Anda di halaman 1dari 150

World Teacher -Isekaishiki Kyouiku Agent-

Arc 2 – Encounters (Pertemuan)

Genre : Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Harem, Martial Arts,


Romance, School, Life, Shounen, Supernatural
Ditulis oleh : Kouichi Neko
Ilustrasi oleh : Nardack

Versi Indonesia dipersembahkan oleh:

Penerjemah : I-Fun Novel


Editor : I-Fun Novel
PDF Creator : Revenalt (MonSubs Project)

Dilarang Keras memperjualbelikan atau mengkomersialisasikan karya ini tanpa izin dan
sepegetahuan Pemilik Hak Cipta secara Legal.

Buku ini semata-mata dibuat untuk kepentingan pribadi atau peminat seri ini. Saya tidak
bertanggung jawab atas hak cipta buku ini.

Update Terbaru Kunjungi : I-Fun Novel


FanPage : I-Fun Novel
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Chapter 8 – Onto The New World

Dua tahun kemudian.

Sejak itu, aku terus melatih tubuh dengan kerjasama semua orang, dan bertambah tinggi
seiring umurku yang menginjak lima tahun.

Di bawah pengawasan Erina, melakukan percobaan sihir dengan Noel, dan belajar dari Dee
dasar-dasar berpetualang. Aku juga menemukan beberapa mantra yang tak ada dalam buku,
dan meningkatkannya.

Pertempuran palsu dengan Dee telah masuk sebagai jadwal latihan. Seperti yang diharapkan
dari seorang mantan petualang, dia kuat. Namun, memiliki banyak celah karena merupakan
gaya otodidak, membuat kemenangan menjadi sesuatu yang dapat diperoleh. Aku merasa
buruk, tapi melihatnya kecewa lalu dihibur oleh Noel, adalah suatu pemandangan
menyegarkan.

Bagian yang menakjubkan, Dee mampu menghilangkan kelemahan-kelemahan itu pada hari
berikutnya, walaupun masih kalah. Dia mungkin bisa menjadi jauh lebih kuat jika terus
berlatih. Tapi disesalkan, keputusannya untuk menjadi seorang juru masak sudah bulat. Dia
memang pandai di bidang kuliner, dan sangat senang ketika aku mengajarkan beberapa resep
dari hidupku dulu. Yah, tak ada yang kuinginkan selain dia bisa meraih impiannya.

Persiapan untuk menghadiri sekolah terus berlanjut.

Kami telah menjual dan mendapatkan uang dari obat-obatan yang bahan-bahannya kami
peroleh di gunung. Dengan menggunakan cara ini, mungkin takkan ada masalah dengan
menabung untuk biaya masuk sekolah.

Tersisa waktu tiga tahun, yang sepertinya bisa dihabiskan dengan nyaman.

Pada suatu hari setelah aku menerima segala sesuatu yang Dee dapat ajarkan, dia berkata,
'Tidak ada lagi yang aku bisa berikan. Dengan ini, Sirius-sama sudah memperoleh semuanya'.
Aku adalah seorang anak lima tahun, tapi tidak akan masalah bahkan jika berjalan-jalan
sendiri. Lagipula, ini bisa dianggap sebagai bentuk pelatihan saat aku pergi ke sekitar hutan
maupun gunung.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Dan hari ini, dalam rangka untuk keluar menuju dunia baru....aku berlari di langit.

Untuk menjelaskan keadaannya sekarang, aku harus membahas tentang dua mantra.

Yang pertama adalah {Boost}*. [Peningkatan]

Efeknya adalah meningkatkan kemampuan fisik. Ketika diaktifkan, batasan pada tubuh akan
terlampaui, bergerak cepat, hingga mampu menghancurkan batu dengan tangan kosong.
Tentu, tubuh tidak bisa bertahan jika melakukannya, tapi risiko itu dapat di hindari dengan
melapisi diri menggunakan Mana.

Ini dengan jelas bisa mengungkapkan potensi seseorang, tapi Mana yang dihabiskan sangatlah
intens. Akibatnya hanya ada beberapa sihir yang mampu digunakan.

Mengingat bahwa sihir ini tidak memiliki atribut, bisa dianggap sebagai kategori mantra 'Tanpa
Warna'.

....{Boost} adalah mantra yang bisa ditemukan dalam buku tebal sihir milikku.

Setelah aku menyelidiki itu dengan melakukan percobaan....efeknya secara harfiah, cukup
untuk menutupi tubuh dengan Mana. Kau bisa menganggapnya sebagai mengenakan
Powered Exoskeleton* versi sihir. Namun jujur saja, tenaga yang dipakai terlalu banyak. Dalam
kasusku, karena memiliki pengetahuan medis dan memahami struktur tubuh manusia, aku
berusaha melenyapkan kekurangan sihir ini. Dari aliran darah, kontraksi, relaksasi otot, dan
gerakan dari sistem kerangka, aku tahu bagian mana yang harus dengan selektif dilindungi
tergantung pada situasi.
[Pakaian Mecha. Itu seperti Setelan tempur yg dipakai Tatsuya di Mahouka Koukou/Kamen
Rider, dll. ]

Sebagai hasilnya, aku sudah berhasil menambah durasi pemakaian.

Memperoleh kecepatan untuk mencapai danau di mana aku mengumpulkan rumput Kelpie
dalam beberapa menit, dan kekuatan untuk menerbangkan goblin hanya dengan jotosan. Ini
terasa seperti aku bukan lagi manusia.

Yang lainnya adalah mantra asli ciptaanku sendiri {Air Step}*.


[Langkah Angin. Udara gak cocok]
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Sesuai namanya, ini adalah sihir untuk membuat pijakan sementara di udara. Tapi segera
menyebar dan menghilang setelah berlangsung dua detik. Mungkin tampak seperti suatu
mantra yang cacat, namun bisa ditutupi dengan terus-menerus membuat perancah sambil
berlari.

Ide pertama yang terlintas adalah, melepaskan gelombang kejut Mana dari diriku sendiri untuk
terbang ke depan. Tapi menyesuaikan kecepatan akan sulit, ditambah lagi tubuhku sakit
karena dampaknya, jadi aku menyerah.

Akhirnya, metode inilah yang di putuskan, karena juga mungkin untuk dipakai dalam keadaan
darurat.

Dengan menggunakan kedua mantra tersebut, aku dapat berlari di langit secepat mobil.
Sedangkan untuk mengatasi tekanan angin, ada {Boost} yang bertugas meningkatkan
ketahanan fisik-ku.

Tujuan 'terbang' sekarang adalah wilayah negara tetangga yang dipisahkan oleh pegunungan.

Rumah kami berada di tepi benua Merifest, setelah menyeberang satu gunung, kau akan
disuguhkan pemandangan dari lautan tanpa ujung.

Sebagai pelatihan sihir, langkahku terus ke arah laut, menyeberangi perbatasan dan sampai ke
sisi lain cakrawala. Setelah kembali, aku diberitahu bahwa daratan itu adalah benua berbeda
yang disebut Adroad. Tampaknya memiliki budaya unik tersendiri, tapi secara keseluruhan, tak
terlalu berbeda dengan benua Merifest.

Dikatakan bahwa disana terdapat kota pelabuhan, yang dijadikan tempat perdagangan.
Sebuah kapal akan memakan waktu dua hari dalam perjalan bolak-balik ke benua itu. Tapi---
meskipun hanya perkiraanku---tampaknya pergi ke Adroad hanya menghabiskan satu jam dari
sini.

Namun lautan ini merupakan wilayah dari para monster air di mana jika sebuah kapal atau
sejenisnya melintas lurus, bisa diperkirakan itu akan tenggelam dalam hitungan menit. Untuk
membuat keadaan menjadi lebih buruk, ada tebing-tebing yang menjulang di tepian benua
Adroad, sehingga sulit untuk memilih tempat mendarat. Untuk pergi ke seberang, tidak ada
pilihan selain untuk melalui jalur permukaan yang sudah ditetapkan stabil.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Hanya saja....itu jika kau bepergian menggunakan kapal. Tak ada hubungannya denganku, yang
bisa melintasi langit.

Aku membiarkan rasa ingin tahu membimbing diriku, melompat bebas menuju benua baru.

Setelah terbang selama beberapa menit tanpa masalah tertentu, aku akhirnya tiba dengan
aman di benua tetangga. Bahkan masih tersisa setengah dari keseluruhan Mana, ini saja sudah
cukup untuk menghadapi keadaan darurat.

Aku berdiri diatas tebing dengan benua Merifest di punggung, dan hamparan hutan luas di
hadapan mataku.

Akan merepotkan jika ayah mengetahui diriku sedang berada di benua lain, jadi aku tidak
boleh menuju ke kota. Mungkin tidak akan apa-apa kalau di sini, tapi....sama sekali tidak ada
tanda-tanda seseorang. Apa boleh buat, aku akan mencoba dan memeriksa dari langit.

Memejamkan mata sambil dalam hati berhitung sampai tiga....pemulihan Mana, selesai.

Meskipun tampak seperti lelucon, tapi setelah aku terbiasa menyesuaikan Mana di alam, aku
dapat pulih hanya dengan sekejap.

Walaupun Noel juga tahu teknik meditasi ini, dia tidak dapat menggunakannya. Kesampingkan
kecacatan tubuh, metode yang dia pakai cukup tepat. Aku memang masih heran, tapi selama
tidak menimbulkan efek, jawabannya mungkin akan datang cepat atau lambat.

Dan sekarang, aku berjalan di langit lagi.

Tanpa tujuan tertentu, aku melompat ke depan sepanjang puncak pepohonan di iringi terpaan
angin. Pada kecepatan lambat, mataku memindai untuk mencari pemukiman sambil
merasakan hembusan nyaman, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang menyerupai hal
itu.

Seberapa luas hutan ini? Jika seseorang memasukinya untuk pertama kali dengan berjalan
kaki, dia pasti akan tersesat.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Setelah pergi untuk sementara waktu, akhirnya bagian terbuka dari hutan mulai terlihat.
Karena ada sebuah pohon besar yang mencolok, aku memutuskan untuk duduk di salah satu
cabangnya dan mengambil istirahat sebentar.

Aku mengambil air dari tas punggung dan minum seteguk. Sambil menjaga tingkat minimum
kewaspadaan, aku melamun dengan menatap pemandangan.

(---)

....Hmm?

Baru saja, ada sesuatu yang terasa aneh.

Ini bukan niat permusuhan. Lebih seperti suatu hal misterius sedang bergerak di sekitar. Angin
telah menjadi agak kencang, setidaknya itu bukan pertanda bagus. Untuk sekarang, ayo terus
memeriksa situasi.

Aku menajamkan indraku dalam arah umum dimana perasaan aneh itu muncul, dan
mengaktifkan sihir {Search}*.
[Pencarian]

Ini mirip dengan 'sonar' atau radar kapal selam. Prinsipnya sama dengan riak yang dihasilkan
dari melempar batu ke permukaan air. Dalam kasus sihir, aku mengeluarkan Mana dalam
bentuk semacam gelombang untuk memindai daerah.

Sebagai sihir penyelidikan, kekurangannya berada di bagian posisi pengguna yang mudah
ketahuan oleh pihak lain. Namun, menurut Noel itu akan sulit disadari asalkan Mana yang
kulepaskan bisa berbaur dengan Mana alam.

Karena mengintai musuh secara langsung 'dianggap' lebih penting. Bahkan jika aku harus
disebut sebagai Tidak kompeten, keuntungan sihir ini sangatlah besar.

Gelombang Mana yang kulepaskan sedang tergambar dalam pikiranku.

Sihir ini mendeteksi Mana di wilayah luas, yang berarti sekitar area hutan dimana aku berpijak,
entah itu hewan maupun mahkluk hidup lainnya.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Dalam menanggapi, tampaknya ada lima....tidak, enam reaksi dari manusia. Meskipun
penyebab perasaan aneh itu masih belum diketahui, namun akhirnya aku telah mendeteksi
keberadaan beberapa orang. Seusai menyimpan wadah air kembali dalam tas, aku bergegas
keluar menuju posisi mereka.

Ngomong-ngomong, ini adalah pertemuan pertamaku dengan orang-orang selain penghuni


rumah, dan mungkin ide yang buruk untuk tiba-tiba muncul lalu menyapa mereka. Pihak lain
bisa saja orang jahat, apalagi untuk diriku, seorang anak berusia lima tahun. Ada kesempatan
yang sangat tinggi bahwa itu akan berubah menjadi sesuatu yang merepotkan.

Lebih baik untuk mengamati dulu, dan memutuskan muncul atau tidak tergantung dari seperti
apa mereka. Menurut {Search}, memang ada enam orang, tetapi hanya satu yang berada di
posisi terjauh dari lainnya. Mungkin akan sulit bagi seorang individu untuk menyadariku, jadi
aku melesat pergi ke arahnya.

Kemungkinan terburuk, perkelahian akan pecah. Namun, aku pikir masih mampu mengurus itu
dengan melarikan diri sambil terbang. Aku tidak berpikir mereka akan bertindak sejauh
mengejarku ke langit.

Langkahku berhenti pada titik sedikit terpisah dari lokasi dimana respon terjadi, lalu diam-
diam mendekat agar tidak ketahuan. Sebuah misi menyelinap, itu nostalgia....Tapi kali ini
sangat mudah karena pohon-pohon sedang berdesir keras oleh angin kencang, sehingga suara
gerakanku hilang tertindih oleh bunyi alam.

Aku maju dengan cara merangkak serendah mungkin, dan akhirnya menangkap bayangan
target dari celah di pepohonan.

Aku sempat berpikir 'Karena mereka berada di tempat semacam ini, orang macam apa itu',
tapi ternyata bukan manusia, melainkan seseorang dari masyarakat yang hidup bersama
hutan.

Ras yang disebut Elf.

Lagipula, dia adalah perempuan dengan telinga panjang meruncing kesamping, dan rambut
hijau zamrud bersinar, mengalir sampai ke punggungnya. Di kombinasikan dengan mata
almond seindah berlian, dan hidung sekaligus mulut seakan terpahat. Aku hanya dapat
menyebut dalam dua kata, 'Sungguh Cantik'.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Tubuhnya memiliki kurva yang sangat feminim, seimbang, dan penuh dengan daya tarik seks.
Dia merupakan wanita memikat yang aku ingin dekati.

Seperti itulah penampilannya. Namun entah bagaimana kau melihat, dia tidak dalam keadaan
normal.

Napasnya tersengal-sengal dan penuh butiran keringat saat bersandar di sebuah pohon, dia
sangat berusaha untuk tidak roboh.

Mantelnya compang-camping, hingga apa yang dia kenakan di baliknya benar-benar terlihat.
Memiliki pelindung dada, mungkin terbuat dari kulit. Pusarnya telanjang dan memakai rok
hijau terang, ditambah itu hanya mencapai lutut.

Semua peralatannya mungkin berfokus pada kebebasan bergerak. Hanya saja,


yah....pemandangan yang sangat manis karena ada banyak 'warna kulit'.

Jika melihat lebih dekat, terdapat luka kecil di lengan kanannya. Meskipun darah mengalir
keluar, tak ada indikasi bahwa dia telah melakukan perawatan darurat.

Fumu, sepertinya memang bukan cedera serius. Tapi pertanyaannya, apakah itu tertutup
dengan sejenis racun?.

"Aku tahu kau berada di sana! Tunjukkan dirimu!!"

Sementara di tengah-tengah berpikir, si gadis elf berteriak dengan cara mengintimidasi. Itu
tidak ditargetkan padaku, tapi untuk lima orang lainnya yang mulai menerobos semak-semak.

Ketika dia membelalak tajam, sebuah benda berkilauan terbang ke arahnya dari dada salah
satu anggota mereka, dan melesat sambil menimbulkan bunyi siulan. Namun gadis itu
menepisnya dengan sebilah pedang pendek.

Objek itu mendarat di tanah agak dekat, jadi aku mengambilnya tanpa diketahui.

Sesuai dugaan, ini adalah pisau, dengan sesuatu yang dioleskan pada bilahnya.

Sementara aku sedang memeriksa benda itu, kelima orang menutup jarak menuju gadis Elf.
Mereka semua adalah laki-laki dari ras manusia berpenampilan perampok atau bandit. Seluruh
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

kelompok ini mengenakan baju besi berkualitas tinggi, dan memiliki buntalan otot yang
tampak tangguh.

Seseorang pria dengan penutup mata, mungkin pemimpinnya, mengambil satu langkah maju.
Kesamaan diantara mereka semua adalah senyuman vulgar. Aku tidak ingin berkenalan
dengan orang-orang ini.

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, mereka bukan teman si elf. Bukankah situasi ini
menggambarkan adegan kejahatan?.

....Aku akan menunggu dulu dan mengawasi sedikit lebih lama.

"Wow, itu menganggumkan. Mampu menangkis pisau itu bahkan setelah diracuni"

"Wajar saja, kan? Lemparanmu kelihatannya terlalu payah untuk gadis ini"

"Hei, berhentilah menggertak. Lihat, kau bahkan sudah tidak kuat berdiri, kan?"

"Benar sekali! Tubuhmu juga gemetar. Pasti karena kedinginan, kami akan menghangatkanmu,
ya? Hanya bercanda~, haha!!"

"Tidak, tidak, mungkin dia memang menginkinkannya? Meskipun tampak berusaha keras
untuk melarikan diri, dia sengaja berhenti dan menunggu kita, kalian tahu?"

"Belum lagi, sejenis dirimu ini akan berharga tinggi jika masih perawan. Tapi kalau kau
memang ingin, kami bersedia menemanimu!!"

Nah, tak ada kejahatan yang lebih terpuji daripada ini, begitu jelas dan pasti. Aku salut pada
khayalan kalian karena bisa sampai sejauh itu.

....Elf-san, kau mungkin akan berakhir terkesan kepadaku.

Karena identitas asli musuh sudah di tetapkan, aku siap untuk membantu.

Hanya saja, dari wajah si gadis elf, ada tanda-tanda bahwa dia akan melakukan sesuatu.

"Katakan apa pun yang kalian mau. Aku akan menyingkirkan kalian semua...."
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Elf-san memejamkan matanya dan berkonsentrasi.

Ini adalah sihir....atau bukan? Tanpa mantra, perasaan aneh beberapa saat yang lalu sedang
terpancar darinya.

"Untuk menengahi dan menyerbu! Wahai Angin! Potonglah mereka!!"

Dengan seruannya sambil mengangkat tangan, angin semakin berhembus kencang, dan
menjadi badai. Aku yang sekarang berjongkok di sudut merasa seakan mengapung dan
memutuskan melepaskan {String} ke pohon terdekat untuk menahan tubuhku.

Aku kira ini akan mengirim para pria itu terbang, tapi angin segera reda. Dan kemudian, satu-
satunya efek hanyalah tak terhitung daun yang beterbangan lalu perlahan jatuh melambai.

Elf-san membuat ekspresi menderita ketika dia menyadari hasil tak terduga ini.

"Guh....Mana-ku...."

"M-Menakut-nakuti kami saja....Boss, apa yang terjadi?"

"Racun itu tidak hanya melumpuhkan tubuh, tapi juga menghambat aliran Mana. Meskipun
seorang manusia bahkan takkan bisa bergerak, kurasa Elf-sama ini cukup luar biasa"

"Dengan kata lain, dia sangat berkualitas, ya? Sepertinya, untuk sementara kita bisa
menghabiskan waktu menikmati diri"

"Tentu saja. Kau jarang mendapatkan kesempatan untuk tidur bersama seorang gadis elf"

"Dasar bodoh! Aku lah yang pertama. Kalian nanti!!"

"Haahh, itu sudah diputuskan? Harganya akan turun jika kau menyakitinya, jadi jangan terlalu
berlebihan"

Orang-orang itu membuat senyuman busuk dan mendekat, namun Elf-san tidak tinggal diam.
Dengan wajah yang telah bertekad, dia menarik pisau dan menghunus ke lehernya sendiri.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

"Datanglah lebih dekat, maka aku akan bunuh diri. Lebih baik mati daripada menjadi tawanan
biadab sekaligus vulgar seperti kalian"

"Oi oi, apa baik-baik saja untuk mengakhiri hidup? Kau pasti sependapat, kan? Menunjukkan
kepada orang tuamu wajah sehat yang kau miliki"

"Itu...."

Mungkin alasan dari perkataan itu adalah untuk menjatuhkan kewaspadaannya, Elf-san
terganggu dan mengalihkan mata.

Seketika, si pemimpin kelompok mengayunkan kedua lengannya.

"Gawat?!---"

"Hahaha!! Tidak peduli seberapa kuatnya dirimu, sekali kau menunjukkan celah, itu selesai!!"

Hou, pria ini memang yang terburuk, tapi dia sungguh terampil. Sepertinya dia memiliki
kecerdasan untuk memanfaatkan kelemahan si gadis elf, dan kemampuan melemparkan
beberapa pisau sekaligus.

Namun demikian, Elf-san belum kalah. Mengembalikan keseimbangan, dia menepis dua, lalu
meliukkan tubuh untuk mengelak empat pisau yang tersisa. Pisau-pisau itupun menancap ke
pohon di belakangnya. Salah satunya hampir menyerempet pinggang, tapi masih dapat
dihindari.

Keterampilannya dalam mengelak sesuatu merupakan hal menakjubkan.

Sayangnya, semua pisau itu bukan senjata normal. Sebagai bukti, Elf-san runtuh ke tanah dan
mengalami kesulitan untuk bangun.

"Efeknya hebat, kan? Ini agak lambat bereaksi tapi cukup manjur. Racun sebelumnya sudah
beredar, kau tidak akan mampu bergerak lagi"

"Kau....bajingan!!"

"Hei Bos, apa yang akan kita lakukan kalau dia meninggal?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

"Ya, baiklah. Racun itu memang kuat, tapi tidak dibuat untuk membunuh. Sayangnya,
harganya sangat mahal"

"Kalau begitu, kita mungkin harus membuatnya membayar"

"Yah, begitulah. Akan merepotkan jika aku bertindak keras dan menyakiti dirinya"

"Itu benar. Oi, kami akan membuatmu mengerti bagaimana orang dewasa menghabiskan
waktunya"

"Kau mungkin akan merasa terlalu nikmat, hingga seolah-olah berada di surga, hahaha!!"

"....Aku akan mati tapi itu bukanlah surga"

"Woah, Siapa yang---Guahg?!?!"

Sebuah pisau mendadak menembus tangan si pemimpin. Aku bergegas keluar menuju Elf-san
dari balik pepohonan. Yang barusan memang ulahku.

Berdiri di hadapan para pria ini, aku menghalangi jalan mereka.

"Bos?! Bajingan! Dari mana asal....mu?"

"Tunggu....apa? Dia hanya bocah?!"

Awalnya mereka terguncang oleh kemunculan tiba-tiba, lalu beralih ke ekspresi penuh
penghinaan setelah tahu bahwa yang menghadang mereka merupakan seorang anak kecil. Aku
tidak keberatan telah diremehkan, tapi akan merepotkan jika diabaikan dan para pria ini
berlanjut menargetkan Elf-san.

Haruskah aku memprovokasi mereka sedikit?.

"Begini, mungkin? Ah, ngomong-ngomong, aku adalah orang yang menyerangnya"

"Bocah nakal menyebalkan....beraninya kau melakukannya!"

"Seorang anak mempermainkan kita....Aku akan membunuhmu, sialan!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

"Itu pe-percuma! Larilah, nak!!"

Apa menyerang dan memprovokasi mereka belum cukup? Melihat ke belakang, Elf-san
berteriak padaku sambil berjuang untuk berdiri. Aku paham arti dari tatapan putus asanya.
Meskipun tahu bahwa dia akan di tangkap jika aku melarikan diri....sungguh perempuan baik.

Perasaan itu membuatku bahagia, namun tunggulah sebentar, ya.

"Ayah-san! Di sini, ada orang-orang jahat~!! "

Pura-pura melambaikan tangan, aku berteriak ke daerah dibelakang para pria. Kau tidak akan
berpikir bahwa seorang anak akan berada di tengah-tengah hutan sendirian. Sebagian besar
orang akan berada di bawah kesan kalau terdapat wali tak jauh darinya.

Jika anak tersebut berteriak bahwa ayahnya ada di balik punggung mereka, maka itu wajar
untuk waspada terhadap serangan mendadak dan menengok ke belakang. Lalu apa sekarang?
Kesempatan pun terlihat ketika mereka dengan bodoh mengikuti apa yang ku perkirakan.

Tepat pada waktu itu, aku mengaktifkan {Boost} pada satu lenganku dan mengayunkannya dua
kali dengan kecepatan tinggi.

""Gyaa?!""

""Ga?!""

"Aww!!"

Satu pisau menusuk ke kaki masing-masing dari mereka. Tentu saja, ini semua berasal dari si
pemimpin, bilah tajam berlapis racun.

Aku diam-diam mengumpulkan senjata-senjata itu, seluruh pisau yang Elf-san tangkis dan yang
menancap di pohon menggunakan {String}.

"Itu bohong. Kenapa menghadap ke arah lain? Kalian penuh celah, ya"

"B-Bocah nakal sialan!!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

"Ngomong-ngomong, supaya kalian tahu, itu semua adalah pisau yang kalian awalnya miliki"

"B-Bos?! Penangkal! Beri kami obat penawarnya!!"

"Diam!! Aku yang pertama, lalu---....Ah!"

Aku mencuri tas kulit milik si pemimpin menggunakan {String} dan mengkonfirmasi isinya.
Orang-orang itu tertegun. Aku mengabaikan mereka dan memverifikasi dua wadah seperti
kaca. Satu memiliki warna berbahaya, dan yang lain tertera tulisan 'obat penawar'. Hou, jadi
ini?.

Namun, tentang obat....bukankah ini hanya cukup untuk satu orang?.

"Hmm, hanya ada bagianmu sendiri di sini. Kau tidak mencemaskan rekanmu?"

"Hah?! A-Apa itu benar, Bos?!"

"K-Kalian salah paham! Hanya saja, jumlahnya tidak cukup!!"

"Oh, aku mengerti....kau memanfaatkan racun agar bisa memonopoli seluruh hasil bayaran,
kan? Kalau kau memasukkannya ke dalam minuman atau sesuatu yang akan mereka makan,
setelah itu...."

"Kau?! Jangan bilang, dengan niat seperti itu, kau...."

"Tahan!! Seluruh hal yang bocah nakal itu katakan hanyalah omong kosong!!"

"Dari awal, ada sesuatu yang aneh ketika kau menjadi pemimpinnya!!"

Haha, aku ingin sedikit lebih memanas-manasi, tapi ikatan mereka sudah hancur berkeping-
keping lebih cepat daripada yang di harapkan. Tampaknya, ketidakpuasan mereka tentang
kehidupan sehari-hari meletus. Meskipun si pemimpin memiliki keterampilan, namun ia tidak
mempunyai sedikitpun karisma.

Aku menjauhkan diri dari orang-orang yang melontarkan sumpah serapah pada satu sama lain,
dan berjalan ke tempat Elf-san berada.
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

"Apa kau baik baik saja?"

"Eemm....kesampingkan itu. Siapa sebenarnya dirimu?"

"Kita akan membicarakannya nanti. Pertama-tama, aku akan memeriksa lukamu"

Walaupun dia masih ragu, mungkin karena tubuh yang tak dapat bergerak dengan baik, dia
membiarkanku merawatnya.

Pinggulnya tidak cedera, namun satu di lengannya mungkin dalam, darah belum berhenti
mengalir. Aku tidak bisa dengan santai mengobati luka sementara orang-orang itu di dekat
kami. Jadi, untuk sekarang, membungkus lukanya dengan handuk yang aku bawa dan memberi
pertolongan pertama.

"Oi! Bocah nakal itu berada di dekat si Elf!!"

"Sialan! Ayo kita bunuh dia dulu!!"

Ups, sepertinya aku sedang di perhatikan.

Sementara memasukkan obat yang baru ku peroleh dari orang itu ke dalam tas, elf-san
meletakkan tangannya di pipiku.

"Kau tidak boleh mengambil tindakan berbahaya lagi. Aku akan baik-baik saja, jadi cepat dan
larilah"

"....Aku mengerti"

"Terima kasih, kau anak yang baik"

Mendapat senyuman indah dari onee-san secantik dirinya....itu merupakan kekuatan perusak
yang luar biasa. Setelah sedikit terguncang, aku menyelinapkan lengan di bawah tubuhnya....

"Kalau begitu, ayo kita melarikan diri bersama-sama!"

"Tung---Heehh!?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 8 – Onto The New World

Aku mengaktifkan {Boost} dan mengangkatnya. Tentu saja, dalam gendongan putri.

Walaupun panjang lenganku tidak cukup untuk mengangkat tubuh perempuan dewasa, aku
memaksa mendukung tubuhnya menggunakan {String}.

Dengan demikian, aku melarikan diri bersama Elf-san di pelukanku.

☆☆☆Chapter 8 berakhir disini☆☆☆

Catatan penulis=Elf muncul. Dan kemudian, seorang anak lima tahun mendadak menjadi lebih
kuat.

Bagi mereka yang berharap untuk meningkat secara bertahap dalam hal kekuatan, aku minta
maaf.

Dalam kasus'nya', dia memang menyukai pelatihan, sehingga gembira ketika menjadi kuat
secara nyata dan sebelum ia menyadari....

Semacam itulah perasaan yg ada.

☆☆☆Chapter 8 berakhir disini☆☆☆


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Chapter 9 – Reservation

"Baiklah, ayo kita pergi!!"

"Hei! Kau akan tertangkap jika membawa diriku. Jangan pedulikan aku dan larilah! "

"Diberitahu begitu, malah semakin membuatku tidak ingin meninggalkanmu. Selain itu, onee-
san ringan, jadi baik-baik saja"

Saat ini aku memperkuat diri dengan {Boost}. Tapi, serius, dia sangat ringan.

Tubuhnya juga lembut, yang merupakan hal bagus, tapi apa dia sungguh memiliki otot? Di sisi
lain, ia mempunyai kemampuan menangani pisau, aku kira itu termasuk dalam perbedaan ras?

Aku terus melarikan diri sementara menikmati kelembutan Elf-san, namun para bandit itu
bersikeras mengejar kami.

"Berhenti di sana!!"

"Bocah nakal itu, ayo kita tangkap sebelum kita lumpuh total!!"

"Heh, jangan pikir kau dapat melarikan diri sambil menggendongnya!!"

Mereka berteriak padaku saat berlari ke arah kami, tapi aku sengaja menjaga jarak.

Aku bisa berlari lebih cepat dari mereka dan pergi sejauh bermil-mil jika mau, tapi aku ingin
mengurusi para bajingan ini dulu. Masalah dapat dengan mudah diselesaikan menggunakan
sihir pistol yang menembakkan peluru tak terlihat, tapi Elf-san ada disini....

Dengan kata lain, menjelaskan itu akan mengganggu, jadi diputuskan untuk menyelesaikannya
tanpa mengotori tanganku kali ini.

Pengejar tampaknya akan mendekat, tapi mungkin karena racun itu mulai berefek, gerakan
mereka telah menjadi agak kikuk. Sementara mengkonfirmasikan posisi, aku perlahan berhenti
berlari.

"Haah....Haah....dia akhirnya kelelahan?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Haaahhhhh....hahh....Ki-Kita tidak punya banyak waktu. Ayo singkirkan dia dengan cepat"

"Tidak peduli seberapa kerasnya kau berteriak....Haahh....Kami tidak akan memaafkanmu,


bocah"

Sangat jelas kalau mereka lah yang kelelahan.

Namun, kalian semua, itu tidak baik. Stamina berada di atas segalanya, jadi kalian harus lebih
melatih diri. Ah, aku kira apa boleh buat, mereka sedang teracuni.

"Oh, aku mengerti. Bocah ini melarikan diri untuk mengulur waktu racunnya menyebar di
tubuh, kan?"

"Kau setengah benar, mungkin? Lebih penting lagi, onee-san, kita akan terbang. Kau jangan
sampai menggigit lidah, ya?"

"Terbang? Apa maksudmu?"

"Ini dia, bersiap dan~!"

Ketika aku henda mengaktifkan {Air Step} dan melesat ke langit, benda besar datang
melompat, menghancurkan pepohon yang menghalangi jalan.

