Anda di halaman 1dari 39

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar Penyakit

Dalam keadaan normal kehamilan akan terjadi di intra uterin, nidasi akan terjadi

pada endometrium corpus uteri. Dalam keadaan abnormal implantasi hasil

konsepsi akan terjadi di luar endometrium rahim disebut kehamilan ekstrauterin.

Kehamilan ekstrauterin tidaklah identik dengan kehamilan ektopik karena

kehamilan pada pars interstisial tuba dan kehamilan pada canalis servikalis

masih terdapat dalam rahim namun jelas sifatnya abnormal dan ektopik.

1. Definisi

a. Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro ( 1997 : 323 )

“Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana sel telur yang dibuahi

berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium cavum uteri .“

b. Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro ( 1997 : 323 )

“Kehamilan ektopik tidak sinonim dengan kehamilan ekstaruterin karena

kehamilan dipars interstisial tuba dan canalis servicalis masih termasuk

dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik. “

c. Prof. dr. Rusman Mochtar, MPH ( 1998 : 226 )

“Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan hasil konsepsi

berimplantasi di luar endometrium rahim. “


8

d. Prof. dr. Rusman Mochtar, MPH ( 1998 : 226 )

“Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan ektopik yang terganggu

dapat terjadi abortus atau pecah dan hal ini dapat berbahaya pada wanita

tersebut.“

e. Prof. dr. Abdul Bovi Saifudin, SPOG. MPH ( 2001: 152 )

“Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi

implantasi terjadi di luar endometrium cavum uteri“.

Hampir 90% kehamilan ektopik terjadi dituba uterin kehamilan ektopik

dapat mengalami abortus atau ruptur apabila masa kehamilan berkembang

melebihi kapasitas ruang implantasi dan peristiwa ini disebut kehamilan

ektopik terganggu.

Dari ke – 5 pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian

kehamilan ektopik ialah kehamilan yang setelah terjadi pembuahan akan

tumbuh dan berimplantasi di luar endometrium cavum uteri dan

kehamilan ektopik terganggu bila masa kehamilan melebihi kapasitas

ruang implantasi dan selanjutnya dapat terjadi ruptur.

2. Etiologi

Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar

penyebabnya tidak diketahui. Tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan

telur di bagian ampula tuba, dan dalam perjalanan ke uterus telah mengalami
9

hambatan sehingga pada saat nidasi masih dituba, atau nidasinya dituba

dipermudah.

Faktor – faktor yang memegang peranan dalam hal ini adalah sebagai berikut :

a. Faktor dalam lumen tuba

1) Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga

lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu.

2) Pada hipotesa uteri lumen tuba sempit dan berkeluk – keluk dan hal ini

sering disertai gangguan fungsi silia endosalping.

3) Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi

sebab lumen tuba menyempit.

b. Faktor pada dinding tuba

1) Endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi

dalam tuba.

2) Divertikel tuba kongenital dapat menahan telur yang dibuahi di tempat

itu.

c. Faktor di luar dinding tuba

1) Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat

menghambat perjalanan telur.

2) Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempit lumen tuba.


10

d. Faktor lain

1) Migrasi telur ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri

atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke

uterus.

2) Fertilisasi In Vitro

3. Patologi

Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi dituba pada dasarnya sama

dengan halnya dicavum uteri. Telur dituba bernidasi secara kolumner atau

interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi

jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya

vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian diresorbsi.

Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping.

setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh

lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis.

Karena pembentukan desidua dituba tidak sempurna malahan kadang-kadang

tidak tampak, dengan mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk

ke dalam lapisan otot – otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh

darah.

Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti

tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan banyaknya perdarahan yang


11

terjadi oleh invasi trofoblas. Di bawah pengaruh hormon estrogen dan

progesteron dari korpus luteum graviditatis dan trofoblas, uterus menjadi

besar dan lembek. Endometrium dapat berubah pula menjadi desidua.

Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi dan

kemudian dikeluarkan berkeping – keping, tetapi kadang – kadang dilepaskan

secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu

berasal dari uterus dan disebabkan oleh pelepasan desidua yang degeneratif.

4. Klasifikasi

Menurut Titus klasifikasi pembagian tempat – tempat terjadinya kehamilan

ektopik adalah :

a. Kehamilan Tuba

b. Kehamilan Ovarial

c. Kehamilan Abdominal

d. Kehamilan Tuba Ovarial

e. Kehamilan Intra Ligamenter

f. Kehamilan Servikal

a. Kehamilan Tuba

Dinding tuba merupakan lapisan luar dan kapsularis yang merupakan

lapisan dalam dari hasil konsepsi, karena Tuba tidak dan bukan

merupakan tempat normal bagi kehamilan, maka sebagian besar

kehamilan tuba akan terganggu pada umur 6 – 10 minggu kehamilan.


