Anda di halaman 1dari 28

STUDI PERESEPAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERLIPIDEMIA

GOLONGAN STATIN DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA


BANDUNG

KARYA TULIS ILMIAH

HIKMAWATI OCTAVIA ISLAMI


31151043

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG


PROGRAM STUDI DIPLOMA III
BANDUNG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERLIPIDEMIA GOLONGAN STATIN

Untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Sidang Ahli Madya Program Pendidikan
Diploma Tiga

HIKMAWATI OCTAVIA ISLAMI


31151043

Bandung, Agustus 2018

Pembimbing I Pembimbing II

Ani Anggriani, M.Si., Apt. Dr. Entris Sutrisno, MH.Kes., Apt.


ABSTRACT

i
ABSTRAK

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat –
Nya kami dapat menyelesaikan tugas karya tulis ilmiah ini. Penulisan karya tulis ilmiah ini
dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Diploma III yang
berjudul “ Studi Penggunaan Obat Antihiperlipidemia Golongan Statin ”. Bagi kami untuk
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sejak
penyusunan proposal sampai dengan terselesaikannya laporan hasil karya tulis ilmiah ini.
Bersama ini kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya serta penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada:

1. H. Mulyana, SH., M.Pd., MH.Kes., Apt., selaku ketua Yayasan Adhi Guna Kencana
2. Dr. Entris Sutrisno, MH.Kes., Apt., selaku Ketua Sekolah Tinggi Farmasi Bandung
3. Ani Anggriani, M.Si., Apt., selaku Ketua Prodi Diploma III Sekolah Tinggi Farmasi
Bandung
4. Ani Anggriani, M.Si., Apt., selaku Pembimbing Utama di Sekolah Tinggi Farmasi
Bandung
5. Dr. Entris Sutrisno, MH.Kes., Apt., selaku Pembimbing Serta di Sekolah Tinggi Farmasi
Bandung
6. Seluruh staf klinik yang bersedia membimbing selama penelitian
7. Orangtua serta keluarga tercinta yang selalu medukung, mendo’akan, dan memberikan
bantuan baik moril maupun materil dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
8. Teman – teman Diploma III angkatan 2015 yang selalu memberikan dukungan dan
bantuan
9. Serta pihak lain yang tidak dapat penuli sebutkan satu – persatu atas bantuannya baik
secara langsung maupun tidak langsung sehingga Karya Tulis ini dapat terselesaikan
dengan baik.

iii
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak guna perbaikan karya tulis ilmiah ini. Akhir kata penulis berharap semoga karya tulis
ilmiah ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Farmasi.

