Anda di halaman 1dari 13

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Belajar
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang, oleh karena itu belajar merupakan suatu proses untuk
mendapatkan hasil perubahan pada diri sendiri. Menurut Rifa‟i dan Anni
(2010:82), belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap
orang dan belajar itu mencangkup segala sesuatu yang dipikirkan dan
dikerjakan oleh seseorang.

2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik
setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek- aspek perubahan
perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik (Rifa‟i
dan Anni, 2010:85).
Menurut Hamalik (2004:36), menerangkan proses belajar dan hasil belajar
para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur, dan isi
kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang
mengajar dan membimbing mereka. Dengan demikian untuk memperoleh hasil
belajar siswa yang lebih baik tidak hanya dipengaruhi oleh aspek-aspekdari
sekolah, pola, struktur dan kurikulum saja, tetapi seorang guru atau
pembimbing harus memiliki kompetensi yang baik pula.

3. Pembelajaran Discovery learning


Model discovery learning didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang

terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi

diharapkan mengorganisasi sendiri. Ide dasar Bruner adalah pendapat dari Piaget

yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Model

Discovery Learning merupakan suatu pembelajaran dimana siswa harus berperan

aktip dalam suatu pembelajaran sehingga pembelajaran yang dirancang

sedemikian rupa siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip


melalui proses mentalnya sendiri, dan siswa mampu mengetahui sendiri informasi

yang sudah mereka miliki.

Model discovery learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan,


melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan
(Budiningsih). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam
penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.
discoverydilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi,
penentuan dan inferi. Disimpulkan bahwa model discovery learning adalah suatu
model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas siswa, sementara guru
hanya sebagai pembimbing/fasilitator yang mengarahkan siswa menemukan
konsep, dalil dan prosedur.
Sebagaimana diungkapkan oleh Jerome Bruner, Bruner menganggap
bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri
untuk mencari pemecahan masalah sera pengetahuan yang menyertainya,
menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Ratna Wilis Dahar
(2006:79). Dari teori belajar Bruner, intinya perolehan pengetahuan merupakan
suatu proses interaksi, dan orang mengkanstruksi pengetahuannya dengan
menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan atau
diperoleh sebelumnya. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan
secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang
paling baik.
Adapun kelebihan dan kekurangan dalam model pembelajaran discovery
learning ( Kemendikbud,2013:32).
1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-
keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan
kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya .
2. Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan ampuh
karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.
3. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan berhasil.
4. Model ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai
dengan kecepatannya sendiri.
5. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan
melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
6. Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh
kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
7. Berpusat pada siswa dan gutu berperan sama-sama aktif mengeluarkan
gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan
sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
8. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keraguan-raguan) karena
mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
9. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
10. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi
proses belajar yang baru.
11. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
12. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri
13. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
14. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang
15. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada
pembentukan manusia seutuhnya.
16. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
17. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber
belajar.
Kekurangan penerapan discovery learning ( Kemendikbud,2013:32)

1. Menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi


siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau
berpikiran mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep yang tertulis
atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
2. Tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena
membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan
teori atau pemecahan masalah lainnya.
3. Harapan-harapan yang tarkandung dalam model ini dapat buyar
berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara
belajar yang lama.
4. Pengajaran dengan modeldiscovery learning lebih cocok untuk
mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek
konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat
perhatian.
5. Pada beberapa disiplin ilmu, kurang fasilitas untuk mengukur gagas yang
dikemukakan oleh para siswa.
6. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan
ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

