Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Warisan adalah harta peninggalan seseorang yang telah meninggal kepada

seseorang yang masih hidup yang berhak menerima harta tersebut. Ketentuan-

ketentuan yang mengatur dalam hukum waris terdapat dalam Al-Qur’an, Al-Hadits,

dan Al-Ijma’ serta Ijtihad.

Adanya kematian seseorang mengakibatkan timbulnya cabang ilmu hukum

yang menyangkut bagaimana cara penyelesaian harta peninggalan kepada

keluarganya yang dikenal dengan nama Hukum Waris. Dalam syari’at Islam ilmu

tersebut dikenal dengan nama Ilmu Mawaris, Fiqih Mawaris, atau Faraidh.1

Ilmu Faraidh adalah ilmu yang diketahui dengannya siapa yang berhak

mendapat waris dan siapa yang tidak berhak, dan juga berapa ukuran untuk setiap ahli

waris.2

Dalam hal pembagian harta peninggalan, ahli waris telah memiliki bagian-

bagian tertentu. Seperti yang tercantum dalam Firman Allah SWT sebagai berikut :

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan
kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan
ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang
telah ditetapkan” (QS.An Nisa :7)

1
https://dakir.wordpress.com/2009/10/16/sejarah-pengertian-hukum-mempelajari-faraidh/,
diakses pada tanggal 09 Mei 2018 pukul 19.30
2
https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_faraid, diakses pada tanggal 09 Mei 2018 pukul 19.40

1
2

Dalam kaidah hukum waris dalam islam yang diatur menurut Al-Qur’an, Al-

Hadits, dan Al-Ijma’ serta Ijtihad, terdapat 3 (tiga) bagian ahli waris yaitu, ahli waris

utama, ahli waris utama pengganti, dan ahli waris pengganti.

Wujud warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam sangat berbeda

dengan wujud warisan menurut hukum waris barat sebagaimana diatur dalam BW

maupun menurut hukum waris adat.Warisan atau harta peninggalan menurut Hukum

Islam yaitu “sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam

keadaan bersih”. Artinya, harta peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris adalah

sejumlah harta benda serta segala hak, “setelah dikurangi dengan pembayaran hutang-

hutang pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh wafatnya si

peninggal waris”3

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang diatas, maka

penulis akan mengemukakan perumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan kelompok, golongan, dan bagian ahli waris utama dalam

hukum islam?

2. Bagaimanakah pengertian ahli waris pengganti dalam hukum islam?

3
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan di Indonesia. Bandung, hal. 17
3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kelompok, Golongan, dan Bagian Ahli Waris Utama dalam Hukum Islam

Di dalam hukum waris islam, sebab-sebab mempusakai dapat terjadi karena 3

(tiga), yaitu:

1. Perkawinan. Ahli waris berdasarkan perkawinan adalah janda, yaitu orang

yang berstatus suami atau istri pewaris pada saat pewaris meninggal dunia.

2. Kekerabatan. Ahli waris berdasarkan kekerabatan meliputi ushul (leluhur),

furu’ (keturunan), dan hawasyi (saudara).

3. Wala’. Ahli waris wala’ meliputi kekerabatan menurut hukum yang timbul

karena membebaskan budak, atau adanya perjanjian dan sumpah setia

antara seseorang dengan seorang lainnya.4

Untuk memudahkan pemahaman atas ketiga macam ahli waris tersebut, maka

para ahli faraidh mencoba melakukan pengelompokan dan penggolongan atas ahli

waris tersebut.

Istilah pengelompokan ahli waris digunakan untuk membedakan para ahli waris

berdasarkan keutamaan mewaris, sementara istilah penggolongan ahli waris

digunakan untuk membedakan para ahli waris berdasarkan besarnya bagian waris dan

cara penerimaannya.

