Anda di halaman 1dari 4

Gambaran klinis

Manifestasi klinis spondilitis TB relatif indolen (tanpa nyeri). Pasien biasanya mengeluhkan
nyeri lokal tidak spesifik pada daerah vertebra yang terinfeksi. Demam subfebril, menggigil,
malaise, berkurangnya berat badan atau berat badan tidak sesuai umur pada anak yang
merupakan gejala klasik TB paru juga terjadi pada pasien dengan spondilitis TB. Pada pasien
dengan serologi HIV positif, rata-rata durasi dari munculnya gejala awal hingga diagnosis
ditegakkan adalah selama 28 minggu. Apabila sudah ditemukan deformitas berupa kifosis,
maka patogenesis TB umumnya spinal sudah berjalan selama kurang lebih tiga sampai empat
bulan.

Defsit neurologis terjadi pada 12 – 50 persen penderita.Defsit yang mungkin antara lain:
paraplegia, paresis, hipestesia, nyeri radikular dan/ atau sindrom kauda equina. Nyeri
radikuler menandakan adanya gangguan pada radiks (radikulopati). Spondilitis TB servikal
jarang terjadi, namun manifestasinya lebih berbahaya karena dapat menyebabkan disfagia
dan stridor, tortikollis, suara serak akibat gangguan n. laringeus. Jika n. frenikus terganggu,
pernapasan terganggu dan timbul sesak napas (disebut juga Millar asthma).Umumnya gejala
awal spondilitis servikal adalah kaku leher atau nyeri leher yang tidak spesifik

Nyeri lokal dan nyeri radikular disertai gangguan motorik, sensorik dan sfngter distal dari lesi
vertebra akan memburuk jika penyakit tidak segera ditangani. Menurut salah satu sumber,
insiden paraplegia pada spondilitis TB (Pott’s paraplegia), sebagai komplikasi yang paling
berbahaya, hanya terjadi pada 4 – 38 persen penderita. Pott’s paraplegia dibagi menjadi dua
jenis: paraplegia onset cepat (early-onset) dan paraplegia onset lambat (late-onset).
Paraplegia onset cepat terjadi saat akut, biasanya dalam dua tahun pertama. Paraplegia onset
cepat disebabkan oleh kompresi medula spinalis oleh abses atau proses infeksi. Sedangkan
paraplegia onset lambat terjadi saat penyakit sedang tenang, tanpa adanya tanda-tanda
reaktifasi spondilitis, umumnya disebabkan oleh tekanan jaringan brosa/parut atau tonjolan-
tonjolan tulang akibat destruksi tulang sebelumnya.

Gejala motorik biasanya yang lebih dahulu muncul karena patologi terjadi dari anterior, sesuai
dengan posisi motoneuron di kornu anterior medula spinalis, kecuali jika ada keterlibatan
bagian posterior medula spinalis, keluhan sensorik bisa lebih dahulu muncul.
1. Agrawal V, Patgaonkar PR, Nagariya SP. Tuberculosis of Spine. Journal of Craniovertebral Junction and Spine 2010, 1:
14. 


2. Infectious and noninfectious in ammatory disease a ecting the spine. Dalam: Byrne TN, Benzel EC, Waxman SG. Disease
of the Spine and Spinal Cord. Oxford University Press Inc. 2000. 
 c. 9 h.325 – 335. 


3. Albar Z. Medical treatment of Spinal Tuberculosis. Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 29. 


4. Papavramidis TS, Papadopoulos VN, Michalopoulos A, Paramythiotis D, Potsi S, Raptou G. Anterior chest wall
tuberculous abscess: a case report. J Med Case Reports. 2007; 1: 152. 


5. Li YW, Fung YW. A case of cervical tuberculous spondilitis: an uncommon cause of neck pain. Hong Kong j. emerg.
med. Vol. 14(2) Apr 2007. 

Gambaran Radiologi

Radiologi hingga saat ini merupakan pemeriksaan yang paling menunjang untuk diagnosis
dini spondilitis TB karena memvisualisasi langsung kelainan sik pada tulang belakang.
Terdapat beberapa pemeriksaan radiologis yang dapat digunakan seperti sinar-X, Computed
Tomography Scan (CT- scan), dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Pada infeksi TB spinal, klinisi dapat menemukan penyempitan jarak antar diskus
intervertebralis, erosi dan iregularitas dari badan vertebra, sekuestrasi, serta massa para
vertebra.26 Pada keadaan lanjut, vertebra akan kolaps ke arah anterior sehingga menyerupai

akordion (concertina), sehingga disebut juga concertina collapse (gambar 3).1

1. Sinar-X

Sinar-X merupakan pemeriksaan radiologis awal yang paling sering dilakukan dan berguna
untuk penapisan awal. Proyeksi yang diambil sebaiknya dua jenis, proyeksi AP dan lateral.27
Pada fase awal, akan tampak lesi osteolitik pada bagian anterior badan vertebra dan
osteoporosis regional. Penyempitan ruang diskus intervertebralis menandakan terjadinya
kerusakan diskus. Pembengkakan jaringan lunak sekitarnya memberikan gambaran
fusiformis.27

