Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN KASUS PENYAKIT HIV/AIDS


DI RUANG 27 RSU Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
2018

DISUSUN OLEH :

SUGENG YULIAWAN
NIM. 201501038

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BANYUWANGI
2018/2019
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN KASUS PENYAKIT HIV/AIDS
DI RUANG 27 RSU Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
2018

DISUSUN OLEH :

SUGENG YULIAWAN
NIM. 201501038

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BANYUWANGI
2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar Pengesahan Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan ini dibuat berdasarkan Praktik
Klinik Keperawatan dengan kasus HIV/AIDS di RSU Dr. Saiful Anwar ( RSSA ) Malang di
Ruang 27 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juli – 28 Juli 2018.

Malang, ………………………….

Mahasiswa

Sugeng Yuliawan
NIM. 201501038

Disetujui Oleh :

Pembimbing Rumah Sakit Pembimbing Institusi

…………………………… ……………………………

Mengetahui
Kepala Ruangan

……………………………
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar Pengesahan Asuhan Keperawatan ini dibuat berdasarkan Praktik Klinik Keperawatan
dengan kasus HIV/AIDS pada pasien di RSU Dr. Saiful Anwar ( RSSA ) Malang di
Ruang 27 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juli – 28 Juli 2018.

Malang, ………………………….

Mahasiswa

Sugeng Yuliawan
NIM. 201501038

Disetujui Oleh :

Pembimbing Rumah Sakit Pembimbing Institusi

…………………………… ……………………………

Mengetahui
Kepala Ruangan

……………………………
LEMBAR KONSULTASI

No Tanggal REVISIAN TANDA TANGAN


BAB 1
TINJAUAN TEORI

1.1 Definisi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan patogen yang menyerang sistem
imun manusia, terutama semua sel yang memiliki penanda CD4+ di permukaannya seperti
makrofag dan limfosit T. sementara acquired-immunodeficiency syndrome (AIDS)
merupakan suatu kondisi (sindrom) imunosupresif yang berkaitan erat dengan berbagai
infeksi oportunistik, neoplasma sekunder. Serta manifestasi neurologik tertentu akibat infeksi
HIV. (Risca, Iris, 2014).
Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah singkatan dari AIDS. AIDS adalah
kumpulan gejala klinis akibat penurunan sistem kekebalan tubuh yang timbul akibat infeksi
HIV (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).
Virus HIV memasuki tubuh seseorang maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai
mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (Sel limfosit T CD4 dan Makrofag). Virus HIV akan
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa
antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan
laboratorium adalah antara 2-12 minggu dan disebut masa jendela (window period). Selama
masa jendela, pasien sangat infeksius sehingga mudah menularkan kepada orang lain
meskipun hasil pemeriksaan laboratorium masih negatif (Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2015).

1.2 Etiologi
Menurut Risca,Iris (2014) HIV merupakan virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk
dalam subfamili lentivirus dan famili Retrovirus. Struktur HIV dapat dibedakan menjadi dua
tipe HIV-1 yang menyebar luar ke seluruh dunia dan HIV-2 yang hanya ada di afrika Barat
dan beberapa Negara Eropa.
Sumber penularan infeksi HIV
1. Kontak seksual (heteroseksual, homoseksual) lewat mukosa genetal
2. Darah, produk darah ( langsung menyebar hematogen) jaringan transplansi, jarum
suntik, spuit
3. Vertikal dari ibu ke janin / bayi lewat infeksi intrapartum perinatal atau air susu ibu.
1.3 Manifestasi Klinis
Menurut Mandal (2014) tanda dan gejala penyakit AIDS menyebar luas dan pada
dasarnya dapat mengenai semua sistem organ. Penyakit yang berkaitan dengan infeksi HIV
dan penyakit AIDS terjadi akibat infeksi dan efek langsung HIV pada jaringan tubuh. Adanya
HIV dalam tubuh seseorang tidak dapat dilihat dari penampilan luar. Orang yang terinfeksi
tidak akan menunjukan gejala apapun dalam jangka waktu yang relatif lama (±7-10 tahun)
setelah tertular HIV. Masa ini disebut masa laten. Orang tersebut masih tetap sehat dan bisa
bekerja sebagaimana biasanya walaupun darahnya mengandung HIV. Masa inilah yang
mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat, karena orang terinfeksi secara tidak disadari
dapat menularkan kepada yang lainnya. Dari masa laten kemudian masuk ke keadaan AIDS
dengan gejala sebagai berikut:
Menurut Nursalam (2014) pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda
penyakit. Pada infeksi HIV primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan
sakit seperti flu dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami
demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam
kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.
Ketika HIV menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi
AIDS) akan terdapat gejala infeksi oportunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic
Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk
meningitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal.
1. Infeksi HIV
Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam
berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar
getah bening, dan bercak merah ditubuh.
2. Infeksi HIV tanpa gejala
Diketahui oleh pemeriksa kadar HIV dalam darah akan diperoleh hasil positif.
3. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan
kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

