Anda di halaman 1dari 25

TELAAH KASUS

MODUL PROSTODONSIA

Oleh :

Nama : Farid Yuristiawan

BP :1210343001

Dosen Pembimbing :

drg. Eni Rahmi, Sp. Prost

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Andalas

Padang
0
REKAM MEDIK KASUS PROSTODONSIA

1. DATA PASIEN

Nama : Yunizar

Jenis Kelamin : Perempuan

No. RM : 0010249

Umur : 64 tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. Kurao Pagang No.14.

Agama : Islam

Pendidikan : SD

Status Pernikahan : Janda

2. ANAMNESIS
1
2.1. Chief Complent (CC) :
Pasien datang dengan keluhan merasa tidak nyaman saat mengunyah sejak ± 5
tahun yang lalu akibat banyaknya gigi yang hilang dan ingin dibuatkan gigi tiruan.

2.2. Present Illnes (PI) :


Pasien merasa tidak nyaman saat mengunyah makanan sejak ± 5 tahun yang lalu
akibat banyaknya gigi yang hilang karena goyang dan berlubang. Pasien mengaku
gigi geliginya keropos serta mudah patah dan akhirnya lepas sendiri.

2.3. Past Dental History (PDH) :


Pasien pernah sekali ke dokter gigi untuk mencabut giginya ke puskesmas, namun
hanya diberikan obat dan tidak pernah kembali lagi. Pasien datang pertama kali ke
RSGMP Unand bulan September 2017. Kunjungan terakhir kali pada bulan mei
2018 untuk mencabut akar gigi sebelah kana atas yang sudah goyang dan
mengganggu. Pasien tidak ada keluhan pasca pencabutan. Pasien belum pernah
dibuatkan gigi tiruan sebelumnya. Pasien menyikat gigi 2x sehari (saat mandi pagi
dan sore) dengan gerakan horizontal, pasien tidak memiliki kebiasaan buruk.

2.4. Family History (FH) :


Ayah (alm), Ibu (alm), dan saudara kandung tidak dicurigai memiliki riwayat
penyakit sistemik

2.5. Past Medical History (PMH) :


Pasien memiliki masalah nafsu makan, sehingga membuat pasien jarang makan.
pasien memiliki riwayat tekanan darah rendah sekitar 100/70, sering mengalami
keadaan pusing dengan mata berkunang ketika bangun tidur. Pasien juga memiliki
kebiasaan susah tidur, sehingga kurang istirahat. Pasien sering mengkonsumsi teh
pada pagi hari. Pasien belum pernah dirawat dirumah sakit, tidak memiliki riwayat
alergi terhadap jenis obat-obatan atau makanan apapun dan tidak dalam
mengkonsumsi obat obatan tertentu.

2.6. Social History :


Pasien merupakan seorang Ibu Rumah Tangga yang tinggal bersama 2 anak dan
cucunya. Namun kadang berjualan pada akhir minggu di sekeliling kompleks
perumahan nya.

a. Sebab kehilangan / kerusakan gigi : gigi goyang dan berlubang


b. Pencabutan terakhir :
2
- Pada Gigi Atas : Belakang Atas (Tgl. 3/5/2018)
- Pada Gigi Bawah : Depan Kiri (Tgl. 14/2/2018)

c. Pemakaian gigi tiruan : Pasien belum pernah memakai gigi tiruan apapun.

d. Tujuan pembuatan gigi tiruan : Pengunyahan, estetik dan bicara

3. PEMERIKSAAN KLINIS
A. Pemeriksaan Ekstra Oral

3
a. Muka : Lonjong, Asimetris

b. Profil : Cekung

c. Pupil : Sama Tinggi

d. Tragus : Tidak Sama Tinggi

(Tinggi sebelah kiri)

e. Hidung : Tidak Simetris, napas

melalui hidung lancar

f. Rima Oris : Normal

g. Bibir Atas : Hipertonus, Tidak Simetris

h. Bibir Bawah : Hipotonus, Simetris

i. Kelenjar Getah Bening :