12

Dan nasib hasil konsepsi bisa :

1) Mati dan kemudian diresorbsi

2) Terjadinya abortus tuba, ibu mengalami keguguran dan hasil konsepsi

lepas dari dinding tuba kemudian terjadi perdarahan yang bisa sedikit

atau banyak.

3) Terjadi ruptur tuba

Bila robekan kecil maka hasil konsepsi tetap tinggal dalam tuba,

sedangkan dari robekan terjadi perdarahan yang banyak. Bila

robekan besar, maka hasil konsepsi keluar dan masuk dalam rongga

perut.

b. Kehamilan Ovarial

Perdarahan pada ovarium ini dapat disebabkan bukan saja oleh pecahnya

kehamilan ovarium, tetapi bisa oleh ruptur kista korpus luteum, torsi dan

endometriosis.

Stux membagi kehamilan ovarial menjadi :

1) Intra Folikuler (nidasi pada folikel )

2) Superfisial ( implantasi pada permukaan ovarium )

3) Interstitial ( pada pars interstitialis ovarium )

c. Kehamilan Abdominal

Menurut cara terjadinya bisa dibagi menjadi primer, yaitu implantasi

terjadi sesudah dibuahi langsung pada peritoneum atau cavum

abdominal dan sekunder yaitu bila embrio yang masih hidup dari tempat
13

primer, misalnya karena abortus tuba atau karena ruptur tuba, tumbuh

lagi di dalam rongga abdomen.

Kehamilan abdominalis mencapai aterm dan anak hidup, hanya sering

menjadi cacat tubuh. Biasanya fetus sudah meninggal sebelum cukup

bulan, yang kemudian dapat mengalami degenerasi.

d. Kehamilan Servikal

Adalah kehamilan dimana nidasi terjadi pada kanalis servikalis, sehingga

dinding serviks menjadi sangat tipis dan membesar. Terdapat tanda-tanda

hamil muda yang jarang berlanjut, biasanya hanya sampai 3 – 4 bulan

kehamilan sudah terganggu dan terjadi perdarahan pervaginam yang

kadang kala bisa hebat, Sehingga untuk terapinya perlu dilakukan total

histerektomi.

5. Diagnosis

Kesukaran membuat diagnosa yang pasti pada kehamilan ektopik belum

terganggu demikian besarnya, sehingga sebagian besar penderita mengalami

abortus tuba atau ruptur tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Alat bantu

diagnostik yang dapat digunakan ialah ultrasonografi, laparoskopi atau

kuldoskopi
14

Diagnosa kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak tidak banyak

mengalami kesukaran, tetapi pada jenis menahun bisa sulit sekali. Untuk

mempertajam diagnostik, maka pada tiap wanita dalam masa reproduksi

dengan keluhan nyeri perut bagian bawah atau kelainan haid, kemungkinan

kehamilan ektopik perlu dipikirkan.

Pada umumnya dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan yang cermat

diagnosa dapat ditegakan, walaupun biasanya alat bantu diagnosa seperti

kuldosintesis, ultrasonografi dan laparoskopi masih diperlukan

a. Anamnesis

Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang – kadang

terdapat gejala subjektif kehamilan muda. Nyeri perut bagian bawah, nyeri

bahu, dapat dinyatakan. Perdarahan pervaginam terjadi setelah nyeri perut

bagian bawah.

b. Pemeriksaan Umum

Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut

tanda – tanda syok dapat ditemukan. Pada jenis ini tidak mendadak, perut

bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan.

c. Pemeriksaan Ginekologi

Tanda – tanda kehamilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks

menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit

membesar dan kadang – kadang tumor disamping uterus dengan batas yang
15

sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nyeri raba

menunjukkan adanya hematokel retrouterina. Suhu kadang - kadang naik,

sehingga menyukarkan perbedaan dengan infeksi pelvik.

d. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dan jumlah sel darah merah berguna dalam

menegakan diagnosa. Kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada

tanda – tanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus jenis tidak

mendadak biasanya ditemukan anemia, perhitungan leukosit secara

berturut-turut menunjukkan adanya perdarahan bila leukositosis meningkat.

Pada umumnya dilatasi dan kerokan untuk menunjang diagnosis kehamilan

ektopik tidak dianjurkan.

e. Kuldosentesis

Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah

dalam Kavum Douglas ada darah. Cara ini berguna dalam membantu

membuat diagnosa kehamilan ektopik terganggu

f. Ultrasonografi

Ultrasonografi berguna dalam diagnosa kehamilan ektopik. Diagnosa pasti

adalah apabila ditemukan kantong gestasi di luar uterus yang di dalamnya

tampak denyut jantung janin.

g. Laparoskopi

Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosa terakhir untuk

kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnosa yang lain


16

meragukan. Melalui prosedur laparoskopik, alat kandungan bagian dalam

dapat dinilai secara sistematis dinilai keadaan uterus, ovarium tuba, Kavum

Douglas dan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga pelvis

mungkin mempersulit visualisasi alat kandungan, tetapi hal ini menjadi

indikasi dilakukan laparatomi.