4
Otje Salman S, Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, Bandung : PT. Refika Aditama, 2010,
hal.49
4

1. Kelompok Ahli Waris

Dengan memperhatikan keutamaan mewaris para kerabat di dalam hukum

waris islam, maka itu dapat dibagi ke dalam tujuh kelompok, yaitu :

a. Leluhur perempuan adalah leluhur perempuan dari pihak ibu dalam satu

garis lurus keatas (tidak terhalang oleh pihak laki-laki), sebera pun

tingginya, dan ibu kandung dari pihak laki-laki.

b. Leluhur laki-laki adalah leluhur laki-laki dari pihak bapak dalam satu garis

lurus keatas (tidak terhalang oleh pihak perempuan), seberapa pun

tingginya.

c. Keturunan perempuan adalah anak perempuan pewaris dan anak perempuan

dari keturunan laki-laki.

d. Keturunan laki-laki adalah keturunan laki-laki dari anak laki-laki dalam satu

garis lurus ke bawah (tidak terhalang oleh pihak perempuan), seberapa pun

rendahnya.

e. Saudara seibu adalah saudara perempuan dan saudara laki-laki yang hanya

satu ibu dengan pewaris.

f. Saudara sekandung / sebapak adalah keturunan laki-laki dari leluhur laki-

laki dalam satu garis lurus ke bawah (tidak terhalang oleh pihak

perempuan), seberapa pun rendahnya, dan anak perempuan dari bapak. Itu

adalah saudara laki-laki sekandung / sebapak dan saudara perempuan

sekandung / sebapak.
5

g. Kerabat lainnya yaitu kerabat lain yang tidak termasuk ke dalam keenam

kelompok diatas.5

Diatas telah disebutkan bahwa sebab-sebab mempusakai ada tiga, yaitu karena

perkawinan, kekerabatan, dan wala’. Maka secara lengkap, ahli waris dalam hukum

waris islam dibagi ke dalam Sembilan kelompok, yaitu :

1. Janda;

2. Leluhur perempuan;

3. Leluhur laki-laki;

4. Keturunan perempuan;

5. Keturunan laki-laki;

6. Saudara seibu;

7. Saudara sekandung/sebapak;

8. Kerabat lainnya; dan

9. Wala’.

2. Golongan Ahli Waris.

Berdasarkan besarnya hak yang akan diterima oleh para ahli waris, maka ahli

waris di dalam hukum waris islanm dibagi ke dalam tiga golongan, yaitu :

a. Ashchabul-furudh, yaitu golongan ahli waris yang bagian haknya tertentu,

yaitu 2/3, 1/2, 1/3, 1/4, 1/6, atau 1/8.

5
Ibid, hal. 50.
6

b. Ashabah, yaitu golongan ahli waris yang bagian haknya tidak tertentu,

tetapi mendapatkan ushubah (sisa) dari ashchabul-furudh atau mendapatkan

semuanya jika tidak ada ashchabul-furudh.

c. Dzawil Arham, yaitu golongan kerabat yang tidak termasuk golongan

pertama dan kedua.6

a. Ashchabul-furudh

Para ahli faraidh membedakan ashchabul-furudh ke dalam dua macam , yaitu

ashchabul-furudh is-sabbabiyah dan ashchabul-furudh in-nasabiyyah.

Ashchabul-furudh is-sabbabiyah adalah golongan ahli waris akibat adanya

ikatan perkawinan dengan si pewaris. Golongan ahli waris ini adalah janda (laki-laki

atau perempuan).

Ashchabul-furudh in-nasabiyyah adalah golongan ahli waris sebagai akibat

adanya hubungan darah dengan si pewaris. Termasuk dalam golongan ini adalah :

1. Leluhur perempuan: Ibu dan Nenek;

2. Leluhur laki-laki : Bapak dan Kakek;

3. Keturunan perempuan: Anak perempuan dan Cucu perempuan;

4. Saudara seibu: Saudara perempuan seibu dan Saudara laki-laki seibu; dan

5. Saudara sekandung / sebapak : Saudara perempuan sekandung dan Saudara

perempuan sebapak.

6
Ibid, hal. 51.
7

b. Ashabah

Para ahli faraidh membedakan ashabah ke dalam tiga macam, yaitu ashabah

binafsihi, ashabah bil-ghairi, dan ashabah ma’al-ghairi..