1. Submandibularis Kanan dan kiri : Tidak ada pembengkakan dan tidak teraba sakit
2. Sublingual : Tidak ada pembengkakan dan tidak teraba sakit

4
3. Submental : Tidak ada pembengkakan dan tidak teraba sakit

j. TMJ : Clicking di sisi kiri, Tidak ada rasa nyeri

- Bukaan Mulut : Deviasi ke kanan

B. Pemeriksaan Intra Oral

Analisis Foto Intra Oral

5
Bukaan mulut

Oklusi

6
B.1 Pemeriksaan Umum

a. Hygiene mulut : Baik

b. Kalkulus : Ada

c. Stain : Ada

d. Saliva :
- Kuantitas : Sedang
- Konsistensi : Normal

e. Lidah
- Ukuran : Normal
- Posisi Wright : Kelas I
- Mobilitas : Normal

f. Refleks Muntah : Tinggi

g. Mukosa Mulut: Normal

h. Oklusi : ada – tidak stabil

1. Overjet :

2. Overbite :

i. Daya kunyah : Besar

j. Hubungan rahang :

k. Kebiasaan Buruk : Tidak ada

B.2 Pemeriksaan Gigi Geligi dan Tulang Alveolar

7
b. Bentuk gigi : taper
c. Besar gigi : Normal
d. Fraktur : Tidak ada
e. Lain-lain :
- 12 : Karies superfisial distal, resesi gingiva.
- 11 : Atrisi, resesi gingiva.
- 27 : Resesi gingiva, Atrisi, mobility grade 1.
- 35 : Karies superfisial oklusal dan distal, Resesi gingiva, atrisi, mobility grade
1.
- 34 : Radiks
- 33 : Resesi gingiva, Atrisi, mobility grade 1.
- 32 : Resesi gingiva, Atrisi, mobility grade 1.
- 42 : Resesi gingiva, Atrisi, mobility grade 1.
- 43 : Resesi gingiva, Atrisi.

Analisis foto Rontgen Panoramic

f. Densitas tulang alveolar :


- Rahang atas : grade 3 (trabekulasi tulang bergantian padat dan jarang dengan
bagian jarang lebih banyak dari yang padat).
8
- Rahang bawah : grade 2 (trabekulasi tulang bergantian padat dan jarang
dengan bagian padat lebih banyak dari yang jarang).

g. Perbandingan mahkota akar gigi:


Gigi 13 12 11 13 27 35 33 32 42 43

Mahkota (mm) 17 18 19 17 19 19 17 17 19 14

Akar (mm) 14 8 9 14 6 10 13 8 6 14

Mahkota : akar 1,2 : 1 2,2 : 1 2:1 1,2 : 1 3:1 2:1 1,3 : 1 2:1 3:1 1:1

B.3 Pemeriksaan Lain

Rahang Atas Rahang Bawah

9
Rahang Atas
Rahang Bawah

10
a. Vestibulum

Posterior kiri Posterior Kanan Anterior


Rahang Atas Dangkal Dangkal Dalam
Rahang Bawah Dangkal Dangkal Dalam

b. Prosesus Alveolaris/ Residual Ridge

Posterior kiri Posterior Kanan Anterior


Rahang Atas
o Bentuk Oval Oval Oval
o Ketinggian Rendah Rendah Sedang
o Tahanan jaringan Tinggi Tinggi Rendah
o Bentuk Tidak rata Tidak rata Tidak rata

permukaan
Rahang Bawah
Posterior kiri Posterior Kanan Anterior
o Bentuk Segitiga Segitiga -
o Ketinggian Sedang Rendah -
o Tahanan jaringan Rendah Rendah -
o Bentuk Rata Rata -

permukaan

c. Frenulum
o Labialis Superior : Sedang
o Labialis Inferior : Sedang
o Bukalis RA kiri : Rendah
o Bukalis RA kanan : Rendah
o Bukalis RB kiri : Sedang
o Bukalis RB kanan : Rendah
o Lingualis : Sedang

d. Palatum
o Bentuk , kedalaman : Oval, Sedang
o Torus palatinus : Kecil
o Palatum molle : House Klas I
e. Tuberositas Alveolaris
11
o Kiri : Kecil
o Kanan : Kecil
f. Undercut
o Rahang Atas : Ada, pada vestibulum labialis.
o Rahang Bawah : Ada, pada gigi 38 (mesial drifting)
g. Ruang Retromilohioid
o Kiri : Dalam
o Kanan : Dangkal
h. Bentuk lengkung rahang
o Rahang atas : Oval
o Rahang bawah : Oval
i. Dasar mulut : Dalam
j. Eksostosis : Tidak Ada
k. Torus Mandibula : Ada, pada regio 4