6. Gambaran klinik

Gambaran klinis yang dijumpai bisa akut atau subakut. Beberapa penulis

mengemukakan persentase gejala yang dijumpai rasa sakit dan nyeri,

amenorhoe, teraba masa tumor, jatuh dalam syok, mual dan muntah,

pengeluaran jaringan decidual cast, febris, sakit di bahu.

Gejala ini bervariasi menurut waktu kapan penderita kita lihat atau periksa,

sebelum, sewaktu atau sesudah terjadinya ruptur.

a. Sebelum Terganggu

Tanda – tanda hamil muda, sedikit sakit pada perut, rasa tidak enak pada

perabaan dan biasanya diagnosa sukar ditegakan. Rasa tidak enak ini

menyebabkan ibu pergi ke dukun dan sehingga dapat terjadi ruptur.

b. Sewaktu Terganggu ( ruptur )

Rasa sakit tiba – tiba pada sebelah perut, sakit ini sifatnya di iris dengan

pisau dan terjadi perdarahan dengan akibat terjadinya gejala akut

abdomen. Jadi diagnosa mudah ditegakan.


17

c. Setelah Ruptur

Diagnosa lebih mudah dengan adanya tanda – tanda akut abdomen dan

perdarahan.

7. Diagnosa Banding

a. Abortus biasa

b. Salpingitis akut

c. Apendisitis akut

d. Ruptur korpus luteum

e. Torsi kista ovarium

f. Mioma sub mukosa yang terpelincir

g. Retrofleksi uteri gravida inkarserata

h. Ruptur pembuluh darah mesenterium

8. Penanganan Umum

Penanganan pada kehamilan ektopik pada umumnya laparatomi. Dalam

tindakan demikian, beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan,

yaitu : kondisi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ pelvis,kemampuan

teknik bedah mikro dokter operator dan kemampuan teknologi fertilisasi

invitro setempat. Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu dilakukan

salpingektomi pada kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedahan

konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi atau reanastomosis


18

tuba. Apabila kondisi penderita buruk, misalnya dalam keadaan syok lebih

baik dilakukan salpingektomia.

B. Dampak Post Operasi Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia

1. Kebutuhan Oksigen

Pasien pasca bedah beresiko tinggi untuk menderita komplikasi paru – paru

biasanya dapat dicegah oleh pengelolaan keperawatan. Komplikasi pulmonari

yang paling sering adalah atelektase dan statis pneumonia. Pada atelektasis

broncehiale tertutup oleh daerah distal, kolapnya alveoli karena udara yang ada

diresorbsi dan terjadi hipoventilasi. Hebatnya atelektasis ditentukan oleh lokasi

sumbatan. Baik atelektasis maupun hipostasis pneumonia menurunkan

oksigenasi, penyembuhan yang terlalu lama dan menambah ketidaknyamanan

bagi pasien.

2. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Pada kira – kira 24 –40 jam setelah bedah cairan ditahan oleh tubuh karena

adanya stimulus hormon anti diuretik yang merupakan bagian respons stres

terhadap trauma dan pengaruh anestesi. Kekurangan sodium dan potasium

dapat terjadi pasien pasca operasi akibat kehilangan cairan dan darah pada

saat bedah. Kehilangan sekresi gastrik berdampak kehilangan chlorida

berakibat alkalosis metabolik.


19

3. Kebutuhan Eliminasi

a. Eliminasi BAK

Pasien yang hidrasinya baik, biasanya kencing setelah 6 – 8 jam setelah

bedah. Walaupun diberikan 2000 – 3000 ml cairan intravena pada hari

operasi. Kencing pertama 200 ml atau lebih dan total output urine selama

sehari 1500 ml. Karena fungsi tubuh stabil kembali, keseimbangan cairan

dan elektrolit kembali normal dalam waktu kira –kira 48 jam. Retensi urine

dapat terjadi pada periode dini pasca bedah.

b. Eliminasi BAB

Peristaltik menurun dalam 24 jam bedah. Tidak akan terjadi gerakan isi usus

bila peristaltik belum ada atau menurun konstipasi sering terjadi setelah

bedah yang disebabkan oleh respons neuro endokrin terhadap stres,

anestesi, tidak ada kegiatan dan tidak ada intake bahan makanan yang

banyak serat.

4. Kebutuhan Rasa Nyaman

Rasa nyeri timbul hampir setiap jenis operasi, karena terjadi torehan, tarikan,

manipulasi jaringan dan organ. Dapat juga terjadi akibat stimulus ujung syaraf

oleh bahan kimia yang dilepas pada saat operasi atau karena ischemi jaringan

akibat gangguan suplai darah ke salah satu bagian, seperti karena tekanan

spasmus otot atau oedema. Setelah operasi faktor lain yang menambah rasa
20

nyeri seperti infeksi distensi, spasmus otot di seputar daerah torehan,

pembalut yang ketat.