Itu adalah monster raksasa kira-kira setinggi dua meter, memiliki empat lengan, dan mirip
dengan 'beruang biasa' karena hidungnya yang terlalu besar. Aku telah menggunakan {Search}
sebelumnya dan merasakan bahwa mahkluk ini sedang bersembunyi di sekitar, tujuan lariku
memang membimbing para bandit kesini. Mungkin takkan masalah dengan meninggalkan
sisanya untuk si pak 'beruang'. Selain itu....

"Hiiii?! Gi-Gigubear?!"

"La-Lari---....tubuhku?!"

"Oi!! Di sana juga ada satu!!"

"Tolong!! Aku tidak bisa bergerak!!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Kita masuk ke wilayah mahkluk-mahkluk ini?! Sialan!!"

Yah, memang tidak hanya satu ekor, namun beberapa respon bisa terasa di {Search}. Ini juga
waktunya untuk efek kelumpuhan perlahan-lahan timbul, sehingga menjadi situasi putus asa
bagi mereka.

Semoga kalian sampai ke neraka dengan aman~. Jika kalian dilahirkan kembali, cobalah untuk
menjadi orang terhormat, ya~.

Sambil memunggungi gema tangisan kematian, aku meninggalkan tempat sementara masih
membawa Elf-san dalam pelukan.

Menyelesaikan misi penyelematan dengan lancar, aku mencari daerah yang terdapat air.

Dia harus segera diberi obat penawar, dan jika tidak merawat cederanya dengan benar, itu
akan meninggalkan bekas luka.

Akan agak memalukan untuk meninggalkan bekas luka di kulit halus, putih bersih dan murni
miliknya.

Tapi gadis ini....anehnya cukup tenang.

Aku pikir seseorang takkan mampu tetap diam setelah diselamatkan oleh seorang anak dan
terbang ke langit.

"....Hei. Sekarang, kita sedang terbang, kan?"

"Tepat. Tapi kalau kau takut, aku akan turun"

"Tidak, bukan itu. Sebaliknya, ini sungguh menakjubkan, menakjubkan! Terbang di udara
terasa semenyenangkan ini!!"

Aku salah, dia benar-benar gemetar dengan kegembiraan, ya? Tapi, Elf-san ini tabah.
Meskipun sudah melalui pengalaman seperti itu, dia bersemangat bagaikan anak kecil saat
mengetahui rasanya berada di langit.
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Kecantikannya membuat dia sulit untuk diajak bicara, tapi ketika sisi dirinya muncul, aku
merasakan adanya kecocokan.

"Ya....itu benar, aku baik-baik saja. Kesampingkan itu, 'kalian' selalu menikmati perasaan ini,
ya? Aku agak iri"

Hanya ketika aku pikir dia akan memelukku, Elf-san tiba-tiba berbalik ke arah udara kosong
dan mulai berbicara. Apa dia kebetulan menerima gelombang radio elf atau sesuatu?

Hmm....gelombang radio?

Aku menyadarinya....sensasi aneh itu datang lagi. Namun, tak terlihat seperti sihir tanpa
mantra.

Mungkinkah dia....

"A-Ah, maaf, sepertinya aku lupa diri dalam kegembiraan. Ngomong-ngomong, sejauh mana
kita akan pergi?"

"Kita akan segera turun"

Bersamaan dengan dia yang bertanya seolah-olah menyembunyikan rasa malu, aku
menemukan sebuah sungai melintasi hutan. Karena tidak ada mahkluk apapun dalam {Search},
aku langsung memutuskan untuk berpijak.

Sungai diselimuti dengan kerikil putih dan bebatuan, memberikan pandangan yang baik. Kalau
ada sesuatu yang datang, aku langsung bisa menyadarinya.

Setelah membiarkan Elf-san duduk di atas sebuah batu, aku mengambil obat penawar dari
dalam tas yang sebelumnya ku rebut.

"Ini adalah obat penawar. Kau dapat meminumnya sendiri?"

"Mati rasaku belum hilang. Tolong, kalau kau tidak keberatan...."

Dia mempercayakan ini kepadaku seolah-olah dirinya tidak peduli.


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Untuk memenuhi harapannya, aku mengarahkan penawar ke bibir elf-san. Tidak seperti waktu
dengan Erina, sekarang itu luar biasa menggoda. Aku entah bagaimana merasa telah berbuat
suatu yang dilarang. Mungkin nafsu atau keinginan seksual tidak muncul karena usiaku masih
belum mencukupi.

"Hn....fuu. Tubuhku agak panas"

"Ini bukti bahwa indra milikmu telah kembali. Aku juga akan merawat lukamu sebelum
kelumpuhan benar-benar menghilang"

Ketika aku membuka handuk yang melilit lukanya dan periksa keadaan cedera, darah telah
berhenti mengalir, namun kulit yang sobek masih menganga.

Aku mencuci handuk di sungai dan mengusap darah yang mengeras di sekitar luka. Biasanya
akan menyakitkan, namun seharusnya efek racun masih ada sehingga menutupi rasa sakit
apapun.

"Tanganku akan menyentuh lukamu untuk sebentar. Tahanlah itu"

"Kau juga dapat menggunakan sihir penyembuh?"

"Hmm, sedikit berbeda tapi masih merupakan metode penyembuhan, aku kira?"

Di dunia ini ada mantra khusus dalam menyembuhkan luka. Itu merupakan sihir beratribut air
yang membungkus cedera dengan cairan bersifat penyembuh.

Aku telah mencoba untuk mempelajarinya, tapi kompatibilitasku dengan sihir atribut ini
sangatlah buruk. Namun, aku masih bisa melakukan sesuatu yang mirip.

Saat menyentuh luka dengan tangan, aku mengonsentrasikan Mana dan meresapkannya ke
dalam tubuh Elf-san. Kami berdua terdiam untuk sementara waktu. Dia mungkin menyadari
sesuatu dengan wajah berkerut, ekspresi yang tampak tidak nyaman.

"Ah~....ya ampun....Kau sudah banyak membantu dan aku bahkan belum mengatakan satupun
ucapan terima kasih"

"Itu benar juga. Tapi aku bertindak atas kehendakku sendiri"


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Tetap saja ini tidak dibenarkan. Kau merupakan orang yang menyelamatkanku, jadi wajar saja
kalau aku harus berterima kasih....Sebelum itu, bisakah kau memberitahu namamu"

"Sirius. Bukankah normal bagi yang meminta untuk pertama mengenalkan diri mereka?"

"Maaf, itu juga sopan santun diantara para elf. Namaku Shemifia Aramis. Sirius-kun, aku sudah
diselamatkan olehmu. Terima kasih"

Dia mengekspresikan rasa syukurnya dengan senyuman lebar nan lembut. Sangat
membahagiakan ketika terdengar dari seorang perempuan cantik.

"Aah, aku senang karena kita berdua aman. Shemifia-san....boleh aku memanggilmu begitu?"

"Panggil saja 'Fia', karena aku juga akan memanggilmu 'Sirius'. Ngomong-ngomong, Sirius, apa
kau ini?"

Dia Ojou-san* yang cukup agresif.


[Perempuan muda/gadis]

Tidak, tampaknya elf adalah ras dengan umur yang sangat panjang. Dia mungkin jauh lebih tua
dariku sebelum bereinkarnasi, jadi sebutan 'Ojou-san' tidak terlalu tepat, kan?.

"'Apa aku?' Kau tidak bisa tahu hanya dengan melihat?"

"Yah, kau anak dari ras manusia, kan? Namun, kau tidak tampak normal. Mengurus lima orang
dewasa seolah bermain-main, dan menggunakan sihir yang unik. Aku telah melakukan
perjalanan ke berbagai tempat, tapi belum pernah melihat manusia seperti dirimu"

Sama seperti yang Fia katakan, aku mungkin 'tidak biasa' dari perspektif orang lain. Kesan itu
akan bertambah saat sadar akan penampilanku yang berupa seorang anak berusia lima tahun.

Namun, jika diterpa pertanyaan 'Apa kau?', jawaban yang bisa kuberi hanya berupa 'Aku dari
umat manusia'.

Aku bereinkarnasi dengan kenangan hidup sebelumnya, tidak berarti bahwa diriku diberkahi
dengan hal-hal seperti kemampuan khusus. Kekuatan ini merupakan buah dari kerja keras
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

selama hari-hari pelatihan. Bahkan sihir yang dia sebut 'unik' hanyalah sesuatu yang
kukembangkan menggunakan prinsip-prinsip tertentu.

"Walaupun kau bilang begitu....Aku sungguh dari ras manusia. Seorang anak berusia lima
tahun sejak lahir"

"Lima tahun? Aku benar-benar tidak bisa percaya bahwa anak lima tahun mampu melakukan
semua hal ini"

"Yah, banyak hal yang terjadi....Sulit untuk menjelaskan. Bagaimana mengatakannya, ya...."

Sebenarnya....Aku juga bertanya-tanya kenapa diriku bereinkarnasi dengan kenangan yang


masih utuh.

Sementara memandang ke kejauhan, Fia yang melihatnya salah paham dan mulai panik.

"M-Maaf. Membuatmu ingat sesuatu yang tidak menyenangkan...."

"Aah, bukan begitu, jangan khawatir. Pokoknya, aku hanya orang normal dari ras manusia.
Kekuatan ini sendiri merupakan hasil dari latihan. Lebih seperti, kemungkinan setiap orang tak
terbatas"

"Aku tidak terlalu setuju, namun....ini bisa dimengerti hanya dengan melihat dirimu. Bahkan
cara berpikirmu akan membuat orang dewasa malu"

"Aku akan menganggapnya sebagai pujian"

"....Lagipula, kenapa orang sepertimu membantuku? Pria-pria itu tidaklah amatir. Kau mungkin
tewas jika sedikit saja ceroboh"

"Hmm, karena peluang suksesku yang tinggi?"

"Bagi manusia, elf adalah ras langka. Itu sebabnya orang-orang seperti sebelumnya akan
menggunakan cara berhati dingin yang menurut mereka dapat berhasil untuk menangkapku.
Meskipun, aku tahu bahwa kau tidak seperti itu"

Kenapa aku menyelamatkannya, ya?


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Pada saat itu, aku memutuskan untuk menolongnya setelah mengamati semua orang yang
terlibat. Bukan karena alasan kemanusiaan. Aku mungkin tidak akan membantu Fia jika
kondisinya masih sehat dan mampu melawan kelima pria.

Sebuah dunia di mana yang kuat bertahan hidup.

Orang-orang yang jelas menangkap Fia demi uang dan nafsu, itu hanya untuk memuaskan
keinginan mereka sendiri. Berpikir tentang hal ini, aku juga sama.

"Aku ingin mengenalmu justru karena kelangkaan ras milikmu....mungkin? Dan juga, karena
kau cantik...."

Fakta bahwa 'Dia cantik' sangat penting untuk tindakanku ini.

Meskipun aku berkata dengan serius, awalnya tercengang, dia lalu tertawa terbahak-bahak.

"Ha, hahahahaha!! Ingin mengenalku karena aku cantik? Kau orang pertama yang mengatakan
motif tersembunyinya begitu santai"

"Aku seorang laki-laki. Apa yang salah dengan menjawab secara jujur?"

"Hehe, aku senang telah diberkahi kecantikan. Itu membuatku bisa bertemu denganmu"

"Oh, dengan kata lain....?"

"Benar....ayo kita berteman. Tidak, aku memintamu untuk menjadi temanku"

Aku dengan tegas menjabat tangannya menggunakan tanganku yang bebas*. Akhirnya, aku
bisa berkenalan dengan seseorang selain para penghuni rumah.
[Satu tangannya masih menyentuh luka Fia]

Disamping itu, dia merupakan elf yang cantik. Ya, ini awal yang menguntungkan.

"Hmm, aku pikir mati rasaku telah sebagian besar menghilang....Hei, Sirius. Mencoba untuk
menyembuhkan lukaku memang baik, tapi ini adalah kesalahanku sendiri, jadi kau tidak perlu
mengurusnya lagi"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Nah....ini harusnya selesai, mungkin?"

Ketika aku menjauhkan tangan dari cederanya, luka di sana sampai beberapa saat yang lalu
telah menghilang seakan tak pernah ada.

Fia menampakkan ekspresi kagum sambil menyentuh tempat kulit yang sebelumnya robek.

"Hampir tak ada respon Mana, menakjubkan. Ini pertama kalinya aku melihat sihir penyembuh
tanpa mantra"

"Ini bukan sihir penyembuh. Aku memiliki atribut Tanpa Warna, karena itulah afinitasku
dengan atribut air sangat buruk"

"Eh? Tanpa Warna? Kau bercanda, kan?"

Apa yang aku lakukan hanyalah meresapkan Mana ke orang lain untuk merangsang Mana
mereka, dan menyebabkan aktifnya regenerasi diri. Yang benar adalah aku menciptakan ini
untuk menyembuhkan cederaku sendiri, tapi juga bekerja pada orang lain. Ini murah dan
sederhana, aku menyebutnya 'Kontrol Regenerasi'.

Tidak seperti sihir penyembuh atribut air, dibutuhkan waktu dan memerlukan kontrol presisi
Mana. Namun, ini satu-satunya metode pemulihan yang aku dapat gunakan. Tidak ada yang
salah dengan itu kerena alami.

Dan seperti yang diharapkan, dia terkejut ketika mendengar bahwa aku Tanpa Warna. Bahkan
elf memiliki pendapat yang sama, ya?

"Bukankah barusan kita di langit? Aku pikir kau memiliki atribut angin dan terbang
menggunakan sihir angin"

"Yah, itu hanya memanfaatkan Mana dan berlari, bukan terbang. Lagipula, Fia adalah orang
yang beratribut angin dan memakai sihir roh, kan?"

"....Bagaimana kau tahu kalau aku menggunakan sihir roh?"

Wajahmu menjadi mirip topeng Noh*, kau tahu. Apa aku baru saja berkata hal-hal aneh?
[Topeng untuk teater klasik jepang yang disebut terater Noh. Ini Bentuknya]
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Aku mendapatkan firasat bahwa lebih baik untuk berbicara jujur. Ayo kita maju dan
menjelaskannya secara langsung.

"Mungkin karena sihir angin yang kau gunakan pada orang-orang itu terlalu kuat dibandingkan
dengan jumlah Mana yang habis. Juga, aku mengalami perasaan aneh di sekitar Fia saat itu"

Sihir angin yang dilepaskan pada para bandit itu berhenti di tengah jalan, tapi indraku
memberitahu bahwa dia hanya mengkonsumsi segelintir Mana. Jika Fia tidak keracunan,
mereka pasti akan terhempas jauh, persis seperti yang dia katakan.

Dan kemudian, aku yakin ketika menyentuh tubuhnya. Perasaan aneh itu bukan dari Fia, tetapi
berputar-putar di sekitarnya sebagai pusat.

Perasaan aneh yang menimbulkan ketidaknyaman ini mungkin berasal dari para roh. Dan
seandainya benar, itu pasti roh angin.

Fia menjawab sambil menjaga ekspresi kaku, seolah memikirkan sesuatu yang rumit.

"Apa Sirius dapat melihat roh?"

"Tidak. Hanya timbul perasaan aneh ketidaknyamanan di sekitar Fia, jadi aku mengira bahwa
asal perasaan itu adalah roh"

"....Apa ini pertama kalinya kau melihat sihir roh?"

"Ya, memang. Namun...."

Seperti sihir pistol milikku, sihir roh sangat kuat. Hal itu tertulis di catatan yang pernah kubaca,
tapi setelah melihatnya langsung, ini keterlaluan. Bagaimanapun, tiupan angin kencang
bagaikan badai muncul hanya dari memakai sejumlah kecil Mana untuk memanggil para roh.
Firasatku mengatakan, jika dia serius, akan ada bencana alam semacam tornado.

"Meskipun aku gagal melepaskannya, sihir roh hebat, kan? Untuk alasan inilah, aku
menyembunyikannya karena akan ada begitu banyak orang yang akan mencoba
membatasiku"

Tentu saja, jika sekuat itu, maka akan ideal untuk menggunakannya sebagai senjata.
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Meskipun elf seperti target yang mudah, jika sihir rohnya diketahui, maka target-target ini
akan menjadi suatu hal besar tak terbayangkan.

"Aku bisa melakukannya dengan mengirimkan sebagian Mana kepada mereka, namun roh
akan pergi kalau emosiku muncul. Ini cukup menguras konsentrasi"

Fia berbicara sambil tersenyum, namun itu agak dipaksakan, ada kegelapan yang dia coba
sembunyikan disana.

Karena kelebihan ini, ia mungkin telah dibebani dengan berbagai kesulitan. Penderitaan yang
hanya mereka dengan kekuatan keterlaluan bisa pahami....ya.

"Emmm.....ini masalahku, sehingga kau tidak perlu membuat wajah semacam itu, Sirius"

"Aku tidak mengerti hal-hal yang berkaitan dengan roh, tapi aku mengerti hal-hal yang
berkaitan dengan menyembunyikan kekuatan seseorang"

Ya, mungkin semacam nasib. Aku akan membuat gadis ini---yang menderita sendirian---
menyadari bahwa dia memiliki seorang kawan.

Kepala Fia miring pada kata-kataku. Saat hendak mencoba menunjukkan sihirku sendiri, objek
raksasa memasuki pandangan.

"....Sesuatu sedang mendekat"

"Eh....ah! Kau benar, roh-roh menjadi gelisah---Tunggu, itu?!"

Tatapanku mengarah tinggi ke langit, dan objek besar tersebut sekarang terbang ke arah kami.

Itu makhluk hidup dengan sayap tumbuh keluar dari tubuh seperti kadal. Ini tertera di buku,
dikatakan sebagai monster yang merupakan subspesies dari naga.

"....Seekor wyvern, ya. Hanya satu, apa dia memisahkan diri dari kawanannya?"

"Jangan hanya dengan santai mengamati, ayo bersembunyi! Akan merepotkan jika kita
menjadi sasarannya"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Agak terlambat untuk itu. Sepertinya dia sudah menyadari kita"

Sementara meluncurkan raungan bernada tinggi, wyvern itu menuju langsung ke arah kami.
Mungkin ukurannya sekitar tiga kali diriku sendiri. Menurut buku, ada juga yang lebih besar di
luar sana.

"Naga muda? Meski begitu, dia sudah cukup besar...."

"Raungannya sangat keras! Apa boleh buat, kalau aku melakukannya sekarang...."

Fia mencoba melepaskan sihir sementara masih terduduk. Namun mungkin karena efek racun
belum benar-benar lenyap, dia mengalami kesulitan mengonsentrasikan Mana-nya.

Saat butiran keringat muncul di dahinya, aku meletakkan tangan di bahunya seakan untuk
meyakinkan Fia. Lalu melangkah ke depan seolah-olah melindungi dirinya.

"Mundurlah, Sirius. Aku setidaknya mampu mengusir mahkluk itu, walaupun belum bisa
mengalahkannya"

"Tidak masalah. Tinggalkan saja ini kepadaku"

Wyvern yang telah cukup dekat di hadapan mata kami bersiap untuk menyerang dan menukik.
Aku pun mengarahkan jari telunjuk padanya.

"Apa kau siap, Fia? Sihir roh milikmu bukan satu-satunya hal yang kuat. Aku akan
membuktikannya"

"Tunggu, apa yang kau kata---"

"{Magnum}!!"

Sebuah peluru Mana dilecutkan dari ujung telunjukku. Ini merupakan salah satu sihir yang aku
terus latih berkali-kali selama beberapa tahun terakhir, mengakibatkan presisinya untuk
meningkat.
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Aku membayangkan peluru dengan menambahkan {Impact} secara bersamaan untuk memberi
dampak pada proyektil. Peluru pun melesat menembus mata Wyvern dalam sekejap.
Gelombang kejut yang dipancarkan dari kedalaman otak membuat kepalanya meledak.

Bisa dipastikan dia telah tewas. Wyvern lalu meluncur di udara, lewat di samping kami, dan
terjerumus ke tanah.

Fia tercengang pada mahkluk itu yang tewas hanya dalam sekejap. Di waktu singkat, ia
akhirnya mulai bergerak lagi dan perlahan menoleh ke arahku.

"Baru saja....apa itu? Apa yang kau telah lakukan?"

"Salah satu sihir ciptaanku. Kekuatannya seperti yang kau lihat. Bagaimana, Fia?"

"....Aku tidak dapat mengatakan apapun. Meski tanpa memakai mantra, melepaskan sihir
sekuat itu...."

"Sesuai dugaan. Bahkan dari sudut pandang Fia, ini menakjubkan. Sihir barusan, tolong
rahasiakan ya?"

"A-Aku tidak berniat untuk memberitahu siapapun, tapi kenapa? Kalau kau menunjukkan sihir
semacam ini, maka akan ada segunung undangan dari para bangsawan dan....ah!"

"Akan tampak menyedihkan ketika sekelompok orang memanfaatkan seorang anak kecil,
bukan? Lihat, Fia dan aku sama dalam hal ini"

Ini berarti bahwa dia tidak sendirian. Dengan kata lain, akan baik-baik saja selama kami
berbagi rahasia satu sama lain.

"Aku mengerti....Kemudian, aku akan tetap bungkam tentang apa yang baru saja terjadi. Kau
juga, bukan?"

"Baiklah"

Itu benar...Fia dan aku adalah sahabat dengan rahasia yang sama.

Menyadari pemikiranku, dia memberi senyuman alami.


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Sementara menunggu Fia pulih, aku memeriksa mayat wyvern ini. Karena kepalanya meledak
dengan darah berceceran, aku harus selesai sebelum monster berkumpul.

Bersamaan dengan meneliti bagian-bagian yang mungkin bisa dijual, Fia menghampiri dan
menatap wyvern sementara bergumam dalam kekaguman.

"....Sungguh menakjubkan. Mengalahkan seekor wyvern hanya dengan menunjuk jari


kearahnya...."

"Ini bukan karena seluruh bagian tubuh wyvern lunak. Aku harus mengincar titik lemah,
seperti yang tadi kulakukan pada matanya"

"Mampu membidik bagian kecil seperti mata cukuplah menakjubkan, kau tahu. Kesampingkan
itu, apa yang sedang kau lakukan?"

Walaupun tidak begitu besar dari spesimen, kau bisa menebak bahwa dia sejenis naga dari
ukurannya. Aku mencoba untuk merobek apa yang mungkin bisa dijadikan bahan baku, tetapi
pisau milikku bahkan tidak mampu membuat goresan pada patagium* yang tersebar di
sayapnya, apalagi sisik....
[Suatu struktur membran untuk membantu terbang/meluncur pada binatang. Contohnya ada
pada kelelawar atau pterosaurus]

"Aku menginginkan patagium-nya, tapi pisau ini tidak berguna. Apalagi, patagium itu tahan
lama dan fleksibel...."

"Aah, tentunya tidak mungkin dengan pisau kecil kan? Baiklah, aku akan meminjamkan ini"

Apa yang Fia lemparkan adalah pisau yang bersinar kehijauan. Aku telah melihat berbagai
pisau dalam hidupku sebelumnya, namun ini pertama kalinya aku melihat pisau indah seperti
itu yang tampaknya unggul dalam kepraktisan.

Aku merasa akan sia-sia untuk menggunakan suatu barang yang bagaikan sebuah karya seni.
Hanya saja, Fia tersenyum seakan mengatakan 'Silakan'. jadi aku dengan ramah dan tanpa
syarat memanfaatkannya.

"Ooh....luar biasa"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Itu karena terbuat dari Mithril. Sejenis logam yang dapat dilalui Mana"

Hanya menyentuh permukaan patagium sedikit, pisau ini memotongnya dengan mudah. Aku
terus menguliti wyvern sementara terheran-heran dari ketajamannya.

Setelah selesai, aku melangkah jauh dalam suasana hati penuh kepuasan.

"Terima kasih untuk meminjamkan pisau yang menakjubkan. Aku dapat dengan lancar
mengumpulkan bahan"

"Bukan apa-apa, tapi kau sudah benar-benar selesai tentang hal itu? Tak ada bagian lain yang
kau ingin robek? Semisal, sisik?"

"Tas-ku penuh hanya dari patagium. Keserakahan akan membuat bawaanku berat dan
menghambat perjalanan di langit"

Karena patagium ini sepertinya tahan lama dan fleksibel, mungkin bisa digunakan dalam
berbagai hal. Saat aku melipat patagium sekecil mungkin dan meletakkannya di tas punggung,
Fia menatapku dengan ekspresi aneh.

"Kau tidak memiliki keserakahan apapun, ya. Petualang yang biasa kulihat akan mengupas
sampai ke tulang untuk dijual. Terutama karena wyvern merupakan sejenis naga, harga bagian
tubuhnya cukup tinggi"

Dee yang bertugas dalam penjualan akan kerepotan dengan asal-usul bahan-bahannya. Karena
itulah, aku hanya membawa beberapa lembar. Kalau cuma sejumlah ini, kemungkinan besar
pembeli akan mengabaikannya.

"Aku tidak bisa dengan gampangnya menjual ini, akan timbul berbagai kesulitan. Fia, kau
membutuhkan sesuatu dari wyvern?"

"Aku dalam perjalanan kembali ke kampung halaman, jadi itu tidak perlu"

"Kalau begitu, kita tinggalkan sisanya disini. Lebih penting lagi, bagaimana keadaanmu?"

Fia mencoba membuka dan menutup tangannya, melompat, lalu tersenyum sambil menepuk
kepalaku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Hmm....di tepuk oleh seorang perempuan cantik cukup bagus.

"Ada sedikit mati rasa yang tersisa, namun tidak akan ada masalah dengan hanya bergerak. Ini
semua berkatmu"

"Kemudian, ayo pergi. Mayat wyvern akan menarik para monster"

"Ya. Aku dalam perawatanmu"

Sementara masih tersenyum, Fia menghampiriku dengan kedua tangan terbentang. Aku
berniat untuk melakukan itu dari awal, tapi tidak berpikir bahwa orangnya sendiri akan
meminta.

"Apa boleh buat. Baiklah, aku akan membawamu"

"Hehe, terima kasih. Ah, tapi jangan salah paham, karena itu Sirius, aku bisa mempercayakan
tubuhku padamu. Ini bukan berarti aku ingin melakukannya"

"Di percaya sampai sejauh itu adalah suatu kehormatan. Nah, Ojou-sama, kita akan pergi?"

"Ya, ayo!!"

Sekali lagi mengangkat Fia dalam gendongan putri, aku menendang udara dan berlari ke langit.
Tujuan kami adalah kampung halamannya. Karena tidak jauh dari sini, aku memang berencana
membawa Elf ini sampai kesana.

Fia yang ceria dan aku membuat percakapan ringan sementara melintasi langit.

"Di desa Elf kami, ada kebiasaan bepergian ke dunia luar ketika seseorang mencapai usia
tertentu. Aku juga memulainya beberapa tahun yang lalu. Dan hingga sekarang, sudah banyak
tempat yang kudatangi"

"Kebetulan sekali, aku juga berencana melakukan perjalanan setelah dewasa"

"Heeh, terdengar bagus. Meskipun muncul berbagai kesulitan, bepergian benar-benar


menyenangkan"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Aku pernah mendengar bahwa para elf jarang meninggalkan hutan, tapi itu tidak terasa
sedikitpun dari Fia. Senyumnya tampak seolah-olah dia sepenuh hati bersuka ria.

"Kau sedikit berbeda dari elf yang pernah kubaca dalam buku-buku"

"Nah, bisa dibilang aku ini cukup eksentrik. Elf biasa akan tetap mengasingkan diri di hutan dan
takkan mencoba untuk keluar, keingintahuan mereka dibatasi oleh kebanggaan. Sebaliknya
ketika mencapai usia yang diperbolehkan, aku dengan gembira melangkah ke dunia luar"

"Haha, aku tidak membenci kepribadian semacam itu

"Senang mendengarnya. Sepuluh tahun berlalu menikmati hari-hari bepergian, aku pun harus
kembali ke kampung halaman. Dan dalam perjalanan pulang, aku malah diserang"

"Bukankah Fia sebenarnya mampu berurusan dengan pria-pria sekaliber mereka?"

"Ya, memang mudah jika menggunakan sihir roh, tapi aku sedikit ceroboh"

Tampaknya Fia kehabisan uang ditengah perjalanan pulang. Tepat di waktu ia menerima
pekerjaan yang harus dilakukan sebagai sebuah kelompok, para pria itu ada disana. Terdapat
petualang pemula lain juga, dan ia mengajari berbagai hal layaknya senior. Tetapi orang-orang
itu menipu si petualang pemula dan membuatnya memberikan racun pelumpuh pada gadis ini.

"Sepertinya mereka telah mempengaruhi anak itu ketika aku tidak memperhatikan. Tanpa
mengetahui apapun, dia memberiku minuman sebagai ungkapan rasa terima kasih. Aku baru
menyadari kalau isinya racun yang mereka diam-diam campur setelah meminumnya. Sebelum
efek muncul, aku berusaha lari....hanya saja...."

"Para bajingan itu memojokkanmu, lalu aku kebetulan bertemu kalian"

"Kira-kira begitu. Yah....orang-orang itu mendapatkan apa yang pantas. Namun, aku agak
bersyukur. Karena mereka, aku bisa bertemu Sirius"

"Kau dengan santai mengatakan hal-hal memalukan. Meskipun....aku merasakan hal yang
sama"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Aku mempunyai sebuah aturan, yaitu 'Jangan menyembunyikan kasih sayangmu'. Adapun
Sirius juga merasa seperti itu tentang pertemuan kita, aku senang"

Aku hanya menolong. Namun, tidak sampai berharap akan dibanjiri kasih sayang. Aku
mendapat suatu hal menyenangkan saat terbang di langit.

Tak lama kemudian, hutan berakhir seolah-olah terpotong. Apa yang menggantikan adalah
padang rumput. Walaupun tidak luas, tak ditemukan satupun monster pada hamparan lahan
hijau itu.

"Hutan di sisi lain padang rumput ini merupakan wilayah para elf. Terdapat penghalang yang
dipasang untuk menangkal orang-orang luar dan monster. Disini adalah batasnya"

Dia berkata kalau langsung pergi ke sana melalui langit, aku akan dianggap sebagai musuh dan
diserang. Jadi kami mendarat di sisi hutan.

"Di sini baik-baik saja. Hutan ini seperti halaman rumahku sendiri"

"Heeh, seperti yang diharapkan dari ras yang tinggal di hutan, ya. Ngomong-ngomong, apa
yang akan terjadi jika aku memasuki hutan ini?"

"Penyusup selain para elf akan segera terdeteksi oleh penghalang. Aku kira kau akan di hujani
anak panah. Bahkan, kalau entah bagaimana berhasil melewatinya, kau pasti tersesat tanpa
tahu arah jalan ke desa"

"Keamanannya sangat ketat. Di lain hal, bahaya diserangan oleh orang luar juga rendah"

"Tentu saja terdapat banyak risiko, tapi karena ada hal seperti itulah, para elf bersikeras
menyendiri di dalamnya. Aku mungkin sedikit khawatir ketika memikirkan masa depan ras"

Fia tersenyum masam. Dia lalu duduk di atas batu terdekat tanpa niat memasuki hutan,
menepuk tempat di sampingnya seolah berkata 'kemarilah'.

Sekarang masih pagi jadi ada banyak waktu luang. Aku belum cukup bicara dengannya ketika
memutuskan untuk menaruh pantatku disana. Dia tersenyum saat tatapan kami bertemu.
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Bagaimanapun, terbang di langit sungguh menyenangkan. Hanya dalam waktu singkat,


mampu menempuh jarak yang biasanya mengambil satu atau dua hari. Rasanya bagus"

"Ketika pergi terlalu cepat, tekanan anginnya sangat keras. Meskipun begitu, aku setuju
denganmu"

"Hei, Sirius. Kita akhirnya menyelesaikan semua hal, tapi aku punya permintaan lagi....Apa kau
mau mengajariku metode untuk terbang di langit?"

"{Air Step}, ya? Mana yang dihabiskan terlalu banyak. Aku tidak menyarankanmu untuk
melakukannya"

"Tidak masalah. Sampai sekarang, aku sudah mencoba terbang berkali-kali, dan jatuh juga
setiap kalinya. Itu tidak menyenangkan"

Rupanya dia telah mencoba memukul tubuh sendiri dengan sihir roh angin di masa lalu.
Sayangnya lebih mirip dihempaskan daripada terbang. Dia pun meratapi diri yang tak berdaya.