4. SIKAP MENTAL : FILOSOFIS


5. DIAGNOSIS
o Rahang atas : Klasifikasi Kennedy kelas 2 modifikasi 1
o Rahang bawah : Klasifikasi Kennedy Kelas 1 modifikasi 2

6. RENCANA PERAWATAN
Berdasarkan diagnosis pasien yaitu :
- Kelas Kelas 2 Kennedy modifikasi 1 rahang atas akan dibuatkan gigi tiruan
sebagian lepasan akrilik pengganti elemen 17, 16, 15, 14, 21, 22, 23, 24, 25,
26 pada rahang atas.
- Kelas Kelas 1 Kennedy modifikasi 2 rahang bawah akan dibuatkan gigi tiruan
sebagian lepasan akrilik pengganti elemen 37, 36, 34, 31, 41 ,44, 45, 46, 47
pada rahang bawah dengan muccosa support.

 Desain Gigi Tiruan

 Perawatan Pra Prostetik


o Perawatan periodontal :
- Scaling dan root planing pada mandibula (26/04/2018)

12
- Splinting permanen dengan intracoronal fiber splint
o Perawatan Konservatif :
- Tambalan kelas V pada gigi 33, 32, dan 42.
- Tambalan kelas 2 pada gigi 35
o Pencabutan :
- Radiks 18, 17, 16, 15, 14, 34
- Elemen 31, dan 25

13
RAHANG ATAS

Support Muccosa Support Muccosa support : didapatkan dari tuberositas maksila, palatum durum, dan residual alveolar
ridge.
Retensi Faktor fisik Didapatkan dari :
1) Tegangan permukaan : dari permukaan anatomis dengan saliva
2) Adhesi :
- Gaya tarik menarik antar-molekul antara plat/ landasan dengan saliva
- Gaya tarik menarik antar-molekul antara saliva dengan mukosa
3) Kohesi (kepekatan saliva) :
- Gaya tarik menarik antar molekul pada saliva
- Gaya tarik menarik antar molekul pada plat/ landasan
- Gaya tarik menarik antar molekul pada mukosa
4) Tekanan atmosferik yang didapat dari peripheral border seal saat muscle trimming yang
memberikan efek “vacum” karena perbedaan tekanan antara diluar dan didalam landasan.
Faktor fisiologis Didapatkan dari :
1. Anatomi Denture Bearing Area (tuberositas maksilaris, palatum durum, dan residual
alveolar ridge) didapatkan dari pencetakan yang akurat
2. Muskular (dukungan otot yang optimal) didapatkan dari perluasan yang menutupi seluruh
Denture Bearing Area dan penyusunan anasir pada daerah Neutral Zone.
Faktor mekanis Didapatkan dari:
a. Undercut : Pada jaringan lunak bagian linggir anterior
b. Gesekan/ friksi : verkeilung pada gigi 13, 12, dan 11.
Stabilisasi Adaptasi landasan
Perluasan landasan dengan pembebasan pada daerah frenulum
Penyusunan anasir diatas linggir
Penyusunan anasir memenuhi prinsip oklusi seimbang

14
Penyusunan anasir membentuk kurva spee dan kurva manson
Mengunyah pada kedua sisi
Semua bagian gigi tiruan dihubungkan dengan landasan
Penentuan DV dan relasi sentrik
Path of Posterior tilting
insertion
Estetik Pembuatan biterim yang benar sehingga mengembalikan landmark pada profil wajah (sulkus nasolabialis dan philtrum)
Pemilihan bentuk, warna, dan ukuran gigi anasir disesuaikan dengan gigi yang ada
Penyusunan anasir disesuaikan dengan gigi yang ada

RAHANG BAWAH

Support Muccosa Support Muccosa support : didapatkan dari perluasan basis posterior hingga retromolar pad.