5. Kebutuhan Rasa Aman

Akibat tindakan operasi dan kurangnya pengetahuan pasien tentang

laparatomi serta ketidakmampuan menggunakan koping mekanisme stressor

yang dihadapinya yang kemudian berdampak pada kesehatan fisiknya

sehingga pasien merasa terancam timbul cemas.

6. Kebutuhan Aktivitas

Ambulasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat

pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah. Banyak

keuntungan yang dapat diraih dari latihan mobilisasi dini pasca bedah.

C. Pendekatan Proses Keperawatan

Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara sistemik untuk

mengkaji dan mendiagnosa status kesehatan pasien, merumuskan hasil yang

dicapai, menentukan intervensi dan mengevaluasi mutu dan hasil asuhan

dilakukan terhadap pasien, ( Herber, 1995 : 3 ).

Pada umumnya langkah – langkah dalam proses keperawatan dibagi dalam 4

tahap yaitu :
21

1. Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan

untuk mengumpulkan informasi atau data pasien, agar dapat mengidentifikasi,

mengenal masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik,

mental, sosial dan lingkungan ( Nasrul Effendi, 1995 : 18 ).

a. Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang pasien yang

dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah – masalah serta

kebutuhan keperawatan dan kesehatan pasien ( Nasrul Effendi, 1995 : 19 )

1) Identitas

Terdiri dari identitas pasien dan penanggung jawab yang terdiri dari

nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, suku bangsa dan alamat.

2) Riwayat Kesehatan

a). Keluhan Utama

Keluhan utama paling menonjol dan paling dirasakan oleh pasien.

Pada pasien post operasi kehamilan ektopik, keluhan utama yang

paling dirasakan adalah rasa nyeri akibat terputusnya kontinuitas

jaringan.

b). Riwayat Kesehatan Sekarang

Riwayat kesehatan sekarang meliputi : PQRST

P : Paliative yaitu apa yang memperberat keluhan yang dialami

pasien ?
22

Q : Qualitative yaitu bagaimana keluhan tersebut dirasakan oleh

pasien (panas, pedih ) ?

R : Region yaitu dimanakah gangguan tersebut dirasakan ? apakah

gangguan tersebut menjalar / menyebar ke daerah lain ? apa

yang telah dilakukan untuk mengurangi / menghilangkan

keluhan tersebut.

S : Scale yaitu seberapa berat keluhan tersebut dirasakan ?

bagaimana keluhan tersebut mempengaruhi kemampuan fungsi

dirinya ?

T : Time yaitu berapa lama keluhan itu dirasakan ? apakah ada

perbedaan intensitas keluhan ? misal : menghebat pada saat malam

hari ?

c). Riwayat Kesehatan Dahulu

Berisi tentang penyakit yang pernah diderita pasien sebelumnya dan

ada hubungannya dengan penyakit sekarang, pernah dirawat di

rumah sakit atau tidak, dan kaji tentang alergi terhadap makanan

dan obat – obatan.

d). Riwayat Kesehatan Keluarga

Dalam keluarga pasien mungkin ditemukan adanya penyakit yang

sama dengan penyakit yang diderita pasien saat ini, atau adanya

penyakit menular dan keturunan dalam keluarga.


23

3). Riwayat Ginekologi

Kaji riwayat menstruasi, menarche, siklus menstruasi dan lamanya sifat

darah menstruasi, Hari Pertama Haid Terakhir, kaji riwayat perkawinan

dan riwayat keluarga berencana.

4). Riwayat Obstetri

Pasien multigravida atau primigravida, kaji riwayat kehamilan

sekarang,. Kaji riwayat kehamilan dan persalinan masa lalu, riwayat

nifas atau abortus sebelumnya.

5). Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik pasien untuk

menentukan masalah kesehatan pasien ( Nasrul Effendi, 1995 : 22 )

a). Sistem Integumen

Kaji adanya striae gravidarum, kaji turgor kulit, terdapat luka

akibat post operasi kehamilan ektopik terganggu menyebabkan

nyeri pada daerah abdomen, kaji keadaan kuku dan rambut.

b). Sistem Sensori

Kaji keadaan mata, telinga, hidung, mulut dan tenggorokan, apakah

ada pembesaran tyroid pada saat pemeriksaan tenggorokan.

c). Sistem Pernafasan

Fungsi normal pernafasan adalah 16 – 24 X / menit. Kaji

kemungkinan adanya sesak nafas atau dyspneu, komplikasi


24

pulmonalis, kaji bentuk dada, adanya batuk, kaji suara napas dan

kebersihan hidung.

d). Sistem Kardiovaskuler

Konjungtiva pucat, jumlah Hb menurun, frekuensi nadi meningkat,

tekanan darah turun sampai syok, kemungkinan suhu badan

meningkat.