"Entah bagaimana aku bisa selamat dengan melepaskan angin tepat sebelum jatuh. Meski
usaha untuk terbang selalu gagal, aku tidak mau menyerah. Jadi, tolong!"

Dia serius....meminta dengan kedua tangannya menyatu di depanku.

"Kalau itu merupakan sesuatu yang mampu kulakukan, maka akan kulakukan. Aku bahkan bisa
menjadi kekasihmu ketika kau sudah dewasa. Tentu saja, kalau kau mau"

"Kesampingkan persoalan 'Kekasih', akan lebih baik kalau Fia menyerah pada metode yang aku
gunakan untuk terbang"

"....Seperti yang kupikir. Mustahil, ya?"

"Bukan. Fia dapat melihat roh-roh angin, sehingga kau bisa saja terbang jika berlatih"

"Berlatih? Bukankah aku baru saja memberitahumu? Itu lebih mirip dihempaskan daripada
terbang"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Tergantung cara seseorang menggunakan angin. Kau lihat, ada fenomena yang disebut
'Lift'*....hmm"
[Gaya angkat/Lift. Teori/formula dimana adanya campur tangan udara (Aerodinamika) atau
cairan (Hidrodinamika) agar menghasilkan tekanan untuk mengangkat suatu benda. Agak
bingung ngejelasinnya. Cari aja di google konsep gaya angkat/Lift. Atau kalian lebih baik ke
Aerodinamika karena yg dimaksud disini tentang terbang karena udara]

Pesawat terbang yang ada dalam hidupku sebelumnya melayang di udara karena
memanfaatkan fenomena yang disebut 'Lift'. Namun, aku tidak berpikir bahwa Fia akan
mengerti. Sehingga, menggunakan {String} aku menyatukan beberapa potongan kayu dan
menciptakan model mini pesawat.

Aku menjelaskan padanya sambil menunjukkan hal itu.

"Ketika kau menerapkan angin ke arah ini, bagian belakangnya akan mengapung. Yang penting
adalah arah angin"

"....Menakjubkan, aku mendapat firasat bisa terbang sekarang walaupun mungkin


mengendalikannya akan sulit. Tidak hanya berakhir dengan cedera kalau aku ceroboh"

"Aku di sini, kan? Aku akan membantu kalau situasi sudah menjadi berbahaya. Semuanya akan
baik-baik saja, jangan takut membuat kesalahan"

"....'Jangan takut membuat kesalahan', ya. Benar juga, semua yang bisa aku lakukan adalah
menantangnya!"

Setelah mengerahkan motivasinya, Fia segera memulai percobaan. Karena menerima angin
sambil berdiri tampak sulit, dia membungkuk serendah mungkin dengan tanah sampai-sampai
hampir tiarap.

"Bukankah aku yang sekarang tidak terlihat keren dari perspektif orang luar?"

"Satu-satunya yang melihatmu adalah aku. Lagipula, setelah terbiasa, kau mungkin bisa
terbang dengan lancar"

"Daripada penampilan, aku pertama-tama harus memprioritaskan terbang....Ngomong-


ngomong, kenapa kau berpindah tempat?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Pada awalnya aku berdiri di samping Fia, tapi bergerak sedikit lebih dekat ke bagian atas
tubuhnya.

"Aku tidak benar-benar ingin mengatakan ini, tapi bagian dalam rokmu akan terlihat, kan?"

"Kalau yang melihatnya Sirius, aku tidak keberatan, kau tahu?"

"....Sudahlah, cepat saja mulai"

"Tapi itu sungguhan....Yah....Wahai angin"

Simultan dengan gumaman Fia, angin kencang bertiup dari depan. Wajahnya terhantam
tekanan, membuatku agak khawatir. Dia lalu memanipulasi aliran agar memastikan hembusan
tidak mengenai mata atau mulutnya.

Sementara terkagum dengan kontrol kemampuannya yang cukup hebat, kekuatan angin terus
meningkat. Dan beberapa saat kemudian, dia berhasil mengambang dari tanah.

"A-Aku berhasil! Akhirnya aku terbang di lang---ah?!"

Mungkin kewaspadaan Fia lenyap karena gembira, dia kehilangan kendali sejenak, namun itu
sudah cukup merubah anginnya menjadi badai. Dalam sekejap mata, dia tertiup tinggi ke
langit.

"Baiklah, aku harus pergi menyembuhkan dirinya"

Sebelum jatuh, aku terbang dan menyelamatkannya.

Ketika aku menangkapnya dalam pelukan, Fia dengan penuh semangat menempeli leherku.

"Aku akhirnya terbang!! Terima kasih, Sirius!"

"Baguslah. Jadi....apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

"Tentu saja, menantangnya lagi. Aku pasti mampu terbang lebih tinggi. Mungkin akan
merepotkan dirimu, tapi tolong bimbing aku"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Begitu Fia memijak tanah, dia kembali mengulanginya. Berkali-kali, semakin tinggi, dan
akhirnya mampu terbang bebas. Walaupun sering jatuh hingga angkanya mencapai dua digit,
dia tidak menyerah.

Aku sempat berpikir ini akan menjadi pengalaman traumatis baginya, namun....

"Ups, kesalahanku, kesalahanku. Terima kasih, ouji-sama*"


[Pangeran.... -_- ]

"Jangan menakut-nakutiku. Kau ini...."

Sebaliknya, ia dengan gembira menikmati dirinya sendiri. Diselamatkan saat jatuh bagaikan
seorang putri dari dongeng. Aku mengagumi sikapnya yang berusaha keras sambil masih
menikmati momen ini.

Fia juga cepat membaik. Di sekitar tengah hari, dia telah mampu mempertahankan
ketinggiannya.

Di sela-sela latihan, kami beristirahat dan memutuskan untuk makan siang.

Karena terburu-buru meraliran diri dari para pria itu, Fia tidak sempat membawa makanan.
Jadi kami berbagi beberapa sandwich milikku. Dia sangat tersentuh oleh rasa mayones yang
aku ciptakan, hingga perlahan menutup jarak sambil bernapas kasar dan berkata 'Tolong ajari
aku resepnya~'.

Itu memang bukan sesuatu yang harus disembunyikan, jadi aku memberitahu cara
membuatnya. Meskipun ini akan melelahkan, berjuanglah Fia. Untuk berjaga-jaga, aku
memperingatkannya untuk tidak makan terlalu banyak.

Seusai istirahat, dia berlatih lagi. Mungkin karena sudah memahaminya, jumlah dia jatuh
menurun. Bahkan telah mampu melakukan jungkir balik di udara.

Dan ketika ia akhirnya bisa mendarat dengan aman tanpa bantuan diriku, matahari mulai
tenggelam.

"Ya, itu sukses. Sempurna"


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Aku melakukannya! Ini semua berkatmu, Sirius!"

Pada akhirnya kami bersukacita sambil melakukan tos. Aku mengalihkan pandangan terhadap
sang surya yang telah sedikit termakamkan.

Erina dan yang lainnya akan khawatir kalau aku tidak segera kembali. Ketika hendak
memberitahu Fia tentang hal ini, dia melihat kemari dan membuat ekspresi agak muram.

"....Kau akan pergi....?"

"Iya....Aku hafal tempat ini, jadi kita bisa bertemu lagi"

"....Maaf. Kami yang sudah menuju ke dunia luar dan pulang, tidak diizinkan untuk keluar dari
hutan selama sekitar sepuluh tahun....Itu sebabnya, akan mustahil untuk sementara waktu...."

"Lalu kenapa? Aku akan masuk ke dalam hutan juga....tidak mungkin, ya?"

"Un*. Siapapun selain elf, tanpa syarat ditolak. Bahkan, aku akan kesulitan untuk
melindungimu jika kau tetap masuk"
[Mengangguk]

"Masalah di antara ras, kan? Aku kira hal bodoh semacam itu dapat timbul di manapun"

"Memang. Meskipun kita berhubungan baik, apa-apaan itu? Ada juga ritual pemurnian yang
katanya untuk memurnikan kotoran dari dunia luar dan banyak hal lain lagi. Tapi, sepuluh
tahun itu tidak perlu!"

Sementara bergumam dan mengeluh, Fia menendang batu di kakinya. Dia merajuk untuk
sesaat.

Seakan mengingat suatu hal, dia membungkuk dan bersandar ke depan, mencocokkan garis
pandangnya denganku.

"Walaupun sudah mengatakan ini berkali-kali....terima kasih banyak, Sirius. Entah kenapa, aku
ingin menunjukkan rasa syukur lewat sesuatu, namun aku tidak memiliki apapun yang pantas
diberikan padamu"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Jangan pedulikan itu. Aku bisa mengenal Fia, dan mengalami momen menyenangkan"

"Tidak boleh begitu. Apakah ada sesuatu yang---.....Ah! Benar juga. Kau mengatakan ini
menakjubkan, kan?"

Sambil mengucapkannya, Fia mengeluarkan pisau mithril yang dia miliki.

Secara jujur, aku menginginkannya. Hanya saja, apa tidak masalah baginya untuk
melemparkan sesuatu yang tampak mahal untukku? Selain itu, suatu simbol terukir disana
ketika dilihat lebih dekat.

"Bukankah ini sejenis hal yang diwariskan dari generasi ke generasi? Kau tidak boleh begitu
mudah memberikannya kepada orang asing"

"Tidak masalah. Aku diberitahu untuk menjaga diri daripada pisau ini. Lagipula, kalau
dibandingkan, keselamatan yang Sirius berikan padaku bukanlah apa-apa. Silakan dan Jangan
keberatan"

"....Jika kau bersikeras, aku akan dengan senang hati mengambilnya"

"Dan juga, ada satu hal lagi yang dapat aku berikan. Namun, kau akan menerimanya, kan?"

"Itu terlalu banyak....tapi agar Fia puas, baiklah"

"Kalau begitu, tutup matamu untuk sebentar"

Aku menurutinya karena tidak berpikir bahwa ia akan melakukan sesuatu yang aneh setelah
semua yang terjadi.

Beberapa detik kemudian....bibirku merasakan sensasi lembut.

Mataku dengan refleks terbuka lebar. Apa yang terlihat tepat di depan adalah wajah Fia. Saat
sedang berpikir betapa cantiknya gadis ini, dia menjauh dariku sambil tertawa malu dan agak
merona.

"Astaga....walaupun aku menyuruhmu untuk menutup mata...."


Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"....Biasanya di pipi atau dahi, kan?"

"Oh? Kau tidak terkejut sama sekali. Meskipun ini merupakan pertama kalinya untukku....tidak
adil...."

"Aku terkejut. Tiba-tiba melakukan hal itu pada mulut....kasih sayang elf cukup ekstrim, ya"
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

Ini pertemuan pertama kami, kau tahu? Aku membantunya dengan berbagai hal, tapi tidak
pernah mengira dia akan jatuh cinta pada seorang anak. Ras berbeda memiliki budaya
berbeda.

Aku bertanya-tanya apakah ini adalah sesuatu seperti rasa terima kasih terhadap teman dekat.

"Tidak, aku serius. Bahkan ini terasa aneh. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.
Itulah kenapa, ini reservasi*. Ingat perkataanku di siang hari? 'Kalau itu merupakan sesuatu
yang mampu kulakukan, maka akan kulakukan'"
[Sudah dipesan. Kalian pasti tau apa maksudnya]

“Aku kira ini lelucon....Lagipula....apanya yang reservasi?”

“Setelah sepuluh tahun berlalu, Sirius akan menjadi dewasa, kan? Pada saat itu, aku ingin kau
mengambilku. Itu lah reservasi. Ah, kalau ini Sirius, sepertinya kau akan memiliki sekitar dua
atau tiga istri. Dalam hal ini, bahkan menjadi wanita simpanan juga tidak masalah"

“....Kau baik-baik saja dengan itu?”

"Tentu. Aku sudah berumur 252 tahun, jadi bahkan ketika Sirius menjadi tua, aku masih
seorang wanita di usia perdananya. Itu tawaran yang bagus, kan? Namun, kalau memang tidak
mungkin, aku akan menyerah”

Dia tersenyum, tapi tampak sedikit sedih ketika mengucapkannya.

Terpukul oleh emosi tulus sampai sejauh ini, aku juga harus dengan sungguh-sungguh
menanggapinya.

“Aku tidak benar-benar mengerti tentang usia elf. Haa....Baiklah. Ayo kita bertemu lagi dalam
sepuluh tahun, dan jika perasaan Fia tidak berubah....aku akan mengambilmu”

"Sungguh!? Tenang saja, ini tidak akan berubah~”

Tersenyum lebar, Fia datang dan memelukku. Berpikir tentang hal ini, dia merupakan
perempuan cantik, kepribadiannya tidak buruk, dan seorang pasangan yang lebih dari pantas
untukku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 9 – Reservation

"Kalau begitu, Sirius....ayo kita berjumpa di waktu berikutnya"

“Aah. Ketika saat itu datang, aku akan ke sini lagi”

“Ya, aku akan menunggu”

Pada akhirnya kami berjabat tangan, dan saling melambai seluas mungkin.

Fia lalu menghilang ke dalam hutan. Aku memastikan bahwa sosoknya telah benar-benar
lenyap dan berlari melalui langit. Berangkat di perjalanan untuk pulang ke rumah.

Dengan demikian, pertemuan antara diriku dan perempuan elf bernama Fia, berakhir. Reuni
sudah ditetapkan sepuluh tahun kedepan.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dari sekarang.

Aku hanya berharap untuk bisa berjumpa sekali lagi.

☆☆☆Chapter 9 berakhir disini☆☆☆

Catatan Penulis =
Teks diubah pada tanggal 29 Maret 2015.

Catatan Penerjemah =
Diantara kalian mungkin ada yg pernah membaca World Teacher, dan menyadari kalau
bab ini tidak sama dengan yg kalian sebelumnya lihat. Memang, sesuai tulisan sang penulis
diatas, bab ini sudah diubah ke versi yg lebih baru. Kalau di versi yg lama, Sirius akan
membuktikan sihir pistolnya dengan menembak sebuah batu. Dan di versi ini, ada Wyvern, Fia
belajar untuk terbang, dll. Jika kalian ingin menengok apakah itu benar atau tidak, silahkan lihat
disini. Namun....walaupun agak berbeda, tapi intinya tetap sama. Ini hanya diperjelas,
disesuaikan, dan lebih dibuat romantis (bentuk "hati" merah muda melayang dimana-mana -_-)
tapi, sejujurnya, aku lebih suka yg versi ini. Menurut kalian?.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody


Bagian 1

Beberapa hari setelah pertemuan dengan si gadis Elf, aku mendatangi benua Aldrod lagi.

Aku kembali karena tidak bisa melakukan penjelajahan pada waktu terakhir kali disebabkan
permasalahan dengan Fia. Nah, meskipun begitu, aku kira telah mempelajari beberapa hal
berguna darinya. Jika kami bertemu lagi, aku akan menganggap dirinya sebagai kekasih yang
pernah kutinggalkan atau semacamnya. Akan terkesan konyol untuk khawatir tentang masa
depan yang tidak pasti.

Karena aku ke pergi timur sebelumnya, kali ini akan kucoba melaju ke barat. Lebih baik kalau
ada sebuah desa biasa diarah sana, bukannya desa elf.

Sementara sisi timur hanyalah hutan datar, disini berupa daerah pegunungan. Tampaknya
terdapat banyak monster, sehingga mungkin takkan ada pemukiman yang dihuni manusia.
Namun, aku tidak melihat apapun ketika terbang disekitar. Mungkin aku melewati sesuatu?.

Agar tindakan ini tidak menjadi sia-sia, aku harus melakukan pemetaan saat istirahat.
Sementara sedang mencorat-coret di peta sambil berpikir kemana harus pergi berikutnya,
telingaku tiba-tiba menangkap sebuah bunyi. Aku mengangkat wajah dan mengkonfirmasi
bahwa benar-benar ada sesuatu. Sayangnya, menengok ke sekeliling, asal suara itu tidak
tampak. Sepertinya terdengar datang dari sisi lain gunung dan memiliki irama tertentu. Ini tak
boleh diabaikan.

Bergegas, aku menutup peta dan terbang menuju sumber bunyi.

Setelah membuat jalan memutar di sekitar gunung, diriku menemukan sebuah rumah
terpencil.

Cukup jauh, hanya saja mataku bisa menangkap kepulan, berasal dari sesuatu yang tampak
seperti cerobong asap. Tempat ini pasti berpenghuni. Meski begitu, bagi seseorang untuk
tinggal di sebuah rumah pribadi ditengah-tengah hutan....dia mungkin eksentrik.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Aku bisa saja mengabaikan tempat ini dengan terbang melewatinya namun karena ditekan
rasa penasaran, aku memilih turun di tanah terdekat dan beralih untuk berjalan kaki. Perlahan
melalui hutan lebat kemudian tiba di rumah pada jalan yang dipenuhi jejak hewan.

Seorang pria dua kali tinggiku memotong gelondongan pohon di sana. Asal-usul bunyi itu
tampaknya dari suara kayu yang terbelah.

Mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana panjang, dia memiliki rambut pendek
berwarna abu-abu ditambah bekas luka melintang pada mata kirinya. Dia mungkin cukup tua,
tapi otot-otot terlatih sekaligus mata tajam itu membuatnya tampak bagaikan seorang prajurit
veteran.

Dia mengayunkan kapaknya ke bawah dengan cara yang stabil. Meskipun hanya sekedar
membelah kayu, aku berpikir bahwa gerakan halusnya itu indah. Akan terlihat lebih baik kalau
dia mengayunkan pedang di medan perang bukan malah memotong gelondongan pohon.

"....Siapa disana? Berhenti bersembunyi dan keluarlah"

Dia sadar meskipun kehadiranku sudah tersembunyi? Otot-otot itu bukan hanya untuk
dipamerkan.

Saat aku keluar dengan patuh karena tidak benar-benar mempunyai alasan untuk tetap
memata-matai, tampilan mengancamnya sedikit berkurang.

"Hmm? Kau tersesat?"

"Senang bertemu dengan Anda, aku Sirius. Maaf mengganggu, aku hanya tidak sengaja
menemukan tempat ini saat berjalan-jalan*"
[Sirius memang sedang berbicara formal]

"....Apa yang kau katakan? Apa kau dari ras monster? Aku tidak akan menahan jika kau
mencari masalah"

Dia mengangkat kapaknya ke arahku seakan siap untuk menyerang kapan saja, keganasan
darinya bisa terasa. Tunggu sebentar, tidak peduli seberapa mencurigakannya diriku, dia
kehilangan kesabaran agak terlalu cepat, kan? Aku hanya bicara.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

"Tidak tidak tidak, aku orang biasa....baiklah, tidak juga, tapi aku seorang anak dari ras
manusia. Aku bukan musuh sama sekali"

Sambil mengangkat kedua tangan sebagai bukti yang menunjukkan bahwa aku tidak
bermusuhan, dia dengan perlahan menurunkan kapaknya. Lalu, tanpa mengatakan apapun dia
melanjutkan memotong kayu, mengabaikan diriku. Agak menyegarkan untuk bertemu
seseorang sekasar ini.

Namun, datang kemari akan menjadi tak berguna kalau aku diabaikan.

Haruskah aku yang memulai percakapan?

"Maaf, tapi kenapa Anda tinggal di tempat seperti ini?"

"Aku tidak tahu bagaimana kau menemukanku, tapi aku tidak punya apapun untuk dibicarakan
dengan seorang bangsawan. Cepatlah pergi dan bawa pengawalmu"

Dia meludah. Aku sangat ditolak, kan? Bukankah pria tua ini salah paham tentang sesuatu?
Aku mengerti bahwa ia membenci bangsawan, tapi aku bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Pertama-tama, sesuatu harus diperjelas.

"Sepertinya Anda salah paham, aku hanya datang ke sini secara kebetulan, bukan untuk
mencari Anda. Dan aku bukan bangsawan, tanpa satupun pengawal. Indra tajam Anda
mungkin telah memperhatikan bahwa tidak ada orang lain selain diriku"

"....Tidak ada orang lain, memang. Bocah, bagaimana kau bisa sampai ke sini? Ini bukan
tempat dimana seorang anak mampu datangi sendirian"

"Karena aku memiliki beberapa sihir khusus. Akan kukatakan lagi, aku menemukan Anda
secara tidak sengaja"

"Bocah, kau mengetahui diriku?"

"Tidak, tapi aku berpikir bahwa Anda memiliki banyak keterampilan"

Suasana pria tua ini berbeda dari Dee. Para bandit kemarin bahkan seperti sampah jika
dibandingkan. Apa jawabanku tepat? Dia akhirnya berhenti mewaspadai diriku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

"Hmm, kau tampaknya berbeda dari para bangsawan bodoh itu, bocah"

"Tolong jangan bandingkan aku dengan mereka. Itu tidak menyenangkan"

"Hoho, begitu ya. Nah, karena ada seorang tamu, aku akan melayani teh. Masuklah"

Berbicara tentang bangsawan, satu-satunya yang aku tahu adalah ayah. Itulah kenapa aku
tidak ingin dianggap sebagai salah satu dari mereka. Apakah dia puas dengan ini? Pria tua itu
meletakkan kapak dan mengajakku ke rumahnya.

☆☆☆☆

Bagian 2

Ini adalah rumah log* buatan sendiri.


[Rumah dari gelondongan kayu]

Terbuat dari kayu olahan rapi, sesuatu yang mirip dengan hal-hal di duniaku sebelumnya. Ada
meja dan kursi di tengah ruangan, karpet termasuk kasurnya terbuat dari bulu monster, juga
terdapat oven batu. Cukup mengejutkan karena si pria tua yang membuat semua ini sendirian.

"Meskipun amatir, aku mencoba menggunakan kekuatan dan waktu ekstra dalam berbagai
cara"

"Tidak, tidak, apa yang Anda lakukan di sini bukanlah sesuatu yang seorang amatir dapat
lakukan. Sebenarnya, Anda memiliki bakat, kan?"

"Aku tidak suka menyebutnya sebagai bakat. Oh yah, lagipula aku senang dipuji"

Aku tidak sedang menyanjung dirinya. Untuk berpikir bahwa dia memang membuat segala hal
disini meskipun mengasingkan diri....Tempat ini berjarak sangat jauh dari pemukiman atau
kota. Apa alasannya memilih tinggal di sini?

Saat duduk di kursi sambil merenungkan pertanyaanku, si pria tua mempersiapkan teh dan
duduk di kursi yang menghadapku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

"Sayangnya, tak ada minuman untuk anak-anak. Berhentilah minum jika ini tidak sesuai
dengan seleramu"

"Aku tidak keberatan"

Dia menuangkan cairan hijau ke dalam cangkir kayu. Aku tidak merasakan sesuatu yang
mencurigakan bahkan setelah mencium aromanya tapi....bau ini tampak akrab. Pria tua itu
minum sambil berdeguk, akupun mengambil napas dan bertindak sama walaupun minuman
masih beruap.

"Mmm....nikmat"

"Hah? Kau memahami rasanya?"

"Tentu. Kepahitan yang tetap di tenggorokan dan panasnya membuat lidah kaku. Bukankah ini
paling cocok setelah makan?"

Rasanya agak berat, tapi tanpa diragukan lagi. Ini adalah teh Jepang. Karena meminumnya
dengan cepat, aku hampir membakar diri dari perasaan nostalgia. Pria tua itu menjadi semakin
ceria melihat reaksiku.

"Umu, kau mengerti, bocah? Bagi seorang anak untuk memahami kelezatannya, kau orang
yang cukup cerdas"

"Bisakah Anda mengizinkanku untuk membawa beberapa? Kalau tidak keberatan, aku juga
ingin tahu bahan-bahan mentahnya"

"Baiklah, aku akan memberikan sebagian"

Dia murah hati. Datang kesini ternyata cukup bermanfaat.

"Tidak ada orang lain di negeri ini yang mengerti. Tak memahami sesuatu seperti ini....mereka
hanya orang-orang memalukan"

"Tepat....Ngomong-ngomong, bolehkah aku meminta nama Anda?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Dia tinggal sendirian di tempat semacam ini. Bisa saja merupakan penjahat, namun setidaknya
aku tahu bahwa pria tua ini bukanlah orang yang akan mencoba untuk meracuniku. Aku hanya
seseorang yang ingin belajar berbagai hal, tak pernah mengubah sikap entah siapapun yang
bicara denganku.

"Lior. Apa kau akrab dengan nama ini?"

"Lior? Aku memang pernah mendengarnya....hmm?"

Diingat-ingat dengan benar, nama itu muncul dalam sebuah buku. Sumber : {Catatan
Perjalanan Albert}.

Pendekar pedang hebat yang mampu memotong segala hal dan mengubahnya menjadi abu
menggunakan pedang besar api miliknya, dikatakan berasal dari keluarga terkuat.

Menurut rumor, dia menghancurkan batu hanya dengan satu pukulan, bahkan memakai
pedang besarnya untuk menghabisi naga.

Semua orang memanggilnya dengan nama yang sama....

"Mungkinkah, Anda Goutsurugi Lior*?"


[Kalo disebut dalam bahasa Inggris : Lior, The Strong Sword]

"Itu kisah lama. Aku hanya seorang pria tua pensiunan sekarang"

Aku pikir dia tampak kuat, tapi tak pernah berpikir ia berada di tingkat sangat tinggi. Entah
bagaimana, aku ingin melawannya.

Namun, sekuat apapun dia, keinginan untuk bertarungnya tak terasa. Pria tua ini melepas niat
membunuh ketika berpikir aku adalah orang yang mencurigakan, namun kembali menjadi
seorang pensiunan sederhana begitu tahu bahwa aku tidak berbahaya. Mungkin ada alasan
untuk itu yang melibatkan kebenciannya kepada para bangsawan.

"Anda tidak terlihat seperti seseorang di hari pensiun bagiku. Kalau itu baik-baik saja, bisakah
aku mendengar alasan di balik situasi Anda?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

"Hmph, kau bocah kurang sopan. Yah, tak ada apapun lagi yang bisa dilakukan jadi akan
kuberitahu. Namun, ini cerita lama"

Dia menuangkan teh kedua ke dalam cangkir kami masing-masing dan secara bertahap mulai
berbicara.

"Aku selalu menyukai pelatihan. Berlatih dan terus berlatih, lalu mengalahkan berbagai lawan.
Sebelum menyadarinya, label 'Yang Terkuat' mengikutiku. Ada juga 'Master Pedang' dan 'Api
yang Kuat' tapi aku sungguh tidak peduli pada gelar-gelar murahan itu. Sayangnya, lawanpun
berkurang hingga aku tidak bisa menemukan yang seimbang....Kemudian sebuah ide datang
seperti kilat, memahami bagaimana hal ini terjadi, aku hanya harus melatih seseorang dan
mengubahnya agar mampu menghadapiku, karena itulah aku mengangkat siswa dan berhasil
mengumpulkan banyak di tengah negeri setelah menyatakannya secara terbuka 'Lior sedang
mencari seorang siswa'"

Dia yang terkuat. Kemungkinan akan dapat mengumpulkan murid sebanyak yang ia inginkan
bahkan setelah mengumumkannya untuk sesaat.

"Namun, aku akan mengatakan ini pada sebagian besar proposal, berasal dari para bangsawan
yang hanya ingin pamer sebagai siswaku"

('Meskipun para bangsawan itu lapar akan kekuatan, mereka hanya penakut sekaligus idiot.
Setiap kali situasi berubah semakin sulit, orang-orang ini malah melarikan diri. Dalam
pengajaran biasa saja, mereka merasa tidak diterima dan mulai merengek meminta untuk di
gampangkan'.)

"Hal ini bahkan telah kulaporkan beberapa kali kepada raja, tak ada ujung untuk proposal para
idiot itu....Akupun memutuskan untuk mencari sendiri siswa yang cocok"

Dia lalu Menemukan beberapa yang pas, walaupun seluruhnya merupakan penduduk asli
daerah kumuh dan jelata hingga membuat para bangsawan ribut.

Dari sudut pandang para bangsawan, pria tua ini mengabaikan bangsawan meskipun posisi
mereka lebih baik, sehingga orang-orang itu mulai merengek lagi.

"Buruknya, beberapa dari para bangsawan merasa cemburu dan iri....Menanti waktu yang
tepat ketika diriku tidak hadir untuk mengelilingi dan menyerang siswa-siswaku, mencegah
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

mereka untuk mengayunkan pedang. Meskipun para siswa memiliki keterampilan yang bagus,
salah satu dari mereka akhirnya mati. Dalam kemarahan, aku mencari para bangsawan,
memotong lengan orang-orang bodoh itu dan mempermalukan mereka di depan raja.
Selanjutnya, hal-hal konyol terjadi begitu saja. Aku pensiun di sini, tanpa ingin terlibat dengan
mereka lagi"

Setelah menyelesaikan penjelasan panjangnya, orang tua ini memuaskan rasa haus dengan
teh.

Sekarang aku mengerti dengan baik alasan di balik kebenciannya dan kurangnya semangat.

Namun. Untuk saat ini, aku hanya akan memberinya sebuah gagasan.

"Setengah hati!"

"....Katakan lagi?"

"Balas dendam terhadap para bangsawan terlalu setengah hati! Apa yang Anda lakukan hanya
terhalang oleh negeri, Anda harusnya menghancurkan nama keluarga mereka!"

"....Hmm"

"Anda melaporkan kepada raja berkali-kali sebelumnya, kan? Semua itu hanyalah sebuah
konsekuensi dari ini. Anda tidak mencoba untuk membenarkan diri sendiri dan malah
sembarangan mengambil risiko. Bukankah Anda terlalu mudah naik darah?"

"Tentu saja begitu. Namun, akan sia-sia untuk membenarkan diri sendiri karena ada terlalu
banyak bangsawan yang menyalahkanku. Ini pertama kali aku diberitahu telah bertindak
setengah hati"

"Seorang siswa seharusnya tidak mati sebelum gurunya. Itu sebabnya Ini sangat penting untuk
memperbaiki lingkungan para siswa dan membuatnya cocok"

Aku berpikir bahwa menciptakan lingkungan belajar yang sesuai juga tugas guru. Bangsawan
tentunya buruk, tapi pria tua ini yang mengabaikan dan meremehkan mereka tidaklah
berbeda. Seorang pendidik bukan hanya harus membimbing para siswanya, dia juga harus
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

mengawasi punggung mereka saat mereka masih belum berpengalaman. Itu bahkan lebih
berlaku ketika siswanya hanya berjumlah beberapa.

Sebagai seorang mantan guru, boleh-boleh saja bagiku untuk membuat satu atau dua
ceramah, kan?

"Hmph, itu sulit diterima. Kau hanya bocah laki-laki, bagaimana kau dapat mengerti?"

"Tentu saja aku seorang bocah. Namun, aku bertujuan untuk menjadi guru. Anda harus
mengakui kesalahan sebagai seseorang yang berdiri di atas"

"Ingin menjadi guru di usiamu? Meskipun kau memiliki ambisi yang bagus, kau tidak mungkin
bisa dengan pemikiran setengah matang itu"

"Lalu, kenapa Anda tidak mencobanya sendiri?"

Aku memprovokasinya sementara membiarkan keluar sedikit perasaan kuat. Bahkan aku
berpikir bahwa diriku terlalu berterus-terang. Tapi, pria tua ini hanya mengerdipkan mata dan
mulut seolah agak terganggu.

"Baiklah, aku tahu bahwa dirimu bukanlah manusia biasa. Kau akhirnya menunjukkan warna
sejatimu"

Entah bagaimana, ada suasana bagai pertempuran. Si pria tua bersemangat sekarang, sangat
bagus.

Akan kubuat dia menunjukkan kemampuannya yang pernah disebut 'Yang Terkuat'.

Setelah meninggalkan rumah, kami sekarang saling berhadapan dengan senjata berupa
pedang kayu digenggaman.

Mengesampingkan senjata si pria tua, yang lain cocok untuk anak-anak dan mungkin milik
muridnya yang meninggal.

Meskipun pedang kayu ini terlihat seperti tidak digunakan dalam waktu lama, dia mungkin
merawatnya dengan rasa kepedulian yang besar. Aku kira ini takkan patah jika digunakan
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

ketika pertarungan serius, itu karena bahannya sangat kuat dan cocok untuk pelatihan. Si pria
tua berseri-seri dengan keyakinan tanpa kekhawatiran sama sekali.