Bandung, Agustus 2018

Penulis

iv
DAFTAR ISI

v
DAFTAR TABEL

vi
DAFTAR SINGKATAN

vii
DAFTAR LAMPIRAN

viii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI dalam Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan (2012: 1) Penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab utama
kematian secara global. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di
dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh
Penyakit Tidak Menular. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbesar
dibandingkan Penyakit Tidak Menular lainnya dengan proporsi 39%.
Hiperlipidemia merupakan faktor pemicu terjadinya penyakit kardiovaskuler yang
menyebabkan kematian contohnya sperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), dan dalam dunia
kesehatan masih menjadi penyebab kematian tertinggi selain kanker (Fitriarini & Hesti,
2014).
Hiperlipidemia adalah kelainan pada metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan fraksi lipid dalam plasma yaitu berupa kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol
LDL (Low Density Lipoprotein), kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL
(High Density Lipoprotein). Dimana kadar kolesterol LDL >160 dan kadar kolesterol total
>240, kadar kolesterol HDL <40 serta kadar trigliserida yaitu >200 (Dipiro & Wells, 2009).
Data di Indonesia yang diambil dari riset kesehatan dasar nasional (RISKESDAS)
tahun 2013 menunjukan 15,9 % populasi yang berusia ≥ 15 tahun mempunyai proporsi LDL
yang sangat tinggi ≥ 190 mg/dl, 22,9 % mempunyai kadar HDL yang kurag dari 40 mg/dl,
dan 11,9 % dengan kadar trigliserida yang sangat tinggi ≥ 500 mg/dl (Badan Penelitian dan
Penegembangan Kesehatan Kemenkes RI, 2013).
Dalam pengobatan Hiperlipidemia ada dua terapi yang dapat dilakukan untuk
mengobati hiperlipidemia.Terapi yang digunakan ialah terapi farmakologis dan terapi non
farmakologis, dimana terapi farmakologis yaitu dengan menggunakan obat – obatan
antihiperlipidemia sedangkan terapi nonfarmakologis yaitu dengan memodifikasi gaya hidup
(Dipiro & Wells, 2009).
Tujuan pengobatan adalah menurunkan kolesterol total dan LDL untuk mengurangi
risiko kejadian pertama atau berulang. The National Cholesterol Education Program Adult
Treatment Panel III (NCEP ATP III) merekomendasikan untuk terapi paling dini adalah
dengan mengubah gaya hidup seperti diet tinggi lemak dan olahraga. Jika hasil yang
diinginkan tidak tercapai maka diperlukan terapi menggunakan obat (Dipiro & Wells, 2009).

1
Secara umum, golongan antihiperlipidemia yakni golongan niasin, HMG CoA
reduktase atau statin, asam fibrat, minyak ikan, probukol, dan terapi kombinasi. Dari beberapa
golongan obat antihiperlipidemia yang banyak digunakan salah satunya adalah golongan

2
3

HMG CoA reduktase atau yang sering disebut golongan statin yang terdiri atas, Atorvastatin,
Fluvastatin, Lovastatin, Pravastatin, Rosuvastatin, Simvastatin (Dipiro & Wells, 2009).
Karena alasan di atas, peneliti ingin mengetahui dari golongan statin obat mana yang
paling banyak digunakan dan obat antihiperlipidemia mana yang sering dikombinasikan
dengan golongan statin.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam pengobatan hiperlipidemia terdapat beberapa golongan, salah satunya yaitu
golongan Statin yang sering digunakan dalam pengobatan hiperlipidemia. Pada golongan
Statin obat manakah yang paling banyak digunakan?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui obat hiperlipidemia golongan statin yang
paling banyak digunakan serta obat antihiperlipidemia lain yang sering dikombinasikan
dengan golongan statin.

1.4 Manfaat Penelitian


Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
masyarakat terutama pasien hiperlipidemia, serta dapat menjadi suatu acuan untuk penelitian
selanjutnya.

1.5 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan disalah satu klinik di Kabupaten
Bandung pada bulan Juli 2018.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumah Sakit


2.1.1 Definisi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit yang dimaksud dengan Rumah Sakit adalah
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Rumah sakit juga dapat didefinisikan sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi
masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang di pengaruhi oleh perkembangan ilmu
pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat
yang harus meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat
agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi – tingginya. Rumah sakit diselengarakan
berasaskan pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika, dan profesionalitas,
manfaat, keadilan, persamaan hak dan antidikriminasi, pemerataan, perlindungan, dan
keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial (Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun
2009).

2.1.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit


Rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna dalam menyelegarakan tugasnya. Maka berdasarkan undangundang RI
Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Rumah Sakit mempunyai beberapa fungsi
yaitu:
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan
standar pelayanan rumah sakit.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan
yang paripurna tingkat kedua dan tingkat ketiga sesuai kebutuhan medis.
3. Penyelengaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
4. Penyelengaraan penelitian dan pengembangan serta penapiasan teknologi bidang
kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan
etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

4
5

2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit


2.2.1 Definisi
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 72 tahun 2016 tentang standar pelayanan
kefarmasian di rumah sakit, instalasi farmasi adalah suatu unit pelaksana fungsional yang
menyeleggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit.

