ibu yang tidak bisa berkemih motivasi ibu untuk berkemih dengan
membasahi bagian vagina atau melakukan katerisasi.
b. Buang air besar
Kesulitan buang air besar dapat terjadi karena ketakutan akan rasa sakit,
takut jahitan terbuka, atau karena hemoroid. Kesulitan ini dapat dibantu dengan
mobilisasi dini, mengonsumsi makanan tinggi serat, dan cukup minum sehingga
bisa buang air besar dengan lancar.
4. Personal higiene/perawatan diri
Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh
karena itu kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi.
Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk
tetap dijaga.
5. Istirahat dan Tidur
Hal-hal yang bisa dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan
tidur adalah sebagai berikut.
a. Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
b. Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secara
perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
Kurang istirahat akan memengaruhi ibu dalam beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
a. Mengurangi jumlah ASI.
b. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
c. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri.
6. Aktivitas seksual
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa
rasa nyeri. Hubungan seksual dapat dilanjutkan setiap saat ibu merasa nyaman
untuk memulai dan aktivitas itu dapat dinikmati.

7. Latihan senam nifas


Setelah persalinan terjadi involusi uterus. Involusi ini sangat jelas terlihat pada
alat-alat kandungan. Sebagai akibat kehamilan, dinding perut menjadi lembek
disertai adanya striae gravidarum yang membuat keindahan tubuh akan sangat
terganggu. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan langsing
seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas.
(Kumalasari, 2015).
2.3.6 Kunjungan Masa Nifas
Paling sedikit 4x kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan
bayi baru lahir, untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi.
Kunjungan dalam masa nifas antara lain:
Tabel 2.5 Kunjungan Masa Nifas
Ket Waktu Tujuan
1 6 – 8 jam persalinan 1. Mencegah perdarahan masa nifas karena
atoria uteri
2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan; merujuk bila pendarahan
berlanjut
3. Memberikan konseling pada ibu atau
salah satu anggota keluarga bagaimana
mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri
4. Pemberian ASI awal, 1 jam setelah
Inisisasi Menyusui Dini (IMD) berhasil
dilakukan.

5. Memberikan supervisi kepada ibu


bagaimana teknik melakukan hubungan
antara ibu dan bayi baru lahir
6. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara
mencegah hipotermia. Jika ada petugas
kesehatan yang menolong persalinan, ia
haru tingagal dengan dengan dengan ibu
dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama
atau sampai bayi dan ibu dalam keadaan
stabil
2 6 hari setelah 1. Memastikan involusi uterus berjalan
persalinan normal; uterus berkontraksi, fundus di
bawah umbilikus, tidak ada perdarahan
abnormal, tidak ada bau
2. Mengevaluasi adanya tanda demam,
infeksi atau perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu mendapat cukup
makanan, minuman, dan istirahat
4. Memastika ibu menyusui dengan baik
dan tidak ada tanda-tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu
menganai asuhan pada bayi;misalnya
merawat tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat, dan merawat bayi sehari-hari
3 2 minggu setelah 1. Memastikan involusi uterus berjalan
persalinan abnormal, uterus berkontraksi, fundus di
bawah umbilikus, tidak ada perdarahan
abnormal, tidak ada bau
2. Mengevaluasi adanya tanda demam,
infeksi atau perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu mendapat cukup
makanan, minuman, dan istirahat
4. Memastika ibu menyusui dengan baik
dan tidak ada tanda-tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu
menganai asuhan pada bayi;misalnya
merawat tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat, dan merawqat bayi sehari-hari
4 6 minggau setelah 1. Menanyakan pada ibu tentang penyulit
persalinan yang ia alami atau yanng dialami oleh
bayinya
2. Memberikan konseling tentang
menggunakan KB secara dini
Sumber : Anggraini, Yetti. 2010. Asuhan Kebidanan Komunitas Masa Nifas.
Yogyakarta : Pustaka Rihama.
(Lockhart, 2014).
2.3.7 Tanda Bahaya Masa Nifas
1. Perdarahan pervaginaan
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah bersalin didefinisikan
sebagai perdarahan pascapersalinan. Seorang ibu dengan kadar Hb normal dapat
menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang mungkin dapat
menyebabkan anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat
mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.
2. Infeksi masa nifas
Ibu berisiko infeksi postpartum biasanya dapat disebabkan kaena kurangnya
tindakan aseptic saat melakukan tindakan, kurangnya hygine pasien serta
kekurangan nutrisi. Gejala lokalnya berupa uterus lembek, kemerahan, rasa
nyeri pada payudara dan gejala klinisnya berupa suhu yang mencapai 39ºC dan
takikardi, dan sakit kepala.
2. Payudara bengkak
Payudara bengkak yang tidak di susu secara adekuat dapat menyebabkan
payudara menjadi merah, panas, terasa sakit, dan akhirnya terjadi mastitis.
Putting susu yang lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya
payudara bengkak. Gejala yang mungkin timbul yaitu : Bengkak dan nyeri pada
seluruh payudara, kemerahan pada seluruh payudara, payudara keras dan
berbenjol-benjol, panas badan dan rasa sakit umum.
3. Trombophlebitis
Trombophoblitis adalah kelainan pada masa nifas karena terjadi sumbatan pada
pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
Trombophoblitis merupakan penyebab dari menjalarnya infeksi
mikroorganisme pathogen yang mengikuti aliran darah di sepannjang vena.
Biasanya ditandai dengan timbulnya gejala nyeri hebat pada lipat paha dan
daerah paha, kaki menjadi bengkak, nyeri pada betis spontan ataupun karena
dipijat.
(Nugroho, 2014).