Walaupun seorang manula, Dia dengan senang hati melakukan ayunan untuk pemanasan.
Lawan yang kuhadapi bagai monster ganas dan kuat, membuatku senang bisa bertarung
dengan orang semacam itu. Takkan kubiarkan pria tua ini pensiun.

"Jika kau memukulku bahkan sekali, itu kemenanganmu, bocah. Tapi jangan khawatir, aku
akan menahan diri"

"Wah, Terima kasih. Aku baru saja memperoleh kesempatan untuk menjatuhkan Anda"

"Hentikan omong kosongmu, bocah. Tunjukkan dengan tindakan, bukan kata-kata"

Nah, rencanaku sukses. Aku tidak perlu mengejek untuk memprovokasi lagi. Namun, aku tidak
ingin melewatkan ini.

Seusai berpikir apa yang harus dilakukan, aku akan mencoba melangkah pertama.

Aku perlahan-lahan berjalan ke arahnya. Ketika memperoleh dua langkah dari si pria tua,
semua kekuatanku terfokus pada tubuh bagian atas sampai kaki dan mulai berlari.

Dari gerakan lambat sampai menjadi cepat, meskipun dia terkejut, pria tua ini merespon
serangan tak terduga. Seperti yang diharapkan dari seseorang bergelar terkuat, ia dengan
mudah membaca dan menghindari lintasan seranganku.

Sementara ia berkelit, aku menebaskan pedang kayu turun menuju bahunya di genggaman
tangan kanan, kemudian pergi kesamping. Aku berniat mengambil jarak dan saat kami
berpapasan satu sama lain disisi, tangan kiriku memukulnya.

"....Katakanlah, bagaimana kalau aku benar-benar menggenggam sebuah pisau?"

"Akan menimbulkan luka fatal di medan perang. Lamanya waktu pensiun membuat diriku
tumpul, sungguh memalukan"
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Dia akhirnya menyadari kecerobohannya dan tersenyum masam sambil menggelengkan


kepala. Pasti ini dapat mengubah keadaan menjadi serius. Melihat si pria tua, senyuman ganas
muncul di wajahnya, otot-otot itu juga mulai menggembung.

"Aku minta maaf sekaligus berterima kasih juga, bocah! Hatiku hampir saja membusuk!!
WUUOOOAAAHHHH!!!!"

Gelombang kejut yang dibuat oleh aumannya menggetarkan pepohonan di sekitar.

Hei, tunggu dulu. Bukankah perubahannya terlalu drastis? Dia hanya seorang manula malas
beberapa menit yang lalu. Namun sekarang, tekanan yang kuat terpancarkan. Hanya dengan
berdiri di sana, semua monster dan hewan lari tunggang langgang ke segala arah.

Ketegangan ini mengingatkanku pada pelatihan dengan guruku. Aku ingin menangis setiap kali
mengingat kumite* neraka itu.
[Salah satu dari tiga bagian latihan dasar dari Karate, latihan tanding melawan musuh]

Namun, aku akan menyampingkannya untuk saat ini. Persiapan telah selesai. Pria tua itu
akhirnya serius, dari sini pertarungan nyata kami dimulai.

"Aku belum pernah melihat sikap itu. Dari sekolah mana kau mempelajarinya?"

Si pria tua memegang pedang secara vertikal menunjuk tegak, itu cukup mirip dengan gaya
yang disebut Jigen-ryu dari kehidupanku sebelumnya.

Gaya Jigen-ryu dikatakan memungkinkan seseorang untuk memotong apapun hanya dengan
satu tebasan. Aku berpikir bahwa itu benar-benar cocok untuk pria tua ini.

"Ini bukan dari sekolah manapun, melainkan otodidak"

Sedangakan diriku menyembunyikan satu tangan di belakang punggung dan memegang


pedang dengan tangan yang lain, sikap khusus melindungi tubuh.

Aku dilatih oleh guruku, dia adalah orang yang tidak mengikuti sekolah manapun. Tapi masih
bersinar dengan pengalaman dan mengubah dirinya bergerak sesuai arah peristiwa. Sebuah
gaya yang berubah-ubah tergantung pada situasi. Ini adalah gaya yang cukup nyaman bagiku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

"Begitukah? Dari sini, ayo kita mulai, bocah!!"

Pria tua melesat ke arahku hanya dengan melangkah menggunakan urat tumitnya di tanah.
Aku mengaktifkan {Boost} untuk menyeimbangkan kecepatan si Guotsurugi.

Jadi....saklar sudah tekan.

☆☆☆☆

Bagian 3

---Sudut Pandang Lior---

Membosankan.

Aku selalu menyukai pelatihan dan bertarung, terus semakin kuat hanya karena suka, dan
akhirnya menjadi yang terkuat.

Namun, aku juga mengalami kekosongan.

Meskipun tak ada akhir untuk orang-orang yang menantang demi mendapatkan gelarku,
mereka semua tenggelam hanya dengan satu atau dua pukulan.

Terlalu lemah.

Berapa lama sejak rasa haus akan pertempuranku memudar?

Sangat membosankan.

Api tidak akan menyala tanpa kayu bakar.

Dan seperti kayu bakar, aku terus menunggu pertemuan dengan lawan yang layak.

Kemudian disuatu hari, aku menyadari bahwa daripada menunggu, lebih baik memilih untuk
mewujudkannya sendiri.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Melatih siswa dan membesarkan mereka untuk melawanku. Walaupun beberapa calon segera
ditemukan, aku hanya mengumpulkan anak nakal bangsawan pecundang yang bahkan tidak
tahu bagaimana cara mengayunkan pedang. Ketika ada siswa yang berkembang sedikit lebih
baik, dia akan terhapus oleh pengaruh bangsawan lain. Beberapa orang bahkan mencoba
menyuapku untuk memberi mereka gelar 'Siswa Lior' tapi aku menutup omong kosong itu
dengan satu jotosan.

Aku memutuskan untuk tidak menunggu siswa bagus dan mencari sendiri. Diriku melalui
perjalanan ke seluruh dunia dan terus menyeleksi individu yang haus akan kekuatan. Sangat
menggembirakan saat akhirnya terkumpul cukup siswa. Mereka semakin kuat setiap harinya.
Itulah pertama kali diriku merasa bahagia selain ketika bertarung.

Namun....para bangsawan menghancurkan semua itu.

Aku memotong lengan kanan dari penyebab utamanya untuk membalas dendam, tapi
pikiranku tidak terjernihkan sama sekali. Bahkan hanya melihat bangsawan terasa buruk.

Aku lalu meninggalkan negeri dalam perasaan kehilangan harapan dan pensiun di lautan
pohon terpencil. Membangun rumah, bertarung melawan monster, dan menghabiskan
kehidupan sehari-hari dengan cara yang tenang dan damai. Tapi tetap saja, lubang kosong di
hatiku tidak bisa terisi.

Ketika pikiran melemah, tubuhpun melemah juga. Bahkan pedang favoritku secara bertahap
mulai terasa berat, diriku semakin melembek tanpa adanya kekhawatiran.

Dan, hari-hari kekosongan berlanjut.

....Kemudian, aku bertemu bocah ini.

Bocah membingungkan dan tidak masuk akal.

Bahkan petualang berpengalaman jarang menginjakkan kaki di hutan ini, namun ia dengan
santai lewat menggunakan pakaian ringan seakan bepergian ke kota tetangga. Pada awalnya
aku mengira dia varietas baru monster. Begitu diriku melepaskan niat membunuh, kepalaku
berpikir dia bagian dari bangsawan idiot yang datang untuk mengunjungiku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Sangat jarang untuk bertemu seseorang yang tidak tahu diriku di benua ini. Aku cukup tertarik
karena anak itu tidak mengenaliku bahkan setelah melihat, meskipun dia mengerti setelah aku
mengungkapkan nama kepadanya.

Bocah laki-laki ini cukup berpikiran dewasa untuk usianya dan memiliki selera yang baik dalam
teh juga. Itu pertemuan pertama kali diriku dengan seseorang setelah begitu lama, jadi aku
menjadi cukup banyak bicara.

Namun, aku benar-benar berakhir di ajari. Melihat bahwa ia memprovokasiku, aku akan
menjawabnya dalam rangka untuk mendidik bocah kurang ajar ini.

Awalnya, taktikku adalah menunggu serangan, mengelak dan menjitak ringan kepalanya.
Namun, ia hanya berjalan tanpa tergesa-gesa untuk beberapa alasan. Aku belum pernah
melihat tindakan seperti itu.

Sementara melamun melihat bocah itu dengan santainya mendekat, dia kemudian mendadak
muncul di hadapanku dan masuk ke jangkauan serangan. Aku hampir jatuh tersungkur akibat
kejutan dengan jantung berdebar kencang. Kalau ini diriku yang dulu, aku tidak akan pernah
seceroboh ini. Terkejut oleh kelemahan sendiri, aku hanya nyaris berhasil menjauh sambil
menghindari serangannya. Tapi anak itu memukulku tepat di samping dan kemudian
mengambil jarak.

"....Katakanlah, bagaimana jika ini pisau sungguhan?"

Kata-katanya membuatku marah. Bukan kepada anak itu, tetapi terhadap diriku sendiri.

Apa yang aku lakukan? Arogansi ini, sama dengan orang-orang bodoh dari masa lalu. Meskipun
ia tidak benar-benar menusuk, pukulan itu membangunkanku. Dia bukan anak biasa, dia orang
yang kuat dan layak menjadi lawanku, sekarang aku mengerti. Api mulai menyala menguasai
diriku. Tubuhku mulai memanas diiringi detakan hebat.

Sensasi ini....yang aku rindukan.

Aku minta maaf kepadanya, mengucapkan terima kasih dan kami kemudian mengambil
sebuah permulaan baru. Anak ini....bukan, pria ini, seseorang yang bisa membuatku serius. Dia
tidak belajar dari sekolah manapun dan memegang sikap yang aku belum pernah saksikan
sebelumnya.
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Dia harus bergabung dengan sekolahku {Tsuyoshi Yabu Itto-Ryu}.

"'Gaya Tsuyoshi Yabu Itto' Teknik Pertama: Kekuatan Surga!!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Ini adalah teknik dasar yang terdiri dari mengangkat pedang dan kemudian mengayunkannya
turun dengan segenap kekuatan.

Bukan apa-apa kecuali untaian tebasan sederhana, namun dapat dengan mudah mengiris dan
memotong baja sekali dipelajari secara menyeluruh. Meskipun lintasannya mudah dibaca, sulit
untuk dihindari karena kecepatan dan hempasan kuat yang dilepaskan oleh pukulan penuh
tenaga.

Dengan kata lain, hal ini tak dapat dihindari karena kesederhanaannya.

Bahkan, sebagian besar lawanku tersingkir oleh teknik ini. Hanya saja, bagaimana dengannya?
Aku melangkah hati-hati karena ada retakan di tanah dan menggunakan Kekuatan Surga....dia
mengelak.

Selain itu, dia mengelaknya pada saat-saat terakhir hanya dengan menggeser setengah bagian
tubuh ke samping. Aku membocorkan senyum atas kemampuan pria ini karena mampu secara
pasti menghindari serangan sejenis itu menggunakan refleks.

Segera setelah itu, aku bertujuan pada lawan dan mengiris padanya dengan ayunan ke bawah,
menggunakan 'Ninoken Tsuyoshi-Sho'.

Dia meliukkan tubuhnya dan menghindari ini juga. Meskipun dia mencoba untuk
menggunakan momentum menghindar sebagai sarana menyerang, aku mengangkat lagi
pedang dan menggunakannya untuk membela diri.

Bukan hanya ia menghindari kedua seranganku, sekarang kemungkinan diriku kalah lebih
besar karena harus berhati-hati untuk serangan balik.

Darahku semakin mendidih. Lawan pastinya membuatku serius. Orang yang menggunakan
sihir {Boost} untuk mengkompensasi perbedaan dalam kekuatan fisik. Meskipun aku berjumpa
dengan banyak lawan di masa lalu, inilah penggunaan sesungguhnya dari {Boost}. Tidak, itu
bukan masalahnya sekarang.

Aku harus mengerahkan semuanya dan memberikan yang terbaik semampuku.

"'Delapan Tebasan Nafas' Rannoken-Chiyabu!!!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Dia menepis seranganku dengan senjatanya dan berkelit, menghindari semua tebasan.

Aku mencelupkan Mana pada pedang milikku dan menciptakan gelombang kejut luas,
'Yabuno-kenshoha'.

Menggunakan kesempatan ini untuk melewatinya di samping, aku mencoba untuk menyerang
tapi dia bergerak menjauh ke luar jangkauan dampak. Aku menebas ke bawah dengan
dorongan dan ia masih berkelit, melompat mundur.

Oh....tidak mencapainya, tidak ada teknikku yang mencapainya.

Haha, bagus sekali!! Aku tidak bisa menghentikan hatiku dari menari!! INI SANGAT
MENYENANGKAN!!!!

Sebuah kompetisi menggunakan kekuatan dan keterampilan, pertarungan ekstrim dimana


kedua belah pihak bentrok dengan kemampuan penuh!!

Kekuatan kembali ke tubuh lemahku, mampu mempertajam indra sekaligus menggunakan


teknik, begitu menggembirakan. Orang kuat yang sejak lama aku ingin temui, telah muncul
pada akhirnya.

Apanya yang Goutsurugi?

Apanya yang terkuat?

Apakah tidak ada seseorang yang jelas lebih unggul dengan diriku di sini?!

Aku ingin bertarung dengan pedang tercintaku, bukan menggunakan kayu!!

Aku tidak ingin kami mundur setelah satu pukulan! Aku ingin kami bertarung sampai mencapai
kemenangan atau kekalahan yang jelas!!

Aku ingin memakai armor! Aku ingin bertarung sungguh-sungguh dengan hidup dan mati yang
dipertaruhkan!!

Aku ingin terus bertarung selamanya!!!


Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Hatiku hidup kembali, memuntahkan keinginan satu demi satu. Namun tubuh tua ini sudah
sampai di batasnya.

Nafasku kasar, diriku jelas berada di sisi bertahan. Badan ini jauh melewati masa primanya,
tapi karena aku tidak mengabaikan latihan harian, aku harusnya bisa melawan sedikit lebih
lama. Ini tampaknya menjadi harga yang harus dibayar untuk waktu yang aku habiskan dengan
membusuk.

Andai saja aku bertemu pria ini lebih awal....Tidak, itu terlalu terlambat untuk mengatakannya.

Dia mencoba serangan kuat yang menargetkan leherku namun berhenti, melompat ke
belakang dan menempatkan banyak jarak diantara kami. Aneh, dia bisa saja memukulku
dengan pedangnya menggunakan momentum itu, lalu kenapa?

Saat aku memperbaiki aliran pernapasan sementara mempertanyakan tindakannya, dia juga
hanya berdiri di sana, menghela dalam-dalam dan mengangkat satu jari.

"Kita berdua sudah sampai dibatas. Ayo berhenti dengan serangan terakhir ini"

"....Apa....?"

....Begitu, ya. Pria ini juga mencapai batas-nya?

Meskipun penampilannya tidak berubah, aku dapat melihat bahwa napasnya semakin tak
beraturan dengan lengan yang gemetar ringan, menunjukkan bahwa dia memang sangat
kewalahan. Dan aku baru menyadari itu sekarang, keterampilan untuk menyembunyikan
kelelahannya juga cukup hebat.

Masalahnya adalah, jika pertarungan terus dilanjutkan, aku akan kelelahan dan dia akan
menang hanya dari kegigihan. Walaupun demikian, dia mengambil jarak dan menyatakan
bahwa kami harus mengakhiri ini. Aku benar-benar bersyukur. Kemudian, akan kuhormati
gerakan anggunnya itu.

Menghirup udara, aku mengambil sikap Kekuatan Surga lagi dan memeras pegangan
pedangku. Baiklah, ini dia! Aku akan menunjukkan pukulan terkuat yang mampu kukeluarkan
sekarang!!
Arc 2 – Encounters
Chapter 10 – The Retired Old Man’s Rhapsody

Pria itu berakselerasi dengan terjangan dalam cara frontal tanpa berusaha untuk menciptakan
trik kecil. Meskipun kekuatanku melampauinya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap
lawan yang gerakannya tidak gampang terbaca. Dia menggunakan sentakan dari berlari dan
mengayunkan pedangnya seakan menciduk sesuatu. Di lain sisi, aku hanya secara naif
mengayunkan pedangku dari atas ke bawah.

Bunyi sesuatu yang hancur bergema melingkupi daerah luas. Masing-masing pedang kayu
hancur berkeping-keping.

Mungkin tidak bisa menahan dampak serangan lagi? Entah benar atau tidak, aku hanya
membocorkan desahan dan menikmati waktu kebahagiaan tertinggi ini.

....Sayangnya, diriku terlalu bodoh. Pertarungan ini....belum berakhir.

Saat mataku menyaksikan potongan-potongan kayu terbang melambai, kaki pria itu menerjang
rahangku.

....Ha ha.

Rusaknya senjata bukanlah alasan untuk mengakhiri pertarungan.

Aku melirik kakiku yang bergerak sedikit dan pada saat itu, kesadaranku memudar.

☆☆☆Chapter 10 berakhir disini☆☆☆


Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Chapter 11 – The Discontent Teacher


Bagian 1

"Hahh.....pria tua yang nekat"

Dia dua kali lebih kuat daripada yang aku bayangkan. Dan apa-apaan dengan serangan delapan
tebasan berturut-turut itu? Aku sungguh keheranan seolah-olah berada disemacam situasi
manga. Diriku berhasil menghindari serangannya, tapi terus terang, kalau bukan karena sihir
{Boost}, aku sudah akan tamat.

Selain itu, kemampuannya berkurang karena usia tua dan kecerobohan. Aku tidak tahu apa
yang akan terjadi jika dia masih di masa perdananya.

Yah, aku berhasil mengalahkannya dalam pertarungan senjata. Pedang kayu ini memang kuat
dan sulit untuk patah, tetapi kalau tempat yang sama terpukul berulang kali, secara alami
menjadi rapuh. Selanjutnya, akan hancur ketika terkena hantaman dengan kekuatan penuh.

Bisa sampai sejauh ini hanya karena {Boost} dan penglihatanku yang memungkinkan untuk
menghindari peluru dalam hidupku sebelumnya. Paling buruk, jika hanya senjata yang pecah,
aku akan menyatakan kekalahan dan menyerah. Pria tua ini jelas-jelas maniak pertempuran.
Dia terus tertawa keras saat bertarung, bersenang-senang sambil melambaikan pedangnya.
Dia cukup mudah dibaca karena emosi masa lalu yang dia tanggung, jadi aku berhasil
menangkap kelengahannya tepat ketika senjata kedua belah pihak rusak dan memukul rahang,
menyingkirkan kesadarannya pergi.

Karena aku menendang tanpa menahan, itu dengan hebat mengguncang otaknya. Dia
mungkin takkan bangun untuk sementara waktu. Serangan ini pada tingkat yang akan pasti
membunuh orang biasa.

Meski begitu, seperti yang di harapkan dari pria tua bergelar terkuat. Walaupun tidak seperti
orang yang sedang tidur dalam suasana hati kepuasan, aku juga cukup senang bisa serius
setelah sekian lama.

Aku ingin melawannya lagi, namun akan ada persoalan yang berkaitan dengan usia. Pokoknya,
prioritas sekarang adalah mengurus pria tua ini. Aku tidak tega meninggalkan dia bermandikan
keringat diluar.
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Ugh....He....hehe!....Hahahaha!!"

Tiba-tiba ia mulai tertawa terbahak-bahak. Apa aku menendangnya terlalu keras?

"Menyenangkan!! Sudah begitu lama sejak aku mempunyai pertarungan semacam ini!! Aku
merasa dilahirkan kembali!!!"

Saat berteriak, ia melontarkan kakinya ke atas dan berdiri seakan-akan tak ada yang terjadi.
Tidak, tunggu, apa ini lelucon? Dia segera pulih setelah otaknya terguncang sekeras itu?

"Maaf, tapi aku ingin kau menyebut namamu lagi"

"Berpikir dipanggil bocah akan membuat Anda tidak dapat mengingatnya. Aku Sirius"

"Tak perlu untuk sebutan kehormatan dan hal-hal semacamnya. Kau boleh memanggilku
semaumu juga, Sirius. Lagipula, Kau mampu memukulku"

Wajah lansia-nya berkerut dalam tawa. Dia sudah menerima situasi ini, ya?

"....Karena seranganku mengejutkanmu, kan? Aku pasti akan kalah jika terkena serangan
frontal"

"Itu bukan apa-apa kecuali kecerobohanku sendiri. Aku akan selamanya malu jika kita
mengatakan bahwa Lior tidak kalah"

"Aku mengerti. Kalau begitu, ini kemenanganku"

"Memang. Juga, ini sungguh menyenangkan. Teknikku tidak mencapaimu sama sekali!"

"Sekarang bukan waktunya untuk bersemangat. Pertama, kita harus memulihkan tubuh. Kita
berdua cukup kewalahan, kan?"

Jangankan si pria tua, bahkan aku berkeringat dengan apa yang dikenakan sobek di sana-sini
meskipun tidak terkena pukulan langsung. Kami hanya menyerempet pakaian dengan tebasan
pedang kayu dan berujung memotong kain lawan saat pertarungan.

Kekuatan fisik dan mental kami terkuras.


Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Benar. Untuk saat ini, ayo kita kembali untuk beristirahat di dalam---Waaaah?!"

Ketika ia menuju rumah, ia dengan tololnya roboh, jatuh dan menabrak pintu masuk.

Itu hanya menunjukkan bahwa kakinya kelelahan secara keseluruhan. Aku merasa lega melihat
dia bertindak seperti manusia yang tepat.

Kembali bersama ke rumahnya dan, setelah merawat tubuh, kami mulai minum teh sambil
berhadapan satu sama lain di kedua sisi meja.

""Hmmm....nikmat~*""[Ini diucapkan bersamaan]

Pria tua dan aku---di kehidupan sebelumnya---hampir di usia yang setara, sehingga wajar-
wajar saja kalau kami menggumamkan hal yang sama setelah menyelesaikan secangkir teh.

"Fuuuu, lelah tapi juga menyenangkan. Nah Sirius, terlebih dahulu, aku ingin mengucapkan
terima kasih"

Si pria tua membungkuk sangat rendah seakan bersujud. Meskipun aku entah bagaimana
memahami motifnya, aku masih berpikir dia bertindak terlalu jauh.

"Angkat wajahmu. Semua ini memungkinkanku untuk mendapatkan pengalaman berharga,


aku juga ingin mengucapkan terima kasih"

"Namun, aku terus menginginkan orang kuat seperti dirimu. Jika kau tidak datang, aku akan
memudar saat membusuk diam-diam. Oleh karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih"

Wajahnya yang radikal berubah dari tampilan bosan setelah kami bertemu sebelumnya dan
sekarang berseri-seri dengan senyuman cemerlang. Dia tampak sepuluh tahun lebih muda. Tak
buruk untuk menerima ucapan syukur. Meskipun aku hanya bertujuan untuk sekali melawan
pria tua ini, kami akhirnya memiliki percakapan yang menyenangkan.

"Tinggalkan rasa syukur ke samping, aku memiliki permintaan untukmu. Akankah kau
keberatan bertarung denganku lagi?"

"Maksudmu, sekarang?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Tepat....adalah apa yang aku ingin katakan namun, staminaku sudah terkuras. Lagipula, akan
menjadi tidak sopan dariku untuk menghadapimu dalam keadaan buruk"

"Kau menganggap baik-baik saja dalam hal perbedaan usia?"

"Tak ada masalah dengan itu! Tidak akan menyusahkan bagiku untuk kembali ke masa-masa
perdana karena hal ini memenuhi indraku. Selain itu, kau ingin melakukannya juga, kan?"

"....Kau mengerti ya?"

"Begitulah. Meskipun gaya bertarungmu cukup tidak biasa, kau memanfaatkan banyak
kelengahan, menyelinapkan serangan dan hal-hal seperti itu. Walaupun demikian, kau
bersilangan pedang denganku langsung dari depan, yang hanya menunjukkan bahwa dirimu
memang ingin berlatih"

Dia tampaknya memeriksaku secara menyeluruh saat bertarung, semata-mata dengan insting.

Sesuai dengan perkataan pria tua ini, gaya bertarungku berorientasi pada jarak dekat,
serangan mendadak dan sejenisnya.

Dalam hidupku sebelumnya, menyelinap ke wilayah musuh sendirian dan melakukan


pembunuhan merupakan hal yang wajar, tapi aku akan berakhir mengamuk dan
menghancurkan segala sesuatunya di dalam.

Terus terang, jika terjadi sesuatu, aku hanya bisa melepaskan {Magnum} dari jarak dekat.
Namun, mungkin akan muncul situasi di mana sihir maupun serangan kejutan tak dapat
digunakan. Faktanya adalah bahwa aku harus menempa keterampilan yang diperlukan untuk
melawan langsung dengan percaya diri.

Aku juga memahami kenikmatan dari berlatih, meskipun tidak sebanyak si pria tua. Semua itu
adalah alasan yang mendorongku bertarung berhadap-hadapan dengannya.

"Kau bisa berlatih dan aku dapat melawanmu. Lihat? Ini adalah win-win. Bagaimana?*"
[Kedua belah pihak bisa saling menguntungkan]

"Kau sudah tahu jawabannya, kan? Aku menantikan pertarungan kita yang selanjutnya"
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Hmm. Kalau begitu, sepakat"

Kami bertukar jabat tangan erat. Hal baik karena aku akan tumbuh dari kondisi anak-anak
sampai dewasa, dan disaat bersamaan, pria tua ini akan terus meningkat. Selain itu, karena
kekuatan tubuhnya yang sempat menurun akan kembali, aku pikir ini akan menjadi penebusan
dosa yang tak terbayangkan bagiku*.
[Jika kalian tidak mengerti, alasan Sirius memprovokasi Lior sampai membuatnya bertarung
adalah karena dia mengingat masa lalunya sendiri]

"Akan menyenangkan untuk dapat meraih kemampuanku yang dulu. Aku menunggu untuk itu,
meskipun tidak mungkin mengejar ketertinggalan secara penuh tak peduli berapa banyak aku
mencoba"

Jika itu si pria tua, ia mungkin benar-benar melakukannya, bahkan dengan cepat. Aku punya
firasat, paling buruk dia akan menjadi lebih kuat daripada ketika di masa lalu. Yah, maksudku,
maniak pertempuran semacam ini bertindak keterlaluan sekali memiliki tujuan, ya kan? Aku
juga tidak bisa sembarangan. Setelah memperoleh Fia sebagai kawan baru, aku bisa
mendapatkan saingan yang bisa dilawan dengan sejajar.

Setelah itu, sambil menunggu stamina pulih, aku berbicara dengan si pria---....tidak, Lior.

Aku menjelaskan situasi pribadiku dan mendengarkan kisah masa lalu Lior sebagai gantinya,
itu benar-benar berharga. Aku juga menunjukkan padanya beberapa sihir, tapi seperti yang
diduga, sihirku terlalu unik yang bahkan dia---walaupun sudah hidup lama---mengaku 'Tidak
pernah melihat sesuatu seperti ini'.

"Aku ingin berhadapan dengan dirimu yang memakai sihir, sungguh-sungguh suatu hari nanti.
Hanya berpikir tentang bagaimana harus bertarung membuatku mendidih!!"

"Kau sudah sakit, kan?"

"Hahaha!! Dan aku tidak akan pernah sembuh!!"

Ketika kami kembali, dia berbagi beberapa daun teh. Sejak ciptaan Lior ini tidak memiliki
sebutan, aku menamakannya Teh Jepang.
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Karena kunjungan sering kesini telah di putuskan, aku menandai tempat ini di peta. Harusnya
jarak yang di tempuh sekitar satu jam dari sini menuju rumahku.

"Lain kali kau datang, aku sudah akan mampu mengayunkan pedang asli tercintaku"

"Karena usiamu, jangan melakukan sesuatu secara berlebihan"

"Persetan dengan itu, aku tidak jadi pensiun!!"

Pedang tercinta Lior merupakan pedang yang mempunyai ukuran sebesar tubuhnya, mungkin
memiliki berat sekitar seratus kilogram.

Bersamaan dengan perasaan menggigil ketika membayangkan si pria tua mengayunkan hal itu,
aku meninggalkan Lior, dan pulang ke rumahku sendiri.

☆☆☆☆

Bagian 2

"Ah, selamat datang di rumah, Sirius-sama~!"

Begitu sampai di rumah, Noel, yang sedang menyeka jendela, menyapaku dengan lambaian
tangan. Ngomong-ngomong, meskipun terdapat kaca di dunia ini, itu tidak transparan karena
terbuat dari bahan sejenis monster yang dapat berkamuflase.

"Aku pulang, Noel. Apakah sesuatu yang tidak biasa terjadi?"

"Tak ada yang khusus. Oh, aku baru mengingatnya. Dee-san mengatakan kalau ia ingin
melaporkan sesuatu"

"Hmm. Aku kira dia memanggilku ke gudang seperti biasanya, kan?"

"Ya~"
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Gudang adalah bangunan di sudut halaman, tempat bagi kami mengulangi berbagai
percobaan. Dee harusnya disana juga. Aku berpisah dengan Noel saat pergi ke arah jalan
masuk, tapi pintunya terbuka sebelum aku bisa menjangkau tanganku lalu disambut oleh
Erina.

"Selamat datang di rumah, Sirius-sama"

"Aku pulang, Erina"

Membungkuk anggun, dia memeriksa ku untuk memastikan ada atau tidaknya cedera.

Ah, ini buruk. Aku lupa bahwa pakaianku robek selama bertarung dengan Lior. Namun Noel
tidak menunjukkannya, mungkin dia telah terbiasa untuk setiap perilaku anehku.

Mata Erina meruncing sambil mencengkeram erat bahuku, membuat butiran keringat dingin
keluar.

"Sobek dimana-mana! Apakah ada luka?!"

"Ti-Tidak. Hanya pakaianku saja yang compang-camping tapi aku tidak apa-apa"

"Benarkah? Aku akan memastikannya ketika kau berganti pakaian"

"Tidak, aku bilang tidak apa-apa, sungguh"

"Aku-akan-memastikannya-!!"

"....Iya"

Meskipun dia seperti seorang ibu untukku, diawasi saat mengganti pakaian masihlah
memalukan. Agak sulit untuk ditolak karena kekhawatirannya benar-benar tulus.

Pada akhirnya, hanya ada pilihan dengan patuh melepas apa yang dikenakan. Di tengah jalan,
aku bergumam saat melirik otot-ototku, 'Ini berubah jadi bagus'.
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Seusai berganti pakaian, Erina menegaskan tidak adanya cedera sekaligus menyampaikan
bahwa Dee sudah pergi dari gudang dan menunggu diruang tamu. Saat sampai disana, dia
tampak sedang memegang wadah kayu.

"Selamat datang di rumah, Sirius-sama"

"Aku pulang, Dee. Aku dengar kau memiliki sesuatu untuk di beritahukan padaku, tentang apa
itu?"

"Ah ya, silahkan lihat ini"

"....Oh, kau bisa membuatnya, ya?"

Apa yang Dee tunjukkan adalah sebuah wadah terisi air sampai penuh dengan benda putih
tenggelam di dalamnya.

Aku hanya mencicipi sedikit untuk menilainya, namun tidak salah lagi.

"....Bagaimana?"

"Bagus, Ini sempurna. Sesuai dugaan"

"Untunglah...."

Hal yang Dee siapkan adalah tofu*. Ada kacang yang mirip dengan kacang kedelai di dunia ini
dan saat di periksa, aku mengetahui bahwa itu hampir sama dengan yang ada di duniaku
sebelumnya.
['Tahu'. Kotak, putih, lembek dan setelah dimasak jadi makanan yang enak dengan sambal XD ]

Kacang ini sendiri mempunyai nama yang terlalu panjang. Tapi, karena aku hanya
menyingkatnya sebagai 'Kedelai', itu berubah seperti aturan resmi. Kini, para penghuni rumah
juga menyebutnya begitu.