Gejala yang muncul pada HIV AIDS:


1. Gejala mayor
a. Berat badan menyusut hingga 10% atau lebih dalam waktu satu bulan, tanpa sebab
yang spesifik.
b. Diare berkepanjangan selama lebih dari satu bulan.
c. Demam terus-menerus, baik konstan maupun hilang-timbul, selama sebulan lebih.
2. Gejala minor
a. Batuk kering berkepanjangan.
b. Serangan gatal pada permukaan kulit di seluruh tubuh.
c. Herpes zoster, mirip cacar air, yang tampak pada kulit, dan tidak sembuh-sembuh.
d. Ruam pada mulut, lidah, dan tenggorokan.
e. Kelenjar di leher, ketiak, atau selangkangan membengkak tanpa sebab.
1.4 Patofisiologi
Penyebab dari AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang termasuk
dalam famili retrovirus. Virus HIV melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+. Virus
tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologik lain dan akan mengalami
destruksi sel secara bertahap. Sel-sel ini, yang memperkuat dan mengulang respons
imunologik, dan bila sel-sel tersebut berkurang dan rusak, maka fungsi imunologik lain
terganggu.
HIV merupakan retrovirus yang membawa informasi genetic RANA. Pada saat virus
HIV masuk dalam tubuh virus akan menginfeksi sel yang mempunyai antigen CD4+ (Sel T
pembantu, helper T cell). Sekali virus masuk ke dalam sel, virus akan membuka lapisan
protein sel dan menggunakan enzim Reserve transcriptase untuk mengubah RNA. DNA virus
akan terintergrasi dalam sel DNA host dan akan mengadakan duplikasi selama proses normal
pembelahan.
Dengan memasuki limfosit T4, virus memaksa limfosit T4 untuk memperbanyak
dirinya sehingga akhirnya menyebabkan kematian limfosit T4. kematian limfosit T4
membuat daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi dari luar (baik virus
lain, bakteri, jamur atau parasit). Hal itu menyebabkan kematian pada orang yang terjangkit
HIV/AIDS. Selain menyerang limfosit T4, virus AIDS juga memasuki sel tubuh yang lain.
Organ yang paling sering terkena adalah otak dan susunan saraf lainnya. Virus AIDS diliputi
oleh suatu protein pembungkus yang sifatnya toksik (racun) terhadap sel. Khususnya sel otak
dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang dapat mengakibatkan kematian sel otak.
Sel CD4+ (Sel T pembantu / helper T cell) sangat berperan penting dalam fungsi
system immune normal, mengenai antigen dan sel yang terinfeksi, dan mengaktifkan sel B
untuk memproduksi antibody. Juga dalam aktivitas langsung pada cell-mediated cell immune
(immune sel bermedia) dan mempengaruhi aktivitas langsung pada sel kongetitis duplikasi.
Menurut Long (2013) retrovirus /HIV dibawa oleh hubungan seksual, tranfusi darah
dan oleh ibu yang terkena infeksi ke fetus. Pada saat virus HIV masuk ke dalam aliran darha