Pada fse lanjut, kerusakan bagian anterior se- makin memberat dan membentuk angulasi
kifotik (gibbus). Bayangan opak yang me- manjang paravertebral dapat terlihat, yang
merupakan cold abscess.27 Namun, sayangnya sinar-X tidak dapat mencitrakan cold abscess
dengan baik (gambar 2).28 Dengan proyeksi lateral, klinisi dapat menilai angulasi kifotik di-
ukur dengan metode Konstam (gambar 3).1,29

2. CT Scan

CT-scan dapat memperlihatkan dengan jelas sklerosis tulang, destruksi badan vertebra, abses
epidural, fragmentasi tulang, dan penyempitan kanalis spinalis (gambar 4). CT myelography
juga dapat menilai dengan akurat kompresi medula spinalis apabila tidak tersedia
pemeriksaan MRI.26 Pemeriksaan ini meliputi penyuntikan kontras melalui punksi lumbal ke
dalam rongga subdural, lalu dilanjutkan dengan CT scan.27

Selain hal yang disebutkan di atas, CT scan dapat juga berguna untuk memandu tindakan
biopsi perkutan dan menentukan luas kerusakan jaringan tulang.27 Penggunaan CT scan
sebaiknya diikuti dengan pencitraan MRI untuk visualisasi jaringan lunak.

Gambar 4 Pencitraan CT-scan pasien spondilitis TB potongan aksial setingkat T 12. Pada CT-scan dapat terlihat destruksi
pedikel kiri vertebra L3 (panah hitam), edema jaringan perivertebra (kepala panah putih), penjepitan medula spinalis (panah
kecil putih), dan abses psoas (panah putih besar).26

3. MRI

MRI merupakan pencitraan terbaik untuk menilai jaringan lunak. Kondisi badan vertebra,
diskus intervertebralis, perubahan sumsum tulang, termasuk abses paraspinal dapat dinilai
dengan baik dengan pemeriksaan ini.26,30 Untuk mengevaluasi spondilitis TB, sebaiknya
dilakukan pencitraan MRI aksial, dan sagital yang meliputi seluruh vertebra untuk mencegah
terlewatkannya lesi non- contiguous.8,18

MRI juga dapat digunakan untuk mengevaluasi perbaikan jaringan. Peningkatan sinyal- T1
pada sumsum tulang mengindikasikan pergantian jaringan radang granulomatosa oleh
jaringan lemak dan perubahan MRI ini berkorelasi dengan gejala klinis.31 Bagaimana
membedakan spondilitis TB dari spondilitis lainnya melalui MRI akan dijelaskan pada bagian
diagnosis diferensial setelah ini.

Gambar 5 Pencitraan MRI potongan sagital pasien spondilitis TB. Pada MRI dapat dilihat destruksi dari badan vertebra L3-
L4 yang menyebabkan kifosis berat (gibbus), in ltrasi jaringan lemak (panah putih), penyempitan kanalis spinalis, dan
penjepitan medula spinalis.19 Gambaran ini khas menyerupai akordion yang sedang ditekuk
6. Teo EL, Peh WC. Imaging of tuberculosis of the spine. Singapore Med J 2004. Vol 45(9); 439 


7. Camillo FX. Infections of the Spine. Canale ST, Beaty JH, ed. Campbell’s Operative Orthopaedics. edisi ke-11. 2008.
vol. 2, hal. 2237 


8. Moesbar N. Infeksi tuberkulosis pada tulang belakang. Majalah Kedokteran Nusantara. Sept 2006.Vol.39. No.3 


9. El- Fiky AM. Surgical management of tuberculous spondilitis in adults. Review in 20 cases. Pan Arab J Otrh Traum. Vol
(2)/ No. (2) – 195 – 201. 


10. Alwali ANA. Spinal brace in tuberculosis of the spine. Neurosciences 2003; Vol. 8 (1): 17-22. 


11. Polley P, Dunn R. Noncontiguous spinal tuberculosis: incidence and management. Eur Spine J (2009) 18:1096–
1101. 


12. Li YW, Fung YW. A case of cervical tuberculous spondilitis: an uncommon cause of neck pain. Hong Kong j.
emerg. med. Vol. 14(2) Apr 2007.