e). Sistem Perkemihan

Terjadinya kehilangan cairan tubuh pada saat operasi, peningkatan

kehilangan cairan yang tidak terasa, muntah dan peningkatan sekresi

hormon anti diuretik, keseimbangan cairan dan elektrolit normal

kembali dalam waktu kurang lebih 48 jam. Retensi urine dapat

terjadi karena infeksi saluran kemih.

f). Sistem Pencernaan

Peristaltik menurun dalam 24 jam setelah bedah abdomen terjadi

konstipasi.

g). Sistem Muskuloskeletal

Terdapat gangguan dalam melakukan aktivitas karena terjadi

kelemahan.

h). Sistem Persyarafan

Pada pasien post operasi kehamilan ektopik terganggu nyeri akan

terasa karena adanya rangsangan reseptor nyeri yang dihantarkan

pada pusat nyeri di cortek cerebri, akibat nyeri pasien akan sering
25

terjaga sehingga biasanya pasien mengeluh kebutuhan istirahat tidur

terganggu. Fungsi syaraf kranial dan refleks biasanya tidak

terganggu.

i). Sistem Reproduksi

Kaji apakah ada gangguan dalam hubungan seksual sebelumnya,

apakah terdapat nyeri pada saat melakukan hubungan seksual dan

lain – lain.

j). Sistem Endokrin

Kaji apakah ada pembesaran kelenjar tyroid, riwayat pertumbuhan

dan riwayat penyakit DM.

k). Sistem Hematopoetik

Kaji tentang golongan darah dan apakah mengalami perdarahan.

6). Pemeriksaan Diagnostik dan Hasil Laboratorium

a) Hemoglobin

Mungkin rendah akibat dari pengeluaran darah yang banyak

sehingga terjadi volume plasma darah yang meningkat.

b). Leucosyt

Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya infeksi

c). Trombosit

Untuk mengetahui jumlah trombosit serta perannya dalam

pembekuan darah sehingga akan diketahui waktu pembekuan darah.


26

b. Analisa Data

Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan

data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk

membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan

keperawatan pasien. ( Nasrul Effendi, 1995 : 24 )

c. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah diagnosa yang dibuat oleh perawat

profesional, menggambarkan tanda – tanda dan gejala – gejala yang

menunjukkan masalah kesehatan yang dirasakan pasien dimana perawat

berdasarkan pendidikan dan pengalamannya mampu menolongnya.

(Gordon, 1995 : 37)

Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan

post operasi Kehamilan Ektopik Terganggu adalah :

1). Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

2). Berduka yang diantisipasi berhubungan dengan kehilangan janin

3). Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi

dan pengobatan.

4). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

mual akibat dari efek anestesi.

5). Resiko tinggi terhadap komplikasi atelektasis berhubungan dengan

proses pembedahan.

6). Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri.


27

7). Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

8). Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan

melakukan aktivitas sendiri.

9). Perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran vena arteri

10). Gangguan pola eliminasi BAB; konstipasi berhubungan dengan

penurunan peristaltik usus akibat tindakan operasi, anestesi.

11). Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan kerusakan sensori

motor pasca operasi.

12). Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.

Sumber : Barbara Engaram, 1999.

2. Perencanaan

Perencanaan adalah pedoman tertulis untuk melaksanakan tindakan

keperawatan dalam membantu pasien dalam memecahkan masalah serta

memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mengkoordinir staf perawatan dalam

pelaksanaan asuhan keperawatan. ( Nasrul Effendi, 1995 : 63 )

a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.

Tujuan : Rasa nyaman pasien terpenuhi.

Kriteria :- Nyeri berkurang.

- Ekspresi wajah tenang dan tidak gelisah.

- Pasien tidak memegang daerah nyeri karena nyeri

berkurang dan luka kering.


28

Tabel 1

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Nyeri

No INTERVENSI RASIONAL
(1) (2) (3)
1. Kaji ulang tingkat nyeri Mengkaji ulang tingkat nyeri, perawat dapat
mengetahui sejauh mana tingkat nyeri yang
dirasakan pasien.

2. Lakukan distraksi nyeri Dengan melakukan distraksi nyeri, perhatian


pasien tidak terfokus pada daerah nyeri

3. Kaji tanda –tanda vital Mengkaji tanda – tanda vital, untuk


mengetahui sedini mungkin komplikasi
yang terjadi dan untuk menentukan
intervensi selanjutnya
4. Melakukan perawatan
luka Melakukan perawatan luka dengan
memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik
luka pasien cepat sembuh dan pasien akan
5. merasa nyaman
Pemberian obat sesuai
dengan advise dokter Memberikan obat sesuai dengan advise
dokter dalam pemberian obat anti nyeri,
sehingga nyeri berkurang

b. Berduka yang diantisipasi berhubungan dengan kehilangan janin.