maka HIV mencari sel T4 dan pembantu sel virus melekat pada isyarat dari T4 dan masuk ke
dalam sel dan mengarahkan metabolisme agar mengabaikan fungsi normal (kematian sel T4)
dan memperbanyak dari HIV. HIV baru menempel kepada sel T4 dan menghancurkannya.
Hal ini terjadi berulang-ulang kemudian terjadi sebagai berikut :
1. Infeksi Akut
Terjadi infeksi imun yang aktif terhadap masuknya HIV ke dalam darah. HIV masih
negatif. Gejala lainnya seperti demam, mual, muntah, berkeringat malam, batuk, nyeri
saat menelan dan faringgitis.
2. Infeksi kronik
Terjadi bertahun-tahun dan tidak ada gejala (asimtomatik), terjadi refleksi lambat pada
sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel lainnya.
3. Pembengkakan kelenjar limfe
Gejala menunjukkan hiperaktivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe dapat persisten
selama bertahun-tahun dan pasien tetap merasa sehat. Pada masa ini terjadi progresi
terhadap dari adanya hiperplasia folikel dalam kelenjar limfe sampai dengan timbulnya
involusi dengan tubuh untuk menghancurkan sel dendritik pada otak juga sering terjadi,
pembesaran kelenjar limfa sampai dua tahun atau lebih dari nodus limfa pada daerah
inguinal selama tiga bulan atau lebih. HIV banyak berkonsentrasi pada liquor
serebrospinal.
4. Penyakit lain akan timbul antara lain :
a. Penyakit kontitusional
Gejala dengan keluhan yang disebakan oleh hal-hal yang tidak langsung berhubungan
dengan HIV seperti diare, demam lebih dari 1 bulan, berkeringat malam, terasa lelah
yang berlebih, berat badan yang menurun sampe dengan 10% yang mengindikasikan
AIDS (slim disease)
b. Gejala langsung akibat HIV/Kompleks Demensia AIDS (AIDS demensia complex)
Muncul penyakit-penyakit yang menyerang sistem syaraf antara lain mielopati,
neuropati perifer, penyakit susunan syaraf otak, kehilangan memori secara fluktoatik,
bingung, kesulitan konsentrasi, apatis dan terbatasnya kecepatan motorik. Demensia
penuh dengan adanya gangguan kognitif, verbalisasi, kemampuan motorik, penyakit
kontitusional.
c. Infeksi akibat penyakit yang di sebabkan parasit : pneumonia carinii protozoa (PCP),
cryptosporidictis (etero colitis), toxoplasmosis (CNS dissemminated desease), dan
isoporiasis (coccodiosis), bakteri (infeksi mikrobakteri, bakteriemi, salmonella,
tubercullosis), virus sitomegelovirus : hati, retinaparu-paru, kolon; herpes simplek)
dan fungus (candidiasis pada oral, esofagus, intestinum)
d. Kanker sekunder
Muncul penyakit seperti sarcoma kaposi.
e. Penyakit lain
f. Infeksi sekunder atau neoplasma lain yang berakibat pada kematian dimana sistem
imunitas tubuh sudah pada batas minimal atau mugkin habis sehingga HIV menguasai
tubuh
1.5 WOC
Virus HIV masuk