4. Sistem Rem Konvensional


A. Pengertian dan Fungsi Sistem Rem
Secara umum adalah suatu sistem yang bekerja untuk memperlambat
atau menghentikan perputaran. Prinsip kerja sistem rem adalah mengubah
tenaga kinetik menjadi panas dengan cara menggesekan dua buah logam pada
benda yang berputar sehingga putarannya akan melambat, dengan demikian
laju kendaraan menjadi pelan atau berhenti dikarenakan adanya kerja rem.
Sistem rem pada kendaraan merupakan suatu komponen penting sebagai
keamanan dalam berkendara, tidak berfungsinya rem dapat menimbulkan
bahaya dan keamanan berkendara jadi terganggu. Oleh sebab itu komponen
rem yang bergesekan ini harus tahan terhadap gesekan (tidak mudah aus),
tahan panas dan tidak mudah berubah bentuk pada saat bekerja dalam suhu
tinggi.
Beberapa fungsi rem sebagai berikut:
 Untuk memperlambat kecepatan atau menghentikan gerakan roda
kendaraan.
 Mengatur kecepatan selama berkendaran
 Untuk menahan kendaraan saat parkir dan berhenti pada jalan yang
menurun atau menanjak.

B. Jenis-Jenis Rem Konvensional


1. Rem Cakram (Disk Brake) dengan prinsip kerjanya adalah sepasang pad
yang tidak berputar menjepit rotor piringan yang berputar menggunakan
tekanan hidrolis, menyebabkan terjadinya gesekan yang dapat
memperlambat atau menghentikan kendaraan.
2. Rem Tromol (Drum Brake) bekerja dengan menggunakan sepasang sepatu
yang menahan bagian dalam dari tromol yang berputar bersama-sama
dengan roda, baik secara hidrolis maupun mekanis.

Gambar 2.1 Jenis-Jenis Rem Konvensional


C. Komponen Utama Sistem Rem
1. Komponen Rem Tromol (Drum Brake)
Rem tromol merupakan salah satu tipe rem pada kendaraan. Pada
kendaraan mobil pada umumnya menggunakan sistem rem hidrolik yaitu
dengan memanfaatkan tekanan hidrolik untuk membantu menekan kanvas
rem.
Sebuah unit rem tromol terdiri dari dua sepatu rem yang terpasang pada
backing plate. Ketika pedal rem ditekan, silinder roda hidrolik akan
mendorong sepatu keluar untuk menekan tromol yang berputar dan
menimbulkan gesekan sehingga memperlambat kendaraan. Ketika pedal
dibebaskan, pegas pengembali menarik sepatu rem kembali ke posisi
semula.
Berikut Komponen Utama Rem Tromol :

Gambar 2.2 Komponen Rem Tromol


a. Brake Tromol (Tromol)
Tromol berputar bersama-sama dengan roda. Dalam beberapa
sistem rem, tromol merupakan hub roda dan bantalan roda. Tromol
harus bulat sempurna dan konsentris dengan poros. Pedal rem akan
bergetar jika tromol tidak bulat sempurna atau nonconcentric dengan
spindle atau poros. Alur-alur pada permukaan dalam tromol (bidang
gesek) akan terbentuk kerena gesekan, tromol beralur mengekbatkan
koefisien gesek berkurang. Tromol juga harus dapat menyerap dan
menghilangkan sejumlah panas yang timbul akibat gesekan.

b. Brake Shoe (Sepatu Rem)

Gambar 2.3 Brake Shoe (Sepatu Rem)


Brake shoe atau septu rem yang berfungsi untuk menekan
tromol rem sehingga terjadi proses pengereman. Sepatu rem pada rem
tromol berjumlah dua buah dan terpasang di backing plate dan dikunci
oleh pegas pemegang sepatu rem. Karena sepatu rem terpasang pada
backing plate, maka sepatu rem tidak akan ikut berputar bersama-
sama dengan roda. Terdapat dua tipe sepatu rem yaitu sepatu rem
leading dan sepatu rem trailing. Ada rem tromol yang memiliki satu
sepatu leading dan satu sepatu trailing dan ada yang keduanya sepatu
leading saat kendaaran maju dan akan berubah menjadi sepatu trailing
ketika kendaraan mundur, atau ada yang saat maju ataupun mundur
kedua sepatu rem adalah leading. Hal ini tersebut tergantung dari tipe-
tipe rem yang digunakan.
Sepatu rem dikatakan sepatu leading yaitu karena gaya
pengeremannya lebih besar karena mendapatkan self energizing
effect. Pada sepatu rem terdapat kanvas rem, kanvas rem merupakan
bagian yang bergesekkan dengan tromol.

c. Wheel Silinder (Silinder Roda)