Menurut M. Ali Hasan dalam bukunya “Hukum Warisan dalam Islam”,7 terdiri

atas :

(1) Ashabah binafsihi yaitu ashabah-ashabah yang berhak mendapat semua


harta atau semua sisa, yang urutannya sebagai berikut:

1. Anak laki-laki;

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus ke bawah asal saja
pertaliannya masih terus laki-laki;

3. Ayah;

4. Kakek dari pihak ayah dan terus ke atas asal saja pertaliannya belum
putus dari pihak ayah;

5. Saudara laki-laki sekandung;

6. Saudara laki-laki seayah;

7. Anak saudara laki-laki sekandung;

8. Anak saudara laki-laki seayah;

9. Paman yang sekandung dengan ayah;

10. Paman yang seayah dengan ayah;

11. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah;

12. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah.

7
M. Ali Hasan, Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1973, hal. 26
8

(2) Ashabah bilghairi yaitu ashabah dengan sebab orang lain, yakni
seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik oleh seorang laki-
laki, mereka yang termasuk dalam ashabah bilghairi ini adalah sebagai
berikut:

1. Anak perempuan yang didampingi oleh anak laki-laki;

2. Saudara perempuan yang didampingi oleh saudara laki-laki.

(3) Ashabah ma’al ghairi yakni saudara perempuan yang mewaris bersama

keturunan dari pewaris, mereka itu adalah:

1. Saudara perempuan sekandung, dan

2. Saudara perempuan seayah.

c. Dzawil - arham

Dzawil – arham adalah golongan kerabat yang tidak termasuk golongan

ashcabul-furudh dan ashabah. Kerabat golongan ini baru mewaris jika tidak ada

kerabat yang termasuk kedua golongan diatas.8

3. Bagian Ahli Waris

Di bawah ini akan dikemukakan tentang bagian hak para ahli waris yang

termasuk dalam golongan ashcabul-furudh dan ashabah.

a. Ahli Waris Utama

Ahli waris utama dalam hukum waris islam terdiri dari 5 (lima) pihak, yaitu

janda, ibu, bapak, anak laki-laki, dan anak perempuan. Keberadaan salah satu pihak

8
Otje Salman S, Mustofa Haffas, Op.cit., hal. 53
9

tidak menjadi penghalang bagi pihak untuk menerima waris. Dengan kata lain,

mereka secara bersama akan menerima waris dengan bagian yang telah ditentukan.

Uraian tentang bagian ahli waris utama para ahli waris menurut Otje Salman S

dan Mustofa Haffas, dalam bukunya “ Hukum Waris Islam”9, adalah sebagai

berikut :

a. Janda

Di dalam hukum waris islam, bagian waris untuk janda laki-laki dengan janda

perempuan tidak sama, yaitu sebagai berikut :

1) Janda perempuan

Bagian janda perempuan adalah :

a. 1/8 bagian jika pewaris mempunyai anak.

b. 1/4 bagian jika pewaris tidak mempunyai anak.

Dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

......jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan


dari harta yang kamu tinggalkan….(QS.An-Nisa’ :12)

......Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika

kamu tidak mempunyai anak….(QS.An-Nisa’ :12)

2) Janda laki-laki

Bagian janda laki-laki adalah :

a. 1/4 bagian jika pewaris mempunyai anak.

9
Ibid, hal.54-57
10

b. 1/2 bagian jika pewaris tidak mempunyai anak.

Dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

......Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat


seperempat dari harta yang ditinggalkan….(QS.An-Nisa’ :12)

......Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan

oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak….(QS.An-Nisa’

:12)

b. Ibu

Bagian ibu adalah :

a. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai anak.

b. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai beberapa saudara.

c. 1/3 bagian jika pewaris tidak mempunyai anak.

Dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

......Dan untuk dua orang Ibu-Bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari


harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai
anak….(QS.An-Nisa’ :11)

......Jika orang yang meninggal tidak mempunyai beberapa saudara, maka

ibunya mendapat seperenam ….(QS.An-Nisa’ :11)

......Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-

bapaknya (saja), maka ibunya mendapat seperenam ….(QS.An-Nisa’ :11)


11

c. Bapak

Bagian bapak adalah :

a. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai anak.

b. 1/6 bagian + sisa jika pewaris hanya mempunyai anak perempuan.

c. Sisa, jika pewaris tidak mempunyai anak.

Dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

......Dan untuk dua orang Ibu-Bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari


harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak….(QS.An-
Nisa’ :11)

Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian bagian itu kepada lebihnya,
adalah untuk laki-laki yang lebih hanpir (kepada si mati).
(Bukhari, Muslim, dan lainnya)

d. Anak perempuan

Bagian anak perempuan adalah :

a. 1/2 bagian jika seorang.

b. 2/3 bagian jika beberapa orang.

c. Masing-masing 1 bagian dari sisa jika mereka mewaris bersama anak laki-

laki, Dalam hal ini, kedudukan anak perempuan adalah sebagai ashabah bil-

ghairi.

Dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

......Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh


harta….(QS.An-Nisa’ :11)
12

......Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagian
mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan….(QS.An-Nisa’ :11)

......Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak


perempuan….(QS.An-Nisa’ :11)

e. Anak laki-laki

Anak laki-laki tidak memiliki bagian yang pasti, mereka menerima waris

dengan jalan ushubah baik diantara sesama anak laki-laki atau bersama dengan anak

perempuan. Bagian anak laki-laki adalah :

a. Masing-masing 1 bagian dari sisa jika mereka mewaris bersama dengan

anak laki-laki lainnya. Dalam hal ini, kedudukan anak laki-laki adalah

ashabah binafsihi.

b. Masing-masing 2 bagian dari sisa jika mereka mewaris bersama anak

perempuan. Dalam hal ini, kedudukan anak perempuan sebagai ashabah

bil-ghairi.

Dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian bagian itu kepada lebihnya,
adalah untuk laki-laki yang lebih hanpir (kepada si mati).
(Bukhari, Muslim, dan lainnya)

......Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak


perempuan….(QS.An-Nisa’ :11)
13

B. Ahli Waris Pengganti dalam Hukum Islam.

Pengertian ahli waris pengganti di dalam hukum waris islam tidak sama dengan

ahli waris pengganti di dalam hukum waris Adat, hukum waris barat (B.W), dan

hukum waris di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Indonesia. Yang pada

pokoknya hanya memandang ahli waris pengganti adalah keturunan dari ahli waris

yang digantikan kedudukannya. Pengertian ahli waris pengganti di dalam hukum

waris islam adalah ahli waris yang haknya terbuka sebagai akibat ketiadaan ahli waris

tertentu.10

Mengacu kepada pengertian leluhur dan keturunan, ahli waris pengganti

dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ahli waris utama pengganti dan ahli waris

pengganti. 11

1. Ahli waris utama pengganti

Ahli waris utama pengganti terdiri dari nenek, kakek, cucu perempuan, dan

cucu laki-laki.

a. Nenek

Kedudukan nenek sebagai ahli waris baru terbuka jika tidak ada ibu. Oleh sebab

itu maka dapatlah dikatakan bahwa nenek mempunyai kedudukan sebagai pengganti

ibu. Bagian nenek adalah 1/6 bagian, baik sendiri maupun bersama.

Dasar-dasar hukumnya adalah sebagai berikut :

10
https://www.scribd.com/doc/204683191/hukum-waris-pdf, diakses pada tanggal 10 Mei
2018, pukul 20.30
11
Otje Salman S, Mustofa Haffas, Op.cit., hal. 58-67
14

Dari Buraidah : Bahwasanya Nabi SAW telah beri bagi nenek seperenam,
apabila tidak dihalangi oleh ibu. (Abu Dawud)

Telah berkata Qaasim bin Muhammad : Telah dating dua orang nenek kepada
Abu Bakar, maka Abu Bakar hendak berikan seperenam itu kepada nenek dari
pihak ibu. Maka seorang kaum Anshaar berkata : Apakah tuan mau tinggalkan
nenek yang kalau mati sedang cucunya hidup, niscaya dialah yang menjadi
warisnya? Maka Abu Bakar bagi seperenam itu di antara mereka berdua.
(Maaliki)

b. Kakek

Kedudukan kakek sebagai ahli waris baru terbuka jika tidak ada bapak. Oleh

sebab itu, maka dapatlah dikatakan bahwa kakek mempunyai kedudukan sebagai

pengganti bapak.