Menginfeksi sel yang mempunyai molkul CD4


(Limfosit T4, Monosit, sel dendrit, sel langerhans)

Sel limfosit T4 hancur

Imunitas tubuh menurun

Infeksi oportunistik Stigmatisasi Isolasi diri

Respiratorius Gastrointestinal Neurologi Sel-sel malignan

PCP Mycobakterium Diare Kandidiasis oral Ensevalopati HIV Sarkoma kaposi

MK. Penurunan nafsu makan Disfungsi seluler Lesi kutaneus


Menginvasi dan berpoliferasi mengganggu
dengan alveoli pulmonalis dan Kekurangan
volum cairan neurotransmiter
terjadi konsolidasi parenkim paru
dari kebutuhan
tubuh MK. Nutrisi kurang dari MK. MK.Nyeri
kebutuhan tubuh Gangguan daya ingat, Kerusakan Akut
sakit kepala, sulit integritas
Penumpukan sekret Tergangguanya proses berkonstrasi, konfusi kulit
pada bronkus difusi dan osmosis progresif, apatis

MK. Bersihan MK. Gangguan


Penurunan konsentrasi O2 pertukaran gas Gangguan proses pikir
jalan napas tidak
efektif
1.6 Klasifikasi
Stadium HIV AIDS:1
1. Stadium I:
Tidak bergejala/asimptomatik, Limpadenopati generalisata
2. Stadium II:
BB menurun < 10%. Kelainan kulit dan mukosa yg ringan, dermatitis seboroik, prurigo,
ulkus oral yg rekuren. Herpes Zoster dalam 5 tahun terakhir. Infeksi saluran nafas atas
yg berulang.
3. Stadium III :
BB menurun > 10%. Diare kronis yg berlangsung > 1 bulan. Demam berkepanjangan >
1 bulan. Kandidiasis oral. Oral hairy lekoplakia. TB paru dalam tahun terakhir. Infeksi
bakteri yang berat seperti pneumoni, piomisitis
4. Stadium IV :
HIV wasting syndrome. Pneumonia Pneumocytis carinii. Toksoplasmosis otak. Retinitis
CMV. TB di luar paru. Limfoma maligna. Encepalopati HIV. Mikosis dessiminata
seperti histoplasmosis

Klasifikasi klinis HIV AIDS: 2


1. Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam
kategori klinis B dan C
a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
b. Limpanodenopati generalisata yang persisten
c. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang
menyertai atau riwayat infeksi HIV yang akut.
2. Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
a. Angiomatosis baksilaris
b. Kandidiasis orofaring/ vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap
terapi
c. Displasia serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
d. Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
e. Leukoplakial yang berambut
f. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu
dermaton saraf.
g. Idiopatik trombositopenik purpura
h. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
3. Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
b. Kandidiasisbronkus,trakea / paru-paru, esophagus
c. Kanker serviks inpasif
d. Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
e. Kriptokokosis ekstrapulmoner
f. Kriptosporidosis internal kronis
g. Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
h. Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
i. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
j. Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
k. Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
l. Isoproasis intestinal yang kronis
m. Sarkoma Kaposi
n. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
o. Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner
p. M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
q. Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
r. Pneumonia Pneumocystic Cranii
s. Pneumonia Rekuren
t. Leukoenselophaty multifokal progresiva
u. Septikemia salmonella yang rekuren
v. Toksoplamosis otakSindrom pelisutan akibat HIV
1.7 Komplikasi

1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan
berat badan, keletihan dan cacat.
2. Neurologik
a. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung HIV pada sel saraf, berefek
perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi sosial.
b. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala,
malaise, demam, paralise, total / parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
d. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan HIV
3. Gastrointestinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal
dan siare.
4. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus,
dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
5. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi
skunder dan sepsis.
6. Sensorik
a. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
b. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan
efek nyeri

1.8 Pemeriksaan Diagnostik

1) Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostik yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes
dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis HIV dan memantau
perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi HIV:
a) Serologis
b) Tes antibody serum
Skrining HIV dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa
c) Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
d) Sel T limfosit
Penurunanjumlah total
e) Sel T4 helper
Indikator sistem imun (jumlah <200> )
f) T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 )
mengindikasikan supresi imun.
g) P24 (Protein pembungkus HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
h) Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
i) Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
j) Tes PHS
Pembungkushepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
2) Laboratorium total
Histologis, pemeriksaansitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi, untukmengidentifikasiadanyainfeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.
3) Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
4) Tes Lainnya
a) Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya
komplikasi lain
b) Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia interstisial
c) Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
d) Biopsis
Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
e) Brankoskopi / pencucian trakeobronkial
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
f) Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi HIV, maka sistem imun akan bereaksi dengan memproduksi
antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah
infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang
terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata
tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody HIV dalam darah memungkinkan
skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostik.
1.9 Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan untuk mencegah
terpajannya HIV, bisa dilakukan dengan:2
1. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.
2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang
tidak terlindungi.
3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status HIV
nya.
4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

Apabila terinfeksi HIV, maka terapinya yaitu :


1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,
nosokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah
kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan menghambat enzim
pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 .
Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan HIV positif asimptomatik dan sel T4 > 500
mm3