Wheel cylinder atau silinder roda terletak di dalam tromol dan
terpasang di backing plate. Silinder roda berfungsi untuk menerima
tekanan hidrolik dari master silinder yang kemudian tekanan tersebut
digunakan untuk menekan sepatu rem agar terjadi proses pengereman.
Didalam silinder roda terdapat piston, piston inilah yang
berfungsi untuk menerima tekanan dan kemudian digunakan untuk
menekan sepatu rem. Jumlah piston pada silinder roda tergantung dari
tipe rem yang digunakan. Ada yang satu silinder roda terdapat satu
buah piston (tipe single piston) dan ada yang satu silinder roda
terdapat dua buah piston (tipe double piston).

Gambar 2.4 Silinder Roda


d. Anchors
Anchor merupakan bagian dari sistem rem tromol yang terpasang
pada backing plate dan menjadi tumpuan dari sepatu rem.
Gambar 2.5 Anchors

e. Backing plate.
Backing plate berfungsi sebagai landasan pada sistem rem
tromol, dimana silinder roda, sepatu rem, anchor, pengas pemegang
sepatu rem, terpasang di backing plate. Backing plate merupakan plat
berbentuk lingkaran yang terpasang pada rumah poros dan tidak ikut
berputar bersama-sama dengan roda.

f. Springs (Pegas sepatu rem)


Pegas pemegang sepatu rem berfungsi untuk menahan sepatu
rem agar tetap berada pada posisinya. Pegas pemegang sepatu rem ini
memegang sepatu rem terhadap backing plate. Terdapat dua tipe
pegas pemegang sepatu rem yang digunakan yaitu tipe coil spring dan
tipe clip spring.
Gambar 2.6 Springs Springs (Pegas sepatu rem)

g. Return springs (Pegas pengembali).


Pegas pengembali sepatu rem merupakan pegas tipe coil spring
yang menghubungkan antara sepatu rem dengan dudukan
stasionernya atau dari sepatu rem ke sepatu rem lainnya. Pegas
pengembali sepatu rem berfungsi untuk mengembalikan posisi sepatu
rem ke posisi semula setelah pedal rem dilepas.

h. Adjuster (Unit penyetel).


Hampir semua rem tromol modern menggunakan beberapa
bentuk penyetel (adjuster) berupa roda bintang (roda bergerigi). Pada
banyak sistem, adjuster roda bintang ditempatkan di bagian bawah
unit sepatu rem, dengan silinder roda di atas. Pada beberapa sistem
rem tromol, adjuster, yang ditempatkan di bagian atas, langsung di
bawah roda silinder, dengan bagian bawah penahan sepatu rem.

Gambar 2.7 Adjuster (Unit Penyetel)

Desain roda bintang disebut adjuster/penyetel mengambang,


karena tidak bertumpu ke backing plate dan dapat bergerak bersama
dengan sepatu rem. Adjuster roda bintang dapat berubah secara manual
untuk menyesuaikan jarak (clearance) antara sepatu rem dengan
tromol. Semua roda bintang digunakan pada kendaraan modern
dioperasikan oleh adjuster linkage secara otomatis.

Sebuah unit penyetel terdiri dari tiga bagian utama yaitu : roda
bintang , pivot nut , dan soket . Memutar roda bintang
menyebabkannya ulir akan dalam atau keluar dari kacang pivot. Hal ini
membuat unit penyetel memanjang atau memendek , tergantung ke
arah mana roda bintang diaktifkan/diputar. Roda Bintang yang berulir
yang berbeda untuk roda kiri dan kanan , dan ditandai dengan huruf L
atau R. Ini menunjukkan apakah adjuster harus dipasang di sisi kiri
atau kanan kendaraan.

Jenis-jenis konstruksi roda bintang penyetel antara lain :

1. Cable Adjusters.
2. Link Adjuster.
3. Lever Adjuster.
4. Ratchet Adjusters.

D. Cara Kerja Sistem Rem Tromol


Rem tromol bekerja dengan memanfaatkan perubahan energi gerak
menjadi energi panas. Untuk melakukan perubahan ini, rem tromol
menggunakan gaya gesek sebagai model. Saat dua material bergerak saling
bergesekan, maka gerakan keduanya akan terhambat dan menimbulkan friksi
serta panas.