15
Retensi Faktor fisik Didapatkan dari :
a. Tegangan permukaan : dari permukaan anatomis dengan saliva
b. Adhesi :
- Gaya tarik menarik antar-molekul antara plat/ landasan dengan saliva
- Gaya tarik menarik antar-molekul antara saliva dengan mukosa
c. Kohesi (kepekatan saliva) :
- Gaya tarik menarik antar molekul pada saliva
- Gaya tarik menarik antar molekul pada plat/ landasan
- Gaya tarik menarik antar molekul pada mukosa
d. Tekanan atmosferik yang didapat dari peripheral border seal saat muscle trimming yang
memberikan efek “vacum” karena perbedaan tekanan antara diluar dan didalam landasan.
Faktor fisiologis Didapatkan dari :
a. Anatomi Denture Bearing Area (buccal shelf area, retromolar pad, sulcus retromylohyoid
dan residual ridge) didapatkan dari pencetakan yang akurat
b. Muskular (dukungan otot yang optimal) didapatkan dari perluasan yang menutupi seluruh
Denture Bearing Area dan penyusunan anasir pada daerah Neutral Zone.
Faktor mekanis Didapatkan dari:
c. Undercut :
- Penempatan continuous clasp pada labial gigi 33, 32, dan 43, 42.
d. Gesekan/ friksi : verkeilung pada gigi 35, 33,32, dan 42, 43.
Stabilisasi Adaptasi landasan
Peninggian landasan hingga 1/3 servikal gigi anterior
Perluasan landasan dengan pembebasan pada daerah frenulum
Penyusunan anasir diatas linggir
Penyusunan anasir memenuhi prinsip oklusi berimbang
Penyusunan anasir membentuk kurva spee dan kurva manson
Mengunyah pada kedua sisi
Semua bagian gigi tiruan dihubungkan dengan landasan

16
Penentuan DV dan relasi sentrik
Path of Zero tilting
insertion
Estetika Pembuatan biterim yang benar sehingga mengembalikan landmark pada profil wajah
Pemilihan bentuk, warna, dan ukuran gigi anasir disesuaikan dengan gigi yang ada
Penyusunan anasir disesuaikan dengan gigi yang ada

17
TAHAPAN PEKERJAAN

Kunjungan 1 (Pencetakan Anatomis)


Pencetakan anatomis dilakukan dengan menggunakan bahan irreversible
hidrokolloid (alginate) dan hasil cetakan dicor dengan menggunakan dental stone
sehingga didapatkan model studi. Model studi digunakan untuk menentukan desain
gigi tiruan dan membuat sendok cetak fisiologis menggunakan akrilik self cured.

Prosedur laboratoris:
 Pembuatan sendok cetak individual
Adapun langkah-langkah pembuatan sendok cetak individual adalah sebagai
berikut:
1. Pembuatan outline sendok cetak
Caranya yaitu dengan membuat garis pada forniks menggunakan pensil
biru. Kemudian buat garis dengan pensil merah sejauh 2 mm diatas garis
biru dan daerah frenulum dibebaskan, garis merah ini merupakan batas
akhir sendok cetak fisiologis.
- Rahang atas: tidak menutupi daerah posterior palatal seal
- Rahang bawah: tidak menutupi daerah buccal shelf
2. Pembuatan wax spacer
Olesi permukaan model studi dengan vaselin kemudian lapisi permukaan
tidak bergigi dengan wax merah dengan ketebalan 2 mm hingga ke batas
garis merah.
3. Pembuatan stopper
Buat tiga buah stopper berbentuk segi empat dengan ukuran ± 4x2 mm
dengan memotong wax spacer, satu di bagian anterior dan 2 di bagian
posterior kiri dan kanan.
4. Manipulasi akrilik swapolimerisasi
Manipulasi akrilik sesuai petunjuk pabrik kemudian buat dengan bentuk
lempengan dan diadaptasikan ke model yang telah ditutupi spacer setebal
± 2 mm dan pastikan tepi sendok cetak tepat pada garis merah. Kemudian
buat tangkai sendok cetak, pastikan tangkai tidak mengganggu pergerakan
bibir sewaktu mencetak.