Tujuan : Dapat mengatakan pernyataan refleksi dari proses

terbuka

Kriteria : - Mengemukakan perasaan dan keprihatinan secara

terbuka

- Mengemukakan rencana – rencana secara realistis

- Melanjutkan program terapeutik


29

Tabel 2

Intervensi dan Rasional untuk Mengatasi Berduka yang Diantisipasi

No. INTERVENSI RASIONAL


(1) (2) (3)
1. Biarkan pasien dan orang Dengan mengungkapkan perasaan

terdekat mengungkapkan mempermudah penyelesaian masalah dan

perasaannya. juga memungkinkan perawat

mengidentifikasi fase yang mana dari

proses kesedihan yang dialami pasien.

2. Berikan penghargaan
Dukungan kontinu penting untuk
untuk mengekspresikan
meningkatkan kemajuan ke arah
perasaan. Arahkan pada
penerimaan.
pasien pada kelompok

pendukung komunitas

sesuai indikasi.

3. Bantu pasien dengan Adaptasi terhadap kehilangan dapat

perencanaan cara-cara dimudahkan dengan menguatkan

untuk menghilangkan kekuatan kesehatan daripada

hambatan yang dirasakan memfokuskan pada kelemahan

sendiri dengan

memfokuskan pada
(1) (2) (3)
30

kekuatan kesehatan. Mulai .

dengan

mengidentifikasikan area-

area kontrol diri.


4. Libatkan pasangan atau Pasangan atau orang terdekat akan

orang terdekat dalam mendukung pasien pada keadaan yang

menghadapi proses lebih baik (suport system) sehingga

berduka / kehilangan. pasien tidak berduka secara

berkepanjangan.

c. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan

pengobatan.

Tujuan : Rasa aman pasien terpenuhi

Kriteria : - Pasien mengerti tentang kondisi dan pengobatan

yang dijalani.

- Rasa cemas pasien hilang.


31

Tabel 3

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Cemas

No. INTERVENSI RASIONAL

(1) (2) (3)


1. Jelaskan tentang kondisi pasien Pasien akan mengetahui dan mengerti

dan pengobatan yang sedang tentang kondisi dan pengobatan yang

diberikan. diberikan sehingga diharapkan dapat

kooperatif dalam melaksanakan

tindakan.

2. Bantu pasien dalam mengambil Siapkan pasien untuk menghadapi

keputusan apa, bagaimana dan reaksi orang terdekat, juga dapat

kapan untuk memberi tahu membantu pasien menanggulangi

diagnosa kepada orang lain. kepastian meninggal.

Siapkan pasien terhadap reaksi

yang mungkin timbul. Tekankan

pentingnya kejujuran dan

membuka perasaan dan

keprihatinannya. Bantu pasien

dalam menghadapi kenyataan.

3. Selama pasien waspada dan dapat Memungkinkan pasien untuk

menyesuaikan diri. memelihara perasaan dan lebih

(1) (2) (3)


32

4. izinkan pasien untuk membuat mengusai situasi sekarang

pilihan. Untuk menghilangkan keputusasaan.

Berikan harapan pada pasien Tidak ada harapan adalah hasil

lingkungan dimana pasien merasa

diluar kontrol dan tidak berdaya

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

akibat

dari efek anestesi.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

Kriteria : - Tidak kehilangan berat badan lebih lanjut

- Asupan makanan lebih besar dari 50% setiap

makan

- Keluhan mual dan muntah berkurang


33

Tabel 4

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Perubahan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

No. INTERVENSI RASIONAL

(1) (2) (3)


1. Observasi berat badan tiap Untuk mengefektifkan evaluasi terapi.

minggu, jumlah makanan yang

dimakan setiap makan.

2. Berikan obat anti emetik sesuai Mual menyebabkan tidak nafsu makan,

advise dokter. kombinasi terapi anti emetik paling efektif

dalam mengontrol mual.

3. Jika asupan makanan hanya Nutrisi parenteral total mensuplai protein

sedikit, berat badan terus dan kalori, asam lemak dan vitamin dapat

menerus turun selama 5 hari diberikan intra vena bersama-sama larutan

status nutrisi menunjukkan nutrisi parenteral total. Protein,

kekurangan nutrisi, anjurkan karbohidrat dan lemak penting untuk

untuk diberi terapi nutrisi fungsi dan perkembangan sel.

parenteral total.

4. Tambahkan makanan yang Untuk memberikan tambahan nutrisi yang

mengandung tinggi protein, adekuat.

vitamin, mineral dan kalori.

(1) (2) (3)


34

5. Anjurkan untuk makan 6 X Makanan sedikit-sedikit mengurangi

dengan porsi sedikit daripada 3 ketegangan lambung dan akan mencegah

X dengan porsi banyak. mual.

6. Berikan suplemen nutrisi, Suplemen ini memberikan protein,

diberikan diantara waktu vitamin, mineral dan kalori.

makan bila makan pasien

buruk.