Gambar 2.8 Prinsip Kerja Sistem Rem Tromol

Proses kerjanya adalah ketika pedal dinjak maka gaya hydraulic dari
master silinder akan disalurkan melaui pipa, selang dan melewati
proportioning valve(baca lagi: Cara kerja sistem rem mobil) dan tekanan akan
sampai ke masing-masing rem di roda belakang. Tekanan hydraulic tadi akan
membuat piston di dalam wheel cylinder bergerak ke arah luar, gerakan piston
tersebut selanjutnya akan menekan kampas untuk terbuka melebar sehingga
bergesekkan dengan mangkuk/rumah teromol yang ikut berputar bersama
roda. Gesekkan tersebut itulah yang akhirnya membuat mobil dapat berhenti.
Walaupun masih digunakan pada mayoritas mobil yang beredar saat ini
namun harus diakui bahwa rem cakram memiliki keunggulan dalam beberapa
hal, seperti kemampuannya yang lebih cepat melepas panas, cepat melepaskan
debu residu kampas serta lebih mudah dalam memonitor ketebalan kampas.
Keunggulan tersebut tidak dimiliki oleh model tromol, karena komponen rem
tromol yang tertutup mangkuk/rumahnya sehingga debu residu dan panas akan
lebih lama terlepas ke udara bebas.

B. Kerangka Berpikir
Proses pembelajaran yang dilakukan masih bersifat konvensional dengan
menggunakan model ceramah. Sumber belajar yang digunakan berupa modul dan
handout. Oleh karena itu, siswa cenderung malas dan kurang tertarik terhadap
penyampaian materi oleh guru. Hanya sedikit siswa yang berani bertanya maupun
menjawab pertanyaan dari gurunya. Ada juga beberapa siswa yang mengobrol
dengan teman sebangkunya, dan ada pula yang bermain telepon seluler.

Untuk mengatasi permasalahan di atas maka akan diterapkan model


pembelajaran discovery learning. Model tersebut merupakan model mengajar yang
menerapkan pembelajaran mandiri. Siswa tidak mendapatkan pengetahuan melalui
guru tetapi siswa mendapatkan pengetahuan melalui proses menemukan sendiri.
Dengan demikian, dalam pembelajaran dengan penemuan sendiri, siswa dapat
memperoleh pengetahuan dari pengalamannya menyelesaikan masalah bukan melalui
penjelasan dari guru.

Dari hasil penelitian relevan yang dilakukan oleh Eka Kurniawati (2011)
didapatkan peningkatan keterampilan siswa dalam kegiatan pratikum dan pengerjaan
latihan soal. Menurut Elvira Yunita Utami (2013) didapatakan hasil peningkatan
motivasi belajar setelah siswa dilakukan pembajaran dengan model discovery
learning. Selanjutnya menurut Akhmad Afendi (2012) didapatkan hasil penggunaan
model pembelajaran discovery learnig lebih efektif dari pada model pembelajaran
konvensional terhadap hasil belajar siswa.

Oleh karena itu diharapkan model discovery learning dapat


meningkatkan kompetensi siswa baik aspek kognitif maupun afektif dalam memahami
rangkaian resistif arus searah dan siswa dapat mengorganisasikanya sendiri. Uraian
kerangka berpikir tersebut ditampilkan dalam bagan pada gambar 1 sebagai
berikut:

Rendahnya kompetensi siswa

aspek kognitif dan afektif

Penerapan model discovery learning

Aspek Kognitif Aspek Afektif

Peningkatan kompetensi siswa

aspek kognitif dan afektif

Gambar 2.9 Bagan kerangka berpikir penelitian

C. Hipotesis Tindakan
Sesuai dengan teori dan kerangka berfikir yang telah dikemukakan, maka dirumuskan
hipotesis yang akan diuji kebenarannya yaitu sebagai berikut:
1. Pembelajaran Sistem Rem Konvesional dengan menggunakan model discovery
learning dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.
2. Pembelajaran Sistem Rem Konvesional dengan menggunakan model discovery
learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.