Kunjungan 2 (Pencetakan Fisiologis)


Tujuan dari pencetakan fisiologis adalah untuk mendapatkan model kerja
dengan menggunakan sendok cetak fisiologis yang telah dibuat. Langkah-langkah
pencetakan fisiologis adalah sebagai berikut:

1. Try in sendok cetak ke dalam mulut pasien

18
2. Prosedur border molding.
Jika sendok cetak pas, lakukan prosedur muscle trimming untuk border
molding yang dilakukan pada daerah edentulus untuk membentuk tepi yang
cocok dengan gerakan fisiologis dari struktur anatomi pembatas gigi tiruan.
Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan green stick compound dan wax
spacer masih berada pada sendok cetak selama prosedur border molding
berlangsung. Caranya yaitu:
- Panaskan green stick compound
- Letakkan pada tepi sendok cetak
- Masukkan sendok cetak tersebut kedalam mulut pasien
- Bagian pipi, lidah, dan mukosa bergerak lainnya digerak-gerakkan dan
instruksikan pasien untuk melakukan gerakan menghisap.
3. Setelah prosedur border molding selesai, wax spacer dibuang dari permukaan
dalam sendok cetak fisiologis kemudian dibuat lubang dengan round bur
berjarak ± 4,5 mm tiap lubang.
4. Pencetakan
Teknik mencetak pada rahang atas dilakukan dengan teknik mukokompresi
untuk menghasilkan cetakan yang akurat pada daerah linggir edentulous
menggunakan bahan cetak elastomer. Sedangkan, teknik mencetak pada
rahang bawah dilakukan dengan pencetakan double impression yakni dengan
mengkombinasikan teknik mukokompresi saat melakukan pencetakan pertama
untuk menghasilkan cetakan yang akurat pada daerah linggir tidak bergigi
menggunakan bahan cetak elastomer. Pencetakan kedua dilakukan dengan
teknik mukostatis pada daerah bergigi menggunakan bahan cetak alginate.

Prosedur laboratoris:
 Setelah didapatkan hasil cetakan yang dibutuhkan, dilakukan pengecoran
dengan menggunakan dental stone kuning sebagai model kerja.
 Tandai batas outline basis berdasarkan hasil survey menggunakan pensil, yaitu
2 mm dari forniks dan daerah frenulum dibebaskan, pada rahang atas sampai
hamular notch, bagian palatum 2 mm dari AH line, dan rahang bawah sampai
retromolar pad. Buat garis median line dan garis puncak linggir sebagai
pedoman untuk menentukan puncak linggir pada biterim. Garis ini

19
diperpanjang sampai tepi model kerja. Penarikan garis puncak linggir pada
rahang atas melalui titik pertemuan median line dengan puncak linggir
anterior, titik kaninus atas, dan titik notch.
 Buat palatal relief menggunakan tinfoil pada rahang atas
 Pembuatan baseplate wax dan biterim
- Pembuatan baseplate yaitu menggunakan selembar wax yang telah
dilunakkan dan diletakkan di permukaan model sesuai batas yang telah
ditandai.
- Pembuatan biterim dilakukan dengan menggunakan biterim former. Tinggi
biterim rahang atas pada daerah anterior sekitar 12 mm, lebar 4 mm, dan
inklinasi ke labial. Tinggi biterim atas pada daerah posterior sekitar 10-11
mm dengan lebar 6-7 mm, berbentuk trapesium, dibuat sampai distal M1.
Sedangkan biterim rahang bawah dibuat menyesuaikan dengan tinggi
oklusal gigi yang ada.