7. Rujuk pasien ke ahli gizi untuk Ahli gizi adalah spesialis nutrisi yang

membantu perencanaan dapat membantu kebutuhan nutrisi pasien

makanan. dan langsung mempersiapkan kebutuhan

nutrisi pasiennya.

e. Resiko tinggi terhadap komplikasi atelektasis berhubungan dengan proses

pembedahan.

Tujuan : Komplikasi tidak terjadi.

Kriteria :- Infeksi tidak terjadi.

- Bunyi nafas bersih.

- Tidak ada perdarahan.


35

Tabel 5

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Infeksi Tinggi


Terhadap Komplikasi Atelektasis

No. INTERVENSI RASIONAL

(1) (2) (3)


1. Pantau bunyi paru-paru tiap 4 jam Untuk mengidentifikasi kemajuan

selama 24 jam, kemudian 8 jam atau penyimpangan dari hasil yang

sekali, terutama pada orang – diharapkan.

orang yang berisiko tinggi

atelektasis pasca operasi

(perokok, lansia dan orang-orang

yang mempunyai penyakit paru

kronis).

2. Anjurkan penggunaan spirometer Spirometer intensif mendorong

intensif tiap 2 jam . Jika dideteksi untuk bernapas dalam dengan

suara paru-paru, tingkatkan membantu meluaskan alveoli,

prevebsi penggunaannya menjadi sehingga mencegah atelektosis

setiap jam. Meyakinkan pasien

untuk menggunakan peralatan

yangtepat. Jelaskan maksud

penggunaan alat.

(1) (2) (3)


36

3. Ubah posisi tiap-tiap 2 jam. Aktivitas mendorong nafas dalam

Biarkan pasien melakukannya

sesering mungkin. Melakukan

ambulasi sesuai perintah.

4. Pastikan rasa sakit bisa dikontrol Individu melakukan pernapasan

cepat dan dangkal bila mengalami

nyeri hebat, yang membatasi

ekpansi penuh dari alveoli.

f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri

Tujuan : Kebutuhan aktivitas pasien terpenuhi

Kriteria : - Pasien dapat melakukan ADL sendiri.

- Pasien mengerti aktivitas yang boleh dilakukan

sesuai dengan indikasi.

- Pasien dapat mengerti pentingnya mobilisasi.

Tabel 6

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Intoleransi Aktivitas


37

No. INTERVENSI RASIONAL


(1) (2) (3)
1. Kaji tingkat kemampuan Untuk mengetahui sejauh mana

pasien pasien dapat beraktivitas

2. Beri penjelasan tentang Pasien mengerti pentingnya

pentingnya mobilisasi mobilisasi sehingga terdorong

untuk melakukan mobilisasi

3. Beri motivasi untuk Memberi motivasi melakukan

melakukan pergerakan pergerakan aktif dan pasif sehingga

aktif dan pasif pasien terdorong untuk melakukan

mobilisasi dan kekakuan sendi

terjadi

4. Anjurkan mobilisasi Untuk meningkatkan sirkulasi

sedini mungkin darah dan mencegah sirkulasi statis,

sehingga tidak terjadi dekubitus

g. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

Tujuan : Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi

Kriteria : - Ekspresi wajah segar

- Pasien dapat tidur dengan nyenyak.


38

Tabel 7

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Gangguan Pola Tidur

No. INTERVENSI RASIONAL


(1) (2) (3)
1. Rapikan tempat tidur Rasa nyaman pasien terpenuhi dan

keinginan untuk tidur ada.

2. Ciptakan lingkungan yang Suasana lingkungan menjadi tenang

nyaman dan merangsang pasien untuk tidur

nyenyak.

3. Bantu pasien untuk menentukan Dengan posisi terlentang otot-otot

posisi yang nyaman dekat luka tidak tegang karena tidak

ada tekanan, sehingga nyeri berkurang.

4. Berikan obat sesuai dengan advis Memberi obat sesuai dengan advic

dokter dokter untuk mengurangi nyeri.

Sehingga pasien nyerinya berkurang

dan pasien dapat tidur dengan

nyenyak.

5. Kurangi pengunjung Dengan mengurangi pengunjung akan

menciptakan lingkungan tenang dan

lebih banyak waktu kepada pasien

untuk istirahat
(1) (2) (3)
39

6. Anjurkan untuk tidur ketika nyeri Pada saat nyeri berkurang persyarafan

berkurang sensorik tidak aktif sehingga secara

biologis pasien tidak aktif dan hal ini

dapat mendukung pola tidur pasien

h. Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan

aktivitas

sendiri.

Tujuan : Kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi.

Kriteria : - Dapat melakukan perawatan diri sendiri.

- Mulut dan badan pasien bersih.

- Kuku pendek dan bersih.