Penggantian kedudukan bapak dan kakek ada yang menafsirkannya secara

mutlak dan ada yang menafsirkannya secara tidak mutlak. Penafsiran tersebut

dilakukan berkenaan dengan kakek mewaris bersama dengan saudara sekandung atau

saudara sebapak.

Abu Bakar as-Shiddiq, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Al-Hasan, Ibnu Sirin, dan

Abu Hanifah berpendapat bahwa kakek sama dengan bapak. Kedudukan saudara

sebagai ahli waris baru terbuka tidak saha jika tidak ada bapak, melainkan juga jika

tidak ada kakek. Dalam hal kedudukan kakek dipandang sebagai pengganti

kedudukan bapak secara mutlak, maka bagian warisnya adalah sebagai berikut :

a. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai anak.


15

b. 1/6 bagian + sisa jika pewaris hanya mempunyai satu anak perempuan.

c. Sisa, jika pewaris tidak mempunyai anak.

Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Sabit, dan jumhur ulama

memandang kedudukan kakek tidak sebagai pengganti kedudukan bapak. Pergantian

kedudukan bapak oleh kakek tidak boleh dianalogikan dengan pergantian anak laki-

laki oleh cucu karena anak hanya punya anak (cucu), sementara bapak boleh jadi

punya bapak (kakek), dan anak (saudara sekandung dan atau saudara sebapak). Kakek

dengan saudara sekandung dan saudara sebapak memiliki derajat yang sama. Dalam

hal ini kedudukan kakek tidak dipandang sebagai pengganti kedudukan bapak secara

mutlak, maka bagian warisnya adalah sebagai berikut :

a. 1/6 bagian jika pewaris mempunyai anak

b. 1/6 bagian + sisa jika pewaris hanya mempunyai satu anak perempuan.

c. Sia, jika pewaris tidak mempunyai anak.

d. Muqasamah, jika mewaris bersama saudara.

c. Cucu Perempuan

Kedudukan cucu perempuan sebagai ahli waris masih belum terbuka jika :

1. Ada anak laki-laki atau cucu laki-laki yang lebih tinggi derajatnya.

2. Ada dua anak perempuan atau cucu perempuan yang lebih tinggi

derajatnya.
16

Kedudukan cucu perempuan sebagai ahli waris baru terbuka jika :

1. Hanya ada satu anak perempuan atau cucu perempuan yang lebih tinggi

derajatnya.

2. Ada cucu laki-laki yang menjadi muasib mereka.

Dalam hal tidak ada anak laki-laki atau cucu laki-laki dan tidak ada anak

perempuan atau cucu perempuan yang lebih tinggi derajatnya, cucu perempuan

memiliki kedudukan sebagai anak perempuan.

Dalam hal terdapat satu anak perempuan atau cucu perempuan yang lebih tinggi

derajatnya, kedudukan cucu perempuan dipandang sebagai cucu perempuan

pelengkap.

Dalam hal terdapat cucu laki-laki yang memiliki derajat yang sama atau lebih

rendah, kedudukan cucu perempuan adalah sebagai ashabah bilghairi bersama

mereka (muasibnya).

Bagian waris cucu perempuan adalah :

a. 1/2 bagian jika seorang.

b. 2/3 bagian jika beberapa orang.

c. 1/6 bagian jika mereka mewaris sebagai cucu perempuan pelengkap.

d. Masing-masing 1 bagian jika mereka mewaris bersama cucu laki-laki yang

menjadi muasibnya.
17

d. Cucu Laki-laki
Kedudukan cucu laki-laki sebagai ahli waris baru terbuka jika tidak ada

anak laki-laki (bapaknya). Oleh sebab itu, maka dapatlah dikatakan bahwa cucu laki-

laki mempunyai kedudukan sebagai pengganti anak laki-laki (bapaknya).