Kunjungan 3 (Try in basis dan biterim, Pengukuran dimensi vertikal dan relasi
sentrik)
1. Try in biterim
Syarat bite rim yang benar :
 Ekstra Oral
- Sulkus nasolabial, sulkus mentolabial, comissura bibir dan filtrum
pasien harus mendapat dukungan yang baik dari bite rim.
- Bibir dan pipi tidak boleh tampak cembung atau cekung, bite rim harus
mendukung bibir dan pipi serta otot-otot ekspresi wajah secara normal.
 Intra Oral
- Melihat kesejajaran dengan menggunakan benang jagung yang
dipasangkan di kedua tragus melewati ala nasi dan dibantu
menggunakan bite fox.
- Bidang oklusal dari biterim rahang atas sejajar dengan garis interpupil
mata jika dilihat dari depan dan sejajar dengan chamfer line (alanasi-

20
tragus) apabila dilihat dari arah lateral yang diukur dengan occlusal
guide plane.
- Pada posisi istirahat fisiologis yaitu bibir pasien dalam keadaan rileks,
bidang oklusal dari biterim atas kira-kira 1-2 mm di bawah low lip line
bibir atas.
- Garis median biterim harus sesuai dengan garis median pasien.
- Garis caninus akan membuat garis lurus jika ditarik dari pupil mata ke
sudut mulut.

2. Penentuan Dimensi Vertikal dan Relasi Sentrik


Penentuan dimensi vertikal dan relasi sentrik pada GTP tunggal (single
denture) dilakukan secara bersamaan. Caranya adalah:
1) Pasien didudukkan dalam keadaan rileks dengan posisi kepala sedemikian
rupa dimana alanasi-tragus sejajar lantai
2) Buat tanda berupa dua titik pada wajah, satu pada subnasion dan satu lagi pada
gnation (bagian paling menonjol dari dagu pasien).

3) Pasien diinstruksikan untuk melakukan gerakan menelan dan rahang bawah


dibiarkan dalam keadaan posisi istrirahat fisiologis, ukur jarak kedua titik
tersebut.

21
4) Kemudian pasien diinstruksikan untuk menggumamkan “mmm” berulang-
ulang sampai tidak terdapat kontraksi otot dan secara bersamaan dilakukan
pengukuran jarak kedua titik kembali. Apabila hasil pada kedua pengukuran
sama, maka posisi tadi dapat diterima sebagai Dimensi Vertikal Istirahat
(DVI/ Physiological rest position). Pengukuran ini harus dilakukan beberapa
kali, pasien diajak berbicara dan rileks diantara kedua pengukuran tersebut.
5) Setelah ukuran dimensi vertikal istirahat diperoleh, kemudian dikurangi
dengan jarak free way space sekitar 2-3 mm sehingga didapatkan hasil akhir
yang merupakan Dimensi Vertikal Oklusi (DVO) tentatif.
6) Latih pasien untuk mendapatkan relasi sentrik dengan 4 cara, yaitu:
- Instruksikan pasien untuk menengadahkan kepala
- Instruksikan pasien untuk menelan ludah
- Instruksikan pasien untuk meletakkan ujung lidah pada bulatan lilin yang
ditempelkan pada bagian posterior biterim rahang atas (nucleus walkhoff).
- Instruksikan pasien untuk membuka tutup rahang secara berulang-ulang
hingga otot-ototnya rileks, bantu pasien untuk meretrusikan rahang
bawahnya dengan mendorong rahang bawah tanpa paksaan.
Lakukan berulang-ulang dan secara bersamaan ke-4 cara hingga didapatkan
posisi yang sama.
7) Masukan biterim rahang atas, instruksikan pasien untuk menggigit biterim
dalam posisi relasi sentrik seperti yang sudah dilatih tadi, kemudian ukur
dengan caliper hingga sama dengan DVO tentatif, nantinya akan terdapat
teraan gigi bawah pada biterim rahang atas. Jika pasien kesulitan menggigit
biterim, lunakkan biterim dengan lecron panas pada bekas gigitan di rahang
atas sampai pasien bisa menggigit hingga DVO.
8) Masukkan biterim rahang bawah kemudian sesuaikan tinggi biterim dengan
DVO tentatif dengan panduan teraan gigitan pada biterim rahang atas.
9) Lakukan uji kesesuaian DVO, dengan cara:
- Penilaian dukungan wajah secara keseluruhan (sulkus nasolabialis,
komisura bibir, filtrum, koridor bukal)
- Observasi visual ruang antara biterim atas dan bawah dalam keadaan
istirahat (ukur FWS 2-4 mm)