Dee memprosesnya berulang-ulang di gudang, mencoba untuk membuat berbagai hal dari
bahan utama kacang ini.

Dengan menuruti saran-saranku, salah satu hasilnya adalah tofu.


Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Tofu dibuat dengan merendam biji kacang dalam air untuk waktu yang lama, merebus dengan
cara tertentu dan mencampurkannya. Dengan kata lain, ini pekerjaan sederhana namun
merepotkan. Meskipun aku seseorang yang memperoleh bahan-bahannya dan memberi
pengetahuan, aku masih merasa kasihan untuk mempercayakan sebagian besar
pembuatannya kepada Dee.

"Maaf Dee, aku selalu membuatmu melakukan hal-hal yang menyusahkan"

"Sama sekali tidak. Mempelajari ini sungguh menyenangkan. Aku menikmatinya"

"....Benarkah? Kalau begitu, aku takkan sungkan di waktu berikutnya"

"Serahkan padaku"

"Apa ini yang namanya tofu? Uuu~ sangat lembut~"

Noel, yang selesai menyeka jendela, datang dan memberikan kesannya sambil menyodok tofu.
Dia mungkin seseorang yang tidak akan berpikir bahwa kacang bertekstur keras bisa menjadi
selembek ini. Aku hanya tahu bagaimana membuat sesuatu seperti tofu karena memasak
adalah salah satu hobi dalam hidupku sebelumnya.

Sementara berkeliling dunia untuk berperang, aku terus dipaksa memakan rangsum* karena
kekurangan pangan. Terkadang, bahkan harus mencari sendiri sesuatu yang dapat dicerna
sampai akhirnya menjadi mampu menelan apapun tanpa peduli baik buruknya, selama tidak
beracun. Namun, semua keadaan itu hanya membuat keinginan untuk mengkonsumsi sesuatu
yang layak semakin meninggi.
[Jatah makanan. Biasanya yg berjenis instan/ada juga yg langsung bisa dimakan]

Akupun mulai memasak, mempelajari berbagai bahan masakan, bumbu hingga resep yang
sulit. Dan tanpa menyadarinya, sudah menjadi hobi.

"Aku ingin tahu bagaimana rasanya?"

"Yah....tidak begitu lezat"

"Hah? Sirius-sama, ini selesai, kan?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Memang. Hanya saja, tofu lebih sering dikombinasikan dengan berbagai hal lain daripada
disajikan sendirian. Tekstur makanan ini cukup unik tapi itu termasuk bagian penting suatu
hidangan"

"Heeeh, jadi memasak bukan hanya tentang membuat sesuatu yang lezat, ya? Itu sebenarnya
cukup mendalam"

"Namun, ini melegakan. Aku sudah merencanakan untuk membuat sesuatu hari ini"

"Hah?! Apa maksudmu, Sirius-sama?!"

"....Sebuah hidangan baru, ya"

"Tadi aku pergi ke laut dan berhasil mendapatkan ini"

Ketegangan antara keduanya naik tepat ketika mendengar tentang hidangan baru. Itu karena
aku membiarkan mereka merasakannya setiap kali aku mengembangkan makanan yang bukan
dari dunia ini. Meskipun ada yang sesuai dan tidak sesuai selera, kebanyakan hal yang aku buat
dilahap habis, lalu diiringi kekenyangan sambil memegangi perut.

Ngomong-ngomong, favorit Noel adalah mayones dan puding, Dee adalah tempura dan ayam
goreng. Sedangkan Erina adalah roti bakar Perancis, itu seperti pengingat waktu disaat dia
makan setelah aku menyelamatkannya. Agak memalukan, namun berharga.

Walaupun keduanya bersuka cita bersama, ekspresi mereka mengeras segera setelah melihat
hal yang aku bawa. Mungkinkah mendadak mengambil rumput laut kering merupakan hal
yang aneh?.

"Benda hitam apa itu? Entah kenapa, menebarkan perasaan yang buruk"

"Ini sejenis rumput yang tumbuh di laut. Kombu*"


[Kombu....ya rumput Laut. Penyebutan dalam jepang]

Sebelum menyeberangi benua, aku menemukan ini di pantai dan meninggalkannya disana
agar mengering, lalu mengambil itu dalam perjalanan kembali.

Menurutku rasanya sudah bagus karena dikeringkan selama sekitar setengah hari.
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"....Kau ingin kita memakan itu?"

"Nah, ini tidak begitu buruk. Lagipula, aku sekarang akan menggunakannya untuk membuat
semacam sup daripada memakannya langsung"

Meskipun aku langsung pergi ke dapur untuk mencoba memasak, Erina mencegatku di tengah
jalan dan mulai mempersiapkan teh.

"Sirius-sama, tidakkah kau harus beristirahat terlebih dahulu karena baru saja kembali?"

"Hmm, begitukah?"

"Kalian juga harus beristirahat. Sirius-sama, aku ingin meminta untuk alasan di balik
pakaianmu yang robek"

Senyumnya diiringi suasana yang sangat intens. Aku ingin dia berhenti membuat wajah itu
karena, terus terang, menakutkan.

Jadi, aku dengan mudah menjelaskan pertemuanku dengan Lior.

"Ehhh! Kau bertemu si Goutsurugi?!"

"Apakah itu mengejutkan?"

Kekuatannya memang hebat, hanya saja sulit disadari karena dia mempunyai penampilan luar
seperti orang tua pensiunan.

"Tidak, aku tidak pernah bertemu tapi aku dapat mengatakan dengan pasti bahwa dia
menakjubkan~. Sampai-sampai ia bahkan tampil sebagai pahlawan dalam banyak buku"

"Dia juga disebut legenda hidup"

"Aku pernah mendengar ini juga. Dia menyerbu wilayah musuh sendirian dan membuat
mereka menyerah hanya dalam satu hari. Dia tampaknya memiliki berbagai momen heroik
yang tak terhitung banyaknya"

"Mungkinkah kau menantangnya---seakan-akan~, tidak mungkin itu benar, ya kan~?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Aku mengerti semua ini dengan baik. Dia benar-benar kuat. Jujur saja, tadi itu merupakan
kemenangan yang nyaris"

"....Ha....Hahaha. Meskipun kedengarannya seperti lelucon, aku percaya jika itu Sirius-sama"

Sungguh, kalau mereka terkejut oleh setiap tindakanku, ini tidak akan ada akhirnya. Meskipun
itu berlaku untuk Noel, Erina hanya mengangguk dengan ekspresi setuju.

"Jadi pakaianmu robek karena bertarung melawan Goutsurugi. Hanya saja, Sirius-sama, jangan
berlebihan"

"Tapi aku tidak akan menjadi lebih kuat tanpa berlebihan"

"Meskipun aku mampu mengabaikan hal itu sampai beberapa derajat, aku akan mengatakan
ini lagi dan lagi. Jangan pernah berlebihan"

"Aku mengerti...."

Walaupun ucapannya agak mengganggu, itu adalah perasaan murni. Mungkin dia tidak akan
mundur bahkan jika aku mengeluh, sehingga hal terbaik untuk dilakukan adalah mengangguk
dengan patuh. Erina yang mengabaikan perilakuku memang lebih baik karena aku tidak dapat
membiarkan dia sering khawatir. Aku harus menemukan cara untuk mengkonfirmasikan
keselamatanku.

"Tetapi, itu adalah cerita yang luar biasa untuk bertemu seseorang seperti Goutsurugi yang
legendaris dan elf langka dalam kurun waktu singkat~"

"Aku hanya bertemu mereka secara tidak sengaja."

"Siapapun ingin bertemu dengan mereka juga. Kesampingkan Goutsurugi-san, aku mendengar
bahwa Elf merupakan ras yang penuh orang-orang tampan dan cantik. Sirius-sama, dia adalah
seorang perempuan cantik, kan~? Mungkinkah kau telah jatuh cinta~?"

"Tidak boleh begitu. Bahkan kalau dia elf yang dilimpahi penampilan sempurna, aku harus
menemuinya dengan benar, aku tidak akan mengizinkan jika dia tidak cocok"
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Ya ampun, tatapan Erina berubah seperti seorang ibu mertua. Nah, aku memang tidak bisa
membayangkan ketika Fia menjadi istri lalu dimarahi olehnya karena melewatkan satu bagian
ketika bersih-bersih. Lagipula, pihak lain lah orang yang jatuh cinta....aku tidak bisa
mengatakannya. Meskipun ciuman itu hanya bentuk rasa syukur, Erina pasti akan geram kalau
mengetahuinya.

"Dia mengatakan bahwa mereka tidak dapat bertemu setidaknya satu dekade, kan? Kemudian
lupakan elf itu dulu, acara hari ini lebih penting~"

"Benar juga, kalau begitu tolong berhati-hati"

"Mengerti. Aku kira sudah waktunya untuk pergi memasak. Dee, bawakan aku dua potong tofu
dari gudang. Aku akan menggunakannya untuk memasak"

"Baiklah"

Sekarang, aku akan mencoba untuk membuat Yosenabe*.


[Tahu sup nabe? Suatu sup yang memiliki berbagai isian. Daging dan sayuran. Sedangkan
Yosenabe adalah salah satu jenisnya. Wiki]

Dunia ini tidak memiliki banyak bumbu maupun bagian yang cocok untuk sup sayuran dan
daging. Ketika menemukan laut, aku mengingat keberadaan kombu. Menemukan sesuatu
dengan bentuk dan rasa yang serupa, memeriksa apakah beracun dan ternyata tidak, jadi aku
memasaknya sebagai percobaan.

Pertama aku menggunakan serbet kering, dan menggunakannya untuk menyeka kotoran di
permukaan alat memasak sihir. Menaruh panci berisi air di atas api sedang dan mencelupkan
rumput laut sambil terus mengaduknya hingga mendidih.

Setelah kuahnya jadi, aku memotong sayuran sekaligus daging yang Dee siapkan menjadi
ukuran sedang, lalu menempatkan seluruh bahan untuk direbus kedalam sup bersama-sama.
Aku mengatur rasanya dengan garam dan gula karena tidak ada kecap. Setelah
membiarkannya mendidih agak lebih lama, cita rasa semua isi dari panci mulai bocor keluar.
Yosenabe sekarang telah selesai!

"Meskipun metode memasaknya mudah, Ini terlihat lezat. Namun, aku tidak tahu cara
membaginya"
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Ini adalah hidangan yang tidak perlu dibagi....bukan, setiap orang harus makan dari piring
yang sama. Aku akan menjelaskan ketika semua anggota berkumpul jadi ayo kita bersiap untuk
makan malam"

Aku mempersiapkan sebuah meja kecil sedangkan Dee mencatat sesuatu di sampingku,
mungkin resep atau yang berhubungan dengan masakan. Semua penghuni rumah kini
melingkari panci.

Ngomong-ngomong, karena tidak ada kompor gas, aku juga memindahkan alat sihir api dan
mengatur panasnya sampai ke yang paling lemah. Erina dan Noel memiringkan kepala mereka
melihat sosok Nabe yang selesai*.
[Nabe disajikan langsung pada panci diatas sebuah kompor gas kecil di meja makan]

"Ini Nabe? Hmmm....kemana rumput hitam itu pergi? "

"Ini berisi tofu dari sebelumnya juga, bukan? Apakah ada sopan santun khusus untuk
memakannya?"

"Aku sudah menambahkan beberapa rumput laut dan menenggelamkannya di bagian bawah,
rasanya mungkin sesuai denganmu, Noel. Dan tidak ada sopan santun tertentu untuk
dilakukan. Kalian dapat mengambil apapun selama menggunakan sendok untuk meraup sup ke
dalam piring kecil, menikmati langsung dari pancinya untuk menjaga rasa"

"Langsung? Itu...."

Erina membuat wajah pahit. Dia mungkin berpikir bahwa itu kasar untuk petugas dan pelayan
makan dari panci yang sama dengan masternya. Namun, itu tidak masalah bagiku.

"Nabe adalah masakan yang menghangatkan baik tubuh dan pikiran, ini dimakan di kalangan
keluarga bahagia. Merupakan hidangan pas bagi kita, tidakkah kalian setuju?"

Aku menyeringai saat mengambil beberapa sayuran langsung dari panci dan mengunyahnya.
Hmm, meskipun rasanya masih polos dan tidak memuaskan jika dibandingkan dengan
kehidupanku sebelumnya, ini masihlah hidangan lezat.

"Keluarga....Kalangan keluarga bahagia, ya? Jika itu untuk keluarga, kemudian apa boleh buat"
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

"Benar sekali~, sesuai dengan yang Sirius-sama katakan, hidangan ini adalah untuk kita. Kalau
begitu, tanpa menunda lagi....PANASS!!!"

Disamping menyiapkan sendok, aku juga menyediakan sumpit untuk berjaga-jaga. Lagipula
setelah aku mulai menggunakan sumpit beberapa waktu lalu, semua penguni rumah
melakukan hal yang sama. Erina dan Dee segera terbiasa, namun Noel masih kekurangan
pengalaman dan dengan mudah kehilangan cengkeramannya. Ketika dia mencoba meraup isi
Nabe, itu jatuh ke dalam sup panas di piringnya sendiri dan menciptakan percikan, mengenai
kulit dan wajahnya.

"Kau hanya belum terbiasa, aku akan menyendoki itu untukmu"

"Uuu, terima kasih Dee"

Melihat ini, Dee langsung bertindak. Kalian, bergegaslah dan mulai berkencan! Aku akan
memberkati kalian dengan segala yang kumiliki.

"Campuran sup dan tofu sangat bagus. Aku mungkin akan makan banyak"

"Tofu ini juga baik untuk tubuh dan memiliki efek diet"

"Benarkah?! Dee, tambah tofu, tolong~!"

"Mengerti"

"Pelan-pelan, pancinya tidak akan lari. Itu masih panas jadi makanlah dengan perlahan"

"Tentu saja. Tapi, takkan masalah setelah membiarkannya mendingin....PANAASS!!!"

Noel memiliki lidah yang sangat sensitif terhadap rasa panas karena dia berasal dari salah satu
ras kucing. Selain itu, meniup saja tidak cukup, tofu memang akan dingin namun hanya
dipermukaan, bagian dalamnya masih membara. Gadis ini tidak pernah melenceng jauh dari
harapanku.

Setelah menyelesaikan makan yang memuaskan, aku membantu Dee dan Noel dengan
pelatihan mereka.
Arc 2 – Encounters
Chapter 11 – The Discontent Teacher

Menyebutnya pelatihan kurang cocok karena itu hanya membantu Dee dalam membuat resep
baru untuk hidangan dan Noel dalam praktek sihir. Aku hanya memberi mereka saran tapi
tampaknya sudah cukup. Meskipun lebih mudah dan lebih baik untuk tidak bekerja secara
keterlaluan, itu masih membuatku merasa agak kesepian sebagai bekas seorang guru.
Menasihati keduanya, bukan berarti mereka adalah siswa-siswaku.

Aku pikir cerita Lior pagi ini sangat menyedihkan, namun berkat itu hatiku mulai berdenyut
dari mengingat diri lamaku.

Aah....aku ingin mendapatkan seorang siswa juga.

Aku kembali ke kamar untuk tidur sementara menyembunyikan perasaan-perasaan kabur.

Meskipun cemas, rasa kantuk menghantam dengan mudah akibat dari serius dan kewalahan
melawan Lior.

Setelahnya, pekerjaan sehari-hariku menjadi seperti ini.

Pelatihan fisik dan sihir.

Mempelajari pengetahuan dunia ini.

Menjelajahi benua lain.

Mengumpulkan uang untuk masuk ke sekolah.

Dan, yang baru ditambahkan, pertarungan palsu dengan Lior.

Setiap hari berlalu begitu saja seiring diriku yang terus tumbuh dengan baik.

Kemudian, satu tahun pun berlalu.

Sebuah hari yang penting tentang pertemuan mendekat tidak jauh dari sekarang.

☆☆☆Chapter 11 berakhir disini☆☆☆


Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Chapter 12 – Fateful Meeting


Bagian 1

Aku merenungkan sesuatu.

Lior menjadi guru untuk memunculkan lawan yang mampu berhadap-hadapaan sejajar dengan
dia. Lalu, kenapa diriku menjadi seorang guru dalam kehidupan sebelumnya?.

Secara resmi, itu karena seiring bertambahnya usia, pekerjaan terasa semakin berat. Aku
memutuskan untuk menyerahkan obor* ke generasi berikutnya. Di lain hal, alasan
sesungguhnya adalah seorang gadis kecil tertentu.
[Diartikan sebagai menurunkan/menyerahkan tugas kepada seseorang yang masih mampu]

Aku kira ini terjadi ketika diriku menguak jaringan ilegal perdagangan manusia.

Menyelinap ke dalam fasilitas lalu menghancurkannya, aku menemukan sekumpulan anak tak
dikenal disana. Dengan demikian, organisasi dimana diriku bergabung menyelidiki asal usul
mereka dan mengembalikan ke keluarga masing-masing atau dikirim ke panti asuhan....kecuali
seorang gadis kecil, yang bersikeras tidak mau meninggalkan sisiku.

Dia menjelaskan kalau diriku tampak bagaikan seorang pahlawan ketika menyelamatkannya.
Karena dia memang tanpa orang tua dan tetap ingin bersama, aku memutuskan untuk
merawatnya.

Pekerjaanku menuntut untuk tidak berdiam disuatu tempat, jadi aku mempercayakannya
kepada seorang sahabat wanita. Awalnya memang enggan, namun setelah meyakinkan gadis
ini, dia dengan patuh menerima keadaan. Walaupun kami jarang bertemu karena kesibukan,
gadis itu tetap ceria.

Suatu hari, keingintahuannya merambah tentang pekerjaanku.

Niatnya murni untuk membantu. Berkata bahwa dia ingin menjadi pahlawan impian seperti
sosokku. Walaupun pekerjaanku tidak seindah yang gadis ini bayangkan, bahkan hingga
menjelaskan tentang sisi kotor dari 'pembunuh bayaran', kehendaknya tidak bergeming sama
sekali.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Saat melihat gadis ini, pikiran untuk pensiun dan menjadi guru ketika mencapai usia tua
melintas.

Gadis yang kemudian mempunyai kebiasan memanggilku ayah inipun menjadi siswa
pertamaku.

Meskipun itu terbilang alasan sepele untuk menjadi seorang guru, diriku berangsur-angsur
lebih bahagia saat menyaksikan pertumbuhan siswa. Aku semakin ingin mengajar dan terus
mengajar, seiring waktu berlalu bahkan tak sedikitpun berubah terlepas setelah bereinkarnasi.

Dan sekali lagi, situasi yang sama mendekat....

Sudah setahun sejak diriku bertemu Fia dan Lior.

Aku memasuki usia enam tahun.

Menyelesaikan latihan pagi, dan sekarang berkeliaran di benua Adroad.


Akhir-akhir ini, aku berhenti mencari hal-hal dari langit, dan malah sering melakukan
penjelajahan dengan berjalan kaki di hutan.

Aku menyerang monster-monster yang mendekat, membuat mereka berpencar dalam rangka
untuk menemukan tanaman yang dapat dimakan, namun terutama untuk berlatih sebagai
seorang petualang.

"Oh, ketemu. Matsutake*~" (Sirius)


[Jamur matsutake. Jamur yang berasal dari jepang]

Memang bukan matsutake dihidupku sebelumnya, melainkan jamur yang menyerupai itu.
Meskipun memiliki nama resmi, aku menyebutnya jamur matsutake karena sudah terbiasa.
Tanaman ini sangat jarang ditemukan sekaligus lezat, jadi aku sedang berpikir apa harus
menambahkannya di makan malam hari ini.

Saat memetik itu dengan wajah senang, perutku mulai merasa lapar, sebagian penyebabnya
karena membayangkan tentang makan malam. Saat ini hampir tengah hari sesuai dengan
posisi matahari. Aku duduk di suatu batu, dan mengambil sebuah bekal makan siang.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Ketiga orang memutuskan membuat makan siang secara bergantian, aku bertanya-tanya siapa
orang yang mendapat giliran hari ini.

"Ohh. Erina, ya"

Terdapat lauk warna-warni di dalam, juga dikemas dengan sandwich sayur dan daging, ini
merupakan makanan favoritku. Pertumbuhanku maju pesat, seiring dengan nafsu makan yang
bertambah. Tahun lalu, aku sudah akan kenyang hanya dari setengah porsi bekal ini, tapi
sekarang perutku mampu menampung semuanya.

"Mmm, lezat. Ups, aku harus menghubunginya"

Teringat suatu hal, aku mengumpulkan sejumlah kecil mana, dan meluncurkannya, bertujuan
kepada Erina di kejauhan.

(A-ya....Canis Mayor di sini. Tak ada yang tidak normal di siang hari ini. Makanannya juga lezat.
Over)

Itu bukanlah monolog. Melainkan sihir baru yang aku kembangkan, {Call}.

Sihir ini memiliki prinsip yang sama dengan gelombang radio. Membuat Mana bergetar dalam
berbagai frekuensi sehingga mampu membentuk kata-kata dan melepaskannya pada
seseorang. Adapun kesan dari sisi penerima, mereka akan mendengarnya dalam bentuk
sensasi aneh yang bergema langsung di otak. Ini tentu sangat mudah, seperti ponsel, tapi
hanya lalu lintas satu arah karena aku sendiri yang bisa menggunakannya.

Walaupun dikatakan sebagai gelombang radio, ada kemungkinan bisa bocor ke pihak lain
dengan panjang gelombang serupa di jalan, karena masih terbuat dari Mana. Oleh sebab itu,
aku menamai diriku dengan nama kode dan memastikan untuk tidak menyebutkan nama si
penerima.

Yah, tampaknya ada mantra angin yang mengirimkan suara dalam bentuk angin dan
menembakkan itu ke kejauhan.

{Call} memang masih dalam tahap pengujian. Meski begitu, aku tetap menggunakannya sejak
menerima suaraku memberikan rasa aman kepada Erina. Aku harus bereksperimen di tempat
ramai penduduk dan memeriksa jarak maksimum.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Seusai menyelesaikan laporan satu arah, aku melanjutkan makan. Mmmm, bertanya-tanya
bagaimana bisa rasa selezat ini tercipta, diriku takkan mampu membuat hal yang sama
meskipun mencoba meniru berulang kali. Tampaknya seleraku dikenal baik.

Ketika menghabiskan 80 persen isi bekal, aku merasakan kehadiran dari kedalaman hutan dan
mengaktifkan {Search}. Pada radar yang tergambar di otak, respon datang dari sesuatu yang
mendekat dalam kecepatan tinggi. Aku memutuskan menaruh bekal, berdiri dan menengok
kearah mahkluk itu.

Keempat kakinya seelegan kuda dengan tubuh yang sangat gemuk, memiliki dua tanduk indah
besar, itu merupakan binatang aneh berpenampilan tak seimbang. Kalau ingatanku benar, itu
disebut Beonifang.

Dia menetapkan diriku sebagai sasaran, berlari menghantamkan tubuh dengan ganas sambil
menunjuk dua tanduknya ke arahku.

"Sangat membosankan---Oh?"

Kecepatannya hebat, tapi serangan frontal yang tampak mengesankan ternyata mudah
dihindari. Aku menebasnya saat kami berpapasan satu sama lain, namun pedang hanya
mampu membuat potongan dangkal, itu di tingkat meninggalkan luka kecil di wajahnya.
Karena kulit kerasnya, sepertinya tidak mungkin untuk menghabisi mahkluk ini tanpa
meningkatkan kekuatanku.

Monster itu datang kembali dan menyeruduk sekali lagi. Sebelumnya, aku menghindar ke
samping, tapi sekarang aku melakukannya dengan melompat dan mendarat di punggungnya.
Aku akan mencoba untuk membunuh makhluk ini secepat mungkin, sebelum dia mulai
meronta-ronta.

"Bagaimana dengan yang ini!!"

Aku menusuk pusat dahinya, bagian terdekat dengan otak menggunakan pisau mithril yang
aku peroleh dari Fia. Seperti yang diharapkan dari logam fantasi, bilahnya tenggelam hampir
tanpa kendala. Tubuh monster gemetar hanya sesaat kemudian roboh ke tanah.

"Kaki mahkluk ini luar biasa indah, apa rasanya lezat? Nah, mungkin tidak akan masalah untuk
memanggangnya, kan?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Monster ini memiliki kulit keras yang dapat menahan alat bertepi tajam. Tampaknya ia bisa
menghadapi sekelompok petualang peringkat menengah berkat hempasan tubuh yang kuat,
tapi asalkan seseorang mampu menyerang titik lemahnya, dia dapat diurus dengan mudah.

Dalam kasus Lior, aku pikir dia akan memotong mahkluk ini menjadi setengah langsung dari
depan.

Sementara mengambil sirloin* untuk dipanggang dan menaruhnya ke dalam tas tanpa
mengurus darah, aku sekali lagi merasakan kehadiran dari hutan. Seketika {Search} diaktifkan,
aku mendapatkan sinyal dari monster yang sama.
[Daging pinggang]

Terdapat juga dua kehadiran dan monster itu sedang menuju kearah mereka. Mungkinkah....

Aku meneliti semua respon dengan lebih rinci menggunakan {Search} sambil berlari ke daerah
mahkluk itu berada. Tidak salah lagi, ini kehadiran humanoid.

Memanfaatkan cabang-cabang sebagai pijakan untuk memantul, aku terus berlari, melambung
melalui pepohonan. Dengan lancar melanjutkan tanpa kehilangan kecepatan sama sekali,
mataku akhirnya menangkap sosok-sosok kehadiran itu.

Tepat di samping sebuah pohon yang rusak karena tubrukan tubuh si monster, terdapat dua
anak, satunya roboh dan yang lain terduduk kelelahan. Menargetkan mereka, Beonifang
menekan kakinya ke tanah lalu menerjang ke depan.

Hanya ada satu hal yang harus dilakukan.

"Dropkiiiick!!!!!*"
[Lucu. Jadi gak aku terjemahin XD ]

Aku melesat ke bawah dengan kekuatan yang stabil lalu menyerang sisi wajahnya
menggunakan kedua kaki, melakukan tendangan yang akan membuat malu seorang pegulat
pro. Sejak {Boost} ditambahkan, tubuh monster itu terpental jauh sambil bergulingan di tanah
dan menabrak beberapa pohon. Aku pikir ini tidak cukup untuk mengalahkannya, jadi aku
melanjutkan.

"{Magnum}"
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Ketika monster itu berhenti berguling, sebuah peluru secara akurat mencapai kepalanya dan
memberikan pukulan penghabisan.

Meskipun kepalanya meledak, dari apa yang aku lihat, dia tampaknya telah mati karena
tendangan....atau begitu lah. Tapi, apa-apaan itu? Apa kekuatan sihir pistol telah meningkat
menjadi lebih kuat? Aku merasa ini lebih kuat dari keluarga utama*.
[Ungkapan jepang. Intinya dia mengatakan kalo kekuatannya berada di tingkat yang
keterlaluan]

Kesampingkan itu, monster lainnya akan berkumpul karena bau darah, mungkin bahkan ada
banyak dan datang dalam waktu cepat.

Memperhatika kedua anak, mereka berasal dari ras binatang, laki-laki dan perempuan.

Mereka seumuran denganku, memiliki rambut berwarna perak, ekor lebat dan telinga lurus
terlihat seperti serigala atau anjing. Perempuan ini tampak sedikit lebih tua namun keduanya
mempunyai penampilan sama. Apakah mereka bersaudara?

Pakaian keduanya compang-camping. Bahkan si perempuan mengenakan sepotong kain yang


hanya menyembunyikan bagian-bagian penting dari tubuh kering kerontangnya dan penuh
bekas luka sekaligus memar. Hal paling mengkhawatirkan adalah kerah logam di leher mereka.

Ukurannya terlalu besar dan jelas bukan sejenis aksesoris yang seorang anak akan kenakan.

Anak laki-laki itu pingsan, sedangkan si gadis membuka matanya dan menghadap kearah sini
dengan pandangan kosong karena kejutan. Seperti yang bisa di duga kalau tatapannya
berfokus kepadaku, dia meringkukkan dirinya sementara masih melihat dan melindungi anak
laki-laki itu dengan tangannya.

"-! A---....mel---....---ku"

Apa tenggorokannya sakit? Suaranya serak dan tersendat-sendat tanpa bisa kudengar dengan
baik.

Aku telah menyaksikan orang-orang seperti ini dalam kehidupanku sebelumnya. Tak ada yang
peduli pada mereka yang tinggal di daerah tanpa hukum dan tak dianggap oleh negara, budak.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Tanpa hak asasi manusia dan sejenisnya, semua budak diperlakukan seolah-olah barang sekali
pakai dan dibuang. Akhirnya memiliki mata yang tampak mati.

Namun, gadis kecil ini berbeda. Dia dalam situasi di mana dia kewalahan tanpa mampu
sepenuhnya menggerakkan tubuh. Meskipun begitu, matanya menunjukkan tekad bulat.

....Aku....akan melindungi....adikku....
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Itu adalah suara yang aku berhasil tangkap darinya dengan meningkatkan indra pendengaran.

Saat aku mendekat selangkah demi selangkah, ia mencoba untuk melarikan diri, namun
anggota tubuhnya menolak.

Satu langkah lagi. Tubuhnya gemetar, dia benar-benar takut oleh diriku tapi masih bersikeras
menatap dan tidak membiarkan tangannya menjauh dari adiknya.

Langkah lain berayun, gadis itu berada tepat di bawah mataku.

Aku semakin mendekat sambil menyembunyikan tanganku, yang mungkin membuatnya takut.
Walaupun begitu....tatapannya masih kuat.

Posturku membungkuk sedikit untuk mencocokkan garis pandang dan menaruh tanganku di
atas kepala gadis kecil itu lalu berbicara perlahan.

"Tidak apa-apa. Aku bukan musuh"

Melontarkan untaian kata yang sama padanya---yang pernah kuberikan pada si gadis kecil di
masa lalu.

Sekarang, gadis ini berada dalam keadaan di mana ia menganggap siapapun sebagai musuh,
jadi pertama-tama aku harus membuat dia mengerti bahwa aku tidak akan membahayakan
dirinya sama sekali.

"Kau melindungi adikmu, kan? Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku akan membantu, jadi
beristirahatlah sekarang"

Aku menepuk rambutnya yang kusut dengan perasaan penuh kasih sayang.

Di masa lalu, aku mengelus si gadis kecil dengan cara yang kasar. Tapi kali ini, aku mencoba
untuk melakukannya sesuai yang Erina selalu lakukan untukku. Mungkin itu bekerja,
kewaspadaan gadis ini memudar dan secara bersamaan jatuh, dia kehilangan kesadaran
sambil sedikit menumpahkan aliran air mata.

Astaga, aku masih belum tahu benar identitas anak-anak ini tetapi pergantian peristiwanya
agak aneh.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Anak-anak sedang dikejar oleh sejenis monster merupakan hal yang biasa di dunia ini, tak ada
yang akan menyalahkanku bahkan jika aku meninggalkan mereka. Sebaliknya, akan
merepotkan kalau aku tidak meninggalkan mereka. Aku masih berusia enam tahun, ada juga
para penghuni rumah. Berpikir tentang masa depan, kami tidak akan mampu untuk
mendukung dua orang lagi.

Namun, ucapan 'aku akan membantu' sudah terlanjur keluar. Aku tidak bisa berpura-pura
membawa mereka seperti hewan peliharaan hanya karena keduanya memiliki telinga anjing,
kan? Apa yang akan Erina katakan tentang hal ini?

Bersamaan dengan diriku yang khawatir, kehadiran sekitar sedang meningkat, mereka terpikat
oleh bau darah. Tak ada waktu lagi, sehingga apa boleh buat.

"Untuk saat ini....lanjutkan saja!!"

Mengikat keduanya dengan {String}, diriku terbang sambil membawa mereka menjauh dari
tempat itu.

☆☆☆

Bagian 2

"....Dan, aku datang untuk meminta saranmu, pria tua. Tolong lakukan sesuatu"

Aku mengubah lokasi ke rumah Lior.

Si pria tua menatapku bingung ketika aku datang membawa keduanya, tapi dia tidak
mengatakan apapun dan hanya pergi menyiapkan tempat tidur.

Aku meletakkan anak-anak ini di kasur dan segera menjelaskan situasi. Alasan berkonsultasi
dengannya karena ia memiliki pengalaman sebanyak umurnya.