Cucu laki-laki dapat mewaris bersama dengan paman (anak laki-laki atau

cucu laki-laki yang lebih tinggi derajatnya), juga dapat menarik bibi (anak perempuan

atau cucu perempuan yang lebih tinggi derajatnya) dan saudara perempuan (cucu

perempuan yang sama derajatnya) mejadi ashabah bil-ghairi, sebagaimana halnya

bapaknya.

Dalam hal terdapat sejumlah cucu laki-laki bersama atau tidak bersama

cucu perempuan yang berasal dari anak laki-laki yang sama, maka mereka berserikat

menerima bagian bapaknya.

2. Ahli waris pengganti

a. Saudara seibu

Saudara seibu baru terbuka haknya jika tidak ada bapak dan anak. Kedudukan

saudara seibu, baik perempuan maupun laki-laki, adalah sama. Jika saudara seibu

hanya satu orang maka bagiannya adalah 1/6, sementara jika lebih dari satu orang

maka bagiannya adalah 1/3 untuk semua. Sesuai dengan firman Allah SWT :

…..Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan
bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seseorang saudara laki-laki
(seibu saja) atau saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari
18

kedua saudara ibu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari
seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga…..(QS.An-Nisa:12)

b. Saudara sekandung / sebapak

Seperti halnya saudara seibu, saudara sekandung / sebapak baru terbuka

haknya jika tidak ada bapak dan anak. Ini sesuai dengan Firman Allah :

…..Jika seorang meninggal dunia, dan ia tidaqk mempunyai anak dan mempunyai
saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta
yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki memusakai (seluruh harta
saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak…..QS.An-Nisa :176)

…..Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga
dari harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal…..QS.An-Nisa :176)

…..Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan
perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang
saudara perempuan…..QS.An-Nisa :176)

Anak yang dimaksud di dalam dalil diatas adalah anak laki-laki, karena

kedudukan anak laki-laki adalah ashabah, maka tidak ada sisa yang dapat diberikan

kepada saudara sekandung / sebapak. Sementara jika anak yang dimaksud adalah

anak perempuan, maka kedudukan saudara sekandung / sebapak menjadi ashabah.


19

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas diterangkan bahwa ahli waris pengganti terbagi

menjadi dua macam:

1. Ahli waris utama pengganti dan

2. Ahli waris pengganti.

Syarat utama seorang ahli waris pengganti supaya dapat mendapatkan warisan

adalah karena ketiadaan ahli waris tertentu, baru haknya menjadi terbuka. Dan

meninggalnya ahli waris adalah hal pokok dalam pembagian harta ahli waris

pengganti.

B. Saran

Memang terjadi kontrofersi antara Hukum adat, BW, dan hukum Islam. Oleh

sebab Al-Qur’an yang seharusnya dijadikan Undang-undang kehidupan, ternyata

dikesampingkan. Sehingga lahirlah KHI dengan gabungan BW, Hukum adat, dan

Hukum Islam. Oleh sebab itu terkadang, keputusan KHI kurang pas dengan AL-

Qur’an, karena sebab pengaruh hukum barat.

Namun islam tetaplah umat islam, untuk itu jadikanlah Al-Qur’an dan Al-

Hadis sebagai pokok pemecahan masalah.


20

DAFTAR PUSTAKA

A. Literatur

Hasan, M. Ali Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta, Bulan Bintang, 1973.

Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Warisan di Indonesia, Bandung.

Salman S, Otje, Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, Bandung, Refika

Aditama, 2010.

B. Sumber Lainnya
https://dakir.wordpress.com/2009/10/16/sejarah-pengertian-hukum-

mempelajari-faraidh/,

https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_faraid

https://www.scribd.com/doc/204683191/hukum-waris-pdf