2.2.1 Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit


Berdasarkan Permenkes RI Nomor 72 tahun 2016 tentang stadar pelayanan
kefarmasian di rumah sakit tugas dari Instalasi Farmasi, meliputi:
1. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengawasi seluruh kegiatan
pelayanan kefarmasian yang optimal dan profesional serta sesuai prosedur dan etik
profesi
2. Melaksanakan pengolahan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai yang efektif, aman, bermutu, efisien.
3. Melaksanakan kajian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan habis pakai guna
maksimalkan efek terapi dan keamanan serta meminimalkan resiko.
4. Melaksanakan komunikasi, edukasi, dan informasi (KIE) serta memberikan
rekomendasi kepada dokter, perawat, dan pasien.
5. Berperan aktif dalam Tim Farmasi Terapi.
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan pelayanan kefarmasian.
7. Memfasilitasi dan mendorong tersusunya standar pengobatan dan formularium rumah
sakit.
2.2.2 Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Fungsi IFRS adalah melakukan pelayanan farmasi klinik dan non
klinik(Permenkes RI No 72 Tahun 2016).
1. Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan Apoteker
kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko
terjadinya efek samping karena Obat, untuk tujuan keselamatan pasien (patientsafety)
sehingga kualitas hidup pasien (quality of life) terjamin. Pelayanan farmasi klinik yang
dilakukan meliputi:
a. Pengkajian dan pelayanan resep
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat
c. Rekonsiliasi Obat
6

d. Pelayanan Informasi Obat (PIO)


e. Konseling
f. Visite
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
i. Evalusi Penggunaan Obat (EPO)
j. Dispensing sediaan steril
k. Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD)
2. Pelayanan Farmasi Non Klinik
a. Memilih Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai
kebutuhan pelayanan Rumah Sakit
b. Merencanakan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai secara efektif, efisien dan optimal
c. Mengadakan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku
d. Memproduksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
e. Menerima Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai
dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku
f. Menyimpan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian
g. Mendistribusikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
ke unit-unit pelayanan di Rumah Sakit
h. Melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu
i. Melaksanakan pelayanan Obat “unit dose”/dosis sehari
j. Melaksanakan komputerisasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai (apabila sudah memungkinkan)
k. Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait dengan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
l. Melakukan pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang sudah tidak dapat digunakan
m. Mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai
7

n. Melakukan administrasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan


Medis Habis Pakai.
2.3 Hiperlipidemia
2.3.1 Definisi
Hiperlipidemia peningkatan salah satu atau lebih kolesterol, kolesterol ester,
fosfolipid, atau trigliserida. Hipoproteinemia adalah meningkatnya konsentrasi makro
molekul lipoprotein yang membawa lipid dalam plasma. Ketidak normanlan lipid
plasma dapat menyebabkan pengaruh yang buruk terhadap coroner, kardio vascular,
dan penyakit pembuluh arteri perifer (Sukandar & Sigit, 2008)

2.3.2 Klasifikasi Hiperlipidemia


Menurut Penyebabnya hyperlipidemia diklasifikasikan menjadi 2 yakni:
a. Hiperlipidemia Primer
Hiperlipidemia primer adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan pada
genetic. Pada biasanya kelainan ini tidak menimbulkan gejala ataupu keluhan,
biasanya dapat ditemukan secara kebetulan saat penderita melakukan
pemeriksaan laboratorium (Staf Pengajar Farmakologi, 2008).
b. Hiperlipidemia Sekunder
Hiperlipidemia sekunder adalah peningkatan kdar lipid darah yang disebabkan
oleh penyakit tertentu, misalnya diabetes mellitus, gangguan tiroid, penyakit
hepar dan penyakit ginjal (Staf Pengajar Farmakologi, 2008).
2.3.3 Etilogi Hiperlipidemia
.
2.3.4 Patofisiologi Hiperlipidemia
8
BAB III METODE PENELITIAN

9
BAB IV DESAIN PENELITIAN

10
11
BAB V DATA PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

12
13
14
15
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

16
DAFTAR PUSTAKA

17
18