"Apa-apaan itu? Tidak bertanggung jawab. Bahkan jika kau memintaku untuk melakukan
sesuatu, kaulah orang yang mengambil mereka"
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Sesuai perkiraan ya~. Ah, lagipula aku sudah memutuskan apa yang harus dilakukan.
"Bahkan tanpa harus diberitahu, kau telah membuat keputusan, kan? Jadi, apa yang kau
ragukan?"

"Tidak, ini hanya Erina...."

"Hahahahaha!! Pria kuat yang menjatuhkanku takut oleh salah satu pelayannya?!"

"Diam, Erina menakutkan"

Ini adalah ketakutan yang hanya keluarga akan tahu. Diri lamaku memang tidak mengetahui
itu, tapi si pria tua pensiun tidak akan mengerti.

Aku kira itu jelas dari aliran obrolan, tapi diriku membuat keputusan untuk kembali ke rumah
dengan membawa keduanya. Aku mungkin bahkan berakhir bertengkar dengan Erina, namun
tak ada pilihan lain selain meninggalkan anak-anak ini.

"Walaupun tidak benar-benar menggangguku, mengapa kau membawa mereka kesini? Kau
bisa saja langsung pulang ke rumahmu"

"Aku sungguh-sungguh hanya ingin meminta saranmu. Tapi pertama-tama aku ingin
menanyakan ini, keduanya budak, kan?"

Seluruh penampilan mereka lusuh dan memiliki kerah aneh. Meskipun aku hampir yakin
bahwa mereka budak, aku ingin mendengar pendapat dari Lior yang pernah berkeliling dunia.

"Memang budak, bisa dikatakan dengan pasti. Kerah-kerah itu adalah bukti yang paling
meyakinkan"

"Seperti yang kupikirkan. Apa kerah ini memiliki efek lain selain penampilannya? Aku bisa
merasakan sedikit Mana disini"

"Ini adalah alat yang disebut {Kerah Penaklukan}, ketika kontraktor memakaikannya kepada
seseorang, dapat dikatakan ia telah memegang hidupnya. Jika kontraktor itu ingin, ini bisa
menyebabkan tubuh seseorang menderita rasa sakit akut, dan bahkan kalau dia melarikan diri,
kerah akan terus memancarkan Mana untuk memberitahu lokasinya. Yang membuat hal-hal
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

buruk adalah Mana yang dipancarkan berasal dari pemakainya. Saat Mana terus berkurang,
orang tersebut akan secara bertahap kekeringan sampai akhirnya meninggal"
"Jika itu benar maka akan menjadi masalah kalau kita tidak melepasnya sesegera mungkin"

"Ada satu hal lagi, {Kerah Penaklukan} tidak dapat di lepas tanpa kunci dari si kontraktor.
Selain itu, melepasnya secara paksa bisa membahayakan pemakainya. Ini merepotkan dalam
berbagai cara"

Dilihat lebih dekat, terdapat sebuah lubang kunci dibagian kerah. Tidak tampak rumit, hanya
tipikal lubang gembok sederhana. Bagaimanapun, Mana mengalir keluar dari sana. Apa lokasi
ini sedang dikirim ke kontraktornya sekarang?

"Dari apa yang aku dengar, ada lingkarang sihir rumit tergambar di dalam lubang kunci, ini
tampaknya kerah tingkat menengah. Karena membutuhkan banyak waktu dan usaha untuk
membuatnya, benda ini cukup mahal"

"Kerah ini mahal atau tidak, aku tidak peduli. Aku membenci hal semacam ini. Apa ada cara
untuk melepasnya selain menggunakan kunci?"

"Mmm, mungkin aku bisa mengambil risiko dan mencoba untuk mengirisnya dengan pedang?"

"Walaupun aku percaya pada kemampuanmu, tinggalkan itu sebagai pilihan terakhir.
Tunggulah sebentar, aku ingin mencoba sesuatu"

"Oho? Aku penasaran apa yang kau akan lakukan kali ini"

Mengabaikan si pria tua yang mulai bersemangat di belakang, aku harus mencobanya dulu
kepada anak laki-laki ini?

Tanganku mendekati kerah dan mengaktifkan sihir baru, {Scan}.

Sihir ini mampu menggambarkan struktur objek di dalam otak dengan melewatkan Mana pada
target. Dalam hidupku sebelumnya, ini mirip x-ray. Jika {Search} cocok untuk eksplorasi dalam
jangkauan luas, {Scan} lebih bertujuan meningkatkan akurasi dengan mempersempit target
sampai minimum.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Kekurangannya adalah tidak bisa menggambarkan secara detail kalau objeknya berada di
kejauhan tangan. Aku bereksperimen menggunakan alat-alat sihir dan mengetahui bahwa ini
tidaklah berbahaya, aku juga memastikan keamanannya terhadap manusia dengan meminta
Dee untuk bekerja sama, tentu saja karena dia mengizinkan.

Memahami struktur internal kerah, aku mengarahkan {Scan} untuk fokus pada lingkaran sihir.
{Scan} tidak menunjukkan struktur internal objek namun hanya menunjukkan struktur dalam
Mana. Aku memang tidak mengerti arti dari efek pada gambar di lingkaran sihir, tapi aku dapat
melihat sumber Mana. Kalau sesuai ucapan Lior, maka kerah ini harusnya memiliki empat
kemampuan.

Memberikan rasa sakit akut, menyerap Mana, memancarkan Mana, dan membahayakan
pemakai saat rusak.

Seperti yang diharapkan, pada lingkaran sihir, empat inti terlihat. Di antaranya, dua telah
diaktifkan, itu pasti penyerapan Mana dan pemancaran Mana. Andai aku entah bagaimana
bisa mengurusi dua lainnya....

Aku lalu memperpanjang dua {String} tipis dari tangan kiri, dan mengganggu dua inti dari
lubang kunci, mengaturnya ke arah lingkaran sihir. Memegang Mana, aku memutar semua
bagian untuk menutupi lingkar dua inti.

Mengkonfirmasikan bahwa keduanya tertutup tanpa celah, aku mengambil pisau mithril
digenggaman tangan kanan dan membawanya mendekati kerah.

"Maaf jika aku gagal"

Aku mengumpulkan {String} untuk menarik inti dan menghancurkannya. Pada saat yang sama,
aku mengiris kerah dengan pisau. Benda itu membuat suara (tring) dan jatuh berguling di
kakiku.

Melirik sekilas pada Lior yang tegang, aku menengok kembali pada anak ini dan meletakkan
dua jari di hidungnya.

"....Pernapasan Dikonfirmasi. Dia masih hidup"

"Haaaa....Syukurlah~"
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Ini merupakan pertaruhan yang nyaris, namun berhasil.


"Kau menakjubkan seperti biasa. Orang-orang yang merusak kerah mereka akan mengalami
pendarahan hebat dari seluruh tubuh dan mati"

"Kalau kau tahu hasil semacam itu, jangan menyarankan untuk mengirisnya dengan
pedangmu!!"

"Aku hanya berpikir mungkin bisa membelahnya tepat pada lingkaran sihir, hahahaha!!"

Lior mulai tertawa keras tanpa sedikitpun rasa malu. Aku mengerti alasannya, tapi sikap itu
membuatku jengkel.

Aku meniru tindakan barusan untuk merusak milik gadis ini lalu memeriksa kerah, tapi itu
sekarang hanya sampah belaka yang tidak memancarkan apapun karena tidak sedang
menyerap Mana target. Mengetahui lingkaran sihir secara detail mungkin berguna untuk
sesuatu, aku bertanya-tanya apakah aku harus membawanya pulang.

"Baiklah, masalah kerah telah terselaikan, apa yang akan terjadi kepada mereka berdua?"

"Sebuah kerah merupakan tanda pengenal bagi budak. Walaupun tanpa kunci, ini bisa
terlepas. Kau dapat menganggap mereka sebagai warga sipil sekarang"

"Bagaimana awalnya seseorang menjadi budak? Aku bisa mengerti kalau mereka penjahat,
tetapi keduanya terlalu muda untuk menjadi penjahat"

"Biasanya, penjahat adalah orang-orang yang dihukum ke dalam perbudakan, tapi mereka ini
pasti diculik. Karena ras kedunya cukup langka"

"Langka ya, kau mengetahui itu?"

"Hmm, rambut keperakan dan ekor serigala....mereka mungkin dari ras serigala perak"

Ras serigala perak.

Mereka mempunyai telinga dan ekor serigala berwarna perak. Itu hanya satu dari banyaknya
ras binatang. Total populasi mereka kecil, dan efisiensi tempur umumnya tinggi, ini adalah
sebuah ras unik yang tinggal jauh di kedalaman hutan. Meskipun mereka juga memiliki banyak
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

orang kasar dan pemarah, Tampaknya menjadi ras yang berpikir tentang sahabat dan
menghargai ikatan antara suku dan keluarga.

Begitu lah, sumbernya adalah buku {Catatan Perjalanan Albert*}


[Entah sudah berapa banyak pengetahuan yg datang dari buku ini....Wikipedia dunia fantasy.]

"Bukan persoalan mereka langka atau apapun. Kesampingkan keduanya, aku sekarang
mempunyai masalah di sini"

Apa yang harus aku katakan pada Erina?

'(Aku menginginkannya, aku tetap menginginkannya! Aku ingin budak~~!!!)' Haruskah aku
melontarkan amukan kekanak-kanakan? Tidak, itu tidak akan terjadi.

"Aku dapat mengurus mereka"

"Walaupun aku menghargai sentimenmu, ini merupakan masalahku"

Aku pribadi yang memutuskan untuk membawa anak-anak ini. Itu sudah cukup, aku harus
menguatkan diri.

Aku mengaktifkan {Call} bertujuan pada Erina sambil berpikir tentang apa yang harus
disampaikan.

"(Hmmmmmm....Canis Mayor di sini. Aku akan kembali sekarang dengan membawa dua anak
karena keadaan tertentu. Tolong siapkan tempat tidur di ruangan untuk tamu, over)"

Seusai melaporkan apa yang harus dilaporkan, aku menghela napas dalam-dalam. Karena tidak
bisa melihat respon pihak lain, ponsel satu arah ini cukup menakutkan. Aku ingin
mengembangkannya entah bagaimana.

"Baiklah, mungkin aku harus bergegas pulang ke rumah. Pria tua, apa kau memiliki karung
besar atau sesuatu semacam itu?"

"Ya ada. Apa yang kau akan taruh di sana?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

"Aku ingin menempatkan keduanya di dalam. Ini untuk mencegah gerakan liar dan juga
memblokir tekanan angin"

"Aku mengerti. Kemarilah, kau dapat memiliki ini"

"Terima kasih. Aku akan memberi ini sebagai imbalan"

Apa yang ku dorong ke dalam mulut si pria tua adalah sisa dari bekal makan siangku. Ini adalah
cara yang sangat kasar, tapi hidangan lezat adalah keadilan. Faktanya, dia tersenyum ketika
menelannya.

"Kau sangat beruntung memiliki pelayan yang memasak seenak ini. Nah, makanan buatanmu
juga bagus. Buatkan aku makanan seenak itu lain kali, ya?"

Karena aku sudah diperlakukan dengan baik di sini, kadang-kadang aku memasak makanan
sehingga kami bisa menikmatinya bersama-sama.

"Aku bukan pelayanmu pria tua, tapi aku akan melakukannya jika aku mau"

Memegang karung, di mana kedua anak terbungkus di lengan masing-masing, aku buru-buru
pulang sambil berpikir bahwa diriku terlihat seperti penculik.

☆☆☆☆

Bagian 3

---Sudut pandang Noel ---

Namaku Noel.

Salah satu petugas* cantik yang melayani Sirius-sama. Karena Sirius-sama masih anak berumur
enam tahun, kami mendukungnya---....adalah apa yang aku ingin katakan, tapi Sirius-sama
begitu menakjubkan hingga ia tidak benar-benar membutuhkan dukungan.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

[Kalian mungkin bingung. Aku juga ingat ingin menambahkan ini. Kalo aku menyebutkan
'Petugas' itu berarti seluruh orang yg melayani Sirius(3 orang). Dan kalo aku menyebutkan
'Pelayan' itu berarti cuman Noel dan Erina]

Menggunakan sihir hanya pada saat berusia tiga tahun, ia sampai sekarang terus
mengembangkan bentuk-bentuk baru sihir dan mengukur kemampuan dengan berlatih
tanding melawan Dee yang dulunya merupakan petualang lalu menang. Selain itu, ia
memegang pengetahuan jauh melampaui kami, memanfaatkannya sebaik mungkin untuk
kehidupan sehari-hari hanya demi kepentingan seluruh penghuni rumah, dia pria dengan
bakat hebat.

Di atas semua itu, dia adalah seorang juru masak yang luar biasa. Menciptakan berbagai
hidangan yang belum pernah terlihat sebelumnya, kami gembira setiap kali dia
memperkenalkan satu masakan. Terutama untuk....hmm....mayonnez dan pouding*, itu semua
adalah penemuan menakjubkan. Pertama kali mencicipinya, aku tertegun untuk sementara,
keheranan dengan 'Bagaimana bisa hidangan selezat ini tercipta~~'. Aku merasa senang setiap
kali mengingatnya....Ups! Aku mulai melantur.
[Noel tidak tau bagaimana cara mengucapkan Puding atau Mayones]

Namun, atribut Sirius-sama adalah Tanpa Warna. Atribut kemalangan yang selalu diejek
sebagai tak berguna oleh dunia. Meskipun aku tidak tahu siapa yang pertama memiliki
pemikiran seperti itu, aku hanya mengira kalau orang itu pasti keliru. Sebaliknya, kami sadar
bahwa kami lah orang-orang yang lebih tak kompeten ketika menyaksikannya menggunakan
sihir.

Pokoknya, dia bagaikan orang sempurna....namun sekarang, orang tersebut menggaruk bagian
belakang kepala sambil membuat ekspresi wajah yang sangat gugup. Ini pertama kalinya aku
melihat Sirius-sama kebingungan. Sangat manis~ tidak seperti diri jantan biasanya.

Ini adalah ruang untuk tamu, dan ada dua anak ras binatang tergeletak di tempat tidur.
Bagaimana bisa sampai seperti ini? Nah, kejadiannya berlangsung tepat sore hari.

Ketika aku selesai makan siang, aku diminta untuk menyiapkan kamar untuk tamu oleh Erina-
san.

Setelah bersih-bersih selesai, Sirius-sama pulang lalu mencari Erina-san untuk melaporkan
sesuatu kepadanya.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Aku menuju ke ruangan depan sambil berpikir kalau dia kembali lebih awal hari ini, apa yang
menangkap mataku adalah dua karung besar. Pada saat itu, aku mengira bahwa mungkin
isinya merupakan beberapa bahan makanan baru.

Seusai mencoba bertanya tentang isi dari karung sementara sedikit bersemangat, ia hanya
berpaling tanpa menjawab. Ketika Erina-san dan Dee-san datang, Sirius-sama membuka
karung-karung itu.

"Apa....?"

Dee-san dan aku membeku. Anak-anak dengan penampilan sangat lusuh dan compang-
camping? Hanya Erina-san yang tidak bergeming, ketika ia menegaskan kondisi mereka, ia
melemparkan petunjuk kepada kami berdua.

"Dee, ambil obat-obatan dan air panas. Noel, bawa baju ganti untuk dua orang"

"Ah, Ya"

"Baiklah"

"Sirius-sama, karena aku akan meminta alasannya nanti, tempatkan mereka di kasur kamar
untuk tamu sekarang"

"Aku mengerti"

Dan seperti itu, masing-masing dari kami melakukan perannya. Perawatan medis dasar untuk
kedua anak segera berakhir.

Meskipun masih memiliki ekspresi gugup, Sirius-sama mulai menceritakan tentang alasan
untuk kejadian ini.

Singkatnya, ia menemukan mereka saat diserang oleh seekor monster ketika bepergian di
hutan.

Dia mengalahkan monster itu untuk melindungi mereka. Meskipun sempat ada pemikiran
'Darimana kau menculik anak-anak ini' di benakku, Sirius-sama bukanlah orang semacam itu.
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Aku ras binatang namun dia tidak mendiskriminasi diriku. Ditambah lagi, dia hebat karena bisa
berteman dengan Elf-san dan Goutsurugi-san.

Bersamaan dengan melihat lebih dekat pakaian anak-anak ini, aku tersadar.

"Rupanya, dua anak ini adalah budak"

Wajar saja kalau penampilan mereka tampak akrab bagiku. Karena, bahkan aku dulunya
seorang budak.

Aku diselamatkan sebelum yang terburuk terjadi, anak-anak ini mungkin saja telah mengalami
hal-hal yang jauh lebih buruk dariku. Namun, aku cukup heran. Bukankah budak memiliki
kerah logam sebagai identitas mereka?

"Aku merusak kerahnya. Satu masalah selesai, namun ada masalah lain. Aku membawa
keduanya kesini untuk merawat luka-luka mereka"

""""Kau merusak kerahnya?!"""

Apa artinya itu?! Merusak kerah harusnya mematikan bagi si pemakai. Aku sering menyaksikan
hal itu terjadi. Karena kami terlalu terkejut, ia mengatakan metode untuk merusaknya.

Ya, kami tahu itu sungguh mustahil untuk dilakukan.

"....Aku memahami alasanmu. Bagaimanapun, kita akan membiarkan mereka tidur dulu untuk
sekarang"

"Terima kasih, Erina. Aku akan pergi menyiapkan makanan untuk mereka. Anak-anak ini dalam
kondisi sangat lemah"

"Noel, bisa aku mengandalkanmu untuk menunggu dan mengawasi? Mungkin saat bangun,
kewaspadaan mereka akan berkurang ketika melihat dirimu yang sama-sama dari ras
binatang"

"Ya, tentu saja!"

"Sirius-sama, biarkan aku membantu"


Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

"Tidak, Dee, kau harus tetap di sini bersama Noel. Berjaga-jaga kalau ada suatu hal yang
terjadi"

"Baiklah, aku mengerti"

Ketika Sirius-sama dan Erina-san meninggalkan kamar, mendadak suasana menjadi sunyi. Dee-
san bukan orang yang banyak bicara, dan aku tidak merasa ingin mengobrolkan suatu cerita
yang tidak berguna. Setelah meletakkan kursi di samping tempat tidur, aku duduk dalam posisi
yang bisa melihat wajah kedua anak ini. Apa Dee-san sedang mencoba agar tidak
mengganggu? Dia duduk agak jauh.

Aku terus diam-diam melihat wajah kedunya untuk sementara waktu.

Mereka dalam kondisi yang benar-benar buruk. Bekas cambukan, memar dari diikat dengan
paksa dan dan banyak luka yang masih berdarah. Aku juga menerima perlakuan seperti ini di
masa lalu, tubuhku masih menggigil setiap kali mengingatnya.

Meskipun martabatku sebagai seorang wanita tidak disakiti untuk menghindari berkurangnya
harga jual*, itu masihlah waktu yang mengerikan. Jika aku tidak diselamatkan oleh Aria-sama,
entah bagaimana diriku akan berakhir.
[Artinya, Noel masih perawan]

Menakutkan....situasiku memang berbeda sekarang....Lalu, kenapa aku masih sangat gemetar?

"....Noel"

Dee mendekat dan menepuk bahuku. Walaupun ia memiliki wajah tanpa ekspresi seperti
biasa, aku dapat mengerti kekhawatirannya. Ini disebabkan karena ia tahu masa lalu yang ku
miliki, aku yakin dia ingin memberitahu 'Jangan terlalu memikirkannya'.

"....Aku baik-baik saja"

"....Baguslah"

Ya, benar, aku berbeda sekarang. Luka-luka dan memarku telah lenyap, dikelilingi oleh
kegembiraan bersama semua orang. Lupakan itu, dan berpikirlah tentang anak-anak ini. Apa
yang harus ku lakukan ketika mereka bangun?
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Memberitahu 'Tidak apa-apa, kalian aman sekarang'. Hmmm....itu terlalu umum, kan?

'Berdirilah, kau sampah!!'*....Itu kata-kata yang Sirius-sama sering gunakan, tapi....entah


bagaimana rasanya salah.
[Aku tidak menemukan terjemahan yg pas, jadi aku buat aja kayak gitu. Sepertinya, ini ucapan
yg Sirius selalu gunakan saat berlatih bersama Noel]

'Kalian beruntung'....tapi aku tidak bisa tiba-tiba mengatakan itu.

Namun, tetap saja aku benar-benar berpikir bahwa anak-anak ini beruntung. Saat-saat
menjadi budak pasti sangat buruk, tapi sekarang mereka sudah diselamatkan oleh Sirius-sama.
Keduanya bisa menghabiskan hidup penuh senyuman seperti diriku sekarang.

....Aria-sama dan Sirius-sama benar-benar ibu dan anak. Mereka berdua sama-sama
menyelamatkan budak dari ras binatang.

Kami mengamati dengan penuh perhatian kondisi kedua anak. Ketika Dee-san membuatkan
teh, aku tersadar kalau sudah waktunya untuk mempersiapkan makan malam. Aku juga tidak
melihat adanya perubahan kepada mereka. Mungkin akan baik-baik saja karena pernapasan
mereka cukup tenang. Dugaanku, kedua anak ini akan segera bangun.

Bersamaan dengan diriku yang berniat melaporkan situasi ke Sirius-sama, seseorang


mengetuk pintu.

"Hei, ini aku"

Master kami datang pada waktu yang tepat. Ketika Dee-san membuka pintu, bau lezat mengisi
seluruh ruangan. Tangan Sirius-sama memegang sebuah panci, aroma itu berasal dari sana.
Aaah, ini pasti lezat~~~.

"....Ingin mencicipinya?"

"I-Itu bagian untuk kedua anak ini, kan?"

"Aku membuat terlalu banyak, jadi tidak apa-apa. Namun, ini diperuntukkan bagi orang-orang
yang lemah, karena itulah rasanya tidak terlalu menonjol"
Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

"Kalau begitu, aku akan dengan senang hati menerimanya~~"

Sirius-sama mengerti diriku dengan baik. Aku mengambil sedikit sup coklat muda tanpa bahan
tambahan dan menuangkannya ke dalam cangkir.

Hmmm....rasanya memang agak kurang~. Tapi, itu bisa ditutupi oleh aromanya yang kaya,
membuat hidungku gembira. Lagipula, ini lembut~~. Perlahan-lahan menyebar di perut dan
menenangkan jiwa~~~....Begitu lah.

"Sirius-sama, tolong ajari aku resepnya"

Memasak juga mengalir dalam darah Dee-san, sehingga tidak mungkin dia tidak akan
menuntut. Makanan ini tentunya merupakan yang terbaik untuk seseorang dalam kondisi
lemah. Aku juga akan meminta untuk diajari nanti.

"....---Aaa....Uuuu"

"Ah?!"

Sementara kami memuji sup, gadis itu bangun. Apa ia terpikat oleh aroma makanan?

Pokoknya, awal sangatlah penting. Aku harus menyambutnya dengan benar. Wajar saja kalau
dia ketakutan ketika bangun lalu bertemu orang asing, hm-hm*.
[Manggut-manggut XD ]

Tenanglah, jangan panik, kau hanya harus mengatakan kata-kata yang sudah kau pikirkan
beberapa saat lalu.

Ini Mudah sekali~~.

"Hmmmm....Tidak apa-apa, kau aman sekarang. Kau benar-benar beruntung, bukan? Kau
sampah!!"

....Hah? Baru saja, aku mencampurnya?

☆☆☆Chapter 12 berakhir disini☆☆☆


Arc 2 – Encounters
Chapter 12 – Fateful Meeting

Catatan penerjemah=Bagaimana menurut kalian? Meskipun Noel merupakan sosok seorang


perempuan yg lucu (secara harfiah) tapi dia ternyata dulunya pernah mengalami siksaan
parah. Bagian ini mengajarkan agar kita lebih menghargai sesama, tanpa memandang siapa itu
^_^
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Chapter 13 – You’re The Chosen Ones


Bagian 1

"Hmmmm....Tidak apa-apa, kau aman sekarang. Kau benar-benar beruntung, bukan? Kau
sampah!!"

"---?"

Hei baru saja, itu kata-kata pertamamu setelah mereka bangun? Aku takut Noel menyebabkan
kebingungan yang tidak perlu, karena kesan awal sangat penting untuk menjernihkan
ketegangan.

Namun, darimana kata 'sampah' itu datang?

"....Apa yang kau ucapkan....?"

"Lidahku tergelincir! Aku tadi menatap mereka. Karena penampilan keduanya berantakan, aku
kebingungan dan tanpa sadar menyebut sampah!"

"---?!"

"Dengar, tarik napas dalam-dalam dan lihatlah anak itu lagi"

Dengan dia yang panik, anak ini tidak akan tenang.

Saat Dee dan aku melangkah agak kebelakang, Noel dengan kikuk mulai berbicara sambil
menggerak-gerakkan tubuhnya.

"Ah, eh....maaf. Umm....Kau baik-baik saja?"

"....A---u?!"

Sedikit terkejut untuk berucap, gadis itu menoleh ke sekeliling, panik mencari sesuatu.
Menyadari ada anak lain di sampingnya, ekspresinya agak melembut.

"Saudaramu, ya? Dia juga sudah aman. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"....Aaa....uuu---"

Noel lalu memastikan hal-hal satu per satu. Pertama untuk menenangkan gadis ini, kemudian
memastikan kondisi tubuhnya.

"Apa anak ini tidak mampu berbicara?"

"Setelah menyelamatkan mereka, aku juga memeriksanya. Mungkin itu hanya peradangan,
jadi dia harusnya bisa sembuh dengan cepat"

Untuk memastikannya lagi, aku mendekat dan melepaskan {Scan} tanpa disadari keduanya.

Selain memar dan luka yang meliputi tubuh, mereka juga terganggu dengan kelaparan dan
dehidrasi berat. Peradangannya takkan berlangsung lama, aku akan menyembuhkan
tenggorokan si gadis meskipun prosesnya nanti akan merepotkan.

Memahami kegugupan si gadis kecil, aku meninggalkannya untuk Noel sampai dia tenang
terlebih dahulu.

"Hei lihat, aku tidak memiliki kerah, kan? Orang-orang disampingku ini tidak akan
menyakitimu"

"....Ah?!"

Mendengar kata 'kerah', gadis itu mencoba menyentuh lehernya. Dan terkejut ketika tahu
benda logam yang mengekang kehidupannya disana sebelum dia pingsan sudah menghilang.

Di sisi lain, anak laki-laki itu juga bangun dan masih tampak linglung.

"Kau menyadarinya? Kau sekarang bisa lega karena kerah itu telah dilepas"

"A....u?"

"Dalam keadaan normal itu memang tidak mungkin, tapi berkat Master kami, semua menjadi
lancar. Oh iya, kau lapar, kan? Kami telah menyiapkan sup hangat, ini lezat"

"?!....Uu....uuu"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Gadis itu menumpahkan air mata kebahagiaan setelah mendengar bahwa kerahnya telah
menghilang. Dia lalu bereaksi terhadap kata 'sup'. Namun, anak laki-laki yang masih berbaring
menggeleng, seakan melarangnya menerima apapun.

Noel tampaknya mempertimbangkan reaksi mereka.

"Aku tahu, adikmu masih ragu-ragu. Nah, bisakah kita berbicara dulu?"

Diserahkan sapu tangan, gadis itu menyeka air matanya dan perlahan mengangguk. Sifat Noel
telah membantu mereka untuk menurunkan kewaspadaan.

"Aku Noel. Boleh aku mengetahui namamu?"

"....no*"
[Ini bukan 'No'=Tidak. Tapi dia memang belum bisa berbicara]

"Maaf, suaramu terlalu serak. Bagaimana dengan huruf? Kau dapat menulis? Um...."

Noel menengok ke arah Dee dan diriku untuk meminta bantuan. Mengingat sifatnya, dia
bukan tipe yang menyerah begitu cepat.

Dengan kesulitan besar, Noel kembali memperhatikan gadis itu.

"Astaga, bukannya Noel terlalu kebingungan? Dia memanggil Dee sementara tatapannya
mengarah padaku"

"Maaf"

Kenapa kau yang harus minta maaf?.

"Ummm, pria ini adalah Master kami, Sirius-sama. Apa kau mengingatnya? Dialah yang sudah
menolongmu"

"....Hm"

Masih agak waspada, gadis kecil itu menjawab dengan anggukan. Setelah Dee diam-diam
meninggalkan ruangan, aku mendekati Noel.
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Akan kuperkenalkan diriku lagi. Aku Sirius. Sesuai perkataan Noel, akulah Masternya dan
orang yang melindungi kalian"

"....?"

"Aku ingin memahami situasi kalian. Namun, kau belum bisa bicara, kan? Pertama-tama,
tenggorokanmu harus disembuhkan. Nah, aku bertanya-tanya bagaimana cara melakukannya"

"Sirius-sama adalah Master yang sangat ramah dan berhati lembut, sehingga tidak apa-apa.
Lihat, dia bahkan tidak marah dari sesuatu seperti ini"

Noel mengusap kasar kepalaku. Dia tahu bahwa tindakan ini adalah untuk menenangkan si
gadis kecil. Bahkan dengan wajah tanpa ekspresiku yang diperlakukan begitu dan ucapan
serampangan Noel sebelumnya*, gadis itu mengangguk lagi.
[Yg dimaksud disini adalah ucapan Noel tepat ketika si gadis bangun. Di bagian paling atas kalo
kalian ingin membacanya lagi]

"Terima kasih. Kalau begitu, biarkan aku menyentuh tenggorokanmu. Kau hanya akan merasa
sedikit panas tapi rasa sakitnya akan lenyap"

"....Y....ya"

Meskipun sedikit curiga, dia menyiapkan dirinya. Berkat itu, aku bisa melihat berbagai bekas
luka lecet menyedihkan. Aku akan menyembuhkan itu juga.

Menempatkan satu tangan di kepalanya, aku meresapkan Mana kedalam tubuh si gadis. Lalu,
dalam sekejap---

"Gaaaa!!"

"---!"

Mendadak, anak laki-laki itu menerjang dan menggigit lenganku.

"Sirius-sama?!"

"Tunggu!"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Noel hendak melepas anak itu, namun tanganku yang bebas terangkat untuk membiarkannya.
Mana-ku takkan menyebar kalau diriku masih berkonsentrasi. Ini agak menyakitkan, walaupun
rahangnya lemah, gigi taring nya sudah tumbuh seukuran orang dewasa.

"Ii---aa!"

"Jangan berbicara, kau akan menunda pengobatan Master kami"

Karena si gadis mencoba untuk menghentikan adiknya, proses penyembuhan menjadi tidak
stabil. Anak laki-laki ini pasti sedang putus asa. Sulit baginya---yang tertimpa segala
pengalaman buruk---untuk tiba-tiba berpikir rasional.

"Uuuu!"

"Sudah kuduga, ini agak merepotkan"

"Wah wah!! Sirius-sama, darah....!"

Gelembung darah keluar, berasal dari tempat gigi taring telah menancap. Rasa sakit berlanjut.
Namun, setingkat ini masih dapat ditahan.

"Kau, jika kau bisa bergerak, boleh aku memintamu untuk membelainya?"

"....?"

"Benar. Aku hanya akan bertindak tak peduli, kau lah yang harus menenangkannya"

Erina datang dan berdiri di depan pintu masuk, jelas dalam kekacauan sambil mengamati
situasi yang tidak menyenangkan. Anak ini bersikeras bertahan tanpa belas kasihan.

Setelah si gadis dengan perlahan membelai tubuh anak laki-laki ini selama beberapa menit, ia
berangsur-angsur melepas gigitannya.

"Kakak!! Kenapa aku harus berhenti?!"

"Nnn...."
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Aku tidak suka! Aku tidak mempercayainya!! Hei, jauhkan tanganmu dari kakakku!!"

Mencoba untuk menyerang sekali lagi, kali ini dia dihentikan oleh tangan kakaknya sendiri.

Tidak seperti si gadis, sifat memberontaknya masih kuat. Wajar ketika mempertimbangkan diri
mereka yang baru saja mengalami perbudakan.

Setelah adiknya benar-benar tenang, penyembuhan selesai. Akupun menarik tanganku.