3. Terapi Antiviral Baru


Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat
replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini
adalah :
a. Didanosine
b. Ribavirin
c. Diedoxycytidine
d. Recombinant CD 4 dapat larut
4. Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka
perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses
keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
5. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari
stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat
reflikasi HIV.
BAB 2

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur
kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan
pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia,
atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit
kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia
aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini
harus dianggap sebagai faktor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien.
Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan
kelainan hospes :
1) Kerusakanresponimunseluler (LimfositT )
Terapiradiasi,defisiensinutrisi,penuaan,aplasiatimik,limpoma,kortikosteroid,globulin
anti limfosit,disfungsitimikcongenital.
2) Kerusakanimunitas humoral (Antibodi)
Limfositikleukemiakronis,mieloma,hipogamaglobulemiacongenital,protein –
liosingenteropati (peradangan usus).
b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
1) Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah,intoleransi aktivitas,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas (
Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
2) Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis,
perpanjangan pengisian kapiler.
3) Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan,
mengingkari diagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
4) Eliminasi
Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal,
nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri
tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan
karakteristik urine.
5) Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk,
edema
6) Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
7) Neurosensoro
Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status
indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
8) Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / lokal, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
9) Pernafasan
Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
10) Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun,
demam berulang,berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran
kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
11) Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil
pencegah kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia
12) Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma
AIDS
Tanda : Perubahan interaksi
13) Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan
obat-obatan IV,merokok,alkoholik.
2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b.d manifestasi HIV , ekskoriasi pada kulit.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d peningkatan sekresi bronkus dan penurunan reflek
batuk karena pneumonia
3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, hipoksia, malnutrisi, dan mudah lelah.
4. Diare b.d proses infeksi patogen usus
5. Nyeri kronis b.d agen cedera sarkoma kaposi, neuropati perifer
6. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat
7. Resiko infeksi b.d imunodefisiensi
8. Isolasi sosial b.d stigma penyakit, ketakutan terhadap menulari orang lain
9. Kurang pengetahuan b.d keterbatasan sistem pendukung tentang cara-cara mencegah
penularan HIV dan perawatan mandiri

2.3 Intervensi Keperawatan


a. Kerusakan integritas kulit b.d manifestasi HIV , ekskoriasi pada kulit.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi
integritas kulit
Kriteria hasil :
1. Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka
2. Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka
3. Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka

Intervensi:
1) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi
jika mungkin
2) Rubah posisi tiap 2 jam
3) Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah
yang menonjol
4) Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami
tekanan pada waktu berubah posisi
5) Observasi terhadap eritema dan kepucatan
.
b. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d peningkatan sekresi bronkus dan penurunan reflek
batuk karena pneumonia.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan jalan nafas
kembali efektif:
Kriteria hasil:
1. Klien tidak sesak nafas
2. Tidak terdapat ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan
3. Tidak ada retraksi otot bantu pernafasan
4. Pernafasan teratur, RR 16-20 x per menit
Intervensi:

1) Monitor status respiratorius yang meliputi frekuensi, kedalaman napas, irama,


penggunaan otot bantu napas, dan suara napas.
2) Monitor gejala batuk, dan jumlah serta karakteristik sputum.
3) Berikan terapi pulmoner seperti batuk efektif, latihan napas dalam, drainase
postural, perkusi dan fibrasi.
4) Berikan posisi semi fowler atau fowler untuk meningkatkan ekspansi paru.
5) Kolaborasi dalam pemberian oksigen sesuai indikasi.
c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, hipoksia, malnutrisi, dan mudah lelah.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat
beraktifitas.
Kriteria hasil :
1. Kelemahan teratasi
2. Nutrisi tercukupi
3. Tidak ada tanda- tanda hipoksia
Intervensi:
1) Kaji kemampuan klien dalam ambulasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan hidup dasar dan menyusun rutinitas
kegiatan yang dapat dilakukan oleh klien.
3) Motivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap sesuai dengan
kemampuan klien.
d. Diare b.d proses infeksi patogen usus.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi diare
Kriteria hasil :
1. Output dan input seimbang
2. Tugor kulit normal
3. Tidak ada tanda-tanda kekurangan cairan
Intervensi:
1) Monitor frekuensi dan konsistensi feses.
2) Monitor keluhan klien tentang rasa sakit atau kram pada perut.
3) Monitor kuantitas dan volum feses cair untuk mencatat kehilangan volum cairan.
4) Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil dan sering.
5) Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat merangsang usus seperti
buah dan sayuran mentah, makanan pedasa, asam, minuman bersoda.
6) Kolaborasi kultur feses untuk mengetahui penyebab diare.
7) Kolaborasi pemberian obat antikolinergik, antispasmodik atau opioid.
8) Kolaborasi pemberian obat antidiare, antibiotik dan antifungi.
e. Nyeri kronis b.d agen cedera sarkoma kaposi, neuropati perifer.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri teratasi
Kriteria hasil :
1. Skala nyeri berkurang (10-0)
2. Tidak ada ekspresi sakit
Intervensi:
1) Monitor kualitas dan kuantitas nyeri yang dialami klien.
2) Ajari klien untuk managemen nyeri non farmakologi.
3) Kolaporasi pemberian obat NSAID, opioid, antidepresan trisiklik.
f. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi
tercukupi
Kriteria hasil :
1. Berat badan dalam rentan normal
2. Kebutuhan input dan output seimbang
Intervensi:
1) Monitor status nutrisi klien yang meliputi berat badan, asupan makanan, hasil
pengukuran antopometri, albumin, BUN, protein, serta transferin dalam serum.
2) Motivasi klien untuk mempertahankan masukan oral.
3) Kolaborasi dalam pemberian obat antiemetik untuk mengendalikan mual dan
muntah.
4) Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tetapi sering.
g. Resiko infeksi b.d imunodefisiensi.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak ada tanda-
tanda infeksi
Kriteria hasil
1. Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi:
1) Monitor tanda dan gejala infeksi seperti demam, menggigil, berkeringat di malam
hari, batu dengan atau tanpa sputum, napas pendek, kesulitan menelan, bercak putih
pada rongga mulut, penurunan berat badan tanpa penyebab, kelenjar limfe
membengkak, mual, muntah, diare persisten, sering berkemih, sulit dan nyeri saat
berkemih, sakit kepala, perubahan visual dan daya ingat, pembengkakan dan
pengeluaran sekret dari luka dan kulit.
2) Monitor hasil laboratorium yang menunjukkan tanda infeksi.
3) Motivasi klien untuk melakukan personal higiene secara rutin.
4) Terapkan teknik aseptik pada semua tindakan terhadap klien.

h. Isolasi sosial b.d stigma penyakit, ketakutan terhadap menulari orang lain.
Intervensi:
1) Berikan penjelasan kepada keluarga dan pasangan terhadap penerimaan penyakit
klien.
2) Motivasi klien untuk mengekspresikan perasaannya serta kesepiannya.
3) Tingkatkan interaksi sosial klien minimal dengan keluarga dan pasangannya.
i. Kurang pengetahuan b.d keterbatasan sistem pendukung tentang cara-cara mencegah
penularan HIV dan perawatan mandiri.
Intervensi:
1) Berikan penjelasan kepada keluarga dan klien tentang cara penularan HIV.
2) Berikan penjelasan tentang perilaku dan seks yang aman.
3) Berikan penjelasan tentang perawatan di rumah misalnya cara mencuci tangan yang
benar, cara memberikan obat yang benar, cara menangani barang-barang yang
terkena cairan tubuh klien
DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes RI. 2013. Pedoman, Pelaksanaan perencaan penularan HIV dan sivilis ibu dan anak

bagi tenaga kesehatan : Kementrian Kesehatan

Kemenkes RI. 2014. Pedoman, Pelaksanaan perencaan penularan HIV dan sivilis ibu dan anak

bagi tenaga kesehatan : Kementrian Kesehatan

Kemenkes RI. 2015. Pedoman, Pelaksanaan perencaan penularan HIV dan sivilis ibu dan anak

bagi tenaga kesehatan : Kementrian Kesehatan

NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.


Jakarta: EGC

Risca Marcelena, Iris Rengganis. 2014. dalam Kapita Selekta Kedokteran / editor, Crista Tanto

Edisi 4. Jakarta : Media Aesculapius