- Rambut bersih
40

Tabel 8

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Defisit Perawatan Diri

No INTERVENSI RASIONAL
(1) (2) (3)
1. Observasi kemampuan pasien Untuk mengetahui sejauh mana

melakukan aktivitas sehari-hari pasien dapat melakukan

secara mandiri perawatan diri secara mandiri

2. Bantu pasien dalam melakukan Pasien dibantu dalam melakukan

perawatan diri perawatan dirinya untuk

mengatasi ketidakmampuan

dalam melakukan aktivitas

sendiri

i. Gangguan Perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran vena

arteri

Tujuan : Rasa nyaman pasien terpenuhi.

Kriteria : - Tekanan darah pasien normal.

- Pasien tidak pusing.

- Tidak terjadi peningkatan pembentukan trombus.


41

Tabel 9

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Gangguan

Perfusi Jaringan

No. INTERVENSI RASIONAL


(1) (2) (3)
1. Ubah posisi secara perlahan – Dengan mengubah posisi secara

lahan di tempat tidur perlahan-lahan di tempat tidur,

maka mekanisme vasokontriksi

ditekan dan akan bergerak cepat

pada kondisi hipotensi.

2. Bantu latihan rentang gerak Dengan membantu latihan rentang

meliputi latihan aktif kaki dan gerak, meliputi latihan aktif kaki dan

lutut lutut dapat menstimulasi perifer,

membantu mencegah terjadinya

vena statis sehingga menurunkan

resiko pembentukan thrombus

Dengan mengingatkan pasien agar

3. Ingatkan pasien agar tidak tidak menyilang kaki atau duduk

menyilang kaki atau duduk kaki tergantung lama dapat

dengan tergantung lama mencegah terjadinya tekana vena,

sehingga tidak terjadi sirkulasi vena

statis dan menurunkan resiko


42

tromboplebitis

j. Gangguan pola eliminasi BAB ; konstipasi berhubungan dengan penurunan

peristaltik usus akibat tindakan operasi ; anestesi.

Tujuan : Kebutuhan eliminasi BAB pasien terpenuhi

Kriteria : - Frekuensi BAB pasien normal

- Tidak terjadi konstipasi.

Tabel 10

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi


Gangguan Pola Eliminasi BAB : Konstipasi
No. INTERVENSI RASIONAL
(1) (2) (3)
1. Ambulasi dini Dengan melakukan ambulasi dini

dapat mempercepat proses

eliminasi BAB, karena dengan

ambulasi dini otot-otot perut dapat

berkontraksi sehingga dapat

merangsang terhadap alat-alat


43

2. Berikan diit tinggi serat pencernaan

Dengan makanan yang tinggi serat

banyak mengandung air, maka

proses absorbsi oleh kolon

(1) (2) (3)


dapat berjalan dengan baik, oleh

karena itu memungkinkan feces

menjadi lembek sehingga

memudahkan terjadinya defekasi.

3. Kolaborasi dalam Dengan pemberian laxativ dapat

pemberian laxatif dapat bereaksi di dalam kolon

sehingga feces yang keras dapat

hancur.

k. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan kerusakan sensori motor

pasca operasi.

Tujuan : Kebutuhan eliminasi urin pasien terpenuhi

Kriteria : - Retensi urine tidak terjadi

Tabel 11

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Perubahan eliminasi Urine

No. INTERVENSI RASIONAL


44

(1) (2) (3)


1. Sambungkan kateter pada Untuk membantu

kantong urine dengan mengeluarkan urin agar tidak

terjadi retensi urin. Untuk


(1) (2) (3)
sementara waktu sampai fungsi

sfinkter uri kembali normal.

2. Beri perawatan kateter bila perlu Untuk mencegah infeksi pada

saluran kemih dan memberi

kenyamanan bagi pasien.

3. Dukung untuk berkemih dengan Untuk melatih fungsi sfinkter

interval waktu jika kateter uri dan pasien dapat

diangkat mengontrol keinginannya

untuk berkemih

l. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi

Tujuan : Infeksi tidak terjadi

Kriteria : - Tidak ada tanda-tanda infeksi.

Tabel 12

Intervensi dan Rasional Untuk Mengatasi Resiko Tinggi Infeksi

No. INTERVENSI RASIONAL


(1) (2) (3)
1. Observasi tanda – tanda Dengan mengobservasi tanda-tanda

infeksi dapat diketahui terjadinya


infeksi
45

infeksi sedini mungkin pada luka

operasi

(1) (2) (3)


2. Rawat luka dengan Dengan mempertahankan teknik

mempertahankan teknik aseptik dan antiseptik mencegah

aseptik dan antiseptik. kontaminasi silang dan

kemungkinan infeksi

3. Kolaborasi dalam pemberian Obat antibiotik dapat membunuh

obat antibiotik kuman yang masuk ke dalam

tubuh.
Sumber : Barbara Engram, 1999.

3. Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang

telah disusun pada tahap perencanaan. ( Nasrul Effendi, 1995 : 40 )

4. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan

pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara

berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

(Nasrul Effendi, 1995 : 46)