"....Baiklah. Sekarang sudah tidak apa-apa. Katakanlah sesuatu"

"Hentikan! Ini tidak masuk akal!! Mereka sudah membuat kakakku tidak bisa bicara!! Dia
hanya akan sakit lagi!!"

"Tenggorokanmu harusnya telah sembuh. Cobalah dan gunakan suaramu"

Sementara anak laki-laki itu berteriak-teriak, aku tetap membujuknya. Mungkin keheranan
dengan kondisinya sendiri, si gadis mulai menarik napas.

"....Re, usu?"

"Kakak?!"

"Re, us....Reus. Kau, bisa mendengar suaraku?"

"Aku mendengarnya! Aku bisa mendengarmu, kakak!!"

"....Hiks....syukurlah~"

Noel membawa sapu tangan mendekati wajahnya yang dipenuhi aliran air mata, saat melihat
mereka berdua saling berpelukan. Tunggu sebentar, ada hal-hal yang harus dilakukan sebelum
kau menangis.

"Ingin sup?"

"Benar~! Siapkan sekaligus~!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Sebelum mendingin, aku ingin mereka makan dengan cepat.

Meraup sampai ke bagian bawah wadah, Noel menyajikan kepada kedua saudara bagian
mangkuk sup mereka dengan wajah tersenyum.

"Adikmu akhirnya tenang, jadi baik-baik saja sekarang, kan? Aku sudah membuat sup hangat
untuk kalian makan"

"Hmmm....ini, ini pasti tipuan! Ini sangat menjijikkan dan ketika kami memuntahkannya, kau
akan tertawa!!"

"Itu tidak akan terjadi. Lihat....um, lezat"

Haahhh, dia menuduhku lagi sedang menipu. Aku hanya bisa membuktikan dengan menelan
sesendok sup dari panci yang sama di hadapannya.

Disisi lain, Noel mengulurkan mangkuk kepada mereka dengan wajah agak serius tanpa
berkata apapun pada adegan yang terjadi di depannya.

"Aku pikir kalian berdua sudah banyak menderita. Namun, Sirius-sama berusaha sangat keras
demi kalian"

"Umm....kenapa melakukan ini untuk kami?"

"Kau bertanya alasan Sirius-sama menolong? Terlebih dahulu aku ingin kalian makan sebelum
mendengarkan penjelasan darinya"

"Yah, dia benar, makanlah. Itu akan mendingin"

Dengan bujukanku, gadis itu akhirnya menaruh satu suapan di mulutnya.

"....Enak"

"Oh, apakah itu benar, kakak? Ini bukan sesuatu yang beracun?"

"Ini sangat enak. Hangat, dan untuk pertama kalinya...."


Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Takut-takut mengangkat mangkuk ke mulutnya, butiran besar air mata lalu mulai mengalir.

"Sialan....kau. Apa-apaan....hiks, sial"

"....Sungguh....enak....u, uuu!"

Di pandanganku, semua belenggu yang menahan mereka sampai beberapa saat lalu, akhirnya
hancur berkeping-keping.

Mengabaikan penampilan dan rasa malu, keduanya mengeluarkan tangisan dalam suara keras.

Menangis dengan segenap kekuatan tanpa dapat ditenangan, hadiah ini datang untuk
membuat mereka paham kalau mereka takkan kesakitan lagi.

Menangis tanpa menahan merupakan cara yang baik untuk melepaskan seluruh beban berat.

"Kalian bisa mengandalkan kami di masa depan"

"Ya, silakan tinggalkan kepada kami~"

Membiarkan keduanya, aku diam-diam meninggalkan ruangan.

Tepat setelah mencapai lorong, diriku disambut oleh dua sosok, Erina dan Dee.

Erina lalu meraih tanganku sambil tersenyum lembut.

"Kerja bagus. Tapi jangan berlebihan melakukannya. Kalau bukan karena daya gigit seorang
anak, kau akan mengalami cedera serius"

"Yah, memang menyakitkan, tapi cederanya tidak begitu parah hingga kau harus khawatir"

"Tetap saja ini berdarah. Sekarang, giliranmu untuk untuk diobati. Aku tidak ingin terdengar
sinis, namun aku khawatir tentang infeksi"

"Tidak apa-apa, aku dapat membuat Mana-ku menyaring kotoran apapun di dalam darah.
Setelah lukanya mengering, pengobatan tidak diperlukan lagi"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Seperti yang diharapkan. Hanya saja ayo kita bungkus perban untuk berjaga-jaga"

Menggenggam tanganku, perban menyelimuti area cedera dengan cepat. Kasih sayangnya
berada di tingkat tinggi seperti biasa, dia tampak bahagia.

"Maaf Erina. Aku membawa keduanya tanpa berkonsultasi dulu"

"Permintaan maaf tidak diperlukan. Sebaliknya ini adalah hal yang baik. Sirius-sama memang
putra Aria-sama"

"Ibu?"

"Iya. Situasi sekarang berbeda, tapi Aria-sama membawa Noel dengan cara yang sama di masa
lalu. Penampilan dan keadaan mental mereka seperti ini"

Erina tertawa gembira. Tanpa mengetahui aku akan bertindak dengan cara yang sama seperti
ibu. Sejujurnya, aku benar-benar senang.

"Sirius-sama, apa yang kau berniat untuk lakukan dengan keduanya?"

"Apa yang aku berniat....kondisi rumah sekarang masih bisa menampung dan mengurus dua
orang lagi---"

"Sirius-sama"

Memotong ucapan itu, Erina meletakkan tangannya di bahuku dengan wajah penuh
ketegasan.

"Jangan keberatan dengan kami, tolong beritahukan perasaan jujurmu. Kami adalah petugas
yang akan melakukan apa yang kau inginkan"

"Bahkan jika aku meminta hal tidak masuk akal?"

"Bahkan jika kau meminta hal tidak masuk akal. Namun, kami tetap akan memperingatkanmu
kalau hal itu salah"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Astaga, orang-orang ini sulit untuk ku mengerti. Dengan ucapan Erina, sebagian besar rasa
bersalahku sirna.

"....Aku ingin melindungi mereka. Aku ingin melatih dan memberi mereka kebebasan"

"Keduanya tidak memiliki uang dan bahkan belum dewasa. Jujur saja, itu hanya akan menjadi
beban bagi kita semua. Namun kau tetap menginginkan ini?"

"Aku tidak peduli....Sejujurnya, ini bukan tindakan belas kasihan, melainkan untuk kepuasan
diri"

Sebagai guru mereka, aku harus memenuhi syarat. Aku mengerti ada perbedaan dalam
pertumbuhan karena ras, tapi aku bisa mengabaikan perbedaan ini dengan jumlah sihirku.

"Yah, begitulah, alasanku menolong keduanya. Apa itu buruk?"

"Aku pikir itu tidak baik. Namun ketika mendengar tangisan mereka yang tumpah seakan
membuang semua rasa sakit, menjadi sulit untuk berpikir begitu"

Tepat disaat tatapanku dan gadis itu bertemu, aku langsung merasa ingin melindunginya.

Selama diriku melihat seseorang terluka, pemikiran pertama yang terlintas adalah
mengobatinya.

Hal ini karena aku pernah mempunyai seorang siswa dalam hidup sebelumnya dengan mata
yang sama.

Aku memang terlalu sentimental, tapi itu baik-baik saja. Aku yang sekarang---bukan sebagai
orang tua dengan 60 tahun kesalahan---bermaksud untuk menjalani kehidupan secara
naluriah.

"Aku begitu nekat untuk melindungi orang lain, ya? Lagipula, aku kira dapat mempercayai
keduanya"

"Jika Sirius-sama mengatakan begitu, aku juga akan mempercayaimu....Dengan demikian, kau
akan menerima permintaanku untuk memberikan mereka pelatihan sebagai petugas?"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Pelatihan petugas? Aku tidak membawa keduanya agar mereka bisa menjadi pembantu"

"Sayangnya, aku tidak dapat memberi makan dua orang tambahan yang tidak melakukan apa-
apa. Sebuah rumah sekaligus makanan memiliki nilai masing-masing, sehingga mereka
setidaknya harus membantu pekerjaanku"

"Mm, benar juga"

Hanya pelatihan fisik atau pendidikan tidaklah cukup baik. Kami juga harus menyediakan
mereka dengan pengalaman menjadi seorang petugas.

"Aku malu mengakuinya. Baru-baru ini, pekerjaan menjadi lebih banyak dan terlalu
melelahkan. Kita membutuhkan lebih banyak petugas"

"Aku memang tidak keberatan, bagaimana menurutmu, Dee?"

Sebagai petugas di rumah yang sama, Dee akhirnya membuka mulut setelah lama terdiam
seperti patung.

"Kalau Erina memungkinkan, aku tidak keberatan"

"Jika begitu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengkonfirmasikannya kepada dua
bersaudara itu"

"Karena Sirius-sama menyelamatkan hidup mereka, aku pikir keduanya akan setuju"

"Aku merasa berkewajiban untuk mengajari mereka cara untuk hidup, tapi terlepas dari itu,
aku mengizinkannya"

"Uhuhu, sungguh baik hati ya. Benar-benar seperti Aria-sama"

Hentikan, aku malu saat menerima ucapan itu. Merasa canggung, aku kemudian memaksa
untuk mengubah topik obrolan.

"Sudah tiba waktunya makan malam. Persiapkan peralatan, Dee. Aku punya potongan daging
segar hari ini"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Apa kali ini hidangan baru? Aku akan bergegas dan menunggu di dapur"

"Benarkah? Hidangan baru berbahan utama daging ya? Aku ingin tahu resepnya juga agar bisa
membuatnya bersama Noel di waktu luang"

Aku berharap hidangan baru ini akan menjadi hal pertama yang menonjol untuk mereka. Aku
akan menargetkan serangan pertama ke perut keduanya.

☆☆☆☆

Bagian 2

Sekarang makanan sudah siap, semua orang berkumpul di ruang tamu.

Baiklah, aku akan mulai bertanya kepada mereka berdua.

"Apa ini?! Ini sangat renyah dan berlemak!! Selain itu, mayones di dalamnya adalah yang
terbaik!"

"Tenanglah"

Aku memang sengaja menciptakan adegan dimana Noel menikmati makanan tepat dihadapan
keduanya. Ngomong-ngomong, apa yang kuhidangkan adalah potongan daging terselip
diantara dua roti.

Sementara Noel gembira dengan mayones favoritnya, memperlihatkan di depan mereka


mungkin sebuah kesalahan. Keduanya tampak iri, bahkan Reus mulai mengeluarkan air liur
saat menghirup aroma daging.

"Ini akan buruk bagi tubuh, sehingga kalian tidak harus makan apapun"

"Aku tidak percaya padamu! Bukankah Oneesan* makan itu?!"


[Yg dia maksud ya Noel]

"H-Hei, Reus! Maaf untuk kekasaran adikku!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Jangan khawatir. Lagipula, apa hal terakhir yang kalian berdua makan?"

"Itu....bukan daging, kami memakan bunga liar yang bisa ditemukan di luar. Sup tadi
merupakan makanan pertama kami setelah waktu lama"

"Begitu ya. Tidak makan akan melemahkan organ internal. Kalau kau makan ini sekarang, kau
akan muntah-muntah"

"Aku tidak akan muntah!"

"Maaf! Maaf!"

Reus terus membuat pernyataan berani tanpa memahami situasi. Dapat ditebak, dia juga
bersikap seperti itu saat masih sebagai budak.

"Nah hmm, kalau suaramu terdengar sesehat itu, kau perlu bersabar untuk makan"

"Iya! Ah....M-Maaf...."

Gadis kecil, kau tampaknya juga ingin memakannya, tidak sengaja merespon dengan
bersemangat lalu merasa malu. Nah, kejujuran merupakan hal yang sangat bagus.

"Aku telah memperkenalkan diri sebelumnya, tapi haruskah aku memperkenalkan diri lagi?"

"Ya ya, siapa kau sebenarnya?!"

"Reus!"

"Tidak apa-apa. Aku Sirius, Master rumah ini"

Selanjutnya aku memperkenalkan Erina, Dee, dan Noel.

Selama perkenalan, Noel secara kebetulan tersedak disaat meminum beberapa teguk air, tapi
tidak sampai mempengaruhi aliran percakapan.

"Um, apakah Sirius-sama seorang bangsawan?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Untuk saat ini, memang seorang bangsawan. Walaupun begitu lebih baik kalian berbicara
santai denganku. Aku berbeda dari tipe orang kebanyakan"

"Alasan tersebut....La-Lagipula, aku Emilia. Meskipun terlambat, terima kasih untuk membantu
kami. Hei, kau juga"

"....Aku....Aku Reus"

Emilia dan Reus ya. Nada Reus dalam sekejap menjadi penurut, mungkin dia memikirkan
kembali tingkahnya begitu tahu diriku seorang bangsawan?

"Suaramu menjadi tenang, ya. Apa yang terjadi dengan rasa percaya dirimu sampai sekarang?"

"Uu, tutup mulutmu! Namaku Reus! Anak Phelios yang luar biasa kuat dan dibanggakan!!"

"Jadi, 'anak Phelios yang luar biasa kuat dan dibanggakan' tidak memiliki sopan santun untuk
mengucapkan terima kasih atas bantuan yang dia terima?"

"Uu?!"

Aku tidak terlalu ingin mengejeknya, tapi ini merupakan bagian dari mendidik. Meskipun dia
masih seorang anak, sikapnya tentang berterima kasih kepada penolongnya harus diperbaiki.
Para pelayan mendukung sisiku dengan tidak mengatakan apapun dan hanya menunggu
perintah.

"Ah, Terima....kasih"

"Mm, baik-baik saja. Dengan ini, perkenalan sudah selesai, apa kalian memiliki pertanyaan?"

"Ah, umm....apa yang akan terjadi pada kami setelah ini?"

Itulah yang paling membuatku khawatir juga. Daripada melanjutkan, kami perlu menghadirkan
pilihan apa yang ada.

"Aku tidak memiliki siapapun kecuali Reus. Tanpa orang tua, keluarga atapun kerabat, dan
tidak mempunyai uang. Oleh karena itu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Kalau begitu, Emilia dan Reus. Tetaplah tinggal disini sampai kalian sembuh sepenuhnya"

"Eh? Tapi kami berdua budak...."

"Tanpa kerah, seseorang bukan lagi budak, kan? Setelah sembuh ada 2 pilihan menanti kalian.
Pertama adalah pergi dari sini untuk melakukan apa yang kalian ingin lakukan. Yang kedua
adalah belajar cara untuk hidup dariku"

"Belajar.....itu?"

"Iya, aku akan melatih kalian sampai kuat dan memberikan pengetahuan untuk bertahan
hidup di dunia ini. Tentu, aku juga akan menyediakan makanan dan kebutuhan sehari-hari"

"Dia berbohong, kakak! Orang-orang dewasa itu juga berbicara seperti ini. Dia pasti memiliki
alasan tersembunyi!"

"Reus....tapi...."

"Apa kalian berdua tidak frustrasi?"

"A-Apa yang kau tahu?!"

"Bukankah kalian frustasi? Ingin melindungi satu sama lain, sayangnya tidak mampu bahkan
untuk lari terhadap seekor monster? Mendengar dari ucapanmu tadi, kalian pasti sering ditipu
oleh orang dewasa, kan?"

Dengan kata-kata itu, mereka menundukkan wajah merasa tak berdaya. Ini adalah pelajaran
pahit. Walapun itu mudah dilakukan.

"Hei, kau berkata tidak memiliki siapa-siapa kecuali adikmu. Jika kau ingin mampu
mempertahankannya, ikuti aku"

"....Kenapa....pergi sejauh itu untuk kami?"

"Tidak ada alasan. Kalau kau memaksaku untuk menjawab, itu hanya karena aku ingin. Anggap
saja sebagai keberuntungan"
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"....Baiklah, kami akan mengikuti Sirius-sama"

"Kakak?!"

Agak mengecewakan. Aku kira akan harus menekan sepanjang hari agar mereka bisa
memunculkan sebuah keputusan, hanya saja gadis kecil ini lebih proaktif dari yang diharapkan.

"Kami tidak punya pilihan lain, dan Sirius-sama mengatakan akan mengajari seseorang sampai
menjadi kuat, kan? Aku ingin menjadi kuat untuk melindungi Reus"

"A-Aku juga harus melindungi kakak!"

"Kemudian, Reus juga setuju? Selain itu, bukankah kau berpikir sikap itu akan membuatmu
menyerupai ayahmu sendiri?"

"Salah! Ayah lebih besar dan lebih kuat. Kau dan kita tidak sama dengannya!"

Oi oi, jangan bandingkan aku dengan dia. Karena aku terlihat berusia 6 tahun, aku tidak
merasakan hal yang sama untuk Reus, tapi Emilia tampaknya berbeda. Aku pikir dia hanya
seorang gadis tak berdaya, dia mungkin tak menyangka kalau ini merupakan hal baik.

"Bukan 'kau', itu Sirius-sama. Karena kau memutuskan untuk mengikutinya, kau harus
memanggilnya dengan benar"

"A-Aku mengerti, kakak. S-Sirius....-sama"

"Meskipun adikku tidak berguna, tolong perlakukan kami dengan baik, Sirius-sama"

Reus tampak enggan, namun keduanya diam-diam menunduk. Bagaimanapun, ternyata


berjalan cukup lancar. Setengahnya dipaksakan, untuk bisa mendidik lagi dan agar kedua anak
ini menerima perlindungan sampai mereka menjadi kuat adalah hubungan Win-Win. Aku tidak
bisa mengeluh.

"Aku memiliki berbagai pengalaman, tapi perlakukan diriku dengan baik juga. Ketetapan hatiku
tidak dapat setengah-setengah"

""Kami akan melakukan yang terbaik!""


Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

"Itu singkat....dan menunjukkan tekad kalian"

Ekspresi mereka segera melunak, kontras dengan penampilan yang masih lusuh. Yah, hal
terbaik bagi anak-anak adalah tersenyum. Memang hanya untuk sesaat, tapi beberapa hari
kemudian kedua anak ini akan mengatasi masa lalu mereka dan ceria lagi.

"Karena tampaknya percakapan telah selesai, tidak apa-apa kah bagi kami, keluarga*, untuk
menjelaskan?"
[Dia menjadi lebih sering mengaku keluarga setelah acara memasak nabe]

"Itu benar, aku akan menyerahkan sisanya kepada kalian"

Mereka harus mempelajari aturan-aturan keluarga dari Erina dan yang lain, yang pernah
berada dalam situasi serupa.

"Pertama penampilan kalian. Ambil obat ini dan lap badan kalian"

"Ini obatnya"

"Benar, dan ini air panas sekaligus handuk~!"

""Eh? Eh?""

"Selanjutnya pakaian, setelah mengambil pengukuran, ambillah beberapa tangan-me-downs"

"Baiklah....pengukuran selesai~!"

"Pakaiannya disini"

""Eeh?! Eeh?!"

Erina, Dee, dan Noel, menyesuaikan pakaian keduanya sementara mereka berdiri di sana
dalam keadaan linglung. Sejak cedera mereka benar-benar sembuh, sekitar 5 hari harusnya
cukup untuk memungkinkan pikiran mereka beradaptasi, kan? Tentu saja aku memasukkan ini
kedalam rencana pengobatanku.
Arc 2 – Encounters
Chapter 13 – You’re The Chosen Ones

Aku membentuk jadwal dibenakku ketika menyaksikan mereka sedang dipermainkan seperti
boneka yang dipasangkan baju.

Emilia:
Gadis berusia 7 tahun dengan rambut yang bersinar perak sebahu dalam potongan bob.
Dengan mata kecil dan prospek masa depan untuk tumbuh menjadi seorang wanita cantik.
Salah satu dari ras Serigala Perak di benua Adroad, putri Phelios.
Membantu dengan pekerjaan rumah tangga di desa dan seperti sesosok kakak yang peduli
kepada anak-anak.
Tidak menggunakan sihir, sehingga atribut-nya tidak diketahui.

Reus:
5 tahun, adik Emilia.
Tidak kalah dengan kakaknya yang gentar, seorang anak nakal berambut perak dengan sikap
yang mampu mengolok-olok langit.
Memiliki perbedaan kecil berupa potongan di ujung telinganya. Seperti tanda kucing yang
telah dikebiri.
Karena banyak komentar kurang ajar, aku harus mengajarinya secara menyeluruh sebelum aku
menempa dirinya.
Atribut tidak diketahui seperti kakaknya.

Baiklah, seperti sebelumnya, mendidik siswa membuat diriku bersemangat.

Hanya membayangkan potensi mereka membuatku senang.

Aku, Sirius.

Pada usia 6 tahun, akhirnya bisa mendapatkan 2 siswa.

☆☆☆Chapter 13 berakhir disini☆☆☆


Catatan penerjemah =
CHAPTER INI HANYA TERJEMAHAN SEMENTARA!!!! Kalian mengerti??? Sesungguhnya ini adalah
chapter yg membingungkan dari versi inggris. Sangat membingungkan. Karena itulah aku
menyesuaikan seluruh bagian dan membuat updatenya lama -_- . Ketika aku sudah
mendapat/memahami terjemahan yg pas, akan kuubah lagi (walaupun kurasa tidak terlalu
melenceng/hampir sama dengan ini)..... Sungguh membingungkan....
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Chapter 14 – The Road to Gaining Trust


Bagian 1

Desa ras serigala perak umumnya dapat ditemukan di berbagai sisi pada hamparan luas benua
Adroad

Salah satunya adalah desa barat, desa dimana Emilia dan Reus tinggal. Dikelilingi oleh hutan
lebat, itu merupakan sebuah tempat yang damai dengan mayoritas penduduknya bertahan
hidup menggunakan mata pencaharian berburu dan bercocok tanam.....atau begitulah dulu.

Dikatakan 'dulu' karena kabarnya desa itu telah lenyap dan runtuh tanpa meninggalkan jejak
apapun.

Sedikit lebih dari setahun yang lalu, Emilia dan Reus manikmati hidup terbungkus dalam
kedamaian....hingga suatu hari tempat tinggal mereka tiba-tiba diserang oleh kawanan monster.

Tentu, penduduknya tidak hanya diam dan melawan. Namun karena ada perbedaan sangat jauh
dalam hal jumlah, mereka terdorong sampai ke sudut. Meskipun ayah Emilia merupakan
seorang pemimpin kuat yang bertempur dengan gagah berani di garis depan, ia dimakan tepat
di depan mata putrinya sendiri, tanpa bisa menang menghadapi serbuan angka.

Reus, untungnya tidak melihat adegan tragis itu secara langsung di tempat kejadian, karena ia
bersembunyi dengan ibunya.

Seekor monster pun mendekati sosok kecil Emilia yang menangis, hanya saja ibunya melompat
dan menyelamatkannya dengan nyaris.

Walaupun terus melarikan diri, ketiganya berakhir dikelilingi oleh sekelompok monster. Ibu
mereka memutuskan untuk mempercayakan Reus kepada Emilia dan menerjang ke dalam
lautan bencana sendirian.

Berkat pengorbanan demi setitik waktu yang mengambil kehidupan ibu anak-anak ini, keduanya
mampu lolos dengan membawa nyawa utuh mereka....
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

....Menjauhkan diri dari desa, keduanya terus berjalan sementara tanpa petunjuk tentang arah.
Kelelahan pun menimpa tidak lama, dan mereka ditemukan oleh para manusia yang kebetulan
lewat.

Sayangnya, pertemuan itu bukanlah suatu berkah karena....orang-orang itu adalah pedagang
budak. Walaupun dianggap sebagai barang dagangan seharusnya cukup, ini adalah dunia yang
berbeda. Kedua anak tampaknya menerima perlakuan yang mengerikan. Tanpa diberi cukup
makanan, sudah termasuk hal biasa bila dihajar ketika bahkan sedikit menolak perintah.

Suatu hari, karena berulang kali menepis untuk dijual, orang-orang ini memberi makanan yang
sudah diracun secara rahasia agar Emilia tidak mampu berbicara. Reus yang juga makan,
berujung pada kondisi jatuh sakit. Karena itulah, ia menjadi curiga kepada orang lain dan enggan
untuk menerima apapun.

Hanya saja, agar tidak menyia-nyiakan pengorbanan kedua orang tua mereka, anak-anak ini
terus berjuang untuk tetap bernafas.

Hari demi hari kehidupan sebagai budak berlanjut. Tanpa disadari....setahun pun berlalu.

....Kemudian, takdir membawakan keduanya kesempatan untuk meloloskan diri.

Sewaktu di perjalanan, semua kereta pedagang budak diserang oleh segerombolan monster.

Setelah diusir dari tempat tinggal oleh hal kejam ini, sangat menyedihkan ketika mendapat
bantuan dari hal yang sama.

Memanfaatkan kebingungan, kedua bersaudara itu berlari dan berkeliaran di hutan sambil
dilanda rasa takut jika ditemukan.

Dengan kaki yang goyah, raga kewalahan juga terus menerus kehilangan Mana karena kerah.
Mereka malah berjumpa monster lain dan hanya bisa terus melarikan diri terselimuti keputus-
asaan. Pada akhirnya roboh karena telah mencapai batas stamina, kehilangan seluruh tenaga.

Di titik itulah diriku turun tangan.

"Ohh, jadi begitu alasan keduanya berada di sana, ya...."


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Beberapa hari setelah membawa anak-anak itu ke rumah, aku bersantai di kediaman Lior.
Setelah menyelesaikan pertempuran sengit beberapa saat yang lalu dalam jadwal pertarungan
hari ini, kami sekarang beristirahat sambil menikmati waktu minum teh.

Aku menjelaskan situasi keduanya karena si pria tua bertanya tentang asal usul mereka.

"Hmm, sekelompok monster menyerang desa anak-anak itu, ya? Dan setelahnya, kau berkata
mereka hidup sebagai budak? Sungguh tidak beruntung"

"Jujur saja. Meskipun cedera dan luka luar bisa dilenyapkan, akan sangat sulit untuk
menyembuhkan mental keduanya"

"Menyaksikan orang tuanya tewas di depan mata. Trauma mereka pasti dalam. Lalu, apa yang
akan kau lakukan?"

"....Terlebih dahulu, aku harus menciptakan hubungan baik dengan keduanya"

Anak-anak ini memiliki kemauan bulat untuk menjadi lebih kuat. Semakin kuat merupakan
faktor penting.

Hanya saja, masing-masing dari mereka memiliki masalah kecil.

Pertama, Emilia. Terlalu patuh karena dia memahami bahwa dirinya berutang kehidupan
padaku. Aku bisa saja memanfaatkan keadaan itu, namun akan terkesan kejam untuk
melakukannya karena mentalnya sangat tidak stabil.

Meskipun ia tampak seperti sosok kakak pemberani di depan adiknya, aku berkali-kali
menyaksikan dia diam-diam menangis ketika sendirian. Jika ketakutan dan kegelisahan tidak
disingkirkan, kesedihan karena kehilangan orang tua tidak akan sembuh dalam waktu dekat.
Tanpa mempunyai seorang pun yang dapat dijadikan bahan sandaran, dia terus menahan luka
yang terkubur jauh di kedalaman hati. Entah bagaimana, aku harus 'membebaskan' dirinya,
sebelum dia meledak karena hal-hal tersebut.

Reus adalah anak laki-laki yang kurang sopan, namun, itu hanya penampilan luar.

Dia mati-matian menyemangati diri sendiri demi melindungi kakaknya. Tapi kenyataannya
berbanding terbalik....dia sungguh ketakutan dan ingin lari. Setelah mengerti ini, terkadang
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Erina mendekatinya lalu memanjakan Reus ketika mereka hanya sendirian. Pemahaman
pelayanku itu benar-benar hebat, ditambah lagi jarak mereka semakin berkurang karena Reus
juga masih mencari sosok ibu sebagai seorang anak.

Hubungannya dengan semua penghuni rumah cukup bagus....Yah, setidaknya, dia


memberontak terhadapku. Mungkin disebabkan karena dia tidak bisa menerima kalau diriku
sangat dihargai oleh kakaknya dan Erina. Walaupun kemungkinan sifat itu bisa diselesaikan
setelah ia tumbuh sedikit, ini tidak akan menghilang kalau terus dibiarkan.

Intinya, ini semua karena kepercayaan anak-anak itu belum cukup.

Aku tidak bisa terus memotong sudut pada pelatihan yang akan dimulai setelah ini, kami akan
membutuhkan komunikasi tetap dalam kehidupan sehari-hari.

"Aku tidak berkata kalau mereka harus tersenyum selama pelatihan, tapi aku ingin mereka
setidaknya tersenyum ketika duduk untuk makan. Keduanya masihlah anak-anak"

"Yah, buat mereka mengayunkan pedang. Mungkin saja bisa berguna"

"Itu hanya kau, pria tua. Kau menggelikan"

"Hahahaha! Aku sangat sadar diri. Dan bagaimana kerasnya kau untuk mencapai kesimpulan
semacam itu tentangku"

"Lagipula, kau kalah. Aku akan mengangkat siswa-siswa yang dapat membuatmu iri, pria tua"

"Hmmm, aku akan menunggunya. Jadi, jika kau ingin mengajarkan mereka pedang, aku tidak
keberatan membantu"

"Ada saran itu juga, ya? Aku akan mempertimbangkannya....Kemudian, sudah waktunya untuk
pulang"

"Khawatir tentang siswa-siswamu, kan? Aku berpikir tentang pertandingan lain, namun apa
boleh buat"

Ngomong-ngomong, di lima puluh pertarungan dengan Lior, skor-ku tiga puluh kali menang, dua
belas kali kalah dan delapan kali seri.
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Pria tua ini, dia seorang bajingan yang lebih senang kalah daripada menang. Mengingat bahwa
dia sangat gembira menantang orang-orang kuat tanpa pernah kehilangan tujuan, individu yang
sulit dipahami.

Aku hampir tidak menang hari ini. Bahkan belakangan, Lior telah meraih kembali kekuatannya
dalam kecepatan normal. Aku mungkin akan dihajar dengan mudah kalau ceroboh sedikit saja.
Karena ia memungkinkan diriku untuk terus merasa tertekan, saingan semacam dia sangat
disambut.

Berpisah dengan Lior, itu sudah malam pada saat aku selesai dengan urusanku dan kembali ke
rumah.

Saat diriku turun dari langit dan memijak tanah di depan gerbang, aku melihat Noel dan Emilia
sedang membersihkan pintu.

Noel menatapku tanpa ekspresi yang berubah, sedangkan Emilia membuka kelopak matanya
lebar-lebar dalam keadaan tercengang.

"Selamat Datang di rumah~. Hei, Emi-chan, sambutlah juga"

"A....ah iya! Selamat datang kembali, Sirius-sama"

"Aku pulang. Kau bertindak agak aneh, apa terjadi sesuatu?"

"Tidak ada....Ah, kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya dia melihat sihir terbang Sirius-
sama"

"Oh, jadi begitu? Di ingat-ingat lagi, dia pingsan saat aku menyelamatkannya"

"....Apakah itu....sihir?"

"Begitu lah. Tindakan Sirius-sama selalu mengejutkan, jadi kau harus menyerah untuk
memahami orang seperti itu"

"Aku mengerti, Noel-san"

"Tidak bagus, poin dikurangi~!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Noel memanas sepenuh hati saat mengangkat jari. Poin dikurangi katanya, tapi aku tidak
melihat bagian mana dari percakapan mereka yang salah.

Mungkinkah itu adalah kesalahan yang hanya seorang pelayan bisa lihat? Sepertinya Noel telah
menjadi seorang senior baik.

"Aku lupa. Hmmm....onee-chan?"

"Bagus! Ya, ketika kau memanggilku, gunakan Onee-chan. Ada apa Sirius-sa---Aduh aduh
aduh~!"

Aku menyuruhnya membungkuk dan menghukum dengan cakar besi*. Terbaru favoritku.
[Gambarnya. Ini gerakan dimana kau meremas wajah pihak lain]

"Aduh~....wajahku menjadi lebih kecil. Tolong lebih perhatian padaku"

"Maaf, tapi memanggilmu onee-chan sangat tidak cocok, kan? Bisakah kau setidaknya
mengubah itu jadi 'senpai'?"

Meskipun tidak baik untuk memarahi senior di depan juniornya, tanganku tidak sengaja bereaksi
dari kebodohan yang keterlaluan.