22
- Pengukuran titik-titik pada wajah saat rahang dalam keadaan istirahat
dan dalam relasi sentrik sama dengan hasil pengukuran DVI
- Penilaian estetis (proporsi tinggi wajah atas, tengah, dan bawah sama)
- Penilaian fonetik, pasien diinstruksikan melafalkan “S”, maka akan
terdapat jarak antara tepi biterim atas dan bawah sebesar 1-1,5 mm
- Pasien dapat membunyikan “S”, “F”, dan “V” dengan benar dan jelas
- Opini pasien terhadap kenyamanan setelah digunakan lama (>5 menit)
10) Tentukan garis orientasi, yakni:
- Midline anasir
- Low lip line
- High lip line (tinggi anasir/ garis servikal)
- C line (lebar 6 anasir anterior, dari C-C)
11) Setelah dimensi vertikal diukur dengan benar, fiksasi biterim RA dan RB

Prosedur laboratoris:
1. Kembalikan model kerja dan tanam di artikulator
2. Lakukan pemasangan cangkolan dan penyusunan anasir dimulai dengan
penyusunan anterior atas, posterior kanan atas, posterior kiri atas, posterior
kanan bawah, dan posterior kiri bawah.
3. Setelah semua anasir disusun, pada kunjungan selanjutnya lakukan try in.

Kunjugan 4 (Try in)

1. Setelah semua anasir disusun akan dilakukan try in gigi tiruan, perhatikan nilai
aspek estetik, retensi, perluasan basis, daerah netral zone, oklusi, free way
space, dan kestabilan. Tanyakan keluhan yang dirasakan pasien saat proses try
in.
2. Setelah semua di cek lanjut ke proses lab, flasking, curing, finishing dan
polishing.

Kunjungan 5 (Insersi)

23
1. Setelah gigi tiruan di poles lihat apakah ada bagian gigi tiruan yang tajam,
adakah bagian anatomis yang menonjol, kalau ada lakukan pengurangan dan
penghalusan.
2. Lakukan insersi pada pasein.
a. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah adaptasi gigi tiruan terhadap
mukosa pasien dengan menggunakan kaca mulut. Instruksikan pasien untuk
melakukan gerakan protusif anteroposterior dan lateral kiri kanan. Jika
terdapat sangkutan asah anasir sesuai prinsip bull.
b. Cek retensi dengan menginstruksikan pasien untuk menggerakkan otot –
otot bibir, wajah dan lidah serta instruksikan pasien untuk melafalkan huruf
A, I, U, E, O.
c. Cek oklusi pasien, lihat apakah ada traumatik oklusidengan menggunakan
artikulating paper. Jika terdapat traumatik oklusi asah lereng atau perdalam
fosa
d. Cek fonetik pasien dengan melafalkan S, M, R.
e. Nilai estetik gigi tiruan. Perhatikan profil wajah pasien apakah terlalu
cembung atau cekung, perhatikan philtrum, sulkus mentalis, sulkus
nasolabialis apakah sudah terbentuk. Perhatikan inklinasi penyusunan anasis
antero posterior dan lateral. Perhatikan apakah anasir berada 2mm dibawah
low lip line. Perhatikan saat pasien tersenyum apakah servikal gigi anasir
berada pada hight lip line.
3. Setelah selesai intruksikan kepada pasien tentang : keterbatasan dari gigi tiruan,
kesulitan pemakaian gigi tiruan, cara pemeliharaan gigi tiruan, instuksikan
juga kepada pasien untuk mengunyah dengan menggunakan kedua sisi gigi
tiruan. Setelah itu lakukan control 1x24 jam.

24