"Tunggu, orangnya sendiri sudah menyetujui untuk itu. Benarkan, Emi-chan?"

"Ah iya. Aku tidak keberatan memanggilnya Onee-chan....aku kira"

Dia tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Namun, mereka tampak akrab, mungkin aku
harus membiarkan ini.

"Sirius-sama sedikit terlambat hari ini. Apa kau mencari sesuatu?"

"Aku harus mengamankan bahan-bahan untuk hidangan baru"

"Hoho~. Apakah itu manis? Apakah pedas?"

"Pedas, mungkin? Aku pikir akan membuat hamburger dengan kombinasi tofu dan daging
cincang"
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

"Hebat~!! Aku tidak benar-benar mengerti tapi aku akan menunggunya~!"

"Kau tidak memiliki rasa malu, kan?"

Saat aku memotong percakapan keduanya dengan senyum masam, aku berbalik, merasakan
tatapan yang berasal dari Emilia.

"Hmm. Ada apa?"

"Ah....tidak, tidak ada...."

"Hamburger Tofu sangat baik untuk kesehatanmu, sehingga makanlah yang banyak"

"Iya, baiklah"

Hmmm, dia memang mengikuti perkataanku, hanya saja akan mendadak gugup ketika berbicara
santai dengan topik yang remeh.

Kewaspadaannya masih tidak lenyap sepenuhnya, ya kan? Dari luar, dia cukup pulih untuk dapat
membantu pekerjaan. Aku sedang mempertimbangkan apakah harus mengambil tindakan
segera.

"Wow....Suatu rasa dunia baru telah dibuka kembali~"

Setelah makan malam, para petugas, yang selesai makan hamburger tofu, mengangguk puas.

"Berbeda dengan daging panggang biasa, ini sangat mudah untuk dimakan. Seperti yang
diharapkan dari Sirius-sama"

"Untuk sesuatu seperti tofu dapat menghasilkan rasa dan tekstur semacam ini. Hidangan yang
cukup mendalam, bukan~?"

"Baiklah. Sekarang aku akan mencoba untuk membuatnya juga"

"Iya, silakan saja, Dee"


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Berbeda dengan ketiganya yang memuji, dua pendatang baru tampak seperti mereka tidak
yakin untuk beberapa alasan. Sikap itu segera di sela oleh Erina.

"Bagaimana dengan kalian berdua? Sepertinya kalian tercengang untuk sejenak, dan sadar kalau
hidangan ini enak"

"Hmm....ya"

"M-Mungkin...."

"Kalau begitu, sampaikan itu dengan benar. Karena orang yang memasak makanan pasti akan
senang dipuji dan berterima kasihlah terlepas dari posisi mereka sebagai master atau petugas"

"Iya. Sirius-sama, makanannya sangat lezat"

"Sialan---....i-itu lezat...."

"Salah. Kalian tidak perlu secara paksa mengatakan itu, hanya ucapkanlah ketika kalian terus
terang berpikir bahwa ini lezat. Begitu saja sudah cukup"

Erina membantu dengan memberi mereka pelajaran moral tegas.

Namun, aku tidak mengerti. Meskipun Reus memberontak dalam segala hal, Emilia terlalu sulit
untuk dibaca. Dia tampak seakan-akan menjadi lebih murung seiring hari berlalu. Aku harus
lebih bergegas mengubah keadaannya.

"....Emilia, tolong datang ke kamarku setelah ini"

"---! Ah, iya!"

"Apa yang akan kau lakukan pada kakakku?!"

"Hanya hal biasa. Erina, jika kau tidak keberatan"

"Silakan tinggalkan kepadaku. Reus, mari kita membahas sesuatu sebentar"

"Tapi, kakakku, kakakku....aaaaah---!"


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Reus ditarik oleh Erina dan menghilang.

Walaupun dia bereaksi ragu-ragu, apa yang aku akan perbuat sungguh bukan hal mencurigakan
sama sekali.

"Kalian berdua, menjauhlah untuk sementara"

""Mengerti""

Suara dari Dee dan Noel menyelaraskan. Kompatibilitas keduanya sempurna.

Sebelum aku mencoba untuk kembali ke kamar, Noel memanggilku untuk berhenti dan
melayangkan senyuman sambil mengangkat jempol.

"Sirius-sama, dia seorang gadis yang baik jadi---aduh aduh aduh~! Jangan wajahku~~!"

☆☆☆☆

Bagian 2

Beberapa menit setelah kembali ke kamar, ketukan yang terkesan malu-malu terdengar.

"Masuklah"

"....Permisi"

Pintu terbuka, dan sosok Emilia datang dengan tampilan gugup.

Alih-alih pakaian malam, ia mengenakan jubah yang ukurannya terlalu besar. Sebelum aku
menyuruh, dia sudah melepasnya. Hanya mengenakan pakaian dalam, dia mengalihkan mata
penuh kecanggungan.

"Kalau begitu, berbaringlah di tempat tidur menghadap ke atas"

"....Y-Ya"
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Aku akan mengatakannya lagi, ini bukanlah perbuatan yang patut dipertanyakan.

Aku pikir tak ada yang lebih manis daripada gadis tujuh tahun. Untuk mengakhiri salah paham,
diriku sendiri masih enam tahun termasuk libido yang belum berkembang. Dengan kata lain, dia
dipanggil ke sini hanya bertujuan untuk membersihkan cicatrix-nya*.
[Gambar 1 / Gambar 2 google. Penjelasan entar diterangkan oleh Sirius]

Bekas luka gadis ini hanya disebabkan karena hal-hal seperti luka dan memar. Sehingga, bahkan
tanpa praktek medis yang kompleks seperti operasi bedah, entah bagaimana aku bisa
mengurusnya dengan Kontrol Regenerasi-ku*.
[Masih inget sewaktu Sirius menyembuhkan Fia??]

Kenapa harus membersihkan sisa-sisa cicatrix?

Ketika luka seseorang menghilang dengan penyembuhan diri, berbagai sel bekerja sama dan
memulihkan cedera, namun bahkan jika kulit di permukaan telah secara sempurna sembuh,
organisme yang disebut jaringan parut masih tetap didalam. Karena terlihat berbeda dari kulit,
tampak seperti bekas luka. Singkatnya, cicatrix bukanlah kulit di permukaan, itu menonjol
karena bagian dalam yang tidak normal.

Adapun kasus luka terbakar dan tertusuk, aku akan menghilangkannya untuk saat ini.

Aku mengalirkan Mana, menunjuk tepat disana. Ini adalah metode paksa yang memungkinkan
diriku untuk menghilangkan jaringan parut di metabolisme dan menghapus cicatrix-nya.
Kesampingkan Mana, ini dapat dilakukan hanya karena aku memiliki pengetahuan medis yang
diperlukan.

Walaupun mungkin akan lebih mudah kalau aku bisa menggunakan sihir pemulihan atribut air,
kecocokan 'Tanpa Warna'ku dengan atribut lainnya benar-benar buruk. Sampai-sampai aku
hampir diperas kering dalam upaya hanya untuk menggunakan {Api}.

Oh yah, atributku bukanlah masalah. Langsung saja mulai pengobatannya.

"Hari ini adalah perut dan sekitarnya. Aku akan menyentuhmu sekarang"

"....Silakan"
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Lengan, kaki dan bagian lain telah bersih. Sisanya adalah perut dan punggung, yang ditutupi oleh
pakaian.

Reus adalah seorang anak lelaki, sehingga beberapa luka kecil pada dirinya bukanlah masalah
meski dibiarkan. Lagipula aku hampir selesai dengan dia, tapi kulit gadis perlu ditangani dengan
benar. Aku menggunakan {Search} sementara berhati-hati menuangkan Mana.

Dia bertahan, menutup matanya, merona, menggeliat dan tergelitik dengan setiap gerakan
tanganku.

Menjaga pengobatan berlangsung tanpa pemikiran aneh-aneh yang bisa menghalangi, aku
merasa puas karena bekas luka di sekitar perutnya menghilang.

"Hm, bagus. Beginilah harusnya kulit seorang gadis"

"Terima....kasih"

"Selanjutnya adalah bagian punggung. Berbaliklah"

Setelah membuatnya tengkurap, ternyata ada banyak bekas luka di punggungnya juga.

Aku kira itu karena kekerasan secara naluriah dilakukan di belakang, namun bekas-bekas luka
ini agaknya terlalu menyedihkan. Menyingkarkan kekhawatiran, aku berbicara dengannya
sambil meneruskan perawatan.

"Apa kau sudah terbiasa hidup di sini? Noel bertindak semata-mata menurut perasaannya, jadi
aku kira orang lain mungkin kelelahan dengan itu"

"Ah iya! Aku diurus dengan baik. Noe-.....nee-san adalah sejenis...."

Kenapa dia bertindak begitu terlalu sopan? Dari pengalamanku, dia mungkin akan bertindak
begitu. Tapi aku pikir bahwa itu karena dia tertekan.

"Tolong katakan saja dengan jujur, jangan sungkan jika ada sesuatu yang terjadi"

"C-Cukup. Lebih dari ini akan terlalu jauh untukku"


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Sayangnya, pembicaraan tidak pergi ke mana pun. Dia hanya menjawab apa yang dia anggap
cukup. Meskipun aku ingin dia untuk menunjukkan perasaan sebenarnya, itu tidak berguna.
Kami harus memulai membentuk akrab.

Proses penyembuhan terus bekerja diiringi kesunyian. Bersamaan dengan bekas luka di
punggungnya yang hampir menghilang, aku menyadari terdapat satu cicatrix, agak berbeda di
bahunya. Bekas luka ini lebih seperti berasal dari gigitan daripada akibat benda tajam atau tanda
cambuk.

"Apa kau pernah digigit Reus? Aku harus menyembuhkan ini juga, kan?"

"Jangan!!!"

Saat aku menyentuh bahunya, ia mengambil jarak menjauh untuk memisahkan kami. Dengan
wajah terdistorsi dalam ketakutan, Emilia bernafas berat sementara menyembunyikan bekas
luka itu. Karena dia tampak akan lari setiap saat, aku menaruh tanganku dan berbicara perlahan.

"Dengar, aku tidak akan melakukan apapun. Aku juga tidak akan marah, jadi bicaralah"

"Ini....Ini tidak boleh...."

"Maksudmu untuk menghapus bekas luka itu, tidak boleh?"

Dia mengangguk berulang kali pada kata-kataku.

Setelah menghentikannya dari melarikan diri, dia sekarang menatapku untuk memohon agar
diriku duduk di tepi tempat tidur. Aku mengembalikan lagi nada seperti orang dewasaku ke
anak-anak, karena tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Mungkin saja dia bisa tenang kalau aku
memanggil Erina.

Untuk saat ini, aku harus menggali ke kedalaman hatinya.

"Bisakah kau ceritakan alasannya terlebih dahulu? Darimana luka ini berasal?"

"....Ibuku"
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Eh, kekerasan dalam rumah tangga? Seolah-olah. Namun, ada apa dengan ibunya yang
menggigit bahu putrinya?

"Kami, ras perak serigala, menggigit sesama....untuk mengekspresikan kasih sayang...."

Ini seperti persahabatan anjing yang menggigit satu sama lain, atau mungkin sesuatu seperti
anjing peliharaan dengan manja menggigit tuannya. Kalau dipikir-pikir, anjing yang telah
kuselamatkan di masa kecilku dulu sudah terbiasa untuk melakukan hal itu kepadaku.

"Menggigit bahu adalah bukti cinta....Ibu menggigitku....lalu melompat ke dalam kawanan


monster!!"

Dia mungkin mengingat kejadian itu.

Sosok ibunya yang menerjang ke kematian agar memungkinkan kedua bersaudara ini untuk
melarikan diri.

Butiran air mulai meluap dari sudut mata Emilia.

"Kenapa....untuk apa?!....Kenapa kau meninggalkan aku, ibu?! Ayah juga, kenapa?! Bukankah
kalian berkata bahwa kalian mencintaiku?! Datang kembalilah kalau kalian benar-benar
mencintaiku! Bahkan jika kalian mempercayakanku dengan Reus, itu terlalu berat! Aku kakak,
tapi ini tidak membuatku bahagia! Aku tak berguna kalau ayah dan ibu tidak ada di
sini!....Kenapa aku diperbudak?! Kenapa aku dipukuli?! Itu sangat menyakitkan!....Kenapa,
kenapa aku harus melalui hal seperti itu? Aku lelah....aku sudah lelah...."

Sambil menangis, ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya sendiri dan meringkuk
untuk melarikan diri dari semua pengalaman pahit.

Ini memang terlalu berat bagi anak tujuh tahun untuk bereaksi terhadap orang tuanya yang
meninggal tepat di depan mata.

Dia menahannya dengan baik sampai di sini, walaupun berjuang untuk berpura-pura menjadi
tanggug di depan adiknya.

"....Emilia"
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

"Tidaaakkk...."

"Emilia, dengarkan aku"

"---?!"

Aku mendekati gadis ini, yang menolak dan menepuk kepalanya---seperti pada momen pertama
kami bertemu.

"Apakah ibumu hebat dalam hal pertarungan?"

Dia menggeleng mendengar pertanyaan itu.

"Jadi, ibumu tidak kuat? Namun, dia secara sukarela melompat ke dalam lautan monster.
Menurutmu, kenapa dia sampai melakukannya?"

"....Aku tidak tahu"

"Agar kau bisa bertahan. Cobalah ingat ini, bagaimana wajah ibumu saat itu?"

"....Dia tersenyum...."

"Faktanya adalah....dia tidak menempatkan nilai dalam hidupnya sendiri demi melindungi kalian.
Bekas gigitan di bahumu cukup parah, bukankah itu bukti kalau cintanya padamu sangat
dalam?"

"....Ibu...."

"Kata-kata terakhir darinya, apa kau juga masih ingat?"

"....Hiduplah dengan kuat, aku....mencintaimu...."

"Kalau begitu....hiduplah. Jadilah kuat untuk hidup sampai bisa memenuhi harapan ibumu.
Selain itu, kau harus melindungi Reus, kan?"

"....Iya....adikku, aku harus melindunginya"


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

"Benar....Kau harus maju meskipun itu menyedihkan....Aku akan mengawasimu"

"Uuua....uuuaaaaaaa!!"

Dia datang dan menempel ke dadaku dengan kekuatan yang bisa disalah artikan sebagai
terjangan. Aku terkejut oleh dampak tak terduga, tapi entah bagaimana berhasil menahan
tubuhku sendiri dari terpental ketika memeluknya.

Di awal, aku mengusap rambutnya yang kusut juga pucat....dan kali ini, secara lembut sekaligus
perlahan, tanganku membelai setiap helai rambut perak mengkilapnya yang indah.

"Pasti sulit. Namun, itu semua baik-baik saja sekarang, menangislah sepenuh isi hatimu karena
tidak ada yang akan menyakitimu lagi di sini"

"....Iya....Iya...."

"Ringankan dirimu, kau akan dapat makan sampai perutmu kenyang di masa depan. Kau akan
bisa menjadi jauh lebih kuat. Pikiranmu juga akan menjadi kokoh seperti ibumu"

"Iya....Aku akan jadi....kuat"

"Bicarakan perasaanmu dengan jelas. Berkonsultasilah dengan kami ketika kau mengalami
masalah"

"....Aku akan bicara...."

"Temukan sesuatu yang kau ingin lakukan suatu hari nanti....Dan aku akan mendukungmu
pilihanmu"

"....Iya!"

Dengan kekuatan pelukannya semakin erat, dia terus terisak deras, menumpahkan semua yang
masih tertinggal.

Ketika dia, yang telah melepaskan seluruh beban, suasana berubah sekali lagi menjadi sunyi.
Pernapasan tidur damai pun terdengar.
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Wajar saja kalau seseorang akan kelelahan setelah menangis sebanyak itu, kan? Aku kira,
dengan ini hatinya akan menjadi ringan.

Menyeka wajahnya, yang tercakup dalam air mata dan ingus, aku membaringkan tubuhnya di
tempat tidurku, dan menyebarkan selimut untuk menutupinya.

Aku ingin membiarkan ini berlalu, karena sekarang merupakan pengecualian, dimana wajah asli
Emilia tidak terlihat oleh adiknya.

Setelah diriku keluar dari ruangan sementara berharap tidak membangun gadis yang sedang
tidur dengan wajah tenang, semua petugas kecuali Reus sedang menunggu di koridor. Mereka
harusnya gugup dari kebisingan dan tangisan kencang Emilia.

"Terima kasih untuk kerja kerasmu. Kabut yang mengelilingi hantinya pasti telah terhapus
dengan ini. Itu adalah perlakuan yang sangat baik"

"Entah bagaimana berhasil, tadi bisa saja gagal jika aku tidak melakukannya dengan benar"

Hasilnya ternyata bagus, tapi aku harus menggali luka lama yang ia belum pulihkan. Bahkan ada
kemungkinan pikirannya menggila karena tidak dapat bertahan kalau ini gagal. Namun, agar
kekuatan pikirannya bisa bertahan....untung saja, ada kasih sayang orangtuanya yang juga
berperan besar.

Apa wajah yang akan ia munculkan besok? Aku harap dia tersenyum secara tulus.

"Namun, Sirius-sama, kau benar-benar seorang pembunuh wanita. Emi-chan pasti sudah
terserang setumpuk cinta~"

"Kau tahu, aku hanya terikat dengan dia seperti orang tua. Bukan melakukannya demi hal bodoh
seperti ingin membuatnya sebagai kekasihku"

"Tidak tidak tidak, seorang wanita yang terserang cinta tanpa menolak akan bereaksi seperti itu"

"Kalau memang begitu, aku berencana melakukan pelatihan yang kurangcang khusus untuknya
dalam beberapa hari. Kesibukan akan membuat Emilia berhenti memikirkan perasaannya
padaku"
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

"Ah! Kau akan melakukan itu? Oh, ayolah~, kau harus sedikit lebih ramah dengan mereka....itu
tidak bisa, ya?"

Wajah Noel membiru saat dia ingat pelatihanku yang biasa. Dia mulai bersimpati kepada dua
bersaudara.

"Lagipula, Bagaimana dengan Reus?"

"Meskipun anak itu tidak di tingkat Emilia, ia telah memuntahkan apa yang menumpuk dalam
berbagai cara dan tertidur"

"Begitukah? Maaf, aku menganggap kalau diriku yang membawanya, juga yang harus
melakukannya tapi...."

"Dia mencari orang tua jadi aku harusnya memenuhi syarat, tidakkah Sirius-sama setuju? Selain
itu, wajah tidur Reus agak lucu"

"Kau memang cocok sebagai ibu, Erina. Aku juga menganggapmu begitu"

"---?! T-Terima kasih banyak!"

Erina menjuntai kepalanya dalam-dalam dan bersukacita. Kenapa dia berterima kasih padaku?
Nah, terserahlah.

"Sekarang, di mana aku akan tidur malam ini? Emilia menggunakan kamarku---"

"Kemudian, kau bisa tidur di kamarku"

Begitu cepat, Erina! Kau mengangkat tangan bahkan sebelum aku selesai berbicara?.

"Tidak, aku baik-baik saja dengan sofa di ruang tamu. Aku akan menyiapkan selimut"

"Itu tidak baik. Aku tidak, sangat tidak setuju, membiarkan Masterku tidur di tempat semacam
itu. Aku yang akan tidur di sofa"

"Aku tidak ingin kau tidur di sana, kau baru saja kelelahan, Erina....Sebuah ruang untuk dua
orang, ya...."
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Hei, pasangan petugas. Kenapa kalian mengalihkan pandangan ke kejauhan? Dan si telinga
kucing di sana, jangan bersiul jika kau tidak dapat melakukannya.

"Kamarku sangat berantakan jadi...."

"Aku pikir aku harus tidur di samping Emi-chan. Aku akan kesepian ketika bangun sendiri, kau
tahu~?"

"Kalau begitu, kamarmu kosong, kan? Aku akan meminjam tempat tidurmu, Noel"

"Tidak!! Itu---....banyak rambut ekorku rontok akhir-akhir ini dan kasurku penuh dengan itu"

Alasanmu yang mengada-ada benar-benar buruk. Aku terjebak dalam motif tersembunyi. Ini
semacam ITU, kan?

"Kalau begini....Erina, maukah kau tidur bersamaku?"

"Iya! Baiklah, aku akan pergi mempersiapkan tempat tidur tanpa penundaan"

Senyum tersebar di seluruh wajahnya. Aku berharap dia hanya berjalan, tapi dia kembali ke
kamarnya tiga kali lebih cepat dari yang biasa.

"Ini masih sedikit lebih awal tapi aku juga akan bersiap untuk tidur. Sirius-sama, aku akan
meminjam kasurnya terlebih dahulu"

"Aah, ya, lakukan apa yang kau inginkan"

Aku sudah kewalahan untuk beberapa alasan. Berpikir tentang hal ini dengan benar, wajar saja
bagiku untuk kelelahan setelah bertarung melawan Lior hari ini, kan?

Aku hanya akan pergi tidur karena sepertinya persiapan Erina hampir selesai.

"Sirius-sama"

"Ada apa, Dee?"


Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

"Maafkan intervensi tidak sopanku. Tapi, tentang kedua anak itu....kau tidak melakukan sesuatu
yang salah dengan mereka, Sirius-sama"

"Apakah begitu?"

"Memang. Setidaknya, kedua anak ini bisa hidup lebih baik di bawah bimbinganmu. Kalau
dibiarkan, mereka pasti takkan pernah bahagia"

"....Terima kasih"

Dengan bungkukan, Dee menyimpulkannya dan kembali ke kamarnya sendiri.

Benar....aku memang tidak tahu bagaimana masa depan keduanya akan berubah, aku hanya
yakin itu akan berubah sesuai dengan caraku mendidik mereka.

Yang terbaik adalah membiarkan anak-anak untuk menemukan jalannya sendiri. Mereka harus
dibimbing, sehingga tidak memilih jalan yang berujung pada kehidupan penuh penyesalan.

"....Hei....aku cemas kalau ditatap terlalu lama, jadi...."

"Aku sangat menyesal. Hanya saja, aku tidak bisa tidur jika tidak menghadap ke sisi ini"

"Jangan berbohong"

Malam itu, Erina terus mengawasiku dengan ekspresi gembira.

☆☆☆☆

Bagian 3

Seperti sebelumnya, langit pagi di waktu awal hanya sedikit cerah.

Aku menyingkir dari kasur, berusaha untuk tidak membangunkan Erina yang masih tidur di
sampingku. Barganti baju dengan pakaian olahraga di ruang tamu terlebih dahulu, dan
menghirup banyak kelembaban lalu pergi keluar.
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Meregangkan badan, aku mulai lari pagi dengan giat. Menghiraukan tubuhku yang melonggar.

Karena berlarian di halaman, aku pergi dengan berjingkat, mempertimbangkan orang-orang


yang sedang tidur. Ini juga merupakan bagian dari pelatihan. Aku secara bertahap menjadi cepat,
dan ketika tubuh cukup hangat, aku mengaktifkan {Boost} dan melesat ke arah hutan.

Tanpa terbang di langit, aku memanfaatkan pepohonan sebagai hambatan, dan melaju
melewatinya tanpa kehilangan kecepatan. Sambil menendang cabang-cabang, melompati
sungai, menginjak monster, terbang di atas tebing, dan mendakinya. Tujuanku adalah puncak
dataran tertinggi di lingkungan.

Menonaktifkan {Boost}, aku memulai pelatihan otot yang menekankan pada push-up, sit-up,
dan berlari. Ini adalah pelatihan oksigen rendah pada dataran tinggi.

Ketinggian di sini kira-kira 3.000m (DPL*). Oksigen di dataran tinggi cukuplah rendah, jadi
sebagian tekanan berkurang dan menempatkan beban besar pada tubuh, efek dari pelatihan ini
merupakan pengembangan cepat. Aku melakukan itu karena tampak menimbulkan daya tahan
juga.
[Dari Permukaan Laut]

Ngomong-ngomong, guruku sering membuatku melakukan itu di sebuah gunung bersalju, di


mana ketinggiannya melebihi 5000m. Aku serius berpikir akan mati, dan itu hanya satu kasus di
antara banyak lainnya.

Sekitar satu jam berlalu, aku memutuskan pulang karena waktu untuk sarapan mendekat.

Diriku kembali menuruni gunung saat terbang di langit dan secara bertahap mengurangi
ketinggian. Kalau aku turun dengan terburu-buru, perbedaan tekanan atmosfer dapat
menyebabkan kelainan pada tubuhku.

Itu semua adalah menu latihanku di pagi hari.

Program latihan fisik berakhir tepat ketika tiba di rumah.

Dukungan sihir dalam mengurangi gerakanku benar-benar membantu. Kalau bukan karena sihir,
aku akan harus mendaki gunung dan menuruninya dengan bekerja keras.
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Ketika menepis keringat yang menetes menggunakan tangan, aku merasa sesuatu yang aneh
dari pintu masuk. Erina biasanya menawarkanku secangkir air dan handuk setelah latihan.
Sementara kepalaku dilanda kebingungan di kejadian tidak biasa, telingaku menyaring langkah
kaki dari suatu arah, membuatku secara reflek berbalik.

"Apa kau kesiangan? Ini sangat tidak biasa darimu, Erina---Hmm?"

"Ah, selamat pagi. Sirius-sama"

Yang berdiri di sana bukan pelayan keibuan dirumah melainkan Emilia. Dia membawa secangkir
air dan handuk di tangan sambil tersipu dan menengok gugup ke bawah.

Oh, yah, dia pasti akan begitu karena peristiwa kemarin mungkin memalukan baginya. Apa dia
berusaha untuk mendapatkan simpatiku?

"Selamat pagi, Emilia. Bisa kau memberiku handuk?"

"Ah iya! Silahkan!"

Disaat bersamaan menerima handuk yang dia ulurkan dengan tergesa-gesa dan menyeka
keringat, aku bisa merasakan tatapan. Walaupun dia juga menatapku dengan wajah merona,
apa yang menonjol adalah....empat wajah dari balik sebuah pohon di sudut penglihatanku.

....Apa yang orang-orang itu lakukan?

"Bertahanlah, Emi-chan~!"

"Sialan, kakak dengan laki-laki itu---Mmmhmhm!"

"....Diamlah"

"Ahhh, masa muda"

Aku bisa mendengar mereka dengan memperkuat indra pendengaranku....sungguh


menyakitkan~.
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Aku menembakkan keluar kilatan {Impact} di pohon sebagai ancaman dan mereka menyebar
seperti merpati.

"Silakan ambil minuman ini juga"

"Ah, baiklah, aku akan mengambilnya"

Minuman hangat lebih baik daripada minuman dingin setelah latihan, tapi anak ini sepertinya
sudah mengetahui itu. Setelah meneguk perlahan-lahan, Emilia menjadi sangat diam pada saat
aku mengembalikan gelasnya.

Mengambil beberapa napas dalam-dalam, mengangguk sekali, dia lalu membungkuk dengan
segenap tenaga.

"Tentang kemarin....Terima kasih banyak!"

"Kau agak baikan sekarang?"

"Iya! Rasa malu masih ada, tapi aku sudah merasa baik-baik saja"

Sama seperti kata Emilia, aku tidak merasa jejak suasana kepura-puraan dari kemarin. Wajahnya
memang masih merah, hanya saja dia memiliki ekspresi tenang dan segar.

"Walaupun masih tersisa sedikit kesedihan, sekarang sudak baik. Aku akan menjadi lebih kuat.
Aku ingin menjadi kuat seperti ibu dan ayah. Oleh karena itu, sekali lagi, tolong. Tolong buat
diriku kuat!!"

"....Maukah kau mengikutiku? Pelatihan ini lebih keras daripada di waktu dirimu sebagai budak.
Apa itu masih baik-baik saja?"

"Iya! Aku akan mengikutimu, Sirius-sama!!"

"Begitu ya, kau sudah mengatasi trauma kematian orang tuamu"

"Ah...."
Aku secara spontan menepuk kepala Emilia, membuat gerakannya berhenti sesaat. Dia lalu
menyipitkan mata....
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

"....Hehe"

....Dan tertawa untuk pertama kalinya.

Gadis muda yang membangkitkan senyum bagaikan bunga terindah. Ya, seperti yang aku pikir,
hal terbaik bagi anak-anak adalah tersenyum.

Ngomong-ngomomg, Emilia berasal dari ras serigala perak jadi dia memiliki ekor lebat. Itu
sekarang berayun dengan kekuatan yang menakjubkan setiap kali aku mengelus kepalanya.
Bertanya-tanya apakah dia menyukai ini, aku berhenti menepuk untuk bereksperimen.

"Ah...."

Ayunan ekornya berhenti. Selain itu, ia memiliki ekspresi sedih. Akupun menepuknya lagi.

"Hehehehe"

Dan kembali melambai. Ini buruk, terlalu lucu, seperti sebuah saklar. Aku bereksperimen dengan
kekuatan lebih, dan menepuk dengan tekanan yang mengkusutkan rambutnya.

"Kyaaa---!"

Memungkinkan jeritan indah dan ekornya melambai puas dengan kecepatan yang memberikan
suatu afterimage. Seseorang biasanya tidak menyukai itu bila dilakukan dengan gegabah, kan?
Dan rambutnya juga semakin terobrak-abrik, jadi kenapa ini?

Aku berhenti di titik itu karena, mungkin saja 'kecanduan hal-hal manis'. Meskipun dia kecewa
ketika tanganku menjauh, aku harus bertahan....ya, aku harus. Perasaan itu mereda ketika
mencoba untuk berbicara sambil menghadap dirinya selama sarapan, dan datang ke realisasi.

"....Sirius-sama...."

....Hmmmmm....Tunggu sebentar....

....Matanya, untuk beberapa alasan....dia mempunyai tatapan seorang gadis yang telah jatuh
cinta.
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Aku ingat perkataan yang Noel lontarkan tadi malam.

"(Namun, Sirius-sama, kau benar-benar seorang pembunuh wanita. Emi-chan pasti sudah
terserang setumpuk cinta~)"

Tidak tidak tidak!! Tunggu dulu!!

Ini pasti tampak seperti aku mencoba untuk menghiburnya, tapi tidak berencana agar hal-hal
berubah ke arah sana. Aku hanya berencana untuk menjadi pengganti orangtuanya, aku
membayangkan diriku sebagai sesuatu seperti wali.

Aku mengambil seorang gadis kecil yang mirip dengannya dalam hidupku dulu, dan
menghiburnya dengan ucapan serupa dengan yang kuberikan pada Emilia....Dipanggil ayah pada
hari berikutnya, bersama dengan dia seperti orang tua sungguhan.

Karena itulah Emilia harusnya juga berakhir ke situasi yang sama, sehingga....tunggu, seorang
ayah?

Diri dari kehidupanku sebelumnya....berusia lebih dari 60 tahun. Pihak lain berusia sekitar tujuh
tahun.

Diriku yang saat ini....berusia enam tahun. Pihak lain berusia tujuh tahun.

....Ini adalah perkembangan sempurna Boy Meets Girl*.


[Ini maksudnya kayak adegan pertemuan tipikal dari manga atau anime. Seorang lelaki
menolong perempuan, dan voila!! Muncullah cinta XD ]

Lebih seperti perbedaan usia dengan anak bukan seorang ayah, ya kan?! Tentu saja dia jatuh
cinta ketika dipeluk lembut di saat dirinya dalam situasi lemah*!!!
[Cara Sirius, 100% berhasil XD]

T-Tidak, dalam hal apapun, yang penting adalah aku berhasil mendapatkan kepercayaan dirinya.

Mengatasi masa lalunya, dari sini, dia akan semakin kuat. Dia bisa melakukan pelatihan khusus
dengan benar tanpa berpikir tentangku jadi itu semua bagus, kan?
Arc 2 – Encounters
Chapter 14 – The Road to Gaining Trust

Sebagai seorang guru, merupakan hal normal bagiku untuk bergaul dengan siswaku. Ya, Ini
benar-benar normal.

"Aku mencintaimu, Sirius-sama"

....Hmmmmmmm....Aku pergi terlalu jauh.

☆☆☆Chapter 14 berakhir disini☆☆☆

Catatan penerjemah =
Dengan ini, kunyatakan vol 2 World Teacher, selesai!! Woohooo~ ^_^ mulai ke arc baru